P. 1
Ambiguity

Ambiguity

|Views: 29|Likes:
Dipublikasikan oleh belajarNLP

More info:

Published by: belajarNLP on Mar 02, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/02/2011

pdf

text

original

Ambiguity, anchor, & future pacing = kombinasi mematikan

Dalam training atau seminar, saya biasanya mengatakan bahwa NLP memang merupakan ilmu yang lain dibandingkan ilmu yang mempelajari jiwa, ilmu bahasa ataupun ilmu programming pikiran. Lucunya trainee atau peserta seminar saya juga suka mengatakan bahwa “…ikutin seminar/training NLP dari Pak Ronny, lain lho rasanya, pendekatannya lain dan berbeda dengan trainer NLP yang pernah diikuti sebelumnya” . Sekarang, di sini kita akan kita kupas bagaimana NLP melihat secara lain suatu yang dianggap biasa oleh orang pada umumnya. Mari kita mulai dari sebuah cerita : Seorang Guru SD terperanjat saat pelajaran di kelas muridnya menjawab dengan jawaban yang sangat aneh. Hari itu Bu Guru sedang menjelaskan mengenai jenis-jenis makanan di dunia ini. Untuk membuat kelas menjadi seru guru kemudian menanyakan pada murid-muridnya, apa makanan favorit mereka, juga makanan foavorit dari orang tua mereka. Saat tiba giliran si Badu, ia menjawab “Saya sebenarnya suka es krim Bu Guru, karena maemnya bisa dijilat-jilat, kan enak….” Bu Guru menjawab “Oh gitu, terus apa makanan yang digemari oleh orang tuamu?” Tanpa berpikir panjang di Badu menjawab “Itulah Bu Guru, saya jadi mikir-mikir juga, untuk menyukai ‘maem lampu’ karena orang tua saya suka maem dan menjilatin lampu“. Keruan Bu Guru bingung dengan jawaban itu. Lantas Bu Guru mengejar jawaban si Badu yang nampaknya nggak masuk akal itu “Dari mana kamu tahu orang tuamu suka makan dan njilatin lampu…, emang pernah melihat sendiri?” Si Budi menjawab dengan ngotot, “Belum pernah lihat sendiri sih Bu Guru…, namun sering kali di malam hari Budi mendengar Mama atau Papa bilang gini ‘Sayang…, cepetan lampunya dimatiin, ntar kujilatin deh kan enak banget…’ “ Wow…, jangan horor! Jangan marah ke saya kok nulis kisah itu… Mungkin aja lho, orang tua si Badu memang keturunan pemain jathilan, yang suka makan lampu…. Nah, saya kan sudah bilang, ini bakal lain. Hehehehe! Well, kenapa Anda bisa ketawa saat mendengar kisah itu? Kenapa fantasi menjadi liar saat mendengar atau membaca lelucon itu? Inilah yang akan kita bahas secara NLP… Itulah yang para ahli ilmu bahasa katakan sebagai makna konotatif. Suatu gejala bahasa yang menunjukkan bahwa manusia akan cenderung mencari suatu makna lain yang relevan baginya selain makna gramatikalnya. Aduh, kayak kok jadi seperti pelajaran bahasa tata bahasa Indonesia nih… Nah, ahli bahasa di sana boleh saja yang menemukan gejala bahasa itu, kemudian menyebutnya dengan istilah makna konotatif. Nah, di sinilah, ada ahli ilmu lain, yang jenius, yang mengubah pengetahuan ini menjadi suatu ilmu yang aplicable. Ilmu ini disebut sebagai ilmu ericksonian, atau di NLP dikenal sebagai Milton Model.

Melalui belajar secara ekstensif dan pengamatan yang luar biasa kepada pakar hypnotism bernama Milton H. Erickson, Richard Bandler dan John Grinder mendapati pemahaman bahwa jika suatu kalimat dibuat menjadi sedemikian general, istilahnya cukup vague. Dilakukan dengan cara melakukan proses yang disebut chunk up, maka kalimat itu akan memiliki makna hypnotic. Kalimat semacam itu akan bisa relate dengan siapapun yang mendengarnya. Setiap orang akan mencari dan mendapatkan sekeping makna yang sesuai dengan dirinya, dan pasti akan selalu sesuai karena level bahasanya sangat vague. (BTW, jika ada yang sedikit bingung dengan penjelasan di atas, gak papa. Welcome-lah pada kebingungan… Karena kebingungan menandakan suatu situasi dimana seseorang ingin memahami suatu ilmu, namun resources belum mencukupi. Jadi ayo cari tambahan resources di pelatihan yang baik, agar menjadi mencukupi.) Kembali pada kisah lucu di atas, gejala hypnotic muncul dalam dua level, level pertama adalah pada si Anak, level ke dua pada pembaca cerita ini. Luar biasa bukan…, kelihatannya cuman sebuah cerita namun punya kekuatan hypnotic. Perhatikan bahwa baik si Anak maupun Anda sendiri mengambil makna yang berbeda atas makna kata‘Sayang…, cepetan lampunya dimatiin, ntar kujilatin deh kan enak banget…’ Makna apapun yang diambil, akan selalu relate dengan latar belakang, pemahaman, dan abstraksi dari pendengarnya. Dalam NLP, gejala di atas disebut sebagai syntactic ambiguity, apa artinya? Artinya adalah susunan syntax kalimat itu sangat ambigu, tidak jelas katakujilatin itu mengacu pada objek yang mana dalam kalimat itu. Sehingga pendengar akan mencari sendiri korelasi kalimat itu berdasarkan pemahaman yang paling masuk diakalnya masing-masing. Syntactic ambiguity ini muncul sebagai akibat dari proses deletion, di mana kata kujilatin dihilangkan objeknya sehingga pikiran akan melengkapinya sendiri. Inilah keajaiban proses pikiran manusia, atau di sisi lain juga bisa dilihat juga ke rentanan pikiran manusia. Tergantung dari mana kita melihatnya dulu. Akan menjadi rentan jika proses diatas dilakukan dengan sengaja dengan suatu kalimat yang well crafted, seperti yang dilakukan para penipu yang melalui SMS. Nah, ini kapan-kapan saya akan bahas di tulisan lain. Efek Buruk Mari kita menyelam lebih dalam lagi ke arah yang lebih riil, supaya lantas membumi dengan kehidupan sehari-hari. Berikut akan saya kisahkan lagi omongan Bu Guru di suatu sekolahan, namun ini kisah nyata dari keluarga sahabat saya. Suatu hari, sahabat saya dipanggil oleh Bu Guru ke sekolah anaknya yang masih kelas 4 SD, diminta untuk mendiskusikan sesuatu. Setelah bertemu, Bu Guru menyatakan bahwa si Putri (nama samaran), kok selalu maunya duduk di bangku belakang di kelas, tidak mau dan bahkan menangis keras jika disuruh duduk di depan kelas. Saat di selidiki lebih jauh oleh Bu Guru, si Putri menjawab bahwa ayahnya yang melarang hal itu. Tentunya Bu Guru bingung dan ingin tahu kenapa Bapaknya melarang anaknya duduk di bangku depan kelas.

Ayah dan Ibu si Putri bingung, dan nggak habis pikir, karena mereka merasa tidak pernah melarang anaknya duduk di bangku depan. Mereka akhirnya sepakat, agar secara pelan-pelan orangtua itu mencari tahu penyebabnya apa. Setelah beberapa hari berlalu, mereka belum juga berhasil mendapat jawaban dari anaknya soal itu. Anaknya tidak mau menjawab dan marah marah atau nangis dan berlari jika ditanya hal itu. Aduh pusing benar si Bapak Ibu ini. Suatu hari minggu, si Bapak dan Ibu sedang menonton TV di rumah bersama adiknya si Putri yang masih kelas 2 SD, anggap saja namanya Dinda (samaran), sedangkan si Putri sedang bermain di tetangga sebelah. Sebagaimana anak kecil lainnya, saat nonton TV acara anak yang menarik perhatiannya, maka ia maju ke depan dan menonton TV dengan sangat dekat. Keruan saja si Bapak dan Ibu tanpa dikomando berteriak keras “Dinda!!! Jangan duduk di depan terlalu dekat!!! Duduk terlalu depan da terlalu dekat itu nggak baik!!! Mau dicubit!!!?”. Jegreng! “Heii, kamu ketahuan…., kok marah lagi… dengan anaknya…” Inilah rupanya penyebab perilaku si Putri di kelas. Saat orang tua itu berteriak, detik itu pula sontak mereka tersadar bahwa kalimat yang sama itulah yang dipahami si Putri di kelas sehingga ia tidak mau duduk di kursi depan kelas, karena akan terlalu dekat! Tertegunlah ke dua orang itu, dan langsung menelepon saya, menceritakan dan bertanya bagaimana cara menyelesaikan hal ini… Ya ampuuuuun… Sekali lagi, rupanya si Putri memahami kalimat orang tuanya secara salah, karena adanya sintactic ambiguity dalam kalimat itu. Kalimat orang tuanya telah men-delete objek larangan itu. Orang tuanya mengasumsikan bahwa seharusnya si Putri tahu bahwa larangan itu maksudnya adalah jangan terlalu dekat dengan TV. “Kan larangan itu konteksnya sedang menonton TV…“, kilah orang tuanya. Kring…, kring…, halo Bapak Ibu…. Hallllooooooooo?, HIndari mengasumsikan anak seharusnya SUDAH TAHU maksud kita. Hindari mengasumsikan anak bisa memahami konteks kalimat yang kita katakan. Kitalah yang seharusnya SUDAH TAHU bahwa mereka masih anakanak, mereka masih belajar memahami bahasa. Bahkan ilmu mengenali asumsi adalah soal belajar seumur hidup, lha buktinya sampai sekarang saja orang nggak sadar atas asumsi apa yang diambil orang lain atau dirinya sendiri kok. Sesungguhnya ini bukan hanya gejala syntactic ambiguity saja, ini juga menjelaskan bagaimana anchor bekerja. Karena si ortu selalu mengucapkan kalimat itu dengan nada marah, ini menimbulkan rasa takut si Anak. Kita sudah tahu bahwa rasa takut dan sejenisnya, jika berada dalam kondisi peak, dan pada saat yang sama ada stimulus yang datang dan terfokus padanya maka stimulus itu akan menjadi anchor atas rasa takut itu. Apalagi hal ini diulang oleh orang tuanya berkali-kali, maka bisa dibayangkan seberapa kuat kata-kata menancap di kepala si Anak. Berapa lama anchor merusak ini akan bertahan di kepala si anak? Jika belum memahami anchor, silahkan membaca artikel ini dan artikel ini. Anchor bisa terjadi karena pengulangan atau karena situasi yang peak emotion. Nah, bisa dibayangkan siatuasi si Putri ini, sudah berada di kondisi

peak emotion, bahkan kejadiannya berulang-ulang, maka bisa dibayangkan seberapa kuat anchor itu… Anyway…., beberapa tahun yang lalu saya pernah juga menangani suatu klien yang kata-kata sahabatnya menjadi anchor dan baru terpicu saat ia sudah dewasa (set anchor by futured pacing). Inti ceritanya adalah ada seorang bapak mengajak istrinya ke saya, seorang wanita ayu yang punya masalah besar, suka mengumpat secara tak terkontrol dan berteriak-teriak keras jika marah. Wanita ini rupanya dulu sat muda sangat benci pada ibunya yang sangat galak bukan main. Marah-marah, mencerca, mengumpat dan memukul adalah hal yang tiap hari dilakukan ibunya, sampai-sampai ayahnya pernah mengajak minggat si Anak karena takut ama ibunya itu. Anehnya, peristiwa ini seolah tidak berdampak buruk apapun saat masih remaja, namun begitu ia menikah, tiba-tiba saja ia memiliki perilaku seperti ibunya, perilaku galak dan suka mengumpat secara tak terkontrol jika ia sedang marah… persis seperti ibunya dulu. Klien perempuan ini adalah sehari-hari seorang yang halus budi bahasa, ayu dan cenderung pendiam. Saat remaja ia punya sahabat perempuan tempatnya curhat. Suatu hari saat ia tidak tahan dengan perilaku ibunya, ia curhat menangis penuh benci di depan temannya itu. Seraya menasehati, teman itu berkata “Hati-hati lho, kalau kamu terlalu benci pada ibumu, ntar kalau kamu udah menikah malah jadi seperti ibumu! Kan gawat….” Jegreng! “Heiii, kamu ketahuan…., masang future pacing… dengan temannya…” Aduh, kawan kita ini tidak tahu bahwa ia sedang mengeset suatu anchor dengan cara future pacing. Yakni membawa seseorang berimajinasi ke depan, seraya menunjukkan apa yang akan terjadi nanti saat ada situasi spesifik (menikah) di masa yang akan datang. Perkataan temannya ini dilakukan tepat saat ia sedang hopeless, sedang marah dan benci sekaligus (peak), sehingga menjadi anchor, yang akan terpicu di masa depan. Kenapa di masa depan, karena di set demikian oleh temannya “Nanti kalau kamu menikah….“. Saat itu kata-kata temannya masih tidak relate dengan situasinya (ia belum menikah), maka kalimat itu ditelan saja sebagai ambiguity di kepalanya. Namun ambiguitu ini memiliki sifat anchor. Hebatnya lagi yang mengeset anchor adalah sahabatnya, figur yang ia percaya, yang katakatanya sangat ia dengarkan, sekaligus tempatnya bercurhat. Maka bisa dibayangkan kekuatan hypnotic dari anchor ini. Anchor yang dilakukan oleh orang yang lebih kuat, diperacaya dan disukai, akan memiliki kekuatan yang amat kuat. Perempuan ini saat remaja dan dewasa hampir tidak pernah marah, bahkan manis budi bahasanya. Baru setelah ia menikah, tiba-tiba perangainya berubah. Menjadi pemarah luar biasa suka berteriak keras-keras jka mengumpat, sampai-sampai suami bahkan tetangganya saja kebingungan. Luar biasanya, hal ini adalah di luar kontrol si wanita ini. Bahkan saat mau terapi ia sempat mengatakan “Mas, jika setelah saya menceritakan kisah saya ini cuma kemudian dinasehatin oleh Anda, mendingan saya pulang dari sekarang. Saya tidak butuh nasehat moral apapun, saya sudah tahu kalau mengumpat itu berdosa. Ini terjadi semua di luar kontrol saya, rasanya saya seperti kemasukan gitu, saya juga sudah ke dukun dan paranormal, tapi nggak ada

hasilnya. Jadi yang saya butuhkan bukan nasehat dari Anda, tapi terapi yang membuat saya berubah.” Well, itulah suatu contoh anchor yang luar biasa, yang diset secara tepat waktu dan unik oleh teman curhatnya. Sayang sekali, sebagaimana semua stimulus phobia/trauma yang lainnya. Anchor hebat ini bekerja untuk tujuan yang negatif dan merusak. Bayangkan jika orang bisa membuat anchor sedahsyat ini untuk tujuan baik dan bermanfaat. Singkat cerita, maka terapi dilakukan untuk menghancurkan, meng-collaps anchor ini sehingga tidak memiki kekuatan yang akan mengambil alih kesadaran normatif wanita ini lagi. Alhamdulillah, masalah bisa diselesaikan dengan baik. Sementara kita simpulkan dulu kisah-kisah di atas:

Ambiguity, termasuk di dalamnya syntactic ambiguity memiliki kekuatan hypnotic karena efek multi interpretation dan akan selalu cocok pada pendengarnya. Ini akan menjadi sangat merusak sekali apabila efek interpretasinya negatif, disempowering, bahkan menganjurkan perbuatan keliru / bodoh / destruktif. Jika terjadi pada anak yang masih naif, maka anak akan memilih makna yang paling relate baginya, atau akan menelan begitu saja kalimat ini secara ambigu, sampai ia menemukan makna di suatu hari nanti. Anchor memiliki kekuatan pemicu yang luar biasa, terutama apabila di set dengan timing yang tepat (peak emotion), dengan stimulus unik. Keukuatan ini akan berlipat ganda jika di lakukan perulangan (compounding). Sehingga jika anchor ini dipicu, maka seseorang akan langsung terbawa di luar kontrol. Apalagi jika yang mengeset anchor adalah figur dominan, terpercaya, disukai…. wah akan lebih kuat efeknya. Future pacing adalah suatu kekuatan permograman pikiran untuk tujuan jangka panjang, di mana suatu perilaku akan bisa dibangkitkan di masa yang akan datang. Kenapa bisa terjadi, karena melalui future pacing seseorang akan menciptakan jejak dalam sirkuit neurologis di otaknya. Jejak dalam sirkuit neurologis ini berbentuk sama dengan jejak riil yang terjadi akibat proses pengalaman. Otak tidak membedakan antara pengalaman riil dan visualisasi (termasuk future pacing), jejak yang ditinggalkan di dalam sirkuit otak akan melalui jalur yang sama.

Nah, bagaimana jika ketiga hal itu digabungkan? Jika dilakukan dengan sengaja akan sungguhsungguh merupakan hasil kerja yang jenius! Ilmu yang amat berbahaya, namun perlu diketahui karena akan sangat berguna bagi terapi juga. Bagaimana bisa melakukan terapi apabila struktur berhaviornya saja kok tidak tahu? Oke, saya tidak ingin menimbulkan ide untuk melakukan hal itu, saya hanya ingin mengajak Anda merenungkan berbagai kejadian di rumah, di kehidupan, di sekolah, di perkerjaan. Apakah mungkin pernah terjadi pada kita, terutama anak-anak kita, bahwa secara tidak sadar kita sudah melakukan ketiga hal itu di atas? Astaghfirulloh!

Sebagai penutup, saya ingin Anda menilai sendiri suatu fenomena ini, dengan menggunakan ilmu di atas yang baru saja kita bahas. Fenomena ini adalah suatu iklan yang sempat ngetop sekali dan sampai saat ini masih dipakai. Salah satu deterjen kawakan, yang dulu dipakai keluarga saya juga memiliki suatu jingle iklan yang berbunyi “Berani kotor itu baik…!” Iklan ini terus menerus diputar di mana-mana, di televisi, di radio, tertempel di poster, baliho, maupun neon sign besar sepanjang jalan. Bahkan rasanya masih kurang, dibuatkan pula aktivitas below the line berbentuk experiential game di berbagai kota. Menggunakan seorang tokoh iklan yang akrab dengan dunia anak, makin dahsyat kekuatan iklan ini. Nah, pembaca yang budiman, silahkan Anda tinjau iklan itu dengan ke tiga point yang suah saya paparkan di atas, apakah terpenuhi? Apa kira-kira efeknya nanti? Mari kita amati anak-anak yang saat iklan ini diputar mereka masih seusia SD. Entah, bagaimana setelah dewasa nanti anak seangkatan ini (cohort) akan berprilaku? Bagaimana saat nanti mereka menjadi orang tua, pemimpin, presiden, DPR, pebisnis atau karyawan. Apakah makna yang akan paling relate atas kata-kata ini nantinya? OK, mari kita pilih tontonan bagi anak kita, permainan bagi anak kita. Mereka masih naif, mereka belum bisa kontekstual. Deletion hanya akan membingungkan mereka. Akibatnya…? Anda bisa menilai sendiri…. Filed Under: Education, Family and Parenting, Hypnosis/therapy
Untuk info lebih lengkap tentang NLP klik : www.belajarNLP.com

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->