Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Komunikasi ada di mana-mana: di rumah, ketika anggota-anggota keluarga
berbincang-bincang di meja makan; di kampus, ketika mahasiswa-mahasiswa
mendiskusikan mata kuliah; di kantor, ketika kepala seksi membagi tugas; di masjid,
ketika mubaligh berkhotbah; dan juga di DPR, ketika wakil-wakil rakyat memutuskan
nasib bangsa. Komunikasi menyentuh segala aspek kehidupan kita. Sebuah penelitian
mengungkapkan bahwa 70% waktu bangun kita digunakan untuk berkomunikasi.
Komunikasi menentukan kualitas hidup kita.
Dengan komunikasi kita membentuk saling pengertian menumbuhkan
persahabatan, memelihara kasih sayang, menyebarkan pengetahuan, dan melestarikan
peradaban. Tetapi dengan komunikasi kita juga menyuburkan perpecahan, menghidupkan
permusuhan, menanamkan kebencian, merintangi kemajuan, dan menghambat pemikiran.
Dengan komunikasi ini pula, kemudian kita membangun hubungan interpersonal
(antarpribadi) dengan orang lain.
Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Setiap
kali kita melakukan komunikasi, kita bukan hanya sekedar menyampaikan isi pesan; kita
juga menentukan kadar hubungan interpersonal. Dari segi psikologi komunikasi, kita
dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk
mengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya sehingga makin efektif komunikasi
itu berlangsung.

B. Rumusan Masalah
Makalah ini akan memaparkan hal-hal yang akan mampu menjawab pertanyaan-
pertanyaan berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan Hubungan Interpersonal?
2. Apa sajakah faktor yang terkandung dalam Hubungan Interpersonal?
3. Apa sajakah macam-macam teori Hubungan Interpersonal?
4. Bagaimanakah tahapan dalam hubungan interpersonal?
5. Apa sajakah faktor-faktor yang mampu menumbuhkan Hubungan Interpersonal
dalam Komunikasi Interpersonal?

Hubungan Interpersonal Page 1


C. Tujuan
Penulis memiliki beberapa tujuan dalam pembuatan makalah ini, yaitu :
1. Menjelaskan pengertian Hubungan Interpersonal
2. Menguraikan faktor yang terkandung dalam hubungan interpersonal
3. Menjabarkan teori tentang Hubungan Interpersonal
4. Menjelaskan tahapan dalam Hubungan Interpersonal
5. Menjelaskan faktor-faktor yang mampu menumbuhkan Hubungan
Interpersonal dalam Komunikasi Interpersonal

D. Manfaat Penulisan
Manfaat dari karya tulis ini adalah memberikan pengetahuan yang lebih kepada
para pembaca agar dapat memahami hal-hal yang menyangkut hubungan interpersonal
secara lebih mendalam. Hubungan Interpersonal sebagai bagian utama dari kehidupan
perlu dipahami sehingga kita mampu menentukan sikap/langkah yang tepat dalam
menghadapi setiap situasi dan kondisi.

Hubungan Interpersonal Page 2


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Hubungan Interpersonal


Hubungan interpersonal adalah hubungan antara dua orang atau lebih, mulai dari
tingkat hubungan yang sekilas sampai abadi. Asosiasi ini mungkin didasarkan pada cinta
dan suka, interaksi bisnis biasa, atau beberapa jenis dari komitmen sosial lain. Hubungan
interpersonal berlangsung dalam berbagai macam konteks, seperti keluarga, teman,
pernikahan, rekan, kerja, klub, lingkungan tetangga, dan tempat ibadah. Hubungan
tersebut mungkin diatur oleh undang-undang, adat, atau kesepakatan bersama, dan
merupakan dasar dari kelompok-kelompok sosial dan masyarakat secara keseluruhan.
Walaupun manusia pada dasarnya makhluk sosial, hubungan interpersonal tidak selalu
sehat. Contoh hubungan yang tidak sehat termasuk hubungan yang kasar dan otoriter.
Suatu hubungan biasanya dilihat sebagai hubungan antara dua individu, seperti
hubungan romantis atau intim, atau hubungan orangtua-anak. Individu dapat juga
memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok orang, seperti hubungan antara seorang
ulama dan jemaahnya, paman dan keluarga, atau walikota dan kota. Akhirnya, kelompok
atau bahkan negara-negara mungkin memiliki hubungan satu sama lain, meskipun
domain ini jauh lebih luas daripada yang tercakup dalam topik hubungan interpersonal.
Kebanyakan orang dalam menelaah hubungan berfokus pada hubungan intim. Namun
hubungan intim, hanya sebagian kecil dari topik hubungan interpersonal. Hubungan
interpersonal juga dapat mencakup persahabatan.
Hubungan ini biasanya melibatkan beberapa tingkat saling ketergantungan. Orang-
orang dalam suatu hubungan cenderung mempengaruhi satu sama lain, berbagi pikiran
dan perasaan mereka, dan terlibat dalam kegiatan bersama. Karena saling ketergantungan
ini, hal yang paling membawa perubahan atau dampak pada satu anggota dalam suatu
hubungan pada tingkat tertentu akan berdampak pada anggota lain. Studi tentang
hubungan interpersonal melibatkan beberapa cabang ilmu-ilmu sosial, termasuk disiplin
ilmu seperti sosiologi, psikologi, dan antropologi.
Hubungan interpersonal terbentuk ketika proses pengolahan pesan, (baik verbal
maupun nonverbal) secara timbal-balik terjadi dan hal ini dinamakan komunikasi
interpersonal. Ketika hubungan interpersonal interpersonal tumbuh, terjadi pula
kesepakatan tentang aturan berkomunikasi antara para partisipan yang terlibat.

Hubungan Interpersonal Page 3


B. Faktor-Faktor dalam Hubungan Interpersonal
1. Jumlah individu yang terlibat yaitu hubungan diad dan hubungan triad.
Hubungan diad adalah hubungan antara dua individu. William Wimot
mengemukakan ciri-ciri hubungan interpersonal,antara lain adanya tujuan khusus,
adanya fungsi yang berbeda, memiliki pola komunikasi yang khas. Hubungan triad
adalah hubungan interpersonal antara tiga orang. Dibandingkan dengan hubungan
diad, hubungan ini lebih kompleks, tingkat keintiman rendah dan keputusan yang
diambil berdasarkan voting.
2. Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, adalah hubungan tugas (task
relationship) dan hubungan sosial (social relationship).
3. Berdasarkan jangka waktu: hubungan jangka pendek dan hubungan jangka
panjang.
4. Berdasarkan tingkat kedalaman/keintiman: hubungan akrab/intim.

Teori-teori Hubungan Interpersonal


Ada 4 model hubungan interpersonal yaitu meliputi :
1. Model pertukaran sosial (social exchange model)
Hubungan interpersonal diidentikkan dengan suatu transaksi dagang. Orang
berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya
dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya
(akibat negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya). Menurut Thibault dan
Kelley, dua tokoh utama dalam teori ini menyatakan bahwa ganjaran, biaya, laba,
dan tingkat perbandingan merupakan empat konsep pokok dalam teori ini. Tingkat
perbandingan menunjukkan ukuran baku (standar) yang dipakai sebagai kriteria
dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang.
2. Model peranan (role model)
Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap
orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan
akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role
expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan
terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas
dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan

Hubungan Interpersonal Page 4


sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah
kemampuan memainkan peranan tertentu.

3. Model permainan (games people play model)


Model ini berasal dari psikiater Eric Berne yang kemudian dikenal sebagai
analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-
individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan
ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
 Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan
perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
 Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah
informasi secara rasional, sesuai dengan situasi, dan biasanya berkenaan
dengan masalah-masalah penting yang memerlukan pengambilan keputusan
secara sadar)
 Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan
pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas,
kreativitas dan kesenangan).
Pada interaksi individu menggunakan salah satu kepribadian tersebut sedang
yang lain membalasnya dengan menampilkan salah satu dari kepribadian tersebut
juga. Sebagai contoh seorang suami yang sakit dan ingin minta perhatian pada istri
(kepribadian anak), kemudian istri menyadari rasa sakit suami dan merawatnya
(kepribadian orang tua).

4. Model Interaksional (interacsional model)


Model ini memandang hubungan interpersonal sebagi suatu sistem . Setiap
sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Hubungan interpersonal dapat
dipandang sebagai sistem dengan sifat-sifatnya. Untuk menganalisanya kita harus
melihat pada karakteristik individu yang terlibat, sifat-sifat kelompok, dan sifat-sifat
lingkungan. Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama, metode
komunikasi, ekspektasi dan pelaksanaan peranan, serta permainan yang dilakukan.
Secara singkat model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.

C. Tahapan dalam Hubungan Interpersonal

Hubungan Interpersonal Page 5


Stewart L. Tubbs & Sylvia Moss (1996) dalam bukunya 'Human Communication'
menuliskan analisis Knapp (1984) mengenai siklus hubungan interpersonal yang terdiri
dari 10 tahapan, 5 tahap pertama merupakan tahap menuju kebersamaan (coming
together) dan 5 tahap berikutnya menuju perpisahan (coming apart). Knapp menganggap
hubungan manusia bersifat sekuensial, suatu tahap mengikuti tahap selanjutnya dengan
sedikit kesempatan untuk melompat-lompat. Namun harus diingat bahwa perpindahan
tahap itu dapat maju atau mundur. Banyak hubungan berhenti pada suatu tahap tertentu
(misalnya tahap penjajagan, penggiatan, atau pengikatan), dan tidak berlangsung lebih
jauh lagi. Siklus hubungan menurut Knapp adalah :
1. Tahap Memulai (Initiating) merupakan usaha-usaha yang sangat awal yang kita
lakukan dalam percakapan dengan seseorang yang baru kita kenal. Tujuannya adalah
untuk mengadakan kontak dan menyatakan minat. Biasanya komunikasi dilakukan
dengan hati-hati dan konvensional.
Contoh:
"Hai, apa kabar?"
"Baik, bagaimana dengan Anda?"

2. Tahap Penjajagan (Experimenting) adalah fase di mana kita mencoba topik-


topik percakapan untuk mengenal satu sama lain. Biasanya kita banyak mengajukan
pertanyaan dan berbasa-basi. Tujuan komunkasi di sini adalah untuk mengetahui
kesamaan dan perbedaan di antara kedua belah pihak dengan cara-cara yang aman.
Hubungan akan lebih menyenangkan jika dalam tahap ini berhasil dibangun
kepentingan-kepentingan yang sama. Suka atau tidak suka, kebanyakan hubungan kita
mungkin tidak berlangsung lebih jauh dari tahap ini.
Contoh:
"Oh, jadi Anda senang main ski... Saya juga."
"Benarkah? Bagus. Di mana Anda biasanya main ski?"

3. Penggiatan (Intesifying) menandai awal keintiman, berbagi informasi pribadi,


dan awal informalitas yang lebih besar. Perubahan terjadi dalam perilaku komunkasi
verbal maupun nonverbal. Secara verbal, derajat keterbukaan dalam membuka diri
lebih besar, misalnya: "Kedua orang tuaku bercerai..." atau "Aku jatuh hati padamu...",
dsb. Perubahan komunikasi nonverbal menjadi lebih intim terlihat dari kedekatan fisik,
tangan yang berpegangan, kontak mata yang lebih sering , dsb.

Hubungan Interpersonal Page 6


Contoh:
"Aku...aku kira aku jatuh cinta padamu."
"Aku... aku juga."

4. Pengintegrasian (integrating) terjadi bila dua orang mulai menganggap diri


mereka sebagai pasangan. Keduanya secara aktif memupuk semua minat, sikap dan
kualitas yang tampaknya membuat mereka unik sebagai pasangan. Mereka mungkin
juga melakukan hal itu dengan cara simbolik misal bertukar cincin, menyebut suatu
lagu sebagai 'lagu kita', dst. Contoh percakapan:
"Aku merasa menjadi bagian dari dirimu..."
"Yah, kita seperti sudah bersatu. Apa yang terjadi padamu terjadi juga padaku.

5. Pengikatan (Bounding) adalah tahap yang lebih formal atau ritualistik, bisa
berbentuk pertunangan atau perkawinan, namun "berhubungan tetap" juga merupakan
suatu bentuk pengikatan. Pasangan tsb sepakat menerima seperangkat aturan atau
norma yang mengatur hubungan mereka, dan mereka kini lebih sulit untuk berpisah.
Contoh percakapan:
"Aku ingin selalu bersamamu.
"Mari kita menikah saja."

Hubungan manusia mungkin stabil dalam tahap-tahap perkembangan sebelum


pengikatan, namun hubungan yang mencapai fase paling akrab pun bisa juga merosot
lagi. Hanya saja pada fase paling akrab, perpisahan tidak terjadi begitu saja, melainkan
berproses, yang ditandai dengan semakin berkurangnya kontak dan keintiman. Lima
tahap berikutnya menggambarkan kemerosotan yang dapat terjadi dalam hubungan yang
telah mencapai tahap pengikatan.
1. Pembedaan (Differentiating) terjadi bila dua orang menetapkan bahwa mungkin
hubungan mereka terlalu membatasi. Sekarang mereka mulai memusatkan perhatian
pada perbedaan-perbedaan daripada kesamaan-kesamaan. Mereka ingin mengerjakan
urusan mereka sendiri-sendiri, dan mulai menekankan individualitas. Fase ini ditandai
dengan makin seringnya terjadi perselisihan di antara mereka.
Contoh:
"Aku tidak suka menghadiri keramaian-keramaian besar."
"Kadang-kadang aku tidak memahamimu. Ini satu perbedaan di antara kita."

Hubungan Interpersonal Page 7


2. Pembatasan (Circumscribing) adalah suatu tahap yang menunjukkan bahwa
pasangan mulai mengurangi frekuensi dan keintiman komunikasi mereka. Topik-topik
tertentu yang cenderung menimbulkan suasana panas berusaha dihindari. Sikap
mereka menjadi lebih formal seolah-olah mereka tidak mengenal satu sama lain secara
baik.
Contoh:
"Apakah tidak apa-apa kalau aku berjalan-jalan sekarang?"
"Aku tak peduli. Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan."

3. Stagnasi (Stagnating) menunjukkan kemerosotan hubungan yang semakin jauh


sehingga mereka mencoba untuk bertahan dengan alasan-alasan keagamaan atau
keuangan, atau demi kebaikan anak-anak, atau faktor lain yang tidak berhubungan
dengan daya tarik terhadap pasangannya. Komunikasi verbal dan nonverbal semakin
menyerupai komunikasi antara orang-orang asing. Hubungan itu sendiri tak pernah
dibicarakan lagi.
Contoh:
"Apa yang akan kita bicarakan?"
"OK. Aku tahu apa yang akan kau katakan, dan kau tahu apa yang akan
kukatakan."

4. Penghindaran (Avoiding) adalah suatu taktik untuk meminimalkan penderitaan atas


pengalaman hubungan yang merosot sama sekali. Perceraian fisik sering terjadi, atau
paling tidak walau pun mereka masih tinggal bersama/berdekatan mereka mampu
menjaga kontak yang minimum.
Contoh:
"Aku sangat sibuk, aku tidak tahu kapan aku bisa bertemu denganmu."
"Bila aku tak bisa menerimamu saat kau mencoba menghubungiku, harap maklum."

5. Pemutusan (Terminating) adalah tahap final dalam suatu hubungan. Menurut


Knapp, pemutusan hubungan bisa terjadi setelah suatu percakapan singkat maupun
setelah tumbuhnya keintiman sepanjang hidup. Umumnya, semakin lama dan semakin
penting hubungan itu, semakin menyakitkan perpisahan yang terjadi.

Hubungan Interpersonal Page 8


Contoh:
"Aku akan pergi...kau tak perlu mencoba menghubungiku lagi."
"Jangan khawatir...tidak akan pernah."

Menurut Jalaluddin Rakhmat (1998), penulis buku 'Psikologi Komunikasi',


hubungan interpersonal berlangsung melewati 3 tahap, yaitu: pembentukan hubungan,
peneguhan hubungan, dan pemutusan hubungan.
1. Pembentukan Hubungan Interpersonal
Tahap ini sering disebut sebagai tahap perkenalan. Perkenalan adalah proses
komunikasi di mana individu mengirimkan (secara sadar) atau menyampaikan
(kadang-kadang tidak sengaja) informasi tentang struktur dan isi kepribadiannya
kepada bakal sahabatnya, dengan menggunakan cara-cara yang agak berbeda pada
bermacam-macam tahap perkembangan persahabatan. Initial contact phase (fase
kontak awal) ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk "menangkap" informasi dari
reaksi kawannya. Masing-masing pihak berusaha menggali secepatnya identitas, sikap,
dan nilai pihak yang lain. Bila mereka merasa ada kesamaan, mulailah dilakukan
proses mengungkapkan diri. Bila mereka merasa berbeda, mereka akan berusaha
menyembunyikan dirinya, dan hubungan interpersonal mungkin diakhiri. Pada tahap
'saling menyelidik' ini, informasi yang dicari dan disampaikan umumnya berkisar
mengenai data demografis, seperti: usia, pekerjaan, tempat tinggal, keadaan keluarga,
dsb.
Dengan data demografis, orang berusaha membentuk kesan tentang diri orang
lain. Katakanlah, Anda lahir di Tapanuli dari keluarga Batak Karo. Saya segera
menangkap identitas, sikap, dan nilai-nilai yang Anda anut. Dari informasi itu, saya
bisa menduga Anda beragama Kristen. Informasi lebih lanjut tentang pendidikan dan
pekerjaan Anda akan mempengaruhi penilaian saya terhadap diri Anda.
Menurut Charles R. Burger (1973), informasi pada tahap perkenalan dapat
dikelompokkan menjadi 7 kategori, yaitu: (1) informasi demografis; (2) sikap dan
pendapat: tentang orang atau obyek; (3) rencana yang akan datang; (4) kepribadian,
misalnya: "Bagaimana Anda menghadapi kenaikan harga sekarang ini?"; (5) perilaku
pada masa lalu, misalnya: "Mengapa Anda sekolah di SMP Katholik?"; (6) orang lain,
misalnya:"Apakah Anda kenal dengan Suvlika?"; (7) hobi dan minat.
Informasi-informasi itu tidak selalu kita peroleh melalui komunikasi verbal. Kita
juga membentuk kesan dari petunjuk proksemik, kinesik, paralinguistik, dan

Hubungan Interpersonal Page 9


artifaktual. Cara Anda mempertahankan jarak, gerak tangan, lirikan mata Anda,
intonasi suara, dan pakaian yang Anda kenakan akan membentuk kesan pertama.
Kesan pertama ini amat menentukan apakah hubungan interpersonal harus diakhiri
atau diperteguh. Menurut William Brooks dan Phlip Emmert, kesan pertama sangat
menentukan, karena itu hal-hal yang pertama kelihatan (hal-hal yang menentukan
kesan pertama) menjadi sangat penting. Para ahli psikologi sosial menemukan bahwa
penampilan fisik, apa yang diucapkan pertama, apa yang dilakukan pertama mejadi
penentu yang penting terhadap pembentukan citra pertama seseorang.

2. Peneguhan Hubungan Interpersonal


Hubungan interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah. Ada 4 faktor
penting yang diperlukan untuk memelihara keseimbangan dan memperteguh hubungan
interpersonal, yaitu: keakraban, kontrol, respon yang tepat, dan nada emosional yang
tepat.
• Keakraban merupakan pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang. Hubungan
interpersonal akan terpelihara apabila kedua belah pihak sepakat tentang tingkat
keakraban yang diperlukan. Jika dua orang melakukan tingkat keakraban yang
berbeda, akan terjadi ketidak-serasian dan kejanggalan. Jika A menggunakan
teknik sosial seperti berdiri lebih dekat, melihat lebih sering, dan tersenyum lebih
banyak daripada B, maka B akan merasa A bersifat agresif dan terlalu akrab,
sedangkan A akan merasa B bersikap acuh tak acuh dan sombong.
• Kontrol. Ini adalah kesepakatan tentang siapa yang akan mengontrol siapa dan
bilamana. Jika dua orang mempunyai pendapat yang berbeda sebelum mengambil
kesimpulan, siapakah yang harus berbicara lebih banyak, siapakah yang
menentukan, siapakah yang dominan. Konflik terjadi umumnya bila masing-
masing pihak ingin berkuasa, atau tidak ada yang mau mengalah.
• Ketepatan respons. Artinya respons A harus diikuti oleh respons B yang sesuai.
Dalam percakapan misalnya, pertanyaan harus disambut dengan jawaban, lelucon
dengan tertawa, permintaan keterangan dengan penjelasan. Bayangkan apa
jadinya jika pertanyaan dibalas dengan pertanyaan, atau lelucon dibalas dengan
nasehat. Respons ini bukan saja berkenaan dengan pesan-pesan verbal, tetapi juga
pesan-pesan nonverbal. Jika pembicaraan saya yang serius dijawab dengan main-
main, ungkapan wajah yang bersungguh-sungguh diterima dengan air muka yang

Hubungan Interpersonal Page 10


menunjukkan sikap tidak percaya, hubungan interpersonal akan mengalami
keretakan. Ini berarti Anda memberikan respons yang tidak tepat.
Dalam konteks ini respon terbagi ke dalam dua kelompok: konfirmasi dan
diskonfirmasi. Respon yang termasuk konfirmasi dan diskonfirmasi dijelaskan di
bawah ini:
Konfirmasi
1. Pengakuan Langsung (direct acknowledgement): menerima pernyataan
dan merespon dengan segera; misalnya “Saya setuju. Anda benar”
2. Perasaan Positif (positive feeling): mengungkapkan perasaan yang
positif terhadap apa yang telah dikatakan
3. Respon meminta keterangan (clarifying response): meminta untuk
menerangkan isi pesan; misalnya “ceritakan lebih banyak tentang itu”.
4. Respon setuju (agreeing response): memperteguh apa yang telah
dikatakan
5. Respon suportif (supportive response): mengungkapkan pengertian dan
dukungan terhadap apa yang dinyatakan.
Diskonfirmasi
1. Respon sekilas (tangential response): memberikan respon terhadap
pernyataan, tetapi dengan segera mengalihkan pembicaraan
2. Respon Impersonal (impersonal response): memberikan komentar
dengan menggunakan kata ganti orang ketiga; misalnya “orang memang
sering marah diperlakukan seperti itu”
3. Respon kosong (impervious response): tidak menghiraukan sama
sekali; tidak memberikan sambutan verbal maupun nonverbal.
4. Respon yang tidak relevan (irrelevan response): seperti respon sekilas,
berusaha mengalihkan pembicaraan tanpa menghubungkan sama sekali
dengan pembicaraan.
5. Respon interupsi (interrupting response): memotong pembicaraan
sebelum selesai, dan mengambil alih pembicaraan.
6. Respon rancu (incoherent response): berbicara dengan kalimat yang
kacau, rancu, atau tidak lengkap.
7. Respon kontradiktif (incongruous response): menyampaikan pesan
verbal yang bertentangan dengan pesan nonverbal.

Hubungan Interpersonal Page 11


• Keserasian suasana emosional ketika berlangsungnya komunikasi adalah faktor
berikutnya yang diperlukan dalam memelihara hubungan interpersonal. Walaupun
mungkin saja terjadi dua orang berinteraksi dengan suasana emosional yang
berbeda, tetapi interaksi itu tidak akan stabil, besar kemungkinan salah satu pihak
mengakhiri interaksi atau mengubah suasana emosi. Bila saya turut sedih ketika
Anda mengungkapkan penderitaan Anda, saya menyamakan suasana emosional
saya dengan suasana emosional Anda. Anda akan menganggap saya "dingin" bila
saya menanggapi penderitaan Anda dengan perasaan yang netral.

3. Pemutusan Hubungan Interpersonal


Walaupun kita dapat menyimpulkan bahwa jika empat faktor di atas tidak ada,
hubungan interpersonal akan diakhiri, sesungguhnya penelitian tentang pemutusan
hubungan masih jarang sekali dilakukan. Namun demikian, kita dapat mengambil
analisis R.D. Nye (1973) dalam bukunya "Conflict among Humans". Nye
menyebutkan 5 sumber konflik, yaitu:
• Kompetisi. Salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan mengorbankan
orang lain, misalnya menunjukkan kelebihan dalam bidang tertentu dengan
merendahkan orang lain.
• Dominasi. Salah satu pihak berusaha mengendalikan pihak lain sehingga orang
itu merasakan hak-haknya dilanggar.
• Kegagalan. Masing-masing berusaha menyalahkan yang lain ketika tujuan
bersama tidak tercapai.
• Provokasi. Salah satu pihak terus-menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui
menyinggung perasaan yang lain.
• Perbedaan nilai. Kedua pihak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut.

D. Faktor-faktor yang Menumbuhkan Hubungan Interpersonal dalam Komunikasi


Interpersonal
Pola-pola komunikasi interpersonal mempunyai efek yang berlainan pada
hubungan interpersonal. Tidak benar anggapan orang bahwa semakin sering orang
melakukan komunikasi interpersonal dengan ornag lain, makin baik hubungan mereka.
Yang menjadi soal bukanlah berapa kali komunikasi dilakukan, tetapi bagaimana
komunikasi itu dilakukan. Berikut akan disebutkan tiga hal yang dapat menumbuhkan
hubungan interpersonal yang baik.

Hubungan Interpersonal Page 12


a. Percaya (trust)
Percaya merupakan faktor utama yang mempengaruhi komunikasi
interpersonal. Jika dalam hubungan interpersonal kita percaya bahwa seseorang tidak
akan mengkhianati atau merugikan kita, maka kita akan cenderung lebih membuka
diri kepada orang tersebut. Secara ilmiah, percaya didefinisikan sebagai
“mengandalkan perilaku orang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, yang
pencapaiannya tidak pasti dan dalam situasi yang penuh resiko” (Giffin, dalam
Rakhmat 1985). Definisi ini menyebutkan tiga unsur percaya: (1) ada situasi yang
menimbulkan resiko. Resiko itu dapat berupa kerugian. Bila tidak ada resiko, tidak
ada rasa percaya; (2) orang yang menaruh kepercayaan kepada orang lain berarti
menyadari bahwa akibat-akibatnya bergantung pada perilaku orang lain; (3) orang
yang yakin bahwa perilaku orang lain dapat berakibat baik baginya.
Percaya kepada orang lain membawa beberapa keuntungan, pertama,
“percaya” meningkatkan komunikasi interpersonal karena membuka saluran
komunikasi, memperjelas pengiriman dan penerimaan informasi, serta memperluas
peluang komunikan untuk mencapai maksudnya. Kedua, hilangnya kepercayaan pada
orang lain akan menghambat perkembangan hubungan interpersonal yang akrab.
Keakraban hanya terjadi bila kita semua bersedia untuk mengungkapkan perasaan dan
pikiran kita.
Sejauh mana kita percaya kepada orang lain dipengaruhi oleh faktor-faktor
personal dan situasional. Menurut Deutsch dalam Rakhmat 1985, orang yang harga
dirinya positif akan cenderung mempercayai orang lain, sebaliknya orang yang
mempunyai kepribadian otoriter cenderung sukar mempercayai orang lain. Di samping
faktor-faktor personal, ada tiga faktor lain yang berhubungan dengan sikap percaya:
1. Karakteristik dan maksud orang lain. Orang akan menaruh kepercayaan kepada
seorang yang dianggap memiliki kemampuan, keterampilan, atau pengalaman
dalam bidang tertentu. Pada akhirnya kita akan percaya kepada orang yang
mempunyai maksud yang sama dengan kita.
2. Hubungan kekuasaan. Percaya tumbuh apabila orang-orang mempunyai
kekuasaan terhadap orang lain. Bila kita tahu bahwa seseorang akan patuh dan
tunduk kepada kita, maka kita akan mempercayai orng tersebut.
3. Sifat dan kualitas komunikasi. Bila komunikasi bersifat terbuka, maksud dan
tujuan sudah jelas, maka akan tumbuh sikap percaya.

Hubungan Interpersonal Page 13


b. Sikap Suportif
Sikap suportif adalah sikap yang mengurangi sikap defensif dalam komunikasi.
Orang bersikap defensif bila ia tidak menerima, tidak jujur, dan tidak empatis.
Komunikasi defensif dapat terjadi karena faktor-faktor personal (ketakutan,
kecemasan, harga diri yang rendah, pengalaman defensif, dsb) atau faktor-faktor
situasional seperti perilaku komunikasi orang lain. Sudah jelas, dengan sikap defensif
komunikasi interpersonal akan gagal, karena orang defensif akan lebih banyak
melingdungi diri dari ancaman yang ditanggapinya dalam situasi komunikasi
ketimbang memahami pesan orang lain.
Jack R. Gibb menyebutkan secara singkat enam perilaku yang menimbulkan
iklim defensif dan suportif:

Perilaku defensif dan suportif dari Jack Gibb


Iklim Defensif Iklim Suportif
1. Evaluasi 1. Deskripsi
2. Kontrol 2. Orientasi Masalah
3. Strategi 3. Spontanitas
4. Netralitas 4. Empati
5. Superioritas 5. Persamaan
6. Kepastian 6. Provesionalisme

1) Evaluasi dan Deskripsi. Evaluasi artinya penilaian terhadap orang lain; memuji
atau mengecam. Dalam mengevaluasi kita mempersoalkan nilai dan motif orang
lain. Evaluasi biasanya menyebutkan kelemahan orang lain, mengungkapkan
betapa jelek perilakunya, meruntuhkan harga dirinya, yang kemudian bisa
melahirkan sikap defensif. Deskripsi artinya penyampaian perasaan dan persepsi
tanpa menilai. Deskripsi dapat terjadi juga ketika kita mengevaluasi gagasan
orang lain, tetapi orang “merasa” bahwa kita menghargai diri mereka (menerima
mereka sebagai individu yang patut dihargai).
2) Kontrol dan orientasi masalah. Perilaku kontrol artinya berusaha untuk
mengubah orang lain, mengendalikan perilakunya, mengubah sikap, pendapat,
dan tindakannya. Sebaliknya orientasi masalah adalah mengomunikasikan
keinginan untuk bekerja sama mencari pemecahan masalah.

Hubungan Interpersonal Page 14


3) Strategi dan Spontanitas. Strategi adalah penggunaan tipuan-tipuan atau
manipulasi untuk mempengaruhi orang lain. Spontanitas artinya sikap jujur dan
dianggap tidak menyelimuti motif yang terpendam.
4) Netralitas dan Empati. Netralitas berarti sikap impersonal—memperlakukan
orang lain tidak sebagai persona, melainkan sebagai objek. Bersikap netral bukan
berarti objektif, melainkan menunjukkan sikap tak acuh, tidak menghiraukan
perasaan dan pengalaman orang lain.
5) Superioritas dan Persamaan. Superioritas artinya sikap menunjukkan anda
lebih tinggi atau lebih baik dari orang lain karena status, kekuasaan, kemampuan
intelektual, kekayaan, atau kecantikan. Persamaan adalah sikap memperlakukan
orang lain secara horizontal dan demokratis. Dengan persamaan, status boleh jadi
beda, tetapi komunikasi tidak vertikal dan tidak menggurui.
6) Kepastian dan Provesionalisme. Orang yang memiliki sifat kepastian bersifat
dogmatis, ingin menang sendiri, dan melihat pendapatnya sebagai kebenaran
mutlak yang tidak dapat diganggu gugat. Provesionalisme sebaliknya, adalah
kesediaan untuk meninjau kembali pendapat kita, untuk mengakui bahwa
pendapat manusia adalah tempat kesalahan; karena itu wajar kalau suatu saat
pendapat dan keyakinannya bisa berubah.

c. Sikap Terbuka
Sikap terbuka (open-mindedness) amat besar pengaruhnya dalam
menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif. Sikap open minded terwujud
dalam menilai sesuatu secara objektif, berorientasi pada isi, mencari informasi dari
berbagai sumber, lebih bersifat provesional dan bersedia mengubah kepercayaannya.
Lawan dari sikap terbuka adalah dogmatisme (sikap tertutup). Bersama-sama dengan
sikap percaya dan sikap suportif, sikap terbuka mendorong timbulnya saling
pengertian, saling menghargai, dan paling penting saling mengembangkan kualitas
hubungan interpersonal.

Hubungan Interpersonal Page 15


BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
1. Hubungan interpersonal adalah hubungan antara dua orang atau lebih, mulai
dari tingkat hubungan yang sekilas sampai abadi. Hubungan interpersonal terbentuk
ketika proses pengolahan pesan, (baik verbal maupun nonverbal) secara timbal-balik
terjadi dan ketika hubungan interpersonal interpersonal tumbuh, terjadi pula
kesepakatan tentang aturan berkomunikasi antara para partisipan yang terlibat.
2. Faktor-faktor dalam hubungan interpersonal terdiri dari jumlah individu yang
terlibat, tujuan yang ingin dicapai, jangka waktu, serta tingkat kedalaman/keintiman.
3. Model hubungan interpersonal meliputi: Model pertukaran sosial (social
exchange model), Model peranan (role model), Model permainan (games people
play model), Model Interaksional (interacsional model)
4. Menurut Knapp, tahapan dalam hubungan interpersonal terdiri dari Tahap
Memulai (Initiating), Tahap Penjajagan (Experimenting), Penggiatan (Intesifying),
Pengintegrasian (integrating), Pengikatan (Bounding). Sedangkan Jalaluddin
Rakhmat hubungan interpersonal berlangsung melewati 3 tahap, yaitu: pembentukan
hubungan, peneguhan hubungan, dan pemutusan hubungan.
5. Hal yang dapat menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik diantaranya
Percaya (trust), Sikap Suportif, dan Sikap Terbuka (open-mindedness)

Hubungan Interpersonal Page 16


DAFTAR PUSTAKA

Rakhmat, Jalaluddin. 1985. Psikologi Komunikasi. Penerbit Remaja Karya: Bandung.


Sosiawan, Edwi Arief. 2005. Psikologi Sosial. Diakses pada tanggal 10 Mei 2010 dalam
www.edwias.com
Wiyadi Pur. 2009. Tahap-tahap dalam Hubungan Interpersonal. Diakses pada tanggal 10 Mei
2010 dalam http://www.yuhibu2.co.cc/2009/09/tahap-tahap-dalam-hubungan.html
_____, 2009. Interpersonal Relationship. Diakses pada tanggal 15 Mei 2010 dalam
http://en.wikipedia.org/wiki/Interpersonal_relationship

Hubungan Interpersonal Page 17