Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Leukemia merupakan suatu penyakit keganasan yang berasal dari
sel induk sistem hematopoetik yang mengakibatkan poliferasi sel-sel darah
putih tidak terkontrol dan pada sel-sel darah merah namun sangat jarang.
Ini adalah suatu penyakit darah dan organ-organ dimana sel-sel darah
tersebut dibentuk dan ditandai dengan proliferasi sel-sel imatur abnormal
yang mempengaruhi produksi dari sel-sel darah normal lainnya.
Penyakit ini disebabkan terjadinya kerusakan pada pabrik pembuat
sel darah yaitu pada sum-sum tulang bekerja aktif membuat sel-sel darah
tetapi yang dihasilkan adalah sel darah yang tidak normal dan sel ini
mendesak pertumbuhan sel darah normal.
Walaupun penyebab dasar leukemia tidak diketahui, pengaruh
genetik maupun faktor-faktor lingkungan kelihatannya memainkan
peranan.

1.2. Tujuan
a. Tujuan Umum
Dapat menerapkan asuhan keperawatan pada anak dengan masalah
kesehatan terutama leukemia.
b. Tujuan Khusus
• Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada klien dan keluarga
dengan masalah leukemia.
• Mahasiswa mampu menganalisa data dengan masalah leukemia.
• Mahasiswa mampu menyusun rencana dan interfensi keperawatan
terhadap klien dengan leukemia.
• Mahasiswa mampu melakukan implementasi sesuai dengan
interfensi keperawatan yang telah disusun.
• Mahasiswa mampu melakukan evaluasi terhadap implementasi
keperawatan yang telah dilaksanakan.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Konsep Teori

DEFENISI
Penyakit neoplastik yang ditandai oleh proliferasi abnormal dari sel sel
hematopietik.(Sylvia&Lorraine,1992)
Proliferasi tidak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam sumsum
tulang menggantikan elemen sumsum tulang normal.(Brunner&Suddarth,1996)
Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah
dalam sumsum tulang dan limfa nadi (Reeves, 2001).
Leukemia adalah istilah umum yang digunakan untuk keganasan pada
sumsum tulang dan sistem limpatik (Wong, 1995).

ETIOLOGI
Etiologi pasti dari leukemia ini belum diketahui. Leukemia, sama halnya
dengan kanker lainnya, terjadi karena mutasi somatic pada DNA yang
mengaktifkan onkogenesis atau menonaktifkan gen suppressor tumor, dan
menganggu regulasi dari kematian sel, diferensiasi atau divisi.
Tapi penelitian telah dapat mengemukakan factor resiko dari Leukemia
ini, antara lain:
1. Tingkat radiasi yang tinggi
Orang – orang yang terpapar radiasi tingkat tinggi lebih mudah terkena
leukemia dibandingkan dengan mereka yang tidak terpapar radiasi. Radiasi
tingkat tinggi bisa terjadi karena ledakan bom atom seperti yang terjadi di
Jepang. Pengobatan yang menggunakan radiasi bisa menjadi sumber dari
paparan radiasi tinggi.
2. Orang-orang yang bekerja dengan bahan – bahan kimia tertentu
Terpapar oleh benzene dengan kadar benzene yang tinggi di tempat kerja dapat
menyebabkan leukemia. Benzene digunakan secara luas di industri kimia.
Formaldehid juga digunakan luas pada industri kimia, pekerja yang terpapar
formaldehid memiliki resiko lebih besar terkena leuikemia.

2
3. Kemoterapi
Pasien kanker yang di terapi dengan obat anti kanker kadang – kadang
berkembang menjadi leukemia. Contohnya, obat yang dikenal sebagai agen
alkilating dihubungkan dengan berkembangnya leukemia akhir – akhir ini.
4. Down Syndrome dan beberapa penyakit genetic lainnya
Beberapa penyakit disebabkan oleh kromosom yang abnormal mungkin
meningkatkan resiko leukemia.
5. Human T-cell Leukemia virus-I (HTVL-I)
Virus ini menyebabkan tipe yang jarang dari leukemia limfositik kronik yang
dikenal sebagi T-cell leukemia.
6. Myelodysplastic syndrome
Orang – orang dengan penyakit darah ini memiliki resiko terhadap
berkembangnya leukemia myeloid akut.
7. Fanconi Anemia
Menyebabkan akut myeloid leukemia

KLASIFIKASI
1. Leukemia Mielogenus/Mieloblastik Akut
AML mengenai sel stem hematopeotik yang kelak berdiferensiasi ke
semua sel Mieloid: monosit, granulosit, eritrosit, eritrosit dan trombosit.
Semua kelompok usia dapat terkena; insidensi meningkat sesuai
bertambahnya usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang paling sering
terjadi. Pasien hanya dapat bertahan sampai 1 tahun, kematian disebabkan
oleh infeksi dan pendarahan.
2. Leukemia Mielogenus/Mieloblastik Kronis
CML juga dimasukkan dalam sistem keganasan sel stem mieloid. Namun
lebih banyak sel normal dibanding bentuk akut, sehingga penyakit ini
lebih ringan. CML jarang menyerang individu di bawah 20 tahun.
Manifestasi mirip dengan gambaran AML tetapi tanda dan gejala lebih
ringan, pasien menunjukkan tanpa gejala selama bertahun-tahun,
peningkatan leukosit kadang sampai jumlah yang luar biasa, limpa
membesar.

3
3. Luekemia Limfositik Akut
ALL dianggap sebagai proliferasi ganas limfoblast. Sering terjadi pada
anak-anak, laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, puncak insiden
usia 4 tahun, setelah usia 15 ALL jarang terjadi. Manifestasi limfosit
immatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer,
sehingga mengganggu perkembangan sel normal.
4. Leukemia Limfositik Kronis
CLL merupakan kelainan ringan mengenai individu usia 50 sampai 70
tahun. Manifestasi klinis pasien tidak menunjukkan gejala, baru
terdiagnosa saat pemeriksaan fisik atau penanganan penyakit lain.

TANDA DAN GEJALA


Leukemia Mieloblastik Akut
1. Rasa lemah, pucat, nafsu makan hilang
2. Anemia
3. Perdarahan, petekie
4. Nyeri tulang
5. Infeksi
6. Pembesaran kelenjar getah bening, limpa, hati dan kelenjar mediatinum
7. Kadang – kadang ditemukan hipertrofi gusi khususnya pada M4 dan M5
8. Sakit kepala

Leukemia Mieloblastik Kronik


1. Rasa lelah
2. Penurunan berat badan
3. Rasa penuh di perut
4. Kadang – kadang rasa sakit di perut
5. Mudah mengalami perdarahan
6. Diaforesis meningkat
7. Tidak tahan panas

Leukemia Limfositik Akut

4
1. Malaise, demam, letargi, kejang
2. Keringat pada malam hari
3. Hepatosplenomegali
4. Nyeri tulang dan sendi
5. Anemia
6. Macam – macam infeksi
7. Penurunan berat badan
8. Muntah
9. Gangguan penglihatan
10. Nyeri kepala

Leukemia Limfositik Kronik


1. Mudah terserang infeksi
2. Anemia
3. Lemah
4. Pegal – pegal
5. Trombositopenia
6. Respons antibodi tertekan
7. Sintesis immonuglobin tidak cukup

PATOFISIOLOGI
Leukemia akut dan kronis merupakan suatu bentuk keganasan atau
maligna yang muncul dari perbanyakan koloni sel-sel pembentuk sel darah yang
tidak terkontrol. Mekanisme kontrol seluler normal mungkin tidak bekerja dengan
baik akibat adanya perubahan pada kode genetik yang seharusnya bertanggung
jawab atas pengaturan pertubuhan sel dan diferensiasi.
Sel-sel leukemia menjalani waktu daur ulang yang lebih lambat
dibandingkan sel normal. Proses pematangan atau maturasi berjalan tidak lengkap
dan lambat serta dapat bertahan hidup lebih lama dibandingkan sel sejenis yang
normal.

WOC → terlampir

5
PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan medis AML
Terapi induksi dan terapi konsolidasi
 Terapi induksi (kemoterapi) → untuk membunuh sel
leukimia
 Cytarabine (cystosal, ara C) daunorubbin (daunomycin,
cerubidine) atau mitoxantrone atau idarubicin, mercaptopurine
(purinethol)
 Supportive care (darah dan platelet) untuk infeksi,
perdarahan, mukositis dan diare.
 Granulocyte growth factor.
Terapi konsolidasi/post remisi (untuk menghilangkan sisa sel leukimia yang
tidak terdeteksi secara klinis) → Cytarabine
Transplantasi sumsum tulang
Donor sumsum tulang menggantikan produksi sel darah. Sebelumnya
dilakukan kemoterapi dan radiasi untuk menghancurkan sumsum iskemik.
Bisa terjadi resiko penolakan dan infeksi.
2. Penatalaksanaan medis KML
Fase kronis
 Interferon dan cytocyne untuk memperbaiki kelainan
kromosom
 Hydroxyurea atau busulfan (myleran) untuk mengurangi
SDP
 Leukopheresis : memisahkan dan membuang leukosit
 Antracyline (daunomycin) untuk mengurangi SDP secara
cepat
Fase transformasi
 Terapi induksi dan transplantasi sumsum tulang.
3. Penatalaksaan medis ALL
 Terapi induksi dengan tambahan kortikosteroid dan vinca alkaloid
 Intrathecal kemoterapi (methotrexate) sebagai profilaksis SSP

6
 Maintenance : kemoterapi dosis rendah selama 3 tahun
 Anti virus untuk mengurangi efek samping kortikosteroid
 Transpalantasi sumsum tulang dapat menyembuhkan penyakit
4. Penatalaksaan medis KLL
 Koemoterapi dengan kortikosteroid dan klorambusil (leukeran)
 Cyplofosfamide, vincristine, doxorubicin
 Imunoglobin IV untuk menangani efek samping obat
seperti infeksi: pneumocystis, listeria, mikobakteria, virus herpes dan
sitomegalovirus.

PROGNOSIS
LLA resiko normal prognosisnya lebih baik dari resiko tinggi. Faktor
prognosis yang kurang baik antara lain : usia kurang dari 2 tahun, usia lebih dari
10 tahun, jumlah leukosit (sel darah putih) saat awal lebih dari 50x109/L, jumlah
trombosit (keping darah) kurang dari 100x109/L, ada masa mediastinum, ras
hitam, laki-laki, ada pembesaran kelenjar limfe, pembesaran hati lebih dari 3 cm,
tipe limfoblas L2 atau L3, dan adanya penyakit susunan syaraf pusat saat
diagnosisi. Viana dkk (1994) mendapatkan, penderita dengan gizi buruk (menurut
standar tinggi badan/ umur) resiko kambuhnya lebih tinggi dibanding yang
gizinya baik. Di Singapura walaupun ada perbaikan, 30%-40% penderita
mengalami kambuh, dan kelompok ini prognosisinya baik. Perkembangan dan
keberhasilan pengobatan pencegahan untuk leukemia meningeal yang diikuti
dengan kemoterapi sistemik memperbaiki secara progresif angka kesembuhan
LLA pada anak. Angka kelangsungan hidup 5 tahun LLA sekitar 66-67%. Pada
LMA, jumlah lekosit yang tinggi (>100.000/µL), ras hitam, koagulasi abnormal
berprognosis jelek.

2.2. Asuhan Keperawatan

ILUSTRASI KASUS

7
An.D kelihatan lesu, lemas dan pucat. Pasien baru masuk bagian anak untuk yang
ke dua kalinya atas indikasi ALL. Prositostatika.

Pemeriksaan Fisik :
I. Identitas Pasien
Nama anak :An.D
Tanggal masuk :20-10-2009 No.RM : 613096
Tempat/tgl lahir :Pondok/ 05-10-2004
BB/TB saat lahir :3500 gram/ 111 cm
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan anak :Taman Kanak-kanak
Anak Ke :1 (satu)dalam keluarga
Nama ayah :Mahatir
Pekerjaan :Sopir
Pendidikan :D3
Nama ibu :Nike
Pekerjaan :Ibu RT
Pendidikan :D3
Alamat :Pondok, Kota Padang
Diagnosa Medis :LLA. Prositostatika

II. Keluhan Utama


Alasan masuk ke RS: An.D kelihatan lesu, lemas dan pucat dan
diindikasikan ALL. Prositostatika.

III. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran


1. Prenatal:
Ibu dari anak mengatakan selama hamil an. D, ia tidak mengalami
kelainan dan gizinya cukup.
2. Intranatal:
Ibu mengatakan, an.D lahir dengan normal di bantu oleh bidan. Lahir
dengan cukup umur yaitu 9 bulan. Berat badan lahir 3500 gram dan

8
panjang badan 42cm. Saat lahir, An. R menangis spontan.
3. Postnatal:
Ibu mengatakan, ia tidak mengalami perdarahan yang banyak setelah
melahirkan. Kondisinya normal.
IV. Riwayat Kesehatan Dahulu
1. Penyakit yang diderita sebelumnya :
Ibu mengatakan, an.D pernah menderita ALL. Prositostatika.
2. Pernah dirawat di RS :
Sebelumnya, an.D pernah di rawat di RS
3. Obat-obatan yang pernah digunakan :
Orang tua an.D mengatakan bahwa dulu an.D pernah
mengkomsumsi kortikosteroid, sitostatik dan imunoterapi.
4. Alergi :
An.D tidak memiliki riwayat alergi.
5. Kecelakaan :
An.D tidak pernah jatuh yang sampai mencederai kepalanya.
Kalaupun jatuh, an.D tidak sampai mengelami luka berat.
6. Riwayat imunisasi :
I II III
BCG 1bln 2 bln 3 bln
DPT 1 bln 2 bln 3 bln
POLIO 1 bln
CAMPAK 9 bln
HEPATITIS B 0 bln 2 bln 6 bln

V. Riwayat Kesehatan Saat Ini


Tanggal 21 Oktober 2009 kemaren, an.D telah mendapatkan kemo terapi.
Saat pengkajian tanggal 22 Oktober 2009, an. D sedang demam, suhu 38,6
0
C. An.D tidak mau makan, perutnya kembung dan lidahnya terdapat
sariawan.. Setelah diberi roti, an.D muntah. An.D mengeluhkan nyeri pada
sendinya dan terasa pegal-pegal. An.D meraba-raba perutnya dan
mengatakan sakit pada perutnya.

VI. Riwayat Kesehatan Keluarga


Ibu an.D mengatakan, tidak ada penyakit keturunan, apalagi penyakit

9
turunan yang seperti dialami oleh an.D.

VII. Riwayat Tumbuh Kembang


1. Kemandirian dan bergaul :
Sebelum sakit, an.D mampu melakukan aktivitas sehari-hari seperti
makan sendiri, pasang baju sendiri. An.D berteman baik dengan teman
sebaya. Tapi semenjak sakit, An. D sudah tidak mampu melakukan
aktifitas sehari-hari dan memiliki keterbatasan dalam bermain dengan
teman-temannya.
2. Motorik kasar :
Umur 3 bulan, an.D sudah bisa tengkurap. Umur 8 bln anak sudah bisa
duduk, umur 9 bln berdiri dan umur 10,5 bulan sudah bisa berjalan.
3. Motorik halus :
Umur 5 tahun ini, an.D sudah bisa menulis coret-coretan
4. Kognitif dan bahasa :
Umur 5 tahun ini, an.D sudah bisa memahami perintah dari orang lain,
an.D mengerti apa yang ditanyakan orang padanya. Perkembangan
bahasa normal, anak mulai bisa bicara umur 12 bulan.
5. Psikososial :
Saat pengkajian, An.D mau berinteraksi dengan orang lain selain orang
tua bila di beri mainan terlebih dahulu.
6. Lain-lain :
Emosi an.D saat ini labil

VIII. Riwayat Sosial


1. Yang mengasuh klien :
Keluarga (ibu, bapak, dan neneknya)
2. Hubungan dengan anggota keluarga :
An.D merupakan anak kandung dari Ibu Nike dan Bpk mahatir. Saat
pengkajian, Bapak dari An.D sering memaksa anaknya makan-minum
dengan paksa dan sedikit marah-marah pada an.D
Menurut Ibunya, An.D sangat sayang sama adiknya. Mereka jarang

10
sekali ribut.
3. Hubungan dengan teman sebaya :
Sebelum sakit, an.D berteman baik dengan teman sebayanya.
4. Pembawaan secara umum :
Normal, tidak mengalami kelainan mental ataupun IQ yang lemah
(anak tidak sinroma down)
5. Lingkungan rumah :
- Luas rumah 8 x 10 m
- Ventilasi cukup, penerangan cukup
- Pakai sumur gali
- Sampah dibakar
- Jarak rumah dengan rumah tetangga tidak terlalu
jauh kira-kira 10 m

IX. Pemeriksaan Fisik


1. Keadaan umum : sadar/compos mentis
2. TB/BB (cm) :111 cm/ 15 kg
3. Kepala :46 cm
a. Lingkar kepala :
b. Rambut : kebersihan.(bersih) warna. (hitam)
Tekstur (kasar) distribusi rambut.(merata)
Kuat/mudah tercabut....( kuat )
4. Mata :
a. Sklera :Normal/non ikterik
b. Konjungtiva :anemis
c. Palpebra :
d. Pupil :ukuran........2mm.........bentuk.....isokor.........
reaksi cahaya........+/ normal.........
5. Telinga :
a. Simetris : ya
b. Serumen : Ada
c. Pendengaran: Baik

11
6. Hidung :
a. Septum simetris :ya
b. Sekret :tidak
c. Polip :tidak
7. Mulut :
Kebersihan.(kurang) .Warna (merah) Kelembaban.(kering), gusi
berdarah 3 hari yang lalu.
a. Lidah :Ada sariawan ± 1 cm
b. Gigi : caries pada gigi atasnya (keropos semua gigi yang
di atas)
8. Leher :
a. Kelenjer getah bening :
Teraba di colli dextra diameter 1x1/2x1 ½ cm dan di
inguinal dextra ada 3 bh diameter ½ x 1 ½ x 2 cm
b. Kelenjer tiroid :
Tidak ada pembengkakan
c. JVP : 5-2 cm H2O
9. Dada :
a. Inspeksi :Normal
b. Palpasi :Normal

10. Jantung :
a. Inspeksi : iktus cordis di RIC V
b. Auskultasi :-
c. Palpasi :-

11. Paru-paru :
a. Inspeksi :simetris
b. Palpasi :fremitus kiri=kanan
c. Perkusi :-
d. Auskultasi :vesikuler
12. Perut :

12
a. Inspeksi :ada purpura
b. Palpasi :Hepar kenyal dan pinggirnya tajam
c. Perkusi :timpani
d. Auskultasi :bising usus normal (4x/menit)

13. Punggung :bentuk normal

14. Ekstremitas :
Kekuatan dan tonus otot baik
15. Genitalia :-

16. Kulit :
a. Warna :sawo matang
b. Turgor :kembali dalam waktu 2 detik
c. Integritas :ada purpura di abdomen
d. Elastisitas :elastis

17. Pemeriksaan Neurologis : an.D dalam kondisi sadar/compos mentis

X. Pemeriksaan Tumbuh Kembang


a. DDST (terlampir)
b. Status Nutrisi (terlampir)
XI. Pemeriksaan Psikososial
An. D saat dilakukan pengkajian, kurang mau berinteraksi dengan
orang lain. Ketika diberi mainan, an. D baru mau berkomunikasi
dengan orang .
XII. Pemeriksaan Spritual
Orang tua anak mengatakan mereka juga berdoa untuk kesembuhan
anaknya.
XIII. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium :
- Hb : 8,4 gr % - Trombosit : 34.000/

13
mm3
- Leukosit : 1800/mm3 - Ht : 26 %
c. Rontgen :-
d. Lain-lain :-
XIV. Kebutuhan Dasar Sehari-hari
No Jenis kebutuhan Di rumah/sebelum sakit Di rumah sakit
1 Makan Sering di buatkan nasi lunak ML, TKTP 1300
karena an.R memang susah di kalori/hari
suruh makan
2 Minum Kurang minum Jus terung pirus, air putih,
susu
3 Tidur 8 jam/ hari 12 jam/hari
4 Mandi 2x/hari 1x/hari
5 Eliminasi BAB 1X/hari
6 Bermain Normal seperti anak Bermain sendiri dengan
sebayanya permainan seadanya
seperti topeng-topengan

ANALISA DATA

Data Masalah Diagnosa keperawatan


Keperawatan
DS : Gangguan nutrisi Gangguan nutrisi kurang
- Keluarga kurang dari kebutuhan dari kebutuhan tubuh b.d
mengatakan Anak tubuh. intake yang tidak
menolak untuk adekuat.
makan sejak
seminggu yang lalu
- Keluarga
mengatakan
biasanya anak
hanya mampu
menghabiskan 1/4
porsi makan yang
diberikan

14
DO :
- Berat badan anak
turun dari 17 kg
menjadi 15 kg
- Berat badan anak
berdasarkan skala
NCHS
menunjukkan gizi
yang kurang yaitu
76,19%
- Lidah anak terdapat
sariawan dengan
diameter ± 1 cm
- Porsi makan yang
diberi RS belum
dimakan anak
- LILA anak 14 cm

DS : - keluarga mengatakan Resiko infeksi Resiko infeksi b.d


gusi An.D berdarah inadekuat pertahanan
2 hari yang lalu. sekunder atau penurunan
DO : respon kekebalan.
- Leukosit :
1800/mm3
- Hb : 8,4 gr %
- ada purpura di
abdomen
- imunosupresi
- gusi terlihat
berwarna merah
- suhu 38,6 0C
DS : Ketidakefektivan Ketidakefektivan
- keluarga mengatakan penatalaksanaan penatalaksanaan program

15
mereka tidak program terapeutik terapeutik b.d
mengetahui cara kompleksitas program
merawat keluarga pengobatan
dengan leukemia.
- ibu An.D
mengatakan sering
lupa memberikan
obat pada An.D
( pemberian obat
tidak teratur ).
DO :
- An.D sudah dua kali
dirawat di RS dengan
diagnosis penyakit
yang sama (ALL.
Prositostatika ).

INTERVENSI KEPERAWATAN

DIAGNOSA 1 : Resiko tinggi terhadap infeksi b/d inadekuat pertahanan


sekunder atau penurunan respon kekebalan.
Tujuan :
• Terbebas dari tanda dan gejala infeksi
• Menunjukkan higiene pribadi yang adekuat
• Mengindikasikan status gastrointestinal, pernafasan, dan imun
dalam batas normal
• Menggambarkan faktor yang menunjang penularan infeksi
• Melaporkan tanda dan gejala infeksi serta mengikuti prosedur
pernafasan dan pemantauan
Intervensi :
a. Istirahatkan klien pada ruangan khusus/ isolasi

16
Rasional : dengan mengistirahatkan pada ruangan isolasi dapat
menghindari terkontaminasi dengan klien sehingga
infeksi dapat dicegah.
b. Anjurkan klien atau orang tua untuk memelihara kebersihan diri
dan lingkungan klien
Rasional : dengan memelihara kebersihan diri dan lingkungan
dapat
menghambat perkembangbiakan kuman.
c. Laporkan segera adanya tanda-tanda infeksi
Rasional : hindari keterlambatan pengobatan.
d. Tindakan kepatuhan terhadap therapi AB
Rasional : untuk mencegah dan pengobatan infeksi.

DIAGNOSA 2 : Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake


yang tidak adekuat
Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.
Intervensi :
a. Observasi dan catat masukan makanan klien
Rasional : mengawasi masukan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi
makanan.
b. Timbang berat badan setiap hari.
Rasional : mengawasi penurunan berat badan.
c. Berikan makanan sedikit tapi sering.
Rasional : makanan sedikit dapat meningkatkan pemasukan dengan
mencegah distensi lambung.
d. Berikan penyuluhan pada orang tua klien pentingnya nutrisi yang
adekuat.
Rasional : menambah pengetahuan klien dan orang tua tentang pentingnya
makanan bagi tubuh dalam membantu proses penyembuhan.
e. Tingkatkan masukan cairan diatas kebutuhan minuman
Rasional : guna mengkompensasi tambahan kebutuhan cairan.
f. Dorong anak untuk minum.

17
Rasional : meningkatkan kepatuhan.
g. Ajarkan orang tua tentang tanda-tanda dehidrasi
Rasional : menghindari keterlambatan therapi rehidrasi.
h. Tekankan pentingnya menghindari panas yang berlebihan.
Rasional : menghindari penyebab kehilangan cairan.

DIAGNOSA 3: Ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik b.d


kompleksitas program pengobatan
Batasan Karakteristik
Subjektif:
• Pengungkapan secara verbal keinginan untuk mengelola pengobatan
penyakit untuk mencegah gejala sisa
• Pengungkapan secara verbal kesulitan pengaturan atau integrasi dari salah
satu atau lebih efek atau pencegahan komplikasi
• Pengungkapan secara verbal bahwa keluarga tidak dapat bertindak untuk
mengurangi factor resiko dan gejala sisa
Objektif
• Percepatan gejala-gejala penyakit dari anggota keluarga
• Aktivitas keluarga yang tidak tepat dalam mencapai tujuan program
pengobatan untuk pencegahan
• Kurangnya perhatian terhadap penyakit atau gejala sisa
Tujuan/Kriteria Hasil
Keluarga akan:
• Menunjukkan keinginan untuk mengelola regimen atau program terapeutik
• Mengidentifikasi factor-faktor pengganggu program terapeutik
• Mengatur kegiatan yang biasa dibutuhkan ke dalam program pengobatan
anggota keluarga, misalnya diet, aktivitas sekolah
• Mengalami penurunan gejala sakit diantara anggota keluarga
Intervensi
• Kaji status koping dan proses keluarga saat ini

18
• Kaji tingkat pemahaman anggota keluarga pada penyakit, komplikasi, dan
penanganan yang disarankan
• Kaji kesiapan anggota keluarga untuk mempelajarinya
• Identifikasi kemampuan anggota keluarga untuk terlibat dalam perawatan
pasien
• Tentukan sumber pemberi perawatan utama secara fisik, emosional, dan
pendidikan
• Tentukan tingkat ketergantungan pasien pada keluarga, dengan cara yang
sesuai dengan usia dan penyakit
Pendidikan untuk pasien dan keluarga
• Berikan keterampilan yang dibutuhkan untuk terapi pasien kepada
pemberi perawatan
• Ajarkan strategi untuk mempertahankan/memperbaiki kesehatan
pasien
• Memudahkan pemahaman keluarga dalam aspek penyakit secara
medis
• Bantu pemberi perawatan utama untuk mendapatka persediaan
perawatan yang dibutuhkan

EVALUASI
Evaluasi adalah suatu penilaian terhadap keberhasilan rencana
keperawatan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan klien. Menurut Wong. D.L,
(2004 hal 596-610) hasil yang diharapkan pada klien dengan leukemia adalah :
1. Anak tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.
2. Berpartisipasi dalam aktifitas sehari-sehari sesuai tingkat kemampuan,
adanya laporan peningkatan toleransi aktifitas.
3. Anak tidak menunjukkan bukti-bukti perdarahan.
4. Anak menyerap makanan dan cairan, anak tidak mengalami mual dan
muntah.
5. Membran mukosa tetap utuh, ulkus menunjukkan tidak adanya rasa tidak
nyaman.
6. Masukan nutrisi adekuat.

19
7. Anak beristirahat dengan tenang, tidak melaporkan dan atau menunjukkan
bukti-bukti ketidaknyamanan, tidak mengeluhkan perasaan tidak nyaman.
8. Kulit tetap bersih dan utuh.
9. Anak mengungkapkan masalah yang berkaitan dengan kerontokan rambut,
anak membantu menentukan metode untuk mengurangi efek kerontokan
rambut dan menerapkan metode ini dan anak tampak bersih, rapi, dan
berpakaian menarik.
10. Anak dan keluarga menunjukkan pemahaman tentang prosedur, keluarga
menunjukkan pengetahuan tentang penyakit anak dan tindakannya.
Keluarga mengekspresikan perasaan serta kekhawatirannya dan
meluangkan waktu bersama anak.
11. Keluarga tetap terbuka untuk konseling dan kontak keperawatan, keluarga
dan anak mendiskusikan rasa takut, kekhawatiran, kebutuhan dan
keinginan mereka pada tahap terminal, pasien dan keluarga mendapat
dukungan yang adekuat.
12. Evalusi tingkat pemahaman keluarga terhadap tatalaksana perawatan
penyakit.

20
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Leukemia adalah suatu jenis kanker darah. Gangguan ini disebabkan oleh
sel darah putih yang diproduksi melebihi jumlah yang seharusnya ada. Leukemia
akut pada anak adalah suatu kelainan atau mutasi pembentukan sel darah putih
oleh sumsum tulang anak maupun gangguan pematangan sel-sel tersebut
selanjutnya. Gangguan ini sekitar 25-30% jumlahnya dari seluruh keadaan
keganasan yang didapat pada anak.
Leukemia terdiri dari dua tipe besar, yakni acute lymphoblastic leukemia
dan acute myeloid leukemia. Jumlah penderita acute lymphoblastic leukemia
umumnya lebih banyak dibandingkan jenis acute myeloid leukemia.
Penyebab utama penyakit kelainan darah ini sampai sekarang belum
diketahui secara pasti, dan masih terus diteliti. Namun, faktor genetik berperan
cukup penting pada beberapa penelitian yang dilakukan. Dengan kata lain, ada
hubungannya dengan faktor keturunan, selain tentunya banyak faktor penyebab
lain yang bervariasi sesuai kasus per kasus dan jenis subtipe yang didapat.
Terapi yang diberikan pada penderita leukemia akut bertujuan untuk
menghancurkan sel-sel leukemia dan mengembalikan sel-sel darah yang normal.
Terapi yang dipakai biasanya adalah kemoterapi (pemberian obat melalui infus),
obat-obatan, ataupun terapi radiasi. Untuk kasus-kasus tertentu, dapat juga
dilakukan transplantasi sumsum tulang belakang.
Mengenai kemungkinan keberhasilan terapi, sangat tergantung waktu
penemuan pertama penyakit si penderita. Apakah dalam stadium awal atau sudah
lanjut, subtipe penyakit, teratur tidaknya jadwal terapi yang dilakukan, timbul
relapse (kambuh) atau tidak selama terapi maupun kemungkinan penyebab yang
bisa diperkirakan.

3.2. Saran
Bagi keluarga sebaiknya memahami bagaimana tatalaksana terapeutik
untuk pasien leukemia agar penyakitnya tidak memasuki stadium lanjut.

21