Anda di halaman 1dari 11

Menentukan Kuat Tekan Optimum Beton Dengan Perbandingan

Komposisi Kerikil Asal Batang Kuantan Dan


Batu Pecah Asal Bangkinang

Rony Ardiansyah dan Sefyet


Jurusan Teknik Sipil Universitas Islam Riau
Jl. Kaharuddin Nasution 113 Pekanbaru-28284

Abstrak

Kalau dilihat perkembangan dunia struktur di Indonesia semakin meningkat pesat dan
diimbangi dengan bahan bangunan yang memiliki keunggulan-keunggulan, salah satu
diantaranya yaitu struktur beton. Disini yang mempengaruhi kuat tekan beton salah satunya
agregat kasar yang digunakan, yang mana agregat kasar terdiri dari batu pecah dan batu bulat
(kerikil). Batu pecah bentuk permukaan butirannya relatif kasar dan sangat baik untuk mutu
beton tinggi sedangkan kerikil butirannya relatif halus tidak cocok untuk mutu beton tinggi,
maka dari itu dicoba melakukan penelitian mencampurkan dua agregat tersebut untuk
mencapai kuat tekan beton tinggi. Metode pencampuran beton (mix design) menggunakan
mix design standar SK SNI T-15-1990-03.
Penelitian yang dilakukan disini menggunakan 5 (lima) variasi campuran yaitu, 10% kerikil
90% batu pecah, 30% – 70%, 50% – 50%, 70% – 30% dan 90% – 10%. Hasil dari penelitian
tersebut kuat tekan yang dicapai yaitu, untuk campuran 10% – 90% kuat tekan yaitu 38,53
MPa, 30% – 70% = 38,25 MPa, 50% – 50% = 35,41 MPa, 70% – 30% = 35,07 MPa dan
90% – 10% kuat tekan yang dicapai 32,92 MPa. Kuat tekan beton cenderung bertambah
seiring dengan penambahan prosentase batu pecah kuat, dengan campuran optimum 100%
batu pecah dan 0% krikil menunjukkan kekuatan maksimum sebesar 43,41 Mpa.

Kata-kata Kunci: variasi campuran, beton, agregat, batu bulat, batu pecah dan uji kuat
tekan.

If seen [by] structure world growth in Indonesia progressively mount fast and made
balance to with construction material owning excellence, one of [the] among others
that is concrete structure. Here influencing strength depress concrete one of them
used harsh aggregate, which harsh aggregate consist of stone break and circular stone
( gravel). Stone break form surface [of] its item [is] harsh relative and very good to
quality of high concrete while its item gravel relative incompatible refinement to
quality of high concrete, hence from that tried to [do/conduct] research mix two the
aggregate to reach strength depress high concrete. method Mixing [of] concrete
( design mix) using SK SNI T-15-1990-03 standard design mix
[done/conducted] Research here use 5 ( mixture variation [of] lima) that is, 10%
gravel 90% stone break, 30 - 70%, 50 - 50%, 70 - 30% and 90 - 10%. Result from the
research [of] strength depress reached that is, for the mixture of 10 - 90% strength
depress that is 38,53 MPA, 30 - 70 = 38,25 MPA, 50 - 50 = 35,41 MPA, 70 - 30 =
35,07 MPA and 90 - 10% strength depress reached 32,92 MPA. Strong depress
concrete tend to to increase along with addition of[is percentage of stone break
strength, with optimum mixture 100% stone break and 0% krikil show maximum
strength equal to 43,41 Mpa
1. PENDAHULUAN
Beton dipakai secara luas sebagai bahan bangunan dalam dunia konstruksi, terutama
karena nilai ekonominya yang baik. Sebagai salah satu material utama dalam konstruksi,
beton senantiasa dikembangkan, mulai dari penelitian dan percobaan-percobaan yang telah
dilakukan. Tujuan dari pengembangan ekonomi beton ialah untuk mendapatkan sifat
mekanis yang optimal dengan harga yang relatif murah. Salah satu cara untuk mendapatkan
sifat mekanis beton yang baik ialah dengan cara mengoptimalkan bahan-bahan pembentuk
campuran beton tersebut.
Beton yang baik adalah beton yang memenuhi syarat suatu peraturan beton
Indonesia dan menjamin bangunan tersebut akan tahan lama, sesuai target yang diinginkan,
tinggi rendahnya nilai kekuatan beton sangat tergantung dari kualitas bahan-bahan
pembentuk beton yaitu air, semen dan agregat. Disamping itu kekuatan tersebut harus
disesuaikan dengan kondisi atau pencampuran beton dalam konstruksi karena apabila dalam
pelaksanaan ternyata mengalami kesukaran dalam pencampuran maka akibatnya nilai
kekuatan beton akan menurun.
Kemajuan pengetahuan tentang teknologi beton telah dapat memenuhi berbagai
tuntutan tertentu, misalnya pemakaian bahan lokal yang dapat diperoleh disuatu daerah
tertentu dengan mengubah perbandingan bahan dasar yang sesuai, maupun cara pengerjaan
yang cocok dengan kemampuan pekerja, serta kebutuhan penampilan yang sesuai. Saat ini
pengetahuan cara pembuatan beton tampaknya lebih populer daripada pengetahuan tentang
bahan dasarnya (Tjokrodimuljo, 1997: 1).
Dari keterangan diatas maka dicoba melakukan pencampuran dua agregat yang
berbeda yaitu batu bulat dan batu pecah untuk mencapai kuat tekan maksimum dari beton
tersebut.

2. TINJAUAN PUSTAKA
Beberapa hasil penelitian yang pernah dilakukan tentang hubungan rencana
campuran dengan kuat tekan beton menunjukkan hasil anatara lain sebagai berikut ini.
Rusdi (2004) melakukan penelitian tentang “Perancangan Campuran Beberapa Mutu
Beton Dengan Menggunakan Agregat Asal Sungai Batang Kuantan” (untuk fc’=17,5 Mpa
dan untuk fc’=22,5 Mpa), dengan mix design Standar SK SNI T-15-1990-03. Dari hasil
penelitian menunjukkan mutu beton yang menggunakan material kerikil (alami)
menghasilkan mutu beton yang direncanakan, tetapi untuk beton mutu tinggi tidak tercapai,
berarti agregat asal Sungai Batang Kuantan tidak bisa digunakan untuk beton mutu tinggi
tanpa adanya zat tambahan aditif lainnya.
Indartha (2002) melakukan penelitian tentang “Pembuatan Beton Dengan
Menggunakan Bahan Campuran Batu Granit” metode yang digunakan SK SNI T-15-1991-
03. Hasil penelitian menunjukkan mutu beton yang menggunakan material batu granit (fc’=
278,86 kg/cm2) lebih baik dari mutu beton yang menggunakan kerikil biasa (fc’= 185,906
kg/cm2) dengan memakai cara pembuatan beton yang sama, yaitu memakai volume 1:2:3
dimana Volume wadahnya adalah 14,5241.

3. LANDASAN TEORI
Beton merupakan bahan gabungan yang terdiri dari agregat kasar dan halus
yang dicampur dengan air dan semen sebagai pengikat dan pengisi antara agregat
kasar dan halus, kadang-kadang ditambahkan addictif atau admixture bila diperlukan
(Subakti, 1999: 1). Sifat agregat yang paling berpengaruh terhadap kekuatan beton
ialah kekasaran permukaan dan ukuran maksimumnya. Permukaan yang halus pada
kerikil dan kasar pada batu pecah berpengaruh pada lekatan dan besar tegangan saat
retak-retak beton mulai mulai terbentuk. Oleh karena itu kekasaran permukaan ini
berpengaruh terhadap kurva tegangan-regangan tekan beton, dan terhadap kekuatan
betonnya. Akan tetapi bila adukan beton didasarkan pada nilai slump yang sama
besar, pengaruh tersebut tidak tampak karena agregat yang permukaannya halus
memerlukan air yang lebih sedikit, berarti faktor air semennya rendah yang
menghasilkan kuat tekan beton yang lebih tinggi.

4. METODE PENELITIAN

Lokasi penelitian dilakukan dilaboratorium beton Fakultas Teknik Univesitas Islam Riau,
laboratorium dipakai untuk melakukan pemeriksaan material, mix design, pembuatan benda
uji, pengujian slump, pengujian berat isi dan pengujian kuat tekan. Bahan-bahan yang
digunakan dalam penelitian sebagai berikut ini.
1. Semen, yaitu semen Portland tipe I (Semen Padang)
2. Agregat Halus, dimana agregat halus berupa pasir yang diambil dari quary
Teratak Buluh.
3. Agregat Kasar, berupa kerikil yang diambil dari quary Sungai Batang
Kuantan dan Batu Pecah dariBangkinang.
4. Air, diambil dari air sumur bor di Fakultas Teknik Universitas Islam Riau
Pekanbaru.
Sedangkan persen campuran yang digunakan lima variasi campuran yaitu sebagai
berikut ini.Variasi campuran : K1 = 10% Kerikil, 90% Batu pecah, K2 = 30%
Kerikil, 70% Batu pecah, K3 = 50% Kerikil, 50% Batu pecah, K4 = 70% Kerikil,
30% Batu pecah, K5 = 90% Kerikil, 10% Batu pecah, K6 = 100% Kerikil Batang
Kuantan, dan K7 = 100% Batu pecah Bangkinang.
Dalam perhitungan hasil penelitian perencanaan mutu beton dengan menggunakan
dua agregat yaitu batu pecah dan kerikil, penelitian dilakukan dengan perbandingan
berapa persen batu pecah yang digunakan untuk mencapai kuat tekan optimum beton
dengan mutu beton rencana fc’ = 25 Mpa , kemudian melakukan perbandingan
antara pelaksanan penelitian dan perhitungan (mix design) penulis menggunakan mix
design standar SK SNI T-15-1990-03.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Materal Benda Uji

Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah yang telah memenuhi persyaratan
yang terdapat dalam SK SNI T-15-1993, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1
berikut ini.
Tabel 1 Material benda uji
No Bahan-bahan Keterangan
1. Semen Semen Padang type I
2. Agregat Halus Pasir dari Quary Teratak Buluh
Menggunakan batu bulat (kerikil) dari sungai Batang
3. Agregat Kasar
Kuantan dan batu pecah dari Bangkinang
Diambil dari sumur bor Fakultas Teknik Universitas Islam
4. Air
Riau

3.2. Distribusi Ukuran Butir Material


Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan pembagian butir (gradasi) material yaitu
agregat halus dan agregat kasar, yaitu batu kerikil dan batu pecah, yang mana hasil
pemeriksaannya dapat dilihat pada Gambar 1, 2 dan 3 berikut ini.

120
Lolos Saringan (%)

95,9 99 99,55 100


100 100 87,65
100 100
80 90 95 95
50 80
60
40 35,6
20 15
1,3 15
0 0,4 0,3
0,075 0,15 0,3 0,6 1,2 2,4 4,8 9,6 19 38
Ukuran Saringan (mm)

Batas Baw ah % Lolos Batas Atas

Gambar 1 Distribusi ukuran butir pasir Teratak Buluh


Pada Gambar diatas dapat dilihat pasir Teratak Buluh termasuk pada zona 4 menurut SK SNI
T-5-1993.

Sedangkan hasil pemeriksaan untuk ukuran material batu pecah Bangkinang dapat dilihat
pada gambar 2 berikut ini.
Lolos Saringan (%)

120
100 100
80 78
60
40
20 25,76
0 4,2 0 4,24
4,75 9,5 12,7 19,1 25,4 38,5
Ukuran Saringan (mm)

% Lolos

Gambar 2 Distribusi ukuran batu pecah Bangkinang

Untuk distribusi ukuran kerikil sungai Batang Kuantan dapat dilihat pada gambar 3 berikut
ini.
Lolos Saringan (%)

120
100 100
88,48
80
60 52,88
40
20
11,28
0 0,08 1,36
4,75 9,5 12,7 19,1 25,4 38,5
Ukuran Saringan (mm)

% Lolos

Gambar 3 Distribusi ukuran kerikil sungai Batang Kuantan


3.3. Berat Isi Material

Pemeriksaan berat isi didefenisikan sebagai perbandingan antara agregat kering dan
volumenya, hasil pembahasan dapat dilihat pada table 2 berikut.
Tabel 2 Berat isi agregat
Berat Isi (gram/cm³) Berat Isi rata-rata
Material
Lepas/Gembur Padat (gram/cm³)
Pasir Teratak Buluh 1,095 1,370 1,2325
Kerikil Batang Kuantan 1,60 1,764 1,682
Batu Pecah Bangkinang 1,429 1,620 1,5245

3.4. Berat Spesifik Serta Penyerapan Air Material

Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan berat jenis dari semua agregat halus dan kasar
serta penyerapan airnya, hasil pemeriksaan dapat dilihat pada tabel 3 berikut.
Tabel 3 Pemeriksaan berat spesifik dan penyerapan air material
Material Berat Spesifik (gram) Penyerapan Air (%)
Pasir Teratak Buluh 2,61 0,8
Kerikil Batang Kuantan 2,58 1,297
Batu Pecah Bangkinang 2,64 1,30

3.5. Pemeriksaan Kadar Lumpur

Untuk kadar Lumpur dapat dilihat pada Tabel 4 berikut.


Tabel 4 Pemeriksaan kadar Lumpur material
Material Kadar Lumpur (%)
Pasir Terak Buluh 1,32
Kerikil Batang Kuantan 0,1
Batu Pecah Bangkinang 0,13

3.6. Pemeriksaan Kadar Air

Apabila tidak dalam keadaan jenuh kering permukaan proporsi campuran harus dikoreksi
kandungan dalam air agregat. Hasil pemeriksaan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut.
Tabel 5 Kadar air material
Material Kadar Air (%)
Pasir Terak Buluh 0,48
Kerikil Batang Kuantan 0,56
Batu Pecah Bangkinang 0,65

3.7. Mix Design

Untuk komposisi campuran teoritis dan kondisi lapangan untuk perencanaan beton dapat
dilihat pada Tabel 6 berikut ini.
Tabel 6 Komposisi campuran teoritis untuk perencanaan beton dengan berbagai persen
campuran agregat Batang Kuantan dan Agregat Bangkinang untuk kondisi SSD
dan Lapangan.
Persen Untuk Banyaknya Semen Agregat Agregat Air
Campuran Kondisi Bahan (Kg) Halus (Kg) Kasar (Kg) (Liter)

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)


Untuk 1 m³ 368 456,5 1369,5 184
Perbandingan 1 1,239 3,721 0,5
SSD
Tiap 1 sak
50 61,95 186,05 25
semen
10%-90%
Untuk 1 m³ 368 455,04 1360,74 194,22
Perbandingan 1 1,24 3,70 0,53
Lapangan
Tiap 1 sak
50 62 185 26,5
semen
Untuk 1 m³ 368 456,25 1368,75 184
Perbandingan 1 1,240 3,719 0,5
SSD
Tiap 1 sak
50 62 185,95 25
semen
30%-70%
Untuk 1 m³ 368 454,79 1359,99 194,22
Perbandingan 1 1,24 3,69 0,53
Lapangan
Tiap 1 sak
50 62 184,5 26,5
semen
Tabel 6 (Lanjutan)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Untuk 1 m³ 368 455,75 1367,25 184
Perbandingan 1 1,238 3,715 0,5
SSD
Tiap 1 sak
50 61,9 185,75 25
semen
50%-50%
Untuk 1 m³ 368 454,29 1358,50 194,21
Perbandingan 1 1,23 3,68 0,53
Lapangan
Tiap 1 sak
50 61,5 184 26,5
semen
Untuk 1 m³ 368 455,5 1366,5 184
Perbandingan 1 1,24 3,63 0,5
SSD
Tiap 1 sak
50 62 181,85 25
semen
70%-30%
Untuk 1 m³ 368 454,04 1357,75 194,21
Perbandingan 1 1,23 3,68 0,53
Lapangan
Tiap 1 sak
50 61,5 184 26,5
semen
Untuk 1 m³ 368 444,75 1354,25 184
Perbandingan 1 1,21 3,68 0,5
SSD
Tiap 1 sak
50 60,5 184 25
semen
90%-10%
Untuk 1 m³ 368 443,33 1345,58 194,09
Perbandingan 1 1,20 3,65 0,53
Lapangan
Tiap 1 sak
50 60 182,5 26,3
semen
100% SSD Untuk 1 m³ 368 455,5 1366,5 184
(Kerikil) Perbandingan 1 1,238 3,713 0,5
Tiap 1 sak 50 61,95 185,65 25
semen
Lapangan Untuk 1 m³ 368 454,04 1357,75 194,21
Perbandingan 1 1,23 3,68 0,53
Tiap 1 sak 50 61,5 184 26,5
semen
100% SSD Untuk 1 m³ 368 456,5 1369,5 184
(BPC) Perbandingan 1 1,239 3,721 0,5
Tiap 1 sak 50 61,95 186,05 25
semen
Lapangan Untuk 1 m³ 368 455,04 1360,74 194,22
Perbandingan 1 1,23 3,69 0,53
Tiap 1 sak 50 61,5 184,5 26,5
semen

3.8 Hasil Nilai Slump


Dari penelitian yang dilakukan diperoleh hasil slump dari tiap persentase campuran, untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 7 berikut ini.
Tabel 7 Pemeriksaan Hasil Slump
Campuran Nilai Slump (mm)
K1 61
K2 63
K3 62
K4 65
K5 63
K6 62
K7 61
.
3.9. Analisa Berat Isi Beton

Hasil dari pengujian ini dimaksudkan sebagai pegangan dalam pengujian untuk menentukan
berat isi beton segar serta banyaknya semen permeter kubik, untuk penjelasan dapat dilihat
pada tabel 8 berikut.
Tabel 8 Berat isi beton rata-rata dan banyaknya semen permeter kubik
Campuran Berat Isi Rata-rata Semen Permeter Kubik
(Kg/Ltr) (Zak/m³)
(1) (2) (3)
K1 2,44 6,67
K2 2,49 6,80
K3 2,54 6,89
K4 2,58 7,14
K5 2,62 7,14
K6 2,66 7,25
K7 2,67 7,26
Variasi campuran : K1 = 10% Kerikil, 90% Batu pecah
K2 = 30% Kerikil, 70% Batu pecah
K3 = 50% Kerikil, 50% Batu pecah
K4 = 70% Kerikil, 30% Batu pecah
K5 = 90% Kerikil, 10% Batu pecah
K6 = 100% Kerikil Batang Kuantan
K7 = 100% Batu pecah Bangkinang
3.10. Analisis Kuat Tekan Beton

Untuk pengujian kuat tekan beton pada penelitian ini dilakukan pada umur 28 hari saja, dari
hasil pengujian dengan menggunakan alat kuat tekan didapat hasil kuat tekan dari 5 (lima)
variasi campuran tersebut, analisanya dapat dilihat pada tabel 8 berikut.
Tabel 9 Rangkuman kuat tekan beton dengan berbagai variasi campuran antara batu bulat
dan batu pecah
Umur Beban (KN)
(Hari) K1 K2 K3 K4 K5 K6 K7
28 765 760 720 740 750 610 980
28 790 950 820 835 825 830 930
28 865 825 760 710 690 820 920
28 980 840 825 810 640 835 1000
Dari tabel 9 didapat beban yang diperoleh dari masing-masing variasi campuran

Tabel 10 Kuat tekan beton


Umur Kuat Tekan (Mpa)
(Hari) K1 K2 K3 K4 K5 K6 K7
28 34,68 34,45 32,64 33,54 34,00 27,65 44,42
28 35,81 43,07 37,17 37,85 37,40 37,63 42,16
28 39,21 37,40 34,45 32,18 31,28 37,17 41,71
28 44,43 38,08 37,40 36,72 29,01 37,85 45,33
Fc’r 38,53 38,25 35,41 35,07 32,92 35,08 43,41

Dari Tabel 9 dan 10 dapat dilihat hasil dari pengujian kuat tekan beton mengalami
peningkatan seiring bertambahnya penggunaan batu pecah (agregat Bangkinang), dalam hal
ini kuat tekan beton optimum yaitu dengan agregat kasar campuran 10% agregat Batang
Kuantan, 90% agregat Bangkinang, kuat tekan yang dicapai 38,53 Mpa, peningkatan kuat
tekan ini dapat dilihat pada Gambar 4 berikut ini.
Kuat Tekan Beton (Mpa)

50
43,41
40 38,53 38,25 35,41 35,07 32,92 35,08
30
20
10
0
K1 K2 K3 K4 K5 K6 K7
Persentase Cam puran (%) Um ur 28 Hari

Kuat Tekan Beton (Mpa)

Gambar 4 Perkembangan kuat tekan beton dengan beberapa persen campuran yang
berbeda antara agregat Batang Kuantan dan agregat Bangkinang

Hubungan kuat tekan beton terhadap berat isi beton dapat dilihat pada Gambar 5.5 berikut
ini.
Keterangan : 43,41 Mpa kuat tekan untuk 100% Batu pecah Bangkinang
35,08 Mpa kuat tekan untuk 100% Kerikil Batang Kuantan
38,53 Mpa kuat tekan untuk 10% Kerikil, 90% Batu pecah
38,25 Mpa kuat tekan untuk 30% Kerikil, 70% Batu pecah
35,41 Mpa kuat tekan untuk 50% Kerikil, 50% Batu pecah
35,07 Mpa kuat tekan untuk 70% Kerikil, 30% Batu pecah
32,92 Mpa kuat tekan untuk 90% Kerikil, 10% Batu pecah
Berta Isi Beton (Kg/cm3)

2,7 2,66 2,67


2,62
2,58
2,6 2,54
2,49
2,5 2,44
2,4
2,3
32,92 35,07 35,41 38,25 38,53 35,08 43,41
Kuat Tekan Beton Pada Um ur 28 Hari Dari Tiap Masing Persen Cam puran
(Mpa)

Berat Isi Beton (Kg/cm 3)

Gambar 5 Hubungan Kuat Tekan Beton Dengan Berat Isi Beton

Dari Gambar 5.5 di atas dapat dijelaskan bahwa kuat tekan beton semakin meningkat seiring
bertambahnya berat isi beton.

3.11. Komparasi Kuat Tekan Beton Terhadap Variasi Campuran

Komparasi ini meliputi: hasil perkembangan kuat tekan beton menggunakan campuran
10% kerikil, 90% batu pecah, 30%-70%, 50%-50%, 70%-30%, 90%-10% serta hasil
perbandingan nilai karakteristik campuran beton dan kuat tekan rencana.
Hasil ini mengetahui perbandingan kuat tekan antara beton dengan kelima campuran
tersebut dan juga perkembangan kekuatan beton tersebut. Perbandingan kuat tekan beton
tersebut dapat dilihat pada Gambar 6 berikut ini.
50
Kuat Tekan Beton

38,53 38,25 43,41


40 35,41 35,07 35,08
32,92

30
(Mpa)

20
10
0
K1 K2 K3 K4 K5 K6 K7

Variasi Campuran

Gambar 6 Perkembangan kuat tekan beton menggunakan beberapa variasi campuran

Pada Gambar 5.6 diatas dapat terlihat perbedaan kekuatan rata-rata beton antara beton
menggunakan campuran 10% kerikil, 90% batu pecah, 30%-70%, 50%-50%, 70%-30%,
90%-10%, dimana beton dengan campuran 10%-90% memiliki kuat tekan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan persen campuran lainnya.
3.12. Analisis Kuat Tekan Beton Dengan Regresi

Dari hasil kuat tekan didapat persentase kuat tekan beton dari campuran 10% kerikil,
90% batu pecah, 30%-70%, 50%-50%, 70%-30% dan 90%-10%, dapat dilihat pada Gambar
7 dibawah ini.
Kuat Tekan Beton (Mpa)

40 38,25
38
38,53 35,07
36
34 35,41
32 y = -3,409Ln(x) + 39,3 32,92
30 R2 = 0,8474
28
90% 70% 50% 30% 10%
% Batu Pecah Terhadap Kerikil Pada Umur 28 Hari

Kuat Tekan Beton (Mpa) Log. (Kuat Tekan Beton (Mpa))

Gambar 7 Grafik kuat tekan beton dengan persentase batu pecah terhadap kerikil pada umur
28 hari

Dari Gambar 7 di atas dapat dijelaskan bahwa beton dengan mencampurkan


beberapa persen campuran mempunyai kolerasi R2 = 0,847 yang hampir mendekati satu, ini
membuktikan bahwa beton yang dicampurkan dengan dua agregat yang berbeda mempunyai
mutu yang bagus, yang mana dari gambar di atas kuat tekan rata-ratanya di atas 30 Mpa jauh
dari kuat tekan yang direncanakan yaitu 25 Mpa.

4. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelunnya, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Semakin banyak menggunakan batu pecah maka semakin tinggi kuat tekan yang dicapai,
dimana 10% kerikil, 90% batu pecah kuat tekan yang dicapai sebesar 38,53 Mpa,
sedangkan 30%-70% kuat tekan yang dicapai sebesar 38,25 Mpa, 50%-50% kuat
tekannya sebesar 35,41 Mpa, 70%-30% kuat tekan yang dicapai yaitu 35,07 Mpa dan
untuk campuran 90%-10% kuat tekan yang dicapai yaitu 32,92 Mpa, mencapai kuat
tekan rencana yaitu 25 Mpa, disini peneliti mengambil umur 28 hari saja.
2. Dengan mencampurkan kerikil Batang Kuantan dan batu pecah Bangkinang kuat tekan
optimumnya yaitu pada pencampuran 10% kerikil Batang Kuantan 90% batu pecah
Bangkinang, kuat tekan yang dicapai yaitu 38,53 Mpa.
3. Semakin besar berat isi beton maka semakin tinggi kuat tekan yang dicapai, dimana kuat
tekan 32,92 Mpa berat isi beton yaitu 2,44 kg/cm3, kuat tekan 35,07 Mpa berat isi yaitu
2,49 kg/cm3, kuat tekan 35,41 Mpa berat isi 2,54 kg/cm3, kuat tekan 38,25 Mpa berat isi
2,58 kg/cm3 dan kuat tekan 38,53 Mpa berat isi betonnya 2,62 kg/cm3.

Saran
1. Dari hasil penelitian yang dilakukan maka campuran kerikil Batang Kuantan dan batu
pecah Bangkinang sebaiknya digunakan untuk bangunan dengan mutu beton tinggi
(kelas III) atau kuat tekan beton dengan kuat tekan karakteristik diatas 22,5 Mpa seperti:
bangunan bertingkat, karena kuat tekan rata-rata diatas 30 Mpa.
2. Untuk Industri beton (Ready Mix), bahwa pencampuran kerikil dengan batu pecah bisa
digunakan untuk beton mutu tinggi dengan tanpa mengurangi kualitas dan kuantitas dari
beton tersebut.
3. Untuk mendapatkan mutu beton yang lebih baik lagi disarankan agar memperhatikan
beberapa faktor seperti Faktor Air Semen (FAS), kualitas agregat kasar, kualitas agregat
halus, pengujian material, pengecaoran beton, serta pemadatan.
Daftar Pustaka
Dipohusodo, I., 1999, Struktur Beton Bertulang, SK SNI T-15-1991-03, Departemen
Pekerjaan Umum RI.
Mulyono, Tri., 2004, Teknologi Beton, Edisi I, Andi Yogyakarta.
Rooseno, R., 1980, Beton Bertulang, Ghalia Indonesia, Jakarta.
Soetjipto, 1980, Konstruksi Beton, Edisi I Dept. DikBud, Jakarta.
Tjokrodimuljo.K., 1997, Teknologi Beton, Nafiri, Yogyakarta.