Anda di halaman 1dari 3

Menyusuri pembelajaran sains 27:

Lebih akrab dengan cahaya

Leo Sutrisno

Bagi semua anak, cahaya bukan sesuatu yang baru. Anak bayi serta
merta menangis bila tiba-tiba kamarnya menjadi gelap. Rasanya, kita
semua sangat tergantung pada keberadaan cahaya. Bayangkan, apa
yang akan terjadi jika tidak ada Matahari. Bumi akan menjadi gelap
gulita. Mungkin, akan segelap yang dirasakan oleh para tuna netra.

Kelas akan menjadi ’hidup’ jika belajar merupakan suatu proses yang
mengasyikkan. Syukurlah, materi cahaya menawarkan berbagai
kegiatan yang mengasyikkan itu dengan menggunakan benda-benda
yang ada di sekitar kita. Anak-anak akan tertarik pada pelangi,
misalnya. Bahkan, sebagian anak juga akan tertarik dengan
fenomena cermin atau lensa.

Masalah-masalah yang menantang membuat situasi belajar menjadi


dinamis. Salah satu cara mengajar yang efektif adalah menyediakan
masalah-masalah situasional. Dengan menggunakan demonstrasi
yang membangkitkan berbagai pertanyaan di kalangan siswa dapat
meningkatkan rasa penasaran mereka. Dengan menempatkan kaca
pembesar di atas halaman buku sehingga hurup-hurpnya tampak
membesar dapat menimbulkan rasa ingin tahu mereka. Berdasarkan
pertanyaan yang mereka ajukan, pelajaran IPA dapat dibuat menjadi
lebih menarik dan menantang.

Percobaan 1: Kaca pembesar. Kaca pembesar yang dapat dibeli di


toko mainan dipegang pada tangkainya dan ditempatkan pada
seberkas cahaya yang memancar dari sebuah lampu senter. Jarak
lampu dan kaca pembesar, diusahakan relatif cukup jauh. Di
seberang lampu senter ditempatkan selembar kertas pada jarak yang
juga relatif cukup jauh, ada baiknya digunakan kertas berwarna atau
yang tidak terlalu putih. Pada kertas terbentuk piringan berwarna
putih. Jika kertas digeser mendekati kaca pembesar maka ukuran
piringan itu akan semakin kecil sehingga terbentuk piringan yang
sangat kecil dan sangat terang. Jika kertas digeser semakin dekat
dengan kaca pembesar piringan tersebut semakin besar lagi dan
kecerlangannya berkurang. Jika dijauhkan lagi dari kaca pembesar
piringan itu akan mengecil lagi sehingga pada posisi kertas tertentu
akan diperoleh piringan yang paling kecil dan paling terang. Tempat
itu disebut titik api kaca pembesar. Anak dapat diminta mengukur
jarak antara posisi lensa dengan posisi kertas pada saat itu. Panjang
jarak itu disebut jarah fokus. Pertanyaan dapat diberikan kepada
siswa. Misalnya, apakah kaca pembesar yang lain memiliki jarak
fokus yang sama? bagaimana cara menentukan jarak titik fokus kaca
pembesar itu?

Perjalanan cahaya di belakang lensa dapat diperjelas dengan


menebarkan serbuk kapur yang menyebar dari penghabus papan tulis
yang ditepuk-tepukkan.

Kegiatan ini dapat di bawa di luar kelas di kala Matahari bersinar


terang. Anak diminta menempatkan kertas pada titik fokusnya untuk
beberapa waktu. Apa yang akan terjadi? Kertas terbakar pada
piringan yang kecil tersebut. Titik itulah yang disebut titik api.
(Gambar 1).

Kegiatan 2: Sisir berkas cahaya. Seperti Kegiatan 1 dengan


menempatkan sebuah sisir menempel pada kaca permbesar (Gambar
2). Dengan sedikit ruang kelas dibuat gelap atau ditebarkan serbuk
pakur maka berkas cahaya setelah melewati kaca pembesar dapat
diperlihatkan.

Kegiatan 3: Bayangan nyala lilin. Siswa dapat diajak mendekat,


berdiri mengelilingi meja demonstrasi. Sebagai sumber cahaya
digunakan dua batang lilin yang menyala (Gambar 3). Siswa diajak
mengamati bayangan nyala lilin yang terbentuk pada kertas. Siswa
diminta membuat dugaan bentuk bayangan nyala lilin pada selembar
kertas yang berada di antara kaca pembesar dan titik api.
Selanjutnya, siswa juga sekali lagi diminta menduga bentuk
bayangan lilin jika kertas di ’luar’ titik api.
Inilah beberapa kegiatan yang dapat membangkitkan rasa ingin tahu
siswa tentang fenomena cahaya. Menggu depan akan disajikan
beberapa percobaan lain yang lebih ’mendalam’.

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3