Anda di halaman 1dari 18

85

PERTUMBUHAN DAN HASIL UBIJALAR (Ipomoea batatas (L.)


Lam.) PADA MACAM DAN DOSIS PUPUK ORGANIK YANG
BERBEDA TERHADAP PUPUK ANORGANIK

Margo Yuwono
Mahasiswa Program Studi Ilmu Tanaman, PPSUB

Nur Basuki dan Lily Agustina


Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang

ABSTRAK

Percobaan bertujuan untuk (1) membandingkan pertumbuhan dan hasil


tanaman ubijalar yang diberi pupuk organik dan anorganik, (2) mendapatkan
kombinasi macam dan dosis pupuk organik yang terbaik terhadap pertumbuhan dan
hasil tanaman ubijalar, (3) mengetahui kadar pati dan antosianin ubi, dan (4)
mengetahui residu N setelah setelah pemberian pupuk organik. Percobaan dilakukan
di desa Jatikerto, Malang dari bulan Oktober 2001 sampai Maret 2002.
Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok. Perlakuan meliputi empat
macam pupuk organik yaitu 1) pupuk kotoran sapi (P1), 2) Calopogonium
muconoides (P2), 3) Centrosema pubescens (P3) dan 4) Tithonia diversifolia (P4),
serta dosis pupuk organik yaitu 1) setara 40 kg N/ha (D1), 2) setara 80 kg N/ha
(D2), 3) setara 120 kg N/ha (D3) dan 4) 160 kg N/ha (B4) serta pupuk anorganik
dengan dosis 80 kg N/ha.
Hasil percobaan menunjukkan bahwa pertumbuhan dan hasil ubijalar pada
dosis 80 kg N/ha antara pupuk organik dan anorganik tidak berbeda. Diantara
pupuk organik, pertumbuhan dan hasil tanaman terbaik pada perlakuan T.
diversifolia, selanjutnya berturut-turut adalah pupuk kotoran sapi > C. muconoides >
C. pubescens. Hasil ubi tertinggi pada perlakuan (26,02 t/ha) dan terendah pada
perlakuan pupuk anorganik (22,12 t/ha). Kombinasi antara T. diversifolia dengan
dosis 160 kg N/ha (setara 5,04 t/ha) memberikan hasil tertinggi (29,39 t/ha) dan
terendah pada perlakuan C. pubescens dengan dosis 40 kg N/ha (setara 1,36 t/ha)
yaitu 20, 85 t/ha.
Perlakuan pupuk organik asal T. diversifolia menghasilkan kadar pati
tertinggi (31,78%) dan terendah pada perlakuan C. pubescens (25,07%). Kadar
antosianin tertinggi pada perlakuan C. pubescens (2,69 mg/kg) dan terendah pada
perlakuan pupuk anorganik (0,99 mg.kg).
Pada akhir penelitian N tertinggi terdapat pada perlakuan pupuk kotoran sapi
yaitu 21,08 kg/ha.

Kata kunci : ubijalar, pupuk organik, pupuk anorganik

ABSTRACT

The objectives of this experiment are to (1) compare the growth and yield of
sweet potato with organic matters treatment and with an inorganic treatment, (2)
find out which type and proportion of organic matters is better for sweet potato
86

growth and yield, (3) determining starch and anthocyanin contents in tuber, and (4)
determining N-residue after organic matter treatment. The experiment were
conducted in Jatikerto village, Malang from October 2001 till March 2002.
The experiment was arranged in Randomized Block Design and replicates
three times. The treatments were kind of organic matters e.i. (1) cow manure (P1);
(2) Calopogonium muconoides (P2); (3) Centrosema pubescens (P3 ) and (4)
Tithonia diversifolia (P4) and dosage e.i. (1) equivalent 40 kg N/ha (D1), (2)
equivalent 80 kg N/ha (D2), (3) equivalent 120 kg N/ha (D3) and (4) equivalent 160
kg N/ha (D4) and inorganic fertilizer were applied 80 kg N/ha.
The organic matter with 80 kg N/ha proportion resulted better growth and
yield compare to in-organic fertilizer with the same proportion. Refer to the sweet
potato growth and yield as resulted of organic fertilizer treatment, T. diversifolia
gave the best result. The order among these organic fertilizer was T. diversifolia >
cow manure > C. muconoides > C. pubescens. The highest yield of fresh tuber
obtained at T. diversifolia treatment that is 26,02 t/ha. The lowest yield of fresh
tuber obtained at C. pubescens tratment that is 22,12 t/ha. Combination between T.
diversifolia with dosage 160 kg N/ha (equivalent 5,04 t/ha)) will give highest of
fresh tuber (29,39 t/ha) and combination betweeen C. pubescens and dosage 40 kg
N/ha (equivalent 1,36 t/ha) will give lowest of fresh tuber.
The highest of strach content obtained at T. diversifolia treatment (31,78%)
and the lowest obtained at C. pubescens treatment (25,07%). The highest of
anthocyanin content obtained at C. pubescens (2,69 mg/kg) and the inorganic
treatment resulting the lowest amount of anthocyanin (0,99 mg.kg).
The result indicated the amount of N-reidue at the end of the experiment is
21,08 kg/ha.

Key word : sweeet potato, organic fertilizer, inorganic fertilizer

PENDAHULUAN

Tanaman ubijalar merupakan tanaman yang berpotensi sebagai penghasil


karbohidrat pengganti padi. Akan tetapi sampai saat ini tingkat hasil per satuan luas
di tingkat petani dalam skala nasional masih rendah, yaitu sekitar 8 ton per hektar
ubi segar (Widodo, 1990). Hal ini tidak mengherankan, karena pada umumnya
petani mengusahakan tanaman ubijalar pada lahan yang tingkat kesuburannya
rendah dengan penggunaan masukan yang rendah pula.
Dalam sistem pertanian dengan masukan rendah untuk menjaga kesehatan
tanah sangat tergantung pada penggunaan masukan pupuk organik. Penanaman
ubijalar secara terus menerus pada lahan yang sama bisa jadi akan menurunkan hasil
sebagai akibat berkurangnya hara. Penggunaan pupuk organik seperti pupuk
kotoran hewan maupun pupuk hijau merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan
disamping dapat memperbaiki sifat fisik tanah dapat pula untuk memenuhi
kebutuhan hara tanaman biologi tanah.
Pada umumnya ubijalar ditanam pada tanah-tanah pertanian lahan kering
mempunyai kandungan pupuk organik yang rendah. Keadaan ini akan berakibat
dengan menurunnya produktivitas tanah. Hal ini disebabkan petani tidak atau jarang
mengembalikan sisa panennya ke lahan. Komposisi dan penyerapan unsur hara
oleh tanaman ubijalar selama pertumbuhan berhubungan erat dengan produksi
87

ubijalar. Hara yang hilang terangkut oleh panen ubijalar cukup tinggi, yaitu 105 kg
N, 41 kg P2O5 dan 210 kg K2O/ha (Fathan dan Rahardjo, 1994).
Fortuno, Cartanay dan Vilamayor (1996) mengemukakan bahwa salah satu
cara yang dapat dilakukan untuk memenuhi hara tanaman ubijalar adalah dengan
penggunaan pupuk organik. Harapannya antara lain agar hasilnya lebih tinggi.
Mengingat pupuk organik bersifat lambat tersedia, maka pupuk organik
tersebut harus diberikan pada dosis yang tepat dan jenis yang sesuai. Ini disebabkan
karena kecepatan dekomposisi tergantung dari kualitas pupuk organik yang
digunakan. Namun kecepatan dekomposisi ini tergantung dari kualitas pupuk
organik yang digunakan. Diharapkan pada waktu penanaman, hara
yang diperlukan oleh tanaman sudah tersedia dalam jumlah yang cukup.
Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk : (1)
membandingkan pertumbuhan dan hasil tanaman ubijalar yang diberi pupuk organik
dan anorganik, (2) mendapatkan kombinasi macam dan dosis pupuk organik yang
terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman ubijalar, (3) mengetahui kadar pati
dan antosianin ubi, dan (4) mengetahui residu N setelah pemberian pupuk organik.

METODE PENELITIAN

Tempat dan waktu


Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian
Universitas Brawijaya yang terletak di Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan
Kabupaten Malang. Ketinggian tempat 280 m di atas permukaan laut. Jenis tanah
Alfisol, pH 6.59, bertekstur liat dengan curah hujan 147 mm per bulan. Percobaan
berlangsung dari bulan Oktober 2001 sampai bulan Maret 2002.

Bahan percobaan
Bahan tanaman yang akan digunakan dalam penelitian ini berupa tanaman
ubijalar (varietas Sawi asal Blitar) dan pupuk organik yang berasal dari pupuk
kandang (kotoran sapi), jenis tanaman pupuk hijau (Calopogonium muconoides dan
Centrosema pubescens) dan Tithonia diversifolia.

Rancangan percobaan
Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok. Perlakuan meliputi
empat macam pupuk organik yaitu pupuk kotoran sapi (P1), C. muconoides (P2), C.
pubescens (P3) dan T. diversifolia (paitan) (P4) serta dosis pupuk organik yaitu
setara 40 kg N/ha (D1), setara 80 kg N/ha (D2), setara 120 kg N/ha (D3) dan
setara 160 kg N/ha (D4). Sebagai kontrol adalah perlakuan tanpa pupuk organik.
Dalam hal ini digunakan pupuk anorganik sesuai dengan dosis rekomendasi yaitu 80
kg N, 60 kg P dan 200 kg K/ha. Dengan demikian terdapat 17 macam perlakuan.
Masing-masing perlakuan diulang tiga kali.

Pelaksanaan percobaan
Pupuk organik diberikan dengan dosis sebagaimana yang dikemukakan
dalam rancangan percobaan, dengan cara dibenamkan. Pupuk organik dberikan
melingkar di sekitar tanaman dengan diameter 50 – 75 cm. Ditempatkan pada jarak
tersebut karena diasumsikan bahwa distribusi perakaran tanaman berada pada
kisaran tersebut.
88

Kegiatan pemeliharaan meliputi pembalikan sulur, penyiangan gulma, pengendalian


hama dan penyakit. Pembalikan sulur dilakukan dua minggu sekali bersamaan
dengan penyiangan gulma. Untuk pengendalian hama dan penyakit digunakan
serbuk biji mimba (SBM) (Azadirachta indica) dengan dosis 15 g SBM/l air yang
direndam selama 24 jam. Aplikasi SBM dilakukan mulai tanaman berumur 2 mst
sampai 10 smt dengan selang waktu dua minggu. Pelaksanaan panen ubijalar
dilakukan setelah tanaman berumur 120 hari. Petak panen ditentukan 2 x 4 m atau
pada dua guludan yang berada di tengah.

Peubah tumbuh dan hasil tanaman


Untuk mengetahui pengaruh perlakuan macam dan dosis pupuk organik
dilakukan pengamatan setiap 2 minggu. Pengamatan dilakukan terhadap : panjang
tanaman, luas daun, bobot kering total tanaman, indeks luas daun, laju tumbuh
pertanaman, harga satuan daun, hasil ubi dan kualitas ubi (kadar pati dan
antosianin).

Analisis data
Apabila perlakuan memberikan pengaruh yang nyata terhadap peubah
pengamatan, maka dilanjutkan dengan uji Jarak Berganda Duncan. Untuk melihat
perbedaan dengan kontrol maupun antar perlakuan maka dilakukan uji banding
ortogonal kontras.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Panjang tanaman
Hasil banding ortogonal menunjukkan bahwa panjang tanaman antara
perlakuan pupuk organik (O) 80 kg N/ha dengan anorganik (AO) tidak berbeda
nyata pada semua umur pengamatan (Tabel 1).
Pada Tabel 1 tampak bahwa panjang tanaman antara perlakuan T.
diversifolia 160 kg N/ha menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P < 0.01)
terhadap perlakuan lainnya pada semua umur pengamatan. Tetapi pada perlakuan
40, 60 dan 120 kg N/ha tidak menunjukkan perbedaan terhadap perlakuan lainnya.
Panjang tanaman yang terpanjang hingga terpendek dalam kelompok pupuk organik
berturut-turut adalah T. diversifolia > pupuk kotoran sapi > C. muconoides > C.
pubescens.

Luas daun
Hasil banding ortogonal menunjukkan bahwa luas daun antara perlakuan
pupuk organik (O) 80 kg N/ha dengan anorganik (AO) tidak berbeda nyata umur
pengamatan 2, 4, 6, dan 8 mst tetapi menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P
< 0.01) pada umur 12 mst (panen) (Tabel 2). Luas daun pada tanaman pada
perlakuan pupuk organik 80 kg N/ha lebih sempit dari pada pupuk anorganik pada
umur pengamatan 4, 6 dan 8 mst kecuali pada umur 12 mst (panen). Peningkatan
luas daun tanaman ubijalar pada perlakuan pupuk organik asal T. diversifolia
terdapat perbedaan yang sangat nyata (p < 0,01) antara dosis setara 120 kg N/ha
dengan dosis setara 160 kg N/ha terhadap peningkatan luas daun tanaman ubijalar.
89

Luas daun tanaman pada perlakuan pupuk organik 80 kg N/ha lebih sempit pada
umur pengamatan 2, 4, 6 dan 8 mst kecuali pada saat panen (Tabel 2).

Tabel 1. Perkembangan panjang tanaman ubijalar pada berbagai perlakuan

Panjang tanaman (cm)


Perlakuan
2 mst 4 mst 6 mst 8 mst panen
O 39,83 58,33 75,18 97,52 132,69
AO 41,52 70,30 76,92 94,23 132,00
O vs AO tn tn tn tn tn
P1D1 37,19 c 52,65 de 63,93 d 81,33 cd 113,67 d
P1D2 40,03 bc 55,81 cd 72,73 bc 103,28 bc 128,33 c
P1D3 40,46 b 59,50 c 79,47 b 106,25 bc 135,50 bc
P1D4 44,08 ab 62,33 bc 82,98 b 110,05 b 141,13 b
P2D1 36,90 c 49,48 e 66,93 cd 75,08 d 116,83 d
P2D2 38,32 c 52,98 de 67,55 cd 82,02 cd 128,00 c
P2D3 43,60 ab 58,73 c 76,47 bc 89,45 c 132,00 c
P2D4 42,27 ab 67,49 ab 79,38 b 108,50 bc 143,83 b
P3D1 34,09 d 50,64 e 60,12 d 77,17 c 118,17 d
P3D2 37,35 c 52,08 de 70,52 bc 81,17 cd 128,17 c
P3D3 39,90 bc 57,46 c 77,08 bc 93,05 c 134,17 bc
P3D4 41,59 b 59,05 c 80,93 b 102,55 c 135,83 bc
P4D1 34,37 c 52,27 de 69,20 bc 105,60 bc 130,00 c
P4D2 40,08 cd 59,43 c 72,62 bc 107,55 b 141,50 b
P4D3 41,86 b 68,63 ab 86,40 ab 109,63 b 143,50 b
P4D4 48,41 a 74,72 a 96,61 a 127,72 a 152,50 a
Keterangan: Angka yang didampingi huruf berbeda pada kolom yang sama menunjukkan
adanya perbedaan diantara perlakuan. O = Pupuk organik; AO = Pupuk anorganik; P 1 = Pupuk
kotoran sapi; P2 = C. muconoides; P3 = C. pubescens; P4 = T. diversifolia; D1 = dosis pupuk
organik setara 40 kg N/ha; D2 = dosis pupuk organik setara 80 kg N/ha; D 3 = dosis pupuk
organik setara 120 kg N/ha; D4 = dosis pupuk organik setara 40 kg N/ha; tn = tidak nyata

T. diversifolia sebagai pupuk organik memberikan pengaruh yang terbesar


terhadap pertambahan luas daun. Urutan pupuk organik berdasarkan besarnya
pengaruh yang diberikan terhadap pertambahan luas daun adalah T. diversifolia >
pupuk kotoran sapi > C. muconoides > C. pubescens.

Indeks luas daun

Hasil banding ortogonal menunjukkan bahwa indeks luas daun antara


perlakuan pupuk organik (O) 80 kg N/ha dengan anorganik (AO) tidak berbeda
nyata pada umur pengamatan 2, 4, 6 dan 8 mst kecuali pengamatan pada umur 12
mst yang menunjukkan perbedaan yang nyata (P < .005 ) (Tabel 3).
Pada Tabel 3 tampak bahwa rata-rata indeks luas daun T. diversifolia pada
setiap perlakuan menunjukkan hasil yang tertinggi diantara perlakuan pupuk organik
lainnya. Urutan pupuk organik berdasarkan besarnya indeks luas daun adalah T.
diversifolia > pupuk kotoran sapi > C. muconoides > C.a pubescens.
90

Tabel 2. Perkembangan luas daun ubijalar pada berbagai perlakuan

Luas daun (dm2)


Perlakuan
2 mst 4 mst 6 mst 8 mst panen
O 8,38 11,97 23,14 28,97 69,56
AO 8,66 14,49 23,66 31,11 49,57
O vs AO tn tn tn tn sn
P1D1 7,87 c 9,72 e 20,95 c 22,12 d 50,87 d
P1D2 8,20 bc 12,07 c 21,73 bc 25,63 cd 76,04 ab
P1D3 8,68 b 12,83 b 26,85 b 31,54 c 77,34 ab
P1D4 9,10 ab 14,79 ab 32,51 ab 37,73 b 80,64 ab
P2D1 6,43 d 10,32 d 17,47 cd 22,60 d 66,05 bc
P2D2 8,20 bc 11,36 cd 19,11 c 26,14 cd 68,18 b
P2D3 8,71 b 12,44 bc 21,76 bc 27,34 cd 68,26 b
P2D4 8,76 b 13,44 b 24,99 b 37,98 b 70,66 b
P3D1 6,69 cd 8,90 e 16,14 e 16,74 e 56,68 cd
P3D2 8,33 bc 10,94 d 17,77 cd 20,60 de 63,55 bc
P3D3 8,75 b 11,16 cd 20,13 c 26,56 cd 64,75 bc
P3D4 9,13 ab 13,34 b 25,00 b 30,74 c 68,00 b
P4D1 6,91 cd 9,93 e 19,42 c 23,06 d 65,28 bc
P4D2 8,92 b 11,45 cd 22,77 bc 27,52 cd 71,20 b
P4D3 9,04 ab 12,52 bc 28,00 ab 34,08 bc 76,60 ab
P4D4 9,45 a 16,26 a 35,62 a 53,21 a 88,80 a
Keterangan: Angka yang didampingi huruf berbeda pada kolom yang sama menunjukkan
adanya perbedaan diantara perlakuan. O = Pupuk organik; AO = Pupuk anorganik; P1 =
Pupuk kotoran sapi; P2 = C. muconoides; P3 = C. pubescens; P4 = T. diversifolia; D1 = dosis
pupuk organik setara 40 kg N/ha; D2 = dosis pupuk organik setara 80 kg N/ha; D3 = dosis
pupuk organik setara 120 kg N/ha; D4 = dosis pupuk organik setara 40 kg N/ha; tn = tidak
nyata: sn = sangat nya

Bobot kering total tanaman

Hasil uji banding ortogonal menunjukkan bahwa bobot kering total


tanaman antara perlakuan pupuk organik (O) 80 kg N/ha dengan anorganik (AO)
tidak berbeda nyata pada semua umur pengamatan (Tabel 4). Pada Tabel 4 tampak
bahwa rata-rata berat kering total tanaman pada perlakuan pupuk organik
dengan dosis setara 80 kg N/ha masih lebih tinggi daripada anorganik. Antara
pupuk organik sendiri, pengaruh terbesar terhadap berat kering total tanaman berasal
dari T. diversifolia Urutan pupuk organik berdasarkan besarnya pengaruhnya
terhadap berat kering total tanaman adalah T. diversifolia > pupuk kandang sapi. >
C. muconoides > C. pubescens.
91

Tabel 3. Perkembangan indeks luas daun ubijalar pada berbagai perlakuan

Indeks luas daun


Perlakuan
2 mst 4 mst 6 mst 8 mst panen
O 0,42 0,72 1,10 1,42 3,54
AO 0,38 0,72 1,18 1,56 3,15
O vs AO tn tn tn tn n
P1D1 0,33 d 0,83 ab 0,94 c 1,13 d 3,21 cd
P1D2 0,42 bc 0,69 b 1,05 bc 1,31 cd 3,80 b
P1D3 0,44 b 0,73 b 1,09 bc 1,37 c 3,87 b
P1D4 0,51 a 0,86 ab 1,40 ab 1,90 ab 4,03 ab
P2D1 0,39 c 0,63 bc 0,87 cd 1,11 3,30 bc
P2D2 0,41 bc 0,65 bc 0,96 c 1,28 cd 3,41 bc
P2D3 0,43 bc 0,71 b 1,09 bc 1,58 bc 3,41 bc
P2D4 0,45 ab 0,88 ab 1,25 b 1,89 ab 3,53 bc
P3D1 0,32 d 0,51 c 0,72 d 1,00 d 3,00 d
P3D2 0,41 b 0,59 bc 0,89 cd 1,03 d 3,34 cd
P3D3 0,44 b 0,64 bc 1,01 bc 1,33 cd 3,24 cd
P3D4 0,44 b 0,77 b 1,25 b 1,54 bc 3,40 bc
P4D1 0,35 c 0,52 c 0,97 c 1,15 d 3,26 cd
P4D2 0,45 ab 0,69 b 1,14 bc 1,38 c 3,56 bc
P4D3 0,45 ab 0,90 ab 1,34 ab 1,70 b 3,83 b
P4D4 0,47 ab 1,04 a 1,63 a 2,00 a 4,44 a
Keterangan: Angka yang didampingi huruf berbeda pada kolom yang sama menunjukkan
adanya perbedaan diantara perlakuan. O = Pupuk Organik AO = Pupuk anorganik; P1 =
Pupuk kotoran sapi; P2 = C. muconoides; P3 = C. pubescens; P4 = T. diversifolia; D1 = dosis
pupuk organik setara 40 kg N/ha; D2 = dosis pupuk organik setara 80 kg N/ha; D3 = dosis
pupuk organik setara 120 kg N/ha; D4 = dosis pupuk organik setara 40 kg N/ha; tn = tidak
nyata: n = nyata

Laju tumbuh pertanaman

Hasil uji banding ortogonal menunjukkan bahwa laju tumbuh pertanaman antara
perlakuan pupuk organik (O) 80 kg N/ha dengan anorganik (AO) tidak berbeda
nyata pada umur pengamatan 2 –4 , 4 – 6 dan 6 – 8 mst kecuali pada umur
pengamatan 8 – 12 yang menunjukkan perbedaan yang nyata (P < 0.05) (Tabel 5).
Laju tumbuh pertanaman meningkat antara 2 – 4 minggu setelah tanam kemudian
menurun dan mencapai optimum pada 6 – 8 minggu setelah tanam. Menjelang
panen laju tumbuh pertanaman akan menurun.
Laju tumbuh pertanaman pada perlakuan T. diversifolia pada semua dosis lebih
tinggi dibandingkan pupuk organik lainnya. Antara macam pupuk organik, terdapat
perbedaan yang nyata antara pupuk kandang sapi dengan C. muconoides, C.
pubescens dan T. diversifolia.
92

Tabel 4. Bobot kering total tanaman ubijalar pada berbagai perlakuan

Bobot kering total (kg)


Perlakuan
2 mst 4 mst 6 mst 8 mst panen
O 11,72 39,19 59,73 81,07 98,14
AO 12,07 35,30 59,01 76,30 90,50
O vs AO tn tn tn tn tn
P1D1 9,83 c 31,80 dc 42,55 d 66,80 d 93,37 bc
P1D2 10,73 bc 38,30 c 49,55 cd 73,40 cd 98,75 b
P1D3 13,13 b 41,45 bc 56,13 84,83 bc 102,03 ab
P1D4 15,00 ab 46,47 b 71,90 ab 97,03 ab 108,68 a
P2D1 9,00 c 30,20 d 45,40 cd 72,62 cd 85,15 c
P2D2 10,67 35,80 c 52,70 c 76,16 cd 91,12 bc
P2D3 12,37 b 39,85 bc 54,25 c 81,58 c 102,40 ab
P2D4 13,07 b 44,00 bc 63,75 b 88,42 b 104,93 ab
P3D1 9,53 c 28,10 d 45,55 cd 67,50 d 85,80 c
P3D2 9,97 bc 34,85 cd 53,95 c 77,02 cd 95,50 bc
P3D3 10,63 bc 38,40 c 60,75 bc 84,65 bc 96,90 b
P3D4 11,73 bc 47,00 b 65,15 b 85,03 bc 97,77 b
P4D1 9,47 c 32,25 cd 59,43 bc 68,65 d 96,43 b
P4D2 12,80 bc 37,35 c 67,98 b 78,47 cd 99,97 b
P4D3 14,63 ab 46,30 b 74,25 ab 95,60 ab 103,55 ab
P4D4 16,00 a 54,85 a 80,80 a 99,37 a 107,83 a
Keterangan: Angka yang didampingi huruf berbeda pada kolom yang sama menunjukkan
adanya perbedaan diantara perlakuan. O = Pupuk organik; AO = Pupuk anorganik; P 1 = Pupuk
kotoran sapi; P2 = C. muconoides; P3 = C. pubescens; P4 = T. diversifolia; D1 = dosis pupuk
organik setara 40 kg N/ha; D2 = dosis pupuk organik setara 80 kg N/ha; D 3 = dosis pupuk
organik setara 120 kg N/ha; D4 = dosis pupuk organik setara 40 kg N/ha; tn = tidak nyata

Harga satuan daun


Hasil banding ortogonal menunjukkan bahwa harga satuan daun antara
perlakuan pupuk organik (O) 80 kg N/ha dengan anorganik (AO) tidak berbeda
nyata pada semua umur pengamatan (Tabel 6).
Harga satuan dan antara macam pupuk organik, terdapat perbedaan yang
nyata (p < 0,05) antara pupuk kandang sapi dengan C. muconoides, C. pubescens
dan T. diversifolia. Pola harga satuan daun mirip dengan laju pertumbuhan
tanaman, yaitu laju pertumbuhan meningkat antara 2 – 4 minggu setelah tanam
kemudian menurun dan mencapai optimum pada 6 – 8 minggu setelah tanam.
Menjelang panen harga satuan daun akan menurun.
93

Tabel 5. Perkembangan laju tumbuh pertanaman ubijalar pada berbagai perlakuan

Laju tumbuh tanaman (g.cm-2.hari-1)


Perlakuan
2 – 4 mst 4 - 6 mst 6 - 8 mst 8 - 12 mst
O 0,98 0,67 0,81 0,42
AO 1,05 0,75 0,83 0,25
O vs AO tn tn tn n
P1D1 0,78 cd 0,62 c 1,07 ab 0,35 cd
P1D2 0,98 c 0,68 c 0,91 b 0,39 c
P1D3 1,01 c 0,75 c 0,95 b 0,46 bc
P1D4 1,12 b 0,80 bc 0,59 c 0,29 c
P2D1 0,76 cd 0,54 cd 0,69 c 0,27 d
P2D2 0,90 cd 0,60 cd 0,43 d 0,42 c
P2D3 0,98 c 0,65 c 0,64 c 0,38 cd
P2D4 1,10 bc 0,71 c 0,72 c 0,41 c
P3D1 0,66 d 0,38 d 0,75 c 0,20 d
P3D2 0,89 cd 0,40 d 0,79 bc 0,47 bc
P3D3 0,99 c 0,52 cd 0,85 bc 0,55 b
P3D4 1,26 ab 0,51 cd 0,78 bc 0,21 d
P4D1 0,74 cd 0,69 c 0,76 bc 0,43 c
P4D2 1,11 cd 0,97 ab 0,74 bc 0,51 b
P4D3 1,23 b 1,00 ab 1,09 ab 0,65 a
P4D4 1,39 a 0,91 a 1,19 a 0,67 a
Keterangan: Angka yang didampingi huruf berbeda pada kolom yang sama menunjukkan
adanya perbedaan diantara perlakuan.

Tabel 6. Perkembangan harga satuan daun ubijalar pada berbagai perlakuan

Harga satuan daun (mg.cm-2)


Perlakuan
2 – 4 mst 4 - 6 mst 6 - 8 mst 8 mst- panen
O 1,90 0,85 0,74 0,20
AO 1,98 0,92 0,70 0,17
O vs AO tn tn tn tn
P1D1 1,90 b 1,09 ab 0,33 e 0,11 de
P1D2 1,94 b 0,73 bc 0,54 c 0,14 cd
P1D3 1,91 b 1,11 ab 0,88 b 0,19 c
P1D4 1,80 bc 0,97 b 0,83 b 0,37 a
P2D1 1,73 c 0,92 b 0,79 bc 0,19 d
P2D2 1,82 bc 0,86 bc 0,72 bc 0,20 cd
P2D3 1,82 bc 0,69 bc 0,87 b 0,17 d
P2D4 1,94 b 0,84 bc 0,79 bc 0,12 de
P3D1 1,56 d 0,52 c 0,36 cd 0,06 e
P3D2 1,82 bc 0,49 c 0,37 cd 0,22 bc
P3D3 1,96 b 0,56 c 0,43 cd 0,09 de
P3D4 2,25 a 0,98 b 0,85 b 0,29 ab
P4D1 1,75 c 0,65 bc 1,11 ab 0,19 c
P4D2 1,78 bc 0,97 b 0,94 b 0,19 c
P4D3 2,15 ab 1,09 ab 0,76 bc 0,21 bc
P4D4 2,22 a 1,19 a 1,21 a 0,38 a
Keterangan: Angka yang didampingi huruf berbeda pada kolom yang sama
menunjukkan adanya perbedaan diantara perlakuan.
94

Hasil total ubi segar per tanaman


Hasil banding ortogonal menunjukkan bahwa jumlah ubi, bobot ubi dan hasil
ubi segar (t/ha) antara perlakuan pupuk organik (O) 80 kg N/ha dengan anorganik
(AO) tidak berbeda nyata pada semua umur pengamatan (Tabel 7).
Jumlah ubi pada perlakuan pupuk anorganik lebih banyak dari pada pupuk organik.
Tetapi untuk bobot ubi dan hasil ubi segar per hektar, perlakuan pupuk organik lebih
baik dari pada pupuk anorganik. Dari empat macam pupuk organik yang digunakan,
T. diversifolia memberikan hasil yang tertinggi terhadap hasil ubi.

Tabel 7. Jumlah ubi, bobot ubi dan hasil ubi segar ubijalar pada berbagai perlakuan

Jumlah ubi Bobot ubi Hasil ubi segar


Perlakuan
(buah) (kg) (t/ha)
O 2,56 0,48 24,63
AO 3,83 0,40 22,12
O vs AO tn tn tn
P1D1 2,17 c 0,42 c 21,04 c
P1D2 2,33 bc 0,49 b 25,88 ab
P1D3 2,67 b 0,52 ab 27,74 a
P1D4 3,17 a 0,54 a 26,88 ab
P2D1 2,50 bc 0,44 c 20,85 c
P2D2 3,17 a 0,46 bc 21,87c
P2D3 2,17 c 0,48 b 27,11 ab
P2D4 2,00 0,54 a 24,67 bc
P3D1 2,00 c 0,42 c 21,74 c
P3D2 2,67 b 0,44 c 22,89 c
P3D3 2,00 c 0,47 bc 25,21 bc
P3D4 3,17 a 0,50 b 24,21 bc
P4D1 2,33 bc 0,45 bc 22,50 c
P4D2 2,50 bc 0,51 ab 25,65 ab
P4D3 2,17 c 0,53 ab 26,56 ab
P4D4 2,50 bc 0,56 a 29,39 a
Keterangan: Angka yang didampingi huruf berbeda pada kolom yang sama
menunjukkan adanya perbedaan diantara perlakuan.

Kadar pati dan antosianin umbi


Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa macam dan dosis pupuk
organik berpengaruh terhadap kadar pati dan kandungan antosianin ubi (Tabel 8).
Untuk perlakuan macam pupuk organik, kadar pati pada ubi ubijalar berkisar dari
25,07 % (perlakuan pupuk organik asal C. pubescens) sampai 31,78 % (perlakuan
pupuk organik asal T. diversifolia). Untuk perlakuan dosis pupuk organik, kadar
pati ubi tertinggi dicapai pada dosis setara dengan 120 kg N/ha (31,30 %) dan
terendah pada dosis yang setara dengan 160 kg N/ha (24,44 %). Penambahan N
sampai disis tertentu nampaknya mengakibatkan peningkatan kadar pati ubi ubijalar.
Terhadap kandungan antosianin ubi, perlakuan macam pupuk organik
menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan pupuk anorganik. Pupuk organik
asal T. diversifolia menghasilkan kandungan antosianin ubi tertinggi (2,31 mg/
kg) dan terendah pada pupuk anorganik (0,99 mg/kg). Pada perlakuan dosis pupuk
95

organik, kandungan antosianin ubi tertinggi dicapai pada dosis yang setara dengan
160 kg N/ha (2,56 mg/kg) dan terendah pada perlakuan tanpa pupuk organik (0,99
mg/kg).
Dari Tabel 8 juga dapat dilihat bahwa dosis pupuk organik memberikan
pengaruh yang berbeda terhadap kadar pati dan kandungan antosianin. Dengan
ditingkat-kannya dosis, terjadi peningkatan kandungan antosianin tetapi kadar
patinya menjadi lebih rendah.

Residu N
Hasil perhitungan N yang ada di dalam tanah menunjukkan bahwa N pada
minggu pertama berkisar dari 2,94 kg/ha sampai 39,90 kg/ha. Sampai minggu ke 14,
N yang tersisa dalam tanah sebanyak 21,08 kg/ha.
Hasil percobaan juga menunjukkan bahwa mineralisasi T. diversifolia
mencapai puncaknya pada umur 4 minggu setelah perlakuan dan kemudian terus
menurun. Untuk pupuk kotoran sapi dan C. muconoides mineralisasinya masih terus
meningkat, sedangkan C. pubescens meningkat sampai umur 6 minggu kemudian
menurun dan meningkat lagi pada akhir pengamatan (Tabel 9).

Tabel 8. Kadar pati dan antosianin ubi

Kadar pati Kandungan antosianin


Perlakuan
(%) (mg/kg)
Macam pupuk organik
Pupuk anorganik 28,95 0,99
Pupuk kotoran sapi 27,69 1,65
C. muconoides 25,07 1,94
C. pubescens 29,63 2,69
T. diversifolia 31,78 2,31

Dosis pupuk organik


Pupuk anorganik 28,95 0,99
D1 28,69 1,79
D2 29,73 1,97
D3 31,30 2,28
D4 24,44 2,56
Keterangan : - D : dosis pupuk organik
Pupuk anorganik : dosis 80 kg N/ha
D1 : dosis pupuk organik setara dengan 40 kg N/ha
D2 : dosis pupuk organik setara dengan 80 kg N/ha
D3 : dosis pupuk organik setara dengan 120 kg N/ha
D4 : dosis pupuk organik setara dengan 160 kg N/ha

Pembahasan Umum

1. Pertumbuhan dan hasil tanaman ubijalar pada perlakuan pupuk organik terhadap
anorganik
96

Pertumbuhan dan hasil tanaman ubijalar yang diberi pupuk organik lebih
baik daripada anorganik. Baiknya pertumbuhan dan hasil ini ditunjukkan dengan
bertambahnya panjang tanaman, luas daun, indeks luas daun, laju pertumbuhan
tanaman dan hasil total ubi segar per tanaman.
Indeks luas daun dan laju tumbuh pertanaman tertinggi diperoleh pada
perlakuan T. diversifolia diikuti oleh pupuk kandang, C. muconoides dan C.
pubescens. T. diversifolia menunjukkan hasil yang terbaik dibanding perlakuan
lainnya. Ini nampaknya berkaitan dengan laju dekomposisi dan mineralisasinya
yang lebih cepat dengan kandungan N yang tinggi. Sehingga pada saat tanaman
membutuhkan telah dapat dipenuhi oleh T. diversifolia. Ini sesuai dengan pendapat
Altieri (2000) bahwa T. diversifolia mengakumulasikan sejumlah besar N dan P
apabila dibenamkan dalam tanah dan juga akan melepaskan N dengan cepat dalam
waktu dua minggu. Hasil ini lebih cepat dibandingkan pupuk organik lainnya.

Tabel 9. Residu N yang ada dalam tanah pada minggu 3, 4, 6, 10, dan 14

kg/ha N
No. Perlakuan Minggu setelah perlakuan
3 4 6 10 14
1 P1D1 4,46 5,84 8,23 22,81 31,86
2 P1D2 4,91 6,26 9,15 14,63 36,80
3 P1D3 6,38 8,59 10,69 13,06 43,28
4 P1D4 8,43 11,78 14,68 24,50 44,33
5 P2D1 5,71 9,99 20,13 21,77 34,99
6 P2D2 5,47 9,54 11,12 21,43 36,73
7 P2D3 5,78 11,03 21,95 31,03 39,50
8 P2D4 6,21 10,86 19,21 22,80 40,74
9 P3D1 2,94 12,73 15,45 18,53 30,46
10 P3D2 4,03 6,60 19,20 20,28 30,54
11 P3D3 4,36 8,19 23,70 28,19 37,59
12 P3D4 3,05 7,60 24,23 33,80 39,50
13 P4D1 5,14 6,49 19,31 25,09 31,54
14 P4D2 6,64 8,06 21,23 38,19 46,00
15 P4D3 6,75 19,38 26,20 44,36 47,25
16 P4D4 11,68 24,98 39,90 45,88 52,68
Keterangan : P1 = Pupuk kotoran sapi; P2 = C. muconoides; P3 = C. pubescens; P4
= T. diversifolia; D1 = dosis pupuk organik setara 40 kg N/ha; D2 = dosis pupuk
organik setara 80 kg N/ha; D3 = dosis pupuk organik setara 120 kg N/ha; D4 = dosis
pupuk organik setara 160 kg N/ha.

Indeks luas daun dan laju pertumbuhan tanaman pada perlakuan C.


pubescens menunjukkan pertumbuhan yang lebih lambat daripada perlakuan
anorganik. Hal ini nampaknya berkaitan dengan kualitas dari pupuk organik asal C.
pubescens yang berkualitas rendah, dengan laju dekomposisi dan mineralisasinya
yang lambat dengan kandungan N yang rendah. Terbatasnya suplai nitrogen akan
berdampak pada terhambatnya pertumbuhan karena N merupakan penyusun
97

kehidupan dalam sel tanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Gardner, Pierce dan
Mitchell (1991) bahwa N merupakan bahan penting penyusun asam amino, amida,
nukleotida yang esensial untuk pembelahan dan pembesaran sel. Oleh karena itu N
sangat penting untuk pertumbuhan tanaman.
Bobot kering total tanaman masih lebih baik pada perlakuan pupuk organik
dibandingkan dengan perlakuan pupuk anorganik. Namun bila dilihat dari dosis
yang sama (80 kg N/ha), perlakuan T. diversifolia memberikan hasil yang terbaik.
Pertumbuhan dan hasil tanaman ubijalar yang mendapat perlakuan pupuk
organik lebih baik dibandingkan pupuk anorganik. Pupuk organik akan melepaskan
hara secara perlahan, sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman sesuai dengan
kebutuhannya. Hal yang demikian tidak ditemui pada pupuk anorganik. Pupuk
anorganik memiliki unsur hara dalam bentuk tersedia dan akan dilepaskan secara
sekaligus. Ini akan merugikan tanaman karena N tersedia yang berlebihan
tidak semuanya dimanfaatkan. Nitrogen tersebut akan hilang oleh pencucian
ataupun penguapan. Sehingga pada saat tanaman membutuhkan, nitrogen yang
tersedia dalam tanah tidak mencukupi lagi untuk pertumbuhan tanaman.
Nitrogen diperlukan tanaman sepanjang pertumbuhannya. Tanaman
memperoleh N dengan jalan menyerap ion nitrat atau amonium yang ada dalam
larutan tanah. Walaupun amonia merupakan senyawa N utama yang dibebaskan
dalam dekomposisi pupuk organik, dalam kebanyakan tanah amonia langsung
dioksidasi menjadi nitrat sehingga ion nitrat umumnya merupakan sumber utama N
bagi tanaman.Setelah diserap ion nitrat direduksi kembali menjadi amonia sebelum
komponen N-nya dapat digabungkan ke dalam asam amino dan senyawa N organik
lain.
Tanaman ubijalar membutuhkan nitrogen yang banyak pada saat proses
pembentukan ubi atau saat awal inisiasi ubi yang terjadi antara minggu ke 2 sampai
8 setelah tanam. Bila nitrogen tersebut berasal dari pupuk organik, maka diperlukan
pupuk organik yang memiliki kualitas tinggi sehingga dapat memenuhi kebutuhan
hara tanaman. Ini ditentukan oleh kandungan lignin dan polifenol yang rendah serta
kandungan N yang tinggi dari suatu pupuk organik. Pupuk organik yang demikian
akan mempunyai laju dekomposisi dan mineralisasi yang cepat, sehingga pada saat
tanaman membutuhkan hara yang diperlukan sudah tersedia. Sifat yang demikian
ditemui pada T. diversifolia.
T. diversifolia paling cepat mengalami mineralisasi dibandingkan dengan
pupuk kotoran sapi, C. muconoides dan C. pubescens, dan mencapai puncaknya
pada 4 minggu setelah perlakuan Dengan demikian penggunaan T. diversifolia
sebagai pupuk organik sangat potensial, karena memenuhi kriteria tersebut. (Tabel 9
). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan T. diversifolia memberikan hasil
yang tertinggi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman.
Pemberian pupuk organik sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan
hasil tanaman, dimana dengan bertambahnya panjang tanaman selalu diikuti dengan
bertambahnya luas daun, indeks luas daun, berat kering total tanaman, laju tumbuh
pertanaman, bobot ubi/tanaman dan hasil ubi segar. Keadaaan yang sebaliknya
terjadi pada perlakuan pupuk anorganik. Dengan semakin luas daun ternyata berat
kering total tanaman bertambah dan selanjutnya hasil tanaman bertambah. Asumsi
yang dapat dikemukakan adalah bahwa dengan daun yang lebih luas maka
fotosintesis yang terjadi dapat lebih efektif dan fotosintat yang dihasilkan akan lebih
banyak.
98

Perkembangan ubi yang meliputi jumlah dan bobotnya sangat berhubungan


dengan proses fotosintesis yang terjadi. Hal ini dapat dilihat dari pertambahan bobot
keringnya yang menunjukkan pertambahan yang berbeda sesuai dengan perlakuan
yang diberikan. Dari hasil analisis ragam laju tumbuh pertanaman umur 12 minggu
(Tabel 8), dimana parameter ini menggambarkan pertambahan berat kering tanaman
selama tanaman tumbuh dalam 12 minggu menunjukkan bahwa pemberian pupuk
organik mempunyai bobot kering yang relatif tinggi (0,42 g) dibanding perlakuan
pupuk anorganik (0,25 g).

2. Pertumbuhan dan hasil tanaman ubijalar pada perlakuan antar pupuk organik pada
berbagai dosis

Pertumbuhan dan hasil tanaman ubijalar terbaik diperoleh pada perlakuan T.


diversifolia pada semua tingkat dosis, kemudian diikuti pupuk kotoran sapi,
C.muconoides dan C. pubescens. Ini disebabkan karena T. diversifolia mempunyai
laju dekomposisi yang lebih cepat dibanding ketiga pupuk organik lainnya.
Dekomposisi suatu pupuk organik selalu diikuti oleh pelepasan N dari
mineralisasi. Dari keempat pupuk organik yang digunakan, Thitonia diversifolia
termasuk pupuk organik yang berkualitas tinggi dengan kandungan lignin dan
polifenol serta N yang relatif tinggi dibanding dengan, C. muconoides, C. pubescens
dan pupuk kandang sapi berturut-turut: 3.17, 3.02, 2.93, dan 2.70 %. Selain itu hasil
analisis kandungan kimia dari empat macam pupuk organik yang digunakan, T.
diversifolia memiliki C:N ratio yang rendah (5.93), sehingga dikatakan berkualitas
tingi dibanding dengan C.muconoides, C. pubescens dan pupuk kandang sapi yang
masing-masing memiliki C:N ratio 9.29, 9.75, dan 7.15.
Macam pupuk organik nampak sangat berpengaruh terhadap perkembangan
tanaman. Tingginya kandungan N pada T. diversifolia akan merangsang
penggunaan hasil fotosontesis untuk pertumbuhan tajuk tanaman pada awal
pertumbuhan. Proses mineralisasi T. diversifolia akan mencapai puncaknya pada 4
minggu setelah perlakuan. Pada saat ini adalah awal inisiasi ubi sehingga tanaman
sangat memerlukan nitrogen. Hal ini sesuai dengan pendapat Agata (1984) bahwa
kandungan N yang tinggi merupakan kondisi yang sangat cocok untuk sintesis
protein, karena protein vital bagi pembentukan organ baru.
Penggunaan pupuk organik yang berbeda akan memberikan pengaruh yang
berbeda pula terhadap kesuburan tanah. Ini berkaitan dengan kualitas pupuk organik
yang digunakan. Kualitas pupuk organik akan dipengaruhi oleh kandungan lignin
dan polifenol serta C:N ratio dan berkorelasi dengan kecepatan dekomposisi dan
mineralisasi pupuk organik tersebut. Handayanto (1996) mengemukakan bahwa
dekomposisi pupuk organik mempunyai pengaruh langsung dan tindak langsung
terhadap kesuburan tanah. Pengaruh langsung disebabkan karena pelepasan unsur
hara melalui mineralisasi, sedangkan pengaruh tidak langsung adalah menyebabkan
akumulasi pupuk organik tanah yang pada gilirannya akan meningkatkan
penyediaan unsur hara bagi tanaman. Pengaruh langsung dan tidak langsung dapat
terjadi jika kadar pupuk organik tanah dapat dipertahankan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk organik yang diberikan
berpengaruh terhadap harga satuan daun (HSD). Dosis pupuk organik yang mengan-
dung N yang tinggi akan meningkatkan bobot bagian tanaman diatas tanah.
Semakin banyak N yang dilepaskan oleh pupuk organik maka bobot bagian atas
tanaman akan meningkat secara cepat sejalan dengan meningkatnya penyediaan
99

nitrogen. Akan tetapi nilai HSD akan menurun dengan meningkatnya LAI. Hal ini
bisa terjadi karena daun yang letaknya di bagian tengah tajuk tidak bisa melakukan
fotosintesis akibat rendahnya intensitas cahaya

35.0
30.0
25.0
Hasil ubi segar

20.0
(t/ha)

15.0 Pupuk kotoran sapi


10.0 C. muconoides
5.0 C. pubescens
0.0 T. diversifolia
0 100 200
Dosis pupuk organik
(setara kg N/ha)

Gambar 1. Respons tanaman ubijalar terhadap pemberian


pupuk organik

Keterangan : Pupuk kotoran sapi (y = 20,5 + 0,048x; R2 =


0,698)
C. muconoides (y = 21,1 + 0,026x; R2 = 0,588)
C. pubescens (y = 19,9 + 0,034x; R2 = 0,427)

Penerimaan cahaya yang ini merupakan karakteristik tanaman ubijalar,


karena tanaman ubijalar mempunyai daun yang bertumpuk-tumpuk. (Soemarno,
1981).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk organik dapat meningkatkan
produksi bahan kering. Pupuk organik yang mempunyai kandungan K tinggi
seperti T. diversifolia, memberikan pengaruh yang besar terhadap hasil, karena
tanaman ubijalar lebih memerlukan sejumlah besar K untuk pembentukkan ubi.
Hasil ubi akan meningkat secara proporsional dengan meningkatnya K. Hal ini
berkaitan dengan fungsi dari unsur K yaitu untuk transpor fotosintat dari source ke
sink.
Semakin tinggi dosis pupuk organik yang digunakan nampak akan semakin
berpengaruh terhadap bobot dan ukuran ubi. Dosis pupuk organik yang lebih tinggi
dari dosis rekomendasi memberikan jumlah ubi yang lebih sedikit, tetapi bobotnya
semakin bobot dan ukurannya lebih besar. Hal ini berkaitan dengan pengaruh K,
dimana pengaruh K sangat penting untuk pembesaran ubi (Wilson, 1982).
Walaupun dengan penambahan dosis pupuk organik maka N pun akan
bertambah, pertumbuhan tajuk yang berlebihan dapat ditekan dan hasil ubi yang
tinggi bisa dicapai karena dosis K juga akan semakin tinggi (Soemarno, 1981). Dari
hasil analisis regresi antara hasil dengan dosis pupuk organik ternyata pupuk organik
memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap peningkatan hasil ubi (Gambar
1).
100

Dari Gambar 1 dapat dilihat bahwa sampai dosis pupuk organik setara
dengan 160 kg/ha, untuk pupuk organik asal Tithonia diversifolia masih
menunjukkan peningkatan terhadap hasil ubi segar per hektar. Kalium yang
terkandung dalam pupuk organik asal Tithonia diversifolia nampaknya masih
mencukupi kebutuhan tanaman.. Untuk pupuk organik asal pupuk kandang sapi,
Calopogonium muconoides dan Centrosema pubescens, peningkatan hasil ubi segar
per hektar akan mencapai optimum pada dosis bahan organik setara 120 kg
N/ha. Lebih dari dosis tersebut hasil ubi segar per hektar akan menurun.
Dari hasil penelitian Jian-wei et al. (2001) dengan menggunakan K2O, KCl
dan K2SO4 dengan beberapa taraf dosis K (0, 75, 150, 225 dan 300 kg K/ha),
menunjukkan bahwa sampai dosis 300 kg K/ha hasil ubi masih meningkat. Dari
hasil penelitian ini, penggunaan pupuk organik dengan kandungan kalium yang
tinggi seperti T. diversifolia (3,17 %) dengan dosis 5,04 ton/ha atau setara dengan
159,76 kg K/ha ternyata hasil ubi masih meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa
kalium penting bagi produksi ubijalar, bahkan disimpulkan oleh Togari (1948)
dalam Soemarno (1981) bahwa K lebih penting daripada N dan P. Kalium mampu
menurnkan persentase bahan kering ubi, tetapi karena kalium dapat meningkatkan
hasil ubi maka ia juga mampu meningkatkan hasil total bahan kering tanaman.
Pengaruh kalium yang sangat penting adalah pembesaran ubi. Bila dosis K
ditingkatkan, ubi menjadi bengkak dan hasil ubi yang diperoleh menjadi besar-besar.
Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Agata (1984). Terlihat pada
perlakuan pupuk organik asal T.diversifolia yang mempunyai kandungan K yang
lebih tinggi daripada pupuk kandang sapi, C. muconoides dan C. pubescens Hasil
ubi akan meningkat dengan meningkatnya dosis pupuk organik yang diberikan
(Gambar 1). Dikemukan oleh Soemarno (1981) bahwa walaupun dosis pupuk K
cukup tinggi, pertumbuhan tajuk yang berlebihan dapat ditekan dan hasil ubi yang
tinggi bisa dicapai dengan meningkatnya dosis pupuk K.

3. Kadar pati dan antosianin ubi

3.1. Kadar pati


Hasil penelitian menunjukkan kadar pati ubi bervariasi diantara macam dan
dosis pupuk organik yang dicobakan. Ditinjau dari macam pupuk organik, pupuk
organik asal T. diversifolia memberikan kontribusi yang lebih tinggi terhadap
peningkatan kadar pati daripada kontrol, yaitu 29,63 % dibandingkan dengan 26,95
%. Hal ini diduga karena kandungan kalium yang tinggi pada T. diversifolia.
Howeler (2002) mengemukakan bahwa walaupun kalium bukan merupakan unsur
dasar penyusun protein, karbohidrat atau lemak, tetapi kalium mempunyai peranan
yang penting dalam proses metabolisme. Kalium menstimulir aktivitas fotosintesis
sehingga meningkatkan luas daun dan translokasi fotosintat ke organ penyimpanan.
Meningkatnya aktifitas fotosintesis akan menyebabkan rendahnya kandungan
karbohidrat dalam daun.. Selanjutnya dikemukakan juga oleh Howeler (2002)
bahwa aplikasi kalium tidak hanya meningkatkan hasil ubi tetapi juga meningkatkan
kandungan pati ubi.
Ditinjau dari dosis yang digunakan terhadap peningkatan kadar pati, dosis
pupuk organik yang setara dengan 120 kg N/ha memberikan hasil yang lebih baik
dari pada kontrol, yaitu 31,30 % dibandingkan dengan 28,95 %. Peningkatan kadar
pati akan mencapai optimum pada dosis pupuk organik setara 120 kg N/ha, tetapi
101

apabila dosis pupuk organik ditingkatkan lebih dari 120 kg/ha, kadar pati akan
menurun. Hal ini sesuai dengan pendapat Hillocks dan Thresh (2002) yang
mengemukakan bahwa peningkatan aplikasi kalium pada cassava, akan
meningkatkan kadar pati ubi. Kadar pati akan meningkat dengan aplikasi kalium 80
- 100 kg/ha, tetapi bila dosis ditingkatkan maka kadar pati akan nenurun.
Dikemukakan pula oleh Jian-wei (2001) bahwa penggunaan K2SO4 dan KCl
memberikan respon yang positif terhadap kadar pati ubi. Akan tetapi penggunaan
K2SO4 cenderung menghasilkan kadar pati ubi yang lebih tinggi daripada KCl.
Total hasil pati yang lebih tinggi pada perlakuan K2SO4 disebabkan karena
tingginya hasil ubi segar.

3.2. Kadar antosianin

Antosianin termasuk dalam kelompok flavonoid yang penyebarannya luas


diantara spesies tanaman, merupakan pigmen berwarna yang umumnya terdapat di
bunga berwarna merah, ungu dan biru. Pigmen ini juga terdapat di bagian lain
tumbuhan, misalnya buah tertentu, batang, daun dan ubi. (Salisbury dan Ross,
1992). Mazza dan Miniat (1993) dalam Kim dan Kim (2002) mengemukakan
bahwa distribusi antosianin pada buah atau ubi sangat kompleks, dipengaruhi oleh
spesies, varietas, waktu tanam dan hasil buah atau ubi.
Hasil analisis kandungan antosianin menunjukkan bahwa macam maupun
dosis pupuk organik yang dicobakan menghasilkan kandungan antosianin yang lebih
tinggi dibandingkan kontrol. Kandungan antosianin tertinggi diperoleh pada
perlakuan pupuk organik asal C. pubescens yaitu sebesar 2,69 mg/kg.
Kebalikan dari kadar pati, kandungan antosianin ubi akan semakin meningkat
dengan meningkatnya dosis yang digunakan. Peningkatan kandungan antosianin
berkisar dari 44,69 % sampai 61,33 %. Peningkatan terjadi mulai dari dosis pupuk
organik setara 80 kg N/ha sampai dosis 160 kg N/ha. Jadi dengan semakin tinggi
dosis N, kandungan antosianin ubi segar semakin meningkat. Ini sesuai dengan
pendapat Zhang et al., (1998) dalam Kim dan Kim (2002) bahwa produksi
antosianin dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti nitrogen, sinar ultra violet,
cahaya, tipe gula, cekaman osmotik dan fitohormon

KESIMPULAN

Pertumbuhan dan hasil tanaman pada perlakuan pupuk organik lebih baik
dari anorganik. Hasil tertinggi adalah T. diversifolia (26,02 t/ha), selanjutnya
berturut-turut pupuk kotoran sapi (25,38 t/ha), C. muconoides (23,63 t/ha), C.
pubescens (23,51 t/ha) dan pupuk anorganik ( 20,12 t/hat/ha)
Kombinasi T. diversifolia dengan dosis setara 160 kg N/ha memberikan
hasil yang tertinggi (29,39 t/ha) dan terendah pada perlakuan C. muconoides dengan
dosis setara 40 kg N/ha).
Perlakuan pupuk organik asal T. diversifolia menghasilkan kadar pati
tertinggi (31,78%) dan terendah pada perlakuan C. pubescens (25,07%). Kadar
antosianin tertinggi pada perlakuan C. pubescens (2,69 mg/kg) dan terendah pada
perlakuan pupuk anorganik (0,99 mg.kg).
Pada akhir penelitian N yang tersisa dalam tanah masih sebanyak 21,08
kg/ha.
102

DAFTAR PUSTAKA

Altieri, M.A. (2000) Sustainable Agriculture Extension Manual. UNDP SANE


(Sustainable Agriculture Networking and Extension) Program. California.
Agata, W. (1984) Sweet Potato (Ipomoea batatas Lam.). Faculty of Agriculture,
Kyushu University, Fukuoka, Japan
Fathan, R. dan M. Rahardjo (1994) Serapan hara pada tanaman ubijalar. Edisi
Khusus Balittan Malang (3):318-325.
Fortuno, E.M., M.B. Catanay and F.G. Vilamayor, Jr. (1996) Yield response of
sweetpotato to fertilizer and pesticide application. Selected Research
Paper, July 1995-June 1996, Vol 2. Sweet Potato, ASPRAD. p 159-166.
Gardner, F.P., R.B. Pearce dan R.L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.
Diterjemahkan oleh Herawati Susilo. U.I. Press, Jakarta. pp. 428.
Handayanto, E. (1996) Sinkronisasi nitrogen dalam sistem budidaya pagar: I.
Kecepatan pelepasan nitrogen dari bahan pangkasan pohon leguminosa.
Jurnal Penelitian Universitas Brawijaya 8, 1-18.
Hillocks, R.J. and J.M Thresh (2002) Cassava: Biology, Production and Utilization.
Cabi Publishing.
Howeler, R.H. (2002) Cassava mineral nutrition and fertilization. CIAT Regional
Office in Asia. Department of Agriculture, Chatuchak, Bangkok, Thailand.
Jian-wei, Lu, Chen Fang, Xu You-sheng, Wan Yun-fan, and Liu Dong-bi (2001)
Sweet Potato Response to Potassium. Better Crops International. 15:1.
p:10-12.
Kim, Seung-Heui and Seon-Kyu Kim (2002) Effects of sucrose level and nitrogen
sources on fresh weight and anthocyanin production in cell suspension
culture of ‘Sheridan’ grape (Vitis spp.). J. Plant Biotechnolog. 1, 7-11
Salisbury, F.B. and C.W. Ross (1992) Plant Physiology. 4th Edition. Wadsworth
Publishing Co. New York
Soemarno (1981) Pengkajian Singkat Kesuburan Ubijalar. Departemen Ilmu
Tanah. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang. 87 hal.
Widodo, Y. (1990) Keeratan hubungan antara sifat kuantitatif pada ubijalar.
Risalah Hasil Penelitian Tanaman Pangan Tahun 1990. Balai Penelitian
Tanaman Pangan Malang, hal. 215-220.
Wilson, L.A. (1982) Tuberization in sweet potato (Ipomoea batatas (L.) Lam). In
R.L. Villareal and T.D. Griggs (Eds,). Sweet Potato. Proceedings of the
First International Symposium. Asian Vegetable Research and
Development Center. Shanhua, Tainan, Taiwan, China. p:79-92.