Anda di halaman 1dari 61

VALUASI DAN KOMERSIALISASI TEKNOLOGI

PEMBUATAN DETERJEN TABLET


MO-GENT “Mobile Detergent”

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah


VALUASI DAN KOMERSIALISASI TEKNOLOGI

Disusun Oleh:

1. Nur Widi Kusumaningtyas F34070005


2. Eny Rohmayani F34070022
3. Anisa Rahmi Utami F34070043
4. Ditta Nirmala F34070046
5. Sabila Putri Dian F34070049
6. Agita Puspa Dewi F34070051
7. Riztiara Nurfitri F34070064
8. Julian Praditfa F34070071
9. Anza Julia Wahyu Putri F34070080
10. Eko Nopianto F34070102

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seiring meningkatnya jumlah populasi, mobilitas masyarakat yang tinggi,
serta diiringi dengan meningkatnya taraf hidup penduduk membuat semakin
tinggi pula kebutuhan domestik akan berbagai barang kebutuhan yang sifatnya
pokok dan sampingan, tak terkecuali kebutuhan akan detergent yang semakin
meningkat karena didasari oleh keinginan konsumen terhadap kebersihan dan
pakaian yang wangi. Hal itu membuat penggunaan detergen tiap harinya menjadi
kebutuhan sekunder yang sangat diperlukan konsumen/masyarakat untuk
membersihkan pakaian mereka. Namun, dengan meningkatnya penggunaan dan
ketergantungan masyarakat pada detergen tidak lepas dari efek buruk yang
dihasilkan, banyak bahan berbahaya yang terkandung di dalam detergen, seperti
pewangi sintetis, phthalates, dan pewarna buatan, termasuk dalam kategori
petrokimia, yaitu bahan kimia sintetis yang terbuat dari minyak bumi. Hal ini
menunjukkan bahwa bahan-bahan detergen sangat tidak ramah lingkungan karena
berasal dari sumber energi yang tidak bisa diperbaharui.
Belum lagi jika kita berbicara mengenai limbahnya. Air limbah bekas
cucian, shampo dan sabun disebut juga greywater, biasanya dibuang sembarangan
ke selokan, yang kemudian akan bermuara di sungai dan laut. Penggunaan ABS
sebagai surfaktan dalam detergen merupakan penyebab dari penumpukan limbah
rumah tangga di sungai dan laut. Busa menumpuk yang dihasilkan ABS ini sulit
terurai oleh mikroorganisme sehingga membuat air sungai dan laut menjadi
kekurangan oksigen sehingga membahayakan kelangsungan biota yang hidup di
dalamnya. Bukan hanya mati, biota sungai dan laut juga bisa cacat akibat mutasi
gen.
Berdasarkan data resmi Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Jakarta
2008, sedikitnya 1,3 juta meter kubik limbah cair rumah tangga dari 22 juta
penduduk Jabodetabek dan 1600 industri setiap hari digelontorkan ke laut dari 13
sungai besar mulai dari Sungai Kamal hingga Cakung. Itu belum termasuk beban
500 ribu ton sampah per tahun yang menjadi polutan beracun perairan Teluk

2
Jakarta. Menurut Direktur Teknik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Solo Ir
Soemedi Wasisto, SH, MM., limbah cair yang dibuang penduduk Solo
diperkirakan sekitar 75.000 m³ setiap harinya dari sekitar 150.000 rumah tangga.
Bukan hanya terjadi di Jakarta, masalah serupa juga terjadi di seluruh dunia. Hal
ini perlu diperhatikan oleh banyak masyarakat/konsumen untuk menggunakan
detergen yang lebih ramah lingkungan untuk tetap menjaga kelestarian
lingkungan.
Dengan timbulnya berbagai masalah lingkungan tersebut, dan
meningkatnya green consumers kami optimis dapat memasuki market share
detergen ramah lingkungan berbentuk tablet yang telah dikuasai dipasaran dengan
mengangkat mobile detergent ramah lingkungan 3 in 1 yaitu pembersih, pewangi
dan pelembut yang praktis digunakan bahkan mudah dibawa kemana-mana
dengan bentuk padatan berbentuk tablet effervescent, tentunya dengan berbagai
keunggulan dan kepraktisan pencucian. Detergen ini akan kami beri nama MO-
GENT (singkatan dari Mobile Detergent) menggunakan formulasi baru
surfactant jenis MES (metil ester sulfonat) yang bersifat biodegradable sehingga
limbahnya dapat terdegradasi langsung oleh alam dan tidak terakumulasi. Hal
inilah yang menjadi ide kelompok kami untuk berupaya melakukan valuasi dan
komersialisasi produk detergen tablet ramah lingkungan, agar menjadi produk
detergen ramah lingkungan yang ekonomis sehingga penggunaan detergen ini
dapat didapatkan dengan terjangkau dan mudah, ditambah lagi dengan bentuk
tablet yang dapat dijadikan takaran dalam penggunaan banyaknya detergen dalam
pencucian.
Dalam makalah ini, kami akan membahas bahan baku serta teknologi
proses pembuatan detergen tablet dan cara valuasi serta komersialisasi produk
deterjen tablet ini. Diharapkan agar MO-GENT akan menjadi jawaban akan
kebutuhan masyarakat dengan mobilitas tinggi yang memiliki kesadaran akan
pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, dimulai dari hal kecil disekitar kita.
B. Perumusan Masalah
Berbagai masalah yang mendasari pembuatan MO-GENT detergen tablet
ini adalah :

3
1. Adanya kebutuhan akan bentuk detergen yang praktis dan mudah
dibawa saat bepergian
2. Adanya kebutuhan akan detergen yang mudah dalam penakaran
sehingga lebih mudah dipakai
3. Adanya kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian
lingkungan, dimulain dari tingkat rumah tangga.
C. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah
1. Menjelaskan jenis bahan baku dan proses pembuatan MO-GENT
2. Menjelaskan berbagai manfaat dan keunggulan dari produk MO-
GENT
3. Membahas aspek valuasi dan komersialisasi MO-GENT
D. Ruang Lingkup
Pembahasan pada makalah ini meliputi
1. Pengertian Detergen dan MES
2. Bahan Baku dan Formulasi Detergen Tablet
3. Teknologi Proses pembuatan Detergen Tablet
4. Metode Komersialisasi Detergen Tablet
5. Metode Valuasi Detergen Tablet
E. Manfaat
Manfaat pembuatan makalah ini diantaranya agar:
1. Pembaca dapat mengetahui bahan baku dan cara pembuatan MO-
GENT
2. Pembaca dapat mengetahui manfaat dan keunggulan yang
ditawarkan oleh produk MO-GENT
3. Pembaca mengetahui aspek komersialisasi dan valuasi yang
diterapkan MO-GENT untuk menarik konsumen.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian detergen
Detergen berasal dari kata detergree yang merupakan bahasa latin yang
berarti membersihkan. Detergen merupakan penyempurnaan dari produk sabun.
Kelebihannya dibandingkan sabun adalah bisa mengatasi air sadah dan larutan
asam, serta harganya lebih murah. Detergen sering disebut dengan istilah detergen
sintetis yang mana detergen yang di buat berasal dari bahan-bahan sintetis (Luis,
1994).
Detergen adalah kelompok kimia yang mengandung gugus hidrofobik pada
bagian ekor dan gugus hidrofilik pada bagian kepala. Kelompok umum dari
molekul ini adalah surfaktan. Surfaktan dapat berinteraksi dengan air dengan
berbagai cara yang masing-masing dimodifikasi dengan jaringan ikatan hidrogen
dari air. Ketika terjadi reduksi gaya kohesif pada air, maka terjadi pula reduksi
tegangan permukaan .
Detergen yang dikenal sekarang adalah detergen sintetik. Rumus kimia
detergen sintetik menyerupai rumus kimia sabun. Detergen sintetik merupakan
garam dari sulfonat atau sulfat berantai panjang (RSO3- Na+ dan ROSO3- Na+)
dengan R=alkil, C12- C18. Sedangkan sabun adalah garam logam alkali (biasanya
garam natrium) dari asam-asam lemak rantai panjang (RCOO- Na+) dengan
R=alkil, C12- C18 (Fessenden dan Fessenden, 1995).
Ketidakuntungan sabun muncul bila digunakan dalam air sadah, yang
mengandung kation logam-logam tertentu seperti Ca, Mg, Ba, Fe, dan Fe. Kation-
kation tersebut menyebabkan garam-garam natrium atau kalium dari asam
karboksilat yang semula larut menjadi garam-garam karboksilat yang tidak larut
(Sastrohamidjojo, 2005).
Kemampuan deterjen untuk menghilangkan berbagai kotoran yang menempel
pada kain atau objek lain, mengurangi keberadaan kuman dan bakteri yang
menyebabkan infeksi dan meningkatkan umur pemakaian kain, karpet, alat-alat
rumah tangga dan peralatan rumah lainnya, sudah tidak diragukan lagi. Oleh

5
karena banyaknya manfaat penggunaan deterjen, sehingga menjadi bagian penting
yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat modern.
B. Sejarah dan perkembangan detergen
Detergen pertama kali disintesis pada tahun 1940-an, yaitu garam natrium
dari alkil hidrogen sulfat. Alkohol berantai panjang di buat dengan cara
penghidrogenan lemak dan minyak. Alkohol berantai panjang ini direaksikan
dengan asam sulfat menghasilkan alkil hidrogen sulfat dan kemudian dinetralkan
dengan basa.
CH3(CH2)10CH2OH + HOSO2OH CH3(CH2)10CH2OSO2OH + H2O
Laurel Alkohol Asam Sulfat Lauril Hidrogen Sulfat
O
CH3-(CH2)10CH2 O S O - Na+ + H2O
O
Natrium Lauril Sulfat
Natrium lauril sulfat adalah detergen yang baik. Karena garamnya berasal
dari asam kuat, larutannya netral. Garam kalsium dan magnesiumnya tidak
mengendap dalam larutannya, sehingga dapat di pakai dengan air lunak atau air
sadah.
Pada masa kini, detergen yang umum digunakan ialah alkil benzene
sulfonat berantai lurus. Pembuatannya melalui tiga tahap. Alkena rantai lurus
dengan jumlah karbon 10-14 direaksikan dengan benzene dan katalis Friedeft-
Craft (AlCl3 atau HF) akan membentuk ikatan alkil benzene. Sulfonasi dan
penetralan dengan basa akan melengkapi proses ini. Rantai alkil sebaliknya tidak
bercabang. Alkil benzene sulfonat yang bercabang bersifat tidak dapat diuraikan
jasad renik (biodegradable). Detergen ini mengakibatkan masalah polusi berat
pada tahin 1950-an berupa buih pada unit-unit penjernihan serta di sungai dan di
danau-danau. Sejak tahun 1965 digunakan benzene sulfonat yang tak bercabang.
Detergen jenis ini mudah didegradasi secara biologis oleh mikroorganisme dan
tidak berakumulasi di lingkungan kita (Hart, 1998).
Awalnya deterjen dikenal sebagai pembersih pakaian, namun kini meluas
dalam bentuk produk-produk seperti:

6
1. Personal cleaning product, sebagai produk pembersih diri seperti sampo,
sabun cuci tangan, dll.
2. Laundry, sebagai pencuci pakaian, merupakan produk deterjen yang paling
populer di masyarakat.
3. Dishwashing product, sebagai pencuci alat-alat rumah tangga baik untuk
penggunaan manual maupun mesin pencuci piring.
4. Household cleaner, sebagai pembersih rumah seperti pembersih lantai,
pembersih bahan-bahan porselen, plastik, metal, gelas, dll.

C. Penggolongan detergen
Berdasarkan dapat tidaknya zat aktif terdegradasi, detergen terbagi menjadi
dua bagian yaitu, detergen keras dan detergen lunak.
1. Detergen Keras
Detergen ini mengandung zat aktif yang sukar dirusak oleh mikroorganisme
meskipun bahan itu telah di pakai dan telah di buang. Hal ini diakibatkan adanya
rantai cabang pada atom karbon, akibatnya zat tersebut masih aktif dan jenis
inilah yang dapat menyebabkan pencemaran air, seperti Alkil Benzene Sulfonat
(ABS).
2. Detergen Lunak
Detergen ini mengandung zat aktif yang relative mudah untuk di rusak
mikroorganisme karena umumnya zat aktif ini memiliki rantai karbon yang tidak
bercabang, sehingga setelah dipakai, zat aktif ini akan rusak, contohnya Linier
Alkil Benzene Sulfonat (LAS) (Schwartz, 1958).
Berdasarkan bentuk fisiknya, detergen dibedakan menjadi:
1. Detergen Cair
Secara umum, detergen cair hampir sama dengan detergen bubuk. Hal yang
membedakan hanyalah bentuknya: bubuk dan cair. Produk ini banyak digunakan
di laundry modern menggunakan mesin cuci kapasitas besar dengan teknologi
yang canggih.
2. Detergen Krim

7
Detergen krim bentuknya hampir sama dengan sabun colek, tetapi kandungan
formula keduanya berbeda. Di luar negeri, produk biasnaya tidak dijual dalam
partai kecil, tetapi dijual dalam partai besar (kemasan 25 kg).

3. Detergen bubuk
Berdasarkan keadaan butirannya, detergen bubuk dapat dibedakan menjadi 2,
yaitu detergen bubuk berongga dan detergen bubuk padat atau masif. Perbedaan
bentuk butiran kedua kelompok detergen tersebut disebabkan oleh perbedaan
dalam proses pembuatannya. Ditinjau dari efektivitasnya untuk mencuci, kedua
bentuk detergen tersebut dapat dikatakan sama.
 Detergen bubuk berongga
Detergen bubuk berongga mempunyai ciri butirannya mempunyai rongga.
Butiran detergen yang berongga dapat dianalogikan dengan bentuk bola sepak
yang didalamnya rongga. Ini berarti butiran detergen jenis ini mempunyai
volume per satuan berat yang besar karena adanya rongga tersebut. Butiran
detergen jenis berongga dihasilkan oleh proses spray drying.
Kelebihan detergen bubuk berongga dibandingkan dengan detergen bubuk
padat adalah volumenya lebih besar. Dengan berat yang sama, detergen bubuk
dengan butiran berongga tampak lebih banyak dibandingkan dengan detergen
padat. Selain kelebihan yang dipunyainya, detergen berongga mempunyai
kelemahan. Untuk membuat detergen berongga diperlukan investasi yang
besar karena harga mesin yang digunakan (spray dryer) sangat mahal, yaitu
mencapai nilai miliaran rupiah. Dengan kondisi ini, pembuatan detergen
berongga tidak dapat diaplikasikan untuk skala dan home industry (industri
rumah tangga), baik skala kecil maupun menengah. Sebagian besar detergen
bubuk yang dipasarkan ke kondumen termasuk dalam golongan detergen
bubuk berongga.
 Detergen bubuk padat/masif
Bentuk butiran detergen bubuk padat/masif dapat dianalogikan degan
bola tolak peluru, yaitu semua bagian butirannya terisi oleh padatan sehingga
tidak berongga. Butiran detergen yang padat merupakan hasil olahan proses

8
pencampuran kering (dry mixing). Proses dry mixing dapat dibagi menjadi
dua, yaitu dry mixing granulation (DMG process) dan simple dry mixing
(metode campur kering sederhana = CKS).
Kelebihan detergen bubuk padat, yaitu untuk membuatnya tidak
diperlukan modal besar karena alatnya termasuk sederhana dan berharga
murah. Kekurangannya adalah karena bentuknya padat maka volumenya tidak
besar sehingga jumlahnya terlihat sedikit.
Berdasarkan ion yang dikandungnya, detergen dibedakan menjadi :
1. Cationic detergents
Detergen yang memiliki kutub positif disebut sebagai cationic detergents.
Sebagai tambahan selain adalah bahan pencuci yang bersih, mereka juga
mengandung sifat antikuman yang membuat mereka banyak digunakan di rumah
sakit. Kebanyakan detergen jenis ini adalah turunan dari ammonia.
2. Anionic detergents
Detergen jenis ini adalah merupakan detergen yang memiliki gugus ion
negatif.
3. Neutral atau Non-Ionic Detergents
Nonionic detergents banyak digunakan untuk keperluan pencucian piring.
Karena detergen jenis ini tidak memiliki adanya gugus ion apapun, detergen jenis
ini tidak bereaksi dengan ion yang terdapat dalam air sadah. Nonionic detergents
kurang mengeluarkan busa dibandingkan dengan ionic detergents.

D. Komponen penyusun detergen


Komponen penyusun detergen diantaranya adalah:
1. Surfaktan
Detergen termasuk dalam kelas umum senyawa yang disebut dengan
surfaktan (surface active agents), yakni senyawa yang dapat menurunkan
tegangan permukaan air. Molekul surfaktan apa saja mengandung suatu ujung
hidrofobik (satu rantai hidrokarbon atau lebih) dan satu ujung hidrofobik.
Porsi hidrokarbon dari suatu molekul surfaktan harus mengandung 12 atom
karbon atau lebih agar efektif (Ralp, 1982).

9
Gambar 1. Lambang Umum untuk Suatu Surfaktan

Molekul-molekul dan ion-ion yang diadsorbsi pada antar muka


dinamakan surface aktive agent atau surfaktan. Nama lainnya adalah amfifil,
yang menunjukkan bahwa molekul atau ion tersebut mempunyai affinitas
tertentu terhadap baik solven polar maupun non polar. Tergantung dari jumlah
dan sifat dari gugus-gugus polar dan non polar yang ada padanya, amfifil
dapat bersifat hidrofilik (suka air), lipofilik (suka minyak) atau bersifat
seimbang diantara dua sifat yang ekstrim tersebut.
Sebagai contoh, alkohol-alkohol berantai lurus, amina-amina dan asam
asam semuanya adalah amfifil yang sifatnya dapat berubah dari hidrofilik atau
lipofilik jika jumlah atom-atom karbon dalam rantai alkilnya bertambah. Oleh
karena itu, etil akohol dapat bercampur dengan air dalam semua perbandingan.
Sebagai bandingan, kelarutan amil akohol dalam air sangat berkurang, sedang
setil alkohol dapat dikatakan bersifat lipofilik dan tidak larut dalam air
(Moechtar, Drs. Apt. 1989)
Rosen (1978) menggolongkan surfaktan dari segi struktur kimianya
atau berdasarkan sifat gugus hidrofilik dan gugus hidrofobiknya. Surfaktan
memiliki rantai atom karbon yang panjang yang merupakan bagian yang
hidrofobik. Oleh karena adanya kedua bagian ini dalam suatu senyawa maka
disebut dengan ampifilik (Myers, D. 2006)
a. Surfaktan anionik
Surfaktan anionik merupakan surfaktan dengan bagian aktif pada
permukaannya mengandung muatan negatif. Contoh dari jenis surfaktan
anionik adalah Linier Alkil Benzene Sulfonat (LAS), Alkohol Sulfat (AS),
Alkohol Eter Sulfat (AES), Alpha Olefin Sulfonat (AOS).
b. Surfaktan kationik

10
Surfaktan ini merupakan surfaktan dengan bagian aktif pada
permukaannya mengandung muatan positif. Surfaktan ini terionisasi dalam air
serta bagian aktif pada permukaannya adalah bagian kationnya. Contoh jenis
surfaktan ini adalah ammonium kuarterner.

c. Surfaktan nonionik
Surfaktan yang tidak terionisasi di dalam air adalah surfaktan nonionik
yaitu surfaktan dengan bagian aktif permukaanya tidak mengandung muatan
apapun, contohnya: alkohol etoksilat, polioksietilen (R-OCH2CH) (Luis, S.
1994).
d. Surfaktan ampoterik
Surfaktan ini dapat bersifat sebagai non ionik, kationik, dan anionik di
dalam larutan, jadi surfaktan ini mengandung muatan negatip maupun muatan
positip pada bagian aktif pada permukaannya. Contohnya: Sulfobetain (RN+
(CH3)2CH2CH2SO3- (Myers, D. 2006)
Surfaktan-surfaktan menurunkan tegangan permukaan air dengan
mematahkan ikatan-ikatan hidrogen pada permukaan. Mereka melakukan ini
dengan menaruh kepalakepala hidrofiliknya pada permukaan air dengan ekor-
ekor hidrofobiknya terentang menjauhi permukaan air.
2. Builder (Bahan Penguat)
Builder adalah suatu bahan yang dapat menambah kerja dari bahan
penurun tegangan permukaan dengan cara menonaktifkan mineral penyebab
kesadahan air. Builders digunakan untuk melunakkan air sadah dengan cara
mengikat mineral-mineral yang terlarut, sehingga surfaktan dapat
berkonsentrasi pada fungsi utamanya.
Builder juga membantu menciptakan kondisi keasaman yang tepat agar
proses pembersihan dapat berlangsung lebih baik serta membantu
mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang telah lepas.
Dalam pembuatan detergen, builder sering ditambahkan dengan
maksud menambah kekuatan daya cuci dan mencegah mengendapnya kembali

11
kotoran-kotoran yang terdapat pada pakaian yang akan dicuci. Contohnya:
Sodium Tri Poli Phosphat (STPP), Nitril Tri Acetat (NTA).
3. Filler (Pengisi / Pengental)
Bahan ini berfungsi sebagai pengisi dari seluruh campuran bahan baku.
Pemberian bahan ini berguna untuk memperbanyak atau memperbesar
volume. Keberadaan bahan ini dalam campuran bahan baku sabun semata-
mata ditinjau dari aspek ekonomis. Namun selain digunakan sebagai
pembantu proses, bahan pengisi ini juga berfungsi meningkatkan kekuatan
ionik dalam larutan pencuci. Pada umumnya sebagai bahan pengisi digunakan
Sodium Sulfat (Na2SO4) (Permono. Ajar. 2002).
4. Additives ( Bahan Tambahan)
Bahan tambahan (additives) digunakan untuk membuat produk lebih
menarik, misalnya pewangi, pemutih, pelembut, pewarna, dan lain sebagainya.
Bahan ini tidak berhubungan langsung dengan daya cuci detergen, bahan ini
ditambahkan lebih untuk maksud komersialisasi produk.
5. Air
Kualitas air yang digunakan adalah air yang dapat di minum yang
berarti air yang bebas kandungan air dari bakteri berbahaya dan
ketidakmurnian kimiawi. Air ini harus jernih, tidak berwarna, tidak berbau,
dan tidak mengandung bahan tersuspensi atau kekeruhan. Kadar air
menunjukkan banyaknya terdapat dalam suatu bahan, kadar air maksimum
sebesar 15% (Sastrohamidjojo, H. 2005).

E. Surfaktan MES
Surfaktan merupakan zat aktif penurun tegangan permukaan yang dapat
diproduksi secara sintetis kimiawi atau biokimiawi. Surfaktan memiliki gugus
hidrolik dan hidrofobik dalam satu molekul. Pembentukan film pada antar muka
fasa menyebabkan terjadinya penurunan energi antar muka. Surfaktan
dimanfaatkan sebagai bahan penggumpal, pembasah, pembusa dan emulsifier oleh
industri farmasi, industri kosmetika, industri kimia, industri pertanian serta
industri pangan (Suryani et al., 2002).

12
Menurut Matheson (1996), kelompok surfaktan terbesar yang diproduksi dan
digunakan oleh berbagai industri (dalam jumlah) adalah surfaktan anionik.
Karakteristiknya yang hidrofilik disebabkan karena adanya gugus ionic yang
cukup besar, yang biasanya berupa grup sulfat atau sulfonat. Beberapa contoh
surfaktan anionik yaitu alkilbenzen sulfonat linear (LAS), alkohol sulfat (AS),
alkohol eter sulfonat (AES), alfa olefin sulfonat (AOS), paraffin (secondary
alkane sulfonate, SAS), dan metil ester sulfonat (MES). Jenis-jenis surfaktan
tersebut diperoleh melalui tahapan sulfonasi atau sulfatasi.
Metil ester sulfonat merupakan surfaktan anionik yaitu surfaktan yang
bermuatan negative pada gugus hidrofiliknya atau bagian aktif permukaan
(surface active). Struktur kimia metil ester sulfonat (MES) adalah sebagai berikut
(Watkins, 2001):
O

R―CH―C―OCH3

Menurut Watkins (2001), jenis minyak yang dapat digunakan sebagai bahan
baku pembuatan metil ester sulfonat (MES) adalah kelompok minyak nabati
seperti minyak kelapa, minyak sawit, minyak inti sawit, stearin sawit, minyak
kedelai atau tallow. Metil ester sulfonat dari minyak nabati yang mengandung
atom karbon C10, C12, dan C14 biasa digunakan untuk light duty diswashing
detergent, sedangkan MES dari minyak nabati dengan atom karbon C16-C18 dan
tallow biasa digunakan untuk detergen bubuk dan detergen cair (liquid laundry
detergent).
Menurut Matheson (1996), metil ester sulfonat (MES) telah mulai
dimanfaatkan sebagai bahan aktif pada produk-produk pembersih (washing and
cleaning products). Pemanfaatan surfaktan jenis ini pada beberapa produk adalah
karena metil ester sulfonat memperlihatkan karakteristik dispersi yang baik, sifat
detergensi yang baik terutama pada air dengan tingkat kesadahan yang tinggi
(hard water) dan tidak adanya fosfat, ester asam lemak C14, C16, dan C18
memberikan tingkat detergensi terbaik serta bersifat mudah didegradasi (good
biodegradability). Jika dibandingkan petroleum sulfonat, surfaktan MES

13
menunjukkan beberapa kelebihan diantaranya yaitu pada konsentrasi MES yang
lebih rendah daya detergensinya sama dengan petroleum sulfonat, dapat
mempertahankan aktivitas enzim yang lebih baik, toleransi yang lebih baik
terhadap keberadaan kalsium, dan kandungan garam (disalt) lebih rendah.
Menurut Hui (1996), pada dasarnya metil ester sulfonat (MES) digunakan
sebagai surfaktan anionik pengganti LAS dan FAES (Fatty alcohol ether sulfate).
Metil ester sulfonat (MES) diklaim memiliki beberapa manfaat diantaranya sifat
deterjensinya baik pada konsentrasi rendah, beban terhadap lingkungan lebih
rendah, merupakan pasokan yang baik untuk bahan yang berkualitas tinggi.
Bentuk dari produk metil ester sulfonat (MES) menurut MacArthur et al.,
(1998) sangatlah penting, karena adanya kesulitan khusus dalam memformulasi
metil ester sulfonat (MES) ke dalam sistem alkalin yang mengandung air. Metil
ester sulfonat (MES) memperlihatkan stabilitas hidrolitik yang kurang baik pada
pH yang tinggi dibandingkan dengan surfaktan anionik yang umum seperti linear
alkilbenzen (LAB) sodium sulfonat. Sebagai contoh, ketika formulasi heavy duty
laundry tertentu mengandung metil ester sulfonat (MES) di spray dried, maka
fraksi metil ester sulfonat (MES) yang besar akan didegradasi ke bentuk di-salt
selama proses pengeringan, sehingga hasil produknya memiliki stabilitas umur
simpan yang buruk.
MacArthur et al., (1998) menambahkan bahwa untuk memproduksi produk-
produk yang formulanya mengandung metil ester sulfonat (MES) dibutuhkan
teknologi yang cukup dan diusahakan metil ester sulfonat (MES) ada dalam
bentuk fisik yang sesuai. Sebagai contoh, ketika menggunakan metil ester
sulfonat (MES) dalam laundry detergent granules, teknologi yang menarik adalah
aglomerasi, yang secara substansial berada dalam kondisi kering (kelembaban
kurang dari 2%), untuk selanjutnya metil ester sulfonat (MES) bubuk dicampur
dengan builder yang diinginkan dan ingridient lain dalam formulasi.
Daya detergensi linear alkilbenzen sulfonat (LAS), alkohol sulfat (AS) dan
MES selain dipengaruhi oleh panjang rantai karbon juga dipengaruhi oleh
kesadahan air yang digunakan. Semakin panjang rantai karbon asam lemak, maka
daya detergensinya semakin meningkat. Metil ester sulfonat (MES) palmitat (C16)
mempunyai daya detergensi paling tinggi dibandingkan dengan LAS dan AS yaitu

14
sekitar 76%, sedangkan LAS dan AS masing-masing hanya sebesar 70% dan
60%. Semakin tinggi kesadahan air yang digunakan, maka daya detergensi LAS,
AS, dan MES semakin rendah. Pada tingkat kesadahan 360 ppm CaCO 3 daya
detergensi dari MES lebih tinggi (56%) dibandingkan dengan LAS (20%) dan AS
(38%) (Yamane and Miyawaki, 1990).
Metil ester sulfonat (C16) bersifat lebih mudah terbiodegradasi dibandingkan
dengan LAS dan AS. Pada hari ke-5, MES (C16) terbiodegradasi sempurna dan
tidak meninggalkan residu karbon organic, sedangkan AS terbiodegradasi secara
sempurna setelah hari ke-5, sedangkan LAS walaupun senyawa tersebut
mengandung rantai karbon pendek tetapi relatif lebih sulit terbiodegradasi secara
sempurna. Hal ini disebabkan karena LAS mengandung senyawa karbon aromatic
(rantai karbon berbentuk cincin). Biodegradasi maksimum dari LAS terjadi
setelah hari ke-10 dengan menghasilkan residu C organik sebesar 34% (Yamane
and Miyawaki, 1990). Karakteristik surfaktan metil ester sulfonat (MES)
komersial dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 1. Karakteristik Metil Ester Sulfonat
Spesifikasi MES (C16-C18)
Metil ester sulfonat, (% b/b) a 83,0
Disodium karboksi sulfonat (di-salt), (% b/b) a 3,5
Air, (% b/b) a 2,3
Nilai pH a 5,3
Warna Klett, 5% aktif (MES + di-salt) a 45
Tegangan permukaan (mN/m) b 39,0 – 40,2
Tegangan antar muka (mN/m) b 8,4 – 9,7
Sumber : a Sheats (2002)
b
Pore (1993)
F. Tablet Effervescent
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa
bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan, dapat digunakan sebagai tablet
cetak dan tablet kempa (Anonim, 1995)a. Tablet-tablet dapat berbeda-beda dalam
ukuran, berat, kekerasan, ketebalan dan daya hancurnya dan dalam aspek lainnya
tergantung pada cara pemakaian tablet dan metode pembuatannya (Ansel, 1989).

15
Tablet effervescent adalah sediaan tablet yang dibuat dengan cara
pengempaan bahan-bahan aktif dengan campuran asam-asam organik, seperti
asam sitrat atau asam tartaratdan natrium bikarbonat. Bila tablet ini dimasukkan
dalam air, mulailah terjadi reaksi kimia antara asam dan natrium bikarbonat
sehingga terbentuk garam natrium dari asam dan menghasilkan gas
karbondioksida (CO2) serta air. Reaksinya cukup cepat dan biasanya berlangsung
dalam waktu satu menit atau kurang. Adapun reaksi yang terjadi, sebagai berikut :

H3C6H5O7 . H2O + 3NaHCO3 Na3C6H5O7 + 4H2O + 3CO2


Asam sitrat Na bikarbonat Na sitrat air karbondioksida

H2C4H4O6 + 3NaHCO3 Na2C4H4O6 + 2H2O + 2CO2


Asam tartrat Na bikarbonat Na tartrat air karbondioksida
Keunggulan tablet effervescent sebagai bentuk sediaan adalah penyiapan
larutan dalam waktu seketika yang mengandung dosis yang tepat. Selain itu juga
dapat menghasilkan larutan jernih ketika Pada sediaan effervescent timbul
kesukaran untuk menghasilkan produk yang stabil secara kimia. Menurut Ansar,
dkk (2006), keberadaan airdalam tablet effervescent dapat berperan sebagai
pemicu terjadinya reaksi effervescing sebelum pelarutan, sehingga ketika
dilarutkan, reaksi antara komponen asam dan basa .berjalan lambat dan reaksinya
hampir jenuh. Hal ini ditunjukkan dengan lamanya waktu diperlukan oleh tablet
untuk larut secara sempurna dan menjadi bagian yang tersuspensi, sehingga tidak
tampak adanya partikel di dalam larutan. Adapun kerugian dari tablet effervescent
adalah harganya yang relatif mahal dan fasilitas produksi yang khusus.

G. Formulasi Detergen
Menurut Hui (1996), pada dasarnya metil ester sulfonat (MES) digunakan
sebagai surfaktan anionik pengganti LAS dan FAES (Fatty alcohol ether sulfate).
Metil ester sulfonat (MES) diklaim memiliki beberapa manfaat diantaranya sifat
deterjensinya baik pada konsentrasi rendah, beban terhadap lingkungan lebih
rendah, merupakan pasokan yang baik untuk bahan yang berkualitas tinggi.
Bentuk dari produk metil ester sulfonat (MES) menurut MacArthur et al.,
(1998) sangatlah penting, karena adanya kesulitan khusus dalam memformulasi

16
metil ester sulfonat (MES) ke dalam sistem alkalin yang mengandung air. Metil
ester sulfonat (MES) memperlihatkan stabilitas hidrolitik yang kurang baik pada
pH yang tinggi dibandingkan dengan surfaktan anionik yang umum seperti linear
alkilbenzen (LAB) sodium sulfonat. Sebagai contoh, ketika formulasi heavy duty
laundry tertentu mengandung metil ester sulfonat (MES) di spray dried, maka
fraksi metil ester sulfonat (MES) yang besar akan didegradasi ke bentuk di-salt
selama proses pengeringan, sehingga hasil produknya memiliki stabilitas umur
simpan yang buruk.
MacArthur et al., (1998) menambahkan bahwa untuk memproduksi produk-
produk yang formulanya mengandung metil ester sulfonat (MES) dibutuhkan
teknologi yang cukup dan diusahakan metil ester sulfonat (MES) ada dalam
bentuk fisik yang sesuai. Sebagai contoh, ketika menggunakan metil ester
sulfonat (MES) dalam laundry detergent granules, teknologi yang menarik adalah
aglomerasi, yang secara substansial berada dalam kondisi kering (kelembaban
kurang dari 2%), untuk selanjutnya metil ester sulfonat (MES) bubuk dicampur
dengan builder yang diinginkan dan ingridient lain dalam formulasi.
Menurut Adami dan Moretti (1996), pada saat memformulasi detergen ada
beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah sifat yang
diinginkan (ditentukan oleh specific duty), jenis dan kisaran komponen, serta
kesetimbangan komponen. Tetapi pada dasarnya semua jenis detergen bubuk
diformulasikan dengan mengandung komponen-komponen pokok seperti
surfaktan, builder, bleaches, filler dan, specific additives. Contoh formulasi
detergen bubuk yang banyak digunakan di Eropa di sajikan pada Tabel 2.

17
Surfaktan (surface active agent) merupakan senyawa yang dapat menurunkan
tegangan permukaan. Surfaktan adalah komponen yang berpengaruh penting
terhadap sifat-sifat larutan aqueous dalam hubungannya dengan wetting,
pembusaan, pendispersi padatan, emulsifying oil, dan penghilang kotoran dari
kain. Heavy duty laundry detergent yang modern untuk mesin cuci dengan drum
horizontal harus memiliki minimal dua surfaktan, satu macam builder, bleaching
system, enzim, antiredeposition agent, penstabil busa dan kontrol aditif,
flourescent whitening agent atau optical brigtener, penghambat korosi, parfum,
dyestuff dan filler (Porter, 1997).
Menurut INFORM (1998), surfaktan dan builder memberikan sifat bulki
dalam formulasi detergen rumah tangga, dan aditif seperti enzim, polimer, dan
bleaching system memiliki peranan penting dalam cleaning performance. Builder
dan surfaktan berturut-turut menempati posisi pertama dan kedua dalam
ingredient detergen di USA. Jumlah pemakaian aditif pada formula produk
detergen di USA secara detail disajikan pada Tabel 3.

Menurut Gupta dan Wiese (1992) kombinasi antara builder dan surfaktan
akan memberikan efek sinergisme untuk mendorong efesiensi deterjensi dan
pembersihan secara total dibandingkan jika digunakan sendiri -sendiri. Beberapa
sifat dan karakteristik penting yang harus dimiliki oleh senyawa-senyawa sebagai
builder adalah:

18
 Memiliki kemampuan mengontrol tingkat kesadahan air dan ion – ion
logam lainnya.
 Berkontribusi terhadap alkalinitas produk akhir.
 Memiliki kapasitas buffer pada kisaran pH yang cukup.
 Memiliki kemampuan untuk deflokulasi.
 Berkesesuaian dengan formulasi ingredient dan aditif detergen lainnya.
 Aman terhadap konsumen.
 Aseptabilitas lingkungan cukup baik.
 Dapat diproses.
 Biaya /performance cukup baik.
Beberapa jenis builder yang sudah banyak digunakan dalam formulasi
detergen baik tunggal maupun dikombinasikan dengan builder lain untuk
memberikan sifat unik pada produk akhir menurut Gupta dan Wiese (1992) antara
lain adalah: tetrasodium pyrophosphate (Na4P2O7-TSPP), silikat (baik sodium
maupun potasium silikat), karbonat (Na2CO3), zeolit, dan sodium nitrilotriacetate
(N(CH2COONa)3.H2O – NTA).
Menurut Gupta dan Wiese (1992) selain builder dan surfaktan, dalam
formulasi detergen juga ditambahkan sejumlah aditif yang memberikan fungsi
khusus lainnya. Beberapa aditif yang sudah digunakan secara luas antara lain
adalah: sodium sulfate (Na2SO4), sodium chloride (NaCl), sodium
carboxymethylcellulose (NaCMC), optical brightener, hydrotrope, enzim dan
anticaking agent.
Menurut Hui (1996) ada beberapa faktor yang mempengaruhi deterjensi
antara lain adalah konsentrasi dan struktur surfaktan, tingkat kesadahan dan
adanya builder, serta kotoran alami dan substrat. Faktor penting lainnya adalah
temperatur mencuci; jangka waktu proses mencuci; reaksi mekanik; jumlah relatif
kotoran, substrat; serta kondisi bilasan.
Hubungan antara penghilangan kotoran dengan konsentrasi surfaktan secara
umum akan membentuk sigmoid. Dimana mula-mula penghilangan kotoran pada
air akan berjalan lambat tanpa adanya penambahan surfaktan kemudian
meningkat secara bertahap ketika detergensi sedikit dipengaruhi dengan
peningkatan konsentrasi surfaktan (Hui, 1996)

19
Struktur kimia surfaktan merupakan salah satu faktor penting yang
berpengaruh terhadap keefektifan detersif. Diantara asam lemak sabun dan alkil
sulfat rantai lurus, detergensi optimum (pada kondisi pencucian biasa) terjadi pada
panjang rantai sekitar 16 atom karbon. Tetapi secara umum, detergensi optimum
terjadi pada atom karbon 12-16 pada rantai hidropobik, dengan nilai HLB
(hydrophile-lipophile balance) sekitar 12 (Hui, 1996)
Adanya ion logam berat, terutama kalsium dan magnesium, mempunyai
pengaruh terhadap pencucian karena dapat menurunkan detergensi. Detergensi
dapat diperbaiki dengan penambahan surfaktan dalam jumlah tertentu. Dalam
formulasi tradisional yang didalamnya terkandung surfaktan anionik atau sabun,
kain dapat dibersihkan dengan baik melalui pencucian hanya jika konsentrasi
kalsium diturunkan sampai <0,01 mM (Hui, 1996)
Hubungan antara kekuatan pembusaan dengan detergensi selalu menjadi hal
yang menarik, dimana kekuatan pembusaan menurut kebanyakan pikiran
konsumen berhubungan dengan tingginya tingkat detergensi. Padahal, busa tidak
berhubungan langsung dengan detergensi dalam sistem pencucian biasa, dan tidak
memperbaiki pembersihan dalam mesin cuci laundry maupun rumah tangga.
Tingkat pembusaan yang berlebihan dapat menyebabkan surface active cleaning
agent tertentu membentuk konsentrat dalam busa, sehingga mengurangi kontak
dengan kain yang akan dibersihkan (Hui, 1996). Ilustrasi detergen dalam
membersihkan kotoran disajikan pada Gambar

20
Gambar . Ilustrasi pengikatan kotoran oleh detergen
(www.chemistry.co.nz)
Gambar diatas mengilustrasikan bagaimana pengikatan kotoran pada
permukaan suatu benda oleh surfaktan sebagai komponen utama dalam formulasi
detergen. (a) Kondisi pada saat kotoran menempel pada permukaan suatu benda,
(b) Kotoran diikat oleh molekul-molekul surfaktan, (c) Permukaan suatu benda
telah bersih dari kotoran, (d) Molekul-molekul surfaktan menjaga agar kotoran
yang telah diikat tidak menempel kembali pada permukaan suatu benda.
H. Teknologi Proses Produksi
Menurut Ansel (1989), tablet effervescent dibuat memakai dua metode
umum antara lain :
a. Metode granulasi kering
Dalam metode ini, molekul air yang ada pada setiap molekul asam
bertindak sebagai unsur penentu bagi pencampuran serbuk. Sebelum serbuk-
serbuk dicampur atau diaduk, kristal asam sitrat dijadikan serbuk, baru dicampur
dengan serbuk-serbuk lainnya setelah disalurkan lewat ayakan no.60 untuk
memantapkan keseragaman atau meratanya pencampuran. Setelah selesai
pengadukan, serbuk diletakkan diatas lempeng atau gelas atau nampan yang
sesuai dalam sebuah oven atau pemanas lainnya yang sesuai dan sebelumnya oven
ini dipanaskan antara 33,8 - 40°C selama proses pembuatan serbuk dibolak-balik
dengan menggunakan spatel tahan asam. Serbuk ini dikeluarkan dari oven dan
diremas melalui suatu ayakan tahan asam untuk membuat granul-granul seperti
yang diinginkan. Ketika semua adonan telah melalui ayakan, granul-granul ini
segera mengering pada suhu tidak lebih dari 54°C dan segera dipindahkan ke
wadah lalu disimpan secara cepat dan rapat.
b. Metode granulasi basah
Metode granulasi basah tidak perlu air kristal asam sitrat akan tetapi
digunakan air yang ditambahkan ke dalam pelarut (seperti alkohol) yang
digunakan sebagai unsur pelembab granul. Begitu cairan yang cukup ditambahkan
(sebagian) untuk mengolah adonan yang tepat, baru granul diolah dan
dikeringkan. Dalam pembuatan tablet effervescent, hal yang harus diperhatikan
yaitu bagaimana menentukan formula yang tepat sehingga sediaan yang

21
dihasilkan dapat menghasilkan pembuih yang efektif dan tablet yang stabil.
Kesulitan dalam pembuatan tablet effervescent ini yaitu mengendalikan
kelembaban ruangan yang digunakan untuk pembuatan tablet. Semakin tinggi
kelembaban, maka semakin sulit dalam penabletan. Karena dengan tingginya
kelembaban, maka asam basa yang ada dalam tablet akan lebih cepat bereaksi
sehingga tablet yang dihasilkan akan lebih cepat lembek, untuk itu kelembaban
relatif 40% harus tetap terjaga.
Pada proses pembuatan detergent tablet ini akan digunakan metode kering
untuk menghasilkan bentuk yang seragam. Pada proses pembuatan tablet
effervescent ini dibutuhkan ruangan khusus dengan RH 34% dan suhu 20oC.
Proses pencampuran bahan harus dilakukan secara cepat supaya bahan tidak
terpapar terlalu lama mengingat bahan yang digunakan bersifat hidroskopis.
Formulasi detergent tablet effervescent dibuat sesuai dengan formula yang
ditunjukkan pada Tabel dibawah ini.
Tabel 4. Formulasi Detergent Tablet MO-GENT
No. Bahan Persentase (%)
1 Surfaktan MES 30
2 Builder dan cobuilder 25
3 Bleaching agent dan Aktivator 5
4 Bahan Pengisi 15
Aditif
- Pewangi
5 10
- Pelembut
- Enzim, dll
Asam sitrat dan natrium
6 15
bikarbonat.

Bahan-bahan pada tabel diatas dicampur secara merata. Campuran diaduk


sampai homogen kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 70ºC selama 45
menit. Campuran diayak dengan ukuran mesh 40, campuran diaduk sampai
homogen dan dicetak menggunakan mesin cetak tablet single punch (Korch type
EKO).
Untuk mengetahui kualitas tablet yang telah dicetak, maka dilakukan uji
sifat fisik tablet yang meliputi, keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, dan
waktu larut.

22
 Keseragaman bobot.
Dua puluh tablet effervescent ditimbang satu persatu dengan neraca
elektrik. Kemudian dihitung harga rata-rata (x_ ), Standar Deviasi (SD) dan
persen penyimpangan bobot. Hasil yang diperoleh dibandingkan dengan
persyaratan yang ada dalam Farmakope Indonesia (Anonim, 1979).
 Kekerasan.
Sebuah tablet diletakkan pada alat hardness tester (Vanguard type YD-2)
Alat ini secara otomatis akan menentukan kekerasan tablet yang kemudian
hasilnya dapat dilihat dari angka yang muncul pada alat tersebut. Dilakukan
terhadap 10 tablet.
 Kerapuhan.
Dua puluh tablet dibebas debukan dengan aspirator kemudian ditimbang
lalu
dimasukkan ke friability tester (Erweka type T-200) Alat dihidupkan dan
diputar dengan kecepatan 25 rpm selama 4 menit. Setelah selesai tablet
dikeluarkan dari alat dibebas debukan dan ditimbang lagi. Dihitung persentase
bobot tablet yang berkurang dari bobot tablet mula-mula.
 Waktu larut.
Sebuah tablet dimasukkan ke dalam air dengan volume 200 ml pada suhu
sekitar 25°C. Waktu dicatat dengan stop watch sampai tablet hancur dan larut
semua.
I. Metode Komersialisasi
Market oriented merupakan pendekatan yang digunakan dalam
mengembangkan usaha-usaha bisnis. Artinya, komersialisasi dilakukan
berdasarkan adanya kebutuhan pasar. Berbagai jenis teknologi yang ditawarkan
harus mampu menawarkan peningkatan efisiensi pada tingkat harga yang layak.
Di samping aspek teknologi, pengenalan terhadap segmen pasar adalah sangat
penting artinya agar produk deterjen tablet yang diciptakan mampu secara
potensial memiliki pasar utama (captive market). Untuk itu diperlukan strategi
mengamankan pasar produk/teknologi melalui keterkaitan yang erat antara
produsen dan konsumen.

23
1. Strategi Pemasaran
(a) Segmentasi Pasar
Segmentasi pasar merupakan suatu aktivitas membagi atau
mengelompokan pasar yang heterogen menjadi pasar yang homogeny atau
memiliki kesamaan dalam hal minat, daya beli, geografi, perilaku pembelian
maupun gaya hidup (Kotler et al, 2003). Selanjutnya Thompson (2000)
menyatakan bahwa tantangan dalam pemasaran adalah untuk mengidentifikasi
pasar potensial yang menguntungkan untuk dilayani karena jarang sekali satu
program pemasaran dapat memuaskan pasar yang heterogen yang berbeda selera
dan karakteristik untuk itu diperlukan segmentasi pasar.
Kotler et al. (2003) juga menyatakan bahwa segmentasi adalah melihat
pasar secara kreatif, segmentasi merupakan seni mengidentifikasi dan
memanfaatkan peluang-peluang yang muncul di pasar. Pada saat yang sama
segmentasi merupakan ilmu (science) untuk memandang pasar berdasarkan
variable geografis, demografis, psikologis, dan perilaku.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa segmentasi
memiliki peran penting dalam sebuah perusahaan. Segmentasi tersebut memiliki
peran penting karena beberapa alasan ; pertama,segmentasi memungkinkan
perusahaan untuk lebih fokus dalam mengalokasikan sumber daya. Dengan
membagi pasar menjadi segmen-segmen akan memberikan gambaran bagi
perusahaan untuk menetapkan segmen mana yang akan dilayani. Selain itu
segmentasi memungkinkan perusahaan mendapatkan gambaran yang lebih jelas
mengenai peta kompetensi serta menentukan posisi pasar perusahaan (Kotler et al,
2003).
Segementasi pasar terdiri sari usaha untuk mengidentifikasi sebuah
kelompok menjadi sebuah kelompok yang memiliki kesamaan. Segmentasi
merupakan cara tengah antara mass marketing dengan individu. Dalam
segmentasi pasar orang yang berbeda dalam satu segmen diasumsikan benar-
benar memiliki kesamaan, padahal tidak ada dua orang yang benar-benar
memiliki persamaan dalam suatu hal (Kotler, 2003).
Swastha & Handoko (1997) mengartikan segmentasi pasar sebagai
kegiatan membagi-bagi pasar yang bersifat heterogen kedalam satuan-satuan

24
pasar yang bersifat homogen. Menurut Sriyanto (2008), mengsegmentasi pasar
konsumen adalah dengan cara sebagai berikut :
• Segmentasi Geografis, membagi pasar menjadi unit-unit geografis yang
berbeda-beda seperti negara, wilayah negara bagian, kabupaten, kota, atau
pemukiman.
• Segmentasi Demografis, upaya membagi pasar manjadi sejumlah kelompok
berdasarkan variabel-variabel seperti usia, gander, ukuran keluarga, siklus
hidup keluarga, pendapatan, pekerjaan, pendidikan, agama, ras dan
kebangsaan.
• Segmentasi Psikografis, upaya membagi pembeli menjadi kelompok-
kelompok yang berbeda berdasarkan kelas sosial, gaya hidup atau
karakteristik kepribadian.
• Segmentasi Perilaku, upaya membagi suatu pasar kesejumlah kelompok
berdasarkan pengetahuan, sikap, penggunaan atau tanggapan konsumen
terhadap suatu produk. Persyaratan agar segmentasi efektif yaitu :
 Terukur
 Dapat dijangkau
 Subtansial
 Dapat dibedakan
 Dapat dilakukan tindakan tertentu
(b) Market Targeting
Penetapan target pasar adalah dengan cara sebagai berikut :
1. Mengevaluasi Segmen Pasar
• Ukuran dan pertumbuhan segmen
• Daya tarik structural segmen
• Tujuan dan sumber daya perusahaan
2. Memilih Segmen Pasar
• Pemasaran tanpa diferensiasi (Pemasaran massal)
Strategi peliputan pasar dimana perusahaan mungkin memutuskan
untuk mengabaikan perbedaan-perbedaan yang ada pada tiap-tiap
segmen pasar, dan masuk ke pasar secara keseluruhan dengan satu
tawaran.

25
• Pemasaran yang terdiferensiasi
Strategi peliputan pasar dimana sebuah perusahaan memutuskan
untuk menetapkan beberapa segmen pasar atau relung pasar dan
mendesain tawaran yang terpisah bagi masing-masing segmen.
• Pemasaran terkonsentrasi
Strategi peliputan pasar dimana sebuah perusahaan memilih untuk
meraih pangsa pasar yang besar pada satu atau beberapa subpasar.
3. Memilih strategi Peliput Pasar
• Sumber daya yang dimiliki perusahaan
• Tahapan produk dalam daur hidup
• Homogenitas Pasar (Sriyanto, 2008)

Selain itu, terdapat istilah consumer responses (respon konsumen) yang


terdiri dari benefit segmentation (segmentasi manfaat) yaitu pengelompokan yang
didasarkan kepada manfaat yang diharapkan konsumen dari suatu produk atau
jasa, use occasion (saat pemakaian) dan brand atau merek. Dengan ini konsumen
akan dikelompokan berdasarkan respon mereka terhadap produk atau jasa, seperti
ada konsumen yang mementingkan kualitas dan ada konsumen yang
mementingkan harga yang murah.
Setelah perusahaan mengidentifikasi peluang segmen pasar, selanjutnya
adalah mengevaluasi beragam segmen tersebut untuk memutuskan segmen mana
yang menjadi target market. Dalam mengevaluasi segmen pasar yang berbeda
perusahaan harus melihat dua faktor yaitu daya tarik pasar secara keseluruhan
serta tujuan dan resource perusahaan (Kotler dan Armstrong, 2003).
Selanjutnya Kotler et al (2003) menyatakan ada tiga kriteria yang harus
dipenuhi perusahaan pada saat mengevaluasi dan menentukan segmen mana yang
akan dijadikan target. Pertama, perusahaan harus memastikan bahwa segmen
pasar yang dibidik itu cukup besar dan akan cukup menguntungkan bagi
perusahaan. Perusahaaan dapat saja memilih segmen yang kecil pada saat
sekarang namun segmen itu mempunyai prospek menguntungkan dimasa datang.
Sehubungan dengan hal ini, perusahaan harus menelaah kompetisi yang ada di

26
sector tersebut dan potensinya untuk tumbuh karena akan berkaitan juga dengan
ukuran dan pertumbuhan target segmen perusahaan.
Kedua adalah bahwa strategi targetting itu harus didasarkan pada
keunggulan kompetitif perusahaan yang bersangkutan. Keunggulan kompetitif
merupakan cara untuk mengukur apakah perusahaan memiliki kekuatan dan
keahlian yang memadai untuk menguasai segmen pasar yang dipilih sehingga
memberikan value bagi konsumen. Untuk menghasilkan value yang unggul tidak
cukup hanya memiliki sumber daya yang memadai tetapi harus didukung dengan
kapabilitas, kompetensi inti, dan keunggulan kompetitif untuk melaksanakan
diferensiasi yang ditujukan untuk memenangkan kompetisi tersebut. Perusahaan
juga harus menganalisis dari dekat apakah segmen pasar yang dipilih telah sejalan
dan mendukung tujuan jangka panjang perusahaan.
Ketiga adalah bahwa segmen pasar yang dibidik harus didasarkan pada
situasi persaingannya. Perusahan harus memepertimbangkan situasi persaingan
yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi daya tarik targeting
perusahaan. Beberapa faktor yang dipertimbangkan disini antara lain intensitas
persaingan segmen, potensi masuknya pemain baru, hambatan masuk industri,
keberadaan produk-produk pengganti, kehadiran produk-produk komplementer,
serta pertumbuhan kekuatan tawar menawar pembeli maupun pemasok.

(c) Positioning
Positioning merupakan reason for being yaitu bagaimana mendefinisikan
identitas dan kepribadian perusahaan di benak konsumen. Perusahaan harus
mempunyai kredibilitas di benak konsumen untuk itu konsumen perlu dibimbing.
Positioning tidak sekedar membujuk dan menciptakan citra dalam benak
pelanggan, tetapi juga bagaimana merebut kepercayaan pelanggan. Positioning
menyangkut menciptakan being dalam benak konsumen dan membimbing mereka
dengan penuh kreadibilitas. Selanjutnya positioning merupakan sebuah janji yang
dibuat perusahaan kepada konsumen. Janji tersebut harus ditepati dan kemampuan
perusahaan untuk menepati janji merupakan bagian yang vital dan strategi.
Karena alasan inilah, positioning yang tepat merupakan hal yang krusial bagi
keberhasilan akhir perusahaan.

27
Kotler et al (2003) menyatakan ada tempat kriteria yang dapat dilakukan
perusahaan untuk menentukan positioning. Pertama adalah kajian terhadap
konsumen (customer). Disini positioning harus mendeskripsikan value bagi
konsumen karena positioning mendeskripsikan value yang unggul. Selain itu
positioning merupakan penentu penting bagi konsumen pada saat memutuskan
untuk membeli.
Kriteria kedua didasarkan atas kajian pada kapabilitasan perusahaan
(company). Disini positioning harus mencerminkan kekuatan dan keunggulan
kompetitif perusahaan. Seperti lokasi yang strategis. Kriteria ketiga didasarkan
atas kajian pada pesaing (competitor).Disini positioning harus bersifat unik,
sehingga dengan mudah dapat mendiferensiasikan diri dari para pesaing. Kriteria
keempat didasarkan atas kajian terhadap perubahan yang terjadi dalam lingkungan
bisnis (change). Dikatakan bahwa positioning harus berkelanjutan dan harus
relefan dengan berbagai perubahan lingkungan bisnis. Positioning pada
hakikatnya adalah menanamkan sebuah persepsi, identitas dan kepribadian di
dalam benak konsumen. Untuk itu agar positioning kuat maka perusahaan harus
selalu konsisten dan tidak berubah. Karena persepsi, identitas dan kepribadian
yang terus menerus berubah akan menimbulkan kebingungan di benak dan
pemahaman mereka akan tawaran perusahaan akan kehilangan fokus.

2. Analisis SWOT
Analisis SWOT (singkatan bahasa Inggris dari “kekuatan”/strengths,
“kelemahan”/weaknesses, “kesempatan”/opportunities, dan “ancaman”/threats)
adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi
kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam suatu proyek atau suatu
spekulasi bisnis. Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari
spekulasi bisnis atau proyek dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal
yang mendukung dan yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut.
Teknik ini dibuat oleh Albert Humphrey, yang memimpin proyek riset
pada Universitas Stanford pada dasawarsa 1960-an dan 1970-an dengan
menggunakan data perusahaan-perusahaan Fortune 500.

28
BAB III
METODE VALUASI
Valuasi merupakan suatu aktivitas yang berusaha untuk mencapai tujuan
dengan cara melakukan prediksi atau hasil yang akan didapat (Turner, 2000).
Valuasi bermanfaat dalam melakukan analisis pendahuluan (portfolio),
pendanaan, pengembangan bisnis, dan gabungan serta kegiatan akuisisi. Menurut
Turner (2000), terdapat enam metode valuasi teknologi, antara lain :
1. Standarisasi Industri (Industry Standards)
Standarisasi industri (Industry standards) yaitu mendesain sebuah
database dari kesepakatan-kesepakatan kerja sama komersialisasi teknologi baru
yang sudah pernah dilakukan oleh investor dan inventor. Metode ini merupakan
sebuah panduan untuk membandingkan nilai teknologi satu dengan yang lainnya.
Metode ini juga dapat digunakan dengan baik ketika teknologi yang sudah dijual
atau dilisensikan tersebut dapat dikategorikan ke dalam dua faktor, yaitu
berdasarkan jenis dan kualitasnya.
2. Perankingan (Rating atau Ranking)
Perankingan (rating atau ranking) yaitu membandingkan kesepakatan
perjanjian komersialisasi teknologi yang sudah pernah dilakukan. Metode ini
memerlukan identifikasi kesepakatan teknologi yang sudah terdokumentasikan.
Ketika kesepakatan teknologi-teknologi sudah terdokumentasikan, maka
kesepakatan teknologi yang mempunyai kesamaan dapat dibandingkan dengan
kesepakatan yang sudah pernah dilakukan, sehingga dalam penggunaannya
metode ini sangat berhubungan dengan metode standarisasi industri.
3. Ibu Jari (Rules of Thumb)
Ibu jari (rules of thumb) yaitu mengidentifikasikan dan menggunakan data
pemasaran yang sesuai sebagai acuan dalam penilaian. Rules of thumb merupakan

29
panduan yang sangat berguna bagi pengambil keputusan berdasarkan pada
berbagai macam pengalaman seseorang dalam menilai teknologi. Metode ini
mengembangkan prinsip valuasi yang dapat secara tepat dan cepat diaplikasikan
ke berbagai macam situasi yang berbeda. Ide dasar dari metode ini adalah
negosiasi antara sejumlah pembeli dan penjual memiliki pemikiran yang sama
sehingga dapat ditimbulkan dan diaplikasikan.
4. Discounted Cash Flow (DCF)
Discounted cash flow (DCF) yaitu penentuan nilai sekarang dari semua
aliran kas masa depan berdasarkan pada pendapatan atau Net Present Value
(NPV). Nilai DCF sangat bergantung pada besarnya nilai Risk Adjusted Hurdle
Rate (RAHR) atau niali k. Terdapat tiga faktor yang menentukan DCF, yaitu
pemilihan waktu, besarnya nilai, dan resiko untuk pembayaran masa depan.
5. Monte Carlo and Real Option
Monte carlo and real option yaitu metode valuasi teknologi berdasarkan
pada aliran kas dengan berbagai macam asumsi dari penerimaan dan biaya. Pada
metode ini, satu perhitungan tidak dibatasi untuk menghasilkan satu nilai
perkiraan dari variabel-variabel utama seperti penerimaan, biaya atau resiko.
Perkiraan dibuat berdasarkan pada rentang pengeluaran dengan berbagai macam
kemungkinannya, sedangkan pada metode real option digunakan ketika
berhadapan dengan perhitungan proyek berjangka waktu panjang. Pada proyek
ini, pengeluaran dihitung pada awal proyek dengan umur proyek yang lama dan
tingkat pengembalian proyek berada di akhir proyek, maka penggunaan satu nilai
Risk Adjusted Hurdle Rates (RAHR) atau nilai k akan membuat semua proyek
bernilai ekonomi menguntungkan karena adanyan faktor B/(1+k) n, yaitu nilai n
yang besar. Metode ini akan mengevaluasi semua investasi dan penerimaan dalam
berbagai macam kemungkinan.
6. Pelelangan (Auctions)
Pelelangan (auctions) yaitu menilai teknologi berdasarkan kesepakatan
yang sedang dilakukan sekarang untuk menawarkan perjanjian kerja sama
komersialisasi teknologi. Hal ini yang membedakan dengan metode standarisasi
industri yang menggunakan informasi pasar dari kesepakatan-kesepakatan yang

30
sudah pernah dilakukan dan mempunyai kesamaan dengan teknologi yang sedang
dinilai.

Valuasi akan menjadi tidak akurat apabila nilai hasil valuasi tidak
mewakili dari waktu yang diperlukan dan jumlah uang yang telah diinvestasikan
untuk menghasilkan suatu teknologi. Nilai itu juga bergantung pada tingkat
aksesibilitas teknologi tersebut. Semakin sulit untuk ditiru, maka akan semakin
baik posisinya dalam mendapatkan keuntungan. Masa hidup dan nilai dari
teknologi dapat dipengaruhi pada munculnya suatu teknologi baru yang dapat
menggantikan teknologi tersebut, sehingga penetapan harga menjadi sangat sulit
dilakukan bila melihat daur hidup dari teknologi baru tersebut.

31
BAB IV
METODE KOMERSIALISASI

Metode komersialisasi yang digunakan pada industri deterjen tablet ini


dapat dilihat pada diagram alir berikut :

Penentuan Pasar

Identifikasi alternatif-alternatif
basis untuk segmentasi

Memilih basis terbaik


untuk segmentasi

Mengidentifiksi dan
memilih segmen pasar

Mengembangkan positioning bagi


pasar sasaran

Menyusun bauran
pemasaran

Gambar 1. Metode Implementasi Strategi Pemasaran

32
1. Penentuan Target Pasar
Penetapan target pasar merupakan langkah pertama dalam strategi
pemasaran. Target pasar dipilih berdasarkan segmen-segmen pasar yang
ditentukan.
2. Identifikasi alternatif-alternatif basis untuk segmentasi
Pada tahap ini pihak manajemen pemasaran mengidentifikasi segmen-
segmen pasar yang berpotensi untuk dimasuki oleh produk deterjen tablet.
Manajemen perusahaan menentukan utnuk menetapkan beberapa segmen pasar
atau relung pasar dan mendesain tawaran yang terpisah bagi masing-masing
segmen.
3. Memilih basis terbaik untuk segmentasi
Pihak manajeman harus mempertimbangkan faktor-faktor yang penting
dalam penentuan segmen pasar yang akan dipilih
4. Mengidentifikasi dan memilih segmen pasar
Segmen-segmen yang diidentifikasi dipersempit untuk mendapatkan
segmen yang tepat kemudian ditetapkan segmen mana saja yang dipilih.
5. Mengembangkan positioning bagi pasar sasaran
Segmen yang dipilih merupakan pasar sasaran tempat produk akan dijual.
Sebelum itu manajemen pemasaran harus mengembangkan positioning agar
produk memiliki keistimewaan di benak konsumen.
6. Menyusun bauran pemasaran
Bauran pemasaran meliputi price, product, place, dan promotion. Bauran
pemasaran ini harus ditentukan agar pasar sasaran menjadi lebih jelas dan
terstruktur.
Komersialisasi adalah proses mengenalkan produk atau jasa baru kepada
penyalur dan kemudian pembeli akhir dari produk tersebut. Tujuan tahap
komersialisasi adalah untuk membujuk konsumen agar bersedia untuk membeli
produk yang ditawarkan. Langkah yang ditempuh dengan cara menanamkan nilai-
nilai kesadaran akan pentingnya kelestarian dalam diri masyarakat melalui inovasi
produk deterjen ramah lingkungan.
Produk deterjen tablet ramah lingkungan dengan nama brand “MOGENT
adalah produk deterjen yang diciptakan dalam bentuk tablet sehingga mudah

33
digunakan dan dapat dibawa kemanapun. Bahan yang digunakan yaitu surfaktan
Linier Alkilbenzen Sulfonat, bahan besifat biodegradable yang ramah lingkungan.
Selain itu produk ini merupakan produk 3 in 1 (pembersih, pelembut, dan
pewangi).
Segmentasi pasar kami adalah konsumen yang menginginkan produk
berkualitas tinggi yang bersifat ramah lingkungan, life style, membantu orang-
orang merasa nyaman, dan lebih menikmati kehidupan dengan brand dan
memberikan pelayanan yang baik bagi orang lain. Profit yang diperoleh dari
produk kita didapat dari produknya yang praktis dan kondisi lingkungan yang
semakin buruk serta semakin banyak orang yang sadar akan kelestarian
lingkungan sehingga beralih dan semakin banyak menggunakan produk kami.

34
V. PEMBAHASAN

A. Komersialisasi

1. Penentuan Pasar

Dalam mengkomersialisasikan produk mobile detergent, hal


pertama yang dilakukan adalah scanning market attractiveness atau suatu
langkah penentuan pasar dengan cara mengamati kondisi pasar yang akan
dimasuki dan menetapkan ukuran pasar untuk produk mobile detergent ini
dengan mempertimbangkan berbagai kendala yang mungkin terjadi, baik
dari dalam maupun dari luar (pesaing, misalnya).

• Market growth and size

Produk mobile detergent ini diciptakan khusus bagi


masyarakat kalangan menengah ke atas, namun memungkinkan
juga untuk kalangan menengah ke bawah dalam perkembangannya
ke depan, sebab produk kami merupakan produk deterjen ramah
lingkungan dalam bentuk tablet effervescent. Dimana produk kami
ini menggabungkan 3 fungsi sekaligus, yaitu pembersih, pewangi,
dan pelembut. Hal lain yang ditonjolkan dari produk kami ini
adalah nilai kepraktisan dalam penggunaannya dan ramah
lingkungan. Nilai kepraktisan tercipta karena bentuknya yang
berupa tablet effervescent sehingga akan lebih pas dari segi takaran
(tidak repot dalam hal penggunaan). Sedangkan untuk aspek ramah
lingkungan, kami menginovasi kandungan utama deterjen dengan
menggunakan surfaktan jenis MES (metil ester sulfonat) yang

35
bersifat biodegradable. Sifatnya yang mudah terurai dalam tanah
inilah yang akan menjadi inti keunggulan produk deterjen kami.

Pengukuran laju pertumbuhan pasar dan ukuran dari produk


mobile detergent kami ini dapat dilihat dari beberapa faktor, yaitu:

1. Semakin bertambahnya jumlah masyarakat yang


memperhatikan aspek kelestarian lingkungan dalam kehidupan
sehari-hari melalui penggunaan produk-produk yang ramah
lingkungan. Hal ini dapat terlihat dari beberapa tindakan,
seperti mulai munculnya minimarket yang menyediakan plastik
belanjaan dari bahan yang mudah terurai di tanah dan tentu saja
produk mobile detergent kami yang berusaha mengakomodasi
kebutuhan mencuci masyarakat.

2. Gaya hidup masyarakat yang semakin menginginkan


kepraktisan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk
mencuci pakaian. Dari segi kepraktisan, produk kami hadir
dalam bentuk tablet effervescent yang mudah digunakan tanpa
harus repot mengurusi takaran deterjen dan juga bersifat
multifungsi sebagai pembersih, pewangi, dan pelembut.

3. Kemajuan di berbagai aspek kehidupan mendorong terciptanya


kehidupan yang tanpa batas, sehingga bepergian ke tempat
yang jauh dalam selang waktu yang singkat menjadi hal yang
lumrah terjadi. Bagi sebagian kalangan yang sering melakukan
perjalanan, pakaian kotor menjadi suatu masalah apabila di
tempat tujuan perjalanan sulit mendapatkan jasa binatu yang
terpercaya. Produk kami hadir untuk mengakomodasi hal ini,
dengan membuat deterjen dalam bentuk dan kemasan yang
mudah dibawa ke mana-mana (mobile)

• Entry border

36
Hambatan yang sekiranya akan kami hadapi dalam
komersialisi mobile detergent ini, yaitu pola pikir atau mind set
masyarakat Indonesia dalam hal mencuci pakaian adalah suatu hal
yang bukan merupakan life style atau hal yang biasa saja dan
merupakan aktifitas rutin. Dengan kata lain, walau dengan
pemberian tambahan teknologi apapun mencuci pakaian
merupakan hal yang tidak berkesan modern.

• Produk substitusi

Sejauh ini produk deterjen lain yang dapat menggantikan


produk kami belum dapat ditemukan di Indonesia, kecuali di luar
negeri. Di luar negeri penggunaan deterjen dalam bentuk tablet
effervescent sudah biasa dilakukan, terutama pada jasa binatu.
Sehingga apabila kami mengintroduksi mobile detergent ini, maka
kami akan menjadi produsen deterjen tablet yang pertama di
Indonesia.

• Kompetitor utama

Pesaing utama produk deterjen ramah lingkungan kami


adalah produsen deterjen bubuk yang juga menjual produknya
dengan konsep ramah lingkungan. Produsen ini dapat dikatakan
telah mempunyai pangsa pasar yang luas di pasar deterjen
Indonesia. Namun kami akan tetap berusaha mengunggulinya
dengan memperkuat inovasi melalui pembiayaan divisi research
and development secara maksimal. Hal ini berfungsi untuk
mengakomodasi perbaikan-perbaikan, baik yang datangnya dari
kritik dan saran konsumen maupun dari penggalian inovasi internal
perusahaan.

2. Selling Points

37
Produk mobile detergent kami ini merupakan suatu produk inovasi
deterjen ramah lingkungan dalam bentuk tablet effervescent. Produk kami
juga merupakan deterjen yang sifatnya multifungsi yang menggabungkan
pembersih, pewangi, dan pelembut. Keunggulan yang ingin kami usung
dari produk deterjen ini adalah aspek ramah lingkungan, praktis dalam hal
takaran dan sifatnya yang multifungsi, serta mobile atau mudah dibawa
bepergian. Segmen pasar kami adalah membidik kalangan masyarakat
yang sering bepergian dan terkendala dengan masalah jasa binatu di
tempat tujuan perjalanan.

3. Evaluasi dan Adaptasi

a. Pengevaluasian penerimaan konsumen deterjen terhadap inovasi


teknologi proses mobile detergent berdasarkan data hasil CMR
(Customer Market Research)

b. Melakukan evalusi produk untuk meningkatkan kualitas dan


penerimaan konsumen terhadap produk mobile detergent yang
dihasilkan dari inovasi teknologi proses tersebut

c. Melakukan perbaikan terhadap proses-proses produksi yang kurang


efektif dan efisien

d. Penetapan SOP dalam kegiatan produksi mobile detergent sehingga


kinerja proses dapat sesuai dengan yang diharapkan dan menghasilkan
produk yang berkualitas tinggi

e. Studi terhadap produk sejenis yang umum digunakan di luar negeri


dengan menerapkan keunggulan-keunggulan yang mungkin dan dapat
diadaptasi di Indonesia

4. Kelayakan Teknis dan Komersil

Secara teknis, mobile detergent ini layak dan mungkin untuk


dikembangkan serta diproduksi di Indonesia. Hal ini didukung oleh

38
kenyataan bahwa tingkat kesadaran masyarakat akan kelestarian
lingkungan semakin meningkat dewasa ini. Salah satunya adalah
kesadaran akan semakin tercemarnya air tanah oleh bahan deterjen yang
sulit terurai secara alami, dimana air tanah merupakan sumber kehidupan
banyak makhuk hidup. Lalu dengan mengacu pada industri deterjen tablet
yang lebih dulu marak di luar negeri, kami akan mengembangkan produk
dengan melakukan berbagai adaptasi agar produk akhir yang kami
hasilkan cocok untuk aplikasi masyarakat di Indonesia.

Selain itu perkembangan di berbagai aspek kehidupan membuat


hidup manusia semakin tanpa batas, termasuk semakin seringnya manusia
melakukan perjalanan jarak jauh. Dalam hal perjalanan jarak jauh, pakaian
kotor merupakan masalah tersendiri yang cukup perlu mendapat perhatian,
terlebih bila sulit mendapatkan jasa binatu yang terpercaya di tempat
tujuan perjalanan. Sehingga masyarakat merasa akan lebih baik apabila
mencuci pakaian dilakukan sendiri. Untuk hal tersebut, maka produk
mobile detergent kami hadir dengan kemudahan dan kepraktisan
penggunaan.

Produk kami memang bukan produk deterjen dengan harga yang


murah karena menggunakan bahan dasar surfaktan MES (metil ester
sulfonat) yang lebih mudah terurai secara alami dalam tanah, dimana
bahan dasar ini telah mengalami pengembangan produk (dengan berdasar
pada evaluasi dan masukan konsumen serta pengembangan oleh divisi
Research and Development) sedemikian rupa hingga siap untuk
diluncurkan ke konsumen. Bisa dibilang bahan dasar MES yang kami
gunakan ini masih jarang digunakan untuk produk deterjen konvensional,
sebab busa yang dihasilkan lebih sedikit dibanding dengan surfaktan biasa.
Selain itu, inovasi dari segi multifungsi dan bentuknya yang paktis pun
berkontribusi terhadap keunggulan produk kami, dimana gabungan dari
semua keunggulan produk berujung pada harga jual tinggi yang tentunya
sebanding dengan segala manfaat dan keunggulan dari produk mobile
detergent kami.

39
5. Analisis SWOT

Analisis SWOT digunakan untuk mengevaluasi kekuatan


(Strength), kelemahan (Weakness), peluang (Opportunity), dan ancaman
(Treat) dalam spekulasi bisnis produk. Berikut merupakan tabel analisis
SWOT yang akan menjadi pertimbangan dalam komersialisasi produk
mobile detergent kami, yaitu:

Kekuatan Kelemahan
1. Praktis 1. Harga relatif mahal
2. Multifungsi 2. Investasi pendirian pabrik yang
3. Pionir deterjen tablet tinggi
effervescent di Indonesia
Peluang Ancaman
1. Belum adanya produsen 1. Persaingan yang ketat dalam
deterjen tablet di Indonesia industri deterjen
2. Semakin maraknya kampanye 2. Sifat produk yang occasional
cinta lingkungan, sehingga (hanya untuk travelling)
dapat dimanfaatkan untuk kerja
sama pengedukasian masyarakat

6. Strategi Pemasaran

Strategi Pemasaran
Strategi pengembangan atau modifikasi produk ini sesuai dengan kondisi
pasar yang berada pada kurva kedewasaan. Dengan menghasilkan produk tablet
deterjen berbentuk effervescent ramah lingkungan (Mobile Detergent) berkualitas

40
tinggi dengan atribut yang lebih lengkap, diharapkan dapat memenuhi
kecendrungan preferensi konsumen ke arah kualitas produk yang lebih baik.
Konsep yang digunakan dalam melaksanakan kegiatan pemasarannya
adalah konsep pemasaran. Berbagai upaya dilakukan untuk memberikan
keputusan kepada konsumen yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan
konsumen. Oleh karena itu, hal pertama yang penting dalam perumusan konsep
dan strategi pemasaran adalah identifikasi konsumen secara rinci beserta
kebutuhannya melalui pengisian kuisioner.
Perumusan konsep pemasaran dimulai dengan melakukan segmentasi.
Segmentasi pasar adalah kegiatan membagi sebuah pasar ke dalam kelompok-
kelompok pembeli yang khas berdasarkan kebutuhan, karakteristik atau perilaku
yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang terpisah.
Segmentasi pasar untuk pemasaran produk deterjen tablet ramah lingkungan ini
dibagi ke dalam beberapa variabel, yaitu pendapatan, gaya hidup, dan geografis.
Penjelasan mengenai masing-masing variabel tersebut dapat dilihat sebagai
berikut:
A. Pendapatan
• Golongan Menengah (Pendapatan Rp. 2.000.000-5.000.000)
Kelebihan : Mempunyai daya beli yang cukup baik dan jumlah
populasi asyarakat yang besar.
Kelemahan : Tidak loyal terhadap suatu produk dan keadaan finansial
masyarakat dari golongan menengah cukup labil.
Kesempatan : Dengan jumlah populasi masyarakat pada golongan ini
yang cukup besar merupakan pasar yang sangat potensial.
Ancaman : Mudah tertarik dengan produk yang ditawarkan oleh
kompetitor apalagi bila harganya lebih murah.
• Golongan Atas (Pendapatan > Rp. 5.000.000)
Kelebihan : Daya beli masyarakat pada golongan ini sangat tinggi dan
sangat loyal terhadap suatu produk.
Kelemahan : Jumlah masyarakat golongan ini sangat sedikit dan selalu
menginginkan adanya inovasi baru terhadap produk.
Kesempatan : Dengan daya beli yang tinggi dan populasi yang terus

41
meningkat, maka masyarakat golongan ini merupakan
pasar yang sangat potensial.
Ancaman : Mudah tertarik dengan produk lain yang memiliki inovasi
baru yang lebih bagus.
B. Gaya Hidup
• Modern (Gaya hidup yang selalu mengikuti tren masa kini dan
kepraktisan)
Kelebihan : Tertarik pada inovasi produk yang mengutamakan gaya
hidup yang modern, praktis, dan aman terhadap
lingkungan.
Kelemahan : Tidak loyal terhadap suatu produk.
Kesempatan : Pasar yang sangat potensial.
Ancaman : Selalu menuntut adanya inovasi.
• Tradisional (Gaya hidup sederhana dan mengutamakan produk yang
murah )
Kelebihan : Loyal terhadap suatu produk.
Kelemahan : Menyukai produk yang murah dan banyak jumlahnya.
Kesempatan : Jumlah populasi yang tinggi dapat diubah pemikirannya
untuk mulai mengadopsi gaya hidup modern.
Ancaman : Banyaknya produk pengganti dari berbagai kompetitor di
pasaran.

C. Geografis
• Kota Besar (Kota dengan aktivitas penduduknya yang heterogen dan
padat)
Kelebihan : Daya beli yang tinggi dengan mengadopsi gaya hidup
modern terkini.
Kelemahan : Cepat bosan dan tidak loyal terhadap suatu produk.
Kesempatan : Pasar yang sangat potensial dan memberikan keuntungan
yang besar.
Ancaman : Selalu menuntut produk yang lebih inovatif dari produk
sebelumnya.

42
• Kota Kecil (Kota dengan aktivitas penduduk yang tidak terlalu padat dan
sibuk)
Kelebihan : Loyal terhadap suatu produk.
Kelemahan : Distribusi barang yang cukup sulit disertai daya beli yang
kurang.
Kesempatan : Dengan jumlah populasi masyarakat pada golongan ini
yang cukup besar merupakan pasar yang sangat potensial.
Ancaman : Mudah tertarik dengan produk yang ditawarkan oleh
kompetitor apalagi bila harganya lebih murah.

Berdasarkan hasil segmentasi dan evaluasi dapat diketahui target segmen


pasar yang paling sesuai untuk produk ini adalah konsumen atau masyarakat
dengan pendapatan menengah dan atas yang mengadopsi gaya hidup modern yang
peduli akan pentingnya menjaga lingkungan hidup yang tinggal di wilayah kota-
kota besar di Indonesia. Sehingga, dengan sendirinya produk ini akan
memposisikan dirinya sebagai produk yang praktis, berkualitas, dan ramah
terhadap lingkungan. Dengan penerapan target segmen secara jelas, selanjutnya
dapat diterapkan strategi fokus atau spesialisasi selektif dengan memberikan
pelayanan terbaik untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan target segmen yang
telah ditetapkan.
Kepuasan konsumen akan tercipta apabila ada keselarasan antara atribut
produk tablet deterjen berbentuk effervescent ramah lingkungan yang ditawarkan
dengan atribut produk deterjen yang diharapkan konsumen. Untuk memberikan
kepuasan bagi konsumen, perusahaan tidak harus menggembor-gemborkan
produk dengan kualitas paling tinggi, atribut paling lengkap, dan harga paling
murah, melainkan cukup dengan menawarkan produk yang sesuai dengan
keinginan dan persepsi konsumen. Efektifitas pelayanan dan kepuasan konsumen
dapat ditingkatkan dengan menerapkan strategi yang tepat untuk masing-masing
segmen, meliputi:
1. Strategi saluran pemasaran
Target segmen pada produk ini memiliki perilaku pembelian yang
berbeda. Konsumen ekonomi menengah atas yang mengutamakan gaya

43
hidup dan kenyamanan dapat membeli produk “Mobile Detergent” di
supermarket, sedangkan konsumen menengah yang lebih mengutamakan
harga terjangkau dan jarak yang lebih dekat dibandingkan kenyamanan
dan gaya hidup dapat membeli produk ini di minimarket terdekat.
2. Strategi atribut produk
Produk Mobile Detergent yang dipasarkan menggunakan kemasan
kaleng dengan tutup tube yang menjamin kualitas produk hingga ke tangan
konsumen. Informasi standar yang harus dicantumkan dalam kemasan
antara lain merek produk, komposisi, manfaat produk, nama perusahaan,
nomor izin usaha, cara pemakaian, tanggal produksi, dan tanggal
kadaluarsa.
Produk MO-GENT yang dipasarkan melalui supermarket,
sebenarnya hampir sama dengan yang dipasarkan di mini market, selain
memenuhi kualitas standar SNI dan persepsi konsumen, harus dilengkapi
dengan atribut lain. Atribut-atribut tambahan, khususnya terkait dengan
positioning produk sebagai deterjen tablet ramah lingkungan dan
berkualitas tinggi untuk kelas menengah dan atas. Produk dikemas dalam
kemasan 10 tablet, dengan takaran 450 mg per tablet, satu tablet dapat
digunakan untuk mencuci pakaian dalam 10 liter air (± pakaian satu
keluarga dengan anggota 4 orang). Produk MO-GENT akan dikemas
dalam kemasan kaleng dengan desain dan warna yang menarik. Info
kemasan yang harus dicantumkan antara lain merek produk, nama
perusahaan, nomor izin usaha, manfaat produk, tanggal produksi, tanggal
kadaluarsa, komposisi, dan cara pemakaian.
3. Strategi harga
Pada saluran pemasaran di minimarket dan supermarket yang
bersifat oligopoli, harga menjadi salah satu hal yang cukup menentukan
dalam persaingan. Produk ini akan dijual di supermarket atau mini market,
karena pangsa pasar yang dituju adalah kalangan menengah ke atas.
Produsen memiliki cukup kekuatan untuk menetapkan harga pasar, karena
merupakan produsen satu-satunya dari produk deterjen tablet (belum
terdapat pesaing). Harga yang diberikan untuk produk di pasaran adalah

44
Rp. 20.000, yang akan dipromosikan dengan jargon “Harga tidak pernah
bohong” karena produk deterjen ini merupakan produk yang unik,
sehingga tidak mengedepankan keunggulan dari sisi harga yang lebih
murah.
4. Strategi promosi
Promosi dan advertising merupakan salah satu ujung tombak dari
pemasaran. Ditengah persaingan yang ketat dan banyaknya merek deterjen
yang beredar di pasaran, maka fungsi promosi dan advertising untuk
menonjolkan produk Mobile Detergent diantara semua merek minyak
deterjen yang ada amatlah penting. Salah satu hal yang sangat terkait
dengan promosi dan pembentukan image adalah merek produk.
Promosi dan advertising harus sesuai dengan target pasar dan saluran
pemasaran. Masing-masing target dan saluran pemasaran memiliki karakteristik
sendiri mengenai keterkaitan terhadap advertising. Pada supermarket atau
minimarket, promosi dan advertising merupakan sesuatu yang sangat penting.
Media yang sering digunakan sebagai sarana promosi adalah kemasan produk
yang menarik dan brosur produk yang memuat gambar dan harga produk,
sedangkan bentuk promosi yang utama dilakukan berupa diskon atau potongan
harga.
Selain itu, ada pula metode-metode promosi yang perlu dilakukan untuk
membangun suatu program penjualan yang efektif, misalnya dengan beriklan di
media cetak dan elektronik, mengikuti pameran dan bazaar, promosi kepada
konsumen, dan sebagainya.

Strategi Komersialisasi
Komersialisasi produk tablet deterjen berbentuk effervescent ramah
lingkungan (Mobile Detergent) dilakukan dengan penjualan secara putus atau
penjualan yang dilakukan secara independent yang sesuai dengan kuantitas
produksi.
B. Valuasi
1. Metode Standar Industri

45
Industri standar adalah salah satu metode valuasi teknologi dengan prinsip
perbandingan dengan industri lain. Metode ini juga dapat dilakukan dengan
membuat perjanjian atau agreement mengenai teknologi lain yang serupa dengan
teknologi yang dimiliki.
Perhitungan nilai valuasi dengan metode industri standar dilakukan dengan
membandingkan teknologi yang kita miliki dengan teknologi yang telah
digunakan oleh industri lainnya. Dalam kasus ini, kita membandingkannya
dengan industri deterjen lain yang sama-sama menghasilkan deterjen yang
berfungsi sebagai pembersih dan pelembut. Poin yang berbeda adalah pada proses
pembentukan hasil jadinya, komponen surfaktannya, serta fungsi tambahan yang
dibentuk untuk deterjen ini. deterjen ini tidak hanya berfungsi sebagi pelembut
dan pembersih, namun juga berfungsi sebagai pewangi. Selain itu, deterjen yang
dihasilkan berupa deterjen tablet effervescent. Surfaktan yang digunakan pada
deterjen ini juga merupakan surfaktan yang bersifat ramah lingkungan, sehingga
deterjen yang dihasilkan juga bersifat ramah lingkungan.
Melalui pendekatan biaya akan ada selisih nilai dari cost dan benefit yang
didapatkan dari kedua industri deterjen yang dibandingkan. Industri deterjen yang
telah ada, seperti produk deterjen Softener So Klin masih merupakan produk
deterjen yang memiliki double function, yaitu sebagai pembersih dan pelembut.
Sedangkan produk deterjen tablet merupakan produk yang memiliki multifungsi
yaitu sebagai pembersih, pewangi, dan pelembut. Selain itu sifatnya yang ramah
lingkungan serta bentuk produk yang berupa tablet effervescent menjadi nilai
tambah dari produk deterjen yang telah ada sebelumnya. Namun, deterjen tablet
ramah lingkungan ini memiliki teknologi proses yang lebih mudah dibandingkan
dengan teknologi proses dari produk yang sudah ada tersebut. Deterjen tablet
menggunakan surfaktan metil ester sulfonat (MES) sebagai komposisi
deterjennya, yang mana MES ini bersifat lebih mudah terbiodegradasi
dibandingkan dengan surfaktan lain. Komposisi deterjen tablet inilah yang
membuatnya dapat menghasilkan produk deterjen inovasi baru yang ramah
lingkungan dan bernilai tambah lebih tinggi dibanding deterjen tablet biasa.

2. Metode Rules of Thumb

46
Metode rules of thumb yaitu metode yang mengidentifikasikan dan
menggunakan data pemasaran yang sesuai sebagai acuan dalam penilaian. Rules
of thumb merupakan panduan yang sangat berguna bagi pengambil keputusan
berdasarkan pada berbagai macam pengalaman seseorang dalam menilai
teknologi. Metode ini mengembangkan prinsip valuasi yang dapat secara tepat
dan cepat diaplikasikan ke berbagai macam situasi yang berbeda. Ide dasar dari
metode ini adalah negoisasi antara sejumlah pembeli dan penjual memiliki
pemikiran yang sama sehingga dapat ditimbulkan dan diaplikasikan.
Valuasi teknologi dengan metode ini membutuhkan informasi terkait
mengenai nilai tambah yang dapat diberikan oleh inovasi produk. Dalam hal ini,
aspek yang dikaji adalah nilai tambah dari inovasi bentuk produk deterjen, yaitu
tablet effervescent serta multifungsinya produk, dan sifat ramah lingkungan
produk. Metode rules of thumb ini menggunakan cara mentotalkan harga
teknologi dari produk deterjen tablet ini yang dapat dihitung melalui biaya yang
dibutuhkan dalam pembuatan produk serta biaya ide teknologi baru untuk produk
ini. Setelah itu, diberikan ‘rules 25%’ yang mana maksudnya adalah dari total
harga teknologi ditambah 25% dari total untuk harga teknologi secara
keseluruhan. Perhitungan biaya teknologi menggunakan metode ini dapat dilihat
di bawah ini:
NO. Item Biaya (Rp)
1. Biaya Penelitian 70.000.000
2. Biaya Peralatan 150.000.000
3. Biaya Utilitas 50.000.000
Biaya Pemasaran dan
4. 100.000.000
Promosi
5. Biaya Paten 5.000.000
6. Biaya Ide Teknologi 350.000.000
Total 725.000.000
rules 25% 181.250.000
Total Harga Teknologi 906.250.000

Sehingga, dari hasil perhitungan menggunakan metode rules of thumb


diatas, diperoleh hasil harga teknologi produk deterjen tablet ramah lingkungan
sebesar Rp. 906.500.000,-.

47
BAB VI

ANALISIS DAMPAK DAN RESIKO USAHA

A. Dampak Terhadap Masyarakat Sekitar


1. Dampak pemasaran terhadap masyarakat
Produk mobile detergent kami ini memiliki target pasar kalangan
menengah ke atas. Efek yang timbul dari pemasaran produk kami merupakan
dampak secara tidak langsung, sebab produk kami adalah produk yang sangat
mengedepankan aspek keramahan lingkungan. Dengan dijualnya produk kami di
pasaran, maka kami turut berperan dalam melestarikan lingkungan.
Selain itu prinsip keramahan lingkungan yang diusung oleh produk kami
juga dapat berdampak pada penanaman nilai cinta lingkungan terhadap
masyarakat. Perilaku reduce, reuse, dan recycle akan menjadi lebih tertanam di
masyarakat. Pemasaran produk kami yang menggandeng kerja sama dengan
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yaitu Greenpeace.
2. Dampak produksi dan teknologi terhadap masyarakat
Teknologi pembuatan deterjen tablet effervescent ramah lingkungan ini
turut berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan dan tidak mengganggu
kehidupan masyarakat dan lingkungan sekitar. Dikarenakan produk kami tidak
menghasilkan limbah yang berbahaya dan merusak lingkungan (biodegradable).

48
Selain itu industri kami juga akan melakukan rekrutmen di universitas-
universitas dalam rangka menjaring lulusan yang berkompeten di bidangnya
sehingga akan mendukung pengembangan industri kami.
3. Dampak organisasi dan SDM terhadap masyarakat
Dari sisi manajemen, perusahaan ini mempekerjakan para pegawai yang
terampil dan ahli dalam bidang proses produksi deterjen tablet ramah lingkungan.
Sedangkan dari sisi organisasi, perusahaan ini mempunyai struktur organisasi
yang disusun berdasarkan fungsi-fungsi manajemen dengan Manajer
Umum/CEO/Direktur sebagai pimpinan puncak. Industri mobile detergent ini juga
memiliki program pemberdayaan masyarakat melalui program Corporate Social
Responsibility (CSR) yang bertujuan untuk membangun dan mendorong
kehidupan sosial masyarakat yang lebih baik. Hal ini terealisasi dengan berbagai
program sosial dalam pengembangan softskill masyarakat melalui pelatihan serta
pendirian fasilitas umum serta berbagai gerakan peduli lingkungan, seperti
penanaman pohon untuk menyerap emisi karbon pun dilakukan untuk menunjang
kehidupan masyarakat yang lebih baik. Dampak positif yang diharapkan adalah
terciptanya masyarakat madani yang cerdas, mandiri, serta peka terhadap
lingkungan sekitar.

B. Analisis Resiko Usaha


Risk Management (Manajemen Resiko) pada dasarnya adalah proses
menyeluruh yang dilengkapi dengan alat, teknik, dan sains yang diperlukan untuk
mengenali, mengukur, dan mengelola resiko secara lebih transparan. Sebagai
sebuah proses menyeluruh Risk Management menyentuh hampir setiap aspek
aktivitas sebuah entitas bisnis, mulai dari proses pengambilan keputusan untuk
menginvestasikan sejumlah uang, sampai pada keputusan untuk menerima
seorang karyawan baru.
Wujud penerapan terbaik Risk Management merupakan suatu proses
membangun kesadaran tentang resiko di seluruh komponen organisasi, suatu
proses pendidikan bagaimana menggunakan alat dan teknik yang disediakan oleh
Risk Management tanpa harus dikendalikan olehnya, dan mengembangkan naluri
pengambilan keputusan yang kuat (khususnya terhadap resiko).

49
Sebagai sebuah proses, kerangka kerja Risk Management pada dasarnya
terbagi dalam tiga tahapan kerja :
i. Identifikasi Resiko, adalah rangkaian proses pengenalan yang seksama atas
resiko dan komponen resiko yang melekat pada suatu aktivitas atau transaksi
yang diarahkan kepada proses pengukuran serta pengelolaan resiko yang
tepat. Identifikasi Resiko adalah pondasi dimana tahapan lainnya dalam proses
Risk Management dibangun.
ii. Pengukuran Resiko, adalah rangkaian proses yang dilakukan dengan tujuan
untuk memahami signifikansi dari akibat yang akan ditimbulkan suatu resiko,
baik secara individual maupun portofolio, terhadap tingkat kesehatan dan
kelangsungan usaha. Pemahaman yang akurat tentang signifikansi tersebut
akan menjadi dasar bagi pengelolaan resiko yang terarah dan berhasil guna.
iii. Pengelolaan Resiko pada dasarnya adalah rangkaian proses yang dilakukan
untuk meminimalisasi tingkat resiko yang dihadapi sampai pada batas yang
dapat diterima. Secara kuantitatif upaya untuk meminimalisasi resiko ini
dilakukan dengan menerapkan langkah langkah yang diarahkan pada turunnya
(angka) hasil ukur yang diperoleh dari proses pengukuran resiko.
Konsep Pengelolaan Resiko bertujuan untuk mencapai :
1. Meningkatkan kualitas dan prediktabilitas dari pendapatan perusahaan
(earning) untuk mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham
(shareholder value)
2. Mengurangi kemungkinan munculnya tekanan pada kemampuan
keuangan (financial distress)
3. Mempertahankan marjin operasi (operating margin)

C. Resiko Finansial (Keuangan)


1Resiko Finansial adalah resiko yang diterima oleh investor akibat dari
ketidakmampuan emiten saham atau obligasi memenuhi kewajiban pembayaran
dividen atau bunga serta pokok investasi. Resiko finansial terjadi jika proyek
engineering tidak berjalan sesuai dengan rencana, atau jika tidak selesai tepat
pada waktunya dan tidak sesuai dengan biaya yang dianggarkan. Sehingga dalam
suatu proyek perlu perhitungan yang matang dalam penganggaran dan

50
perencanaan pendapatan untuk memenuhi kewajiban kepada kreditor atau
pemegang saham.
Resiko finansial yang paling utama dihadapi perusahaan adalah volatilitas
nilai tukar mata uang, struktur finansial yang kurang mendukung, pengelolaan kas
yang lemah, aset yang rusak, dan penarikan tagihan yang kurang efektif.
Perusahaan dapat mengatasi hal-hal ini dengan menerapkan sejumlah
kebijakan untuk meningkatkan struktur finansial, yang mencakup:
 mengetatkan prosedur pengelolaan kas;
 memastikan jaminan asuransi aktiva tetap secara memadai;
 menerapkan kebijakan kredit yang hati-hati dan konsisten kepada pelanggan;
dan
 kontrol dan pengawasan level persediaan.

D. Resiko Operasional
Resiko operasional merupakan resiko yang memberikan dampak secara
langsung bagi operasional perusahaan. Resiko operasional dapat memberikan
kerugian keuangan namun dapat pula tidak berdampak langsung pada kerugian
keuangan perusahaan. Beberapa resiko yang termasuk dalam resiko operasional di
antaranya pasokan kebutuhan baku, masih terbatasnya produksi MES dari industri
kelapa sawit, harga kelapa sawit yang fuktuatif, adanya pemogokan kerja,
ketidakpatuhan karyawan dalam melaksanakan prosedur standar operasi, maupun
adanya kegagalan penanganan lingkungan.
Resiko operasional merupakan potensi kerugian yang timbul akibat tidak
berfungsinya sistem dan proses internal, ketidakmampuan karyawan serta
manajemen, atau kegagalan operasional yang timbul dari faktor eksternal. Tujuan
dari manajemen resiko operasional adalah memastikan bahwa perusahaan
memiliki kebijakan, perangkat dan praktek yang tepat untuk menghindari
kegagalan maupun meminimumkan kerugian.
Kepastian pasokan bahan baku merupakan hal yang krusial bagi
operasional pabrik MO-GENT ini. Kapasitas kebutuhan MES sebagai bahan baku
pokok pembuatan deterjen tablet ini adalah 2,2 kg per hari sehingga apabila telah
dicampur dengan bahan baku lainnya, akan menghasilkan 10.000 deterjen tablet

51
dengan berat 4,5 mg per tablet . Kebutuhan bahan baku ini harus dipasok dari
produksi MES pada industri kelapa sawit, yang saat ini produksinya belum terlalu
banyak, karena belum banyak digunakan oleh industri lainnya.

BAB VII

RENCANA FINANSIAL

A. Rencana Investasi Industri Deterjen Tablet MO-GENT

URAIAN JUMLAH SATUAN HARGA SATUAN TOTAL ()


1. Tanah 1200 m2 80.000 96.000.000
2. Bangunan
a. Pagar 180 m 100.000 18.000.000
a. Kantor 150 m2 500.000 75.000.000
b. Tempat produksi 500 m2 600.000 300.000.000
c. Tempat pengemasan &
80 m2 300.000 24.000.000
labeling
d. Lahan pengolahan limbah 200 m2 150.000 350.000
e. Halaman 200 m2 100.000 2.000.000
Subtotal 418.000.000
3. Perlengkapan kantor
a. Kursi dan meja tamu Satu set 560.000 560.000
b. Lemari arsip Tiga set 200.000 600.000
c. Computer Dua set 5.000.000 10.000.000

52
d. Kursi & meja kerja Dua pasang 150.000 300.000
e. Rak buku Satu buah 300.000 300.000
f. ATK Satu set 800.000 800.000
Subtotal 12.560.000
4. Mesin dan peralatan
a. Oven Pemanas Dua buah 60.000.000 120.000.000
Dua buah
b. Spray Dryer 125.000.000 250.000.000
Dua buah
c. Mixing machine 35.000.000 70.000.000
Dua buah
d. Mesin Cetak tablet 80.000.000 160.000.000
Dua buah
e. Packing machine 75.000.000 150.000.000
Satu buah
f. Genset 20.000.000 20.000.000
g. Peralatan pendukung produksi Satu set 12.500.000 4.500.000
h. Konveyor Satu set 30.000.000 30.000.000
i. Instalasi, dsb Satu set 40.000.000 40.000.000
j. Perlengkapan QC Satu set 7.500.000 7.500.000
k. Pengolahan Limbah Satu set 74.000.000 74.000.000
Subtotal 934.000.000

Biaya pra-investasi 8.760.000


Total Biaya Investasi 1.469.320.000

B. Rencana Biaya Operasional Industri Deterjen Tablet MO-GENT

Rincian Biaya Bahan Baku dan Tenaga Kerja (terlampir)

Biaya Operasional MO-GENT

No. Deksripsi Biaya


Biaya 1 tahun
A. Biaya Tetap
1 Gaji Tenaga Kerja Tidak Langsung 416.150.000,00
2 Pemeliharaan 29.386.400,00
3 Asuransi 22.039.800,00
4 Biaya Overhead 8.760.000,00
subtotal 476.336.200,00
B. Biaya Variabel
1 Bahan Baku 1.849.392.000,00
2 Gaji Tenaga Kerja Langsung 125.425.000,00
3 Biaya Operasional Bahan Bakar dan Listrik 45.000.000,00
4 Biaya Pemasaran 30.000.000,00
5 Biaya Teknologi 36.250.000,00
6 Biaya Pengolahan Limbah 750.000,00
subtotal 2.086.817.000,00
Total 2.563.153.200,00

53
C. Biaya Teknologi dan Utilitas

No Deskripsi Biaya
Biaya Penelitian 70.000.000,00
Biaya Peralatan 150.000.000,00
Biaya Utilitas 50.000.000,00
Biaya Pemasaran dan Promosi 100.000.000,00
Biaya Paten 5.000.000,00
Biaya Ide Teknologi 350.000.000,00
TOTAL 725.000.000,00
Rules 25% 181.250.000,00
Harga Teknologi 906.250.000,00
D. Proyeksi Sumber Dana

Modal yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha ini adalah sebesar Rp


1.469.320.000 Kebutuhan dalam menjalankan usaha ini diperoleh dari modal
patungan Rp 469.320.000,00 dan dianggap sebagai saham pribadi dimana yang
menanamkan saham terbanyak, maka akan mendapatkan keuntungan terbnyak
pula. Selain itu, pinjaman dari kreditor (Bank) sebesar Rp. 1.000.000.000,00
dengan bunga yang rendah dan akan dikembalikan sekitar 5 tahun. Biaya
selanjutnya akan dipenuhi oleh pemasukan seiring dengan menaiknya angka
penjualan produk.

E. Penentuan Harga Pokok Produksi (HPP) dan Harga Jual MO-GENT

Harga pokok adalah semua biaya untuk pembuatan produk (biaya


produksi), dibagi dengan jumlah produk yang dihasilkan. Harga jual merupakan
harga pokok ditambah keuntungan 20 % dari harga pokok dan pajak penjualan.
Harga pokok :

= Rp 2563.153.200/ 360.000 botol/th = Rp 7.119,87/botol

Harga Jual :

= Rp. 7.119,87 + % keuntungan

= Rp 7.119,87 + (20% x Rp. 7.199,87) = Rp 9.967,818

Harga jual ini akan ditambah dengan biaya riset dan paten teknologi, biaya
pemasaran, dan sebagainya sehingga harga jual MO-GENT dipasaran adalah Rp.
20.000 per botol isi 10 tablet.

54
F. Rencana Penerimaan dan Keuntungan

Asumsi harga di pasaran Rp 20.000,00/botol

Pendapatan bersih : 20.000,00 x 360.000 botol/tahun


= Rp 7.200.000.000/th
Keuntungan kotor : pendapatan – Biaya total
= Rp. 7.200.000.000 – Rp. 2.563.153.200 = Rp 4.636.846.000/th
Keuntungan bersih : keuntungan kotor – Pps
= Rp 4.636.846.000 – (15% x 4.636.846.000)
= Rp. 3.941.319.780/th
Untuk menentukan harga pokok produksi produk ini, terlebih dahulu
diuraikan kebutuhan produksi selama tahun. Kemudian diasumsikan berapa
jumlah yang akan digunakan dan dikalikan dengan harga per unit yang
diperoleh dari asumsi harga di pasaran. Harga pokok produksi MO-GENT
adalah sebesar Rp 7.119,87. Dari harga pokok produksi tersebut kemudian
ditentukan target keuntungan yang ingin dicapai. Pada umumnya, keuntungan
adalah sebesar 20 - 30%. Mo-GENT menetapkan keuntungan sebesar 20%
dari HPP sehingga jika ditambah biaya riset dan teknologi di dapat harga jual
sebesar Rp 20.000,00/botol.
MO-GENT membuat target jumlah kapasitas produksi per tahun sebesar
360.000 botol. Sehingga jika dikalikan dengan harga jual akan didapatkan
total penerimaan sebesar Rp. 7.200.000.000 dengan keuntungan bersih
(setelah dikurangi biaya operasional dan pajak) sebesar = Rp.
3.941.319.780/th.

G. Waktu Pengembalian Modal

Waktu pengembalian modal, digunakan untuk mengetahui berapa lama


modal awal tertanam dalam proyek. Waktu pengembalian modal adalah
investasi yang tertanam dibagi dengan keuntungan bersih tahunan dan
penyusutan, sehingga waktu pengembalian modal kurang dari satu tahun.
(perhitungan terlampir)

55
BAB VIII

KESIMPULAN

Seiring dengan kebutuhan masyarakat akan produk deterjen yang


praktis dan ramah lingkungan, maka produsen dituntut untuk mencari
produk deterjen yang memudahkan pekerjaan sehari-hari, dan tidak
menimbulkan bahaya bagi lingkungan sekitar. MO-GENT atau Mobile
Detergent hadir sebagai jawaban akan kebutuhan tersebut.
MO-GENT merupakan sebuah bentuk deterjen 3 in 1 (pembersih,
pewangi, dan pelembut) dengan bentuk tablet, yang telah ditakar sesuai
dengan kebutuhan sehari-hari, sehingga praktis (tidak perlu mengira-ngira)
baik untuk digunakan di rumah tangga maupun untuk yang bepergian.
Selain karena bentuknya, MO-GENT memiliki keunggulan karena
merupakan sebuah paket lengkap (+ pewangi dan pelembut) sehingga
pakaian lebih mudah disetrika.
Selain praktis, deterjen ini pun memiliki keunggulan, yaitu
berbahan baku MES (metil ester sulfonat) yang merupakan surfaktan

56
ramah lingkungan (biodegradable) sehingga tidak menimbulkan
pencemaran air.
Secara finansial Mo-GENT merupakan investasi yang
Dari berbagai keunggulan diatas, maka MO-GENT merupakan
sebuah produk yang berpotensi untuk dikembangkan. Dengan strategi
valuasi dan komersialisasi yang tepat, maka produk ini akan dikenal dan
digunakan oleh masyarakat luas, sehingga dapat mendukung dan
memudahkan kegiatan mencuci, baik dalam rumah tangga maupun untuk
bepergian.

DAFTAR PUSTAKA

Adami, I dan F. Moretti. 1996. Drying and agglomeration processes for


traditional and concentrated detergent ponders. In: Soap and Detergent: A
Theotritical an Practical Review. Spitz, L. (Ed.). Champaign, Illinois :
AOAC Press.
Fessenden, R.J. dan J.S. Fessenden. 1995. Kimia Organik. Jilid 2. Ed. Ke-
3.Terjemahan : A. H. Pudjaatmaka. Jakarta : Erlangga.
George T. Austin. 1996. Industri Proses Kimia. Edisi ke-5. Jilid 1. Penerbit
Erlangga : Jakarta.
Gupta, S. Dan Wiese, D. 1992. Soap, Fatty Acid, and Synthetic Detergent. Di
dalam Riegel’s Handbook of Industrial Chemistrty. Ninth ed. James A
(ed). New York : Van Nostrand Reinhold.

57
Hui, Y.H. 1996. Bailey’s Industrial Oil and Fat Product. Vol. 3. . United State :
A Wiley -Interscience Publication. John Wiley & Sons, Inc.
INFORM. 1998. Additives to Improves Performance. INFORM 9 (10): 925 –
935.
Hart, Harold. 1998. Kimia Organik. Edisi ke Enam. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Luis, S. 1994. Soap and Detergents ; A Theoretical and Practical Review. New
York : AOCS Press.
Mac Arthur, B.W., B. Brooks, W. B. Sheats and N.C. Foster. 1998. Meeting
Challenge of Methylester Sulfonation. USA : Chemithon Corp.
Matheson, K. L. 1996. Formulation of Household and Industrial Detergents.
Dalam soap and Detergents : A Theoterical and Practical Review. Spitz,
L. (Ed). Champaign, Illinois : AOCS Press.
Moechtar, Drs. Apt. 1989. Farmasi Fisika (bagian larutan dan sistem dispersi).
Yogyakarta : Gajah Mada Universitas Press.
Myers, D. 2006. Surfactant Science and Technology. 3rd edition. New Jersey :
Jhon Wiley and Son, Inc.
Permono. Ajar. 2002 . Membuat detergen bubuk, Penebar swadaya. Jakarta.
Pore, J. 1993. Oils and Fat Manual. Andover, Uk, Paris, New York : Intercept
Ltd.
Porter, M.R. 1997. Anionic Detergent. Di dalam Lipid Technologies and
Applications. Frank D.G and Ferd B.P (Ed.). New York : Marcel Dekker
Inc.
Ralp, J. Fessenden. 1982. Kimia Organik, Edisi ke empat, Jilid II, Penerbit
Erlangga, Jakarta.
Sastrohamidjojo, H. 2005. Kimia Organik, (stereokimia, karbohidrat, lemak, dan
protein). Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.
Schwartz, A.M. 1958. Surface Aktive Agents and Detergents. New York :
Interscience Publisher, Inc.
Sheats,W B. and B.W. Mac Arthur. 2002. Methyl Ester Sulfonate Products. The
Chemithon Corporation. http://www.chemithon.com.
Suryani, A, I. Sailah, dan E. Hambali. 2002. Teknologi Emulsi. Bogor :
Departemen Teknologi Industri Pertanian, FATETA, IPB.

58
Watkins, C. 2001. All Eyes are on Texas. Inform 12 : 1152-1159

Lampiran 1. Rincian Biaya Bahan Baku

Biaya Bahan Baku


Produksi per hari : 10
Produksi per bulan : 3
Rendemen MES cair k 59
Lampiran 2. Rincian Biaya Tenaga Kerja

No. Deskripsi
A. Tenaga Kerja Tidak Langsu
1 Direktur Utama
2 Manager Produk
3 Manager Pemasa 60

4 Manager HRD, P
Lampiran 3. Perhitungan Laba Rugi

Deskripsi
A. Penerimaan
1 Produk(kemasan)
2 Harga jual/kemasa
Total penerimaan
B. Biaya Operasi 61

Anda mungkin juga menyukai