Anda di halaman 1dari 9

UJIAN TENGAH SEMESTER

PSIKOLOGI SOSIAL II

KONFORMITAS YANG
MEMPENGARUHI PENGGUNAAN
NARKOBA PADA REMAJA

Disusun oleh:

Ernestine Oktaviana 110911110


Kelas C
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2010
My peers, lately, have found companionship through means of intoxication
- it makes them sociable. I, however, cannot force myself to use drugs to
cheat on my loneliness - it is all that I have - and when the drugs and
alcohol dissipate, will be all that my peers have as well.
Franz Kafka

Franz Kafka, seorang novelis asal Jerman mengemukakan


keprihatinannya akan maraknya penggunaan drugs (narkoba) dalam
lingkungan pergaulan. Dalam kutipan singkat di atas tertulis bahwa obat-
obatan terlarang dan alkohol menjadi sarana bagi seseorang untuk diterima
dalam suatu kelompok sosial. Melepaskan diri dari penggunaan Narkoba
dan alkohol berarti melepaskan diri dari lingkungan pergaulannya.
Remaja, yang berada dalam masa perkembangan krusialnya sangat
bergantung pada kelompok dimana ia berada (peer group). Seperti yang
diungkapkan oleh Granville Stanley Hall, masa remaja adalah masa storm
and stress. Dalam teorinya, Hall memamandang usia remaja sebagai masa
depresi. Depresi ini disebabkan oleh adanya berbagai perubahan yang
dialami pada masa pubertas, rasa takut tidak diterima oleh lingkungan
sosialnya dan permasalahan dalam percintaan.
Rasa takut tidak diterima oleh lingkungan ini menyebabkan remaja
cenderung mendekatkan diri terhadap kelompok pertemanannya;
meningkatkan interaksi sosial dengan teman-teman sebayanya. Interaksi
yang erat ini akan memicu pengaruh sosial dalam lingkungan pergaulan
remaja.
Benarkah lingkungan pergaulan merupakan faktor utama dalam
yang mempengaruhi seseorang mengkonsumsi Narkoba?
Kehidupan seseorang tidak mungkin lepas dari lingkungan
sosialnya. Suatu kontak sosial pasti terjadi dalam kesehariannya. Dengan
adanya kontak sosial, akan tercipta komunikasi yang dapat memberi
pengaruh dalam hidup keseharian seseorang.
Perilaku, lingkungan dan pribadi seseorang memililki hubungan
timbal balik yang saling menyokong satu sama lain. Interaksi ketiganya
akan menciptakan berbagai reaksi, salah satunya pengaruh sosial (social
influence) dari terbentuknya kelompok-kelompok sosial.
Pengaruh sosial dapat menciptakan berbagai perilaku, diantaranya
perilaku konformis. Dalam Social Psychology, Myers menyebutkan bahwa
konformitas adalah perubahan perilaku maupun kepercayaan karena
adanya tekanan kelompok (group pressure) baik yang bersifat nyata
maupun imajiner.
Kelompok sosial mengambil bagian penting dalam terbentuknya
suatu pengaruh sosial. Chaplin menyatakan bahwa kelompok adalah
sekumpulan individu yang berinteraksi dan saling mempengaruhi. Dalam
suatu kelompok, pasti ada interaksi, peran yang tersrukutur meskipun
kadang tidak tampak, memiliki tujuan yang ingin dicapai dan kohesivitas
yang akan mempererat kelompok yang bersangkutan. Kohesivitas ini pula
lah yang nantinya menciptakan konformitas.
Konformitas terbentuk oleh adanya norma. Norma berarti suatu
aturan mengenai perilaku yang diterima maupun tidak diterima oleh suatu
kelompok. Norma menentukan perilaku yang layak dilakukan dalam suatu
kelompok.
Seseorang akan terdorong untuk mengikuti norma yang ada agar
tetap dapat diterima dalam kelompoknya. Begitu pula suatu kelompok
akan berusaha mempertahankan norma-norma yang berlaku hingga
mampu memberi tekanan pada anggota-anggotanya untuk berperilaku
sesuai batasan yang ada.
Adanya pengaruh sosial dapat dilihat dalam dua contoh yang
dijabarkan sebagai berikut;
Rudhy Wedhasmara adalah seorang mantan pengguna Narkoba.
Pada saat Rudhy masih mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah
Atas ia sudah menjadi Bandar Gede yang melancarkan peredaran Narkoba
di Surabaya. Sejak kecil, lingkungan tempat Rudhy tinggal sudah
membuatnya akrab dengan Narkoba. Pria-pria dalam keluarganya adalah
perokok berat. Ia pertama kali merokok saat ia masih bersekolah di Taman
Kanak-kanak. Saat usia Sekolah Dasar, ia mulai minum anggur secara
berlebihan. Pada saat ia menginjak kelas 6 SD, Rudhy mulai mengenal
Ganja yang terus membayanginya hingga bangku kuliah..
Kedekatannya dengan barang-barang terlarang ini dikarenakan
lingkungan tempat tinggal yang memudahkan akses Rudhy pada
pembelian minuman keras maupun Narkoba. Bahkan tukang becak di
daerahnya tinggal juga mengkonsumsi Ganja. Selain itu, kakak Rudhy
yang seorang perokok berat dan pengguna Ganja juga memuluskan jalan
Rudhy untuk mencicipi kenikmatan semu dari Narkoba. Kakak Rudhy dan
teman-temannya seringkali mangkal di rumah tempat Rudhy tinggal untuk
mengkonsumsi merokok dan mengkonsumsi Ganja. Hal ini dilakukan
tanpa sepengetahuan orang tua Rudhy. (disadur dari http://www.surabaya-
ehealth.org/content/mantan-pengguna-narkoba-yang-kini-
%E2%80%9Cperangi%E2%80%9D-narkoba pada Kamis, 17 Juni 2010
pukul 1.23 WIB).
Mantan pengguna Narkoba lainnya, benama Marsha Gratiana
Warokka mengemukakan bahwa keinginannya memakai narkoba murni
hanya didorong rasa penasaran dan kebingungan; bingung untuk mencari
cara bersenang-senang, sedangkan semua jenis hiburan sudah pernah ia
rasakan. Awalnya Caca—begitu Marsha biasa dipanggil, tertarik melihat
efek kegembiraan, euforia yang ditimbulkan saat melihat pacar dan teman-
teman terdekatnya mulai memakai narkoba. Caca yang mulai
menggunakan putaw pada saat masih duduk di kelas 2 Sekolah Menengah
Pertama di Jakarta Selatan, mengkonsumsi Narkoba secara sembunyi-
sembunyi dari orangtuanya. Uang saku dalam jumlah besar memudahkan
aksesnya untuk membeli putaw. Selain itu, Caca juga memiliki pemasok
tetap yang menjaga kelancaran mengalirnya putaw ke tangan Caca
(disadur dari http://www.gkr-gedong.org/cetak.php?id=291 pada Kamis 17
Juni 2010 pukul 1.10).
Kisah Rudhy dan Caca di atas menunjukkan betapa
berpengaruhnya lingkungan pergaulan dalam penggunaan Narkoba.
Lingkungan yang berperan besar ini menunjukkan adanya Social Influence
yang kuat dalam kehidupan Rudhy dan Caca sebagai pengguna Narkoba.
Orang-orang di sekitar lingkungan tempat Rudhy tinggal adalah
kaum pemakai Narkoba. Dengan demikian, memakai Narkoba adalah hal
yang wajar di lingkungan itu. Seolah telah terbentuk norma bahwa
Narkoba adalah barang yang lumrah dan mengkonsumsinya adalah hal
yang biasa saja. Lama-kelamaan Rudhy larut dalam pengaruh
lingkungannya yang kerap mengkonsumsi Narkoba. Norma bahwa
Narkoba adalah hal yang wajar dalam kehidupan Rudhy memiliki peranan
penting dalam terjerumusnya Rudhy ke dalam dunia pencandu Narkoba.
Keadaan ini membentuk perilaku Rudhy untuk menyesuaikan diri dengan
norma di lingkungannya; membentuk konformitas agar sesuai dengan
orang-orang di lingkungannya.
Orang cenderung berperilaku konformis ketika berada dalam dua
situasi; yaitu pada saat suatu penilaian yang independen sulit diambil dan
pada saat seseorang diarahkan pada situasi dimana ia merasa tidak
kompeten (Myers 1988; 241). Bagi Rudhy yang sejak kecil sudah
terperangkap dalam lingkungan yang kelam di antara para pecandu rokok,
miras dan Narkoba, ia tidak punya pilihan akan lingkungan sosial yang
lebih baik. Dalam hal ini, Rudhy bahkan belum mampu melakukan suatu
penilaian secara independen akan lingkungan tempat ia tinggal; apakah
lingkungan itu baik atau buruk. Rudhy hanya mampu ikut arus hingga
akhirnya ia tumbuh sebagai pengguna Narkoba.
Bahkan setelah Rudhy tumbuh dewasa pun, ia tetap mengkonsumsi
Narkoba, malah menjadi pemasok yang memiliki reputasi di
lingkungannya. Di lingkungannya pada saat itu, bila ia melepaskan status
pengguna dan pemasok Narkoba, justru ia akan dianggap tidak kompeten.
Itulah mengapa Rudhy tetap mempertahankan konformitasnya sebagai
pemakai Narkoba.
Berperilaku konform seperti yang dilakukan Rudhy dapat diartikan
pula sebagai perilaku yang ikut arus (Baron & Byrne 1987;235). Rudhy
bagai terjebak dalam situasi dimana lingkungan tempat ia tumbuh
memberi pengaruh negatif terhadap perkembangannya. Keadaan sosial,
lingkungan kebudayaan dengan kuat membentuk pola kehidupan tiap
orang. Untuk bisa lepas dari budaya yang melekat dan membentuk
seseorang akan dibutuhkan suatu kekuatan yang leih kuat dari kekuatan
yang membentuk kebudayaan itu (Myers 1988; 239). Selain itu, kekuatan
sosial yang begitu besar juga mampu menimbulkan kekuatan yang sifatnya
negatif (Myers 1988; 239). Itulah mengapa Rudhy sulit untuk melepaskan
diri dari pengaruh lingkungan yang membentuknya sejak kecil.
Demikian juga dengan Caca, yang dikelilingi oleh teman-teman
sebayanya yang menggunakan Narkoba. Teman-teman seusia Caca saat itu
(Peer Group), secara tidak langsung menjadi tekanan bagi Caca (Peer
Pressure) hingga akhirnya ia ikut menggunakan putaw.
Peer Group memiliki peranan penting dalam tahapan
perkembangan remaja. Berdasarkan tahapan perkembangan yang
dikemukakan Erik Erikson, masa remaja adalah masa dimana seseorang
harus membentuk identitasnya untuk lepas dari difusi dan kebingungan.
Remaja cenderung memberikan perhatian lebih pada teman-teman terdekat
yang memiliki posisi penting dalam kehidupannya.
Remaja membutuhkan sosok untuk membantu dirinya melewati
masa Storm and Stress yang dianggap penuh depresi. Yang dibutuhkan
remaja untuk melewati masa depresinya ini adalah orang-orang
terdekatnya. Seperti yang diungkapkan Bronfenbrenner, orang-orang
terdekat terdapat dalam mikrosistem yang mencakup keluarga dan
lingkungan bermain. Bahkan dalam model yang dibentuk oleh
Bronfenbrenner sendiri, peer group memiliki peran yang lebih signifikan
dibandingkan peran orang tua. Karena dari teman-teman sebayanya lah
seorang remaja dapat menemukan sosok dirinya yang sebenarnya.
Peran teman sebaya yang lebih besar ini membuat keluarga tidak
memiliki pengaruh yang terlalu besar dalam perkembangan remaja. Hasil
survei Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) per Mei 2008 menunjukkan
sekitar 60%-70% pecandu narkoba di Indonesia berasal dari keluarga baik-
baik atau dapat dikatakan keluarga yang harmonis. Sementara itu, enam
dari 10 penggunaan narkoba dilakukan di sekitar lingkungan rumah. Itulah
hasil survei yang dilakukan lembaga nirlaba yang bergerak di bidang
pencegahan dan penanggulangan narkotik ini terhadap 613 pecandu
narkoba di 14 panti rehabilitasi. Tidak mengejutkan bahwa Caca yang
berasal dari keluarga baik-baik pada akhirnya terjerumus juga dalam dunia
candu karena besarnya pengaruh peer pressure.
Dari berbagai wacana dapat ditarik kesimpulan bahwa debut
penggunaan Narkoba dimediasi oleh teman dekat yang dianggap mampu
mengurangi tekanan kejiwaan seseorang dan mampu pula memenuhi
kebutuhan afektifnya. Peer group dimana Caca berada nampaknya mampu
memenuhi kebutuhan afektifnya, sehingga Caca memiliki keterikatan lebih
dan ikut dalam arus penggunaan obat terlarang—serupa dengan Rudhy
yang ikut arus konformitas di lingkungan tempat ia dibesarkan.
Kelompok jelas memiliki pengaruh yang besar dalam perilaku
seseorang. Konformitas yang ditimbulkan oleh tekanan kelompok dapat
menjadi sesuatu yang bernilai buruk karena keterikatan seseorang terhadap
kelompoknya menarik seseorang untuk berperilaku negatif. Namun tidak
selamanya perilaku konformis bernilai negatif. Perilaku konformis dapat
bernilai positif karena dengan berperilaku demikian, norma-norma dan
hukum-hukum yang ada dapat ditaati demi kelancaran bersama. Suatu
perilaku konformis bahkan bisa berada dalam posisi netral, tanpa adanya
nilai positif maupun negatif terkandung di dalamnya.
Kunci dari konformitas adalah apakah perilaku dan kepercayaan
seseorang sama atau berbeda dengan kelompok tempat ia berada.
Konformitas tidak hanya berarti bertindak sesuai tindakan yang dilakukan
orang lain tetapi juga dibentuk oleh bagaimana orang itu sendiri bertindak.
Bagaimanapun, secara sadar seseorang telah memilih untuk bertindak
konformis. Konsekuensi dari perilaku konformis karena mengikuti tekanan
dari kelompok yang dipilih untuk dilakukan secara sadar dapat dirasakan
setelahnya.
Referensi
Baron & Byrne. (1987). Social Psychology: Understanding Human
Interaction 5th Edition. Boston: Allyn and Bacon, Inc.
Bouljaleb, Nouhad. (2006). Adolescents and Peer Pressure. Diunduh pada
Rabu, 16 Juni 2010 pukul 20.54 dari
http://aui.ma/VPAA/cads/research/cad-research-student-06-
adolescents-and-peer-pressure.
Crano & Messe. (1982). Social Psychology. Illinois: Dorsey Press.
Myers, David G. (1988). Social Psychology. New York: McGraw-Hill.
Nuno-Gutierrez, Rodriguez-Cerda & Alvarez-Nemegyei. (2006). Why Do
Adolescents Use Drugs? A Common Sense Explanatory Model
From The Social Actor’s Perspective. Diunduh pada Senin, 14 Juni
2010 pukul 10.20 dari ProQuest Journal.
Santrock, J.W. (2004). Lifespan Development 9th Edition. New York:
McGraw Hill.
http://franz-kafka.redorb.co.uk/
http://www.gkr-gedong.org/cetak.php?id=291
http://www.surabaya-ehealth.org/content/mantan-pengguna-narkoba-yang-
kini-%E2%80%9Cperangi%E2%80%9D-narkoba