Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN HASIL PBL

ANATOMI FISIOLOGI RONGGA MULUT DAN MATERIAL


KEDOKTERAN GIGI

Kelompok 8:

1. Weny Prahma Wati (0910740015)


2. WidyaAyu Pematasari (0910741009)
3. Yudistiara G.Y (0910741010)
4. M. Rizky R. Maulana (0910743009)
5. Beby Virgi Maulida (0910743021)
6. Crenna Adhalia Ayuningtyas (0910743022)
7. Dewi Sulistiyo Cahyani (0910743027)
8. Layla Rohmania (0910743037)
9. Noviana Faradilla Sandi (0910743043)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2009
A. CAVUM ORIS

Batas-batas cavum oris

- Dinding : mukosa pipi yang diperkuat oleh m.buccinator

- Atap : palatum yang terbagi menjadi palatum durum dan

palatum mole

- Dasar : m.mylohyoid, m.geniohyoid, lingua, dan kelenjar

saliva

- Depan : labium oris

- Belakang : pharynx

Cavum oris berhubungan dengan pharynx melalui isthmus


oropharyngeal ( isthmus faucium). Isthmus ini dapat membuka dan
menutup karena diatur pergerakan lidah dan palatum molle.
Cavum oris dibagi menjadi 2 wilayah :

- Vestibulum oris : merupakan wilayah yang terletak di antara

arcus Dentis,pipi dan bibir

- Cavum oris proper : merupakan bagian yang dibatasi arcus dentis

Musculus yang terdapat di cavum oris :

- m.orbicularis oris terbagi menjadi pars palpebralis, pars orbitalis,


pars lacrimalis

- m.buccinatorius

- m.mentalis

- m.levator labii superioris

- m.levator anguli oris


- m.zygomaticus major

- m.risorius

- m.depressor labii inferioris

- m.hyoglossus

- m.genioglossus

- m.chondroglossus

- m.styloglossus

- m.palatoglossus

- m.pterygoideus lateralis

- m.pterygoideus medialis
Os yang terdapat di cavum oris :

1. os maxillae dapat dibagi menjadi :

• Corpus mandibula.

• Procecessus zygomaticus.

• Processus frontalis.

• Processus palatina.

• Processus alveolaris

2. os mandibulae dapat dibagi menjadi:

• Corpus mandibulae

– Margo superior : arcus alveolaris

– Margo Inferior : basis mandibulae.

– Facies externa: protuberance mentalis, foramen mentalis

– Facies interna: spine mentalis, fossa digastricus.

• Ramus, terdapat dua processus yang dipisahkan incisura


mandibularis yaitu :
– Processus coronoideus

– Processus Condylaris :

 Capitulum mandibulae.

 Collum mandibulae.

 Foramen mandibularis.

 Lingula mandibularis.

 Angulus andibulae

 Tuberositas masseterica

3. os palatum, terdapat bagian :

• Processus Palatinus

Kecil dan berbentuk L, Membentuk dasar orbita, Kedua


processus palatina bersama-sama membentuk palatum durum

4. os hyoid

• terletak di sebelah inferior cranium dan tidak berhubungan


dengan tulang yang lain

• merupakan tempat perlekatan otot yang berhubungan dengan


lidah dan pharynx

• os hyoid memiliki bagian-bagian :

- Corpus

- Cornu major yang merupakan :

Fiksasi larynx dan Tempat perlekatan otot penggerak lidah.


- Cornu minus yang merupakan :

Tempat perlekatan ligament stylohyoid.

Fungsi cavum oris :

1. Merupakan pintu masuk ke saluran cerna, dan berperan dalam


pencernaan awal makanan yang dibantu kelenjar saliva.

2. Memanipulasi suara yang dihasilkan larynx sehingga bentuk bicara


jadi sempurna.

3. Dapat digunakan sebagai jalan nafas.


Aliran darah pada cavum oris dialirkan melalui a.carotis externa lalu
ke a.maxilla. Dari a.maxilla dicabangkan menjadi dua ke a.alveolaris
inferior untuk gigi bawah dan a.alveolaris superior untuk gigi atas.

Inervasi pada cavum oris dilakukan oleh n.trigeminus (V) yang


kemudian dicabangkan pada

• n.opithalmicus

• n.maxillaris

keluar dari cranium melalui foramen fossa rotundum dan akan


melalui fossa pterygopalatina lalu ke n.maxillaris. Dari n.maxillaris
dicabangkan pada n.zygomaticus, n.aveolar superior,
n.sphenopalatina dan n.infraorbitalis

• n.mandibullaris

Dari n.mandibullaris dicabangkan pada n.spinosus, n.buccinators,


n.massetericus, n.temporalis profundus, n.pterygoideus internus,
n.lingua, n.alveolaris inferior

Bagian bagian dari cavum oris :

 Vestibulum Oris

 Maxilla dan mandibula

 Gigi

Berikut ini merupakan jenis gigi menurut pertumbuhannya :


1.Gigi deciduous (gigi susu)
Keluar dari ginggiva pada usia 6 bulan sampai 2 tahun.
Jumlahnya ada 10 pada maxilla dan 10 pada mandibula,
masing-masing terdiri dari 4 incicivus, 2 caninus dan 4 molar.
2. Gigi permanent
Gigi permanent mulai tampak keluar dari ginggiva
menggantikan gigi deciduous pada usia 6 tahun sampai usia
dewasa. Jumlahnya ada 16 pada maxilla dan 16 pada
mandibula, terdiri dari 4 incicivus, 2 caninus, 4 premolar, dan
6 molar.

Macam2 gigi permanent, sebagai berikut :


 Incicivus adalah yang berada pada alveous anterior, gigi ini
mepunyai 1 akar, coronanya berbentuk pahat dan berfungsi
memotong makanan.
 Caninus adalah gigi yang terletak disebelah posterior incicivus,
merupakan gigi terpanjang, coronanya memiliki 1 cuspis dan
berfungsi mencengkeram makanan.
 Premolar terletak di sebelah posterior caninus, mempunyai 2
cuspis pada coronanya satu pada sisi buccal satu pada sisi
lingual, pada umumnya mempunyai 1 akar kecuali premolar 1
atas kadang kadan mempunyai 2 akar.
 Molar adalah gigi yang paing posterior mempunyai 3 akar dgn
3 – 5 cuspis pada coronanya.

Semua gigi mendapat vaskularisasi dari a. maxilla, yaitu :


 a. alveolaris inferior, memberi vascularisasi untuk semua gigi
mandibular.
 a. alveolaris superior, memberi vascularisasi untuk gigi
maxillaris.
 a. alveolaris superior posterior, memberi vascularisasi untk
premolar dan molar.
 a. alveolaris superior anterior, memberi vascularisasi untuk
caninus dan incicivus.

Semua nervus yang menginervasi gigi dan gingiva berasal dari


cabang n.trigeminus.
1. Gigi mandibulae
 Gigi posterior di innervasi cabang langsung n. alveolaris
inferior, di canalis mandibulae
 Premolar 1, caninus dan incicivus bersama ginggiva
buccalnya di innervasi n. Incisivalis.
 Mucosa labium inferior diinnervasi n. mentalis.
2. Gigi maxilla.
 Gigi molar di innervasi n. alveolaris superior posterior.
 Gigi premolar diinnervasi n.alveolaris superior medialis.
Nervus ini merupakan cabang dari r. infraorbitalis n.
maxilaris.
 Gigi incisivus dan caninus diinnervasi n. alvelaris superior
anterior, yang merupakan cabang dari n.infra orbitalis.
 Ginggiva
Ginggiva adalah mucosa sekitar gigi yag menutupi proc. Alveolaris,
yang mendapat vaskularisasi sebagai berikut :
 ginggivabuccal gigi bawah mendapat darah dari
cabang a. alveolaris inferior sedangkan sisi lingual mendapat darah
dari a. lingualis.
 ginggivabuccal gigi atas mendapt darah dari a.
alveolaris superior anterior dan posterior.
 gingiva palatalmendapat darah dari a. nasopalatinus
dan a. palatina major.

 Palatum
 Lidah
 Kelenjar Saliva

B. LIDAH

Lidah dilekatkan pada dasar mulut oleh frenulum lingua. Fungsi


lidah antara lain Menggerakkan makanan dalam rongga mulut dan juga
Menghasilkan cairan yang berisi enzym yang disebut lingual lipase.

Lidah terdiri dari beberapa bagian, 1/3 bagian posterior disebut


pars pharyngeal atau basis lidah sedangkan 2/3 bagian anterior disebut
body of the tongue.

Bagian bagian lidah antara lain Apex Lingua, Dorsum Lingua


(permukaan ini kasar, karena terdapat tonjolan yang disebut papila),
Facies inferior( Frenulum lingua lipatan pada permukaan inferior lidah
yang menghubungkan lidah dengan dasar mulut) dan radix lingua.
Otot- otot pada lidah dibagi menjadi 2 macam, yaitu Otot extrinsic
dan instrinsik.

a. Otot Ekstrinsik

Otot Ekstrinsik adalah otot yang berinsertio ke lidah tapi berorigo


diluar lidah.Otot extrinsic ada empat yaitu M.genioglossus,
m.hyoglossus, m.styloglosus, dan m.palatoglossus.

Semua otot ini di inervasi motoris oleh n. hypoglossus(XII), kecuali


m. palatoglossus diinnervasi oleh n.vagus (X). Vascularisasi dilakukan
oleh a.lingualis.
b. Otot Instrinsic

Otot Instrinsic adalah otot yang berorigo dan berinsertio di lidah.


Otot insrinsic ada empat yaitu m. longitudinalis superior, m. longitudinalis
inferior, m transversalis dan m. vertical.

Otot intrinsik berfungsi mengubah bentuk lidah dengan jalan


memendekkan atau menjulurkan lidah, menekuk ujung lidah,
memipihkan dan membulatkan lidah. Semua otot ini diinnervasi secara
motoris oleh n.hypoglossus (XII). Vascularisasi dilakukan oleh
a.lingualis.

Innervasi lidah :

a.Sensoris
- 2/3 anterior : Umum. N.lingualis( V3)
Pengecapan. N. facialis.

- 1/3 posterior
Umum dan pengecapan. N.glossopharyngeus.

b.Motoris

Inervasi pada motoris dilakukan oleh n.hypoglossus.

Terdapat 3 macam glandula salivatorius yaitu:

 Sepasang glandula parotis.


 Sepasang glandula sublingualis.
 Glandula submandibularis.

a. Glandula Parotis

Berada di fossa parotis. Fossa ini dibatasi disebelah

Posterior : m. sternocleidomastodeus.

Anterior : ramus mandibulae.

Superior : meatus acustius externus.

Secresinya disalurkan melalui ductus parototidicus, ductus ini


menyilang m. masseter kemudia bermuara di cavum oris setinggi
molar 2 atas.

Innervasi dilakukan oleh n.glossopharyngeal (IX).

b. Glandula Sublingualis

Berada di fossa sublingualis di sebelah medial permukaan inerna


mandibulae. Kelenjar ini megeluarkan secesinya ke cavum oris
melalui banyak ductus kecil2 yang bermuar ke crista plica
sublingualis.

Innervasi dilakukan oleh n.chorda tympani (VII).


c. Glandula Submandibularis

Terletak di fossa submandibularis pada sisi medial mandibulae


disebelah inferior m. mylohyoid. Salurannya bermuara di dasar
cavum oris disebelah kanan kiri frenlum lingue.

Innervasi dilakukan oleh n.chorda tympani (VII).

C. Temporomandibular Joint (TMJ)

TMJ adalah sistem sendi tipe synovial yang dipisahkan oleh


diskus artikularis (Articulation Disc). Dengan sistem sendi ini,
rahang dapat bergerak untuk membuka, menutup dan gerakan
mengunyah makanan. Sistem TMJ dibungkus oleh sebuah kapsul
mulai dari leher processus condyloideus (di os. Mandibula),
sepanjang sisi tepi eminantia articularis (Articular Eminence /
Articular Tubercle) & Fossa articularis (mandibular fossa) hingga
region timpanosquamous.
Gerakan-gerakan yang dapat terjadi pada TMJ adalah,

• Protrusi, gerakan memajukan mandibula. Dibantu oleh m.


pterygoideus lateral dan media

• Retraksi, gerakan memundurkan mandibula. Dibantu oleh bagian


posterior dari m. Temporalis, m. Masseter bagian dalam dan sedikit
dari m. Geniohyoid & m. Digastricus

• Depresi, gerakan rahang kebawah. Dibantu oleh m. Digastricus, m.


Geniohyoideus, m. Mylohyoid serta Gravitasi.

• Elevasi, gerakan rahang keatas. Dibantu oleh m. Temporalis, m.


Masseter dan m. Pterygoideus media.

Rata-rata pembukaan mulut maksimal pada manusia normal (tidak


termasuk adanya stress, emosi atau trauma pada TMJ) adalah 50-60
mm, gerakan lateral kira-kira 10-12 mm dimana gerakan lateral ke
kiri lebih besar sedikit daripada yang ke kanan, gerakan protraksi 8-
11 mm dan gerakan retrusi kira-kira 1-3 mm

Selain musculus-musculus, terdapat ligament-ligament yang juga


membantu gerakan TMJ, yaitu Sphenomandibular Ligament,,
Stylomandibular Ligament dan Lateral Ligament.

Karena ada TMJ, mandibula dapat bergerak dengan mudah. Adapun


posisi yang terjadi karena pergerakan mandibula adalah,

• Centric Occlusion, saat gigi geligi mengalami oklusi secara penuh


dan maksimal.

• Centric Relation, saat kepala dari Processus Condyloideus pada


mandibula berada pada posisi paling superior dan posterior dari
Fossa mandibularis.

Otot-otot yang bekerja pada TMJ kebanyakan diinnervasi oleh Saraf


Trigeminus (V) cabang ketiga yaitu n. Mandibularis (V3)
D. BAHAN CETAK

Untuk menghasilkan cetakan yang akurat, bahan yang


digunakan untuk membuat tiruan dari jaringan intraoral dan
ekstraoral harus memenuhi kriteria berikut. Pertama, bahan cetak
tersebut harus cukup air untuk beradaptasi dengan jaringan mulut
serta cukup kental untuk tetap berada dalam sendok cetak yang
menghantar bahan cetak ke mulut. Kedua selama di mulut, bahan
tersebut harus berubah (mengeras) menjadi benda padat
menyerupai karet dalam waktu tertentu; idealnya waktu pengerasan
total kurang dari tujuh menit. Akhirnya, cetakan yang mengeras
harus tidak berubah atau robek ketika dikeluarkan dari mulut, dan
dimensi bahan harus tetap stabil sehingga bahan cor dapat
dituang.

Bahan cetak dapat dikelompokkan berdasarkan pada cara


bahan tersebut mengeras yaitu reversible dan ireversible.

a. Reversible

Bahan ini melunak dengan pemanasan dan memadat


dengan pendinginan, tanpa terjadi perubahan kimia.
Hidrokoloid reversibel dan kompoun cetak( campuran
resin dan malam) termasuk dalam katagori ini.

b. Ireversibel

Terjadi reaksi kimia, sehingga bahan tidak dapat


diubah kembali ke keadaan semula pada klinik dokter
gigi.misalnya hidrokoloid alginat, pasta cetak oksida
seng eugenol (OSE) dan plaster of paris mengeras
dengan reaksi kimia, sedang bahan cetak elastomerik
mengeras dengan polimerisasi.
Cara lain mengelompokkan bahan cetak gigi adalah
menurut penggunaanya yaitu bahan cetak elastik dan bahan
cetak tidak elastik.

a. Bahan cetak elastik

Dapat secara akurat memproduksi dengan baik strutur


keras maupun lunak dari rongga mulut, termasuk
underkut dan celah proksimal. Meskipun bahan ini
dapat dipakainuntuk mencetak pasien tanpa gigi,
kebanyakan digunakan untuk membuat model cor
untuk gigi tiruan sebagian cekat atau lepasan serta
untuk unit restorasi tunggal.

b. Bahan cetak tidak elastik

Beberapa bahan cetak menjadi keras dan tidak dapat


dikeluarkan melalui underkut tanpa mematahkan atau
mengubah bentuk cetakan. Bahan cetak tidak elastis
ini digunakan untuk semua cetakan sebelum
ditemukan agar . Meskipun bahan cetak ersebut sudah
tidak digunakan lagi untuk pasien bergigi, bahan tidak
elastik ini memiliki keunggulan dalam pembuatan
cetakan pasien tak bergigi

Macam macam Bahan Cetak:

a. Bahan Cetak Hidrokoloid

1. AGAR (hidrokoloid reversibel)

• Komposisi

Agar merupakan salah satu jenis koloid hidrofilik organic yang


diekstrat dari rumput laut jenis tertentu. Terdapat dalam
konsentrasi 8% - 15%, bergantung pada sifat bahan yang
dimaksud. Kandungan utamanya adalah air (>80%). Untuk
memperkuat gel, biasanya ditambah sedikit boraks. Namun
sayangnya boraks merupakan salah satu jenis retarder terbaik
untu pengerasan gypsum. Kandungan air yang berlebih dalam
agar juga dapat memperlambat pengerasan gypsum. Oleh
karena itu, untuk menyeimbangkan pengaruh air dan boraks
pada gel, ditambahkan sedikit kalium sulfat. Kalium sulfat
merupakan zat pemercepat pengerasan gypsum. Beberapa
bahan pengisi juga diberikan, seperti tanah diatoma, tanah liat,
silica, malam, karet dan serbuk kakuk serupa. Zat lain seperti
timol dan gliserin juga ditambahkan untuk menjadi bakterisit dan
bahan pembuat plastic.

• Proses Gelasi

Proses gelasi merupakan suatu proses pengerasan hidrokoloid


reversible. Perubahan fisik sol-gel dipengaruhi oleh perubahan
temperature. Namun untuk perubahan dari gel menjadi sol
diperlukan titik didih yang lebih tinggi (temperature liquefaction =
70-100 derajat). Biasanya sol berubah menjadi gel pada suhu
37-50 derajat. Temperature gelasi dipengaruhi oleh beberapa
factor termasuk berat molekul, kemurnian agar, dan rasio
terhadap komposisinya. Ketidaksamaan temperature gelasi dan
temperatu pendinginan inilah yang menyebabkan agar dapat
digunakan sebagai bahan cetak dalam kedokteran gigi.

• Manipulasi bahan agar

Secara umum ada 3 tahapan, yaitu:

a. Persiapan bahan

Tahapan pertama adalah mengubah gel hidrokoloid menjadi


sol. Cara yang paling efektif adalah dengan menggunakan
air panas. Sebaiknya bahan dibiarkan dalam tempertur ini
selama 10 menit. Setelah dilelehkan, bahan dapat disimpan
dalam keadaan sol sampai waktunya diinjeksikan ke dalam
preparasi kevitas atau diisikan ke sendok cetak. Temperatur
yang terlalu rendah dapat menghasilkan bahan cetak
dengan kekentalan yang lebih tinggi dan tidak mampu
mereproduksi detail halus dengan tepat.

b. Kondisioning atau pendinginan

Suhu penyimpanan 65 derajat terlalu tinggi untuk rongga


mulut. Oleh karena itu, bahan perlu didinginkan terlebih
dahulu (ditempered). Untuk tahap preparasi, sebuah tube
dikeluarkan dari kompartemen penyimpanan dan
dimasukkan ke sendok cetak, sepotong kasa diletakkan
diatas bahan yang terletak di sendok cetak, kemudian
diletakkan lagi di kompertemen pendingin 45 derajat selama
3-10menit. Waktu yang berbeda-beda tergantung pada jenis
hidrokoloid dan keenceran yang diinginkan oleh dokter gigi.
Sebagai tambahan, selain menurunkan temperature,
pendinginan juga dapat meningkatkan kekentalan bahan
hidrokoloid sehingga bahan tidak mengalir keluar sendok
cetak.

c. Membuat cetakan

Sebelum proses pendinginan bahan cetak terselesaikan,


bahan semprit diambil dari kompartemen penyimpanan dan
diaplikasikan pada kavitas yang direparasi. Mula-mula
diaplikasikan pada dasar preparasi, kemudian pada bagian
lain yang belum tertutup. Ujung semprit diletakkan di dekat
gigi, dibawah permukaan bahan semprit untuk mencegah
gelembung udara. Begitu kavitas yang akan dipreparasi
telah tertutup bahan cetak, sendok cetak yang telah
sempurna didinginkan siap untuk dimasukkan kedalam
rongga mulut. Proses gelasi dapat dipercepat dengan
mengalirkan air dingin sekitar 18-21 derajat selama 3-
5menit.

• Keakuratan Bahan Cetak Agar

Bahan Cetak Reversibel adalah bahan cetak paling akurat.


Untuk mencapai keakuratan tersebut perlu diperhatikan
beberapa hal, diantaranya :

- Kekentalan sol

Kekentalan merupakan pertimbangan paling penting dalam


keberhasilan memanipulasi bahan. Bahan tidak boleh terlalu
encer sehingga mengalir keluar sendok cetak, terutama saat
mencetak rahang bawah. Sebaliknya, bahan tidak boleh
terlalu kental, sehingga sulit menembus semua detail gigi-
geligi dan jaringan lunak.

- Sifat Viskoelastik

Hubungan tegangan – regangan dari bahan hidrokoloid


berubah begitu besarnya beban berubah. Sifat ini
menunjukkan perlunya mengeluarkan cetakan dari dalam
mulut dengan cepat. Karena apabila pengeluaran cetakan
dari dalam mulut secra perlahan, diputar atau diungkit akan
menyebabkan terjadi distorsi.

- Distorsi selama gelasi

- Daya reproduksi

Sifat ini mewakili kemampuan untuk membuat die duplikat


dari serangkaian cetakan. Untuk teknik die gandi, dibuat satu
cetakan dan kemudian dipotong-potong menjadi die
individual untuk gigi yang akan dipreparasi.
2. ALGINAT

• Komposisi

Alginat merupakan hidrokoloid ireversibel yang komponen


utamanya adalah salah satu alginate larut air seperti natrium,
kalium, atau alginate trietanolamin. Alginate yang dicampur air
akan membentuk sol dengan cepat. Besar berat molekul
alginate bervariasi, semakin besar berat molekul maka
kekentalan sol akan bertambah. Biasanya ditambahkan bahan
pengisi seperti tanah diatoma yang berfungsi sebagai
penambah kekerasan dan kekuatan gel alginate. Oksida seng
juga merupakan bahan pengisi yang mempengaruhi sifat fisik
serta waktu pengerasan gel.

• Lama Penyimpanan

Temperatur dan kontaminasi kelembaban udara merupakan 2


faktor utama yang mempengaruhi lama penyimpanan bubuk
alginate. Bahan cetak alginate dikemas dalam kantung tertutup
secara individual dengan berat bubuk yang sudak ditakar untuk
membuat satu cetakan, atau dalam kaleng besar yang tertutup
rapat.

• Alginat modifikasi

• Proses gelasi

Reaksi khas sol-gel dapat digambarkan secara sederhana


sebagai reaksi alginate larut air dengan kalsium sulfat dan
pembentukan gel kalsium alginate yang tidak larut. Kalsium
sulfat cepat bereaksi untuk membentuk kalsium alginate tak
larut air dari kalium atau natrium alginate dalam larutan cair.
Produk kalsium alginate sangat cepat, oleh karena itu tidak
tersedia waktu yang cukup untuk bekerja. Oleh karena itu perlu
ditambahkan garam pemerlambat (retarder) seperti trinatrium
untuk memperpanjang waktu kerja.

• Manipulasi bahan alginate

- Mempersiapkan pengadukan

Campurkan bubuk alginate yang telah ditakar dengan air


sesuai takaran pada bowl. Gerakan pengadukan yang salah
dapat merusak bahan alginate. Cara pengadukan yang
benar adalah dengan menggunakan spatula logam, awali
dengan gerakan angka delapan, dan lanjutkan dengan
menekan bahan ke dinding bowl searah 180derajat. Waktu
pengadukan terlalu lama juga dapat merusak alginate.
Biasanya 45 detik sampai 1 menit adalah waktu yang pas
untuk mengaduk alginate.

- Membuat cetakan

Bahan harus mencapai konsistensi tertentu sehingga tidak


mengalir keluar sendok cetak dan menyebabkan tersedak.
Bahan cetak juga harus menempel pada sendok cetak agar
dapat ditarik dari sekitar gigi. Ketebalan cetakan alginate
antara sendok cetak dan jaringan harus sekurang-kurangnya
3mm.

• Kekuatan gel maksimal diperlukan untuk mencegah fraktur dan


menjamin bahwa cetakan cukup elastic ketika dikeluarkan dari
mulut.

• Katahanan terhadap sobekan pada alginate akan meningkat


bila cetakan dikeluarkan dengan sentakan secara tiba-tiba.

• Keakuratan cetak alginate kurang, karena dia tidak dapat


menembus detail kecil yang ada pada gigi.
b. Bahan Cetak Elostomerik Tanpa Air

Secara kimia terdapat 4 jenis : polisulfida, slikon polimerisasi


kondensasi, silikon polimerisasi tambahan, polieter. Merupakan sistem 2
komponen yang dikemas dalam bentuk pasta. Kedua pasta yang berbeda
warna dikeluarkan dalam panjang yang sama pada kertas pengaduk dan
diaduk dengan spatula sampai terbentuk warna homogen.

1. Bahan cetak polisulfid

 Komposisi

Pasta basis mengandung polimer polisulfid, bahan


pengisinya yang cocok(seperti lithopone dan titanium dioksida)
untuk memberikan kekuatan yang diperlukan, bahan pembentuk
sifat plastik(seperti dibutil phtlat) untuk menghasilkan kekentalan
yang tepat bagi pasta, sulfur ± 0,5%. Untuk menungkatka reaksi
yang disebut sebagai pasta katalis atau aselator reaksi
mengandung timah dioksid yang menghasilkan sifat warna
cokelat gelap.

 Manipulasi

Pasta katalis dan pasta basis dikeluarkan denagn panjang


yang sama pada lembaran kaca pengaduk. Pasta katalis mula-
mula dikumpulkan pada spatula tahan karat dan kemudian
diistribusikan di atas pasta basis, diaduk di lembar pengadukan.

 Polisulfid

Yaitu bahan cetak elastomerik yang paling sedikit


kekakuannya. Kelenturan ini denagn tekanan minimal, memiliki
ketahanan tertinggi terhadap robekan.

 Biokompatibilitas
Polisulfid mempunyai hasil hitung kematian sel yang
terendah (kurang memiliki efek pada kehidupan sel).

 Keuntungan

Waktu kerja lama

Tebukti akurat

Ketahanan robek tinggi

Sedikit hidrofibik

Harga tidak mahal

Wakktu penyimpanan lama

 Kerugian

Memerlukan sendok cetak perseorangan

Harus diisi dengan stone secepatnya

Berpotensi terhadap distorsi yang nyata

Aroma mengganggu pasien

Kotor dan menimbulakan noda pada pakaian

Hasil pengisian berikutnya kurang akurat

2. Bahan Cetak Silikon Kondensasi

Dikemas sebagai pasta basis dan katalis atau cairan dengan


kekentalan rendah. Karena polimer silikon merupakan suatu
cairan,silikon koloidal / logam oksida ukuran mikro ditambahkan
sebagai pengisi untuk membetuk suatu pasta. Pengaruh pengisi
terhadap kekuatan adalah hal yang lebih penting untuk suatu
elastomer silikon dibanding cetakan yang lainnya. Bhan denagn
kekentalan tinggi(putty, seperti dempulan) dikembangkan untuk
mengatur pengerutan polimerisasai yang besar dari bahan cetak
silikon kondensasi

 Manipulasi

Panjang basis yang sesuai dikeluarkan dari dalam tubepada


lembar pengaduk. Lalu satu tetes cairan katalis ditambahkan
untuk tiapa unit panjang basis. Bhan ini agak sulit diaduk karena
perbedaan- perbedaan komponen

 Elastisitas

Lebih ideal daripada polisulfid. Menunjukkan deformasi


permanen minimal dan dapat kembali ke bebtuk semula dengan
cepat bila direnggangkan. Bila terlalu kaku.

 Biokompatibilitas

Silkon dapat diterima secara biologis sehingga tidak


menyebabkan masalah

 Keuntungan

Tersedia waktu kerja dan waktu pengerasan yang cukup

Aroma menyenangkan dan tidak menimbulkan bercak

Memiliki ketahan robek yang cukup

Memiliki sifat elastik yang dikeluarkan

Distorsi lebih sedikit ketika dikeluarkan

 Kerugian

Cukup akurat jika langsung dituang


Kestabilan dimensi buruk

Berpotensi pada distorsi yag nyata

Metode puttywash merupakan teknik yang sensitif

Sedikit lebih mahal

3. Bahan Cetak Silikon dengan Reaksi Tambahan

 Manipulasi

Vinyl polysiloxane encer dan agak kental dikenas dalam dua


pasta, bahan putty dikemas dalam dua toples yang terdiri dari
bahan basis denagn kekentalan tinggi dam bahan katalis.
Bahan havy, body dan putty telah dimodifikasi untuk
menggunakan alat pengaduk otomatis, dengan menggunakan
alat mekanis tersebut, terdapat keseragaman dalam membagi
danmengaduk bahan, semakin kecil kemungkiana masuknya
udara ke dalam adukan, waktu pengadukan menjadi lebih
singkat, kontaminasi bahan lebih sedikit. Bahan cetak yang
telah diaduk dimasukkan langsung ke dalam sendok cetak yang
dilapisi adhesi. Waktu kerja dan pengerasan, dapat
diperpanjang 100% dengan penambahan retarder yang dipasok
oleh masing- masing pabrik dan dengan pendinginan alas
pengaduk. Silikan dapat disimpan di lemari es.

 Elastisitas

Merupakan bahan bersifat elastis paling ideal. Distorsi ketiak


mengeluarkan melalui underkut umumnya tidak terjadi.

 Biokompatibilatas

Bahaya tertinggalnya sebagian bahan sirna mengeluarkan


cetakan dapat dihindari dengan penanganan bahan yang tepat
dan pemeriksaan tepi cetakan secara cermat untuk tidak ada
daerah yang sobek. Benda asing dari bahan cetak dapat
menyebabkan inflamasi gingiva yang parah dan mungkin salah
diagnosis pada kunjungan berikutnya.

 Keuntungan

Waktu pengerasan lebih pendek

Mudah diaduk alat otomatis

Kekuatan robek sedang

Kakuratan amat tinggi

Distorsi tidak terdeteksi ketika dibuka

Bila hidrofilik, amat sesuai dengan gypsum

 Kerugian

Terbentuknya gas hidrogen pada beberapa bahan

Bahan hidrofilik tetap memerlukan penanganan hati- hati dan


lingkungan amat -kering

Lebih mahal, khususnya alat pengaduk otomatis.

4. Bahan Cetak Polieter

 Komposisi

Karet polieter dipasok berupa dua pasta

 Basis

Polimer polieter, suatu silika koloidal sebagai pengisi, dan suatu


bahan pembuat plastik seperti glikoeter/ ftalat.

 Pasta aselator
Alkil sulfonat aromatik sebagai tambahan terhadap bahan
pengisi, waktu kerja dan pengerasan, kecepatan pengerasan
polieter kurang sensitif terhadap perubahan temperatur.

 Elastisitas

Bahan yang paling keras tidak termasuk bahan puty viskositas


tinggi kurang elastik dibanding vinyl polysixane

 Biokompatibilitas

Dermatitis kontak akibat polieter. Namun penelitian akhir- akhir


ini menunjukkan tidak ada efek sitoksik yang berhubungan
dengan katalis imin yang terjadi berasal dari bagia bahan cetak
yang tertinggal di dalam sulkus.

 Keuntungan

Waktu kerja dan pengerasan cepat

Terbukti akurat

Ketahanan sobek cukup

Kurang hidrofibik

Distorsi kurang

Waktu penyimpanan lama

 Kerugian

Cukup akurat jika dituangkan langsung

Kestabilan dimensi buruk

Bersih, tetapi rasa tidak enak

Keras, sehingga meliputi permukaan undecut

Sedikit lebih mahal


Dapat diisi ulang

E. BAHAN PENGISI

Gypsum merupakan salah satu jenis bahan pengisi. Kriteria


pemilihan produk gypsum tertentu bergantung pada penggunaannya serta
sifat fisik tertentu untuk penggunaan tertentu. Misalnya, stone kedokteran
gigi merupakan materi yang buruk untuk digunakan sebagai bahan cetak
karena bila ada gigi geligi, tidaklah mungkin mengeluarkan cetakan
melalui undercut gigi tanpa melukainya (karena besarnya kekuatan
stone ). Macam-macam gypsum :

1. Plaster cetak (tipe I)


Bahan cetak ini terdiri dari plaster of paris yang ditambahkan
zat tambahan untuk mengatur waktu pengerasan dan ekspansi
pengerasan. Plaster cetak jarang digunakan lagi untuk mencetak
dalam kedokteran gigi karena telah digantikan oleh bahan yang
kurang kaku seperti hidrokoloid dan elastomer . plaster terbatas
digunakan untuk cetakan akhir, atau wash, dalam pembuatan gigi
tiruan penuh.

2. Plaster model (tipe II)


Plaster model ini atau plaster laboratorium tipe II sekarang
digunakan untuk mengisi kuvet dalam pembuatan protesa bila
ekspansi pengerasan tidaklah penting dan kekuatan cukup, suatu
batasn yang disebutkan dalam spesifikasi. Biasanya dipasarkan
dalm warna putih alami, jadi terlihat kontras dengan stone yang
umumnya berwarna.

3. stone Gigi (tipe III)


Pada tahun 1930, suatu peristiwa penting terjadi, yaitu ketika
α-gipsum ditemukan dan diperkenalkan dalam kedokteran gigi.
Dikombinasikan dengan kemajuan dari bahan cetak hidrokoloid, α-
gipsum yang diperbaharui kekerasannya membuat die stone dapat
digunakan dan pembuatan model tidak langsung mungkin
dilakukan.

Kedokteran gigi banyak membantu sejarah perkembangan


plaster. Seorang peneliti pada Perusahaan Gipsum USA
mempelajari bahwa mold plaster yang digunakan untuk membentuk
basis karet protesa dalam suatu tekanan uap vulkanisasi menjadi
amat keras dalam semalam. Penelitian lanjut menunjukkan bahwa
gipsum yang mengeras mengalami pengapuran di bawah tekanan
uap, membentuk kristalisasi kalsium sulfat hemidrat yang lebih
bermutu. Karena perbaikan ini, bahan kemudian langsung
dipatenkan sebagai α-gipsum. Sejak penemuan ini, untuk
penemuan komersial, proses tersebut dilakukan dalam suatu
otoklaf.

Stone tipe III memiliki kekuatan kompresi minimal 1 jam


sebesar 20,7 Mpa (3000 psi), tetapi tidak melebihi 34,5 Mpa (5000
psi). Bahan ini ditujukan untuk pengecoran dalam membentuk gigi
tiruan penuh yang cocok dengan jaringan lunak. Die stone
merupakan reproduksi gigi yang dipreparasi dimana protesa dibuat
pada atau di dalam model tersebut. Karena kondisi keausan yang
parah pada bagian tepi ketika dilakukan pembuatan pola malam,
dan karena tekanan yang lebih tinggi mengenai die stone selama
mencoba dan penyesuaian, kekuatan dan kekerasan yang lebih
tinggi dibutuhkan oleh bahan die. Sebagai tambahan, sedikit
ekspansi pengerasan dapat ditolerir pada model yang
mereproduksi jaringan lunak, tetapi tidak bila menyangkut gigi.
Stone tipe III lebih disukai untuk pembuatan model yang digunakan
pada konstruksi protesa, karena stone tersebut memiliki kekuatan
yang cukup untuk tujuan itu serta protesa lebih mudah dikeluarkan
setelah proses selesai.
Tanpa melihat jenis stone yang digunakan, terdapat
sedikitnya 2 metode untuk membuat model. Dalam salah satu
metode, mold untuk pengecoran dibuat dengan membungkus
sekitar cetakan dengan lembaran malam lunak sehingga melebihi
kurang lebih 12 mm di luar sisi jaringan pada cetakan. Basis untuk
model dibentuk pada daerah ini. Proses ini disebut boxing. Adukan
stone dan air kemudian dituang ke dalam cetakan di bawah
vibrator. Adukan dibiarkan mengalir perlahan dalam aliran yang
terkendali sepanjang cetakan, sehingga aliran tersebut dengan
sendirinya mendorong udara keluar begitu adukan mengisi semua
cetakan gigi tanpa adanya gelembung udara yang terjebak.

Metode lain adalah dengan mengisi cetakan seperti yang


telah dijabarkan. Sisa adukan stone-air dituang pada lempeng
kaca. Cetakan yang telah terisi kemudian dibalikkan pada
tumpukan stone di lempeng kaca tersebut, dan basis dibentuk
dengan spatula sebelum stone mengeras. Prosedur tersebut tidak
diindikasikan bila digunakan bahan cetak yang mudah mengalami
deformasi atau bila stone mengalir menyebar. Model baru boleh
dilepaskan dari cetakan setelah pengerasan awal tercapai. Waktu
pengerasan minimal bervariasi dari 30-60 menit, bergantung pada
kecepatan pengerasan stone atau plaster serta jenis bahan cetak
yang digunakan.

4. Stone gigi, kekuatan tinggi (tipe IV)


Persyaratan utama bagi bahan stone untuk pembuatan die
adalah kekuatan, kekerasan, dan ekspansi pengerasan minimal.
Untuk memperoleh sifat ini, digunakan α-hemihidrat dari jenis
’Densite’. Partikel-partikel berbentuk kuboidal serta daerah
permukaan yang lebih kecil menghasilkan sifat tersebut tanpa
menyebabkan pengentalan adukan.

Diperlukan permukaan keras bagi suatu die yang terbuat


dari stone, karena preparasi kavitas diisi dengan malam dan diukir
sehingga selaras dengan tepi-tepi die. Suatu instrumen yang tajam
digunakan untuk tujuan ini. Karenanya, stone harus tahan terhadap
abrasi. Untungnya, kekerasan permukaan meningkat lebih cepat
bila dibandingkan dengan kekuatan kompresi, karena permukaan
lebih cepat mengering. Ini merupakan keunggulan nyata, dimana
permukaan tahan terhadap abrasi, sementara inti die cukup liat dan
kurang terpaparkan terhadap patah tanpa disengaja. Rata-rata
kekerasan permukaan kering dari stone tipe IV (’stone die’) kurang
lebih 92 (kekerasan Rockwell), stone tipe III adalah 82. meskipun
permukaan lebih keras, tetaplah harus berhati-hati ketika mengukir
pola malam.

5. Stone gigi, kekuatan tinggi, ekspansi tinggi ( tipe V)


Ini merupakan produk gipsum yang dibuat akhir-akhir ini,
dan memiliki kekuatan kompresi yang lebih tinggi dibandingkan
stone gigi tipe IV. Kekuatan yang ditingkatkan ini diperoleh dengan
menurunkan lebih jauh rasio W:P. Sebagai tambahan, ekspansi
pengerasan ditingkatkan dari maksimal 0,10%-0,30%. Alasan
peningkatan batasan ekspansi pengerasan disebabkan karena
logam campur yang baru, seperti basis logam, memiliki pengerutan
pengecoran yang lebih besar dibandingkan logam campur mulia
konvensional. Jadi, dibutuhkan ekspansi lebih tinggi pada stone
yang digunakan untuk die untuk mengimbangi pengerutan
pemadatan logam campur.

6. Gypsum sintetik
α-hemihidrat dan β-hemihidrat juga dapat dibuat sebagai
produk sampingan atau produk sisa dalam pembuatan asam
fosforik. Produk sintetik biasanya lebih mahal dibandingkan yang
dibuat dari gipsum alami tetapi bila produk tersebut dibuat dengan
tepat, sifatnya sebanding atau melebihi stone alami. Kendala dalam
prosesnya cukup banyak dan hanya sedikit yang berhasil. Metode
yang digunakan adalah rahasia perusahaan. Sumber hemihidrat
tidaklah sepenting sifat dari penggunaan produk akhir yang pada
dasarnya sama. Terlepas dari manapun asalnya.

F. MODEL RAHANG
Model studi, adalah model yang dihasilkan dari cetakan awal
(preliminary impression). Kegunaannya:
a. Komponen penting dalam ortodonti.
b. Titik awal dimulainya perawatan.
c. Untuk kepentingan presentasi.
d. Data tambahan untuk mendukung hasil pemeriksaan klinis.
e. Dapat mengetahui bentuk dan ukuran rahang, ukuran
mesiodistal gigi, bentuk dan ukuran lengkung gigi,
penentuan malposisi gigi, dan adanya kelainan bentuk gigi
(malformasi).
1. Model diagnostic, adalah model yang dihasilkan dari cetakan
kedua dengan tujuan untuk mendapatkan hasil cetakan yang
lebih detail.
2. Model kerja, adalah cetakan awal yang dihasilkan sebelum
model studi, model ini biasanya untuk dikirim ke laboratorium
gigi.

DAFTAR PUSTAKA

Anusavice, J Kenneth.2003. Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi.


Jakarta : EGC.
Ash, Major M. and Stanley J. Nelson. Wheeler’s Dental Anatomy,
Physiology and Occlusion.

Drake, Richard L, et al. Gray’s Anatomy for Student.

Harshanur, Itjingningsih W. 1991. Anatomi Gigi. Jakarta : EGC.