Anda di halaman 1dari 2

Yakob Jati Yulianto

08/267528/SP/22951

Jurusan Politik & Pemerintahan

Review November 1828

Warisan Belanda: Kapitalis Birokrat

Film November 1828 merupakan film dalam setting perjuangan melawan


kolonialisme Belanda. Film ini sudah tidak berbicara tentang kedatangan Belanda,
namun langsung masuk pada keadaan pulau Jawa yang telah diduduki oleh
Belanda. Film karya Teguh Karya ini juga tidak memperlihatkan perjuangan yang
istanasentris.

Terdapat beberapa hal yang menarik dari film November 1828. Pertama, sekalipun
setting yang diambil adalah perang melawan kolonialisme Belanda, namun film ini
lebih bercerita pada konflik batin aktor yang terlibat dalam perang. Kedua, film ini
dapat direfleksikan pada keadaan sekarang bahwa penjajahan masih ada, dari dulu
sampai sekarang kapitalis birokrat masih ada. Ketiga, peran institusi agama dalam
mengumpulkan pemuda. Keempat, pergerakan perjuangan melalui kesenian.

Dalam film tersebut dapat kita lihat bahwa konflik batin hampir dirasakan oleh
semua aktor. Kromoludiro dan keluarganya dapat kita lihat konflik batin antara
kesetian terhadap perjuangan dan pengorbanan keluarga. Bahkan, pihak Van Aken
yang merupakan pihak Belanda pun mengalami dua konflik batin. Pertama, bahwa
dia adalah keturunan Jawa-Belanda yang tidak tega melihat penindasan Belanda
atas Jawa. Kedua, bahwa pendudukan suatu tempat harus memperhatikan unsur
kemanusiaan, pada waktu itu Belanda mengabaikan unsur kemanusiaan. Konflik
tersebut dialami sampai dia ditahan oleh pasukan Belanda sendiri.

Film ini juga menceritakan seorang Demang yang merupakan pengurus desa yang
mengabdi pada kepentingan Belanda. Tidak hanya itu, pasukan Belanda juga ada
yang berasal dari Pribumi. Jabatan-jabatan yang digunakan pribumi untuk menjajah
bangsa sendiri itulah yang disebut dengan kapitalis birokrat. Dari film itu, dapat
dikatakan bahwa Kapitalis Birokrat telah ada sejak zaman penjajahan Belanda.
Belanda menggunakan pribumi untuk menindas pribumi. Jika kita refleksikan lebih
dalam, kapitalis birokrat masih ada sampai sekarang. Banyak jabatan birokrat yang
digunakan untuk menindas masyarakat, padahal fungsi dari birokrasi adalah
pelayanan publik.

Institusi agama juga memiliki peranan dalam perjuangan melawan penjajahan.


Kegiatan yang dilakukan kemudian adalah pengorganisasian pemuda melawan
penjajahan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Simbol institusi agama
juga menjadi peranan penting. Misalnya saja santri yang tertembak pasukan
Belanda memancing kemarahan penduduk. Selain itu, jika konflik batin yang
dialami para aktor berat, agama menjadi penguat mental untuk melakukan
perjuangan.

Perjuangan juga dilakukan melalui kesenian. Tak sedikit korban yang sering
melantunkan tembang Jawa ketika ditahan oleh Belanda. Bahkan, kesenian Jathilan
digunakan agar para pejuang mampu masuk ke dalam markas Belanda guna
melakukan penyerangan mendadak. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa
peradaban di Jawa tinggi karena sekalipun dalam keadaan penjajahan Belanda,
kesenian masih hidup, bahkan digunakan untuk taktik perang.

Selain keempat keunikan tersebut, terdapat pesan-pesan yang dapat ditangkap


oleh penonton. Misalnya saja pembiaran terhadap pasukan Belanda yang berasal
dari pribumi untuk tetap hidup. Pasukan tersebut bingung kenapa mereka tidak ikut
ditangkap oleh pasukan Sentot Prawirodirjo. Pada akhirnya, pasukan tersebut
berkesimpulan bahwa orang yang tidak memiliki bangsa adalah orang yang sudah
mati. Pesan ini masih relefan untuk masa sekarang, siapapun yang mengabdi pada
kepentingan bangsa asing dan menindas bangsa sendiri adalah orang yang sudah
mati. Mati karena ia sudah tidak memiliki rasa terhadap bangsa kelahirannya.
Akhirnya menjadi mayat hidup yang digerakkan bangsa asing untuk menginjak
bangsa sendiri.