Anda di halaman 1dari 9

Meng-Indonesiakan NLP dan Meng-NLP-kan Indonesia

Well, saat menuliskan judul di atas, saya tersenyum-senyum sendiri… Karena mudah dirasakan
bagi kawan-kawan seusia saya, judul itu akan mengingatkan pada slogan-slogan Orde Baru yang
senang pembolak-balikan kata seperti itu. Mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan
olah raga. Menyehatkan masyarakat, dan memasyarakatkan kesehatan.

Terlepas dari gaya bahasa itu sering dipakai di Orde Baru, gaya bahasa itu mengandung kearifan
linguistik yang menarik. Hanya dengan membolak-balik kata, sudah tercipta dua pengertian yang
berbeda secara drastis. Bahkan keduanya mengandung kedalaman linguistik yang sarat makna.
Mungkinkah NLP di-Indonesia-kan dan Indonesia di-NLP-kan?

Meng-Indonesiakan NLP
Kata meng-Indonesiakan NLP, setidaknya memiliki beberapa presuposisi (re : asumsi) bahwa :

1. Indonesia itu eksis


2. NLP itu eksis
3. Sesuatu hal, bisa (dapat) di-Indonesia-kan.
4. NLP bisa (dapat) di Indonesia-kan.
5. Ketika di-Indonesia-kan, sesuatu itu (termasuk NLP) akan memiliki nilai (value) tertentu,
makanya kita ingin melakukannya, right?
6. “Meng-Indonesia-kan” adalah merujuk pada suatu “proses tertentu” (yang kita belum
ketahui maknanya).

Dari sejumlah presuposisi di atas, no 1 – 5 dapat kita telan mentah-mentah dengan mudah.
Sedangkan presuposisi nomer 6 masih harus kita “matang”-kan sebelum kita telan… ?

Presuposisi nomer 6 adalah berbentuk Unspecified Verbs (Kata Kerja yang tidak jelas). Kita
perlu me-matang-kannya dengan melalui proses Meta Model. Apa tepatnya yang dimaksud
dengan kata “meng-Indonesia-kan” itu?

 Apakah meng-Indonesia-kan itu berarti “menerjemahkan” NLP agar menjadi berbahasa


Indonesia? Kalau ini yang kita maksudkan, maka menjadi mudah sekali langkahnya.
Blog-blog mengenai NLP, PortalNLP, dan penerbitan buku NP berbahasa Indonesia
sudah banyak dibuat.
 Ataukah meng-Indonesia-kan itu berarti menjadikan NLP menjadi hak milik Indonesia?
Wah, yang ini perlu melalui proses akuisisi hak milik paten / lisensi. Sepertinya bukan ini
yang kita maksudkan.
 Ataukah meng-Indonesia-kan itu berarti NLP yang sekarang tidak/belum memiliki sifat,
watak, makna dan nilai-nilai ke-Indonesia-an?

Melalui Meta Model juga, kita dapat menanyakan (men-challenge) presuposisi point ke 3 di atas.
Presuposisi itu adalah Complex Equivalence (X = Y).
o Apa bukti bahwa NLP yang sekarang tidak/belum memiliki sifat, watak, makna dan nilai-
nilai ke-Indonesia-an. Bukankah NLP setidaknya memiliki 2 akar keilmuan yang berasal dari
berasal budaya Indonesia?

1. Gregory Bateson, bersama istrinya : Margareth Mead, adalah Anthropolog yang pernah
tinggal di pulau Bali Indonesia, salah satunya mempelajari mengenai fenomena “trance”.
Jika Anda tertarik, ini salah satu begitu banyak hasil karya mereka selama meneliti di
Bali. Karya ini berbentuk DVD mengenai penelitian mereka tentang trance dan tarian
Bali: http://media.media.psu.edu/moreInfo_24636DVD.html
2. Dr Richard Bandler dalam beberapa seminarnya mengatakan bahwa dirinya mempelajari
dan memodel seorang Amerika yang mendalami ilmu “Subud” alias Susila Budhi
Dharma. Dalam hal ini juga berkaitan dengan fenomena altered state. Anda dapat
memperoleh CD yang memuat ucapan Dr. Richard Bandler ini di www.nlpstore.com.

Lha, jadi apa dong yang dimaksud dengan meng-Indonesia-kan NLP itu?

Agar menghasilkan suatu langkah kongkrit, marilah kita bedah NLP dalam 3 domain utamanya,
sehinga menjadi jelas apa yang dimaksud dengan meng-Indonesia-kan NLP ini.

Dari sisi Neuro


Rasanya tidak ada perbedaan yang signifikan antara neurologis manusia secara rasial. Lagipula
NLP sendiri meyakini bahwa Tuhan mengkaruniai Neurologis manusia memiliki kapabilitas
yang cenderung sama. Kita dilahirkan dengan sistem “Neural Wiring” yang compatible
sekalipun kita terlahir dari berbagai ras berbeda di belahan bumi yang berbeda.

Dari sisi Linguistik


Ini adalah bagian yang paling seru. Semenjak tahun 2000, concern saya mengenai linguistik
Indonesia ini sudah di mulai, saat dihadapkan kenyataan bahwa Milton Model (kata lain dari
Ericksonian Hypnosis) tidaklah secara serta merta dapat di-translate begitu saja.

Ericksonian, atau indirect conversational hypnosis (bolehlah kita sebut demikian),


dikembangkan dari memanfaatkan gejala-gejala yang tumbuh secara gramatikal maupun leksikal
di bahasa Inggris. Pembelajar Milton Model, dengan mudah akan menemukan bahwa
penerjemahan Language Patterns tidak lantas akan membawa sifat-sifat hipnotiknya. Terutama
kalau sudah menyinggung persoalan utilisasi ambiguity (ketaksaan) yang ada dalam bahasa.

Ambiguity dalam bahasa Inggris, saat diterjemahkan ke bahasa lain tidaklah serta merta
langsung tetap menimbulkan ambiguity juga. Contoh: kata-kata yang sangat terkenal dari Milton
Erickson yakni : That’s right now you can go into trance. Frasa ini memiliki punctuational
ambiguity, dimana kata right dipakai untuk menyambung dua kalimat sehingga muncullah sifat
hipnotiknya. Selain itu juga memiliki embedded command, yakni “go into trance!”

Nah, saat kalimat ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia : “Ya benar sekarang Anda dapat
masuk ke dalam trance”. Maka sifat hypnotic dari punctuational ambiguity ini tidak terjadi,
karena tidak ada yang ambigu secara punctuational dari kata “sekarang”. Yang tersisa hanyalah
adanya “embedded command” yang muncul dari potongan frasa itu ? “Masuk ke dalam trance”.
Jadi sebagai kalimat yang sebelumnya memiliki setidaknya 2 gejala (hypno linguistic), maka
setelah di terjemahkan ke bahasa Indonesia tinggal menjadi 1 gejala hypnotic). Catatan bagi
Master Practitioner, sebenarnya masih ada gejala hypnotic language lain dalam frasa itu, namun
tidaklah perlu kita bahas, mengingat ini hanyalah contoh sederhana saja.

Nah, jadi alih-alih menerjemahkan Milton Model language pattern, jauh akan lebih berguna jika
kita menggali sendiri language pattern dari gramatikal dan leksikal Bahasa Indonesia yang
tercinta.

Well, sudahkah kita belajar berbahasa Indonesia dan menggunakannya? Sudahkah kita menggali
potensinya? Untungnya di dalam kelas NLP Practitioner kita lakukan sama-sama hal ini. Setelah
penjelasan yang gamblang dan diberikan berbagai contoh riil, kami memberikan PR pada peserta
untuk menciptakan beberapa ambiguity yang berasal dari Bahasa Indonesia.

Salah satu dari punctuational ambiguity yang berhasil digali saat di kelas Practitioner batch 1,
dilakukan oleh Mas Zein Abidin (Motivator dari Jawa Timur). Ia menceritakan saat menginap di
hotel danharus mengerjakan PR, tiba-tiba dapat ide kreatif. Begini kalimatnya kepada Mbak
Receptonist “Mbak, saya ucapkan terima kasih saya kamar yang bagus di hotel ini.”

Tentunya Anda dapat menemukan bahwa kalimat Mas Zein Abidin in mengandung 3 language
patterns yang dahsyat :

1. Punctuational ambiguity
2. Phonological ambiguity
3. Embedded command

Excellent Mas Zein!

Nah,
Saya jadi penasaran, berapa banyak kalimat language pattern berbentuk Ambiguity yang dapat
Anda hasilkan, sekarang, segera setelah membaca contoh di atas?

Tentunya dengan mudah Anda rasakan, bahwa saat Anda memutuskan untuk melakuan latihan
memproduksi sendiri ambiguity dari Bahasa Indonesia, Anda berarti sudah mulai meng-
Indonesia-kan NLP secara linguistic lho.

Jadi, apakah Anda mau melakukan latihan itu sekarang, atau menyelesaikan dulu membaca
artikel ini, itu terserah Anda. Anda juga boleh menentukan sendiri berapa banyak contoh yang
akan Anda tuliskan di komentar di bawah ini untuk Anda bagi pada pembaca lainnya.

Dari sisi Programming


Wah ini yang paling menarik, sebab bicara programming adalah bicara pengalaman hidup.
Bagian ini adalah bagian yang paling banyak dapat kita lakukan peng-Indonesia-an. Dalam arti
men-utilisasi NLP dalam konteks situasi dan kondisi pengalaman hidup di Indonesia.
Penjelasannya demikian, teknik NLP seperti fast phobia cure, reframing dan lain-lain
dikembangkan menjadi suatu ‘prosedur baku’ tentunya dari kecenderungan bagaimana suatu
progam ter-install di benak manusia dari dunia barat. Misalkan mengenai konsep manajemen
waktu di kepala kita (time line), metafor , utilisasi budaya dan kebiasaan hidup lainnya.

Salah satu contoh yang dapat kita lakukan misalkan dalam melakukan “strategy elicitation”, di
kelas Master Practitioner kita mengajarkan bagaimana strategy elicitation dilakukan secara
extensive sehingga seorang Master Practitioner dapat melakukan strategy elicitation secara
“live” dan informal, ini yang disebut dengan strategy detecting.

Nah, latihan dengan meminta peserta training melakukan strategy detecting tidak saja secara
VAK, namun juga Modal Operator dan Meta Program. Kemudian peserta kita minta secara live
keluar dari lokasi pelatihan, mencari “klien” seperti sopir taksi yang lagi kongkow, office boy,
penjaga toko dll. Peserta training harus mampu mendeteksi adanya “limiting belief” dari orang-
orang ini, yang dilakukan tanpa situasi ‘formal therapy’, jadi situasinya adalah daily
conversational.

Nah, disini aka terungkap berbagai peristiwa cultural programming yang dialami masyarakat,
yang menghasilkan adanya limiting belief. Kemudian, tanpa sepengetahuan si “klien”, peserta
Master Practitioner melakukan langkah berikutnya, yakni conversational belief change.

Buuum!

Tanpa alasan yang jelas, si klien” tiba-tiba terpingkal-pingkal saat ditanya mengenai problem
limiting belief yang semula dimilikinya. Kepercayaan yang membelenggu itu tiba-tiba sirna
seperti ditiup angin bahorok! Edannya, bahkan mereka (‘klien’) itu sendiri tidak tahu, kenapa
kok belief yang membelenggu itu tiba-tiba hilang!?

Wuihhh, hebatya peserta Master Practitioner lho, mereka dapat melakukan pencerahan pada
orang lain tanpa mengetahui content, tanpa memberikan nasehat apapun… Sungguh
mengagumkan kemampuan belajar dan niat tulus mereka membantu orang lain.

Well, apakah Anda harus menjadi Master Practitioner dulu untuk dapat melakukan “meng-
Indonesia-kan” NLP ini? Oooh, tentu saja tidak! Bahkan seteah membaca tulisan ini, Anda
langsung dapat memutuskan membantu orang lain dalam situasi dan fenomena Indonesia.

Berbicara pada Anda sebagai manusia pembelajar, tentunya merupakan keputusan yang mudah
untuk ikut serta dalam gerakan meng-Indonesia-kan NLP ini. Tulisan Mas Krishnamurti, Kang
Asep, Mas Yan, dan tentunya kawan-kawan kontributor yang lainnya, sudah siap untuk Anda
praktekan. Bukankah beliau-beliau sudah banyak sekali menggali fenomena budaya Indonesia
dan bahkan menciptakan teknik siap pakai?
Mari bergerak lebih maju lagi… Ketika Anda mengamati gejala lain seperti latah, ngerumpi, atau
TTM yang cukup banyak terjadi di budaya Indonesia, Apa yang dapat Anda lakukan?

TTM?
Ya.

Sedih lho ya, sejak kata ini dipopulerkan, lantas dengan cepat sepertinya menjadi suatu budaya
baru yang terlegitimasi di kalangan masyarakat Indonesia. Saya tidak menyalahkan penyanyinya
lho. Itu hanya ‘efek samping’ dari sebuah lagu yang jujur kok! Begitulah kalau jadi artis, siapa
saja yang misalkan membuka diri mengenai sesuatu ‘kebiasaan menyimpang’ dirinya, maka ia
harus siap menjadi ‘model baru’ bagi penggemarnya untuk pembenaran atas ’perilaku
menyimpang’ itu. Bukankah mereka ini idola?

Well,

Salah satu alumni Master Practitioner NLP dari Sinergy Lintas Batas telah menulis artikel yang
bagus mengenai bagaimana cara mengatasi persoalan jika kita jatuh cinta lagi padahal kita sudah
memiliki pasangan hidup? Artikel berjudul “Aduh, aku jatuh cinta lagi pada Dian Sastro”, dapat
Anda baca di www.republikNLP.com, karya dari Mas Supartono Muhammad.

Mas Tono telah menyingkap dengan cara yang mudah dipahami, bagaimana caranya
menggunakan submodality re-map, kita bisa melunturkan peristiwa ‘jatuh cinta lagi’ yang tidak
perlu itu.
Bravo Mas Tono!

Nah masih soal budaya, kita ngomongin latah yuk!

Latah, apapun sebabnya dapat dibantu dengan membangun suatu ‘state of controlled’, yang
kemudian Anda amplify hingga kuat, dan di anchor! Kemudian buat future pacing dengan cara
melakukan proses asosiasi antara pemicu latah yang akan terjadi di masa depan, dengan anchor
state of controlled itu.

Ohya, benar! Jika Anda sedang memikirkan penggunaan swish pattern untuk membuang latah…
Itu juga bisa dilakukan, yang penting menemukan cue picture-nya harus tepat. Cue picture-nya
harus associated, bahkan perlu ada pemicu suara dan stimulus kinestetik lain yang seriil mungkin
sesuai dengan pemicu aslinya. Desire picture-nya apa? Tentu saja adalah state of controlled itu.
Hati-hati dalam menggunakan istilah state of controlled pada klien yang latahnya adalah kelamin
laki-laki. ?

Wah… wah…wah…,

Ada yang masih digali lebih jauh?

Bolehhhh.

Bagi yang sudah lebih advanced keilmuan NLP-nya, Anda boleh saja melakukan submodality
re-mapping pada peristiwa latah. Lakukan saja contrastive analysis antara situasi latah dan
situasi state of control itu. Dan lakukan re-map!

Voila! Lenyap tanpa bekas!


Masih belum puas?

Bolehhhh

Yang lebih advanced lagi dong…!

Oke, silahkan lakukan strategy elicitation pada peristiwa akan dan sedang latah. Kemudian juga
lakukan strategy elicitation pada saat mereka amat controlled. Lantas install deh strategy pada
saat controlled ke dalam situasi yang sering memicu mereka latah. Selesai!

“Lho Cak, gitu tah caranya melakukan NLP dengan elegan? Bisa cem maacem caranya ta’iye….
Lho…, uennnnak nik ngono!”

Mungkin itu yang Anda ucapkan kalau Anda berasal dari daerah Malang, Madura atau Jawa
Timur lainnya… Suennenge rek, saya ini sama orang Jawa Timur…

Ngomong-ngomong soal Jawa Timur dan Madura, katanya terkenal dengan istilah “Ndak Tentu”.
Saya dulu pernah dengar kisah budaya “Ndak Tentu” ini di berbagai ceramah agama, Anda bisa
baca kisah “Slilit Sang Kyai” karyanya Emha Ainun Najib untuk memahami hal itu. Hal senada
juga pernah diulas oleh Kang Asep dalam tulisan dahsyatnya berjudul “Hypnosis itu Haram”.

Begini kisahnya, ada seseorang yang nanya sama Pak Kyai dari Madura “Apa hukumnya makan
itu?” Dijawab dengan lantang oleh Pak Kyai : “Makan itu hukumnya ‘Ndak Tentu’ dikkk!”

Keruan si penanya muring-muring, dan minta penjelasan.

Akhirnya Pak Kyai menjawab :


“Kalau Anda sedang puasa dan sudah tiba saat berbuka, maka makan itu hukumnya wajib!”
“Kalau di rumah Anda ada makanan, mau Anda makan atau tidak itu hukumnya mubah atau
malah halal!”
“Kalau Anda makan daging babi, makan uang orang lain, makan waktu kerja di kantor untuk
main games, makan pulsa kantor untuk kepentingan sendiri…, itu hukumnya haram!”
“Kalau Anda makan uang proyek, makan uang masyarakat, makan uang pajak, makan harta
anak yatim … itu hukumnya haram juancukkkk!”

Hehehehe, luar biasa budaya “ndak tentu” ini.

Sekaipun kita terpingkal-pingkal, sebenarnya kisah di atas justru merupakan cermin kearifan
lokal dari orang Madura yang mengerti esensi bahwa realitas itu sangat subjektif. Jadi
nampaknya orang Madura mustinya lebih mudah belajar NLP, karena budaya itu cocok benar
dengan keyakinan “The Map Is Not The Territory” yang dianut para NLP-er. Atau sebenarnya
orang Madura sudah sangat nge-NLP banget.

Merujuk pada fenomema “Ndak Tentu”, saya pernah menemui seorang teman dari demikian sulit
membedakan: mana yang ‘pasti’ dan mana yang ‘khayalan’. Misalkan ia tidak bisa membedakan
sesuatu yang dipikirannya itu hanya khayalan belaka, atau sebenarnya kenyataan. Pakah tadi
benar-benar melihat macan terbang, atau itu cuman khayalannya saja.

Ia minta dibantu untuk lebih mudah membedakan ke dua hal itu, karena ia hampir masuk dalam
gejala ‘waham kebesaran’ (Grandeur Delusion).

Dengan cepat saya teringat kisah dari Dr Bandler, dan saya ikuti langkah-langkahnya.

Saya ajak si Klien meng-elicit 2 kondisi submodality (contrastive analysis) dari apa yang sangat
dia yakin benar, dan sesuatu yang berupa khayalan.

Setelah mengambil sampai 3 pasang sample contrastive analysis, saya temukan perbedaannya
terletak di submodality visual. Hal yang ‘yakin’ memiliki gambar yang berbingkai dan isi
gambarnya tetap. Sedangkan hal yang ‘khayalan’ gambarnya berganti-ganti, berubah-ubah, tidak
berbingkai.

Nah, sudah jelas apa yang akan kita lakukan kemudian. Pada saat ia harus memperlakukan
sesuatu sebagai khayalan, maka ia harus menyimpan memorynya dalam submodality yang
sesuai. Selesai!

Jadi demikian banyak yang bisa kita lakukan dengan melakukan re-programming hal-hal dalam
budaya lokal yang mungkin tidak produktif.

Nah bagaimana dengan budaya lokal yang produktif dan amat bagus untuk disebarkan pada
masyarakat? Misal kisah-kisah kedaerahan yang sarat dengan petuah luhur, budaya tata krama
yang adiluhung, dan juga ajaran budi pekerti yang penting untuk kita dan anak cucu kita.

Salah satu cara adalah dengan mengembangkan teknik bercerita (metaforik) yang di-engineer
secara linguistic. Misal, gunakan embedded command untuk memasukkan nilai-nilai luhur itu
saat menceritakan pada anak didik, gunakan intonasi dan analog marking untuk mengasosiasikan
hal tertentu, gunakan pola bahasa tertentu untuk membangun efek asosiasi dan diasasosiasi.

Bagi yang sudah lebih canggih, Anda dapat menyusun kisah-kisah ini dalam bentuk nested
metaphor bahkan sekaligus untuk meng-install suatu strategy tertentu menggunakan chaining
anchor dalam nested loops-nya. Nested loop bukan sekedar menyusun kisah, dan
mengurutkannya lho. Untuk mampu melakukannya, lebih mudahnya Anda meng-ikuti Licensed
Master Practitioner atau melihat video-video dari Dr. Bandler.

Kisah Baratayudha, 1001 Malam, adalah contoh yang luar biasa bagaimana suatu nilai-nilai di-
install kedalam pikiran pembacanya melalui nested loops. Beberapa film atau sinema elektronik
yang bersambung…, mungkin juga mengandung nested loops dan chaining anchor tanpa
disadari oleh produsernya. Masalahnya “apa yang diinstall di kepala pemirsa?”

Buku ‘The Adventures of Anybody’ karya Dr Richard Bandler adalah contoh luar biasa
bagaimana nested loop dibuat dan dipergunakan dalam kisah. Sangat bagus dibaca bagi yang
mampu berbahasa Inggris dengan baik, atau untuk dibacakan sebagai kisah pengantar tidur pada
anak yang mampu berbahasa Inggris. Sungguh suatu masterpiece yang luar biasa dari Dr Richard
Bandler!

Meng-NLP-kan Indonesia
Oh, rupanya kita ganti bab sekarang…! Berganti membahas frasa meng-NLP-kan Indonesia.
Well, dalam kalimat meng-NLP-kan Indonesia, ada presuposisi apa saja yah?

1. Indonesia itu eksis


2. NLP itu eksis
3. Sesuatu hal, bisa (dapat) di-NLP-kan.
4. Indonesia bisa (dapat) di NLP-kan.
5. Ketika di-NLP-kan, sesuatu itu (termasuk Indonesia) akan memiliki nilai (value) tertentu,
makanya kita ingin melakukannya, right?
6. “Meng-NLP-kan” adalah suatu proses tertentu (yang ingin kita ketahui maknanya).

BTW, frasa meng-NLP kan Indonesia juga memiliki dapat terkesan suatu ‘waham kebesaran’
(Grandeur Delusion), seolah Indonesia tidak cukup baik sehingga perlu di NLP-kan…

Bukan…, bukan demikian niatnya!


Well, jadi mungkin kita baiknya memilih makna lain. Bagaimana jika frasa meng-NLP-kan
Indonesia kita maknai sebagai membuat masyarakat Indonesia menjadi lebih menguasai NLP.
Ah, sepertinya makna ini lebih baik..!

Oke, frasa men-NLP-kan Indonesia kita pilih sebagai makna: “mensosialisasikan NLP pada
masyarakat Indonesia, sehinga mereka mampu menggunakannya dan memetik manfaat atasnya”.
Jadi apa yang bisa kita lakukan?

Oh… banyak sekali ya…

Anda bisa menulis di blog Anda berbagai artikel, tips, teknik mengenai NLP, yang isinya
memberdayakan pembacanya. Memberdayakan pembaca artinya, setelah membaca artikel Anda
mereka merasa lebih berdaya, lebih bersyukur, lebih positif, dan bukan sebaliknya.

Anda juga dapat menulis ebook, buku, membuat video gratis di Youtube dan lain-lain untuk
membuat NLP makin populer, makin mudah diakses oleh lebih banyak orang. Hmmm, saya
masih ingat ketika menulis blog NLP dan Hypnosis (yang artikelnya boleh dibaca gratis) untuk
pertama kali dalam bahasa Indonesia di tahun 2005. Saat itu begitu sulitnya mencari literatur
NLP dan Hypnosis berbahasa Indonesia yang gratis di Internet.. Sekarang… Luar biasa
banyaknya!

Semua kontributor di PortalNLP jelas-jelas memiliki misi men-NLP-kan Indonesia, terlihat dari
getolnya mereka berbagi ilmu secara gratis. Bayangkan berapa banyak uang, waktu dan energy
yang sudah mereka curahkan untuk mendapatkan kesempatan training (di dalam dan luar negeri),
mengunyah ilmu NLP itu hingga dapat lebih mudah dicerna, membawa dalam konteks lokal,
mempraktekkan di sana sini, kemudian menarik lesson learnt, sehingga akhirnya menjadi sebuah
artikel. Ebook-ebook gratis mengenai hypnosis dari Mas Yan Nurindra merupakan contoh yang
luar biasa dari kesediaan berbagi. Sungguh kita semua diberkati oleh Tuhan YME.

Anda dapat pula membuat mailing list, memanfaatkan facebook, sms, radio, dan sebagainya.
Upaya Mas Teddi membangun milist NLP sungguh luar biasa dan tak luput dari berbagai ujian
dan gangguan. Namun yang namanya misi harus jalan terus. Sungguh kita semua diberkati oleh
Tuhan YME.

Beberapa teman, meng-NLP-kan Indonesia dengan cara berbagi melalui sharing dan training
gratis atau berbiaya murah. Mas Krisnamurti mungkin yang paling banyak berbagi ilmu NLP
melalui training gratis. Selain itu, Kang Asep dan yang lainnya juga saya tahu banyak berbagi
dengan pelatihan NLP gratis semacam ini.

Beberapa dari Anda mungkin pernah mendengar adanya ‘Konspirasi SLB’? Yakni sebuah janji
dari alumni Pelatihan NLP Practitioner maupun Master Practitioner dari Sinergy Lintas Batas
untuk terlibat dalam Konspirasi Kebaikan. Dalam sehari minimal melakukan satu kebaikan pada
satu orang. Misal membantu orang keluar dari phobia, berhenti merokok, ataupun me-reframe
suatu peristiwa, sehingga orang itu merasa lebih baik kondisinya.

Atau mungkin hanya menceritakan suatu metafor yang dapat menggugah semangat lagi, atau
hanya satu senyuman tulus yang membuat orang merasa diterima dengan baik… Itu semua
adalah wujud dari meng-NLP-kan Indonesia.

Bukan cuma slogan


Jadi ternyata meng-Indonesia-kan NLP dan meng-NLP-kan Indonesia bukanlah suatu slogan
kosong. Mungkin ini adalah masih langkah awal yang kecil. Dengan bergabungnya Anda pada
barisan ini, berapa banyak perubahan positif di Indonesia akan terjadi.

Mewujudkan mimpi besar, harus dimulai dari memulai langkah-langkah itu, sekalipun masih
langkah kecil. Melalui artikel ini saya berterima kasih pada Anda semua yang senantiasa berbagi
untuk membuat Indonesia selalu menjadi yang terbaik dan bertambah baik!

Karena kita semua tahu, Anda juga bisa!

Untuk info lebih lengkap tentang NLP klik : www.belajarNLP.com