Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

Penyakit tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang masih


menjadi masalah kesehatan Masyarakat. Di Indonesia maupun diberbagai
belahan dunia, Penyakit tuberkulosis merupakan penyakit menular yang
kejadiannya paling tinggi dijumpai di India sebanyak 1.5 juta orang, urutan kedua
dijumpai di Cina yang mencapai 2 juta orang dan Indonesia menduduki urutan
ketiga dengan penderita 583.000 orang.
Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan bakteri
berbentuk batang (basil) yang dikenal dengan nama Mycobacterium tuberkulosis.
Penularan penyakit ini melalui perantaraan ludah atau dahak penderita yang
mengandung basil tuberkulosis paru. Pada waktu penderita batuk butir-butir air
ludah beterbangan diudara dan terhisap oleh orang yang sehat dan masuk
kedalam paru-parunya yang kemudian menyebabkan penyakit tuberkulosis paru.
Menurut WHO (1999), di Indonenia setiap tahun terjadi 583 kasus baru
dengan kematian 130 penderita dengan tuberkulosis positif pada dahaknya.
Sedangkan menurut hasil penelitian kusnindar 1990, jumlah kematian yang
disebabkan karena tuberkulosis diperkirakan 105,952 orang pertahun. Kejadian
kasus tuberkulosa paru yang tinggi ini paling banyak terjadi pada kelompok
masyarakat dengan sosio ekonomi lemah.
Terjadinya peningkatan kasus ini disebabkan dipengaruhi oleh daya
tahan tubuh, status gizi dan kebersihan diri individu dan kepadatan hunian
lingkungan tempat tinggal.
Pada tahun 1995 pemerintah telah memberikan anggaran obat bagi
penderita tuberkulosis secara gratis ditingkat Puskesmas, dengan sasaran utama
adalah penderita tuberkulosis dengan ekonomi lemah. Obat tuberkulosis harus
diminum oleh penderita secara rutin selama enam bulan berturut-turut tanpa
henti.
Untuk kedisiplinan pasien dalam menjalankan pengobatan juga perlu
diawasi oleh anggota keluarga terdekat yang tinggal serumah, yang setiap saat
dapat mengingatkan penderita untuk minum obat. Apabila pengobatan terputus
tidak sampai enam bulan, penderita sewaktu-waktu akan kambuh kembali

1
penyakitnya dan kuman tuberkulosis menjadi resisten sehingga membutuhkan
biaya besar untuk pengobatannya.
Penyakit tuberkulosis ini dijumpai disemua bagian penjuru dunia.
Dibeberapa negara telah terjadi penurunan angka kesakitan dan kematiannya,
Angka kematian berkisar dari kurang 5 - 100 kematian per 100.000 penduduk
pertahun. Angka kesakitan dan kematian meningkat menurut umur. Di Amerika
Serikat pada tahun 1974 dilaporkan angka insidensi sebesar 14,2 per 100.000
penduduk.
Di Sumatera Utara saat ini diperkiraka ada sekitar 1279 penderita dengan
BTA positif. Dari hasil evaluasi kegiatan Program Pemberantasan Tuberkulosa
paru, kota Medan tahun 1999/2000 ditemukan 359 orang penderita dengan
insiden penderita tuberkulosis paru 0,18 per 1000 jumlah penduduk. Dengan
catatan dari balai pengobatan penyakit paru-paru (BP4), di Medan dijumpai 545
kasus tuberkulosis pada setiap tahun.

2
BAB II
STATUS PENDERITA

A. IDENTITAS PENDERITA
Nama : Tn. NC
Umur : 30 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Pagelaran
Pekerjaan : Srabutan
Status Perkawinan : Menikah
Suku : Jawa
Tanggal periksa : 29 September 2010

B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama : Batuk darah
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke RSUD dengan keluhan batuk-batuk sejak 3 bulan
yang lalu dan disertai dengan darah warna merah hitam yang terjadi sejak
tiga hari yang lalu jumlah darah sedikit berupa bercak yang kaluar
bersama dengan dahak, batuk dirasakan sangat sering (ngekel). Pasien
juga mengeluh keringat dingin malam hari, dan dada terasa sakit dan
panas. Selain itu, dan badan terasa agak panas dan pusing, pasien
mengatakan adanya penurunan berat badan pada pasien. Pasien
mempunyai riwayat tinggal bersama orang yang sakit batuk sangat lama
dan pasien tidak mengetahiu sakit batuk apa.
3. Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien mengaku tidak pernah menderita sakit sebelumnya hanya
kadang terasa agak panas atau sumer-sumer, pasien tidak pernah
dirawat di rumah sakit sebelumnya.
4. Riwayat Penyakit Keluarga :
- Tidak terdapat anggota keluarga dengan riwayat penyakit yang sama
dengan pasien.
5. Riwayat Kebiasaan
- Riwayat minum alkohol (-)

3
- Riwayat minum jamu-jamuan (-)
- Merokok (+), sekarang (-)

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum
Tampak lemah, kesadaran compos mentis (GCS 456), status gizi
kesan cukup.
2. Tanda Vital
Tensi : 100/70 mmHg
Nadi : 88 x / menit
Pernafasan : 24 x /menit
Suhu : 37 oC
3. Kulit
Turgor baik, ikterik (-), sianosis (-), venektasi (-), petechie (-), spider
nevi (-).
4. Kepala
Bentuk mesocephal, luka (-), rambut tidak mudah dicabut, keriput (-),
atrofi m. temporalis (-), makula (-), papula (-), nodula (-), kelainan
mimic wajah / bells palsy (-).
5. Mata
Conjunctiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-).
6. Hidung
Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-).
7. Mulut
Bibir pucat (-), bibir cianosis (-), gusi berdarah (-).
8. Telinga
Nyeri tekan mastoid (-), sekret (-), pendengaran berkurang (-).
9. Tenggorokan
Tonsil membesar (-), pharing hiperemis (-). Sekret (+)
10. Leher
JVP tidak meningkat, trakea ditengah, pembesaran kelenjar tiroid (-),
pembesaran kelenjar limfe (-), lesi pada kulit (-)

4
11. Thoraks
Normochest, simetris, pernapasan thoracoabdominal, retraksi (-),
spider nevi (-), pulsasi infrasternalis (-), sela iga melebar (-).
Cor :
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis tak kuat angkat
Perkusi : batas kiri atas : SIC II Linea Para Sternalis Sinistra
batas kanan atas : SIC II Linea Para Sternalis Dextra
batas kiri bawah : SIC V 1 cm medial Linea Medio
Clavicularis Sinistra
batas kanan bawah: SIC IV Linea Para Sternalis Dextra
pinggang jantung : SIC III Linea Para Sternalis Sinistra
(batas jantung terkesan normal)
Auskultasi: Bunyi jantung I–II intensitas normal, regular, bising (-)
Pulmo :
Statis (depan dan belakang)
Inspeksi : pengembangan dada kanan sama dengan kiri
Palpasi : fremitus raba kiri sama dengan kanan
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : suara dasar vesikuler, suara tambahan
ronchi : - -
- -

Dinamis (depan dan belakang)


Inspeksi : pergerakan dada kanan sama dengan kiri
Palpasi : fremitus raba kiri sama dengan kanan
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : suara dasar vesikuler, suara tambahan (ronchi -/-)
12. Abdomen
Inspeksi : dinding perut lebih rendah dari dinding dada
Palpasi : soefle
Perkusi : timpani
Auskultasi : Bising usus (+) normal

5
13. Ektremitas
Palmar eritema (-/-)
akral dingin Oedem
- - - -
- - - -

14. Sistem genetalia: dalam batas normal.

D. DIFFERENTIAL DIAGNOSA
o Hemoptoe et causa TB Paru
o Pneumonia

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan darah lengkap (6 oktober 2010)
 Hb : 11,4
 Lekosit : 19.010
 LED : 95
 Trombosit : 638.000
 Diff.Count : - / - / 5/ 71 / 15 / 9
Kesan: Anemia Ringan, Lekositosis, LED meningkat, Trombositosis

6
Foto thorax 02 Oktober 2010

COR : Normal
Pulmo : Fibro infiltrat di supra dan para hiller sinistra
sinus prenico costalis dan hemi diafragma normal
Kesimpulan : KP aktif, moderat advanced

F. DIAGNOSIS
 Hemoptoe + suspect Koch Pulmonum

G. PENATALAKSANAAN
1. Non Medika mentosa
a. Edukasi tentang penyakitnya
b. Tirah baring
2. Medikamentosa
a. Infus RL 20 tpm
b. Inj. Cefotaxim 2x1gr IV
c. Inj. Asam Traneksamat 3x1amp IV
d. Inj. Ranitidine 2x1amp IV
e. PO Codein 2x1 tab

7
H. FOLLOW UP
Nama : Tn. NC
Diagnosis : Hemoptoe + suspect Koch Pulmonum

Tabel flowsheet penderita


Tgl Subyektif Obyektif Assesment Planning Therapy
30. Batuk darah >> T: 100/70 Hemoptoe Inf.RL 16 tpm
09. warna coklat, dada N:85 + Inj.Ceftriaxon 1x2 mg
10 panas, diare (+), RR:24 S.KP PO.As. Tranex 3x1
badan sumer. Auskultasi: tab
Ronkhi PO.Codein 3x 10 mg
- -
- -
- -
01. batuk darah, T: 110/80 Hemoptoe Sputum BTA SPS Inf.RL 20 tpm
10. keringat dingin, N: 86 + Inj.Ceftriaxon 1x2 mg
10 dada panas, perut RR: 24 S.KP PO.Tranex 3x1 tab
sakit. Kepala Auskultasi: PO.Codein 3x 10 mg
sedikit pusing Ronkhi RHZE
- -
- -
- -
02. batuk darah, T:110/70 Hemoptoe Inf.RL 20 tpm
10. keringat dingin, N:84 + Inj.Ceftriaxon 1x2 mg
10 dada panas, perut RR:24 KP PO.Tranex 3x1 tab
sakit. Kepala Auskultasi: PO.Codein 3x 10 mg
sedikit pusing Ronkhi RHZE
- -
- -
- -
03. batuk darah, T:110/70 Hemoptoe Inf.RL 20 tpm
10. keringat dingin, N:84 + Inj.Ceftriaxon 1x2 mg
10 dada panas, perut RR:24 KP PO.Tranex 3x1 tab
sakit. Kepala Auskultasi: PO.Codein 3x 10 mg
sedikit pusing Ronkhi RHZE
- -
- -
- -
04. batuk darah, T:130/80 Hemoptoe Inf.RL 16 tpm
10. keringat dingin, N:86 + Inj.Ceftriaxon 1x2 mg
10 dada panas, perut RR:24 KP PO.Tranex 3x1 tab
sakit. Kepala Auskultasi: PO.Codein 3x 10 mg
sedikit pusing Ronkhi Lodia 3x500
- - RHZE
- -
- -

8
05. batuk darah, T : 110/70 Hemoptoe Inf.RL 16 tpm
10. keringat dingin, N : 84 + Inj.Ceftriaxon 1x2 mg
10 dada panas, perut RR : 24 KP PO.Tranex 3x1 tab
sakit. Kepala Auskultasi: PO.Codein 3x 10 mg
sedikit pusing Ronkhi Lodia 3x500mg
- - RHZE
- -
- -
06. batuk darah, T: 110/70 Hemoptoe BTA (-) Inf.RL 16 tpm
10. keringat dingin, N: 64 + Inj.Ceftriaxon 1x2 mg
10 dada panas, perut RR:22 KP PO.Tranex 3x1 tab
sakit. Kepala Tm: 38,7 PO.Codein 3x 10 mg
sedikit pusing, Auskultasi: Sanmol 4x1
badan panas Ronkhi Lodia 3x500mg
- - RHZE
- -
- -
07. batuk darah, T: 110/60 Hemoptoe Inf.RL 16 tpm
10. keringat dingin, N: 80 + Inj.Ceftriaxon 1x2 mg
10 dada panas, perut RR:22 KP PO.Tranex 3x1 tab
sakit. Kepala Auskultasi: PO.Codein 3x 10 mg
sedikit pusing. Ronkhi Lodia 3x500mg
- - RHZE
- -
- -
08. batuk darah (-), T: 110/70 Hemoptoe Inf.RL 16 tpm
10. keringat dingin, N: 64 + Inj.Ceftriaxon 1x2 mg
10 dada panas, perut RR:22 KP PO.Tranex 3x1 tab
sakit. Kepala Auskultasi: PO.Codein 3x 10 mg
sedikit pusing. Ronkhi RHZE
- -
- -
- -
09. batuk darah (-), T: 120/60 Hemoptoe Rawat jalan PO.Tranex 3x1
10. keringat dingin, N: 78 + + PO.DMP 3x1
10 dada panas, perut RR:28 S.KP Control PO.Cefadroxil 2x1
sakit. Kepala Auskultasi:
sedikit pusing. Ronkhi
- -
- -
- -

9
BAB III
PEMBAHASAN PENYAKIT

B. HEMOPTOE
Hemoptoe adalah ekspektorasi darah atau dahak yang mengandung
bercak darah dan berasal dari saluran napas bawah. Hemoptoe masif adalah
batuk darah antara >100 sampai >600 mL dalam waktu 24 jam.

1. Etiologi
Perlu dicermati bahwa darah yang dibatukkan berasal dari saluran
napas dan bukan dari traktus gastrointestinal. Darah yang berasal dari
gastrointestinal berwana hitam kemerahan dan pH-nya asam, sebaliknya
pada hemoptoe darah merah terang dan ph-nya alkali.
Tabel 1. Perbedaan Hemoptoe dengan Hematemesis
Pembeda Haemoptoe Hematemesis
Adanya Riwayat Batuk Gejala GIT
Warna sputum Merah terang Merah tua
pH Alkalis Asam
Karakter berbusa Halus tidak berbusa

Saluran napas dan paru-paru terutama divaskularisasii oleh sistem


arteri-vena pulmonalis dan sistem arteri bronkialis yang berasal dari aorta.
Dari kedua sistem ini perdarahan pada sistem arteri bronkialis lebih sering
terjadi.
Penyebab hemoptoe secara umum dapat dibagi menjadi empat, yaitu
infeksi, neoplasma, kelainan kardiovaskular dan hal lain-lain yang jarang
kejadiannya. Infeksi adalah penyebab tersering hemoptoe, tuberkulosis
adalah infeksi yang menonjol.
Pada tuberkulosis, hemoptoe dapat disebabkan oleh cavitas aktif atau
oleh proses inflamasi tuberkulosis di jaringan paru. Apabila tuberkulosis
berkembang menjadi fibrosis dan perkejuan, dapat terjadi aneurisma
arteri pulmonalis dan bronkiektasis yang akan mengakibatkan hemoptoe.

2. Pemeriksaan Penunjang

10
 Foto toraks PA dan lateral
 Bronkoskopi
 CT scan dada

3. Indikasi operasi:
 batuk darah > 250 ml/ 24 jam dan pada observasi tidak berhenti
 Batuk darah antara 100-250 ml/ 24 jam dan Hb < 10 g/dl serta pada
observasi tidak berhenti
 Batuk darah antara 100-250 ml/ 24 jam dan Hb > 10 g/dl serta pada
observasi 48 jam tidak berhenti

B. TUBERKULOSIS
Tuberculosis adalah penyakit infeksi pada jaringan tubuh (paru dan ekstra
paru) yang bersifat kronik dan dapat menular yang disebabkan oleh
Microbacterium tuberculosis.

1. Bakteriologi
Penyebab adalah Mycobacterium tuberculosae. Yang tergolong kuman
Mycobacterium tuberculosae complex adalah:
 M. tuberculosae
 Varian Asian
 Varian African I
 Varian African II
 M. bovis
Pembagian tersebut berdasarkan perbedaan secara epidemiologi.
 
Kelompok kuman M. tuberculosae dan Mycobacteria other than Tb
(MOTT, atypical)
 M. kansasii
 M. avium
 M. intra cellular
 M. scrofulaceum
 M. malmacerse

11
 M. xenopi
2. Patogenesis
TUBERKULOSIS PRIMER
Batuk

Partikel infeksi

Terhisap

Menempel pada jalan nafas

Dihadapi oleh netrofil dan


makrofag

Jaringan paru

sarang primer/ afek primer/ fokus Ghon

Kompleks primer (Ranke): sarang primer +


limfangitis lokal + limfadenitis regional

Komplikasi sembuh Sembuh dengan


dan meninggalkan sedikit
menyebar bekas

Hematogen
Bronkogen
Limfogen
Perkontinuitatum

12
TUBERKULOSIS POST PRIMER (TUBERKULOSIS SEKUNDER)

TB Primer

Kuman TB dormant malnutrisi


alcohol
Imunitas me penyakit maligna
DM
Infeksi sekunder AIDS
Ginjal
Direabsorbsi kembali
Regio atas paru
dan sembuh tanpa
(bagian apikal
cacat
posterior lobus
superior atau Mula-mula meluas tetapi
segera menyembuh à
inferior) tuberkel ( granuloma terdiri kavitasmeluas kembali
dari granulosit dan sel
Sarang dini Datia-Langhans yang memadat dan
dikelilingi oleh limfosit dan membungkus diri
( tuberkuloma)
jaringan ikat).
Invasi ke daerah
parenkim paru bersih dan menyembuh
(open healed cavity)

13
3. Klasifikasi
Di Indonesia klasifikasi yang banyak dipakai adalah berdasarkan
kelainan klinis, radiologis, dan mikrobiologis:
 Tuberkulosis paru
 Bekas tuberkulosis paru
 Tuberkulosis paru tersangka
a. BTA negatif, tanda-tanda lain positif : TB paru tersangka diobati
b. BTA negatif, tanda lain meragukan : TB paru tersangka tidak
diobati
Dalam 2-3 bulan harus sudah dipastikan TB paru aktif / bekas TB
paru

WHO berdasarkan terapi membagi TB dalam 4 kategori, yaitu:


Kategori I, ditujukan terhadap:
-   kasus baru dengan sputum positif
- kasus baru dengan kerusakan parenkim yang luas
-   Kasus baru dengan bentuk TB ekstra paru berat
Kategori II:
-    kasus kambuh
-    kasus gagal dengan BTA positif
Kategori III:
-    kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas
-    kasus TB ekstra paru selain dari yang disebut dalam kategori I
Kategori IV:
-    TB kronik

4. Gejala-Gejala Klinis
Secara anamnesis dan pemerikssan fisik TB paru sulit dibedakan
dengan pneumonia biasa
a. Anamnesis
 Demam
 Batuk/ batuk darah
 Sesak napas

14
 Nyeri dada
 Malaise
b. Pemeriksaan fisik
 Konjungtiva/ kulit pucat, demam, kurus, berat badan turun
 Lesi yang dicurigai: Bagian apeks paru
 Infiltrat, kavitas, penebalan pleura
 Lanjut: fibrosis, kor pulmonal
 Efusi pleura
c. Pemeriksaan Radiologis
 Lokasi lesi : apeks paru (segmen apikal lobus atas dan lobus
bawah)
 Awal: bercak seperti awan dengan batas-batas tidak tegas
 Bila sudah diliputi jaringan ikat : tuberkuloma
· Kavitas
· Kalsifikasi
· Atelektasis
· TB milier
· Penebalan pleura/ empiema
· Efusi pleura/ pneumotoraks
d. Pemeriksaan Laboratorium
 Darah (tidak sensitif dan tidak spesifik)
- Hitung jenis bergeser ke kiri
- LED meningkat
 Sputum
- Mikroskopik: pengecatan: Tan Thiam Hok, Kinyoun Gabbet,
auramin-rhodamin
- Kultur : Media: Loenstein Jensen, Kudoh, Ogawa
 Tes tuberculin
- Tes Mantoux
 Serologi : PAP-TB 

15
5. Diagnosis
Dalam diagnosis dicantumkan status klinis, status bakteriologis, status
radiologis dan status kemoterapi
Pasien dengan sputum BTA positif:
 ditemukan BTA sekurang-kurangnya pada 2 x pemeriksaan
mikroskopik, atau
 Satu sediaan sputum positif disertai kelainan radiologis yang sesuai
dengan TB aktif, atau
 Satu sediaan sputum positif disertai biakan positif
Pasien dengan sputum BTA negatif:
 tidak ditemukan BTA sedikitnya pada 2 x pemeriksaan
 mikroskopik tetapi gambaran radiologis sesuai dengan TB aktif, atau
 Pada pemeriksaan tidak ditemukan BTA sama sekali, tetapi pada
biakan positif
TB ekstra paru
 Pasien dengan kelainan histologis atau/ dengan gambaran klinis
sesuai dengan TB aktif atau
 Pasien dengan satu sediaan dari organ ekstra paru menunjukkan
hasil bakteri M. tuberculosae

Berdasarkan riwayat penyakit


a. Kasus baru
Pasien belum pernah mendapat obat anti TB (OAT)
Pasien mendapat OAT < 1 bulan.
b. Kasus kambuh
Pasien pernah dinyatakan sembuh, tetapi kemudian timbul lagi TB
aktif.
c. Pindahan (Transfer in)
Penderita yang pindah berobat dari satu tempat ke tempat lain
d. Default/ drop-out
Pasien sudah berobat minimal 1 bulan, kemudian berhenti 2 bulan
atau lebih, kemudian datang kembali berobat.
e. Kasus gagal

16
Pasien yang sputum BTA nya tetap positif atau kembali positif
pada akhir bulan ke 5 (1 bulan sebelum akhir pengobatan).

f. Kasus kronik
Pasien yang sputum BTA nya tetap positif setelah mendapat
pengobatan ulang lengkap yang disupervisi baik.

6. Komplikasi
Komplikasi dini
 Pleuritis
 Efusi pleura
 Empiema
 Laringitis
 Menjalar ke organ lain
Komplikasi lanjut
 Obstruksi jalan napas à SOPT
 Kerusakan parenkim berat à SOPT/ fibrosis/ cor pulmonal
 Amiloidosis
 Karsinoma paru
 Sindrom gagal napas dewasa (ARDS)

7. Pengobatan TB
Pengobatan dibagi dalam 2 tahap yakni:
Tahap intensif (initial phase), dengan 4-5 macam obat per hari, dengan
tujuan:
 mendapatkan konversi sputum lebih cepat
 menghilangkan keluhan dan mencegah efek penyakit lebih lanjut
 Mencegah timbulnya resistensi obat
Tahap lanjutan (continuation phase), dengan hanya memberikan dua
macam obat per hari atau secara intermiten dengan tujuan
menghilangkan bakteri yang tersisa dan mencegah kekambuhan.

17
WHO berdasarkan terapi membagi TB dalam 4 kategori, yaitu:
Kategori I, ditujukan terhadap:
-  kasus baru dengan sputum positif
- kasus baru dengan kerusakan parenkim yang luas
-  Kasus baru dengan bentuk TB ekstra paru berat
-  2 RHZE/ 4 RH (4R3H3) (6HE)
Kategori II:
-   kasus kambuh
-   kasus gagal dengan BTA positif
-   2 RHZSE/ 1 RHZE/ 5 R3H3E3
Kategori III:
-    kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas
-    kasus TB ekstra paru selain dari yang disebut dalam kategori I
-    2 RHZ / 4 RH (4R3H3) (6HE)
Kategori IV:
-    TB kronik

8. Evaluasi Pengobatan
Klinis: tiap minggu selama tahap intensif, selanjutnya tiap bulan.
Bakteriologis (Pemeriksaan dahak 2 kali ): akhir tahap intensif, sebulan
sebelum akhir pengobatan atau akhir pengobatan. Contoh untuk yang 6
bulan: akhir bulan ke 2, 5 dan 6.

18
BAB III
PENUTUP

Telah dilaporkan laporan kasus seorang penderita Tn.NC. Laki-laki, 30


tahun, dengan diagnosis hemoptoe dan suspect Koch pulmonum , telah dirawat
di ruang Penyakit Dalam kelas III RSUD “KANJURUHAN” KEPANJEN dari
tanggal 30 September - 10 Oktober 2010 dengan keluhan batuk darah sejak 3
hari dan batuk berat sejak 3 bulan yang lalu. Keluhan penyerta yg dirasakan
dada terasa panas badan sedikit panas dan disertai keringat yang banyak. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit, compos mentis,
status gizi kesan kurang. Tanda vital T:100/70, N: 88, RR: 24.
Hemoptoe adalah ekspektorasi darah atau dahak yang mengandung
bercak darah dan berasal dari saluran napas bawah. Penyebab hemoptoe
secara umum dapat dibagi menjadi empat, yaitu infeksi, neoplasma, kelainan
kardiovaskular dan hal lain-lain yang jarang kejadiannya. Infeksi adalah
penyebab tersering hemoptoe, tuberkulosis adalah infeksi yang menonjol.
Tuberculosis adalah penyakit infeksi pada jaringan tubuh (paru dan ekstra
paru) yang bersifat kronik dan dapat menular yang disebabkan oleh
Microbacterium tuberculosis. TB paru dapat ditegakkan dengan anamnesa,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan radiologis dan pemeriksaan laboratorium
penunjang yang hasilnya mengarah ke TB paru. WHO membagi
penatalaksanaan TB sesuai dengan kategorinya yaitu kasus baru, kasus
kambuh, kasus BTA (-), dan kasus TB kronis.

19
DAFTAR PUSTAKA

Aditiawarman, dr.SpPD. Batuk Dan Batuk Darah Bahan Kuliah Pulmonologi Ilmu
Penyakit Dalam.
http://webcache.googleusercontent.com/search?
q=cache:oV1fEwMso2QJ:images.albadroe.multiply.multiplycontent.com/attac
hment/0/RtuEaAoKCsAAAGD5GtE1/BATUK%2520DAN%2520BATUK
%2520DARAH.ppt%3Fnmid
%3D56316744+hemoptisis+adalah&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id

Arif N. Batuk darah dalam pulmonologi klinik. Bagian pulmonologi FKUI; Jakarta :
1992, 179-183

Menaldi Rasmin Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI


SMF Paru RSUP Persahabatan.
http://jurnalrespirologi.org/jurnal/April09/HEMOPTISIS%20editorial.pdf

Mual Bobby E Parhusip. 2009. Tesis: Peranan foto dada dalam mendiagnosis TB
Paru tersangka dengan BTA negative di Puskesmas Kodya Medan. Program
Pendidikan Dokter Spesialis Departemen Ilmu Penyakit Paru FK.USU/SMF
Paru RSUP.H.Adam Malik Medan

Wihastuti R, Maria, Situmeang T, Yunus F. Profil penderita batuk darah yang berobat ke
bagian paru RSUP Persahabatan Jakarta. J Respir Indo 1999;19:54-9

Wiwien Heru Wiyonol, Nirwan ArieP, Yani Purnamasaril, Ni Nyoman Priantinil,


Agung Wibawantd, lsmid Djalil lnonu Busroff, Sutjahjo Endardjo3, Fathiyah
Isbaniah1, Anwar JusuP. Hemoptisis pada teratoma kistik Departemen
Pulmonologi dan llmu Kedokteran Respirasi FKUl - RS Persahabatan,
Jakarta, Divisi Bedah Toraks - RS Persahabatan, Jakarta, lnstalasi Patologi
Anatomi - RS Persahabatan, Jakarta. paru.
http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/27407214218.pdf

Zul Dahlan. Pengelolaan Pasien dengan Kedaruratan Paru Subunit Pulmonologi


Laboratorium/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran/ Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung.
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/05PengelolaanPasiendenganKedarurat
anParu114.pdf/05PengelolaanPasiendenganKedaruratanParu114.html

20

Anda mungkin juga menyukai