Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Pengetahuan mengenai kelarutan ini penting untuk ahli farmasi,
sebab dapat membantu dalam memilih medium pelarut yang baik untuk
obat atau kombinasi obat, membantu dalam mengatasi kesulitan-kesulitan
tertentu yang timbul pada waktu pembuatan larutan farmasetika dan lebih
jauh lagi, dapat bertindak sebagai standar atau uji kemurnian.
Dalam bidang farmasi bentuk-bentuk sediaan obat bervariasi, yaitu
dalam sediaan padat misalnya serbuk, tablet, kapsul dll, dalam bentuk
semipadat misalnya emulsi, salep, dan dalam bentuk cair misalnya sirup.
Selain itu sifat kelarutan bahan aktif juga dapat digunakan dalam cara
pembuatan suatu sediaan. Bila pelarut pada suhu tertentu melarutkan
semua zat terlarut sampai batas daya melarutkannya, larutan ini disebut
larutan jenuh. Konsentrasi maksimum yang mungkin dipersiapkan oleh
seorang ahli farmasi untuk membuat suatu larutan sangat beragam dan
sebagian tergantung pada keadaan kimia dari zat terlarut. Melalui seleksi
terhadap bahan yang berbeda cara melarutnya atau berbeda bentuk
garam kimia dari bahan obatnya, mengubah pH larutan, mengganti
sebagian pelarut atau seluruhnya, dalam contoh-contoh tertentu seorang
ahli farmasi mungkin akan dapat melarutkan jumlah yang lebih besar dari
zat terlarut daripada dengan cara lain. Sebagai contoh granul yodium
akan larut dalam air hanya sampai tingkat 1 gram dalam kira-kira 3.000 ml
air. Dengan menggunakan hanya dua macam bahan ini, konsentrasi
maksimum yang mungkin adalah kira-kira 0,03 % yodium dalam larutan
air. Bagaimanapun dengan penggunaan larutan air dari kalium iodida atau
natrium iodida sebagai pelarut, jumlah yodium yang jauh lebih besar dapat
dilarutkan karena terbentuknya suatu kompleks yang larut dalam air
dengan garam iodida. Reaksi ini membawa keuntungan, misalnya pada
larutan Topikal Yodium, USP yang dibuat mengandung kira-kira 2 %
yodium dan 2,4 % natrium iodida.
I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1 Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami cara penentuan kelarutan suatu zat
padat dalam cairan pelarut pada berbagai suhu.

I.2.2 Tujuan Percobaan


Menentukan kelarutan asam benzoat dan asam borat dalam pelarut
air pada suhu kamar, 450 C dan 600 C.

I.3 Prinsip Percobaan


Penentuan kelarutan suatu zat padat asam borat dan asam benzoat
pada suhu kamar, 450 C, dan 600 C, dengan cara melarutkan, menyaring,
mengeringkan dan menimbang residu yang larut
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Umum


Kelarutan suatu zat adalah jumlah zat yang terdapat dalam larutan
sedemikian sehingga berada dalam keseimbangan antara zat larut dan
yang masih berbentuk padatan (1).
Pernyataan bagian dalam kelarutan berarti bahwa 1 g zat padat
atau 1ml zat cair dalam sejumlah ml pelarut. Jika kelarutan suatu zat tidak
diketahui dengan pasti, kelarutannya dapat ditunjukkan dengan istilah (2).

Jumlah bagian pelarut


Istilah kelarutan diperlukan untuk melarutkan 1
bagian zat
Sangat mudah larut Kurang dari 1
Mudah larut 1 sampai 10
Larut 10 sampai 30
Agak sukar larut 30 sampai 100
Sukar larut 100 sampai 1000
Sangat sukar larut 1000 sampai10.000
Praktis tidak larut Lebih dari 10.000
Kelarutan obat dapat dinyatakan dalam beberapa cara. Menurut USP
Pharmacopeia dan NF, definisi kelarutan obat adalah jumlah pelarut
dimana akan larut 1 g zat terlarut. Sebagai contoh, kelarutan asam borat
dalam U.S Pharmacopeia dikatakan sebagai 1 gram asam borat larut
dalam 18 mL air, dalam 18 mL alkohol, dan 4 mL gliserin. Kelarutan
secara kuantitatif juga dinyatakan dalam molalitas, molaritas dan
persentase(3).
Adapun faktor-faktor lain yang mempengaruhi kelarutan suatu zat
adalah (1;16) :
- Temperatur
- pH
- Jenis pelarut
- Bentuk dan ukuran partikel zat
- Konstanta dielektroik pelarut
- Adanya zat-zat lain, misalnya surfaktan pembentuk kompleks
ion sejenis dan lain-lain.
Pelepasan zat dari bentuk sediaannya sangat dipengaruhi oleh
sifat-sifat kimia dan fisika zat tersebut serta formulasinya. Pada prinsipnya
obat baru dapat diabsorbsi setelah zat aktifnya terlarut dalam cairan usus,
sehingga salah satu usaha untuk mempertinggi efek farmakologi dari
sediaan adalah dengan menaikkan kelarutan zat aktifnya (4;16).

II.2 Uraian Bahan


1. Asam Benzoat (2;49)
Nama resmi : Acidum Benzoicum
Sinonim : Asam benzoat
RM/BM : C7H6O2 / 122,12
Pemerian : Hablur halus dan ringan, tidak berwarna dan
tidak berbau
Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 350 bagian air,
dalam lebih kurang 3 bagian etanol (95 %)
P, dalam 8 bagian kloroform P dan dalam 3
bagian eter P.
Penyimnpanan : Dalam wadah tertutup baik
Khasiat : Antiseptikum ekstern, antijamur
Kegunaan : Sebagai sampel/zat uji
2. Asam Borat (3;49)
Nama resmi : Acidum Boricum
Sinonim : Asam borat
RM/BM : H3BO3 / 61,82
Pemerian : Hablur, serbuik hablur putih atau sisik
mengkilap tidak berwarna, kasar, tidak
berbau, rasa asamdan pahit kemudian
manis.
Kelarutan : Larut dalam 20 bagian air mendidih, dalam
16 bagian etanol (95 %) P dan dalam 5
bagian gliserol
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Khasiat : Antiseptikum ekstern
Kegunaan : Sebagai sample / zat uji
3. Aquades (3;96)
Nama resmi : Aqua destillata
Sinonim : Air suling
RM/BM : H2O/18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau
dan tidak berasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
BAB III
METODE KERJA

III.1 ALat dan Bahan


III.1.1 Alat-alat yang digunakan
- Batang pengaduk
- Buret
- Cawan porselin
- Erlenmeyer 250 ml
- Gelas ukur 100 ml
- Gelas kimia 100 ml
- Lap kasar dan lap halus
- Timbangan analitik
III.1.2 Bahan-bahan yang digunakan
- Aquades
- Asam borat
- Asam benzoate
- Kertas saring
- Tissue
- Kertas timbang
- Aluminium foil

III.2 Cara Kerja


- Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
- Ditimbang 6 buah kertas saring dan 6 kertas timbang
- Ditimbang asam borat 2 gram sebanyak tiga kali dan asam
benzoat 0,5 gram sebanyak tiga kali.
- Masing-masing bahan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer
yang telah diisi aquades. Untuk asam benzoat memakai 150
ml aquades dan untuk asam borat memakai 50 ml aquades.
- Larutan diaduk
- Untuk asam benzoat, dilakuklan perlakuan untuk mengetahui
kelarutan pada suhu kamar, suhu 450 C dan 600 C.
- Pada suhu kamar larutan tetap diaduk hingga semua larut
- Untuk perlakuan suhu 450 C dan 600 C, dipanaskan dahulu di
penangas sambil diaduk-aduk, dan setelah termometer
menunjukkan suhu tersebut (450C dan 60 0
C). Larutan
diangkat.( Diharapkan agar suhu tetap terjaga. Jika suhu naik
diturunkan n jika turun suhunya dinaikkan)
- Setelah agak dingin, larutan disaring dengan kertas saring
yang telah diketahui bobot kertas saringnya hingga tidak ada
lagi residu yang tertinggal di dalam erlenmeyer.
- Residu di letakkan di cawan porselin, lalu dikeringkan dalam
oven pada suhu lebih kurang 1000 C.
- Setelah kering, kertas saring yang berisi residu ditimbang.
- Dihitung berat residu yang terdapat pada hasil kelarutan
asam benzoat pada masing-masng perlakuan suhu kamar,
450 C, dan 600 C.
- Metode yang sama dilakukan pada asam borat dengan berat
2 gram dengan perlakuan yang sama yaitu mengetahui
kelarutannya pada suhu kamar, 450 C, dan 600 C.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN

IV.1 Data Pengamatan

Berat Volume BKS BKS


Suhu Berat
NO Sampel sample pelarut kosong +residu
(0C) residu (g)
(g) (ml) (g) (g)
1. As. benzoat kamar 0,5 150 0,7434 0,9136 0,1702
2. As. benzoat 45 0,5 150 0,7327 0,9 0,1673
3. As. benzoat 60 0,5 150 0,7430 0,931 0,188
4. As. Borat Kamar 2 50 0,7319 0,7471 0,0048
5. As. Borat 45 2 50 0,7 0,7579 0,0579
6. As. borat 60 2 50 0,7 0,7583 0,0583

IV.2 Perhitungan
A. Gram zat terlarut
X = Bobot sampel awal – Bobot residu
Asam Benzoat
- Suhu kamar : X = 0,5 g – 0,1702 g = 0,3298 g
- Suhu 450 C : X = 0,5 g – 0,1673 g = 0,3327 g
- Suhu 600 C : X = 0,5 g – 0,188 g = 0,312 g
Asam Borat
- Suhu kamar : X = 2 g – 0,0048 g = 1,9952 g
- Suhu 450 C : X = 2 g – 0,0579 g = 1,9421 g
- Suhu 600 C : X = 2 g – 0,0583 g = 1,9417 g

B. Kelarutan
gram .zat .terlarut
X= vol . pelarut

Asam Benzoat
0,3298 gram
- Suhu kamar : X = =0,0021987g/ml
150ml
0,3327 gram
- Suhu 450 C : X = =0,002218g/ml
150ml

0,312 gram
- Suhu 600 C :X= =0,00208g/ml
150ml

Asam Borat
1,9952 gram
- Suhu kamar : X = =0,0399g/ml
50ml

1,9421 gram
- Suhu 450 C :X= =0,0388g/ ml
50ml

1,9417 gram
- Suhu 600 C :X= = 0,0188g/ ml
50 ml
BAB V
PEMBAHASAN

Kelarutan diartikan sebagai konsentrasi bahan terlarut dalam suatu


larutan jenuh pada suatu suhu tertentu. Larutan sebagai campuran
homogen bahan yang berlainan. Untuk dibedakan antara larutan dari gas,
cairan, dan bahan padat dalam cairan. Disamping itu terdapat larutan
dalam keadaan padat.
Kelarutan zat padat dalam larutan ideal tergantung kepada
temperatur, titik leleh zat padat dan panas peleburan molar zat tersebut,
dalam percobaan ini akan diamati kelarutan dari asam benzoat dan asam
borat pada berbagai suhu.
Pelarut yang digunakan pada percobaan ini adalah air yang
merupakan pelarut yang memiliki konstanta dielektrik tinggi, pelarut polar
mampu memecah ikatan ionic, dan mempunyai kemampuan berinteraksi
karena bersifat dipol.
Dalam percobaan ini, mula-mula zat dilarutkan dalam sejumlah air
untuk melarutkan zat-zat tersebut. 2 gram asam borat dilarutkan dalam 50
ml air sedangkan 0,5 g asam benzoat dilarutkan dalam 150 ml air. Proses
pelarutan dilakukan pada suhu kamar, 450 C, dan 600 C. untuk suhu 400 C
dan 600 C, larutan dipanaskan diatas penangas air sampai suhu yang
ditentukan, sambil diaduk selama 5 menit. Setelah larut, larutan disaring
dengan kertas saring menggunakan corong. Selanjutnya dikeringkan
dalam oven pada suhu 1000 C sampai kertas saring benar-benar kering,
untuk menghilangkan kandungan airnya sehingga diperoleh residu murni.
Terakhir, residu tersebut ditimbang untuk mengetahui banyaknya residu
yang diperoleh.
Pada percobaan ini, pada sat sampel dilarutkan, dilakukan
pengadukan selama 5 menit. Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses
kelarutan dari sampel. Kemudian larutan disaring dan residu yang
tertinggal pada kertas saring dikeringkan dalam oven untuk
menghilangkan sisa air yang nantinya akan mempengaruhi hasil
penimbangan.
Sampel harus disaring agar pelarutnya tidak ikut dalam pengukuran
dan akan didapatkan residu zat yang tersisa dengan memperkurangkan
berat kertas saring berisi residu dengan berat kertas saring kosong.
Pemanasan dan pengadukan dilakukan untuk mempercepat larutnya
asam borat dan asam benzoat dalam pelarut air.
Dari hasil perhitungan maka kelarutan dari asam benzoat adalah
pada suhu kamar kelarutannya adalah 2,1987 x 10-3 g/ml, suhu 450 C
kelarutannya adalah 2,218 x 10-3 g/ml, dan pada suhu 600 C kelarutannya
adalah 2,08 x 10-3 g/ml. sedangkan kelarutan dari asam borat adalah
pada suhu kamar kelarutannya adalah 0,0399 g/ml, suhu 450 C
kelarutannya adalah 0,0388, dan pada suhu 600 C kelarutannya adalah
0,0188 g/ml.
Adapun faktor-faktor kesalahan dalam percobaan ini adalah :
• Penimbangan sampel dan residu yang kurang teliti
• Pengeringan yang kurang sempurna
• Adanya zat-zat lain yang mempengaruhi kelarutan.
BAB VI
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
Dari hasil percobaan dan perhitungan, maka dapat disimpulkan
bahwa :
a. Kelarutan asam benzoat
 Suhu kamar = 2,1987 x 10-3 g/ml
 Suhu 450 C = 2,218 x 10-3 g/ml
 Suhu 600 C = 2,08 x 10-3 g/ml
Kelarutan asam borat
 Suhu kamar = 0,0399 g/ml
 Suhu 450 C = 0,0388 g/ml
 Suhu 600 C = 0,0188 g/ml
b. Berdasarkan
hasil percobaan, asam borat lebih mudah larut dalam air
dibandingkan dengan asam benzoat.

V.2 Saran
Hendaknya pada percobaan berikutnya zat yang akan diuji
kelarutannya diganti dengan sampel lain
DAFTAR PUSTAKA

1. Effendi, I., (2003), “Penuntun Praktikum Farmasi Fisika I”, Jurusan


Farmasi, Universitas Hasanuddin,
2. Ditjen POM., (1979), “Farmakope Indonesia”, Edisi III, Departemen
Kesehatan RI, Jakarta, 96, 175, 587
3. Martin,A., (1988),”Farmasi Fisika”, Edisi III,Jilid I,Universitas
Indonesia Press,Jakarta,560
4. Tim penyusun, (2007),”Penuntun Praktikum Farmasi Fisika”,
Fakultas Farmasi Unhas, Makassar.