Anda di halaman 1dari 3

Memaknai kegiatan mengajar (agama) dengan cara baru

Leo Sutrisno
Saat ini, di Indonesia terdapat dua macam penjelasan tentang kegiatan mengajar,
yaitu menurut tradisi behaviorisme dan menurut tradisi konstruktivisme.Tradisi
behaviourisme mendefinisikan mengajar sebagai suatu proses memindahkan pengetahuan
dari para ahli ke siswa. Sedangkan tradisi konstruktivisme mengajar dimaknai sebagai
kegiatan memfasilitasi agar proses aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya
sendiri berlangsung dengan lancar.

Mengajar dalam tradisi behaviorisme


Dalam tradisi Behaviorisme, seluruh bahan yang ’harus’ dipelajari siswa ditentukan dari
’atas’, para ahli. Karena telah ditentukan dari ’atas’ (baca dari Jakarta) maka semua itu
dianggap ’benar’. Oleh sebab itu tidak ada lagi ruang untuk mempertanyakannya. Para
guru bertugas meneruskan bahan itu kepada para siswanya.

Dengan tugas seperti itu, guru bertindak sebagai agen alih pengetahuan (Lihat juga UU
Sisdiknas), yaitu memindahkan pengetahuan dari ’atas’(menurut kurikulum), ke para
siswa. Para siswa yang sedang belajar diibaratkan seperti kertas putih yang siap ditulisi
apapun bentuk dan isinya (Teori Tabula Rasa). Karena siswa dianggap masih ’kosong’
pengetahuan, maka mengajar dapat diumpamakan sebagai ’mengisi botol kosong’ (Lihat
Gambar 1). Guru berfungsi sebagai pemutar kran agar air dalam bak mengalir ke ember
penampung. Sesuai dengan fungsinya sebagai pembuka kran, maka guru tidak memiliki
hak apapun selain memindahkan pengetahuan sebanyak yang telah ditetapkan dari ’atas’.
Akibatnya, para guru lebih banyak mengejar pencapaian target materi ketimbang
membuat siswa memiliki pengetahuan. Orang bilang ’Tahu atau tidak tahu bukan urusan
saya, yang penting semua materi sudah saya sampaikan. Selebihnya, terpulang pada
usaha siswa masing-masing’.

Mengajar dalam tradisi konstruktivisme


Tradisi konstruktivisme memandang bahwa sebelum mengikuti pembelajaran formal
siswa telah memiliki pengetahuan tentang sesuatu. Pengetahuannya itu diperoleh dari
interaksi dengan sekitarnya. Saat itu, mereka bertindak seperti para ahli. Mereka
memiliki rasa ingin tahu yang tinggi tentang keadaan di sekitarnya. Karena itu, mereka
melakukan ’observasi’. Hasil observasi itu digabung dengan penjelasan dari orang
dewasa yang mereka terima baik secara langsung atau secara tidak langsung (misal:
membaca) membentuk suatu pengetahuannya sendiri. Pengetahuan semacam ini dibawa
ke sekolah. Di dalam kelas pengetahuan ini berinteraksi dengan pengetahuan teman
sekelasnya adan pengetahuan yang disampaikan oleh gurunya. Dalam benak setiap siswa
terjadi semacam ’kontes’ pengetahuan, yaitu: pengetahuan yang telah dimilikinya,
pengetahuan teman-temannya, serta pengetahuan yang disampaikan oleh gurunya. Kontes
itu akan berakhir pada saat siswa menemukan yang ’terbaik’ baginya. Pengetahuan yang
terbaik itu akan dimaknai sebagai pengetahuan yang dimilikinya, pengetahuan yang telah
dikuasasinya.

Dalam proses seperti ini, guru tidak lagi berfungsi sebagai agen alih pengetahuan, tetapi
sebagai anggota suatu komunitas orang-orang yang sedang mencari pengetahuan. Karena
pengalamannya ia bertindak sebagai fasilitator bagi para siswanya agar proses pencarian
pengetahuan mereka itu berlangsung lancar.

Porses pencarian pengetahuan itu tidak sama dengan proses mencari sebuah benda yang
jika ditemukan benda tersebut langsung diambil. Proses pencarian pengetahuan berawal
dari pengamatan terhadap objek yang akan dipelajari. Diikuti dengan pengolahan data
dan informasi yang diperoleh itu menjadi pengetahuan baginya. Proses pengolahannya
pun tidak sederhana. Data dan informasi yang diperoleh dari pengamatan itu
diintegrasikan ke dalam pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya melalui serangkaian
penalaran yang juga melibatkan kemampuan bahasanya. Sehingga, pada akhirnya, ia
berkata ’Sekarang saya tahu. Saya mengerti tentang itu’.

Tugas guru adalah membantu proses intergrasi pengetahuan tersebut bagi setiap siswa
berlangsung dengan baik. Mungkin ia ’harus’ membongkar habis pengetahuan yang telah
dimiliki siswa sebelumnya karena sangat jauh bertentangan dengan pengetahuan yang
telah dibangun ilmuwan. Mungkin juga hanya ’memoles’ sedikit karena pengetahuan
yang telah dimiliki siswa sebelumnya ’hanya’ kurang lengkap. Tugas inilah yang
sesungguhnya dari guru sebagai fasilitator belajar. Jadi, bukan sekedar menyiapkan buku-
buku dan sumber serta sarana belajar yang lain. (Lihat Gambar 2).

Guru agama yang melaksanakan tugasnya dalam tradisi behaviorisme akan cenderung
bersikap otoriter dan tertutup. Pedoman kerjanya adalah ”hanya ada satu yang benar”.
Karena itu, tidak ada ruang diskusi dan berbagi pengalaman di antara peserta didik.
Hasilnya, kita rasakan hingga kini, monoton dan membosankan.

Sebaliknya, guru agama yang mengikuti tradisi konstruktivisme akan bersikap terbuka
bagi semua pikiran dan gagasan. Karena itu, ruang diskusi dan berbagi pengalaman
terbuka luas. Akibatnya, suasana kelas menjadi aktif dan hidup. Pengetahuan yang
mereka bangun akan beraneka ragam sesuai dengan pengalaman, kemampuan beripikir
dan berbahasa masing-masing siswa. Dalam suasana seperti itu akan tercipta pemahaman
bahwa ’ada banyak kebenaran karena ada banyak kerangka acuan’.

Pertanyaan yang perlu diajukan adalah man yang akan dipilih? Bagi saya, pilihan
mengajar dalam tradisi konstruktivisme lebih cocok bagi pendidikan agama di masa
depan. Memang Tuhan hanya satu. Tetapi, ada banyak cara dan ada banyak jalan menuju
yang satu itu. Guru
Pengetahuan
Para ahli

Gambar 1 Siswa
Pengetahua
n ilmuwan Pengetahuan
guru

Pengetahuan
teman

Sisw Gamba
a r2