Anda di halaman 1dari 25

DINAMIKA POPULASI SERANGGA DAN MUSUH ALAMI

I. DINAMIKA POPULASI SERANGGA

Pertumbuhan populasi merupakan suatu proses ekologi yang dapat

digambarkan sebagai lintasan (trayektory) suatu objek berubah tempat atau

berpindah status dari suatu titik ke titik berikutnya, dan proses dinamis inilah yang

menjadi kajian dinamika populasi. Proses dinamis bekerja pada setiap sistem hayati

(biological system), mengikuti kaidah-kaidah yang berkaitan dengan perubahan

alamiah [natural changes] yang berlangsung menurut dimensi waktu. Ada

perubahan yang berlangsung relatif lebih lambat, ada pula yang lebih cepat.

Besaran (magnitude) juga bervariasi ; ada yang besar, kecil dan bahkan ada yang

tidak nyata.

Populasi merupakan kelompok individu suatu jenis makhluk yang tergolong

dalam satu spesies (atau kelompok lain yang dapat melangsungkan interaksi genetik

dengan jenis yang bersangkutan), dan pada suatu waktu tertentu menghuni suatu

wilayah atau tata ruang tertentu (Tarumingkeng, 1992).

Populasi memiliki dua property yaitu : 1), Biologik ; sejarah hidup,

bertumbuh, berdiferensiasi, mempertahankan dirinya dan memiliki organisasi

tertentu, dan 20), Kelompok; kepadatan, pertumbuhan dan daya dukung, natalitas

(angka kelahiran), mortalitas (angka kematian), sebaran umur, potensi biotik,

dispersi (pemencaran) dan bentuk pertumbuhan.

1.1 Properti Kepadatan (Density)


1
Kepadatan suatu populasi adalah besarnya populasi tersebut dalam suatu unit

areal atau volume. Kepadatan dinyatakan dengan jumlah individu atau biomass

dari populasi dalam satu unit tempat; misalnya 160.000 rumpun padi / ha, 500

pohon karet / ha, 100 ekor wereng coklat / rumpun padi, lima ekor ulat grayak / 10

tanaman kedelai, 1000 ekor arthropoda / m2 luas tanah dan seterusnya.

Kepadatan populasi terdiri dari dua bagian yakni 1), Kepadatan kasar ialah

jumlah populasi atau biomass untuk unit tempat , dan 2), Kepadatan ekologik

adalah jumlah populasi atau biomassa untuk setiap unit habitat (areal atau volume)

yang dapat ditempati oleh populasi itu.

Perubahan kepadatan suatu populasi dapat terjadi karena ada angka kelahiran

(individu-individunya beranak), angka kematian (sejumlah individu mati karena tua

atau sakit, dimangsa musuhnya dan lain-lain), atau terjadi suatu imigrasi (sejumlah

populasi dari lain tempat bergabung dengan populasi tersebut), atau ada sejumlah

individu yang beremigrasi ke lain tempat. Misalnya suatu populasi sejenis serangga

pada saat dan kondisi lingkungan tertentu terdiri dari 30 persen jantan, 30 persen

betina, 30 persen larva, dan 10 persen telur; pada situasi lain komposisi tersebut

akan berubah menjadi 40 persen, 30 persen, 25 persen, dan 5 persen. Perubahan-

perubahan komposisi populasi berbagai spesies juga terjadi setiap saat didalam

suatu komunitas. Umumnya pada saat menjelang berakhirnya musim hujan,

persentase telur dalam suatu populasi serangga agak tinggi, sedangkan pada awal

musim kemarau persentase larva sangat meningkat (sekitar bulan April dan Mei).

Keadaan seperti ini juga sangat tergantung pada cara hidup, biologi dan frekuensi

2
berbiak dari serangganya. Selain itu, faktor lingkungan terutama keadaan iklim dan

makanan sangat menentukan.

1.2 Properti Pertumbuhan Populasi

Suatu populasi dapat bertambah atau berkurang menurut waktu dan keadaan

lingkungan. Kecenderungan dari keadaan lingkungan tersebut dapat diwujudkan

dalam bentuk suatu kurva, dengan memetakan ‘waktu’ pada sumbu X dan ‘jumlah

individu organisme pada sumbu Y. Kurva yang didapat dinamakan “Kurva

Kecepatan Tumbuh Populasi”.

Kurva kecepatan tumbuh populasi suatu serangga memiliki haluan yang khas

dan berbeda menurut jenisnya. Kurva-kurva semacam ini tidak hanya

memperlihatkan suatu cara meringkaskan fenomena waktu, tapi tipe dari kurvanya

dapat memberikan gambaran-gambaran tentang proses pengendalian perubahan

populasi yang bekerja didalamnya. Tipe-tipe proses tertentu menghasilkan tipe-tipe

khas dari kurva-kurva populasi (Gambar 1).

Gambar 1. Kurva Kecepatan Tumbuh Populasi Dalam Keadaan Ideal


(Menurut Storer & Usinger, 1057)

3
A : Kurva potensi biotis, mengikuti bentuk kurva eksponential, keadaan

lingkungan serba ideal

B : Kurva sigmoid / logistic (teoritis) dalam keadaan lingkungan jenuh.

Populasi seolah – olah mantap dan konstan dengan lingkungan yang

serba konstan

C: Kurva populasi wajar dengan fluktuasi menurut musim (dibawah

hambatan lingkungan)

Potensi kecepatan tumbuh suatu populasi (Potensi Biotik) setiap jenis

serangga amat besar. Misalnya kondisi lingkungan suatu populasi tidak terbatas

seperti ruang dan makanan berlimpah, sehingga menyebabkan pertumbuhan

populasi berlangsung secara ekponential yaitu pertambahan jumlah individu dalam

populasi berlipat ganda secara terus menerus (Kurva A).

Pertumbuhan populasi yang bertambah dengan suatu faktor tetap per unit

waktu akan menghasilkan bentuk pertumbuhan geometrik atau eksponential yang

dirumuskan oleh Malthus sesuai persamaan sebagai berikut :

Nt = No e rt atau dN/dt = r N

Dimana : No = Besarnya populasi serangga pada waktu t atau besarnya

populasi awal

Nt = Besarnya populasi serangga pada waktu t

t = Waktu atau saat tertentu terhitung mulai dari t

e = Dasar logaritma natural

r = Suatu konstanta atau kecepatan intrinsik dari pertumbuhan

populasi secara wajar.

4
Serangga memiliki potensi biotik sangat besar menyebabkan pertambahan

jumlah individu dalam populasi sangat besar pula. Sedangkan daya dukung

lingkungan yakni ruang dan makanan tetap sehingga pada suatu saat daya dukung

tersebut tidak dapat lagi menunjang besarnya populasi. Keadaan seperti ini

menyebabkan tercapainya titik kejenuhan (carrying capacity) populasi (Kurva B).

Pada keadaan tersebut kecepatan tumbuh populasi akan mencapai puncaknya,

karena besarnya populasi tidak lagi diimbangi oleh daya dukung lingkungan yang

nantinya akan menjadi faktor penghambat pertumbuhan populasi selanjutnya.

Faktor tersebut ditulis sebagai (K-N)/K, sehingga persamaan pertumbuhan

populasi pada lingkungan terbatas mengikuti persamaan yang diturunkan oleh

Verhulst – Pearl sebagai berikut :

Nt = No. er (K – N)t atau dN/dt = r N (K –N)

Dimana, saat itu baik ruang dan makanan maupun lingkungan fisik atau non fisik

yang biasa disebut “hambatan lingkungan” akan menjadi faktor penghambat

tumbuh dan berkembangnya populasi serangga, sehingga populasi akan menurun

(Kurva C).

Jika keadaan lingkungan kembali membaik, dalam hal ini makanan tersedia

kembali dan ruang gerak memungkinkan serta faktor non fisik lainnya seperti

musuh-musuh alami tidak menjadi penghambat (populasi rendah) maka populasi

akan meningkat kembali, demikian seterusnya sehingga populasi akan selalu berada

disekitar garis keseimbangan populasi.

5
Populasi setiap jenis organisme dalam ekosistem tidak pernah sama dari waktu

ke waktu tetapi naik turun mengikuti atau berkisar sekitar suatu garis asimtot yang

dinamakan garis keseimbangan populasi. Secara teoritik perkembangan populasi

dialam menurut Alee et al., (1955) mengalami lima tahapan [Gambar 2].

Gambar 2. Pertumbuhan Populasi Organisme (Menurut Alee et al. ,1995)

Pada gambar 2, terlihat pertumbuhan populasi organisme secara teoritik

terdiri dari lima tahapan yakni merupakan periode peningkatan populasi yang

tumbuh secara sigmoid. Periode ini terbagi tiga bagian yaitu tahap pembentukan

populasi (A), tahap pertumbuhan cepat secara eksponential (B), serta tahap menuju

kepada keseimbangan (C), merupakan tahap pencapaian aras atau letak

keseimbangan yang merupakan garis asimtot dari kurva sigmoid. Pada tahap ini

populasi telah mencapai stabilitas numerik. Pada tahap ini, populasi mengalami

osilasi dan fluktuasi populasi. Osilasi populasi adalah penyimpangan populasi

sekitar atas keseimbangan secara simetris. Sedangkan fluktuasi populasi

merupakan penyimpangan populasi yang tidak simetris. Tahap ini berjalan dalam

waktu yang cukup lama tergantung pada fungsinya mekanisme umpan balik negatif
6
yang bekerja pada populasi organisme tersebut. Apabila mekanisme umpan balik

negatif tersebut tidak berfungsi lagi karena sebab-sebab tertentu maka terjadi

penurunan poipulasi atau populasi akan mengalami pertumbuhan negatif. Jika

keadaan ini terus berlanjut maka akan terjadi kepunahan populasi, hal ini terjadi

karena tidak berfungsinya mekanisme umpan balik negative dalam jangka waktu

yang cukup lama.

Dalam keadaan sebenarnya perubahan kerapatan yang terjadi dalam suatu

populasi disebabkan oleh empat hal yaitu 1), Peningkatan karena kelahiran

(natalitas). 2), Peningkatan karena masuknya beberapa individu sejenis dari

populasi lain (imigrasi). 3), Penurunan karena kematian [mortalitas], dan 4),

penurunan karena keluarnya beberapa individu dari populasi ke populasi lain.

Secara skematik pengaruh komponen-komponen tersebut pada populasi dapat

diilustrasikan dalam Gambar 3.

KELAHIR
AN

EMIGR POPULAS IMIGRA


ASI I SI

KEMATI
AN

Gambar 3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan


Kepadatan Populasi

Untuk menghitung berapa pertumbuhan atau pertambahan besarnya populasi

organisme dapat digunakan rumus sederhana sebagai berikut :


7
P2 = P1 + N - M +/- D

Dimana : P2 : Populasi akhir

P1 : Populasi awal

N : Natalitas atau Laju Kelahiran

M : Mortalitas atau Laju Kematian

D : Penyebaran [Dispersi] yang meliputi penyebaran keluar

atau Emigrasi [ - ] dan penyebaran kedalam atau Imigrasi [ + ]

Apabila P2 lebih besar P1 maka terjadi pertumbuhan positif, dan sebaliknya

jika P2 lebih kecil P1 maka terjadi pertumbuhan negatif. Pertumbuhan positif

terjadi apabila laju kelahiran dan imigrasi lebih besar dari laju kematian dan

emigrasi. Dengan rumus tersebut, dapat dimengerti bahwa untuk dapat mengurangi

populasi hama kita harus meningkatkan laju kematian dan emigrasi serta

mengurangi laju kelahiran dan imigrasi dengan berbagai masukan pengelolaan.

1.3 Neraca Kehidupan (Life Table)

Salah satu cara untuk memperoleh pengertian yang baik tentang dinamika

populasi serangga yaitu dengan membuat neraca kehidupan. Dengan tabel tersebut

kita dapat mengetahui berbagai faktor mortalitas (abiotik dan biotik) yang

mempengaruhi perkembangan populasi hama, termasuk serangga hama.

Berdasarkan pada tabel hidup kita mampu mengetahui dan menentukan faktor-

faktor mortalitas apa saja yang dapat mempengaruhi perkembangan kehidupan

serangga, baik secara keseluruhan maupun menurut fase-fase kehidupan. Melalui

8
tabel hidup juga kita dapat meramal perkembangan populasi serangga maupun

organisme lain diwaktu yang akan datang. Dengan demikian kita dapat menentukan

kapan dan bagaimana cara mengendalikan hama yang efektif.

Sebagian besar makhluk hidup termasuk serangga tidaklah terbentuk oleh

individu-individu yang sama, melainkan terdapat berbagai umur dan kemungkinan

besar ukuran tubuhnya pun berbeda-beda sesuai umur. Kebutuhan makan dan

ruang setiap individu juga pada umumnya berbeda, sesuai umur dan ukuran

tubuhnya. Telur-telur yang dihasilkan seekor serangga betina untuk beberapa

waktu [selama stadium telur] belum banyak berpengaruh pada populasinya karena

telur tidak bergerak, tidak makan dan tidak pula berkembangbiak.

Individu-individu populasi pada tahap perkembangan selanjutnya yaitu

stadium larva (holometabola) dan nimfa (hemimetabola) dalam populasi biasanya

makan lebih banyak dan mungkin pula lebih aktif bergerak mencari makan

dibandingkan dengan dewasa, tetapi individu pada stadium ini belum

berkembangbiak. Masa untuk reproduksi berlangsung pada stadium imago

[dewasa] dan umumnya pada berbagai jenis serangga hanya berlangsung singkat.

Untuk mengembangkan model-model perkembangan populasi yang lebih

realistik yaitu berdasarkan keadaan populasi yang sebenarnya, perlu diamati

perkembangan populasi tersebut dengan mengumpulkan data kerapatan populasi

atau jumlah individu (N) dalam populasi untuk waktu (t) tertentu. Pengamatan

demikian akan mencakup berbagai umur yang dibagi dalam selang tertentu. Hasil

pengamatan dicatat dalam sebuah tabel yang dalam kajian dinamika populasi

disebut “Neraca Kehidupan” atau “Tabel Hidup” (Life Table). Dari tabel hidup

9
tersebut, dapat mengkalkulasi berbagai nilai statistik yang merupakan informasi

populasi seperti kelahiran (natalitas), kematian (mortalitas), dan peluang untuk

berkembangbiak (survivalship). Dengan data pengamatan serta statistik yang

diturunkan dari data tersebut dapatlah dilakukan aproksimasi untuk berbagai

parameter perilaku perkembangan populasi.

Beberapa notasi yang harus dipahami dalam menyusun tabel kehidupan suatu jenis

serangga yaitu :

X : Interval umur

ax : Banyaknya individu populasi yang hidup pada setiap umur pengamatan

atau peluang hidup (survivalship)

lx : Jumlah individu yang hidup pada permulaan interval umur x

lx = ax/a (1000), distandarkan

dx : Jumlah individu yang mati selama interval umur x (kelompok umur x)

(mortalitas])

dx = lx – lx+1

qx : Proporsi individu yang mati pada KU x, terhadap jumlah individu

yang hidup pada KU x (persen [%] mortalitas pada interval umur

x = 100 qx]

qx = dx / lx

Lx : Jumlah rata-rata individu pada KU x, terhadap jumlah individu yang

hidup pada Kelompok umur x

Lx = (lx + lx+1)/2

Tx : Jumlah individu yang hidup pada KU x = 0 ….w (x = w adalah

10
kelas umur terakhir)

Tx = Tx-1 - Lx-1

Tx diperlukan untuk kalkulasi harapan hidup pada masing-masing

umur (ex)

Ex : Harapan hidup individu pada setiap KU x.

Ex = Tx / Lx

mx : Keperidian spesifik individu-individu pada KU x, atau jumlah anak

(betina) perkapita yang lahir pada KU x.

Ro : Laju reproduksi netto adalah rataan banyaknya anak yang dilahirkan

oleh semua Individu sepanjang generasi cohort

Px : Laju survival yaitu proporsi individu yang hidup pada KU x, dan

mencapai KU [x+1]

Px = Lx+1/Lx = lx+1+lx+2/lx+lx+1 = 1 – qx.

Dalam menyusun neraca kehidupan ditentukan terlebih dahulu kisaran umur

organisme tersebut, misalnya untuk manusia kisaran umur lima tahun, untuk tikus

satu bulan dan seterusnya. Dengan memendekkan kisaran umur organism yang

akan dipelajari gambaran yang makin rinci tentang kematiannya. Sebagai contoh

neraca kehidupan untuk populasi hama penggerek beras Sitophylus oryzae

dipelihara dalam laboratorium dalam kondisi yang optimum (Tabel 1).

Tabel I. Neraca Kehidupan Sitophylus oryzae Di


Laboratorium Dalam
Lingkungan Yang Optimum

X Lx Mx Lxmx
11
4.5 0.87 20.0 17.400
5.5 0.83 23.0 19.090
6.5 0.81 15.0 12.150
7.5 0.80 12.5 10.000
8.5 0.79 12.5 9.875
9.5 0.77 14.0 10.750
10.5 0.74 12.5 9.250
11.5 0.66 14.5 9.570
12.5 0.59 11.0 6.490
13.5 0.52 9.5 4.940
14.5 0.45 2.5 1.125
15.5 0.36 2.5 0.900
16.5 0.29 2.5 0.800
17.5 0.25 4.0 1.000
18.5 0.19 1.0 0.190
Ro = 113.560

Pada Tabel 1 tersebut, bila lx dikalikan dengan mx maka diperoleh nilai

untuk setiap kelompok umur. Nilai lx hanya menunjuk kepada yang betina saja.

Jika semua nilai lxmx tersebut dijumlahkan diperoleh Ro (E lxmx = Ro) yaitu

angka kelahiran bersih (jumlah keturunan per individu betina per generasi, atau

dikatakan juga jumlah keturunan perindividu betina selama hidupnya). Dalam

neraca kehidupan hama Sitophylus oryzae tersebut , angka kelahiran bersih Ro =

113.6 ; ini berarti populasi hama ini berlipat ganda 113.6 kali dalam setiap generasi

dan merupakan suatu pertumbuhan yang sangat tinggi. Tidak mengherankan bahwa

hama ini memiliki angka pertumbuhan yang tinggi dalam keadaan lingkungan yang

optimum dengan cepat akan berkembang menjadi wabah. Beras yang dihinggapi

serangga hama tersebut akan dengan cepat berubah menjadi bubuk.

Untuk mengetahui r (angka pertumbuhan intrinsik), selain Ro juga diperlukan

T (waktu rataan generasi) yaitu rataan waktu yang diperlukan untuk menghasilkan

keturunan. T ini diestimasi dengan rumus sebagai berikut :


12
T = E lxmx X / E lxmx

Kemudian r dapat dicari dengan menggunakan rumus berikut :

R = log e Ro / T

Mengetahui Ro dan T sangat penting, artinya dalam membandingkan r dari dua

spesies populasi; misalnya dua spesies populasi Ro-nya sama-sama tinggi tetapi

populasi yang kesatu T-nya pendek, sedangkan yang kedua T-nya panjang sekali.

Dengan demikian laju pertumbuhan intrinsic untuk kedua populasi tersebut dalam

kesatuan waktu tertentu akan berbeda sekali. Spesies populasi yang kesatu T-nya

pendek, akan tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan dengan yang kedua T-nya

panjang.

2. MUSUH ALAMI

Pengetahuan tentang faktor-faktor yang berperan dalam pengaturan suatu

spesies populasi merupakan salah satu dasar dalam ekologi dan sangat penting

menyusun strategi pengendalian hama atau juga dalam melestarikan suatu spesies

populasi serangga yang mutlak penting bagi berlangsungnya kehidupan.

Faktor-faktor yang mengatur kepadatan suatu populasi dapat dibagi dua golongan

yakni 1), Faktor eksternal (berasal dari luar populasi) dan 2), Faktor internal (dari

dalam populasi itu sendiri).

De Bach (1958), menjelaskan bahwa faktor-faktor yang bertautan padat

(density dependent) berperan sangat penting dalam menghalangi kenaikan populasi

dan yang menentukan kepadatan rata-ratanya pada banyak spesies populasi.

Faktor-faktor bertautan padat tersebut yaitu musuh alami (predator, parasitoid,

13
dan patogen), juga persaingan intraspesifik dan interspesifik dalam hal tempat dan

makanan, emigrasi dan lain-lain.

Dilihat dari segi proses pengendalian dan pengaturan populasi organisme,

maka faktor-faktor bertautan padat seperti musuh alami (predator, parasitoid dan

patogen) mempunyai sifat penekanan terhadap populasi organisme yang lebih kuat

pada waktu populasi semakin rendah. Jika kita hubungkan antara mortalitas yang

disebabkan oleh faktor-faktor bertautan padat (density dependent faktor) dengan

populasi hama maka kita peroleh regresi seperti pada Gambar 4.

Gambar 4. Hubungan Antara Populasi Dan Mortalitas

Faktor-faktor bertautan padat terbagi menjadi faktor yang berpengaruh

timbal balik dan yang tidak timbal balik. Timbal balik disini berarti bahwa

hubungan antara populasi dan mortalitas oleh faktor bertautan padat dapat berjalan

dari kedua arah. Apabila populasi spesies A meningkat, maka mortalitas yang

disebabkan oleh bekerjanya predator akan semakin meningkat, antara lain karena

meningkatnya predator. Sebaliknya apabila populasi spesies A menurun, maka

14
mortalitas dan jumlah predator juga menurun. Jadi kepadatan populasi spesies A,

akan selalu diikuti dengan kepadatan populasi predatornya ( Gambar 5).

Gambar 5. Hubungan Antara Kepadatan Populasi Mangsa Dan


Populasi Predator

Faktor bertautan padat yang tidak timbal balik; misalnya makanan dan ruang

yang jumlahnya terbatas ditempati oleh populasi organisme yang saling

berkompetisi untuk makanan dan ruang yang sama. Proses

bertautan padat disini, dapat kita mengerti bahwa semakin tinggi

populasi A maka persaingan untuk memperoleh makanan dan

ruang semakin kuat sehingga mortalitas A semakin tinggi, dan

demikian juga sebaliknya.

Faktor-faktor pengendali alami yang berperan utama dalam

pengaturan dan pengendalian populasi organisme secara alami

merupakan faktor bertautan padat yang timbal balik seperti

musuh alami melalui proses umpan balik negatif ( Gambar 6.

15
Gambar 6. Mekanisme Umpan Balik Pada Pengaturan Populasi Spesies
A Oleh Predator

Teknik pengendalian hama dengan menggunakan musuh alami dapat dilakukan

dengan metode :

2.1 Introduksi Musuh Alami

Introduksi adalah upaya memasukkan (mengimpor) musuh alami eksotik

untuk mengendalikan hama, khususnya hama eksotik. Namun sebelum

pengimporan dilakukan, hal kritis yang perlu dilakukan lebih dahulu adalah

penentuan lokasi asal (donor) musuh alami tersebut. Lokasi yang dimaksud dapat

meliputi suatu benua, Negara,atau kawasan lain dalam hamparan yang luas

(makro). Setelah itu dilakukan persiapan logistik, pelayanan ekspedisi

(penerbangan) ke lokasi asal tersebut, koleksi musuh alami pada relung-relung yang

lebih spesifik (mikro) dilokasi donor. Pengiriman musuh alami ke tempat baru

(lokasi akseptor), dan pelepasan musuh alami dilokasi akseptor tersebut.

Untuk penentuan lokasi asal musuh alami, pertama kali yang harus dilakukan

kompilasi data (deteksi) mengenai hama target. Rincian informasi tentang hama
16
target selaanjutnya digunakan untuk mendeteksi musuh alami dan lokasi donor.

Dalam tahap ini dilakukan pengumpulan berbagai informasi faunistik antara lain :

1), Identitas taksonomi dan kerabat dekat hama target. 2), Sebaran geografi dan

kemungkinan tempat [pusat] asalnya. 3), Kisaran dan sebaran tumbuhan inangnya.

4), Kepadatan populasi dan daya rusak hama target terhadap tanaman inangnya,

dan 5), Catatan apapun yang tersedia tentang musuh alami atau faktor kematian

lainnya. Sebagai contoh, kasus hama kutu jeruk Icerya purchase Maskell di

California, Amerika Serikat yang mendatangkan musuh alami Chrysolina sp. dari

benua Australia.

2.2 Konservasi dan Augmentasi Musuh Alami

Bila sudah berada di agroekosistem, maka musuh alami perlu dikonservasi dan

diaugmentasi (Rabb et al., 1976). Konservasi adalah upaya mempertahankan

keberadaan [survival] musuh alami di habitat, sedangkan augmentasi dimaksudkan

untuk meningkatkan populasinya sehingga kinerjanya sebagai agen hayati semakin

tinggi.

Konservasi umumnya dilakukan melalui manipulasi lingkungan

(pengelolaan habitat), sedangkan augmentasi biasanya dilakukan melalui

pembiakan missal musuh alami tersebut (pabrikasi). Walaupun mudah dibedakan

secara teori, dalam praktek konservasi dan augmentasi dapat dilaksanakan dalam

satu kesatuan tindakan (augservasi).

Dalam rangka konservasi musuh alami, pengelolaan habitat dapat

dilaksanakan antara lain dengan mengurangi aplikasi pestisida. Perlakuan pestisida

dapat mengakibatkan kematian langsung pada musuh alami. Selain itu juga
17
pestisida memiliki efek buruk secara tidak langsung terhadap musuh alami melalui

perusakan kompleksitas sumber daya bagi musuh alami tersebut.

Cara lain untuk mengkonservasi musuh alami adalah mempertahankan

tumbuhan inang, yang berfungsi sebagai ungsian (refuge) bagi hama itu atau inang

(mangsa) suplemennya. Juga dengan menumpang-sarikan atau menumpang-

gilirkan tanaman. Tumpang sari dengan menggunakan tanaman yang sesuai dapat

mensinkronkan keberadaan hama dan musuh alaminya.

Manipulasi budidaya tanaman seperti diatas dimaksudkan untuk menyuplai

inang [mangsa] secara tidak langsung bagi musuh alami sehingga populasi musuh

alami terjamin keberadaannya di agroekosistem. Pendekatan tersebut dapat

dikembangkan dengan menyuplai inang “fertile” beserta musuh alami secara

langsung ke agroekosistem. Pendekatan lain dengan inokulasi inang “steril” ke

agroekosistem. Dibandingkan dengan inokulasi inang “fertile”, pendekatan ini

kurang [tidak] beresiko meningkatkan kepadatan populasi hama.

Inokulasi inang “steril” dapat dilakukan dengan dua cara yaitu 1),

Membiakkan telur hama di laboratorium, memandulkannya di laboratorium,

kemudian melepasnya ke agroekosistem. 2), Membiakkan telur non hama di

laboratorium, memarasitkannya di laboratorium, kemudian melepas telur-telur

terparasit tersebut ke agroekosistem. Pada cara pertama, telur-telur yang dilepas

sebagian akan terpredasi atau terparasit, sebagian yang lain tidak akan menetas.

Sedangkan dengan cara kedua, telur-telur yang dilepas akan segera ‘menetaskan’

imago parasitoid yang kemudian akan bersaba (foraging), berkopulasi, dan

memarasit telur-telur hama yang ada di lapangan. Pendekatan pertama, jika

18
dibandingkan dengan pendekatan kedua ternyata pendekatan kedua lebih

berprospek, seperti yang telah diimplementasikan dalam augmentasi parasit telur

Trichogramma di berbagai perkebunan tebu di Indonesia.

2.3 Evaluasi Dampak Musuh Alami

Peran musuh alami merupakan sentral dalam pengendalian hayati, karena

sangatlah penting diketahui apakah musuh alami yang ada baik asli maupun eksotik

betul-betul efektif dalam menekan populasi hama yang ada. De Bach et al, 1976

menguraikan tiga metode evaluasi musuh alami yaitu (1) adisi, (2) eksklusi, dan (3)

interferensi.

Dalam metode adisi, musuh alami (eksotik) di lepas kesuatu hamparan dan

tidak dilepas ke hamparan ke dua yang jareaknya cukup jauh dari habitat pertama.

Metode ini biasanya digunakan untuk mengukur dampak introduksi musuh alami

eksotik. Metode adisi ini juga dikenal sebagai metode “sebelum-sesudah”

introduksi musuh alami. Bila musuh alami yang dilepas betul-betul efektif maka

hal itu harus dapat ditunjukkan dengan data parasitasi (di agrosistem yang

dilakukan) yang cenderung menaik dan kepadatan populasi hama cenderung

menurun, seperti Gambar 7.

19
Gambar 7. Kurva Dinamika Populasi Hama (garis
penuh) dan Parasitasi
(garis putus-putus)

Berbeda dengan metode adisi yang memasukkan musuh alami ke habitat

yang semula belum bermusuh alami, metode eksklusi justru mengurangi

(subtraction) atau meniadakan (elimination) musuh alami yang sudah ada pada

suatu habitat (petak pertanaman). Eksklusi adalah upaya pencegahan imigrasi

musuh alami ke dalam petak atau eradikasi terhadap musuh alami pada petak

tersebut (eradikasi secara local).

Setelah eksklusi dilakukan pemantauan terhadap populasi hama dan

kerusakan tanaman pada petak eksklusi versus petak non eksklusi (petak

pengendalian hayati). Bila musuh alami yang ada pada petak pengendalian hayati

itu betul-betul efektif (berdampak positif) maka hal itu harus dapat ditunjukkan

dengan dinamika populasi hama dan kerusakan tanaman yang lebih rendah

dibandingkan dengan variable yang sama pada petak eksklusi, sebagai contoh

kepadatan populasi ulat grayak spodoptera sp. (Gambar 8).

20
Gambar 8. Kepadatan Populasi Ulat Grayak Pada Petak Eksklusi Versus
Non Eksklusi (Waraspati, 1997).

Metode eksklusi musuh alami dapat dilakukan dengan cara mekanik, kimiawi,

atau hayati. Metode kimiawi (chemical check method) dan hayati (biological check

method) dikenal pula sebagai metode interferensi.

Dalam eksklusi mekanik, masuknya musuh alami ke tanaman pada petak

eksklusi dihalangi dengan barrier mekanik, misalnya kurungan (untuk musuh alami

terbang) atau vaselin (untuk musuh alami merayap). Kurungan itu dipasang baik

pada petak eksklusi maupun pada petak pengendalian hayati. Bedanya, kurungan

pada petak pengendalian hayati diberi lubang untuk akses masuknya musuh alami

ke tajuk tanaman.

Sementara itu, untuk eksklusi kimiawi (pada petak eksklusi) perlu digunakan

bahan kimia (insektisida) yang selektif (dapat membunuh musuh alami tetapi

tidak/kurang membunuh hama). Sebaliknya pada petak pengendalian hayati bahan

21
kimia tersebut tidak diaplikasikan (atau tanaman disemprot dengan air biasa tanpa

kandungan insektisida).

Berbeda dengan cara eksklusi mekanis dan kimiawi, cara erksklusi hayati

memanfaatkan peran fdaktor hayati (hewan lain) untuk mengeksklusi musuh alami;

sebagai conto penggunaan semut untuk mengusir musuh alami serangga-serangga

penghasil embun madu (kutu-kutu tanaman). Sehubungan dengan hal-hal diatas,

maka pengetahuan tentang faktor-faktor yang berperan dalam pengaturan suatu

spesies populasi merupakan salah satu dasar dalam ekologi untuk menyusun strategi

pengendalian hama.

REFERENSI

Andrewartha, G.G.A. and L.C. Birch, 1984. The Ecological Web. More on the
Distribution and Abudance of Animals. University of Chicago Press.

22
De Bach, P., 1958. The Role of Weather and Entomophagous Spesies in the
Natural Control Insect Population. J. Econ. Entomol. 51 : 474-484.
Hasibuan, K.M., 1988. Dinamika Populasi. Permodelan Matematika Di dalam
Biologi Populasi. Pusat Antar Universitas IPB Bekerjasama Dengan
Lembaga Sumber Daya Informasi IPB. 170 Hal.
Krebs, C.J., 1978. Ecology. The Experimental Analisis of Distribution and
Abudance. Second Edition. Harper and Raw Publisher, New York etc.678 P.
Odum, E.P., 1971. Fundamental of Ecology. W.B. Saunders Co, Philadelphia etc.,
574 P.
Oka,I.N., 1998. Pengendalian Hama Terpadu Dan Implementasinya Di
Indonesia. Gadjah Mada Press. 255 Hal.
Pielou, C.C., 1977. Mathematical Ecology. John Wiley & Sons, Inc. 385 P.
Price, P.W., 1971. Insect Ecology. John Wiley and Sons. New York etc. 514 P.
Rondonuwu, L.S., 1998. Ekologi. Fakultas Pertanian Unsrat Manado. Proyek
Pengembangan Perguruan Tinggi Indonesia Timur Kerjasama Unsrat
Manado dan Canadian International Development Agency Simon Fraser
University. 120 Hal.
Southwood,T.R.E., 1976. Ecological Methods : with Particular References to
the study of Insect Population. Second Edition. Chapman and Hall,
London.
Susilo, F.X., 2007. Pengendalian Hayati Dengan Memberdayakan Musuh
Alami Hama Tanaman. Graha Ilmu, Jogyakarta. 118 Hal.
Tarumingkeng, R.C., 1992. Dinamika Pertumbuhan Populasi Serangga. Pusat
Antar Universitas- Ilmu Hayat Institut Pertanian Bogor. 201 Hal.
Untung,K., 2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Edisi Kedua.
Gadjah Mada University Press.348 Hal.

23
24
25