Anda di halaman 1dari 34

Pembahasan Pencemaran suara

Pencemaran suara adalah keadaan dimana


masuknya suara yang masuk terlalu banyak
sehingga mengganggu kenyamanan lingkungan
manusia. Pencemaran suara biasanya diukur dalam
satuan dB atau desibel.
Pencemaran suara cukup menjadi ancama serius
bagi kualitas lingkungan terutama dibagian suasana.
Sumber pencemaran suara adalah kebisingan, yaitu
bunyi atau suara yang dapat mengganggu dan
merusak pendengaran manusia. Bunyi disebut
bising apabila inetensitasnya telah melampaui 50
desibel. Pencemaran suara yang bersifat terus-
menerus dengan tingkat kebisingan di atas 80 dB
dapat mengakibatkan efek atau dampak yang
merugikan kesehatan manusia
Pencemaran Suara di Darat
Suara dengan intensitas tinggi, seperti yang dikeluarkan
oleh banyak mesin industri, kendaraan bermotor, dan
pesawat terbang bila berlangsung secara terus-menerus
dalam jangka waktu yang lama dapat mengganggu
manusia, bahkan menyebabkan cacat pendengaran yang
permanen.

Sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan


Hidup No. Kep 48/MENLH/11/1996 tentang baku tingkat
kebisingan menyebutkan bahwa kebisingan adalah bunyi
yang tidak diinginkan dari suatu usaha atau kegiatan
dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat
menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan
kenyamanan lingkungan.
Salah satu ancaman serius lain bagi kualitas lingkungan
manusia adalah pencemaran suara. Bunyi atau suara
yang dapat mengganggu dan merusak pendengaran
manusia disebut kebisingan. Oleh karena kebisingan
dapat mengganggu lingkungan, kebisingan dapat
dimasukkan sebagai pencemaran.
Suara dengan intensitas tinggi secara terus-menerus
dalam jangka waktu yang lama dapat mengganggu
manusia, bahkan menyebabkan cacat pendengaran yang
permanen. Oleh karena itu, bunyi dapat dianggap
sebagai bahan pencemar serius yang mengganggu
kesehatan manusia. Tingkat kebisingan atau ukuran
energi bunyi dinyatakan dalam satuan desiBell (dB).
Pengukurannya menggunakan alat yang bernama Sound
Level Meter.

1 ) Jenis-Jenis Kebisingan:
a) kebisingan yang terus-menerus dengan jangkauan
frekuensi yang sempit, misalnya, mesin gergaji;
b) kebisingan yang terputus-putus, misalnya, suara arus
lalu lintas atau pesawat terbang;
c) kebisingan impulsif, misalnya, tembakan, bom, atau
suara ledakan;
d) kebisingan impulsif berulang, misalnya, suara mesin
tempa
2) Contoh kebisingan yang menimbulkan
pencemaran suara :
a) Orang ngobrol biasa = 40 dB
b) Orang ribut / silat lidah = 80 dB
c) Suara kereta api / krl = 95 db
d) mesin motor 5 pk = 104 db
e)suara gledek / geledek / petir = 120 dB
f) Pesawat jet tinggal landas = 150 dB

3)Efek samping negatif dari pencemaran suara:


a. stress
b. gila
c. perubahan denyut nadi
d. tekanan darah berubah
e. gangguan fungsi jantung
f. kontraksi perut
g. sulit tidur
h. jantung berdebar-debar
i. naiknya tekanan darah

Pencemaran Suara di Laut


1. Pendahuluan
Dengan semakin berkembangnya teknologi kelautan,
banyak manfaat yang dapat diambil dari lautan. Namun
disamping itu, teknologi itu juga membawa dampak
negatip. Pencemaran laut merupakan salah satu
dampaknya. Telah banyak pembahasan mengenai
masalah pencemaran laut serta ada berbagai macam
topik mengenai lingkungan laut serta pencemaran laut.
Pencemaran suara di darat telah cukup mempengaruhi
manusia serta lingkungan di darat. Sementara tanpa
disadari bahwa di laut pun pencemaran suara ini
membawa dampak yang cukup berarti bagi kehidupan di
laut.
Pencemaran suara di laut atau juga dapat disebut
kebisingan laut merupakan salah satu issu yang cukup
menarik dalam beberapa tahun ini. Studi mengenai
dampak pencemaran suara di laut atau bising laut
menghasilkan beberapa kesimpulan yang cukup menarik,
diantaranya yaitu dampak bising laut ini terutama
terhadap mamalia laut. Tidak banyak orang mengetahui
bahwa ternyata pencemaran suara di laut juga
memberikan dampak yang berarti terhadap mamalia laut
serta mahluk hidup lainnya di laut. Karena diketahui
bahwa mamalia laut menggunakan suara sebagai alat
komunikasi serta untuk kewaspadaan dalam mengenali
lingkungannya.
Ada beberapa kejadian menarik mengenai pengaruh
kebisingan laut ini terhadap mamalia laut atau cetacean.
Seperti misalnya yang terjadi di laut Bahamas pada tahun
2000, dimana ditemukan paus yang terdampar dan
diduga penyebabnya akibat pengaruh suara dari sonar
yang digunakan oleh angkatan laut Amerika.
Dalam tulisan ini akan dibahas tentang kebisingan di laut,
sumbernya, penggunaan suara oleh mamalia laut serta
bagaimana dampaknya terhadap mamalia laut dan
lingkungan laut lainnya.Sehingga diharapkan akan dapat
memberikan tambahan wawasan mengenai salah satu
bentuk pencemaran yang ada di laut yaitu pencemaran
suara atau kebisingan di laut.

2. Suara di Laut
2.1 Apa itu Suara ?
Suara merupakan tekanan bolak-balik dan kumpulan
molekul dalam medium elastik, yang terdeteksi oleh
penerima sebagai perubahan tekanan. Struktur dalam
telinga dan juga kebanyakan alat penerima yang dibuat
oleh manusia sensitif terhadap perubahan tekanan suara
ini.
Akibat dari sensitifitas yang dimiliki oleh mahluk hidup
ini, maka terdapat batas toleransi terhadap frekuensi
tertentu suara yang masih dapat dianggap tidak
mengganggu. Apabila kemudian suara itu memiliki
frekuensi di luar batas toleransi maka akan dapat
menimbulkan gangguan.
Seperti halnya di darat, di mana kemajuan setelah
revolusi industri meningkatkan tingkat kebisingan yang
cukup mengganggu. Begitu juga terjadi di lautan.
Mungkin manusia tidak begitu merasakannya. Namun
dampak dari kebisingan yang terjadi di laut dapat di lihat
perubahan perilaku mamalia laut. Laut sebagai media, di
dalamnya ada suara yang bersumber dari fenomena
alam, seperti suara yang dibangkitkan oleh hujan,
gelombang, gempa bumi dll. Selain itu seiring dengan
industrialisasi, pertumbuhan kapal dan anjungan minyak
lepas pantai, serta peningkatan penggunaan sonar dalam
navigasi dan riset, sehingga menambah suara yang ada
dalam lingkungan laut.
2.2 Sejarah Pencemaran Suara di Laut
Sebelum tahun 1950 diperkirakan level dari pencemaran
suara di laut belumlah terlalu tinggi. Ikan-ikan paus di
lautan dapat berkomunikasi satu sama lain dengan lancar
menggunakan sonar. Demikian pula hal nya dengan ajing
laut untuk keperluan mencari makanan, mencari
pasangan dan berkomunikasi satu sama lain. Namun
pada penelitian sejak selang tahun 1950-1975 ternyata
telah terjadi kenaikan level sebesar sepuluh desibel yang
sebelumnya dalam kurun 150 tahun aktifitas manusia di
laut berpengaruh sedikit terhadap polusi suara di lautan.
Dalam skala tersebut, 10 desibel merupakan suatu angka
yang cukup signifikan, yang dalam hitungan logaritmik
angka tersebut naik sepuluh kali lipatnya. Suara juga
merambat lebih cepat dan lebih jauh di dalam air
dibanding di udara. Intensitas tinggi suara di lautan juga
tidak berkurang dalam ratusan mil.
3. Sumber Suara di Laut
3.1 Sumber alami
Suara di laut yang timbul akibat proses alami terbagi
dalam dua yaitu proses fisika serta proses biologi. Proses
fisika ini antara lain : aktivitas tektonik, gunung api dan
gempa bumi, angin, gelombang. Sedangkan contoh dari
aktivitas biologis misalnya suara dari mamalia laut dan
ikan.
3.2 Lalu Lintas Kapal
Banyak dari kapal-kapal yang beroperasi di laut
menimbulkan kebisingan yang berpengaruh pada
ekosistem laut dan umumnya berada pada batasan suara
1000Hz. Kapal-kapal Tanker Besar yang beroperasi
mengangkut minyak biasanya mengeluarkan suara
dengan level 190 desibel atau sekitar 500Hz. Sedangkan
untuk ukuran kapal yang lebih kecil biasanya hanya
menimbulkan gelombang suara sekitar160-170 desibel.
Kapal-kapal ini menimbulkan sejenis tembok virtual yang
disebut “white noise” yang memiliki kebisingan konstan.
White noise dapat menghalangi komunikasi antara
mamalia di laut sampai batas untuk area yang lebih kecil.
Selain kapal Tanker juga Kapal-kapal besar lainnya sejenis
Cargo yang membawa petikemas memiliki kebisingan
yang cukup menimbulkan pencemaran suara di laut.
3.3 Eksplorasi dan Ekspoitasi Gas dan Minyak
Kegiatan eksplorasi dan ekspoitasi gas dan minyak
banyak menggunakan survei seismik, pembangunan
anjungan minyak/rig, pengeboran minyak, dll.
Kebanyakan dari survei seismik saat ini menggunakan
airguns sebagai sumber suara, alat ini merupakan alat
berisi udara yang memproduksi sinyal akustik dengan
cepat mengeluarkan udara terkompresi ke dalam kolom
air. Metoda tersebut dapat menciptakan suara dengan
intensitas sampai dengan 255 desibel. Pengaruhnya
terhadap hewan lainnya juga dapat menimbulkan
kerusakan pendengaran akibat dari tekanan air yang
ditimbulkan. Seperti layaknya penggunaan dinamit,
airguns juga berpengaruh terhadap pendengaran
manusia secara langsung. Pulsa sinyal akustik ini dapat
menimbulkan konflik terhadap mamalia laut, seperti
misalnya paus jenis mysticete, sperm, dan beaked yang
menggunakan frekuensi suara yang rendah.
Begitu juga dalam aktivitas pembangunan rig dan
pengeboran minyak dimana dalam operasionalnya setiap
hari banyak menghasilkan suara serta menimbulkan
kebisingan yang beresiko bagi mamalia laut.
3.4 Penelitian Oseanografi dan Perikanan
Pernah diadakan survei dengan menggunakan Acoustic
Thermography of Ocean Climate (ATOC) dimana
digunakan kanal suara untuk memperlihatkan rata-rata
temperatur laut. Sistem ini digunakan untuk penelitian
mengenai faktor temperatur laut. Akibatnya terhadap
hewan-hewan di laut terbukti bahwa mereka bergerak
menjauh (terutama Paus jenis tertentu) namun selang
beberapa saat mereka kembali untuk mencari makanan.
Deruman dari Speaker yang dipasang berkekuatan 220
desibel tepat di sumbernya, dan terdeteksi sampai
dengan 11000 mil jauhnya.
Dari penyebab diatas terdapat juga penyebab lainnya
yang tidak disebutkan di sini, salah satunya adalah
kegiatan perikanan para nelayan yang menggunakan
peledak atau pukat harimau yang tidak hanya
menimbulkan polusi suara namun juga merusak secara
langsung ekosistem di laut itu sendiri.
3.5 Kegiatan Militer
Ada beberapa aktivitas yang dilakukan militer yang
menghasilkan sumber suara yang menimbulkan
kebisingan di laut. Salah satu contohnya yaitu aktivitas
kapal naval milik US.Army yang menggunakan sonar aktif
ketika berlatih dan dalam aktivitas rutin. Angkatan Laut
Amerika (NAVY) pernah mengembangkan suatu sistem
yang dinamakan Low Frequency Active Sonnars (LFA)
untuk keperluan militernya. Dalam penggunaannya,
terbukti bahwa terdapat beberapa efek negatif terhadap
kehidupan dan perilaku mamalia di lautan. Terhadap ikan
paus efek tersebut ternyata mengganggu jalur migrasi
dan untuk jenis ikan paus biru dan ikan paus sirip adalah
terhentinya proses komunikasi satu sama lain. Bahkan
setelah melalui beberapa penelitian, maka pengunaan
LFA tersebut juga berpengaruh terhadap kesehatan
manusia. Beberapa penyelam NAVY yang menerima
transmisi dari sekitar 160 desibel akibat sistem tersebut
terbukti terkena gangguan seperti vertigo, gangguan
terhadap gerakan tubuh serta gangguan di daerah perut
dan dada.
Bukti-bukti lainnya dari pengaruh akibat sonar yang
dihasilkan ini di sebutkan oleh Vonk and Martin (1989),
Simmonds and Lopez-Jurado (1991), Frantzis (1998) dan
Frantzis and Cebrian (1999) mereka menganggap bunyi
keras yang ditimbulkan oleh aktifitas militer ini telah
menyebabkan terdamparnya paus jenis beaked di Pulau
Canary dan Laut Ionia. Selain itu paus jenis sperm
mengalami perubahan kelakuan dalam vokalisasi dalam
merespons sonar ini.
Pendamparan lainnya terjadi pada bulan maret 2000 di
Bahama, 17 mamalia laut( termasuk 2 spesies paus jenis
beaked dan minke). Pendamparan ini terjadi akibat
latihan militer Amerika yang menggunakan sonar.
4. Mamalia Laut dan Bunyi
4.1 Mamalia Laut
Ada 3 golongan mamalia yang berkembang di bumi dan
beradaptasi di laut. Ketiga golongan ini termasuk
didalamnya : paus, lumba-lumba-lumba, anjing laut,
singa laut,walruse, dugongs, dan sapi laut.
Golongan Cetacean terdiri dari 76 spesies mamalia laut
yang diketahui sebagi paus, lumba-lumba-lumba, dan
ikan lumba-lumba. nenek moyang dari grup ini memasuki
laut kira-kira 55 juta tahun yang lalu.
Ada berbagai macam Mamalia laut diantara nya berikut
ini, dari yang ukurannya terbesar hingga kecil : Paus Biru
(Blue whale), Paus Finback, Paus Right atau paus sikat,
Paus Sei, Paus Humpback, dan Paus Gray yang termasuk
sub Orde Baleen Whale (Mysticete). lalu Paus Sperm,
Paus Pembunuh, paus Pilot, Paus putih, Lumba-lumba
hidung botol yang termasuk suborde Toothed whales
(Odonticeti). Beberapa paus besar jenis baleen seperti
grys dan humpback bermigrasi secara musiman biasanya
membiakkan pada musim dingin di daerah tropik dan
kembali ke kutub pada musim panas. Golongan kedua
dari mamalia laut didalamnya termasuk anjing laut, singa
laut dan walrus.Berbeda dengan paus mamalia Laut ini
menghabiskan sebagian besar waktunya di daratan es.
4.2 Penggunaan Suara oleh mamalia Laut
Pemahaman mengenai pendengaran mamalia laut dan
mekanisme aural penting diketahui untuk mengenal
potensial efek suara terhadap mereka. Mamalia laut
tinggal di lingkungan dimana tidak terdapat cahaya yaitu
di kedalaman yang jauh dari permukaan.
Pada kedalaman lebih dari 200 meter cahaya tidak lagi
menembus laut, dengan keadaan ini maka mamalia laut
mengandalkan suara di bandingkan cahaya sebagai alat
utama dalam berkomunikasi serta untuk lebih berhati-
hati dari keadaan lingkungan sekitarnya.
Selain itu banyak juga mamalia laut yang tinggal di
lingkungan yang membatasi penglihatannya, seperti di
daerah turbiditas. Maka mamalia laut ini mengandalkan
kemampuannya dalam suara. Misalnya lumba-lumba
sungai dimana kemampuan penglihatannya terbatas
hanya pada membedakan yang gelap dan terang.
- Echolocation
Echolocation adalah kemampuan binatang dalam
memproduksi frekuensi yang sedang atau tinggi serta
mendeteksi echos dari suara ini untuk menentukan jarak
dari suatu objek, dan untuk mengenali keadaan fisik di
sekitarnya. Echolocation ini memberikan informasi yang
detail dan akurat tentang keadaan sekeliling.
Echolocation ini memproduksi frekuensi tinggi.
Contohnya lumba-lumba laut yang menghasilkan
frekuensi dari 50 kHz hingga 13 kHz.
Frekuensi tinggi yang digunakan mamalia laut ini
memberikan resolusi yang tinggi, meskipun
bagaimanapun suara frekuensi tinggi memiliki banyak
keterbatasan di dalam air. Echolocation ini penting tidak
hanya untuk mendeteksi dan menangkap mangsa tetapi
juga melihat lingkungan sekitar.
- Navigasi
Mamalia laut mysticete diketahui memproduksi
frekuensi rendah. Pada frekuensi rendah ini penjalaran
suara di lingkungan laut lebih cepat. Suara dengan
frekuensi rendah dimana bisa menjalar ke tempat yang
jauh dengan cepat. Karena itu mamalia laut
menghasilkan suara dengan frekuensi rendah ini untuk
bermigrasi seperti misalnya Paus. Gangguan atau
kebisingan dengan frekuensi suara yang rendah tentunya
menjadi gangguan serius terutama untuk pertahanan
mamalia laut.
- Komunikasi
Dalam berkomunikasi mamalia laut menggunakan suara
dengan sinyal akustik tertentu, dimana sinyal ini
bervariasi tergantung kebutuhan serta keadaan
lingkungan. ada berbagai macam fungsi komunikasi
mamalia laut seperti : seleksi intraseksual, seleksi
interseksual, memandu anak, memandu kelompok,
pengenalan individu, dan menghindari bahaya.
- Menarik perhatian mangsa
Kegunaan lain dari suara oleh mamalia laut kemungkinan
untuk melemahkan atau menarik perhatian mangsa.
Hasil riset memperlihatkan bahwa mamalia laut
memproduksi sumber suara intens ketika mencari
makanan. Informasi mengenai penggunaan suara dalam
hal ini sangat terbatas, namun dapat dipahami bahwa
mamalia laut menggunakan suara untuk proses biologis
yang cukup vital.
- Vokalisasi mamalia Laut
Ada berbagai macam tipe mamalia laut serta masing-
masing menghasilkan frekuensi yang berbeda dari yang
frekuensi tinggi (130-150 kHz) hingga frekuensi rendah
seperti paus biru (10-15 Hz).
5. Pengaruh Kebisingan Laut
5.1 Kebisingan Laut Sebagai Gangguan Bagi Mamalia
Laut
Keterbatasan ilmu pengetahuan mengenai perkiraan
resiko terhadap mamalia laut berdasarkan banyak
asumsi. Contohnya mamalia laut dengan pendengaran
berdasarkan range tertentu akan sangat dipengaruhi
oleh suara. Mamalia laut yang tidak berkelompok
memiliki resiko lebih mudah diserang misalnya pasangan
ibu dan anak. Selain itu paus jenis beaked dan sperm
dapat mudah diserang dalam perjalanan ke zona dimana
kebisingan terkonsentrasi.
Dapat diasumsikan bahwa tidak ada konsekuensi biologi
dari akibat suara yang keras ketika tidak ada respon
kelakuan ditemukan. Bagaimanapun dalam penelitian ini
perlu diperhatikan perubahan kelakuan mamalia laut
sebagai informasi dari pengaruh kebisingan laut tersebut.
Hasil dari data yang telah dikumpulkan di mana
kebisingan suara di laut telah menimbulkan efek jangka
pendek termasuk dalam memangsa makanan,
bersosialisasi, dan vokalisasi serta perubahan perilaku
dalam cara menyelam. Akibatnya suara dapat
menyebabkan mamalia laut berpindah dari habitatnya
sendiri. Jika ini hanya berdampak dalam jangka pendek,
maka tidak akan terlalu berpengaruh secara signifikan.
Namun jika pengaruh dari gangguan ini terus menerus
berulang maka dalam jangka panjang akan dapat
menimbulkan stress, melemahkan dan pada akhirnya
terhadap kelahiran.
Penjauhan dari sumber suara harus dikenal sebagai
akibat, karena hewan ini mengubah perilaku alaminya.
Bagi mamalia laut yang tidak berkelompok sumber suara
dapat menjadi sangat berbahaya bagi mereka. Aktivitas
lalu lintas kapal disinyalir dapat memisahkan populasi
mereka.
Hasil observasi ternyata menunjukan sumber suara selain
mengakibatkan mamalia menjauh dari sumbernya serta
perubahan perilaku ternyata juga berpengaruh terhadap
beberapa ikan dan invertabrata. Spesies lain di laut
menunjukan reaksi terhadap suara yang masuk ke laut
(airgun) dalam level yang sama seperti terhadap mamalia
laut yaitu beberapa jenis kura-kura.
5.2 Dampak Kebisingan Laut
Gangguan bunyi-bunyi dapat saja menghasilkan frekuensi
atau intensitas yang dapat berbentrokan atau bahkan
menghalangi suara/bunyi biologi yang penting, yang
menjadikan tidak terdeteksi oleh mamalia laut. Padahal
seperti diketahui bahwa suara-suara biologi ini penting
seperti untuk mencari mangsa, navigasi, komunikasi
antara ibu dan anak, untuk manarik perhatian, atau
melemahkan mangsa.
klasifikasi efek fisik langsung yang dapat mempengaruhi
mamalia laut
>Tidak Berhubungan langsung :
Merusak jaringan tubuh
Kejang urat yang disebabkan tekanan udara yang tiba-
tiba
>Berhubungan langsung :
Merusak telinga
Gangguan pendengaran permanen atau sementara
>Kelakuan :
Perubahan Perilaku
Modifikasi perilaku
Berpindah tempat dari area (jangka panjang atau
pendek)
>Stress :
Menurunkan tingkat kelangsungan hidup
Mudah terserang penyakit
Berpotensi dipengaruhi oleh efek kumulatif yang negatif
(misalnya polusi kimia kombinasi dengan stress suara)
Peka terhadap Suara
6. Penutup
Mamalia laut merupakan bagian dari ekosistem laut yang
perlu dilindungi. Polusi suara di laut ternyata berdampak
cukup besar bagi mamalia laut bahkan juga bagi makhluk
laut lainnya.
Sayangnya beberapa riset mengenai pencemaran suara
di laut ini masih dilakukan di luar negeri, sementara di
Indonesia sendiri belum atau sangat jarang penelitian
dalam bidang ini. Padahal dilihat dari penyebab
kebisingan laut yang dibahas diatas, sebagian besar ada
di Indonesia. Seperti eksplorasi dan eksplotasi gas dan
minyak lepas pantai serta padatnya lalu lintas kapal.
Informasi mengenai kebisingan laut ini, yang telah
mendapat perhatian para ilmuwan di luar negeri
seharusnya dijadikan sebagai peringatan awal bagi
Indonesia karena hal tersebut banyak terjadi di perairan
Indonesia. Untuk itu diperlukan identifikasi daerah
dimana terdapat mamalia laut yang rawan terhadap
pencemaran suara serta mengusahakan agar di daerah
tersebut kegiatan yang dapat menimbulkan pencemaran
suaranya bisa dikurangi.
PENCEMARAN SUARA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kita semua tahu, saat ini kita lebih banyak dieksploitasi
dengan terlalu banyak suara lebih dari masa apapun dalam
sejarah. Kehidupan modern sepertinya jadi perjuangan
yang tak berkesudahan untuk melawan hiruk-pikuk yang
kian meningkat. Saat berada di rumah, telinga kita diisi
oleh riuhnya suara binatang peliharaan, suara AC, televisi,
dan banyak hal lain. Saat berada di jalan, kita juga
mendengar keriuhan lain: proyek pembangunan, suara
kendaraan umum yang menderu dan musik yang
dinyalakan orang lain.
Sekitar 16,8 persen dari total penduduk Indonesia
mengalami gangguan pendengaran pada 1996. Survei
yang dilakukan Kementerian Kesehatan bekerja sama
dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
terhadap 20.000 orang di tujuh provinsi itu mencatat
bahwa sekitar 38 juta penduduk Indonesia terganggu
pendengarannya.
Melihat hasil penelitian dari berbagai ahli dan penemuan
dalam kehidupan sehari–hari tentang dampak kebisingan
atau pencemaran suara inilah seharusnya diambil langkah
– langkah yang tepat untuk menanggulangi salah satu
polusi yang dianggap tidak begitu berdampak dibanding
dengan polusi air, tanah dan udara yang sekarang ini
dengan jelas terlihat dalam kehidupan kita sehari–hari.
Dalam makalah ini penulis ingin menyajikan tentang
segala sesuatu yang berkaitan dengan pencemaran suara.
Selain itu, penulis juga akan menguraikan bagaimana cara
untuk menanggulangi pencemaran suara yang efeknya
secara tidak sadar telah menggangu kehidupan manusia.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah di atas
maka masalah dalam makalah ini dirumuskan sebagai
berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan pencemaran suara?
2. Apa yang menyebabkan pencemaran suara?
3. Apa saja dampak dari pencemaran suara?
4. Bagaimana menanggulangi dampak pencemaran suara?

C. Tujuan Penulisan
Dalam makalah ini, tujuan yang ingin dicapai adalah
sebagai berikut :
1. Mengetahui definisi pencemaran suara.
2. Mengetahui sebab – sebab pencemaran suara.
3. Mengetahui dampak dari pencemaran suara.
4. Mengetahui cara menanggulangi dampak pencemaran
suara.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Polusi / Pencemaran Suara


Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau
dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan atau
komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya
tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh
proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke
tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi
kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan
peruntukannya (Undang-undang Pokok Pengelolaan
Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982).
Bunyi atau suara adalah kompresi mekanikal atau
gelombang longitudinal yang merambat melalui medium.
Medium atau zat perantara ini dapat berupa zat cair,
padat, gas. Jadi, gelombang bunyi dapat merambat
misalnya di dalam air, batu bara, atau udara. Kebanyakan
suara adalah merupakan gabungan berbagai sinyal, tetapi
suara murni secara teoritis dapat dijelaskan dengan
kecepatan osilasi atau frekuensi yang diukur dalam Hertz
(Hz) dan amplitudo atau kenyaringan bunyi dengan
pengukuran dalam desibel. Manusia mendengar bunyi
saat gelombang bunyi, yaitu getaran di udara atau
medium lain, sampai ke gendang telinga manusia. Batas
frekuensi bunyi yang dapat didengar oleh telinga manusia
kira-kira dari 20 Hz sampai 20 kHz pada amplitudo
umum dengan berbagai variasi dalam kurva responsnya.
Jadi, pencemaran suara adalah gangguan pada lingkungan
yang diakibatkan oleh bunyi atau suara yang
mengakibatkan ketidaktentraman makhluk hidup di
sekitarnya. Pencemaran suara diakibatkan suara-suara
bervolume tinggi yang membuat daerah sekitarnya
menjadi bising dan tidak menyenangkan. Tingkat
kebisingan terjadi bila intensitas bunyi melampui 70
desibel (dB).

B. Penyebab Pencemaran Suara


Zat atau bahan yang dapat mengakibatkan pencemaran
disebut polutan. Syarat-syarat suatu zat disebut polutan
bila keberadaannya dapat menyebabkan kerugian
terhadap makhluk hidup. Sifat polutan adalah:
1. Merusak untuk sementara, tetapi bila telah bereaksi
dengan zat
lingkungan tidak merusak lagi.
2. Merusak dalam jangka waktu lama.
Dalam pencemaran suara, kebisingan yang dialami sehari
– hari tanpa sadar merupakan faktor utama terjadinya
pencemaran suara. Apalagi pada era modern seperti
sekarang ini banyak sekali alat – alat yang menggunakan
mesin yang berbunyi bising serta penggunaan gadget
yang bisa memutar bunyi dengan earphone yang suaranya
langsung mengenai gendang telinga tanpa ada perantara
merupakan suatu hal yang beresiko mengakibatkan
pencemaran suara.
Saat berada di rumah, telinga kita diisi oleh riuhnya suara
binatang peliharaan, suara AC, televisi, dan banyak hal
lain. Saat berada di jalan, kita juga mendengar keriuhan
lain: proyek pembangunan, suara kendaraan umum yang
menderu dan musik yang dinyalakan orang lain. Di kabin
mobil, kapal laut, dan pesawat terbang menimbulkan
suara mesin yang menderu. Juga di pabrik atau tempat
kerja yang memakai kipas angin besar, kompresor, trafo,
dan pompa. Di hotel, perkantoran, atau apartemen
biasanya saluran udaranya mengeluarkan bising.
Sebagai contoh beberapa kebisingan yang menyebabkan
kebisingan yang kekuatannya diukur dengan dB atau
desibel adalah
1. Orang ribut / silat lidah = 80 dB
2. Suara kereta api / krl = 95 dB
3. Mesin motor 5 pk = 104 dB
4. Suara petir = 120 dB
5. Pesawat jet tinggal landas = 150 dB

C. Dampak Pencemaran Suara


Tingkat pencemaran didasarkan pada kadar zat pencemar
dan waktu (lamanya) kontak. Menurut WHO, tingkat
pencemaran dibedakan menjadi 3, yaitu sebagai berikut :
1. Pencemaran yang mulai mengakibatkan iritasi
(gangguan) ringan pada panca indra dan tubuh serta telah
menimbulkan kerusakan pada
ekosistem lain.
2. Pencemaran yang sudah mengakibatkan reaksi pada
faal tubuh dan
menyebabkan sakit yang kronis.
3. Pencemaran yang kadar zat-zat pencemarnya demikian
besarnya
sehingga menimbulkan gangguan dan sakit atau kematian
dalam
lingkungan.
Menurut penelitian, musik berirama keras, hingga
'berlimpah ruah' berdampak dramatik pada psikologi.
Selain berakibat merusak gendang pendengaran, menurut
Dr. Luther Terry, mantan peneliti di Badan Bedah AS,
yang melakukan penelitian adanya akibat negatif terkait
suara yang bising, proses pendengaran melibatkan:
kontruksi jantung, peredaran darah, meningkatkan kerja
hati, pernafasan yang meningkat, menghambat
penyerapan kulit dan tekanan kerangka otot, sistem
pencernaan berubah, aktivitas yang berhubungan dengan
kelenjar yang memberi pertanda pada zat-zat kimia dalam
tubuh termasuk darah dan air seni, efek keseimbangan
organ. Juga keseimbangan efek perasa dan perubahan
kimia di otak. Itu semua merupakan sebagian dari efek
suara bising pada manusia.
Terry juga mengungkapkan adanya efek negatif suara
gaduh dalam perkembangan janin. Penelitian menemukan
pula, kalau setelah terpapar suara berkekuatan tinggi,
seperti suara pesawat yang tinggal landas atau tempat
kerja yang sangat ramai, tekanan darah meningkat hingga
30%. Pengaruh negatif bertambah dengan adanya
kenyataan tekanan darah meningkat dalam tingkat yang
tinggi, bahkan saat paparan suara bising berakhir.
Mungkin Anda memilih untuk tak tinggal di dekat
bandara agar tak terkena dampak buruk kebisingan lalu
litas pesawat. Meski demikian, suara gaduh lain yang
mungkin kita pertimbangkan secara moderat memang
memiliki pengaruh. Sebuah penelitian di Jerman
menemukan, bahwa tinggal di daerah yang bising dan
jalanan yang sibuk memungkinkan mengakibatkan
serangan jantung sebesar 20%, lebih tinggi dari pada
orang-orang yang tinggal di daerah tenang.
Studi tersebut menghubungkan permasalahan dalam
mendengarkan, juga dipengaruhi oleh kebisingan. Selain
itu, suara gaduh juga dapat berpengaruh pada anak-anak
dalam belajar bicara, membaca, dan dalam menangkap
pelajaran di sekolah. Pengaruh yang sama juga telah
didokumentasikan pada orang-orang yang tinggal di dekat
bandara, dekat rel kereta api dan jalan besar.
Ketidakmampuan untuk mendengar dan memahami
segala yang diajarkan guru dapat diartikan sebagai
kwalitas yang menyedihkan, dan bahkan dapat
meningkatkan tingkat ketidaklulusan di sekolah.
Lebih jauh lagi, polusi suara juga membawa dampak pada
tingkah laku anak-anak dan orang dewasa. Sebuah studi
mengamati respon seorang pejalan kaki saat seseorang
meminta bantuan di tempat yang gaduh. Sementara
ditengah kebisingan suara mesin pemotong rumput yang
meraung di sekitar, ada seseorang wanita yang patah
tulang menjatuhkan bukunya, tak seorangpun datang
untuk memberikan bantuan. Namun pada saat mesin
pemotong rumput yang bersuara ribut dimatikan, dan
kejadian yang sama diulang, beberapa pejalan kaki
berhenti guna memberi bantuan pada wanita ini.
Dari uraian diatas, dampak pencemaran suara biasanya
hanya menyebabkan gangguan–gangguan kecil yang tidak
begitu dirasakan oleh makhluk yang tercemari.
Pencemaran suara yang bersifat terus-menerus dengan
tingkat kebisingan di atas 80 dB itulah yang dapat
mengakibatkan efek atau dampak yang merugikan
kesehatan manusia dan juga menimbulkan kerugian
secara materi karena dengan kesehatan yang terganggu
maka produktivitas kerja akan menurun.

D. Cara Menanggulangi Pencemaran Suara


Dari uaraian diatas tentang begitu berbahayanya
pencemaran suara yang menyebabkan berbagai gangguan
pada manusia, kini banyak digunakan sistem kendali
bising yang aktif. Menurut Dr Ir Bambang Riyanto
Trilaksono MSc, peneliti dan dosen pada Departemen
Teknik Elektron, Institut Teknologi Bandung (ITB),
secara konvensional bising diredam dengan memakai
bahan-bahan peredam.
Bahan tersebut ditempatkan di sekitar sumber bising atau
di dinding ruang yang intensitas bisingnya mau dikurangi.
Sayangnya, kendali bising pasif hanya efektif pada
frekuensi tinggi. Jika pada frekuensi rendah diterapkan
sistem ini, bahan peredam yang dibutuhkan akan lebih
berat dan tebal. "Ini meningkatkan biaya, bahkan kadang-
kadang membuat sistem sulit diimplementasikan," kata
Bambang.
Pada dasarnya pengendali bising aktif adalah peredam
bising dengan menggunakan sumber suara yang
dikendalikan dan melawan sumber bising yang tidak
dikehendaki.
Bambang menjelaskan, prinsip yang digunakan dalam
kendali bising aktif (active noise control/ANC) adalah
interferensi destruktif antara bising dan suatu sinyal suara
lain, lazimnya disebut antisound). Sistem ini
membangkitkan sinyal yang fasanya berlawanan dengan
bising yang mau diredam.
Meskipun sederhana dalam teori, prinsip ini sulit pada
prakteknya. Penyebabnya karena karakteristik sumber
bising akustik dan lingkungan selalu berubah terhadap
waktu, frekuensi, amplitudo, dan fasa. Selain itu,
kecepatan suara bising tidak stasioner.
Selain itu kini di perkantoran, hotel atau apartemen di
kota – kota besar yang dekat dengan lalu lintas utama atau
dekat bandara yang dirasa lingkungannya mempunyai
kebisingan yang tidak bisa ditolerir oleh pendengaran
manusia, maka Direktur Jendera Bina Marga sejak tahun
1999 mencanangkan bangunan peredam bising. Dimensi
Bangunan Peredam Bising tersebut antara lain :
a. Tinggi minimal 2,75m (makin tinggi kemampuan
redaman makin baik).
b. Tebal dinding minimal 10 cm.
Sedangkan Bahan bangunan peredam bisik
a. Penggunaan bahan untuk mereduksi bising adalah dari
hasil olahan industri berupa beton ringan agregat yang
disebut ALWA berupa konblok (masif) dengan komposisi
campuran: Semen : Pasir : ALWA= 1 : 4 : 4
b. Dimensi konblok ALWA dapat dicetak menurut ukuran
pabrik, sebagai berikut: (30 x 10 x 15) atau (30x15x15)cm
c. Bahan selain ALWA seperti Bata Merah atau Batako
harus dengan rancangan khusus untuk memperoleh
kemampuan redaman bising yang baik.
Secara terus menerus program ini terus disosialisasikan
oleh pemerintah dalam upayanya mengurangi polusi suara
Kebijakan yang sudah diambil oleh pemerintah dalam
menanggulangi polusi suara dan polusi udara adalah
mengendarai mobil dengan sistem 3 in 1 yaitu dalam satu
mobil minimal harus diisi dengan 3 orang, agar keributan
yang terjadi akibat kemacetan, asap dan desing suara
mesin tidak terlalu memadati jalan raya. Selain itu yang
perlu dilakukan pemerintah adalah mengurangi penjualan
kendaraan bermotor, karena hal ini merupakan salah satu
pemacu terjadinya kebisingan di jalanan. Karena melihat
kenyataan sekarang ini, setiap individu tidak lepas dari
kendaraan bermotor.
Dari setiap individu pun kesadaran akan pentingnya
pengurangan polusi suara harus lebih digalakkan.
Misalnya dengan tidak terlalu banyak memakai alat
elektronik yang menimbulkan suara bising, tidak berteriak
dalam berbicara atau tidak mendengarkan musik dengan
earphone dengan sangat keras. Karena secara tidak
langsung hal itu bisa mengurangi kelelahan otak dalam
mendengar.
Dari pabrik atau lembaga–lembaga penemuan teknologi
baru, seharusnya memikirkan juga tentang efek samping
terhadap mesin yang menimbulkan suara gaduh. Pihak
produsen seharusnya memasang peredam suara dalam
setiap poduknya sehingga kebisingan dapat diminimalisir.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kehidupan modern sepertinya jadi perjuangan yang tak
berkesudahan untuk melawan hiruk-pikuk yang kian
meningkat. Dimanapun kita berada kita selalu mendengar
kebisingan yang secara tidak sadar juga mengganggu
kinerja tubuh kita. Walaupun tidak begitu mendapat
perhatian seperti 3 pencemaran lain, pencemaran suara
merupakan suatu yang sangat penting untuk dikaji karena
dampaknya kian hari kian terlihat.
Banyak gangguan yang diakibatkan oleh pencemaran
suara diantaranya mulai dari konsentrasi yang kurang
sampai meninggal akibat kebisingan yang diterima dalam
jangka waktu yang lama dan secara tidak langsung
mengajak otak untuk mengubah cara kerja organ tubuh.
B. Saran
Untuk meminimalisir polusi suara ini ada berbagai cara
yang bisa dilakukan yaitu dengan meredam bising yang
tidak diinginkan dengan suara yang menenangkan,
pembangunan bangunan peredam bising, meminimalisir
penggunaan kendaraan bermotor, peralatan elektronik dan
pemberian peredam suara oleh pabrik untuk produknya
yang dirasa menimbulkan kebisingan yang melewati
ambang batas pendengaran manusia.

DAFTAR PUSTAKA

http://gurungeblog.wordpress.com/2009/01/13/polusi-
atau-pencemaran-lingkungan/ diakses 21 Januari 2009

http://id.wikipedia.org/wiki/Polusi_suara diakses 21
Januari 2009

http://organisasi.org/pengertian_definisi_arti_efek_dampa
k_dan_penyebab_pencemaran_suara_pada_pencemaran_l
ingkungan_hidup_dan_tubuh_manusia diakses 23 Januari
2009

http://www.kapanlagi.com/a/dampak-buruk-dan-dampak-
baik-suara-i.html diakses 23 Januari 2009
http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/23/16481222/
Awas.Bising.Mengganggu.Pendengaran diakses 24
Januari 2009

http://www.google.co.id/#hl=id&q=PEDOMAN+PEREN
CANAAN+TEKNIK+BANGUNAN+PEREDAM+BISIN
G&meta=&aq=f&oq=PEDOMAN+PERENCANAAN+T
EKNIK+BANGUNAN+PEREDAM+BISING&fp=5be45
4f7189800bf diakses 24 Januari 2009
created by Fetty Kurnia di 2/12/2010 03:19:00 PM

Daftar Pustaka
1. WDCS Sciences Report, Ocean of Noise, Whale and
Dolphin Conversation Society.(http://www.wdcs.org)
2. Karen N. Scott, International Regulation Of Undersea
Noise.
3. http://oceanlink.island.net/index.html
4. http://www.nrdc.org/wildlife/marine/so

5. Aryulina D. et.al. 2004. Biologi SMA untuk Kelas X.


Jakarta: Esis.