Anda di halaman 1dari 8

Prosiding Seminar Nasional Fisika 2010 ISBN : 978 979 98010 6 7

“Hands And Minds Activity” Dalam Pembelajaran Fisika Kuantum Untuk Calon Guru

Sondang R Manurung 1) dan Nuryani Y Rustaman 2) 1) Universitas Negeri Medan Sekolah Pasca Sarjana UPI e-mail: sondang_monroe@yahoo.com

Abstrak

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menunjukkan pembelajaran fisika kuantum dapat diimplementasi lebih mudah dipahami dan menarik. Fisika kuantum sulit dipelajari karena sifatnya yang counterintuitive, sukar menampakkan gejalanya, pembahasan matematisnya menantang, dan abstrak Program pembelajaran telah dikembangkan untuk membantu calon guru fisika membangun pengetahuan pedagogical and content knowledge (PCK) yang dapat meningkatkan kualitas belajar, Program pembelajaran memasukkan unsur-unsur pembelajaran yang inovatif yaitu adanya hands-activity dan minds-activity di dalamnya. Hands- and minds activity adalah suatu model pembelajaran yang dirancang untuk melibatkan peserta didik dalam menggali informasi dan bertanya, beraktivitas dan menemukan, mengumpulkan data dan menganalisis dan membuat kesimpulan. Biasaya kegiatan ini menggunakan sarana laboratorium virtual. Metode penelitian adalah ex-post quasi experiment dengan disain post-test control group. Perlakuan diberikan pada kelompok mahasiswa yang sedang mengikuti mata kuliah fisika kuantum. Hasil penelitian menunjukkan pada kelompok yang diberikan program pembelajaran lebih tinggi penguasaan konsepnya daripada kelompok mahasiswa yang diajarkan secara konvensional.

Kata kunci: ‘Hands and minds on activity’, Percobaan Virtual, ‘Pedagogical and content knowledge’, Pembelajaran fisika kuantum, calon guru

A. PENDAHULUAN

Hasil-hasil penelitian menunjukkan sebagian besar peserta didik fisika pada

umumnya kurang menguasai konsep gejala fisika kuantum yang terdapat dalam pokok

bahasan fisika modern. Konsep fisika kuantum sangat penting dikuasai oleh peserta didik

sebagai calon guru, yang akan mengajarkannya kelak bagi peserta didiknya di sekolah

menengah, sehingga mereka dapat menyampaikan konsep fisika kuantum dengan benar

kepada peserta didik. Peserta didik tidak melihat benda-benda mikroskopis ini dalam

kehidupan sehari-hari misalnya light emitting dioda (LED) terdapat pada komputer dan

remote-control. Aplikasi konsep fisika kuantum dalam kehidupan nyata adalah: perangkat

elektron, laser, STM, MRI. Peserta didik sekolah menengah perlu menguasai prinsip,

teori, dan gejala-gejala kuantum. Abad modern ini, peralatan canggih banyak terbangun

melalui teknologi nano. Nanoteknologi, teknologi berbasis pengelolaan materi berukuran

326

S.R. Manurung dan N.Y. Rustaman, “Hands And Minds Activity” Dalam Pembelajaran……… 327

nano atau satu per miliar meter, merupakan lompatan teknologi untuk mengubah dunia materi menjadi jauh lebih berharga daripada sebelumnya. Dengan menciptakan zat hingga berukuran satu per miliar meter (nanometer), sifat dan fungsi zat tersebut bisa diubah sesuai dengan yang diinginkan. Robello dan Zollman telah melakukan pembelajaran virtual untuk konsep ketidakpastian Heisenberg dan mekanika gelombang Schrodinger yang merupakan konsep dasar yang sulit pada fisika kuantum. Formula matematis yang rumit diinterpretasikan dalam bentuk grafik, sehingga peserta didik dapat memahami arti fisisnya. Menurut Wuttiprom.,et.al. (2006) Sulitnya belajar mengajar fisika kuantum disebabkan oleh: (a) subjek yang sulit divisualisasikan dengan penyelesaian masalah matematika yang sulit; (b) pembelajarannya dirancang hanya untuk peserta didik fisika tidak untuk peserta didik bidang studi lain; (c) Pembelajaran tradisional tidak mengkaitkannya dengan dunia nyata, sehingga peserta didik tidak merasakan pentingnya fisika kuantum; (d) Memahami gejala fisika kuantum dengan menggunakan pemahaman awal secara mekanika klasik. Pembelajaran fisika membangun kecerdasan dan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Keterampilan berpikir ini sangat penting untuk menjawab permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan. Pentingnya keterampilan berpikir dimiliki oleh peserta didik menurut Ennis (1996) merupakan modal dasar menghadapi permasalahan dan mampu menyelesaikan permasalahan selama dalam perkuliahan atau dalam melakukan tugasnya sebagai guru kelak. Secara umum berpikir merupakan suatu proses kognitif,suatu aktifitas mental untuk memperoleh pengetahuan. Keterampilan berpikir selalu berkembang dan dapat dikembangkan (Nickerson, et al dalam Liliasari, 2005). Menurut McDemott (1990) faktor penentu kualitas proses dan hasil belajar fisika adalah guru. Rendahnya pendidikan fisika di USA disebabkan tidak dipersiapkannya calon guru dengan baik. Menurut McDermott (2004), guru fisika yang efektif harus mempunyai kompetensi berikut: (1) menguasai materi subjek secara konseptual, (2) memiliki kualifikasi akademik yang berlaku; (3) terlatih dalam metode dan teknik-teknik pembelajaran modern, dan (4) menguasai pengetahuan praktis mengenai psikologi. Hal yang sama dinyatakan juga oleh Shulman (Ball & McDiarmid, 1990) bahwa setidak-tidaknya ada tiga ranah pengetahuan yang harus dikuasai oleh seorang guru yang berkaitan dengan tugas-tugas mengajar,yaitu:

(1) pengetahuan materi subjek (subject-matter knowledge), (2) pengetahuan kurikulum (Curriculum knowledge), dan (3) pengetahuan materi subjek pedagogik (Pedagogical Content Knowledge atau PCK). Ranah yang terakhir ini berhubungan dengan kemampuan

328

Prosiding Seminar Nasional Fisika 2010

guru mempersiapkan strategi belajar sesuai dengan karakteristik materi subjek yang diajarnya. Selanjutnya McDermott (1994) menyatakan kebutuhan guru fisika di sekolah menengah atas memenuhi persyaratan di bawah ini: (1) Guru fisika memahami konsep fisika secara mendalam, (2) guru fisika mampu menguji keaslian pengetahuan fisika, (3) guru fisika mengalami belajar berbasiskan laboratorium, (4) guru fisika menerima kesadaran kesatuan fisika, (5) Guru fisika mampu menghubungkan konsep fisika dengan dunia nyata, (6) guru fisika mampu memandang fisika sebagai bagian dari dunia nyata, (7) guru fisika menjadi akrab dengan program-program pembelajaran menggunakan multimedia yang modern, (8) guru fisika mampu mengaplikasikan teori belajar dalam pembelajaran, dan (9) guru fisika mampu mengembangkan keterampilan dalam inkuiri sains.

Model pembelajaran fisika menekankan kegiatan pembelajaran berbasis aktivitas peserta didik yang menekankan keterampilan berpikir generik sains, berbasis kegiatan laboratorium, dan pembelajaran berbantuan komputer yang diharapkan dapat membekali peserta didik dalam pengetahuan materi subjek pedagogik (PCK) Suma (2003) menyatakan bahwa suatu kegiatan pembelajaran yang berpusat pada aktivitas peserta didik memiliki karakteristik sebagai beikut: (a) adanya aktivitas belajar secara kolaboratif dan individual, (b) latihan terbimbing dari dosen dalam memecahkan masalah, (c) kegiatan untuk mengembangkan keterampilan berpikir dan psikomotorik, dan (d) dosen bertindak sebagai motivator dan fasilitator.

B. Pogram pembelajaran Fisika Kunatum

Proyek Physics Education Technology (PhET) (2008) menghasilkan program simulasi gejala fisis yang dipergunakan dalam pembelajaran fisika kuantum. Diyakini paling efektif mengarahkan kegiatan inkuiri membimbing peserta didik mengkonstruk pengetahuannya lingkungan belajar menyenangkan dan memudahkan peserta didik menguasai konsep. Dalam kegiatan ini ada beberapa saran yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan pembelajaran, yaitu: (a) Rumuskan tujuan pembelajaran khusus yang spesifik dan

menggunakan kesadaran

dan penalaran. Pertanyaan: Apa yang mereka temukan tentang fisis? Apa hubungan yang mereka temukan? Bagaimana hal itu membuat kesadaran? Bagaimana menjelaskan apa

yang mereka temukan? dapat digunakan; (d) Hubungkan dan bangun “prior knowledge”

terukur; (b) Hal ini perlu untuk mengarahkan pembelajaran sesuai tujuan; (c) Usahakan

peserta didik

dan pemahaman peserta didik; (e) Berikan pertanyaan awal untuk mendapatkan gagasan mereka.

Bimbing peserta didik menggunakan program

simulasi untuk menguji gagasan mereka dan konfirmasikan atau konfrontasikan setiap miskonsepsi. Berikan cara-cara menjawab permasalahan untuk pemahaman mereka; (f) Hubungkan pengetahuan fisis dengan pengalaman nyata dan berikan kesadaran akan pentingnya dalam kehidupan. Peserta didik termotivasi belajar bila menyadari relevansi pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari. Program visualisasi menunjukkan hal ini melalui jawaban-jawaban yang diberikan atas pertanyaan dan contoh-contoh dalam tugas belajar; (g) Rancang kegiatan kolaborasi. Simulasi menggunakan bahasa yang umum untuk mengkonstruksi pengetahuan di kelas. Pembelajaran akan lebih berpikir aktif baik jika mereka

mengkomunikasikan

dan

menalarkan

penemuannya

satu

dengan

yang

lain

secara

diskusi;

(h)

Berikan

petunjuk

yang minimal dalam

menggunakan simulasi. Simulasi dirancang dan diuji agar peserta didik dapat menemukan dan memiliki kesadaran. Petunjuk “jenis

S.R. Manurung dan N.Y. Rustaman, “Hands And Minds Activity” Dalam Pembelajaran……… 329

kesadaran dalam bentuk kata-kata

dan diagram; (j) Simulasi dirancang menolong peserta didik mengembangkan dan menguji pengetahuan dan penalaran akan benda. Pembelajaran lebih aktif bila peserta didik ditugaskan menjelaskan penalaran dalam cara yang bervariasi.; (k) Membantu peserta didik memonitor pengetahuannya, dengan cara menugaskan peserta didik memprediksi sesuatu berdasarkan pengetahuannya yang baru, kemudian mengujinya dengan simulasi. Program pembelajaran ini diberikan pada sejumlah peserta didik calon guru fisika semester 6 yang mata kuliah fisika kuantum di salah satu LPTK. Pada kelompok belajar diberikan suatu program pembelajaran fisika kuantum dimana mereka dapat melakukan kegiatan belajar mengumpulkan informasi melalui pertanyaan-pertanyaan essai, dalam tugas kelompok dan tugas mandiri. Tugas-tugas ini adalah menjaring kemampuan peserta didik memecahkan masalah yang terkait dengan konsep fisika kuantum. Peserta didik menyelesaikan tugas kelompok, yang dimulai dengan permasalahan (pertanyaan essai) selanjutnya mengekplorasi dan menemukan sendiri untuk menyelesaikan masalah dilanjutkan dengan melakukan diskusi kelas. Program pembelajaran menggunakan tampilan simulasi visualisasi komputer proyek PhET (Physics Education Technology) yang dikemas dalam bentuk bahan ajar yang terdiri dari materi perkuliahan berupa teori- teori, tugas-tugas kelompok dan mandiri. Program pembelajaran berdasarkan pendekatan siklus belajar (learning cycle approach) dalam program pembelajaran. Langkah-langkah siklus belajar (Lawson, 1995) adalah: identifikasi konsep-eksplorasi- mengumpulkan data- Interpretasi-Diskusi hasil. Dalam kegiatan pembelajaran visualisasi komputer interaktif peserta didik belajar dengan learning by doing Belajar dengan melakukan kegiatan tangan (hands on activity) dan kegiatan berpikir (minds on activity). Hands on activity pada key board dan mouse dan minds activity pada konten Materi pembelajaran ditekankan pada perkembangan penalaran, membangun model, keterkaitannya dengan aplikasi dunia nyata. Program pembelajaran fisika kuantum dirancang dengan mengadapatasi pemikiran dan hasil penelitian yang telah dilakukan beberapa ahli pendidikan dalam bidang studi ini. Beberapa pendekatan dalam program pembelajaran ini, yaitu: tugas individual, diskusi kelompok. Menurut Ding (2006), pembelajaran fisika kuantum dengan menggunakan strategi kontemporer menerapkan teori belajar konstruktivisme. Teori konstruktivis ini menyatakan bahwa peserta didik harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi peserta didik agar benar-benar memahami

resep” melemahkan kemampuan berpikir aktif peserta didik; (i) Nyatakan penalaran dan

330

Prosiding Seminar Nasional Fisika 2010

dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide (Suparno, 1998). Kegiatan proses sains yang dilakukan dalam pembelajaran adalah:

pengukuran, pengumpulan data, pembuatan grafik, eksplorasi. Program pembelajaran ini memiliki ciri-ciri berikut: (a) pembelajaran yang kolaboratif dan kooperatif, (b) pembelajaran yang student-centered, (c) pembelajaran yang kontekstual, gejala-gejala fisika kuantum diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. (d) pembelajaran simulasi interaktif. Beberapa konsep materi fisika kuantum yang diajarkan dalam program pembelajaran dalam satuan pembelajaran berikut: (a) radiasi benda hitam, (b) efek foto listrik, (c) efek compton, and (d) gejala gelombang de Broglie, (e) aplikasi persamaan Scrodinger (Quantum tunneling and wave packet)

E. Hasil dan pembahasan

Program pembelajaran menggunakan tampilan simulasi visualisasi komputer proyek PhET (Physics Education Technology) yang dikemas dalam bentuk bahan ajar yang terdiri dari materi perkuliahan berupa teori-teori, tugas-tugas kelompok dan mandiri. Kegiatan proses sains yang dilakukan dalam pembelajaran adalah: pengukuran, pengumpulan data, pembuatan grafik, eksplorasi. Mahasiswa belajar fisika kuantum dengan mengekplorasi simulasi komputer untuk mengumpulkan informasi. Mereka merekam data-data dan mengamati gejala fisika yang muncul dalam tampilan simulasi. Tampilan visualisai radiasi benda hitam memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk menjelaskan kemana arah pergeseran spektrum bila suhu sumber diperbesar atau diperkecil. Tampilan visualisasi simulasi laser memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk mengamati gejala-gejala absorbsi dan emisi atom-atom. Tampilan visualisasi efek fotolistrik memberikan kesempatan pada mahasiswa mengamati elektron yang bergerak diantara dua pelat, membantu mereka membangun model mengapa arus bertambah besar bila intensitas sumber cahaya diperbesar(jumlah elektron yang lepas dari target. bertambah banyak) tetapi tidak bertambah besar bila tegangan antara dua pelat diperbesar (kecepatan elektron bergerak cepat tetapi jumlahnya sama). Interferensi gelombang kuantum dalam percobaan memberikan kesempatan pada mahasiswa mengamati rambatan gelombang cahaya dari sumber melalui dua celah sempit menghasilkan gejala interferensi di layar. Dengan mengamati sifat-sifat elektron diantara celah dan layar, mahasiswa dapat

S.R. Manurung dan N.Y. Rustaman, “Hands And Minds Activity” Dalam Pembelajaran……… 331

menginterpretasi pola interferensi (bagaimana elektron menghasilkan pola tersebut). Tampilan simulasi quantum tunneling and wave packets mahasiswa dapat mengamati perubahan fungsi gelombang terhdap posisi dan waktu. Hasil studi pendahuluan menunjukkan skor rata-rata penguasaan konsep yang diperoleh kelompok eksperimen dan kelompok kontrol seperti yang ditunjukkan tabel dibawah ini.

Perbandingan pengasaan konsep antara kelompok eksperimen dan kontrol

 

Kelompok

Kelompok

Eksperimen

Kontrol

Rata-rata

14.5

10.5

Deviasi standar

1.9

4.2

Variansi

3.5

17.9

Median

15

11

20

18

16

14

12

10

8

6

4

2

0

Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol
Kelompok Eksperimen
Kelompok Kontrol

Rata-rata

Deviasi

Variansi

Median

standar

Hasil penelitian memperlihatkan rata-rata skor penguasaan konsep mahasiswa pada kelompok eksperimen relatif lebih tinggi dari kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dapat menunjukkan hasil yang lebih baik.

PENUTUP Kegiatan minds-on dan hands-on terdapat dalam kegitan praktikum ini sebagaimana kegatan praktikum fisika umumnya. Mahasiswa mengekplorasi gejala fisis dengan bantuan simulasi komputer. Melakukan aktivitas praktikum yaitu: mengamati,

332

Prosiding Seminar Nasional Fisika 2010

mengumpulkan informasi, merekam data-data, dan mengamati gejala fisika yang muncul dalam tampilan simulasi. Selanjutnya menggambarkan grafik hubungan antara variabel dan menemukan bentuk hubungan besaran-besaran fisika. Pembelajaran ini dapat meningkatkan pemahaman konsep keterampilan berpikir tingkat tinggi dan kemahiran generik sains mahasiswa.

Referensi

Bao,L dan Redish,E.F. (1999) Student Models in Learning Modern Topics of Physics (online). Tersedia:http://www.phys.ksu.edu/perg Ball,D.L.,dan McDiarmid,G.W. (1990) “The Subject Matter Preparation of Teachers” Handbook of Research on Techer Educacation. A Project of Associat of Teacher Education Carin, AA & Sund,R.B (1989), Teachig Science Through Discovery (6 th edition), Ohio:

Merril Publishing Company Ding, Y .(2006). Improving the Teaching and Learning in Modern Physics with Contemporary Strategies: The China papers, November 2006 Esclada, Lawrence Todd . Investigating the Applicability of Activity-Based Quantum Mechanics in A Few High School Physics Classroom. [Online]. Tersedia:

http://www.phys.ksu.edu.perg disertasi Gagne,R.M. (1985). The Condition of Learning and Theory of Instruction. ( 4 th ) New York:

Holt, Rinehart and Winston. Henrichsen., & Jarret. (1999). Science Inquiry for The Classroom on Program Report. Oregon: The Northwest Regional Educational Laboratory. Karplus,R (1980) “Teaching for The Development of Reasoning” Journal Science Education Information Report. Liliasari. (2005) Membangun Keterampilan Berpikir Manusia Indonesia Melalui Pendidikan Sains. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Dalam Ilmu Pendidikan IPA Pada Fakultas PMIPA Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung: UPI Lawson,A.E. (1995). Science Teaching and The Development of Thinking. California:

Wadsworth Publishing Co.

S.R. Manurung dan N.Y. Rustaman, “Hands And Minds Activity” Dalam Pembelajaran……… 333

McDermott,L.C (1990) “A Perspective on Teacher Preparation in Physics and Other Science: The Need for Special Science Course for Teachers”. American Journal of Physics.58 (8), 734-742 McDermott, L.C & PEG. Physics by Inquiry [Online] Tersedia:

http://www.phys.washington.edu/groups/peg/pbi.html. McKagan dalam penelitiannya tentang Reforming a Large Lecture Modern Physics Course for Engineering Majors using PER-based Design [Online] Tesedia:

http://quantumdidactics.net/category/quantum-mechanics-topic/teaching-models McKagan. S. B, W. Handley, K. K. Perkins, dan . Wieman. A Research-Based Curriculum for Teaching the Photoelectric Effect [Online) Tersedia:

http://arxiv.org/pdf/0706.2165v1

McKagan, S.B, et.a.Why we should teach the Bohr model and how to teach it effectively.] Tersedia: http://prst-per.aps.org/pdf/PRSTPER/v4/i1/e010103 McKagan, S.B, et.al. Developing and Researching PhET simulations for Teaching Quantum Mechanics. Tersedia: http://www.colorado.edu/physics/EducationIssues/papers/QMsims.pdf Rebello,N.S., Zollman,D. Conceptual Understanding Of Quantum Mechanics After Using Hands-On And Visualization Instructional Materials. Tersedia: http://web.phys.ksu.edu/vqm/ Suma. K. (2003) Pembekalan Kemampuan-kemampuan fisika bagi calon guru Disertasi. Bandung: PPS UPI Sund,R.B & Trowbridge,L.W. (1973). Teaching Science by Inquiry. United Stated: Charles E Merril Publishing Company. Sadia.I.W. (1996) Pengembangan Model Belajar Konstruktivis dalam Pembelajaran IPA di Sekolah Menengah Pertama (SMP): Suatu Studi Eksperimental dalam Pembelajaran Konsep Energi, Usaha, dan Suhu di SMP Negeri di Singaraja.Disertasi. Bandung: PPS UPI Suparno,P (1998) Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Sura Wuttiprom, et.al (2006). Developing a prototype conceptual survey in fundamental quantum physics.

Tersedia:http://science.uniserve.edu.au/pubs/procs/2006/wuttiprom.