Anda di halaman 1dari 10

Teknologi Pasangan Bata dan Plesteran

TEKNOLOGI PASANGAN BATA DAN PLESTERAN

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Teknik pekerjaan pasangan (masonry) dan adukan (mortar) yang selama ini dilakukan di
Indonesia terbukti kurang menguntungkan, hal ini disebabkan antara lain : - banyak bahan
terbuang - produktivitas hasil kerja yang rendah - pekerja menjadi mudah lelah - mutu hasil
pekerjaan yang kurang baik - biaya persatuan luas hasil pekerjaan yang relatif lebih mahal
dari semestinya - tidak mendorong usaha peningkatan mutu bata/batu cetak. Keuntungan
memakai cara yang diperbaiki, antara lain : - biaya dapat ditekan kurang lebih 10% - mutu
pasangan, terutama kekuatan meningkat 6 kali lipat (gb.1.) - produktivitas kerja meningkat
hampir 2 – 3 kali lipat - membantu usaha perbaikan mutu bata/batu cetak - terbuka
kesempatan peningkatan hasil tukang tembok dan pembantu tukang tembok - peningkatan
produksi konstruksi pasangan bata dalam waktu yang sama. Peningkatan kekuatan yang
dimaksud ialah “kekuatan geser dan lentur”. Gambar :

1. PENINGKATAN KEKUATAN PASANGAN BATA DENGAN BEBERAPA TAHAPAN


PERBAIKAN. KETERANGAN : - material yang digunakan bata merah - adukan (mortar)
yang dipakai : ½ PC : 1 Kapur : 5 Tras ¼ PC : 1 Kapur : 5 Tras 1. = dengan cara biasa 2. =
perbaikan peralatan / teknik3 3. = perbaikan teknik dan penyesuaian kecepatan penyerapan
bata dgn pencelupan (2-8 menit) 4. = seperti no.3 tambah pemeliharaan 14 hari

Modul C-1_7 1

Teknologi Pasangan Bata dan Plesteran


Semen sebagai bahan pengikat dalam pembuatan aduk dan beton secara langsung dapat
mempengaruhi nilai teknis dan ekonomis dari bangunan sehubungan dengan kualitas, harga
dan proporsi campuran yang digunakan. Pada pekerjaan pasangan bata dan plesteran dinding,
jenis-jenis semen yang digunakan harus mempunyai karakteristik tertentu dan memenuhi
spesifikasi sesuai dengan fungsinya antara lain mudah dikerjakan, panas hidrasi rendah dan
tidak terjadi retak. Fungsi adukan dalam pasangan bata antara lain sebagai pengikat antara
bata yang satu dengan yang lain, disamping dapat menghilangkan deviasi dari permukaan
batanya untuk menyalurkan beban. Sedangkan fungsi adukan dalam plesteran untuk
meratakan permukaan dinding dan melindunginya dari pengaruh cuaca. Adapun beberapa hal
yang umumnya terjadi pada hasil pekerjaan pasangan bata dan plesteran dinding disebabkan
kurang memahami teori mencampur adukan dan rencana kerja, antara lain :






Terjadinya retak-retak pada plesteran. Pemasangan bata miring. Banyak adukan tersisa pada
waktu selesai kerja. Menyadari hal tersebut di atas, maka untuk mendapatkan pasangan bata
dan plesteran dinding yang baik perlu didukung oleh peralatan , teknik pemasangan,
penyesuaian kecepatan pengisapan air permukaan dari bata dan pemeliharaan pasangan bata.
Oleh karena Indonesia pada umumnya berada dalam daerah jalur gempa, dimana kekuatan
geser dan lentur sangat penting sekali selain kekuatan tekan, maka “Teknologi Pasangan Bata
dan Plesteran” ini perlu dipahami oleh pelaksana (tukang) maupun pengawas untuk
meningkatkan kualitas dan efisiensi pekerjaan.

1.2 Pengertian

1. Adukan

Adukan adalah suatu campuran dari bahan pengikat, bahan pengisi dan air. Bahan
pengikat yang biasa dipakai adalah semen, kapur bangunan atau campuran dari
keduanya, sedangkan bahan pengisi adalah pasir atau tras. Adukan dengan bahan
pengikat semen mempunyai adhesi dan kekuatan yang lebih besar tetapi pengerjaannya
agak susah atau workabilitynya rendah. Sedangkan adukan dengan bahan pengikat
kapur mempunyai sifat adhesi dan kekuatan yang lebih rendah tetapi mempunyai sifat
kemudahan pengerjaan (workability) yang lebih baik. Sifat-sifat adukan yang terpenting
adalah : Mudah dikerjakan (workability). Sifat penyusutan (shrinkage) yang kecil, dan.
Kekuatan (strength) yang cukup.

Modul C-1_7 2
Teknologi Pasangan Bata dan Plesteran

2. Pasangan bata

Pasangan bata adalah suatu pasangan yang terdiri dari bahan pengikat (adukan) dan
bahan pengisi (bata merah, batako, dll.).

3. Plesteran

Plesteran adalah suatu lapisan sebagai penutup permukaan dinding baik luar atau
dalam bangunan dari pasangan bata merah atau batu cetak, yang berfungsi sebagai
perata permukaan, memperindah dan memperkedap dinding. Di dalam pelaksanaannya,
pekerjaan plesteran dapat dibagi atas 3 lapis utama, yaitu : 1) Lapis pertama yang
disbut kamprotan dengan tebal 3 mm, dari campuran semen-pasir yang encer dan
berfungsi untuk menyeragamkan permukaan dinding, pelekatan badan plesteran dan
mengurangi penyusutan. 2) Lapis kedua yang disbut badan plesteran setebal 6 – 10
mm, dari campuran semen-pasir yang plastis berfungsi untuk mengatur kerataan
permukaan dinding. 3) Lapis ketiga yang disebut acian setebal 2 mm, dari pasta semen
(dapat juga ditambah pasir halus), dan berfungsi sebagai penghalus permukaan dan
pelindung dari pengaruh cuaca.

2. Bahan Adukan
Secara umum, bahan utama untuk aduk pasangan dan plesteran dinding adalah terdiri atas
bahan pengikat dan bahan pengisi seperti dapat diuraikan seperti di bawah :

1. Bahan pengikat
Berbagai bahan pengikat yang dapat digunakan dalam pekerjaan plesteran antara lain :
Kapur bangunan. •






Semen portland. Semen portland pozolan. Semen pozolan kapur. Mixed cement (semen
campur), dll.
2. Bahan pengisi
Untuk bahan pengisi, dapat digunakan : Pasir (alam, buatan). Pozolan (alam, buatan).
Modul C-1_7 3
Teknologi Pasangan Bata dan Plesteran
3. Persyaratan Bahan
Bahan-bahan yang digunakan untuk adukan pasangan dan plesteran dinding harus
memenuhi syarat sebagai berikut :

1. Semen
2. Semen harus memenuhi syarat seperti tabel berikut :
3. Syarat Mutu No Uraian / Unsur SPP-A SPP-B PC Mixed Cement A Sifat
Kimia 1 MgO, maks., ............................% 5,0 5,0 5,0 - 2 SO3,
maks., ..............................% 4,0 4,0 3,0 3 3 HP, maks., ................................% 5,0
5,0 5,0 - B Sifat Fisik 1 Kehalusan, sisa di atas ayakan : 0,09 mm,
maks., .................... % 0,045 mm, maks., .................. % 10,0 15,0 - - 24 2 Waktu
pengikatan,


Awal, min., .................... mnt Akhir, maks., ................. mnt 45 420 45 420 45 480 45 375 3
Kekekalan dengan autoclave,


Pemuaian, maks.., ............ % Penyusutan, maks., .......... % 0,5 0,2 0,5 0,2 0,8 0,8 0,2 4
Kekuatan tekan,



Umur 3 hari, min., ........... MPa Umur 7 hari, min., ........... Mpa Umur 28 hari, min., ......... MPa
12,2 19,6 24,5 - 10 20 12,5 20 10 15 - 2. Pasir Pasir sebagai bahan pengisi dalam adukan,
harus mempunyai sifat butiran yang keras, bergradasi baik dan bebas dari bahan pengotor
lainnya sehingga dapat menjaga kestabilan aduk setelah mengeras. Secara umum, pasir harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut : Kadar lumpur maksimum 5%. •


Partikel yang mudah pecah maksimum 1%. Bebas dari kotoran organik, seperti tabel berikut :
Ukuran ayakan (mm) Lewat komulatif (%) 4,75 2,36 1,18 0,60 0,30 0,15 0,075 100 90 – 100
60 – 90 35 – 70 10 – 30 0 – 5 0 – 3
Modul C-1_7 4
Teknologi Pasangan Bata dan Plesteran

4. Pozolan
Pozolan adalah suatu bahan bangunan yang bersifat reaktif terhadap kapur dan dapat
berupa alam atau buatan. Pozolan alam atau yang lazim disebut tras, adalah hasil
lapukan batuan gunung berapi yang banyak mengandung silika, yang dalam keadaan
halus bila dicampur dengan kapur dan air setelah beberapa waktu akan membentuk
masa yang padat, keras dan tidak larut dalam air. Sedangkan pozolan buatan adalah
suatu bahan yang didapatkan melalui proses pembuatan seperti semen merah, abu
terbang (fly ash) dan sebagainya. Persyaratan mutu yang harus dipenuhi oleh tras dan
semen merah dapat dilihat pada tabel berikut :
Syarat mutu No Uraian/Sifat yang diuji Mutu I Mutu II Mutu III 1 Kadar air
bebas, ......................... % < 6 6 – 8 9 – 10 2 Kehalusan, sisa di atas :


Ayakan 2,5 mm, ..................... % Ayakan 0,21 mm, ................... % 0 < 10 0 10 – 30 0 30-50 3
Waktu pengikatan, ...................... hari 1 2 3 4 Kuat tekan pada umur 14 hari, ... kg/cm² 100 75-
100 50-75 5 Kuat tarik pada umut 14 hari, ...... kg/cm² 16 12-16 8-12

4. Proporsi Campuran
Beberapa macam proporsi campuran yang dapat digunakan dalam pekerjaan pasangan dan
plesteran dinding dengan menggunakan bahan pengikat semen portland pozolan jenis A/B
(SPP-A/B), Mixed Cement (MC) atau Super Masonry Cement (SMC) dapat dilihat pada tabel
berikut :

1. Pekerjaan Kamprotan Komposisi Bahan No SPP-A/B Mixed Cement Pasir


Pozolan Keterangan / dasar permukaan
1 2 3 4 1 1 1 1 2 – 3 3 – 5 2 – 3 3 – 5 Lembab Lembab Kering Kering 1 2 3 4 1 1 1 1 2 –
3 3 – 5 2 – 3 3 – 5 Lembab Lembab Kering Kering
Modul C-1_7 5
Teknologi Pasangan Bata dan Plesteran

3. Pekerjaan Pasangan dan Plesteran Dinding Komposisi Bahan No SPP-A/B


Kapur PC Mixed Cement Pasir Pozolan Keterangan / dasar permukaan
1 2 3 4 5 6 7 1 1 1 1 2 – 3 1 1/2 - 1/3 1 1 1 8 – 10,5 6 5 – 4,5 3 5 – 6 3 5 – 6 Lembab
Lembab Lembab Lembab Lembab Kering Kering 1 2 3 4 1 1 1 1 3 5 – 7 3 5 – 7 Lembab
Lembab Kering Kering

4. Pekerjaan Acian Komposisi Bahan No SPP-A/B Kapur PC Mixed Cement


Pasir Pozolan Keterangan / dasar permukaan
1 2 3 4 5 6 1 1 1 1 2 1 1 2 1 2 4 1 2 Lembab Lembab Lembab Lembab Kering Kering 1 2
3 4 1 1 1 1 1 2 1 2 Lembab Lembab Kering Kering Keterangan:




Pasir dan pozolan untuk acian harus lolos ayakan 0,6 mm. SPP : Semen Portland Pozolan
SMC : Super Masonry Cement MC : Mixed Cement (Semen campur)

6. Peralatan
Alat-alat yang digunakan untuk pekerjaan pasangan dan plesteran dinding terdiri atas :

1. Alat-alat untuk persiapan pekerjaan :


1) Bak/drum perendam bata.
2) Bak/drum penampung air.
3) Saringan pasir (dari anyaman kawat).
4) Kotak penakar bahan.
5) Alat pengangkut bahan (kereta dorong).

2. Alat-alat untuk pengadukan mortar :


1) Sekop pengaduk.
Modul C-1_7 6
Teknologi Pasangan Bata dan Plesteran

2) Wadah/kotak pengaduk manual, atau.


3) Mesin pengaduk. 4) Cangkul pengaduk.

3. Alat-alat untuk pasangan bata :


1) Alat pengangkut adukan (kotak, ember, kereta dorong).
2) Wadah adukan (drum, kotak).
3) Sendok aduk.
4) Palu pemotong bata.
5) Profil kayu.
6) Penarik benang kayu/pelat logam.
7) Mistar kontrol.
8) Sifat datar (water pass/slang).
9) Unting-unting.
10) Penahan lendutan dari logam.

4. Alat-alat untuk plesteran :


1) Sikat injuk/plastik.
2) Sendok aduk.
3) Penggurat.
4) Mesin semprot adukan.
5) Roskam panjang.
6) Mistar perata.
7) Roskam plesteran
8) Roskam acian.
9) Roskam penghalus (kayu dilapis kain laken/felt).

5. Alat-alat untuk penunjang dan keselamatan kerja :


1) Perancah.
2) Sabuk pengaman.
3) Sepatu karet.
4) Sarung tangan.
5) Helmet.
Modul C-1_7 7
Teknologi Pasangan Bata dan Plesteran

BAB II KETENTUAN-KETENTUAN

2.1 Pasangan Dinding

1. Pasangan harus tetap datar dan tegak lurus;


2. Bagian ujung pasangan harus berbentuk gerigi;
3. Kelebihan adukan yang menempel pada dinding pasangan harus segera dibersihkan
sebelum mengeras;
4. Bagian bata yang menumpang tidak boleh kurang dari ¼ dari panjang bata;
5. Bata penutup dari suatu baris pasangan, adukan diletakkan pada bagian ujung bata terlebih
dahulu untuk mengisi sambungan tegak (vertikal);
6. Batu bata harus dalam kondisi lembab pada saat dipasang;

2.2 Pasangan Plesteran


Permukaan dinding dasar sebelum diplester harus memenuhi ketentuan berikut :
1. Bersih, bebas dari debu dan organik serta gumpalan adukan yang melekat tidak sempurna;
2. Lurus/rata dengan toleransi maksimum 2,0 mm/m’;
3. Dapat menyerap air;
4. Lajur kepala untuk plesteran dibuat dengan jarak 1 meter dan maksimum 1,5 meter;
5. Khusus untuk permukaan dinding yang licin : Diberi anyaman kawat atau dikasarkan dengan
pahat, atau; •


Diberi lapisan kamprot dan dibasahi selama 24 jam, atau; Diberi bahan pelekat/pengikat sesuai
ketentuan yang berlaku.

2.3 Pekerjaan Plesteran untuk Dasar Permukaan Padat


Pekerjaan plesteran pada dasar permukaan padat harus memenuhi ketentuan berikut :
1. Permukaan dengan penyerapan rendah harus dibasahi sebelum diplester, sedangkan untuk
permukaan dengan penyerapan tinggi harus dibasahi sampai jenuh;
2. Pengamprotan (untuk lapisan kamprot) dilakukan dengan tekanan atau lemparan kemudian
digaruk dengan arah horizontal, sehingga ketebalan 3 – 4 mm;
3. Lapisan kedua (badan plester) dilekatkan dan diratakan sampai padat dan rata, sehingga
ketebalan 3 – 4 mm;
4. Lapisan ketiga (acian) dilekatkan dengan tekanan yang cukup sampai ketebalan maksimum
2,0 mm.

2.4 Pekerjaan Plesteran pada Dasar Permukaan Logam


Pekerjaan plesteran pada dasar permukaan logam harus mengikuti ketentuan berikut :
1. Lapis kamprotan harus dilakukan dengan tekanan yang cukup untuk mendapatkan
permukaan yang kasar dan kuat;
Modul C-1_7 8
Teknologi Pasangan Bata dan Plesteran
2. Lapis kedua dan ketiga sesuai ketentuan butir 3.3 ayat 3 dan 4.

2.5 Waktu Efektif Adukan

Adukan harus segera diplesterkan sebelum mencapai waktu paling lama 2,5 jam sejak mulai
dicampur dan harus dilakukan pengadukan ulang selama masa pelaksanaan untuk menjaga
homogenitas dan kemudahan pengerjaannya.

2.6 Tenggang Waktu antar Lapisan

Tenggang waktu antar lapisan harus diberikan sampai lapisan terdahulu cukup keras dan stabil,
terutama untuk lapisan badan (lapis kedua) sebelum diberi lapisan akhir (acian) sudah tidak
terjadi penyusutan dan retak-retak lebih lanjut. Untuk hal tersebut, perlu diberikan tenggang
waktu minimal 7 (tujuh)hari.
2.7 Pemeliharaan
Selama masa pelaksanaan, dinding harus dijaga dari pengaruh sinar matahari langsung dan
dijaga agar tetap dalam kondisi lembab terutama pada lapisan akhir selama minimal 3 x 24 jam.
Modul C-1_7 9
Teknologi Pasangan Bata dan Plesteran

BAB III CARA PELAKSANAAN

3.1 Langkah-langkah Pengadukan


1. Pengadukan dengan tangan / manual Siapkan wadah/kotak adukan; •








Bahan-bahan yang telah ditakar diaduk dalam kotak dalam keadaan kering hingga merata;
Bagian atas timbunan campuran dilubangi hingga berbentuk seperti kawah; Tuangkan sebagian
air dan aduk terus hingga merata; Sisa air selebihnyanya dituangkan sedikit demi sedikit sambil
diaduk terus hingga didapatkan adukan yang homogen dan plastis.

2. Pengadukan dengan mesin


Siapkan mesin pengaduk dan pastikan dalam kondisi baik; Bahan-bahan yang telah
ditakar dimasukkan dalam mesin pengaduk dan campurkan hingga merata; Tuangkan
air sedikit demi sedikit dan aduk terus hingga didapatkan adukan lembab, periksa bila
terdapat gumpalan yang kurang merata pecahkan dengan sendok aduk, kemudian
teruskan pengadukan; Sisa air selebihnyanya dituangkan sedikit demi sedikit sambil
diaduk terus hingga didapatkan adukan yang homogen dan plastis

3. Cara penyimpanan adukan


Adukan yang siap dipakai (sesaat setelah selesai pengadukan) simpan di dalam kotak
atau tong dan bila belum segera digunakan tutuplah dengan lembaran plastik agar tidak
terjadi penguapan air. Setelah dalam penyimpanan, harus dilakukan pengadukan ulang
sebelum digunakan untuk menjaga homogenitas dan plastisitas adukan.

2. Langkah-langkah Pasangan Bata


Langkah-langkah pasangan bata untuk dinding adalah sebagai berikut :
1. Siapkan semua peralatan dan tempatkan pada posisi yang benar;
2. Siapkan bahan-bahan (bata dan adukan) yang akan digunakan dalam kondisi siap
pakai (bata telah direndam 2 – 8 menit);
3. Pasang profil dan mistar pengukur lapisan bata, secara tegak lurus, ukurlah dengan
unting-unting;
4. Pasang benang penarik horizontal dan ukurlah dengan alat sifat datar (water pass
atau slang air);
5. Tentukan ketebalan lapisan arah vertikal pada mistar ukur sesuai ketebalan bata
ditambah tebal spesi (6 – 10 mm);
6. Pastikan bahwa permukaan dasar dalam kondisi bersih dan bebas dari debu agar
pelekatan cukup sempurna;

Modul C-1_7 10
Teknologi Pasangan Bata dan Plesteran

7. Mulailah pemasangan pada lapis pertama yang didahului oleh pemasangan adukan/spesi
sebagai dasar;
8. Lanjutkan pada lapis berikutnya dan kontrol ketegakan pasangan dengan alat unting-unting;
9. Bila terdapat terdapat sisa adukan yang menempel tidak sempurna yang melebihi ketebalan
bata, bersihkan segera sebelum mengeras;
10. Rawat pasangan bata yang sudah selesai sesuai ketentuan.

3. Langkah-langkah Pemlesteran
Langkah-langkah pemlesteran adalah sebagai berikut :
1. Siapkan semua bahan dan peralatan;
2. Tentukan komposisi campuran untuk setiap lapisan sesuai dengan ketentuan;
3. Siapkan permukaan dinding sesuai uraian berikut :
1) Pemlesteran pada dinding permukaan padat Basahi permukaan dinding sampai rata
tanpa ada kantong-kantong air;















Beri lapisan kamprot sampai rata dengan campuran yang telah ditentukan; Buang butiran-
butiran kamprotan yang melekat tidak sempurna dengan alat penggaruk secara horizontal; Buat
lajur kepala dengan jarak dan ketebalan sesuai ketentuan; Lekatkan lapis badan plesteran
dengan menggunakan sendok aduk; Ratakan permukaan dengan mistar perata dan bila
terdapat lubang-lubang isi kembali dengan adukan; Padatkan dan ratakan permukaan plesteran
dengan roskam kayu berlapis kain laken (felt); Biarkan sampai batas waktu tertentu atau
sampai tidak terjadi keretakan; Bersihkan permukaan plesteran dari kotoran dan debu yang
menempel dengan sikat halus atau kain basah; Beri lapis acian dengan menggunakan roskam
besi atau kayu/papan; Rawat plesteran yang sudah selesai sesuai ketentuan.

2) Pemlesteran pada dinding permukaan logam Pasang kawat anyam pada permukaan dinding
dengan cara dilas atau dikeling; Beri lapisan kamprot sesuai ketentuan; Buang butiran-butiran
kamprotan yang melekat tidak sempurna dengan alat penggaruk secara horizontal; Buat lajur
kepala dengan jarak dan ketebalan sesuai ketentuan;
Modul C-1_7 11
Teknologi Pasangan Bata dan Plesteran

Lekatkan lapis badan plesteran dengan menggunakan sendok aduk;









Ratakan permukaan dengan mistar perata dan bila terdapat lubang-lubang isi kembali dengan
adukan; Padatkan dan ratakan permukaan plesteran dengan roskam kayu berlapis kain laken
(felt); Biarkan sampai batas waktu tertentu atau sampai tidak terjadi keretakan; Bersihkan
permukaan plesteran dari kotoran dan dabu yang menempel dengan sikat halus atau kain
basah; Beri lapis acian dengan menggunakan roskam besi atau kayu/papan; Rawat plesteran
yang sudah selesai sesuai ketentuan.

Modul C-1_7 12
Teknologi Pasangan Bata dan Plesteran

BAB IV KESIMPULAN

Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah :


1. Tempat mengaduk.
2. Adukan baru jangan tercampur adukan lama atau bahan-bahan sisa yang sudah tidak aktif.
3. Gunakan takaran untuk mendapatkan campuran yang homogen (merata).
4. Air yang digunakan harus bersih.
5. Adukan jangan terlalu kering atau terlalu basah.
6. Perlu pengayakan pasir/kapur.
7. Perlu pengamanan bahan, yaitu : Menyimpan pasir jangan ditempat becek atau dapat
tercampur dengan daun-daun/kotoran lainnya.




Semen disimpan tidak melebihi 2 bulan dan sebaiknya dibungkus lagi dengan plastik. Kapur
tidak terkena air. Bata/batako tidak langsung diletakan di tanah. 8. Setelah penambahan air
pada adukan harus segera dipakai/dihabiskan jangan melebihi 2,5 jam dan harus dilakukan
pengadukan ulang selama masa pelaksanaan untuk menjaga homogenitas. 9. Tong tempat
adukan sebaiknya ditutup plastik untuk menjaga penguapan air. 10. Pemasangan spesi yang
baik adalah 10 mm. 11. Untuk menghilangkan debu pada bata dan mengatur peresapan air
adukan, bata direndam dalam air sampai gelembung udara hilang (2 – 8 menit). 12. Batako
tidak perlu direndam, tetapi cukup debunya dibuang dengan sikat basah. 13. Bata yang sudah
dipasang tidak boleh diketuk-ketuk lagi. 14. Ketinggian pasangan bata dalam satu hari
maksimum 1200 mm.
Modul C-1_7 13
Teknologi Pasangan Bata dan Plesteran

DAFTAR PUSTAKA
1. American Standard Testing Method (1990), “Standar Specification for Aplication of Portland
Cement Based Plaster”, ASTM C-926-90.
2. Randing S., Teknologi Adukan dan Pasangan Dinding, Bandung. 1985.
3. Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, “Penelitian Semen Portland Pozolan
Jenis B (SPP-B) untuk Bahan Bangunan”, Bandung. 1991.
4. Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, “Penelitian Mixed Cement untuk Bahan
Bangunan”, Bandung. 1992.
5. Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, “Penelitian Super Masonry Cement untuk
Bahan Bangunan”, Bandung. 1993.
6. Departemen Pekerjaan Umum, “Spesifikasi Peralatan Pemasangan Dinding Bata dan
Plesteran”, SK SNI No. ……………, Bandung. 1993.
7. Departemen Pekerjaan Umum, “Tata Cara Pelaksanaan Pekerjaan Plesteran dengan Bahan
Semen untuk Dinding”, SK SNI No. ……………, Bandung. 1993. Modul C-1_7 14

Anda mungkin juga menyukai