Anda di halaman 1dari 3

Menyusuri pembelajaran sains 34:

Memahami penyebab berbagai bentuk batu alam

Leo Sutrisno

Begitu sebuah gunung timbul dan terangkat ke atas erosi


langsung terjadi dan selalu mengikis gunung itu. Di
gunung, sering terjadi hujan lebat. Air mengalir ke bawah
menyusuri lerengnya. Semakin curam lereng semakin kuat
arus air meluncur ke bawah. Semakin kuat arus air ini
menghanyutkan benda-benda yang berada di lereng.

Benda-benda yang terhanyut bermacam-macam, ada


lapisan tanah yang halus, ada kerikil, ada batu, bahkah
sering juga pepohonan. Peristiwa erosi yang besar terjadi
pada peristiwa tanah longsor. Pada peristiwa tanah longsor
maka yang terhanyut sangat bermacam-macam, ada rumah,
ada kendaraan, bahkan ada juga manusia. Karena itu kita
perlu mewaspadainya.

Ketika sampai di bagian bawah, benda-benda itu terpisah-


pisah sesuai dengan kemampuan arus air yang
menghanyutkannya. Benda-benda yang paling berat akan
terhenti paling dulu, disusul dengan benda-benda yang
lebih ringan. Bisa terjadi, tanah lembut dan pasir dapat
terhanyut sangat jauh dari asalnya hingga mendekati
pinggir laut.

Akibat jalan yang panjang itu, batu yang pada mulanya


besar dapat pecah dan terbentukalah bungkahan-bungkahan
batu yang lebih kecil dalam berbagai bentuk.
Kegiatan 1: Menunjukkaan pelapukkan batuan secara
fisika. Sediakan sebotol air yang tertutup rapat. Sebaiknya
botol kaca dengan tutup beralur sehingga tidak mudah
lepas. Kemudian, air itu diletakkan di dalam lemari es
bagian pembuat es selama mungkin sehingga air di dalam
botol berubah menjadi es. Apa yang terjadi? Botol kaca itu
pecah. Agar tidak berbahaya, sebelum dimasukkan ke
dalam lemari es botol dibungkus dengan longsong plastik
dua-tiga rangkap.

Nah, apa yang terjadi pada batuan? Titik-titik air hujan


meresap masuk ke dalam lubang-lubang yang ada pada
sebongkah batu. Ketika dingin dan air membeku, peristiwa
seperti botol pecah terjadi pada batuan itu. Tentu prosesnya
tidak hanya dalam satu malam. Bisa jadi ratusan bahkan
ribuan tahun.

Kegiatan 2: Menunjukkan akibat benturan antar batuan.


Sediakan segenggam kapur barus. Angkat tinggi-tingi di
atas kepala genggaman itu dan Kemudian genggaman
dibuka. Kapur barus lepas berjatuhan di lantai. Perhatikan,
ada banyak yang pecah. Pecahan-pecahannya berupa
bermacam-macam bentuk dan ukuran.

Batu-batu yang jatuh dari lereng gunung ke dasar jurang


ada kemungkinan membentur batuan lain atau benda-beda
keras lainnya. Akibatnya, batuan itu juga akan pecah.
Berbagai bentuk serpihan terjadi, entah besar entah kecil.

Kegiatan 3: Membuat koleksi batuan. Kepada para siswa,


sambil berjalan pulang atau pergi ke sekolah diminta
memungut dua-tiga bongkah batu yang mereka temui di
jalan. Dari sekitar 35 siswa di kelas kita, pasti akan
diperoleh sekumpulan batu yang sangat bervariasi baik
bentuk maupun jenis. Anak dapat menuliskan nama batuan
yang mereka temukan berserta lokasi ditemukannya. Kita
dapat membantu mencarikan referensi untuk mencocokkan
dengan label standar. Silahkan mencoba!