Anda di halaman 1dari 5

TATA PANGGUNG

Salah satu unsur artistik dalam teater adalah tata panggung atau biasa disebut set dekor.
Fungsi tata panggung selain memperindah penampakan pentas juga memberikan ruang bagi
pemeran. Tetapi fungsi yang paling penting dari tata panggung adalah memperkuat
permainan para aktor. Artinya, kehadiran tata panggung tidak hanya sekedar mempercantik
tetapi menegaskan laku aksi yang disajikan oleh para aktor di atas pentas. Tidak ada gunanya
menata dan menghias panggung dengan baik tetapi justru menenggelamkan para pemain.

Secara lebih mendalam, tata panggung jika digarap dengan seksama mampu menghadirkan
suasana, memberi hidup pementasan serta menguatkan karakter pemeran. Hal-hal tersebut
tidak dapat ditangkap mata secara langsung tetapi pengaruhnya dapat dirasakan baik oleh
para pemain maupun penonton. Tata panggung adalah keajaiban tersendiri yang dihadirkan
selain permainan para aktor. Keajaiban yang mengubah panggung menjadi lukisan hidup dan
indah untuk lama-lama ditatap. Untuk dapat menghadirkan tata panggung seperti tertulis di
atas, diperlukan kesungguhan kerja serta niat mempelajari hal-hal baru dan segala hal yang
berkaitan dengan seni tata panggung.

PRINSIP DASAR TATA PANGGUNG

Karya akhir dari penata panggung ditujukan sepenuhnya kepada penonton pada saat
introduksi sebuah pertunjukan. Beberapa saat sebelum pemain muncul di atas panggung atau
mengucapkan baris kalimatnya, penonton akan melihat hamparan sett dekor karya sett
designer (desainer panggung). Jika tata panggung yang dihadirkan cantik dan mampu
memikat maka tak pelak lagi impresi penonton terhadap pertunjukan telah dibangun dengan
baik.

Garis

Para penonton, secara tidak sadar dipengaruhi pertama kali oleh tata panggung yang
dilihatnya. Garis tegas yang ditampilkan dalam tata dekorasi (scenery) akan menuntun mata
penonton menuju ke area permainan dan sekitarnya. Dengan tatanan garis dan ruang yang
diciptakan, tata panggung dengan sendirinya telah menciptakan semangat dan suasana
(atmosphere). Bentuk garis lengkung lembut memberi kesan tenang, garis yang membentuk
kotak memberi kesan ketegasan, variasi bentuk yang diciptakan oleh garis dapat
menimbulkan kesan tersendiri yang dapat mempengaruhi perasaan penonton. Rancangan
garis dalam bentuk yang ditata secara seksama memberi ketegasan karakter yang dinginkan
oleh pertunjukan.

Dimensi

Ukuran dari satu bentuk bidang/benda yang ada di atas pentas antara satu dengan yang lain
memiliki hubungan dengan pemain karena semua benda yang ada di atas panggung pada
dasarnya digunakan oleh pemain baik secara langsung ataupun hanya sebagai background.
Oleh karena itu tatanan ruang di sekitar dan di antara bentuk-bentuk bangunan atau benda
yang ada di atas panggung harus mempetimbangkan area permainan yang akan digunakan
oleh aktor.

Aktor yang berada di atas panggunglah yang akan memberikan gambaran tentang ukuran
sesungguhnya dari setiap benda atau ruang yang ada. Misalnya, set cerita berada di sebuah
istana, maka tata panggung harus benar-benar menampakkan desain sebuah istana meskipun
secara skala diperkecil. Perkecilan skala ini jika dibuat dengan tepat dapat digunakan oleh
aktor untuk memberikan gambaran pada penonton ukuran sesungguhnya. Inilah yang disebut
dimensi. Apa yang ada di atas panggung tidaklah datar tetapi penuh ruang dan berisi sehingga
tatapan mata pemain menemukan titik fokus untuk setiap laku aksi yang dikerjakannya.
Dimensi memberikan gambaran ruang dan isi

Warna

Warna di atas panggung dapat menjadi daya rangsang yang hebat untuk semangat dan situasi
yang digambarkannya. Selain membawa pengaruh suasana, warna juga membawa pengaruh
secara emosional. Seorang aktor akan merasa kesulitan untuk melakukan akting sedih secara
mendalam ketika seluruh ruang dan kostum yang dikenakannya berwarna cerah. Karena itu,
cermatilah penggunaan warna agar tampilan adegan per adegan memiliki jiwa sesuai dengan
apa yang diharapkan. Warna mempertegas kedalaman ruang

Cahaya

Cahaya dengan warna, intensitas, arah serta distribusinya membawa pengaruh yang kuat
terhadap mood (kondisi pikiran atau perasaan). Fokus karakter atau tokoh dapat dimunculkan
dengan cahaya. Demikian pula keseimbangan, dapat diciptakan melalui intesitas cahaya.
Penonjolan tata panggung dapat pula dibentuk dari cahaya. Yang paling mendasar di antara
itu semua – secara teknik – tata cahaya dapat dijadikan arah laku aksi bagi para pemain. Jadi
selain memiliki fungsi artistik, cahaya dapat digunakan sebagai penunjuk arah laku aksi
pemain. Cahaya membuat semuanya nampak hidup

Komposisi dan Kesimbangan

Komposisi dalam tata panggung dapat diartikan sebagai pengaturan atau penyusunan
keseluruhan unsur set dekor. Dalam menata semua piranti yang ada di atas pentas maka
faktor utama yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan. Secara mendalam, keseimbangan
adalah penataan set yang dapat dilihat dengan enak dan hamonis dari setiap sudut pandang
mata penonton. Jadi dengan memperhatikan komposisi dan keseimbangan tata letak piranti
set dekor maka hasil tata panggung yang diperoleh enak dipandang dari manapun posisi
penonton berada.

Perspektif

Perspektif menghadirkan objek tiga dimensi dan bentuk permukaan dua dimensi untuk
menampakkan kesan tinggi, ketebalan, kedalaman, dan jarak yang relatif. Artinya, perspektif
mengetengahkan pemandangan tata panggung seperti halnya mata manusia melihat
pemandangan secara nyata. Untuk mewujudkan hal tersebut pemahaman tentang prinsip-
prissip dasar tata panggung harus benar-benar dikuasai. Dengan tata panggung yang
mengikuti hukum perspektif, mata penonton dituntun seolah-olah menyaksikan kenyataan.
Hukum perspektif mengikuti garis lengkung muka bumi, sehingga benda yang terlihat jauh
nampak kecil. Jika mata dibiarkan menatap cakrawala – misalnya di pantai – maka akan kita
lihat garis pertemuan antara laut dan pantai. Pada garis ini semua benda terlihat seperti titik.
Kemudian ketika benda mendekat maka volumenya akan semakin membesar. Demikian pula
ketika kita menatap puncak gedung bertingkat maka lantai paling atas akan semakin kecil
karena berada di kejauhan. Demikianlah perspektif.

Desain Lantai

Desain lantai adalah gambar tata letak piranti set tampak ataw.ÿDungan demikian gambar
desain lantai seolah-olah merupakan gambar komposisi bidang dan atau bentuk dimana setiap
bidang dan atau bentuk tersebut mewakili piranti set. Desain lantai dibuat sebagai panduan
tata letak set sehingga pada saat penataan yang sesungguhnya kerja menjadi lebih mudah.
Pembuatan desain lantai, bisa dilakukan sebelum membuat sketsa ataupun setelahnya.

Contoh desain lantai di atas menggambarkan sebuah ruang resepsionis hotel. Tata letak kursi
dan meja bulat di lobby hotel di letakkan di pojok sebelah kiri. Sisi kanan adalah meja dan
kursi resepsionis serta di sampingnya adalah tangga menuju ke ruang atas. Dengan gambar
tampak atas seperti ini dapat dibayangkan ruang yang dibentuk oleh letak piranti set dan area
permainan yang dapat digunakan oleh para pemain.

MEMULAI KERJA

Kerja tata panggung adalah kerja yang menyeluruh, artinya penata panggung tidak hanya
menggunakan kemampuannya secara teori dan praktis tetapi juga harus mampu
mengembangkan imajinasinya. Ketiga hal tersebut merupakan senjata ampuh bagi sang
penata panggung untuk menciptakan kreasinya. Akan tetapi untuk menjadi penata panggung
handal dibutuhkan proses yang tidak sebentar serta kontinyuitas dan konsistensi dalam
profesi

Studi Naskah

Membaca naskah lakon adalah proses wajib sebelum memutuskan segala sesuatu baik itu
berkaitan dengan akting ataupun kerja artistik. Naskah lakon harus dibaca dengan
pemahaman sebagai sebuah cerita sampai ditemukan apa maksudnya. Kata kerja operatif di
sini adalah “APA”. Seorang pekerja artistik dalam hal ini penata panggung tidak akan bisa
mengatakan “Bagaimana mewujudkan sebuah karya tata panggung sebelum ia tahu betul
“APA” yang akan dikerjakan. Banyak penata panggung yang lebih dahulu bertanya
‘bagaimana’ menciptakan karya di atas pentas sementara ia belum menangkap apa maksud
naskah lakon yang hendak digarap. Keadaan ini membuat ia berada dalam kebingungan atau
justru menciptakan imajinasi-imajinasi yang hasilnya melenceng jauh dari apa yang
dikehendaki oleh naskah lakon.

Untuk itu membaca naskah berulang-ulang sangat diperlukan. Bukan dalam arti kajian yang
mendalam tetapi dalam rangka menemukan “APA” yang dimaksud oleh lakon tersebut.
Dengan menangkap maksud lakon maka gambaran global laku lakon di atas pentas akan
didapatkan. Jadi, memang kerja tata panggung bukan dalam wilayah memahami makna teks
ataupun sub teks, tetapi memahami maksud lakon tersebut, bercerita tentang apa lakon
tersebut.
Setelah mengerti apa maksud lakon maka perlu diketahui pula “DIMANA” peristiwa itu
berlangsung. “DIMANA” menggambarkan latar berlangsungnya cerita, menggambarkan
ruang berlangsungnya cerita, menggambarkan keadaan/situasi cerita, dan menggambarkan
waktu berlangsungnya cerita. Pemahaman tentang ruang dan waktu sangat dibutuhkan untuk
menciptakan suasana peristiwa seperti yang dikehendaki oleh lakon. Dalam sebuah kasus jual
beli misalnya, suasananya akan tampak sangat berbeda antara yang terjadi di pasar dengan
yang terjadi di lingkungan pertokoan. Dengan memahami “DIMANA” peristiwa berlangsung
maka penata panggung akan memiliki gambaran komplit setting cerita tersebut.

Berikutnya adalah wilayah kreatif si penata panggung untuk mewujudkan gambaran-


gambaran tersebut dalam karyanya. Pada tahap ini barulah kata “bagaimana” digunakan. Jika
sudah sampai di sini maka ini adalah medan merdeka untuk berekspresi sepanjang tidak lepas
dari konteks “APA” maksud/makna cerita dan “DIMANA” cerita tersebut berlangsung
sehingga keutuhan pesan cerita dapat disampaikan melalui bahasa dan kode-kode artistik
yang hadir secara visual di atas pentas.

Konsep

Setelah menemukan ‘Apa’ dan ‘Dimana’ maka kerja berikutnya adalah menentukan konsep
garapan. Untuk hal yang satu ini penata panggung berkonsultasi dengan sutradara atau
produser karena merekalah yang memiliki wewenang terhadap konsep dasar pementasan.
Selanjutnya, kreasi sang penata panggung mengikuti alur konsep dasar yang telah ditentukan
tersebut. Tetapi dalam hal kreatifitas inipun penata panggung harus dapat bekerjasama
dengan penata rias dan busana, serta penata caha|a4 emua dimaksudkan agar terjadi satu
kesatuan

Sketsa

Gambaran kasar tata panggung secara sederhana tetapi jelas sehingga maksud atau tujuan tata
panggung yang sebenarnya dapat dibaca secara visual. Pada gambar sktesa ini, penata
panggung memiliki kebebasan menuangkan berbagai ekspresi artsitik dalam desain karya tata
panggung. Sketsa yang dibuat jumlah dan bentuknya bisa banyak untuk memberikan ragam
pilihan. Kemudian dengan berbagai pertimbangan termasuk konsep dasar yang telah
ditentukan maka sketsa yang paling cocok dipilih untuk selanjutnya disempurnakan dalam
gambar desain tata panggung secara perspektif.

Gambar Desain Tata Panggung

Berdasar dari sketsa yang telah dipilih, gambar desain tata panggung dibuat secara perspektif.
Untuk memberi gambaran yang jelas, sebaiknya gambar dibuat berwarna persis seperti apa
yang nantinya dituangkan dalam tata panggung. Jika desain tata panggung menggunakan
banyak piranti atau banyak konstruksi, biasanya desain dibuat dari berbagai sudut pandang.

Hal ini selain memudahkan kerja berikutnya, juga dapat memberikan gambaran sejelas-
jelasnya rancangan yang telah dibuat sehingga, gambaran tata panggung asli dapat ditangkap.
Maket

Maket atau miniatur tata panggung dibuat untuk memberikan gambaran sejelas-jelasnya
kepada produser, sutaradara serta pemain. Biasanya maket dibuat untuk kerja tata panggung
dalam proyek yang besar yang melibatkan berbagai unsur pendukung sehingga semua orang
yang terlibat dalam proyek tersebut mengetahui maksud dan tujuan dari tata panggung
tersebut. Selain itu, untuk kepentingan studi tata panggung, maket merupakan satu bentuk
kerja praktik yang jauh lebih murah dibanding membuat tata panggung yang sesungguhnya.

Pengerjaan

Setelah semua tahap dilakukan sekarang tiba saatnya kerja yang sesungguhnya. Sebelum
memulai kerja, tentukan dulu teknik yang akan digunakan dalam pengerjaan. Tata panggung
biasanya dibuat dengan teknik knockdown (bongkar pasang) jika nanti pada pementasan
terjadi penggeseran tata letak dari adegan satu ke adegan yang lain. Selain itu teknik bongkar
pasang memudahkan pengangkatan piranti set, terutama ketika pentas dikerjakan secara
keliling. Teknik yang kedua adalah permanen, dalam artian set tidak akan berpindah-pindah
dan pentas dikerjakan hanya dalam satu tempat dalam waktu yang lama. Pemilihan teknik
ini mempengaruhi kebutuhan alat dan bahan. Dalam teknik bongkar-pasang bahan yang
digunakan biasanya bersifat ringat dan mudah dibentuk serta ringkas dibawa. Sedangkan
setting permanen menggunakan bahan yang lebih kuat dan solid serta biasanya berat.

Jadi, alat dan bahan pembuatan setting bersifat relatif. Hal mendasar yang paling penting
untuk diketahui adalah karakter bahan yang digunakan serta alat yang tepat. Sebagai misal;
untuk merekatkan antara papan yang satu dengan yang lain dapat menggunakan paku atau
baut, tetapi untuk merekatkan kertas harus menggunakan lem. Demikian juga dalam hal
pengerjaan, karakter bahan sangat menentukan pembentukan objek yang dinginkan. Oleh
karena itu, kenalilah alat dan bahan dengan baik.

Setelah semua dikerjakan maka langkah berikutnya adalah finishing atau penyelesaian.
Untuk menyelesaikan keseluruhan rangkaian kerja tata panggung, penata panggung tidak bisa
bekerja sendiri. Pada saat ini peran penata artistik lain terutama tata cahaya dan busana
dibutuhkan. Perbedaan karakter bahan tata busana dan tata panggung menimbulkan efek
perbedaan warna, tekstur yang signifikan. Biasanya yang paling rumit adalah penggunaan
warna, karena wana yang dihasilkan dari kain (busana), dengan warna yang ada pada set dan,
warna cahaya sangat berbeda. Oleh karena itu dibutuhkan waktu tersendiri untuk uji coba
busana, set dekor, dan cahaya. Percobaan dilakukan berulang hingga perpaduan yang tepat
ditemukan. Harmoni adalah kunci utama dari tata artistik pementasan.

BIOFANDA HP (XIA2/06)

M ISKANDAR ZUL KARNAEN (XIA2/25)