Anda di halaman 1dari 8

Dasar agronomy " penanaman"

Kegiatan penanaman merupakan salah satu langkah dalam budidaya tanaman. Dalam
penanaman ada dua macam cara, yaitu langsung ditanam pada media tanam dan melalui
pesemaian terlebih dahulu. Menanam merupakan pekerjaan yang sangat penting dalam usaha
produksi tanam. Kekeliruan pada tahap ini bukan saja dapat menurunkan produksi, melainkan
juga dapat menyebabkan tanaman tidak tumbuh atau mati sebelum menghasilkan. Seringkali
terjadi para petani melakukan penanaman akan tetapi hanya dengan asal tanam saja tanpa
memperhatikan langkah-langkahnya secara baik, sehingga produksi yang dihasilkan rendah.
Oleh karena itu dalam proses penanaman harus benar-benar diperhatikan langkah-langkahnya
agar tanaman dapat tumbuh sebagai mana mestinya. Tanaman yang ditanam dengan cara yang
benar akan dapat menghasilkan produksi yang maksimal. Dalam penanaman yang paling
penting adalah waktu tanam dan persiapan tanah, selain itu bibit juga sangat mempengaruhi
produksi dari tanaman tersebut.

Bibit yang unggul akan dapat menghasilkan varietas tanaman yang baik. Unggul disini
dimaksudkan memiliki banyak sifat-sifat agronomi yang unggul dibandingkan varietas lain,
selain itu juga tahan terhadap penyakit. Dalam hal varietas unggul perlu diperhatikan cara-cara
mempertahankan kemurnian varietas, dengan isolasi waktu dan isolasi tempat untuk varietas-
varietas yang menyerbuk silang, atau dengan isolasi fisik. Dengan memperhatikan hal-hal
tersebut maka akan bisa menghasilkan produksi yang baik.

B. Tujuan
1. Dapat mempelajari cara menanam berbagai jenis tanaman, baik dari golongan tanaman
semusim maupun tahunan.
2. Dapat mempelajari cara menanam tanaman dengan bahan tanam yang berbeda-beda.
3. Dapat mengamati pengaruh beberapa macam perlakuan yang dicoba terhadap masing-
masing tanaman.

TINJAUAN PUSTAKA

Menanam merupakan pekerjaan yang sangat penting dalam usaha produksi tanam. Kekeliruan
yang terjadi pada tahap ini tidak saja dapat menurunkan produksi, melainkan juga dapat
menyebabkan tanaman tidak tumbuh atau mati sebelum menghasilkan. Sehingga cara menanam
perlu dipelajari dengan baik, agar kegagalan dapat dihindari. Karena kesalahan dalam bercocok
tanam hanya akan membuang biaya, tenaga dan waktu.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan supaya tanaman dapat tumbuh dan memberikan hasil yang
baik, dalam arti tanaman yang ditanam dapat tumbuh sesuai dengan yang diharapkan dan
memberikan hasil yang optimal. Faktor-faktor tersebut antara lain :
Tanah.
Menurut ahli tanah, tanah adalah sarana produksi tanaman yang mampu menghasilkan berbagai
tanaman (AAK, 1984). Kondisi tanah harus diatur agar fungsi tanah dapat berperan sebagaimana
mestinya. Tanah memiliki beberapa fungsi antara lain :
Sebagai tempat tegaknya tanaman.
Sebagai media tumbuh yang menyediakan unsur hara, air dan udara.
Sebagai tempat tumbuhnya akar, umbi, polong yang bersifat sebagai cadangan makanan pada
beberapa tanaman.
Karena peranan tanah yang sangat penting, maka kondisi tanah harus benar-benar dijaga dengan
cara pengolahan tanah yang baik. Dimana tujuan dari pengolahan tanah itu sendiri antara lain,
adalah :
Mermperbaiki suhu, peredaran air dan udara dalam tanah.
Meningkatkan sifat fisik tanah.
Mempermudah penggunaan obat-obatan dan pupuk dalam tanah.
Jenis tanaman yang diusahakan.
Setiap jenis tanaman memiliki cara penanaman yang berbeda-beda. Ada jenis tanaman yang
bijinya dapat ditanam langsung. Ada tanaman yang perlu disemaikan terlebih dahulu sebelum
ditanam di lapang.
Jenis tanaman juga berpengaruh pada pengolahan tanah. Ada yang menghendaki pengolahan
tanah yang sempurna dan ada yang hanya memerlukan pengolahan tanah sebagian.
Bahan tanam yang digunakan.
Bahan tanam menentukan cara menanam dan pertumbuhan tanaman, misalnya tebu dengan stek
pucuk dapat ditanam dengan direbahkan, tetapi bibit yang berupa rayungan harus ditanam tegak.
Untuk bibit yang berbentuk tanaman muda ada yang setelah ditanam memerlukan perlindungan
terlebih dahulu sebelum tanaman cukup kuat untuk menerima cahaya matahari secara langsung.
Musim dan waktu tanam.
Tanaman harus ditanam di musim yang tepat. Tanaman yang tidak ditanam pada musim yang
tepat pertumbuhannya akan lambat, atau mudah terserang serangan hama/ penyakit sehingga
produksinya akan berkurang. Tiap tanaman memiliki waktu tanam yang berbeda, ada tanaman
yang baik ditanam pada musim hujan, kemarau dan akhir musim hujan, atau akhir musim
kemarau.
Selain hal-hal diatas faktor yang tersangkut pada penanaman antara lain energi penyinaran dalam
bentuk panas dan cahaya dan udara yang memberikan karbondioksida dan oksigen. Tanah dan
energi penyinaran bervariasi di permukaan bumi. Walaupun komposisi udara di atas bumi
hampir seragam di atas tanah, presentasi udara di dalam tanah bervariasi sangat besar.
Areal-areal tertentu dari daerah tropik dan beriklim sedang mampu untuk menyokong
pertunbuhan yang subur. Dalam tempat-tempat yang favorable ini, tanaman menjadi serasi pada
keadaan lingkungan dan menjadi bagian yang tak terpisahkan. Faktor-faktor apapun dari
sekeliling tanaman itu yang menjadi kurang optimum, akan membatasi pertumbuhan tanaman.
Pada penanaman, benih dapat disebar langsung di tempat tanam permanen atau mula-mula dalam
wadah atau tempat dimana tanaman muda dapat dipindahkan (transplanting) sekali atau dua kali
sebelum penanaman permanen. Penyemaian atau pembibitan ditujukan untuk mananam bibit
atau semai untuk memberikan pengaturan lingkungan yang lebih tepat, selama tahap
perkecambahan yang gawat dan awal pertumbuhan bibit. Dalam penanaman padi sawah, untuk
menghemat waktu selama pengerjaan tanah yang makan waktu lama, benih telah ditebar dulu di
pesemaian khusus.
Tanaman yang sukar dipindahkan atau yang harga satuan tanaman tidak memadai kerepotan dan
biaya pemindahan ditanam dengan sebaran langsung. Banyak tanaman sayuran selalu ditanam
langsung seperti buncis, kacang panjang panjang, jagung manis, lobak, wortel dan ketimun.
Jarak tanam yang tepat sangat penting dalam sebar langsung, untuk menghindari kebutuhan
penjarangan atau penyulaman yang ekstensif. Hal ini sukar dilaksanakan untuk benih-benih
kecil atau benih yang tidak bundar (lettuce) hingga ada usaha-usaha untuk melakukan
pelengketan (pelleting). Kedalaman tanam tergantung pada tipe perkecambahan, kandungan air
dan oksigen pada tanah. Pada umumnya, bibit dengan keping biji yang muncul ke atas tanah ,
biasanya memerlukan penanaman lebih dangkal daripada bibit yang keping bijinya tertinggal
dalam tanah.

ALAT DAN BAHAN

Alat :
Tugal.
Pancong
Tali rafia.
Gembor.
Cangkul
Bahan :
4. Benih jagung dan kangkung.
5. Pupuk urea , SP36 dan KCl.
6. Furadan.
7. 3 petak tanah.

PROSEDUR KERJA

1. Lahan diolah dengan baik, dibuat 3 petakan sehingga siap untuk ditanami.
2. Benih jagung dan kangkung dipersiapkan.
3. Pupuk dipersiapkan sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan.
4. Lubang dibuat dengan tugal dengan ketentuan:
a. Monokultur Jagung
Jarak tanam 25 x 50 cm, lubang dibuat 6 baris yang terdiri dari 11 lubang tiap baris, tiap lubang
diisi 2 butir biji jagung.
b. Monokultur Kangkung
Jarak tanam 20 x 20 cm, lubang dibuat 14 baris yang terdiri dari 14 lubang tiap baris, tiap lubang
diisi 3 butir biji kangkung.
c. Tumpang Sari Jagung dan Kangkung
Jarak tanam untuk jagung 40 x 50 cm dan untuk kangkung 20 x 20 cm, jagung dan kangkung
ditanam secara selang- seling, jagung dibuat 7 baris dengan tiap baris terdiri dari 4 lubang, tiap
lubang diisi sesuai pada monokultur, diantara jagung baru dibuat lubang untuk kangkung.
5. Pupuk dasar diberikan pada saat tanam diletakkan 5 cm dari tanaman yaitu pupuk SP 36,
Urea dan Kcl.
6. Pengamatan dilakukan mulai 7 hari setelah tanam, kemudian setelah 14 hari setelah tanam
dipupuk dengan Urea.
7. Sampel tanaman yang akan diamati ditentukan.
8. Komponen tinggi tanaman dan jumlah daun pertumbuhannya diamati.

HASIL PENGAMATAN
Monokultur jagung

14 hst 21 hst 28 hst 35 hst


TT JD TT JD TT JD TT JD
1 28 5 47 6 83 8 134 12
2 31 5 50 7 92 9 148 11
3 20 4 46 6 81 7 147 9
4 25,5 4 48 6 90 8 146 10
5 36 5 49 7 90 10 147 11
6 31 5 51 7 92 10 151 12
7 26 4 48 6 91 9 150 11
8 35 5 55 8 93 10 150 12
9 31 5 49 7 88 11 140 12
10 30,5 5 53 8 91 10 149 11
Jumlah 294 47 496 68 891 92 1470 111
Rata-rata 29,4 4,7 49,6 6,8 89,1 9,2 147 11,1

Monokultur kangkung

14 hst 21 hst 28 hst 35 hst


TT JD TT JD TT JD TT JD
1 8 5 17,5 6 30,5 7 55,1 9
2 8,5 5 24,5 6 37,1 8 60,3 10
3 10 6 25,3 8 39,5 9 65 10
4 8,5 4 23 6 37,5 7 63 9
5 7,3 4 22,5 6 39 8 64 11
6 8 4 25 8 40 9 67,5 11
7 9,5 6 28,5 8 41 10 67 11
8 9,5 5 30 9 42,5 10 68 12
9 10,5 6 31,5 8 43 9 67,5 11
10 6 4 21,5 7 37 8 62 10
Jumlah 85,8 49 249,3 72 388,1 85 639,4 104
Rata-rata 8,58 4,9 24,93 7,2 38,81 8,5 63,94 10,4
Tumpang Sari Jagung dan Kangkung

14 hst 21 hst 28 hst 35 hst


TT JD TT JD TT JD TT JD
1 (J) 25,5 5 49,5 7 87,5 8 138 9
2 (J) 23 4 44,5 6 87 7 139 9
3 (J) 24 4 50 7 90 8 142 10
4 (J) 20 4 45,3 6 90 8 143 9
5 (J) 18 4 42 6 88 8 140 10
6 (K) 8 4 21,5 7 40 8 65 9
7 (K) 9,5 5 25,5 8 39 9 64,5 10
8 (K) 6 4 16,5 7 37 8 63 9
9 (K) 5,5 4 17,5 6 39,5 7 63,5 9
10 (K) 9 5 26 8 40 9 64 11
jagung 22,1 4,2 46,3 6,4 88,5 7,8 140,5 9,4
kangkung 7,6 4,4 24,6 7,2 39,1 8,2 64 9

PEMBAHASAN

Untuk menentukan suatu sistem pertanaman yang akan digunakan, baik itu pola tanam tunggal
atau pola tanam tumpang sari, perlu dipertimbangkan keuntungan dan kerugiannya. Faktor-
faktor yang perlu diperhatikan untuk penentuan tersebut di antaranya :
Tanaman yang toleran terhadap naungan dapat ditanam dengan tanaman-tanaman yang tinggi
atau tanaman-tanaman yang diajir.
Setelah salah satu tanaman campuran berakhir, tipe tanaman lain harus dipilih untuk melanjutkan
pola tanam berikutnya.
Dalam menanam, yang perlu diperhatikan juga adalah pemupukan. Pemberian pupuk tergantung
pada jenis tanaman yang akan dibudidayakan. Pemberian secara broadcast, menunjuk pada
penebaran terserak dari bahan secara merata pada permukaan tanah, biasanya dilakukan sebelum
tanaman ditanamkan. Pemberian pupuk yang lebih efektif yaitu cara topdressing, yaitu
penempatan pupuk langsung di atas tanaman tumbuh. Bila tanaman peka terhadap kerusakan
atau kebakaran pupuk, pupuk dapat ditempatkan sepanjang sisi tanaman sebagai side dressing.
Cara ini sering dilaksanakan bersama penyiangan, jadi tercampur dengan tanah. Pupuk dapat
juga ditempatkan dalam jaluran tak terputus di antara barisan (band placement) atau dapat
dijatuhkan di belakang bajak di dasar aluran, yang disebutplow –sole placement. (Sri Setyati
Harjadi, 1979).
1. Jagung (baby corn)
Baby corn sebenarnya adalah nama lain dari tongkol jagung yang dipetik pada waktu masih
muda. Tanaman baby corn adalah tanaman jagung sehingga struktur dan fungsi yang ada pada
baby corn sama dengan tanaman jagung. Sifat pertumbuhan baby corn adalah apikal dominan
yang berarti titik dominasi pertumbuhan adapada pucuk batang. Sifat ini dapat menyebaabkan
tongkol yang paling atas berkembang lebih besar daripada yaang bawah dan terjadi konpetisi
antar tongkol. Sifat apikal dominan juga menghambat pemunculan tongkol baru yang akan
tumbuh. Akibatnya untuk setiap tanaman jagung bisa dipetik 3 – 5 tongkol baby corn tergantung
daerah penanaman ( Penebar Swadaya, 1992 )
Sebelum pelaksanaan penanaman baby corn, persiapan yang perlu dilakukan adalah persiapan
lahan dan benih. Untuk lahan sendiri, tanaman ini tidak membutuhkan lahan dengan persyaratan
tanah yang tajam karena tanaman ini dapat ditanam hampir semua jenis tanah namun tanah yang
subur, gembur dan kaya humus merupakan syarat baby corn dapat tumbuh dengan dengan baik.
Agar tanah dapat berfungsi secara maksimal, maka tanah perlu diolah. Adapun tujuan
pengolahan tanah adalah :
Memperbaiki tekstur tanah.
Memberikan tambahan humus atau kesuburan tanah dengan pemberian pupuk kandang.
Membuat tanah sedemikian sehingga ssirkulasi udara dalam tanah menjadi lebih baik.
Mendorong aktivitas mikroba tanah dan membebaskan hara tanaman dalam tanah supaya hara
tanaman tersebut dapat diambil oleh akar jagung.
Memberantas atau mencegah pertumbuhan rumput.
Mematikan hama dalam tanah.
Persiapan lain yang tak kalah penting yaitu persiapan benih. Benih yang memiliki kualitas
genetik yang baik maka tingkat produksinya juga baik. Memilih benih yang baik adalah langkah
awal penanaman guna mencapai produksi yang tinggi. Benih yang baik berasal dari suatu jenis
tanaman yang dihasilkan oleh varietas yang mempunyai syarat-syarat berikut :
Daya adaptabilitas tinggi terhadap kondisi tertentu.
Kemurniannya baik.
Daya hasil baik.
Mempunyai sifat-sifat yang diinginkan.
Tahan terhadap hama dan penyakit serta
Memenuhi kualitas yang dikehendaki.
Secara fisik benih yang baik mempunyai penampilan sebagai berikut :
Berdaya kecanbah tinggi.
Warna dan berat biji seperti yang dikehendaki.
Tingkat keseragaman tinggi.
Bebas dari penyakit benih bawaan.
Bebas dari rerumputan, kerusakan biji dan
Bebas dari campuran dengan varietas lain.
Setelah benih dan lahan siap, mulailah masuk ketahap penanaman. Penanaman pun tidak asal
menanam, harus dilakukan pada waktu yang tepat agar baby corn tidak mengecewakan hasilnya.
Adapun waktu penanaman baby corn yang tepat sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan.
Pada dasarnya tanaman ini tidak membutuhkan banyak air, namun meskipun demikian pada saat
pertumbuhan dan pembentukan tongkol, air harus benar-benar diperhatikan. Bersamaan dengan
penanaman benih, dilakukan juga pemupukan dasar yaitu urea, SP 36, dan furadan pada satu
lubang tanam bersamaan dengan benih baby corn.
Tanaman baby corn sangat membutuhkan sinar matahari. Untuk itu, sebaiknya lahan
penanamannya berada di tempat terbuka dan setiap hari mendapat sinar matahari dalam jangka
waktu yang panjang.
Tanah yang disukai baby corn adalah yang gembur, kaya humus dan mempunyai tingkat
kemiringan tidak lebih dari 8 %. Karena daya adaptasinya terhadap lingkungan tinggi, maka
baby corn dapat berproduksi tinggi pada tanah yang kurang subur asalkan mendapat
pemeliharaan yang teliti. Selain itu, tanaman baby corn juga membutuhkan curah hujan yang
tidak terlalu tinggi, tapi mencukupi kebutuhan terutama saat pertumbuhan dan pembentukan
tongkol. Kisaran curah hujan ideal bagi baby corn adalah 100 – 125 mm setiap bulan dengan
distribusi yang merata.
PH tanah yang baik untuk pertumbuhan jagung di Indonesia adalah antara 5,5-7,5. Pengapuran
sangat dianjurkan pada tanah-tanah yang pH nya rendah kurang dari 5,5.
Pada pengamatan yang dilakukan diketahui rata-rata tinggi tanaman dan rata-rata jumlah daun
pada 2 minggu setelah tanam adalah 29,4 cm dan 4,7 helai, 3 minggu setelah tanam diperolah
49,6 cm dan 6,8 helai, 4 minggu setelah tanam 39,1 cm dan 8,2 helai, 5 minggu setelah tanam
147 cm dan 11,1 helai. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tanaman jagung tumbuh dengan baik.
2. Kangkung
Kangkung merupakan tanaman menetap yang dapat tumbuh lebih dari satu tahun. Batang
tanaman berbentuk bulat panjang, berbuku-buku, banyak mengandung air, dan berlubang-
lubang. Batang tanaman kangkung tumbuh merambat atau menjalar dan percabangannya
banyak. Selama fase pertumbuhan, tanaman kangkung dapat berbunga, berbuah, dan berbiji.
Pada kangkung darat biji berfungsi sebagai alat perbaanyakan tanaman secara generatif.
Kangkung darat pada umumya diperbanyak dengan bijinya. Pada bedengan dibuat lubang tanam
kecil dengan tugal yang jarak antar lubangnya 20 cm dan jarak baris antar lubang 20 cm
untuk monokultursedangkanuntuk tumpang sari berjarak 40 x 50 cm dengan jarak tanam yang
begitu berarti tidak ada persaingan antara tanaman. Panjang bedengan tergantung pada keadaan
dan keinginan kita. Dalam tiap-tiap lubang itu ditanam 2-3 biji, kemudian ditutup dengan tanah
tipis-tipis. Kangkung darat sebaiknya ditanam pada musim penghujan. Ini disebabkan oleh
kebutuhan airnya yang tinggi, apalagi jika kangkung ini ditanam di lahan kering. Tanah yang
hendak ditanami kangkung darat diolah terlebih terlebih dahulu. Tanah dicangkul sedalam 30
cm, kemudian ditambahkan pupuk kandang. Kangkung darat pada umumya diperbanyak dengan
bijinya. Pada bedengan dibuat lubang tanam kecil dengan tugal yang jarak antar lubangnya 20
cm dan jarak baris antar lubang 20 cm. Panjang bedengan tergantung pada keadaan dan
keinginan kita. Dalam tiap-tiap lubang itu ditanam 2-3 biji, kemudian ditutup dengan tanah tipis-
tipis.
Tanaman kangkung ini dapat tumbuh dengan baik apabila dilakukan parawatan dengan benar
dan jarak tanam juga sangat menentukan baik tidaknya hasil yang akan di peroleh.
Dari hasil pengamatan didapatkan rata-rata tinggi tanaman dan rata-rata jumlah daun pada 2
minggu setelah tanam adalah 8,58 cm dan 4,9 helai, 3 minggu setelah tanam diperolah 24,93 cm
dan 7,2 helai, 4 minggu setelah tanam 38,81 cm dan 8,5 helai, 5 minggu setelah tanam 63,94 cm
dan 10,4 helai. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tanaman kangkung tumbuh dengan baik.
Sedangkan pada pengamatan yang dilakukan pada tanaman tumpangsari jagung dan kangkung
diketahui rata-rata tinggi tanaman dan rata-rata jumlah daun pada 2 minggu setelah tanam untuk
tanaman jagung adalah 22,1 cm dan 4,2 helai, 3 minggu setelah tanam diperolah 46,3 cm dan 6,4
helai, 4 minggu setelah tanam 88,5 cm dan 7,8 helai, 5 minggu setelah tanam 140,5 cm dan 9,4
helai. Pada tanaman kangkung diketahui rata-rata tinggi tanaman dan rata-rata jumlah daun pada
2 minggu setelah tanam adalah 7,6 cm dan 4,4 helai, 3 minggu setelah tanam diperolah 24,6 cm
dan 7,2 helai, 4 minggu setelah tanam 39,1 cm dan 8,2 helai, 5 minggu setelah tanam 64 cm dan
9 helai.
Jika dibandingkan dengan tanaman monokultur, maka pertumbuhannya akan lebih baik tanaman
yang monokultur. Hal ini disebabkan unsur hara pada tanaman yang ditanam secara monokultur
akan lebih tercukupi dibandingkan dengan tumpangsari. Walaupun kenyataannya seperti itu,
akan tetapi metode tumpangsari juga menguntungkan.
Menurut Rahmat Sutarya dkk (1995) keuntungan yang didapat dari pola tanam tumpang sari
antara lain sebagai berikut :
Mengurangi resiko kegagalan panen, karena jika salah satu tanaman tidak memberikan hasil,
masih ada kemungkinan tanaman kedua atau ketiga yang akan memberikan keuntungan.
Pemanfaatan tanah yang lebih baik pada satuan waktu yang sama.
Keuntungan dari penggunaan sarana produksi dan tenaga kerja.
Pola tanam ini mungkin dapat mempertahankan populasi serangga hama dan infeksi virus pada
tingkat yang rendah tetapi hal ini belum jelas dibuktikan dalam percobaan.
Pola tanam yang rapat akan mencegah erosi tanah dan menekan pertumbuhan rerumputan.
Dengan pola tanaman campuran dari beberapa jenis tanaman yang berbeda, maka penggunaan
cahaya matahari, air dan unsur hara menjadi maksimum.
Pengaruh naungan dari tanaman-tanaman yang tinggi dapat bermanfaat untuk pertumbuhan
beberapa jenis tanaman. Adapun penambahan beberapa pupuk berguna untuk mempercepat
perkembangan bibit atau benih. Penggunaan pestisida berguna agar benih tidak termakan oleh
serangga atau hewan lain.
KESIMPULAN

1. Penanaman merupakan pekerjaan menempatkan benih atau bibit pada tanah yang sudah
disiapkan dengan tujuan agar tumbuh dan berkembang dengan harapan memberi hasil yang
optimum.
2. Faktor yang perlu diperhatikan dalam penanam yaitu tanah, pola tanam, jarak tanam, saat
menanam, cara menanam, dalamnya tanam, jenis tanaman yang diusahakan, bahan tanam,
musim atau iklim.
3. Pada sistem penanaman yang lebih menguntungkan adalah pada tumpang sari karena
kemungkinan gagal yang lebih sedikit, selain itu juga hasilnya tidak hanya satu macam tanaman
saja.
DAFTAR PUSTAKA

Harjadi, S. S. 1979. Pengantar Agronomi. PT Gramedia: Jakarta.

Karnomo,W.H, dkk. 1989. Diktat Pengantar Produksi Tanaman Agronomi. Fakultas Pertanian
Universitas Jenderal Soedirman : Purwokerto.

Nazaruddin. 1995. Budidaya dan Pengaturan Panen Sayuran Dataran Rendah. Penebar Swadaya;
Jakarta.

Rukmana, Rahmat.Ir. 1994. Bertanam Kangkung . Penerbit Kanisius : Jakarta.

Tim Penebar Swadaya. 1995. Sweet Corn Baby Corn. Penebar Swadaya : Jakarta.