Anda di halaman 1dari 17

1

MAKALAH
MANFAAT DAN RESIKO JAMU DALAM JANGKA
PANJANG

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Farmakologi

Dosen Pembimbing: Iwan Hidayat, S. Si. Apt.

Disusun Oleh:

Nama : TAUPIK RAHMAN


Kelas : IIB/ semester III
Prodi : D3 Keperawatan Reguler
NPM : 712002 S 09114 R

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH


BANJARMASIN
PRODI D3 KEPERAWATAN TAHUN 2010
2

KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirahim,

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha


Esa, atas segala limpahan rahmat serta karunia-Nya kepada tim penulis
sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul:

“Manfaat dan resiko pemakaian jamu dalam jangka panjang”

Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat


bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan
berbagai pihak untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa
hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang
membantu dalam pembuatan tugas ini.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan tugas ini masih
dari jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya.
Namun demikian, penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan
pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh
karenanya, penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka
menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga tugas ini dapat bermanfaat
bagi seluruh pembaca.

Banjarmasin, 24 Februari 2011


3

DAFTAR ISI

COVER DEPAN

KATA PENGANTAR ............................................................................. 2

DAFTAR ISI ..........................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................4


1.1 Latar Belakang ..................................................................4
1.2 Tujuan ..............................................................................5
1.3 Metode Penulisan .............................................................5
1.4 Manfaat ..............................................................................6

BAB II PEMBAHASAN .......................................................................7


2.1 Pengertian jamu ....................................................................7
2.2 Penggolongan obat tradisional ...............................................9
2.2 Manfaat dari jamu ..................................................................11
2.3 Resiko jamu dalam jangka panjang ...................................12
2.4 Mengkonsumsi jamu dengan sehat ....................................14

BAB III PENUTUP .................................................................................16


3.1 Kesimpulan .........................................................................16
3.2 Saran ..............................................................................16

Daftar Pustaka ................................................................................................17


4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jamu merupakan salah satu warisan dari nenek moyang Indonesia dimana
jamu merupakan obat alternatif yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan yang
berkhasiat terhadap kesehatan maupun kecantikan. Jamu sudah dikenal sudah
berabad-abad di Indonesia yang mana pertama kali jamu dikenal dalam
lingkungan Istana atau keraton yaitu Kesultanan di Djogjakarta dan Kasunanan di
Surakarta. Zaman dahulu resep jamu hanya dikenal dikalangan keraton dan tidak
diperbolehkan keluar dari keraton. Tetapi seiring dengan perkembangan jaman,
orang-orang lingkungan keraton sendiri yang sudah modern, mereka mulai
mengajarkan meracik jamu kepada masyarakat diluar keraton sehingga jamu
berkembang sampai saat ini tidak saja hanya di Indonesia tetapi sampai ke luar
negeri.
Bagi masyarakat Indonesia, Jamu adalah resep turun temurun dari
leluhurnya agar dapat dipertahankan dan dikembangkan. Bahan-bahan jamu
sendiri diambil dari tumbuh-tumbuhan yang ada di Indonesia baik itu dari akar,
daun, buah, bunga, maupun kulit kayu. Sejak dahulu kala, Indonesia telah dikenal
akan kekayaannya, tanah yang subur dengan hamparan bermacam-macam
tumbuhan yang luas. Tanah yang subur dengan kekayaan tanaman sangat
mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia karena mereka bergantung dari
alam dalam usahanya untuk memenuhi bermacam-macam kebutuhan.
Pengolahan tanah, pemungutan hasil panen, proses alam tidak hanya
5

menghasilkan makanan, tetapi juga berbagai produk yang berguna untuk


perawatan kesehatan dan kecantikan. Leluhur kita menggunakan resep yang
terbuat dari daun, akar dan umbi-umbian untuk mendapatkan kesehatan dan
menyembuhkan berbagai penyakit, serta persiapan-persiapan lain yang
menyediakan perawatan kecantikan muka dan tubuh yang lengkap. Campuran
tanaman obat traditional ini di kenal sebagai JAMU. Dimana Indonesia dikenal
sebagai Negara nomor 2 dengan tanaman obat tradisional setelah Brazilia.

B. Tujuan Penelitian

1.Tujuan Umum
Tujuan umum makalah ini adalah untuk memberikan informasi
gambaran tentang manfaat serta dampak mengkonsumsi jamu dalam
kehidupan.

2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui dan memahami pengertian dari jamu.
2. Untuk mengetahui manfaat dan resiko dari mengkonsumsi jamu.
3. Menambah pengetahuan tentang obat tradisional.
4. memenuhi tugas dari dosen.

C. Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan Penulis didalam makalah ini adalah:


Membaca buku-buku yang berkaitan dengan penulisan makalah ini (metode studi
kepustakaan) dan browsing internet.

D. Manfaat
6

Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam


penambah wawasan pengetahuan tentang manfaat dan resiko jamu.
7

BAB III

PEMBAHASAN

A. Pengertian Jamu

Jamu adalah sebutan untuk obat tradisional dari Indonesia. Belakangan


populer dengan sebutan herba atau herbal. Jamu dibuat dari bahan-bahan alami,
berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar-akaran), daun-daunan dan
kulit batang, buah. Ada juga menggunakan bahan dari tubuh hewan, seperti
empedu kambing atau tangkur buaya. Jamu biasanya terasa pahit sehingga perlu
ditambah madu sebagai pemanis agar rasanya lebih dapat ditoleransi
peminumnya.
Di berbagai kota besar terdapat profesi penjual jamu gendong yang
berkeliling menjajakan jamu sebagai minuman yang sehat dan menyegarkan.
Selain itu jamu juga diproduksi di pabrik-pabrik jamu oleh perusahaan besar
seperti Jamu Air Mancur, Nyonya Meneer atau Djamu Djago, dan dijual di
berbagai toko obat dalam kemasan sachet. Jamu seperti ini harus dilarutkan
dalam air panas terlebih dahulu sebelum diminum. Pada perkembangan
selanjutnya jamu juga dijual dalam bentuk tablet, kaplet dan kapsul.
Yang dimaksud dengan jamu atau obat tradisonal ialah ramuan-ramuan
yang diperoleh langsung secara alamiah di Indonesia, baik yang berasal dari
hewan, tumbuhan, atau mineral, diolah secara sederhana atas dasar pengalaman,
dan dipergunakan dalam pengobatan tradisional. Obat tradisonal yang telah
diramu dan siap untuk dipasarkan lazim disebut sebagai jamu (Jawa) (Menurut
UU No. 9 tahun 1960, tentang Pokok-Pokok Kesehatan dan UU No. 7 tahun
1963 tentang Farmasi). Sementara itu, yang dimaksud dengan “Pengobatan
8

Tradisional” (Traditional medicine) ialah “seluruh pengetahuan dan praktik, baik


yang dapat dijelaskan maupun tidak, yang digunakan untuk menetapkan
diagnosis, pencegahan, dan penyembuhan terhadap gangguan keseimbangan
fisik, mental, atau sosial, serta sepenuhnya didasarkan pada pengalaman praktis
dan pengamatan yang diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya secara
tertulis maupun lisan” (WHO Technical Report Series 622, 1978).
Penggunaan obat tradisional telah berlangsung sejak berabad-abad yang
lalu, dan sampai saat ini masih banyak digunakan meskipun fasilitas pengobatan
modern sudah tersedia. Di Indonesia, cara tradisional masih banyak dianut
bahkan dihormati oleh sebagian besar rakyat sehingga pengobatan tradisional
masih menduduki tempat penting dalam pemeliharaan kesehatan rakyat.
Obat tradisional yang telah diramu dan siap untuk dipasarkan lazim
disebut sebagai Jamu (Jawa). Jamu dapat dibedakan atas 2 golongan, yaitu:
1) Jamu sebagai penyedap dengan bahan baku atau simplisia yang
belum distandardisasikan dan belum pernah diteliti. Bentuk sediaannya
masih sederhana, yaitu berwujud serbuk seduhan, rajangan untuk seduhan,
dan sebagainya. Istilah kegunaan masih sepenuhnya memakai pengertian
tradisional, seperti galian singset, sekalor, pegal linu, tolak angin, dan
sebagainya.
2) Fitoterapi adalah simplisia yang telah mendapat standardisasi dan
telah dilakukan penelitian alas sediaan galeniknya. Indikasi sudah
menggunakan istilah farmakologi, seperti diuretika, obstipansia, kolagoga,
dan sebagainya. Khasiatnya dapat diandalkan sesuai dengan basil penelitian
yang sudah dikerjakan. Dengan adanya obat kelompok fitoterapi ini,
diharapkan obat-obat dari alam secara bertahap dapat dimanfaatkan dalam
sistem pelayanan kesehatan formal.

B. Penggolongan Obat Tradisional

Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan
tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran
9

dari bahan tersebut, yang secara turun-temurun telah digunakan untuk


pengobatan berdasarkan pengalaman (DepKesRI).
Obat bahan alam yang ada di Indonesia saat dapat dikategorikan menjadi 3
kategori, yaitu jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka.

1.Jamu (Empirical based herbal medicine)

Logo Jamu

Jamu adalah obat tradisional yang disiapkan dan disediakan secara


tradisional. Berisi seluruh bahan Tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut,
higienis (bebas cemaran) serta digunakan secara tradisional berdasarkan
pengalaman. Jamu telah digunakan secara turun-temurun selama berpuluh-puluh
tahun bahkan mungkin ratusan tahun, Pada umumnya, jenis ini dibuat dengan
mengacu pada resep peninggalan leluhur atau pengalaman leluhur. Sifat jamu
umumnya belum terbukti secara ilmiah (empirik) namun telah banyak dipakai
oleh masyarakat luas. Belum ada pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi
digunakan dengan bukti empiris berdasarkan pengalaman turun temurun.

2. Obat Herbal Terstandar (Scientific based herbal medicine)

Logo Obat Herbal terstandar


10

Adalah obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan
alam (dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral). Untuk
melaksanakan proses ini membutuhkan peralatan yang lebih rumit dan berharga
mahal, ditambah dengan tenaga kerja yang mendukung dengan pengetahuan
maupun ketrampilan pembuatan ekstrak. Selain proses produksi dengan teknologi
maju, jenis ini telah ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa penelitian-
penelitian pre-klinik (uji pada hewan) dengan mengikuti standar kandungan
bahan berkhasiat, standar pembuatan ekstrak tanaman obat, standar pembuatan
obat tradisional yang higienis, dan telah dilakukan uji toksisitas akut maupun
kronis.

3.Fitofarmaka (Clinical based herbal medicine)

Logo Fitofarmaka

Fitofarmaka adalah obat tradisional dari bahan alam yang dapat


disetarakan dengan obat modern karena :
• Proses pembuatannya yang telah terstandar,
• Ditunjang bukti ilmiah s/d uji klinik pada manusia dengan criteria- memenuhi
syarat ilmiah,
• Protokol uji yang telah disetujui,
• Dilakukan oleh pelaksana yang kompeten,
• Memenuhi prinsip etika,
• Tempat pelaksanaan uji memenuhi syarat.

Dengan dilakukannya uji klinik, maka akan meyakinkan para praktisi


medis ilmiah untuk menggunakan obat herbal ke dalam sarana pelayanan
11

kesehatan. Masyarakat juga bisa didorong untuk menggunakan obat herbal


karena manfaatnya jelas dengan pembuktian secara ilmiah.

C. Manfaat Jamu

Jamu adalah salah satu obat yang tidak memiliki efek samping karena
tidak mengandung zat kimia. Hal ini dikarenakan jamu herbal terbuat dari bahan-
bahan alami seperti tanaman herbal.
Jamu herbal semakin banyak diminati oleh masyarakat karena khasiatnya
yang luar biasa. Tidak adanya efek samping dari penggunaan jamu herbal ini
adalah alasan utamanya. Oleh karena itu, sudah tidak aneh lagi kalau jamu herbal
ini diburu masyarakat luas. Selain itu, jamu herbal ini dapat menyembuhkan
berbagai penyakit yang ringan seperti penyakit kulit sampai yang berat seperti
jantung dan kolestrol. Jika anda adalah orang yang sedang mencari obat untuk
menyembuhkan suatu penyakit, atau hanya sekedar menjaga kebugaran dan
kesehatan diri, jangan ragu untuk memilih jamu herbal.
Minum jamu berkhasiat untuk mencegah penyakit, meningkatkan
kesehatan, mengobati, dan mempercantik tubuh. Manfaat jamu untuk mengatasi
masalah kesehatan dan kecantikan sudah mendapat banyak bukti ilmiah. Jamu
dari kacang kedelai, misalnya, baik untuk mencegah masalah menopause,
kardiovaskular, dan osteoporosis. Ini karena jamu tersebut kaya akan isoflavon.
Sementara itu, pegagan dalam sediaan kosmetik dapat membantu regenerasi sel
kulit karena kandungan triterpenoidnya.
Dalam bukunya, Healthy Lifestyle with Jamu, Dr Martha Tilaar
mengemukakan bahwa jamu diperlukan dalam siklus kehidupan. Mulai dari bayi
dan anak-anak, remaja, dewasa, dan mereka yang berusia lanjut. Khusus ramuan
jamu untuk kesehatan kulit.
12

D. Risiko jangka panjang

Saat ini sudah banyak herbal yang diteliti secara ilmiah, bahkan hingga ke uji
klinis sehingga herbal yang telah melalui serangkaian penelitian tersebut sudah
sejajar dengan obat konvensional dan dapat diresepkan oleh dokter. Seperti
layaknya obat konvensional, selain indikasinya untuk penyakit tertentu, herbal-
herbal tersebut sudah diketahui kontra-indikasinya dan efek sampingnya sehingga
konsumen mengetahui dengan pasti keuntungan dan kerugiannya dalam
mengkonsumsi herbal-herbal tersebut.
Mungkin pernah kita mendengar bahwa penggunaan jamu dalam jangka
waktu yang lama menyebabkan ginjal rusak? Sebenarnya bahan dasar dari jamu
berasal dari tumbuh-tumbuhan dan herbal yang mempunyai khasiat sebagai obat
atau manfaat kesehatan lainnya. Permasalahannya sekarang adalah dengan
semakin modernnya jaman, jamu sudah menjadi suatu industri besar di negara
ini, dimana produsen jamu berlomba-lomba menjual produknya kepada
konsumen dengan berbagai cara. Konsumen juga semakin dimudahkan dengan
bentuk jamu ini. Jamu sekarang sudah tidak berasa pahit, karena sudah ada yang
berbentuk pil dan juga cara meminumnya pun jadi lebih gampang.
Seharusnya bahan dasar jamu 100% merupakan bahan alami, tapi karena
perkembangan industri jamu menyebabkan ada produsen yang menambahkan
bahan-bahan kimia kedalam produknya seperti bahan pewarna, pengawet bahkan
obat-obatan kimia. Penambahan zat-zat kimia tersebut yang menyebabkan
mengkonsumsi jamu dalam jangka waktu yang lama menyebabkan kerusakan
ginjal. Bahkan Badan Pengawasan Obat dan Makanan banyak menemukan jamu
yang banyak mengandung zat-zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan.
Bisa dipahami apabila ada sebagian masyarakat khawatir dengan efek
samping menggunakan ramuan atau jamu. Maklum sebagian besar produk jamu
yang beredar di masyarakat luas belum dilakukan uji klinis yang bisa mengukur
efek samping. Bahkan lebih memprihatinkan lagi sebagian besar kalangan medis
melarang para pasiennya minum jamu karena ada beberapa produsen jamu yang
mencampurkan bahan kimia yang berbahaya. Seiring dengan maraknya trend
back to nature muncul berbagai macam produk kesehatan berbahan baku alami.
13

Sebagian besar orang berpendapat bahwa yang alami lebih aman dan kecil sekali
efek sampingnya karena sifat herbal yang konstruktif terhadap tubuh.
Namun harus tetap dipahami bahwa yang alami bisa saja tidak aman bila cara
pemanfaatannya salah. Selain itu ada beberapa bahan alam yang menyebabkan
efek negatif dan dilarang oleh Badan POM seperti:
1) Aristolochia sp. yang menyebabkan gagal ginjal stadium lanjut
2) Produk Kava-kava (Piper metysticum) merupakan herbal sedatif yang
bersifat hepatotoksik, biasanya digunakan untuk menenangkan diri. Anda
akan merasakan kantuk, gerakan mulut dan lidah terasa kaku dan aneh
3) Ephedra bisa menyebabkan serangan jantung dan stroke. Produk ephedra
disebut juga produk ’ma huang’ yang digunakan untuk menurunkan berat
badan bisa menyebabkan tekanan darah meningkat, detak jantung menjadi
tidak teratur, rasa gelisah, sakit kepala dan susah tidur.
4) Batang pohon kina (Cinchonae cortex) dan daun artimisia (Artemesiae
folium) yang dapat menyebabkan resistensi Plasmodium falcifarum dan
P. vivax terhadap anti malaria.

Menurut penelitian terbaru, 63 persen tanaman obat Indonesia dapat


menyebabkan interaksi farmakokinetik dengan obat-obat medis konvensional,
antara lain: Temu giring, merica putih, delima putih, tapak dara, kemukus,
pulosari, sambiloto, serai, kayu legi, klembak, kayu cendana, cengkeh, brotowali,
pulai dan lempuyang wangi.
Secara umum ada beberapa efek atau reaksi negatif yang muncul setelah
minum jamu/obat herbal, antara lain:
1. Mual dan muntah.
2. Diare.
3. Alergi gatal-gatal dan bengkak.
4. Gangguan pada lambung.
5. Pusing dan sakit kepala.
6. Panas dingin dan seluruh badan menjadi sakit.
7. Tekanan darah menjadi tinggi atau justru turun.
8. Gula darah turun.
14

9. Badan lemas keluar dan keringat dingin.


10. Mengantuk.
11. Sulit tidur.

Meski begitu efek samping yang ditimbulkan oleh herbal biasanya hanya
bersifat sementara karena tubuh sedang menyesuaikan diri. Maka dalam
mengkonsumsi obat herbal sebaiknya menggunakan dosis secara bertahap. Mulai
dari sehari sekali saja dulu, rasakan dan perhatikan apakah tubuh mengalami
reaksi tertentu. Kondisi penyesuaian diri perlu dilakukan hingga 3 hari lalu bila
tak ada masalah dosis ditingkatkan menjadi dua kali dan tiga kali
sehari sesuai anjuran. Maka sebelum memutuskan membeli jamu atau obat
tradisional teliti dulu kontra indikasinya atau tanyakan kepada customer service
maupun konsultan produknya.

E. Mengkonsumsi Jamu Secara Sehat

Mungkin pernah kita mendengar bahwa penggunaan jamu dalam jangka


waktu yang lama menyebabkan ginjal rusak? Sebenarnya bahan dasar dari jamu
berasal dari tumbuh-tumbuhan dan herbal yang mempunyai khasiat sebagai obat
atau manfaat kesehatan lainnya. Permasalahannya sekarang adalah dengan
semakin modernnya jaman, jamu sudah menjadi suatu industri besar di negara
ini, dimana produsen jamu berlomba-lomba menjual produknya kepada
konsumen dengan berbagai cara. Konsumen juga semakin dimudahkan dengan
bentuk jamu ini. Jamu sekarang sudah tidak berasa pahit, karena sudah ada yang
berbentuk pil dan juga cara meminumnya pun jadi lebih gampang.
Jamu memang merupakan obat hampir tidak menimbulkan efek samping
bagi tubuh, tetapi ada beberapa sebab yang menimbulkan efek samping yang
dialami pasien dan masyarakat antara lain:
a. Salah mengolah.
15

b. Perkembangan industri jamu menyebabkan ada produsen yang


menambahkan bahan-bahan kimia kedalam produknya seperti bahan
pewarna, pengawet bahkan obat-obatan kimia.
c. Over dosis.
d. Terlalu cepat menggantikan obat medis dengan herbal.
e. Terlalu cepat ingin sembuh, semua obat diminum.
f. Tidak mau pantang makanan pemicu.

Cara paling bijak bila mengkonsumsi jamu atau obat herbal, bila
merasakan ada hal yang negatif segera hentikan dulu untuk sementara lalu
konsultasikan kepada ahlinya atau yang menjual produknya. Selain itu bisa
dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Minum banyak air putih.
2. Minum susu dan tambahkan jahe.
3. Banyak konsumsi jus buah atau jus sayur.
4. Minum air kelapa hijau bila ada.
5. Minum air teh pahit bila diare.
6. Gunakan herbal daun dewa, pegagan dan ashitaba untuk menetralisir efek
negatif.
7. Segera minum air gula atau makan permen bila kadar gula darah tiba-tiba
drop.

Jamu sebaiknya tidak dikonsumsi jangka panjang, terutama apabila


manfaat dan efek sampingnya belum diteliti melalui penelitian ilmiah. Pemakaian
jangka panjang dapat memperberat kerja hati dan ginjal, dan tidak bisa dipastikan
efek sampingnya karena belum diketahui dengan pasti. Oleh karena itu
bijaksanalah dalam mengkonsumsi jamu, apa lagi dalam jangka waktu yang
lama.
16

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Jamu adalah sebutan untuk obat tradisional dari Indonesia. Belakangan


populer dengan sebutan herba atau herbal. Jamu dibuat dari bahan-bahan alami,
berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar-akaran), daun-daunan dan
kulit batang, buah. Ada juga menggunakan bahan dari tubuh hewan, seperti
empedu kambing atau tangkur buaya.
Minum jamu berkhasiat untuk mencegah penyakit, meningkatkan
kesehatan, mengobati, dan mempercantik tubuh. Manfaat jamu untuk mengatasi
masalah kesehatan dan kecantikan sudah mendapat banyak bukti ilmiah.

B. Saran

Jamu sebaiknya tidak dikonsumsi jangka panjang, terutama apabila


manfaat dan efek sampingnya belum diteliti melalui penelitian ilmiah. Pemakaian
jangka panjang dapat memperberat kerja hati dan ginjal, dan tidak bisa dipastikan
efek sampingnya karena belum diketahui dengan pasti. Oleh karena itu
bijaksanalah dalam mengkonsumsi jamu, apa lagi dalam jangka waktu yang
lama.
17

Daftar Pustaka

http://www. blogberita.net

http://www.bloguntukseo.com

http// www.dechacare.com

http://www.forumsains.com

http://www.ningharmanto.com

http://www.requestartikel.com

http://www.suaramedia.com

http://www.wikipedia.com