Anda di halaman 1dari 5

TEKNIK HIBRIDISASI ANGGREK TANAH SONGKOK (Spathoglottis plicata)

Laily Qodriyah1

T ahun 1928 R.E.Holtum berhasil menumbuhkan biji


anggrek melalui kultur in vitro dengan menggunakan
formula Knudson. Hasil persilangan Holtum yang pertama
Spathoglottis merupakan tanaman taman dan tanaman
pot. Anggrek ini pernah dimanfaatkan sebagai bunga potong
andalan Singapura pada era 1930-1940-an (Parker 1994 dalam
kali berbunga adalah hibrida Spathoglottis. Sejak tahun 1970- Kartikaningrum et al. 2004). Pada taman, Spathoglotis
an, spesies yang tumbuh di Malaysia seperti Spathoglottis biasanya ditanam secara massal di dalam bedengan sebagai
affinis, S. aurea, S. graculis, S. hardingiana, S. microchilina, tanaman pembatas atau tanaman tepi.
dan S. plicata mulai banyak dibudidayakan di Singapura
Di Indonesia, Spathoglottis dapat tumbuh di dataran
(Gunadi 1986).
rendah maupun dataran tinggi, bergantung pada spesiesnya.
Spathoglottis dikenal dengan nama anggrek tanah atau S. plicata banyak dijumpai di dataran rendah dan sedang,
anggrek terestrial. Jenis yang sering dijumpai adalah Spatho- sedangkan S. aurea dan S. afnis tumbuh baik di dataran
glottis plicata dengan bunga berwarna ungu (Gambar 1). tinggi (Kartikaningrum et al. 2004). Lingkungan tumbuhnya
Sekitar 40 spesies terdapat di Asia Tenggara dan Papua adalah tempat yang terbuka dengan sinar matahari penuh,
Nugini, 7 spesies di antaranya asli Filipina (Holtum dan tetapi perlu sedikit naungan pada sore hari.
Enoch 1972).
Spathoglottis menghendaki media tumbuh yang me-
Nama genetik Spathoglottis berasal dari bahasa Yunani; miliki drainase baik, karena anggrek ini tidak tahan genangan
spathe berarti belati dan glossa atau glotta berarti lidah, (Holtum dan Enoch 1972). Media tanam yang cocok adalah
mengacu pada karakteristik labellum dari genus (Davis dan lapisan bawah berupa pecahan bata/genteng/arang dan
Steiner 1982). Nama spesifik plicata diperoleh dari pe- lapisan atasnya humus daun-daunan. Di Malaysia, sebagai
nampilan atau lekukan daun yang plicated, suatu karakter media tanam digunakan tanah lumpur yang dibakar dan
botanik yang digambarkan sebagai plicate. dicampur dengan humus daun-daunan (Parker 1994 dalam
Kartikaningrum et al. 2004).
Warna bunga Spathoglottis bervariasi yaitu ungu tua,
ungu muda, merah keunguan, pink, oranye, kuning, coklat,
putih, dan campuran. Beberapa jenis memiliki panjang
tangkai melebihi tinggi tanaman, sedangkan yang lain bunga
tersembunyi di bawah kanopi tanaman karena tangkai
bunganya pendek. Bunga mekar tidak serempak dalam satu
rangkaian bunga; setelah 2-3 hari bunga layu dan diganti
dengan bunga yang lain secara berurutan. Jumlah bunga
mekar pada saat yang sama bervariasi, dan jumlah bunga tiap
tangkai bervariasi antara 6-30 bunga (Hawkes 1970).
Spathoglottis berkembang biak melalui anakan atau
pseudobulb. Menanam pseudobulb tidak boleh seluruhnya
terbenam di dalam tanah, separuhnya diusahakan berada di
atas permukaan tanah (Holtum dan Enoch 1972). Pe-
Gambar 1. Spathoglottis plicata
ngembangbiakan melalui biji juga dapat dilakukan tetapi
memerlukan waktu yang lebih lama, sehingga hanya cocok
untuk menanam biji hasil persilangan. Percobaan ini bertuju-
1
Teknisi Litkayasa Pelaksana Pemula pada Balai Penelitian Tanaman an untuk mendapatkan populasi F1 anggrek Spathoglottis
Hias, Jalan Raya Ciherang, Segunung, Pacet, Cianjur 43253, Kotak
Pos 8 Sindanglaya, Telp. (0263) 512607, Faks. (0263) 514138,
yang bervariasi dengan sifat-sifat baik yang diturunkan dari
E-mail: segunung@indoway.net induknya.

78 Buletin Teknik Pertanian Vol. 10. Nomor 2, 2005


BAHAN DAN METODE Bunga ke-6
(genap)
Percobaan dilaksanakan pada bulan Januari 2003 hingga
Desember 2004 di Kebun Percobaan Tanaman Hias
Pasarminggu, Jakarta dan Kebun Percobaan Balai Penelitian
Bunga ke-5
Tanaman Hias, Segunung. Bahan induk yang disilangkan (ganjil)
Bunga ke-4
memiliki sifat warna dan bentuk bunga menarik, tegar, tahan (genap)
hama dan penyakit serta rajin berbunga. Bahan induk yang
digunakan adalah: Bunga ke-3
sudah gugur (ganjil) Bunga ke-2
1. Spathoglottis plicata berbunga putih, ungu tua, ungu sudah gugur (genap)
Bunga ke-1
sedang, ungu muda, dan pink; S. aurea warna bunga Pangkal tangkai
sudah gugur (ganjil)
kuning oranye dan kuning muda; S. unguiculata warna
ungu tua; S. augustorum warna putih; S. vanoverbergii Gambar 2. Kuntum bunga nomor ganjil dihitung dari pangkal
warna kuning; dan Spathoglottis sp. dengan warna bunga tangkai
kuning keunguan.
2. Spathoglottis hibrida bertangkai bunga pendek (30-40
cm) dengan warna bunga putih, ungu kemerahan, kuning, tepung sari dibawa ke induk betina, yaitu menuju lekukan
dan ungu kemerahan berbercak kuning. berlendir yang letaknya persis di bawah kotak sari. Tepung
3. Spathoglottis hibrida bertangkai panjang, jumlah bunga/ sari induk jantan dilekatkan secara sempurna pada putik induk
tangkai banyak dengan warna bunga kuning berbercak betina, sementara itu tepung sari induk betina dibuang agar
ungu, krem, ungu kemerahan berbercak kuning, dan ungu persilangannya murni. Sampai langkah ini perkawinan sudah
tua berbercak kuning. berlangsung. Selanjutnya tanaman diberi label tetua betina
x tetua jantan, tanggal penyilangan, dan kode penyilang. Bila
4. Anggrek tanah dari genus lain seperti Calanthe
dalam jangka waktu 3-4 hari tangkai kuntum induk betina
triplicata dengan bunga putih dan pink serta Bletila
masih segar berwarna kehijauan maka persilangan berhasil.
striata yang berwarna ungu.
Beberapa hari kemudian kelopak dan mahkota bunga
Alat yang digunakan adalah pinset kecil dan tusuk gigi
mulai layu sampai akhirnya kering dan rontok. Selanjutnya
atau batang korek api . Untuk penanaman buah secara aseptik
muncul bakal buah berbentuk bulat telur berwarna hijau
diperlukan laminar, botol kultur, cawan petri, lampu bunsen,
sampai hijau kecoklatan (Trubus 1993). Buah dipanen 25-65
pinset, scalpel, korek api, spidol untuk pelabelan, dan lampu
hari setelah penyerbukan. Selanjutnya biji disemaikan secara
neon 40 W untuk penerangan.
aseptik pada media Vacin & Went ditambah air kelapa di dalam
Persilangan dilakukan secara searah maupun dua arah botol kultur pada laminar dengan bantuan pinset, scalpel dan
(resiprok) antara bunga dengan jumlah kuntum banyak dan cawan petri yang disteril dengan lampu spiritus. Semaian
tangkai bunga sedang-panjang dengan tanaman bertangkai diberi label serta dipelihara dalam ruangan dengan suhu 24oC
bunga pendek. Sebelum persilangan dilakukan pemilihan di bawah lampu neon 40 W dengan jarak 60 cm. Protokorm
atau seleksi tetua jantan maupun betina, baik untuk tanaman yang sudah tumbuh disubkultur pada media Vacin dan Went
pot, taman atau bunga potong. Tetua yang digunakan berasal ditambah pisang ambon. Planlet yang telah tumbuh cukup
dari koleksi plasma nutfah anggrek Spathoglottis. Penyer- besar ditanam secara kompotan pada campuran media sekam
bukan dilakukan pada pagi hari pada bunga yang telah mekar bakar dan kompos daun bambu dan dilekatkan di rumah sere
1-2 hari. Ada penyilang anggrek yang beranggapan bahwa dengan naungan lebih kurang 65%. Selanjutnya bibit ditanam
kuntum bunga nomor ganjil (dihitung dari pangkal tangkai) secara individu dalam pot pada media yang sama, namun
paling baik untuk dijadikan induk betina, karena buahnya ditambah dengan pupuk kandang dan dipelihara di dalam
berbiji banyak dan fertil (Gambar 2). Induk jantan dapat rumah sere.
diambil dari kuntum sembarang.
Pemeliharaan tanaman dilakukan dengan penyiraman
Kuntum induk jantan anggrek Spathoglottis diambil sekali sehari. Tanaman kompotan dan tanaman muda dipupuk
tepung sarinya dengan menggunakan tusuk gigi yang bersih. menggunakan pupuk organik cair yaitu super top soil dengan
Tepung sari yang terbungkus kotak sari terletak di pusat interval pemberian satu kali seminggu dengan dosis 1 cc/liter
bunga, berwarna kuning. Kotak sari dicungkil pelan sampai air. Tanaman induk dan tanaman F1 dewasa dipupuk dengan
tepung sarinya menempel pada alat yang dipakai, kemudian pupuk yang sama dengan interval satu kali seminggu, namun

Buletin Teknik Pertanian Vol. 10. Nomor 2, 2005 79


dengan dosis yang lebih tinggi yaitu 2 cc /liter air. Penyiang- sedangkan S. plicata ungu tua bukan merupakan hasil
an dilakukan sesuai kondisi gulma. Hama dan penyakit persilangan, sehingga persilangan dengan spesies lain
dikendalikan menggunakan pestisida dengan dosis sesuai menghasilkan keturunan yang seragam, baik warna, bentuk
anjuran. maupun corak. Perbedaan hanya terletak pada intensitas
warna pada setiap keturunannya (Gambar 4).
Hibridisasi dinyatakan berhasil apabila dalam satu
populasi persilangan muncul variasi seperti warna bunga,
tinggi tanaman, atau bentuk tanaman dan semua itu dapat
diketahui melalui karakterisasi hasil persilangan. Parameter
yang diukur dalam karakterisasi adalah variasi warna bunga,
panjang daun, lebar daun, pertambahan jumlah anakan,
panjang bunga, panjang tangkai bunga, lebar bunga, panjang
bibir, lebar bibir, dan jumlah kuntum tiap tangkai (Kartika-
ningrum et al. 2004).

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar 3. Hasil persilangan antara Sphatoglottis aurea dengan S.
plicata ( ungu muda)
Persilangan yang dilakukan pada tahun 2004 merupakan
lanjutan persilangan tahun-tahun sebelumnya. Status hasil
persilangan sampai tahun 2003 disajikan pada Tabel l. Hasil
persilangan tahun sebelumnya (2003) yaitu antara S. aurea
dengan S. plicata (ungu muda) terjadi segregasi bentuk dan
corak bunga. Corak bunga terbagi dalam tiga tipe (Gambar 3).
Persilangan antara S. aurea dengan S. plicata (ungu tua)
menghasilkan keturunan yang relatif seragam. Hal ini
menunjukkan bahwa S. plicata ungu muda (Spathoglottis
yang umum dijumpai) sudah merupakan hasil persilangan Gambar 4. Hasil persilangan antara Spathoglottis aurea dengan S.
(kemungkinan hasil persilangan dengan warna putih), plicata ( ungu tua)

Tabel 1. Status persilangan anggrek Spathoglottis yang dilakukan tahun 2003 di Kebun Percobaan Tanaman Hias
Pasarminggu Jakarta dan Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung
Sumber tetua Tanggal silang Tanggal panen Keterangan
Betina Jantan
S019 S023 10-1-2003 7-3-2003 Jumlah klon yang tumbuh 14
S019 S005S 20-1-2003 24-2-2003 Sudah berbunga
S006 S019 25-1-2003 7-3-2003 Biji tidak tumbuh
S001 S023 10-2-2003 24-3-2003 Sudah berbunga
S001 S019 13-2-2003 24-3-2003 Planlet mati dalam botol
5001 Calanthe sp 17-2-2003 24-3-2003 Planlet tumbuh tidak normal
KSP7.3 S023 17-2-2003 26-3-2003 Buah pecah
S001 S019 13-2-2003 26-3-2003 Buah pecah
S005 Calanthe sp. 17-2-2003 1-4-2003 Buah tidak berkecambah
Calanthe sp Calanthe sp 19-2-2003 3-4-2003 Bunga gugur
S019 S006S 26-2-2003 22-4-2003 Sebagian sudah berbunga
S019 S023 13-3-2003 26-6-2003 Sulit diaklimatisasi
S021J Calanthe 8-4-2003 19-5-2003 Buah gugur
S021J S005 1-4-2003 19-5-2003 -
S019 5023 22-8-2003 13-10-2003 Sulit diaklimatisasi
Spa. Plicata 5019 19-8-2003 13-10-2003 Bunga gugur
Spa. Plicata”putih” S023 28-8-2003 13-10-2003 Sgn100 sudah aklimatisasi
Spa. vanoverb. S85-41 7-11-2003 24-12-2003 Sulit aklimatisasi
Sumber: Kartikaningrum et al. (2004)

80 Buletin Teknik Pertanian Vol. 10. Nomor 2, 2005


Tabel 2 . Persilangan yang dilakukan tahun 2004 di Kebun Percobaan Tanaman Hias Pasarminggu Jakarta dan
Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung
Sumber tetua
Tanggal silang Tanggal panen Keterangan
Betina Jantan
S025 S019 8-1-2004 26-2-2004 Masih dalam botol kultur
S019 S023 2-3-2004 - Tanaman sudah diaklimatisasi
KSP1905-279 S025 9-8-2004 21-9-2004 Masih dalam botol kultur
KSP1905-279 S023 9-8-2004 21-9-2004 Masih dalam botol kultur
KSP1905-252 S025 9-8-2004 21-9-2004 Masih dalam botol kultur
S025 S085-001 10-9-2004 10-10-2004 Masih dalam botol kultur
S085-001 S025 10-9-2004 21-10-2004 Masih dalam botol kultur
LQ002-1 S025 10-9-2004 5-10-2004 Masih dalam botol kultur
S025 LQ002-1 10-9-2004 10-10-2004 Masih dalam botol kultur
S003 S023 10-9-2004 22-10-2004 Masih dalam botol kultur
S006 S025 26-8-2004 7-10-2004 Masih dalam botol kultur
S024 S023 8-10-2004 11-10-2004 Masih dalam botol kultur
S024 S025 8-10-2004 11-10-2004 Masih dalam botol kultur
S006 S023 26-8-2004 7-10-2004 Masih dalam botol kultur
S024 S023 8-10-2004 11-10-2004 Masih dalam botol kultur
S024 S025 8-10-2004 11-10-2004 Masih dalam botol kultur
S025 S024 18-10-2004 20-12-2004 Masih dalam botol kultur
S025 S96 23-11-2004 28-01-2005 Masih dalam botol kultur
S96 S025 23-11-2004 4-01-2005 Masih dalam botol kultur
S021 S022 8-2-2005 29-3-2005 Biji belum tumbuh
Sumber: Kartikaningrum et al. (2004)

Persilangan antara S001 dengan S. unguiculata meng- tumbuh. Persilangan Spathoglottis dengan Calanthe juga
hasilkan keturunan F1 yang seragam. Hal ini juga menan- telah dilakukan, namun perkembangan tanaman selanjutnya
dakan kedua tetua tersebut masih murni spesies. Hasil tidak bagus.
persilangan memiliki karakter yang merupakan kombinasi dari
Persilangan S. aurea dengan S. unguiculata sulit mem-
kedua tetuanya, namun warna bunga dominan dari tetua S.
peroleh tanaman dalam jumlah besar sehingga persilangan
unguiculata dan tanaman pendek sehingga dapat dijadikan
terus dilakukan. Kedua tetua ini mempunyai indikasi me-
sebagai tanaman pot. Namun karakter nonresupinasi (yang
nurunkan warna-warna yang dominan. Menurut Lacandula
menyebabkan bunga menghadap ke atas) yang berasal dari
(2004) yang mengutip pernyataan Aurique, warna kuning
S. unguiculata masih dominan, sehingga perlu dilakukan
biasanya bersifat dominan pada setiap persilangan. Namun,
silang balik agar bunganya menghadap ke depan.
persilangan S. plicata dengan S. unguiculata menghasilkan
Persilangan yang dilakukan tahun 2004 (Tabel 2) banyak keturunan yang bunganya memiliki warna dominan dari S.
menggunakan tetua betina S023 dan S025 yang keduanya unguiculata. Semua keturunan memiliki warna yang sama
merupakan sumber tetua untuk tangkai bunga pendek. S023 yaitu ungu tua. Diharapkan persilangan antara S. unguiculata
merupakan spesies anggrek S. unguiculata yang memiliki dengan S. aurea akan memberikan warna campuran keduanya.
sifat cepat membentuk anakan, namun memiliki kelemahan
yaitu bunganya menggerombol di atas dan menghadap ke
atas. S025 adalah spesies anggrek S. vanoverbergii yang
KESIMPULAN
berwarna kuning, keping sisi ungu sampai merah, dan ukuran
bunga kecil, namun tangkai bunganya kurang kokoh. Persilangan anggrek Spathoglottis yang dilakukan tahun
Hasil persilangan pada tahun-tahun sebelumnya me- 2004 menghasilkan populasi Fl hasil persilangan (20 seri
nunjukkan bahwa bila kondisi tanaman atau lingkungan persilangan) dengan umur buah berkisar antara 25-65 hari
kering, persilangan sering tidak berhasil. Kondisi yang setelah penyerbukan. Keragaman karakter Spathoglottis
lembap akan meningkatkan peluang keberhasilan persilang- terletak pada tangkai bunga, bunga dan bagian-bagian
an. Persilangan dengan menggunakan genus lain sudah bunga, sedangkan karakter pada daun tidak menunjukkan
dicoba yaitu dengan Bletila striata, namun biji belum keragaman.

Buletin Teknik Pertanian Vol. 10. Nomor 2, 2005 81


Persilangan Spathoglottis yang memiliki warna berbeda Gunadi, T. 1986. Anggrek dari Benua ke Benua. Angkasa, Jakarta.
akan menghasilkan keturunan dengan kombinasi warna 129 hlm.
kedua tetuanya. Karakter yang dimiliki S. unguiculata sangat Hawkes, A. D. 1970. Encyclopedia of Cultivated Orchids. Faber
mendominasi keturunannya. Dengan adanya hibridisasi and Faber Limited, London. p. 602.
anggrek Spathoglottis diharapkan dapat diperoleh hibrida- Holtum, R.E. and 1. Enoch. 1972. Flora of Malaya. Orchid. Gov
hibrida dengan kombinasi warna yang bervariasi sehingga Printing Office, Singapura 1: 759.
dapat mendorong minat masyarakat akan anggrek Spatho- Kartikaningrum, S., Yoyo Sulyo, Nur. Q. Hayati, dan Suryanah.
glottis. 2004. Hibridisasi anggrek Spathoglottis secara konvensional.
Laporan Akhir Tahun Balai Penelitian Tanaman Hias,
Segunung, Cianjur. hlm. 74-82.
DAFTAR PUSTAKA Lacandula, J.M.M. 2004. The amazing garden sentries (http://
www.manilatimes.net/national/2004/may/04/yehey/life/
Davis, R.S and M.L. Steiner. 1982. Philippines Orchids. Entrient 20040504.html).
Press, Atlagmalolos, Bulacan. 270 pp.
Trubus. 1993. Menyilang Anggrek. Penebar Swadaya, Jakarta. hlm.
27-40.

82 Buletin Teknik Pertanian Vol. 10. Nomor 2, 2005