P. 1
Hukum Agraria

Hukum Agraria

|Views: 324|Likes:
Dipublikasikan oleh Fachri Matondang

More info:

Published by: Fachri Matondang on Mar 03, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/20/2014

pdf

text

original

HUKUM AGRARIA Indonesian Land Titles Forms of land title regulated by the UUPA and issued by the National

Land Board (BPN) include:
y y y y y y y y y y

Hak Milik -- roughly equivalent to Freehold title of English common law jurisdictions Hak Guna Usaha -- Cultivation Rights Title Hak Guna Bangunan -- Building Rights Title Hak Pakai -- Right to Use Title Hak Sewa untuk Bangunan -- Right to Rent for Buildings Hak Membuka Tanah -- Land Clearing Rights Memungut Hasil Hutan -- Forestry Rights Hak Guna-air, Pemeliharaan & Penangkapan Ikan -- Water Use and Fisheries Rights Hak Guna Ruang Angkasa -- Airspace Use Rights Hak-hak Tanah untuk Keperluan Suci & Sosial -- Land Title for Social & Religious Purposes

To foreign as well as domestic investors, the most important titles to be aware of are Freehold Title (Hak Milik), Cultivation Rights Title (HGU or Hak Guna Usaha), Building Use Title (UGB or Hak Guna Bangunan) and Right to Use Title (HP or Hak Pakai). Freehold Title (HM or Hak Milik, Article 20-27) Freehold title is the strongest and fullest title that can be obtained. However such rights are not absolute as the UUPA recognises the "social functions" of land, however infers a right of "peaceful occupation" of land by the titleholder. Freehold title may only be held by Indonesian citizens, or by Indonesian legal entities that are entirely owned and controlled by Indonesian citizens. It is therefore impossible for a foreign individual to have direct freehold ownership of land in Indonesia. All Indonesian companies, no matter if they are PMA (foreign investment companies) or not, cannot possess freehold title over land and are compelled to use other titles such as Hak Guna Usaha and Hak Guna Bangunan. According to the UUPA, land that is titled Hak Milik can be used as security for debt. However, foreign companies and individuals must take care in accepting freehold land as security, and should consult with competent advisors beforehand. Land Cultivation Rights Title (HGU or Hak Guna Usaha, Article 28-34) The Land Cultivation Title (HGU) gives the right to use a state-owned land for the purpose of agriculture, in particular plantations, fishing or cattle-raising. Such title is granted for periods of 25 or 35 years, and may be extended for another 25 years if the land is deemed to be managed and utilised properly. This title of right is given to Indonesian citizens or legal entities (including PMA companies). A HGU title can be used as collateral, or, with the approval of the government, transferred to a third party.

5/1960 maka dualisme hukum tanah didalam masyarakat kita secara formil telah hapus. Land registration officials and bureaucracy A Land Title Deed is known in Indonesia as a Sertifikat Tanah. Di Indonesia keberadaan hak ulayat ini ada yang masih kental. Such title is granted for a maximum period of 30 years. Tanah ini disebut dengan tanah ulayat. 5 Tahun 1960 hak ulayat yang merupakan hak purba persekutuan hukum diakui dengan tegas di dalam Pasal 3 yang menyatakan : Dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam Pasal 1dan 2 pelaksanaan hak ulayat dan hakhak yang serupa itu dari masyarakat-masyarakat Hukum Adat. Di dalam Undang-undang Pokok Agraria UU No. Right to Use Title (HP or Hak Pakai. and can also be used as collateral or transferred to a third party. and is always accompanied by a Survey Certificate known as Surat Ukur that documents the location and dimensions of the land. Article 35-40) A Building Rights Title (HGB) gives the right to construct and own buildings on a piece of land that someone else owns. Tanah ulayat merupakan tanah milik masyarakat desa tertentu yang merupakan milik bersama dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan bersama. ada yang sudah menipis dan ada yang sudah tidak ada sama sekali.Building Rights Title (HGB or Hak Guna Bangunan. ada tanah tertentu yang tidak dimiliki oleh siapapun. Hukum Adat dalam UUPA Dengan diterbitkannya UU no. HGB title is granted to Indonesian citizens or legal entities (including PMA companies). Bahagian terbesar dari hukum Barat atas tanah dengan tegas digugurkan dan dengan tegas pula dinyatakan bahwa Hukum Adatlah yang berlaku bagi soalsoal agraria. Foreign residents of Indonesia and Indonesian legal entities (including PMA companies) may hold HP titles. and can be extended for another 20 years. Hak Ulayat dalam UUPA Dalam kaitannya dengan kesejahteraan seluruh masyarakat. . Article 41-43) The Right of Use on Land (HP) is the right to use land for any purpose for a period of 25 years. and can be extended for another 20 years. harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan negara yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan Undang-undang dan peraturan-peraturan (hukum) lain yang lebih tinggi . HP title has no collateral value to the owners and is not transferable. sepanjang menurut kenyataannya masih ada. This type of title should not be confused with a lease contract or sharecropping agreement.

bahwa Hukum Adat dijadikan alasan untuk menetukan hukum agraria ialah dikarenakan Hukum Adat itulah hokum yang menurut pendapat dari pembentuk undang-undang sebagai hukum yang sesuai dengan kesadaran hukum daripada rakyat banyak. Tetapi menurut Prof. Bila terjadi hal yang demikian maka dengan sendirinya harus dikesampingkan. Kalimat terakhir ini menganggap bahwa Hukum Adat tidak selalu akan sesuai dengan kepentingan nasional dan negara. Moh. sampai disini. air dan ruang angkasa ialah Hukum Adat. Dr. Artinya Hukum Adat yang berlaku bagi orang-orang Bumiputra. sedangkan UUPA mengatur bahwa tiap-tiap warganegara memiliki hak yang sama. Tetapi selanjutnya dari Pasal 5 itu menyatakan "sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara. Rakyat Indonesia sebagian terbesar tunduk pada Hukum Adat karena Hukum Adat ialah hukum yang asli yang bersifat luwes dan dinamis. berlakunya itu dengan suatu persyaratan. lembaga-lembaga dan kebiasaan dari orang-orang Bumiputra sejauh peraturanperaturan itu tidak bertentangan dengan azas-azas umum yang diakui. . hukum agama". sehingga menjadi kurang mengena. sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara. Namun ketentuan Pasal 5 tersebut dengan penjelasannya terdapat perbedaan dalam menempatkan Hukum Adat. Pandangan yang demikian (pandangan Nederburg) karena Hukum Adat berlaku berkat kesabaran dari pemerintah Belanda. ini menunjukkan pandangan terhadap kedudukan Hukum Adat berbeda dengan kalimat sebelumnya. yaitu bahwa aturan-aturan Hukum Adat tidak boleh bertentangan dengan azas-azas umum yang diakui. Koensoe. Penjelasan atas pasal ini berbunyi bahwa pasal ini adalah merupakan penegasan bahwa Hukum Adat dijadikan dasar dari hukum yang baru. Apa yang melatarbelakangi perumusan Pasal 5 tersebut tidaklah jelas tetapi dapat mengingatkan kita kepada perumusan pasal 11 AB maka oleh hakim-hakim Bumiputra diperlakukan peraturan-peraturan yang bersangkutan dengan agama. bahwa Hukum Adat adalah hukum yang berlaku bagi persoalan-persoalan hukum agraria. tanpa itu tidak mungkin ada Hukum Adat. segala sesuatu dengan mengindahkan unsur-unsur yang bersandarkan pada hukum agama". Dalam hal bertentangan. Pasal 5 menetapkan didalam kalimat bagian muka sendiri. tercermin dengan jelas bahwa untuk hukum agraria itu berlaku Hukum Adat mengenai tanah. yang berdasarkan atas persatuan bangsa dengan sosialisme Indonesia serta aturan perundangan lainnya.Pasal 5 UUPA berbunyi sebagai berikut : "Hukum agraria yang berlaku atas bumi. maka Hukum Adat harus dikesampingkan. artinya bahwa segala masalah hukum mengenai tanah harus diselesaikan menurut ketentuan daripada Hukum Adat mengenai tanah. SH. Pertentangan tersebut yang berlaku di Hukum Adat Batak dikesampingkan oleh UUPA sehingga di Batak memberi kesempatan untuk wanita memiliki sebidang tanah. Tidak boleh bertentangan dengan peraturan UUPA Suatu contoh bahwa di Batak misalnya yang tidak memberikan kesempatan bagi wanita untuk memiliki tanah karena patrilineal.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->