Anda di halaman 1dari 9

g  


   
À À  À   
À    

A.‘ Pendahuluan.
Pewartaan merupakan tugas utama Gereja. Pewartaan merupakan misi utama para
misionaris (EN.14). Ini sebagaimana pesan Yesus dalam karya penyelamatan-Nya terhadap
seluruh umat manusia (Matius 28:18-20). Untuk mewartakan ke seluruh dunia merupakan
hak dan kewajiban yang tidak dapat ditawar-tawar lagi .
Konsili Vatikan II menegaskan bahwa perintah resmi Kristus untuk mewartakan
kebenaran yang menyelamatkan itu oleh Gereja diterima dari Para Rasul, dan harus
dilaksanakan sampai ujung bumi (LG.17).
Pewartaan Kabar Baik sudah menyebar di tengah-tengah masyarakat yang
bardomisili di Nias, tetapi belum ditelaah dan dicerna dengan baik. Gereja-gereja di Nias
membutuhkan visi yang baru.

B.‘ Dokumen Gereja Tentang Pewartaan.


Pada beberapa kesempatan, Konsili Vatikan II membicarakan panjang lebar tentang
hubungan antara Iman dan Budaya yang berhubungan erat dengan Gereja, Liturgi dan
Misioner Gereja. Dalam dokumen-dokumen tersebut mencoba mengevaluasi dirinya sendiri
yang dinyatakan dalam keanekaragaman budaya. Dokumen Gereja yang membahas
hubungan Iman dengan Kebudayaan yaitu :
1.‘ Gaudium et Spes (GS art. 53)
³Termasuk cirri pribadi manusia bahwa ia hanya dapat menuju kepenuhan
kemanusiaannya yang sejati melalui kebudayaan, yakni dengan memelihara apa yang
serba baik dan bernilai pada kodratnya. Maka di mana pun dibicarakan hidup manusia,
kodrat dan kebudayaan erat sekali. Kebudayaan dimaksudkan segala sarana dan upaya
manusia untuk menyempurnakan dan mengembangkan pelbagai bakat, pembawaan
jiwa raganya. Akhirnya, di sepanjang masa ia mengungkapkan, menyalurkan, dan
melestarikan pengalaman-pengalaman rohani serta aspirasi-aspirasinya yang besar
melalui karya-kaaryanya supaya berfaedah bagi kemajuan banyak orang, bahkan
segenap umat manusia´.
c
Ê 


2.Sacrosanctum Concilium (SC art. 38, 40)


³Hendaknya diberi ruang kepada kemajemukan bentuk dan penyesuaian yang wajar
dengan pelbagai kelompok, daerah, dan bangsa, terutama di daerah-daerah misi.
Hendaknya pimpinan gerejawi setempat yang berwenang, dengan tekun dan bajaksana
mempertimbangkan, unsur-unsur manakah dari tradisi-tradisi dan ditampung dalam ibadat
Ilahi´

3.‘ Ad Gentes (AG. Art. 10)


³Gereja, yang diutus oleh Kristus untuk memperlihatkan dan menyalurkan cinta kasih
Allah kepada semua orang dan segala bangsa, menyadari bahwa karya masioner yang
harus dilaksanakannya memang masih amat berat. Sebab masih ada dua miliar manusia,
yang jumlahnya makin bertambah, dan yang berdasarkan hubungan-hubungan hidup
budaya yang tetap, berdasarkan tradisi-tradisi keagamaan yang kuno, berdasarkan pelbagai
ikatan kepentingan-kepentingan social yang kuat, terhimpun menjadi golongan-golongan
tertentu yang besar, yang belum atau hampir tidak mendengar warta Injil´.

4.‘ Lumen Gentium (LG art. 13)


³Gereja dan Umat Allah, dengan membawa masuk Kerajaan itu, tidak mengurangi sedikit
pun kesejahteraan materiil bangsa manapun juga. Malahan sebaliknya, Gereja memajukan
dan menampung segala kemampuan, kekayaan, dan adat-istiadat bangsa-bangsa sejauh itu
baik; tetapi dengan menampungnya juga memurnikan, menguatkan serta mengangkatnya´.

5.‘ Nostra Aetate (NA art. 2)


³Maka, Gereja mendorong para putranya supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melaui
dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberikan
kesaksian tentang iman serta perihidup Kristiani, mengakui, memelihara, dan
mengembangkan harta kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang
terdapat pada mereka´.

è
Ê 


C.‘ Inkulturasi Dalam Masyarakat Nias.1


Bagian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi realitas Gerja di Pulau Nias, yang
berusaha membawa inkulturasi dan iman kristiani. Sangat memungkinkan untuk
menjalankan baru ini dalam bentuk sikap, budaya sebagai tempat bertemunya wahyu Tuhan
sendiri kepada umat manusia. Sumber budaya dan keunggulan yang terkandung didalamnya
digunakan untuk mengaktualisasikan misi Gereja khususnya dalam konteks budaya.
Komponen budaya yang dilaksanakan menjadi sah artinya untuk memuja dan menyembah.
Budaya perlu diperbaharui, dimurnikan, dilengkapi dan membantu perkembangan
pewartaan.
Pewartaan dalam dunia modern, menuntut Gereja untuk memperhatikan manusia
dalam totalitas budayanya agar lebih efektif dalam membangun Kerajaan Allah dan untuk
menjaganya dari ajaran yang terpisah dari budaya. Munculnya pemisahan antara budaya
seseorang dengan imannya untuk meninggikan Allah yang telah menjadi peristiwa besar dan
yang sering dipadukan dengan pewartaan di masa lampau. Inkulturasi berfungsi sebagai inti
dalam mengaktualisasikan misi penyelamatan (EN art. 20).
Inkulturasi adalah sebuah konsep baru dalam misiologi dan teologi pastoral dan
kemudian diartikan sabagai standar untuk dapat memahaminya. Dalam hal inkulturasi,
Gereja menjadi bagian dari budaya setempat. Selain itu, Gereja sendiri harus menyadari
bahwa bukan hanya sebagai penerima tetapi sebagai pemilik dan pemberi kabar yang
pertama tentang penyelamatan dalam Yesus Kristus. Crollius mengatakan : ³Inkulturasi
sebagai suatu istilah teknis dalam antropologi budaya yang mengindikasikan mempelajari
pengalaman yaitu dengan individu yang memulai dan bertumbuh dalam budaya, sementara
istilah inkulturasi merupakan proses dimana Gereja menjadi bagian yang disisipkan pada
budaya yang dikembangkan´.
Inkulturasi Gereja adalah integrasi dari pengalaman Kristiani dari Gereja lokal ke
dalam budaya masyarakat itu sendiri, bahwasanya pengalaman ini tidak hanya
mengungkapkan itu sendiri dalam komponen budaya ini, tetapi menjadi suatu kekuatan yang

1
Yayasan Pusaka Nias. •   
   , (Gunungsitoli; Yayasan Pusaka Nias, 2009), hal.
87-88.
 
Ê 


seolah-olah hidup, orientasi dan mendapatkan paham baru budaya ini sehingga menciptakan
kesatuan dan hubungan erat yang baru serta memperkaya Gereja universal.

D.‘ Ungkapan iman yang sama dalam ungkapan budaya yang berbeda.
Gereja-gereja lokal melaksanakan inkulturasi melalui sejumlah program dan
kebijakan. Iman Kristen tetap memelihara budaya yang merefleksikan kebiasaan, bahasa dan
filosofi masyarakat. Seperti halnya budaya atau ungkapan yang akan dapat nampak dalam
Perayaan Liturgi, katekese, dalam homili dan teologis.Ddan dengan demikian iman Kristen
akan lebih dimengerti dan dipahami, dan kemudian akan lebih betah terhadap perbedaan
dengan orang lain. Oleh karena itu, penekanan lebih kepada level teoritis dan prinsip,
kenyataannya setiap budaya dapat menjadi suatu instrument untuk melahirkan ajaran
sekaligus menyebarkan ajaran dalam budaya dimaksud.2

E.‘ Inkulturasi sebagai pewartaan yang mendalam3


Bertitik tolak dari pewartaan pada tingkat yang dangkal bahwa hanya pengetahuan
dalam formula doktrinal, tugas-tugas inkulturasi mendorong Gereja untuk melaksanakan
inspirasi dari Roh Kudus dalam hal penaburan iman yang lebih mendalam dalam kehidupan
manusia yang menyentuh pemikiran, perasaan dan tindakan.
Tetapi inkulturasi lebih dari pada itu, karena lebih kearah transformasi kehidupan
masyarakat yang percaya penuh dimana Kabar Gembira berprinsip menghidupkan sikap
mereka, pandangan mereka, sistem penilaian dan tindakan mereka secara keseluruhan. Untuk
itu perlu dipertimbangkan dan diambil visi hidup, aspirasinya, skala nilai, pemikiran yang
realistis, dsb.

F.‘ Inkulturasi sebagai transformasi budaya


Proses inkulturasi membawa pembaharuan umat manusia melalui pewartaan Kabar
Baik mengubah umat manusia dari dalam dan membuatnya menjadi baru : ³Lihatlah Aku
menjadikan segala sesuatu baru´(Wahyu 21:5). Maksud dari penginjilan ialah perubahan
batin. Dengan kata lain, Gereja melaksanakan penginjilan bila Gereja berusaha

2
Stephen B. Bevans, { 
{     , (Maumere: Ledalero, 2002), hal. 97.
3
Yohanes Hammerle, OFMCap., Sejarah Gereja Di Pulau Nias, (Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias, 1980), hal.
65.
^
Ê 


mempertobatkan, semata-mata berkat kuasa ilahi dari Pewartaan yang diwartakannya, baik
hati nurani perorangan maupun hati nurani kolektif orang-orang, kegiatan-kegiatan di mana
mereka terlibat, serta kehidupan dan lingkungan konkret yang mereka miliki.
Inkulturasi dan pewartaan berhubungan erat satu sama lain dan dapat dikatakan
bahwa keduanya aspek yang melengkapi salah satu misi Gereja. Inkulturasi salah satu cara
untuk membaharui dan membangkitkan keinginan Allah dalam Misteri Yesus Kristus.Gereja
diharapkan tetap menunjukkan gaya hidup Kristus yang melayani. Sikap melayani harus
nampak dalam sukacita dan dukacita di tengah-tengah umat manusia.Semua orang Kristen
terpanggil untuk melayani, dan semua orang Kristen disebut sebagai misionaris untuk
mewartakan Kabar Baik kepada semua manusia yang berbeda budaya dan situasi hidupnya.

G.‘ Inkulturasi salah satu cara pembaharuan.


Pewartaan Injil, sesungguhnya bukan hal baru bagi masyarakat Nias. Hampir 95
dari penduduknya adalah orang Kristen. Kehadiran dalam perayaan liturgi di Gereja pada
hari minggu cukup tinggi. Doa pagi dan malam dilaksanakan di masing-masing keluarga,
dan senang bersama-sama datang dalam Doa Lingkungan atau Pendalaman Alkitab. Kendati
demikian, orang Kristen di Nias belum mengungkapkan iman mereka dengan ungkapan
budaya mereka sendiri. Ini berarti orang Kristen di Pulau Nias belum menerima budaya
mereka. Dengan kata lain inkulturasi dengan pewartaan masih belum berlangsung secara
serius.
Seorang Misionaris dari Tirol mengatakan ³Kami gagal melihat nilai-nilai yang
baik. Dari awal salah. Kami misionaris gagal melihat nilai-nilai baik yang ada dalam
masyarakat dan budaya di sini. Kami melihat secara sempit. Karena itu sulit untuk
menghargai dan bekerja sama. Dalam hubungan dengan pribumi kami lebih gampang
menyesuaikan diri dan tetap dapat kerja sama dengan pihak lain dan tidak memaksakan
kehendak. Semua kegiatan sosial ekonomi dibuat atas dasar keprihatinan ketika melihat
semua orang di sini miskin.´
Pengakuan beberapa para msionaris yang berkarya di Pulau Nias, pada mulanya
memandang orang Nias semua orang miskin, sehingga para msionaris tergerak hati untuk
membantu, akhirnya semua orang mengharapkan untuk diberi. Para misionaris mengakui
bahwa masyarakat di Pulau Nias mempunyai nilai-nilai yang bagus yang bisa membuat

‰
Ê 


mereka bahagia. Para misionaris mengakui juga bahwa karya sosial itu tidak didasarkan pada
nilai-nilai Injil, bukan bagian integral dari pewartaan. Akhirnya banyak orang hanya
tergantung. Karya sosial harus didasarkan pada penghayatan iman kita, dan harus
memberdayakan.4
Kabar Baik adalah suatu benih yang disebarkan di setiap budaya dan akan
bertumbuh sekaligus menghasilkan buah yang melimpah. Orang Nias memiliki warisan,
antara lain megalit, upacara, dongeng atau cerita rakyat. Inilah ungkapan yang menjadi
perspektif dasar budaya.Rasa saling memiliki dan kebersamaan di kampung-kampung
(Fabanuasa) sudah mendarah daging, terbukti dengan perang melawan kampung lain.
Masyarakat kampung tetap hormat kepada pemimpinnya dan menjunjung tinggi adat-
istiadat. Pada umumnya aturan dan tradisi di kampung hanya diwariskan secara lisan dari
nenek moyang, dengan kata lain turun-temurun.
Masyarakat Nias menghargai dan menyambut setiap tamu dengan sikap ramah
dengan penuh keterbukaan. Mereka berusaha agar setiap tamu yang datang merasa betah,
dan menjamu tanpa memikirkan kerugian. Pada dasarnya masyarakat Nias murah hati dan
suka memberi. Sikap terbuka dan keramahan merupakan karakteristik yang khas masyarakat
Nias.
Masyarakat Nias ada kecenderungan membuat pesta atau ritual setidak-tidaknya
ada 5 peristiwa dalam hidup. Peristiwa yang dirayakan antara lain :
1.‘ Pemberian nama kepada anak yang lahir
2.‘ Pernikahan
3.‘ Peletakan batu pertama pembangunan rumah
4.‘ Peresmian rumah baru
5.‘ Penguburan orang tua

Pesta atau ritual ini merupakan kesempatan untuk bersyukur kepada Tuhan atas
karunia yang telah diterima, sekaligus memohon perlindungan Tuhan untuk masa
mendatang.

4
Keuskupan Sibolga, Gereja Mandiri, Solider, dan Membebaskan, (Tanpa tempat dan nama penerbit), hal. 63.
o
Ê 


H.‘ Respek terhadap hidup


Kedua mempelai merupakan sumber generasi masa depan, dan keduanya mendapatkan
status social yang baru sekaligus diberi nama atau panggilan yang baru. Sebenarnya, dalam
diri dan hidup kedua mempelai sudah terlaksana apa yang disebut Inisiasi. Kedua mempelai
diharapkan kiranya Sang Pencipta mengaruniakan anak di tengah-tengah keluarga.
Setiap anak yang baru lahir merupakan karunia yang tak terhingga dari Sang Pencipta.
Kepada anak yang baru lahir, diberi nama oleh orangtuanya yang merupakan ungkapan
harapan sekaligus ucapan syukur. Hal ini tetap diwariskan kepada generasi muda untuk
meneruskannya.
Pesta atau ritual yang dibuat pada penguburan, sesunguhnya merupakan perjamuan
perpisahan terhadap yang bersangkutan. Maka membunuh adalah tindakan yang sangat
menyedihkan bagi masyarakat Nias. Pembunuh tetap merusak citra keluarga sampai
keturunannya, dengan kata lain citra buruk itu termateraikan kepada keturunannya. Hal ini
bertujuan untuk mempererat persaudaraan dan menjauhkan permusuhan.

I.‘ Kesimpulan.
Konsili Vatikan II menyatakan secara tegas dalam beberapa dokumen perihal budaya.
Allah berbicara kepada manusia dngan menggunakan ungkapan budaya setempat. Melalui
ungkapan ini Injil dikomunikasikan dan diwartakan. Apa terobosan supaya pewartaan dapat
dimengerti dan diterima oleh budaya setempat ? Supaya pewartaan dapat dimengerti dan
diterima, maka Gereja harus memperhatikan dan menggunakan budaya: ³Evangelisasi
kebudayaan manusia dan kebudayaan-kebudayaan (bukan hanya sebagai suatu perhiasan
seperti menempelkan suatu kayu lapis tipis, tapi secara viatal, secara mendalam dan tepat
pada akar-akarnya´. Pewartaan dengan menggunakan budaya setempat, merubah hati setiap
individu. Ini berarti, Gereja harus bertumbuh baru dengan iman sesuai dengan latar belakang
budaya setiap masayarakat. Gereja harus mencari cara baru agar Injil atau Kabar Baik yang
diwartakan itu menjadi inti budaya. Sebagai hasilnya, ungkapan asli dari iman, transformasi
dari seluruh skala nilai budaya, dapat membangun komunitas yang baru berdasarkan Injil.
Konferensi Para Uskup Asia mengatakan bahwa Sabda Tuhan perlu ditanamkan ke dalam
budaya orang Asia sebagai makna yang paling efektif untuk membangun Gereja lokal di
dalam konteks Asia.

D
Ê 


Inkulturasi adalah proses yang merasuki iman orang Kristen dalam konteks budaya
yang berbeda yang bertujuan membaharui seluruh umat manusia. Masyarakat Nias memiliki
kekayaan budaya yang beraneka ragam. Tugas Gereja yang paling urgen atau utama saat ini
yakni melayani masyarakat di Pulau Nias sekaligus merancang strategi supaya tetap setia
menjadi Umat Kristen sepenuhnya dan tetap sepenuhnya menjadi orang Nias.

ÿ
Ê 



 

Dokumentasi dan Penerangan KWI. M      , R. Hardawiryana SJ (Terj),
(Jakarta: Obor, 1993).

Keuskupan Sibolga.   {  •    {  - - Sinode I Keuskupan


Sibolga.

Dokumentasi dan Penerangan KWI.      (Mewartakan Injil), (Jakarta: KWI,


2008)

Yayasan Pusakan Nias. •   


    (Gunungsitoli: Yayasan Pusaka
Nias, 2009)

Hammerle, Yohanes OFMcap., •     M  , (Gunungsitoli: Yayasan Pusaka


Nias, 1980)

Bevans, Stephen B. { 
{     , (Maumere, Ledalero, 2002)

A
Ê