Anda di halaman 1dari 55

Tanpa aba-aba ia membuka mulutnya dan melahap kepala bajaku, dikulumnya

dengan lembut, lidahnyapun kurasakan menyapu-nyapu semua bagian kepala


kemaluanku. Tak lama kemudian kurasakan adanya sedotan yang kuat pada
kepala kemaluanku hingga agak sakit, akupun melirik lagi kebawah, kulihat
mulutnya menjadi kempot sekali. Sambil tetap menjaga tekanan sedotannya
itu, tangan kanannya kini mulai meninggalkan pangkal batang kemaluanku,
merayap kearah dadaku. Lagi-lagi puting kiriku jadi sasaran jepitannya.
Aahh..
Luar biasa sekali Sheena ini, tangan kanan menjepit putingku, tangan kiri
membelai kedua biji kemaluanku sedangkan mulutnya menyedot keras kepala
kemaluanku. Lalu Tiba-tiba saja ia melepas sedotannya dan berkata,
"Rasain.. Gimana?? Enak nggak??"
Dengan lemas, aku menjawab, "Iya, aduh enak banget, aku jadi cemburu sama
pacarmu"
ia tersenyum sambil berkata, "Mau lagi??"
Tanpa pikir lagi kujawab, "Iya.. iya dong Say"
Sambil menatapku, kepalanya bergerak turun, mulutnya diarahkan ke batang
kemaluanku. ia sengaja hanya membuka sedikit saja mulutnya sehingga agak
sesak dimasuki batang kemaluanku. Kali ini ia tidak berhenti di topi
bajaku saja, ia mencoba memasukkan sepanjang mungkin batangku ke
mulutnya. Meskipun batang kemaluanku bukan yang terpanjang di dunia,
tetap saja tidak bisa masuk semuanya. Pelan-pelan ditarik keluar sampai
ke leher batang kemaluanku, lalu dimasukkan kembali dengan cepat sambil
matanya menatapku. Sensasi yang timbul sungguh luar biasa dan selalu
kuingat. Wanita yang satu ini memang lain dari yang lain. Akhirnya aku
menjadi tidak tahan lagi. Aku membalikkan tubuhku sedemikian rupa
sehingga ia berada di bawahku, lalu kubuka kedua pahanya dan mengarahkan
ujung kemaluanku pada celah vaginanya.
Ah.. Kurasakan batang kemaluanku pelan-pelan menerobos celah vaginanya
yang seret. Masih kuingat rintihannya. Kuteruskan tekananku sampai
kurasakan ujung kemaluanku menyentuh sesuatu yang agak padat. ia masih
terus merintih. Aku tak tahu apa itu, namun tusukanku kuhentikan dan
kudiamkan dulu. Kedua tangannya kupindahkan keatas kepalanya lalu
kepegang kuat sambil merapatkan tubuhku keatas tubuhnya kemudian kupompa
dia cepat sekali, secepat yang kumampu. Tubuhnya terpental-pental akibat
pegas ranjang dan akibat timpaan-timpaan tubuhku. Kedua tangannya tak
dapat digerakkan karena kupegang kencang.
Sheena hanya dapat menggeliat sambil sedikit menggoyang pantatnya.
Sengaja kutindih rapat tubuhku agar sebanyak mungkin kulit kami
bergesekan. Selama pacuan kami berdua tidak mengambil napas. Untuk itu
selalu kuselang pelan agar kami berdua dapat ambil napas dulu lalu memacu
lagi dan seterusnya. Disaat pacuannya kuredakan, kami berdua menengok ke
cermin melihat tubuh-tubuh telanjang kami berdua dengan batang kemaluanku
tertancap ke dalam lubang kemaluannya. Sambil melihat ke cermin, kami
lanjutkan masuk keluarnya batang kemaluanku secara perlahan. Aku rasa
kami berdua tidak mungkin bisa melupakan saat-saat indah itu. Sampai saat
ini bayangan di cermin itu masih kuingat.
Sheena memujiku, "Ari.. kamu luar biasa.. aku nggak sangka ada yang bisa
kaya gini."
"Ah rasanya biasa saja kok.. mungkin yang lain juga sama, kayaknya memang
suami kamu yang agak kurang tahan" jawabku, sambil tetap mengayun batang
kemaluanku keluar masuk lubang kamaluannya. Kadang-kadang ayunan pantatku
kubuat cepat sekali hingga ia menjerit,
"Aduh.. awh.. Ari gila.."
Kami berdua terus berperang dalam posisi itu. Peluh telah membasahi kedua
tubuh kami, terutama punggungku dan celah buah dadanya. Gesekan tubuhku
dan tubuhnya kini menjadi licin karena keringat. Tidak terasa jam sudah
lebih dari 12.00 artinya sudah hampir 1 1/2 jam dan kami masih saja dalam
posisi yang sama. Aku mulai sadar bahwa memang Sheena ini agak susah
untuk dibikin keluar. Bisa jadi dulu Sheenapun berpikir serupa padaku.
Karena terus-terusan berada pada posisi push-up kedua tanganku mulai
kecapaian. Rupanya iapun tahu makanya ia bilang, "Capek ya? Coba sekarang
kamu diam dulu ya."
Akupun diam sejenak dengan batang kemaluanku masih terbenam ke dalam
lubang kemaluannya. Tiba-tiba kurasakan adanya jepitan kencang melingkari
batang kemaluanku, padahal baik tubuhku dan tubuhnya sama sekali tidak
bergerak. Sejujurnya selama menikah belum pernah kurasakan yang demikian.
ia lalu bilang, "Mas, coba tarik sekarang."
Akupun lalu menarik batangku. Oh.. sensasinya luar biasa.. begitu topi
bajaku mencapai "cicin penjepit" miliknya terasa sulit untuk ditarik
keluar, akhirnya aku masukkan kembali. Sheena tersenyum penuh kemenangan
melihat keherananku.
ia bilang, "Terus terang dari tadi aku tidak pakai jepitanku karena aku
takut kamu keluar dahulu padahal aku belum apa-apa, sekarang aku tahu
kamu kuat juga, makanya aku nggak nganggap remeh lagi, nah sekarang
gantian kamu yang dibawah ya."
"Ehm, aduh.. tangan sudah pada capek nih," jawabku bebalik sambil memeluk
tubuhnya agar penisku tidak lepas dari vaginanya.
Rupanya Sheena ingin "ajar adat" padaku. Dengan masih tertancap batang
kemaluanku, ia melipat kedua kedua tanganku keatas kepalaku dan dipegang
dengan kedua tangannya. Mulutnya langsung menyumpal mulutku sambil
mengayun pantatnya naik turun sampai ke leher topi bajaku. ia selalu
menarik dengan perlahan namun menurunkannya dengan cepat demikian
seterusnya. Kedua buah dadanya mengesek-gesek dadaku. Mataku kini menutup
karena nikmat yang kurasakan. Melihat aku masih dapat bertahan ia lalu
meningkatkan irama serangannya, kini ditambah lagi dengan jepitannya yang
luar biasa itu. Seretnya gesekan dengan batang kemaluanku membuatku
megap-megap. Untuk pertama kalinya aku yang mengerang panjang untuk
bertahan, "Uh.." agar tidak sampai keluar dahulu.
Kurang lebih 10 menit aku "menderita diperkosa" dengan serangan-serangan
dahsyat darinya tanpa stop sama sekali namun untungnya aku masih
bertahan, meski sedikit lagi aku pasti akan "keluar". Sheena lalu
pelan-pelan mengurangi kecepatan naik turunnya bahkan didiamkan batang
kemaluanku di dalam vaginanya namun jepitannya justru dikeraskan hingga
batangku rasanya seperti diperas.
Mulutnya dilepaskan dari mulutku, terus turun hingga mencapai puting
susuku. Sambil tetap menjepit batang kemaluanku, ia menyedot putingku.
Oh.. rasanya aku hampir di puncak rangsangan, penisku sudah berdenyut.
Melihat aku sudah 'tidak karuan lagi' ia meningkatkan lagi serangannya
dengan menaik-turunkan pantatnya sambil tetap menjepit, inilah senjata
pamungkasnya.
Mati-matian aku bertahan, "Enghh.. enghh" karena aku tidak mau ia menjadi
pemenang dalam ronde pertama ini. Aku beruntung rupanya Sheena tidak
begitu kuat kalau mengayun non-stop terus sambil berada di atas karena
memang sangat memakan tenaga.
Lebih dari 15 menit sudah lewat, score kami masih nol-nol belum ada yang
keluar. Sheena collapsed di dadaku dengan kemaluannya masih tertancap
penisku yang masih tegang, napasnya memburu karena olah raga push-up naik
turun tadi.
Pikirku "Huh.. kalau saja dia bertahan menyerang aku sedikit lagi, pasti
aku sudah keluar.."
Dengan napas yang masih memburu ia berkata, "Haduhh gila kamu Ri, tahu
nggak cowokku itu kalau aku jepit sambil naik turun kaya tadi, nggak aku
sedot putingnyapun dia sudah keluar dari tadi-tadi. Kamu ini bener-benar
edan."
Dalam hati aku bilang, "Aku sudah hampir K.O. lho" lalu kujawab, "Iya,
tapi aku tadi juga udah kelengger kok akibat serangan kamu. Sekarang
jelas bahwa memang kamu agak nggak normal. Itu jepitannya kok bisa gitu?
Aku nggak pernah tahu ada yang bisa begitu?"
"Memangnya istrimu nggak pernah ngejepit?" tanyanya.
"Jujur, aku nggak pernah ngalami bahkan nggak pernah tahu kalau ada yang
bisa kaya kamu"
"Udah ah.. ngomomg gombal melulu.."
"Ya udah.. kita mulai lagi ya. Sekarang gantian lagi, aku di atas ya"
Kupeluk tubuhnya lalu kami berdua berbalik dengan tetap menjaga agar
batang kemaluanku tetap menancap di vaginanya. Cairan beningku dan cairan
vaginanya sudah membasahi bulu-bulu kemaluanku dan seluruh daerah
kemaluannya.
Sheena lalu punya ide, "Mas coba cabut dulu deh"
"Lho kenapa??"
"Cabut aja dulu, nanti juga tahu"
Pelan-pelan kucabut batang kemaluanku yang masih tegang namun licin dan
memerah di sekitar leher dan topi bajanya.
"Mas.. masukin lagi deh"
Akupun nurut saja. Karena baru dicabut, lubangnya masih terbuka sehingga
mudah diarahkan. Namun kurasakan ada yang lain karena kepalanya kini
tidak bisa masuk sampai ke dalam karena tertahan "cincin penjepitnya"
itu. Kucoba lagi dengan menekan yang lebih kencang, tetap tidak ada
hasilnya. Rasanya ukuran kemaluanku tidak besar-besar amat, tapi nyatanya
meski masih tegang mengeras, sudah ada pelicin dan sudah ditekanpun masih
belum bisa lewat 'cicin' miliknya.
Akhirnya aku bilang, "Oke.. untuk yang ini aku nyerah. Buka dikit dong
sayang".
Sheena tertawa kemenangan, lalu kurasakan cincinnya melonggar sedkit.
Tanpa buang waktu, aku tekan lagi, kali ini masuklah batang kemaluanku.
Setelah melewati cincin penjepitnya itu, jepitannya dikeraskan lagi.
Inilah kelebihan Sheena yang tidak kujumpai pada wanita lain. Kali ini
aku meminta ia memeluk tubuhku dengan erat saat aku memompa lubang
kemaluannya. Setiap batang kemaluanku masuk, ia selalu heboh ngucapin,
"Awhh.. kamu gila.. awhh.. kamu gila.."
Lebih dari 20 menit non-stop aku memompa batang kemaluanku masuk keluar
lubang vaginanya, belum ada tanda-tanda ia akan "keluar". Aku mulai capek
lagi dengan posisi push-up. Keringatpun keluar tidak sedikit, padahal
kamar berAC.
Haus mulai terasa karena keringat dan cairan tubuh yang keluar terus
menerus. Tidak terasa jam sudah menunjukkan hampir jam 1, artinya hampir
2 1/2 dua setengah jam non-stop bersenggama, score kami masih nol-nol.
Ini sudah mulai lewat jam makan siang. Meskipun rasanya tanggung,
bercinta sambil perut lapar juga tidak enak, jadi meskipun terpaksa, ya
kami sepakat peperangan ditunda. Meskipun batang kemaluanku sudah
dicabut, aku dan Sheena masih malas mau pakai baju lagi dan turun untuk
makan, akhirnya kami minta agar makan siang diantar saja kekamar.
Sambil menunggu makanan diantar, kami saling memeluk dan berciuman.
Iseng-iseng aku masukkan jari telunjukku ke dalam vaginanya lalu
kudiamkan dan memintanya untuk menjepit sekerasnya. Dengan jujur
kurasakan jepitan keras di jari telunjukku. Ini sungguh luar biasa,
bayangkan jari telunjuk yang begitu kecil, bisa dijepit keras, apalagi
batang kemaluanku, jelas saja tadi tidak bisa masuk waktu cincinnya
sengaja dikecilkan.
Sesaat kemudian Sheena menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan
vaginanya. Akupun akhirnya ikut masuk ke kamar mandi untuk shower. Sheena
lalu membersihkan batang kemaluanku yang masih tegang sambil terus
mengelus-elusnya. Sayangnya sebelum sempat Sheena memberikan kuluman
mautnya, bel kamar berbunyi, pelayan hotel telah tiba membawa menu makan
siang yang kami pesan tadi.
Pembaca sekalian, selesai makan siang kami kembali bercinta dengan panas.
Karena cairan beningku sudah keluar banyak, aku jadi makin sulit untuk
mencapai puncak. Sampai jam 5 sore, score kami tetap nol-nol. Pembaca
dapat menghitung sendiri berapa lama kami bercinta.
Dengan berbagai gaya yang dicoba, aku tetap tidak mampu membuat Sheena
orgasme. Sebaliknya juga karena tidak mau mengalah, aku juga tidak
berhasil dibuat orgasme olehnya. Mengingat kami berdua harus pulang ke
rumah jika tidak ingin dicurigai oleh istriku maupun oleh pacarnya,
dengan berat hati kami berdua terpaksa berhenti menerima score NOL-NOL.
Menjaga agar selingkuh tetap tidak ketahuan sangatlah sukar, kesalahan
kecil saja sudah cukup untuk membuat masalah. Pada akhirnya aku dan
istriku kini telah separated dan saat ini menunggu proses divorce.
Pembaca sekalian, kiranya demikian dulu ceritaku ini, akan aku lanjutkan
lagi, karena tentunya pembaca mungkin ingin tahu siapa pemenang diantara
kami. Bagi pembaca wanita yang ingin diskusi, bagi cerita pengalaman,
atau kenalan, jangan ragu kirim email ke email saya. Sejak krismon yang
lalu, saya tinggal di Australia, namun masih suka datang ke Bali dan
Jakarta.
E N D

Sore itu ketika speedboat yang membawa penumpang khusus sedang melaju
cukup kencang menuju ke sebuah lokasi pertambangan emas di Pulau S. Di
deretan tempat duduk paling belakang, yang formasinya terdiri dari dua
baris ada sekelompok pemain musik yang akan mengadakan pertunjukan untuk
acara farewell party salah seorang yang cukup penting keberadaannya di
pertambangan yang bertaraf internasional itu. Salah satunya adalah aku
yang di kelompok musik itu sebagai pemegang rythm gitar sekaligus
vokalisnya. Perjalanan menempuh waktu sekitar 1, 5 jam dari pelabuhan
yang ada di pulau L. Setelah sampai di pelabuhan B, yang di bangun khusus
buat kelancaran pertambangan itu sendiri, kami di periksa secara seksama.
Pertambangan ini menerapkan sistem keamanan yang cukup standart, mulai
dari pelabuhan pemberangkatan sampai ke pelabuhan kedatangan. Sebelumnya,
aku bersama pemain musik lainnya juga telah mendapatkan ID card yang
permohonannya membutuhkan waktu 2 minggu. Setelah menjalani pemeriksaan
yang cukup intensif dari pihak keamanan dan penjelasan yang cukup tentang
segala peraturan selama berada di lokasi pertambangan itu sendiri,
selanjutnya kita menuju ke ruangan tunggu untuk menuju lokasi acara.
Tak lama berselang, sebuah mobil kijang telah menjemput kelompok kami.
Dalam waktu yang tak kurang dari 45 menit, kita telah sampai di pusat
lokasi pertambangan. Tidak pernah terlintas sebelumnya olehku, bahwa
lokasi pertambangan yang awalnya adalah sebuah hutan belantara akan
menjadi sebuah kota kecil yang nggak kalah sibuknya dibanding dengan kota
kecil pada umumnya.
Sebelum kami mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan acara itu
sendiri, kita harus menuju ke receptionist pertambangan untuk check-in
dan makan siang. Setelah mendapatkan kunci kamar masing-masing dan
menempatkan barang bawaan, kita menuju ke kantin pertambangan untuk makan
siang.
Sekitar jam 4 sore, handphone salah satu kelompok kita berbunyi yang isi
dari pembicaraan antara temanku dan pihak sponsor dari pertambangan
meminta kita untuk check sound. Tanpa menunggu waktu lagi, kami
mempersiapkan diri untuk datang ke lokasi acara. Menurut temanku yang
berbicara lewat handphone, kami akan di jemput oleh pihak sponsor
pertambangan sendiri.
Dalam hitungan menit, datanglah sebuah mobil kijang biru yang di dalamnya
ternyata seorang gadis cantik berambut sebahu berkulit kuning langsat dan
mengenakan celana jeans biru yang dipadu dengan kaos warna serupa. Aku
sempat terpana akan kehadiran gadis tersebut dan tak pernah terbayangkan
sebelumnya kalo di lokasi kerja yang pada umumnya laki-laki dan berada di
tengah hutan belantara ada gadis secantik dan se sexy dia. Dengan gerakan
lincah gadis itu turun dari mobil kijang dan berjalan ke arah kami.
"Hei.. Kenalkan nama saya.. Lila", sahutnya dengan mengulurkan tangan nya
yang halus.
Selanjutnya secara bergantian kami berjabat tangan buat berkenalan
dengannya. Aku mendapat giliran terkahir untuk berkenalan.
"Adietya," ujarku pendek.
Dia memandangku dengan sorot mata yang tajam, sambil masih menggenggam
tanganku. Aku merasakan kelembutan telapak tanganya yang membuatku jadi
terdiam sesaat.
"Maaf.. ", sahutku sambil melepas genggaman tangannya.
"Kalo nggak salah kamu vokalisnya yah?", ujarnya kemudian.
Aku tersenyum sembari mengiyakan pertanyaannya.
"Kamu tau dari mana?", tanyaku menambahkan.
"Dari daftaf pemain musik yang sudah di fax sebelumnya", jawabnya lagi.
Kembali aku hanya tersenyum mendengar jawabannya. Sepertinya Lala
menyimpan perhatian khusus terhadap diriku, yang aku bisa menangkap
gelagat itu dari sikapnya yang spontan.
"Kita sudah siap nih", sahutku untuk mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah kalo begitu" katanya dengan gerakan ringan dia naik ke mobil
yang dia sopiri sendiri.
Tak menunggu waktu lama lagi kita semua naik ke mobil dan menuju ke
lokasi acara. Tempat yang di jadikan acara untuk farewell party adalah
sebuah taman yang cukup indah pemandangannya, ditengah taman ada sebuah
pohon yang sudah cukup tua usianya. Dan beberapa lampu hias serta
sejumlah meja berikut kursi taman yang telah di atur dengan rapi.
Setelah check sound yang hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam,
selanjutanya kami kembali ke kamar masing-masing. Di dalam kamar ada
fasilitas yang cukup memadai, mulai dari tempat tidur yang ukurannya
lumayan besar, ac, kamar mandi dengan hot & cold waternya. Yang menurut
pendapatku lumayan bagus fasilitas untuk karyawan pertambangan itu
sendiri.
Selama di dalam kamar aku sempat merenung sesaat atas kejadian sore tadi,
ketika aku berjabat tangan dengan Lila. Masa iya cewek secantik dia belum
mempunyai pacar. Aku merasakan kelembutan di balik sorot matanya yang
tajam, walaupun itu hanya sekilas. Lamunanku semakin jauh saat aku
mengingat betapa sempurnanya sosok Lila. Mulai dari matanya yang bening,
hidungnya yang mancung, kemudian leher jenjangnya. Dan tak kalah
terkesimanya ketika pandanganku beralih turun menuju ke dadanya. Aku
memperkirakan ukuran buah dadanya 36B, di padu dengan bentuk pinggangnya
yang ramping dan sepasang kaki jenjangnya yang sexy. Dengan tinggi badan
sekitar 170 cm dan berat 50 kg menurut tafsiranku, Lila merupakan sosok
gadis yang menjadi idola dari semua kaum adam.
Waktu menunjukan pukul 20.00 wita saat acara baru di mulai. Acara di
awali dengan musik instrumentalia dari kita, yang kemudian aku lanjutkan
dengan membawakan beberapa lagu lembut sebagai pembuka. Setelah itu acara
beralih ke sambutan panitia, serta salam perpisahan dari orang yang akan
meninggalkan lokasi pertambangan yang akan kembali ke negara asalnya, dan
di akhiri dengan acara makan malam yang diikuti oleh seluruh tamu
undangan.
Acara yang berlangsung cukup meriah dan sukses, tentunya menjadikan pihak
panitia merasa puas atas semua pihak yang mendukung lancarnya acara itu
sendiri. Lila yang mulai dari awal acara terlihat begitu anggun dengan
gaun malamnya yang berwarna hitam yang di bagian lehernya begitu rendah,
menjadikan dia semakin cantik berbeda dengan penampilannya tadi sore yang
hanya mengenakan celana jeans dan kaos.
Penampilanku malam itu juga sedikit berbeda, hanya mengenakan kemeja
berlengan pendek warna biru muda dipadu dengan celana jeans biru
kesukaanku. Ketika waktu menunjukkan pukul 23.00 wita, para tamu satu
persatu mulai meninggalkan tempat acara farewell party berlangsung. Saat
itu tinggal beberapa tamu aja yang masih bertahan ngobrol, demikian juga
dengan Lila yang masih bercengkerama dengan teman-temannya.
Saat itu acara musik dari kita sudah selesai dan di gantikan dengan CD
dari panitia. Sementara aku bersama-sama kelompokku duduk sambil melepas
lelah di belakang panggung acara. Aku mulai dihinggapi rasa lelah dan
ngantuk karena selama acara berlangsung aku telah menyanyikan lebih dari
25 lagu dan menjadikan aku sedikit capai.
Dengan berjalan perlahan aku menghampiri Lila yang sedang ngobrol dengan
teman-temannya. Aku hanya diam ketika sampai didekatnya, karena aku gak
mau menggangu pembicaraan mereka. Sekilas Lila memandang ke arahku yang
sedang berdiri tak jauh darinya.
"Maaf.. Ya Ver aku tinggal sebentar", kata Lila kepada temannya.
"Ok deh Lil.. Lagian juga aku mau pulang kok ", sahut temannya kemudian.
Lila berjalan kearahku, sambil memberikan senyumnya yang menawan untukku.
"Thanks ya diet.. Acaranya benar-benar sukses", sahutnya gembira.
"Sama-sama Lil.. ", jawabku pendek.
"Oh yah Lil.. Aku permisi duluan yah", ujarku lagi.
"Soalnya kita besok harus bangun pagi-pagi sekali biar gak ketinggalan
speedboat" tambahku lagi.
"Sebentar diet.. Kita samaan pulangya, lagian khan yang jemput kalian
tadi juga aku", katanya lagi.
"Ok deh.. ", jawabku pelan.
Sepanjang perjalanan kami semua terdiam di dalam mobil, tak terkecuali
aku yang duduk di depan bersebelahan dengan Lila. Sesampainya di depan
apartement, teman-temanku langsung turun dari mobil dan mengucapkan
terima kasih kepada Lila yang telah mengantarkan aku. Giliran selanjutnya
adalah aku yang terakhir turun dari mobil.
"Diet.. Kamu belum ngantuk bener khan?", tanya Lila tiba-tiba.
"Hem.. Sebenarnya belum begitu sih", jawabku perlahan.
"Ada apa emangnya?", tanyaku lagi.
"Kamu mau gak melihat-lihat lokasi pertambangan di malam hari?", tawarnya
kemudian.
"Hem.. Boleh deh, lagian aku khan gak selalu ada dipertambangan ini",
jawabku meyakinkan.
Dengan cekatan Lila membelokkan mobilnya ke arah perbukitan, yang mana
lokasi mesin dan alat-alat berat berada. Perjalanan di tempuh kurang
lebih 10 Km, yang kebetulan saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 00.30
wita. Kadang-kadang di dalam perjalanan, kita berpapasan dengan mobil
pertambangan lainnya. Menurut keterangan Lila sistem kerja di sini,
khususnya yang di lapangan selama 24 jam yang di bagi sebanyak 4 shift.
"Diet suara kamu bagus banget yah.. Saat nyanyi tadi", tiba-tiba suara
Lila memecah kesunyian.
Aku yang di puji seperti itu cuman tersenyum aja.
"Makasih yah Lil.. Atas pujiannya", sahutku pelan.
"Aku serius kok bilang begitu", katanya lagi.
"Aku akan sangat bahagia sekali seandainya punya cowok seperti kamu",
ujarnya lagi.
"Ah.. Bisa aja kamu Lil", sahutku tersipu oleh pujiannya.
"Sudah suara kamu bagus, lagu-lagu kamu banyak yang romantis", pujinya
lagi.
"Pasti deh banyak cewek yang tertarik sama kamu", sahutnya lagi.
"Aku khan cuman pemain musik biasa Lil, bukan artis", jawabku merendah.
Aku mengatakan itu sambil memandang ke arah Lila, yang juga sedang
menatapku. Sempat aku tertunduk oleh sorot matanya yang tajam, namun
lembut aku rasakan menghujam relung hatiku yang dalam.
Bersambung . . .

"Kamu juga sangat cantik kok Lil, nggak mungkin kamu belum punya cowok",
kataku sesaat.
"Diet.. Aku tuh di sini kerjanya sibuk banget", katanya.
"Mana ada cowok yang mau dengan cewek yang super sibuk, yang liburnya
cuman 2 kali seminggu", katanya lagi.
Entah keberanian dari mana tiba-tiba tanganku menggenggam tangannya,
ketika mobil yang kami tumpangi sedang berhenti di atas sebuah daerah
perbukitan. Sementara musik sedang mengalun lembut dari tape mobil.
Begitu syahdunya lagu milik procol harum' yang judulnya 'whiter shade of
pale'. Membuat suasana makin terasa romantis ditambah dengan hanya kami
berdua di dalam mobil. Tanpa aku duga sebelumnya, tiba-tiba Lila
mendekatkan tubuhnya sambil matanya menatap sayu.
"Diet.. Saat pertama aku menerima copy identitas diri kamu dan juga
kelompok musik kamu, berikut foto-foto anggota group", kataya pelan.
"Perasaanku mengatakan bahwa kamu type cowok yang romantis ternyata benar
adanya", terangnya kemudian.
"Lil.. Aku hanya seorang pemain musik", sahutku pelan.
"Apa yang kamu harapkan lebih dari aku, dari segi finansial kamu jauh
berbeda, dari kecantikan bahkan kamu sangat cantik yang nggak begitu
sulit tentunya buat mendapatkan cowok idaman kamu", jelasku lirih.
"Diet.. Semua itu semu bagiku, kebahagiaan sejati adanya hanya di hati",
sahutnya lagi.
"Buat apa terpenuhi segala sesuatunya, sementara hati kita nggak
bahagia", ujarnya lirih.
Dengan lembut aku rengkuh bahunya dan menarik wajahnya mendekat dan tak
lama kemudian aku sudah mengecup bibirnya yang ranum.
"Ohh.. ", Desah Lila lirih.
Bibirku berpindah perlahan dari bibir terus ke lehernya dan berakhir
dibelakang telinganya. Lidahku menjulur dengan lembut di antara lehernya
yang jenjang dan cuping telinganya, yang sesekali menjulur ke lubang
telinganya.
"Ohh. Ssshh.. ", Desah Lila lembut.
Tanganku yang meremas payudara yang sebelah kiri dari luar gaun hitam nya
yang sedikit terlepas talinya. Hal ini semakin membuat Lila mendesah
untuk kesekian kalinya.
"Diet kita lanjutin di kamarku aja yah", katanya parau karena masih
menahan rangsangan.
"Di sini kurang asyik, lagian juga ntar kalo ada orang lewat terganggu
lagi" tambahnya.
Mobil kemudian bergerak perlahan meninggalkan daerah perbukitan.
Sepanjang jalan tanganku tak pernah berhenti mengelus paha mulus Lila
yang terbungkus gaun hitam panjang, sementara Lila mengemudikan mobil.
Dalam waktu kurang dari 30 menit sampailah mobil yang kita tumpangi di
depan apartment pertambangan.
Kamar Lila kebetulan ada di lantai yang paling atas sementara apartment
ini mempunyai 3 lantai di bawahnya. Setelah memarkir mobilnya di bawah
sebuah pohon, aku keluar mobil terlebih dahulu. Dengan mesra aku memeluk
pinggang Lila, dan berjalan pelan disisinya menuju kamarnya yang terletak
di ujung.
Sesampainya di depan pintu kamar aku menghentikan langkahku, yang aku
lanjutkan dengan memeluk pinggang Lila dan kembali aku mengecup bibirnya
yang selalu terlihat basah.
"Ohh.. ", Kembali Lila mendesah lirih.
"Diet.. Nggak enak ntar di liat ama orang lain", bisiknya pelan.
Kemudian Lila menyerahkan kunci kamarnya ke padaku. Tak lama pintu sudah
terbuka dan nampaklah olehku sebuah kamar yang di tata dengan rapi, serta
di padu dengan letak lampu kamarnya yang berada di ujung. Kesan romantis
begitu terasa di dalam kamar Lila. Mulai dari warna catnya, letak
lampunya. Dengan mesra aku menggendong Lila ke sofa yang ada di tengah
kamar yang menghadap ke luar jendela.
Setelah duduk di sofa sejenak, Lila berdiri ke arah musik set yang ada di
dekat ranjang, yang tak lama mengalunlah musik instrumentalia milik dari
'Kenny g' yang judulnya 'going home'. Dengan lembut Lila berjalan ke arah
sofa dimana aku sedang takjub memandang lekukan tubuhnya yang di balut
oleh gaun hitam dan di terpa oleh temaramnya sinar lampu kamar.
Perlahan Lila menghenyakkan pinggulnya yang sexy di sofa, sementara
tanganku menyambut pinggangnya yang ramping dan ku peluk erat seketika.
Going home masih mengalun syahdu, ketika bibir ku berpindah ke lehernya
yang jenjang, serta kedua tangan ku menurunkan tali gaunnya yang berleher
rendah. Bra 36B warna hitam yang berenda di tepinya, menambah sexy
penampilan Lila malam itu.
Dengan lembut aku meremas kedua payudaranya bergantian. Sementara bibirku
masih aktif di bibirnya yang ranum, dan tanganku mulai membuka tali
branya dari belakang. Dalam hitungan detik terlepaslah bra hitam Lila,
dan terpampanglah di hadapanku sepasang payudara nya yang putih dengan
ujungnya yang kecoklatan. Bibirku bergerak perlahan menciumi kedua
payudaranya mulai dari yang kiri bergantian dengan yang kanan.
"Sssh.. Ohh Diet", Desah lila yang mulai terangsang.
Tanganku yang kiri meremas lembut payudara Lila yang sebelah kanan,
sementara bibirku menjilati ujung puting yang kanan.
"Ohh.. Sssh.. Terus diet", Desahan Lila semakin menjadi.
Setelah cukup lama aku merangsang bagian atas tubuh Lila, kemudian aku
lanjutkan dengan menundukan kepalaku sambil menjulurkan lidah untuk
menjilati perutnya yang rata. Sambil menunduk tanganku perlahan
menurunkan gaunya yang masih menggantung di bagian perut dengan
menariknya kebawah. Tampaklah Gundukan CD hitam yang rendanya ada di
bagian tengah, dan nampaklah secara transparan bulu vagina Lila yang
hitam lebat.
Bulu vagina Lila memang sangat lebat dan hitam itu nampak dari pinggiran
Cd nya yang masih dikenakannya. Beberapa ada yang keluar dari pinggiran
CD hitam lila. Aku hanya bisa menelan ludah sesaat menyaksikan semua itu.
Dengan gigitan lembut aku menarik CD hitam Lila ke bawah yang melewati
pahanya yang mulus.
Setelah CD nya berada di pahanya, tanganku menyelesaikannya dengan
melepasnya seketika. Dengan gerakan perlahan aku menunduk sambil
menjulurkan lidahku ke arah gundukan hitam bukit vagina Lila. Lidahku
menjulur lembut menyapu labia minora serta labia mayoranya Lila dan
sesekali ujungnya menyentuh clitoris Lila.
"Hekk, Ssshh", Lila mendesah agak keras mendapat perlakuan itu.
"Diett.. Terusin diet", jeritnya lirih.
Setelah cukup lama Lila menerima rangsangan, aku menghentikan sesaat
kegiatan itu. Yang tak lama kemudian Lila berinisiatif memberikan
kenikmatan yang sama terhadap diriku. Dengan posisi duduk di sofa, ini
memudahkan bagi Lila untuk memberikan pelayanan oral Terhadapku. Dengan
lembut Lila kemudian menundukan kepalanya dan tak lama dia telah melahap
ujung kepala penisku dengan lincahnya.
"Ughh.. ", erangku merasakan kenikmatan yang diberikan oleh ujung lidah
Lila.
Sementara tanganku meremas payudaranya dan sesekali aku padukan dengan
memilin ujung putingnya lembut. Setelah cukup puas Lila menelusuri
seluruh permukaan penisku yang di mulai dari zakarnya dan berakhir di
ujungnya yang di padukan dengan gerakan ujung lidahnya menyentuh lubang
kencingku.
Perlahan Lila berdiri di hadapanku yang sedang duduk di sofa. Dengan
lembut aku menarik pinggangnya perlahan mendekat ke arahku. Bibirku
kembali menyentuh payudara Lila bergantian, mulai dari yang kanan dan
berakhir di payudara yang kiri. Dengan lembut aku memegang batang penisku
yang sudah sangat keras dan mengarahkannya ke belahan vagina Lila yang
merekah basah oleh lendir birahinya. Sedikit demi sedikit Lila menurunkan
pinggulnya dan bersamaan dengan amblasnya batang penisku di dalam vagina
Lila yang masih sempit.
"Sssh.. Ohh Diet", erangnya ketika penisku membelah vaginanya yang basah.
Dengan menggoyangkan pinggulnya perlahan Lila mulai melakukan aksinya.
Dan ini membuatku memejamkan mata menikmati sensasi atas gerakan erotis
Lila.
"Ughh.. Ssshh", Erangku lirih.
"Diet.. Aku mau keluar", jeritnya parau.
"Sebentar sayang", sahutku tak kalah paraunya.
Tak lama berselang aku merasakan denyutan vagina Lila dan di barengi rasa
hangat melintasi batang penisku yang menandakan orgasme pertama telah di
dapatkannya. Setelah denyutan mulai melemah, kemudian aku mencabut
penisku dan meminta Lila rebahan di sofa. Dengan gerakan lembut aku
membuka paha Lila, sambil tanganku menggenggam batang penisku yang masih
keras. Perlahan aku melesakkan batang penisku di belahan vagina Lila.
"Sret.. Sret.. ", setengahnya telah masuk membelah vagina Lila.
"Ssshh.. Diet.. Terusin enak", jeritnya lirih.
Dengan sekali tekan, namun cukup lembut aku melesakkan sisa batang
penisku ke dalam vagina Lila yang sangat basah oleh lendirnya sendiri.
"Ohh.. Ssshh", kembali Lila mendesah lirih.
Perlahan aku mulai memaju mundurkan pinggulku dengan pasti.
"Ughh.. ", aku merasakan kenikmatan, setelah jepitan vagina Lila
berdenyut lembut.
Setelah beberapa lamanya, aku mulai merasakan denyutan di ujung batang
penisku.
"Lila sayang.. Ohh.. ", jeritku lirih.
"Aku mau keluar nih sayang", sahutku lagi.
Dengan cepat aku mengocok penisku di dalam vagina Lila. Dalam waktu yang
bersamaan aku mencanut penisku dan mengocoknya di atas perut Lila.
"Crett.. Ohh. Ssshh", menyemburlah spermaku di atas perut Lila yang
sebagian menempel di kedua payudaranya.
Dengan cepat Lila mengoleskan lelehan spermaku di seluruh permukaan
perutnya dan kedua payudaranya.
"Thanks ya sayang ", aku mengecup bibir ranum Lila kemudian.
"Sama-sama sayang", sahutnya lirih.
Tamat
Cinta pertama tak pernah mati, apalagi bila cinta itu tumbuh saat masa
kanak-kanak atau remaja. Kesederhanaan kala itu justru menjadikan
pengalaman masa lalu terpatri erat di dalam sanubari sebagai kenangan
indah yang tak terlupakan. Kisah nyata ini kualami dengan seorang gadis
yang kukenal dan teman bermain sejak kecil, kisah pacaranku dengan Ayu,
seorang gadis yang sangat istimewa bagiku.
Kisah ini terjadi di awal tahun sembilan puluhan. Saat masih kanak-kanak,
kami bermain seperti halnya anak-anak pada umumnya.
"Hoom-pim-pah .."
"Agus jaga..". Ia menutup mata di bawah pohon kersen. Kami, anak-anak
yang lain, lari mencari tempat persembunyian. Aku lari ke warung Ma' Ati
yang sudah tutup. Ayu lari mengikutiku. Aku merangkak masuk di bawah meja
warung itu, Ayu mengikutiku dari belakang dan jongkok di sebelahku. Ayu
dan aku mengintip lewat celah kecil di gedek di bawah meja yang sempit
itu mencari kesempatan untuk lari keluar. Entah mengapa, aku selalu
merasa senang kalau berada dekatnya. Waktu itu rasanya tidak ingin aku
keluar dari tempat persembunyianku. Apakah ini yang namanya "cinta
anak-anak"? Aku tak tahu. Yang aku tahu Ayu memang cantik. Aku juga sadar
kalau aku juga ganteng (teman-temanku bilang begitu). Hingga kalau kami
main pangeran-pangeranan, rasanya cocok kalau aku jadi pangeran, Ayu jadi
puteri. Juga dalam permainan lain Ayu cuma mau ikut dalam kelompokku.
Teman-temanku sering memasang-masangkan aku dengan dia.
Masa kecil kami memang menyenangkan. Sampai tiba saatnya aku harus
berpisah dengan teman-temanku karena harus mengikuti ayahku yang
ditugaskan di kota lain. Waktu itu aku masih duduk di kelas empat SD.
Sejak itu aku tak pernah dengar kabar apa-apa dari teman-temanku itu,
termasuk Ayu.
Dua belas tahun kemudian.
Aku menghadiri sebuah pesta pengantin. Lagu The Wedding mengalun
mengiringi para tamu yang asyik menikmati hidangan prasmanan. Gadis-gadis
tampak cantik dengan dandanan dan gaun pesta mereka. Sampai Oom Andi,
salah seorang pamanku menepuk pundakku.
"Eh Rik, apa kabar?"
"Oh, baik saja oom."
"Akan kupertemukan kau dengan seseorang, ayo ikut aku."
Aku mengikuti oom-ku itu menuju ke seorang gadis yang sedang asyik
menikmati ice creamnya. Gadis itu mengenakan gaun pesta berwarna kuning
dengan bahu terbuka, cantik sekali dia. Begitu aku melihat dia, aku
segera teringat pada seseorang.
"Apakah, apakah dia ..?"
"Benar Rik, dia Ayu."
"Ayu, ini kuperkenalkan pada temanmu."
Gadis itu tampak agak terperanjat, tetapi sekalipun terlihat ragu-ragu,
tampaknya ia pun mengenaliku.
"Ini Riki, tentu kamu kenal dia," kata oomku.
Kami bersalaman.
"Wah, sudah gede sekali kamu Ayu."
"Memangnya suruh kecil terus, memangnya kamu sendiri bagaimana?" katanya
sambil tertawa.
Tertawanya dan lesung pipinya itu langsung mengingatkanku pada tertawanya
ketika ia kecil. Aku benar-benar terpesona melihat Ayu, aku ingat Ayu
kecil memang cantik, tetapi yang ini memang luar biasa. Apakah karena
dandanannya? Ah, tidak, sekalipun tidak berdandan aku pasti juga
terpesona. Gaun pestanya yang kuning itu memang tidak mewah, tetapi
serasi sekali dengan tubuhnya yang semampai. Bahunya terbuka, buah
dadanya yang putih menyembul sedikit di atas gaunnya itu membedakannya
dengan Ayu kecil yang pernah kukenal.
"Sudah sana ngobrol-ngobrol tentu banyak yang diceritain," kata oomku
seraya meninggalkan kami.
"Tuh ada kursi kosong di situ, yuk duduk di situ," kataku.
Kamipun berjalan menuju ke kursi itu.
"Bagaimana Ayu, kamu sekarang di mana?"
"Aku sekarang tinggal di Semarang, kamu sendiri di mana?"
"Aku kuliah di Bandung, kamu bagaimana?"
Ia terdiam, menyendok ice creamnya lalu melumat dan menelannya, perlahan
ia berkata, "Aku tidak seberuntung kamu Rik, aku sudah bekerja. Aku hanya
sampai SMA. Yah keadaan memang mengharuskan aku begitu."
"Bekerja juga baik Ayu, tiap orang kan punya jalan hidup sendiri-sendiri.
Justru perjuangan hidup membuat orang lebih dewasa."
Kira-kira satu jam kami saling menceritakan pengalaman kami. Waktu itu
umurku 22, dia juga (sejak kecil aku sudah tahu umurnya sama dengan
umurku). Perasaan yang pernah tumbuh di sanubariku semasa kecil tampaknya
mulai bersemi kembali. Rasanya tak bosan-bosan aku memandang wajahnya
yang ayu itu. Apakah cinta anak-anak itu mulai digantikan dengan cinta
dewasa? Aku tidak tahu. Aku juga tidak tahu apakah ia merasakan hal yang
sama. Yang pasti aku merasa simpati padanya. Malam itu sebelum berpisah
aku minta alamatnya dan kuberikan alamatku.
Sekembali ke Bandung kusurati dia, dan dia membalasnya. Tak pernah
terlambat dia membalas suratku. Hubungan kami makin akrab. Suatu ketika
ia menyuratiku akan berkunjung ke Bandung mengantar ibunya untuk suatu
urusan dagang. Memang setelah ayahnya pensiun, ibunya melakukan dagang
kecil-kecilan. Aku senang sekali atas kedatangan mereka. Kucarikan sebuah
hotel yang tak jauh dari rumah indekosku. Hotel itu sederhana tetapi
cukup bersih.
Pagi hari aku menjemput mereka di stasiun kereta api dan mengantarnya ke
hotel mereka. Sore hari, selesai kuliah, aku ke hotelnya. Kami makan
malam menikmati sate yang dijual di pekarangan hotel. Pada malam hari
kuajak Ayu berjalan-jalan menikmati udara dingin kotaku. Entah bagaimana
mulainya, tahu-tahu kami mulai bergandengan tangan, bahkan kadang-kadang
kulingkarkan tanganku di bahunya yang tertutup oleh jaket. Kami berjalan
menempuh jarak beberapa kilometer, jarak yang dengan Vespaku saja tidak
terbilang dekat. Tetapi anehnya kami merasakan jarak itu dekat sekali.
Sekembali di hotel kami masih melanjutkan pecakapan di serambi hotel
sampai lewat tengah malam, sementara ibu Ayu sudah mengarungi alam mimpi.
Besok sorenya aku ke hotel untuk mengantarkan mereka ke stasiun untuk
kembali ke kota mereka. Ketika aku tiba di hotel, ibu Ayu sedang mandi,
Ayu sedang mengemasi barang-barang bawaannya. Aku duduk di kursi di kamar
itu. Tiba-tiba terbersit di pikiranku untuk memberikan selamat jalan yang
sangat pribadi bagi dia. Dengan berdebar aku bangkit dari tempat dudukku
berjalan dan berdiri di belakangnya, perlahan kupegang kedua bahunya dari
belakang, kubalikkan tubuhnya hingga menghadapku.
"Ayu, bolehkah ..?"
Ia tampak gugup, ia menghindar ketika wajahku mendekati wajahnya. Ia
kembali membelakangiku.
"Sorry Ayu, bukan maksudku .."
Ia diam saja, masih tampak kegugupannya, ia melanjutkan mengemasi
barang-barangnya. Terdengar bunyi pintu kamar mandi terbuka, ibu Ayu
keluar.
Di stasiun, sebelum masuk ke kereta kusalami ibunya. Ketika aku menyalami
Ayu aku berbisik, "Ayu, sorry ya dengan yang tadi."
Dia hanya tersenyum. Manis sekali senyumnya itu.
"Terimakasih Rik atas waktumu menemani kami."
Hubungan surat-menyurat kami menjadi makin akrab hingga mencapai tahap
serius. Aku sering membuka suratku dengan "Ayuku tersayang".
Kadang-kadang kukirimi dia humor atau kata-kata yang nakal. Dia juga
berani membalasnya dengan nakal. Pernah dia menulis begini, "Sekarang di
sini udaranya sangat panas Rik, sampai kalau tidur aku cuma pakai celana
saja. Tanaman-tanaman perlu disirami (aku juga)."
Membaca surat itu aku tergetar. Kubayangkan ia dalam keadaan seperti yang
diceritakannya itu. Kukhayalkan aku berada di dekatnya dan melakukan
adegan-adegan romantis dengannya. Aku merasakan ada tetesan keluar dari
diriku akibat khayalan itu. Kuoleskan tetesan itu di kertas surat yang
kugunakan untuk membalas suratnya. (Barangkali ada aroma, atau entah apa
saja, yang membuat ia merasakan apa yang kurasakan waktu itu. Tetapi aku
tak pernah cerita pada dia tentang ini.)
Sampai tiba liburan semester, aku mengunjungi dia. Aku tinggal di
rumahnya selama empat malam. Inilah pengalamanku selama empat malam itu.
Aku tiba pagi hari. Setelah makan pagi, aku dan dia duduk-duduk di kamar
makan. Aku melihat Ayu mengenakan cincin imitasi dengan batu berwarna
merah muda di jari manisnya.
"Bagus cincinmu itu. Boleh kulihat?"
Kutarik tangannya mendekat, tetapi aku segera lupa akan cincin itu.
Ketika lengannya kugenggam, serasa ada yang mengalir dari tangannya ke
tanganku. Jantungku berdebar. Tak kulepas genggamanku, kubawa telapak
tanganku ke telapak tangannya. Kumasukkan jari-jariku di sela
jari-jarinya. Jari-jarinya yang halus, putih dan lentik berada di antara
jari-jariku yang lebih besar dan gelap. Kugenggam dia, dia juga
menggenggam. Kuremas-remas jari-jari itu. Dia membiarkannya. Kami
berpandangan dengan penuh arti sebelum ia bangkit dengan tersipu-sipu,
"Aku bereskan meja dulu."
Ia pun membereskan meja makan dan mencuci piring. Setelah itu ia
berkemas-kemas untuk pergi bekerja. Siang itu aku tidak kemana-nama, aku
beristirahat sambil membaca buku-buku novel yang kubawa.
Sore harinya aku, Ayu dan adiknya menonton film di bioskop. Aku ingat
ketika nonton itu aku sempat remas-remasan tangan dengan dia. Setelah
pulang nonton kami duduk-duduk di ruang tamu. Saat itu sekitar pukul
sembilan. Kami hanya ngobrol-ngobrol biasa karena orang-orang di rumah
itu masih belum tidur. Ayu membuat secangkir kopi untukku. Sekitar pukul
sepuluh rumah mulai sepi, orang tua dan adik Ayu sudah masuk ke kamar
tidur masing-masing. Hanya tinggal aku dan Ayu di ruang tamu. Ia duduk di
sofa di sebelah kananku.
Dari obrolan biasa aku mulai berani. Kulingkarkan tanganku dibahunya. Ayu
diam saja dan menunduk. Dengan tangan kiriku kutengadahkan wajahnya,
kudekatkan kepalaku ke wajahnya, kutarik dia. Berbeda dengan di hotel
waktu itu, ia memejamkan matanya membiarkan bibirku menyentuh bibirnya.
Kukecup bibirnya. Cuma sebentar. Hening, segala macam pikiran berkecamuk
di kepalaku (kukira juga di kepalanya). Aku merasa jantungku berdegup.
Pelan-pelan tangan kananku kulepas dari bahunya, menyusup di antara
lengan dan tubuhnya, dan kutaruh jari-jariku di dadanya. Ia membiarkan
dadanya kusentuh. Aku melangkah lagi, jari-jariku kuusap-usapkan di situ.
Ia membolehkan bahkan menyandarkan badannya di dadaku. Aku mencium
semerbak bau rambutnya. Aku pun tidak ragu lagi, kuremas-remas
payudaranya. Ia tetap diam dan tampaknya ia menikmatinya.
Setelah beberapa saat ia menggeser badannya sedikit lalu, seolah tak
sengaja, ia menaruh tangannya di pangkuanku, tepat di atas kancing
celanaku. Aku tanggap isyarat ini. Kubuka ruitsluiting celanaku, kutarik
tangannya masuk ke sela yang sudah terbuka itu. Ia menurut dan ia
menyentuh penisku, jari-jarinya yang tadi pasif sekarang mulai aktif.
Walaupun masih terhalang oleh celana dalam, ia mengusap-usap di situ. Aku
melangkah lebih jauh lagi, tanganku yang berada di dadanya sekarang
memasuki dasternya, menyusup di sela-sela BH-nya dan kuremas-remas
payudaranya langsung. Payudaranya memang tidak terlalu besar tetapi cukup
kenyal dalam remasanku. Dia tak mau kalah, tangannya menyusup masuk ke
celana dalamku dan langsung menyentuh penisku lalu mengenggamnya.
Bergetar hatiku, baru kali itu penisku disentuh seorang gadis, gairahku
melonjak. Dua kali ia menggerakkan genggamannya ke atas ke bawah dan aku
tak tahan .. menyemburlah cairanku membasahi jari-jarinya dan celana
dalamku. Aku mengeluh dan menyandarkan diriku ke sofa. Ia melepaskan
tangannya dari celanaku dan melihat tangannya yang basah.
"Kental ya Rik," bisiknya.
"Ayu, terlalu cepat ya, ini pengalamanku pertama," kataku kecewa.
"Aku tahu Rik," ia memahami.
"Kamu ganti dulu, besok aku cuci yang itu," lanjutnya.
Ia bangkit ke kamar mandi untuk mencuci tangannya. Aku masuk ke kamar
mengganti celana dalamku. Ketika keluar Ayu sudah berada kembali di situ.
Kami ngobrol-ngobrol sebentar lalu kami pergi tidur. Aku masuk ke kamarku
dan Ayu masuk ke dalam, ke kamarnya.
Malam kedua. Seperti halnya malam pertama, setelah suasana sepi kami
memulai dengan berciuman. Kalau kemarin hanya kecup bibir sebentar, kali
ini aku mencoba lebih. Mula-mula kukecup bibir bawahnya, lalu bibir
atasnya, lalu lidahku masuk. Lidahku dan lidahnya bercanda. Aku mengecap
rasa manis dan segar di mulutnya, kurasa ia makan pastiles atau permen
pedas sebelumnya. Lalu kami main remas-remasan lagi. Kali itu dia tidak
memakai BH hingga lebih mudah bagiku meremas-remas payudaranya. Seperti
kemarin tangannya pun meraba-raba penisku. Aku sudah khawatir kalau aku
akan cepat keluar seperti kemarin, tetapi rupanya tidak. Aku juga ingin
melakukan seperti yang dia lakukan. Tanganku menuju ke bawah,
kusingkapkan dasternya, tetapi ketika tanganku menuju ke celananya ia
menepisnya. Rupanya ia belum mau sejauh itu. Malam itu kami cuma main
remas-remasan saja. Kuremas-remas payudaranya, dan dia membelai-belai
penisku sementara bibir kami berkecupan. Akhirnya aku tak tahan juga
hingga cairanku menyemprot keluar membasahi tangannya, sama seperti
kemarin. Tetapi aku lebih senang karena kami bisa bermain-main lebih
lama. Aku merasa ada kemajuan, aku lebih percaya diri.
Malam ketiga. Seperti malam-malam sebelumnya, kami mulai dengan saling
berciuman di sofa. Ketika baru mulai babak remas-remasan aku ingat bahwa
aku membawa sebuah buku seksologi. Kuambil buku itu dan kutunjukkan pada
Ayu. Kubuka pada halaman yang ada gambar alat genital pria. Kujelaskan
padanya cara bekerjanya alat itu. Dia mendengarkannya dengan perhatian.
Seolah guru biologi aku menunjukkan contohnya, kubuka ruitsluiting
celanaku. Kuturunkan celana dalamku hingga penisku menyembul keluar dan
kupertontonkan pada Ayu. penisku memang beda dengan yang di gambar, kalau
yang di gambar itu lunglai, penisku berdiri tegak. Ayu memperhatikan
penisku itu.
"Itu lubangnya ada dua ya?" tanyanya, "Satu untuk kencing, satu lagi
untuk ngeluarin?"
"Ah, engga. Cuma ada satu," kataku sambil tertawa.
Kubuka lubang kecil itu agak lebar untuk menunjukkan bahwa lubangnya
memang cuma satu. Ujung itu merah mengkilat basah oleh cairan bening.
Kubawa telunjuknya mengusapnya dan ia membiarkan jarinya basah. Kemudian
jari-jari lentik itu menyusuri urat-urat di situ dari atas ke bawah.
"Rupanya jelek, tapi kok bisa bikin enak ya," katanya sambil tertawa.
"Eh, tahunya kalau enak. Memang sudah pernah mencoba?" sahutku.
"Katanya sih," sahutnya sambil tertawa.
Jemarinya pun memain-mainkan penisku.
"Kalau ini isinya apa?" Candanya sambil memain-mainkan kantung bolaku.
"Biji salak kali," jawabku sambil tertawa. Ia juga tertawa.
Lalu tangannya menggenggam penisku dan menggosok-gosoknya.
"Jangan keras-keras Ayu. Nanti keluar," bisikku. Diapun menurut, dia
masih menggenggam tetapi tidak menggosok hanya mengusap-usap perlahan.
"Boleh aku lihat punyamu?" tanyaku.
"Jangan ah," jawabnya.
"Sebentar saja," kataku.
Ia pun menurut. Ia membiarkan tanganku menyingkap dasternya dan
menurunkan celana dalamnya hingga ke lutut. Aku menelan ludah, baru kali
itu aku melihat alat kelamin wanita, sebelumnya aku melihatnya cuma di
gambar-gambar. Tanganku pun menuju ke situ. Kuusap-usap rambutnya lalu
jariku membuka celah di situ dan kulihat basah di dalamnya.
"Kok basah kuyup begini."
"Tadi kamu juga."
Kutengok penisku, sudah kering memang, karena diusap oleh Ayu, tetapi aku
melihat di ujungnya mulai membasah lagi. Aku ingat ketika membaca buku
seksologiku ada bagian yang namanya "labia majora", ada "labia minora",
ada "clitoris." Aku mencoba mencari tahu yang mana itu. Aku mencoba
membuka celahnya lebih lebar tetapi ia menepis tanganku.
"Sudah ah, malu," katanya.
Ia kembali menaikkan celana dalamnya.
"Kamu curang Ayu. penisku sudah kamu lihat dari tadi," kataku bercanda.
"Kan katamu cuma lihat sebentar."
Susasana hening. Kupeluk dia. Kembali kami berciuman. Tangannya kembali
mengusap-usap penisku. Tanganku juga menyusup ke celana dalamnya
(dasternya masih menyingkap). Dia tidak menolak. Kuusap-usap rambut di
balik celana dalam itu dan jari-jariku pun menggelitik di situ. Aku
merasakan basahnya. Kurebahkan dia di sofa, kutarik celana dalamnya. Tapi
Ayu menolak tanganku dan berbisik,
"Di kamar saja Rik."
Aku sadar, di situ bukan tempat yang tepat.
"Kamu masuk duluan," katanya.
Akupun masuk ke kamarku melepaskan seluruh pakaianku lalu aku merebahkan
diri menunggu Ayu. Setelah beberapa menit Ayu masuk membawa handuk kecil
lalu mengunci pintu. Ia menghempaskan diri di sisiku. Aku segera tahu
bahwa dia tidak mengenakan celana dalam lagi. Segera kulepas dasternya.
Tak ada apa-apa lagi yang menutupi kami. Tanpa basa-basi lagi kami segera
berpelukan dan berkecupan dengan ganas. Tangan-tangan kami saling meraih,
menyentuh, meremas apa saja untuk bisa saling menggairahkan. Kugigit
putingnya. Ia menggelinjang. Ia bangkit dan membalas dengan mengulum
penisku. Ganti aku yang menggelinjang. Kami melakukan itu mungkin sepuluh
menit. Gairah tak tertahankan lagi.
"Rik, masukkan saja..," bisiknya memohon.
Ayu merebahkan dirinya telentang. Aku mengambil posisi di atasnya. Kedua
pahanya membuka lebar menampung tubuhku, lalu kedua kakinya, seperti juga
kedua tangannya, melingkari tubuhku. Ujung penisku mencari-cari lubang
punyanya. Setelah ketemu aku dorong sedikit. Ia agak mengerang.
"Pelan-pelan Rik," bisiknya.
Kudorong penisku pelan-pelan, sekali, dua kali, dan akhirnya tembus. Ia
menggelinjang dan mengeluh. Kami berdua merasa di awang-awang. Rasanya
bumi ini hanya milik kami berdua. Kami berdua menggerak-gerakkan tubuh
kami mencari sentuhan-sentuhan yang paling peka.
Kenikmatan makin meninggi, setelah beberapa saat gerakan tubuhnya makin
kencang lalu ia memelukku erat-erat seraya merintih,
"Rik, Rik,.." Aku juga tak tahan dan segera menyusulnya,
"Ayu.." Dia memelukku erat, bibir kami berkecupan ketika benihku
menyemprot di dalamnya. Cairanku menyatu dengan cairannya. Selama
beberapa menit kami masih dalam posisi itu.
"Rik, aku cuma ingin sama kamu, engga ada yang lain lagi," katanya.
"Begitu juga aku Ayu, aku sayang kamu," kataku sambil membelai pipinya.
Lalu kukecup bibirnya, mesra dengan segenap perasaanku.
Sekitar setengah jam kami masih berpelukan terbuai oleh pengalaman
barusan. Lalu kami bangkit. Aku lap penisku dengan handuk kecil, dan ia
pun mengelap vaginanya, aku lihat ada darah di handuk itu. Lalu kami
rebah berhadapan dan kami berpelukan lagi dan tak pakai apa-apa. Kami pun
tertidur.
Menjelang pagi kurasakan Ayu bangun. Ia akan mengenakan dasternya.
"Aku harus kembali ke kamarku Rik, sudah pagi."
Tetapi aku menarik tangannya hingga ia kembali rebah di sisiku.
"Masih setengah tiga Ayu, di sini dulu."
Penisku pun kembali tegang dan keras. Ayu melihatnya.
"Rupanya si kecilmu sudah siap lagi Rik," candanya.
Ia pun bangkit lalu tubuhnya menindih tubuhku yang rebah telentang. Ia
mengecupi leherku kiri dan kanan bertubi-tubi. Akhirnya bibir itu mampir
di bibirku. Lidahku dan lidahnya berbelitan, sebentar dalam mulutku,
sebentar dalam mulutnya. Lalu ia mengangkat tubuhnya sedikit, mengarahkan
lubangnya ke ujung penisku lalu ia mendorongkan tubuhnya ke belakang
hingga penisku masuk ke dalamnya sepenuhnya. Ia duduk di perutku.
Tanganku meremas-remas payudaranya dan ia menggoyang-goyangkan tubuhnya
di atasku. Mula-mula gerakannya tak terlalu cepat tetapi semakin lama
ritme gerakannya makin meninggi lalu ia rebah dalam pelukanku, aku
mendengar desahnya penuh kenikmatan. Namun aku masih tegar. Ganti ia yang
kutelentangkan, aku berada di atasnya, kugerakkan tubuhku. Beberapa saat
kemudian kenikmatanpun menjalar di seluruh tubuhku. Malam itu tak banyak
kata-kata yang kami ucapkan, tetapi tubuh-tubuh kami telah saling bicara
mencurahkan seluruh perasaan kami yang terpendam selama berbulan-bulan.
Jam setengah empat sudah, ia mengenakan dasternya mengecup pipiku dan
kembali ke kamarnya. Aku pun tertidur dengan rasa bahagia.
Malam keempat. Kami mulai dengan bercium-ciuman sebentar di sofa. Kami
tak mau berlama-lama di situ, kami pun masuk kamar. Setelah mengunci
pintu ia melepaskan dasternya. Aku juga melepaskan pakaianku. Ternyata di
balik daster itu ia mengenakan blouse dan celana mini tipis yang tak
terlampau ketat berwarna biru muda. payudaranya tidak terlalu besar
tetapi cukup menonjol di balik blousenya itu, putingnya tampak jelas di
balik blousenya yang transparan itu dan di celananya aku juga bisa
melihat rambutnya menerawang. Aku terpesona melihat Ayu berdiri di
depanku dengan pakaian begitu seksi. Rambutnya yang bergerai panjang,
tubuhya yang semampai sangat serasi dengan yang dipakainya. Aku duduk
terpana di tempat tidur memandangnya. Kalau saja aku bisa memotretnya
pasti tiap malam kupandangi foto itu dengan penuh pesona.
"Luar biasa Ayu, cantik sekali kamu. Di mana kamu beli bajumu itu?"
Dia tidak menjawab, hanya tersenyum. Ia menuju tempat tidur dan
merebahkan diri. Aku pun rebah di sisinya. Kubelai putingnya di balik
blousenya itu. Lalu kuusap celananya dan jari-jariku merasakan kemresak
rambut-rambut di baliknya. Lalu kami rebah berhadapan. Kusisipkan penisku
melalui sela celana mininya menyentuh vaginanya lalu kudekap dan kucium
dia. Beberapa menit kami berciuman. Lalu ia bangkit mengecup dadaku di
berbagai tempat.
Kulepas celana mini dan blousenya. Sekarang tak ada apa-apa lagi yang
melekat di tubuh kami. Aku duduk dan ia duduk di pangkuanku berhadapan
dengan aku. Punya kami saling menempel. penisku berdiri tegak dikelilingi
oleh rambut-rambutnya dan rambut-rambutku, hingga penisku tampak
seolah-olah punyanya juga. Segera kamipun berdekapan erat, beciuman
sambil duduk. Cukup lama kami bercumbu rayu dengan berbagai cara. Seperti
malam sebelumnya, malam itu kami melakukan lagi dua kali.
Esoknya aku harus kembali ke kotaku. Hari itu Ayu mengambil cuti seharian
ia menemaniku. Sore hari Ayu mengantarku ke stasiun kereta api. Kulihat
matanya berkaca-kaca ketika aku menyalami dia.
"Datang lagi ya Rik, malam ini aku akan memimpikanmu," katanya ketika aku
akan menaiki kereta.
Ketika kereta bergerak meninggalkan stasiun aku masih melihat dia
melambaikan tangannya sampai ia hilang dari pandanganku.
"Aku pasti datang lagi Ayu," tanpa sadar kuucapkan kata-kata itu.
Bersambung . . . . .
Pertemuanku dengan Ayu berikutnya terjadi beberapa bulan kemudian. Waktu
itu aku sedang menyiapkan tugas akhir kuliahku. Ia mengantar ibunya yang
datang untuk suatu urusan dagang ke kota tempat aku studi. Aku sudah
minta pada Bu Elly, ibu indekosku, kalau bisa mereka boleh tinggal di
kamarku. Bu Elly orangnya baik, ia tidak berkeberatan. Ia bilang bahwa di
kamar tengah ada kasur dan bantal ekstra serta selimut yang boleh aku
pakai. Kuambil kasur dan kugelar di lantai di kamarku yang hanya 3 kali 3
meter. Hatiku ceria menyambut kedatangannya.
Besok paginya aku menjemput mereka di stasiun kereta api. Ayu memakai
celana slacks hitam setinggi betis dan blouse berwarna merah. Rambutnya
bergerai panjang. Tak tampak kelelahan pada wajahnya setelah perjalanan
semalam. Kukecup pipi Ayu dan kusalami ibunya. Lalu aku bantu mereka
membawa barang-barangnya. Dengan taksi kami menuju tempat indekosku.
Mereka membawa mangga dan dodol untuk Bu Elly dan juga untukku. Pagi itu
mereka istirahat di kamarku dan aku pergi ke kampus. Siangnya kuantar
mereka ke relasi dagang ibu Ayu.
Sore hari, setelah mandi, aku duduk-duduk di kamar tamu ngobrol dengan
Ayu sementara ibunya ngobrol dengan Bu Elly di kamar makan. Setelah
berbicara tentang berbagai hal, tiba-tiba Ayu bertanya,
"Rik, apakah orangtuamu sudah tahu tentang kita?"
Aku belum siap untuk pertanyaan itu.
"Belum Ayu, nanti setelah sidang sarjana aku akan pulang membicarakan
dengan mereka."
Wajahnya pun murung dan ia menunduk.
"Ada apa Ayu?"
"Aku takut Rik. Takut kalau mereka tidak setuju. Kita tidak sederajat.
Kamu mahasiswa, sebentar lagi sarjana, aku cuma karyawati."
"Mengapa kamu bilang begitu? Aku tak peduli soal itu."
Dia diam saja. Kulihat air matanya menggenang. Kuambil sapu tanganku
untuk mengusapnya.
"Rik, aku ingat masa kecil kita. Alangkah senangnya waktu kita anak-anak,
kita hanya ingat bermain dan bermain. Yang ada hanya senang saja. Tidak
ada kesulitan hidup."
Kugenggam tangannya. Aku merasakan hidupnya tidak mudah. Aku berjanji
dalam hatiku akan membahagiakan dia kalau ia kelak menjadi milikku.
"Rik, andaikan kita sampai putus, aku akan pergi jauh.. jauh sekali."
"Mengapa kamu berpikir sampai ke situ Ayu?"
Bi Ipah keluar menyuguhkan teh bagi kami. Ayu mengusap airmatanya,
menyibak rambutnya dan mencoba tersenyum,
"Terima kasih bi."
Setelah Bi Ipah meletakkan gelas-gelas itu di meja dan kembali ke
belakang Ayu melanjutkan.
"Aku tak punya kepandaian, tak punya apa-apa. Kebanyakan gajiku untuk
keperluan rumah dan sekolah adikku."
Memang ayahnya sudah pensiun dan ibunya dagang kecil-kecilan hingga ia
harus membantu membiayai rumah tangganya.
"Kepandaian selalu bisa dicari Ayu, setelah ada kesempatan."
Tiba-tiba aku ingat bahwa aku mempunyai tabungan, hasil dari aku memberi
les komputer yang jumlahnya lumayan.
"Ayu, aku punya tabungan. Tabungan kita. Hasil memberi les komputer.
Sebaiknya kamu saja yang pegang Ayu. Kamu lebih tahu cara menggunakan
uang. Nanti kutransfer. Dari orang tuaku sudah cukup untukku."
Segera Ayu berkata, "Jangan Rik, sebaiknya jangan."
"Milikku juga milikmu Ayu, percayalah."
Ia diam saja.
"Ayu, kamu percaya aku kan?"
Kutengadahkan wajahnya, "Senyum dong, jangan murung begitu." Iapun
tersenyum sedikit lalu menundukkan kepalanya lagi.
Tak lama ibu Ayu keluar dan bergabung duduk dengan kami. Mungkin ia juga
melihat bekas menangis Ayu. Malam itu kami tak kemana-mana. Setelah makan
malam kami duduk ngobrol-ngobrol di kamar makan. Kami bercerita tentang
berbagai hal. Tentang bisnis ibu Ayu, tentang studiku yang hampir selesai
dan macam-macam lainnya. Kemudian kami pun masuk ke kamar.
Di kamar, ibu Ayu tidur di tempat tidurku sedang aku dan Ayu tidur di
kasur yang di gelar di bawah. Lampu kamar kami matikan, tetapi tidak
gelap benar karena ada sedikit cahaya dari luar. Udara di Bandung memang
dingin hingga kami harus menggunakan selimut. Aku dan Ayu berada dalam
satu selimut. Ayu rebah menghadap depan dan aku di belakangnya,
seolah-olah membonceng motor. Wangi rambutnya menghambur ke hidungku. Aku
dan Ayu pura-pura memejamkan mata tetapi tak lama, setelah beberapa saat
tangan-tangan kami mulai "bergerilya" di balik selimut. Ayu memakai
daster dengan ruitsluting di depan. Aku buka ruitsluiting itu, ia tak
memakai bra hingga tanganku bebas meraba-raba payudaranya. Aku lepas
celanaku hingga aku cuma bercelana dalam. Tangan Ayu pun menyusup masuk
meraba-raba penisku. Semua itu kami lakukan sepelan mungkin agar ibu Ayu
tidak mendengar. Atau mungkin juga dia mendengar "kesibukan" kami.
Kemudian kami "ngobrol" tanpa mengucapkan suatu katapun. Caranya? Dengan
jari aku menuliskan huruf-huruf di telapak tangannya, setiap kali satu
huruf, ia menjawab juga dengan cara itu di telapak tanganku. Bila salah
tulis kuusap-usap telapak tangannya seolah-olah menghapusnya, ia juga
begitu. Sampai sekarang kami masih tertawa kalau ingat cara berkomunikasi
itu.
Tak lama kemudian aku mendengar ibu Ayu mendengkur. Nah sudah lebih aman
sekarang. Ayu pun membalikkan badannya menghadap aku. Ia memeluk dan
mengecupku. Kulepas celana dalam Ayu, dan ia melepas celana dalamku. Ia
memegang penisku dan menggeser-geserkan ke vaginanya. Ia menciumi leher
dan dadaku Lalu ia kembali membelakangiku. Pangkal pahanya diangkatnya
sedikit, memberi jalan hingga penisku bisa menyentuh vaginanya dari
belakang. Kucari lubangnya dan kudorong, dan masuk. Ia menggelinjang
sedikit. Kugerakkan tubuhku ke depan dan ke belakang dengan irama tidak
terlalu cepat. Kulakukan itu sambil tanganku meremas-remas payudaranya.
Setelah beberapa saat kurasakan tubuh Ayu menegang, ia menggenggam
tanganku erat-erat, kudengar desahnya perlahan. Tak lama kemudian aku pun
mengikutinya. Semua terjadi di bawah selimut. Sesaat kemudian Ayu bangkit
keluar ke kamar mandi membersihkan diri. Setelah Ayu kembali, aku
menunggu sekitar lima belas menit (agar tak ada yang curiga telah
"terjadi sesuatu"), baru aku keluar untuk cuci-cuci. Sekembaliku ke kamar
kutuliskan di telapak tangannya nice sleep dan kamipun tidur.
Besoknya aku bermaksud mengajak Ayu dan ibunya berekreasi. Tetapi ibu Ayu
berkata ia tidak akan ikut, ia lebih senang tinggal di rumah, ia ingin
membantu Bu Elly membuat kue. Apalagi relasi dagangnya berjanji akan
datang ke situ. Kukeluarkan Vespa-ku. Ayu mengenakan celana slacks
abu-abu dengan baju kaus berwarna krem. Baju kausnya yang ketat itu
memperlihatkan lekuk-lekuk badannya.
"Kita kemana Rik?" Tanyanya.
"Kita ke pemandian air panas saja Ayu."
Kuboncengkan Ayu dengan Vespa-ku. Udara pagi itu cerah dan segar.
Vespa-ku menikung-nikung mendaki jalan pegunungan. Ayu di belakang
mendekap aku. Sekitar satu jam kami pun sampai di tempat pemandian air
panas. Setelah memarkir Vespa aku membayar karcis dan masuk. Waktu itu
bukan hari libur hingga sepi di situ. Setengah berbisik aku bertanya pada
penjaga apakah bisa menyewa sebuah kamar mandi. Sebenarnya ada peraturan
yang melarang menggunakan kamar mandi lebih dari seorang, apalagi dengan
orang yang berlawanan jenis. Tetapi aku memberi uang lebih dan ia
membolehkan aku. Setelah ditunjukkan tempatnya aku dan Ayu pun masuk ke
kamar mandi itu.
Segera setelah kututup pintu kamar mandi kami langsung berdekapan dan
berkecupan. Gairah mulai meluap. Ayu membuka celana jeansku. Aku juga
membuka celana slacks-nya. Ia membuka bajuku, aku membuka kausnya. Ia
memakai celana dalam dan bra berwarna biru muda. Aku juga cuma bercelana
dalam berwarna biru muda yang tidak cukup lebar untuk menutupi penisku
yang tegang menyembul keluar.
"Kok warnanya sama, tadi kamu ngintip dulu ya?" candanya.
"Itu namanya kalau jodoh," jawabku tertawa (tentu saja aku tak sengaja
warna celana dalam kami bisa sama).
"Belum-belum kok sudah nongol gitu?" godanya sambil melirik ke bawah.
"Sudah kangen Ayu," bisikku.
Ia maju dan merangkul aku.
Kembali kami berpelukan dan bibir kami saling melumat. Kurasakan ia
menempelkan erat-erat tubuh bawahnya ke tubuhku. Lalu ia jongkok di
depanku dan melorotkan celana dalamku yang sudah tidak bisa menutupi
penisku itu. Ia mengulum penisku, ia mengecup dan menjilati rambut-rambut
di sekitarnya dan kantung bolaku. Lalu ia bangkit berdiri. Ganti aku
jongkok di depannya, kucium perutnya, kuturunkan celana dalamnya dan
kulepaskan, lalu kukecup rambut-rambutnya. Aku bangkit berdiri.
Kulepaskan kaitannya bra-nya dan tak ada apa-apa lagi di tubuhnya.
Kukecupi payudaranya. Aku ingat teknik-teknik yang pernah kulihat di blue
film dan aku ingin mempraktekkannya. Sambil berdiri Ayu merangkulku, lalu
kulakukan penetrasi. Kubantu Ayu menaikkan kedua kakinya dan sambil
kutopang, kedua kakinya itu melingkari tubuhku. Kuayun-ayun tubuhnya.
Kami lakukan ini namun tak sampai orgasme. Kucoba pula posisi lain. Ayu
berlutut dan membungkukkan badannya pada posisi menungging. Aku berlutut
di belakangnya. Kupegang pinggulnya dan aku melakukannya dari belakang.
Setelah beberapa menit orgasme terjadi, Ayu dan aku hampir bersamaan.
Bak mandi sudah penuh dari tadi. Aku dan Ayu masuk ke bak mandi. Ayu
duduk di pangkuanku berhadapan denganku. Kami saling menyabuni tubuh
kami, bercanda, bercumbu, sambil menikmati hangatnya air di bak itu.
"Rik, kamu kalau sudah lulus akan bekerja di mana?"
"Kebetulan ada sebuah perusahaan yang sudah mau menampungku Ayu. Di kota
ini juga. Aku akan bekerja di bagian IT-nya."
"Senang ya Rik kalau jadi orang pinter. Engga kayak aku ini."
"Kamu juga ikut senang kok Ayu karena kamu akan jadi permaisuriku. Dulu
waktu kecil kan kamu selalu jadi permaisuriku, dan sekarang juga."
Ia tertawa, "Eh, ada raja rupanya di sini."
Kumain-mainkan putingnya dengan jari-jariku dan ia menggosok-gosok
penisku hingga tegang kembali. Kembali kudekap dia dan kuciumi dia. Ia
mengangkat tubuhnya sedikit lalu kuarahkan penisku ke lubangnya lalu ia
duduk kembali dan penisku sudah lenyap ditelannya. Dalam rendaman air
hangat itu kami kembali menumpahkan kasih sayang kami. Kami berada di
kamar mandi itu satu jam lebih.
Keluar dari situ hampir tengah hari. Kami pergi ke sebuah restoran untuk
mengisi perut. Hari masih panjang. Aku belum ingin pulang, di rumah
indekos sangat tidak leluasa. Kutanya pada Ayu bagaimana kalau mencari
hotel untuk beristirahat di sana. Ayu tidak keberatan. Kami menuju ke
sebuah hotel tak jauh dari situ dan memperoleh kamar dengan kamar mandi
shower. Segera setelah kami masuk kekamar itu, kami segera melepaskan
semua yang ada di tubuh kami. Kusergap dia dan kudorong dia ke tempat
tidur. Kami melakukannya lagi. Di ruangan itu aku dan Ayu bebas melakukan
apa saja. Kami mandi bersama sambil bercumbu di bawah siraman air shower
yang hangat. Nonton TV bersama. Seluruh waktu kami lewatkan tanpa ada
apa-apa yang menutupi tubuh kami. Setelah mencapai suatu orgasme Ayu
menanyaiku,
"Rik, bagaimana kalau sampai jadi?"
Terbersit kekhawatiran di benakku karena aku sebenarnya belum siap untuk
itu.
"Anak kita pasti lucu ya," jawabku seadanya sambil mengusap-usap perutnya.
Karena lelah kami sempat tidur selama beberapa jam di hotel itu,
berpelukan dengan tubuh telanjang. Kami pulang sore hari dan tiba di
rumah indekos menjelang gelap.
Bu Elly bertanya, "Kemana saja kalian?"
"Habis berenang dan keliling kota bu."
Aku bisa menangkap sinar kecurigaan di matanya. Malam itu kami tak banyak
melakukan "gerilya" di bawah selimut karena kami sudah cape. Esoknya aku
mengantar Ayu dan ibunya ke stasiun untuk kembali ke kotanya. Setelah
kusalami ibunya, kuberikan sun pipi pada Ayu. Ia berkata,
"Sukses ya Rik ujiannya. Jangan lupa cepat beri kabar setelah tahu
hasilnya."
Dua bulan kemudian. Tiba saat sidang sarjana. Sejak pagi aku sudah siap
dengan kemeja berdasi. Aku sudah berusaha sebaik mungkin mengerjakan
tugas akhirku, tetapi toh aku aku tidak bisa melenyapkan rasa tegangku
ketika berhadapan dengan tim penguji. Mereka baik tetapi tampak angker
sekali. Pertanyaan demi pertanyaan diajukan dan aku berusaha menjawab
semuanya. Setengah jam aku harus menunggu keputusan hasil sidang dengan
debaran jantungku hingga beberapa kali aku harus ke kamar kecil. Tim
penguji kembali masuk ke ruangan dan aku dinyatakan lulus dengan
cumlaude. Sorakan meledak di ruangan itu, teman-temanku menyalamiku.
Sayang sekali Ayu tidak ada di situ. Kukirimkan telegram kepada orang
tuaku dan tentu tak lupa pada Ayu. Kuterima telegram balasan dari Ayu
yang menyatakan selamat atas kelulusanku.
Beberapa hari kemudian surat Ayu menyusul. Ia menyatakan kebahagiaannya
dan keluarganya atas keberhasilanku. Ia juga bercanda,
"Kapan pestanya?"
Tetapi aku terhenyak membaca akhir surat,
"Rik, aku sedang bingung. Sudah dua bulan aku tidak mens."
Sekarang Ayu hidup bersamaku dengan dua orang anak. Aku teringat
permainanku semasa kecil. Aku pangeran mempersunting Ayu, gadis
sederhana, menjadi puteri di istanaku. Kemauan belajarnya besar, ia
mengambil les komputer, bahasa Inggeris, memasak dan sebagainya. Seperti
aku ia juga suka membaca. Aku bahagia memiliki Ayu.
TAMAT
Aku adalah seorang anak yang dilahirkan dari keluarga yang mampu di mana
papaku sibuk dengan urusan kantornya dan mamaku sibuk dengan arisan dan
belanja-belanja. Sementara aku dibesarkan oleh seorang baby sitter yang
bernama Marni. Aku panggil dengan Mbak Marni.
Peristiwa ini terjadi pada tahun 1996 saat aku lulus SMP Swasta di
Jakarta. Pada waktu itu aku dan kawan-kawanku main ke rumahku, sementara
papa dan mama tidak ada di rumah. Adi, Dadang, Abe dan Aponk main ke
rumahku, kami berlima sepakat untuk menonton VCD porno yang dibawa oleh
Aponk, yang memang kakak iparnya mempunyai usaha penyewaan VCD di
rumahnya. Aponk membawa 4 film porno dan kami serius menontonnya. Tanpa
diduga Mbak Marni mengintip kami berlima yang sedang menonton, waktu itu
usia Mbak Marni 28 tahun dan belum menikah, karena Mbak Marni sejak
berumur 20 tahun telah menjadi baby sitterku.
Tanpa disadari aku ingin sekali melihat dan melakukan hal-hal seperti di
dalam VCD porno yang kutonton bersama dengan teman-teman. Mbak Marni
mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat dan tidak ketahuan
oleh keempat temanku.
"Maaf yah, gue mau ke belakang dulu.."
"Ya.. ya.. tapi tolong ditutup pintunya yah", jawab keempat temanku.
"Ya, nanti kututup rapat", jawabku.
Aku keluar kamarku dan mendapati Mbak Marni di samping pintuku dengan
nafas yang tersengal-sengal.
"Hmm.. hmm, Mas Ton", Mbak Marni menegurku seraya membetulkan posisi
berdirinya.
"Ada apa Mbak ngintip-ngintip Tonny dan kawan-kawan?" tanyaku keheranan.
Hatiku berbicara bahwa ini kesempatan untuk dapat melakukan segala hal
yang tadi kutonton di VCD porno.
Perlahan-lahan kukunci kamarku dari luar kamar dan aku berpura-pura marah
terhadap Mbak Marni.
"Mbak, apa-apaan sih ngintip-ngintip segala."
"Hmm.. hmm, Mbak mau kasih minum untuk teman-teman Mas Tonny", jawabnya.
"Nanti aku bilangin papa dan mama loh, kalo Mbak Marni ngintipin Tonny",
ancamku, sembari aku pergi turun ke bawah dan untungnya kamarku berada di
lantai atas.
Mbak Marni mengikutiku ke bawah, sesampainya di bawah, "Mbak Marni, kamu
ngintipin saya dan teman-teman itu maksudnya apa?" tanyaku.
"Mbak, ingin kasih minum teman-teman Mas Tonny."
"Kok, Mbak nggak membawa minuman ke atas", tanyaku dan memang Mbak Marni
ke atas tanpa membawa minuman.
"Hmm.. Hmm.." ucap Mbak Marni mencari alasan yang lain.
Dengan kebingungan Mbak Marni mencari alasan yang lain dan tidak disadari
olehnya, aku melihat dan membayangkan bentuk tubuh dan payudara Mbak
Marni yang ranum dan seksi sekali. Dan aku memberanikan diri untuk
melakukan permainan yang telah kutonton tadi.
"Sini Mbak"
"Lebih dekat lagi"
"Lebih dekat lagi dong.."
Mbak Marni mengikuti perintahku dan dirinya sudah dekat sekali denganku,
terasa payudaranya yang ranum telah menyentuh dadaku yang naik turun oleh
deruan nafsu. Aku duduk di meja makan sehingga Mbak Marni berada di
selangkanganku.
"Mas Tonny mau apa", tanyanya.
"Mas, mau diapain Mbak", tanyanya, ketika aku memegang bahunya untuk
didekatkan ke selangkanganku.
"Udah, jangan banyak tanya", jawabku sembari aku melingkari kakiku ke
pinggulnya yang seksi.
"Jangan Mas.. jangan Mas Tonny", pintanya untuk menghentikanku membuka
kancing baju baby sitterku.
"Jangan Mas Ton, jangan.. jangan.." tolaknya tanpa menampik tanganku yang
membuka satu persatu kancing bajunya.
Sudah empat kancing kubuka dan aku melihat bukit kembar di hadapanku,
putih mulus dan mancung terbungkus oleh BH yang berenda. Tanpa kuberi
kesempatan lagi untuk mengelak, kupegang payudara Mbak Marni dengan kedua
tanganku dan kupermainkan puting susunya yang berwarna coklat muda dan
kemerah-merahan.
"Jangan.. jangaan Mas Tonny"
"Akh.. akh.. jangaan, jangan Mas"
"Akh.. akh.. akh"
"Jangan.. Mas Tonn"
Aku mendengar Mbak Marni mendesah-desah, aku langsung mengulum puting
susunya yang belum pernah dipegang dan di kulum oleh seorang pria pun.
Aku memasukkan seluruh buah dadanya yang ranum ke dalam mulutku sehingga
terasa sesak dan penuh mulutku. "Okh.. okh.. Mas.. Mas Ton.. tangan
ber.." tanpa mendengarkan kelanjutan dari desahan itu kumainkan puting
susunya dengan gigiku, kugigit pelan-pelan. "Ohk.. ohk.. ohk.." desahan
nafas Mbak Marni seperti lari 12 kilo meter. Kupegang tangan Mbak Marni
untuk membuka celana dalamku dan memegang kemaluanku. Tanpa diberi
aba-aba, Mbak Marni memegang kemaluanku dan melakukan gerakan mengocok
dari ujung kemaluanku sampai pangkal kemaluan.
"Okh.. okh.. Mbak.. Mbaak"
"Teruss.. ss.. Mbak"
"Mass.. Mass.. Tonny, saya tidak kuat lagi"
Mendengar itu lalu aku turun dari meja makan dan kubawa Mbak Marni
tiduran di bawah meja makan. Mbak Marni telentang di lantai dengan
payudara yang menantang, tanpa kusia-siakan lagi kuberanikan untuk meraba
selangkangan Mbak Marni. Aku singkapkan pakaiannya ke atas dan
kuraba-raba, aku merasakan bahwa celana dalamnya sudah basah. Tanganku
mulai kumasukkan ke dalam CD-nya dan aku merasakan adanya bulu-bulu halus
yang basah oleh cairan liang kewanitaannya.
"Mbak, dibuka yah celananya." Mbak Marni hanya mengangguk dua kali.
Sebelum kubuka, aku mencoba memasukkan telunjukku ke dalam liang
kewanitaannya. Jari telunjukku telah masuk separuhnya dan kugerakkan
telunjukku seperti aku memanggil anjingku.
"Shs.. shss.. sh"
"Cepat dibuka", pinta Mbak Marni.
Kubuka celananya dan kulempar ke atas kursi makan, aku melihat
kemaluannya yang masih orisinil dan belum terjamah serta bulu-bulu yang
teratur rapi. Aku mulai teringat akan film VCD porno yang kutonton dan
kudekatkan mulutku ke liang kewanitaannya. Perlahan-lahan kumainkan
lidahnku di sekitar liang surganya, ada rasa asem-asem gurih di lidahku
dan kuberanikan lidahku untuk memainkan bagian dalam liang kewanitaannya.
Kutemukan adanya daging tumbuh seperti kutil di dalam liang
kenikmatannya, kumainkan daging itu dengan lidahku.
"Massh.. Mass.."
"Mbak mau kelluaar.."
Aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan "keluar", tetapi aku semakin giat
memainkan daging tumbuh tersebut, tanpa kusadari ada cairan yang keluar
dari liang kewanitaannya yang kurasakan di lidahku, kulihat liang
kewanitaan Mbak Marni telah basah dengan campuran air liurku dan cairan
liang kewanitaannya. Lalu aku merubah posisiku dengan berlutut dan
kuarahkan batang kemaluanku ke lubang senggamanya, karena sejak tadi
kemaluanku tegang. "Slepp.. slepp" Aku merasakan kehangatan luar biasa di
kepala kemaluanku.
"Mass.. Mass pellann dongg.." Kutekan lagi kemaluanku ke dalam liang
surganya. "Sleep.. sleep" dan, "Heck.. heck", suara Mbak Marni tertahan
saat kemaluanku masuk seluruhnya ke dalam liang kewanitaannya. "Mass..
Mass.. pelaan.." Nafsu birahiku telah sampai ke ubun-ubun dan aku tidak
mendengar ucapan Mbak Marni. Maka kupercepat gerakanku. "Heck.. heck..
heck.. tolong.. tollong Mass pelan-pelan" tak lama kemudian, "Mas Tonny,
Mbaak keluaar laagi" Bersamaan dengan itu kurasakan desakan yang hebat
dalam kepala kemaluanku yang telah disemprot oleh cairan kewanitaan Mbak
Marni. Maka kutekan sekuat-kuatnya kemaluanku untuk masuk seluruhnya ke
dalam liang kewanitaan Mbak Marni. Kudekap erat tubuh Mbak Marni sehingga
agak tersengal-sengal, tak lama kemudian, "Croot.. croot" spermaku masuk
ke dalam liang kewanitaan Mbak Marni.
Setelah Mbak Marni tiga kali keluar dan aku sudah keluar, Mbak Marni
lemas di sampingku. Dalam keadaan lemas aku naik ke dadanya dan aku minta
untuk dibersihkan kemaluanku dengan mulutnya. Dengan sigap Mbak Marni
menuruti permintaanku. Sisa spermaku disedot oleh Mbak Marni sampai habis
ke dalam mulutnya. Kami melakukan kira-kira selama tiga jam, tanpa
kusadari teman-temanku teriak-teriak karena kunci pintu kamarku sewaktu
aku keluar tadi. "Tonny.. tolong bukain dong, pintunya" Maka cepat-cepat
kuminta Mbak Marni menuju ke kamarnya untuk berpura-pura tidur dan aku
naik ke atas membukakan pintu kamarku. Bertepatan dengan aku ke atas
mamaku pulang naik taksi. Dan kuminta teman-temanku untuk makan oleh-oleh
mamaku lalu kusuruh pulang.
Setelah seluruh temanku pulang dan mamaku istirahat di kamar menunggu
papa pulang. Aku ke kamar Mbak Marni untuk meminta maaf, atas perlakuanku
yang telah merenggut keperawanannya.
"Mbak, maafin Tonny yah!"
"Nggak apa-apa Mas Tonny, Mbak juga rela kok"
"Keperawanan Mbak lebih baik diambil sama kamu dari pada sama supir
tetangga", jawab Mbak Marni. Dengan kerelaannya tersebut maka, kelakuanku
makin hari makin manja terhadap baby sitterku yang merawatku semenjak
usiaku sembilan tahun. Sejak kejadian itu kuminta Mbak Marni main
berdiri, main di taman, main di tangga dan mandi bersama, Mbak Marni
bersedia melakukannya.
Hingga suatu saat terjadi, bahwa Mbak Marni mengandung akibat perbuatanku
dan aku ingat waktu itu aku kelas dua SMA. Papa dan mamaku memarahiku,
karena hubunganku dengan Mbak Marni yang cantik wajahnya dan putih
kulitnya. Aku dipisahkan dengan Mbak Marni, Mbak Marni dicarikan suami
untuk menjadi bapak dari anakku tersebut.
Sekarang aku merindukan kebersamaanku dengan Mbak Marni, karena aku belum
mendapatkan wanita yang cocok untukku. Itulah kisahku para pembaca,
sekarang aku sudah bekerja di perusahaan ayahku sebagai salah satu
pimpinan dan aku sedang mencari tahu ke mana Mbak Marni, baby sitterku
tersayang dan bagaimana kabarnya Tonny kecilku.
TAMAT

Meskipun telah belasan tahun meninggalkan Bandung keterikatanku kepada


kota kembang itu tidak begitu saja lepas, terutama setelah kegagalan
rumah tanggaku. Dalam setahun aku sempatkan 2-3 kali berkunjung ke
Bandung bernostalgia bersama kawan-kawan yang tetap bertahan tinggal
disana selepas kuliah. Walaupun kesemrawutan kota Bandung agak mengurangi
kenyamanan namun tetap tidak mengurangi keinginanku untuk berkunjung.
Banyak perubahan terjadi, Jl. Dago-juga daerah2 yg aku sebut kota
lama-Cipaganti, Cihampelas, Setiabudhi, Pasteur dan daerah lainnya yang
hancur keasriannya demi "pembangunan" namun ada dua hal yg masih
bertahan, makanannya yang enak dan bervariasi dan..wanitanya yang
terkenal cantik. "Di Bandung, beberapa kali kita melangkah akan selalu
bertemu wanita cantik" anekdot kawan-kawan dan itu hampir sepenuhnya
benar.
Oktober 1998 dengan kereta Parahyangan siang aku berangkat ke Bandung,
liburan "nostalgia" selalu aku lakukan saat weekday menghindari hingar
bingar Bandung saat weekend. Setelah menaruh tas bawaanku, menghempaskan
tubuh dibangku dekat jendela dan langsung membuka novel John Grisham
kegemaranku. Belum lagi selesai membaca satu paragraph aku dikejutkan
sapaan suara halus: "Maaf, apakah tidak keberatan kalau kita bertukar
bangku?" aku menengadah, kaget dan terpana! begitu mengetahui si pemilik
suara. " Hmm..sure..ehh maaf..tidak, maksud saya tidak apa-apa" jawabku
dengan gagap.
Dia cukup tinggi untuk ukuran wanita Indonesia lebih kurang 170, putih,
postur yang proporsional dengan rambut hitam lurus sebahu bak bintang
iklan shampoo! Umurnya kira-kira sekitar akhir 20an mengenakan baju krem
ketat dan celana hitam yang juga ketat sehingga menonjolkan semua
lekak-lekuk tubuhnya! Saat aku berdiri bertukar bangku, semilir tercium
aroma parfum lembut yang entah apa merknya, yang pasti pas sekali dengan
penampilannya.
"Maaf mengganggu kenyamanan Anda tapi saya seringkali tertidur dalam
perjalanan, kalau dekat jendela lebih mudah menyandarkan kepala" Ia
menjelaskan sambil meminta maaf.
"Ngga apa-apa kok" sahutku, bagaimana mungkin menolak permintaannya
gumamku dalam hati. Setelah selesai merapihkan bawaannya Iapun duduk dan
membuka Elle edisi Australia yang dibawanya. Kamipun tenggelam dengan
bacaan masing-masing. Ingin rasanya aku menutup John Grisham-ku dan
memulai pembicaraan dengannya namun melihat Ia begitu asik dengan
Elle-nya niat itu pun aku urungkan. Kesempatan itu muncul saat pesanan
makanan kami tiba,
"Suka juga roti isi" tanyaku membuka pembicaraan
"Iya, entah kenapa aku suka sekali roti isi di kereta, padahal rasanya
biasa-biasa aja" jawabnya
"Mungkin suasana kereta membuatnya enak" lanjutku sekenanya
"Mungkin, oh ya Mas kenalkan saya Vini" sambil menjulurkan tangannya
"Reno, ngga pake Mas" sahutku sambil menyambut tangannya
"Hihihi" tawanya renyah "Kamu lucu juga, dalam rangka apa ke Bandung"
"Main-main aja kangen sama Bandung dan kawan-kawan" jawabku.
"Vini sendiri ke Bandung dalam rangka apa" tanyaku.
"Tugas kantor" jawabnya singkat tegas sepertinya enggan untuk
menceritakan pekerjaannya.
"Tinggal dimana Vin di Bandung" Ia menyebutkan salah satu hotel
berbintang di Dago
"Lho kok sama? aku juga di kamar 313" suatu kebetulan yg mengejutkan
"Oh ya?!! satu lantai pula" ujar Vini tidak bisa menyembunyikan
keterkejutannya. Selepas makan kami tidak lagi membuka bacaan
masing-masing, obrolan-obrolan mengalir dengan lancar diselingi dengan
joke-joke nakal yang ternyata disukainya. Perbendaharaanku yang satu ini
cukup lumayan banyak, sisa perjalanan rasanya seperti hanya kami yang ada
dikereta. Vini bahkan tidak lagi malu untuk memukul pundak atau mencubit
kecil lenganku manakala ada joke yang "sangat" nakal. Tanpa terasa kami
tiba di stasiun Bandung tepat jam 16.30, kami naik mobil jemputan hotel
sambil terus bercengkerama dengan lebih akrab lagi.
Di hotel kami berpisah, kamarku dikanan lift sementara Vini dikiri.
Dikamar aku langsung merebahkan diri membayangkan Vini dan
mengingat-ingat semua kejadian di kereta, di mobil dan di lift aku
memutuskan untuk mengajaknya makan malam atau jalan-jalan bahkan kalau
bisa lebih dari itu. Karenanya aku urungkan menghubungi kawan-kawanku.
Dan terlelap dengan senyum terukir di bibirku.
Jam 19.00 aku dikejutkan oleh dering telepon, belum lagi 'napak bumi' aku
angkat telepon
"Hallo" jawabku dengan suara ngantuk.
"Hi Ren tidur ya?sorry ganggu" terdengar suara halus diseberang.
Vini!! langsung aku bangkit "Is ok, aku juga niatnya bangun jam segini
tapi lupa pesan di front office tadi" jawabku. "Ada apa Vin?"
"Kamu jadi ngga ketemuan sama kawan-kawan Ren?"
"Hmm..aku belum sempat call mereka, ketiduran"
"Gimana kalau malam ini datang sama aku, soalnya aku ngga jadi dinner
meeting"
"Sayangkan dandananku kalau harus dihapus" lanjutnya dengan tawanya yang
khas
Aku shock mendengarkan ajakannya sampai-sampai tidak tahu harus berkata
apa
"Halloo..anybody home? Kok diam sih?" serunya, mengejutkan
"Ooohh maaf..kaget..soalnya surprise..kaya ketiban bulan, diajak datang
bidadari" jawabku. "Dasarr..kamu tuh..ketiban aku baru rasa, cepat mandi
dong, casual aja ya" menutup pembicaraan.
Tidak usah disuruh dua kali akupun langsung mandi, keramas, berpakaian
casual, parfum disemua 'sudut' tubuh dan langsung menuju kekamarnya. Saat
pintu terbuka aku hanya bisa 'melongo' melihat penampilannya yang
'casual', Vini mengenakan rok jeans sedikit diatas lutut dengan dengan
belahan dipaha kiri depan yang cukup tinggi, atasan kaos melekat ketat
ditubuhnya dengan bahu terbuka, sungguh pemandangan yg menyekat
kerongkongan. "Hii..kok bengong lagi sih" tegur Vini menyadarkan aku dan
kamipun segera bergegas. Setelah puas menyantap soto sulung dan sate ayam
dipojok jl. Merdeka kami lanjutkan menghabiskan malam disalah satu kafe
di daerah Gatsu, Vini memilih seat di bar yang agak memojok dengan cahaya
lampu yang minim. Aku memesan tequila orange double dengan ekstra es
sementara Vini memilih illusion, hentakan musik yg keras membuat kami
harus berbicara dengan merapatkan telinga dengan lawan bicara, saat
itulah, aku mencium aroma parfum malamnya, ditambah dengan nafas yang
menerpa telingaku saat berbicara membuat sensor birahiku menangkap sinyal
yang menggetarkan bagian sensitif ditubuhku.
Waktu band memainkan lagu yang disukainya Vini turun dari kursi,
bergoyang mengikuti irama lagu, sebuah pemandangan yang menakjubkan,
gerakan pundak telanjangnya, tangannya dan pinggulnya begitu serasi.
Erotis namun tidak memberikan kesan vulgar, dan saat kami 'turun'
ditempat (bukan di dance floor)-lebih tepat disebut berpelukan dengan
sedikit gerakan-buah dadanya sesekali menyentuh tubuhku, aku merasakan
getaran-getaran halus dan hangat menjalar diseluruh tubuhku. Entah pada
'turun' yg keberapa kali aku memberanikan diri, kukecup lembut lehernya
dan.."Ehh.." hanya itu yg keluar dari bibirnya yang sensual. Seolah
mendapat ijin akupun memeluknya lebih erat serta sekilas mengecup lembut
bibirnya, setelah itu Vinilah yang memberikan kecupan-kecupan kecil di
bibirku..Malam yang indah.
Sebelum tengah malam kami meninggalkan kafe, dalam taksi menuju hotel
Vini menyandarkan kepalanya di dada kananku, kesempatan ini tidak aku
sia-siakan, kuangkat dagunya membuatnya tengadah. Sekilas kami
perpandangan, bibirnya bergetar, Vini memejamkan matanya seakan mengerti
keinginanku segera saja kubenamkan bibirku di bibirnya, kecupan lembut
yang semakin lama berganti dengan pagutan-pagutan birahi tanpa peduli
pada supir taksi yang sesekali mengintip lewat kaca spion. Lidah kamipun
menggeliat-geliat, saling memutar dan menghisap, sementara tanganku
meraba-raba dadanya dengan lembut, belum sempat bertindak lebih tidak
terasa taksi kami telah sampai di hotel.
Kamipun bergegas menuju lift dan melanjutkan lagi apa yang kami lakukan
di taksi, kusandarkan tubuhnya di dinding lift memagut leher dan
pundaknya yg putih telanjang. "Reno..eehh.." desahnya. Keluar lift Vini
menarik tanganku kekamarnya, begitu pintu kamar ditutup Vini langsung
menarik kepalaku memagut bibirku dengan bernafsu, lidahnya kembali
menggeliat-geliat di mulutku namun lebih liar lagi. Kusandarkan tubuhnya
di dinding kamar agar tanganku lebih leluasa, tangan kananku memeluk
pinggulnya sementara tangan kiri mulai meremas-remas buah kenikmatannya
yang begitu kenyal. Kejantananku membatu, ingin rasanya segera
kukeluarkan dari kungkungan celana tapi kutahan, aku ingin menikmati
semua ini perlahan-lahan. Kutarik pinggul Vini sambil menekan pinggulku
membuat "perangkat" kenikmatan kami beradu-walaupun masih
terbungkus-membuat desiran darah kami meningkat dan semakin memanas saat
kami menggesek-gesekannya. "Ahh..Ren.."desah Vini kembali dan saat itu
kurasakan lidahnya yang hangat basah menjalar di telingaku
melingkar-lingkar di leherku. "Eeehh..aahh.." giliran aku yang mendesah
merasakan permainan lidahnya.
Lidahnya semakin turun kedadaku sementara jari-jari lentiknya membuka
kancing bajuku satu per satu. Dan.. lidahnya berpindah keputing dadaku,
berputar-putar jalang, mengecup, menghisap dan sesekali menggigit-gigit
kecil. "Terus Vin..teruss..ahh.." suaraku bergetar meminta meneruskan
kenikmatan yang diberikan mulutnya. Kurasakan Vini semakin liar memainkan
mulutnya yang semakin turun. Ia berlutut saat lidahnya meliuk-liuk di
pusar sambil tangannya membuka celanaku. Vini meremas, mengecup dan
menggigit-gigit lembut kejantananku yang masih terbungkus CD dan setelah
itu Ia memasukan tangannya kedalam CD dan mengeluarkan milikku yang sudah
membatu. Ia menggenggam dan menggosok-gosokkan jempolnya di ujung kepala
kejantananku yang sudah basah menimbulkan rasa ngilu yang
nikmat..dan..akhirnya..lidahnya berputar-putar disana.
"..aakhh..sshh.."desahku tak tertahan manakala lidahnya semakin kencang
bergerak dibawah kepala kemaluanku dan diteruskan keseluruh batang dan
buah zakar. "Enakk Vin..
aahh..kamu pintar sekalii..hisap cantik..hisapp.." aku meracau tidak
karuan memintanya melakukan lebih lagi.
Vini mengerti betul apa yang harus dilakukannya, dikecupnya kepala
kejantananku dan dimasukannya..hanya sebatas itu!dan mulai
menghisap-hisap sambil tetap lidahnya menjilat-jilat,
berputar-putar..serangan ganda!!sunguh nikmatt!! Setelah itu barulah Ia
menelan semuanya membuat seluruh tubuhku bergetar hebat dilanda
kenikmatan. Kuraih kepalanya memasukan seluruh jari-jemariku dirambutnya
yang halus dan menggenggamnya, dengan demikian memudahkan aku mengatur
gerakan kepalanya. Namun semakin lama genggamanku tidak lagi berguna,
karena ritme gerakan kepalanya semakin cepat mengkocok-kocok kemaluanku
membuat tubuhku serasa melayang-layang, semakin aku mengerang kenikmatan
semakin cepat Vini menggerakan ritme kocokannya. "Nikmat
Vin..ahh..lagi..lebih cepat..oohh" pintaku diselah-selah erangan yang
semakin tidak terkontrol. Dan begitu kurasakan akan meledak segera
kutahan dan kutarik kepalanya, aku tidak ingin menyelesaikan kenikmatan
ini dimulutnya.
Kuangkat tubuhnya dan kupeluk mesra. "Suka?"bisiknya bertanya. "Suka
sekali..kamu hebat.." jawabku berbisik sekaligus menjilat dan menghisap
kupingnya. "Ooohh.." erang Vini. Kubalas apa yang Ia lakukan tadi,
kupagut leher dan pundaknya serta membuka atasan dan bra 34b-nya, dua
bukit kenikmatannya yang bulat putih itupun menyembul dengan puting kecil
pinkies yang sudah mengeras. Lidahkupun segera beraksi menjilat-jilat
putingnya "Eeehh..Reno.." lenguh Vini dan membusungkan dadanya meminta
lebih, kuhisap putingnya "Auuhh..akkhh.."erangannya semakin keras,
hisapanku semakin menggila bukan lagi putingnya tapi sebagian buah
dadanyapun mulai masuk kedalam mulutku. "Aaaghh.. Ren..aauuhh..kamu
ganaas.."jeritnya.
Puas melumat buah kenikmatannya gilirin aku yang berlutut sambil melepas
roknya, tampaklah CD mini putih menutupi kewanitaannya. Kuelus-elus
bagian yang terhimpit paha dengan jari tengahku terasa lembab dan
kumasukan dari sisi CDnya sehingga menyentuh daging lembut basah.
"Renoo..uugghh.."kembali erangan birahi keluar dari mulutnya waktu ujung
jariku mulai bergerak-gerak di mulut kewanitaannya sementara mulutku
sibuk mengecup dan menjilat sebelah dalam paha mulusnya. Beberapa saat
kemudian penutup terakhir itu kulepaskan, rambut2 halus tipis menghias
kewanitaannya dengan klitoris yang yang menyembul dari belahannya.
Kuangkat kaki kirinya meletakan tungkainya di bahu kananku sehingga
leluasa aku melihat seluruh bagian kenikmatannya.
Akupun mulai sibuk menjilati dan sesekali menghisap-hisap klitorisnya.
"Aaa..Renoo.." jerit Vini tertahan sambil menjambak rambutku yang
panjang, lidahku bergerak cepat menggeliat-geliat menjilat kewanitaannya
yang semakin basah, sementara jariku berputar-putar didalamnya.
"Ssshh..eehh" desis Vina merasakan hisapanku yang kuat di lubang
kenikmatannya. Kubuka bibir kewanitaannya dan menjulurkan lidahku lebih
dalam dalam lagi Vinipun membalas dengan menyorongkannya kemukaku,
praktis semua sudah dimulutku, kumiringkan sedikit kepalaku sehingga
memudahkan aku "memakan" semua kewanitaannya."Renoo..stopp..aahh..aku
ngga tahann.."aku tidak memperdulikan keingingannya bahkan semakin
menggila "My godd..Renn..shhff..pleasee..stop" tangannya sekuat tenaga
menarik rambutku agar mulutku terlepas dari kewanitaannya.
Akupun berdiri mengikuti keinginannya kurebahkan tubuhnya ditempat tidur
dan kamipun bergumul saling memagut, menghisap dan meremas-remas
bagian-bagian sensitif kami. "Sekarang Ren..sekarang.. pleasee.."pintanya
berbisiknya. Aku merayap naik ketubuhnya, Vini membuka lebar kedua
kakinya Iapun menggelinjang merasakan kepala kejantananku memasuki mulut
kewanitaannya, kuhentikan sebatas itu dan mulai menggerakannya keluar
masuk dengan perlahan. "Ooohh yaa..Renn..enakk.." Vinipun mulai
mengayunkan pinggulnya mengikuti gerakan-gerakanku, sementara mulutku
tidak henti-hentinya mengulum buah dadanya."Aagghh..terus Ren..lebih
dalamm..aagghh.." pintanya, kutekan batang kemaluanku lebih dalam
dan.."Ssshh.."desisku merasakan kenikmatan rongga kewanitaanya yang
sempit meremas-remas sekujur batang kemaluanku."Aaaugghh..punya kamu enak
Vin.." akupun semakin kencang memacu tubuhku membuat Vini semakin
mengelepar-gelepar.
"Ahh..oucchh..nikmat Ren..sshh.."desahnya merasakan gesekan-gesekan
batang kejantananku di dinding kemaluannya. Saat kami merasakan nikmatnya
kemaluan masing-masing, tak henti-hentinya kami saling menghisap, memagut
bahkan mengigit dengan liarnya..dan.. "Ugghh..Renn..fuck me..fuck me
hard..I'm comingg honey.." tubuh Vini mengejang dan tangan serta kakinya
memeluk tubuhku dengan kencang "Ouchh..oohh..aku keluar Renn..aaghh.."
Iapun kejang sesaat kurasakan denyut-denyut di kewanitaannya dan..tubuh
Vinipun lungai.
"Maaf Ren aku duluan..ngga tahan, habis udah lama ngga.." bisiknya, aku
masih diatasnya dengan kemaluan yang masih terbenam didalam
kewanitaannya. "Ngga apa-apa Vin cewekan multiple orgasm, masih ada yang
kedua dan seterusnya kok.." jawabku menggoda. "Memangnya kuat..?"
tantangnya. "Lihat aja nanti.."membalas tantangannya. "Ihh..itu sih doyan
.." seru Vini manja sambil mencubit pinggangku. Kubalas cubitannya dengan
memagut lehernya dan menjilat telinganya sementara pinggulku mulai
berputar-putar perlahan."..Mmhhff.."kupagut bibirnya, lidah kamipun
saling bertaut, meliuk dengan panasnya. Birahi kamipun kembali membara,
tekanan pinggulku dibalasnya dengan putaran pinggulnya membuatku
melayang-layang. "Shhff..agghh..ouch.." desahanpun tak tertahan keluar
keluar dari mulutku. Dengan bahasa tubuh Vini mengajak pindah posisi, Ia
diatas memegang kendali.
Vini menekan kewanitaanya dalam-dalam-sehingga kejantananku menyentuh
ujung lorong kenikmatannya-dan mengayunkan pinggulnya mundur-maju.
Semakin lama ayunannya semakin cepat, tak kuasa aku menahan
hentakan-hentakan kenikmatan yang keluar dari seluruh sendi-sendi tubuhku.
"..teruss Vin..aahh..lagi Vin..oohh..punya kamu enak.."rintihku. "..punya
kamu juga Renn..oucchh..want me to fuck you hardd..mmhh.." tidak perlu
jawabanku, dengan di topang tangannya Vini membungkuk tambah mempercepat
ayunannya. Buah dadanya yang indah berayun-ayun, kuremas-remas dan yang
lainnya kulumat dengan rakus. "Ouchh..Rennoo..nikmatt..lumat semua
Renn..auuhh.." jerit Vini sambil merendahkan tubuhnya memudahkan aku
melumat buah dadanya membuat ayunan pinggulnya semakin tidak terkendali,
tidak berapa lama kemudian tubuhnya kembali mengejang, Vini menekan
dalam-dalam kewanitaannya menelan seluruh batang kenikmatanku. "Renn..aku
keluarr lagi..AAKKHH.." teriak Vini, tubuhnya pun rubuh diatasku cairan
kenikmatannya kurasakan membasahi kejantananku.
Vini rebah diatasku tubuhnya bagai tidak bertulang, hanya desah napasnya
menerpa dadaku. Beberapa menit kemudian suaranya memecah kesunyian "Punya
kamu masih keras Ren..belum keluar?"
"Aku tidak ingin kenikmatan ini cepat berakhir" bisikku sambil mengecup
pipinya.
"Mmmhh.." Vini bergumam "Aku juga.."bisiknya sambil mengigit mesra
leherku lalu mengecup bibirku. Hanya beberapa saat, gigitan dan kecupan
mesra itu kembali menjadi pagutan birahi.
Kamar itupun kembali dipenuhi suara-suara erangan dan desahan kenikmatan
duniawi, kejantananku yang masih berada didalam kembali merasakan
bagaimana nikmat yang diberikan oleh kewanitaannya. Aku bangun sambil
mendorong tubuh Vini sehingga kami berada dalam posisi duduk, satu
tanganku memeluk punggungnya, tangan lain meremas-remas buah pantatnya
yang bulat padat. Gerakan-gerakan pinggulnya membuat rongga kenikmatannya
seakan melumat seluruh batang kejantananku, "Agghh..sshh.. Reenn.."
rintihannya membuat birahiku tambah memuncak. Kubalas gerakannya dengan
menggoyang-goyangkan pinggulku sambil kuhisap putingnya
dalam-dalam."Reenn..achh..shh..fuck me..hardd.."
Kurasakan gerakan tubuh Vini semakin menggila dan bukan cuma itu bibirnya
semakin mengganas memagut bahkan menggigit bibir, telinga dan leherku.
Akupun tidak sanggup lagi menahan kenikmatan yang diberikan oleh Vini,
kurebahkan tubuhnya dan segera menindihnya, kakinya melingkar di
pinggulku dan kamipun kembali mendaki puncak kenikmatan. Batang
kejantananku tak henti-henti menikam-nikam lubang kenikmatan Vini dengan
keras, Ia tidak tinggal diam, diputar-putar pinggulnya seirama
tikaman-tikamanku "Aghh..ngg..sshh..Vinn..nikmat sekali..putarr teruss
Vinn.."pintaku merintih-rintih. "Auugghh..Renn..tekan yang dalamm .."
kami tenggelam dalam gelimang birahi yang memuncak..dan.."Vini..akuu mau
keluar.."kurasakan kejantanku bertambah besar. "Yess..yess..I'm coming
too honey.." kami berpelukan dengan kuatnya dan secara bersamaan
mengejang. "AAKKHH..punya kamu enak sekalii Vinn.."pekikku, kutekan
dalam-dalam kejantananku dan cairan kenikmatanku pun menyembur keluar
membasahi relung-relung kewanitaannya, "Aauughh
Renn..nikmatt..sshhekallii..AAKKGGHH.." Kamipun terkapar lemas.
Setelah malam panjang yang indah itu kami tak henti-hentinya mengulangi
lagi di hari-hari berikutnya, bukan hanya di tempat tidur, tapi semua
sudut dikamar hotel itu bahkan kamar mandipun menjadi saksi bisu birahi
kami. Bandung kembali memberi coretan khusus dalam hidupku membuat
keterikatanku semakin besar yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup.
Tamat
Seorang temanku, namanya Rudy Manoppo, dia menghubungiku di handphone.
Dia lagi berada di hotel Menteng di Jalan Gondangdia lama bersama dua
orang ceweknya. Memang dia pernah janji padaku mau mengenalkan pacarnya
yang namanya Judith itu padaku, dan sekarang dia memintaku datang untuk
bertemu dengan mereka malam ini di sana.
Dalam perjalanan ke sana aku teringat dengan seorang cewek yang namanya
Judith juga. Lengkapnya Judith Monica. Sudah setahun ini kami tidak
pernah bertemu lagi, tapi masih sering menghubungi via telepon, terakhir
kali aku menghubungi dia waktu ulang tahunnya tanggal 29 September, dan
kukirimi dia kado ulangtahun. Dia adalah orang yang pernah begitu
kusayangi. Dalam hatiku berharap semoga dia menjadi isteriku. Wajahnya
mirip artis Dina Lorenza, tinggi 170 cm, kulitnya sawo matang. Pokoknya
semua tentang dia ini oke punya lah. Ibunya orang Jawa, sedangkan
bapaknya dari Sulawesi selatan. Dia sendiri sejak lahir sampai besar
menetap di Jakarta bersama orangtuanya.
Dulunya kami bekerja di satu perusahaan, Judith ini accountingnya kami di
kantor, sedangkan aku bekerja diatas kapal. Setiap pulang dari Jepang,
sering kubawa oleh-oleh untuk dia. Tetapi salah satu point yang sulit
mempersatukan kami adalah soal agama. Terakhir yang kutahu tentang Judith
ini dia batal menikah dengan cowoknya yang namanya Adhi itu.
Handphone-ku berbunyi lagi, rupanya dari Rudy, mereka menyuruhku masuk ke
dalam kamar 310, disitu Rudy bersama dua orang ceweknya. Aku disuruh
langsung saja masuk ke kamar nanti begitu tiba di sana. Aku tiba di sana
pukul sembilan tiga puluh malam dan terus naik ke atas ke kamar 310.
Seorang cewek membuka pintu buatku dan cewek itu hanya bercelana dalam
dan BH saja, dan aku langsung masuk. Rupanya Rudy sedang main dengan
salah seorang ceweknya itu, keduanya sama-sama telanjang dan lagi
seru-serunya berduel. Terdengar suaranya si cewek ini mendesah dan
mengerang kenikmatan, sementara Rudy mencium wajahnya dan lehernya. Aku
berpaling pada cewek yang satu lagi ini yang memandangku dengan senyuman
manis.
"Oom Errol ya..?" tegurnya sambil duduk di atas tempat tidur yang berada
di sebelahnya.
Aku hanya mengangguk dan membalas senyumnya. Bodynya boleh juga nih
cewek, hanya sedikit kurus dan imut-imut.
"Namanya siapa sich..?" tanyaku.
"Namaku Lina, Oom buka aja bajunya."
Lalu aku pun berdiri dan membuka bajuku, dan kemudian menghampirinya di
atas ranjang dan menyentuh punggungnya, sementara Lina ini terus saja
menonton ke sebelah. Si cewek yang lagi 'dimakan' Rudy rupanya mencapai
puncak orgasmenya sambil menggoyang pinggulnya liar sekali, menjerit dan
mendesah, dan kemudian Rudy pun keluar. Asyik juga sekali-sekali menonton
orang bersenggama seperti ini.
Sementara keduanya masih tergeletak lemas dan nafas tersengal-sengal, si
Lina ini berpaling kepadaku dan aku pun mengerti maksudnya, dan kami pun
mulai bercumbu, saling meraba dan berciuman penuh nafsu. Kini berbalik
Ricky dan ceweknya itu yang menonton aku dan Lina main. Secara kebetulan
aku balik berpaling kepada Ricky dan ceweknya itu, dan betapa kagetnya
aku melihat siapa cewek yang bersama Ricky itu. Masih sempat kulihat buah
dadanya dan puting susunya sebelum cepat-cepat dia menarik selimut
menutupi badannya. Aku langsung jadi 'down' dan bangun berdiri, dan
menegur Ricky sambil memandang si cewek itu yang masih terbaring. Dia pun
nampaknya begitu kaget, untung saja Ricky tidak melihat perubahan pada
air wajahnya.
"Hi Ricky.., sorry aku langsung main tancap nich." kataku, Ricky hanya
tertawa saja padaku.
"Gimana Roll, oke punya?" tanya Ricky sambil melirik Lina yang masih
terbaring di ranjang.
"Excellent..!" jawabku sambil berdiri di depannya tanpa sadar bahwa aku
lagi telanjang bulat dan tegang.
"Roll, kenalkan ini cewekku yang kubilang si Judith itu," ucap Ricky
sambil tangannya berbalik memegang kepalanya Judith.
Segera aku menghampirinya dan mengulurkan tanganku yang disambut oleh
cewek itu.
Kami berjabat tangan, terasa dingin sekali tangannya, dan dia menengok ke
tempat lain, sementara aku menatapnya tajam. Untunglah Ricky tidak sadar
akan perubahan diantara aku dengan cewek ini. Lalu si Judith ini bangun
sambil melingkari tubuhnya dengan handuk, kemudian berjalan ke kamar
mandi diiringi oleh tatapan mataku, melihat betis kakinya yang panjang
indah itu yang dulu selalu kukagumi.
Tidak sadar aku menarik nafas, terus Rudy mempersilakan aku dan Lina
kembali melanjutkan permainan yang tertunda itu. Kami kemudian melakukan
foreplay sebelum acara yang utama itu. Kulihat sekilas ke sebelah, Judith
sudah balik dari kamar mandi dan memperhatikan aku dan Lina yang sedang
bertempur dengan seru, Lina mengimbangiku tanpa terlalu berisik seperti
Judith tadi. Lina mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar dan kusodok
lubang vaginanya dengan penuh semangat. Maklumlah, dua bulan di laut
tidak pernah menyentuh wanita sama sekali.
Sampai akhirnya kami berdua pun sama-sama keluar, aduuh.. nikmatnyaa..
Kuciumi buah dada yang penuh keringat itu dan bibir-bibirnya yang tipis
itu, kulitnya benar-benar bersih mulus dan akhirnya kami terbaring
membisu sambil terus berpelukan mesrah dan tertidur. Waktu itu sudah jam
dua belas tengah malam.
Ketika aku terbangun, rupanya Lina tidak tidur, dia malah asyik
memandangiku. Kulihat ke sebelah, Rudy dan Judith masih terlelap, hanya
selimutnya sudah tersingkap. Rudy tidur sambil memeluk Judith dan
keduanya masih telanjang bulat. Paha Judith yang mulus sexy itu membuatku
jadi terangsang kembali dan terus saja memandangnya dari jauh.
"Dia cantik ya..?" lalu Lina berbisik padaku, aku hanya mengangguk kepala.
"Cantik, sexy.. tapi milik banyak orang.." tambah Lina lagi.
"Dia temanmu kan..?"
"Kita satu fakultas dulu, dan sama-sama wisuda, setahu gua dia dulunya
nggak suka main sama laki, tapi dia melayani tante-tante senang yang suka
nyari mangsa di kampus."
"Maksud kamu Judith itu lesbian..?"
"Yah gitu lah, tapi dia juga pacaran waktu itu, terakhir dulu gua dengar
dia lama main ama orang cina dari Hongkong."
"Bisa jadi dia pernah lesbong, soalnya liat tuh puting susunya udah besar
dan panjang lagi, kayak ibu-ibu yang pernah menyusui." kataku.
"Pak Rudy ini cuman salah satu dari koleksinya, dia juga suka main ama
orang bule dari Italy, terus dia juga ada main sama Pak XX (orang
penting)."
"Lina kok tau semuanya..?"
"Soalnya gua sering jalan bareng dia, kalo dia dapat order sering dia
bagi-bagi ama gua, orangnya paling baik juga sosial ama temen." sambung
Lina lagi.
Sementara Lina tidak tahu kalau aku dan Judith juga sudah lama kenal.
Tiba-tiba Judith menggerakkan badannya membuat bagian perutnya yang
tadinya terselimut kini terbuka, gerakannya itu membangunkan Rudy yang
melihat buah dadanya begitu menantang langsung mulutnya beraksi, dari
buah dada Judith turun terus ke bawah membuka lebar pahanya Judith dan
menjilati bibir vaginanya. Aku langsung bangun dan menghampiri ranjang
keduanya dan memperhatikan dari dekat Rudy menjilati bibir kemaluan
Judith dan menguakkannya. Nampak lubang kemaluan Judith yang memerah
terbuka cukup besar. Sementara bulu kemaluannya kelihatan seperti dicukur
bersih, licin seperti vagina seorang bayi.
Melihatku memperhatikannya dengan serius, Rudy lalu bertanya.
"Kamu suka Roll..? Kita tukaran aja sekarang, aku ama Lina."
Lalu Rudy bangun dan pindah ke ranjang sebelah, dan aku segera
menggantikan tempat Rudy tadi, tapi betapa terkoyaknya hatiku saat itu.
Benar-benar tidak pernah kukira akan mengalami pertemuan kembali yang
begini dengan Judith. Aku berbaring sambil mendekap tubuhnya pelan-pelan,
seolah takut jangan sampai dia terbangun. Mulutku melahap buah dadanya,
menghisap puting susunya yang besar dan panjang itu, tanganku pelan turun
ke bawah mengusap selangkangannya, terus memegang vaginanya sambil
mencium pipinya, mengulum bibir-bibirnya. Judith mendesah dan menguap
sambil menggerakkan badannya, tapi tidak bangun. Aku pun terus
melanjutkan aksiku.
Ketika dia berbalik tertelungkup, segera kupegang pantatnya dan
menguakkannya. Nampaklah lubang duburnya yang sudah terbuka itu, merah
kehitam-hitaman, kira-kira berdiameter satu senti. Tapi betapa hatiku
begitu penuh kasih padanya, pelan-pelan lidahku menjulur ke lubang
pantatnya itu dan kujilati pelan-pelan. Tiba-tiba Judith menggerakkan
pantatnya, rupanya terasa olehnya sesuatu yang nikmat di pantatnya. Aku
terus saja menjilatinya, lalu dia merintih dan menarik napas panjang dan
mendesah.
"Aduuhh.. enak Rudy, terus Sayang.. lidahnya terus mainkan.., duuh..
enaakk..!" desahnya pelansambil semakin kuat menggoyangkan pantatnya,
sementara rudalku sudah tegang sekali.
"Rudy.., jellynya.. jellynya dulu.. baru masukin yaa..!"
Aku tidak tahu dimana jellynya, lalu kuludahi saja banyak-banyak sampai
lubang duburnya itu penuh dengan ludahku dan kuarahkan rudalku ke arah
sasarannya, dan mulai menyentak masuk pelan-pelan.
"Aaacchh..!" dia mendesah.
Sekali hentak langsung masuk tanpa halangan, kudorong terus rudalku,
tangan kananku melingkari lehernya. Dia menarik napas panjang sambil
mendesah tertahan, sementara rudalku sudah semuanya masuk tertanam dalam
liang pelepasannya yang cengkeramannya sudah tidak terasa lagi. Tangan
kiriku memainkan klitorisnya, sambil mencium pipinya kemudian melumat
bibirnya. Berarti Judith ini sudah biasa disodomi orang, hanya lubangnya
belum terbuka terlalu besar. Aku mulai menarik keluar kembali dan
memasukkan lagi, dan mulai melakukan gerakan piston pelan-pelan pada
awalnya, sebab takut nanti Judithnya kesakitan kalau aku langsung main
hajar dengan kasar.
Aku tahu bila dalam keadaan normal seperti biasa, tidak akan pernah aku
dapat menyentuh tubuhnya ini. Selagi aku mengulum lidahnya itu, Judith
membuka matanya, terbangun dan kaget melihat siapa yang lagi
menyetubuhinya. Judith mau bergerak bereaksi tapi kudekap dia kuat-kuat
hingga Judith tidak mungkin dapat bergerak lagi, dan aku mulai menghentak
dengan kekuatan penuh pada lubang duburnya yang memang sudah dol itu.
Batang rudalku masuk semua tertancap di dalam lubang duburnya dan masuk
keluar dengan bebasnya menghajar lubang dubur Judith dengan
tembakan-tembakan gencar beruntun sambil mendekapnya kuat-kuat dari
belakang meremas payudaranya dengan gemasnya dan mengigit tengkuknya yang
sudah basah oleh keringatnya itu. Secara reflex Judith mengoyang
pinggulnya begitu merasakan batang kemaluanku masuk, dan mendesah
mengerang dengan suara tertahan. Keringat deras bercucuran di pagi yang
dingin itu. Seperti kuda yang sedang balapan seru, dia merintih lirih
diantara desahan napasnya itu dan mengerang. Judith semakin menggoyang
pantatnya seperti kesetanan oleh nikmat yang abnormal itu.
Sepuluh menit berlalu, lubang duburnya Judith rasanya sangat licin
sekali, seperti main di vagina saja. Dan Judith meracau mendesah dan
menjerit histeris, wajahnya penuh keringat yang meleleh. Kubalikkan
tubuhnya, kini Judith sudah tidak melawan lagi, dia hanya tergeletak diam
pasrah ketika kualasi bantal di bawah pantatnya. Dia mengangkat kedua
kakinya yang direntangkan dan memasukkan lagi rudalku ke dalam lubang
duburnya yang sudah terkuak itu. Seluruh batang rudalku basah oleh cairan
kuning yang berbuih, itu kotorannya Judith yang separuhnya keluar meleleh
dari lubang duburnya itu. Bagi orang yang tidak biasa dengan anal sex ini
pasti akan merasa jijik.
Kini wajah kami berhadapan, kupegang kepalanya supaya dia tidak dapat
berpaling ke kiri ke kanan. Dan kulumat-lumat bibir-bibirnya, sepasang
gunung buahdadanya terguncang-guncang dengan hebatnya, lehernya dan
dadanya basah oleh keringatnya yang bercampur baur dengan keringatku. Dan
inilah yang namanya kenikmatan surga. Pipi-pipinya telah memerah saga
oleh kepanasan. Aku semakin keras lagi menggenjot ketika mengetahui kalau
Judith mau mencapai puncak klimaksnya. Seluruh tubuhnya lalu jadi
mengejang, dan suaranya tertahan di ujung hidungnya, Judith ini
benar-benar histeris pikirku. Mungkin juga dia ini sex maniac.
Judith mulai bergerak lagi dengan napas yang masih tersengal-sengal
sambil mendesah.
"Terus ung.. teeruus.. aku mau keluar lagi..!" desahnya.
Benar saja, Judith kembali menjerit histeris seperti kuntilanak, seluruh
tubuhnya kembali mengejang sambil wajahnya menyeringai seperti orang
menahan sakit yang luar biasa. Butiran keringatnya jatuh sebesar biji
jagung membasahi wajahnya, peluh kami sudah bercampuran. Kupeluk
erat-erat tubuhnya yang licin mengkilap oleh keringat itu sambil
menggigit-gigit pelan daun telinganya agar dia tambah terangsang lagi.
Akhirnya dia jatuh lemas terkulai tidak berdaya seperti orang mati saja.
Tinggal aku yang masih terus berpacu sendiri menuju garis finish.
Kubalikkan lagi tubuh Judith tengkurap dan mengangkat pantatnya, tapi
tubuhnya jatuh kembali tertelungkup saja, entah apa dia sangat kehabisan
tenaga atau memang dia tidak mau main doggy style. Kuganjal lagi bantal
di bawah perutnya dan mulai menhajarnya lagi, menindihnya dari atas
punggungnya yang basah itu. Tapi keringatnya tetap berbau harum. Napasnya
memburu dengan cepatnya seperti seorang pelari.
"Aduh.. aduuh.. aku mau beol.. nich.. cepeet dikeluarin.. nggak tahan
nich..! Ituku udah mo keluar nich..!" desahnya.
Dadanya bergerak turun naik dengan cepatnya. Tapi aku tidak perduli,
soalnya lagi keenakan, kutanamkan kuat-kuat batang kemaluanku ke dalam
lubang pantatnya, dan menyemprotkan spermaku begitu banyaknya ke dalam
lubang analnya itu.
"Aduh.. aduuh.., aku mau beol.. nich.. cepeet nggak tahan nich.., udah mo
keluar nich..!" desahnya.
"Aaacchh.. aach..!" Judith menjerit lagi.
Ada dua menit baru kucabut batang kemaluanku. Dan apa yang terjadi, benar
saja kotorannya Judith ikut keluar bersama rudalku, dan menghambur
padaku. Terasa hangat kotorannya yang mencret itu. Hal itu juga
berhamburan pada seprei tempat tidur. Praktis kami berenang di atas
kotoran tinjanya yang keluarnya banyak sekali itu. Sementara aku lagi
menikmati orgasmeku, kudengar suaranya Judith seperti orang yang sedang
sekarat, dan napasnya mendengus. Anehnya aku sama sekali tidak merasa
jijik, walaupun aku dengan sudah belepotan oleh tinjanya.
Kami tetap saja berbaring diam sambil terus berpelukan. Napasnya masih
tersengal-sengal. Dadanya bergerak naik turun seperti orang yang
benar-benar kecapaian. Kucium pipinya yang basah oleh keringatnya, dan
menjilati keringat di lehernya yang putih mulus itu. Batinku terasa puas
sekali dapat mencicipi tubuh indah ini, walaupun dia ini hanya seorang
pelacur saja. Judith pun tetap berbaring diam tidak bergerak walaupun
semua bagian bawah tubuhnya sudah berlumuran oleh tinjanya. Dia
sepertinya sudah seperti pasrah saja atas semua yang sedang terjadi pada
dirinya. Bola matanya menatap kosong ke dinding kamar. Aku membalikkan
kepalanya agar menatapku, terus kuhisap bibirnya pelan dan mencium di
jidatnya. Tampak senyum di wajahnya, dia seperti senang dengan sikapku
ini. Dia menatapku dengan wajah sayu dan letih.
"I love you Judith.." ucapku tanpa sadar.
Dia hanya mendengus, menggerakan hidungnya yang mancung itu sambil bola
matanya yang hitam bening itu menatapku tajam. Kucium lagi pipinya.
"Judith.., dari dulu aku tetap cinta kamu.." bisikku di telinganya.
"Walaupun harus hidup dengan berlumuran tinja seperti ini..?" jawabnya
seperti menyindirku.
"Kita mesti keluar dari kubangan tinja ini Judith..," kataku, "Kita
bersihkan tubuh kita dan kita memulai hidup kita yang baru."
Dia tidak menjawab, malah mendorongku ke samping dan dia melompat bangun
bergegas menuju kamar mandi diiringi suara ketawa dari Rudy dan Lani.
Sisa-sisa kotoran di bokong pantatnya itu mengalir turun di paha dan
betis kakinya dan ruangan itu telah dipenuhi oleh bau kotoran yang keluar
dari dalam perutnya Judith ini. Aku pun berlari ke kamar mandi dan
membantu Judith membersihkan badannya dengan air dan bantu dia menyirami
tubuhnya dan menyabuni seluruh tubuhnya sampai ke selangkang dan
kemaluannya terus sampai pada lubang pantatnya semua kusabuni dan kubilas
sampai benar-benar bersih. Barulah kemudian aku mandi. Judith nampaknya
senang dengan perlakuanku yang mengistimewakan dirinya itu, dan dia pun
membantuku mengelap badanku dengan handuk.
Kemudian kami kembali ke kamar, aku menarik keluar seprei yang telah
penuh dengan kotoran itu, membungkusnya dan melemparnya ke kamar mandi.
Judith duduk di kursi mengawasiku bekerja sambil senyum-senyum malu. Aku
menatap tubuhnya yang tinggi atletis ini dengan penuh rasa pesona dan
syukur. Namun sama sekali tidak kusanga bahwa nanti dalam waktu yang
tidak lama lagi dia akan menjadi isteriku. Dan sedikitpun aku tidak
menyesal memperisteri Judith, sekalipun dia itu hanyalah seorang bekas
wanita nakal, bekas ayam kampus.
Kami kembali lagi ke atas tempat tidur dan berusaha untuk tidur, padahal
hari sudah pagi. Kami tidur berpelukan. Dia menyembunyikan kepalanya di
dalam dadaku yang sedang bergemuruh dengan hebatnya itu, dan kami
terlelap dalam tidur. Aku hanya dapat tertidur beberapa saat saja,
kemudian sudah terbangun lagi, di sampingku Judith masih tertidur lelap,
mungkin sebab saking capeknya dia ini. Pelan aku bangun untuk duduk
sambil memperhatikan dia dalam ketidurannya, di bibirnya tersungging
senyum, sepertinya dia merasa bahagia dalam hidup ini. Rambutnya yang
lebat hitam panjang itu tergerai di atas bantal.
Pelan kusingkap kakinya hingga terbuka lebar, dan tanganku mengusap
pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Benar-benar merangsangku paha
mulus yang bersih ini. Menguakkan bibir vaginanya yang telah ke
biru-biruan itu pertanda bahwa dia telah banyak sekali melakukan
persetubuhan. Dan kulihat lubang vaginanya yang telah terbuka menganga
seperti lubang terowongan turun ke dalam rahimnya. Lalu kujulurkan
lidahku untuk membuka vaginanya itu dengan penuh perasaan. Kujilati juga
klitorisnya, membuatnya jadi tergerak mungkin oleh rasa enak di
klitorisnya itu. Tapi hanya sampai disitu saja. Aku tidak tega untuk
membangunkannya dari kelelapan tidurnya yang manis itu.
Siangnya kami checked out dari Hotmen itu. Dalam mobil aku dan Judith
duduk di belakang. Dia tidak pernah berbicara sampai kami tiba di depan
rumahnya Lina di Tebet timur, keduanya turun di sini, padahal Judith
rumahnya di jalan Kalibata utara.
Setelah berlalu dari situ, aku bertanya kepada Rudy kenapa tidak membayar
keduanya. Rudy bilang biasanya uangnya itu di transfer ke rekening
keduanya masing-masing. Dan esoknya hari Senin aku mentransfer uang ke
rekening Judith sebesar lima ratus ribu rupiah. Kenangan manis yang tidak
terlupakan bagiku.
TAMAT
Anda mungkin sudah membaca pengalaman seks saya yang ditulis oleh suami
saya. Nama saya WR dan sekarang ini saya yang bercerita. Pengalaman seks
saya ini masih berkelanjutan. Dengan tidak sengaja saya bertemu dengan
eks pacar waktu masih SMA. Inipun karena salah satu teman baru saya kenal
baik dengan eks pacarku.
Suatu malam sepulang kita dari kerja, HS menelepon saya dan bertanya
apakah saya bisa bertemu dengan dia untuk makan malam. Ah, mengajak saya
untuk saya pergi makan malam, kita akhirnya pergi makan di sebuah
restaurant di bilangan Sudirman. Tempatnya cukup ramai dan kita duduk
disatu sudut dari restaurant itu. Sambil makan kita minum wine, dan ini
adalah salah besar karena saya gampang tipsy kalau minum white wine,
lumayan juga kita minumnya. Setelah selesai makan, HS bertanya apa saya
harus langsung pulang, saya bilang tidak! asalkan tidak terlalu malam.
Waktu kita naik lift untuk turun, HS menekan tombol di salah satu floor
dan kita keluar menuju salah satu kamar. Rupanya HS sudah check-in lebih
dahulu. Di kamar HS langsung mencium saya dan membuka baju saya, payudara
saya diremas-remasnya dan ini membuat saya mengelinjang keenakkan. Dia
terus mencium dan menjilat puting saya, dikulum dan dihisap-hisap oleh
HS. Kemaluan saya sudah terasa basah dan kepala saya sepertinya setengah
mengambang karena wine tadi.
HS kemudian merebahkan saya di tempat tidur dan ia melepaskan baju dan
celananya. CD saya dilepas juga bra saya, saya sudah telanjang bulat. HS
bilang dia senang lihat kemaluan dan rambut kemaluan saya. Saya mempunyai
rambut kemaluan yang tebal tapi sering saya rapihkan karena AA senang
dengan bulu yang rapih. Kemaluan saya sudah semakin basah, dan HS mulai
memainkan jarinya di kemaluan saya, klit saya dielus elusnya dan jarinya
masuk ke dalam kemaluan saya. Gerakan jari HS saya sambut dengan
menggoyangkan pinggul saya mengikuti irama jari HS. Cairan dari kemaluan
saya sampai meluber ke paha dan kena ke sprei. Saya sudah sangat
terangsang dan penis HS saya pegang, penis HS sangat kecil di bandingkan
dengan penis-penis yang pernah saya rasakan. Tapi apa boleh buat, yang
ada sekarang adalah penis HS. Saya berusaha membuat penis HS menjadi
keras. Yang penting bisa keras, jadi bisa saya masukkan ke dalam kemaluan
saya.
Saya terus mencium HS dan turun keputingnya, saya hisap dan mainkan lidah
saya, banyak cowok yang merasa geli dan senang kalau dihisap putingnya,
sama saja seperti kita para wanita. HS juga tidak terkecuali, dia
menikmati hisapan saya dan penisnya menjadi keras. Perlahan-lahan saya
mencium badan HS dan akhirnya sampai juga kepenisnya yang kecil itu, saya
hisap dan masukkan semua ke dalam mulut saya. Seluruh penis HS masuk
kedalam mulut saya dan mengulumnya sangat mudah bagi saya. HS mengerang
dan kepalanya goyang kekiri dan kanan, sepertinya dia senang kalau
penisnya saya hisap. AA paling senang kalau penisnya saya hisap, rata
rata laki-laki yang tidur dengan saya senang dengan cara saya menghisap
penis. AA selalu bilang kalau saya selalu kasih the best blow job. Memang
AA sudah tidur dengan beberapa wanita dan beberapa wanita itu saya kenal.
Cemburu sih sebetulnya kalau dengar atau tahu AA tidur bersama wanita
lain. Rasanya mau marah saja, tapi kalau saya yang tidur dengan laki-laki
lain sih lain lagi ceritanya.
HS kemudian menarik saya ke atas sampai badan saya berada di atasnya dan
kemaluan saya pas di bibirnya, rupanya dia ingin menjilat kemaluan saya.
Saya tekan kemaluan saya ke bibirnya dan saya gosok-gosokkan di atas
mulutnya. HS mencoba mencari klit saya, tapi saya punya klit sangat
kecil, ini menurut AA, jadi sama dong saya dan HS. Cukup lama HS menjilat
kemaluan saya, setelah itu dia merebahkan saya dan naik ke atas badan
saya, paha saya dibuka dan penisnya diarahkan ke kemaluan saya, basah
sekali kemaluan saya dan saya sudah sangat horny. Kaki saya, saya angkat
ke atas bahu HS, ini membuat kemaluan saya terbuka dengan lebar. HS
mendorong penis kecilnya ke dalam kemaluan saya dalam satu gerakan,
dorongannya sangat keras, kuat dan dalam dalam. Saya berusaha mengecilkan
kemaluan saya tapi agak sulit, karena penisnya terlalu kecil dan kemaluan
saya sudah dilewati oleh tiga anak dan beberapa penis yang besar. Salah
satunya sekitar 13 inchi dengan diameter kira kira 7-8 centi. Tekanan
dari penis HS cukup memberi gesekan ke klit saya yang membuat saya tambah
terangsang dan basah, beberapa kali penis HS terlepas dari kemaluan saya,
terlebih lebih kalau dia mengangkatnya telalu jauh, atau saya menurunkan
pinggul saya terlalu dalam.
Satu hal yang saya tidak harapkan adalah keluar dengan penis yang sekecil
ini. Penis yang besar saja saya tidak bisa keluar apalagi penis kecil
segini saya rasa tidak lebih dari 5 centi. Ternyata gesekan HS membuat
darah saya berputar lebih cepat, dan juga dampak dari wine menambah
rangsangan ke klit saya, saya merasakan darah saya terpusat dikemaluan
saya dan klit saya terasa membengkak, demikian juga kemaluan saya. Tidak
lama kemudian saya keluar, pinggul saya dorong ke atas kuat-kuat, waktu
tekanan bertambah saya mulai mengeluarkan erangan dan saya peluk HS
kuat-kuat sambil bilang ke dia kalau saya akan keluar, tahu kalau saya
mau keluar, HS bersemangat, penisnya ditekan keras-keras ke kemaluan saya
dan air mata keluar dari sudut mata saya, biasanya kalau saya keluar
dengan nikmat saya suka keluar air mata, jadi yang keluar bukan dari
bawah saja tapi air mata saya juga menetes keluar. Yang aneh saya nggak
pernah merasakan seprerti orang lain cerita kalau banyak sekali cairan
keluar dari lubang kemaluan, lebih-lebih kalau laki-laki yang cerita
pasti mereka berbohong, memangnya ini penis yang bisa mengeluarkan sperma.
Saya cium HS sambil merasakan gelombang orgasme saya, rasanya nikmat
sekali dan sangat menyenangkan, benar-benar di luar dugaan saya. Saya
mencoba membuat HS keluar, tapi tidak bisa, akhirnya HS mencabut penisnya
dan memasukkan kedalam mulut saya. Kalau AA tahu pasti nanti dia minta
saya hisap penisnya setelah masuk kekemaluan saya. Penis HS terus saya
hisap dan hisap, ketika HS hampir keluar, dia cabut dan memasukkan
kembali kekemaluan saya dan HS mengeluarkan spermanya ke dalam kemaluan
saya. Anehnya saya tidak merasakan apa-apa. Biasanya terasa di dinding
dalam kemaluan saya. Tapi kali ini tidak terasa apa-apa. Saya tanya apa
HS sudah keluar dan dia bilang sudah, memang kalau dia keluar hanya
sedikit saja tapi kali ini katanya sih sangat nikmat, malahan yang
terenak, saya hanya bisa bilang gombal. Setiap laki-laki yang tidur
dengan saya selalu bilang kalau kemaluan saya yang terenak, padahal
mereka bilang begitu ke setiap kemaluan yang dia singgahi.
HS kemudian tertidur di dada saya, penisnya mengecil dan lepas dari
kemaluan saya. Waktu HS bangun, saya sih nggak bisa tidur sama sekali. HS
berusaha untuk memulai kembali tapi sepertinya sih nggak mungkin. HS
minta maaf kalau penisnya kecil dan spermanya sedikit. Saya hanya bilang
nggak apa-apa. Waktu HS ke kamar mandi, kira-kira jam 9.45 malam saya
telepon AA di rumah dan bilang kalau saya baru saja selesai dikerjain
oleh HS dan rasanya nikmat, cuma penisnya kecil sebentar lagi saya
pulang. Jam 10 malam saya sampai di rumah dan AA sudah menunggu saya
pura-pura tidur di kamar, Saya belaga tidak tahu kalau dia cuma
pura-pura, saya taruh kemaluan saya di mulutnya dan menekannya ke
bibirnya seperti waktu sama HS di hotel. Kemaluan saya basah sekali dan
pasti bau sperma dan keringat kita berdua, tapi setahu saya ini yang
disukai oleh AA, AA pura pura terbangun dan mulai menjilat kemaluan saya,
jarinya dimasukkan ke dalam kemaluan dan pantat saya, dengan mudah AA
memasukkan jarinya kelubang pantat saya, karena dari tadi sudah basah
karena kemaluan saya.
Saya suka kalau AA memasukkan jarinya kelubang pantat saya waktu dia
tidur atau mainkan kemaluan saya. Rasanya nikmat sekali, seperti
disetubuhi oleh dua orang. Penis AA kelihatannya sudah keras sekali dan
menonjol dari dalam celana pendeknya. Saya keluarkan dan mengelus-elus
penis AA, sambil menceritakan apa yang terjadi di hotel tadi. Ini membuat
AA tambah buas dan benar-benar menjilat kemaluan saya. Penis AA saya
hisap dan melakukan persis seperti apa yang saya lakukan ke HS. AA
mengerang dan berusaha menekan penisnya lebih dalam lagi, tapi tidak
mudah bagi saya karena penisnya lumayan besar, saya sepertinya masih
harus belajar deep throat dulu nih. Setiap AA mengerang saya hisap
penisnya lebih keras seperti apa yang saya lakukan ke HS, akhirnya saya
pindahkan badan saya dan memasukkan penis AA ke dalam kemaluan saya.
Sambil menceritakan bagaimana HS tiduri saya. Cerita ini membuat AA lebih
hot dan akhirnya AA bilang kalau dia mau keluar, kita akhirnya keluar
bersamaan dan rasanya nikmat sekali, air mata saya juga keluar bersamaan
dengan orgasme saya. Hampir setiap kali AA dan saya keluar bareng dan
kita selalu menanyakan seenak apa orgasme kita saat itu. Kalau tidak enak
kita bisa bilang dengan terus terang tanpa takut menyinggung perasaan
partner kita. Inilah keterbukaan antara kita berdua jadi kita benar-benar
bisa menikmati seks dengan penuh.
AA memang sangat spesial karena dia bisa menahan cemburu waktu saya tidur
dengan orang lain. Jarang sekali ketemu dengan orang seperti dia
lebih-lebih orang Indonesia. Saya rasa AA pasti akan nulis lagi tentang
saya dengan pria lainnya. OK.
TAMAT

Aku kenal Benny dari kedua kakakku (Biasanya aku memanggilnya Bey).
Mereka berteman ketika mereka berada di luar negri. Wajah Asianya yang
kecoklatan dan tubuhnya yang atletis, membuatku terpana waktu pertama
kali aku di perkenalkan. Aku sering pergi bersama mereka, dia dan kedua
kakakku. Dari hanya sekedar duduk di cafe ataupun berlibur ke luar
daerah. Biasanya, kedua kakakku selalu membawa pacarnya masing-masing,
sementara Bey selalu menemaniku kemanapun kami pergi.
Lama kelamaan, kami menjadi sangat akrab. Kami berbincang bebas, dari hal
yang biasa, hingga hal yang bisa membuat darah berdesir karena nafsu.
Suatu ketika kami berbincang di Yahoo Chating. Pembicaraan mulai mengarah
ke hal-hal yang membuat nafsu kami mulai naik.
"Zi.. Sepertinya lo kaya gue ya.. MLT (Manusia Libido TInggi)" katanya
tiba-tiba.
"Bisa aja.. Emangnya lo gitu?" Tanyaku.
"Yah.. Gue kalau sudah Horny, bisa coli 2 kali sehari! Kaya minum obat
ya?" Jawabnya.
"Haah? Gila! 2 Kali sehari? wah.. Gila! Tapi.. Gue juga kalau lagi mau
mens juga gitu! Kadang.. Bisa tiap hari masturbate dikamar" Ujarku.
"Gila juga.. terus kalau masturbate, pake apaan? Kenapa nggak ngajak Ale
aja?" Tanyanya.
"Kalau lagi ada dia sih enak.. Tapi kalau Ale lagi keluar negri, bisa
lama dia baru pulang. Dan dia kemaren sudah berangkat lagi ke LA, padahal
baru pulang minggu lalu! Sekarang kalau gue horny, yah.. Paling
masturbate!" Jawabku panjang.
Setelah jeda sekian menit.
"Zi.. Gue mau tanya, sebelumnya mohon maaf sebesar-besarnya.. Dan tolong
jangan benci gue dan tolong lupakan hal ini kalau elo enggak mau.. Please
janji.. Gue mau tanya.. kalau ada kesempatan.. Elo bisa percaya gue
sebagai teman elo.. Elo mau enggak lakukan ini dengan gue? Sekali lagi
mohon maaf banget sebesar-besarnya telah menanyakan ini ke elo.. Soalnya
gue bener-benar bingung.. Gue enggak tahu harus gimana dan harus bicara
ke siapa.. Mudah-mudahan elo bisa pahami.. Dan sekali lagi maafkan gue.."
Tanyanya.
'Apa?' Pikirku. Agak lama aku memikirkannya. Sudah beberapa kali ia
memanggilku di window itu. Tapi tetap aku tidak menjawabnya. Memang aku
sudah cukup dekat mengenalnya. Akupun sering membayangkannya ketika aku
masturbasi. Tapi.. Untuk ML sama dia?
"Zi.. Kamu dimana? Sory deh kalau kamu tersinggung.. Sory Zi.. Zi..
Jangan marah ya.. Gue cuma ingin melampiaskan apa yang ada dalam pikiran
gue. kalau lu nggak berkenan.. Lupain aja deh Zi kalau gue pernah nanya!"
Ketiknya.
Setelah agak lama aku membiarkannya, akhirnya aku memutuskan untuk
menjawabnya.
"Bey.. Gue nggak marah kok! Cuma kaget aja!"
"Eh.. Bey.. Gue harus offline dulu neh! Ada kerjaan yang harus gue
kerjain! Nanti gue telepon deh! bye.."
Hubungan langsung kututup. Seketika kumatikan koneksi internetku. Tak
lama, tiba-tiba HP ku berbunyi. Ada SMS masuk! 'Nanti malem aku telpon ya
say!' sebuah pesan singkat dari Bey. Sekitar jam 10 malam, aku
mengirimkan SMS ke Bey, yang mengatakan bahwa aku sudah bisa diajak
bicara. Tak berapa lama ia menelponku.
"Zi.." Ucapnya pelan.
"Biasa aja lagi Bey.. Gue nggak papa kok! Gue cuma kaget doang. Emangnya
lo sudah ngebet banget ya?" Tanyaku.
"Iya nih Zi.. Dari pada gue main sama orang yang nggak jelas.. Gue ingin
banget main sama lo!" Ujarnya polos.
"Iya sih.. Gue juga lagi ingin banget.. sudah gitu Ale pas nggak ada!"
"Boleh.. Kapan?" tanyaku.
"Asyik!! Besok kan libur tuh.. Lo gue jemput deh.. Kita ngingep di hotel.
Yah?" Katanya kegirangan.
"Lo paling suka diapain?" Tanyanya kemudian.
"Gue.. Wah.. Banyak deh! Di oral juga suka banget! Biasanya kalau
foreplay paling enak tuh di oral dulu" Jawabku.
"Gue janji bakalan bikin lo puas deh!! Gue kan juga nggak kalah sama
Ale!" Ujarnya.
"Bukti dulu! baru ngomong!" Sahutku.
Setelah agak lama berbincang, kami pun berpisah dari udara. Aku segera
mempersiapan diri. Mencukur bulu memekku sampai mulus.
*****
Besoknya, aku dijemput Bey jam 5 sore di rumahku dengan motor Tiger
merahnya, kemudian kami meluncur ke sebuah Hotel mungil yang aku sendiri
tidak begitu mengenal daerahnya. Bey mendaftarkan untuk memperoleh sebuah
kamar. Aku mengikutinya dari belakang menuju kamar kami. Sesampainya di
kamar, aku segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badanku. Tak
berapa lama setelah aku menanggalkan pakaian dalamku dan hanya mengenakan
kaosku yang longgar, Bey mengetuk pintu kamar mandi. Waktu kubuka,
ternyata disana ada Bey yang hanya mengenakan celana dalam berwarna biru
mudanya. Sepertinya celana itu menyimpan benda yang terlalu besar untuk
dimasukkan didalamnya.
Bey langsung mencium bibirku dan memainkan lidahnya ganas dalam mulutku.
Aku tidak mau kalah, akupun memainkan lidahku ke dalam mulutnya. Nafas
kami berdua semakin memburu. Tangannya yang satu meremas-remas tetekku
dan memainkan putingnya dan lainnya mengorek-ngorek memekku dengan
jarinya. Tanganku pun tak tinggal diam. Aku meletakkan telapak tangan
kananku diatas gundukan dicelananya, meremas-remasnya sedikit dan
mengocoknya dari luar. Terasa seperti ada darah yang panas naik di
punggungku, mendidih semua darahku oleh nafsuku. Yang ada dalam benakku
saat itu hanyalah mewujudkan impianku selama ini untuk merasakan apa yang
ada dibalik celana dalamnya, yang selama ini menghantuiku.
Aku menyandarkannya pada tembok kamar mandi dan mulai menjilati lehernya,
kemudian semakin ke bawah, ke arah putingnya. Dadanya yang bidang dan
ujung putingnya yang mungil, membuatku gemas ingin menggigitnya. Kuputar
putar lidahku disekeliling putingnya kemudian menghisapnya kuat. Kudengar
desahan halus dari mulut Bey menandakan ia juga menikmatinya, membuatku
semakin bersemangat. Perlahan, lidahku menuju celana dalamnya yang berisi
benda yang tadinya agak lembek, sekarang sudah sangat keras sekali.
Pertama kucium bagian itu dengan mesra dari luar celananya, perlahan
kubuka celana dalamnya itu, dan kontolnya mencuat seperti terbebas dari
sangkar celana dalamnya. Batangnya yang panjang sekitar 16 cm dan sungguh
tebal sekitar 5,5 cm itu membuatku terpana sebentar. Panjangnya memang
tidak sepanjang milik Ale, tapi.. Sangat tebal!
Aku mulai menghisap bola bolanya dibagian bawah, kemudian menjilat dari
bawah ke ujung kontolnya. Kepala kontolnya yang mengkilat karena sudah
basah oleh larutan pelumasnya, kumasukkan dengan segera ke dalam mulutku.
Terasa penuh, tapi aku ingin mereguk semua kontolnya hingga sampai ke
dalam tenggorokanku. Desahan Bey semakin kuat menandakan ia juga
menikmatinya. Kukocok kontolnya itu dalam mulutku dengan irama kadang
cepat, kadang lambat. Sambil kuputar-putar tanganku yang menggenggam
batang yang tersisa diluar mulutku sambil meremasnya perlahan. Semakin
cepat aku menghisapnya, semakin Bey mendorong kepalaku supaya kontolnya
masuk sepenuhnya dalam mulutku. Tiba tiba, ia menarik badanku dan
mebalikkan badanku hingga menghadap tembok. Ia menarik pantatku hingga
aku sedikit menungging. Terasa ada benda tumpul yang mulai
menyodok-nyodok memekku yang sudah basah. Dalam satu kali tusukan yang
keras, Bey menghujamkan kontolnya ke dalam memekku.
"Ssshh.. Aaahh.. Beeyy.." Jeritku saat itu.
Sebentar ia membiarkan kontolnya diam dalam memeku. Tangan kanannya
mengusap-usap klitorisku dari depan, sementara yang satunya meremas
tetekku. Ia mencium pundak dan leherku bagian belakang, membuatku semakin
merinding. Perlahan ia mulai mengocok kontolnya dalam memekku. Terasa
penuh dan sulit untuk digerakkan. Dinding memekku seakan ditarik-tarik
keluar. Aku merapatkan pahaku, hingga benar-benar terasa kontolnya yang
besar itu mengacak-acak memekku. Ia mengocoknya semakin kuat, dengan
tusukan-tusukan yang dalam.
"Beeyy.. Eeennaakk.. Ssayy.. Aahh.. Teruuss.. Llaggii Beey.. Ah.. Aahh..
Ssshh.." aku mulai ngelantur.
Tiba-tiba terasa perutku bagian bawah mulai mengejang, otot-otot memekku
mulai bergetar, pahaku mulai tidak kuat merasakan ledakan nafsu dalam
tubuhku. Aku menjerit semakin kuat memanggil namanya.
"Beeyy.. Aaahh.."
Terasa otot-otot memekku berkedut keras, meremas kontol Bey yang masih
tertanam didalamnya. Bey memegang pinggangku, menjagaku agar tidak
terjatuh. Ia mengeluarkan kontolnya, dan mendudukkanku diatas toilet.
Kontolnya masih berdiri tegak, berdiri persis di depan mataku. Kontol
yang ada di depan mataku itu, langsung saja kuhisap. Kumainkan dalam
mulutku. Terasa sangat penuh, tapi nikmat sekali. Kembali aku memainkan
lidahku di kepala kontolnya, membuat Bey mendesah desah perlahan, tanda
ia sangat menikmatinya. Sesekali ia mendorong kepalaku hingga kontolnya
masuk lebih dalam ke dalam mulutku. Semakin cepat aku mengocoknya.
"Aaahh.." Tiba tiba ia mendesah, bersamaan dengan itu, spermanya
berhamburan dalam mulutku, terasa beberapa kali semprotan yang kuat ke
dalamnya. Kutelan semua spermanya hingga tidak tersisa sedikitpun,
kemudian kujilat seluruh kontolnya dan kukulum dalam mulutku.
Setelah aku beristirahat sebentar, kembali aku menghisap kontolnya hingga
kembali bangun dan berdiri tegak. Bey menyalakan air hangat dari shower
dan menyemprotkan ke memekku. Ia mengelus-elusnya perlahan. Aku membuka
pahaku supaya ia bisa lebih leluasa. Ia mengambil sabun khusus untuk
memekku, dan mengusap usapnya hingga berbusa, memainkan jarinya disana
kemudian setelah bersih, ia kembali membilasnya dengan air hangat.
Setelah aku mendapatkan kembali kekuatanku, kami keluar dari kamar mandi
dan berbaring di tempat tidur. Kami kembali berciuman mesra. Dari hanya
berciuman biasa, aku mulai memainkan lidahku dalam mulutnya. Bey mulai
naik diatasku dan mulai menciumi sekujur tubuhku. Dari telingaku,
leherku, putingku tidak ada yang terlewatkan. Lidahnya yang hangat,
menjelajahi daerah-daerah sensitifku dengan sempurna. Benar-benar
membuatku sangat bernafsu. Tak berapa lama, lidahnya mendarat di memekku.
"Ahh.. Ssshh.." Desahku keenakan.
Lidahnya mulai memainkan lubang memekku, kadang menghisap bibir memekku,
kemudian tiba-tiba menusukkan lidahnya yang hangat itu dalam memekku,
membuatku serasa melayang. Ia menghisap-hisap lubangku, seperti difakum
rasanya. Sungguh nikmat tiada tara. Berbeda dengan ketika ia menusukkan
kontolnya, kali ini, terasa kecil tapi sangat lembut dan menggelitik.
Memekku dibuatnya gatal, terasa ada cairan yang mengalir keluar dari
lubang memekku, tapi dengan segera ia menjilatnya hingga bersih. Semakin
lama semakin nikmat rasanya. Aku mendesah sangat kuat karena keenakan.
Terasa ada desakan dari dalam memekku, membuatku semakin menggelinjang.
Aku mulai merapatkan pahaku, taktahan aku menahan gejolak dalam dadaku.
"Ahh.. Beeyy.. Eennakk.. Aaahh.. Bey.. Keluar.. Beyy.. Beeyy.."
Aku meracau tak jelas, ketika memekku mulai berkedut, dan mengeluarkan
cairan kenikmatan dari dalam.
"Gila Bey.. Lidah lo! Kontol lo! Enak banget! Ahli banget sih lo! Belajar
dimana?" Ujarku sambil mengelus kepalanya yang masih di memekku. Kuliahat
bibirnya belepotan cairan cintaku. Ia kemudian menjilatnya hingga bersih,
kemudian ia menciumku mesra.
Ia terlentang disebelahku, masih dengan kontolnya yang berdiri tegak.
Ternyata sampai tadi, ia belum juga mengendurkan otot-otot kontolnya. Aku
duduk diatasnya, dan membimbing kontolnya masuk dalam memekku. Aku
menurunkan pantatku.
"Ughh.." desahku, merasakan kontolnya yang panjang itu masuk ke dalam
memekku. Menekan peranakanku. Perlahan aku memutar mutar pantatku,
sementara ia sekali sekali menusukkan kontolnya ke dalam memekku dengan
menyentakkan pantatnya, membuatku semakin melayang. Segala arah kucoba,
semakin aku tergila gila dengan kontolnya. Dari berputar putar, maju
mundur, bahkan naik turun seperti mengendarai kuda. Ya, aku seperti
mengendarai kuda jantan yang kuat. Memekku terasa diobok obok, diaduk
aduk. Aku berpegangan dengan kepala tempat tidur supaya aku bisa lebih
kuat menggoyang pantatku.
Plok.. Plok.. Plok.. bunyi setiap kali pahaku beradu dengan pahanya.
Sesungguhnya aku sudah semakin tidak kuat menahan kenikmatan itu, otot
dalam memekku terasa sangat tegang, mengikat kuat kontol yang tertanam
didalamnya.
"Aaahh.. Beeyy.. Akkuu mauu keluaarr.. Beeyy.." Aku meracau merasakan
kenikmatan yang tiada tara.
"Bareng sayy.. Aaahh.." Terasa kedutan keras di batangnya, menandakan ia
telah mengeluarkan spermanya dalam memekku.
Aku tetap duduk diatasnya sebentar. Taklama kukeluarkan kontolnya yang
sudah sedikit lemas. Aku mulai mengulum kontolnya yang sudah sedikit
menciut. Ternyata sekalipun begitu, tidak muat sepenuhnya dalam memekku.
Hmm.. Akhirnya impianku tercapai mendapatkan kontolnya yang besar itu.
Tamat
Belum lama ini saya bergabung dengan sebuah perusahaan eksportir fashion
ternama di kotaku. Dan anak gadis pemilik perusahaan itu, Dewi namanya,
baru lulus sekolah dari Singapore, umurnya sekitar 23 tahun, cantik dan
waktu masih SMA sempat berprofesi sebagai model lokal. Nah, Dewi itu
ditugaskan sebagai asisten GM (yaitu saya), jadi tugasnya membantu saya
sambil belajar.
Singkat cerita, Dewi semakin dekat dengan saya dan sering bercerita.
"Nico, cowok tuh maunya yang gimana sih. Ehm.., kalo di ranjang maksud
gue.."
"Nic, kamu kalo lagi horny, sukanya ngapain?"
"Kamu suka terangsang enggak Nic, kalo liat cewek seksi?"
Yah seperti itulah pertanyaan Dewi kepadaku.
Terus terang percakapan-percakapan kita selang waktu kerja semakin intim
dan seringkali sensual.
"Kamu pernah gituan nggak, Wi..?, tanyaku.
"Ehm.. kok mau tau?", tanyanya lagi.
"Iya", kataku.
"Yah, sering sih, namanya juga kebutuhan biologis", jawabnya sambil
tersipu malu.
Kaget juga saya mendengar jawabannya seperti itu. Nih anak, kok berani
terus terang begitu.
Pernah ketika waktu makan siang, ia kelepasan ngomong.
"Cewek Bali itu lebih gampang diajakin tidur daripada makan siang",
katanya sambil matanya menatap nakal.
"Kamu seneng seks?", tanya saya.
"Seneng, tapi saya enggak pandai melayani laki-laki", katanya.
"Kenapa begitu?", tanya saya lagi.
"Iya, sampe sekarang pacarku enggak pernah ngajak kawin. Padahal aku
sudah kepengen banget."
"Kepengen apa?", tanyanku.
"Kawin", katanya sambil tertawa.
Suatu ketika ia ke kantor dengan pakaian yang dadanya rendah sekali. Saya
mencoba menggodanya, "Wah Dewi kamu kok seksi sekali. Saya bisa lihat tuh
bra kamu". Ia tersipu dan menjawab, "Suka enggak?". Saya tersenyum saja.
Tapi sore harinya ketika ia masuk ruangan saya, bajunya sudah
dikancingkan dengan menggunakan bros. Rupanya dia malu juga. Saya
tersenyum, "Saya suka yang tadi."
Suatu ketika, setelah makan siang Dewi mengeluh.
"Kayaknya cowokku itu selingkuh."
"Kenapa?", tanyaku.
"Habis udah hampir sebulan enggak ketemu", katanya.
"Terus enggak.. itu?", tanyaku.
"Apa?"
"Itu.. seks", kataku.
"Yah enggak lah", katanya.
"Kamu pernah onani enggak?", tanyaku.
Dia kaget ketika saya tanya begitu, namun menjawab.
"Ehm.. kamu juga suka onani?"
"Suka", jawabku.
"Kamu?", tanyaku.
"Sekali-sekali, kalo lagi horny", jawabnya jujur namun sedikit malu.
Pembicaraan itu menyebabkan saya terangsang, Dewi juga terangsang
kelihatannya. Soalnya pembicaraan selanjutnya semakin transparan.
"Dewi, kamu mau gituan enggak."
"Kapan?"
"Sekarang."
Dia tidak menjawab, namun menelan ludah. Saya berpendapat ini artinya dia
juga mau. Well, setelah berbulan-bulan flirting, sepertinya kita bakalan
just do it nih.
Kubelokkan mobil ke arah motel yang memang dekat dengan kantorku.
"Nic, kamu beneran nih", tanyanya.
"Kamu mau enggak?"
"Saya belum pernah main sama cowok lain selain pacarku."
"Terakhir main kapan?"
"Udah sebulan."
"Trus enggak horny?"
"Ya onani.. lah", jawabnya, semakin transparan. Mukanya agak memerah,
mungkin malu atau terangsang. Aku terus terang sudah terangsang. This is
the point of no return. Aku sadari sih, ini bakalan complicated. But..
nafsuin sih.
"Terus, kapan kamu terakhir dapet orgasme"
"Belum lama ini."
"Gimana?"
"Ya sendirilah.. udah ah, jangan nanya yang gitu."
"Berapakali seminggu kamu onani?", tanyaku mendesaknya.
"Udah ah.. yah kalo horny, sesekali lah, enggak sering-sering amat.
Lagian kan biasanya ada Andree (cowoknya-red)."
"Kamu enggak ngajak Andree."
"Udah."
"Dan..?"
"Dia bilangnya lagi sibuk, enggak sempet. Main sama cewek lain kali.
Biasanya dia enggak pernah nolak."
Siapa sih yang akan menolak, bersenggama sama anak ini. Gila yah, si Dewi
ini baru saja lulus kuliah, tapi soal seks sepertinya sudah terbiasa.
"Nic, enggak kebayang main sama orang lain."
"Coba aja main sama saya, nanti kamu tau, kamu suka selingkuh atau
enggak."
"Caranya?"
"Kalo kamu enjoy dan bisa ngilangin perasaan bersalah, kamu udah OK buat
main sama orang lain. Tapi kalo kamu enggak bisa ngilangin perasaan
bersalah, maka udah jangan bikin lagi", kataku.
"Kamu nanti enggak bakal pikir saya cewek nakal."
"Enggaklah, seks itu normal kok. Makanya kita coba sekali ini. Rahasia
kamu aman sama saya", kataku setengah membujuk.
"Tapi saya enggak pintar lho, mainnya", katanya. Berarti sudah OK buat
ngeseks nih anak.
Mobilku sudah sampai di kamar motel. Aku keluar dan segera kututup pintu
rolling door-nya. Kuajak dia masuk ke kamar. Tanpa ditanya, Dewi ternyata
sudah terangsang dengan pembicaraan kita di mobil tadi. Dia menggandengku
dan segera mengajakku rebahan di atas ranjang.
"Kamu sering main dengan cewek lain, selain pacar kamu, Nic?"
"Yah sering, kalo ketemu yang cocok."
"Ajarin saya yah!"
Tanganku mulai menyentuh dadanya yang membusung. Aku lupa ukurannya, tapi
cukup besar. Tanganku terus menyentuhnya. Ia mengerang kecil, "Shh.. geli
Nic." Kucium bibirnya dan ia pun membalasnya. Tangannya mulai berani
memegang batang kemaluanku yang menegang di balik celanaku.
"Besar juga..", katanya. Matanya setengah terpejam. "Ayo, Nic aku horny
nih." Kusingkap perlahan kaos dalamnya, sampai kusentuh buah dadanya,
branya kulepas, kusentuh-sentuh putingnya di balik kaosnya. Uh.. sudah
mengeras. Kusingkap ke atas kaosnya dan kuciumi puting susunya yang
menegang keras sekali, kuhisap dan kugigit pelan-pelan, "Ahh.. ahh.. ahh,
terus Nic.. aduh geli.. ahh.. ah."
Dewi, yang masih muda ternyata vokal di atas ranjang. Terus kurangsang
puting susunya, dan ia hampir setengah berteriak, "Uh.. Nic.. uh." Aku
sengaja, tidak mau main langsung. Kuciumi terus sampai ke perutnya yang
rata, dan pusarnya kuciumi. Hampir lupa, tubuhnya wangi parfum, mungkin
Kenzo atau Issey Miyake. Pada saat itu, celanaku sudah terbuka, Aku sudah
telanjang, dan batang kemaluanku kupegang dan kukocok-kocok sendiri
secara perlahan-lahan. Ah.. nikmat. Bibirnya mencari dan menciumi puting
susuku. "Enak.. enak Dewi". Rangsangannya semakin meningkat.
"Aduuhh.. udah deh.. enggak tahan nih", ia menggelinjang dan membuka rok
panjangnya sehingga tinggal celana dalamnya, merah berenda. Bibir dan
lidahku semakin turun menjelajahi tubuhnya, sampai ke bagian liang
kenikmatannya (bulu kemaluannya tidak terlalu lebat dan bersih). Kusentuh
perlahan, ternyata basah. Kuciumi liang kenikmatannya yang basah. Kujilat
dan kusentuh dengan lidahku. liang kenikmatan Dewi semakin basah dan ia
mengerang-erang tidak karuan. Tangannya terangkat ke atas memegang
kepalanya. Kupindahkan tangannya, dan yang kanan kuletakkan di atas buah
dadanya. Biar ia menyentuh dirinya sendiri. Ia pun merespon dengan
memelintir puting susunya.
Kuhentikan kegiatanku menciumi liang kenikmatannya. Aku tidur di
sampingnya dan mengocok batang kemaluanku perlahan. Dia menengokku dan
tersenyum, "Nic.. kamu merangsang saya."
"Enak.."
"Hmm..", matanya terpejam, tangannya masih memelintir putingnya yang
merah mengeras dan tangan yang satunya dia letakkan di atas liang
kenikmatannya yang basah. Ia menyentuh dirinya sendiri sambil melihatku
menyentuh diriku sendiri. Kami saling bermasturbasi sambil tidur
berdampingan.
"Heh.. heh.. heh.. aduh enak, enak", ceracaunya.
"Gile, Nic, gue udah kepengin nih."
"Biar gini aja", kataku.
Tiba-tiba dia berbalik dan menelungkup. Kepalanya di selangkanganku yang
tidur telentang. Batang kemaluanku dihisapnya, uh enak banget. Nih cewek
sih bukan pemula lagi. Hisapannya cukup baik. Tangannya yang satu masih
tetap bermain di liang kenikmatannya. Sekarang tangannya itu ditindihnya
dan kelihatan ia sudah memasukkan jarinya.
"Uh.. uh.. Nic, aku mau keluar nih, kita main enggak?"
Kuhentikan kegiatannya menghisap batang kemaluanku. Aku pun hampir
klimaks dibuatnya.
"Duduk di wajahku!", kataku.
"Enggak mau ah."
"Ayo!"
Ia pun kemudian duduk dan menempatkan liang kenikmatannya tepat di
wajahku. Lidah dan mulutku kembali memberikan kenikmatan baginya.
Responnya mengejutnya, "Aughh.." setengah berteriak dan kedua tangannya
meremas buah dadanya. Kuhisap dan kujilati terus, semakin basah liang
kenikmatannya.
Tiba-tiba Dewi berteriak, keras sekali, "Aahh.. ahh", matanya terpejam
dan pinggulnya bergerak-gerak di wajahku. "Aku.. keluar", sambil terus
menggoyangkan pinggulnya dan tubuhnya seperti tersentak-sentak. Mungkin
inilah orgasme wanita yang paling jelas kulihat. Dan tiba-tiba, keluar
cairan membanjir dari liang kenikmatannya. Ini bisa kurasakan dengan
jelas, karena mulutku masih menciumi dan menjilatinya.
"Aduh.. Nic.. enak banget. Lemes deh", ia terkulai menindihku.
"Enak?", tanyaku.
"Enak banget, kamu pinter yah. Enggak pernah lho aku klimaks kayak tadi."
Aku berbalik, membuka lebar kakinya dan memasukkan batang kemaluanku ke
liang kenikmatannya yang basah. Dewi tersenyum, manis dan malu-malu.
Kumasukkan, dan tidak terlalu sulit karena sudah sangat basah. Kugenjot
perlahan-lahan. Matanya terpejam, menikmati sisa orgasmenya.
"Kamu pernah main sama berapa lelaki, Dewi..?, tanyaku.
"Dua, sama kamu."
"Kalo onani, sejak kapan?"
"Sejak di SMA."
Pinggulnya sekarang mengikuti iramaku mengeluar-masukkan batang kemaluan
di liang kenikmatannya.
"Nic, Dewi mau lagi nih." Uh cepat sekali ia terangsang. Dan setelah
kurang lebih 3 menit, dia mempercepat gerakannya dan "Uhh.. Nic.. Dewi
keluar lagi.." Kembali dia tersentak-sentak, meski tidak sehebat tadi.
Akupun tak kuat lagi menahan rangsangan, kucabut batang kemaluanku dan
kusodorkan ke mulutnya. Ia mengulumnya dan mengocoknya dengan cepat. Dan
"Ahh.." klimaksku memuncratkan air mani di wajah dan sebagian masuk
mulutnya. Tanpa disangka, ia terus melumat batang kemaluanku dan menjilat
air maniku. Crazy juga nih anak.
Setelah aku berbaring dan berkata, "Dewi, kamu bercinta dengan baik
sekali."
"Kamu juga", mulutnya tersenyum.
Kemudian ia berkata lagi, "Kamu enggak nganggap Dewi nakal kan Nic."
Aku tersenyum dan menjawab, "Kamu enjoy enggak atau merasa bersalah
sekarang."
Dia ragu sebentar, dan kemudian menjawab singkat, "Enak.."
"Nah kalau begitu kamu emang nakal", kataku menggodanya.
"Ihh.. kok gitu.." Aku merangkulnya dan kita tertidur.
Setelah terbangun, kami mandi dan berpakaian. Kemudian kembali ke kantor.
Sampai sekarang kami kadang-kadang masih mampir ke motel. Aku sih santai
saja, yang penting rahasia kami berdua tetap terjamin.
TAMAT
Hari itu aku masih ingat sekali. Menjelang malam hari kuarahkan mobilku
kekampus. Aku ingin melihat jadwal Semester Pendek. Semester ini aku
mendapatkan 2 mata kuliah E, sehingga aku harus mengulang. Hal itu karena
petualangan-petualangaku yang membuatku jarang belajar. Malah terkadang
tugas kuliahpun jarang kukumpul. Aldo (mantanku) yang selalu
mengeksplorasi tubuhku setiap saat. Dimana saja dan kapan saja, dia
selalu mengajakku ML. bisa dipastikan tiap kami bertemu selalu diakhiri
diranjang. nafsunya sangat GD. Dia tidak bisa lihat situasi. Malah disaat
aku mo belajar buat ujian, dia malah mengerjai tubuhku sepanjang malam.
Mulanya aku kadang menolak, tapi dia mampu memancing libidoku, sehingga
kurelakan tubuhku menjadi santapannya sehari-hari. Aku yang memang sudah
mulai doyan Sex, bahkan tak jarang yang merengek-rengek minta disodok
olehnya. Tapi itu dulu, seperti biasa aku ga bisa tahan terhadap satu
cowo hingga kami putus baik-baik 1 bulan yang lalu. Apalagi aku sadar
Aldo ternyata ga tulus mencintaiku, dia hanya mencintai tubuhku saja.

Aku memperkenalkan diri dulu namaku Aliah,aku dikaruniai wajah yang


cantik. Bodiku sangat sexy, tinggi langsing, pahaku jenjang dan mulus,
buah dadaku pun membusung indah, ukuranku 34B, dipercantik dengan rambut
panjang kemerahan yang dikuncir ke belakang dan wajah oval yang putih
mulus.Aku termasuk salah satu bunga kampus.

Aku segera memasuki gedung fakultasku, di sana lorong-lorong sudah mulai


gelap. Ruangan-ruangan sudah mulai tutup. terkadang timbul perasaan ngeri
di gedung itu. Akhirnya sampai juga aku di tingkat 4 dimana jadwal SP
dipasang. Untunglah disana ada seorang cowo, namanya rama, satu fakultas
tapi beda jurusan. Padahal aku sudah sangat takut sendirian digedung
gelap ini.

Halo ramaà sapaku.


Hai juga Aliahà jawabnya, sambil matanya menerawang kedadaku. Maklum
malam itu aku menggunakan tanktop putih yang ketat sehingga menonjolkan
payudaraku. Kami hanya diam sambil menatap papan pengumuman.

Eh, omong-omong kamu kok baru malam-malam gini, nggak takut gedungnya
udah gelap gini?Ã tanyanya memecah keheningan.

Iya takut juga sih,tapi tadi sekalian lewat aja kok, jadi mampir ke
sinià jawabku tanpa memperdulikan matanya yang jelayatan kearah tubuhku.
Sehabis menulis jadwal SPku dia mengajakku mampir keruangan Himpunan
Mahasiswa. Dia termasuk pengurus rupanya sehingga memiliki kunci. Aku
yang memang ga terburu-buru memenuhi permintaannya. Apalagi aku sangat
haus, aku mau minum. Setelah pintu ruangan himpunan dibuka, ditawarinya
aku minum sofdrink yang ada di lemari es. Kududukkan pantatku disalahsatu
kursi panjang ruangan yang berukuran 4X3m itu. Kami pun mulai mengobrol,
dan obrolan kami makin melebar dan semakin akrab.

Hingga kini belum ada seorang pun yang terlihat di tempat kami sehingga
mulai timbul pikiran kotorku. Rama lumayan ganteng orangnya. Aku sangat
suka tatapannya menikmati tubuhku. Nafsuku perlahan-lahan mulai bangkit.
Apalagi aku sudah beberapa lama tidak menikmati sex.

Sambil mengobrol, matanya mencuri-curi kedada dan pahaku. Aku merasakan


bahwa vaginaku mulai basah oleh tatapannya. Dapat kuperhatikan tonjolan
dibalik celananya. Dia juga mulai bernafsu. Siapa sih ga horny dalam
situasi seperti ini. Sepasang laki-laki dan perempuan dalam gedung yang
gelap.

wajah kami saling menatap dan tanpa sadar wajahku makin mendekati
wajahnya. Ketika semakin dekat tiba-tiba wajahnya maju menyambutku
sehingga bibir kami sekarang saling berpagutan. Tangannya pun mulai
melingkari pinggangku yang ramping. Kubuka mulutku dan lidah kami saling
beradu. Tangannya tak tinggal diam, dirabanya dadaku lalu
diremas-remasnya. Aku meleguh nikmat sambil terus berciuman. Ciumannya
turun ke leherku, dijilatinya leher jenjangku, sehingga membuatku
kegelian. Kembali kulumat bibirnya.

Sambil berciuman tangan kami saling melucuti pakaian masing-masing.


Kubuka kemeja lengan panjangnnya. Dia juga mulai melepas pakaianku. Tapi
dia nampaknya kesulitan melepas tanktop miniku, maka kubantu dia untuk
melepaskannya. Setelah kulepas tank top ku, braku juga kulepas kemudian
sehingga tubuh putih mulusku terpampang dihadapnya. Seperti laki-laki
lain yang pernah menyetubuhiku, dia juga takjub melihat bongkahan daging
payudaraku yang kencang dan putingnya kemerahan.

Tanpa menunggu lama diarahkannya mulutnya ke puting dada kananku. Puting


yang sudah menegang itu disapunya dengan lidahnya. Hal itu membuatku
menggelinjang-gelinjang dan tanpa terasa aku mendesah.

Oh.hhhÃ

Puas menjilati dadaku, segera dilepaskannya Celanaku berserta CDku


sekalian,sehingga aku telanjang bulat diruangan itu. Matanya nanar
memandang vaginaku yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Tanpa menunggu lama
diarahkannya wajahnya ke vaginaku, aku tahu maksudnya, maka kurenggangkan
kedua pahaku agar lidahnya bisa menjelajah lebih luas. Sapuan lidahnya
begitu mantap menyusuri celah-celah kenikmatan pada kemaluanku. Oh sunguh
nikmat sekali. Aku mendesah lebih panjang saat lidahnya bertemu
klitorisku yang sensitif. Mulutnya kadang mengisap dan kadang menggigit
pelan sehingga menimbulkan sensasi luar biasa. Sementara tangannya terus
meremas pantatku.

oh..ohoh..Ã esahku sambil menggigit bibirku. Sunguh indah oral sex yang
dilakukanya. Aku hanya memejamkan mata menikmati lidahnya menyerang
setiap millimeter vaginaku. Aku ga tahu sejak kapan aku mulai suka
dioral, tapi yang pasti mulanya risih dan malu, tapi lama-kelamaan
menjadi suatu kenikmatan dan keharusan.

Puas menjilati vaginaku, mulutnya kembali beralih ke payudaraku. Kembali


dilumatnya benda bulat didadaku. Bahkan kini putting dadaku digigitnya
pelan-pelan. Aku mendesah-desah nikmat. sementara tangannya mulai
menyusup ke vaginaku. Selangkanganku terasa semakin banjir saja karena
jarinya mengorek-ngorek lubang vaginaku. Selain payudaraku, ketiakku yang
bersih pun tak luput dari jilatannya sehingga menimbulkan sensasi geli.
Tanganku merambat ke bawah mencari penisnya, benda itu kini telah
mengeras seperti batu. Kuelusi sambil menikmati rangsangan-rangsangan
yang diberikan padaku. Jari-jarinya berlumuran cairan bening dari
vaginaku begitu dia keluarkan.

Tidak berapa lama kemudian akhirnya aku orgasme dengan permainan


tangannya divaginaku. ohh.aku keluar.Ã desahku mewarnai orgasmeku yang
pertama. Dia melepaskan tubuhku.

Kemudian dia melepaskan semua pakaiannnya hingga bugil total. Penisnya


yang sudah tegak terpampang dihadapku. Dia nampaknya sudah sangat
bernafsu sekali melihat tubuh telanjangku terkapar di kursi panjang itu.
Diangaktnya tubuhku ke matras ditengah ruang himpunan itu. Matanya sangat
tajam menatap vaginaku, dan dia sudah tidak sabar lagi. Maka dengan
buru-buru diarahkannya penisnya ke vaginaku. Kedua kaki ku dibukanya
lebar-lebar sementara ujung penisnya didekatkan di lubang vaginaku. Dia
memajukan badannya ke depan untuk mendorong penisnya memasuki vaginaku.
Tubuhku bergetar saat penisnya menembuh vaginaku. sebagian penisnya telah
memasuki vaginaku. Kemudian Dia memasukkan penisnya lebih dalam lagi
sampai akhirnya penisnya masuk seluruhnya ke dalam vagina ku.

Auw.ohà Jeritku pelan. Seperti biasa aku menjerit kala benda bulat
panjang memasuki vaginaku. dia mengerti akan jeritanku dan membiarkan
penisnya berhenti sebentar dilorong vaginaku.
Nikmat sekali,aliahà Desahnya juga sambil menatap wajahku yang kemerahan.
à Vaginamu sungguh nikmat sudah lama aku ingin menyetubuhimu akhirnya
kesampaian juga malam ini. Aku akan menikmatimu sepuasnyaà timpalnya
lagi.

Aku hanya mengangguk pelan. Bukan hal biasa jika ada cowo yang ingin
menikmati tubuhku. Bahkan dosen dan penjaga kampus sekalipun pasti
tergiur dengan kecantikan dan keseksian tubuhku. Aku ga sombong, tapi
itulah keadaanya.

Kemudian Dia mengeluarkan dan memasukkan penisnya berulang-ulang


divaginaku dia mengocok tubuh ku dengan penuh nafsu. Gesekan-gesekan
didinding vaginaku menimbulkan kenikmatan yang tiada tara. Aku tak kuat
untuk tidak menjerit. Kocokannya itu membuat tubuhku berguncang dengan
hebatnya bahkan membuat buah dadaku bergerak vertikal dan berputar-putar.

oh..teruster..us.. kocok akuà aku mulai mendesah-desah liar. Dia tambah


semangat. Mendengar desahan ku dan menyaksikan buah dadaku yang
berguncang-guncang itu, Dia makin nafsu saja. Sambil menyetubuhi ku,
direngkuhnya buah dadaku, diremas-remas dengan gemasnya. Hal itu
membuatku semakin melayang. Sunguh nikmat sodokanya diliangku.

Kemudian Dia melepaskan dirinya dari tubuh ku. Dia lalu menyuruhku untuk
menunging . aku membalikkan badan dan menungging membelakanginya. Lalu
Dia kembali menyetubuhiku dengan posisi doggy style. Aku kembali
mendesah-desah saat dikocok seperti itu. Sodokannya semakin mantap dengan
posisiku yang menungging. Pantatku dipegangnya dan ditarik dan majukan
kearah penisnya. Tubuhku basah oleh keringat.

Sambil menyetubuhiku, Dia memegang-megang dan meremas-remas payudaraku


dari belakang. Payudaraku semakin besar karena aku sudah sangat
terangsang ditambah lagi posisiku yang menungging membuat dadaku makin
ranum. Ditariknya dadaku denga lembut. Aku makin gila dibuatnya. Aku
makin mendesah-desah dibuatnya. Aku ga perduli bahwa suaraku akan
terdengar keluar ruangan. Tapi berhubung malam, pasti ga ada orang
pikirku, sehingga kembali aku menjerit-jerit.

Ada sekitar 20 menit kami bercinta. Dan aku merasakn sebentar lagi akan
orgasme. Aku ikut menggoyangkan pantatku sehingga terdengar suara badan
kami beradu. Sebentara lagi aku akan orgasme maka kuminta rama makin
cepat mengocokku. Akhirnya aku benar-benar mengalami klimaks.
Ohyess.Ã jeritku panjang.Kurasakan cairan vaginaku mengalir deras
membasahi penisnya yang masih aktif menusuk liang senggamaku. Rama juga
makin cepat memaju-mundurkan penisnya, aku mencoba bertahan. Tak berapa
lama setelah itu rama pun juga mengalami ejakulasi. Ia menumpahkan
spermanya di dalam vaginaku. Aku langsung ambruk. Rama ikut ambtuk
menindihku.

Nikmat sekali,Aliah. Sex terindah yang pernah kualamià Ujarnya sambil


mengecup leher belakangku..
makasihà lirihku pelan. Mulutku ternganga menerima semprotan spermanya
barusan.

Dia lalu menjatuhkan tubuhnya disebelahku. Kami mengobrol sebentar untuk


memulihkan tenaga. Dia memintaku untuk bisa melukukannya lagi lain waktu.
Aku bilang ga janji, karena aku ga mau dicap cewe gampanganan. Dia
mendesakku lagi, katanya dia sangat tergila-gila padaku, bahkan dia
memintaku untuk jadi pacarnya, tapi terang aja kutolak. Rama bukan
tipeku. Ini juga aku mau ML dengannya hanya karena terbawa suasana, kalo
ga ga lah yauw.
Belum pulih benar tenagaku, Tiba-tiba terdengar gagang pintu dibuka dari
luar. pintu pun terbuka, dan kami terkejut bukan main melihat orang yang
berdiri di depan pintu. Dia adalah Pak Dorman, penjaga gedung ini yang
juga bertanggung jawab akan keamanan inventaris gedung. Aku buru-buru
berusah menutupi tubuh telanjangku dengan berlindung dibalik punggung
Rama. Rama juga berusaha menutupi penisnya dengan Koran yang ada
disebelahnya. Pak dorman terkejut juga melihat kami. Tapi dia langsung
bisa mengendalikan diri dan melihat satu peluang dihadapannya.

Ayo, lagi ngapain kalian malam-malam disini? Habis ngentot ya?Ã katanya
nyengir.

Maaf Pak, kita memang salah, tolong Pak jangan bilang sama siapa-siapa
tentang hal ini,Ã Jawab rama terbata-bata.

Iya pak, jangan dilaporin ya. Nanti kami bisa di DO. Please pak.Ã
ujarku lagi mengingat kejadian ITENAS beberapa waktu lalu. Sumpah aku
sangat takut kejadian ini terbongkar. Takut reputasiku hancur total.

Hmmm baik saya pasti akan jaga rahasia ini kok, asalÃ
Asal apa Pak?Ã tanyaku, mulai curiga. Dia pasti minta duit pikirku.

Orang tua itu menutup pintu dan berjalan mendekati kami.


Saya mau tutup mulut, Asal saya boleh ikut merasakan kenikmatan tubuhmu,
he.. he he!Ã katanya sambil menatapku. Aku kontan terkejut bukan main.
Gila..pikirku tua-tua masih doyan sex juga.

Dia lalu berjalan mendekati kami dengan senyum mengerikan.

Jangan, Pak, jangan!Ã ujarku sambil berusaha menutupi dada dan


vaginaku. Kemudian aku berkata à bagaimana kalo kami ganti dengan duit
aja. itung-itung uang tutup mulut, bagaimana pak?Ã tawarku. karena aku
merasa ngeri harus melayaninya. Tapi dia menolak tawaranku, dia sudah
sangat bernafsu sekali rupanya. Aku kesal melihat rama yang hanya diam
saja. Ga bertanggung jawab batinku. Aku marah kepadanya

bagaimana neng, neng bisa pilih, menuruti keinginan saya atau saya
laporkan ke ketua jurusan?Ã Tanyanya mengancam. Perasan aneh mulai
menjalari tubuhku disertai keringat dingin yang mengucuri dahiku karena
tatapan matanya seolah-olah ingin memangsaku. Aku sungguh bingung
bercampur marah tidak tahu harus bagaimana. Nampaknya tiada pilihan lain
bagiku selain mengikutinya. Kalau acamannya ternyata benar dan berita ini
tersebar bagaimana reputasiku, keluargaku, bisa-bisa hancur semuanya.
Gimana Neng, apa sudah berubah pikiran?Ã tanyanya sekali lagi. dengan
sangat berat aku akhirnya hanya menganggukkan pelan.aku pasrah apa yang
akan dilakukannya terhadapku. setelah kupikir-pikir daripada reputasiku
hancur, lebih baik aku menuruti kemauannya. Lagipula aku termasuk type
cewek yang bebas, hanya saja aku belum pernah melayani orang bertampang
seram, dekil dan lusuh seperti Pak Dorman ini, juga perbedaan usiaku
dengannya yang lebih pantas sebagai ayahku. Pak Dorman orangnya berumur
50-an keatas, rambutnya sudah agak beruban, namun badannya masih tegap.

Dia tersenyum penuh kemenangan. Dia lalu menyuruh rama untuk menyingkir,
lalu mendekatiku yang masih duduk dengan telanjang. Dia tertegun ketika
melihat payudaraku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi. Matanya hamper
copot menikmati pemandangan indah dadaku yang putih mulus dengan ukuran
yang lumayan besar untuk gadis seusiaku. Kini dengan leluasa tangannya
yang kasar itu menjelajahi payudaraku yang mulus terawat dengan melakukan
remasan, belaian, dan pelintiran pada putingku.

ah..pak..pelan-pelanà jeritku kala tangannya makin kasar saja meremas


dadaku.
maaf neng,abis tetek neng indah sekali. Belum pernah bapak lihat yang
seperti ini. Mimpi apa ya aku tadi malam.he..he..Ã ujarnya. Wajahnya
sungguh menjijikkan bagiku. Mukanya jauh dari tampang ganteng, bahkan
cenderung seram, dengan bopeng disana-sini. Aku lumayan takut terhadapnya.

Tangan gempalnya kembali meremasi payudara ku, sementara tangan yang


lainnya mulai mengelus-elus pahaku yang putih mulus. Aku tidak tahu harus
berbuat apa, didalam hatiku terus berkecamuk antara perasaan benci dan
perasaan ingin menikmatinya lebih jauh, aku hanya bisa menikmati
perlakuannya dengan jantung berdebar-debar.

Kemudian dibentangkannya pahaku lebar-lebar, tangannya mulai merayap ke


bagian selangkanganku. Jari-jari besar itu menyusup ke bibir vaginaku,
mula-mula hanya mengusap-ngusap bagian permukaan saja lalu mulai bergerak
perlahan-lahan diantara kerimbunan bulu-bulu mencari liangnya. Perasaan
tidak berdaya begitu menyelubungiku, serangan-serangan itu sungguh
membuatku terbuai. Kedua mataku terpejam sambil mulutku mengeluarkan
desahan-desahan Eeemmhhuuhh.. jangan Pak, tolong hentikan.. eemmhhà .

Sambil mengorek-ngorek liangku, pak Dorman mendekatkan mulutnya


kewajahku. Pada awalnya aku menghindari dicium olehnya karena bau
nafasnya tidak sedap, namun dia bergerak lebih cepat dan berhasil melumat
bibirku. bibirnya yang tebal itu sekarang menempel di bibirku, aku bisa
merasakan kumis pendek yang kasar menggesek sekitar bibirku juga deru
nafasnya pada wajahku.
Lama-lama mulutku mulai terbuka membiarkan lidahnya masuk, dia menyapu
langit-langit mulutku dan menggelikitik lidahku dengan lidahnya sehingga
lidahku pun turut beradu dengannya. Kami larut dalam birahi sehingga bau
mulutnya itu seolah-olah hilang, malahan kini aku lebih berani memainkan
lidahku di dalam mulutnya.

Vaginaku sudah sangat banjir oleh tangannya, tapi dia tidak perduli dia
tetap memainkan jarinya disana. Dikeluar-masukkan jari telunjukknya
diliangku dengan penuh nafsu. Bahkan kini dipaksakannya 2 buah jarinya
masuk keliangku. Kontan aku hendak menjerit,karena rasa sakit yang
kurasakan, namun ditahan oleh mulutnya yang masih melumatku. Dia
nampaknya sangat menikmati permainan ini, hal itu terbukti dari
semangatnya yang tinggi untuk mempermainkan tubuhku.

Setelah puas berrciuman, Pak Dorman melepaskan ciumannya dan melepas ikat
pinggang usangnya, lalu membuka celana berikut kolornya. Begitu celana
dalamnya terlepas benda didalamnya yang sudah mengeras langsung mengacung
siap memulai aksinya. Aku terkejut bukan main melihat benda itu yang
begitu besar dan berurat, warnanya hitam pula. Aku ngeri melihatnya,
ukurannya hamper sebesar lengan bayi, Jauh lebih besar dibandingkan
dibanding milik orang-orang yang pernah ML denganku. Bisa jebol vaginaku
dbenda ini,batinku.

Dengan tetap memakai bajunya, dia berlutut di samping kepalaku dan


memintaku mengelusi senjatanya itu. Pertamanya aku masih ngeri dan jijik
melihat benda besar itu. Aku tahu pasti bau. Tapi dia memintaku
menyentuhnya sambil menggosokkan penis itu pada wajahku.Tiada pilihan
lain bagiku, Akupun pelan-pelan meraih benda itu, ya ampun tanganku yang
mungil tak muat menggenggamnya, sungguh fantastis ukurannya.
Perlahan-lahan kukocok-kocok benda hitam itu. Kudlihat dia meringis
merasakan lemmbutnya tanganku.

Kemudian kubimbing penis dalam genggamanku ke wajahku. Tercium bau yang


memualkan ketika penisnya mendekati bibirku, sialnya lagi Pak Dorman
malah memerintahakan untuk menjilatinya dulu sehingga bau itu makin
terasa saja. Karena tidak ada pilihan lain aku terpaksa mulai menjilati
penis hitam yang menjijikkan itu. uuhh.. susah sekali memasukkannya
karena ukurannya yang besar. mulutku yang mungil dan merah tak mampu
menampung semua penisnya, namun tak kupaksakan. Aku mulai menjilati benda
itu dari kepalanya sampai buah zakarnya, semua kujilati sampai basah oleh
liurku. Sekilas tercium bau yang asing dari penisnya sehingga aku harus
menahan nafas .

Uaahh.. uueennakk ohhh.Ã ceracaunya menikmati seponganku. Kukeluarkan


semua teknik menyepong-ku sampai dia mendesah nikmat. Saking asiknya aku
baru sadar bahwa tangannya sudah bercokol di payudaraku. Aku makin
bersemangat, Selain menyepong tanganku turut aktif mengocok ataupun
memijati buah pelirnya. Aku berencana membuatnya orgasme duluan agar aku
cepat-cepat keluar dari ruangan ini. Tapi ternyta dia sangat kuat.

Setelah lewat 10 menitan dia melepas penisnya dari mulutku, sepertinya


dia tidak mau cepat-cepat orgasme sebelum permainan yang lebih dalam.
Akupun merasa lebih lega karena mulutku sudah pegal dan dapat kembali
menghirup udara segar.

Hhhmmmgimana neng? udah siap dientot?Ã kurasakan hembusan nafas Pak


Usep di telingaku. Dia lalu membaringkan tubuhku diruangan yang
beralaskan karpet itu. Matanya nanar menatap gundukan daging vaginaku.
Kemudian kurasakan tangan kokohnya memegang kedua pergelangan kakiku lalu
membentangkan pahaku lebar-lebar sampai pinggulku sedikit terangkat. Dia
sudah dalam posisi siap menusuk, ditekannya kepala penisnya pada vaginaku
yang sudah licin, Penisnya yang kekar itu menancap perlahan-lahan di
dalam vaginaku. Aku memejamkan mata, meringis, dan merintih menahan rasa
perih akibat gesekan benda itu pada milikku yang masih sempit. kemudian
dipompanya penisnya sambil membentangkan pahaku lebih lebar lagi. Batang
yang gemuk itu dipaksakannya masuk ke vagina sempitku sehingga aku
merintih kesakitan.

Aauuuhhh!Ã aku menjerit lebih keras dengan tubuh berkelejotan karena


hentakan kerasnya pada vaginaku.Namun hal itu bukannya membuatnya iba
malahan terus mejejalkan penisnya lebih dalam lagi sampai akhirnya
seluruh penis itu tertancap.

Oooohhuueenak banget non!Ã ceracaunya merasakan jepitan dinding


vaginaku.
Oh, aku benar-benar telah disetubuhi olehnya, aku kesal pada diriku
sendiri yang tak berdaya melawan malah terangsang. Perlahan-lahan rasa
sakit berubah menhjadi nikkmat yang tiada tara. Aku ikut menggoyangkan
pantatku untuk memperpanjang rasa nikmat dikepalaku.

Puas menikmati jepitan dinding vaginaku, pelan-pelan dia mulai


menggenjotku, maju mundur terkadang diputar. Kurasakan semakin lama
pompaannya semakin cepat sehingga aku tidak kuasa menahan desahan,
sesekali aku menggigiti jariku menahan nikmat, serta menggeleng-gelengkan
kepalaku ke kiri-kanan sehingga rambut panjangku pun ikut tergerai kesana
kemari.

Dengan tetap menggenjot, dia melepaskan kaosnya dan melemparnya. tubuhnya


begitu berisi. Hitam besar dan berkeringat. otot-ototnya membentuk dengan
indah, juga otot perutnya yang seperti kotak-kotak. Kemudian dia kembali
menggenjotku.

Tampangku yang sudah semrawut itu nampaknya makin membangkitkan


gairahnya, buktinya dia menggenjotku dengan lebih bertenaga, bahkan
disertai sodokan-sodokan keras yang membuatku makin histeris. Kemudian
tangan kanannya maju menangkap payudaraku yang tergoncang-goncang.
Syaraf-syaraf pada daerah sensitif di tubuhku bereaksi memberi perasaan
nikmat ke seluruh tubuhku. Dia dengan bernafsu menangkap payudaraku yang
begerak bebas. Genjotannya semakin kuat dan bertenaga, terkadang
diselingi dengan gerakan memutar yang membuat vaginaku terasa diobok-obok.
Ahh.. aahh.. yeahh, terus tusuk pak..ah.Ã desahku dengan mempererat
pelukanku.

rama yang dari tadi hanya dia menonton nampaknya mulai terangsang juga
menyaksikan tubuh mulusku dinikmati pria seperti Pak Dorman. Dia lalu
mendekat kepadaku, dia juga ingin merasakan kenikmatan yang dirasakan Pak
dorman, maka tangannya mulai meremas buah dadaku, putingku yang sudah
tegang itu dipencetnya sesekali diplintirnya. Kemudian dilumatnya
bibirku. Aku hanya bisa pasrah diserang dari 2 arah. Apalagi rama makin
meningkatkan aksinya, payudaraku dilahapnya dengan rakus. Dia sangat
menyukai benda itu, sehingga senang sekali berlama-lama didadaku. Dada
kiri dan kananku menjadi santapannya. Aku tahu pasti dadaku semakin merah
dan meninggalkan cupangan.

Oh..neng aliahnikmatse..aklià ceracau pak Dorman sama sepertiku.

Tusukan di vaginaku serta lumatan bibir rama di payudaraku membuatku


makin gila. Kulihat atap ruangan itu mulai berputar menindih kepalaku.
Aku merasakan bahwa sebentar lagi akan orgasme. hingga beberapa detik
kemudian tubuhku bagaikan kesetrum dan mengucurlah cairan dari vaginaku
dengan deras sampai membasahi pahaku.

Ahh..ohhPak !Ã desahku sambil menggeliat-geliat menikmati keindahan


dunia ini. Aku merintih panjang sampai tubuhku melemas kembali, nafasku
masih kacau setelah mencapai orgasme. Aku mengira dia juga akan segera
memuntahkan maninya, ternyata perkiraanku salah, dia masih dengan ganas
menyetubuhiku tanpa memberi waktu istirahat. Kemudian dia membalikkan
tubuhku dengan posisi doggy stly. Rama melepaskan dadaku sebentar untuk
memudahkanku membalikkan tubuh.

Tanganku bertumpu menahan berat tubuhku. Walau masih lemas namun


kupaksakan untuk bertahan. Aku hanya pasrah saja atas apa yang akan
diperbuatnya terhadapku. Kemudian dia menyelipkan penisnya di antara
selangkanganku lewat belakang. Aku mendesis nikmat saat penis itu
pelan-pelan memasuki vaginaku yang sudah becek oleh lendirku.

Ooohhh. enak banget si neng ini!Ã celotehnya. Pak Dorman menggenjotku


dengan penuh semangat. Aku yang masih lemas merasakan sakit divaginaku
karena baru orgasme. Keringat sudah membasahi tubuh kami. Erangannya dan
jeritan kesakitan dariku mewarnai percabulan ini. Permainan dia sungguh
menyiksaku, dia memulainya dengan genjotan-genjotan pelan, tapi
lama-kelamaan sodokannya terasa makin keras dan kasar sampai tubuhku
berguncang dengan hebatnya. Dadaku terayun-ayun kedepan dan kebelakang.
Hal itu tidak disia-siakannya, dia kembali meremas dadaku yang makin
besar. Bukan hanya itu saja,tangannya kini dengan leluasa
berpindah-pindah dari pinggang, meremas pantat dan meremas payudaraku
yang menggelantung berat ke bawah. Kini Pak dorman bahkan lebih
memperhebat serangannya.
Tak berapa lam kemudian aku mulai mendesah nikmat.
oh..oh Pakteruspuaskan. aku..Ã Kembali aku mendesah karena rasa nikmat
mulai menjalar keseluruh tubuhku. Rasa sakitku hilang digantikan semangat
untuk menikmati lebih dan lebih lagi.

Pada saat itu tanpa terasa, Rama telah duduk mengangkang di depanku. Ia
menyodorkan batang penisnya ke dalam mulutku, aku menolaknya karena aku
masih marah kepadanya karena tidak bertanggung jawab. Tapi dia mau
dipuaskan maka tangannya meraih kepalaku dan dengan setengah memaksa ia
menjejalkan batang kejantanannya itu ke dalam mulutku yang terbuka karena
aku mendesah. Dengan kasar dimaju-mundurkannya penisnya bibir merahku.

Kini aku kembali melayani dua orang sekaligus. Pak Dorman yang sedang
menyetubuhiku dari belakang nan Ramayang sedang memaksaku melakukan oral
seks terhadap dirinya. Pak Dorman kadang-kadang malah menyorongkan
kepalanya ke depan untuk menikmati payudaraku. Aku mengerang pelan setiap
kali ia menghisap puting susuku. Dengan dua orang yang mengeroyokku aku
sungguh kewalahan hingga tidak bisa berbuat apa-apa. Malahan aku merasa
sangat terangsang dengan posisi seperti ini. Maka dengan bernafsu kuhisap
penis Rama. kusedot-sedot benda itu sambil ku keluar masukkan dimulutku.

Aliahohà , dia mulai melenguh lemah menikmati oralku. Dia meremas-remas


rambutku menahan kenikmatan yang kuberikan. Kukeluarkan teknik mengoralku
sehingga dia makin belingsatan saja. Remasan dirambutku makin kuat saja.

eennnggghhh.mmmhhhà hanya itu yang keluar dari mulutku yang tertahan


penis rama.

Mereka menyetubuhiku dari dua arah, yang satu akan menyebabkan penis pada
tubuh mereka yang berada di arah lainnya semakin menghunjam.
Kadang-kadang aku hampir tersedak. Pak dorman terus memacu menggebu-gebu.
Laki-laki itu sibuk memacu sambil meremasi payudaraku yang menggelantung
berat ke bawah.

sebentar lagisebentar lagi..Ã desah Pak Dorman, meyatakan bahwa sebentar


lagi dia akan orgasme. Maka dipercepat sodokannya, remasannya didadaku
jga makin keras, sehingg aku mengaduh kesakitan. Aku lalu merasakan
cairan hangat menyembur di dalam vaginaku, banyak sekali spermanya
menyemprotkan diliangku sehingga menetes keluar mengalir dipahaku. Untung
saat itu bukan masa suburku. Kalo ga bisa bahaya. Dia pun terkulai lemas
diatas punggungku dengan penis masih tertancap. Perlhan-lahan penisnya
mengecil. Pak Dorman lalu terbaring lemas disebelahku.

rama masih memaju mundurka penisnya semakin ganas. Dan pada saat hampir
bersamaan Rama juga mengerang keras. Batang kejantanannya yang masih
berada di dalam mulutku bergerak liar dan menyemprotkan air maninya yang
kental dan hangat. Cairan kental yang hangat itu akhirnya tertelan
olehku. Banyak sekali. Bahkan sampai meluap keluar membasahi daerah
sekitar bibirku sampai meleleh ke leher. Aku tak bisa berbuat apa-apa,
selain dengan cepat mencoba menelan semua yang ada supaya tidak terlalu
terasa di dalam mulutku.
Tamat