Anda di halaman 1dari 30

TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR UNTUK INDUSTRI

TK090313

Agung Subyakto

Skema Pengolahan Air Industri

Air Proses
Sumber Pengolahan Pengolahan Pengolahan Pengolahan Air Ketel
Air Secara Fisika Secara Kimia Secara Fisika Khusus Air Pendingin
Air Sanitasi

Panyaringan Koagulasi Gravity Filter Pelunakan dengan


Kasar Floculasi Pressure Filter Kapur
Plain Sedimentasi Adsorbsi Pelunakan Dengan
Sedimentasi. Aerasi Penukar ion
Demineralisasi
Desinfiction

Air sebagai salah satu bahan utilitas. Secara praktis hampir tak pernah dijumpai air
(H2O) di alam murni, air alam selalu mengandung senyawa-senyawa yang terlarut
didalamnya. Hal ini disebakan akibat kuatnya daya larut air.

SENYAWA LAIN DALAM AIR


- Senyawa Primer (kadar diatas 5 mg/lt) === 1mg = 1 ppm
Kalsium Karbonat
Magnesium Bikarbonat
Natrium Sulfat
Silikat Khlorida
- Senyawa Sekunder (kadar antara 0,1 – 5 ppm)
Kalsium Nitrat
Besi (Fe) Flourida
Amoniak
- Senyawa Tersier (kadar antara 0,01 – 0,1 ppm)
Tembaga Phospat
Timah Arsen
Seng Alumunium
Dll
Disamping senyawa diatas, terdapat juga gas-gas terlarut O2, CO2, Cl2 dll.
Sumber air (air baku) untuk kegiatan industri tersedia dalam
- Air sungai
- Air Rawa/ Danau/ Waduk
- Air Tanah
- Air Laut
1. Air Sungai
Sungai merupakan sumber air baku yang potensial bagi industri  industri berdiri
sepanjang sungai.
Karakteristik tergantung :
- Asal aliran
- Penggunaan disepanjang aliran sungai.
- Struktur tanah disepanjang aliran sungai.

2. Air Rawa/ Danau/ Waduk


Pada umumnya kualitas air ini hampir sama dengan air sungai, Fluktuatif kualitas
dan debit airnya lebih kecil daripada air sungai.

3. Air Tanah
Merupakan cadangan air yang cukup besar, Keberadaannya merupakan siklus
alam. Fluktuasi kualitas dan debit airnya stabil.

4. Air Laut
Karena kadar garam atau Salinitas (NaCl, Na2SO4) terlalu tinggi, biasanya
digunakan sebagai air pendingin alat mesin-mesin industri sekali lewat. Air laut
sering digunakan sebagai air tawar tapi melalui proses terlebih dahulu.

KUALITAS dan PARAMETER AIR


Ditentukan oleh impurities yang terdapat di alam
Penggolongan impurities
a. Kotoran yang tersuspensi
- bakteri  penyebab penyakit
- algae  menyebabkan bau, warna, kekeruhan
- Lumpur (berupa pasir halus, dan zat-zat organik)  menyebabkan warna
b. Kotoran yang terlarut
Dalam bentuk garam
- Kalsium dan Magnesium : Karbonat, Bicarbonat, Klorida,
Sulfat.
- Sodium : Kabonat, Bikarbonat, Klorida,
Sulfat.
- Dalam Besi : Penyebab rasa, warna, korosi.
- Gas-gas : Oxigen, Carbon dioksigen.

ISTILAH dalam KUALITAS AIR


a. Kesadahan (Hardness)
Kesadahan adalah ukuran jumlah ogam alkali (biasanya Kalsium dan Magnesium)
yang ada dalam air.
Pengukuran biasanya dialkukan secara volumetric menggunakan reagent EDTA
(Etilin Diamin Tetra Acetic Acid). Satuan yang lazim digunakan adalah :
- Derajat Jerman (oD)
- Ppm CaCO3
o
1 D = 17,8 ppm CaCO3
b. Alkalinitas
Ukuran jumlah ion bikarbonat (HCO-3), Karbonat (CO-) dan Hidroksida (OH-)
dalam air.
Cara pengukuran menggunakan titrasi (volumetric) menggunakan basa kuat (HCl
atau H2SO4) dengan indikator PP (p. Alkalinitas) dan indikator MO (m. Alkalinitas).
Dari kedua parameter diatas (p dan m alkalinitas) dapat dihitung kadar ion OH -, CO-,
HCO-3 Sbb:

(OH-) (CO3-) (HCO-3)


1. PA
LK =0
2. PA
0 0 MALK
LK < 0,5
0 2.PALK MALK-2.PALK
3. PA
0 MALK 0
LK = 0,5 MALK
2.PALK-MALK 2(PALK-MALK) 0
4. PA
MALK 0 0
LK > 0,5 MALK
5. PA
LK = MALK

Kesimpulan :
- Ketiga ion tidak pernah ada dalam satu air
- Bila pH air kurang 8,3  maka p. Alk akan Nol, dengan demikian dalam
air tersebut selruh alkalinitas adalah bicarbonat.

Kegunaan air dalam Industri


- Air Sanitasi
- Air Pendingin
- Air Ketel  Steam
Air baku tidak bisa langsung digunakan sebagai kebutuhan air diatas, perlu diolah
sesuai dengan syarat tertentu.

PENGOLAHAN AIR BAKU

Air merupakan pelarut yang sangat baik, sehingga mineral-mineral dan gas-gas terlarut,
Mineral dan gas ini sangat menganggu dalam penggunaannya maka  PENGOLAHAN.

1. Pengolahan secara FISIKA


Seperti saringan, pengendapan karena beratnya :
- memisahkan padatan yang kasar
- memisahkan padatan yang terapung
- memisahkan minyak dan lemak.
A. Memisahkan padatan yang kasar
Pasir, Lumpur dapat diendapkan tanpa penambahan bahan kimia
(Flokulasi dan Koagulasi)
B. Memisahkan padatan yang terapung.
Plastik dan zat-zat organik sering dijumpai pada air permukaan terutama
yang melawati pemukiman penduduk. Untuk memisahkan digunakan screen
maupun bak penampung dengan mengatur pengeluaran efluen dibawah
permukaan air dan kotoran yang terapung dapat dipisahkan secara manual
maupun mekanis.

2. Pengolahan secaraKIMIA
Dengan menghembuskan proses koagulasi, flokulasi dan sedimentasi. Pada
prinsipnya untuk membuat partikel terlarut dan tersuspensi menjadi partikel
gumpalan yang ukurannya lebih besar dan kompak sehingga mudah mengendap.
Koagulasi dapat didefinisikan sebagai proses diman bahan kimia ditambahkan
(koagulan) dalam air yang mengandung partikel tersuspensi (koloidal) disertai dengan
pengadukan dengan RPM tinggi agar mendapat homogenitas larutan. Kemudian
dilanjutkan dengan pengadukan lambat (8-10 RPM), dimana koagulan menetralkan
muatan koloid  sehingga partikel dapat membentuk floc (gumpalan) yang besar 
dan partikel cepat mengendap. Proses ini disebut flokulasi.
Pemilihan koagulan yang sesuai tergantung dari suspended solid dan pH air.
Macam-macam Koagulan
- Alum (Alumunium sulfat/Al2(SO4)3
- PAC (poly Alumunium Chloride) Aln(OH)mCl3n-m
Standarisasi proses koagulasi dan flokulasi
Koagulasi : n = 80 – 100 RPM
t = 1 – 5 menit
Flokulasi : n= 5 – 8 RPM
t = 20 – 40 menit
n = kecepatan pengadukan
t = waktu tinggal
Floc (endapan) yang terbentuk dipisahkan dengan sedimentasi.

Filtrasi
Air yang keluar dari proses flokulasi yang masih mengandung flok-flok halus
masih memerlukan penyaringan melalui suatu media yang berpori dimana
flok/padatan tertapis, sedangkan air jernih diteruskan.
Efektifitas proses filtrasi/penyaringan (sand filter) tergantung dari :
- Rate filtrasi
- Ukuran filter media
- Susunan media filter
- Tinggi/kedalaman (bed) filter
Macam-macam filter/sand filter
Menurut cara kerjanya filter dapat digolongkan sebagai :
a. Grafity filter
Merupakan filter terbuka atau tertutup tetapi terhubung dengan udara luar
(atmosfir). Filter media lapisan pasir (pasir silica/antrasit) halus sampai kasar
dengan tinggi bed 60 – 90 cm.
Air masuk dari atas dan keluar dari bawah dan dialirkan ke penampung air bersih.
Semakin lama media penyaring akan jenuh dan perlu dilakukan pembersihan
(backwash). Backwash dilakukan secara berlawanan arah, dari bawah ke atas,
sebagai media pembersih biasanya air.
b. Pressure filter
Pada dasarnya sama dengan gravity filter hanya tangki dalam kondisi tertutup
dimana air dipaksa melalui bed dengan tekanan tinggi.
Bahan filter media
Banyak bahan yang dapat digunakan untuk menyaring air di dalam air industri,
misalnya pasir kwarsa, coke/antrasit, tanah diatome dll, dan yang lazim digunakan adalah
pasir kuarsa antrasit.
Pemilihan ukuran, kualitas dari pasir dan juga tebal/kedalaman lapisan sangat penting
dalam design filter.

Antrasit coal.
Media filter ini lazim digunakan dalam proses penyaringan dan juga dipakai pada
filtrasi air dari ”lime soda softening system”.
Keuntungan bila dibandingkan dengan pasir kwarsa/silica :
- Mempunyai true densitas yang lebih kecil (Sg + 1,5 dibandingkan
pasir + 2,65)
- Bentuknya tidak beraturan sehingga tumpukan filter lebih porous,
sehingga lebih mudah dalam pencucian dan pressure dropnya kecil.
- Antrasit mempunyai sifat inert bila dibandingkan dengan pasir silica.
Kerugian media ini (antrasit) adalah kurang kuat bila dibandingkan dengan pasir silica
PENGOLAHAN LANJUTAN
Air yang telah mengalami penjernihan, ditampung pada bak penampung untuk
selanjutnya didistribusikan untuk berbagai keperluan dengan kualitas/syarat tertentu.
Untuk keperluan industri, air umumnya digunakan :
1. Air Sanitasi.
2. Air Proses.
3. Air Ketel/Boiler.
4. Air Pendingin/Cooling Water System.
I. PERAWATAN AIR KETEL

- Air PAM

- Air industri  Padatan terlarut

- Air Sumur  Padatan tersuspensi

- Air Sungai  Gas terlarut

Pengolahan =====> aman dan ofisien untuk operasi

1.1. Permasalahan yang disebabkan senyawa-senyawa kimia pada ketel dan proses
penanggulangannya

Senyawa-senyawa Permasalahan Penanggulangannya


kimia
Kesadahan - Terbentuknya kerak pada - Pelunakan/softening
bagian dalam drum atau
(Ca, Mg) - Menggunakan ketel
permukaan panas compound
- Menyebabkan perluasan - Pengontrolan kualitas
dan memecah/meletusnya air ketel
pipa-pipa penguapan
Silika (SiO2) - Terbentuknya kerak pada - Demineralisasi
bagian dalam drum atau - Menggunakan ketel
permukaan panas compound
- Menyebabkan perluasan - Pengontrolan, kualitas
dan memecah/meletusnya air ketel
pipa-pipa penguapan
Alkalinitas - Akan terurai dengan adanya - Menggunakan ketel
pemanasan pada ketel dan compound
air ketel menjadi bersifat - Pengontrolan kualitas
alkali (kelebihan alkali) air ketel
- Menyebabkan ”Carry over” - Menggunakan senyawa
emina
- CO2 dihasilkan dari
dekomposisi panas pH dari - Pelunakan dengan
sistim kondensat menurun dealkalinisasi
dan proses korosi akan
meningkat

Senyawa-senyawa Permasalahan Penanggulangannya


kimia
Besi - Menurunnya efisiensi dari - Perlakuan oksidasi dan
ion resin pengganti filtrasi
- Korosi lanjut dalam ketel - Koagulasi dan
sedimentasi
- Demineralisasi
- Menggunakan
pencegah karat
Gas-gas terlarut - Korosi dan sistim umpan - Deaerasi
ketel dan sistim kondensat
(O2, CO2) - Menggunakan “oxygen
scavenger”
- Mengunakan senyawa
amina
Total padatan - Menyebabkan “carry over” - Pengontrolan kualitas
air ketel
- kontaminasi dan ion resin
pengganti - Filtrasi
- Penyumbatan dari pipa- - Demineraslisasi
pipa, membentuk endapan - Koagulasi dan
di dalam ketel sedimentasi
Komponen minyak - Menyebabkan terbentuknya - Filtrasi dengan
busa pada air Ketel dan menggunakan karbon
terjadi “carry over” aktif
- Terbentuknya kerak pada - Flotasi
permukaan panas
1.2. Permasalahan yang disebabkan oleh kualitas air dan penanggulangannya

Macam Permasalahan Penyebab Dari


Pemasalahan Permasalahan
Yang Ditimbulkan
Pengerakan - Pengerakan yang disebab- - Pengontrolan yang
kan kesadahan dan silika buruk pada proses
pada permukaan dalam softener
dari drum atau permukaan - Pengontrolan yang
panas buruk dari kualitas air
- Menyebabkan perluasan ketel
atau memecah / meletus- - Metode yang salah
nya pipa-pipa penguapan pada sistim injeksi
kimia
Korosi - Korosi dari sistim umpan, - Tidak sempurnanya
saluran-saluran kondensat pengaturan pH dan
dan permukaan panas ketel penghilangan oksigen
karena adanya gas-gas - Penggunaan kembali
terlarut air kondensat yang
- Korosi oleh oksida-oksida banyak mengandung
metalik yang menempel bahan-bahan
dan pengendapan pada pembentuk karat
permukaan panas - Korosi yang terjadi
selama ketel tidak
dioperasikan
“Carry Over” - Menurunnya kualitas uap - Perubahan beban yang
mendadak
- Menurunnya efisiensi ketel
- Kontrol yang buruk cari
kualitas air ketel
- kesalahan dari bagian
pemisah uap (steam
separator) atau pada
pengontrolan air
umpan
- Terkontaminasinya air
ketel karena proses

II. KERAK DAN PENCEGAHANNYA

Konsentrasi ion atau padatan terlarut dalam air ketel menjadi sangat pekat karena
adanya penguapan serta penurunan kelarutan karena meningkatnya temperatur.

II.1. Beberapa tipe kerak dalam ketel


Kalsium karbonat : CaCO3

Magnesium hidroksida : Mg(OH)2

Kalsium silikat : CaSiO3

Magnesium silikat : MgSiO3

Silika : (SiO2)n

Besi oksida : Fe2O3, Fe3O4, ….. dll

Hidroksi apatit : [Ca3(PO4)2]3 Ca(OH)2

Table 3. Thermal conductivities of typical scales and metals

Substance Thermal conductivity


(kcal/m.h.oC)
Silica scales 0.2 - 0.4
Carbonate scales 0.4 - 0.6
Sulfate scales 0.6 - 2.0
Carbon steel 40 – 60
Copper 320 - 360
Fig. 2.5 Schematic state of heating surface
NERACA AIR (WATER BALANCE) DI SISTEM BOILER

KONDENSAT, C
PROSES
Steam ,E

MAKE-UP, M AIR UMPAN, F

TANGKI AIR BOILER


BLOWDOWN, B

F = C + M

F = E + B

N = CB / CF = F/B

B = E / (N - 1)

dimana : F = Air umpan (feed water), ton/jam

C = Kondensat , ton/jam.

E = Laju penguapan/evaporasi steam , ton/jam.

B = Blowdown, ton/jam.

N = Siklus pemekatan (konsentrasi).

CB = Konsentrasi padatan terlarut di Blowdown (= boiler)


CF = Konsentrasi padatan terlarut di air umpan.

Fig. 3 Relationship between scale thickness and increase of fuel consumption

2.2. Metode pengendalian kerak

a. Perawatan Luar

Menghilangkan ion pembentuk kerak pada air umpan, seperti pelunakan maupun
pemurnian (demineralized).

b. Perawatan Dalam

Menjaga terbentuknya kerak sebagai akibat masuknya ion pembentuk kerak ke dalam
ketel menggunakan bahan kimia.

2.2.1. Perawatan Luar Regeneran NaCl

a. Pelunakan

Softener
(R.SO3Na)
Penyerapan hardness

R-(SO3Na)2 + Ca+2 R-(SO3)Ca + 2 Na+

R-(SO3Na)2 + Mg+2 R-(SO3)Mg + 2 Na+

Regenerasi

R-(SO3)2Ca + 2NaCl R-(SO3Na)2 + CaCl2

R-(SO3)2Mg + 2NaCl R-(SO3Na)2 + MgCl2

Penting

(1) Regenerasi dilakukan sebelum softener jenuh

(2) Selalu cek konsentrasi hardness dalain air lunak

(3) Cek kapasitas resin setiap 1-2 tahun

(4) Resin dicuci. Jika terkontaminasi oleh kotoran besi.


Figur 5. Relationship between hardness and amount of treated water in water softening

b. Demineralisasi

2.2.2. Perawatan dalam (kimiawi)

Tujuan :

Mencegah terbentuknya kerak menggunakan bahan kimia sebagai akibat dari


lolosnya hardness dan softener maupun unit demin, juga karena silika tidak dapat
diserap oleh softener.

ii. Bahan kimia :

a. Boiler compound : - fosfat : - fosfat

(Alcon) - alkali

- non fosfat (polymer)


Fungsi fosfat dan alkali adalah :

Bereaksi dengan hardness membentuk endapan lunak hydroxyapatit dan


magnesium hydroxide dalam ketel. Endapan ini akan dibuang keluar dan. ketel
melalui blowdown.

10Ca+2 + 6PO4-3 + 2OH- ----> (Ca3(PO4)2)3Ca(OH)2 +


Hydroxyapatit
10Na2CO3 + 10CO2 + 10H20

Mg+2 = 2OH- ----> Mg(OH)2

Alkali

Menjaga silika agar berbentuk sebagai sodium silika dalam air ketel sehingga selalu
larut dalam air ketel dalam pH tertentu.

H2SiO3 + 2NaOH ----> Na2SiO3 + 2H2O

Jadi untuk mencegah timbulnya kerak karena hardness dan silika, perlu dijaga :

- pH

- P-alkalinity

- Fosfat ion

??? P.alk. (ppm sbg CaCO3) ≥ 1,7 : silika tidak mengendap silika (ppm sbg SiO2)

1 ppm CaCO3 ≈ 0,57 ppm PO4-3

Konsentrasi fosfat ion dijaga : 20 – 40 ppm

b. Pendispersi endapan

1 ketel + boiler compound

- tersuspensi ---> blowdown

- tersuspensi --->

- blowdown kurang ---> aliran panas meningkat ---> pengendapan/lumpur +


pendispersi lumpur ---> blowdown

Kalsium
Magnesium Dispersan

Silika Kerak / ------------> terdispersi

Besi Lumpur (tidak mengendap)

Fosfat

Mekanisme kerja dispersan

Tanpa Dispersan Dengan Dispersan

Blow Blow
Down Down

Pipa Boiler Pipa Boiler

Keuntungan :

- Permukaan pipa bersih dari kerak & lumpur

- Menghemat blowdown Karena N >

- Menghemat Energi

II. KOROSI

1. Korosi karena oksigen terlarut

Terjadi pada pipa umpan dan pipa ketel


Figur 9. Corrosion reactions on carbon steel in neutral Water

Fe --------> Fe2+ 2e (anoda)

1/2O2 + 2e + H2O --------> 2OH- (katoda)

Fe+2 + 2OH- --------> Fe(OH)2

2Fe(OH)2 + 1/2O2 + H2O --------> 2Fe(OH)3

2. Korosi karena karbondioksida

Terjadi pada pipa kondensat

Ion bikarbonat dalam air umpan akan terurai karena panas menjadi
karbondioksida dalam ketel.

panas
2HCO3- --------> H2O + CO32- + CO2

panas
CO32- + H2O --------> 2OH- + CO2

CO2 akan terbawa oleh steam dan akan larut kembali pada saat steam
terkondensasi, sehingga pH air kondensat turun dan pipa kondensat akan
terkorosi.

CO2 + H2O --------> H2CO3

H2CO3 --------> H+ + HCO3-

Fe --------> Fe2+ + 2e (anoda)

2H+ + 2e --------> H2 (katoda)

Fe + 2H+ + 2HCO3- --------> Fe(HCO3)2 + H2


pH
Carbon Dioxide (mg CO2 / lt )

Figur 14. Relation between pH and carbon dioxide concentration

3. Korosi karena alkali

Pada bagian ketel yang sangat panas, komponen padatan terlarut yang mudah
rnengendap akan mengendap dan yang sulit mengendap seperti NaOH akan
terkonsentrasi.

Jika konsentrasi NaOH melebihi 20%, akan terjadi korosi pada besi :

Fe + 2NaOH --------> Na2FeO2 + H2

3Na2FeO2 + 4H2O --------> 6NaOH + Fe3O4 + H2

Korosi alkali biasa terjadi pada ketel dengan temperatur di atas 350oC.

IV. PENCEGAHAN KOROSI

1. Menghilangkan oksigen terlarut dalam air

a. Deaerator

b. Bahan kimia pengikat oksigen

* Hydrazine

N2H4 + O2 --------> N2 + H2O

N2H4 + 6Fe2O3 --------> 4Fe3O4 + N2 + 2H2O


(Magnetik Protective film)

1 ppm N2H4 1 ppm O2

Hydrazine :

- tidak menaikkan TDS (Total Dissolved Solid)

- baik untuk ketel tekanan tinggi maupun ketel “once through”.


- pada temperatur di atas 220oC, terurai menjadi amonia

3H2N4 --------> 4NH3 + N2

* Sodium sulfit

2Na2SO3 + O2 --------> 2Na2SO4

7,9 ppm Na2SO3 1 ppm O2 -----> 8,9 ppm sodium sulfat

Figur 21. Influences of oxigen and sulfate on carbon sleel corrosion

- tidak menghasilkan zat korosif

- tidak beracun

- baik untuk ketel pada pabrik makanan dan obat

2. Menghilangkan karbondioksida

a. Decarbonator

Ion bikarbonat dapat dihilangkan dengan decarbonator pada demin unit. Jika
menggunakan softener, maka resin harus dalam bentuk H+.

b. Neutralizing agents

Bahan kimia : volatile amines

Fungsi : menaikkan pH air kondensat

V. CARRY OVER
Padatan terlarut dalam air ketel ikut terbawa oleh aliran uap. Hal ini akan
menurunkan kemurnian uap air, sehingga akan menyebabkan kerak pada turbin atau
mengotori produk.

1. Sebab-sebab carry over

a. Struktur separator yang kurang baik.

b. Perubahan beban penguapan yang mendadak

c. Level air dalam ketel terlalu tinggi.

d. Air ketel terlalu pekat, sehingga terjadi foaming.

2. Pencegahan carry over

a. Perbaiki struktur separator.

b. Hindari perubahan beban penguapan yang mendadak.

c. Jaga level air.

d. Menghilangkan minyak dan lemak dalam air umpan.

e. Jaga kualitas air ketel denqan mengatur blowdown.


HUBUNGAN ALKALINITAS DAN ION-ION

Hasil Tes Konsentrasi


-
OH CO32- HCO3-
Akkalinitas
P=0 0 0 M
P<½M 0 2P M – 2P
P=½M 0 2P 0
P>½M 2P – M 2 (M-P) 0
P=M M 0 0

TABEL SOFTENER
Dasar : Total Hardness = 200 ppm as CaCO3
Siklus Regenerasi = 24 jam
Konsentrasi Reg. =6%
Flow Rate Ukuran Tangki Regenerant NaCl.
Resin (liter)
(m3/jam) Ø (cm) Tinggi (cm) 100 % (Kg)
1 30 180 80 13
2 40 200 160 25
3 50 200 250 40
4 55 220 310 50
5 60 220 400 60
6 65 230 500 75
7 70 230 550 85
8 75 230 650 100
9 80 230 700 110
10 80 250 800 120
12 85 260 950 150
14 90 280 1100 170
16 95 280 1250 200
18 100 280 1400 220
20 105 280 1550 245
22 110 290 1700 260
24 115 290 1900 290
26 120 290 2050 310
28 125 290 2200 340
30 130 290 2400 360
35 140 290 2800 425
40 150 290 3100 500
45 160 290 3500 550
50 170 290 4000 600