Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI II

REFLEKS PADA MANUSIA

OLEH :
KELOMPOK IV
Agus Fathurochman (G1D008098)
Oktriani Utami (G1D008099)
Aditya Eka Riyadi (G1D008100)
Anggun Nita Tama (G1D008102)
Yulia Kurnia Sari (G1D008103)
Titi Sugiarti (G1D008104)
Anisya Fatwa (G1D008105)
Tiskawati Sutisna (G1D008106)
Khomsatun Munifah (G1D008107)
Arief Widjanarko (G1D008108)

Asisten : Eris Fitriasih Fardani


NIM : G1D007008

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
PURWOKERTO
2009
I. Judul Praktikum

Refleks Pada Manusia

II. Waktu

Hari/tanggal : Selasa, 01 Desember 2009


Pukul : 08.50 – 10.30 WIB
Tempat : Ruang Kelas A2, Kampus Keperawatan, Universitas
Jenderal Soedirman

III. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah:


1. Menjelaskan fisilogi refleks pada manusia.
2. Mendemonstrasikan pemeriksaan refleks somatik dan otonom pada
naracoba yang sehat.
3. Mengetahui keadaan normal dan membandingkannya dengan
pemeriksaan dan hubungannya dengan keadaan patologis naracoba.

IV. Dasar Teori

Unit dasar aktivitas saraf terpadu merupakan lengkung refleks. Ia terdiri dari
suatu organ alat indera, suatu neuron aferen, satu sinap atau lebih di dalam stasiun
terpadu sentral atau ganglion simpatis, suatu neuron eferen, serta suatu neuron
efektor. Dalam amamalia, hubungan antara neuron somatik aferen dan eferen
umumny di dalam otak atau medula spinalis. Neuron aferen masuk melalui redix
dorsalis atau saraf otak dan mempunyai badan selnya di dalam ganglia homogen
pada saraf otak. Serabut eferen meninggalkan melelui radix ventralis atau saraf
otak motorik berhubungan. Prinsip bahwa di dalam medula spinalis, radix dorsalis
bersifat sensorik dan di dalam radix ventralis bersifat motorik dikenal sebagai
hukum Bell-Magendie (Ganong, 1995: 111).
Gambar. Lengkung Refleks
Aktivitas motorik somatik akhirnya tergantung atas pola dan kecepatan
pelepasan listrik neuron motorik spinalis dan neuron homolog di dalam inti
motorik saraf otak. Neuron ini (jaras umum lazim ke otot rangka) dibom oleh
impuls dari susunan jaras yang besar sekali. Ada banyak masukan ke tiap neuron
motorik spinalis dari segmen spinalis yang sama. Banyak masukan
suprasegmental juga berkonvergensi atas sel ini dari segmen spinalis lain, batang
otak dan cortex cerebri. Beberapa masukan ini berakhir langsung pada neuron
motorik, tetapi banyak yang menimbulkan efeknya melalui interneuron atau
melelui sistem γ eferen ke gelendong (spindel) otot dan kembali melalui serabut
aferen lalu ke medula spinalis. Aktiviitas terpadu masukan majemuk dari tingkat
spinalis, medula oblongata, mesenchepalon, dan cortex yang mengatur sikap
badan dan memungkinkan gerakan terkoordinasi (Ganong, 1995:187).
Bila suatu otot rangka dengan persarafan utuh diregangkan, maka ia
berkontraksi. Respon ini dinamai refleks regang. Rangsangan yang memulai
refleks ini adlah regangan otot dan respon ini merupakan kontraksi otot yang
diregangkan. Organ indera ini merukana gelondong otot. Impuls yang berasal di
dalam gelendong dihantarkan di dalam susunan saraf pusat oleh serabut sensorik
cepat yang lewat langsung ke neuron motorikyang mensarafi otot yang sama.
Neurotransmiter pada sinap sentral merupakan glutamat. Refleks regang
merupakan refleks monosinap yang terbaik dikenal dan diteliti di dalam badan.
Contoh klinik dari refleks regang adalah pengetokan tendon patella
membangkitkan sentakan lutut, refleks regang musculus quadriceps femoris,
karena pengetokan tendo meregangkan otot (Ganong, 1995: 112).

V. Alat dan Bahan

1. Hammer tendon
2. Kapas dan kapas lidi (cutton buds)
3. Penlight
VI. Cara Kerja

Refleks Somatik
1. Refleks Tumit (Ankle-Jerk-Reflex)
a. Naracoba berdiri dengan kaki kiri dibengkokkan dan diletakkan
pada kursi. Naracoba mengalihkan perhatiannya ke sekeliling.
b. Tendo Achilles kaki kiri naracoba dengan martil refleks dipukul
oleh penguji.
c. Gerak refleks yang terjadi diamati dan dicatat hasilnya.
d. Lakukan hal yang sama untuk kaki kanan.
2. Refleks Patellar (Knee-Jerk-Reflex)
a. Naracoba duduk bertumpang kaki (kaki kanan di atas) dan
mengalihkan perhatiannya ke sekeliling.
b. Ligamentum patellae kaki kanan naracoba (kaki yang tertumpang
di atas) dengan martil refleks dipukul oleh penguji.
c. Gerak refleks yang tampak diamati dan dicatat hasilnya pada
lembar kerja.
d. Lakukan hal yang sama untuk kaki kiri.
3. Refleks Bisep
a. Lengan kanan naracoba diluruskan secara pasif dan diletakkan di
atas meja atau ditopang dengan tangan pemeriksa. Naracoba
mengalihkan perhatiannya ke sekeliling.
b. Tendon m. bisep brakhii lengan tersebut dipukul dengan martil
refleks oleh penguji.
c. Gerak refleks yang terjadi diamati dan dicatat hasilnya.
d. Lakukan hal yang sama untuk lengan kiri.
4. Refleks Trisep
a. Lengan kiri naracoba dibengkokkan secara pasif. Alihkan perhatian
naracoba ke sekeliling.
b. Tendo m. trisep brakhii lengan tersebut dengan martil refleks
dipukul oleh penguji.
c. Gerak refleks yang terjadi diamati dan dicatat hasilnya.
d. Lakukan hal yang sama untuk lengan kanan.
5. Refleks Plantar (Babinski Reflex)
a. Naracoba tidur terlentang dengan kedua tungkai sedikit eksternal
rotasi.
b. Rangsang telapak kaki klien dengan ujung hammer, mulai dari
tumit ke arah atas pada bagian sisi luar telapak kaki.
c. Gerak refleks yang terjadi diamati dan dicatat hasilnya.
d. Lakukan hal yang sama pada kedua kaki secara bergantian.
6. Refleks Mengejap (Corneal Reflex)
a. Naracoba membuka kedua matanya dan mengarahkan
pandangannya ke titik yang jauh.
b. Permukaan kornea mata kanan naracoba disentuh penguji dari
samping dengan ujung kapas yang telah dibasahi dengan akuades.
c. Gerak refleks yang terjadi diamati dan dicatat hasilnya.
d. Lakukan untuk mata kanan dan kiri.
7. Refleks Pharyngeal
a. Naracoba membuka mulutnya dengan lebar.
b. Sentuh palatum lunak (dekat uvula) dengan menggunakan kapas
lidi yang steril.
c. Gerak refleks yang terjadi diamati dan dicatat hasilnya.
d. Lakukan untuk mata kanan dan kiri secara bergantian.
Refleks Otonom
8. Refleks Pupillary
a. Gunakan cahaya dalam ruang pemeriksaan agak gelap.
b. Gunakan penlight untuk memeriksa diameter pupil.
c. Gerakan penlight dari arah kanan atau kiri sudut mata. Perhatikan
diameter pupil naracoba.
d. Catat gerak refleks yang terjadi.

VII. Hasil
Naracoba I:
Nama : Agus Fathurochman
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 19 tahun
No. Pemeriksaan Respon Keterangan
1. Refleks Tumit Plantar Fleksi Normal
2. Refleks Patellar Ekstensi Tungkai Bawah Normal
3. Refleks Bisep Fleksi Lengan Bawah Normal
4. Refleks Trisep Ekstensi Lengan Bawah Normal
5. Refleks Plantar (Babinski) Diam Normal
6. Refleks Mengejap Berkedip Normal
7. Refleks Pharyngeal Menutup Normal
8. Refleks Pupillary Pupil Mengecil Normal

Naracoba II:
Nama : Yulia Kurnia Sari
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 19 tahun
No. Pemeriksaan Respon Keterangan
1. Refleks Tumit Plantar Fleksi Normal
2. Refleks Patellar Ekstensi Tungkai Bawah Normal
3. Refleks Bisep Fleksi Lengan Bawah Normal
4. Refleks Trisep Ekstensi Lengan Bawah Normal
5. Refleks Plantar (Babinski) Bergerak Sejajar Normal
6. Refleks Mengejap Berkedip Normal
7. Refleks Pharyngeal Menutup Normal
8. Refleks Pupillary Pupil Mengecil Normal

VIII. Pembahasan
Pemeriksaan refleks yang dilakukan berupa refleks somatik dan otonom.
Pemeriksaan refleks somatik berupa refleks tumit, refleks patellar, refleks bisep,
refleks trisep, refleks plantar (babinski), refleks mengejap, refleks pharyngeal;
sedangkan pemerriksaan refleks otonom berupa refleks pupillary. Refleks tumit
menunjukkan keadaan normal apabila respon yang ditunjukkan berupa plantar
fleksi. Refleks patellar menunjukkan nilai normal apabila respon yang
ditunjukkan berupa ekstensi tungkai bawah. Refleks bisep menunjukkan keadaan
normal apabila respon yang ditunjukkan berupa fleksi lengan bawah. Refleks
trisep menunjukkan keadaan normal apabila respon yang ditunjukkan berupa
ekstensi lengan bawah. Refleks plantar (babinski) menunjukkan keadaan normal
pada dewasa apabila respon yang ditunjukkan berupa kaki diam atau bergerak
sejajar, sedangkan normal bagi bayi sampai umur satu tahun yaitu jari-jari kaki
meregang atau fleksi ibu jari kaki. Refleks mengejap menunjukkan keadaan
normal apabila respon yang ditunjukkan berupa berkedip. Refleks pharyngeal
menunjukkan keadaan normal apabila respon yang ditunjukkan berupa mulut
menutup atau muntah. Refleks pupillary menunjukkan keadaan normal apabila
respon yang ditunjukkan berupa pupil mengecil.
Lengkung refleks tersederhana merupakan lengkung dengan sinap tunggal di
antara neuron aferen dan eferen. Lengkung demikian bersifat monosinaptik dan
refleks yang timbul di dalamnya merupakan refleks monosinaptik. Lengkung
refleks yang menempatkan satu interneuron atau lebih di antara neuron aferen dan
eferen bersifat polisinaptik, jumlah sinap di dalam lengkung ini bervariasi dari dua
sampai beratus-ratus. Pada kedua jenis, tetapi terutama dalam lengkung refleks
polisinaptik, aktivitas dimodifikasi oleh fasilitasi ruang dan waktu, penutupan
(oklusi), efek pinggir subliminal dan efek lain (Ganong, 1995: 112).
Reseptor berespon terhadap stimulus (rangsangan), yaitu perubahan fisika
atau kimia di lingkungan reseptor yang dapat dideteksi. Sebagai respon terhadap
rangsangan tersebut, reseptor membentuk potensial aksi yang dipancarkan oleh
jalur aferen ke pusat integrasi untuk diolah. Biasanya, sebagai pusat integrasi
adalah SSP. Korda spinalis dan batang otak bertanggung jawab untuk
mengintegrasikan refleks-refleks dasar, sementara pusat-pusat otak yang lebih
tinggi biasanya mengolah refleks-refleks didapat. Pusat integrasi mengolah semua
informasi yang datang dari reseptor serta dari masukan lain, kemudian mengambil
keputusan mengenai respon yang sesuai. Instruksi dari pusat integrasi disalurkan
melalui jalur eferen ke efektor, suatu otot atau kelenjar untuk melaksanakan
respon yang diinginkan. Tidak seperti perilaku sadar, yang memiliki beberapa
kemungkinan respon, respon refleks dapat diduga karena jalur antara reseptor dan
efektor selalu sama (Sherwood, 2001: 142).
Tanda atau refleks Babinski adalah suatu refleks patologis. Biasanya kalau
sisi lateral telapak kaki digores dari tumit ke arah pangkal jari-jari kaki,
melengkung ke medial melintasi kaput-kaput tulang metatarsal, akan terjadi fleksi
plantar pada ibu jari kaki. Prosedur ini menguji radiks saraf pada L5-L2. kaki
harus digores dengan rangsang yang cukup kuat seperti sebuah kunci. Jangan
memakai peniti! Kalau ada penyakit traktus piramidalis, dan gerakan yang telah
diuraikan diatas dilakukan, akan terjadi dorsifleksi ibu jari kaki dengan
penyebaran jari-jari lainnya. Refleks ini adalah refleks Babinski. Karena tanda
Babinski merupakan suatu refleks abnormal, kita hanya mengetakan bahwa ada
tanda Babinski, tanda ini tidak pernah tidak ada. Adalah benar bila kita
menuliskan refleks plantar sebagai fleksi plantar (normal) atau dorsifleksi
(abnormal, Babinski) (Swartz, 1995: 383). Menurut Ganong (1995: 191) kecuali
dalam masa bayi, respon normal terhadap rangsangan ini adalah fleksi plantaris
semua jari kaki.
Refleks hiperaktif merupakan ciri penyakit traktus ekstrapiramidalis.
Kelainan elektrolit, hipertiroidisme, dan kelainan metabolik lainnya dapat pula
menjadi penyebab refleks hiperaktif. Berkurangnya refleks merupakan cirri
kelainan sel kornu anterior dan miopati. Pemeriksa harus selalu
mempertimbangkan kekuatan refleks dengan besarnya massa otot. Seorang pasien
mungkin mempunyai refleks yang berkurang sebagai akibat penurunan massa
ototnya. Pasien dengan hipertiroidisme mengalami penurunan relaksasi setelah
suatu refleks tendo profunda, yang disebut refleks tergantung (Swartz, 1995: 378).
Cahaya adalah merupakan stimulus utama terjadinya refleks cahaya/pupil.
Cahaya yang jatuh pada retina akan menstimulasi sel-sel fotoreseptor di retina.
Stimulus ini akan dilanjutkan melalui akson aferen N.Optikus menuju nucleus
dilewati oleh serabut-serabut pupilmotor. Pretectal nuclear complex berhubungan
secara silang dan tidak silang dengan nucleus motor parasimpatis Edinger-
Westpal yang terdiri dari bagian dorsal nucleus okulomotor. Serabut parasimpatis
preganglionik meninggalkan midbrain (otak besar) sebagai menginervasi
m.sfingter pupil. Stimulus cahaya pada satu mata, akan menyebabkan terjadinya
konstriksi pupil bilateral dan simetris. Dua stimulus utama yang menyebabkan
terjadinya konstriksi pupil adalah jatuhnya sinar pada reseptor retina dan refleks
melihat dekat dan akomodasi. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya
perbedaan ukuran pupil dan reaksinya. Ukuran pupil dapat berubah menurut
umur. Pada neonatus pupil lebih miotik dibandingkan dengan umur decade ke dua
(Wulandari, 2003: 6).
Dalam melakukan pemeriksaan refleks pada manusia, ada beberapa hal yang
menjadikan pemeriksaan ini sulit dan perlu diperhatikan, diantaranya:
1. Menentukkan dan mencari lokasi pemeriksaan sulit, terutama pada bisep dan
trisep wanita karena letaknya yang sedikit tersembunyi dari pria.
2. Pemukulan martil refleks pada lokasi yang salah.
3. Saat pemeriksaan, naracoba yang seharusnya tidak sadar akan diperiksa,
justru sadar terhadap pemeriksaan yang akan dilakukan (karena dapat
mengurangi respon refleks yang akan muncul).
4. Setelah martil diketukkan, martil masih tetap menempel pada permukaan
lokasi pemeriksaan (tubuh naracoba).

Manifestasi Klinis
Penyakit parkinson adalah gangguan gerakan dengan penyabab yang tidak
diketahui. Penyakit ini terutama menyerang neuron-neuron berpigmen yang
mnegandung dopamin dari pars kompakta substansia nigra. Ditandai oleh gejala
yang timbul secara lambat, tonus otot yang meningkat, dan tremor istirahat.
Perlambatan gerakan volunter ditemukan terutama pada awal gerakan berjalan,
memutar badan, dan mikrografia. Ekspresi fasial menurun, bicara monoton,
volume suara kecil, dan kedipan mata berkurang. Postur tubuh kaku dan pasien
berjalan lambat dengan dengan langkah kecil-kecil, dengan ayunan lengan
berkurang dan keseimbangan postural menurun. Sering disertai fetsinasi. Tonus
abnormal bersifat rigiditas lead-pipe atau cogwheel. Yang paling karakteristik dan
seringkali terdapat pada awal penyakit adalah tremor istirahat yang bersifat
asimetris, kasar (3-7 siklus per detik), seperti memulung pil (pill-rolling). Tetapi
tremor menghilang bila otot berelaksasi total (Mansjoer, 2000: 60).
Ataksia Friedreich, menurut Japardi (2002: 4-5) penyakit ini menurun
secara resesif dengan perubahan patologis dominan pada kolomna posterior,
traktus spinoserebellaris, dan traktus kortikospinalis. Gejala umumnya timbul
pada usia muda, 50% terdapat pada usia kurang dari 10 tahun. Penyakit ini
berjalan secara progresif dan biasanya setelah 5 tahun pasien tak dapat berjalan
lagi. Laki-laki lebih sering terkena dari pada wanita. Rata-rata usia kematian
adalah 26,5 pada penyakit yang diturunkan secara resesif, dan 39,5 tahun pada
penyakit yang diturunkan secara dominan. Gejala klinis:
1. Terjadi ataksia sensorik maupun serebeller, terjadi inkoordinasi dari kedua
tungkai bawah. Mula-mula pasien sulit berdiri cepat dan berlari, kemudian
timbul kelelahan, nyeri pada tungkai, kaku setelah latihan berat. Dapat terjadi
kelemahan pada tangan setelah gangguan berjalan, kemudian bicara jadi rero,
lambat, tidak jelas dan eksposif, lengan jadi ataksik dan dapat disertai
intensio tremor. Akhirnya bicara, bernafas, menelan dan tertawa jadi tak
terkoordinasi.
2. Rasa getar dan posisi dapat terganggu selanjutnya rasa raba, suhu dan nyeri
terganggu. Romberg positif
3. Reflek tendo kedua tungkai ini menghilang akibat terputusnya jaras sensorik
dari lengkung reflek
4. Refleks Babinski +
5. Sering terjadi deformitas pada kaki. Terjadi pes cavus dengan arkus plantar
yang tinggidan terjadi retraksi pada sensi jari dan fleksi sendi interphlalang
6. Nystagmus + (biasanya horisontal)
7. Peningkatan reflek rahang
8. Dapat disertai ketulian, vertigo, otik atrofi, kardiopati (pada setengah kasus).
Gejala tersebut mirip dengan penyakit degenerasi spinocerebeller yang
herediter, tetapi biasanya pada penyakit ini reflek meningkat.
IX. KESIMPULAN

Kesimpulan yang didapat dari praktikum adalah :


1. Fisiologi refleks pada manusia diperankan oleh lengkung refleks, yang terdiri
dari reseptor sensoris, saraf aferen (sensorik), area sentral di SSP, saraf
eferen (motorik), dan organ efektor.
2. Pemeriksaan refleks somatik yaitu berupa pemeriksaan refleks tumit, refleks
patella, refleks bisep, refleks trisep, refleks plantar (babinski), refleks
mengejap, dan refleks pharyngeal; sedangkan pemeriksaan refleks otonom
yaitu refleks pupillary.
3. Keadaan normal pemeriksaan refleks pada naracoba:
Pemeriksaan Respon Normal Naracoba I Naracoba II Keterangan
Refleks Tumit Plantar Fleksi Plantar Fleksi Plantar Fleksi Normal
Ekstensi
Refleks Ekstensi Tungkai Ekstensi
Tungkai Normal
Patellar Bawah Tungkai Bawah
Bawah
Fleksi Lengan Fleksi Lengan Fleksi Lengan
Refleks Bisep Normal
Bawah Bawah Bawah
Ekstensi Lengan Ekstensi Ekstensi
Refleks Trisep Normal
Bawah Lengan Bawah Lengan Bawah
Refleks
Bergerak Sejajar Bergerak
Plantar Diam Normal
atau Diam Sejajar
(Babinski)
Refleks
Berkedip Berkedip Berkedip Normal
Mengejap
Refleks
Menutup Menutup Menutup Normal
Pharyngeal
Refleks Pupil
Pupil Mengecil Pupil Mengecil Normal
Pupillary Mengecil
Keadaan diatas normal dan tidak menunjukkan adanya keadaan patoligis
pada kedua naracoba.

X. DAFTAR PUSTAKA

Ganong, William F. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC. Jakarta.


Japardi, Iskandar. 2002. Penyakit Degeneratif pada Medula Spinalis. Sumatera
Utara: USU.

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 2. Jakarta: Media


Aesculaplus.

Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. EGC. Jakarta.

Sidharta, Priguna. 2005. Tata Pemeriksaan Klinis dalam Neurologi. Dian Rakyat.
Jakarta.

Swartz, Mark H. 1995. Buku Ajar Diagnostik Fisik. EGC. Jakarta.

Wulandari, Novi. 2003. Perubahan Pupil Cycle Time Pada Penderita Diabetes
Mellitus. Sumatera Utara: USU.

XI. LAMPIRAN