Anda di halaman 1dari 4

Menyusuri pembelajaran sains 33:

Mendomenstrasikan kulit bumi yang melipat

Leo Sutrisno

Dalam dua tahun terakhir ini anak-anak Indonesia telah menjadi


akrab dengan peristiwa gempa bumi baik dengan cara mengalami
sendiri maupun melihat atau mendengarkan berita. Mereka juga
menerima berbagai penjelasan tetang penyebabnya, entah karena
akibat lempeng kulit bumi yang retak, patah, atau hanya bergeser.
Beberapa percobaan berikut merupakan salah satu cara untuk
menunjukkan kulit bumi yang menjadi retak atau patah, serta proses
awal gempa bumi dan perambatannya.

Kegiatan 1: Menunjukkan kulit bumi yang melipat. Mari kita buat


dua buah kotak dengan ukuran yang berbeda sedikit sehingga yang
satu dapat ’dimasukkan’ pada kotak yang lain, seperti kotak korek
api. Lihat Gambar 1. Kotak ini dapat dibuat besar sebesar ukuran
demonstrasi untuk satu kelas atau dapat dibuat sebesar kotak korek
api. Ke dalam kotak ini dimasukkan pasir basah atau tanah liat.
Sebaiknya diratakan permukaannya.

Selanjutnya, kotak yang kecil didorong masuk ke kotak yang besar


secara perlahan-lahan. Masing-masing anak diminta mencurahkan
perhatiannya pada ’perilaku’ permukaan pasir/tanah liat yang ada di
dalam kotak ini. Anak-anak akan melihat permukaan pasir/tanah liat
secara perlahan-lahan terdorong naik. Semakin di dorong ke dalam,
semakin tinggi permukaan tanah liat itu terangkat. Mereka juga akan
melihat ada bagian permukaan yang terangkat ke atas itu retak atau
bahkan putus/patah.

Gerak kotak itu mirip dengan gerak lempengan kulit bumi yang
mendesak lempengan yang lain. Gerakan lempengan kulit bumi ini
membuat permukaan permukaan tanah di atasnya terdorong ke atas.
Tentu juga terjadi retakan-ratakan atau bahkan patahan.
Kegiatan 2: Memperlihatkan proses awal gempa bumi. Kita siapkan
sepotong papan lis sepanjang setengah meter. Kita minta seorang
anak yang cukup besar dan kuat ke depan kelas duduk di kursi
menghadap kawan-kawannya yang lain. Sepotong papan lis itu
dilengkungkan dan anak tadi diminta menjepit di antara kedua kaki.
Secara pelahan-lahan jepitan kaki anak itu diperkuat. Anak lain
diminta mengamati ’perilaku’ papan lis ini dan kaki-kaki anak yang
menjepit papan lis. Mereka akan melihat, makin kuat kaki menjepit,
papan makin melengkung dan pada suatu saat papan lis itu putus.
Biasanya, bagian yang putus itu tidak teratur. Sementara itu, kaki-
kaki anak yang menjepit papan lis itu terlihat ’bergetar’.
Papan lis yang melengkung dan pada suatu saat putus mengibaratkan
permukaan kulit bumi yang bergeser. ’Geataran’ kaki mirip dengan
getaran permukaan bumi di sekitar pusat gempa.

Kegiata 3: Menunjukkan gerak rambatan getaran gempa. Bagi


sekolah yang memiliki kolam percobaan dapat dilakukan di kolam
itu. Anak-anak kita ajak ke pinggir kolam. Tentu, merekan harus
diingatkan agar menjaga keselamatan diri sendiri dan kawannya.
Seorang anak diminta melemparkan batu ke tengah kolam. Anak-
anak yang lain diminta memperhatikan pemukaan air kolam. Mereka
akan melihat ada gelombang air yang merambat ke segala jurusan.
Rambatan gelombang itu yang sesungguhnya rambatan getaran yang
mirip dengan perilaku gempa.

Apa yang terjadi dengan bangunan yang tanahnya dirambati getaran


gempa. Kita minta anak melemparkan sepotong kayu atau sepotong
gabus pembungkus barang-barang elektronik. Sebagian siswa
diminta mengamati perilaku benda yang terapung pada saat dilalui
gelombang. Benda-benda itu bergoyang. Semakin kuta gelombang
yang lewat semakin besar goyangnya.

Bagi sekolah yang tidak memiliki kolam dapat membuat kolam dari
plastik tutup meja atau terpal dan diletakkan di kelas. Kita tentu
dapat improvisasi untuk mempercantik ruang kelas. Selamat
mencoba!