Anda di halaman 1dari 24

TUGAS INDIVIDU

TEKNOLOGI TEPAT GUNA

OLEH
R etno Asih
O6 903 325
Semester IV / B

Dosen Pengasuh : Dr. Janviter Manalu, M.Si

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS CENDERAWASIH
JAYAPURA
2008
PENDAHULUAN

Dengan meningkatnya kebutuhan hidup dan peningkatan harga Bahan Bakar


Minyak (BBM) serta sekamin berkurangnya sumber daya alam yang tidak terbaharui,
maka perlu dicarikan suatu jalan alternatif guna mengganti sumber daya energi tersebut
dengan sumber daya energi yang terbarukan. Kebutuhan energi tersebut sebenarnya
tidak lain adalah energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan dan mendistribusikan
secara merata sarana-sarana pemenuhan kebutuhan pokok manusia.
Berbagai macam bentuk energi telah digunakan manusia seperti batu bara,
minyak bumi, dan gas alam yang merupakan bahan bakar yang tidak terbaharui. Selain
itu, sumberdaya lainnya seperti kayu bakar saat ini masih digunakan, namun
penggunaan kayu bakar tersebut mempunyai jumlah yang terbatas dengan semakin
berkurangnya hutan sebagai sumber kayu. Dengan meningkatnya jumlah penduduk,
terutama yang tinggal di perdesaan, kebutuhan energi rumah tangga masih menjadi
persoalan yang harus dicarikan jalan keluarnya. Permasalahan kebutuhan energi
perdesaan dapat diatasi dengan menggunakan sumber energi alternatif yang ramah
lingkungan, murah, dan mudah diperoleh dari lingkungan sekitar dan bersifat dapat
diperbaharui.
Selain itu kondisi bumi kita kian lama kian mengenaskan karena tercemarnya
lingkungan dari efek rumah kaca (greenhouse effect) yang menyebabkan global warming,
hujan asam, rusaknya lapisan ozon hingga hilangnya hutan tropis. Semua jenis polusi itu
rata-rata akibat dari penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi, uranium,
plutonium, batu bara dan lainnya yang tiada hentinya. Padahal kita tahu bahwa bahan
bakar dari fosil tidak dapat diperbaharui, tidak seperti bahan bakar non-fosil.
Dengan kondisi yang sudah sedemikian memprihatinkan, gerakan hemat energi
sudah merupakan keharusan di seluruh dunia. Salah satunya dengan hemat bahan bakar
dan menggunakan bahan bakar dari non-fosil yang dapat diperbaharui seperti tenaga
angin, tenaga air, energi panas bumi, tenaga matahari, dan lainnya.
BIOGAS

Biogas adalah suatu gas yang mudah terbakar yang dapat dihasilkan dari kotoran
ternak atau manusia, limbah industri atau kota dan limbah pertanian melalui proses
ferementasi biologi dalam suatu digester kedap udara (anaerob). Biogas ini terdiri dari
beberapa unsur gas, seperti gas methan (CH4,) karbon dioksida (CO2), hydrogen sulfide
(H2S), dan amoniak (NH3). Pada saat ini biogas yang sedang dikembangkan terutama
biogas yang berasal dari kotoran ternak dan limbah manusia dengan pertimbangan
potensinya yang tersedia relatif cukup.
Biogas dari kotoran ternak pada umumnya dikembangkan di daerah petrnakan. Di
Indonesia hamper disemua pedesaan terdapat ternak, antara lain ternak sapi, ayam, babi,
dan lain-lain. Kotoran ternak tersebut pada umumnya masih digunakan langsung sebagai
pupuk. Untuk peternakan yang jumlahnya relatif banyak dan system pengadangannya
baik, maka kotoran ternak relatif mudah dikumpilkan dan tidak mengganggu lingkungan.
Sedangkan untuk peternakan yang pengadangannya kurang baik, kotoran tersebut akan
berserakan dimana-mana, hal ini tentu akan mengganggu kesehatan lingkungan. Untuk
mengatasi hal ini maka pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas akan memberi
manfaat ganda yaitu selain menghasilkan biogas yang dapat digunakan sebagai bahan
bakar, juga dapat menjaga kesehatan lingkungan, karena parasit dan telur cacing yan
terdapat dalam kotoran tersebut akan mati selama proses pembentukan biogas tersebut.
Manfaat lain yaitu bahwa sisa proses pembentukan biogas dalam bentuk padat dapat
digunakan menjadi pupuk yang berkualitas tinggi.
Biogas tinja manusia telah dikembangkan khususnya di daerah perkotaan yang
relatif kumuh dan padat penduduk. Pada daerah seperti ini disinyalir bahwa sebagian
besar sumur telah tercemar oleh bakteri, terutama bakteri coliform. Terjadinya
pencemaran air tanah tersebut sebagai akibat dari system sanitasi yang kurang baik,
antara lain kondisi sumur atau jaak sumur dengan septic tank yang tidak memenuhi syarat
teknik. Dengan kondisi system sanitasi saat ini yang pada umumnya menggunakan septic
tank aerob (tidak kedab udara) menyebabkan limbah cair yang diresapkan kedalam tanah
mengandung bakteri pathogen yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Untuk mengatasi
pencemaran air tanah akibat rembesan dari septic tank maka salah satu cara yang relatif
layak untuk dikembangkan adalah dengan memodifikasi septic tank aerob (kedap udara),
dalam septic tank anaerob akan terjadi proses fermentasi anaerob yang menghasilkan
biogas, dan dalam kondisi anaerob tersebut sebagian besar bakteri patogen akan mati.
Limbah cair sebagai sisa dari proses fermentasi anaerob tersebut akan lebih aman untuk
diresapkan kedalam tanah.

Digester Biogas
Digester biogas adalah suatu wadah tempat berlangsungnya suatu proses
fermentasi anaerob, diantara beberapa model digester biogas yang ada, ada 2 jenis
digester biogas yang dikembangkan di Indonesia, yaitu model India (floating cover) dan
model china (fixel dome).
a. Floating Cover
Model ini dikenal sebagai digester mengapung terdiri dari 2 bagian, yaitu bak bagian
bawah (terbuat dari batu bata) sebagai tempat bahan baku untuk biogas, sedangkan
bagian atas berbentuk sungkup terbuat dari pelat baja sebagai penampung biogas
yang dapat turun naik mengikuti volume gas yang dihasilkan. Keuntungan dari model
ini terutama dalam hal pengurasan kerak yang terjadi lebih mudah diangkat,
sedangkan kelemahannya yaitu biaya jenis digester lebih mahal dibandingkan dengan
digester model China. Jenis digester ini banyak dikembangkan untuk biogas dari
kotoran ternak.
b. Fired Dome
Digester ini dikenal dengan sebutan digester permanent berbentuk tipe kubah da
seluruhnya terbuat dari batu bara dan ditanam dalam tanah. Kelemahan dari model
digester ini yaitu pengurasan kerak lebih sulit dilakukan. Pembentukan biogas dengan
menggunakan kotoran manusia pada umumnya menggunakan digester model ini,
karena modelnya hampir sama dengan septic tank yang umum di rumah, dengan
memodifikasi septic tank yang ada, secara umum menjadi septic tank anaerob maka
tinja manusia akan diolah oleh bakteri anaerob dan akan menghasilkan biogas.
Pembentukan Biogas
Pembentukan biogas merupakan proses fermentasi anaerob dengan menggunakan
mikroba-mikroba anaerob sebagai pencerna dan dapat dihasilkan biogas dan sel-sel
mikroba baru, pembentukan biogas di dalam digester mengalami 3 tahap yaitu :
• Tahap Pelarutan, yaitu tahap pengubahan padat organic menjadi bahan cair oleh
mikroba oksidasi.
• Tahap Aksidikasi, yaitu tahap pengubahan organic cair menjadi asam-asam organic
oleh mikroba asidikasi.
• Tahap Metanasi, yaitu tahap pengubahan asam-asam organic menjadi methan, karbon
dioksida, asam sulfide nitrogen, dan sel-sel mikroba oleh mikroba-mikroba
methanasi.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Biogas


a. Bahan Baku Isian
Bahan baku isian harus terpisah dari bahan plastik, metal, kaca, dan bahan detergen.
Untuk pembentukan gas methan (CH4) maka diperlukan unsur detergen, karbon (C), dan
Nitrogen (N). Unsur nitrogen diperlukan oleh bakteri anaerob dalam pembuatan sel,
perbandingan C dan N dari bahan organic sangat menentukan kehidupan dan aktifitas
mikroorganisme, kebutuhan mikroorganisme akan karbon adalah sekitar 25-30 kali
banyak nitrogen atau dengan kata lain perbandingan C dan N yang baik adalah 25-30,
dengan perbandingan tersebut maka biogas yang diinginkan akan terbentuk sekaligus
kelangsungan hidup bakteri anaerob dapat dipertahankan, bahan isian yang berbeda akan
menghasilkan jumlah dan kualitas biogas yang berbeda pula.
b. Derajat Keasaman
Derajat keasaman sangat berperan dalam menentukan produksi biogas karena hidup
mikroorganisme pembenuk gas methan sangat peka terhadap perubahan derajat
keasaman. Derajat keasaman yang optimal bagi mikroorganisme pementuk gas methan
sekitar 6, 7-8, 4. pada pH yang rendah dibawah 6,8 aktifitas bakteri pembentukan gas
methan akan berkurang atau berheti.
c. Temperatur
Ada 3 kelompok bakteri yang hidup optimal pada selang suhu tertentu yang lazim
disebut kelompok bakteri psykhofilik, mesofilik, dan thermofilik. Temperature optimal
untuk pertumbuhan dan aktifita bakteri psykofilik sekitar 10-30ºC, untuk bakteri
mesofilik sekitar 30-45ºC, dan bakteri thermofilik sekitar 45-60ºC. perubahan temperatur
di dalam digester yang tiba-tiba akan menghambat pertumbuhan dan aktifitas bakteri, dan
membutuhkan waktu untuk penyesuaian diri terhadap perubahan-perubaha temperatur.
Usaha untuk mempertahankan temparatur agar stabil pada selang optimal untuk masing-
masing kelompok bakteri sangat penting. Umumnya di daerah tropis, temperatur yang
berlangsung di dalam digester sehari-hari lebih cocok untuk pertumbuhan golongan
bakteri mesofilik.

Pemanfaatan Biogas
Biogas sebagai sumber energi mempunyai nilai kalori yang tinggi (5.000-67.000
kkal/km3), tidak berbau, tidak menimbulkan polusi, dan pada prinsipnya dapat disimpan
untuk penggunaan mendatang.
Komposisi biogas adalah sebagai berikut :
Methan (CH4) : 60-70%
Karbon Diokasida (CO2) : 20-25%
Hidrogen Sulfida (H2S) : 7%
Nitrogen (N) : 2%
Lain-lain : 1%
Berdasarkan penelitian bahwa 1 m3 biogas adalah sama dengan 0,61 liter minyak
tanah senilai dengan 3,47 kg kayu baker atau setara dengan 4,7 kWh listrik. Biogas
tersebut dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti memasak, penerangan, dan
lainnya. Untuk memasak dapat dilakukan dengan menggunakan kompor sederhana yang
dapat dibuat sendiri dengan menggunakan kaleng-kaleng bekas.
Untuk penerangan dapat dilakukan dengan memodifikasi lampu petromaks yang
umum digunakan. Prinsip lampu biogas adalah dengan memanasi kaos lampu sampai
bersinar terang. Jika ada nyala api keluar dari kaos lampu, hal ini biasanya disebabkan
oleh biogas yang dialirkan lebih besar dari udara primer yang mengalir.
BIODISEL

Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono-alkyl ester
dari rantai panjang asam lemak , yang dipakai sebagai alternatif bagi bahan bakar dari
mesin diesel dan terbuat dari sumber terbaharui seperti minyak sayur atau lemak hewan.
Sebuah proses dari transesterifikasi lipid digunakan untuk mengubah minyak dasar
menjadi ester yang diinginkan dan membuang asam lemak bebas. Setelah melewati proses
ini, tidak seperti minyak sayur langsung , biodiesel memiliki sifat pembakaran yang mirip
dengan diesel (solar) dari minyak bumi, dan dapat menggantikannya dalam banyak kasus.
Namun, biodisel lebih sering digunakan sebagai penambah untuk diesel
petroleum, meningkatkan bahan bakar diesel petrol murni ultra rendah belerang yang
rendah pelumas. Biodisel merupakan kandidat yang paling dekat untuk menggantikan
bahan bakar fosil sebagai sumber energi transportasi utama dunia, karena ia merupakan
bahan bakar terbaharui yang dapat menggantikan diesel petrol di mesin sekarang ini dan
dapat diangkut dan dijual dengan menggunakan infrastruktur sekarang ini. Penggunaan
dan produksi biodiesel meningkat dengan cepat, terutama di Eropa , Amerika Serikat ,
dan Asia , meskipun dalam pasar masih sebagian kecil saja dari penjualan bahan bakar.
Pertumbuhan SPBU membuat semakin banyaknya penyediaan biodiesel kepada
konsumen dan juga pertumbuhan kendaraan yang menggunakan biodiesel sebagai bahan
bakar.

Cara Pembuatan Biodisel


Pada skala kecil dapat dilakukan dengan bahan minyak goreng 1 liter yang baru
atau bekas. Methanol sebanyak 200 ml atau 0.2 liter. Soda api atau NaOH 3,5 gram untuk
minyak goreng bersih, jika minyak bekas diperlukan 4,5 gram atau mungkin lebih.
Kelebihan ini diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas atau FFA yang banyak
pada minyak goreng bekas. Dapat pula mempergunakan KOH namun mempunyai harga
lebih mahal dan diperlukan 1,4 kali lebih banyak dari soda. Proses pembuatan; Soda api
dilarutkan dalam Methanol dan kemudian dimasukan kedalam minyak dipanaskan sekitar
55ºC, diaduk dengan cepat selama 15-20 menit kemudian dibiarkan dalam keadaan dingin
semalam. Maka akan diperoleh biodiesel pada bagian atas dengan warna jernih
kekuningan dan sedikit bagian bawah campuran antara sabun dari FFA, sisa methanol
yang tidak bereaksi dan gliserin sekitar 79 ml. Biodiesel yang merupakan cairan
kekuningan pada bagian atas dipisahkan dengan mudah dengan menuang dan
menyingkirkan bagian bawah dari cairan. Untuk skala besar produk bagian bawah dapat
dimurnikan untuk memperoleh gliserin yang berharga mahal, juga sabun dan sisa
methanol yang tidak bereaksi.
Biodisel (BBM Alternatif Pengganti Solar) ”Tanaman Jarak Pagar” Tanaman
Jarak Pagar (Jatropha Curcas Linn) berasal dari daerah tropis Amerika Tengah, telah lama
dikenal masyarakat Indonesia seajak jaman penjajahan Jepang. Tanaman Jarak banyak
dijumpai sebagai pagar pekarangan, juga digunakan sebagai obat serta penghasil minyak
lampu .Biji tanaman jarak mengandung persentase minyak yang besar, sehingga mulai
dilirik.
Dengan memperhatikan potensial tanaman Jarak yang mudah tumbuh pada lahan
kritis serta dapat dikembangkan sebagai bahan penghasil BBM alternatif (Biodiesel),
tentunya tanaman ini akan memberikan harapan baru pada pengembangan agribisnis.
Disamping untuk menunjang usaha konservasi lahan, tanaman Jarak akan memberikan
solusi pada pengadaan Biodiesel sekaligus akan memembuka kesempatan bagi
penambahan lowongan pekerjaan dan pendapatan petani.
Kandungan minyak pada biji jarak cukup tinggi yaitu sekitar 30 s/d 50% . Biji
Jarak Pagar sangat prospektif untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku minyak atau
Biodiesel, karena minyak Jarak Pagar tidak termasuk kategori minyak untuk makanan
(edible oil), sehingga pemanfaatannya tidak mengganggu penyediaan kebutuhan minyak
makan nasional.
Pemanfaatan minyak jarak sebagai bahan bakar alternatif, dilakukan dengan
terlebih dahulu menerapkan proses transesterifikasi terhadap minyak jarak. Proses
transesterifikasi minyak jarak dilakukan dengan menggunakan alkohol, proses ini akan
mengubah trigliserida menjadi metil ester (Biodiesel dan Gliserol). Tujuannya untuk
menurunkan viskositas minyak jarak dan meningkatkan daya pembakarannya sehingga
dapat digunakan sesuai standar minyak diesel untuk kendaraan bermotor.
SISTEM KONVERSI ENERGI ANGIN

Energi angin sebagai sebagai salah satu jenis energi terbarukan, merupakan salah
satu sumber energi yang potensial untuk dimanfaatkan melalui konversi ke listrik ataupun
mekanik. Pengubahan menjadi energi listrik menjadi putaran mekanik dan selanjutunya
memutar generator merupakan contoh pemakaian yang banyak digunakan. Sedangkan
dalam bentuk mekanik, pemakaian potensial adalah pemompaan mekanik dengan
menggunakann pompa piston. Kedua proses pengubahan ini disebut system konversi
energi angin.
Sebagaimana energi lainnya seperti matahari, biomassa, samudera dan tenaga air,
energi angina merupakan sumber energi yang melimpah, bersih (non polusi) dan mudah
diperoleh. Namun pemanfaatannya adalah spesifik tempat (ketergantungan lokasi)
sehingga memerlukan data dan informasi yang lebih akurat mengenai supplay terutama di
suatau lokasi.
Pemanfaatan energi angin secara ekonomis memerlukan lokasi dengan kecepatan
angin rata-rata 5 meter perdetik atau lebih. Akan tetapi bila dalam kondisi tertentu dan
juga untuk sumber-sumber energi terbarukan lainnya, aspek ekonomis bukan merupakan
persyaratan utama, maka pemanfaatan dalam skala lebih kecil atau menegah merupakan
pilaihan yang sesuai. Hal ini misalnya diperlukan oleh daerah pedesaan atau pulau-pualau
perpencil yang belum mememiliki jaingan listrik umum atau untuk pemakaian lainnya,
seperti catu, daya komunikasi di daerah terpencil, pengawetan obat-obat, perahu nelayan
untuk penerangan, pengawet ikan nelayan, dan lainnya.
Sumber-sumber energi terbarukan jenis energi non konvensional yakni secara
tradisonal belum dipakai dalam skala besar, sedangkan energi konvensional adalah
sumber energi dan teknologi yang sudah mantap dan merupakan bagian terbesar dar
kebutuhan energi ekonomi modern, misalnya batu bara, minyak, gas alam, tenaga air
besar, serta energi listrik yang dihasilkan dari sumber-sumber tersebut.
Potensi Energi Angin
Penaksiran potensi energi angin untuk berbagai wilayah Indonesia yang memuat
data dan informasi mengenai kecepatan angin rata-rata tahunan dan daya spesifik
berdasarkan monitoring dan pengukuran yang didukung oleh data-data topografi
dimaksudkan untuk mengetahui potensi suatu daerah dalam rangka pengkajian
pemanfaatan energi angin di daerah tersebut.
Untuk pemanfaatan energi angin baik sebagai pembangkit listrik (disebut turbin
angin) maupun penggerak mekanik (kincir angin) diperlukan berbagai data dan informasi
mengenai potensi sebuah lokasi, yakni :
• Kecepatan angin di lokasi (rata-rata tahunan, minimal dan maksimal).
• Arah angin dominant dan kurang.
• Distribusi kecepatan angina.
• Pola angin harian, bulanan, dan tahunan.
• Kondisi penuh (angin rendah).
• Daya angin spesifik dan energi dalam satu tahun.
Kondisi topografi disuatu daerah sangat menentukan kontur atau distribusi
kecepatan angin di daerah tersebut dan demikian juga akan mempengaruhi potensi yang
tersedia serta pemilihan tempat pemasangan sebuah turbin angin swbagai pembangkit
listrik, kondisi topografi akan mempengaruhi distribusu dan pola angina di lokasi dan
energi actual yang dihasilkan di lokasi tersebut.

Konversi energi Angin


Pengubahan-pengubahan energi adalah sebagai berikut :
• Pengubahan energi angin (yang memutar sudu) menjadi putaran sudu pada putaran
rendah.
• Pengubahan putaran sudu yang digandeng keporos unit transmisi menjadi putaran
unit transmisi (roda gigi atau sabuk).
• Pengubahan putaran unut transmisi menjadi putaran generator (putaran tinggi).
• Pengubahan putaran generator menjadi energi listrik (tegangan DC atau AC).
Karena tiap komponen konversi memiliki visiensi tersendiri maka tidak semua
energi yang diubah dapat dimanfaatkan, efisiensi total terdiri atas :
 Efisiensi rotor
 Efisiensi unit transmisi
 Efisiensi generator
 Efisiensi baterai
Proses pemanfaatan turbin angina ke pengguna mencakup :
 Untuk turbin angin dengan keluaran listrik searah
- Penyearahan tegangan listrik bolak-balik (AC) ke tegangan searah (DC).
- Penyimpanan listrik dan pengaturan tegangan pada baterai penyimpanan.
- Pembuangan atau pengalihan listrik ke beban lain bila listrik berlebih.
- Penambahan inverter jika listrik yang diperlukan adalah listrik (AC)
 Untuk generator (AC) dengan kapasitas yang lebih besar
Listrik yang dihasilkan oelh generator turbin angina dapat dihubungkan langsung
ke beban, karena toleransi pengaturan tegangan cukup besar maka beban langsung
yang dapat dihubungkan adalah peralatan-peralatan listrik yang menggunakan motor
listrik.

Sebuah system konversi angin untuk pembangkit listrik terdiri atas rotor (naf dan
sudu), kepala rotor, unit transmisi, generator, unit kontrol, unit pengaturan mekanis dan
menara. Untuk pemompaan mekanis terdiri atas rotor, kepala rotor, unit transmisi, ekor
pengarah, engkol, pengaman mekanis, menara.
Beberapa komponen lain sebagai bagian dari system konversi energi angin
keseluruhan adalah :
o Baterai penyimpana untuk menyimpan listrik yang dinyatakan oleh tegangan nominal
(12,24 Volt), kapasitas AH serta karakteristik pengisian dan pengosongan muatan.
o Inventer untuk mengubah tegangan searah menjadi bolak-balik, karakteristik
dinyatakan oleh efisiensi dan kapasitas (dalam Watt da VA).
o Beban pembuangan, suatu beban resistif untuk turbin angina yang digunakan untuk
menampung energi lebih dari unit penyimpanan (baterai) atau berupa saluran
pembuangan pada kincir mekanik untuk pemompaan air.
o Panel monitor untuk meonitori kondisi operasi system konversi energi angin setiap
saat yang dilengkapi dengan peralatan monitoring untuk arus, tegangan dan daya.

Pemanfaatan Energi Angin


Dalam pemanfaatan suatu atau beberapa kincir angin atau turbin angin, konsep
pemanfaatan didasarkan pada hal-hal berikut :
o Sifat pemanfaatan yang spesifik.
o Tempat tersedia.
o Potensi dan pengguan.
o Modus pemanfaatan yang individual kolektif stand alone hubrida interkoneksi atau
desentralisasi.
o Kelas pemanfaatan dalam skala kecil menengah atau besar.
BIOMASSA

Bahan bakar biomassa berasal dari kayu atau sisa-sisa tanaman pertanian. Bahan
ini dapat digunakan secara berkelanjutan , dengan dengan jumlah penggunaan setara
dengan jumlah penanaman, jika hal ini dilakukan tidak ada emisi Karbon Dioksida
karena tumbuhan yang ditanam akan mengonsumsi Karbon Dioksida sebanyak yang
dilepaskan ketika bahan dibakar. Jika energi yang dihasilkan digunakan sebagai
pengganti bahan baker fosil maka, ada pula pengurangan emisi Karbon Dioksida.
Sumber energi Biomassa adalah sumber energi yang berasal adalah sumber energi
dari bahan nabati termasuk limbah yang berasal dari manusia atau hewan. Dilihat dari
sumbernya, biomassa berasal dari hutan, perkebunan, lahan masyarakat (kebun
campuran, tegalan, sawah dan perarangan), dan limbah kota. Energi biomassa merupakan
energi tertua yang telah digunakan sejak peradaban manusia dimulai. Sampai saat inipun
energi biomassa masih tetap digunakan, khususnya di pedesaan. Dewasa ini energi
biomassa khususnya kayu bakar, arang dan limbah pertanian diperkirakan memenuhi ±
35% dari seluruh konsumsi energi di Indonesia. Hal ini disebabkan hampir 65%
penduduk pedesaan menggunakan biogas sebagai sumber energi utama yaitu untuk
memasak, industri pedesaan seperti pembuatan batu bara, genteng, industri kapur,
panadai besi, industri makanan, dan lain sebagainya.
Indonesia sebagai Negara agraris mempunyai potensi biomassa yang relative
besar yang berasal dari limbah pertanian, perkebunan, kehutanan, limbah ternak, dan
limbah kota (sampah). Dengan melihat potensi biomassa yang cukup besar ini maka
pemanfaatannya untuk energi akan memberi kontribusi yang cukup berarti dalam
pemenuhan energi masyarakat. Pada kenyataannya meskipun potensi energi biomassa
relative besar namun pemanfaatannya sampai saat ini belum optimal.

Pemanfaatan Biomassa
Beberapa teknologi konversi biomassa yang dikenal dan telah di manfaatkan
selama ini yaitu proses mikrobiologi, gasifikasi, pirolisa, pembakaran langsung dan
pemadatan (briket), energi yang dihasilkan dengan menggunakan teknoligi tersebut dapat
berupa energi listrik, energi mekanik dan energi panas.
a. Proses Mikrobiologi
Proses mikrobiologi biomassa adalah suatu proses konversi biomassa (limbah ternak,
limbah kota, dan limbah manusia) menjadi biogas melalui proses fermentasi mikrobiologi
dengan menggunakanbakteri dalam kondisi tanpa udara (anaerob). Dalam proses
mikrobiologi ini gas yang dihasilkan merupakan bahan baker yang berkualitas tinggi
(tidak berbau, tidak menimbulkan polusi) dan mempunyai nilai kalori yang tinggi yang
dapat digunakan sebagai sumber energi untuk menghasilkan panas, energi mekanik dan
energi listrik.

b. Proses Gasifikasi
Proses gasifkasi adalah proses konversi secara termokimia. Penguraian biogas yang
menghasilkan gas mampu baker pada suhu yang relative tinggi (kurang dari 900º C) yang
terjadi pada suatu alat yang disebut “Gasifier Reaktor”, bahan baku yang biasa digunakan
dalam gasifikasi biomassa ini yaitu biogas yang terdiri dari limbah pertanian dan kayu,
dalam gasifikasi biogas ini maka yang dimaksudkan adalah gas yang terdiri dari CO2, H2,
CH4, N2, dan CO2.
Dalam gasifier terjadi proses sebagai berikut :
o Proses pengeringan/Penguapan
Kandungan air dalam biomassa diuapkan oleh gas panas dari reaksi oksidasi
pembakaran dibagian bawah reactor, temperatur yang terjadi sekitar 170ºC.
o Proses Pengarangan (Pirolisasi)
Pada proses ini bahan bakar yang telah kering akan mengalami pemanasan pada
temperatur 500-700ºC dan dengan sejumlah udara tertentu akan terjadi pembakaran
tidak sempurna sehingga bahan bakar akan terurai menjadi arang, asam organic, dan
zat lain yang ikut.
o Proses Oksidasi
Setelah tahap proses pembakaran dan pengarangan selesai, selanjutnya terjadi proses
oksidasi, zat-zat yang dihasilkan oleh proses pengarangan dibakar dengan udara yang
terbatas sehingga terjadi pembakaran tidak sempurna, dan menghasilkan gas mampu
bakar, CO, H2, dan CH4. Di samping itu terbentuk juga gas CO2 yang disertai dengan
energi panas, yang nantinya akan digunakan pada proses ini gas yang dihasilkan
dapat langsung diperoleh atau ditarik keluar dari reactor.
o Proses Reduksi
Kelanjutan dari proses oksidasi adalah proses reduksi. Pada proses ini terjadi reaksi
pertukaran uap air dan terjadi reduksi CO2 oleh arang karbon, akibat dari proses ini
jumlah gas mampu bakar yang dihasilkan pada proses oksidasi akan meningkat.
Terjadinya proses reduksi ini pada temperatur 500ºC yang merupakan bagian akhir
dari proses gasifikasi di dalam reactor gasifer.

c. Sebagai Pembangkit Listrik


Gas dari hasil proses gasifikasi secara termomekanis diubah/dikonversi menjadi
tenaga surya dengan menggunakan motor baker dan generator, gas yang masuk ke motor
bakar harus sudah melalui proses pendinginan sampai suhu lingkungan (26-30ºC) dan
proses pembersihan dari partikel debu, limbah, uap air dan zat lain yang dapat
mengakibatkan deposit atau kerak pada mesin.

d. Sebagai Penghasil Panas


Gas yang diperoleh dari proses gasifkasi dimanfaatkan sebagai energi panas. Gas
yang dihasilkan tidak harus melalui proses pendinginan maupun pembersihan, oleh
karenanya system ini lebih sederhana, energi panas ini bisa dimanfaatkan untuk antara
lain tungku ketel, dan penyaringan, system gasifikasi sebagai penghasil panas.

e. Pirolisasi
Pirolisai adalah proses konversi thermodinamika kimia dari biomassa dengan
sejumlah udara yang terbatas atau pembakaran tidak sempurna pada suhu yang relatife
rendah (lebh beasar dari 900ºC). Hasil pirolisasi yang diperoleh sebagian besar adalah
arang, limbah, abu, dan sebagian kecil gas, arang yang dihasilkan dapat digunakan untuk
berbagai tujuan baik untuk menghasilkan energi panas, energi mekanik maupun energi
listrik.
Untuk beberapa limbah kayu seperti seperti serbuk kayu dapat juga dibuat menjadi
briket arang. Briket arang adalah yang diubah bentuk, ukuran dan kerapatannya menjadi
produk yang lebih efisien dalam penggunaannya sebagai bahan bakar. Bahan baku briket
arang menggunakan limbah kayu dengan berbagai jenis, ukuran dan bentuk.
Teknik pembuatan briket arang terdiri dari 2 tahap utama yang berbeda prinsipnnya,
yaitu :
• Proses pengarangan atau karbonisasi dari kayu menjadi serbuk arang.
• Proses pencetakan serbuk arang menjadi briket arang dengan cara dikempa.

f. Pembakaran Langsung
Biomassa dibakar langsung untuk menghasilkan panas. Panas yang dihasilkan dapat
digunakan untuk berbagai tujuan. Di daerah pedesaan pada umumnya biomassa dibakar
lansung untuk kebutuhan memasak, indutri rumah tangga dan lainnya, sedangkan pada
industri kayu yang kapasitas olahnya relatf kecil maka panas yang diperoleh dari
pembakaran limbah biomassa tersebut digunakan terutama untuk mengeringkan produki
kayu tersebut. Pada industri kayu yang kapasitas olahnya relative besar maka pembakaran
pada umumnya digunakan untuk pembangkit listrik.
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO

Potensi tenaga air tersebar hampir di seluruh Indonesia dan diperkirakan


mencapai 75.000 MW, sementara pemanfaatanya baru sekitar 2,5 persen dari potensi
yang ada. Turbin air sebagai alat pengubah energi potensial air menjadi energi torsi atau
putar yang dapat dimanfaatkan sebagai penggerak generator, pompa dan peralatan lain.
Untuk daerah yang mempunyai sumber energi air sangatlah menguntungkan apabila
memanfaatkan teknologi turbin air.
Beberapa kelebihan dari PLTMH antara lain
a. Potensi energi air yang melimpah;
b. Teknologi yang handal dan kokoh sehingga mampu beroperasi lebih dari 15 tahun;
c. Teknologi PLTMH merupakan teknologi ramah lingkungan dan terbarukan;
d. Effisiensi tinggi (70-85 persen).

Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro Di Daerah Terpencil

Negara Indonesia adalah Negara kepulauan yang masih banyak daerah-daerah


yang masih terpencil dan belum ada penerangan listrik dan terjangkau oleh PLN. Padahal
listrik atau penerangan sangat dibutuhkan oleh daerah tersebut agar daerah tersebut tidak
ketinggalan dalam memperoleh informasi yang bertujuan untuk memajukan daerah
tersebut dan dapat meningkatan pruduktifitas masyarakatnya. Oleh karena itu uintuk
memenuhi kebutuhan akan penerangan listrik untuk daerah terpencil perlu diciptakan alat
yang dapat menjangkau tempat terpencil yang murah dan ramah lingkungan, yaitu
Pembangkit Listri Tenaga Mikrohidro.

Pemasangan pembangkit listrik tenaga air atau pembangkit listrik tenaga


mikrohidro (PLTMH) khususnya didaerah terpencil masih perlu dikembangkan melihat
daerah di Indonesia yang banyak sekali gunung dan air terjun yang belum dimafaatkan
secara optimal, dan masih banyak pula daerah terpencil di Indonesia yang belum
terjangkau oleh aliran listrik (PLN) terutama untuk pos-pos TNI di daerah terpencil dan
perbatasan. Sebagai alternatif pembangkit listrik dengan menggunakan diesel (PLTD)
yang menggunakan bahan bakar minyak khususnya solar yang biaya operationalnya lebih
besar dibanding PLTMH, disamping itu PLTMH juga ramah lingkungan.

Dari keadaan tersebut maka perlunya diadakan penelitian dan pengembangan


tentang pemasangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang tentunya dengan bahan
bakunya yang mudah didapat yaitu air, seperti saluran irigasi, sungai kecil yang ada
didataran rendah, atau kepulauan yang tidak memiliki bukit-bukit tetapi air yang
melimpah. Dalam hal ini PLTMH dengan menggunakan sistem cetak miring adalah
dimana air tidak tertahan pada sebuah bendungan. Pada sistem cetak miring, sebagian air
sungai diarahkan ke saluran pembawa kemudian dialirkan melalui pipa pesat (penstock)
menuju turbin. Selepas dari turbin, air dikembalikan lagi kealiran semula, sehingga hal
ini tidak banyak mempengaruhi lingkungan atau mengurangi air yang keperluan
pertanian. Air akan dialirkan kedalam turbin melalui sudu-sudu runner yang akan
memutarkan poros turbin. Putaran inilah yang akan memutarkan generator untuk
menghasilkan energi listrik.

Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) di Jaringan Irigasi

Tujuan dari penerapan pembangkit listrik tenaga mikrohidro di jaringan irigasi


adalah untuk menunjang pembangunan pedesaan melalui peningkatan taraf sosial-
ekonomi masyarakat desa. Jaringan irigasi yang banyak dibangun di daerah pedesaan
untuk menunjang pembangunan pertanian menyimpan potensi tenaga air yang cukup
besar untuk dimanfaatkan bagi PLTM.
Penerapan pembangkit listrik tenaga mikrohidro di jaringan irigasi adalah untuk
mengembangkan potensi tenaga air yang terdapat pada jaringan irigasi menjadi potensi
tenaga listrik, dengan membuat pembangkit listrik tenaga mikrohidro pada bagian-bagian
dari jaringan irigasi yang mempunyai potensi, dan menyalurkan tenaga listrik yang
dihasilkan kepada masyarakat pemakai untuk dimanfaatkan bagi pengembangan potensi
sosial-ekonomi desa (pendidikan, kesehatan, keluarga berencana, keagamaan, pertanian,
peternakan, industri kecil/rumah, kerajinan, ketrampilan, perdagangan dan lain-lain).
Persyaratan Teknis dalam Pembuatan PLTM di Jaringan Irigasi

1. Sistem pengelolaan jaringan irigasi cukup baik, sehingga pendistribusian air


berlangsung secara teratur sepanjang tahun.
2. Debit air yang diperlukan tersedia sepanjang tahun dan dapat dipenuhi oleh debit
sungai rata-rata pada musim kemarau.
3. Tinggi terjun yang cukup, yang bersama-sama dengan debit aliran menghasilkan
potensi tenaga air yang dinyatakan dengan daya sumber.
4. Pembuatan PLTM tidak mengganggu sist em irigasi yang sudah ada, bahkan agar
diusahakan adanya peningkatan/perbaikan.
5. PLTM menggunakan teknologi tepat guna agar pembuatan, pengoperasian dan
pemeliharaannya dapat dilakukan dengan menggunakan tenaga kerja setempat.

Persyaratan Sosio-Ekonomis

1. Potensi listrik tenaga mikrohidro yang ada merupakan sumber daya yang dapat
menunjang pembangunan pedesaan. Potensi sosial-ekonomi desa yang dapat
dikembangkan dengan adanya PLTM cukup besar.
2. Biaya pembuatan PLTM dapat ditanggulangi oleh usaha swadaya masyarakat,
koperasi atau unit usaha swasta kecil dan menengah lainnya.
3. Usaha kelistrikan dari PLTM secara ekonomi dapat dipertanggung jawabkan, dalam
arti potensi konsumen yang ada dapat menyerap produksi listrik yang dihasilkan
dengan harga jual yang ditetapkan berdasarkan prinsip-prinsip pengusahaan.
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA

Pembangkit listrik tenaga surya konsepnya sederhana, yaitu mengubah cahaya


mataha ri menjadi energi listrik. Cahaya matahari merupakan salah satu bentuk energi
dari sumber daya alam. Sumber daya alam matahari ini sudah banyak digunakan untuk
memasok daya listrik di satelit komunikasi melalui sel surya. Sel surya ini dapat
menghasilkan energi listrik dalam jumlah yang tidak terbatas langsung diambil dari
matahari, tanpa ada bagian yang berputar dan tidak memerlukan bahan bakar. Sehingga
sistem sel surya sering dikatakan bersih dan ramah lingkungan.Bandingkan dengan
sebuah generator listrik, ada bagian yang berputar dan memerlukan bahan bakar untuk
dapat menghasilkan listrik. Selain itu gas buang yang dihasilkan dapat menimbulkan
efek gas rumah kaca (green house gas) yang pengaruhnya dapat merusak ekosistem
planet bumi kita. Sistem sel surya yang digunakan di permukaan bumi terdiri dari panel
sel surya, rangkaian kontroler pengisian (charge controller), dan aki (batere) 12 volt
yang maintenance free.
Panel sel surya merupakan modul yang terdiri beberapa sel surya yang digabung
dalam hubungkan seri dan paralel tergantung ukuran dan kapasitas yang diperlukan.
Yang sering digunakan adalah modul sel surya 20 watt atau 30 watt. Modul sel surya itu
menghasilkan energi listrik yang proporsional dengan luas permukaan panel yang
terkena sinar matahari. Rangkaian kontroler pengisian aki dalam sistem sel surya itu
merupakan rangkaian elektronik yang mengatur proses pengisian akinya. Kontroler ini
dapat mengatur tegangan aki dalam selang tegangan 12 volt plus minus 10%. Bila
tegangan turun sampai 10,8 volt, maka kontroler akan mengisi aki dengan panel surya
sebagai sumber dayanya. Tentu saja proses pengisian itu akan terjadi bila berlangsung
pada saat ada cahaya matahari. Jika penurunan tegangan itu terjadi pada malam hari,
maka kontroler akan memutus pemasokan energi listrik. Setelah proses pengisian itu
berlangsung selama beberapa jam, tegangan aki itu akan naik. Bila tegangan aki itu
mencapai 13,2 volt, maka kontroler akan menghentikan proses pengisian aki itu.
Rangkaian kontroler pengisian itu sebenarnya mudah untuk dirakit sendiri. Tapi,
biasanya rangkaian kontroler ini sudah tersedia dalam keadaan jadi di pasaran. Memang
harga kontroler itu cukup mahal kalau dibeli sebagai unit tersendiri.
Kebanyakan system sel surya itu hanya dijual dalam bentuk paket lengkap yang
siap pakai. Jadi, sistem sel surya dalam bentuk paket lengkap itu jelas lebih murah
dibandingkan dengan bila merakit sendiri. Biasanya panel surya itu letakkan dengan
posisi statis menghadap matahari. Padahal bumi itu bergerak mengelilingi matahari.
Orbit yang ditempuh bumi berbentuk elip dengan matahari berada di salah satu titik
fokusnya. Karena matahari bergerak membentuk sudut selalu berubah, maka dengan
posisi panel surya itu yang statis itu tidak akan diperoleh energi listrik yang optimal.
Agar dapat terserap secara maksimum, maka sinar matahari itu harus diusahakan
selalu jatuh tegak lurus pada permukaan panel surya. Jadi, untuk mendapatkan energi
listrik yang optimal, sistem sel surya itu masih harus dilengkapi pula dengan rangkaian
kontroler optional untuk mengatur arah permukaan panel surya agar selalu menghadap
matahari sedemikian rupa sehingga sinar mahatari jatuh hampir tegak lurus pada panel
suryanya. Kontroler seperti ini dapat dibangun, misalnya, dengan menggunakan
mikrokontroler 8031. Kontroler ini tidak sederhana, karena terdiri dari bagian perangkat
keras dan bagian perangkat lunak. Biasanya, paket sistem sel surya yang lengkap belum
termasuk kontroler untuk menggerakkan panel surya secara otomatis supaya sinar
matahari jatuh tegak lurus. Karena itu, kontroler macam ini cukup mahal. Contoh PLTS
Aplikasi Mandiri.

Sistem Kelistrikan PLTS


Inti dari alat Power conditioner adalah inverter, yaitu komponen listrik yang
berfungsi sebagai perubah listrik DC menjadi listrik AC. Power conditioner selain
berfungsi untuk menghasilkan listrik AC yang bersih juga mengkontrol agar tegangan
keluarannya berada dalam batas tegangan yang diperbolehkan.
Beberapa fungsi lain power conditioner dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Sebagai switch yang mengontrol dimulainya dan dihentikannya kerja sistim,
mendeteksi islanding ‘Islanding adalah kondisi ketika terjadi pemutusan aliran listrik
pada jaringan distribusi yang dimiliki oleh perusahaan listrik sedangkan PLTS tetap
bekerja’. Hal ini terjadi misalnya apabila timbul kerusakan pada jaringan distribusi
listrik. Bila ini terjadi akan membahayakan pekerja yang akan memperbaiki
kerusakan-kerusakan yang ada. Disini power conditioner berfungsi untuk
mendeteksi terjadinya islanding dan dengan segera menghentikan kerja PLTS.
2. Pengontrol maksimum tenaga listrik, tenaga listrik yang dihasilkan oleh solar panel
tergantung pada suhu udara dan kuatnya cahaya. Pada suatu nilai suhu dan kuatnya
cahaya, hubungan antara tenaga, tegangan dan arus listrik yang dihasilkan oleh solar
panel.Disini fungsi dari power conditioner adalah bagaimana mengontrol agar tenaga
listrik yang diproduksi menjadi maksimum. Hal ini disebut dengan istilah /MPPT
(Maximum Power Point Tracking).
SODIS

Di saat hampir semua harga melambung, perlu tindakan nyata untuk memperoleh
barang atau jasa dengan biaya seminimal mungkin. Salah satunya, mengonsumsi air sodis
dengan bantuan pemanasan tenaga matahari.

Sodis, akronim dari Solar Water Disinfection, adalah metode penyehatan air
minum yang dilakukan dengan menjemurnya di bawah matahari. Metode ini
dikembangkan pada 1991 oleh Pusat Riset Air dan Sanitasi EAWAG-SANDEC yang
berbasis di Swiss. Pelopornya Profesor Aftim Acra, pengajar di American University,
Beirut, Libanon.

Sodis adalah air yang diperoleh dengan cara atau proses pemanasan sinar
matahari (The solar water disinfection) yaitu proses radiasi dengan sinar matahari untuk
mematikan bakteri pathogen. Sinar matahari mengandung energi panas dan akan
memanaskan air dalam botol. Kekuatan sinar ultra violet beserta panas dalam air
kemudian bersatu membunuh seluruh kuman atau bakteri yang ada.

Langkah yang harus dilakukan, menyiapkan botol kosong warna bening, cuci dan
isi dengan air mentah sampai penuh hingga tidak ada udara kosong. Botol dijemur di
tempat terbuka agar terkena sinar matahari langsung. Persiapkan kain, plastik atau seng
warna hitam sebagai alas. Jika cuaca panas lakukan radiasi atau pemanasan minimal
selama 6 jam untuk memperoleh suhu di atas 50 C. Air dalam botol tersebut sudah dapat
diminum langsung dan tidak perlu dimasak lagi.

Memang amat sederhana, tapi uji laboratorium membuktikan Sodis membunuh


sebagian besar kuman sehingga air siap minum, bila air dibiarkan minimal enam jam di
bawah sinar ultraviolet matahari dan panas di atas 45 derajat Celsius, sebagian besar
kuman di dalamnya mati ”terebus”. Di antaranya bakteri tifus, kolera, disentri, hingga
Escherichia coli penyebab diare.

Sepuluh tahun lalu, metode ini diperkenalkan di Indonesia oleh Yayasan Dian
Desa, lembaga swadaya masyarakat yang berbasis di Yogyakarta. Mereka menguji coba
metode ini di Lombok Timur dan Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Hasilnya
menakjubkan, yaitu kematian bayi karena diare di kedua tempat itu menurun hingga 50
persen dalam waktu 12 bulan. Sodis juga cocok dengan Indonesia yang berada di garis
khatulistiwa dan berlimpah cahaya matahari. Metode ini kian penting saja karena,
menurut Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari pada Februari lalu, sekitar 40 persen
orang Indonesia belum mendapatkan akses pada air bersih. Namun Sodis bukan tanpa
kekurangan, metode ini tidak membunuh semua kuman, jadi bayi di bawah umur dua
tahun tak dapat meminumnya.
Mikroorganisme yang terbunuh oleh metode Sodis :
- Baktei : Eschercia Coli, Faecalis P. Aeugenosa, S. Flexnori
- Virus : Vibrio Choleia, Bakteriophage, Rotavirus, Enchhephalomy
carditis virus
- Ragi dan Jamur : Aspergillus Nigel, Aspergillus flafus, candida, Geotrikum.