Anda di halaman 1dari 3

Menyusuri pembelajaran sains 3: Dari fakta ke konsep IPA

Leo Sutrisno

Ilmuwan, guru, dan siswa mengamati suatu objek atau suatu kejadian yang sama.
Pada Gambar 1, mereka mengamati seekor binatang yang digambarkan pada bagian
tengah dengan cara-cara tertentu. Diperolehlah data dan informasi tentang bionatang itu.
Data dan informasi ini selanjutnya dianalisis. Akhirnya, dibuatlah suatu kesimpulan. Jika
pengamatannya tepat sasaran, digunakan prosedur yang benar serta dianalisis dengan
penalaran yang sahih, maka dihasilkan suatu kesimpulan yang benar.
Objek atau kejadian yang mereka amati itu disebut ’fakta’. Sebagai tanda objek
tersebut dibuatlah suatu konsep (tanda verbal) beserta lambangnya. Dalam Gambar 1,
binatang yang sedang mereka amati itu yang disebut fakta. Mereka sepakat menyebut
binatang itu sebagai ’sapi perah’. Sapi perah ini disebut konsep. Sapi perah merupakan
sesuatu yang mewakili binatang yang mempunyai ciri-ciri seperti yang ada pada gambar
itu. Di antaranya, kantong susunya besar. Apabila susunya tidak besar binatang itu tidak
disebut sebagai sapi perah.
Karena objek yang sesungguhnya tidak ada dalam sajian ini, maka gambar sapi
seperti yang ada pada gambar itu disebut sabagai lambang dari sapi perah yang
sesunguhnya. Sebagai lambang, gambar itu bersifat universal. Kapan pun dan dimana pun
gambar seperti tiu akan diterima sebagai gambar tentang sapi perah. Lambang dari suatu
objek tidak selalu diwujudkan dalam bentuk gambar yang jelas mirip dengan bentuk
objeknya, ada yang berupa gambar ada juga berupa hurup.
Panas, gaya, kecepatan, berat, massa, volume, arus listrik, suhu dsb merupakan
contoh-cotoh konsep yang ada dalam IPA. Lambang-lambangnya adalah Q, F, v, W, m, V,
I, T dan seterusnya. Konsep dan lambang ini sangat penting dalam berkomunikasi
(ilmiah) karena konsep dan lambang itu merupakan ’wakil’ dari objek atau kejadian yang
sedang dibicarakan. Keliru memilih konsep dan atau lambangnya akan menimbulkan
miskomunikasi.
Deskripsi seseorang tentang suatu konsep disebut konsepsi. Deskripsi tentang
suatu konsep berisi ciri-iri khas dari kenyataan yang ditandai dengan konsep tersebut.
Pada umumnya, deskripsi tentang suatu konsep dinyatakan sebagai definisi dari konsep
yang bersangkutan. Isi sebuah difinisi tentang suiatu konsep adalah inti sari dari
kenyataan / fenomena yang diwakili oleh konsep tersebut.
Sesungguhnya, setiap orang mempunyai rumusan deskripsi sendiri tentang suatu
konsep. Karena itu, di dalam kelas, kita mengenal konsepsi ilmuwan, konsepsi guru, dan
konsepsi siswa, konsepsi penulis buku ajar dan sebagainya. Pada umumnya, konsepsi
ilmuwan merupakan konsepsi yang paling lengkap, paling masuk akal, dan paling banyak
manfaatnya dibandingkan dengan kelompok konsepsi yang lain. Karena itu, konsepsi
ilmuwan itu dianggap yang benar (sesungguhnya yang paling banyak diterima/diakui).
Konsepsi-konsepsi yang lain yang tidak sesuai dengan konsepsi ilmuwan secara
umum disebut miskonsepsi. Miskonsepsi ini, di kelas sering dimiliki para siswa.
Keberadaan miskonsepsi dapat menggangu proses belajar. Karena itu, ada baiknya para
guru memberi perhatian pada upaya memperbaiki miskonsepsi ini selama proses
pembelajaran.
Faham yang lebih demokratis tidak menggunakan istilah miskonsepsi, tetapi
’konsepsi alternatif’. Konsepsi alternatif didasarkan pemikiran bahwa konsepsi-
konsepsi itu merupakan salah satu konsepsi yang lain selain konsepsi yang telah
disepakati oleh para ilmuwan. Konsepsi ini berbeda dari konsepsi ilmuwan karena
berbagai alasan. Misalnya: alatnya tidak secanggih alat yang digunakan oleh para
ilmuwan; pengamatannya tidak setepat sasaran seperti yang dilekukan ilmuwan;
prosedurnya juga berbeda dari yang digunakan ilmuwan; demikian pula penalarannya
yang digunakan para siswa.
Galam kerangka seperti ini, komsepsi ilmuwan tidak dipandang sebagai yang
’benar’ tetapi sebagai ’penjelasan yang baik saat itu’. Konsepsi siswa yang sajalan
dengan konsepsi ilmuwan disebut konsepsi yang ’betul’ (bukan yang benar). Dan yang
tidak disebut konsepsi yang ’keliru’.
Pemikiran ini berimplikasi, bahwa yang ’keliru’ dapat ’dibetulkan’. Tetapi, tidak
berlaku yang ’salah’ dapat ’dibenarkan’. Dengan ini, para guru memberi ruang berpikir
kritis bagi para siswanya, karena ada ruang untuk menerima kenyataan bahwa guru pun
juga dapat keliru, apalagi siswanya. Semoga!
Sapi perah

Konsepsi
ilmuwan
Konsep

Ilmuwan
Konsepsi
guru
Konsepsi
siswa

Objek
Gambar 1
Guru
Siswa