Anda di halaman 1dari 4

Chandra Jinata 10406014

Adhityo Wicaksono 10607032


Tugas Matakuliah Interaksi Tanaman dan Mikroba (BM-4106)
Semester I/ 2010-2011
Resume tentang Truffle

1. Pendahuluan
Truffle merupakan salah satu jamur yang hidup di bawah tanah dan dalam siklus
hidupnya melibatkan simbiosis ektomikoriza dengan akar pohon secara alami di hutan daerah
temperata Eropa bagian selatan dan barat, seperti Italia, Perancis, dan Spanyol, dan China.
Jamur ini bernilai sangat tinggi, harganya bisa mencapai 300-400 euro per 100 gram,
sehingga hingga disebut sebagai “berlian” atau makanan terenak. Beberapa jenis truffle yang
umum antara lain truffle Perigord hitam (Tuber melanosporum Vitt.), truffle putih (Tuber
magnatum Pico), truffles Chinese hitam (Tuber pseudohimalayense, Tuber sinense, dan T.
indicum), truffle burgundy (Tuber aestivum/ uncinatum).

2. Biologi Truffle
Sistem klasifikasi truffle (jenis truffle umum):
Kingdom Fungi
Division Ascomycota
Subphylum Pezizomycotina
Class Pezizomycetes
Order Pezizales
Family Tuberaceae
Genus Tuber

Gambar 1a. Mikoriza Tuber magnatum (jamur truffle putih) dan 1b. merupakan askosporanya

Halaman 1 dari 4 halaman


Chandra Jinata 10406014
Adhityo Wicaksono 10607032

Gambar 2. Penampang hifa T. melanosporum di akar


Truffle merupakan fungi ektomikoriza yang tumbuh pada beberapa tanaman inang
berkayu sperti hazel (Corylus sp), oak (Quercus sp), birch (Betula sp) dan pinus (Pinus sp)
yang tumbuh di kawasan temperata. Seperti mikoriza lainnya, jamur menyediakan mineral
dan air dan melindungi tanaman inang dari serangan pathogen dan hama, dan sebagai
balasannya jamur mendapatkan karbon organik dari inangnya. Karena hidup di dalam tanah,
maka kondisi tanah pun harus menunjang pertumbuhan jamur. Faktor-faktor seperti kadar air,
pH, konsentrasi mikro dan makronutrien merupakan hal-hal yang esensial bagi pertumbuhan
jamur.
Secara molekuler, genom salah satu truffle, T. melanosporum, merupakan genom
terbesar di antara jamur kompleks lainnya yang sudah sekuens genomnya sudah diketahui.
Panjang genom T. melanosporum sebesar 125 mega pasang basa. 58% dari genom tersebut
adalah elemen transposon dan mengandung hanya 7500 gen pengkode protein dengan famili
multigen yang jarang. Tidak terdapat gen pengkode enzim pemecah karbohidrat, tetapi ada
beberapa enzim pendegradasi dinding sel tumbuhan yang diinduksi oleh jaringan simbiotik.
Truffle tumbuh di berbagai jenis daerah pada kawasan temperate. Saat ini, yang sudah
ditemukan adalah jenis yang hidup di hutan gugur (deciduous forest) dan sebagian kecil di
kawasan gurun, misalnya truffle dari genus Terfezia, Tirmania, Eremiomyces, dan
Kalaharituber) yang tumbuh dengan inang berupa pohon di gurun.
 

3. Kultivasi Truffle
Merupakan suatu tantangan untuk dapat mengkultivasi truffle, karena selain permintaannya
banyak, truffle membutuhkan inang agar dapat tumbuh. Penelitian mengenai produksi
mikoriza dalam skala besar sudah dilakukan di negara-negara Eropa bagian selatan. Langkah-
langkah kultivasinya antara lain produksi akar mikoriza dalam keadaan terkontrol,
penanaman bibit mikoriza, pengecekan keberadaan mikoriza genus Tuber pada simbion-
simbion ektomikoriza, dan memanen tubuh buahnya. Sejak tahun 1970, pengkultivasian T.
melanosporum sudah dapat dilakukan. Dibutuhkan waktu 5-10 tahun agar dapat
menghasilkan tubuh buah truffle. Sistem ini berimplikasi pada pengkultivasian truffle di
negara-negara yang secara alami tidak dapat memproduksi truffle. Saat ini, T. melanosporum,
T. borchii, dan T. aestivum banyak dipanen dari tanah truffle buatan. Untuk saat ini, cara
menginokulasi truffle adalah merendam akar tanaman induk yang masih muda ke dalam
larutan berisi kultur spora truffle. Dengan demikian, ektomikoriza ini langsung tumbuh
membungkus akar.

Halaman 2 dari 4 halaman


Chandra Jinata 10406014
Adhityo Wicaksono 10607032

Gambar 3. Metode inokukasi truffle ke tanaman muda

Halaman 3 dari 4 halaman


Chandra Jinata 10406014
Adhityo Wicaksono 10607032
4. Kegunaan Truffle
Selain dijadikan bahan masakan, jamur ini juga dapat diekstrak untuk dijadikan minyak
truffle yang berguna sebagai pengharum masakan.

Daftar Pustaka

Hall, Ian R., Gordon T. Brown, Alessandra Z. 2007. Taming The Truffle: The History, Lore,
and Science of The Ultimate Mushroom. Oregon: Timber Press, Inc.

Mello, A., C. Muratz, dan P. Bonfante. 2006. Truffles: muchmore than a prized and local
fungal delicacy. FEMS Microbiol Lett 260. Page 1–8

Michaels, T. J. 1982. In Vitro Culture and Growth Modeling of Tuber spp. and Inoculation of
Hardwoods with T. melanosporum Ascospores. Thesis presented to the Oregon State
University

Pruett, G. E. 2008. The Biology and Ecology of Tuber aestivum Mycorrhizae Establishment
in the Greenhouse and the Field. Dissertation presented to the Faculty of the Graduate School
at the University of Missouri-Columbia

Martin, F., A. Kohler, C. Murat, R. Balestrini, P. M. Coutinho, O. Jaillon, B. Montanini, E.


Morin, B. Noel, R. Percudani, B. Porcel, A. Rubini, A. Amicucci, J. Amselem, V. Anthouard,
S. Arcioni, F. Artiguenave, J. Aury, P. Ballario, A. Bolchi, A. Brenna, A. Brun, M. Buee, B.
Cantarel, G. Chevalier, A. Couloux, C. D. Silva, F. Denoeud, S. Duplessis, S. Ghignone, B.
Hilselberger, MircoIotti, B. Marcais, A. Mello, M. Miranda, G. Pacioni, H. Quesneville, C.
Riccioni, R. Ruotolo, R. Splivallo, V. Stocchi, E. Tisserant, A. R. Viscomi, A. Zambonelli, E.
Zampieri, B. Henrissat, M. Lebrun, F. Paolocci, P. Bonfante, S. Ottonello, dan P. Wincker.
2010. Perigord black truffle genome uncovers evolutionary origins and mechanisms of
symbiosis. Nature Vol 464

Halaman 4 dari 4 halaman