Anda di halaman 1dari 109

PP- /XII.

3/2008

PETUNJUK TEKNIS PEMERIKSAAN


ATAS PENGELOLAAN LIMBAH RSUD
(KONSEP)

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
2008
Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Daftar Isi

DAFTAR ISI

Halaman

BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Maksud dan Tujuan 2
C. Lingkup Pembahasan 2
D. Sistematika Penulisan 2

BAB II GAMBARAN UMUM PENGELOLAAN LIMBAH RUMAH SAKIT UMUM 3


DAERAH
A. Kerangka Hukum 3
B. Pengertian dan Dokumen 4
C. Klasifikasi RSUD 6
D. Limbah RSUD 7
E. Dampak Limbah RSUD terhadap Lingkungan 8
F. Pengelolaan Limbah RSUD 9

BAB III PETUNJUK PEMERIKSAAAN 15


A. Petunjuk Umum 15
B. Petunjuk Perencanaan Pemeriksaan 18
C. Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan 23
D. Petunjuk Pelaporan Hasil Pemeriksaan 24

BAB IV PENGENDALIAN DAN PENJAMINAN MUTU 27


A. Dasar Pengendalian dan Penjaminan Mutu 27
B. Pengertian Pengendalian dan Penjaminan Mutu 27
C. Proses Pengendalian dan Penjaminan Mutu 27
D. Pendokumentasian Proses Penjaminan Mutu 30

BAB V PEMANTAUAN TINDAK LANJUT LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN 31


A. Tindak Lanjut Laporan Hasil Pemeriksaan 31
B. Pemberitahuan Tertulis tentang Kewajiban Tindak Lanjut 31
C. Reviu Atas Jawaban/Keterangan Pemerintah Daerah 32
D. Pelaporan Atas Pemantauan Tindak Lanjut 32
E. Pemantauan Tindak Lanjut Pada Saat Pemeriksaan 32

BAB V PENUTUP 33
A. Pemberlakuan Petunjuk Teknis Pemeriksaaan Atas Pengelolaan 33
Limbah RSUD
B. Pemutakhiran Petunjuk Teknis Pemeriksaaan Atas Pengelolaan 33
Limbah RSUD
C. Pemantauan Petunjuk Teknis Pemeriksaaan Atas Pengelolaan Limbah 31
RSUD

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab I

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
01 Berdasarkan UUD 1945 pasal 23, BPK merupakan pemeriksa BPK mempunyai mandat yang
eksternal pemerintah. Mandat ini diperkuat dengan diterbitkannya kuat untuk melaksanakan
UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan pemeriksaan pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara pasal 2 ayat (2) yang tanggung jawab keuangan
negara
menyatakan BPK melaksanakan pemeriksaan pengelolaan dan
tanggungjawab keuangan negara. Sementara itu, sesuai UU No. 23
Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, pemerintah
menguasai sumber daya alam untuk dikelola dan dipergunakan
untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Untuk
mewujudkan hal tersebut, pemerintah wajib mengelola lingkungan
hidup tersebut secara terpadu dengan penataan ruang,
perlindungan sumber daya alam nonhayati, perlindungan sumber
daya buatan, konservasi sumber daya alam hayati dan
ekosistemnya, cagar budaya, keanekaragaman hayati dan
perubahan iklim. Selain perlu dikelola dengan dengan baik,
pemerintah perlu pula mengupayakan pelestarian lingkungan hidup
sehingga keberlanjutan fungsi lingkungan hidup dapat
dipertahankan. Pentingnya pelestarian lingkungan hidup juga
diperkuat dengan ditetapkannya amandemen UUD 1945 pasal 33
ayat (4) yang berbunyi:
‘Perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan atas
demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi,
berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian,
serta menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi’.
02 Dengan demikian jelas terlihat adanya kaitan antara mandat BPK
untuk melakukan pemeriksaan pengelolaan keuangan negara BPK mempunyai peran yang
dengan pemerintah sebagai pengelola kegiatan pembangunan sangat penting dalam
ekonomi nasional dengan lingkungan hidup. BPK sebagai lembaga mengawasi jalannya
pemeriksa eksternal pemerintah mempunyai peran yang sangat pembangunan ekonomi yang
penting dalam mengawasi jalannya pembangunan ekonomi yang berwawasan lingkungan serta
berwawasan lingkungan serta upaya mewujudkan tata kelola upaya mewujudkan tata kelola
lingkungan yang baik (Good Environment Governance). Dalam hal lingkungan yang baik
ini lembaga/badan pemeriksa dibutuhkan untuk menilai efektivitas
program dan menguji kepatuhan terhadap akta perjanjian, peraturan
maupun perundang-undangan tentang lingkungan hidup.
03 Untuk menjalankan peran penting terkait lingkungan hidup tersebut,
BPK telah menetapkan dalam rencana strategik untuk melakukan Audit lingkungan oleh BPK
audit lingkungan yang mencakup kegiatan pemeriksaan yang dapat mencakup: penilaian terhadap
program dan kegiatan
memberikan penilaian terhadap program atau kegiatan yang
berperspektif lingkungan,
berprespektif lingkungan dengan terus mengembangkan metodologi mengembangkan metodologi
dan kerja sama dengan pihak terkait. Rencana strategik ini dan kerjasama dengan pihak
kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam tematik pemeriksaan terkait
lingkungan setiap tahun.
04 Berkaitan dengan tematik pemeriksaan lingkungan, maka petunjuk
teknis pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD perlu disusun
untuk mengakomodasi peran BPK terkait pemeriksaan atas
pengelolaan lingkungan hidup

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 1


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab I

B. Maksud dan Tujuan


05 Maksud penyusunan petunjuk teknis pemeriksaan atas pengelolaan Maksud penyusunan juknis
limbah RSUD ini adalah untuk memberikan pedoman yang mutakhir pemeriksaan atas pengelolaan
bagi pemeriksa dalam menyusun program pemeriksaan dan limbah RSUD adalah untuk
pelaksanaan pemeriksaan di lapangan sehingga terdapat kesamaan memberikan pedoman yang
mutakhir bagi pemeriksa
tindakan.
06 Tujuan penyusunan petunjuk teknis tersebut adalah untuk:
Tujuan penyusunan juknis
a. menyamakan pemahaman atas pemeriksaan pengelolaan pemeriksaan atas pengelolaan
limbah RSUD; limbah RSUD untuk
mengefektifkan pelaksanaan
b. memberikan pedoman kepada pemeriksa sehingga pemeriksaaan
perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil pemeriksaan
dapat selaras dan dapat mudah dikompilasi.
c. mengefektifkan pelaksanaan pemeriksaan agar mencapai hasil
pemeriksaan yang optimal sesuai dengan standar pemeriksaan.

C. Lingkup Pembahasan
07 Petunjuk teknis pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD ini Lingkup pembahasan juknis
digunakan untuk pemeriksaan atas seluruh kebijakan dan adalah kebijakan dan
program/kegiatan yang ditetapkan baik oleh Pemerintah Pusat dan program/kegiatan pengelolaan
Pemerintah Daerah terkait pengelolaan limbah RSUD yang telah limbah RSUD
dilaksanakan oleh manajemen RSUD.

D. Sistematika Penulisan
08 Petunjuk teknis pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD terdiri Juknis atas pengelolaan limbah
atas enam bab sebagai berikut: RSUD terdiri atas 6 bab,
referensi, dan lampiran.
Bab I Pendahuluan
Bab II Gambaran Umum Pengelolaan Limbah RSUD
Bab III Petunjuk Pemeriksaan
Bab IV Pengendalian dan Penjaminan Mutu
Bab V Pemantauan Tindak Lanjut
Bab VI Penutup
Referensi
Lampiran-Lampiran

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 2


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab II

BAB II
GAMBARAN UMUM
PENGELOLAAN LIMBAH RUMAH SAKIT UMUM
DAERAH

A. Kerangka Hukum
01 Pengelolaan limbah RSUD, dilakukan berdasarkan peraturan Pengelolaan limbah RSUD
sebagai berikut: dilakukan berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang terdiri
1. Undang-undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan; atas Peraturan Pemerintah,
Peraturan Menteri Kesehatan,
2. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2002 tentang Kepmen LH, Kepmenkes, Kep
Keselamatan Pengelolaan Limbah Radioaktif; Kepala Bappedal, dan peraturan-
3. Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan peraturan daerah terkait lainnya
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun;
4. Peraturan Pemerintah No. 63 Tahun 2000 tentang
Keselamatan dan Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Radiasi
Pengion;
5. Peraturan Pemerintah No. 64 Tahun 2000 tentang Perizinan
Pemanfaatan Tenaga Nuklir;
6. Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun;
7. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisa
Mengenai Dampak Lingkungan;
8. Peraturan Pemerintah No. 85 Tahun 1999 tentang Perubahan
Atas Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 tentang
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun;
9. Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 tentang Pengadaan
Barang dan Jasa Pemerintah sebagaimana telah diubah
dengan Keppres No. 7 Tahun 2007;
10. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 11 Tahun
2006 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang
Wajib Dilengkapi dengan AMDAL;
11. Peraturan Menteri Kesehatan No. 928/Menkes/Per/IX/1995
tentang penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Bidang Kesehatan;
12. Keputusan Menteri Kesehatan No. 1333 Tahun 1999 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit;
13. Keputusan Menteri Kesehatan No. 1217 Tahun 2001 tentang
Pedoman Pengamanan Dampak Radiasi;
14. Keputusan Menteri Kesehatan No. 1277 Tahun 2001 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan;
15. Keputusan Menteri Kesehatan No. 228 Tahun 2002 tentang
Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Rumah
Sakit yang Wajib Dilaksanakan Daerah;
16. Keputusan Menteri Kesehatan No. 40 Tahun 2001 tentang
Pedoman Kelembagaan dan Pengelolaan Rumah Sakit
Daerah;
17. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 13 Tahun

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 3


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab II

1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak;


18. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 58 Tahun
1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah
Sakit;
19. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 86 Tahun
2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan
Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup;
20. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 42 Tahun
1994 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Audit Lingkungan;
21. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 50 Tahun
1996 tentang Baku Tingkat Kebauan;
22. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 17 tahun
2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang
Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup;
23. Keputusan Menteri Kesehatan No. 1204/MENKES/SK/X/2004
tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit;
24. Surat Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Kepala
Bapeten Tahun 2000 tentang Pembinaan dan Pengawasan
Pemanfataan Tenaga Nuklir di Bidang Kesehatan;
25. Keputusan Kepala Bappedal No. Kep-03/Bappedal/09/1995
tentang Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun; dan
26. Peraturan–peraturan daerah terkait lainnya.

B. Pengertian dan Dokumen


02 Pengertian umum yang perlu diketahui terkait dengan pengertian- Pengertian umum terkait
pengertian pengelolaan limbah rumah sakit diantaranya adalah: pengelolaan limbah RSUD

1. Rumah Sakit adalah sarana kesehatan yang


menyelenggarakan pelayanan kesehatan serta dapat berfungsi
sebagai tempat pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian;
2. Limbah adalah hasil buangan dari suatu kegiatan yang juga
merupakan suatu bentuk materi yang menurut jenis dan
kategorinya mempunyai manfaat atau daya perusak untuk
manusia dan lingkungannya;
3. Limbah rumah sakit adalah sernua limbah yang dihasilkan dari
kegiatan rumah sakit dalam bentuk padat, cair dan gas;
4. Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) adalah sisa suatu
usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya
dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya
dan/atau jumlahnya baik secara langsung maupun tidak
langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan
lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan
hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta mahkluk
hidup lain;
5. Radiasi adalah transmisi gelombang, objek atau informasi dari
sebuah sumber ke medium atau tujuan sekitarnya. Radiasi
terdiri dari Radiasi Pengion dan Radiasi Non Pengion. Radiasi
pengion adalah jenis radiasi yang dapat menyebabkan proses
ionisasi (terbentuknya ion positif dan ion negatif) apabila
berinteraksi dengan materi. Yang termasuk dalam jenis radiasi
pengion adalah partikel alpha, partikel beta, sinar gamma,
sinar-X dan neutron. Radiasi non-pengion adalah jenis radiasi
yang tidak akan menyebabkan efek ionisasi apabila berinteraksi

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 4


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab II

dengan materi. Radiasi non-pengion tersebut berada di


sekeliling kehidupan kita. Yang termasuk dalam jenis radiasi
non-pengion antara lain adalah gelombang radio (yang
membawa informasi dan hiburan melalui radio dan televisi);
gelombang mikro (yang digunakan dalam microwave oven dan
transmisi seluler handphone); sinar inframerah (yang
memberikan energi dalam bentuk panas); cahaya tampak (yang
bisa kita lihat); sinar ultraviolet (yang dipancarkan matahari)
6. Analisa Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL)
merupakan kajian mengenai dampak besar dan penting suatu
usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan
hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan
tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan;
7. Kerangka Acuan ANDAL adalah suatu kerangka untuk
menentukan lingkup permasalahan yang akan dikaji dalam
studi ANDAL (proses pelingkupan)
8. Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) adalah telaahan
secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan
penting suatu rencana usaha dan atau kegiatan;
9. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) adalah upaya
penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan
hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau
kegiatan;
10. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) adalah upaya
pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak
besar dan penting akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan;
11. Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) adalah dokumen yang
isi pokoknya mengenai upaya penanganan dampak kegiatan di
bidang kesehatan terhadap lingkungan hidup yang tidak ada
dampak pentingnya dan/atau secara teknologi sudah dapat
dikelola dampak pentingnya;
12. Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adalah dokumen yang
isi pokoknya mengenai upaya pemantauan dampak kegiatan di
bidang kesehatan terhadap lingkungan hidup yang tidak ada
dampak pentingnya dan/atau secara teknologi sudah dapat
dikelola dampak pentingnya;
13. Dampak besar dan penting adalah perubahan lingkungan hidup
yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha
dan/atau kegiatan;
14. IPAL atau Instalasi Pengolah Air Limbah adalah instalasi
pengolah limbah cair sebelum disalurkan ke lingkungan bebas.
Dokumen yang digunakan di dalam pengelolaan limbah rumah sakit
03 diantaranya adalah dokumen Kerangka Acuan ANDAL, ANDAL, Dokumen-dokumen
RKL, RPL, UKL dan UPL.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 5


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab II

C. Klasifikasi RSUD
04 Penetapan kelas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dilakukan Klasifikasi RSUD berdasarkan
oleh Menteri Kesehatan berdasarkan fasilitas kemampuan fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik yang mencerminkan luas lingkup kegiatan pelayanan medik, terdiri atas RS
pelayanan masyarakat yang dilakukan oleh Rumah Sakit yang kelas A, B, C dan D
bersangkutan. Berdasarkan kelasnya, RSUD diklasifikasikan
kedalam 4 (empat) kelas, yaitu:
1. Rumah Sakit Kelas A
Rumah Sakit kelas A mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik spesialisasi dan sub spesialistik luas.
2. Rumah Sakit Kelas B
Rumah Sakit kelas B mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik minimal 11 jenis spesialistik, yang terdiri atas
4 spesialistik dasar yaitu penyakit dalam, kesehatan anak,
bedah, dan kebidanan & kandungan; 4 spesialistik luas yaitu
mata, THT, syaraf, dan jantung; serta 3 pilihan spesialistik
lainnya yaitu kulit kelamin, paru, jiwa, orthopedi, bedah syaraf,
gigi & mulut.
3. Rumah Sakit Kelas C
Rumah Sakit kelas C mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik spesialistik sekurang-kurangnya 4 spesialistik
dasar lengkap yaitu penyakit dalam, kesehatan anak, bedah,
serta kebidanan & kandungan.
4. Rumah Sakit Kelas D
Rumah Sakit Kelas D merupakan rumah sakit yang memiliki
fasilitas yang sangat sederhana.

05 Rumah sakit kelas A dan B berkewajiban menyusun dan memiliki Rumah sakit kelas A dan B wajib
dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) menyusun dan memiliki dokumen
yang terdiri atas dokumen Kerangka Acuan ANDAL, Analisis AMDAL
Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL), Rencana Pengelolaan
Lingkungan (RKL), dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).

06 Rumah Sakit kelas C dan D tidak wajib menyusun dan memiliki


Rumah sakit kelas C wajib
dokumen AMDAL, tetapi diwajibkan oleh Departemen Kesehatan menyusun dan memiliki dokumen
untuk menyusun dan memiliki dokumen Upaya Pengelolaan UKL dan UPL
Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL).

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 6


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab II

D. Limbah RSUD
07 Dalam melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan, RSUD Jenis limbah RSUD terdiri atas
menghasilkan 3 (tiga) jenis limbah, yaitu: limbah cair, limbah padat (yang
terbagi menjadi jenis limbah
1. Limbah cair yaitu semua air buangan termasuk tinja yang padat medis dan nonmedis) serta
berasal dari kegiatan rumah sakit yang kemungkinan limbah gas
mengandung mikroorganisme, bahan kimia beracun, dan
radioaktif yang berbahaya bagi kesehatan. Limbah cair terbagi
atas limbah medis dan limbah nonmedis. Limbah cair medis
dapat berupa buangan dari pasien, bekas cucian peralatan,
bekas cucian tangan, tetesan darah, limbah dari obat-obatan
cair yang mengandung berbagai bahan kimia baik yang
beracun maupun yang tidak beracun. Limbah cair nonmedis
dapat berupa air hujan, air cucian dapur dan limbah cair dari
kegiatan kantor.
2. Limbah padat yaitu semua limbah rumah sakit yang berbentuk
padat sebagai akibat kegiatan rumah sakit. Limbah padat terdiri
atas:
- Limbah padat medis yaitu limbah padat yang terdiri atas
limbah infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam,
limbah farmasi, limbah sitotoksis dan limbah kimiawi, limbah
radioaktif, limbah kontainer bertekanan, dan limbah dengan
kandungan logam berat yang tinggi.
- Limbah padat nonmedis yaitu limbah padat yang dihasilkan
dari kegiatan di rumah sakit di luar medis yang berasal dari
dapur, perkantoran, taman dan halaman yang dapat
dimanfaatkan kembali apabila ada teknologinya.
3. Limbah gas yaitu semua limbah yang berbentuk gas yang
berasal dari kegiatan pembakaran di rumah sakit antara lain
pembakaran insinerator, dapur, perlengkapan generator,
anastesi, dan pembuatan obat sitotoksik.
08 Limbah medis RSUD merupakan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Berdasarkan sifatnya, limbah
Beracun), yang berdasarkan sifatnya dapat diklasifikasikan menjadi: RSUD terdiri atas limbah
infeksius, benda tajam,
1. Limbah infeksius yaitu limbah yang terkontaminasi organisme sitotoksis, jaringan tubuh, kimia,
pathogen yang tidak secara rutin ada di lingkungan dan farmasi dan radioaktif.
organisme tersebut dalam jumlah dan virulensi yang cukup
untuk menularkan penyakit pada manusia rentan;
2. Limbah benda tajam adalah obyek atau alat yang memiliki
sudut tajam, sisi ujung atau bagian menonjol yang dapat
memotong atau menusuk kulit, seperti jarum, perlengkapan
intravena, pipet pasteur, pecahan gelas, pisau bedah;
3. Limbah sitotoksis yaitu limbah dari bahan yang terkontaminasi
dari persiapan dan pemberian obat sitotoksik untuk kemoterapi
kanker yang mempunyai kemampuan untuk membunuh atau
menghambat pertumbuhan sel hidup;
4. Limbah jaringan tubuh padat yang meliputi organ, anggota
badan yang dihasilkan pada saat pembedahan atau otopsi;
5. Limbah kimia yaitu limbah yang dihasilkan dari penggunaan
kimia dalam tindakan medis, veterinari, laboratorium, proses
sterilisasi dan riset;
6. Limbah farmasi yaitu limbah yang berasal dari obat-obatan;
7. Limbah radioaktif adalah bahan bahan yang terkontaminasi
dengan radio isotop yang berasal dari penggunaan medis atau
riset radionucleida.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 7


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab II

E. Dampak Limbah RSUD Terhadap Lingkungan


09 Limbah RSUD jika tidak tertangani dengan baik akan berdampak Limbah RSUD jika tidak dikelola
bagi manusia, mahluk hidup, serta lingkungan di sekitar RSUD. dengan baik dapat
Dampak tersebut yaitu: membahayakan manusia dan
lingkungan
1. Dampak Pencemaran Air
a. air menjadi tidak bermanfaat untuk keperluan rumah tangga
(misalnya air minum, memasak, mencuci), industri,
pertanian (misalnya: air yang terlalu asam/basa akan
mematikan tanaman/hewan);
b. air menjadi penyebab penyakit menular, air yang telah
tercemar oleh senyawa organik maupun anorganik menjadi
media berkembangnya berbagai penyakit dan penularan
langsung melalui air (misalnya Hepatitis A, Cholera, Thypus
Abdominalis, Dysentri, Ascariasis/Cacingan, dan
sebagainya);
c. air menjadi penyebab penyakit tidak menular, penyakit
tidak menular dapat muncul terutama karena air lingkungan
telah tercemar oleh senyawa anorganik terutama unsur
logam (misalnya keracunan air raksa/merkuri)
2. Dampak Pencemaran Daratan
Pencemaran daratan pada umumnya berasal dari limbah padat
yang dibuang atau dikumpulkan di suatu tempat penampungan.
Tempat penampungan ini dapat bersifat sementara atau tetap.
Dampak pencemaran daratan terdiri atas:
a. Dampak langsung. Dampak pencemaran daratan yang
secara langsung dirasakan adalah timbulnya bau busuk
karena degradasi limbah organik oleh mikroorganisme.
Dampak langsung lainnya yaitu timbunan limbah padat
dalam jumlah besar akan menimbulkan kesan kumuh dan
kotor, yang secara psikis akan mempengaruhi penduduk di
sekitar tempat penumpukan sampah tersebut;
b. Dampak tak langsung, contohnya tempat pembuangan
limbah padat baik Tempat Pembuangan Sementara (TPS)
maupun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akan menjadi
pusat perkembangbiakan tikus dan serangga yang
merugikan manusia seperti lalat dan nyamuk. Penyakit-
penyakit yang ditimbulkan dengan perantaraan tikus, lalat
dan nyamuk di antaranya adalah pest, kaki gajah, malaria,
demam berdarah dan sebagainya.
3. Dampak Pencemaran Udara
Dampak pencemaran udara merupakan masalah yang serius.
Dampak pencemaran udara sangatlah merugikan karena tidak
hanya berakibat langsung terhadap kesehatan manusia, tetapi
juga berpengaruh kepada hewan, tanaman dan sebagainya.
Berikut uraian komponen pencemar udara:
a. Karbon Monoksida (CO)
Karbon monoksida apabila terhisap ke dalam paru-paru
akan ikut peredaran darah dan akan menghalangi
masuknya oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini
dapat terjadi karena gas CO bersifat racun metabolis, ikut
bereaksi secara metabolis dengan darah.
b. Nitrogen Oksida (Nox)
Konsentrasi gas NO yang tinggi dapat menyebabkan
gangguan pada sistem syaraf yang mengakibatkan kejang-
kejang, bila keracunan ini terus berlanjut akan
Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 8
Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab II

menyebabkan kelumpuhan.
c. Belerang Oksida (Sox)
Pencemaran Sox menyebabkan gangguan pada sistem
pernafasan. Hal ini karena gas Sox yang mudah menjadi
asam tersebut menyerang selaput lendir pada hidung,
tenggorokan, dan saluran pernafasan lain sampai ke paru-
paru. Serangan gas tersebut menyebabkan iritasi pada
bagian tubuh yang terkena.
d. Partikel
Udara yang telah tercemar oleh partikel dapat
menimbulkan berbagai macam penyakit saluran
pernafasan/pneumokoniosis
4. Pencemaran Debu Kapas
Pencemaran debu kapas atau serat kapas di udara yang
kemudian terhisap ke dalam paru-paru menimbulkan
penyakit bisinosis. Tanda-tanda awalnya adalah sesak
nafas, apabila sudah lanjut dan berat bisa menimbulkan
bronkhitis kronis.

F. Pengelolaan Limbah RSUD


1. Penanggung Jawab Kegiatan
10 Pengelolaan limbah RSUD pada umumnya merupakan tanggung Pengelolaan limbah RSUD
jawab Unit Pengelola Limbah yang mempunyai tugas pokok antara menjadi tanggung jawab unit
lain: pengelola limbah. Namun, nama
serta kedudukan unit tersebut
a. Menyusun kebijakan pengelolaan limbah dan melakukan pada setiap RSUD berbeda-beda
evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan tersebut;
b. Menyusun pedoman pelaksanaan dan prosedur tetap
pengelolaan limbah dan melakukan evaluasi terhadap
pedoman pelaksanaan dan prosedur tetap tersebut;
c. Menyusun program kerja dan kerangka acuan program
pengelolaan limbah serta melakukan evaluasi pelaksanaan
program tersebut;
d. Mengadakan koordinasi dengan unit kerja lain yang
berkaitan dengan pengelolaan limbah;
e. Mengadakan inspeksi/pemantauan penyelenggaraan
pengelolaan limbah di rumah sakit;
f. Membuat telaahan staf terhadap masalah berkaitan
pengelolaan limbah; dan
g. Mengadakan pengendalian mutu terhadap
penyelenggaraan pengelolaan limbah.
11 Unit pengelola limbah ini pada setiap rumah sakit mempunyai nama Unit pengelola limbah RSUD
dan berada pada divisi yang berbeda-beda. Contohnya, pada mempunyai nama dan berada
RSUD Kanujoso Djatiwibowo, Balikpapan, pengelolaan limbah pada divisi yang berbeda-beda
dilakukan oleh Instalasi Keselamatan Kesehatan Kerja dan Limbah pada setiap rumah sakit
(IK3L) yang merupakan suatu unit kerja di bawah Divisi
Perencanaan, di bawah Wakil Direktur Pengembangan. Sedangkan
pada RSUD Sanjiwani Kabupaten Gianyar Bali, pengelolaan limbah
dilakukan oleh Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit
(IPSRS) yang berada di bawah Wakil Direktur Penunjang, dan pada
RSUD Jayapura pengelolaan limbah dilakukan oleh Instalasi
Sanitasi yang berada di bawah Wakil Direktur Umum, Keuangan,
dan Operasional.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 9


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab II

2. Kebijakan
12 Kegiatan pengelolaan limbah RSUD biasanya tercermin dari Kebijakan pengelolaan limbah
Rencana Strategis RSUD yang bersangkutan. Renstra RSUD tecermin di dalam Rensta serta
memuat misi, visi strategi, kegiatan dan indikator yang berkaitan dokumen AMDAL RSUD yang
bersangkutan
diantaranya dengan kesehatan lingkungan, termasuk pengelolaan
limbah.
13 Renstra RSUD yang berkaitan dengan pengelolaan limbah
dijabarkan dalam kegiatan/program diantaranya Program
Penyehatan Lingkungan.
14 Selain itu, RSUD juga memiliki dokumen AMDAL yang terdiri atas
Kerangka Acuan ANDAL, ANDAL, RKL dan RPL atau UKL dan
UPL (tergantung pada kelas Rumah Sakit).

3. Perencanaan
15 Penyusunan RKL dan RPL disesuaikan dengan kondisi lingkungan Perencanaan
RSUD yang bersangkutan dengan mempertimbangkan hal-hal yang
antara lain berkaitan dengan jenis, dampak, kuantitas limbah yang
dihasilkan dan SDM pengelola limbah yang dimiliki.
16 Rencana anggaran pendapatan yang berkaitan dengan kegiatan
pengelolaan limbah yang berasal dari instansi/lembaga penghasil
limbah di luar RSUD dan rencana anggaran kegiatan yang
berkaitan dengan pemeliharaan serta pengadaan barang dan jasa
yang berkaitan dengan sarana pengelolaan limbah RSUD
dituangkan dalam Rencana Kegiatan Anggaran (RKA). RKA
tersebut kemudian dibahas oleh Panitia Anggaran di Pemerintah
Daerah. Hasil pembahasan atas RKA kemudian ditetapkan menjadi
Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dengan Peraturan Daerah.

4. Prosedur
17 Prosedur pengelolaan limbah RSUD per jenis limbah adalah Prosedur pengelolaan limbah
sebagai berikut :
a. Prosedur pengelolaan limbah cair
1). Saluran pembuangan air limbah dipisah untuk saluran air
hujan dan saluran limbah cair;
2). Air hujan disalurkan melalui saluran air hujan dan dibuang
ke lingkungan tanpa melalui IPAL;
3). Limbah cair disalurkan ke IPAL melalui saluran tertutup,
kedap air, dan dapat mengalir lancar;
4). Limbah cair diolah dalam IPAL setiap hari;
5). Hasil pengolahan dipantau melalui pemeriksaan effluent (air
limbah olahan) dengan parameter fisik, kimia, dan
mikrobiologi sebelum dibuang ke lingkungan.
b. Prosedur pengelolaan limbah padat nonmedis
1). Pemilahan/pemisahan limbah padat nonmedis anorganik
yang berbentuk logam, kaca, kertas, plastik (sampah
kering), dan organik berupa sampah makanan dan
tanaman (sampah basah);
2). Pengemasan dan pengumpulan limbah padat nonmedis
dengan menggunakan kantong plastik berwarna hitam;
3). Pengangkutan limbah padat nonmedis dari
ruangan/instalasi ke Tempat Pembuangan Sementara
(TPS) RSUD dilakukan 2 (dua) kali sehari dan
pengangkutan dari TPS RSUD ke Tempat Pembuangan

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 10


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab II

Akhir (TPA) dilakukan oleh Dinas Kebersihan;


4). Pengolahan limbah padat nonmedis dilakukan oleh Dinas
Kebersihan;
5). TPS dibersihkan setelah limbah padat nonmedis diangkut
ke TPA;
6). Pengawasan di lapangan dilakukan secara berkala sesuai
jadwal.
c. Prosedur pengelolaan limbah padat medis
1). Pemisahan/pemilahan antara limbah padat medis tajam
dan tidak tajam;
2). Pengemasan dan pengumpulan limbah padat medis tidak
tajam ditempatkan ke kantong plastik berwarna kuning,
sedangkan limbah padat medis tajam ditempatkan dalam
tempat khusus (safety box) yang tahan benda tajam;
3). Pengangkutan limbah padat medis dari ruangan ke selasar
yang telah ditentukan kemudian diangkut ke insinerator
dengan troli setiap pagi dan sore hari;
4). Pengolahan limbah medis padat dengan
insinerasi/pembakaran di insinerator dilakukan setiap hari;
5). Abu hasil pembakaran diangkut ke TPA oleh petugas Dinas
Kesehatan;
6). Pengawasan di lapangan dilakukan secara berkala sesuai
jadwal.
d. Prosedur pengelolaan limbah gas
1). Untuk pembakaran dengan insinerator, suhu pembakaran
minimal 1000°C untuk pemusnahan bakteri pathogen, virus,
dioksin, dan mengurangi emisi gas dan debu;
2). Dilengkapi alat untuk mengurangi emisi gas;
3). Melakukan penghijauan dengan menanam pohon yang
banyak memproduksi gas oksigen dan dapat menyerap
18 debu.
Khusus untuk limbah radioaktif yang dapat berupa limbah cair
maupun limbah padat ditampung atau dikumpulkan untuk kemudian
19 dikembalikan kepada produsen untuk didaur ulang.
Secara umum, proses pengelolaan limbah dapat digambarkan pada
diagram berikut:

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 11


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab II

PENGELOLAAN LIMBAH RSUD

$ Sakit
Rumah

Limbah Cair Gas Limbah Padat

Limbah Cair Limbah Cair Limbah Padat Limbah Padat


Non Medis Medis Medis non Medis

Tajam Tidak tajam

Menggunakan Menggunakan
Menggunakan Menggunakan Menggunakan Menggunakan
Saluran Limbah Alat Pengurang
saluran air hujan Safety Box kantong kuning kantong hitam
RS Emisi Gas

IPAL Incenerator TPS

Pemeriksaan
Baku Mutu

Diangkut oleh Petugas


dari Dinas Kebersihan

Lingkungan TPA

20 Dalam pengelolaan limbah, sarana dan prasarana yang digunakan


RSUD terdiri atas:
a. Untuk pengelolaan limbah cair berupa saluran air hujan, spool
hook, saluran limbah cair, bak kontrol, bak gelontor, IPAL dan
saluran pembuangan limbah ke lingkungan.
b. Untuk pengelolaan limbah padat nonmedis berupa tempat
sampah, kantong plastik warna hitam, gerobak/troli, Tempat
Penampungan Sementara (TPS), topi/helm pelindung, sepatu,
sarung tangan dan pakaian khusus.
c. Untuk pengelolaan limbah padat medis berupa tempat
sampah medis, kantong plastik warna kuning, tempat
pengumpulan khusus limbah padat tajam (safety box),
gerobak/troli, insinerator, Tempat penampungan Sementara
(TPS), topi/helm pelindung, sepatu, sarung tangan, pakaian
dan kacamata pelindung.
d. Untuk pengelolaan limbah gas berupa alat untuk mengurangi
emisi gas dan debu serta pohon untuk penyerapan.
Persyaratan dan tata laksana pengelolaan limbah rumah sakit
dapat dilihat pada lampiran 2.1

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 12


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab II

5. Pencatatan
21 Dokumentasi kegiatan pengelolaan limbah RSUD antara lain : Pencatatan

 Berita Acara Pengelolaan Limbah mulai dari kegiatan


Pemisahan Jenis Limbah, Penampungan Sementara
Limbah, Pengangkutan Limbah Padat Medis ke tempat
pembakaran atau insinerator sampai dengan pengangkutan
limbah padat nonmedis ke Tempat Pembuangan Akhir
(TPA).

 Berita Acara Pengambilan Sampel oleh tenaga ahli (pihak


luar RSUD) atau yang dilakukan sendiri oleh tenaga ahli
yang dimiliki oleh unit/tim pengelolaan limbah.

 Berita Acara Pemusnahan Obat-obatan Kadaluarsa beserta


dokumen pendukungnya yaitu dokumen pengajuan
penghapusan obat-obatan dari Panitia Penghapusan Barang
RSUD ke Pemerintah Daerah, dan dokumen persetujuan
atas penghapusan obatan-obatan dari Kepala Daerah.

 Berita Acara Penyimpanan dan Pembuangan Hasil Olahan


Limbah yang masih mengandung B3 (Bahan Berbahaya dan
Beracun.

 Catatan harian debit air limbah dan kuantitas limbah padat


medis dan nonmedis.

 Catatan mengenai keadaan darurat yang pernah terjadi


seperti banjir, kebakaran, kebocoran, overflow, dan kebauan
pada sarana atau instalasi pengelolaan limbah.

 Berita Acara Pemeliharaan, Perbaikan, Penggantian


Komponen atas insinerator atau Instalasi Pengolahan
Limbah Cair.

 Dokumen pengadaan barang dan jasa berkaitan dengan


sarana pengelolaan limbah.

6. Personalia
22 Semua staf RSUD yang terkait dengan pengelolaan limbah RSUD Staf RSUD terkait dengan
harus memiliki kualifikasi dan mendapatkan pendidikan dan pengelolaan limbah harus memiliki
pelatihan yang memadai mengenai penanganan, pemisahan, kualifikasi dan mendapatkan
pendidikan dan pelatihan yang
penampungan, prosedur penampungan, dan penggunaan alat memadai tentang pengelolaan
pelindung. limbah
Sebagai contoh: petugas pengangkut kantong limbah RSUD harus
23 mendapat pelatihan dan pelatihan untuk :

 Memeriksa apakah kantong telah tertutup;

 Menangani kantong dengan hanya memegang lehernya


saja;

 Mengetahui prosedur yang harus dilakukan bila terjadi


tumpahan;

 Memastikan bahwa pengikat pada kantong limbah tidak


akan putus pada saat pengangkutan.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 13


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab II

7. Pelaporan
24 Laporan yang harus dibuat oleh Unit Pengelola Limbah terdiri atas Unit pengelola limbah membuat
Laporan Bulanan, Triwulanan, Semesteran, dan Tahunan yang laporan secara periodik
antara lain memuat :

 Laporan pelaksanaan AMDAL untuk RSUD kelas A dan B,


atau UKL dan UPL untuk RSUD kelas C dan D;

 Kegiatan pengelolaan limbah;

 Hasil uji laboratorium atas pengelolaan limbah;

 Laporan pemeliharaan dan perbaikan sarana atau instalasi


pengelola limbah;

 Laporan pengadaan barang dan jasa atas pengelolaan


limbah;

 Laporan anggaran dan realisasi kegiatan serta pendapatan


yang berkaitan dengan pengelolaan limbah;

 Laporan kejadian darurat dan luar biasa; dan

 Laporan kesehatan dan keselamatan kerja.

8. Pengawasan Intern
25 Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) melakukan Pengawasan dilakukan oleh APIP
pengawasan atas pelaksanaan kegiatan operasional RSUD
termasuk pengelolaan limbah RSUD, serta melakukan
pemantauan tindak lanjut atas hasil pemeriksaan sebelumnya, baik
yang dilakukan oleh APIP maupun BPK-RI. Selain itu Bappedalda
juga melakukan pengujian, pemantauan terhadap pengelolaan
limbah antara lain limbah rumah sakit

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 14


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III

BAB III
PETUNJUK PEMERIKSAAN

A. Petunjuk Umum
1. Dasar Hukum Pemeriksaan
01 Pemeriksaan atas pengelolaan limbah rumah sakit Petunjuk umum pemeriksaan atas
merupakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu dengan Pengelolaan limbah RSUD meliputi :
mengacu kepada:  Dasar Hukum Pemeriksaan
 Standar Pemeriksaan
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003, Pasal 31  Panduan Manajemen
tentang Keuangan Negara; Pemeriksaan
 Petunjuk Teknis Pemeriksaan
b. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004, Pasal 56 tentang  Metodologi Pemeriksaan
Perbendaharaan Negara;  Tujuan Pemeriksaan
 Lingkup Pemeriksaan
c. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004, Pasal 2 tentang  Waktu Pemeriksaan
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara;
d. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006, Pasal 1 tentang
Badan Pemeriksa Keuangan;
e. Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 1 Tahun
2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara.

2. Standar Pemeriksaan
02 Standar pemeriksaan atas Pengelolaan Limbah RSUD
adalah Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) Standar Pemeriksaan adalah standar
yang ditetapkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan yang pemeriksaan yang ditetapkan BPK
mengatur Standar Umum, Standar Pelaksanaan
Pemeriksaan dan Standar Pelaporan.

3. Panduan Manajemen Pemeriksaan


03 Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP) atas Pengelolaan
Limbah RSUD adalah PMP yang ditetapkan oleh Badan Panduan Manajemen Pemeriksaan
Pemeriksa Keuangan yang mengatur Perencanaan adalah panduan yang ditetapkan
Pemeriksaan, Pelaksanaan Pekerjaan, Pelaporan BPK
Pemeriksaan, Tindak Lanjut Pemeriksaan dan Evaluasi
Pemeriksaan.

4. Petunjuk Teknis Pemeriksaan


04 Petunjuk teknis pemeriksaan atas Pengelolaan Limbah Petunjuk teknis pemeriksaan atas
RSUD meliputi petunjuk teknis kertas kerja pemeriksaan, pengelolaan limbah RSUD
petunjuk teknis penjaminan mutu pemeriksaan, petunjuk
teknis pengujian sistem pengendalian intern, petunjuk teknis
uji petik pemeriksaan, petunjuk teknis penjaminan mutu
pemeriksaan dan petunjuk teknis pelaporan hasil
pemeriksaan.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 15


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III

5. Metodologi Pemeriksaan
05 Metodologi yang digunakan dalam pemeriksaan Pengelolaan
limbah RSUD secara ringkas meliputi perencanaan, Metodologi Pemeriksaan meliputi 16
pelaksanaan dan pelaporan hasil pemeriksaan yang meliputi langkah dari tahapan perencanaan,
16 langkah/kegiatan. Di dalam proses pemeriksaan tersebut, pelaksanaan, dan pelaporan hasil
pemeriksaan
ukuran atau kriteria yang digunakan adalah standar
pemeriksaan, PMP serta tujuan dan harapan penugasan. Di
dalam proses tersebut, supervisi serta pengendalian dan
penjaminan mutu pemeriksaan dilakukan sepanjang proses
tersebut. Secara ringkas, metodologi pemeriksaan adalah
sebagai berikut

TAHAP PEMERIKSAAN
ATAS
PENGELOLAAN LIMBAH RSUD
Ukuran Mutu Pemeriksaan :
- Standar
Ukuran Pemeriksaan
Kinerja Pemeriksaan:
- Standar Pemeriksaan
- Panduan Manajemen
- Panduan Pemeriksaan
Manajemen Pemeriksaan
- Tujuan & Harapan
- Tujuan Penugasan
& Harapan Penugasan

PERENCANAAN PEMERIKSAAN
PERENCANAAN PEMERIKSAAN PELAKSANAAN PEMERIKSAAN
PELAKSANAAN PEMERIKSAAN PELAPORANHASIL
PELAPORAN HASIL PEMERIKSAAN
PEMERIKSAAN

1. Pemahaman Tujuan 2. Pemenuhan Kebutuhan 11. Pelaksanaan Pengujian 12. Pengujian Sistem
1. Pemahaman
Pemeriksaan Tujuan Pemeriksaan
dan Harapan dan Harapan
Pemeriksa
Penugasan Analitis Terinci Pengendalian Intern
Penugasan 13. Penyusunan Konsep Laporan Hasil
20. Penyusunan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan
8. Pengujian Terinci Pemeriksaan
13. Pengujian Substantif Atas Transaksi & Saldo Akun:
4. Pemantauan Tindak Lanjut - Pendapatan, Belanja, dan Pembiayaan
3. Pemahaman
2.atas Entitas
Pemahaman atas Entitas
Laporan Hasil Pemeriksaan - Aset, Kewajiban, dan Ekuitas Dana 21. Pembahasan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan Dengan
Sebelumnya - Arus Kas Penanggung Jawab Pemeriksaan
9. Penyusunan Konsep Temuan Pemeriksaan 14. Pembahasan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan
Dengan Penanggung Jawab Pemeriksaan
5. Pemahaman3.Sistem
Pemahaman Resiko dan Penilaian
6. Pemahaman
Pengendalian Intern Risiko 14. Penyelesaian Penugasan: 22. Penyampaian Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan Kepada
- Reviu Kewajiban Kontinjensi Kepala Daerah
10. Pembahasan Dengan Pejabat Entitas Yang
- Reviu Kontrak Jangka Panjang
Berwenang
- Identifikasi Kejadian Setelah Tanggal Neraca
4. Pemahaman dan Pengujian Sistem Pengendalian
7. Penetapan Materialitas Intern 23. Pembahasan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan Dengan
15. Penyampaian dan Pembahasan
Pejabat Pemerintah Konsep Laporan
Daerah Yang Berwenang
Awal dan Kesalahan 8. Penentuan Metode Uji Petik
Hasil Pemeriksaan Dengan Pejabat Entitas yang
Tertolerir 15. Penyusunan Ikhtisar 16. Penyusunan Konsep
11. Perolehan
Koreksi TanggapanTemuan
ResmiPemeriksaan
& Tertulis Berwenang
5. Pemenuhan Kebutuhan Pemeriksa
24. Perolehan Surat Representasi
17. Pembahasan Dengan
9. Pelaksanaan Prosedur Analitis Awal 18. Perolehan Tanggapan
Pejabat Pemerintah Daerah
Resmi & Tertulis 16.Penyusunan
25. Penyusunan Konsep
Konsep Akhir
Akhir dan dan Penyampaian
Penyampaian Laporan Hasil
6. Penentuan Pengambilan Sampel 12. Berwenang
Yang Penyampaian Temuan Pemeriksaan
Laporan Pemeriksaan
Hasil Pemeriksaan
10. Penyusunan Program Pemeriksaan dan
7. Penyusunan 19. Penyampaian Temuan Pemeriksaan
ProgramProgram Pemeriksaan dan
Kegiatan Perorangan
Program Kerja Perorangan

SUPERVISI – KENDALI DAN PENJAMINAN MUTU


DOKUMENTASI
(Supervision, PEMERIKSAAN
Quality Control & Assurance)

SUPERVISI – KENDALI DAN PENJAMINAN MUTU


(Supervision, Quality Control & Assurance)

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 16


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III

06 Langkah-langkah tersebut dijelaskan dalam petunjuk


perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan dalam bab ini,
serta untuk supervisi dijelaskan dalam bab berikutnya.
Pemeriksaan Pengendalian Pencemaran Udara dari Sumber Metodologi Pemeriksaan
1. evaluasi dan analisa data
07 Bergerak dalam proses diatas dilaksanakan dengan 2. penamatan fisik di lapangan
menggunakan metodologi pemeriksaan sebagai berikut : 3. wawancara
4. uji petik (sampling)
1) Evaluasi dan analisa data dan dokumen yang diberikan oleh
Unit Kerja Yang Diperiksa (Unit Kerja).
Pemeriksaan Pengendalian Pencemaran Udara dari Sumber
Bergerak yang dilakukan adalah pemeriksaan atas kegiatan
yang telah selesai dilaksanakan oleh unit kerja yang
diperiksa (Post Audit). Pemeriksa mendasarkan pemahaman
dan pembuktian atas kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan
berdasarkan data dan dokumentasi yang diberikan oleh Unit
Kerja.

2) Pengamatan Fisik di lapangan (observasi)


Sebagai upaya untuk menyakinkan pengendalian
pencemaran udara, Pemeriksa juga melakukan uji petik
secara terbatas.

3) Wawancara
Pemeriksa juga melakukan pengumpulan informasi terkait
pengendalian pencemaran udara dari sumber bergerak
dengan melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang
terkait.

4) Uji Petik (sampling)


Pemeriksaan menggunakan mekanisme sampling dengan
memperhatikan faktor-faktor seperti jumlah personil auditor,
waktu, dan risiko terjadinya ketidakpatuhan. Pendekatan uji
petik ini dilakukan dalam menentukan daerah yang akan diuji
petik, dokumen-dokumen yang akan dibahas dan kegiatan-
kegiatan yang akan diuji.
1. Tujuan Pemeriksaan
08 Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai (1) apakah sistem Tujuan pemeriksaan
pengendalian intern atas pengelolaan limbah RSUD telah
didesain dan diselenggarakan secara memadai, (2) apakah
Rumah Sakit Umum Daerah telah merencanakan,
melaksanakan, melaporkan, dan memantau pengelolaan
limbah rumah sakit sesuai dengan peraturan perundangan.
2. Lingkup Pemeriksaan
09 Lingkup pemeriksaan Pengelolaan limbah RSUD meliputi (1) Lingkup pemeriksaan meliputi
kegiatan perencanaan; pengumpulan; penyimpanan; kegiatan pengolahan limbah dan
pemindahan; pengolahan dan pembuangan; serta realisasi pelaksanaan anggaran
pemantauan dan pengawasan pengelolaan limbah, (2) kegiatan pengelolaan limbah RSUD
realisasi pelaksanaan anggaran kegiatan pengelolaan serta pemahaman dan pengujian SPI
limbah, dan (3) pengendalian Intern atas pengelolaan limbah.
3. Waktu Pemeriksaan
Pemeriksaan pengelolaan limbah RSUD dilaksanakan sesuai Waktu Pemeriksaan
10 dengan Rencana Kerja Pemeriksaan (RKP) dengan mengacu
pada Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP) dan harapan
penugasan. Jangka waktu tersebut meliputi pemeriksaan
lapangan sampai dengan penyampaian pelaporan hasil
pemeriksaan kepada DPRD dan Pemerintah Daerah.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 17


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III

B. Petunjuk Perencanaan Pemeriksaan


Perencanaan pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD
11 Perencanaan pemeriksaan atas
meliputi 7 (tujuh) tahapan sebagai berikut: (1) pemahaman pengelolaan limbah RSUD meliputi 7
tujuan pemeriksaan dan harapan penugasan, (2) tahapan sebagai berikut
pemahaman atas entitas, (3) pemahaman risiko, (4)
pemahaman dan pengujian sistem pengendalian intern, (5)
pemenuhan kebutuhan pemeriksa, (6) penentuan 1. Pemahaman Tujuan
Pemeriksaan dan Harapan
pengambilan sampel, dan (7) penyusunan program Penugasan

pemeriksaan dan penyusunan program kerja perorangan.


2. Pemahaman atas Entitas
6. Pemahaman Tujuan Pemeriksaan dan Harapan
Penugasan 3. Pemahaman atas Risiko

Tujuan pemeriksaan pengelolaan limbah RSUD bertujuan


12 untuk meyakinkan bahwa RSUD telah melakukan 4. Pemahaman dan
Pengujian Siatem
pengelolaan limbah rumah sakit sesuai dengan peraturan Pengendalian Intern

perundang-undangan. 5. Pemenuhan Kebutuhan

13 Dalam rangka pencapaian tujuan tersebut, penugasan atas Pemeriksa

pemeriksaan dengan tujuan tertentu memiliki harapan- 6. Penentuan Pengambilan

harapan (expectation) dari pemberi tugas. Pemeriksa harus Sampel

memperoleh harapan-harapan penugasan secara tertulis dari 7. Penyusunan Program

pemberi tugas melalui suatu komunikasi yang intensif. Hal ini Pemeriksaan dan
Program Kegiatan
Perorangan
untuk menghindari harapan-harapan yang tidak dapat
dipenuhi oleh pemeriksa. Harapan dari pemberi tugas
tersebut harus didokumentasikan. Dokumentasi atas
harapan penugasan menjadi salah satu dasar dalam
penyusunan program pemeriksaan dan penentuan
kebutuhan pemeriksa.
Contoh dokumentasi harapan penugasan dapat dilihat pada
Lampiran 3.1.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 18


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III

7. Pemahaman atas Entitas


Pemahaman atas entitas dapat diperoleh dari survai Pemahaman entitas dapat diperoleh
14 pendahuluan atau informasi dalam laporan hasil pemeriksaan dari survai pendahuluan, informasi
sebelumnya, Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP) tahun LHP sebelumnya, KKP tahun
sebelumnya, hasil komunikasi dengan pemeriksa tahun sebelumnya, hasil komunikasi
sebelumnya dan database yang ada pada unit kerja dengan pemeriksa tahun
pemeriksaan. sebelumnya dan database aplikasi
dosir
Pemahaman atas entitas tersebut meliputi pemahaman atas
15 organisasi, kegiatan/program utama entitas, lingkungan yang
mempengaruhi, pejabat terkait sampai dengan satuan kerja
dan kejadian luar biasa yang berpengaruh terhadap kegiatan
pengelolaan limbah RSUD, serta pemantauan tindak lanjut
pimpinan entitas atas laporan hasil pemeriksaan atas
pengelolaan limbah RSUD tahun sebelumnya terkait dengan
pelaksanaan rekomendasi yang diberikan. Pemantauan
tersebut meliputi tindak lanjut rekomendasi yang diberikan
16
terkait dengan efektivitas sistem pengendalian intern dan
kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
Pemeriksa harus meneliti pengaruh tindak lanjut terhadap
17 pengelolaan limbah RSUD yang diperiksa. Hal ini terkait
dengan kemungkinan temuan-temuan pemeriksaan yang
berulang.
Pemahaman pemeriksa atas entitas harus didokumentasikan
dalam KKP. Contoh dokumentasi pemahaman pemeriksa
atas entitas dapat dilihat pada Lampiran 3.2.
Hasil pemahaman atas entitas bermanfaat untuk langkah
pemahaman atas Sistem Pengendalian Intern dan
pemahaman atas resiko.

3. Pemahaman Risiko
18 Pemahaman dan penilaian risiko adalah untuk memahami Pemahaman dan penilaian risiko
risiko yang ditimbulkan dari aktivitas pengelolaan limbah adalah untuk memahami risiko yang
RSUD yang dipakai sebagai pendekatan pengujian ditimbulkan dari aktivitas pengelolaan
substantif, berupa proses perencanaan, pengumpulan, limbah
penyimpanan, pemindahan, pengolahan dan pembuangan,
serta pemantauan dan pengawasan pengelolaan limbah.

19 Pemahaman risiko yang ditimbulkan dari aktivitas


pengelolaan limbah RSUD dapat dilihat dalam lampiran 3.3

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 19


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III

4. Pemahaman dan Pengujian Sistem


Pengendalian Intern
20 Pemeriksa harus memahami sistem pengendalian intern Pemahaman sistem pengendalian
yang didesain dan diselenggarakan oleh entitas. Pemahaman intern, desain, dan implementasinya
atas desain pengendalian intern dilakukan dengan melihat
peraturan perundang-undangan dan kebijakan tertulis/formal
menteri/pimpinan lembaga terkait dengan sistem
pengendalian intern. Pemahaman atas penyelenggaraan
pengendalian intern dilakukan dengan melihat praktik
pengendalian intern pengelolaan limbah RSUD. Selain itu,
pemeriksa perlu mengidentifikasi kelemahan-kelemahan
signifikan atau area-area kritis yang memerlukan perhatian
mendalam.
21 Pemahaman atas sistem pengendalian intern tersebut
membantu pemeriksa untuk (1) mengidentifikasi jenis potensi
kesalahan, (2) mendesain pengujian sistem pengendalian
intern, dan (3) mendesain prosedur pengujian substantif.
22 Pemahaman sistem pengendalian intern meliputi
pemahaman atas komponen-komponen sistem pengendalian
intern. Pemahaman sistem pengendalian intern dilakukan
terhadap pengelolaan limbah RSUD yang diatur dalam
peraturan perundang-undangan, peraturan daerah,
keputusan/peraturan kepala daerah dan kebijakan tertulis.
23 Pemahaman sistem pengendalian intern baik desain dan
penyelenggaraannya didokumentasikan dalam KKP seperti
dalam Lampiran 3.4.
24
Petunjuk pengujian pengendalian meliputi pengujian yang
dilakukan pemeriksa terhadap efektivitas desain dan
implementasi sistem pengendalian intern dalam rangka
pengelolaan limbah. Dalam pengujian desain sistem
pengendalian intern, pemeriksa mengevaluasi apakah sistem
pengendalian intern telah didesain secara memadai dan
dapat meminimalisasi penyimpangan terhadap peraturan
perundangan. Sementara, pengujian implementasi sistem
pengendalian intern dilakukan dengan melihat pelaksanaan
pengendalian pada kegiatan pengelolaan limbah oleh
instalasi pengelola limbah.
25 Pengujian sistem pengendalian intern merupakan dasar
pengujian terinci selanjutnya. Pengujian sistem pengendalian
intern dilakukan berdasarkan pemahaman atas sistem
pengendalian intern pada tahap perencanaan/ persiapan
pemeriksaan.
26 Hasil pengujian sistem pengendalian intern tersebut
digunakan untuk menentukan strategi pengujian pengelolaan
limbah, seperti: (1) apakah pengelolaan limbah telah sesuai
dengan peraturan perundangan dan (2) apakah penggunaan
anggaran dan pendapatan untuk/dari pengelolaan limbah
sesuai dengan peraturan perundangan termasuk biaya
pengadaan dan pemeliharaan sarana pengelolaan limbah,
biaya pengurangan pencemaran, dan biaya penanggulangan
jika pencemaran telah terjadi.
Pengujian pengendalian meliputi pengujian terhadap unsur-
27 unsur pengendalian pada instalasi limbah yang juga dikaitkan
dengan pengendalian entitas RSUD secara keseluruhan.
28 Rincian pengujian pengendalian atas pengelolaan limbah
RSUD dapat dilihat pada Lampiran 3.5.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 20


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III

5. Pemenuhan Kebutuhan Pemeriksa


a. Persyaratan Kemampuan/Keahlian
29 Standar Pemeriksaan mengatur bahwa pemeriksa secara Pemeriksa secara kolektif harus
kolektif harus memiliki kecakapan profesional yang memiliki kecakapan profesional.
memadai untuk melaksanakan tugas pemeriksaan,
memenuhi persyaratan pendidikan berkelanjutan dan
memenuhi persyaratan kemampuan/keahlian pemeriksa.

30 Selain itu, pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan


pengelolaan limbah harus memenuhi kualifikasi
tambahan yaitu memiliki keahlian di bidang auditing,
memahami peraturan perundang-undangan yang
berkaitan dengan pengelolaan limbah pada entitas yang
diperiksa dan sebaiknya telah mengikuti pelatihan atas
pemeriksaan audit berperspektif lingkungan.
Berdasarkan hal tersebut di atas maka dalam rangka Kualifikasi tim pemeriksa harus
31
pemeriksaan pengelolaan limbah RSUD dapat ditentukan memiliki pengalaman dan/atau
kebutuhan atas kuantitas dan kualifikasi pemeriksa pemahaman yang cukup atas
sebagai berikut: pengelolaan limbah dan/atau
pengelolaan lingkungan
1). Tim pemeriksa secara kolektif harus memiliki
pemahaman yang cukup tentang peraturan
perundang-undangan terkait pengelolaan limbah
dan/atau lingkungan hidup dengan melakukan
pendidikan dan pelatihan (diklat).
2). Ketua Tim harus memiliki pengalaman yang
memadai paling tidak 1 (satu) kali melakukan
pemeriksaan dan/atau telah mendapatkan diklat
pengelolaan limbah dan/atau lingkungan.
3). Apabila di dalam tim pemeriksa dibutuhkan
pengendali teknis, maka pengendali teknis tersebut
harus memiliki pengetahuan dan pengalaman
pemeriksaan terkait dengan pengelolaan limbah
RSUD dan atau lingkungan, dan atau pernah menjadi
ketua tim pemeriksa yang terkait paling tidak 1 (satu)
kali.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 21


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III

4). Penanggung jawab pemeriksaan adalah seseorang


yang memangku jabatan struktural/fungsional dan
memiliki pengetahuan dan/atau pengalaman yang
memadai untuk melakukan pemeriksaan limbah
dan/atau lingkungan.
b. Persyaratan Independensi

32 Standar Pemeriksaan mengatur bahwa dalam semua hal


yang berkaitan dengan pekerjaan pemeriksaan,
organisasi pemeriksa dan pemeriksa, harus bebas dalam
sikap mental dan penampilan dari gangguan pribadi,
ekstern, dan organisasi yang dapat mempengaruhi
independensinya.
33 Jika pemeriksa yang terlibat dalam pemeriksaan
Pengelolaan limbah RSUD diragukan tingkat
independensinya maka harus membuat surat
pernyataan gangguan independensi untuk mendapatkan
pertimbangan atas penugasannya dan Penanggung
Jawab harus mempertimbangkan dampak dari kondisi
tersebut terhadap pemeriksaan yang dilakukan.
34 Surat Pernyataan tersebut dapat dilihat pada Lampiran
3.6.

6. Penentuan Pengambilan Sampel


35 Penentuan pengambilan sampel dilaksanakan apabila
Penentuan pengambilan sampel
pemeriksa tidak meyakini keandalan informasi dalam laporan yang akan diuji di laboratorium
pengujian limbah yang dilakukan oleh entitas atau
Bapedalda.
36 Penentuan pengambilan sampel pada pemeriksaan atas
pengelolaan limbah RSUD dilakukan untuk menguji apakah
hasil pengolahan limbah telah sesuai dengan peraturan
perundangan-undangan terkait yang menetapkan baku mutu
parameter yang diuji.
37 Pengujian laboratorium yang akan dilakukan saat
pelaksanaan pemeriksaan, antara lain:
1) limbah cair masukan (influent) pada inlet instalasi
pengolahan air limbah (IPAL);
2) hasil olahan limbah cair (effluent) pada outlet IPAL;
3) tingkat kebauan pada fasilitas RSUD yang paling dekat
dengan IPAL atau berdasarkan hasil observasi dan
pertimbangan profesional pemeriksa;
4) debu/abu hasil olahan insinerator;
5) emisi cerobong insinerator;
6) udara ambien pada fasilitas RSUD yang paling dekat
dengan insinerator atau berdasarkan hasil observasi dan
pertimbangan profesional pemeriksa;
7) limbah cair sebelum disalurkan ke inlet IPAL pada
Instalasi Gizi dan Laundry.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 22


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III

Pemeriksa harus mengusulkan pengujian laboratorium


dengan cara:
38
1) Mendapatkan informasi tentang tenaga ahli yang
independen untuk menguji hasil pengolahan limbah
dan/atau laboratorium di luar RSUD;
2) Menentukan waktu pengambilan sampel sampai dengan
diterimanya hasil laboratorium yang disesuaikan dengan
jangka waktu pemeriksaan;
3) Memperhitungkan anggaran biaya pengujian
laboratorium

39 7. Penyusunan Program Pemeriksaan dan


Program Kerja Perorangan
Berdasarkan persiapan pemeriksaan di atas, pemeriksa
Program pemeriksaan atas
menyusun program pemeriksaan atas pengelolaan limbah
Pengelolaan limbah RSUD dan
RSUD. Program pemeriksaan mengungkapkan antara lain (1) Program Kerja Perorangan disusun
Dasar pemeriksaan, (2) Standar dan pedoman pemeriksaan, berdasarkan persiapan pemeriksaan
(3) Entitas yang diperiksa, (4) Tahun anggaran/tahun buku
yang diperiksa, (5) Identitas dan data umum entitas yang
diperiksa, (6) Tujuan pemeriksaan, (7) Metodologi
pemeriksaan, (8) Sasaran yang diperiksa, (9) Pengarahan
pemeriksaan, (10) Jangka waktu pemeriksaan, (11) Susunan
tim pemeriksaan, (12) Instansi penerima hasil pemeriksaan,
dan (13) Kerangka isi laporan.
Berdasarkan program pemeriksaan yang ditetapkan oleh
Tortama/Kepala Perwakilan, ketua tim pemeriksa membuat
pembagian tugas dan anggota tim menyusun program kerja
perorangan dan disampaikan kepada ketua tim untuk
mendapatkan persetujuan.
Bentuk Program Pemeriksaan dan Program Kerja
Perorangan mengacu pada Panduan Manajemen
Pemeriksaan (PMP).

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 23


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III

C. Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan


40 Pelaksanaan pemeriksaan atas Pengelolaan limbah RSUD Pelaksanaan pemeriksaan meliputi 5
meliputi 5 (lima) tahapan, yaitu: (1) Pengujian terinci, (2) kegiatan berikut:
Penyusunan Konsep Temuan Pemeriksaan, (3) Pembahasan
dengan Pejabat Entitas yang Berwenang, (4) Perolehan 8. Pengujian Terinci
Tanggapan Resmi & Tertulis, (5) Penyampaian Temuan
Pemeriksaan.

9. Penyusunan Konsep
1. Pengujian Terinci Temuan Pemeriksaan

41 Pengujian terinci meliputi pengujian atas aktivitas


pengelolaan limbah, penggunaan anggaran dan pendapatan 10. Pembahasan dengan
untuk pengadaan dan pemeliharaan sarana pengelolaan Pejabat Entitas yang
limbah, serta pelaporannya dalam laporan unit pengelola Berwenang
limbah. Pengujian tersebut memperhatikan efektivitas sistem
pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan.
42 Pengujian terinci meliputi pengujian pada: 11. Perolehan Tanggapan
a. Kegiatan perencanaan penanganan limbah; Resmi & Tertulis
b. Kegiatan pengumpulan limbah;
c. Kegiatan pengolahan limbah;
d. Kegiatan pembuangan limbah olahan;
e. Kegiatan pemeliharaan sarana pengelolaan limbah; 12. Penyampaian Temuan
f. Kegiatan pengadaan barang dan jasa atas pengelolaan Pemeriksaan
limbah;
g. Kegiatan pengurangan pencemaran;
h. Kegiatan penanggulangan jika sudah terjadi Pengujian terinci meliputi pengujian
pencemaran. aktivitas serta penggunaan
43 anggaran pengelolaan limbah
Rincian pengujian terinci dapat dilihat pada Lampiran 3.7.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 24


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III

2. Penyusunan Konsep Temuan Pemeriksaan


44 Konsep Temuan Pemeriksaan atas pengelolaan limbah Konsep Temuan Pemeriksaan
merupakan permasalahan yang ditemukan oleh pemeriksa meliputi ketidakefektivan SPI dan
yang perlu dikomunikasikan kepada RSUD. Permasalahan kecurangan/penyimpangan serta
ketidakpatuhan pada ketentuan
tersebut meliputi: (1) ketidakefektivan sistem pengendalian
perundangan
intern dan (2) kecurangan dan penyimpangan dari ketentuan
peraturan perundang-undangan.
45 Konsep Temuan Pemeriksaan tersebut disampaikan ketua
tim pemeriksa kepada pejabat RSUD yang berwenang untuk
mendapatkan tanggapan tertulis dan resmi.
Contoh Konsep Temuan Pemeriksaan mengacu pada Juknis
Pelaporan Hasil Pemeriksaan.
3. Pembahasan dengan Pejabat Entitas yang
Berwenang
46 Pemeriksa melakukan pembahasan atas Konsep Temuan
Pemeriksaan dengan pejabat entitas yang berwenang dalam
hal ini Direktur RSUD.
47 Pembahasan tersebut akan dimintakan tanggapan dari
pejabat entitas yang berwenang.

4. Perolehan Tanggapan Resmi dan Tertulis


48 Pemeriksa memperoleh tanggapan resmi dan tertulis atas Tanggapan resmi dan tertulis atas
konsep LTP diperoleh dari pejabat
Konsep Temuan Pemeriksaan dari pejabat entitas yang RSUD yang berwenang
berwenang dalam hal ini Direktur RSUD.
49
Tanggapan tersebut akan diungkapkan dalam Temuan
Pemeriksaan atas Pengelolaan Limbah RSUD.

5. Penyampaian Temuan Pemeriksaan


50 Pemeriksa dalam hal ini ketua tim menyampaikan Temuan Temuan pemeriksaan atas
Pengelolaan limbah RSUD
Pemeriksaan kepada Direktur RSUD dan Kepala Daerah diserahkan oleh ketua tim kepada
terkait. Direktur RSUD dan Kepala Daerah
Penyampaian Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan terkait.
51
Limbah RSUD tersebut merupakan akhir dari pekerjaan
lapangan pemeriksaan Pengelolaan Limbah RSUD. Hal ini
merupakan batas tanggung jawab pemeriksa terhadap
kondisi pengelolaan limbah yang diperiksa. Pemeriksa tidak
dibebani tanggung jawab atas suatu kondisi yang terjadi
setelah tanggal pekerjaan lapangan tersebut. Oleh karena itu,
tanggal penyampaian temuan pemeriksaan tersebut
merupakan tanggal laporan hasil pemeriksaan.

D. Petunjuk Pelaporan Hasil Pemeriksaan


52 Pelaporan hasil pemeriksaan atas Pengelolaan Limbah RSUD Pelaporan hasil pemeriksaan
meliputi (1) Penyusunan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan, meliputi 4 kegiatan sebagai berikut.
(2) Pembahasan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan dengan
Penanggungjawab Pemeriksaan, (3) Penyampaian dan
Pembahasan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan dengan
Pejabat Entitas yang Berwenang, dan (4) Penyusunan Konsep
Akhir dan Penyampaian Laporan Hasil Pemeriksaan.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 25


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III

1. Penyusunan Konsep Laporan Hasil 13. Penyusunan Konsep


Laporan Hasil Pemeriksaan
Pemeriksaan
52 Konsep laporan hasil pemeriksaan disusun oleh ketua tim
14. Pembahasan Konsep
pemeriksa dan disupervisi oleh pengendali teknis. Laporan Hasil Pemeriksaan
dengan Penanggung Jawab
Hasil Pemeriksaan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Limbah Pemeriksaan
53 RSUD menjelaskan kepatuhan terhadap Standar
Pemeriksaan Keuangan Negara dan berpedoman kepada
15. Penyampaian Konsep
Panduan Manajemen Pemeriksaan serta terdiri atas: Laporan Hasil Pemeriksaan
dengan Pejabat Entitas yang
a. Gambaran Umum Pemeriksaan yang memuat tentang (1) Berwenang
dasar hukum pemeriksaan, (2) tujuan pemeriksaan, (3)
alasan pemeriksaan, (4) sasaran pemeriksaan, (5) obyek
pemeriksaan, (6) periode yang diperiksa, (7) jangka 16. Penyusunan Konsep
waktu pemeriksaan, (8) metode pemeriksaan, (9) Akhir dan Penyampaian
batasan pemeriksaan, dan (10) kriteria pemeriksaan. Laporan Hasil Pemeriksaan

b. Pengelolaan Limbah RSUD yang memuat tentang (1)


gambaran umum RSUD, (2) jenis limbah yang dihasilkan
RSUD, (3) dampak limbah, (4) pengelolaan limbah yang
meliputi mekanisme pengelolaan per jenis limbah dan
sumber daya yang terkait dengan pengelolaan limbah,
dan (5) hasil penilaian terhadap sistem pengendalian
intern pengelolaan limbah yang meliputi organisasi,
kebijaksanaan, perencanaan, prosedur kerja, pencatatan,
personalia/sumber daya manusia, pelaporan, dan
pengawasan intern.
c. Hasil Pemeriksaan Pengelolaan Limbah RSUD yang
memuat tentang (1) hasil pemeriksaan atas pelaksanaan
pengelolaan limbah, (2) hasil pemeriksaan atas
pengawasan/pemantauan pengelolaan limbah.
Keseluruhan hasil pemeriksaan tersebut masing-masing
dilengkapi dengan tanggapan dari Direksi RSUD dan
rekomendasi BPK terhadap temuan pemeriksaan yang
termuat di dalam konsep hasil pemeriksaan tersebut.

2. Pembahasan Konsep Laporan Hasil


Pemeriksaan dengan Penanggung Jawab
Pemeriksaan
54 Pembahasan Konsep Hasil
Setelah dibahas bersama pengendali teknis, pembahasan Pemeriksaan dilaksanakan secara
KHP dilanjutkan dengan pembahasan bersama penanggung berjenjang sampai dengan
jawab pemeriksaan dan diikuti oleh pengendali teknis, ketua penanggung jawab
tim dan anggota tim pemeriksaan. Materi dari pembahasan
tersebut adalah konsep hasil pemeriksaan yang telah
didiskusikan tim pemeriksa dengan pengendali teknis.
Kesimpulan atas pembahasan KHP dengan penanggung
jawab pemeriksaan dituangkan dalam konsep resume hasil
pemeriksaan. Konsep resume hasil pemeriksaan tersebut
menjadi bagian dari konsep hasil pemeriksaan. Seluruh hasil
pembahasan didokumentasikan dalam Risalah Pembahasan
yang disimpan di dalam KKP.

3. Penyampaian dan Pembahasan Konsep


Laporan Hasil Pemeriksaan dengan Pejabat
Entitas yang Berwenang (Direksi RSUD)
56
Konsep hasil pemeriksaan yang telah disetujui penanggung
jawab disampaikan kepada direksi RSUD untuk dimintai
tanggapannya atas simpulan pemeriksaan pengelolaan
Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 26
Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 27


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab IV

BAB IV
PENGENDALIAN DAN PENJAMINAN MUTU

A. Dasar Pengendalian dan Penjaminan Mutu


01 Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) dalam Standar Umum keempat SPKN
pernyataan standar umum keempat mensyaratkan bagi setiap mensyaratkan setiap organisasi
organisasi pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan pemeriksa yang melaksanakan
berdasarkan SPKN untuk memiliki sistem pengendalian mutu pemeriksaan berdasarkan SPKN
untuk memiliki sistem pengendalian
yang memadai, dan sistem pengendalian mutu tersebut harus mutu yang memadai, dan sistem
direviu oleh pihak lain yang berkompeten. pengendalian mutu tersebut harus
02 direviu oleh pihak lain yang
Terkait dengan hal tersebut maka dalam rangka pemeriksaan
berkompeten
pengelolaan limbah RSUD dibutuhkan adanya pengendalian
mutu dan penjaminan mutu.

B. Pengertian Pengendalian dan Penjaminan Mutu


03 Pengendalian mutu merupakan serangkaian tindakan yang Pengendalian mutu memastikan bahwa
proses pemeriksaan telah dilaksanakan
dilakukan untuk memastikan bahwa proses pemeriksaan telah sesuai dengan perencanaan
dilaksanakan sesuai dengan perencanaan pemeriksaan dan pemeriksaan dan harapan penugasan
harapan penugasan pemeriksaan, serta telah memenuhi serta telah memenuhi SPKN
SPKN.
04 Sedangkan penjaminan mutu merupakan tindakan untuk Penjaminan mutu memastikan bahwa
memastikan bahwa proses pengendalian mutu telah proses pengendalian mutu telah
dilaksanakan. dilaksanakan

C. Proses Pengendalian dan Penjaminan Mutu


1. Proses Pengendalian Mutu
Pengendalian mutu dilaksanakan melalui
05 Pengendalian mutu dilaksanakan melalui dua bentuk 2 bentuk pengendalian, yaitu (1)
pengendalian, yaitu (1) pengendalian mutu oleh tim secara pengendalian mutu oleh Tim secara
berjenjang dan (2) pengendalian mutu oleh penanggung berjenjang dan (2) pengendalian mutu
jawab penugasan. oleh penanggung jawab penugasan

06 Penjaminan mutu oleh Tim merupakan proses supervisi yang Supervisi dilaksanakan secara
dilakukan secara berjenjang oleh Kasub Tim/Ketua Tim, berjenjang
Pengendali Teknis dan Penanggung Jawab Tim.
Proses supervisi meliputi:
a. Ketua Tim melakukan supervisi atas anggota tim pada
saat pelaksanaan pekerjaan lapangan dengan
mendasarkan pada Program Kerja Perorangan (PKP).
b. Pengendali Teknis melakukan supervisi atas Ketua Tim.
c. Penanggung Jawab melakukan supervisi atas
Pengendali Teknis.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 27


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab IV

07 Pelaksanaan kegiatan supervisi didokumentasikan dalam


lembar Review Sheet. Apabila memungkinkan, supervisi
pada masing-masing jenjang diungkapkan dalam tulisan atau
catatan dengan warna yang berbeda. Contoh Review Sheet
dapat dilihat di Lampiran 4.1
08 Supervisi oleh ketua tim, pengendali teknis, dan penanggung Tugas supervisi oleh Ketua Tim,
Pengendali Teknis, dan Penanggung
jawab meliputi pemberian saran bagi tim pemeriksa apabila
Jawab meliputi memberikan saran
menemukan kendala dalam pemeriksaan dan pemantauan dan memantau pelaksanaan
implementasi metodologi pemeriksaan. Sebagai contoh metodologi pemeriksaan
adalah pemberian pendapat mengenai kriteria pemeriksaan
yang dapat dipakai untuk suatu indikasi temuan pemeriksaan
tertentu, penambahan langkah-langkah prosedur
pemeriksaan, pemberian saran terkait dengan temuan
pemeriksaan berdasarkan pengalaman profesionalismenya,
dan sebagainya.
09 Dengan demikian, dalam supervisi perlu ditekankan pada: (1)
pemenuhan tujuan dan harapan penugasan, (2) pelaksanaan
program pemeriksaan, serta (3) penyusunan dan substansi
laporan hasil pemeriksaan.
Supervisi meliputi supervisi
10 Dengan demikian, hal-hal yang perlu dilakukan dalam
pemenuhan tujuan dan harapan
supervisi meliputi supervisi atas (1) pemenuhan tujuan dan penugasan, pelaksanaan program
harapan penugasan, (2) pelaksanaan program pemeriksaan, pemeriksaan, serta penyusunan dan
serta (3) penyusunan dan substansi laporan hasil substansi laporan hasil pemeriksaan
pemeriksaan.
11 Pelaksanaan supervisi secara berjenjang tersebut dilakukan
dengan mengisi laporan perkembangan pelaksanaan
pemeriksaan. Laporan perkembangan tersebut antara lain
mengungkapkan kesesuaian atau pencapaian pelaksanaan
pemeriksaan dengan tujuan dan harapan penugasan serta
program pemeriksaan. Contoh laporan perkembangan
pelaksanaan pemeriksaan dapat dilihat di Lampiran 4.2
12 Untuk menjamin kesimpulan yang sama terhadap
permasalahan yang sama, orang yang melakukan supervisi
tersebut mengikuti konsolidasi pelaksanaan dan pelaporan
hasil pemeriksaan.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 28


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab IV

a. Supervisi pemenuhan tujuan dan harapan


penugasan.
Supervisi pemenuhan tujuan dan harapan penugasan Supervisi pemenuhan tujuan dan
13
dilakukan untuk melihat apakah pelaksanaan harapan penugasan dilakukan oleh
pemeriksaan dan hasil pemeriksaan dapat atau telah Ketua Tim, Pengendali Teknis, dan
memenuhi tujuan dan harapan penugasan. Hal tersebut Penanggung Jawab untuk melihat
meliputi pemenuhan tujuan pemeriksaan untuk menilai pemenuhan tujuan pemeriksaan
apakah pengelolaan limbah RSUD telah dilaksanakan pengelolaan limbah RSUD dan
pemenuhan harapan penugasan
sesuai dengan ketentuan dan pemenuhan harapan yang tertuang dalam formulir
penugasan seperti tertuang dalam formulir pemenuhan pemenuhan harapan penugasan
harapan penugasan.
14 Ketua tim pemeriksaan bertanggung jawab untuk
melakukan supervisi atas pekerjaan pemeriksa dengan
melakukan reviu pelaksanaan pemenuhan tujuan dan
harapan penugasan. Supervisi tersebut dilakukan pada
kegiatan anggota tim antara lain melalui reviu kertas kerja
pemeriksaan.
15 Pengendali teknis melakukan supervisi atas pemenuhan
tujuan dan harapan penugasan atas kegiatan supervisi
ketua tim. Hal ini dilakukan dengan mereviu hasil
pekerjaan ketua tim di dalam mereviu kertas kerja
anggota tim pemeriksaan dan secara uji petik melakukan
reviu kegiatan anggota tim tersebut. Selanjutnya,
penanggung jawab melakukan supervisi kegiatan
pengendali teknis.

16 Pengendali teknis dan atau penanggung jawab


menggunakan program pemeriksaan dan formulir
harapan penugasan sebagai kriteria penilaian. Apabila
terjadi penyimpangan dari tujuan dan harapan
penugasan, pengendali teknis dan atau penanggung
jawab menanyakan latar belakang, alasan, dan
sebabnya, serta mengambil kesimpulan apakah
menerima penyimpangan tersebut atau tidak.

17 Untuk menjamin agar penilaian masing-masing orang


yang melakukan supervisi bisa seragam terhadap kriteria
supervisi, orang yang melakukan supervisi tersebut harus
menggunakan harapan penugasan sebagai acuan.
Hasil supervisi dituangkan dalam kertas kerja
18
pemeriksaan yang sesuai dengan pengungkapan
persetujuan atau catatan disertai paraf dan tanggal.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 29


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab IV

b. Supervisi pelaksanaan program pemeriksaan


19 Supervisi pelaksanaan program pemeriksaan dilakukan Supervisi pelaksanaan program
oleh ketua tim dengan membubuhkan tick mark atau pemeriksaan dilakukan oleh ketua
tim, pengendali teknis, dan
catatan dengan paraf dan tanggal pada program penanggung jawab secara
pemeriksaan yang dijadikan kertas kerja pemeriksaan. berjenjang
Supervisi juga dilakukan terhadap substansi yang
dihasilkan dalam pelaksanaan pemeriksaan.
Pengendali teknis menguji hasil supervisi yang dilakukan
20 oleh ketua tim terhadap pelaksanaan program
pemeriksaan serta mereviu secara uji petik atas langkah
pemeriksaan dalam program pemeriksaan tersebut dan
melihat hasil pemeriksaan apakah telah sesuai dengan
program pemeriksaan. Hasil supervisi pengendali teknis
diungkapkan dalam program pemeriksaan yang akan
dijadikan kertas kerja pemeriksaan (yang telah
disupervisi ketua tim pemeriksaan) dengan
membubuhkan catatan dan paraf serta tanggal supervisi
dilakukan.
21 Penanggung jawab mereviu pekerjaan pengendali teknis
atas supervisi program pemeriksaan dan melakukan
reviu secara uji petik hasil supervisi tersebut. Hasil
supervisi diungkapkan dengan membuat catatan, paraf,
dan tanggal pelaksanaan supervisi dalam program
pemeriksaan yang telah diberikan catatan oleh
pengendali teknis dan ketua tim. Apabila catatan-catatan
tersebut tidak dapat atau tidak mungkin dilaksanakan,
maka akan didiskusikan dengan pemberi catatan untuk
memperoleh keputusan selanjutnya yang diparaf oleh
pemberi catatan.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 30


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab IV

c. Supervisi penyusunan dan substansi laporan hasil


pemeriksaan
Ketua tim melakukan supervisi proses penyusunan dan Ketua tim melakukan supervisi
22
bertanggung jawab atas susbstansi konsep laporan hasil proses penyusunan dan substansi
pemeriksaan pengelolaan limbah RSUD. Supervisi konsep laporan hasil pemeriksaan
tersebut meliputi (1) kesesuaian dengan standar, pengelolaan limbah RSUD
pedoman, petunjuk pelaksanaan, dan petunjuk teknis
yang terkait; (2) materi laporan; (3) keakuratan angka; (4)
tata bahasa; dan (5) waktu pelaporan.
Hasil supervisi berupa persetujuan atau catatan di dalam
23 konsep laporan hasil pemeriksaan yang disertai dengan
paraf dan tanggal.
24 Pengendali teknis dan atau penanggung jawab Pengendali teknis dan atau
melakukan supervisi penyusunan dan substansi laporan penanggung jawab melakukan
hasil pemeriksaan pengelolaan limbah RSUD baik supervisi penyusunan dan substansi
melalui catatan dalam konsep laporan tersebut atau laporan hasil pemeriksaan
dalam pemberian pendapat atau arahan dalam pengelolaan limbah RSUD
pemantauan laporan tersebut. Catatan atas konsep
laporan harus diparaf dan diberi tanggal. Untuk pendapat
atau arahan, maka ketua tim pemeriksa bertanggung
jawab menyusun risalah pemantauan yang diparaf oleh
pengendali teknis dan penanggung jawab.

25 Untuk mengendalikan mutu pelaporan digunakan Lembar


Kendali Penyelesaian Laporan (LKPL) yang digunakan
untuk memonitor ketepatan waktu penyelesaian laporan
pemeriksaan. Bentuk LKPL dimuat dalam Lampiran 4.3.
LKPL ditempatkan pada map yang menjadi sampul
pengantar berkas KHP beserta konsep surat keluar.

26 Selain oleh Penanggung Jawab pemeriksaan, penjaminan Penjaminan mutu dilaksanakan oleh
mutu dapat dilaksanakan pula oleh unit kerja pengawasan penanggung jawab penugasan, unit
internal BPK-RI dan pihak lain yang kompeten. kerja pengawasan internal BPK-RI
dan pihak lain yang berkompeten
27 Penanggung jawab memastikan bahwa seluruh proses
pengendalian mutu oleh Tim telah dilaksanakan.
Unit kerja pengawasan internal BPK-RI dapat melakukan
28 pengawasan atas pelaksanaan pemeriksaan oleh Tim untuk
memastikan bahwa pemeriksaan telah dilaksanakan sesuai
dengan perencanaan dan telah memenuhi persyaratan yang
dimuat dalam SPKN.
Pihak lain yang berkompeten dapat melakukan reviu atas
29 desain pengendalian mutu dan pelaksanaan pengendalian
mutu yang dikembangkan oleh BPK-RI. Pelaksanaan reviu
pengendalian mutu oleh organisasi pemeriksa ekstern yang
berkompeten tersebut harus memenuhi persyaratan yang
dimuat dalam SPKN.

D. Pendokumentasian Proses Penjaminan Mutu


30 Proses penjaminan mutu harus didokumentasikan untuk Proses penjaminan mutu harus
memudahkan dalam proses reviu oleh pihak lain yang didokumentasikan untuk
berkompeten. Contoh check list pengendalian mutu dan memudahkan dalam proses reviu
penjaminan mutu dapat dilihat pada Lampiran 4.4. oleh pihak lain yang berkompeten

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 31


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab V Pemantauan Tindak Lanjut

BAB V
PEMANTAUAN TINDAK LANJUT
LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN

A. Tindak Lanjut Laporan Hasil Pemeriksaan


01 Tindak lanjut hasil pemeriksaan dilakukan oleh manajemen Tindak lanjut laporan hasil
entitas yang diperiksa. Entitas menindaklanjuti laporan hasil pemeriksaan merupakan kewajiban
pemeriksaan BPK atas pengelolaan limbah RSUD dan manajemen entitas yang diperiksa
memberikan jawaban/keterangan mengenai tindak lanjut
tersebut paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak laporan hasil
pemeriksaan tersebut diterima.
02 Pemeriksa memantau tindak lanjut hasil pemeriksaan.
Pemantauan tersebut dilakukan setelah menerima jawaban/
keterangan dimaksud atau pada saat pemeriksaan yang akan
datang seperti diungkapkan dalam petunjuk perencanaan
pemeriksaan. Tidak ada batasan tahun LHP yang ditindaklanjuti,
selama temuan belum ditindaklanjuti maka pemeriksa perlu
terus memantau tindak lanjut. Hasil pemantauan setelah
menerima jawaban/keterangan tersebut disampaikan kepada
DPRD. Hasil pemantauan dalam pemeriksaan digunakan untuk
pengembangan prosedur pemeriksaan selanjutnya.
03 Pemantauan tindak lanjut tersebut dapat dilakukan dengan
kegiatan, antara lain: (1) memberitahukan secara tertulis
kewajiban tindak lanjut tersebut kepada manajemen entitas
yang diperiksa, (2) mereviu jawaban/keterangan dari
manajemen entitas yang diperiksa, (3) melaporkan pemantauan
tindak lanjut, dan (4) melakukan pemantauan tindak lanjut pada
saat pemeriksaan.

B. Pemberitahuan Tertulis tentang Kewajiban Tindak Lanjut


04 Pemberitahuan tertulis tentang kewajiban tindak lanjut Pemberitahuan tertulis tentang
merupakan informasi kepada pejabat berwenang untuk kewajiban tindak lanjut merupakan
melakukan penjelasan tindak lanjut hasil pemeriksaan Badan informasi kepada pejabat berwenang
Pemeriksa Keuangan sesuai dengan Pasal 20 UU No. 15 Tahun untuk melakukan penjelasan tindak
lanjut hasil pemeriksaan
2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara. Pemberitahuan tersebut dilakukan dengan .
menyampaikan surat dari Kepala Perwakilan BPK-RI kepada
pemerintah daerah mengenai kewajiban memberikan
penjelasan/keterangan tindak lanjut hasil pemeriksaan.
05 Pemberitahuan tertulis tersebut dapat dilakukan melalui surat
pengantar penyampaian laporan hasil pemeriksaan atas
pengelolaan limbah RSUD dalam satu paragraf akhir surat atau
melalui surat terpisah setelah penyampaian laporan hasil
pemeriksaan dimaksud.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 31


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab V Pemantauan Tindak Lanjut

C. Reviu Atas Jawaban/Keterangan Pemerintah Daerah


06 Reviu atas jawaban/keterangan pemerintah daerah dilakukan Reviu atas jawaban/keterangan
pelaksana yang ditunjuk untuk melihat kesesuaian pelaksanaan pemerintah daerah dilakukan tim
tindak lanjut dengan rekomendasi BPK dalam laporan hasil pemeriksa untuk melihat kesesuaian
pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD. Kesimpulan reviu pelaksanaan tindak lanjut dengan
rekomendasi BPK
tersebut antara lain (1) telah sesuai dengan rekomendasi, (2)
belum sesuai dengan rekomendasi, dan (3) belum
ditindaklanjuti.
07 Hasil reviu tersebut disampaikan kepada atasan pelaksana yang
ditunjuk secara berjenjang sampai dengan Kepala Perwakilan.

D. Pelaporan atas Pemantauan Tindak Lanjut


08 Hasil pemantauan tindak lanjut tersebut dituangkan dalam Hasil pemantauan tindak lanjut
laporan hasil pemantauan tindak lanjut dengan kesimpulan (1) tersebut dituangkan dalam laporan
selesai sesuai dengan rekomendasi, (2) belum selesai sesuai hasil pemantauan tindak lanjut
rekomendasi, atau (3) belum ditindaklanjuti. Laporan
Pemantauan Tindak Lanjut ditandatangani oleh Kepala
Perwakilan, dan disampaikan kepada DPRD, Kepala Daerah
dan APIP entitas yang diperiksa.
Bentuk laporan tindak lanjut sesuai dengan PMP.

E. Pemantauan Tindak Lanjut Pada Saat Pemeriksaan


09 Pemeriksa wajib melakukan pemantauan atas tindak lanjut yang Pemeriksa wajib melakukan
dilakukan oleh pemerintah daerah terhadap laporan hasil pemantauan atas tindak lanjut yang
pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD yang telah dilakukan pemerintah daerah
dilakukan sebelumnya. kegiatan ini merupakan bagian dari
pemahaman entitas seperti dijelaskan dalam Bab 3.
10 Hasil pemantauan tindak lanjut pada saat pemeriksaan
mengembangkan prosedur pemeriksaan selanjutnya. Hal
tersebut meliputi antara lain atas kemungkinan terjadinya
temuan yang berulang.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 32


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab VI

BAB VI
PENUTUP

A. Pemberlakuan Petunjuk Teknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan


Limbah RSUD
01 Petunjuk teknis pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD Juknis pemeriksaan ini mulai
berlaku sejak tahun 2008 sesuai dengan Surat Keputusan berlaku sejak tahun 2008
Kepala Ditama Revbang.

B. Pemutakhiran Petunjuk Teknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan


Limbah RSUD
02 Pemutakhiran petunjuk teknis pemeriksaan atas pengelolaan Pemutakhiran juknis pemeriksaan
limbah RSUD dapat berupa perubahan petunjuk teknis atas pengelolaan limbah RSUD
dimaksud atau penjelasan atas substansi petunjuk teknis dapat berupa perubahan juknis atau
tersebut. penjelasan substansi

03 Perubahan atas petunjuk teknis ini akan disampaikan secara


resmi melalui Surat Keputusan Kaditama Revbang tentang
Perubahan Petunjuk Teknis dimaksud.
04 Penjelasan atas substansi petunjuk teknis pemeriksaan atas
pengelolaan limbah RSUD disampaikan secara tertulis oleh Sub
Direktorat Penelitian dan Pengembangan Pemeriksaan Dengan
Tujuan Tertentu, Direktorat Penelitian dan Pengembangan,
Direktorat Utama Perencanaan, Evaluasi, Pengembangan,
Pendidikan dan Pelatihan Pemeriksaan Keuangan Negara
Badan Pemeriksa Keuangan.

C. Pemantauan Petunjuk Teknis Pemeriksaan Pengelolaan Limbah


RSUD
05 Petunjuk teknis ini merupakan dokumen yang dapat berubah Pemantuan juknis pemeriksaan
sesuai dengan perubahan peraturan perundang-undangan, pengelolaan limbah RSUD dilakukan
standar pemeriksaan, dan kondisi lain. Oleh karena itu, oleh Bidang Litbang Pemeriksaan
pemantauan atas juknis ini akan dilakukan oleh tim pemantauan Dengan Tujuan Tertentu
juknis pemeriksaan. Selain itu, masukan atau pertanyaan terkait
dengan petunjuk teknis ini dapat disampaikan kepada:
Sub Direktorat Litbang Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu
Direktorat Penelitian dan Pengembangan
Direktorat Utama Perencanaan, Evaluasi, Pengembangan,
Pendidikan dan Pelatihan Pemeriksaan Keuangan Negara
Lantai II Gedung Arsip, BPK-RI
Jl. Gatot Subroto 31 Jakarta 10210
Telp. (021)-5704395 pesawat 327
Email: litbangpdtt@bpk.go.id

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 33


Direktorat Penelitian dan Pengembangan Telp. : 021-5704395 Ext.657/104
Badan Pemeriksa Keuangan Fax. : 021-5705376
Gd. Arsip Lantai II e-mail : litbang@bpk.go.id
Jl. Gatot Subroto No. 31
Jakarta Pusat 10210
Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 2.1

PERSYARATAN DAN TATA LAKSANA


PENGELOLAAN LIMBAH RUMAH SAKIT
(Berdasarkan KEPMENKES RI NO. 1204/MENKES/SK/X/2004 tentang
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit)

A. PERSYARATAN
1. Limbah Medis Padat
a Minimisasi Limbah
1) Setiap rumah sakit harus rnelakukan reduksi limbah dimulai dari sumber.
2) Setiap rumah sakit harus mengelola dan mengawasi penggunaan bahan kimia
yang berbahaya dan beracun.
3) Setiap rumah sakit harus melakukan pengelolaan stok bahan kimia dan farmasi.
4) Setiap peralatan yang digunakan dalam pengelolaan Iimbah medis mulai dari
pengumpulan, pengangkutan, dan pemusnahan harus melalui sertifikasi dari
pihak yang berwenang .
b Pemilahan, Pewadahan, Pemanfaatan Kembali dan Daur Ulang
1) Pemilahan Iimbah harus dilakukan mulai dari sumber yang menghasilkan Iimbah.
2) Limbah yang akan dimanfaatkan kembali harus dipisahkan dari limbah yang tidak
dimanfaatkan kembali.
3) Limbah benda tajam harus dikumpulkan dalam satu wadah tanpa memperhatikan
terkontaminasi atau tidaknya. Wadah tersebut harus anti bocor, anti tusuk dan
tidak mudah untuk dibuka sehingga orang yang tidak berkepentingan tidak dapat
membukanya.
4) Jarum dan syringes harus dipisahkan sehingga tidak dapat digunakan kembali.
5) Limbah medis padat yang akan dimanfaatkan kembali harus melalui proses
sterilisasi sesuai Tabel 1.10. Untuk menguji efektifitas sterilisasi panas harus
dilakukan tes Bacillus stearothermophilus dan untuk sterilisasi kimia harus
dilakukan tes Bacillus subtilis.

6) Limbah jarum hipodermik tidak dianjurkan untuk dimanfaatkan kembali. Apabila


rumah sakit tidak mempunyai jarum yang sekali pakai (disposable), limbah jarum
hipodermik dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui proses salah satu
metode sterilisasi pada Tabel 1.10

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 1


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 2.1

7) Pewadahan limbah medis padat harus memenuhi persyaratan dengan


penggunaan wadah dan label seperti pada Tabel 1.11
8) Daur ulang tidak bisa dilakukan oleh rumah sakit kecuali untuk pemulihan gerak
yang dihasilkan dari proses film sinar X

9) Limbah sitotoksis dikumpulkan dalam wadah yang kuat, anti bocor, dan diberi
label bertuliskan 'Limbah Sitotoksis'.
c Pengumpulan, Pengangkutan, dan Penyimpanan Limbah Medis Padat dl
lingkungan Rumah Sakit
1) Pengumpulan limbah medis padat dari setiap ruangan penghasil limbah
menggunakan troli khusus yang tertutup.
2) Penyimpanan limbah medis padat harus sesuai iklim tropis yaitu pada musim
hujan paling lama 48 jam dan musim kemarau paling lama 24 jam.
d Pengumpulan, Pengemasan dan Pengangkutan ke Luar Rumah Sakit
1) Pengelola harus mengumpulkan dan mengemas pada tempat yang kuat
2) Pengangkutan limbah ke luar rumah sakit menggunakan kendaraan khusus.
e Pengolahan dan pemusnahan
1) Limbah medis padat tidak diperbolehkan membuang langsung ke tempat
pernbuangan akhir limbah domestik sebelurn aman bagi kesehatan.
2) Cara dan teknobgl pengolahan atau pemusnahan lirnbah medis padat
disesuaikan dengan kemampuan rumah sakit dean jenis limbah medis padat

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 2


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 2.1

yang ada. dengan pemanasan menggunakan otoklaf atau dengan pembakaran


menggunakan insinerator.

2. Limbah Non Medis Padat


a Pemilahan dan Pewadahan
1) Pewadahan limbah padat non-medis harus dipisahkan dari limbah medis padat
dan ditampung dalam kantong plastik warna hitam.
2) Tempat pewadahan
a) Setiap tempat pewadahan limbah padat harus dilapisi kantong plastik warna
hitam sebagai pembungkus lirnbah padat dengan Iambang "domestik' warna
putih.
b) Bila kepadatan lalat di sekitar tempat limbah padat melebihi 2(dua) ekor per-
block grill, perlu dilakukan pengendalian lalat.
b Pengumpulan, Penyimpanan, dan Pengangkutan
1) Bila di tempat pengumpulan sementara tingkat kepadatan lalat lebih dari 20 ekor
per-block grill atau tikus terlihat pada siang hari, harus dillakukan pengendalian.
2) Dalam keadaan normal harus dilakukan pengendalian serangga dan binatang
pengganggu yang lain minimal satu bulan sekali.
c Pengolahan dan Pemusnahan
Pengolahan dan pemusnahan lirnbah padat non-medis harus dilakukan sesuai
persyaratan kesehatan.

3. Limbah Cair
Kualitas limbah (efluen) rumah sakit yang akan dibuang ke badan air atau lingkungan
harus memenuhi persyaratan baku mutu efluen sesuai Keputusan Menteri Lingkungan
Hidup Nomor Kep-58/MENLH/12/1995 atau peraturan daerah setempat.

4. Limbah Gas
Standar lirnbah gas (emisi) dari pengolahan pemusnah limbah medis padat dengan
insinerator mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor Kep-
13/MenLH/3/1995 tentang Baku Mutu Emisi Surnber Tidak Bergerak.

B. Tata Laksana
1. Limbah Medis Padat
a. Minimisasi limbah
1) Menyeleksi bahan-bahan yang kurang rnenghasilkan limbah sebelum
membelinya.
2) Menggunakan sedikit mungkin bahan-bahan kimia.
3) Mengutamakan metode pembersihan secara fisik daripada secara kimiawi.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 3


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 2.1

4) Mencegah bahan-bahan yang dapat menjadi limbah seperti dalam kegiatan


perawatan dan kebersihan.
5) Memonitor alur penggunaan bahan kimia dari bahan baku sampai menjadi limbah
bahan berbahaya dan beracun.
6) Memesan bahan-bahan sesuai kebutuhan.
7) Menggunakan bahan-bahan yang diproduksi lebih awal untuk rnenghindari
kadaluarsa.
8) Menghabiskan bahan dari setiap kemasan.
9) Mengecek tanggal kadaluarsa bahan-bahan pada saat diantar oleh distributor.
b. Pemilahan, Pewadahan, Pemanfaatan Kembali dan Daur Ulang
1) Dilakukan pemilahan jenis limbah medis padat mulai dari sumber yang terdiri dari
limbah infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah
sitotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan, dan
limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi.
2) Tempat pewadahan limbah medis padat :
- Terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air, dan
mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya, misalnya
fiberglass.
- Di setiap surnber penghasil limbah medis harus tersedia tempat pewadahan
yang terpisah dengan limbah padat non-medis.
- Kantong plastik diangkat setiap hari atau kurang dari sehari apabila 2/3
bagian telah terisi limbah.
- Untuk benda-benda tajam hendaknya ditampung pada tempat khusus (safety
box) seperti botol atau karton yang aman.
- Tempat pewadahan Iimbah medis padat infeksius dan sitotoksik yang tidak
langsung kontak dengan limbah harus segera dibersihkan dengan larutan
disinfektan apabila akan dipergunakan kembali, sedangkan untuk kantong
plastik yang telah dipakai dan kontak langsung dengan limbah tersebut tidak
boleh digunakan lagi.
3) Bahan atau alat yang dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui sterilisasi
meliputi pisau bedah (scalpel), jarurn hipodermik, syringes, botol gelas, dan
kontainer.
4) Alat-alat lain yang dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui sterilisasl adalah
radionukleida yang telah diatur tahan lama untuk radioterapi seperti pins,
needles, atau seeds.
5) Apabila sterilisasi yang dilakukan adalah sterilisasi dengan ethyleneoxide, maka
tanki reaktor harus dikeringkan sebelum dilakukan injeksi ethylene oxide. Oleh
karena gas tersebut sangat berbahaya maka sterillasi harus dilakukan oleh
petugas yang terlatih. Sedangkan sterilisasi dengan glutaradehyde lebih aman
dalam pengoperasiannya tetapi kurang efektif secara rnikrobiologi.
6) Upaya khusus harus dilakukan apabila terbukti ada kasus pencemaran
spongiform encephalopathies.
c. Tempat Penampungan Sementara
1) Bagi rumah sakit yang mernpunyai insinerator di lingkungannya harus membakar
limbahnya selambat-larnbatnya 24 jam.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 4


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 2.1

2) Bagi rumah sakit yang tidak mempunyai insinerator, maka limbah medis
padatnya harus dimusnahkan melalui kerjasama dengan rumah sakit lain atau
pihak lain yang mempunyai insinerator untuk dilakukan pemusnahan selambat-
lambatnya 24 jam apabila disimpan pada suhu ruang.
d. Transportasi
1) Kantong limbah medis padat sebelum dimasukkan ke kendaraan pengangkut
harus diletakkan dalam kontainer yang kuat dan tertutup.
2) Kantong limbah rnedis padat harus aman dari jangkauan manusia maupun
binatang.
3) Petugas yang menangani limbah, harus rnenggunakan alat pelindung diri yang
terdiri atas:
a) Topi/helm;
b) Masker;
c) Pelindung mata;
d) Pakaian panjang (coverall);
e) Apron untuk industri;
f) Pelindung kaki/sepatu boot; dan
g) Sarung tangan khusus (disposable gloves atau heavy duty gloves).
e. Pengolahan, Pemusnahan, dan Pembuangan Akhir Limbah Padat
1) Limbah Infeksius dan Benda Tajam
a) Limbah yang sangat infeksius seperti biakan dan persediaan agen infeksius
dari laboratorium harus disterilisasi dengan pengolahan panas dan basah
seperti dalam autoclave sedini mungkin. Untuk limbah infeksius yang lain
cukup dengan cara disinfeksi.
b) Benda tajam harus diolah dengan insinerator bila memungkinkan, dan dapat
diolah bersama dengan limbah infeksius lainnya. Kapsulisasi juga cocok
untuk benda tajam.
c) Setelah insinerasi atau disinfeksi, residunya dapat dibuang ke tempat
pembuangan B3 atau dibuang ke landfill jika residunya sudah aman.
2) Limbah Farmasi
a) Limbah farmasi dalam jumlah kecil dapat diolah dengan insinerator pirolitik
(pyrolytic incinerator), rotary kiln (dikubur bersama secara aman), sanitary
landfill, dibuang ke sarana air limbah atau inersisasi. Tetapi dalam jumlah
besar harus di menggunakan fasilitas pengolahan yang khusus seperti rotary
kiln, kapsulisasi dalam drum logam, dan inersisasi.
b) Limbah padat farmasi dalam jumlah besar harus dikembalikan kepada
distributor, sedangkan bila dalam jumlah sedikit dan tidak memungkinkan
dikembalikan, supaya dimusnahkan melalui insinerator pada suhu di atas
1.000ºC.
3) Limbah Sitotoksis
a) Limbah sitotoksis sangat berbahaya dan tidak boleh dibuang dengan
penimbunan (landfill) atau ke saluran limbah umum.
b) Pembuangan yang dianjurkan adalah dikembalikan ke perusahaan penghasil
atau distributornya, insinerasi pada suhu tinggi, dan degradasi kimia. Bahan
yang belum dipakai dan kemasannya masih utuh karena kadaluarsa harus

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 5


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 2.1

dikembalikan ke distributor apabila tidak ada insinerator dan diberi


keterangan bahwa obat tersebut sudah kadaluarsa atau tidak lagi dipakai.
c) Insinerasi pada suhu tinggi sekitar 1.200ºC dibutuhkan untuk menghancurkan
semua bahan sitotoksik. Insinerasi pada suhu rendah dapat menghasilkan
uap sitotoksik yang berbahaya ke udara.
d) Insinerator pirolitik dengan 2 (dua) tungku pembakaran pada suhu 1.200ºC
dengan minimum waktu tinggal 2 detik atau suhu 1.000ºC dengan waktu
tinggal 5 detik di tungku kedua sangat cocok untuk bahan ini dan dilengkapi
dengan penyaring debu.
e) Insinerator juga harus dilengkapi dengan peralatan pembersih gas. Insinerasi
juga memungkinkan dengan rotary kiln yang didesain untuk dekomposisi
panas limbah kimiawi yang beroperasi dengan baik pada suhu di atas
850 ºC.
f) Insinerator dengan satu tungku atau pembakaran terbuka tidak tepat untuk
pembuangan limbah sitotoksis.
g) Metode degradasi kimia yang mengubah senyawa sitotoksik menjadi
senyawa tidak beracun dapat digunakan tidak hanya untuk residu obat tapi
juga untuk pencucian tempat urin tumpahan dan pakaian pelindung.
h) Cara kimia relatif mudah dan aman meliputi oksidasi oleh kalium
permanganat (KMnO4) atau asam sulfat (H2SO4), penghilangan nitrogen
dengan asam bromida, atau reduksi dengan nikel dan aluminium.
i) Insinerasi maupun degradasi kimia tidak merupakan solusi yang sempurna
untuk pengolahan limbah, tumpahan atau cairan biologis yang terkontaminasi
agen antineoplastik. Oleh karena itu, rumah sakit harus berhati-hati dalam
menangani obat sitotoksik.
j) Apabila cara insinerasi maupun degradasi kimia tidak tersedia, kapsulisasi
atau inersisasi dapat dipertimbangkan sebagai cara yang dapat dipilih.
4) Limbah Bahan Kimiawi
a) Pembuangan Limbah Kimia Biasa
Limbah kimia biasa yang tidak bisa didaur ulang seperti gula, asam amino,
dan garam tertentu dapat dibuang ke saluran air kotor. Namun demikian,
pembuangan tersebut harus memenuhi persyaratan konsentrasi bahan
pencemar yang ada seperti bahan melayang, suhu, dan pH.
b) Pembuangan Limbah Kimia Berbahaya Dalam Jumlah Kecil
Limbah bahan berbahaya dalam jumlah kecil seperti residu yang terdapat
dalam kemasan sebaiknya dibuang dengan insinerasi pirolitik, kapsulisasi,
atau ditimbun (landfill).
c) Pembuangan Limbah Kimia Berbahaya Dalam Jumlah Besar
Tidak ada cara pembuangan yang aman dan sekaligus murah untuk limbah
berbahaya. Pembuangannya lebih ditentukan kepada sifat bahaya yang
dikandung oleh limbah tersebut. Limbah tertentu yang bisa dibakar seperti
bahan pelarut dalam jumlah besar seperti pelarut halogenida yang
mengandung klorin atau florin tidak boleh diinsinerasi kecuali insineratornya
dilengkapi dengan alat pembersih gas.
d) Cara lain adalah dengan mengembalikan bahan kimia berbahaya tersebut ke
distributornya yang akan menanganinya dengan aman, atau dikirim ke
negara lain yang mempunyai peralatan yang cocok untuk mengolahnya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan limbah kimia
berbahaya :

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 6


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 2.1

• Limbah berbahaya yang komposisinya berbeda harus dipisahkan untuk


menghindari reaksi kimia yang tidak diinginkan.

• Limbah kimia berbahaya dalam jumlah besar tidak boleh ditimbun karena
dapat mencemari air tanah.
• Limbah kimia disinfektan dalam jumlah besar tidak boleh dikapsulisasi karena
sifatnya yang korosif dan mudah terbakar.
• Limbah padat bahan kimia berbahaya cara pembuangannya harus
dikonsultasikan terlebih dahulu kepada instansi yang berwenang.
5) Limbah dengan Kandungan Logam Berat Tinggi
a) Limbah dengan kandungan mercuri atau kadmium tidak boleh dibakar atau
diinsinerasi karena berisiko mencemari udara dengan uap beracun dan tidak
boleh dibuang ke landfill karena dapat mencemari air tanah.
b) Cara yang disarankan adalah dikirim ke negara yang mempunyai fasilitas
pengolah limbah dengan kandungan logam berat tinggi. Bila tidak
memungkinkan, limbah dibuang ke tempat penyimpanan yang aman sebagai
pembuangan akhir untuk limbah industri yang berbahaya. Cara lain yang
paling sederhana adalah dengan kapsulisasi kemudian dilanjutkan dengan
landfill. Bila hanya dalam jumlah kecil dapat dibuang dengan limbah biasa.

6) Kontainer Bertekanan
a) Cara yang terbaik untuk menangani limbah kontainer bertekanan adalah
dengan daur ulang atau penggunaan kembali. Apabila masih dalam kondisi
utuh dapat dikembalikan ke distributor untuk pengisian ulang gas. Agen
halogenida dalam bentuk cair dan dikemas dalam botol harus diperlakukan
sebagai limbah bahan kimia berbahaya untuk pembuangannya.
b) Cara pembuangan yang tidak diperbolehkan adalah pembakaran atau
insinerasi karena dapat meledak.
• Kontainer yang masih utuh
Kontainer-kontainer yang harus dikembalikan ke penjualnya adalah:
- Tabung atau silinder nitrogen oksida yang biasanya disatukan
dengan peralatan anestesi;
- Tabung atau silinder etilin oksida yang biasanya disatukan dengan
peralatan sterilisasi;
- Tabung bertekanan untuk gas lain seperti oksigen, nitogen, karbon
dioksida, udara bertekanan, siklopropana, hidrogen, gas elpiji, dan
asetilin.
• Kontainer yang sudah rusak
Kontainer yang rusak tidak dapat diisi ulang harus dihancurkan setelah
dikosongkan kemudian baru dibuang ke landfill.
• Kaleng aerosol
Kaleng aerosol kecil harus dikumpulkan dan dibuang bersama dengan
limbah biasa dalam kantong plastik hitam dan tidak untuk dibakar atau
diinsinerasi. Limbah ini tidak boleh dimasukkan ke dalam kantong kuning
karena akan dikirim ke insinerator. Kaleng aerosol dalam jumlah banyak
sebaiknya dikembalikan ke penjualnya atau ke instalasi daur ulang bila
ada.
7) Limbah Radioaktif

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 7


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 2.1

a) Pengelolaan limbah radioaktif yang aman harus diatur dalam kebijakan dan
strategi nasional yang menyangkut peraturan, infrastruktur, organisasi
pelaksana dan tenaga yang terlatih.
b) Setiap rumah sakit yang menggunakan sumber radioaktif yang terbuka untuk
keperluan diagnosa, terapi atau penelitian harus menyiapkan tenaga khusus
yang terlatih khusus di bidang radiasi.
c) Tenaga tersebut bertanggung jawab dalam pemakaian bahan radioaktif yang
aman dan melakukan pencatatan.
d) Instrumen kalibrasi yang tepat harus tersedia untuk monitoring dosis dan
kontaminasi. Sistem pencatatan yang baik akan rnenjarnin pelacakan limbah
radioaktif dalam pengiriman maupun pernbuangannya dan selalu diperbarui
datanya setiap waktu.
e) Limbah radioaktif harus dikategorikan dan dipilah berdasarkan ketersediaan
pilihan cara pengolahan, pengkondisian, penyimpanan, dan pembuangan.
Kategori yang rnemungkinkan adalah:
- Umur paruh (halftime) seperti umur pendek (short lived), (misalnya umur
paruh 4100 hari), cocok untuk penyimpanan pelapukan,
- Aktifitas dan kandungan radionuklida,
- Bentuk fisika dan kimia,
- Cair: berair dan organik,
- Tidak hornogen (seperti mengandung lumpur atau padatan yang
melayang),
- Padat: mudah terbakar/tidak mudah terbakar (bila ada) dan dapat
dipadatkan/tidak mudah dipadatkan (bila ada),
- Sumber tertutup atau terbuka seperti sumber tertutup yang dihabiskan,
- Kandungan limbah seperti limbah yang mengandung bahan berbahaya
(patogen, infeksius, beracun).
f) Setelah pemilahan, setiap kategori harus disimpan terpisah dalam kontainer,
dan kontainer limbah tersebut harus :
- Secara jelas didentifikasi
- Ada simbol radioaktif ketika sedang digunakan
- Sesuai dengan kandungan limbah,
- Dapat diisi dan dikosongkan dengan aman,
- Kuat dan saniter.
g) lnformasi yang harus dicatat pada setiap kontainer limbah :
- Nomor identifikasi,
- Radionuklida,
- Aktifitas (jika diukur atau diperkirakan) dan tanggal pengukuran,
- Asal limbah (ruangan, laboratorium, atau tempat lain),
- Angka dosis permukaan dan tanggal pengukuran,
- Orang yang bertanggung jawab.
h) Kontainer untuk Iimbah padat harus dibungkus dengan kantong plastik
transparan yang dapat ditutup dengan isolasi plastik

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 8


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 2.1

i) Limbah padat radioaktif dibuang sesuai dengan persyaratan teknis dan


peraturan perundang-undangan yang berlaku (PP Nomor 27 Tahun 2002)
dan kemudian diserahkan kepada BATAN untuk penanganan lebih lanjut
atau dikembalikan kepada negara distributor. Semua jenis Iimbah medis
termasuk limbah radioaktii tidak boleh dibuang ke tempat pembuangan akhir
sampah domestik (landfill) sebelum dilakukan pengolahan terlebih dahulu
sampai memenuhi persyaratan.

2. Limbah Padat Non Medis


a Pemilahan Limbah Padat Non Medis
1) Dilakukan pemilahan Iimbah padat non medis antara limbah yang dapat
dimanfaatkan dengan limbah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali
2) Dilakukan pemilahan limbah padat non medis antara limbah basah dan limbah
kering
b Tempat Pewadahan Limbah Padat Non Medis
1) Terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air, dan
mernpunyai permukaan yang mudah dibersihkan pada bagian dalamnya,
misalnya fiberglass.
2) Mempunyai tutup yang mudah dibuka dan ditutup tanpa mengotori tangan.
3) Terdapat minimal 1 (satu) buah untuk setiap kamar atau sesuai dengan
kebutuhan.
4) Limbah tidak boleh dibiarkan dalam wadahnya melebihi 3 x 24 jam atau apabila
2/3 bagian kantong sudah terisi oleh limbah, maka harus diangkut supaya tidak
menjadi perindukan vektor penyakit atau binatang penganggu.
c Pengangkutan
Pengangkutan limbah padat domestik dari setiap ruangan ke tempat penampungan
sementara menggunakan troli tertutup.
d Tempat Penampungan Limbah Padat Non Medis Sementara
1) Tersedia tempat penampungan limbah padat non medis yang sementara
dipisahkan antara limbah yang dapat dimanfaatkan dengan limbah yang tidak
dapat dimanfaatkan kembali. Tempat tersebut tidak merupakan sumber bau dan
lalat bagi lingkungan sekitarnya dan dilengkapi saluran untuk cairan lindi.
2) Ternpat penampungan sementara limbah padat harus kedap air, bertutup dan
selalu dalam keadaan tertutup bila sedang tidak diisi serta mudah dibersihkan.
3) Terletak pada Iokasi yang mudah dijangkau kendaraan pengangkut limbah padat.
4) Dikosongkan dan dibersihkan sekurang-kurangnya 1 x 24 jam.
e Pengolahan Limbah Padat
Upaya untuk mengurangi volume, mengubah bentuk atau memusnahkan limbah padat
dilakukan pada sumbemya. Limbah yang rnasih dapat dimanfaatkan hendaknya
dirnanfaatkan kembali untuk limbah padat organik dapat diolah menjadi pupuk.
f Lokasi Pembuangan Limbah Padat Akhir
Limbah padat umum (domestik) dibuang ke lokasi pembuangan akhir yang dikelola oleh
pemerintah daerah (Pemda), atau badan lain sesuai dengan peraturan perundangan
yang berlaku.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 9


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 2.1

3. Limbah Cair
Limbah cair harus dikumpulkan dalam kontainer yang sesuai dengan karakteristik bahan
kimia dan radiologi, volume, dan prosedur penanganan dan penyimpanannya.
a. Saluran pembuangan limbah harus rnenggunakan sistem saluran tertutup, kedap air, dan
limbah harus mengalir dengan lancar, serta terpisah dengan saluran air hujan.
b. Rumah sakit harus memiliki instalasi pengolahan limbah cair sendiri atau bersama-sama
secara kolektif dengan bangunan di sekitamya yang memenuhi persyaratan teknis,
apabila belum ada atau tidak terjangkau sistem pengolahan air limbah perkotaan.
c. Perlu dipasang alat pengukur debit limbah cair untuk mengetahui debit harian limbah
yang dihasilkan.
d. Air limbah dari dapur harus dilengkapi penangkap lemak dan saluran air limbah harus
dilengkapi/ditutup dengan grill.
e. Air limbah yang berasal dari labatorium harus diolah di lnstalasi Pengolahan Air Limbah
(IPAL), bila tidak mempunyai IPAL harus dikelola sesuai ketentuan yang berlaku melalui
kerjasama dengan pihak lain atau pihak yang berwenang.
f. Frekuensi pemeriksaan kualitas lirnbah cair terolah (effluent) dilakukan satu bulan sekali
untuk swapantau dan minimal 3 bulan sekali uji petik sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
g. Rumah sakit yang menghasilkan limbah cair yang mengandung atau terkena zat
radioaktif, pengelolaannya dilakukan sesuai ketentuan BATAN.
h. Parameter radioaktif diberlakukan bagi rumah sakit sesuai dengan bahan radioaktif yang
dipergunakan oleh rumah sakit yang bersangkutan.

4. Limbah Gas
a. Monitoring limbah gas berupa NO2, S02, logam berat, dan dioksin dilakukan minimal satu
kali setahun.
b. Suhu pembakaran minimum 1000°C untuk pemusnahan bakteri patogen, virus, dioksin,
dan mengurangi jelaga.
c. Dilengkapi alat untuk rnengurangi emisi gas dan debu.
d. Melakukan penghijauan dengan menanam pohon yang banyak memproduksi gas
oksigen dan dapat menyerap debu.

5. Pengelolaan limbah medis rumah sakit secara rinci mengacu pada pedoman
pengelolaan limbah medis sarana pelayanan kesehatan.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 10


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.1

PEMAHAMAN TUJUAN DAN HARAPAN PENUGASAN


(Contoh)

I. Tujuan Penugasan
Tujuan pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD untuk menilai apakah Rumah Sakit
Umum Daerah (RSUD) telah melakukan pengelolaan limbah rumah sakit sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.

II. Harapan Penugasan


1. Standar Pemeriksaan
Dalam rangka pencapaian tujuan pemeriksaan di atas, pemeriksa melakukan
pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD berdasarkan SPKN.
2. Jadwal Waktu Pemeriksaan
Pemeriksaan pengelolaan limbah RSUD dilaksanakan sesuai dengan rencana kerja
pemeriksaan dengan mempertimbangkan Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP) dan
harapan penugasan. Jangka waktu tersebut meliputi pemeriksaan lapangan sampai
dengan penyampaian pelaporan hasil pemeriksaan kepada DPRD dan Pemerintah
Daerah.
3. Fokus dan Sasaran Pemeriksaan
Berdasarkan hasil pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD periode sebelumnya,
pemeriksa menentukan sasaran dan fokus pemeriksaan.

• Tindak lanjut pemeriksaan sebelumnya, yang perlu diteliti lebih lanjut:


o 1. .......
o 2. .......
o 3. .......

• Teliti lebih lanjut pertanggungjawaban pengelolaan limbah yang berpengaruh kepada lingkungan
hidup

• Teliti lebih lanjut pelaksanaan kegiatan pengelolaan limbah apakah telah mematuhi peraturan
perundang-undangan yang berlaku dengan memenuhi prinsip ekonomis, efisien dan efektif.

Litbang PDTT Badan Pemeriksa Keuangan 1


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.1

III. Rencana Pencapaian Hasil Pemeriksaan yang Diharapkan

Rencana pencapaian hasil pemeriksaan diarahkan untuk dapat memenuhi harapan BPK
dalam mendukung pelestarian lingkungan hidup dengan memberikan rekomendasi yang
bermanfaat bagi pengguna laporan hasil pemeriksaan dan masyarakat
Penyelesaian pemeriksaan dan laporan hasil pemeriksaan adalah sebagai berikut

Kegiatan Waktu Keterangan


Pemeriksaan Atas
Pengelolaan Limbah RSUD
(pengujian substantif)

Penyampaian Temuan Sudah termasuk pembahasan


Pemeriksaan dengan pejabat yang
berwenang dan sudah
diperoleh tanggapan resmi
dan tertulis.
Penyampaian Laporan Hasil
Pemeriksaan Pengelolaan
Limbah RSUD

Jakarta, ...................
Ketua Tim, Pengendali Teknis, Penanggung Jawab,

................................. ............................... .................................

Litbang PDTT Badan Pemeriksa Keuangan 2


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.2

PEMAHAMAN ENTITAS

I. Gambaran Jelas Mengenai Bidang Kerja Entitas

II. Kekuatan Lingkungan

III. Tren yang Signifikan

IV. Hubungan dengan DPRD dan BPK, serta Lembaga Lain

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan

1
Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.2

V. Sumber Pendapatan dan Pembiayaan

VI. Dasar Hukum dan Peraturan yang Mempengaruhi

VII. Faktor Sosial dan Politik yang Mempengaruhi RSUD

VIII. Pengaruh Stakeholder (Pemangku Kepentingan): DPRD, Masyarakat

IX. Dampak dari Lingkungan Entitas terhadap Risiko Bidang Kerja

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan

2
Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.2

X. Pejabat

Nama Jabatan

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan

3
Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.2

PEMANTAUAN TINDAK LANJUT


LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS PENGELOLAAN LIMBAH RSUD
TAHUN ….(SEBELUMNYA)

Pemantauan Tindak Lanjut


Sudah Sudah Belum
Pengaruh terhadap
Sudah pengelolaan
Ditindaklanjuti, ditindaklanjuti, Ditindaklanjuti
No. Rekomendasi BPK-RI Ditindaklanjuti
Sesuai
tetapi belum tetapi belum sesuai limbah yang
sesuai selesai rekomendasi & diperiksa
Rekomendasi
rekomendasi (dipantau) Alasannya

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan

4
Juknis Pemeriksaan Limbah RSUD Lampiran 3.3

PEMAHAMAN RISIKO YANG DITIMBULKAN DARI AKTIVITAS


PENGELOLAAN LIMBAH RSUD

No. Jenis Kegiatan Risiko


1 Kegiatan perencanaan  Tidak adanya AMDAL, UKL-UPL mengakibatkan manajemen
penanganan limbah RSUD tidak mempunyai dasar yang memadai dalam proses
pengambilan keputusan tentang kegiatan yang mempunyai
dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup sesuai
dengan yang dipersyaratkan
 Ada urutan/prosedur penanganan yang sengaja dihilangkan
atau tidak dimasukkan ke dalam manual perencanaan
 Ada upaya/rencana bypassing langsung ke lingkungan tanpa
proses pengolahan/netralisasi
2 Proses pengumpulan  limbah padat bercampur dengan limbah cair;
limbah
 limbah padat medis bercampur dengan limbah padat
nonmedis;
 terjadi kebocoran berupa materi dan bau;
 kapasitas bak/kontainer/kantong penampungan sementara
tidak memadai (tidak kuat atau tidak tahan bocor);
 terjadinya penyumbatan pada saluran menuju inlet IPAL
3 Proses penyimpanan  penumpukan limbah padat medis di tempat penyimpanan
limbah
 terjadinya pengemasan ulang, pemberian/penggunaan
kembali untuk pasien, kontaminasi penyakit menular antar
pasien, dan ceceran pada saat penyimpanan limbah padat
medis (contoh: obat-obatan dan perlengkapan medis yang
tidak/telah terpakai)
 pemungutan sampah medis maupun nonmedis oleh pihak
ketiga (misalnya: pemulung)
 tempat berkembang biaknya bakteri
3 Proses pengolahan limbah Limbah Cair:
 Komponen pengolahan tidak berfungsi
 Khlorinasi/desinfeksi tidak berlangsung optimal (jika
pemberian disinfektan terlalu sedikit masih terdapat kuman
berbahaya, jika terlalu banyak akan menghambat kerja bakteri
pengurai)
 Aerasi tidak berlangsung optimal
 Sedimentasi akan mengurangi kapasitas bak pengolah
 Parameter limbah cair olahan (effluent) melebihi baku mutu
 Parameter lumpur kering hasil residu IPAL melebihi baku mutu
 Kapasitas berlebih limbah cair dibandingakan sarana
pengolah air limbah (IPAL) atau overflow
 Pencemaran badan air dan pencemaran udara di sekitar IPAL
 Tidak memiliki izin pengolahan limbah cair dari instansi yang
berwenang

Limbah Padat Medis:

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 1


Juknis Pemeriksaan Limbah RSUD Lampiran 3.3

No. Jenis Kegiatan Risiko


 tidak dilakukan pemusnahan
 pemusnahan tidak dilakukan pada incinerator
 Pemusnahan dengan menggunakan incinerator tidak
dilaksanakan setiap hari
 incinerator/tempat pemusnahan tidak terisolir/jauh dari
komunitas atau fasilitas RSUD
 incinerator tidak layak/tidak berfungsi/kurang berfungsi
sehingga menimbulkan pencemaran
 parameter emisi hasil pembakaran pada incinerator melebihi
baku mutupembuangan abu/debu incinerator yang masih
mengandung logam berat atau B3 tidak layak sehingga masih
menimbulkan pencemaranTidak memiliki izin pengolahan
limbah B3 dari instansi yang berwenang.
4 Proses pemantauan dan  Tidak tersedianya biaya pemeliharaan, perbaikan dan
pengawasan pengelolaan penambahan kapasitas pengelolaan limbah.
limbah
 Tidak dilakukannya pemeriksaan air limbah (inlet dan outlet),
lumpur kering hasil residu IPAL, emisi insenerator dan udara
ambien secara berkala kepada laboratorium setempat.
 Kekurangan personil dalam tim/unit pengelola limbah yang
melakukan pemantauan dan pengawasan.
5 Proses pengadaan barang  Sarana pengelolaan limbah yang telah diadakan tidak
dan jasa untuk pengelolaan dimanfaatkan.
limbah RSUD
 Kemahalan harga pengadaan.
 Kekurangan pekerjaan.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 2


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4a

Contoh Pemahaman SPI


(dengan pendekatan OKP6*)

No. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

1. Organisasi
a. Struktur Organisasi

(1) Apakah RSUD mempunyai unit kerja/tim yang secara khusus


bertanggung jawab atas pengelolaan limbah

(2) Apakah RSUD mempunyai unit kerja yang secara khusus


bertanggung jawab atas pemantauan baku mutu hasil
pengolahan limbah
(3) Apakah pimpinan RSUD menganggap penting fungsi unit
pengelolaan limbah

(4) Apakah pimpinan RSUD telah menyesuaikan unit tersebut


dengan ukuran dan sifat kegiatan pengelolaan limbah

(5) Apakah pimpinan RSUD telah memberikan kejelasan


wewenang dan tanggung jawab dalam kegiatan pengelolaan
limbah

(6) Apakah uraian tugas pengelolaan limbah pada unit kerja


tersebut dibuat dengan jelas

(7) Apakah pimpinan RSUD telah memberikan kejelasan


hubungan dan jenjang pelaporan intern dalam kegiatan
pengelolaan limbah

(8) Apakah ada koordinasi yang jelas antara unit-unit kerja yang
terkait dengan pengelolaan limbah

(9) Apakah pimpinan RSUD telah melaksanakan evaluasi dan


penyesuaian secara periodik terhadap struktur organisasi
sehubungan dengan perubahan lingkungan stratejik.

(10)Apakah pimpinan RSUD telah menetapkan jumlah pegawai


yang sesuai dengan kebutuhan.

(11)Apakah pimpinan RSUD dan para pegawainya memiliki


pengetahuan, pengalaman dan pelatihan guna pelaksanaan
tugas mereka terutama yang terkait dengan pengelolaan
limbah.

(12)Apakah mekanisme pelaporan pengelolaan limbah yang


ada, baik formal maupun informal, langsung maupun tidak
langsung telah dilakukan secara efektif dan dapat
memberikan informasi yang memadai kepada para pimpinan
RSUD

b. Integritas dan Nilai Etika

(1) Apakah pimpinan RSUD telah menyusun dan menerapkan


aturan perilaku (kode etik) terutama dalam pengelolaan
limbah
(2) Apakah kode etik tersebut telah disosialisasikan kepada
seluruh personil

(3) Apakah para personil memahami tindakan yang etis dan atau
tidak etis dan mengetahui apa yang harus dilakukan dalam
menyikapi penyimpangan tersebut?

(4) Apabila tidak ada kode etik tertulis, apakah budaya

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 1


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4a

No. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

manajemen (misalnya melalui komunikasi lisan pada saat


rapat, bertatap muka, atau contoh dalam kegiatan sehari-
hari) dapat mendorong terciptanya integritas dan perilaku
bermoral

(5) Apakah pimpinan RSUD telah memberikan keteladanan atas


pelaksanaan aturan perilaku tersebut di atas kepada setiap
tingkatan dalam organisasi

(6) Apakah pimpinan RSUD telah menegakkan tindakan disiplin


yang tepat, atas penyimpangan terhadap kebijakan/prosedur,
atau pelanggaran terhadap aturan perilaku yang
mengganggu efektivitas pengelolaan limbah

(7) Apakah pimpinan RSUD telah menjelaskan dan


mempertanggungjawabkan atas adanya intervensi atau
pengabaian pengendalian intern yang mengganggu
efektivitas pengelolaan limbah

(8) Apakah pimpinan RSUD telah menghilangkan


peluang/godaan untuk berperilaku tidak etis

(9) Apakah pimpinan RSUD memberikan tindakan disiplin yang


memadai terhadap pelanggaran kode etik

(10)Apakah tindakan disiplin tersebut dikomunikasikan secara


luas sehingga menimbulkan dampak menjerakan (deterrent
effect)

(11)Apakah tindakan tersebut didokumentasikan dan dijelaskan


secara memadai

2. Kebijaksanaan

a. Apakah RSUD mempunyai kebijakan mengenai pengelolaan


limbah, seperti SOP pengelolaan (pengumpulan, pengolahan,
pengangkutan) limbah padat medis dan non medis, SOP
pengelolaan limbah cair, dsb

b. Apakah RSUD mempunyai kebijakan mengenai baku mutu hasil


pengolahan limbah
c. Apakah RSUD memiliki kebijakan rekrutmen personil
pengelolaan limbah
d. Apakah RSUD memiliki kebijakan pelaporan kegiatan
pengelolaan limbah kepada instansi yang terkait

e. Apakah RSUD mempunyai kebijakan perencanaan pemilihan


bahan-bahan ramah limbah.
f. Apakah RSUD telah mengevalusasi pelaksanaan kebijakan-
kebijakan tersebut

3. Personalia

a. Kebijakan dan Praktik Sumber Daya Manusia

(1) Apakah kepala RSUD melakukan pengujian tentang


bagaimana pelaksanaan rekrutmen dan mempertahankan
pegawai pengelolaan limbah yang handal

(2) Apakah terdapat prosedur dan kebijakan tertulis dalam


penggunaan, pelatihan, promosi dan penggajian pegawai
pengelolaan limbah

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 2


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4a

No. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

(3) Jika tidak ada praktik dan kebijakan tertulis, apakah


manajemen RSUD mengkomunikasikan ekspektasi tentang
orang yang akan dipekerjakan atau berpartisipasi secara
langsung dalam proses pemilihan tersebut

(4) Apakah setiap pegawai pengelolaan limbah menyadari


tanggung jawab dan ekspektasi terhadap mereka

(5) Apakah pegawai pengelolaan limbah yang baru diberikan


pengertian tentang tanggung jawab dan ekspektasi terhadap
mereka

(6) Apakah para supervisor dan pimpinan RSUD bertemu


dengan para pegawai secara berkala guna mereviu kinerja
mereka dan memberikan saran-saran perbaikan

(7) Apakah terdapat tindakan manajemen RSUD yang memadai


untuk merespon penyimpangan terhadap kebijakan dan
prosedur yang ada

(8) Apakah para pegawai mengerti bahwa kinerja yang buruk


memiliki dampak bagi organisasi
(9) Apakah kebijakan personalia mengacu pada standar etika
yang memadai.

(10)Apakah nilai etika dan integritas merupakan kriteria dalam


penilaian kinerja

(11)Apakah ada pengecekan yang memadai terhadap latar


belakang calon pegawai pengelolaan limbah, khususnya
menyangkut pekerjaan yang pernah dilakukan calon pegawai
tersebut

b. Komitmen terhadap Kompetensi


(1) Apakah telah terdapat job description yang menjelaskan
tugas pegawai pengelolaan limbah

(2) Apakah manajemen RSUD telah melakukan analisa


perlu/tidaknya supervisi atau pelatihan mengenai
pengelolaan limbah

(3) Apakah terdapat ketentuan mengenai tingkat kompetensi


(pengetahuan dan keahlian) yang dibutuhkan untuk pegawai
pengelolaan limbah

(4) Apakah ada bukti yang dapat meyakinkan bahwa seorang


pegawai pengelolaan limbah telah ditempatkan sesuai
keahlian dan pengetahuan yang dibutuhkan

4. Perencanaan

a. Penetapan Tujuan Organisasi

(1) Apakah pimpinan RSUD telah menetapkan tujuan umum unit


pengelolaan limbah dalam bentuk visi, misi, tujuan, dan
sasaran

(2) Apakah visi, misi, tujuan, dan sasaran tersebut cukup spesifik
dan dapat diaplikasikan pada unit tersebut

(3) Apakah rencana strategis mendukung visi, misi, tujuan, dan

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 3


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4a

No. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

sasaran unit pengelolaan limbah

(4) Apakah rencana strategis memperhatikan alokasi sumber


daya dan skala prioritas

(5) Apakah penyusunan dan persetujuan rencana strategis dan


anggaran melalui berbagai tingkatan manajemen RSUD

b. Penetapan Tujuan Operasional Entitas

(1) Apakah semua aktivitas pengelolaan limbah sudah sejalan


dengan tujuan operasional RSUD

(2) Apakah semua aktivitas pengelolaan limbah telah direviu


secara periodik untuk memastikan bahwa aktivitas-aktivitas
tersebut tidak menyimpang dari tujuan operasional dan
rencana strategis RSUD

(3) Apakah tujuan pengelolaan limbah sudah konsisten dengan


best practices

(4) Apakah sumber daya yang diperlukan untuk mendukung


pencapaian tujuan pengelolaan limbah sudah
diidentifikasikan

(5) Jika sumber daya belum tersedia, apakah manajemen RSUD


sudah mempunyai rencana untuk memperolehnya

(6) Apakah kepala RSUD sudah mengidentifikasikan hal-hal


yang harus dicapai untuk mencapai tujuan pengelolaan
limbah

(7) Apakah ada pemantauan kinerja pengelolaan limbah secara


reguler oleh kepala RSUD

5. Prosedur

a. Menetapkan dan memantau indikator dan ukuran kinerja

(1) Apakah indikator dan ukuran kinerja pengelolaan limbah


telah dibuat dan ditetapkan

(2) Apakah indikator tersebut telah direviu dan divalidasi secara


periodik

(3) Apakah ada pembandingan antara tujuan/target yang akan


dicapai dengan kinerja aktual
(4) Apakah hasil pembandingan tersebut dianalisa

b. Memisahkan tugas atau fungsi

(1) Apakah ada pemisahan kewenangan dan tanggungjawab


pegawai pengelolaan limbah

(2) Apakah penugasan telah dilakukan dengan memperhatikan


efektifitas mekanisme chek and balance.

c. Pendokumentasian
(1) Apakah seluruh hasil pelaksanaan pengelolaan limbah telah
didokumentasikan dengan baik

(2) Apakah dokumentasi tersebut selalu tersedia untuk


kepentingan pengendalian dan pengawasan

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 4


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4a

No. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

(3) Apakah dokumentasi tersebut, baik tertulis maupun secara


elektronis, berguna bagi proses evaluasi, analisa dan
pengendalian.

d. Pelaporan

(1) Apakah ada mekanisme pelaporan kegiatan pengelolaan


limbah dan pemantauan baku mutu hasil pengolahan limbah

7. Pelaporan

a. Apakah kegiatan pengelolaan limbah dilaporkan secara periodik


kepada kepala RSUD
b. Apakah informasi yang dilaporkan tesebut tepat waktu dan tepat
guna sehingga membantu kepala RSUD dalam mengidentifikasi
permasalahan pengelolaan limbah

c. Apakah informasi pengelolaan limbah tersedia sewaktu-waktu


yang memungkinkan pemantauannya oleh manajemen

8. Pengawasan

a. Pelaksanaan reviu oleh manajemen pada tingkat atas (top-level


reviews)

(1) Apakah ada mekanisme reviu dari kepala RSUD atau


manajemen untuk mengawasi pencapaian kinerja unit
pengelolaan limbah

(2) Apakah kepala RSUD atau manajemen mengawasi


pencapaian kinerja unit pengelolaan limbah berdasarkan
mekanisme tersebut

(3) Apakah tindak lanjut hasil pengawasan dilaksanakan oleh


unit pengelolaan limbah

b. Fungsi Internal Auditor


(1) Apakah ada auditor internal dalam RSUD
(2) Apakah auditor internal melakukan audit dan reviu atas
kegiatan pengelolaan limbah

(3) Apakah pekerjaan auditor internal ditujukan pada perbaikan


organisasi dan apakah telah ditetapkan prosedur yang
mengatur tindak lanjut atas hasil pengawasannya.

(4) Apakah fungsi auditor internal termasuk juga mereviu sistem


dan kegiatan pengelolaan limbah serta menyediakan
informasi, analisa, perkiraan, rekomendasi dan konsultasi
kepada manajemen.
KESIMPULAN:

*) OKP6 : Organisasi, Kebijakan, Perencanaan, Prosedur, Pegawai/Personil, Pencatatan,


Pelaporan/Pertanggungjawaban, dan Pengawasan.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 5


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4.b

Contoh Pemahaman SPI


(dengan pendekatan COSO*)

No. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

1. Lingkungan Pengendalian

a. Integritas dan Nilai Etika

(1)Apakah pimpinan/manajemen RSUD memiliki komitmen


terhadap integritas dan nilai etika

(2)Apakah RSUD memiliki kode etik yang bersifat


komperhensif

(3)Apakah kode etik tersebut secara periodik disosialisasikan


pada seluruh pegawai

(4)Apakah para pegawai memahami tindakan yang etis/tidak


etis dan mengetahui apa yang harus dilakukan dalam
menyikapi penyimpangan

(5) Apakah pimpinan/manajemen RSUD mampu memberi


contoh yang baik sesuai kode etik

(6) Apakah pimpinan/manajemen RSUD memberikan respon


yang memadai terhadap pelanggaran kode etik

(7)Apakah tindakan disiplin terhadap pelanggaran


dikomunikasikan secara luas sehingga menimbulkan
dampak menjerakan (deterrent effect)

(8)Apakah manajemen telah memiliki aturan yang jelas


mengenai kemungkinan pengambilan kebijaksanaan yang
menyimpang dari ketentuan yang berlaku

(9)Apakah kebijaksanaan tersebut didokumentasikan dan


dijelaskan secara memadai

(10)Apakah penyimpangan dari ketentuan yang ada telah


diselidiki dan didokumentasikan

b. Komitmen terhadap Kompetensi

(1)Apakah telah terdapat job description yang menjelaskan


tugas suatu pekerjaan/posisi tertentu dalam pengelolaan
limbah

(2)Apakah manajemen entitas telah melakukan analisa, baik


formal maupun informal, mengenai jenis pekerjaan dan
perlu/tidaknya supervisi atau pelatihan

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 1


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4.b

No. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

(3)Apakah terdapat ketentuan mengenai tingkat kompetensi


(pengetahuan dan keahlian) yang dibutuhkan untuk suatu
pekerjaan pengelolaan limbah

(4)Apakah ada bukti yang dapat meyakinkan bahwa seorang


pegawai telah ditempatkan sesuai keahlian dan
pengetahuan yang dibutuhkan

c. Struktur Organisasi

Struktur organisasi tidak boleh terlalu sederhana sehingga


pemantauan terhadap kegiatan entitas tidak akan memadai dan
tidak boleh pula terlalu kompleks yang dapat mengganggu
kelancaran arus informasi.

(1)Apakah pimpinan RSUD telah memahami sepenuhnya


tanggung jawab pengendalian yang mereka miliki

(2)Apakah struktur organisasi yang dimiliki mampu


menyediakan informasi yang memadai bagi seluruh
manajemen

(3)Apakah struktur tersebut dapat memfasilitasi arus informasi


ke atas, ke bawah maupun kepada seluruh kegiatan terkait
pengelolaan limbah

(4)Apakah manajemen pengelolaan limbah memiliki


pengetahuan, pengalaman dan pelatihan guna
pelaksanaan tugas mereka

(5)Apakah pelaporan yang ada, baik formal maupun informal,


langsung maupun tidak langsung telah dilakukan secara
efektif dan dapat memberikan informasi yang memadai
kepada manajemen sesuai tanggung jawab dan wewenang
masing-masing

(6) Apakah ada mekanisme evaluasi dan kemungkinan


perubahan struktur organisasi secara berkala sehubungan
dengan perubahan kondisi lingkungan

(7)Apakah jumlah pegawai pengelolaan limbah yang ada


telah memadai, khususnya untuk kapasitas supervisor
maupun manajemen

(8)Apakah para manajer dan supervisor memiliki waktu yang


memadai untuk menjalankan tanggung jawabnya secara
efektif

d. Tanggung Jawab dan Wewenang

(1)Apakah pimpinan RSUD telah mendelegasikan wewenang

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 2


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4.b

No. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

kepada pejabat/pegawai pengelolaan limbah dengan tepat,


sesuai dengan tanggung jawabnya

(2)Apakah pejabat/pegawai pengelolaan limbah yang ditunjuk,


memahami bahwa wewenang dan tanggung jawab yang
diberikan terkait dengan pihak lain

(3)Apakah pejabat/pegawai pengelolaan limbah yang ditunjuk,


memahami bahwa pelaksanaan tanggung jawab dan
wewenang terkait dengan penerapan sistem pengendalian
intern

(4)Apakah ada standar dan prosedur yang terkait dengan


pengendalian, termasuk job description masing-masing
pegawai pengelolaan limbah

(5)Apakah job description tersebut mengatur juga tanggung


jawab pengendalian

(6) Apakah manajemen sudah secara terus menerus dan


berkesinambungan menanamkan kesadaran kepada
semua pegawai bahwa tanggung jawab pengelolaan limbah
tidak hanya terletak pada bagian pengelolaan limbah saja
tetapi juga pada semua pegawai? Apakah semua pegawai
sudah memahaminya?

e. Kebijakan dan Praktik Sumber Daya Manusia

Lakukan pengujian bagaimana kebijakan manajemen dalam


merekrut dan mempertahankan pegawai yang handal guna
melaksanakan rencana-rencana unit pengelolaan limbah dalam
rangka mencapai tujuan entitas

(1)Apakah pimpinan entitas telah menetapkan kebijakan dan


prosedur sejak rekrutmen sampai dengan pemberhentian
dan pensiunan pegawai

(2)Apakah pimpinan entitas telah melakukan penelusuran latar


belakang calon pegawai pengelolaan limbah dalam proses
rekrutmen

(3)Apakah pimpinan entitas telah melakukan supervisi secara


periodik yang memadai terhadap pegawai pengelolaan
limbah

(4)Apakah ada prosedur dan kebijakan tertulis dalam


penggunaan, pelatihan, promosi dan penggajian pegawai
pengelolaan limbah

(5)Jika tidak ada praktik dan kebijakan tertulis, apakah


manajemen mengkomunikasikan ekspektasi tentang orang

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 3


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4.b

No. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

yang akan dipekerjakan atau berpartisipasi secara


langsung dalam proses pemilihan tersebut

(6)Apakah setiap pegawai pengelolaan limbah menyadari


tanggung jawab dan ekspektasi terhadap mereka

(7)Apakah personil baru diberikan pengertian tentang


tanggung jawab dan ekspektasi terhadap mereka

(8)Apakah para supervisor bertemu dengan para pegawai


pengelolaan limbah secara berkala guna mereview kinerja
mereka dan memberikan saran-saran perbaikan

(9)Apakah terdapat tindakan manajemen yang memadai untuk


merespon penyimpangan terhadap kebijakan dan prosedur
yang ada

(10)Apakah para pegawai pengelolaan limbah mengerti


bahwa kinerja yang jelek memiliki dampak bagi organisasi

(11)Apakah ketentuan promosi dan dan kenaikan gaji


dijelaskan secara rinci sehingga setiap pegawai
pengelolaan limbah mengetahui apa yang diharapkan oleh
manajemen?

(12) Para pekerja pada unit pengolahan limbah memiliki resiko


terkena dampak langsung dari limbah itu sendiri. Apakah
manajemen telah memberikan perlindungan yang memadai
atas resiko tersebut?

(13)Apabila manajemen sudah memberikan asuransi


kesehatan dan asuransi keselamatan kerja yang memadai,
apakah manajemen telah memberikan penjelasan kepada
para pekerja bahwa mereka telah diberikan perlindungan
secara memadai atas keselamatan kerjanya?

f. Kegiatan Pengawasan

(1)Apakah ada mekanisme reviu dari kepala RSUD atau


manajemen untuk mengawasi pencapaian kinerja
unit pengelolaan limbah

(2) Apakah kepala RSUD atau manajemen mengawasi


pencapaian kinerja unit pengelolaan limbah
berdasarkan mekanisme tersebut

(3)Apakah tindak lanjut hasil pengawasan dilaksanakan


oleh unit pengelolaan limbah

(4)Apakah fungsi auditor internal termasuk juga mereviu


sistem dan kegiatan unit pengelolaan limbah serta
menyediakan informasi, analisa, perkiraan, rekomendasi

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 4


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4.b

No. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

dan konsultasi kepada manajemen.


2. Penilaian Risiko
a. Penetapan Tujuan Organisasi

(1)Apakah pimpinan organisasi telah menetapkan tujuan


umum unit pengelolaan limbah dalam bentuk visi, misi,
tujuan, dan sasaran

(2)Apakah visi, misi, tujuan, dan sasaran tersebut sejalan


dengan program yang telah ditetapkan oleh lembaga
legislatif

(3)Apakah visi, misi, tujuan, dan sasaran tersebut cukup


spesifik dan dapat diaplikasikan pada unit tersebut

(4)Apakah rencana strategis mendukung visi, misi, tujuan, dan


sasaran unit pengelolaan limbah

(5)Apakah rencana strategis memperhatikan alokasi sumber


daya dan skala prioritas

(6)Apakah rencana strategis dan anggaran didesain melalui


berbagai tingkatan pimpinan organisasi

(7)Apakah asumsi yang dibuat dalam menyusun rencana


strategis dan anggaran sudah konsisten dengan
pengalaman organisasi masa lampau dan sekarang

b. Penetapan Tujuan Operasional Unit Pengelolaan Limbah

(1)Apakah semua aktivitas yang signifikan sudah sejalan


dengan tujuan operasional unit pengelolaan limbah

(2)Apakah semua aktivitas telah direviu secara periodik untuk


memastikan bahwa aktivitas-aktivitas tersebut tidak
menyimpang dari tujuan operasional dan rencana strategis
unit pengelolaan limbah
(3) Apakah tujuan setiap aktivitas kunci dan aktivitas
pendukung sudah ditetapkan?

(4)Apakah sumber daya yang diperlukan untuk mendukung


pencapaian tujuan unit pengelolaan limbah sudah
diidentifikasikan

(5)Jika sumber daya belum tersedia, apakah pimpinan entitas


sudah mempunyai rencana untuk memperolehnya

(6)Apakah pimpinan entitas sudah mengidentifikasikan hal-hal


yang harus dicapai untuk mencapai tujuan operasional unit
pengelolaan limbah

(7)Apakah tujuan operasional pengelolaan limbah yang


signifikan memperoleh perhatian yang khusus dari
pimpinan entitas dan apakah sudah ada pemantauan

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 5


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4.b

No. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

kinerjanya secara reguler


c. Identifikasi Risiko

(1)Apakah sudah digunakan metode penilaian risiko untuk


menentukan urutan risiko tidak terkelolanya limbah

(2)Apakah risiko yang diidentifikasikan, diurutkan, dianalisa,


dan diminimalisir sudah dikomunikasi kepada staf

(3)Apakah diskusi tentang risiko yang teridentifikasi dilakukan


pada tingkat manajemen

(4)Apakah risiko yang teridentifikasi sudah diperhitungan


dalam rencana jangka pendek dan rencana strategis jangka
panjang

(5)Apakah risiko yang teridentifikasi dijadikan pertimbangan


dari temuan pemeriksaan, evaluasi, atau penilaian lainnya

(6)Apakah unit pengelolaan limbah sudah memperhatikan


risiko-risiko yang berkaitan dengan perkembangan dan
kemajuan teknologi

(7)Apakah sudah ada pertimbangan tentang risiko yang timbul


dari perubahan kebutuhan atau ekspektasi dari DPR,
Pejabat Pemerintah, maupun Publik

(8)Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko sebagai akibat


dari ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan baru

(9)Apakah sudah diperhitungkan risiko-risiko bagi entitas


sebagai akibat dari bencana alam maupun tindak kejahatan

(10)Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko yang terkait


dengan kontraktor dan supplier utama

(11) Apakah sudah dipertimbangkan risiko-risiko sebagai


akibat dari penciutan unit pengelolaan limbah

(12)Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko yang


berkaitan dengan pendesainan ulang operasi pengelolaan
limbah

(13)Apakah sudah dipertimbangkan risiko-risiko akibat dari


terganggunya proses sistem informasi

(14)Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko akibat


personil yang kurang kualified dan kurang terlatih

(15) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko akibat akses


pegawai terhadap aset-aset yang rentan

(16)Apakah sudah dipertimbangkan risiko-risiko yang


berkaitan dengan SDM, seperti rencana suksesi,
ketidakcukupan kompensasi dan benefit untuk dapat tetap
kompetitif dengan pegawai sektor swasta

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 6


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4.b

No. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

(17)Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko yang


berkaitan dengan kelanjutan program

(18)Apakah manjemen telah mempertimbangkan risiko-risiko


yang berkaitan dengan kegagalan di masa lalu dalam
mencapai visi, misi, tujuan dan sasaran atau kegagalan
dalam menyikapi keterbatasan anggaran

(19)Apakah sudah dipertimbangkan risiko-risiko akibat dari


belanja program yang tidak tepat, pelanggaran prinsip
pengendalian dana, atau ketidakpatuhan lainnya

d. Analisa Risiko

(1)Apakah pimpinan entitas telah menetapkan proses formal


untuk menganalisa risiko termasuk proses informal
berdasarkan aktivitas sehari-hari

(2)Apakah telah ditetapkan kriteria dalam menetapkan tingkat


risiko rendah, sedang, dan tinggi

(3)Apakah tingkat manajemen dan staf sudah terlibat dalam


analisa risiko

(4)Apakah risiko yang diidentifikasi dan dianalisa relevan


dengan tujuan operasional unit pengelolaan limbah
(5) Apakah analisa risiko sudah termasuk perkiraan
kemungkinan dan frekuensi terjadinya

(6)Apakah sudah ada penentuan tentang bagaimana


mengelola atau meminimalkan risiko dengan baik termasuk
tindakan-tindakan yang harus diambil

(7)Apakah pendekatan terhadap pengelolaan dan


pengendalian risiko sudah sesuai dengan sifat unit
pengelolaan limbah

(8)Apakah pendekatan terhadap risiko sudah didisain untuk


menjaga tingkat risiko pada tingkat yang dapat ditolerir

(9)Apakah sudah ditetapkan aktivitas pengendalian untuk


mengelola dan meminimalisasi risiko tertentu pada level
operasional unit pengelolaan limbah, serta apakah ada
pemantauan atas implementasinya

e. Mengelola Risiko Akibat Perubahan

(1)Apakah sudah diperhitungkan seluruh operasional unit


pengelolaan limbah yang dapat dipengaruhi oleh
perubahan

(2)Apakah perubahan-perubahan yang rutin sudah


diperhitungkan dalam proses identifikasi dan analisa risiko
yang sudah baku
(3) Apakah risiko-risiko akibat kondisi yang berubah secara

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 7


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4.b

No. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

signifikan sudah diperhitungkan sebagai risiko yang tinggi


bagi entitas sehingga akibatnya dapat diperhitungkan dan
diantisipasi?

(4)Apakah unit pengelolaan limbah telah memberikan


perhatian terhadap risiko akibat rekrutmen pegawai baru
yang menempati posisi penting atau tingkat penggantian
pegawai yang tinggi

(5)Apakah terdapat mekanisme untuk menilai risiko akibat


pengenalan sistem informasi yang baru dan risiko yang
melibatkan pelatihan pegawai untuk menggunakan sistem
baru

(6)Apakah manajemen sudah memberikan pertimbangan


khusus tentang risiko akibat pertumbuhan dan ekspansi
yang cepat atau penciutan entitas serta pengaruhnya
terhadap kemampuan sistem dan revisi atas rencana
strategis, visi, misi, tujuan, dan sasaran unit pengelolaan
limbah

(7)Apakah sudah ada pertimbangan tentang risiko akibat


pengenalan teknologi dan aplikasi baru

3. Aktivitas Pengendalian

a. Pelaksanaan reviu oleh manajemen pada tingkat atas (top-level


reviews)

(1)Apakah terdapat mekanisme reviu dari pejabat tinggi atau


manajer untuk mengawasi pencapaian unit pengelolaan
limbah terhadap rencana yang telah dibuat.

(2)Apakah pejabat tinggi atau manajer mengawasi pencapaian


unit pengelolaan limbah terhadap rencana yang telah dibuat
sesuai mekanisme yang ada,

(3)Apakah tindak lanjut hasil reviu dilaksanakan oleh unit


pengelolaan limbah dan unit terkali lainnya.

b. Reviu oleh manajemen pada tingkat fungsional/aktivitas


(functional/activity-level reviews),

(1)Apakah terdapat mekanisme reviu pada manajemen unit


pengelolaan limbah untuk menelaah kinerja suatu
aktivitas/fungsi terhadap rencana yang telah dibuat

(2)Apakah manajer yang terkait menelaah permasalahan


tersebut sesuai mekanisme yang ada

(3)Apakah tindak lanjut hasil reviu dilaksanakan oleh unit


pengelolaan limbah
c. Mereviu pengelolaan SDM
(1) Apakah ekspektasi manajemen terhadap pencapaian
tujuan telah didokumentasikan dan dikomunikasikan

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 8


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4.b

No. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

kepada seluruh pegawai pengelolaan limbah

(2)Apakah terdapat rencana strategis mengenai pengelolaan


pegawai pengelolaan limbah

(3)Apakah telah terdapat prosedur guna memastikan bahwa


personil yang direkrut maupun dipertahankan adalah
mereka yang benar-benar memiliki kompetensi,

(4)Apakah pegawai pengelolaan limbah telah diberikan


orientasi, training dan dukungan lainnya dalam rangka
menjalankan tugasnya,
(5) Apakah sistem kompenasi telah memadai dan terdapat
insentif khusus yang dapat mendorong pegawai bekerja
secara maksimal,
(6) Apakah terdapat mekanisme suksesi (promosi dan mutasi)
yang jelas.
d. Mereviu pengelolaan informasi untuk memastikan tingkat
keakuratan dan kelengkapan informasi

(1)Apakah pendokumentasian pelaksanaan kegiatan


pengelolaan limbah dilakukan secara sekuensial,

(2)Apakah kegiatan yang dilaksanakan telah sesuai dengan


persyaratannya,
(3) Apakah akses ke data dan dokumen lain dikendalikan.
e. Menetapkan dan memantau indikator dan ukuran kinerja

(1)Apakah indikator dan ukuran kinerja telah dibuat untuk


setiap bagian dan level dalam unit pengelolaan limbah
sampai kepada individu,
(2) Apakah terhadap indikator tersebut telah dilakukan review
dan validasi secara periodik,
(3) Apakah data mengenai kinerja aktual senantiasa
ditandingkan dengan tujuan yang akan dicapai dan jika ada
perbedaan akan dilakukan analisa.
f. Memisahan tugas atau fungsi

(1)Apakah kewenangan untuk mengendalikan seluruh


aktivitas kunci dipisahkan,

(2) Apakah penugasan telah dilakukan dengan


memperhatikan efektifitas mekanisme cek and balance.

g. Mereviu otorisasi kepada personil tertentu dalam melakukan


suatu kegiatan

(1)Apakah suatu aktivitas hanya dilakukan oleh orang yang


memiliki wewenang dan dilakukan sesuai dengan
kewenangan yang bersangkutan,

(2)Apakah prosedur otorisasi telah dikomunikasikan kepada


seluruh pegawai termasuk kapan otorisasi tersebut dapat
digunakan.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 9


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4.b

No. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

h. Mereviu pencatatan kegiatan/aktivitas, dengan menguji apakah:


(1)Apakah setiap kegiatan/aktivitas telah didokumentasikan
secara memadai sehingga mendukung pengendalian
operasi dan pengambilan keputusan,
i. Pendokumentasian

(1)Apakah sistem pengendalian intern, semua


aktivitas/kegiatan dan kejadian penting lainnya telah
didokumentasikan secara memadai,
(2) Apakah dokumentasi tersebut selalu tersedia untuk
kepentingan pengujian,
(3) Apakah dokumentasi tersebut, baik tertulis maupun secara
elektronis, berguna bagi proses evaluasi, analisa dan
pengendalian.

4. Informasi dan Komunikasi


a. Informasi

(1)Apakah informasi terkait pengelolaan limbah diidentifikasi,


diperoleh, diproses dan dilaporkan melalui suatu sistem
informasi?

(2)Apakah informasi yang diperoleh dari sumber ekstern dan


intern tersebut relevan

(3)Apakah terdapat mekanisme untuk memperoleh informasi


eksternal (seperti hasil pengujian baku mutu oleh
Bapedalda, keluhan masyarakat atas pembuangan limbah
RSUD)?

(4)Apakah informasi internal diidentifikasi dan secara teratur


dilaporkan terkait pencapaian tujuan pengelolaan limbah
termasuk fator-faktor keberhasilan?

(5)Apakah manajemen RSUD memperoleh informasi yang


dibutuhkan guna melaksanakan tanggung jawabnya?

(6)Apakah mekanisme penyediaan informasi yang ada telah


memadai membantu unit pengelolaan limbah
melaksanakan tugasnya secara efektif dan efisien?

(7)Apakah manajer unit pengelolaan limbah memperoleh


informasi analitis dalam mengidentifikasi tindakan yang
perlu diambil?

(8)Apakah informasi yang jelas dan tepat tersedia bagi


berbagai tingkatan manajemen RSUD?

(9)Apakah informasi dirangkum secara memadai?


(10)Apakah informasi tersedia sewaktu-waktu yang
memungkinkan pemantauan yang efektif terhadap suatu
aktivitas dan kejadian?

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 10


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4.b

No. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

(11)Apakah pengembangan atau perbaikan sistem informasi


dilaksanakan berdasarkan rencana strategis sistem
informasi?

(12) Apakah prioritas dan kebutuhan akan informasi


ditentukan oleh manajemen?

(13) Apakah manajemen RSUD mendukung pengembangan


sistem informasi melalui komitmen terhadap sumber daya
yang memadai, baik manusia maupun keuangan?

(14)Apakah sumber daya yang memadai (pada level


manajemen dan level pegawai pelaksana kegiatan dengan
kompetensi yang tepat dan memadai) tersedia sesuai
kebutuhan?
b. Komunikasi

(1)Apakah tugas dan tanggung jawab pegawai pengelolaan


limbah dikomunikasikan melalui jaringan komunikasi yang
efektif?

(2)Apakah komunikasi, seperti pada saat pelatihan, rapat


atau dalam pelaksanaan pekerjaan, baik secara formal
maupun informal telah dilaksanakan secara memadai?

(3)Apakah setiap pegawai pengelolaan limbah mengetahui


tujuan kegiatan masing-masing dan cara mencapai tujuan
tersebut?

(4)Apakah setiap pegawai pengelolaan limbah mengerti


bagaimana tugas mereka berpengaruh ataupun
dipengaruhi oleh tugas pegawai yang lain?

(5)Apakah terdapat saluran komunikasi bagi setiap pegawai


untuk melaporkan adanya dugaan penyimpangan?

(6) Apakah para pegawai benar-benar menggunakan saluran


komunikasi yang ada?

(7)Apakah terhadap pegawai yang melaporkan dugaan


penyimpangan disediakan umpan balik dan diberi
kekebalan terhadap tuntutan balik?

(8)Apakah manajemen menerima dengan baik saran yang


diberikan oleh pegawai dalam rangka peningkatan
produktifitas, kualitas atau sejenisnya.
(9) Apakah terdapat mekanisme bagi pegawai untuk
menyampaikan saran-saran perbaikan?

(10)Apakah manajemen memberikan penghargaan kepada


para pegawai yang memberikan saran yang baik?
(11) Apakah komunikasi antar bagian telah dilakukan secara
memadai?

(12)Apakah manajemen mengkomunikasikan kepada pihak


luar tentang standar etika yang dimiliki RSUD?

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 11


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4.b

No. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

(13)Apakah pihak ketiga mengetahui standar etika dan


ekspektasi dalam rangka hubungan mereka dengan pihak
RSUD?
(14) Apakah pegawai senantiasa melaporkan masalah yang
terjadi dan laporan tersebut ditindaklanjuti/diinvestigasi?
(15) Apakah tindak lanjut atas penyimpangan dikomunikasikan
kepada sumbernya?

(16)Apakah manajemen sadar akan sifat dan jumlah keluhan


yang masuk?

c. Bentuk dan alat komunikasi

(1) Apakah manajemen RSUD menggunakan metode


komunikasi efektif yang antara lain meliputi manual
kebijakan dan prosedur, arahan manajemen, memorandum,
pemberitahuan, situs internet dan intranet, pesan-pesan
melalui video-tape, e-mail, dan pidato-pidato?
(2) Apakah terdapat rencana strategis sistem informasi yang
sejalan dengan rencana strategis organisasi?
(3) Apakah terdapat mekanisme untuk mengidentifikasi
kebutuhan informasi yang mendesak?
(4) Apakah peningkatan dan keunggulan teknologi dimonitor,
dianalisa, dievaluasi, dan diperkenalkan untuk membantu
organisasi untuk merespon lebih cepat dan efisien?

(5) Apakah manajemen RSUD memonitor secara kontinu


kualitas informasi yang diperoleh, dipelihara, dan
dikomunikasikan telah sesuai dengan materi, waktu,
akurasi, dan akses yang dibutuhkan?
(6) Apakah terdapat dukungan manajemen bagi
pengembangan teknologi informasi yang ditunjukkan
dengan komitmen organisasi dalam menyediakan
sumberdaya manusia dan keuangan?

5. Pemantauan

a. Pemantauan Berkelanjutan (ongoing monitoring)

(1)Apakah manajemen RSUD memiliki strategi untuk


menjamin efektifitas pelaksanaaan pemantauan
berkelanjutan?
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:

(a) Apakah strategi yang dimiliki manajemen RSUD


menjamin umpan balik (feed back) secara rutin,
pemantauan kinerja dan pencapaian tujuan SPI?

(b) Apakah strategi pemantauan mencakup metode


yang memberi penekanan kepada pejabat
pelaksana atau manajer operasi unit
pengelolaan limbah dalam memantau efektivitas
SPI?

(c) Apakah strategi pemantauan mencakup

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 12


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4.b

No. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

identifikasi kegiatan operasi utama unit


pengelolaan limbah yang membutuhkan review
dan evalusi tersendiri? Selanjutnya apakah
strategi juga meliputi perencanaan untuk
evaluasi berkala atas aktivitas pengendalian bagi
kegiatan atau operasi utama tersebut?

(2)Dalam pelaksanaan tugas rutinnya, apakah pegawai


memperoleh informasi mengenai berfungsi tidaknya SPI?
Beberapa informasi yang dapat dipertimbangkan adalah:

(a)Apakah pejabat pelaksana atau manajemen operasi


membandingkan baku mutu sebelum dan sesudah
limbah diolah dan informasi lainnya yang didapatkan
dari kegiatan rutin serta menindaklanjuti setiap
masalah yang diketemukan?

(b)Apakah pegawai pelaksana diharuskan untuk


bertanggungjawab atas kebenaran dan kelengkapan
laporan kegiatannya?

(3)Apakah pihak ketiga juga dilibatkan dalam pelaksanaan


pemantauan kegiatan?
(a) Apakah keluhan-keluhan masyarakat dan pihak lain
dapat segera diketahui penyebabnya?
(b) Apakah komunikasi dengan pihak yang
berkepentingan dilakukan?

(c)Apakah manajemen menginformasikan hal-hal yang


terkait dengan kepatuhan atau hal lain yang
menggambarkan berfungsinya SPI?

(d)Apakah dilakukan pengujian untuk mengetahui


aktivitas SPI yang tidak berfungsi dengan baik?
(4) Apakah struktur organisasi dan kegiatan supervisi yang ada
dapat membantu pemantauan terhadap fungsi SPI?

(5)Apakah auditor intern adalah badan yang independen dan


mempunyai kewenangan untuk melaporkan secara
langsung kepada manajemen RSUD?
(6) Apakah tanggapan atas rekomendasi auditor baik internal
maupun eksternal ditujukan untuk memperkuat/perbaikan
pengendalian intern?

(7)Apakah pejabat pelaksana unit pengelolaan limbah


mempunyai kewenangan memberi keputusan mengenai
rekomendasi yang akan diimplementasikan?

(8) Apakah terdapat mekanisme pertemuan dengan para


pegawai dalam rangka memperoleh umpan balik mengenai
efektifitas SPI?

(9)Apakah saran-saran dari pegawai terkait dengan


pengendalian intern dipertimbangkan dan dilaksanakan
secara proporsional?
(10) Apakah manajemen mendorong para pekerjanya untuk
mengidentifikasi kelemahan pengendalian intern dan

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 13


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4.b

No. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

melaporkan kepadanya dalam rangka pengawasan?


(11) Apakah para pegawai secara rutin diminta untuk
menyatakan secara eksplisit mengenai kesesuaian perilaku
mereka terhadap kode etik?
(12) Apakah para pegawai secara berkala diminta untuk
melaksanakan kode etik?

(13)Apakah kegiatan auditor intern telah efektif?

(a)Apakah auditor intern tingkat kompetensi dan


pengalaman di bidangnya?

(b) Apakah lingkup, tanggung jawab dan perencanaan


audit intern memenuhi kebutuhan organisasi?

b. Evaluasi Terpisah (Separate Evaluation)


(1) Apakah lingkup dan frekuensi pelaksanaan evaluasi
terhadap pengendalian intern telah memadai?

(a) Apakah lingkup dan frekuensi evaluasi


ditentukan dengan mempertimbangkan hasil
penilaian risiko dan efektivitas pemantauan
berkelanjutan
(b) Apakah seksi atau bagian tertentu pengendalian
intern dievalusi secara periodik?

(c) Apakah lingkup dan kedalaman cakupan sudah


cukup?
(d) Apakah evaluasi dilakukan oleh pegawai dengan
keahlian yang dibutuhkan?

(e) Apakah dilakukan evaluasi atas kejadian-


kejadian tertentu seperti perubahan rencana
atau strategi manajemen yang mendasar,
ekspansi usaha, perubahan yang signifikan pada
operasi atau informasi anggaran?

(2)Apakah metodologi untuk mengevaluasi pengendalian


intern telah memadai dan logis?

(a) Apa metodologi yang digunakan (seperti


checklist, kuisioner atau metode lain)?

(b) Apakah evaluasi tersebut mencakup review atas


design pengendalian dan pengujian langsung
terhadap aktivitas pengendalian intern?
(c) Apakah tim evaluasi juga dilibatkan dalam
merencanakan proses evaluasi?
(d) Apakah proses evaluasi dipimpin oleh eksekutif
yang mempunyai kewenangan, keahlian dan
pengalaman yang dibutuhkan?
(3) Apabila evaluasi ini dilakukan oleh auditor intern, apakah
mereka memiliki sumber daya, kemampuan dan

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 14


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4.b

No. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

independensi yang memadai?


Hal-hal berikut perlu menjadi bahan pertimbangan:
(a) Apakah auditor intern mempunyai kompetensi
dan pengalaman yang dapat melakukan
pekerjaan evaluasi?

(b) Apakah secara organisasi, auditor intern


independen dan melaporkan hasil evaluasi
kepada manajemen RSUD?
(c) Apakah tanggung jawab, lingkup pekerjaan, dan
rencana audit auditor intern dapat memenuhi
kebutuhan organisasi?

(d) Apakah penyimpangan yang ditemukan dalam


evaluasi ini telah dilaporkan ke pimpinan RSUD
dan telah diselesaikan secara tepat?

(e) Apakah terdapat kecukupan proses evaluasi?


Beberapa hal berikut dapat dijadikan
pertimbangan:

 Apakah evaluator mempunyai kecukupan


pemahaman terhadap aktivitas RSUD
khususnya unit pengolahan limbah?

 Apakah evaluator memiliki pemahaman


terhadap bagaimana sistem seharusnya
bekerja dan bagaimana sistem bekerja?

 Apakah evaluator melakukan analisis dengan


menggunakan hasil evaluasi sebagai
pengukuran terhadap kriteria yang telah
ditetapkan?

 Apakah pekerjaan evaluasi


didokumentasikan secara memadai?
c. Penyelesaian hasil audit

(1)Apakah terdapat mekanisme yang dapat menjamin bahwa


telah dilakukan penyelesaian secara tepat terhadap
temuan-temuan audit ataupun review lainnya? Antara lain:

(a)Apakah manager melakukan review dan


mengevaluasi temuan-temuan audit ataupun review
lainnya termasuk penyimpangan-penyimpangan dan
kemungkinan perbaikannya?
(b) Apakah manajemen menentukan hal-hal yang perlu
dilakukan dalam menanggapi temuan dan
rekomendasi?
(c) Apakah tindakan perbaikan dilakukan dalam jangka
waktu yang telah ditentukan?

(d)Dalam hal terjadi ketidaksetujuan terhadap temuan


atau rekomendasi, apakah manajemen mampu
menunjukkan bahwa temuan atau rekomendasi
tersebut tidak valid ataupun tidak bisa dilaksanakan?

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 15


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4.b

No. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

(e)Apakah manajemen mempunyai pemikiran untuk


melakukan konsultasi kepada auditor dan percaya
bahwa hal tersebut akan membantu proses
penyelesaian hasil audit?

(2)Apakah manajemen tanggap terhadap temuan dan


rekomendasi audit ataupun review lainnya yang bertujuan
untuk perbaikan pengendalian intern? Hal tersebut dapat
terlihat dari:
(a) Apakah eksekutif yang berwenang mengevaluasi
temuan dan rekomendasi serta menentukan
tindakan yang tepat untuk memperbaiki atau
meningkatkan pengendalian?
(b) Apakah tindakan pengendalian intern yang
diinginkan ditindaklanjuti dalam rangka verifikasi
pengendalian?

(3)Apakah tindak lanjut terhadap temuan dan rekomendasi


audit ataupun review lainnya telah dilakukan secara
memadai? Antara lain dapat diketahui dari:

(a) Apakah masalah-masalah pada


aktivitas/kegiatan RSUD khususnya unit
pengelolaan limbah dikoreksi secara tepat?
(b) Apakah penyebab permasalahan yang terjadi
dapat diselidiki oleh manajemen?

(c) Apakah tindak lanjut yang diperlukan telah


dilakukan?

(d) Apakah manajemen RSUD selalu mendapatkan


informasi terhadap status dan posisi
penyelesaian hasil audit?

KESIMPULAN:

*) COSO (Committee of Sponsoring Organization of the Treadway Commission), merupakan organisasi


swasta sukarela yang didirikan pada tahun 1985 yang ditujukan untuk pengembangan kualitas laporan
keuangan melalui etika bisnis, pengendalian intern yang efektif serta penguasaan perusahaan.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 16


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.5

A. PENGUJIAN PENGENDALIAN ATAS PENGELOLAAN LIMBAH


Ikhtisar pengujian pengendalian atas pengelolaan limbah adalah sebagai berikut:
sebelum melakukan pengujian sistem pengendalian intern (SPI) atas pengelolaan limbah,
pahami lebih dahulu SPI tersebut dengan cara menelaah data dan informasi yang telah
diperoleh mengenai pengendalian intern yang meliputi: lingkungan pengendalian, penilaian
risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi dan pemantauan yang digunakan
oleh manajemen untuk memberikan jaminan bahwa tujuannya dapat dicapai. Pengujian atas
SPI berdasarkan pemahaman tersebut dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut:
PENDEKATAN COSO:
1. Pengujian Lingkungan Pengendalian adalah pengujian yang dilakukan atas kondisi yang
mempengaruhi efektivitas pengendalian intern dalam organisasi RSUD terutama unit
pengelola limbah, yang memastikan bahwa:

a) Apakah integritas dan nilai etika sudah ditegakkan, dengan cara:


1) Pelajari dokumen yang mengatur tentang Kode Etik perilaku yang harus
diterapkan oleh seluruh manajemen dan sumber daya RSUD termasuk kode etik
yang berlaku khusus pada unit pengelolaan limbah;
2) Teliti apakah pernah terjadi penyimpangan atas pelaksanaan kode etik tersebut
dan selanjutnya analisa sebab akibat yang ditimbulkan atas penyimpangan yang
dilakukan;
3) Lakukan konfirmasi apakah penegakan disiplin telah diterapkan jika terjadi atau
ditemukan penyimpangan atas aturan perilaku
4) Teliti apakah terdapat intervensi dari pihak-pihak tertentu atau pengabaian atas
penegakan integritas dan nilai etika yang diterapkan dalam pengelolaan limbah

b) Apakah terdapat komitmen terhadap kompetensi, dengan cara:


1) Teliti apakah kegiatan unit/tim pengelola limbah telah dijabarkan secara rinci
dalam Standar Operating Procedure (SOP) yang ditetapkan dengan Keputusan
Direktur.
2) Teliti apakah standar kompetensi pada unit pengelola limbah berupa program
kegiatan pengelolaan limbah, yang menjadi bagian dari sasaran kesehatan
lingkungan yang ingin dicapai, telah didokumentasikan dalam bentuk cara untuk
melaksanakan kegiatan dan mencapai tujuan kegiatan
3) Lakukan konfirmasi apakah terdapat pendidikan dan latihan berkala yang
diberikan kepada personil pengelola limbah untuk meningkatkan kompetensi
pekerjaannya

c) Apakah terdapat kepemimpinan yang kondusif, dengan cara:


1) Lakukan konfirmasi apakah pimpinan atau manajemen RSUD telah
mempertimbangkan risiko dalam pengambilan keputusan terhadap pengelolaan
limbah
2) Teliti apakah penerapan kegiatan pengelolaan limbah telah memenuhi prinsip-
prinsip yang berbasis kinerja
3) Pelajari hubungan organisasi antara unit/tim pengelola limbah dengan
unit/instalasi lain penghasil limbah di lingkungan RSUD

d) Apakah pembentukan struktur organisasi sesuai kebutuhan dan;


e) Apakah terdapat pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat, dengan
cara:
1) Pelajari Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia yang mengatur
tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit.
2) Pelajari Peraturan atau Keputusan Menteri Kesehatan, Peraturan Daerah
dan/atau Keputusan Kepala Daerah yang mengatur peningkatan dan/atau
penetapan Kelas RSUD yang diperiksa.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 1


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.5

3) Pelajari struktur organisasi dan identifikasi keberadaan unit atau tim pengelola
limbah di dalam struktur organisasi RSUD tersebut.
4) Teliti apakah unit/tim pengelola limbah tersebut telah ditetapkan dan diatur dalam
Peraturan Daerah serta diatur secara lebih rinci tentang tugas pokok dan
fungsinya (tupoksi) dalam Keputusan/Peraturan Kepala Daerah
5) Teliti apakah keberadaan unit/tim pengelola limbah yang ditetapkan dengan
Peraturan Daerah dan Keputusan/Peraturan Kepala Daerah sesuai dengan
peraturan perundangan atau juknis yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan
6) Pelajari hubungan organisasi antara unit/tim pengelola limbah dengan
unit/instalasi lain penghasil limbah di lingkungan RSUD
7) Teliti sebab dan akibat jika keberadaan/struktur organisasi unit/tim pengelola
limbah tidak sesuai dengan peraturan perundangan yang mengatur tentang
struktur organisasi RSUD, dan rumuskan temuannya.

f) Apakah terdapat penyusunan dan penerapan kebijakan pembinaan sumber daya


manusia yang sehat, dengan cara:
1) Pelajari Surat Keputusan berupa pengangkatan dan penetapan pejabat dan
pegawai untuk melaksanakan tupoksi pada unit/tim pengelola limbah; peraturan
tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit yang mengatur
kualifikasi pendidikan dan pengalaman Sumber Daya Manusia yang ditugaskan
pada unit/tim pengelola limbah; serta Peraturan Daerah dan/atau
Keputusan/Peraturan Kepala Daerah yang mengatur Sumber Daya Manusia
pada unit/tim pengelola limbah;
2) Teliti kualifikasi pengalaman dan pendidikan pejabat yang memimpin unit/tim
pengelola limbah apakah sudah definitif, pelaksana harian/tugas, atau pejabat
sementara;
3) Teliti kualifikasi pengalaman dan pendidikan staf/pegawai pada unit/tim
pengelola limbah;
4) Analisa jumlah staf/pegawai pengelola limbah dengan beban kerja/kuantitas
limbah yang harus dikelola berdasarkan catatan harian debit air limbah dan
kuantitas limbah padat medis dan non medis;
5) Analisa sebab dan akibat jika pejabat dan personil tidak memenuhi kualifikasi
pengalaman dan pendidikan serta kuantitas seperti ditetapkan dalam peraturan
perundangan, selanjutnya rumuskan temuan pemeriksaannya;

g) Apakah terdapat perwujudan peran aparat pengawasan intern pemerintah, dengan


cara:
1) Pelajari SOP atau Protap atas Pengawasan Intern terhadap pengelolaan limbah;
2) Pelajari hasil pemeriksaan sebelumnya oleh Aparat Pengawasan Intern
Pemerintah (APIP) atas pengelolaan limbah RSUD dan teliti hasil tindak lanjut
atas rekomendasi APIP;
3) Analisa tupoksi Satuan Pengawas Intern (SPI) yang dimiliki oleh RSUD dan teliti
pengawasan intern yang telah dilakukan atas pengelolaan limbah;
4) Teliti notulen rapat atau surat edaran dari Direksi RSUD atas program
penyehatan lingkungan terutama pengelolaan limbah.
5) Analisa permasalahan dan kendala-kendala yang dihadapi oleh unit/tim
pengelola limbah dalam melaksanakan tupoksinya.

h) Apakah terdapat hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah lain terkait,
dengan cara:
1) Periksa dokumen perjanjian antara RSUD dengan lembaga/instansi yang
berkaitan dengan pemenuhan kriteria yang dipersyaratkan dalam AMDAL
seperti: Bapedal dan Bappedalda;
2) Teliti dokumen perjanjian, SOP atau Protap pengelolaan limbah oleh/yang
berasal dari instansi/lembaga lain di luar RSUD seperti: Dinas Lingkungan Hidup
mengenai pengelolaan limbah padat non medis serta Puskesmas, Puskesmas

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 2


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.5

Pembantu (Pustu), Rumah Sakit, dan instansi/lembaga lainnya yang


melimpahkan pengelolaan limbah padat medisnya ke RSUD terperiksa;

2. Pengujian terhadap penilaian risiko yang lebih rinci diuraikan dalam pengujian substantif
atas pengelolaan limbah dengan pendekatan risiko (Risk-Based Audit)

3. Pengujian atas Kegiatan Pengendalian

4. Pengujian atas Informasi dan Komunikasi

5. Pengujian atas Pemantauan

PENDEKATAN OKP6
Pengujian atas Sistem Pengendalian Intern dilaksanakan antara lain dengan prosedur sebagai
berikut:
1. Organisasi
a) Pelajari Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia yang mengatur tentang
Pedoman Organisasi Rumah Sakit.
b) Pelajari Peraturan atau Keputusan Menteri Kesehatan, Peraturan Daerah dan/atau
Keputusan Kepala Daerah yang mengatur peningkatan dan/atau penetapan Kelas RSUD
yang diperiksa.
c) Pelajari struktur organisasi dan identifikasi keberadaan unit atau tim pengelola limbah di
dalam struktur organisasi RSUD tersebut.
d) Teliti apakah unit/tim pengelola limbah tersebut telah ditetapkan dan diatur dalam
Peraturan Daerah serta diatur secara lebih rinci tentang tugas pokok dan fungsinya
(tupoksi) dalam Keputusan/Peraturan Kepala Daerah
e) Teliti apakah keberadaan unit/tim pengelola limbah yang ditetapkan dengan Peraturan
Daerah dan Keputusan/Peraturan Kepala Daerah sesuai dengan peraturan perundangan
atau juknis yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan
f) Pelajari hubungan organisasi antara unit/tim pengelola limbah dengan unit/instalasi lain
penghasil limbah di lingkungan RSUD
g) Teliti sebab dan akibat jika keberadaan/struktur organisasi unit/tim pengelola limbah tidak
sesuai dengan peraturan perundangan yang mengatur tentang struktur organisasi
RSUD, dan rumuskan temuannya.

2. Kebijaksanaan
a) Pelajari Rencana Strategi (Renstra) yang memuat Visi, Misi, khususnya tujuan, sasaran,
strategi atau cara mencapai tujuan, kegiatan, dan indikator yang berkaitan dengan
kesehatan lingkungan rumah sakit terutama pengelolaan limbah.
b) Dapatkan Program dan Kegiatan Penyehatan Lingkungan yang disusun oleh RSUD
beserta rincian kegiatannya, di antaranya : penyehatan bangunan dan ruangan;
penyehatan makanan dan minuman; penyehatan air termasuk kualitasnya; penyehatan
tempat pencucian linen; pengendalian serangga dan tikus; sterilisasi dan desinfeksi;
perlindungan radiasi; penyuluhan kesehatan lingkungan; dan penanganan limbah medis,
non medis dan limbah cair.
c) Pelajari dokumen Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang terdiri dari
Kerangka Acuan, Analisa Dampak Lingkungan (ANDAL), Rencana Pengelolaan
Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) yang wajib dimiliki oleh
RSUD Kelas A atau Kelas B.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 3


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.5

d) Pelajari dokumen UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan) dan UPL (Upaya Pemantauan
Lingkungan) yang wajib dimiliki oleh RSUD Kelas C dan D.
e) Teliti sebab dan akibat jika RSUD Kelas A dan B tidak mempunyai AMDAL; atau RSUD
Kelas C dan D tidak mempunyai UKL-UPL, selanjutnya rumuskan temuan dengan cara
membandingkan kondisi dengan kriteria atau peraturan perundangan dari Kementerian
Lingkungan Hidup, Bappedal dan/atau Bappedalda.
f) Teliti apakah kegiatan unit/tim pengelola limbah telah terinci dijabarkan dalam Standard
Operating Procedure (SOP) yang ditetapkan dengan Keputusan Direktur.

3. Perencanaan
a) Pelajari dokumen RKL dan RPL untuk meyakini apakah telah mendukung tujuan
pengelolaan limbah.
b) Pelajari peraturan perundangan yang berkaitan dengan penyusunan rencana anggaran
dan kegiatan RSUD, seperti contoh: peraturan mengenai Pedoman Kelembagaan dan
Pengelolaan Rumah Sakit Daerah; peraturan/juknis mengenai Pengusulan, Penetapan,
dan Tata Cara Pengelolaan Keuangan Unit Swadana Daerah; peraturan mengenai
pengelolaan Badan Layanan Umum Daerah (BLU); Pedoman Pelaksanaan Pengadaan
Barang dan Jasa Pemerintah beserta perubahannya; dan Pedoman Pengelolaan Barang
Daerah;
c) Teliti hubungan kerja berkaitan dengan perencanaan, penyusunan dan penetapan
anggaran kegiatan dan pendapatan, antara unit/tim pengelola limbah dengan unit/bagian
yang menjalankan tupoksi Perencanaan dan Anggaran pada RSUD, sebelum anggaran
kegiatan tersebut ditetapkan menjadi RKA (Rencana Kegiatan Anggaran), dibahas oleh
Panitia Anggaran di Pemerintah Daerah, ditetapkan dengan Peraturan Daerah dan
Peraturan/Keputusan Kepala Daerah, serta dituangkan dalam DPA (Dokumen
Pelaksanaan Anggaran).
d) Teliti rencana anggaran belanja berkaitan dengan pemeliharaan, pengadaan barang dan
jasa yang berkaitan dengan sarana pengelolaan limbah RSUD.
e) Teliti rencana anggaran pendapatan yang berkaitan dengan kegiatan pengelolaan limbah
yang berasal dari instansi/lembaga penghasil limbah di luar RSUD.

4. Prosedur
a) Pelajari peraturan atau pedoman berkaitan dengan Persyaratan Kesehatan Lingkungan
Rumah Sakit, Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
(B3), dan Pedoman Perizinan Sarana Pengelolaan Limbah.
b) Teliti dokumen, gambar situs, dan manual yang memuat spesifikasi sarana pengolahan
limbah seperti Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), alat pembakar sampah medis
(incinerator), alat/bak penampungan sementara/kontrol, septic-tank, dan saluran air
hujan;
c) Teliti apakah Standard Operating Procedures (SOP) pengelolaan limbah sesuai dengan
AMDAL yang terdiri dari Kerangka Acuan, ANDAL, RKL dan RPL serta UKL dan UPL.
d) Teliti SOP atau Prosedur Tetap (Protap) pengelolaan limbah yang menjadi tupoksi
unit/tim pengelola limbah dan telah ditetapkan oleh Direksi RSUD, seperti contoh SOP
atau Protap:
1) Pemisahan Jenis Limbah;
2) Penampungan Sementara Limbah;

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 4


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.5

3) Pengangkutan Limbah Padat Medis ke Tempat Pembakaran (incinerator);


4) Pengangkutan Limbah Padat Non Medis ke Tempat Penampungan Sementara (TPS)
sebelum diangkut oleh Dinas Kebersihan Kota/Kabupaten ke Tempat Pembuangan
Akhir (TPA);
5) Penyimpanan Limbah Padat Medis sebelum diolah dalam incinerator;
6) Pengoperasian dan Pemeliharaan Incinerator;
7) Pengoperasian Instalasi atau Sarana Pengolahan Limbah Cair;
8) Pembuangan Limbah Cair Olahan;
9) Penyimpanan atau Pembuangan Debu/Abu Incinerator Olahan;
10) Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3);
11) Penanganan Keadaan Darurat jika terjadi kebakaran, kebocoran, dan banjir;
12) Penanganan Debit Air Limbah Berlebih (overflow atau debit air limbah lebih besar
dari kapasitas IPAL/septic-tank).
e) Teliti SOP atau Protap yang menjadi tupoksi instalasi/bagian lain penghasil limbah
spesifik/khusus di lingkungan RSUD seperti SOP atau Protap:
1) Penanganan limbah radiologi;
2) Penanganan limbah laboratorium rumah sakit;
3) Penanganan limbah dari Ruang Hemodialisa (pencucian darah);
4) Penanganan limbah dari Ruang Patologi Anatomi;
5) Penanganan limbah farmasi berupa obat-obatan kadaluwarsa atau tidak habis
dipakai oleh pasien;
6) Penanganan limbah yang mengandung lemak di Instalasi Gizi sebelum disalurkan ke
inlet IPAL;
7) Penanganan limbah yang mengandung detergen di Instalasi Laundry sebelum
disalurkan ke inlet IPAL.
f) Teliti dokumen perjanjian, SOP atau Protap pengelolaan limbah oleh/yang berasal dari
instansi/lembaga lain di luar RSUD seperti: Dinas Lingkungan Hidup, Puskesmas,
Puskesmas Pembantu (Pustu), Rumah Sakit, dan instansi/lembaga lainnya;
g) Teliti sebab dan akibat RSUD tidak mempunyai Protap pengelolaan limbah atau jika
isi/uraian dalam Protap tersebut tidak sesuai dengan peraturan perundangan,
selanjutnya rumuskan temuan pemeriksaannya.

5. Pencatatan
a) Pelajari SOP atau Protap atas pendokumentasian kegiatan pengolahan limbah RSUD
setiap hari; dan pendokumentasian penerimaan atau pengiriman limbah dari/ke
instansi/lembaga di luar RSUD;
b) Pelajari peraturan tentang prosedur penghapusan barang daerah;
c) Pelajari catatan atas notulen rapat Direksi, Kepala Bagian/Instalasi/Unit terkait dengan
pengelolaan limbah;
d) Teliti dokumen pencatatan atau Berita Acara kegiatan pengelolaan limbah dari kegiatan
Pemisahan Jenis Limbah; Penampungan Sementara Limbah; Pengangkutan Limbah
Padat Medis ke Tempat Pembakaran (incinerator); sampai dengan Pengangkutan
Limbah Padat Non Medis ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA);

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 5


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.5

e) Teliti catatan berupa Berita Acara Pengambilan Sampel oleh tenaga ahli (pihak luar
RSUD) atau yang dilakukan sendiri oleh tenaga ahli yang dimiliki oleh unit/tim
pengelolaan limbah, untuk pengujian laboratorium atas;
1) limbah cair masukan (influent) pada inlet IPAL;
2) hasil olahan limbah cair (effluent) pada outlet IPAL;
3) tingkat kebauan pada fasilitas RSUD yang paling dekat dengan IPAL;
4) debu/abu hasil olahan incinerator;
5) emisi cerobong incinerator;
6) lumpur kering hasil residu IPAL;
7) udara ambien pada fasilitas RSUD yang paling dekat dengan incinerator dan/atau
sesuai dengan observasi dan pertimbangan professional tenaga ahli;
8) limbah cair sebelum disalurkan ke inlet IPAL pada Instalasi Gizi dan Laundry.
f) Teliti catatan berupa Berita Acara Pemusnahan Obat-Obatan Kedaluwarsa beserta
dokumen pendukung berupa:
1) Dokumen pengajuan penghapusan obat-obatan dari Panitia Penghapusan Barang
RSUD ke Pemerintah Daerah;
2) Dokumen persetujuan atas penghapusan obat-obatan dari Kepala Daerah dan/atau
Panitia/Pejabat Berwenang atas Penghapusan Barang di Daerah;
g) Teliti catatan berupa Berita Acara Penyimpanan atau Pembuangan Hasil Olahan Limbah
yang masih mengandung B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun);
h) Teliti catatan harian debit air limbah dan kuantitas limbah padat medis dan non medis
i) Teliti catatan berupa pernah terjadi keadaan darurat, banjir, kebakaran, kebocoran,
overflow, dan kebauan pada sarana atau instalasi pengelolaan limbah;
j) Teliti catatan berupa Berita Acara Pemeliharaan, Perbaikan, Penggantian Komponen
atas Incinerator atau Instalasi atau Sarana Pengolahan Limbah Cair;
k) Teliti catatan berupa dokumen pengadaan barang dan jasa berkaitan dengan sarana
pengelolaan limbah.

6. Personalia
a) Pelajari Surat Keputusan berupa pengangkatan dan penetapan pejabat dan pegawai
untuk melaksanakan tupoksi pada unit/tim pengelola limbah; peraturan tentang
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit yang mengatur kualifikasi pendidikan
dan pengalaman Sumber Daya Manusia yang ditugaskan pada unit/tim pengelola limbah;
serta Peraturan Daerah dan/atau Keputusan/Peraturan Kepala Daerah yang mengatur
Sumber Daya Manusia pada unit/tim pengelola limbah;
b) Teliti kualifikasi pengalaman dan pendidikan pejabat yang memimpin unit/tim pengelola
limbah apakah sudah definitif, pelaksana harian/tugas, atau pejabat sementara;
c) Teliti kualifikasi pengalaman dan pendidikan staf/pegawai pada unit/tim pengelola limbah;
d) Analisa jumlah staf/pegawai pengelola limbah dengan beban kerja/kuantitas limbah yang
harus dikelola berdasarkan catatan harian debit air limbah dan kuantitas limbah padat
medis dan non medis;
e) Analisa sebab dan akibat jika pejabat dan personil tidak memenuhi kualifikasi
pengalaman dan pendidikan serta kuantitas seperti ditetapkan dalam peraturan
perundangan, selanjutnya rumuskan temuan pemeriksaannya;

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 6


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.5

7. Pelaporan
a) Teliti laporan formal yang disampaikan oleh tenaga ahli laboratorium kepada RSUD
berkaitan dengan pengujian baku mutu atas:
1) limbah cair masukan (influent) pada inlet IPAL;
2) hasil olahan limbah cair (effluent) pada outlet IPAL;
3) lumpur kering hasil residu IPAL;
4) tingkat kebauan pada fasilitas RSUD yang paling dekat dengan IPAL;
5) debu/abu hasil olahan incinerator;
6) emisi cerobong incinerator;
7) udara ambien pada fasilitas RSUD yang paling dekat dengan incinerator;
8) limbah cair sebelum disalurkan ke inlet IPAL pada Instalasi Gizi dan Laundry.
b) Analisa hasil laporan formal dari uji laboratorium tersebut atas parameter-parameter
yang melebihi baku mutu dan rekomendasi dari tenaga ahli yang harus ditindak lanjuti
oleh RSUD atas penyimpangan baku yang terjadi;
c) Teliti hasil laporan tindak lanjut pihak RSUD atas rekomendasi tenaga ahli
laboratorium;
d) Teliti Laporan Bulanan, Triwulanan, Semesteran dan Tahunan Unit/Tim Pengelola
Limbah yang antara lain memuat:
1) Laporan pelaksanaan AMDAL untuk RSUD Type A dan B atau UKL dan UPL untuk
RSUD Type C dan D;
2) Kegiatan pengelolaan limbah;
3) Laporan Pemeliharaan dan perbaikan sarana/instalasi pengelola limbah;
4) Laporan Pengadaan Barang dan Jasa atas pengelolaan limbah;
5) Laporan anggaran dan realisasi kegiatan serta pendapatan yang berkaitan dengan
pengelolaan limbah;
6) Laporan kejadian darurat dan luar biasa;
7) Laporan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

8. Pengawasan Intern
a) Pelajari SOP atau Protap atas Pengawasan Intern terhadap pengelolaan limbah;
b) Pelajari hasil pemeriksaan sebelumnya oleh Aparat Pengawasan Intern Pemerintah
(APIP) atas pengelolaan limbah RSUD dan teliti hasil tindak lanjut atas rekomendasi
APIP;
c) Analisa tupoksi Satuan Pengawas Intern (SPI) yang dimiliki oleh RSUD dan teliti
pengawasan intern yang telah dilakukan atas pengelolaan limbah;
d) Teliti notulen rapat atau surat edaran dari Direksi RSUD atas program penyehatan
lingkungan terutama pengelolaan limbah.
e) Analisa permasalahan dan kendala-kendala yang dihadapi oleh unit/tim pengelola
limbah dalam melaksanakan tupoksinya.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 7


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.6

SURAT PERNYATAAN
GANGGUAN INDEPENDENSI

Kepada
Yth. Penanggung jawab pemeriksaan ………… (nama penugasan)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini dalam rangka pemeriksaan…………….(nama


penugasan) dengan ini menyatakan bahwa saya memiliki gangguan independensi seperti
yang diatur di dalam Standar Pemeriksaan Keuangan Negara, yaitu sebagai berikut :

1. …………………………………………………………………………………………

2. …………………………………………………………………………………………

3. ………………………………………………………………………………………..

Apabila saya menerima penugasan pemeriksaan tersebut, maka independensi saya tidak
sepenuhnya terjamin.

Mohon dipertimbangkan untuk meninjau kembali posisi penugasan saya dalam pemeriksaan
……………………………(nama penugasan).

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Jakarta,……………...

Menyetujui, Mengetahui,
Penanggung Jawab Pemeriksaan, Pengendali Teknis/ Yang Menyatakan,
Ketua Tim,

(nama penanggung jawab) (nama) (nama lengkap)


NIP NIP

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.7

Ikhtisar Pengujian Terinci atas Pengelolaan Limbah RSUD

No. Tujuan Area Kunci Risk-Based Audit Pengujian Subtantif


Pengujian
1. Apakah proses  Adanya  Tidak adanya AMDAL, UKL-  Dapatkan dan Analisa dokumen AMDAL (untuk RSUD Kelas A dan B) yang terdiri
perencanaan dokumen UPL mengakibatkan dari dokumen ANDAL, RKL dan RPL; atau dokumen UKL dan UPL (untuk RSUD
pengelolaan AMDAL, RKL manajemen RSUD tidak Kelas C dan D);
limbah RSUD dan RPL yang mempunyai dasar yang
telah berjalan memadai dalam proses
 Teliti dengan cermat rencana pemantauan yang tercantum dalam dokumen UKL
wajib dimiliki dan UPL (untuk RS tipe C dan D) dengan tujuan untuk memastikan dampak
efektif dan oleh RSUD pengambilan keputusan
sesuai dengan tentang kegiatan yang penting yang harus dipantau, sumber dampak, parameter lingkungan yang
Type A dan B dipantau, metode pemantauan, lokasi pemantauan, jangka waktu, dan frekuensi
peraturan atau Dokumen mempunyai dampak besar
perundangan dan penting terhadap pemantauan;
UKL dan UPL
yang wajib lingkungan hidup sesuai  Dapatkan dan analisa dokumen pendukung seperti peta situasi lingkungan, lay out
dimiliki oleh dengan yang dipersyaratkan rumah sakit, peta pengelolaan dan pemantauan lingkungan, gambar situs
RSUD Type C  Ada urutan/prosedur sarana/instalasi pengelolaan limbah, jenis dan karakteristik limbah serta bagan
dan D penanganan yang sengaja proses kegiatan pengelolaan limbah;
dihilangkan atau tidak
 Adanya
dimasukkan ke dalam
 Teliti program kerja pemantauan yang dilakukan melalui kegiatan pemeriksaan
Program kerja laboratorium serta supervisi lingkungan yang dibuat untuk dua tahun anggaran
manual perencanaan terakhir; apakah apakah program kerja tersebut disusun dengan mengacu pada
tahunan atas
pengelolaan dan  Ada upaya/rencana RKL atau UKL, dan disesuaikan dengan kondisi instalasi serta perkembangan
pengendalian bypassing langsung ke kegiatan pelayanan rumah sakit;
dampak lingkungan tanpa proses  Teliti rencana pengelolaan limbah padat yang dimuat dalam RKL atau UKL,
lingkungan pengolahan/netralisasi dengan tujuan untuk mengetahui secara pasti jenis limbah padat medis dan non
terkait
medis serta instalasi penghasil setiap jenis limbah padat medis dan non medis;
pengelolaan
limbah  Dapatkan dan analisa ijin-ijin pengelolaan limbah yang diberikan oleh instansi yang
berwenang kepada RSUD seperti ijin pengoperasian sarana pengolahan limbah
 Terdapat cair, dan ijin penggunaan incinerator;
struktur
organisasi yang  Dapatkan Dokumen Anggaran dan teliti apakah kegiatan pemeliharaan, perbaikan
dibentuk untuk dan pengolahan limbah telah dianggarkan.
menangani
 Teliti struktur organisasi (unit/instalasi/tim) yang dibentuk untuk menangani
pengelolaan
pengelolaan dan pengendalian dampak lingkungan termasuk unit/instalasi/tim
limbah
pengelola limbah berikut uraian tugas, tanggung jawab dan wewenang masing-
masing pejabat serta petugas tersebut;
 Dapatkan dan analisa layout sarana pengolahan limbah cair serta minta
penjelasan lengkap dari unit/instalasi/tim pengelola limbah untuk mengetahui
bagian/instalasi sumber penghasil limbah cair serta jaringan penyalurannya dari
sumber ke sarana pengolahan;

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 1


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.7

No. Tujuan Area Kunci Risk-Based Audit Pengujian Subtantif


Pengujian
 Dapatkan dan analisa program kerja tahunan atas pengelolaan limbah serta data
alokasi anggaran kegiatan dan pendapatan untuk masing-masing kegiatan
pengelolaan limbah tersebut baik anggaran biaya operasi dan pemeliharaan
maupun anggaran biaya modal.
2. Apakah proses  Adanya  limbah padat bercampur  Lakukan identifikasi apakah limbah cair maupun limbah padat medis dan non-
pengumpulan SOP/Protap dengan limbah cair; medis telah dikumpulkan sementara terlebih dahulu secara layak di tempat dimana
limbah RSUD proses limbah tersebut dihasilkan sebelum disimpan atau dipindahkan;
telah berjalan pengumpulan  limbah padat medis
efektif dan limbah dan bercampur dengan  Periksa dan teliti lebih lanjut apakah limbah padat medis telah ditempatkan dalam
efisien serta implementasi nonmedis tempat pengumpulan seperti kontainer dan/atau kantong plastik dengan tulisan,
sesuai dengan atas lambang, dan warna sesuai kategori limbah untuk menghindari kesalahan
peraturan  terjadi kebocoran berupa
identifikasi yang dapat menimbulkan terganggunya kesehatan dan keselamatan
SOP/Protap
perundangan materi dan bau; kerja, serta dalam kondisi aman, kuat dan anti bocor;
tersebut

 Tanggung jawab
 kapasitas  Periksa apakah bak penampungan sementara limbah cair terutama pada instalasi
bak/kontainer/kantong gizi telah memiliki penyaringan lemak dan partikel padat dan pada instalasi laundry
masing-masing
penampungan sementara telah memiliki penyaringan buih dan partikel padat; dan teliti lebih lanjut sebab dan
bagian/instalasi
tidak memadai (tidak kuat akibat yang ditimbulkan jika partikel padat, lemak, buih detergen masuk ke dalam
penghasil
atau tidak tahan bocor); sarana pengolahan limbah (IPAL)
limbah dalam
melaksanakan  terjadi penyumbatan pada  Periksa apakah hasil penyaringan lemak dan partikel padat dikumpulkan untuk
pengumpulan saluran menuju inlet IPAL
limbah cair selanjutnya ditangani menjadi limbah padat non-medis;
(contoh: bak
kontrol lemak di
 Periksa pengumpulan limbah padat dan cair pada instalasi khusus seperti: Instalasi
Instalasi Gizi Laboratorium, Instalasi Radiologi, Instalasi Patologi Anatomi, dan Ruang
sebelum ke Inlet Hemodialisa (pencucian darah), apakah perlakuan khusus terhadap pengumpulan
IPAL) serta limbah pada instalasi-instalasi dimaksud telah dilaksanakan sesuai ketentuan
limbah padat  Teliti lebih lanjut apakah bak kontrol limbah cair telah didesain untuk memudahkan
medis dan non
penanggulangan penyumbatan jika limbah cair bercampur dengan limbah padat;
medis
dan teliti lebih lanjut sebab akibat jika terjadi penyumbatan

 Periksa apakah kantong plastik tempat pengumpulan limbah padat medis dan non
medis telah diangkat setiap hari (pengambilan limbah dari tempat pengumpulan
sementara) atau kurang dari sehari apabila 2/3 bagian telah terisi limbah;

 Periksa apakah saluran atau jaringan limbah cair dari sumber penghasil limbah
sampai ke bak penampungan telah layak secara teknis, memadai, dan aman;

 Periksa lebih lanjut tempat pengumpulan sementara limbah padat medis apakah
tempat pengumpulan segera dibersihkan dan dilakukan disinfeksi setelah
dikosongkan, apabila akan dipergunakan kembali.
Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 2
Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.7

No. Tujuan Area Kunci Risk-Based Audit Pengujian Subtantif


Pengujian
 Lakukan observasi di setiap instalasi untuk mengetahui apakah pada setiap kamar
atau setiap radius 10 meter dan setiap radius 20 meter pada ruang tunggu terbuka
disediakan tempat penyimpanan limbah padat non medis yang terbuat dari bahan
yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air dan mempunyai permukaan yang
halus pada bagian dalamnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3. Apakah proses  Adanya  limbah padat medis dan non-  Periksa pengangkutan limbah padat medis dan non medis dari tempat
pemindahan SOP/Protap medis tercecer pengumpulan limbah ke tempat penyimpanan sebelum diolah, apakah dilakukan
limbah padat atas proses sesuai jadwal dan tidak terjadi ceceran;
RSUD telah pemindahan  area yang dilewati sewaktu
berjalan efektif limbah padat terjadi pemindahan  Analisa apakah jadwal pemindahan telah memadai jika dibadingkan dengan
dan sesuai dan terkontaminasi kapasitas limbah padat yang dihasilkan
dengan implementasi
peraturan  kerusakan alat  Teliti apakah alat angkut yang dipakai telah sesuai dengan yang ditetapkan dalam
atas
perundangan pengangkutan dokumen RKL atau UKL yang dituangkan lebih rinci dalam SOP atau Protap, yaitu
SOP/Protap
kereta dorong terbuka untuk limbah padat non-medis dan kereta/ gerobak dari
tersebut  salah penanganan dan stainless steel tertutup untuk limbah padat medis. Alat angkut tersebut harus dapat
mengganggu Kesehatan dan menampung limbah secara memadai, didesain untuk mencegah kebocoran, dan
 Upaya
Keselamatan Kerja (K3)
pencegahan dibuat dengan material yang dapat dibersihkan dan didisinfektasi secara efektif.
dan Periksa lebih lanjut sebab dan akibatnya bila alat angkut yang dipakai dan cara
penanggulanga pengangkutannya terjadi penyimpangan.
n pencemaran  Teliti apakah rute spesifik yang ditempuh dalam pemindahan/ transportasi limbah
yang terjadi
melintasi area pasien dan area bersih lainnya; dan analisa dampak yang
pada saat
ditimbulkan jika pemindahan limbah padat medis melalui area pasien dan area
pemindahan
bersih lainnya
limbah padat

 Tanggung
 Lakukan pemeriksaan atas penanganan/pengiriman limbah B3 yang bersifat semi
cair (seperti darah) yang penanganannya seperti limbah padat medis, apakah
jawab petugas
penanganannya/ pengirimannya dilakukan dengan SOP/Protap dan ketentuan
pemindahan
yang berlaku.
limbah padat
medis dari  Lakukan observasi untuk mengetahui ketertiban pengangkutan (pengambilan)
tempat limbah padat non medis dari TPS di Rumah Sakit ke tempat pembuangan akhir
penampungan (TPA) yang dilakukan tidak tertib (tidak setiap hari) dan terjadi
sementara penumpukan/ceceran limbah, dan teliti lebih lanjut sebab dan akibatnya terhadap
(TPS) ke tempat kesehatan di lingkungan sekitarnya;
penyimpanan
sebelum diolah  Lakukan pemeriksaan fisik secara mendadak di TPS limbah padat non medis
atau limbah untuk mengetahui dan memastikan bahwa limbah padat yang dibuang di TPS
padat non tersebut tidak termasuk limbah padat medis. Bila ditemukan limbah tersebut, teliti
medis dari TPS lebih lanjut sebab dan akibatnya.
ke Tempat
Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 3
Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.7

No. Tujuan Area Kunci Risk-Based Audit Pengujian Subtantif


Pengujian
Pembuangan
Akhir (TPA)
4. Apakah proses  SOP/Protap  penumpukan limbah padat  Periksa apakah kegiatan penyimpanan limbah telah sesuai dengan SOP/Protap
penyimpanan atas medis di tempat yang mengacu pada RKL atau UKL; termasuk kegiatan penyimpanan limbah padat
limbah telah penyimpanan penyimpanan medis yang berasal dari luar RSUD
berjalan efektif limbah dan
dan sesuai implementasi  terjadinya pengemasan  Teliti tempat penyimpanan sementara limbah padat medis sebelum diolah di
dengan terhadap ulang, incinerator, apakah telah disimpan secara layak pada ruangan/bak/kontainer
peraturan SOP/Protap pemberian/penggunaan tertutup yang kuat dan anti bocor serta diberi tanda bahaya ”biohazard”
perundangan tersebut kembali untuk pasien,
kontaminasi penyakit  Teliti apakah tempat penyimpanan limbah padat medis telah dibuat batas yang
 Upaya menular antar pasien, dan jelas dan tidak dapat diakses selain petugas yang berwenang
pencegahan dan ceceran pada saat
penanggulangan penyimpanan limbah padat  Periksa jika terjadi penyimpanan limbah padat medis terlalu lama karena tidak
pencemaran medis (contoh: obat-obatan sesuai dengan jadwal pembakaran pada incinerator, serta terjadi penumpukan
yang terjadi dan perlengkapan medis limbah padat medis, serta tidak memperhitungkan kapasitas limbah padat medis;
pada saat yang tidak/telah terpakai) dan analisa sebab dan akibatnya terhadap lingkungan atas penyimpanan limbah
penyimpanan padat medis yang tidak layak
 tempat berkembang biaknya
 Tanggung jawab bakteri  Periksa apakah terdapat pihak-pihak tidak berwenang (seperti pemulung) yang
petugas melakukan kegiatan pengumpulan limbah padat medis dan nonmedis dari tempat
penyimpanan  pengumpulan/pengambilan sampah maupun tempat penampungan sementara
limbah padat limbah padat medis dan non
medis sebelum medis oleh pihak yang tidak
diolah berwenang (misalnya
pemulung)
5. Apakah proses  SOP/Protap Limbah Cair: Limbah cair:
pengolahan atas pengolahan
dan dan
 Komponen pengolahan tidak  Periksa apakah limbah cair non-medis yang berasal dari dapur/gizi dan laundry
pembuangan pembuangan berfungsi telah dilakukan klasifikasi berdasarkan tinggi rendahnya kadar BOD dan COD nya.
limbah pada limbah serta Apabila sudah, teliti lebih lanjut apakah air limbah tersebut telah disalurkan ke
RSUD telah  Khlorinasi/desinfeksi tidak salah satu saluran pembuangan, misalnya: IPAL, saluran ke septic tank, saluran
implementasi
berjalan berlangsung optimal (jika pematusan yang menyatu air hujan, atau saluran pembuangan penampungan lain.
atas
secara efisien pemberian disinfektan terlalu
SOP/Protap  Teliti bagaimana pembuangannya ke tempat penampungan lain. Perhatikan bahwa
dan efektif sedikit masih terdapat
tersebut
serta sesuai kuman berbahaya, jika tidak diperbolehkan apabila saluran air hujan digunakan untuk saluran
dengan  Pemantauan terlalu banyak akan pembuangan air limbah.
peraturan atas pengolahan menghambat kerja bakteri
perundangan pengurai)  Lakukan pengujian BOD dan COD oleh tenaga ahli laboratorium independen pada
limbah dan
penampungan sementara limbah cair non-medis pada instalasi gizi dan laundry;
pembuangan  Aerasi tidak berlangsung analisa sebab dan akibat bila di atas baku mutu
limbah hasil
Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 4
Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.7

No. Tujuan Area Kunci Risk-Based Audit Pengujian Subtantif


Pengujian
olahan optimal  Analisa sebab dan akibat jika ada saluran pembuangan air hujan yang menyatu
 Hasil uji  Sedimentasi akan dengan saluran pematusan di dalam komplek Rumah Sakit. Dapatkan informasi
laboratorium mengurangi kapasitas bak mengenai pelimpahan yang terjadi pada musim hujan dan tanyakan tinggi
atas limbah hasil pengolah genangan maksimal dan apakah ada pencemaran yang terjadi karena genangan
olahan tersebut.
 Parameter limbah cair
 Upaya olahan (effluent) melebihi  Teliti apakah pada saluran pematusan telah dipasang alat ukur debit atau laju air
pencegahan baku mutu limbah dan teliti apakah alat ukur tersebut telah digunakan sebagai dasar untuk
dan mencatat debit harian limbah cair dan dilaporkan kepada yang berwenang dhi.
penanggulanga  Parameter lumpur kering Bapedalda, Dinas Kesehatan dan/atau Dinas Lingkungan Hidup;
n pencemaran residu IPAL melebihi baku
yang terjadi saat mutu  Periksa apakah semua limbah cair medis termasuk limbah cair beracun dan
infeksius serta limbah tinja telah disalurkan melalui pipa khusus atau instalasi
pengolahan dan  limbah cair berlebih
pembuangan khusus yaitu Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) jika tidak ada bagaimana
dibandingakan kapasitas limbah tersebut disalurkan oleh Rumah Sakit;
limbah
sarana pengolah air limbah
 Tanggung (IPAL) atau overflow  Lakukan analisa kapasitas instalasi pengolahan air limbah, apakah instalasi
jawab petugas pengolahan air limbah yang ada dapat menampung seluruh limbah cair yang
 pencemaran badan air dan dihasilkan rumah sakit berdasarkan tingkat dan indikator hunian seperti: jumlah
pengolahan dan
pencemaran udara di sekitar tempat tidur; BOR (Bed Occupancy Ratio/Rasio Pemakaian Tempat Tidur); jumlah
pembuangan
IPAL maksimal limbah cair per tempat tidur per hari yaitu 0,5m3/bed/day berdasarkan
limbah
perhitungan International Code Plumbing dan Environmental Engineering; dan
kapasitas IPAL RSUD; selanjutnya analisa sebab akibat jika debit air limbah
melebihi kapasitas IPAL (overflow).

 Periksa apakah proses penyaringan (fisik), aerasi (biologi) , sedimentasi, serta


khlorinasi (kimiawi) pada instalasi pengolahan air limbah diterapkan secara
memadai untuk limbah cair; selanjutnya analisa sebab akibat jika proses tersebut
tidak/kurang dilakukan.

 Lakukan pengambilan sampel pemeriksaan atas limbah masukan (influent) pada


inlet IPAL dan limbah olahan (effluent) pada outlet IPAL dan lumpur kering residu
IPAL dengan bantuan tenaga ahli laboratorium independen, lengkapi dengan
Berita Acara Pengambilan Sampel Limbah Cair;

 Lakukan pengujian dan analisa bersama dengan tenaga ahli laboratorium


independen terhadap sampel limbah cair tersebut berdasarkan parameter limbah
cair seperti: pH, suhu, BOD (Biological Oxygen Demand/Kebutuhan Oksigen
Biologis), COD (Chemical Oxygen Demand/Kebutuhan Oksigen Kimiawi), Phospat
(PO4), Ammonia (NH3), TSS (Total Suspended Solution/Total Zat Tersuspensi),
dan Total Coliform, lengkapi dengan Berita Acara analisa bersama ataupun hasil
pengujian dari laboratorium penguji;
Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 5
Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.7

No. Tujuan Area Kunci Risk-Based Audit Pengujian Subtantif


Pengujian
 Lakukan pengujian dan analisa bersama tenaga ahli laboratorium
independen terhadap sampel lumpur kering
 Lakukan pengujian dan analisa bersama dengan tenaga ahli laboratorium
independen terhadap parameter tingkat kebauan, seperti: Ammonia (NH3) dan
Hidrogen Sulfida (H2S) di sekitar IPAL (udara ambient) atau fasilitas umum/RSUD
yang terdekat dengan IPAL atau tempat yang sesuai dengan observasi dan
pertimbangan profesional auditor, lengkapi dengan Berita Acara analisa bersama
ataupun hasil pengujian dari laboratorium penguji;

 Analisa sebab dan akibat jika parameter limbah cair dan tingkat kebauan tersebut
tidak sesuai dengan baku mutu;

 Lakukan pengambilan sampel atas air permukaan (jika RSUD menggunakan air
permukaan seperti air sumur bor untuk keperluan RSUD) dengan bantuan tenaga
ahli laboratorium independen guna mengetahui apakah pengelolaan limbah cair
telah menurunkan kualitas air permukaan, lengkapi dengan Berita Acara
pengambilan sampel atas air permukaan;

 Lakukan pengujian dan analisa bersama dengan tenaga ahli laboratorium


independen terhadap parameter air permukaan seperti: suhu, residu terlarut, residu
tersuspensi, pH, BOD, COD, DO (Dissolved Oxygen/Oksigen Terlarut), Ammonia,
Phospat, serta parameter lain sesuai dengan ketentuan, lengkapi dengan Berita
Acara analisa bersama ataupun hasil pengujian dari laboratorium penguji;

 Analisa sebab dan akibat jika parameter air permukaan tersebut tidak sesuai
dengan baku mutu;

 Periksa kegiatan pemeliharaan sarana pengelolaan limbah cair yaitu: bak


kontrol/penampungan, saluran perpipaan, inlet IPAL, komponen-komponen IPAL
dan outlet IPAL; selanjutnya analisa sebab dan akibat jika pemeliharaan tersebut
dilakukan tidak optimal serta sebab dan akibat jika komponen-komponen tersebut
mengalami kerusakan atau tidak berfungsi normal.

 Periksa pengelolaan limbah cair radioaktif sejak penampungan di setiap instalasi


yang menggunakan zat radioaktif, pengolahan, penyimpanan dan pembuangannya,
apakah telah dilakukan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dan
memperhatikan ketentuan serta SOP/Protap yang berlaku

Limbah Padat Medis: Limbah Padat Medis:

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 6


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.7

No. Tujuan Area Kunci Risk-Based Audit Pengujian Subtantif


Pengujian
 tidak dilakukan pemusnahan  Lakukan pemeriksaan fisik lokasi pengelolaan limbah padat medis berupa
incinerator dan/atau tempat pembakaran untuk membuktikan bahwa lokasinya
 pemusnahan tidak dilakukan
berada pada area bebas banjir dan jarak antara lokasi dengan fasilitas RSUD dan
pada incinerator fasilitas umum lebih dari 50 meter. Selain itu, teliti apakah persyaratan-persyaratan
 incinerator/tempat berikut telah terpenuhi:
pemusnahan tidak - Memiliki sistem penjagaan sesuai dengan SOP/Protap sistem penjagaan RSUD
terisolir/dekat dari instalasi
selama 24 jam
rawat jalan/inap, pemukiman
atau fasilitas RSUD lainnya - Mempunyai penerangan yang memadai

 incinerator tidak layak/tidak - Memiliki tanda peringatan yang mudah terlihat dari jarak 10 meter
berfungsi/kurang berfungsi
sehingga menimbulkan - Mempunyai peralatan penanggulangan darurat dan menyediakan peralatan
pencemaran yang menjamin Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

 incinerator juga digunakan - Memiliki tempat penampungan sementara sebelum limbah padat medis dibakar
untuk mengolah limbah di incinerator
padat non medis
 Lakukan observasi atas kondisi fisik dan kelayakan operasi incinerator dan
 parameter emisi hasil bandingkan dengan dokumen yang menjelaskan spesifikasi incinerator serta
pembakaran pada manual tata cara pemeliharaan dan pengoperasian incinerator; selanjutnya, analisa
incinerator melebihi baku sebab dan akibat jika kondisi fisik dan kelayakan operasi incinerator tidak sesuai
mutu dengan ketentuan;
 Lakukan observasi dan teliti apakah incinerator juga digunakan untuk mengolah
 pembuangan abu/debu
limbah padat non medis, jika ya, teliti sebab dan akibatnya, apakah ada
incinerator yang masih kemungkinan karena tidak adanya pemisahan limbah padat medis dan non medis
mengandung logam berat pada saat pengumpulan maupun pengangkutan limbah
atau B3 tidak layak sehingga
masih menimbulkan  Lakukan pengambilan sampel atas emisi cerobong incinerator dibantu oleh tenaga
pencemaran ahli laboratorium independen, lengkapi dengan Berita Acara Pengambilan Sampel;

 Lakukan pengujian dan analisa bersama dengan tenaga ahli laboratorium


independen terhadap parameter emisi cerobong incinerator, seperti parameter
bukan logam yaitu: Ammonia (NH3), Gas Klorin (Cl2), Hidrogen Klorida (HCl),
Hidrogen Fluorida (HF), Nitrogen Dioksida (NO2), Sulfur Dioksida (SO2), Hidrogen
Sulfida (H2S), opasitas atau kepekatan, partikel; serta parameter logam berat yaitu:
Air Raksa/Hidrargirum (Hg), Arsen (As), Antimon/Stambum (Sb), Cadmium (Cd),
Seng/Zinc (Zn) dan Timah Hitam/Plumbum (Pb), lengkapi dengan Berita Acara
analisa bersama ataupun hasil pengujian dari laboratorium penguji;

 Analisa sebab dan akibat jika parameter emisi cerobong incnerator tersebut

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 7


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.7

No. Tujuan Area Kunci Risk-Based Audit Pengujian Subtantif


Pengujian
melebihi baku mutu;

 Lakukan pengujian dan analisa atas udara ambien oleh tenaga ahli laboratorium
independen di sekitar incinerator atau fasilitas umum/RSUD yang terdekat dengan
incinerator atau tempat yang sesuai dengan observasi dan pertimbangan
profesional auditor terhadap parameter udara ambien seperti parameter: Sulfur
Dioksida (SO2), Carbon Monoksida (CO), Nitrogen Dioksida (NO2), O3 (Oksidan
atau ozon di permukaan), Hidrokarbon (HC), partikel, debu total, debu jatuh dan
logam berat Timah Hitam (Pb) lengkapi dengan Berita Acara Analisa bersama
ataupun hasil pengujian dari laboratorium penguji;

 Analisa sebab dan akibat jika parameter udara ambien tersebut melebihi baku
mutu;

 Lakukan pengambilan sampel atas abu/debu hasil pembakaran pada incinerator


dibantu oleh tenaga ahli laboratorium independen lengkapi dengan Berita Acara
pengambilan sampel;

 Lakukan pengujian dan analisa bersama dengan tenaga ahli laboratorium


independen terhadap parameter logam berat yang terkandung dalam abu/debu
incinerator seperti contoh: Besi/Ferrum (Fe), Chrom (Cr), Cobalt (Co), Aluminium
(Al), Mangan (Mn), Air Raksa/Hidrargirum (Hg), Arsen (As), Antimon/Stambum
(Sb), Cadmium (Cd), Seng/Zinc (Zn) dan Timah Hitam/Plumbum (Pb);Timah Hitam
(Pb) lengkapi dengan Berita Acara Analisa bersama ataupun hasil pengujian dari
laboratorium penguji;

 Periksa cara penanganan abu/debu incinerator yang tidak boleh dibuang ke TPA
tetapi harus disimpan atau ditimbun (landfilling) sesuai dengan peraturan
perundangan; selanjutnya analisa sebab dan akibat jika debu/abu incinerator tidak
ditangani sesuai dengan ketentuan.
6. Apakah proses  Standard  Tidak tersedianya SOP  Lakukan pemeriksaan untuk mengetahui pelaksanaan dari program kerja
pemantauan Operating pemantauan dan pemantauan lingkungan/ pemeriksaan laboratorium tersebut. Dapatkan dan pelajari
dan Prosedure atas pengawasan pengelolaan dokumen hasil kegiatan pemantauan tersebut antara lain:
pengawasan pemantauan limbah
pengelolaan a. Pemantauan atas pengelolaan limbah medis dan non medis
dan  Tidak tersedianya biaya
limbah RSUD pengawasan b. Pemeriksaan air limbah (inlet dan outlet IPAL)
telah sesuai pemeliharaan, perbaikan dan
pengelolaan penambahan kapasitas
dengan  Bandingkan hasil kegiatan itu dengan program kerja, apakah tidak terjadi
limbah. pengelolaan limbah.
peraturan penyimpangan, baik jadwal waktu, lokasi pemantauan, parameter yang dipantau
perundang-  Pelaksanaan  Tidak dilakukannya maupun frekuensi pemantauannya. Bila terjadi penyimpangan, teliti lebih lanjut
undangan. pemeriksaan pemeriksaan air limbah (inlet sebab dan akibatnya.
laboratorium
Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 8
Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.7

No. Tujuan Area Kunci Risk-Based Audit Pengujian Subtantif


Pengujian
untuk air limbah, dan outlet) emisi insenerator  Teliti seluruh hasil kegiatan pemantauan dan pemeriksaan laboratorium selama
emisi dan udara ambien secara dua tahun anggaran terakhir dan apakah hasil tersebut telah diperbandingkan
insenerator dan berkala kepada laboratorium sebagai landasan untuk evaluasi. Bila sudah, dapatkan hasil evaluasi tersebut dan
udara ambien. setempat. teliti apakah hasil evaluasi itu telah efisien dan efektif dalam pengelolaan
 Personil  Kekurangan personil dalam lingkungan
pengelola tim/unit pengelola limbah
limbah yang yang melakukan
 Periksa apakah telah dilakukan tindak lanjut untuk perbaikan terhadap hasil
mempunyai pemantauan dan pemantauan/ pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan penyimpangan baku
mutu dan yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Bila belum dilakukan
kecakapan pengawasan.
dalam tindak lanjut, teliti sebab dan akibatnya.
memantau dan  Tidak ada laporan yang
dibuat terkait kegiatan  Lakukan pemeriksaan untuk membuktikan bahwa tim/instalasi/unit pengelola
mengawasi
pengelolaan limbah. limbah telah memenuhi kewajiban menyampaikan laporan hasil pemantauan
proses selama berkala (triwulanan) kepada pihak yang membawahi unit/instalasi/tim
pengelolaan tersebut, contoh; Wakil Direktur.
limbah
 Lakukan pemeriksaan terhadap laporan yang disusun oleh unit/instalasi/tim
pengelola limbah tersebut, apakah dipelajari oleh pihak yang membawahi
unit/instalasi/tim tersebut dan dijadikan dasar pelaporan dari Direktur RSUD
kepada instansi pengendali dampak lingkungan setempat.
 Teliti apakah instansi tersebut pernah memberikan teguran atas kelalaian dalam
penyampaian laporan.
 Dapatkan informasi dari instansi pengendali dampak lingkungan di daerah dhi.
Bapedalda Propinsi/Kabupaten/Kota mengenai pengelolaan dampak lingkungan
pada rumah sakit yang diperiksa dan pemberian ijin pengelolaan limbah. Bila ijin
pengelolaan limbah tidak ada, teliti lebih lanjut alasannya.
 Teliti keberadaan personil yang melakukan pemantauan dan pengawasan
pengelolaan limbah. Bila tidak ada, teliti lebih lanjut sebab akibatnya.

 Tanyakan apakah personil yang melakukan pemantauan dan pengawasan tersebut


telah mendapatkan pelatihan pengelolaan limbah khususnya penanganan limbah
B3

 Lakukan wawancara dengan masyarakat sekitar apakah ada keluhan terhadap


pencemaran lingkungan di sekitar badan air dan tempat pemukiman serta apakah
ada keluhan dan pengaduan masyarakat kepada pihak yang terkait/berwenang.
Bila ada, teliti lebih lanjut apakah tim/instalasi/unit pengelola limbah telah
mengawasi dan menanggulangi kondisi tersebut.
 Teliti masa berlaku ijin atas pengelolaan limbah dari instansi tekait

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 9


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.7

No. Tujuan Area Kunci Risk-Based Audit Pengujian Subtantif


Pengujian
 Kesesuaian perijinan yang diterbitkan dengan kelengkapan pengolah limbah yang
dimiliki.
7. Apakah proses  Perencanaan  Sarana pengelolaan limbah  Lakukan pengujian atas kecukupan anggaran dan realisasi biaya untuk mengelola
pengadaan anggaran yang telah diadakan tidak limbah cair dan padat medis dalam setiap tahapan proses serta biaya
barang dan pengadaan dimanfaatkan. pemeliharaan dan perbaikan atau penambahan kapasitas pengelolaan limbah
jasa untuk sarana dan
pengelolaan prasarana  Kemahalan harga  Perhatikan spesifikasi incinerator yang digunakan (serta dapatkan manual guide),
limbah RSUD pengelolaan pengadaan. untuk memastikan bahwa mesin pengolah limbah tersebut di operasikan dan di
telah sesuai limbah telah rawat dengan baik. Uji ke anggaran perawatan/pemeliharaan.
 Ketidaksesuaian antara
dengan disesuaikan
peraturan dengan
spesifikasi pekerjaan dalam  Dikaitkan dengan manajemen asset, teliti dokumen hibah/pinjampakai atas mesin
kontrak dengan yang pengolahan limbah yang berasal dari hibah dan atau hanya bersifat pinjam pakai.
perundang- kebutuhan.
sebenarnya. Uji lagi ke anggaran realisasi biaya perawatan/pemeliharaan.
undangan.
 Pelaksanaan
pengadaan  Dapatkan daftar hasil pengadaan sarana dan prasarana pengelolaan limbah, teliti
sarana dan apakah hasil pengadaan tersebut telah sesuai dengan rencana yang diusulkan
prasarana oleh tim/instalasi/unit pengelola limbah tahun anggaran yang diperiksa; apakah
pengelolaan terdapat rencana pengadaan barang yang tidak dapat dilaksanakan, bila ada
limbah telah tanyakan penyebabnya
memperhitungk
an nilai  Periksa apakah prosedur pengadaan sarana dan prasarana pengelolaan limbah
ekonomis, telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur pengadaan
efisiensi dan barang dan jasa bagi instansi pemerintah.
efektivitas.  Lakukan analisis terhadap kewajaran harga atas pengadaan sarana dan prasarana
pengelolaan limbah, apakah telah sesuai dengan harga pasar atau standarisasi
harga yang dibuat oleh pemerintah.

 Lakukan pemeriksaan fisik terhadap barang yang dibeli baik kualitas maupun
kuantitasnya. Jika terdapat perbedaan dengan spesifikasi dalam kontrak, apakah
telah dilakukan pengawasan dan pemeriksaan oleh tim/panitia pemeriksa barang.
 Bandingkan antara realisasi keuangan dan realisasi fisik atau non fisik apakah
dana yang dikeluarkan sebanding dengan hasil yang dicapai (efektivitas
pencapaian sasaran).

 Telaah apakah sarana dan prasarana pengelolaan limbah yang diadakan telah
dimanfaatkan secara optimal dan jika tidak, teliti kendala-kendala yang dihadapi,
antara lain tenaga operator, daya dan komponen pendukung lainnya

 Periksa apakah biaya pemeliharaan yang dianggarkan mendukung pemeliharaan


sarana dan prasarana pengelolaan limbah dan telah direalisasikan sesuai
Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan
10
Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.7

No. Tujuan Area Kunci Risk-Based Audit Pengujian Subtantif


Pengujian
peruntukannya.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan


11
Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4.1

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia

Review Sheet Ketua Tim

No Indeks KKP Risalah Hasil Pembahasan Tindak Lanjut/Tanggal

……………,…………..,20…

Ketua Tim

…………………………………
NIP…………………………
…..

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4.1

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia

Review Sheet Pengendali Teknis

No Indeks KKP Risalah Hasil Pembahasan Tindak Lanjut/Tanggal

……………,…………..,20…

Pengendali Teknis

…………………………………
NIP…………………………
…..

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4.1

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia

Review Sheet Penanggung Jawab

No Indeks KKP Risalah Hasil Pembahasan Tindak Lanjut/Tanggal

……………,…………..,20…

Penanggung Jawab

…………………………………
NIP…………………………
…..

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4.2

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia

LAPORAN PERKEMBANGAN PELAKSANAAN PEMERIKSAAN

Kesesuaian dengan tujuan


dan harapan penugasan
Kriteria Penilaian Laporan Perkembangan
No serta program pemeriksaan
Pelaksanaan Pemeriksaan
Belum
Sudah Sesuai
Sesuai
PERENCANAAN PEMERIKSAAN
1 Pemahaman tujuan pemeriksaan dan harapan
penugasan
2 Pemenuhan kebutuhan pemeriksa
3 Pemahaman atas entitas
4 Pemantauan tindak lanjut laporan hasil pemeriksaan
sebelumnya
5 Pemahaman sistem pengendalian intern
6 Pemahaman risiko
7 Penentuan pengambilan sampel yang akan diuji
laboratorium
8 Pelaksanaan prosedur analitis awal
9 Penyusunan program pemeriksaan dan penyusunan
program kerja perorangan
PELAKSANAAN PEMERIKSAAN
1 Pengujian Sistem Pengendalian Intern
2 Pengujian Substantif
3 Penyusunan Konsep Temuan Pemeriksaan
4 Pembahasan Konsep Temuan Pemeriksaan dengan
Pejabat Entitas yang Berwenang
5 Perolehan Tanggapan Resmi dan Tertulis
6 Penyampaian Temuan Pemeriksaan
PELAPORAN HASIL PEMERIKSAAN
1 Penyusunan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan
2 Penyampaian Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan
kepada Pejabat Entitas
3 Pembahasan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan
dengan Pejabat Entitas
4 Penyusunan Konsep Akhir dan Penyampaian Laporan
Hasil Pemeriksaan

Keterangan:
Kolom kesesuaian dengan tujuan dan harapan penugasan serta program pemeriksaan diisi
dengan membubuhkan tick mark (√) pada kolom yang tepat.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4.2

…………….,………….,20..
Penanggung Jawab………
di…………………………

…………………………
NIP……………………..

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4.3

LEMBAR KENDALI PENYELESAIAN LAPORAN

Tanggal pemeriksaan dimulai :


Nama Entitas : Tanggal pemeriksaan selesai :
Semester : Tanggal TP ditandatangani :
Tahun Anggaran : Tanggal pembahasan TP selesai :

Rekapitulasi jumlah
Proses Penyelesaian KHP hari penyelesaian
Penyelesaian Laporan
No KHP
oleh

1. Tim

2. Pengendali Teknis

3. Penanggung Jawab

Penanggung jawab :
Pengendali Teknis :
Ketua Tim :

Pengendali Teknis Penanggung Jawab : …………..

…………….., …………………, 20….


Penanggung Jawab ……………
di ……

……………………
NIP………………

Keterangan : - Kolom pada Proses Penyelesaian KHP diisi dengan tanggal saat terakhir
penyelesaian pada setiap penanggung jawab yang bersangkutan
- Satu kolom berisi satu tanggal

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4.4

CHECKLIST
PENJAMINAN MUTU PEMERIKSAAN

Penanggung Jawab

Pengendali Teknis

Ketua Tim Pemeriksaan

Entitas yang diperiksa

Tahap penyelesaian

Tanggal mulai reviu

Tanggal akhir reviu

Pembahasan temuan

Nama Pereviu*

* Jika dilakukan oleh pihak di luar Tim

Kami, yang bertandatangan di bawah ini, menyatakan bahwa temuan di dalam reviu ini telah:
• Dibahas dengan manajemen (Penanggung Jawab, Pengendali Teknis dan Ketua Tim).
• Dikomunikasikan dengan seluruh anggota tim pemeriksaan.

Penanggung Jawab

Pengendali Teknis

Ketua Tim

Ketua Sub Tim (jika ada)

Pereviu*

Tanggal

* Jika dilakukan oleh pihak di luar Tim

Direktorat Litbang PDTT Badan Pemeriksa Keuangan 1


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4.4

Pendahuluan:

Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) mensyaratkan bagi setiap organisasi


pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan berdasarkan SPKN untuk memiliki sistem
pengendalian mutu yang memadai, dan sistem pengendalian mutu tersebut harus direviu
oleh pihak lain yang berkompeten.

Untuk itu, dikembangkan suatu Reviu Pengendalian dan Penjaminan Mutu.


Pereviu tidak dibatasi pada unsur-unsur yang dimasukkan di dalam checklist ini dan segala
hal yang mungkin mempunyai dampak terhadap kualitas pemeriksaan harus
dipertimbangkan.

Apabila temuan dari pertanyaan tertentu positif, berikan tanda tick () pada kolom ‘Ya’.

Apabila temuannya negatif, berikan tanda tick () pada kolom ‘tidak’, disertai dengan
alasan/penjelasan yang memadai dalam kolom yang disediakan. Selain itu perlu dibuat
suatu rujukan baik pada risalah pembahasan temuan dengan manajemen atau pada
laporan final QAR (Quality Assurance Reviu).

Apabila pertanyaannya tidak dapat diterapkan, berikan tanda tick () pada kolom ‘Tidak
ada’, disertai dengan penjelasan yang memadai.

Seluruh pertanyaan sedapat mungkin harus diberikan rujukan pada KKP yang berkaitan
dalam file pemeriksaan tersebut.

Checklist Perencanaan Pemeriksaan


Bagi pengendali teknis, pereviu silang, penanggung jawab pemeriksa dan wakilnya yang
bertanggung jawab atas reviu perencanaan pemeriksaan harus melaksanakan reviu untuk
menentukan masalah berikut ini:

Tidak Ref.
Uraian/Langkah Kerja Ya Tidak Keterangan
Ada KK

 Apakah perencanaan pemeriksaan


dilakukan sesuai dengan kebijakan
pemeriksaan, SPKN, panduan
pemeriksaan dan praktek yang berlaku
di BPK;
 Apakah ada informasi relevan terkait
ketentuan/peraturan perundang-
undangan yang berdampak secara
signifikan pada tujuan pemeriksaan;
 Apakah dilaksanakan pemahaman
entitas yang diperiksa untuk membantu
perencanaan pemeriksaan;
 Apakah tujuan dan lingkup pekerjaan
pemeriksaan telah ditentukan;
 Apakah ada sumber informasi seperti
media, temuan aparat pemeriksaan
internal, inspeksi dan badan pengatur
lain, saran DPR/DPRD, DPD,
permintaan pemerintah dan pihak lain
sebagai latar belakang pemeriksaan;

Direktorat Litbang PDTT Badan Pemeriksa Keuangan 2


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4.4

Tidak Ref.
Uraian/Langkah Kerja Ya Tidak Keterangan
Ada KK

 Apakah prosedur pemeriksaan telah


dibuat secara memadai;
 Apakah masalah penting yang
diketahui pada saat perencanaan
pemeriksaan telah diungkapkan;
 Apakah seluruh anggota tim pemeriksa
memiliki pemahaman yang jelas dan
konsisten mengenai program
pemeriksaan;
 Apakah program pemeriksaan telah
meliputi tindak lanjut hasil pemeriksaan
sebelumnya ;
 Apakah telah dilakukan evaluasi
terhadap SPI entitas yang diperiksa;
 Apakah elemen-elemen kunci sistem
pengendalian dan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang wajib
dipatuhi oleh entitas yang diperiksa
telah teridentifikasi;
 Apakah risiko audit telah ditetapkan;
 Apakah metode uji petik telah
ditentukan;
 Apakah prosedur analisis telah
diterapkan secara tepat;
 Apakah konsultan atau tenaga ahli
diperlukan;
 Apakah konsultan atau tenaga ahli
dipilih dengan tepat;
 Apakah anggaran dan penjadwalan
waktu untuk pemeriksaan telah
ditentukan;
 Apakah sumber daya manusia yang
diperlukan bagi pelaksanaan
pemeriksaan memenuhi kriteria
kompeten , independen, dan memiliki
integritas ;
 Apakah terdapat prosedur lain dan
praktek yang dipergunakan dalam
tahap perencanaan pemeriksaan;

Checklist Pelaksanaan Pemeriksaan


Bagi pengendali teknis, pereviu silang, penanggung jawab pemeriksa dan wakilnya yang
bertanggung jawab atas reviu pelaksanaan pemeriksaan harus melaksanakan reviu untuk
menentukan masalah berikut ini:

Direktorat Litbang PDTT Badan Pemeriksa Keuangan 3


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4.4

Tidak Ref.
Uraian/Langkah Kerja Ya Tidak Keterangan
Ada KK

 Apakah semua tahap pemeriksaan


sudah dilaksanakan sebagaimana
direncanakan dan disetujui;
 Apakah terdapat penjelasan yang
memadai untuk langkah-langlah dalam
P2S yang tidak dilaksanakan;
 Apakah terdapat persetujuan yang
sepatutnya untuk deviasi signifikan dari
pelaksanaan P2S;
 Apakah sumber daya (waktu,
kemampuan personil, dan biaya) untuk
pemeriksaan sebagian besar sesuai
dengan yang telah direncanakan;
 Apakah teknik dan prosedur
pemeriksaan yang yang dipergunakan
telah tepat untuk mencapai tujuan
pemeriksaan
 Apakah pengujian-pengujian yang
dipergunakan telah tepat untuk
mengevaluasi keandalan pengendalian
intern dan kepatuhan pada ketentuan
peraturan perundang-undangan;
 Apakah prosedur analitikal yang
digunakan telah tepat;
 Apakah prosedur analitikal yang
digunakan dapt menjamin keandalan,
obyektivitas dan mutu data pendukung
yang relevan;
 Apakah metode sampling yang
digunakan sesuai dengan SPKN dan
panduan manajemen pemeriksaan BPK;
 Apakah P2S yang dibuat telah
memadai untuk perolehan bukti yang
memadai;
 Apakah semua pertanyaan yang timbul
selama pemeriksaan telah diselesaikan
sepatutnya;
 Apakah kertas kerja yang memadai
telah diperoleh mengenai:
 evaluasi sistem pengendalian intern;
 pemeriksaan prosedur yang rutin;
 pengujian pengendalian, evaluasi
risiko, penentuan materialitas;
 reviu analitikal dan pengujian
kepatuhan;
 pengujian substantif

Direktorat Litbang PDTT Badan Pemeriksa Keuangan 4


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4.4

Tidak Ref.
Uraian/Langkah Kerja Ya Tidak Keterangan
Ada KK

 Apakah KKP telah memuat referensi


silang;
 Apakah checklist penyelesaian
pemeriksaan terinci telah diselesaikan
dengan lengkap, disetujui dan didukung
bukti yang memadai;
 Apakah pemeriksaan telah memuat
bukti kompeten tentang ketentuan
peraturan perundangan-undangan yang
dilanggar, dampak pelanggaran
terhadap keuangan negara, estimasi
(potensi) kerugian keuangan, simpulan
dan rekomendasi;
 Apakah pekerjaan konsultan dan tenaga
ahli lain telah dipantau sepatutnya dan
hasil pekerjaannya mendukung
simpulan pemeriksaan;
 Apakah prosedur lain dan praktik yang
dipergunakan dalam pelaksanaan
pemeriksaan memadai;

Checklist Pelaporan Pemeriksaan


Bagi pengendali teknis, pereviu silang, penanggung jawab pemeriksa dan wakilnya yang
bertanggung jawab atas reviu pelaksanaan pemeriksaan harus melaksanakan reviu untuk
menentukan masalah berikut ini:

Tidak Ref.
Uraian/Langkah Kerja Ya Tidak Keterangan
Ada KK

 Apakah pelaporan sesuai dengan SPKN


dan PMP;
 Apakah bentuk dan isi laporan sesuai
dengan prosedur yang ditetapkan yaitu
mengenai judul, tandatangan, tanggal,
tujuan, lingkup pekerjaan, alamat yang
dituju, dasar hukum, ketepatan waktu
penyampaian laporan dan lain
sebagainya;
 Apakah terminologi dalam laporan dapat
dengan mudah dimengerti oleh
stakeholder dan istilah-istilah teknis
telah semuanya dijelaskan dalam
laporan;
 Apakah semua temuan pemeriksaan
telah dievaluasi dari segi materialitas,
kekeliruan, ketidakakuratan dan
ketidakberesan lainnya;
 Apakah semua kekeliruan, kekurangan/

Direktorat Litbang PDTT Badan Pemeriksa Keuangan 5


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4.4

Tidak Ref.
Uraian/Langkah Kerja Ya Tidak Keterangan
Ada KK

defisiensi, dan masalah yang tidak biasa


telah diidentifikasi sepatutnya,
didokumentasi dan telah diselesaikan
dengan memuaskan;
 Apakah laporan pemeriksaan final telah
memuat semua hal yang mencerminkan
tujuan pemeriksaan;
 Apakah observasi dan simpulan dalam
laporan telah didukung dan
didokumentasikan dengan baik untuk
meyakinkan kelengkapan, akurasi dan
validitas kertas kerja;
 Apakah evaluasi dan simpulan telah
didasarkan pada pertimbangan
profesional yang sehat dan didukung
oleh bukti pemeriksaan yang kompeten,
cukup, relevan dan beralasan
(reasonable);
 Apakah hanya temuan pemeriksaan
yang cukup material dimasukkan dalam
laporan pemeriksaan;
 Apakah laporan telah disampaikan tepat
waktu, komprehensif, dilaksanakan oleh
pemeriksa kompeten yang independen,
didokumentasikan sepatutnya dan
dicerminkan memadai dalam simpulan
laporan;
 Apakah laporan telah memuat atau
menyatakan kelemahan-kelemahan
pengendalian dan ketidakpatuhan dan
disampaikan kepada manajemen entitas
yang diperiksa tepat pada waktunya;
 Apakah tanggapan dari manajemen
entitas yang diperiksa atas hasil
pemeriksaan telah diterima oleh tim
pemeriksa tepat pada waktunya;
 Apakah tim pemeriksa telah
mengevaluasi secara cermat tanggapan
tersebut;
 Apakah semua temuan, simpulan dan
rekomendasi yang diberikan tanggapan
oleh pimpinan entitas yang diperiksa
telah dievaluasi sepatutnya;
 Apakah tanggapan pimpinan entitas
yang diperiksa dimuat dalam laporan
hasil pemeriksaan;
 Apakah jika ada kecurangan signifikan
atau penyimpangan lain telah
diberitahukan kepada pejabat yang

Direktorat Litbang PDTT Badan Pemeriksa Keuangan 6


Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4.4

Tidak Ref.
Uraian/Langkah Kerja Ya Tidak Keterangan
Ada KK

berwenang, baik internal maupun


ekternal;
 Apakah arsip permanen (permanent file)
pada KKP telah dimutakhirkan dan
dipisahkan dari kertas kerja berjalan
(currrent file) serta disimpan teratur;
 Apakah prosedur lain dan best practices
telah diterapkan dalam tahap pelaporan.

Direktorat Litbang PDTT Badan Pemeriksa Keuangan 7