Anda di halaman 1dari 21

Disusun Oleh:

Akh. Faisal Ali

Erick Gunawan. S

Moh. Rizal

Reny Tri. A

Moh. Arifin

KELAS XI IPA- 2

Tahun Ajaran 2010-2011


1. Kasih Sayang Ibu…
Agustus 20, 2007 — Anas Ariffudin

Cucianmu sudah ibu cuci, Ni!? Kata ibuku ketika aku baru saja sampai di
rumah. Aku segera beranjak memasuki kamarku dan melihat tempat cucian
kotorku sudah kosong. Ah ibu, aku berusaha pulang cepat hari ini agar aku
bisa mencuci baju-baju kotorku. ?Ibu tahu, kamu pasti lelah?. Aku hanya bisa
tersenyum memandangi wajah renta ibuku.Diusianya yang lewat setengah
abad, ibuku termasuk wanita yang sehat. Beliau masih mampu mencuci baju
semua anggota keluarga. Bukan berarti kami malas mengerjakannya tapi
karena ibuku punya kebiasaan unik yaitu tidak bisa melihat barang-barang
kotor. Tangannya langsung bergerak membereskan apa saja yang tidak sedap
dipandang.
?Apa ibu nggak cape jika tiap hari selalu beres-beres, aku menggaji orang
saja ya biar ibu bisa istirahat? kataku suatu hari. Ibu memandangku, ?Kamu
nggak suka ya kalau bajumu ibu cucikan?. ?Aku sayang sama ibu, aku nggak
tega melihat ibu bekerja keras tiap hari?, aku berusaha membujuknya untuk
menerima saranku. ?Ibu senang kalau diusia ibu sekarang, ibu masih mampu
mengurusmu, mencucikan pakaianmu dan adikmu atau menyiapkan sarapanmu
tiap pagi?. Yah..aku tak pernah lupa, jika hari libur kantorku hari sabtu dan
minggu, ibu selalu menyiapkan nasi goreng daun mengkudu dan telor ceplok
kesukaanku.
Aku ingat sebuah pepatah ?Seorang ibu bisa mengurus sepuluh orang anak,
tapi sepuluh orang anak belum tentu mampu mengurus seorang ibu? . Aku
termenung sendirian dikamarku, diusiaku yang beranjak dewasa, aku merasa
belum pernah sekalipun membahagiakannya. Pernah suatu kali, aku membelikan
pakaian untuknya, tapi ibuku malah balik bertanya ?Kamu sendiri beli nggak?
Kalau kamu nggak beli, baju ini untuk kamu saja. Baju ibu masih banyak kok?,
ibuku tak mau menerima. Esoknya aku beli baju lagi agar ibu mau menerima
pemberianku.
?Ibu sudah bahagia melihat anak-anak ibu berhasil? kata beliau suatu kali
ketika aku menanyakan apa yang bisa aku perbuat untuk membuatnya bahagia.
?Melihat kamu dan kakak-kakakmu bisa mencari uang sendiri dan kamu bisa
rukun dengan saudara-saudaramu, itulah kebahagian ibu? Aku teringat kakak-
kakaku, alhamdulillah mereka semua sudah mempunyai penghasilan sendiri,
hanya adikku yang masih kuliah.
Kasih anak sepanjang jalan, kasih ibu sepanjang hayat . Apapun yang sudah
kita buat belum apa-apa dibandingkan dengan kasih sayang ibu yang telah
diberikan pada kita.Ya Alloh , curahkan kasih sayang-Mu pada kedua orang
tuaku, teramat khusus untuk ibu. Allahummaghfirlanaa wali-waalidainaa
warhamhumaa kamaa rabbayanii shaghiiraa. Amiin
Untuk Ibunda tercinta, I always love you.

Oleh : Royani Tauhid


2. KISAH SEBATANG BAMBU
Agustus 20, 2007 — Anas Ariffudin

Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani.


Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu
lainnya.
Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu.
Dia berkata kepada batang bambu,” Wahai bambu, maukah engkau kupakai
untuk menjadi pipa saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi
sawahku?”

Batang bambu menjawabnya, “Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi
engkau, Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku
menjadi pipa saluran air itu.”
Sang petani menjawab, “Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan
engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang
cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu
aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku
akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat
mengalir dengan lancar.

Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa
yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawahku sehingga padi yang
kutanam dapat tumbuh dengan subur.”

Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam….. , kemudian dia


berkata kepada petani, “Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit
ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang
cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah
batangku yang indah ini, dan pasti tak tertahankan ketika engkau
mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat
penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?”

Petani menjawab batang bambu itu, ” Wahai bambu, engkau pasti kuat
melalui semua itu, karena aku memilihmu justru karena engkau yang
paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah.”
Akhirnya batang bambu itu menyerah, “Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali
berguna bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang
kau kehendaki.”

Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang


dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah
menjadi pipa saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat
tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.

Pernahkah kita berpikir bahwa dengan masalah yang datang silih


berganti tak habis-habisnya, mungkin Allah sedang memproses kita untuk
menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita
sedang ditempa, Allah sedang membuat kita sempurna untuk di pakai
menjadi penyalur berkat. Dia sedang membuang kesombongan dan segala
sifat kita yang tak berkenan bagi-Nya. Tapi jangan kuatir, kita pasti
kuat karena Allah tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul.
Jadi maukah kita berserah pada kehendak Allah, membiarkan Dia bebas
berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna
bagi-Nya?

Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, ” Ini aku Allah,
perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki.”

Oleh : seismic_yuni@yahoo.com
3. Sebuah Arti
Juli 25, 2007 — Anas Ariffudin

Malam gulita menyelimuti indahnya mimpi. sebuah keluarga yang harmonis dan
damai itulah mimpi terindahku malam ini. suara kokok ayam perlahan menabuh
gendang telingaku mimpi pun mulai menghilang dari benakku. hari ini aku
bangun begitu pagi, ku rapikan tempat tidur mengambil air wudhu dan sholat.
setelah mandi kukenakan seragam putih-abu-abu kebesaranku. setelah
persiapan lengkap aku menuju ruang makan untuk makan bersama ayah dan
ibu.

“Yah, Bu, Ninda berangkat dulu ya?” sambil mencium tangan ayah aku pamitan

“lho..kok makanannya ngak dihabisin, Nin?” Tanya ibu yang sedang mengunyah
campuran nasi dan lauk.

“Ninda udah kenyang kok” sembari memegang perut ku jawab pertanyaan ibu

“ya sudah, hati-hati dijalan!” pesan ibu

“Yah, ibu juga pamitan, biar ngak telat sampai kantor” sambil
mencangklongkan tas ibu pamitan pergi bekerja sedangkan ayah menjaga dan
mengurusi rumah. pokoknya semua pekerjaan rumah ayahlah yang sekarang
mengurusi.

Sesampainya di sekolah ternyata belum satu pun teman sekelasku yang


kelihatan. Meja dan kursi masih kesepian menunggu makhluk yang akan
menempatinya. Dari pada ngelamun lebih baik belajar ya ngak? hari ini ada
salah satu mata pelajaran yang sering bikin aku pusing kepala, Bahasa
Indonesia sekilas memang tampak mudah tapi bagi aku BI adalah salah satu
pelajaran yang membingungkan. siapa tahu dengan belajar walau cuma sedikit
bisa merubah otakku.

Menit demi menit berlalu..

“doorrr” Erna dan Sofi datang sembunyi-sembunyi dan mengageti aku


“eit..kaget tahu” aku kaget bukan kepalang, lagi konsentrasi belajar malah
dikageti tanpa permisi kagetkan jadinya!

“habis dari tadi kamu melamun terus, sedang apa sich?” Tanya Sofi sambil
memperlihatkan wajah lucunya.

“baca buku apa sich?” sambil memegang buku yang aku baca Erni
mengintrogasi
“Bahasa Indonesia! kenapa? Itu artinya aku sedang be-la-jar” dengan pasang
muka judes aku meyakinkan mereka.

“ngak biasanya kamu pakem seperti ini, ada apa sich Nin?” si crewet Erna
bertanya lagi

“mulai detik ini aku pengen belajar serius. Ini semua aku lakukan agar orang
tuaku tidak merasa sia-sia menyekolahkan aku.” jelasku

“O….. taubat nich ceritanya, baguslah kalau begitu” dengan nada nyindir Sofi
memuji. Wah jadi bingung disindir ato dipuji? tau ah.

“Tet…tet…tet” terdengar suara bel dari pengeras. 1 menit lagi jam pelajaran
akan dimulai, tapi teman satu kelasku tak di dalam kelas mereka malah asyik-
asyikan nongkrong di depan kelas. Seperti biasa mereka selalu ngegosip tak
jelas ya bisa diibaratkan pasar pagi di sekolah.

“Klotak..klotak…” terdengar suara sepatu yang dilangkahkan dengan tegap.


walau masih terdengar jauh tapi temen-temenku sudah hafal betul siapa
orang yang memakai sepatu tersebut. Dia adalah bu Susi, teman-temanku
yang sedang nongkrong langsung buyar tak karuan. hanya dengan sekejap
mereka sudah duduk rapi di dalam kelas.

“pagi anak-anak!” Tanya bu Susi saat masuk kelas

“pagi…bu” koor teman-teman menjawab sapaan dari bu Susi.

“Sekarang kumpulkan modul dan buku catatan bahasa Indonesia kalian”


perintah bu Susi

“ada apa sich bu?” Tanya Gilang, temen sekelasku yang terkenal usil
“hari ini ibu akan adakan ulangan!” jawab bu Susi tegas

“waaaaah! kami belum belajar bu” koor teman-temanku menjawab penuh rasa
keluh. seperti biasa teman-temanku selalu tidak siap kalau ada ulangan
dadakan

“ibu memang sengaja adakan ulangan dadakan, ibu hanya ingin mengetahui
sejauh mana kemampuan kalian menerima materi yang telah ibu berikan, jelas
anak-anak!”

“jelas bu” jawab semua temanku yang tak dapat menolak permintaan bu Susi.
Setelah itu bu Susi pun langsung membagikan soal ulangannya. Kami hanya
diberi waktu 45 menit untuk mengerjakan 10 soal esay dari bu Susi. Entah
apa yang telah terjadi denganku, kali ini aku bisa mengerjakan semua soal itu
dengan lancar tanpa sedikit pun mengalami kesulitan. mungkin saja karena
niatku ingin serius menjadikan aku bisa mengerjakan semua soal ini, yang jelas
ini adalah takdir Ilahi. Menit demi menit pun terlampaui..

“Srek..srek..srek” terdengar suara kertas yang sedang dimain-mainkan.


kucoba mencari sumber suara itu ternyata mengarah ke tempat duduk Gilang.
Ternyata benar, dialah yang menimbulkan suara itu. sepertinya dia tak bisa
mengerjakan soal ulangan ini. Sesekali tampak dari wajahnya suatu rasa putus
asa dan pasrah.

“mungkin dia belum belajar” kataku dalam hati. Kutengok wajah teman yang
lain. Buuzzeett aku sangat kaget, ternyata bukan hanya Gilang yang tidak
mengerjakan soa tapi sebagian besar teman di kelasku juga tidak
mengerjakan soal itu.

“sitc” Sofi memberi kode padaku, perlahan kucoba menoleh kearahnya.

“soal no satu?” Tanya temenku ini dengan nada rendah. sekejap aku langsung
tahu apa yang ia maksud. aku pun langsung memberinya bantuan.

“Suatu….”
“Sofi..! sedang apa kamu!” bu Susi memotong perkataanku sembari memberi
peringatan pada Sofi. aku pun kaget takut ketahuan.

“Sedang mengerjakan soal bu!” jawabnya pelan sambil pringas-pringis dan


pura-pura tidak melakukan apa pun selain mengerjakan soal itu. Setelah
peringatan itu Sofi langsung terdiam kali ini dia tak bisa melakukan apa-apa
lagi.

“Kasihan Sofi, pasti dia juga belum belajar” untaian kata bergulir begitu saja
dalam sanubariku.
Tanpa terasa waktu 45 menit telah berlalu ini artinya waktu mengerjakan soal
pun telah selesai.

“waktu kalian habis! sekarang kumpulkan pekerjaan kalian!” perintah bu Susi.


Tanpa basa-basi semua langsung mengumpulkan pekerjaannya masing-masing,
ya.. walau masih banyak soal yang belum terjawab. Sepeti biasa kalau ada
yang sampai telat mengumpulkan maka yang bersangkutan tidak akan
mendapat nilai sepeser pun dari bu Susi. Setelah semuanya terkumpul bu Susi
langsung mengoreksinya.

“saya sangat kecewa dengan pekerjaan kalian. Dari hasil kalian ini ibu jadi
tahu kalau materi yang saya berikan selalu tidak digubris, apa ibu yang kurang
jelas dalam memberikan materi ini? kalian bisa bayangkan dari 40 siswa
dikelas ini yang nilainya lebih dari 6,5 hanya satu orang. kalau dibandingkan
dengan kelas yang lain kelas ini sudah terpandang paling baik tapi mengapa
bisa jadi seperti ini? hanya kalian yang bisa memperbaiki kelas ini! ingat kata-
kata ibu tadi.” semua warga di kelasku hanya bisa terdiam mendengarkan
ceramah dari bu Susi.

“terus yang nilainya baik siapa bu?” Tanya Gilang penasaran

“dia adalah Ninda” jawab bu Susi sambil menyerahkan lembar jawabanku

“dan untuk yang lain minggu depan ibu akan adakan remidi, pagi anak-anak?”
bu Susi pun meninggalkan kelas setelah bel istirahat berbunyi.

Semua kaget dengan nilai yang kudapat tadi

“dapet contekan darimana kamu Nin?” tanya Erni

“huss, enak aja kamu bilang nyontek kamu tahu sendirikan tadi pagi aku baca
apa!” jelasku
Selama ini aku memang termasuk dalam kategori siswa yang selalu remidi
dalam ulangan maklumlah selama ini aku kebanyakan main. Tapi sekarang aku
sadar bahwa untuk meraih impianku haruslah dengan usaha keras.

Hari ini adalah hari yang paling menggembirakan.

“pokoknya Ayah dan ibu harus tahu nilai ulanganku ini” sambil memegang
kertas ulanganku terucaplah satu niat yang menggebu dalam hati. Tak terasa
bel panjang tanda pulang sekolah bergulir di telinga. Niatku sebentar lagi
akan kesampaian.

Dalam perjalanan pulang Doni menghampiriku

“Siang cintaku, tumben sendirian kemana Sofi dan Erni?” tanya Doni

“mereka pulang duluan, jadi aku sendiri deh” jawabku datar.

“kan sekarang ada aku yang setia menjaga sang kekasih” doni memang pandai
berguarau.

Setelah ada Doni kini perjalananku jadi menyenangkan. Jika bicara soal
makhluk yang satu ini aku jadi ingat saat pertama kita jadian dulu.

Sekitar tiga bulan yang lalu aku kenal dengan Doni. aku kenal dia lewat
perkenalan yang diperantarai Sofi. Sejak saat itu entah apa yang telah
terjadi padaku setiap berpapasan dengannya perasaan jadi tak menentu. tapi
aku berusaha menyembunyikan perasaan ini pada siapapun. setelah beberapa
kali ngobrol bareng ternyata dia adalah orang yang baik, nyambung,ya
pokoknya dia adalah sosok aku kagumi.

semakin hari dia semakin deket dengan aku ya karena rumahku searah dengan
rumahnya setiap pulang sekolah pasti bareng lama-lama jadi deket dech.

suatu ketika saat aku ingin pulang kerumah doni menemui aku dan langsung
mengajakku ke taman deket sekolahku.

“ada apa don?” tanyaku penasaran

“em..em”
“am em am em, ada apa?”

“anu ah, sebenernya aku mau bilang kalo aku tu suka sama kamu, aku sadar
kalo aku terlalu berharap banyak sama kamu Nin, tapi aku tak bisa
membohongi perasaan ini. mau kah kamu jadian sama aku?” setelah kata-kata
itu mengalir dari mulut doni perasaan bingung mulai menyandra otakku. aku
tak tahu apa yang harus aku katakan pada doni, memang saat-saat seperti ini
sangat aku nantikan tapi masih banyak hal lain yang membuatku harus
berpikir untuk memberikan jawaban ke doni.

“Don..”

“aku ngerti kok, kamu tak perlu memberikan jawabanya sekarang. kamu boleh
memberikan jawaban itu kapan saja, yang perlu kamu ingat aku sangat
menantikan jawaban itu” ternyata doni bisa membaca apa yang ada
dikepalaku.

“Oya udah sore nich! aku pulang duluan ya” pintaku

“boleh aku antar?” doni menawarkan jasa

“aku bisa sendiri kok, dah dulu ya da..” aku langsung menghilang dari
hadapannya

Sesampainya di rumah pikiranku hanya tertuju pada satu hal yaitu jawaban
apa yang harus aku berikan ke doni. ternyata kata-katanya tadi berulang-
ulang bergulir di telingaku, wajahnya pun selalu terbayang di benakku. hari ini
otakku terpaksa begadang sampai larut malam. setelah menuai keputusan
mimpi langsung menjemputku.

“Pagi Nin!” sapa doni yang sudah stenby di depan rumahku.

“soal pertanyaanmu kemarin aku udah punya satu keputusa..”aku berlaga agak
cuek sama doni, dia mulai kelihatan lemas melihat wajahku ini.

“Aku mau jadian sama kamu”

“apa Nin, serius!” dia seakan tidak percaya dengan yang ku katakan tadi

“ya aku serius!” setelah terucap kata itu doni langsung berteriak
“Ninda……….!!!aku suka kamu…..!!” aku jadi tersipu mendengar teriakkan itu

Mulai hari itu aku resmi jadian sama Doni.

“Nin!” panggil doni,tapi aku tetap terdiam dengan pandangan kosong

“Nin..Ninda..kamu ngalamun?”

“eh..e e engak kok, aku cuma kepikiran tugas-tugas untuk presentasi besok”
aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“ooo, ya udah! tu dah sampe rumah”

“aku pulang dulu ya don, sampe ketemu besok?da..”

Di halaman rumah aku baru teringat dengan niat ku tadi. karena tidak sabar
langsung saja aku masuk ke dalam. spontan aku langsung kaget dengan
keadaan rumah yang tidak karuan. pecahan-pecahan piring dan gelas kelihatan
berserakan di ruang tamu. dengan hati-hati aku masuk ke dalam aku tambah
kaget setelah mendengar pertengkaran antara ayah dan ibu.

“Ayah tak terima kalau sikap ibu seperti ini!” peringatan keras dari ayah
meluncur keras

“keluyuran kemana-mana tak jelas, hal itu hanya menghambur-hamburkan


uang apa ibu sadar dengan hal itu” tambah ayah. semakin lama suasana
semakin mencekam aku hanya bisa menangis mendengar pertengkaran kedua
orang yang sangat aku cintai itu.

“O jadi menurut ayah yang ibu lakukan ini salah! sadar yah, sadar! sejak ayah
dipecat dari perusahaan siapa yang menafkahi keluarga ini? ibu yah, ibu!”
dengan tetesan air mata yang terus mengalir ibu berbalik memberikan
pernyataannya pada ayah.

“kalo seperti ini terus ibu sudah tak tahan yah, ibu pulang malam juga karena
bekerja untuk mencari nafkah bukannya keluyuran” tambah ibu

“Sekarang mau ibu apa?” bentak ayah


“Pokoknya ibu minta cerai!” aku yang dari tadi terduduk lemas di samping
kamar ayah dan ibu sudah tidak dengan pertengkaran ini spontanitas aku
langsung menuju ke kamar mereka.

“sudah…..hentikan!!, jadi seperti ini kelakuan orangtua yang selalu aku


banggakan di depan teman-temanku” sambil menahan isak tangis terlontarlah
kata-kata itu.

“kalian memang sudah tak sayang lagi padaku, tak ada gunanya lagi aku
berubah kalo tingkah kalian saja seperti ini, aku sudah muak dengan semua
ini” tanpa basa-basi aku langsung berlari meninggalkan rumah. aku tak tahu
apa yang harus aku lakukan sekarang. hanya berlari dan berlari yang dapat
aku lakukan sekarang.

awan mulai meneteskan airnya dengan deras tapi aku tak peduli. di bawah
derasnya hujan aku tetap berlari. karna..

“ Anganku menghilang

Ditelan jurang kepedihan

Teringat yang tersayang

Ingin pergi tinggal kenangan

Kutak tahu mengapa

Semuanya telah sirna

Bagai cahaya yang telah redup

Tak sedikitpun nampak sinarnya”

tanpa melihat keadaan sekitar aku tetap berlari, pandangan mulai kabur
sementara itu dari arah yang berlawanan truk dengan kecepatan tinggi melaju
dan tanpa tahu apa-apa tiba-tiba…

“Brak!!!”…..
“kring..kring..” dering telepon dirumah ku. ternyata ibu dan ayah masih
bersikeras untuk bercerai mereka tak sedikit pun mempedulikan kepergianku.
ayah meninggalkan rumah entah kemana sedang ibu hanya merintih di rumah.

“hallo” dengan suara sedih ibu mengangkat ganggang telepon

“kami dari pihak kepolisian ingin menyampaikan bahwa Ninda anak ibu
mengalami kecelakaan dan sekarang sedang dalam kondisi kritis di rumah
sakit Karang anyar”

“apa!” ibu terkejut mendengar kabar ini tubuhnya langsung lemas, dia baru
sadar kalau selama ini lalai memberikan perhatian pada anaknya. tanpa basa-
basi ia langsung menuju rumah sakit.

“bagaimana keadaan anak saya dok?” dengan nada cemas ibu bertanya

“saat ini dia dalam kondisi kritis, untuk itu banyak-banyaklah berdoa untuk
keselamatan putri ibu” dokter memberikan keterangan.

beberapa menit kemudian ayah datang dan tampak tergesa-gesa

“bagaimana keadaan Ninda bu?” dengan penuh rasa cemas ayah bertanya

“dia dalam kondisi kritis, yang bisa kita lakukan sekarang adalah berdoa untuk
keselamatannya”

waktu terus bergulir penuh gejolak rasa cemas. setelah 6 jam menunggu
akhirnya dokter memperbolehkan ayah dan ibu masuk ruang UGD. mereka
kaget dan tercengang melikat keadaan anak semata wayangnya. seluruh tubuh
Ninda tertutup perban hanya wajahnya saja yang tidak. melihat hal ini
mereka tak kuasa menahan tangisnya

“Nin, maafin ibu nak? selama ini ibu selalu mengabaikanmu tak peduli bahkan
ibu terlalu sibuk memikirkan pekerjaan.

“maafin ayah juga Nin, aku sadar tak bisa menjadi seorang ayah yang baik.
tak bisa menafkahi keluarga, ayah juga sadar kalau selama ini terlalu egois
pada kamu dan ibu”
ayah dan ibu menyadari kesalahan mereka masing-masing. takkan ada lagi
perceraian, mungkin dengan ini mereka akan menemukan arti betapa
pentingnya keutuhan keluarga

“yah! bu! tit………”

“Ninda………..!!!”

Penulis : Anas Ariffudin

Email : anasbanget@gmail.com
4. PERSAHABATAN

Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang memanggil


namaku. Aku melihat keluar. Ivan temanku sudah menunggu diluar rumah
kakekku dia mengajakku untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket
ke lapangan.” ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk.
“Besok! Ya sekarang!” jawabnya dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu.
Tunggu ya!”, “Iya tapi cepat ya” pintanya.Setelah aku cuci muka, kami pun
berangkat ke lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah kakekku.“Wah
dingin ya.” kataku pada temanku. “Cuma begini aja dingin payah kamu.”
jawabnya.Setelah sampai di lapangan ternyata sudah ramai. “Ramai sekali
pulang aja males nih kalau ramai.” ajakku padanya. “Ah! Dasarnya kamu aja
males ngajak pulang!”, “Kita ikut main saja dengan orang-orang disini.”
paksanya. “Males ah! Kamu aja sana aku tunggu disini nanti aku nyusul.”
jawabku malas. “Terserah kamu aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah
orang-orang yang sedang bermain basket.“Ano!” seseorang teriak memanggil
namaku. Aku langsung mencari siapa yang memanggilku. Tiba-tiba seorang
gadis menghampiriku dengan tersenyum manis. Sepertinya aku mengenalnya.
Setelah dia mendekat aku baru ingat. “Bella?” tanya dalam hati penuh
keheranan. Bella adalah teman satu SD denganku dulu, kami sudah tidak
pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu. Bukan hanya itu Bella juga
pindah ke Bandung ikut orang tuanya yang bekerja disana. “Hai masih ingat
aku nggak?” tanyanya padaku. “Bella kan?” tanyaku padanya. “Yupz!” jawabnya
sambil tersenyum padaku. Setelah kami ngobrol tentang kabarnya aku pun
memanggil Ivan. “Van! Sini” panggilku pada Ivan yang sedang asyik bermain
basket. “Apa lagi?” tanyanya padaku dengan malas. “Ada yang dateng”
jawabku. “Siapa?”tanyanya lagi, “Bella!” jawabku dengan sedikit teriak karena
di lapangan sangat berisik. “Siapa? Nggak kedengeran!”. “Sini dulu aja pasti
kamu seneng!”. Akhirnya Ivan pun datang menghampiri aku dan Bella.Dengan
heran ia melihat kearah kami. Ketika ia sampai dia heran melihat Bella yang
tiba-tiba menyapanya. “Bela?” tanyanya sedikit kaget melihat Bella yang
sedikit berubah. “Kenapa kok tumben ke Jogja? Kangen ya sama aku?” tanya
Ivan pada Bela. “Ye GR! Dia tu kesini mau ketemu aku” jawabku sambil
menatap wajah Bela yang sudah berbeda dari 3 tahun lalu. “Bukan aku kesini
mau jenguk nenekku.” jawabnya. “Yah nggak kangen dong sama kita.” tanya
Ivan sedikit lemas. “Ya kangen dong kalian kan sahabat ku.” jawabnya dengan
senyumnya yang manis.Akhinya Bella mengajak kami kerumah neneknya. Kami
berdua langsung setuju dengan ajakan Bela. Ketika kami sampai di rumah Bela
ada seorang anak laki-laki yang kira-kira masih berumur 4 tahun. “Bell, ini
siapa?” tanyaku kepadanya. “Kamu lupa ya ini kan Dafa! Adikku.” jawabnya.
“Oh iya aku lupa! Sekarang udah besar ya.”. “Dasar pikun!” ejek Ivan padaku.
“Emangnya kamu inget tadi?” tanyaku pada Ivan. “Nggak sih!” jawabnya malu.
“Ye sama aja!”. “Biarin aja!”. “Udah-udah jangan pada ribut terus.” Bella
keluar dari rumah membawa minuman. “Eh nanti sore kalian mau nganterin aku
ke mall nggak?” tanyanya pada kami berdua. “Kalau aku jelas mau dong! Kalau
Ivan tau!” jawabku tanpa pikir panjang. “Ye kalau buat Bella aja langsung mau,
tapi kalau aku yang ajak susah banget.” ejek Ivan padaku. “Maaf banget Bell,
aku nggak bisa aku ada latihan nge-band.” jawabnya kepada Bella. “Oh gitu ya!
Ya udah no nanti kamu kerumahku jam 4 sore ya!” kata Bella padaku. “Ok
deh!” jawabku cepat.Saat yang aku tunggu udah dateng, setelah dandan biar
bikin Bella terkesan dan pamit keorang tuaku aku langsung berangkat ke
rumah nenek Bella. Sampai dirumah Bella aku mengetuk pintu dan mengucap
salam ibu Bella pun keluar dan mempersilahkan aku masuk. “Eh ano sini masuk
dulu! Bellanya baru siap-siap.” kata beliau ramah. “Iya tante!” jawabku sambil
masuk kedalam rumah. Ibu Bella tante Vivi memang sudah kenal padaku
karena aku memang sering main kerumah Bella. “Bella ini Ano udah dateng”
panggil tante Vivi kepada Bella. “Iya ma bentar lagi” teriak Bella dari
kamarnya. Setelah selesai siap-siap Bella keluar dari kamar, aku terpesona
melihatnya. “Udah siap ayo berangkat!” ajaknya padaku.Setelah pamit untuk
pergi aku dan Bella pun langsung berangkat. Dari tadi pandanganku tak pernah
lepas dari Bella. “Ano kenapa? Kok dari tadi ngeliatin aku terus ada yang
aneh?” tanyanya kepadaku. “Eh nggak apa-apa kok!” jawabku kaget.Kami pun
sampai di tempat tujuan. Kami naik ke lantai atas untuk mencari barang-
barang yang diperlukan Bella. Setelah selesai mencari-cari barang yang
diperlukan Bella kami pun memtuskan untuk langsung pulang kerumah. Sampai
dirumah Bella aku disuruh mampir oleh tante Vivi. “Ayo Ano mampir dulu pasti
capek kan?” ajak tante Vivi padaku. “Ya tante.” jawabku pada tante
Vivi.Setelah waktu kurasa sudah malam aku meminta ijin pulang. Sampai
dirumah aku langsung masuk kekamar untuk ganti baju. Setelah aku ganti baju
aku makan malam. “Kemana aja tadi sama Bella?” tanya ibuku padaku. “Dari
jalan-jalan!” jawabku sambil melanjutkan makan. Selesai makan aku langsung
menuju kekamar untuk tidur. Tetapi aku terus memikirkan Bella. Kayanya aku
suka deh sama Bella. “Nggak! Nggak boleh aku masih kelas 3 SMP, aku masih
harus belajar.” bisikku dalam hati.Satu minggu berlalu, aku masih tetap
kepikiran Bella terus. Akhirnya sore harinya Bella harus kembali ke Bandung
lagi. Aku dan Ivan datang kerumah Bella. Akhirnya keluarga Bella siap untuk
berangkat. Pada saat itu aku mengatakan kalau aku suka pada Bella.“Bella aku
suka kamu! Kamu mau nggak kamu jadi pacarku” kataku gugup.“Maaf ano aku
nggak bisa kita masih kecil!” jawabnya padaku. “Kita lebih baik Sahabatan
kaya dulu lagi aja!”Aku memberinya hadiah kenang-kenangan untuknya sebuah
kalung. Dan akhirnya Bella dan keluarganya berangkat ke Bandung. Walaupun
sedikit kecewa aku tetap merasa beruntung memiliki sahabat seperti Bella.
Aku berharap persahabatan kami terus berjalan hingga nanti.

Sumber : Cerpen.net
5. Arti Persahabatan

Misha sinkap kembali tabir ingatannya. Sharon. Manis nama itu, semanis
orangnya. Dialah kawan karib Misha yang selalu diingatannya. Sudah enam
tahun mereka mengenali antara satu sama lain. Kegembiraan dan keperitan
hidup di alam remaja mereka melalui bersama. Tetapi semua itu hanya tinggal
kenangan sahaja. Misha kehilangan seorang sahabat yang tidak ada kalang-
gantinya.

Peristiwa itu berlaku dua tahun yang lalu. Sewaktu itu mereka sedang berada
di kantin sekolah. Misha sedang marahkan Sharon kerana mengambil pena
kesukaannya tanpa izinya dan menghilangkannya.

Apabila Misha bertanya, dia hanya berkata yang dia akan menggantikannya.
Misha tidak mahu dia menggantikannya. Kerana pena yang hilangtu berlainan
dengan pena yang akan diganti oleh Sharon. Pena yang hilang itu adalah hadiah
daripada Sharon sewaktu mereka pertama kali menjadi sepasang kawan karib.

"Aku tak mahu kau menggantikannya! Pena yang hilangtu berharga bagiku!
Misha memarahi Sharon." " Selagi kau tak jumpa penatu, selagi itulah aku tak
akan bercakap dengan kau!" Marahnya Misha pada Sharon. Meja kantintu di
hentaknya dengan kuat hingga terkejut Sharon. Misha yang mukanya memang
kemerah-merahan, bila marah bertambahlah merahlah mukanya. Sharon
dengan keadaan sedih dan terkejut hanya berdiamkan diri lalu beredar dari
situ. Misha tahu Sharon berasa sedih mendengar kata-katanya itu. Misha
tidak berniat hendak melukainya tetapi waktu itu dia terlalu marah dan tanpa
dia sedari, mutiara jernih membasahi pipinya.

"Sudah beberapa hari Sharon tidak datang ke sekolah. Aku merasa risau.
Adakah dia sakit? Apa yang terjadi" Berkata-kata Misha seorang diri. Benak
fikirannya diganggu oleh seribu satu pertanyaan "EH! Aku nak pergi
kerumahnyalah" Berbisik Misha di hatinya. Tetapi niatnya berhenti di situ.
Dia merasa segan. Tiba-tiba talipon dirumah Misha berbunyi
"Ring,riiiiiiiing,riiiiiiiiing,riiiiiiiing"Ibu Misha yang menjawab panggilan
itu."Misha, oh, Misha "Teriak ibunya. "Cepat, salin baju. Kita pergi rumah
Sharon ada sesuatu berlaku. Kakaknya Sharon talipon suruh kita pergi
rumahnya sekarang jugak" Suara ibu Misha tergesa-gesa menyuruh anak
daranya cepat bersiap. Tiba-tiba jantung Misha bergerak laju. Tak pernah dia
merasa begitu. Dia rasa tak sedap. Ini mesti ada sesuatu buruk yg berlaku.
"Ya Allah, kau tenteramkanlah hatiku. Apapun yang berlaku aku tahu ini semua
ujianmu. Ku mohon jauhilah segala perkara yang tak baik berlaku. kau
selamatkanlah sahabatku." Berdoa Misha pada Allah sepanjang perjalanannya
ke rumah Sharon.

Apabila tiba di sana, rumahnya dipenuhi dengan sanak -saudaranya. Misha


terus menuju ke ibu Sharon dan bersalaman dengan ibunya dan bertanya apa
sebenarnya yang telah berlaku. Ibunya dengan nada sedih memberitahu
Misha yang Sharon dilanggar lori sewaktu menyeberang jalan berdekatan
dengan sekolahnya." Dia memang tidak sihat tapi dia berdegil nak ke sekolah.
Katanya nak jumpa engkau. Tapi hajatnya tak sampai. Sampai di saat dia
menghembuskan nafasnya, kakaknya yang ada disisinya ternampak sampul
surat masa ada dia gengam ditangannya" terisak-isak suara ibu Sharon
menceritakan pada Misha sambil menghulurkan surat yang Sharon beriya-iya
sangat ingin memberikannya pada sahabatnya.

Didalam sampul surat itu terdapat pena kesukaanku. Disitu juga terdapat
notadaripadnya.

MISHA SHARMIN,
AKU MINTA MAAAF KERANA MEMBUAT KAU MARAH KERANA TELAH
MENGHILANGKAN PENA KESUKAANMU. SELEPAS ENGKAU MEMARAHI
AKU, AKU PULANG DARI SEKOLAH SEWAKTU HUJAN LEBAT KERANA
INGIN MENCARI PENAMU.DI RUMAH AKU TAK JUMPA.TAPI AKU TAK
PUTUS ASA DAN CUBA MENGINGATINYA DAN AKU TERINGAT,
PENATU ADA DI MEJA SCIENCE LAB . ITUPUN AGAK LAMBAT AKU
INGIN KESEKOLAH KERANA BADANKU TAK SIHAT TAPI DENGAN
BANTUAN SITI DIA TOLONG CARIKAN. PENATU SITI JUMPA
DIBAWAH MEJAMU. TERIMA KASIH KERANA TELAH MENGHARGAI
PEMBERIANKU DAN PERSAHABATAN YANG TERJALIN SELAMA
SETAHUN. TERIMA KASIH SEKALI LAGI KERANA SELAMA INI
MENGAJARKU TENTENG ERTI PERSAHABATAN.

SHARON OSMAN.
Kolam mata Misha dipenuhi mutiara jernih yang akhirnya jatuh berlinangan
dengan derasnya.Kalau boleh ingin dia meraung sekuat hatinya. Ingin dia
memeluk tubuh Sharon dan memohon maaf padanya tapi apakan daya
semuanya dah terlambat. Mayat Sharon masih di hospital. Tiba-tiba
dentuman guruh mengejutkan Misha daripada lamunan. Barulah dia sedar
bahawa dia hanya mengenangkan kisah silam. Persahabatan mereka lebih
berharga daripada pena itu. Misha benar-benar menyesal dengan
perbuatannya. Dia berjanji tak akan membenarkan peristiwa ini berulang
kembali. Semenjak itu Misha rajin bersolat dan selesai solat dia akan
membaca al quran dan berdoa dan bersedekahkan ayat-ayat al quran kepada
sahabatnya. Dengan cara ini sahajalah yang dapat Misha balas balik jasanya
Sharon dan mengeratkan persahabatanya. Semoga dengan kalam Allah Sharon
akan bahagia di alam baza.

Diposkan oleh Cerpen_Wendy di 02.32