Anda di halaman 1dari 26

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Indikasi perkembangan kemajuan zaman yang semakin tanpa batas dan

dikemas dalam frame globalisasi, membuktikan bahwa adanya peningkatan

Human Resources dari hari ke hari. Peningkatan ini semakin menunjukkan

lompatan dan percepatan yang luar biasa. Percepatan peningkatan SDM ini

apabila kita telaah dari sektor industri jelas memiliki hubungan yang signifikan,

dan sektor industri telah siap mengantisipasi kearah itu, dengan berbagai istilah

sertifikasi yang ada di dunia industry menuntut peningkatan SDM bahkan SDA.

Sehubungan dengan narasi di atas, apabila kita tarik dalam dunia

pendidikan maka akan ada benang merah yang mengarah pada pertanyaan, “sudah

siapkah lembaga pendidikan/sekolah mengantisipasi percepatan kemajuan zaman

tersebut?”. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu upaya ekstra keras dari

sivitas lembaga pendidikan dalam mempersiapkan infrastrukturnya baik perangkat

keras, maupun perangkat lunak.

Salah satu bentuk yang jelas terlihat dari paparan di atas adalah adanya

perubahan sekolah dalam mempersiapkan perangkat keras, perangkat lunak, dan

sumber daya manusianya. Sebab sebagai menara gading maka sekolah identik

dengan mencetak cendikia-cendikia yang cerdik, cerdas, jujur, dan bertanggung

jawab. Perubahan sekolah akan diawali dari manajerial sekolahan, mulai dari

Planning/Perencanaan, Organizing/Pengorganisasian, Actuating/Pengerahan, dan


Controlling/Pengawasan (POAC).

Secara teoritis, organisasi sekolah dalam menyelenggarakan programnya

terlebih dahulu menyusun tujuan dengan baik yang penerapannya dilakukan

secara efektif dan efisien dalam proses belajar mengajar (PBM). Keefektifan

organisasi sekolah tergantung pada rancangan organisasi dan pelaksanaan fiingsi

komponen organisasi yang meliputi proses pengelolaan informasi, partisipasi,

pelaksanaan tugas pokok organisasi, perencanaan, pengorganisasian, penggerakan

dan pengendalian.

Kepala sekolah memiliki peranan yang sangat kuat dalam

mengkoordinasikan, menggerakkan, dan menyerasikan semua sumber daya

pendidikan yang tersedia di sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan

salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi,

misi, tujuan dan sasaran sekolahnya melalui program-program yang dilaksanakan

secara terencana dan bertahap. Kepala sekolah dituntut mempunyai kemampuan

manajemen dan kepemimpinan yang memadai agar mampu mengambil inisiatif

dan prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah.

Edmonds (Sagala: 2005) tentang sekolah efektif menunjukkan bahwa

peran kepala sekolah sedemikian penting untuk menjadikan sebuah sekolah pada

tingkatan yang efektif. Asumsinya adalah bahwa sekolah yang baik akan selalu

memiliki kepala sekolah yang baik, artinya kemampuan profesional kepala

sekolah dan kemauannya untuk bekerja keras dalam memberdayakan seluruh

potensi sumber daya sekolah menjadi jaminan keberhasilan sebuah sekolah.

Untuk lebih mengefektifkan pelaksanaan pekerjaannya dan dapat


3

mendayagunakan seluruh potensi sumber daya yang ada di sekolah maka kepala

sekolah harus memahami perannya.

Kehadiran kepala sekolah sangat penting karena merupakan motor

penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru, karyawan, dan anak didik.

Begitu besarnya peranan sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan,

sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya inovasi pendidikan dan kegiatan

sekolah sebagian besar ditentukan oleh kualitas kepemimpinan yang dimiliki oleh

kepala sekolah. Namun, perlu dicatat bahwa keberhasilan seorang pemimpin

dalam melaksanakan tugasnya, tidak ditentukan oleh tingkat keahliannya dibidang

konsep dan teknik kepemimpinan semata, melainkan lebih banyak ditentukan oleh

kemampuannya dalam memilih dan menggunakan teknik atau gaya

kepemimpinan yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang dipimpin.

Pandangan diatas menunjukan begitu pentingnya menelaah dan membahas

kembali tentang kepemimpinan kepala sekolah dalam melaksanakan inovasi

pendidikan agar tercipta sekolah efektif dan berkwalitas.

B. Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

1. Apa saja tugas yang harus dilaksanakan kepala sekolah?

2. Apa saja inovasi yang harus dilakukan untuk mewujudkan sekolah efektif?

3. Bagaimanakah peran kepala sekolah dalam melaksanakan inovasi

pendidikan?

C. Tujuan
Adapun yang menjadi tujuan disusunnya makalah ini adalah sebagai

berikut:

1. Untuk mengetahui tugas yang harus dilaksanakan oleh kepala sekolah,

2. Untuk mengetahui inovasi yang harus diwujudkan agar terciptanya

sekolah efektif,

3. Untuk mengetahui peran kepala sekolah dalam melaksanakan inovasi

pendidikan.

D. Sistematika Penulisan

Adapun penulisan makalah ini menggunakan metode deskriptif, yaitu

menggambarkan tentang peran kepala sekolah dalam melaksanakan inovasi

pendidikan di sekolah. Dengan menggunakan teknik Library Research (tinjauan

pustaka).
5

BAB II

PEMBAHASAN

A. Peran dan Tanggungjawab Kepala Sekolah

Kepemimpinan merupakan salah satu elemen penting dalam mencapai,

mempertahankan dan meningkatkan kinerja organisasi. Koseptualisasi teori-teori

kepemimpinan, telah menarik perhatian dan diskusi panjang para peneliti dan para

praktisi.

Desentralisasi dan otonomi pendidikan akan berhasil dengan baik, jika

diiringi pemberdayaan pola kepemimpinan kepala sekolah yang optimal.

Pemberdayaan berarti peningkatan kemampuan secara fungsional, sehingga

kepala sekolah mampu berperan sesuai dengan tugas, wewenang, dan tanggung

jawabnya. Kepala sekolah harus bertindak sebagai manajer dan pemimpin yang

efektif.

Sebagai pengelola pendidikan, berarti kepala sekolah bertanggung jawab

terhadap keberhasilan penyelenggaraan kegiatan pendidikan dengan cara

melaksanakan administrasi sekolah dengan seluruh substansinya. Disamping itu

kepala sekolah bertanggungjawab terhadap kualitas sumber daya manusia yang

ada agar mereka mampu menjalankan tugas-tugas pendidikan. Oleh karena

itusebagai pengelola, kepala sekolah memiliki tugas untuk mengembangkan

kinerja para personal (terutama para guru) ke arah profesionalisme yang

diharapkan.
Sebagai pemimpin formal, kepala sekolah bertanggungjawab atas

tercapainya tujuan pendidikan melalui upaya menggerakkan para bawahan ke arah

pencapaiantujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini kepala sekolah

bertugasmelaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan, baik fungsi yang

berhubungan dengan pencapaian tujuan pendidikan maupun penciptaan iklim

sekolah yang kondusif bagi terlaksananya proses belajar mengajar secara efektif

dan efisien. (Moch. Idhochi Anwar, 2003: 75)

Dalam persepektif kebijakan pendidikan nasional (depdiknas, 2006),

terdapat tujuh peran kepala sekolah yaitu yaitu, sebagai : (1) edukator (pendidik);

(2) manajer; (3) administrator; (4) supervisor; (5) leader (pemimpin); (6) pencipta

iklim kerja; (7) wirausahawan. (http://www.depdiknas.go.id/inlink)

Merujuk kepada tujuh peran kepala sekolah sebagaimana disampaikan

oleh Depdiknas di atas, dibawah ini akan diuraikan peran kepala sekolah dalam

suatu lembaga pendidikan.

1. Kepala Sekolah Sebagai Edukator (Pendidik)

Kepala sekolah sebagai edukator harus memiliki strategi yang tepat untuk

meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik di sekolahnya, menciptakan iklim

sekolah yang kondusif, memberikan nasehat kepada warga sekolah, memberikan

dorongan kepada seluruh tenaga pendidik serta melaksanakan model

pembelajaran yang menarik. Kepala sekolah harus berusaha menanamkan,

memajukan dan meningkatkan sedikitnya 4 macam nilai, yaitu pembinaan mental,

moral, fisik dan artistik.

Dalam rangka meningkatkan kinerja sebagai edukator, kepala sekolah


7

harus merencanakan dan melaksanakan program sekolah dengan baik, antara lain:

a. Mengikutkan tenaga pendidik dalam penataran guna

menambah wawasan, juga memberi kesempatan kepada

tenaga pendidik untuk meningkatkan pengetahuan dan

keterampilannya dengan belajar ke jenjang yang

lebihtinggi.

b. Menggerakkan tim evaluasi hasil belajar untuk memotivasi

peserta didik agar lebih giat belajar dan meningkatkan

prestasinya.

c. Menggunakan waktu belajar secara efektif di sekolah

dengan menekankan disiplin yang tinggi.

Di samping hal tersebut di atas, kepala sekolah hendaknya sering

memberikan pengertian akan ciri-ciri seorang tenaga pendidik yang baik

sebagaimana yang dikemukakan oleh al-Ghazali, yaitu:

a. Senantiasa menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada

Allah Swt., ke dalam jiwa peserta didik.

b. Senantiasa memberikan contoh (suri tauladan) yang baik

terhadap peserta didik.

c. Senantiasa mencintai peserta didik layaknya mencintai anak

kandungnya sendiri.

d. Senantiasa memahami minat, bakat dan jiwa peserta didik.

e. Jangan mengharapkan materi atau upah sebagai tujuan

utama mengajar.
Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan dan guru

merupakan pelaksana dan pengembang utama kurikulum di sekolah, kepala

sekolah yang menunjukkan komitmen tinggi dan fokus terhadap pengembangan

kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolahnya tentu akan sangat

memperhatikan tingkat kompetensi yang dimiliki gurunya, sekaligus juga akan

senantiasa berusaha memfalisitasi dan mendorong agar para guru dapat secara

terus menerus meningkatkan kompetensinya, sehingga kegiatan belajar mengajar

dapat berjalan efektif dan efisien.

2. Kepala Sekolah Sebagai Manajer

Tugas manajer adalah merencanakan, mengorganisasikan, mengatur,

mengkoordinasikan dan mengendalikan dalam rangka mencapai tujuan yang telah

ditetapkan. Manajer adalah orang yang melakukan sesuatu secara benar (Vincent

Gaspersz, 2003: 201). Dengan demikian, kepala sekolah harus mampu

merencanakan dan mengatur serta mengendalikan semua program yang telah

disepakati bersama.

Dalam mengelola tenaga pendidikan, salah satu tugas penting yang harus

dilakukan kepala sekolah adalah melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan

pengembangan profesi para guru. Dalam hal ini kepala sekolah seyogyanya dapat

memfasilitasi dan memberikan kesempatan yang luas kepada guru untuk

melaksanakan kegiatan pengembangan profesi melalui berbagai kegiatan

pendidikan dan pelatihan, baik yag dilaksanakan sekolah, seperti: MGMP/MGP

tingkat sekolah, in house training, diskusi profesional dan sebagainya, atau


9

melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan diluar sekolah, seperti: kesempatan

melanjutkan pendidikan atau mengikuti berbagai kegiatan pelatihan yang

diselenggarakan pihak lain.

3. Kepala Sekolah Sebagai Administrator

Kepala sekolah sebagai administrator sangat diperlukan karena kegiatan di

sekolah tidak terlepas dari pengelolaan administrasi yang bersifat pencatatan dan

pendokumentasian seluruh program sekolah. Kepala sekolah dituntutmemahami

dan mengelola kurikulum, administrasi peserta didik, administrasi sarana dan

prasarana, dan administrasi kearsipan. Kegiatan tersebut perlu dilakukan secara

efektif agar administrasi sekolah dapat tertata dan terlaksana dengan baik.

Kemampuan kepala sekolah sebagai administrator harus diwujudkan

dalam penyusunan kelengkapan data administrasi pembelajaran, bimbingan dan

konseling, kegiatan praktikum, kegiatan di perpustakaan, data administrasi peserta

didik, guru, pegawai TU, penjaga sekolah, teknisi dan pustakawan, kegiatan

ekstrakurikuler, data administrasi hubungan sekolah dengan orang tua murid, data

administrasi gedung dan ruang dan surat menyurat.

Kepala sekolah sebagai administrator dalam hal ini juga berkenaan dengan

keuangan, bahwa untuk tercapainya peningkatan kompetensi guru tidak lepas dari

faktor biaya. Seberapa besar sekolah dapat mengalokasikan anggaran peningkatan

kompetensi guru tentunya akan mempengaruhi terhadap tingkat kompetensi para

gurunya.

Masalah keuangan adalah masalah yang peka. Oleh karena itu dalam

mengelola bidang ini kepala sekolah harus hati-hati, jujur dan terbuka agar tidak
timbul kecurigaan baik dari staf maupun dari masyarakat atau orang tua murid.

Banyak keperluan sekolah yang harus dibiayai, dan semakin banyak pula

biaya yang diperlukan. Dalam hal ini kepala sekolah harus memiliki daya kreasi

yang tinggi untuk mampu menggali dana dari berbagai sumber, diantaranya dapat

diperoleh misalnya dari siswa atau orang tua, masyarakat, pemerintah, yayasan,

para dermawan dan sebagainya. Disamping itu kepala sekolah juga harus mampu

mengalokasikan dana atau anggaran yang memadai bagi upaya peningkatan

sekolah/sekolah. (Soewaji Lazaruth, 1993: 26)

4. Kepala Sekolah Sebagai Supervisor

Sebagai supervisor, kepala sekolah berfungsi untuk membimbing,

membantu dan mengarahkan tenaga pendidik untuk menghargai dan

melaksanakan prosedur-prosedur pendidikan guna menunjang kemajuan

pendidikan. Kepala sekolah juga harus mampu melakukan berbagai pengawasan

dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja tenaga pendidik.

Hal ini dilakukan sebagai tindakan preventif untuk mencegah agar para

tenaga pendidik tidak melakukan penyimpangan dan lebih hati-hati dalam

melaksanakan tugasnya.

Untuk mengetahui sejauh mana guru mampu melaksanakan pembelajaran,

secara berkala kepala sekolah perlu melaksanakan kegiatan supervisi, yang dapat

dilakukan meliputi kegiatan kunjungan kelas untuk mengamati proses

pembelajaran secara langsung, terutama dalam pemilihan dan penggunaan

metode, media yang digunakan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.

Dari hasil supervisi ini, dapat diketahui kelemahan sekaligus keunggulan guru
11

dalam melaksanakan pembelajaran, tingkat penguasaan kompetensi guru yang

bersangkutan, selanjutnya diupayakan solusi, pembinaan dan tindak lanjut tertentu

sehingga guru dapat memperbaiki kekurangan yang ada sekaligus

mempertahankan keunggulannya dalam melaksanakan pembelajaran.

Jones dkk. sebagaimana disampaikan oleh Sudarwan Danim (2002)

mengemukakan bahwa “ menghadapi kurikulum yang berisi perubahan-perubahan

yang cukup besar dalam tujuan, isi, metode dan evaluasi pengajarannya, sudah

sewajarnya kalau para guru mengharapkan saran danbimbingan dari kepala

sekolah mereka”. Dari ungkapan ini, mengandung makna bahwa kepala sekolah

harus betul-betul menguasai tentang kurikulum sekolah. Mustahil seorang kepala

sekolah dapat memberikan saran danbimbingan kepada guru, sementara dia

sendiri tidak menguasainya dengan baik. (Sudarwan Danim, 2002: 59)

5. Kepala Sekolah Sebagai Leader (Pemimpin)

Dalam teori kepemimpinan setidaknya kita mengenal dua gaya

kepemimpinan yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan

kepemimpinan yang berorientasi pada manusia. Dalam rangka meningkatkan

kompetensi guru, seorang kepala sekolah dapat menerapkan kedua gaya

kepemimpinan tersebut secara tepat dan fleksibel, disesuaikan dengan kondisi dan

kebutuhan yang ada.

Menurut John Gage Allee, “Leader is a guide; a conductor; a

commander.” (Pemimpin itu adalah penunjuk pemandu, penuntun dan

komandan).

Kepribadian kepala sekolah sebagai leader menurut Ordway Tead harus


menunjukkan sifat-sifat:

a. Kesadaran akan tujuan dan arah

b. Antusiasme

c. Keramahan dan kecintaan

d. Integritas (keutuhan, kejujuran dan ketulusan hati)

e. Penguasaan teknis

f. Ketegasan dalam mengambil keputusan

g. Kecerdasan

h. Keterampilan mengajar

i. Kepercayaan

6. Kepala Sekolah Sebagai Pencipta Iklim Kerja

Budaya dan iklim kerja yang kondusif akan memungkinkan setiap guru

lebih termotivasi untuk menunjukkan kinerjanya secara unggul, yang disertai

usaha untuk meningkatkan kompetensinya. Oleh karena itu, dalam

upayamenciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif, kepala sekolah

hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut : (1) para guru akan

bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukannya menarik dan

menyenangkan, (2) tujuan kegiatan perlu disusun dengan dengan jelas dan

diinformasikan kepada para guru sehingga mereka mengetahui tujuan dia bekerja,

para guru juga dapat dilibatkan dalam penyusunan tujuan tersebut, (3) para guru

harus selalu diberitahu tentang dari setiap pekerjaannya, (4) pemberian hadiah

lebih baik dari hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan, (5)

usahakan untuk memenuhi kebutuhan sosio-psiko-fisik guru, sehingga


13

memperoleh kepuasan.

7. Kepala Sekolah Sebagai Wirausahawan (Entrepreneur)

Dalam menerapkan prinsip-prinsip kewirausaan dihubungkan dengan

peningkatan kompetensi guru, maka kepala sekolah seyogyanya dapat

menciptakan pembaharuan, keunggulan komparatif, serta memanfaatkan berbagai

peluang. Kepala sekolah dengan sikap kewirauhasaan yang kuatakan berani

melakukan perubahan-perubahan yang inovatif di sekolahnya,termasuk perubahan

dalam hal-hal yang berhubungan dengan proses pembelajaran siswa beserta

kompetensi gurunya.

Kepala sekolah sebagai wirausahawan harus mampu mencari, menemukan

dan melaksanakan berbagai pembaharuan yang innovatif dengan menggunakan

strategi yang tepat, sehingga terjalin hubungan yang harmonisantara kepala

sekolah, staf, tenaga pendidik dan peserta didik, di samping itujuga agar

pendidikan yang ada menjadi semakin baik.

Sejauh mana kepala sekolah dapat mewujudkan peran-peran di atas, secara

langsung maupun tidak langsung dapat memberikan kontribusi terhadap

peningkatan kompetensi seluruh komponen pendidikan, yang pada gilirannya

dapat membawa efek terhadap peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

B. Konsep Inovasi Pendidikan

1. Pengertian Inovasi

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, inovasi ialah pemasukan atau

pengenalan hal-hal baru; pembaharuan, penemuan baru yang berbeda dari yang

sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode atau alat).
(Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996: 541).

Menurut Miles dalam Soemanto, inovasi ialah macam-macam

“perubahan” genus. Inovasi sebagai perubahan disengaja, baru, khusus untuk

mencapai tujuan-tujuan sistem. Jadi perubahan ini dikehendaki dan direncanakan.

(W. Soemanto, 1980: 62)

Inovasi merupakan suatu ide, hal-hal yang praktis, metode, cara, barang-

barang buatan manusia, yang diamati atau dirasakan sebagai suatu yang baru bagi

seseorang atau kelompok orang (masyarakat). Hal yang baru itu dapat berupa

hasil invensi atau discoveri yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu dan

diamati sebagai sesuatu yang baru bagi seseorang atau kelompok masyarakat. Jadi

inovasi adalah bagian dari perubahan sosial.

Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa inovasi

pendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan atau inovasi untuk

memecahkan masalah pendidikan. Jadi inovasi pendidikan adalah suatu ide,

barang, metode yang dirasakan atau daimati sebagai hal yang baru bagi seseorang

atau sekelompok orang (masyarakat) baik berupa hasil invensi atau discoveri,

yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan

masalah pendidikan.

2. Inovasi Pendidikan di Sekolah

Pelaksanaaan inovasi pendidikan di Sekolah seperti inovasi dalam konteks

guru, siswa, kurikulum, fasilitas, dan lingkup social masyarakat tidak dapat

dipisahkan dari inovator dan pelaksana inovasi itu sendiri. Inovasi ini sengaja

diciptakan sebagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan


15

kesempatan untuk memperoleh pendidikan, ataupun sebagai usaha untuk

meningkatkan efisiensi dan sebaginya.

a. Guru

Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan

pihak yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Kepiawaian dan

kewibawaan guru sangat menentukan kelangsungan proses belajar mengajar di

kelas maupun efeknya di luar kelas. Guru harus pandai membawa siswanya

kepada tujuan yang hendak dicapai. Ada beberapa hal yang dapat membentuk

kewibawaan guru antara lain adalah penguasaan materi yang diajarkan, metode

mengajar yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, hubungan antar individu,

baik dengan siswa maupun antar sesama guru dan unsur lain yang terlibat dalam

proses pendidikan seperti adminstrator, misalnya kepala sekolah dan tata usaha

serta masyarakat sekitarnya, pengalaman dan keterampilan guru itu sendiri.

Dengan demikian, maka dalam pembaharuan pendidikan, keterlibatan guru mulai

dari perencanaan inovasi pendidikan sampai dengan pelaksanaan dan evaluasinya

memainkan peran yang sangat besar bagi keberhasilan suatu inovasi pendidikan.

Tanpa melibatkan mereka, maka sangat mungkin mereka akan menolak inovasi

yang diperkenalkan kepada mereka. Hal ini seperti diuraikan sebelumnya, karena

mereka menganggap inovasi yang tidak melibatkan mereka adalah bukan

miliknya yang harus dilaksanakan, tetapi sebaliknya mereka menganggap akan

mengganggu ketenangan dan kelancaran tugas mereka. Oleh karena itu, dalam

suatu inovasi pendidikan, gurulah yang utama dan pertama terlibat karena guru

mempunyai peran yang luas sebagai pendidik, sebagai orang tua, sebagai teman,
sebagai motivator dan sebagainya (Wright:1987).

b. Siswa

Sebagai obyek utama dalam pendidikan terutama dalam proses belajar

mengajar, siswa memegang peran yang sangat dominan. Dalam proses belajar

mengajar, siswa dapat menentukan keberhasilan belajar melalui penggunaan

intelegensia, daya motorik, pengalaman, kemauan dan komitmen yang timbul

dalam diri mereka tanpa ada paksaan. Hal ini bisa terjadi apabila siswa juga

dilibatkan dalam proses inovasi pendidikan, walaupun hanya dengan mengenalkan

kepada mereka tujuan dari pada perubahan itu mulai dari perencanaan sampai

dengan pelaksanaan, sehingga apa yang mereka lakukan merupakan tanggung

jawab bersama yang harus dilaksanakan dengan konsekwen. Peran siswa dalam

inovasi pendidikan tidak kalah pentingnya dengan peran unsur-unsur lainnya,

karena siswa bisa sebagai penerima pelajaran, pemberi materi pelajaran pada

sesama temannya, petunjuk, dan bahkan sebagai guru. Oleh karena itu, dalam

memperkenalkan inovasi pendidikan sampai dengan penerapannya, siswa perlu

diajak atau dilibatkan sehingga mereka tidak saja menerima dan melaksanakan

inovasi tersebut, tetapi juga mengurangi resistensi seperti yang diuraikan

sebelumnya.

c. Kurikulum

Kurikulum pendidikan, lebih sempit lagi kurikulum sekolah meliputi

program pengajaran dan perangkatnya merupakan pedoman dalam pelaksanaan

pendidikan dan pengajaran di sekolah. Oleh karena itu kurikulum sekolah

dianggap sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam proses belajar
17

mengajar di sekolah, sehingga dalam pelaksanaan inovasi pendidikan, kurikulum

memegang peranan yang sama dengan unsur-unsur lain dalam pendidikan. Tanpa

adanya kurikulum dan tanpa mengikuti program-program yang ada di dalamya,

maka inovasi pendidikan tidak akan berjalan sesuai dengan tujuan inovasi itu

sendiri. Oleh karena itu, dalam pembahruan pendidikan, perubahan itu hendaknya

sesuai dengan perubahan kurikulum atau perubahan kurikulum diikuti dengan

pembaharuan pendidikan dan tidak mustahil perubahan dari kedua-duanya akan

berjalan searah.

d. Fasilitas

Fasilitas, termasuk sarana dan prasarana pendidikan, tidak bisa diabaikan

dalam dalam proses pendidikan khususnya dalam proses belajar mengajar. Dalam

pembahruan pendidikan, tentu saja fasilitas merupakan hal yang ikut

mempengaruhi kelangsungan inovasi yang akan diterapkan. Tanpa adanya

fasilitas, maka pelaksanaan inovasi pendidikan akan bisa dipastikan tidak akan

berjalan dengan baik. Fasilitas, terutama fasilitas belajar mengajar merupakan hal

yang esensial dalam mengadakan perubahan dan pembahruan pendidikan. Oleh

karena itu, jika dalam menerapkan suatu inovasi pendidikan, fasilitas perlu

diperhatikan.

e. Lingkup Sosial Masyarakat

Dalam menerapakan inovasi pendidikan, ada hal yang tidak secara

langsung terlibat dalam perubahan tersebut tapi bisa membawa dampak, baik

positif maupun negatif, dalam pelaklsanaan pembahruan pendidikan. Masyarakat

secara tidak langsung atau tidak langsung, sengaja maupun tidak, terlibat dalam
pendidikan. Sebab, apa yang ingin dilakukan dalam pendidikan sebenarnya

mengubah masyarakat menjadi lebih baik terutama masyarakat di mana peserta

didik itu berasal. Tanpa melibatkan masyarakat sekitarnya, inovasi pendidikan

tentu akan terganggu, bahkan bisa merusak apabila mereka tidak diberitahu atau

dilibatkan. Keterlibatan masyarakat dalam inovasi pendidikan sebaliknya akan

membantu inovator dan pelaksana inovasi dalam melaksanakan inovasi

pendidikan di sekolah.

C. Peran Kepala Sekolah Dalam Melaksanakan Inovasi

Pendidikan

Kepala sekolah merupakan top leader dari suatu lembaga pendidikan.

Kebijakan yang diputuskan merupakan hal yang strategis dalam keberhasilan

sekolah. Kepala sekolah seharusnya orang yang memiliki kecerdasan, kekreatifan,

dan visi dan tujuan ke depan dalam rangka menatap realitas masyarakat yang

semakin global. Menurut pandangan Gorton, kepala sekolah adalah agen

pembaharu, sangat penting dalam inovasi pendidikan. Tugas pokok dalam inovasi

pendidikan adalah menilai efektivitas program, mengkaji, mengembangkan dan

mengimplementasikan program pengembangan sekolah.

Tugas Kepala Sekolah adalah sebagai agen utama perubahan yang

mendorong dan mengelola agar semua pihak yang terkait, termotivasi dan

berperan aktif dalam inovasi pendidikan. Upaya kepala sekolah sebagai agen

perubahan bisa meliputi:


19

1. Catalyst

Catalyst berperan meyakinkan orang lain tentang perlunya perubahan

menuju kondisi yang lebih baik. Misalnya kepala sekolah menyakinkan orang tua

siswa untuk memupuk disiplin anak.

2. Solution Givers

Berperan untuk mengingatkan akan tujuan akhir dari perubahan yang

dilaksanakan. Cara boleh berubah, tetapi tujuan akhir harus tetap dipertahankan.

3. Process Helpers

Berperan membantu kelancaran proses perubahan, khususnya

menyelesaikan masalah yang muncul dan membina hubungan antarapihak-pihak

yang terkait.

4. Resources Linkers

Berperan untuk menghubungkan orang dengan pemilik sumber dana/alat

yang diperlukan.

Tahapan yang dapat dipersiapkan dalam mengelola inovasi sekolah adalah

sebagai berikut :

1. Tahap Penemuan, misalnya kepala sekolah menemukan bahwa siswa tidak

disiplin.

2. Tahap Pengkomunikasian, temuan tersebut dikomunikasikan dengan pihak

terkait, untuk mendapatkan konfirmasi apakah hal itu memang benar-benar

terjadi.

3. Tahap Pengkajian, masalah tersebut dikaji untuk ditemukan penyebabnya.

Untuk itu perlu digali data yang relevan, kemudian dianalisis secara
cermat.

4. Tahap Mencari Sumber Pendukung, artinya mencari sumber, baik orang

maupun sarana untuk melaksanakan perubahan yang akan dirancang.

5. Tahap Trial/Mencoba, dalam tahap ini ditentukan langkah perubahan yang

akan ditempuh, termasuk personalia pelaksananya.

6. Memerluas dukungan, artinya mencari dukungan dari berbagai pihak yang

terkait untuk pelaksanaan perubahan tersebut.

7. Pembaharuan, pada tahap ini perubahan dimulai, selanjutnya merupakan

problem solving yaitu memecahkan masalah yang muncul akibat

perubahan tersebut.

Disamping itu Ibrahim berpandangan bahwa, peran kepala sekolah dalam

melaksanakan inovasi pendidikan, (Ibrahim, 1998: 172) adalah:

a. Merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus inovasi

pendidikan yang akan dilaksanakan dengan rumusan yang

jelas,

b. Mengidentifikasi masalah,

c. Menentukan kebutuhan,

d. Mengidentifikasi sumber penunjang dan penghambat,

e. Menentukan alternatif kegiatan berdasarkan faktor

penunjang yang ada serta mempertimbangkan adanya

hambatan yang mungkin timbul baik dari dalam sistem

(sekolah) maupun dari luar sistem (masyarakat),

f. Menentukan alternatif pemecahan masalah,


21

g. Menentukan alternatif cara pendayagunaan sumber yang

ada,

h. Menentukan kriteria untuk memilih alternatif pemecahan

masalah,

i. Menetukan alternatif pengambil keputusan,

j. Menentukan kriteria untuk menilai hasil inovasi pendidikan

berdasarkan tujuan umum dan tujuan khusus yang telah

ditentukan.

Agar perubahan dapat terjadi dan berjalan dengan baik, maka kepala

sekolah harus berperan sebagai pemimpin yang memiliki visi jelas, yaitu

gambaran sekolah yang dicita-citakan. Disamping itu kepala sekolah harus

mampu membimbing, mendorong, dan mengorganisasikan staff dengan baik.

Dukungan staff dan pihak terkait sangat penting dalam mengelola perubahan, cara

memperoleh dan mempertahankan dukungan antara lain ; (1) mengundang umpan

balik dari semua pihak sehingga yang bersangkutan merasa ikut memiliki program

perubahan tersebut; (2) memberikan masukan yang konstruktif ke pihak

pelaksana; (3) melibatkan sebanyak mungkin pihak terkait, agar merasa dihargai.

Adapun bentuk-bentuk inovasi yang dapat dilaksanakan oleh kepala

sekolah adalah:

1. Inovasi Fisik

a. Kurikulum

Inovasi/pembaharuan kurikulum yang dilakukan oleh Kepala sekolah

adalah modifikasi kurikulum, yaitu menambah jam pelajaran 45 jam permingu


menjadi 48 jam. Atau 70 % ilmu umum harus dibaca 100 % dalam proses

pelaksanaan pengajarannya. Hal ini dilakukan oleh kepala sekolah agar tidak

kalah dengan sekolah lain, siswa dapat memahami ilmu umum dan ilmu agam

secara seimbang. Disamping itu juga menerapkan integrated learning, dan

integrated curriculum. Integrated learning adalah pengintegrasian materi-materi

agama ke dalam materi umum. Integrated curriculum adalah penerapan perpaduan

antara pelajaran umu dengan agama. Dengan upaya pengintegrasian tersebut,

siswa mengalami peningkatan kualitas pendidikan, baik dari aspek kualitas

akademik dan aspek psikis dengan meningkatnya moralitas anak. Jadi adanya

keseimbangan antara pemahaman ilmu umum dan pemilikan akhlaq.

b. Inovasi Sarana dan prasarana

Inovasi pengelolaan sarana dan prasarana dapat terwujud melalui

kerjasama sekolah dengan orang tua siswa (komite sekolah), misalnya

membangun gedung, LAB bahasa, LAB IPA, komputerisasi, dan lain-lain.

c. Inovasi Pengelolaan Keuangan

Ide gagasan inovasi pengelolaan keuangan dengan konsep open

management yang datang dari kepala sekolah kepada bawahan harus ditangkap

secara matang dalam proses mengambil kebijakan demi lancarnya proses

pembelajaran di sekolah. Proses pengelolaan keuangan di sekolah dapat melalui

dua tahapan yaitu, tahapan penerimaan yang khusus dipegang satu orang, tahapan

pengeluaran dipegang dan dikontrol satu orang. Proses pembelanjaan keuangan,

dipasrahkan kepada guru dan karyawan. Sebagai bukti laporan menyerahkan

secara rasional dan profesional.


23

Dari uraian di atas, bahwa konsep inovasi pengelolaan keuangan,

menggunakan konsep self managing school sebagai pengejawantahan manajemen

berbasis sekolah (Fattah, 2000: 7-8), yaitu pelibatan pada bawahan untuk

mengelola keuangan sebaik mungkin.

d. Inovasi Strategi Pembelajaran

Inovasi strategi pembelajaran yang dilaksanakan diantaranya, yaitu team

teaching, guru bidang studi, class grouping, rotation class, bimbingan ebtanas,

pondok ebtanas, penggunaan 101 strategi pembelajaran.

2. Inovasi non Fisik

a. Pengelolaan siswa

Dalam konsep inovasi, bahwa siswa merupakan faktor internal yang

mempengaruhi keberhasilan inovasi pendidikan. Siswa terlibat langsung dalam

proses belajar mengajar di sekolah. Inovasi pengelolaan siswa dapat dimulai dari

penerimaan siswa baru, yaitu melalui seleksi yang matang tidak asal terima,

kemudian digodok melalui proses belajar mengajar yang berkwalitas sehingga

menghasilkan out put (lulusan yang kwalitas).

b. Pengelolaan tenaga guru

Proses inovasi pengelolaan guru merupakan salah satu kunci keberhasilan

(key to succesfullnes) sekolah, sebab guru merupakan salah satu komponen

pendidikan yang mempengaruhi keberhasilan dalam institusi pendidikan. Untuk

itu, diperlukan profesionalisasi guru dibidang pengetahuan, sikap, dan

keterampilan. Profesionalisasi guru diperlukan untuk melangsungkan proses

inovasi di sekolah. Kecerdikan, kekreatifan, dan memiliki etos dan komitmen


yang tinggi tumbuh berkembang secara personal profesional merupakan sikap

inovatif yang dibutuh-kan pula untuk melaksanakan inovasi pendidikan sekolah.

c. Pengelolaan hubungan masyarakat

Konsep school based management (manajemen berbasis sekolah) yang

diterapkan di sekolah, salah satunya proses pelibatan orang tua siswa terhadap

keputusan lembaga, menumbuhkan rasa memiliki "mutual support". Masyarakat

saling mendukung keputusan yang telah dicapai bersama bahkan bertanggung

jawab atas maju tidaknya sekolah. Sehingga masyarakat menaruh kepercayaan,

harapan yang tinggi terhadap sekolah.


25

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kepala sekolah memiliki peranan yang sangat kuat dalam

mengkoordinasikan, menggerakkan, dan menyerasikan semua sumber daya

pendidikan yang tersedia di sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan

salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi,

misi, tujuan dan sasaran sekolahnya melalui program-program yang dilaksanakan

secara terencana dan bertahap. Kepala sekolah dituntut mempunyai kemampuan

manajemen dan kepemimpinan yang memadai agar mampu mengambil inisiatif

dan prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah.

Sebagai pemimpin formal, kepala sekolah bertanggungjawab atas

tercapainya tujuan pendidikan melalui upaya menggerakkan para bawahan ke arah

pencapaiantujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini kepala sekolah

bertugasmelaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan, baik fungsi yang

berhubungan dengan pencapaian tujuan pendidikan maupun penciptaan iklim

sekolah yang kondusif bagi terlaksananya proses belajar mengajar secara efektif

dan efisien. (Moch. Idhochi Anwar, 2003: 75)

Dalam persepektif kebijakan pendidikan nasional (depdiknas, 2006),

terdapat tujuh peran kepala sekolah yaitu yaitu, sebagai : (1) edukator (pendidik);

(2) manajer; (3) administrator; (4) supervisor; (5) leader (pemimpin); (6) pencipta
iklim kerja; (7) wirausahawan.

Inovasi pendidikan di sekolah adalah langkah tepat yang harus diambil

oleh kepala sekolah, hal ini mengingat percepatan kemajuan zaman semakin

melaju dengan akselerasi yang luar biasa, sementara itu dunia pendidikan juga

dituntut untuk mengimbangi percepatan kemajuan tersebut.

Pelaksanaaan inovasi pendidikan di Sekolah seperti inovasi dalam konteks

guru, siswa, kurikulum, fasilitas, dan lingkup social masyarakat tidak dapat

dipisahkan dari inovator dan pelaksana inovasi itu sendiri.. Inovasi ini sengaja

diciptakan sebagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan

kesempatan untuk memperoleh pendidikan, ataupun sebagai usaha untuk

meningkatkan efisiensi dan sebaginya.

Menurut pandangan Gorton, kepala sekolah adalah agen pembaharu,

sangat penting dalam inovasi pendidikan. Tugas pokok dalam inovasi pendidikan

adalah menilai efektivitas program, mengkaji, mengembangkan dan

mengimplementasikan program pengembangan sekolah.

Tugas Kepala Sekolah adalah sebagai agen utama perubahan yang

mendorong dan mengelola agar semua pihak yang terkait, termotivasi dan

berperan aktif dalam inovasi pendidikan. Upaya kepala sekolah sebagai agen

perubahan bisa meliputi: Catalyst, Solution Givers, Process Helpers, Resources

Linkers.

Anda mungkin juga menyukai