Anda di halaman 1dari 4

MANFAAT MIKROALGA

Manfaat ganggang atau algae banyak sekali, baik manfaat bagi organisme lain, ekosistem, maupun
manusia sebagai makhluk yang banyak sekali memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di
dunia ini.
Ganggang sebagai organisme protista fotosintetik merupakan penyusun utama fitoplankton di
perairan tawar maupun laut, di mana fitoplankton merupakan sumber makanan utama bagi ikan dan
hewan-hewan invertebrata lain yang hidup di perairan tersebut. Ini adalah salah satu manfaat
ganggang bagi makhluk hidup lain selain manusia. Manfaat lain misalnya sebagai organisme simbion
bagi organisme lain seperti pada lichen, yaitu hasil simbiosis jamur dengan ganggang hijau, di mana
ganggang hijau berperan sebagai penghasil zat organik yang dimanfaatkan jamur simbion ganggang
tersebut untuk makanannya. Sedangkan manfaat dari lichen (simbiosis ganggang dengan jamur) ini
pun banyak sekali, misalnya untuk bahan pembuat obat, sebagai bahan penambah rasa dan aroma
makanan, sebagai bahan pewarna kertas pH atau kertas lakmus, sebagai organisme perintis, dan
sebagai indikator pencemaran udara.
Bagi ekosistem atau lingkungan, ganggang berperan terutama sebagai komponen produsen, juga
sebagai konsumen (dalam hal ini sebagai makhluk parasitik) dalam ekosistem air tawar dan air laut.
Selain itu ganggang juga berperan sebagai penghasil oksigen pada air yang dapat dimanfaatkan ikan
dan hewan lain untuk bernafas, sebagai tempat hidup dan penyedia makanan bagi ikan maupun
hewan lain.
Bagi manusia sebagai makhluk tercerdas dibanding makhluk lain yang ada di bumi ini, ganggang
dapat dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup manusia yang tak terhitung
jumlahnya. Ganggang pun tak hanya sebagai pemenuh kebutuhan pangan saja, akan tetapi
berkembang menjadi bahan pemenuh kebutuhan kesehatan, bermacam industri serta kemajuan
ilmu pengetahuan. Berikut ini dijelaskan berbagai manfaat ganggang bagi manusia dalam berbagai
bidang atau aspek kehidupan.

Di Bidang Pangan
Di bidang pangan, ganggang memegang peranan yang cukup besar. Kandungan gizinya yang tinggi
dan rasanya yang khas membuat ia menjadi makanan favorit di berbagai negara, seperti Korea,
Jepang, China, dan juga Irlandia. Contohnya adalah kombu, yaitu ganggang cokelat spesies Laminaria
japonica yang banyak dikonsumsi orang di negara-negara Asia Timur seperti Tiongkok, Korea, dan
Jepang. Di Jepang, kombu dipakai dalam masakan Jepang sebagai bahan dasar kaldu yang disebut
dashi, dimasak bersama sayur-sayuran dan daging, atau diproses menjadi makanan olahan sebagai
lauk teman makan nasi.
Di kota Sakai (Prefektur Osaka), Jepang, yang dikenal sebagai pusat perajin benda tajam, permukaan
kombu diserut setelah sebelumnya direndam dengan campuran cuka dan gula. Produk akhir serutan
tipis kombu yang berwarna putih krem disebut oboro kombu yang rasanya sedikit asin dan manis.
Oboro kombu digunakan sebagai penyedap berbagai jenis masakan Jepang yang berupa sup bening,
ditaburkan di atas udon, atau sebagai pembungkus onigiri dan baterazushi. Serutan bagian hitam
kombu yang banyak terkena campuran cuka dan gula disebut kuroi oboro. Serutan bagian dalam
kombu yang cuma sedikit terkena cuka dan sering dianggap sebagai bagian terlezat disebut futo
shiro oboro. Bagian inti kombu yang sudah tidak dapat diserut lagi disebut shiroita kombu dan
digunakan pada oshizushi. Kombu juga diproses menjadi berbagai macam makanan olahan untuk
teman makan nasi atau bahan isi onigiri. Berikut ini bermacam hasil olahan kombu di Jepang:
1) shio kombu, yaitu kombu berasa asam-asin yang dipotong persegi empat dan biasanya dinikmati
sebagi teman minum teh hijau;
2) kombu tsukudani, yaitu kombu yang dimasak dengan gula, kecap asin, atau berbagai jenis bahan
lainnya seperti jamur shiitake, jamur matsutake, dan ikan teri;
3) nishin (ayu) no kombu maki yaitu ikan hering atau ikan ayu yang dibungkus kombu dan dimasak
cara tsukudani;
4) di Hokkaido, kombu mentah dimakan sebagai sashimi;
5) su kombu, yaitu makanan ringan berbentuk potongan-potongan kecil kombu yang diproses
dengan campuran gula dan bahan-bahan lain;
6) permen kombu.
Kombu dikenal sebagai makanan yang kaya akan serat, zat besi, kalsium, dan iodium.
Selain kombu, ganggang lain yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan, tidak hanya di
Jepang, namun di berbagai negara di dunia yaitu:
1) Chlorella sp. (Chlorophyta) yang bermanfaat sebagai sumber makanan suplemen bergizi tinggi
atau biasa digunakan untuk PST (Protein Sel Tunggal);
2) Ulva, Caulerpa, Enteromorpha (Chlorophyta) untuk sumber makanan berupa sayur;
3) Eucheuma spinosum, Gelidium sp., Gracilaria lichenoides, Agardhiella sp. (Rhodophyta) sebagai
penghasil bahan serupa gelatin yang disebut agar dan karagenan yang bermanfaat untuk campuran
pembuatan kue kering, pengental berbagai makanan olahan, makanan penutup, dan untuk
membuat es rumput laut;
4) Laminaria, Macrocystis, Fucus vesiculosus,dan Ascophyllum sebagai penghasil algin (C6H8O6) dan
alginat untuk campuran es krim, pengental makanan (sirup, cokelat, permen, saus salad, keju);
5) Macrocystis sp. sebagai bahan makanan suplemen yang kaya unsur nitrogen, natrium, fosfor, dan
kalsium;
6) Rhodymenia palmata sebagai sumber makanan yang kaya akan gizi;
7) Porphyra tenerakijellum dikonsumsi sebagai lauk pauk atau makanan olahan dan sebagai
pembungkus sushi atau biasa disebut nori.

Di Bidang Industri
Ganggang banyak dimanfaatkan dalam berbagai macam industri. Seperti Chlorella yang
dimanfaatkan dalam industri kosmetik, Eucheuma spinosum, Gelidium, Gracilaria lichenoides, dan
Agardhiella yang menghasilkan agar dan karagenan dan dimanfaatkan dalam industri tekstil sebagai
perekat tekstil.
Selain ganggang yang telah disebutkan tadi, masih ada pula ganggang lain yang dimanfaatkan dalam
industri, yaitu ganggang keemasan (misal: diatom) yang sisa-sisa cangkangnya yang membentuk
tanah diatom digunakan untuk bahan peledak, penyekat dinamit, campuran semen, bahan alat
penyadap suara, bahan penggosok, bahan isolasi, bahan pembuat cat dan pernis, bahan dasar
pembuatan kaca, dan dalam pembuatan saringan. Dulu, ketika piringan hitam masih digunakan,
diatom ini pun digunakan untuk membuat piringan hitam. Laminaria sp. juga digunakan sebagai
pengental dalam industri lem, tekstil, pelapis kertas, dan pasta gigi. Chondrus sp. digunakan sebagai
bahan pembuat lem, Chondrus crispus dan Gigortina mamilosa digunakan sebagai penghasil
karagenan, untuk bahan penyamak kulit, bahan pembuat krim, dan obat pencuci rambut (shampoo).
Baru-baru ini ditemukan pula manfaat ganggang sebagai bahan bakar. Seorang peneliti Indonesia,
Mujizat Kawaroe, menemukan bahwa mikroalga yang melimpah di laut mengandung senyawa dasar
pembentuk bahan bakar, blue energy yang sebenarnya. Mujizat menemukan bahwa dalam salah
satu lipid mikroalga ini ternyata terdapat hidrokarbon, senyawa dasar pembentuk bahan bakar.
Kandungan lipid dalam mikroalga diketahui 20 persen, namun dapat ditingkatkan menjadi 50 persen
melalui rekayasa genetik.
Protista fotosintetik yang dapat dijadikan bahan bakar ini yaitu Chrysophyta dan Chlorophyta.
Cyanophyta atau ganggang hijau-biru yang merupakan anggota kingdom Monera bersama bakteri
pun dapat dijadikan sumber bahan bakar bioenergi. Tetapi di sini hanya akan dibahas mengenai
ganggang yang merupakan protista.
Spesies yang memiliki potensi terbesar yaitu dari genus Chlorella dan Dunaliella yang memiliki
kandungan lemak tinggi, adaptif terhadap perubahan lingkungan, dan cepat laju pertumbuhannya.
Chlorella memiliki kandungan lemak 14–22 persen dan karbohidrat 17 persen. Dunaliella memiliki
kandungan lemak 6 persen dan karbohidrat 32 persen. Dalam penelitian lain diketahui bahwa
minyak mentah mikroalga (crude alga oil) ternyata mengandung isochrysis galbana 20–35 persen
dan nano-chloropsis oculata 31–68 persen.
Proses pembuatan mikroalga tidaklah terlalu sulit. Langkah awal yang dilakukan adalah identifikasi
dan isolasi mikroalga, kemudian dilakukan pengembangbiakan (kultivasi) selama 7–10 hari dan
setelah itu dapat dilakukan pemanenan. Selanjutnya, mikroalga disaring, dikeringkan, dan diekstraksi
menggunakan pelarut hexan atau diethyl ether untuk menghasilkan natan. Tahap berikutnya
dilakukan pemurnian dan esterifikasi untuk mengurai lemak menjadi hidrokarbon. Dalam 1 ton air
kultivasi dapat dipanen 1 liter natan, dari 1 liter ini bisa dihasilkan 150 gram alga bioenergi atau jika
digunakan untuk proses pembuatan ekstrak akan didapat 22 mililiter minyak. Jika diproses lagi,hasil
ekstrak ini setara dengan 200 mililiter. Biaya yang dibutuhkan pun cukup murah, hanya mulai dari
2.000 rupiah untuk menghasilkan 1 liter natan. Hasil penelitian yang sangat menjanjikan bagi dunia
perindustrian dan bisnis ini masih dikembangkan lagi untuk dapat menghasilkan bioenergi yang
benar-benar dapat digunakan secara global.

Di Bidang Kesehatan
Dalam bidang kesehatan, protista fotosintetik telah dikenal memiliki berbagai khasiat dan digunakan
dalam pembuatan berbagai obat-obatan. Misalnya Chlorella yang telah diketahui mengandung
klorofil 2–3 persen dari beratnya, protein 55–60 persen, vitamin C, vitamin E, kalsium, kalium, dan
magnesium serta berkhasiat meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan tekanan darah tinggi,
memperbaiki pencernaan, mendorong pertumbuhan bakteri yang bermanfaat dalam usus,
menanggulangi sembelit, mencegah sakit maag, dan mencegah tumor. Ada pula Porphyra
tenerakijellum yang bermanfaat untuk suplemen kesehatan, Laminaria digitalis dan Macrocystis
pyrifera sebagai penghasil iodium untuk mengobati penyakit gondok, Laminaria sp. sebagai bahan
pembuatan pil, tablet antibiotik, dan salep, Eucheuma spinosum, Gelidium, Gracillaria lichenoides,
Agardhiella sebagai obat pencahar (laksatif), dan Dunaliella sp. yang digunakan sebagai sumber beta-
karoten yang bermanfaat untuk mencegah berbagai kanker termasuk kanker paru-paru. Kombu yang
berasal dari Laminaria japonica memiliki kandungan serat, zat besi, kalsium dan iodium yang cukup
tinggi serta konon dapat menurunkan tekanan darah tinggi dan mencegah diabetes melitus.

Di Bidang Lainnya
Di bidang pertanian, Laminaria sp. digunakan untuk pupuk pertanian. Spirogyra dan Chara braunii
dalam bidang sains digunakan sebagai bahan percobaan fotosintesis, sedangkan beberapa ganggang
merah seperti Eucheuma spinosum dan Agardhiella digunakan sebagai dasar pembentukan gel untuk
media biakan mikrobiologis serta fase padat pada elektroforesis gel.
Dalam budidaya ternak, Laminaria lavaniea digunakan untuk makanan ternak karena banyak
mengandung kalium. Di California, Macrocystis pyrifera atau kelp dipanen untuk memberi makan
kerang abalone yang banyak dibudidayakan masyarakat setempat. Di Indonesia sendiri ganggang
jenis Gracilaria sp. yang digunakan untuk memberi makan kerang abalone yang banyak
dibudidayakan masyarakat Nusa Tenggara Barat.
Dalam bidang ekonomi, ganggang memegang peranan yang cukup penting, terutama bagi
masyarakat pesisir dan negara-negara kepulauan yang memiliki daerah laut lebih luas dibanding
wilayah daratannya. Masyarakat yang demikian banyak membudidayakan ganggang maupun
memanfaatkannya untuk makanan berbagai hewan budidaya mereka. Melihat sekian banyaknya
manfaat ganggang di bidang industri dan pangan, sekiranya cukuplah bukti dan alasan bagi kita
untuk mengatakan bahwa peranan ganggang cukup besar di bidang ekonomi.