Anda di halaman 1dari 9

IPA Kimia XI Rury Rachmad, S.

Si

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

STANDAR KOMPETENSI
Memahami tentang sifat larutan non elektrolit dan elektrolit

KOMPETENSI DASAR
Memahami tentang konsep sifat koligatif larutan berdasarkan penurunan tekanan uap, penurunan titik beku, kenaikan titik
didih, dan berdasarkan tekanan osmotik.

Sifat koligatif larutan adalah sifat fisika larutan.


Sifat koligatif hanya bergantung pada jumlah partikel terlarut dalam larutan.
Sifat koligatif tidak bergantung pada jenis zat terlarut.
Sifat koligatif meliputi:
1. Penurunan tekanan uap,
2. Kenaikan titik didih,
3. Penurunan titik beku,
4. Tekanan osmotik.

1. Penurunan Tekanan Uap

Tekanan yang ditimbulkan oleh uap jenuh suatu zat disebut tekanan uap zat itu.
Besarnya tekanan uap bergantung pada jenis zat dan suhu. Zat yang memiliki gaya tarik-menarik antarpartikel relatif
besar, berarti sukar menguap dan mempunyai tekanan uap yang relatif rendah. Contohnya garam, gula, alkohol, dan
gliserol. Sebaliknya zat yang memiliki gaya tarik-menarik antarpartikel relatif lemah, berarti mudah menguap dan
mempunyai tekanan uap yang relatif tinggi. Zat seperti itu dikatakan mudah menguap atau atsiri (volatile). Contohnya
etanol dan eter.

Hukum Raoult : perbedaan antara tekanan uap pelarut murni  P o  dan tekanan uap larutan  P  hanya bergantung
pada fraksi mol pelarut.

P  X A Po
P  Po  P
P  X ter  Po
mol pelarut
XA 
mol pelarut + mol terlarut

Dimana: P = tekanan uap komponen A


P o = tekanan uap A murni
X A = fraksi mol komponen A

Contoh
Tekanan uap air pada 100oC adalah 760 mmHg. Berapakah tekanan uap jenuh larutan glukosa 18% pada 100oC?
(Ar H = 1, C = 12, O = 16)
Jawab:
Dalam 100 gram larutan glukosa 18% terdapat: P  X pel  P o
18
Glukosa 18%   100 gram = 18 gram 4,55
100 X pel 
Air = 100 – 18 = 82 gram
 4,55  0,1
18 g 4, 55
Jumlah mol glukosa = = 0,1 mol   760 mmHg  743, 66 mmHg
180 g mol -1 4, 55  0,1
82 g
Jumlah mol air = = 4,55 mol
18 g mol -1

E Uji Kompetensi
1. Tekanan uap air 29oC diketahui sebesar 30 mmHg. Pada suhu yang sama hitunglah:
a. Tekanan uap larutan urea 20% (Mr urea = 60)
b. Tekanan uap larutan urea 1 molal
2. Tekanan uap air pada 102oC adalah 816 mmHg. Berapakah tekanan uap larutan urea 20% pada suhu itu?
(Mr urea = 60).

1
IPA Kimia XI Rury Rachmad, S.Si

3. Tekanan uap air pada 29oC adalah 30 mmHg. Pada suhu yang sama, larutan x gram glukosa dalam 90 gram air
mempunyai tekanan uap 29,41 mmHg. Hitunglah x. (Mr glukosa = 180).

2. Kenaikan Titik Didih dan Penurunan Titik Beku

Selisih antara titik didih larutan dengan titik didih pelarutnya disebut kenaikan titik didih ( Tb = boiling point elevation),
sedangkan selisih antara titik beku pelarut dengan titik beku larutannya disebut penurunan titik beku ( T f = freezing point
depression).
Tb  Kb  m
T f  K f  m
Dengan: Tb = kenaikan titik didih
T f = penurunan titik beku
K b = tetapan kenaikan titik didih molal
K f = tetapan penurunan titik beku molal
m = kemolalan larutan

Contoh
Tentukan titik didih serta titik beku larutan yang mengandung 18 gram glukosa (Mr = 180) dalam 500 gram air.
( K b air = 0,52oC/m; K f air = 1,86oC/m).
Jawab :
18 g
Jumlah mol glukosa = = 0,1 mol
180 g mol -1
0,1 mol
Kemolalan larutan m = = 0,2 mol kg -1
0,5 kg
a. Titik didih
Tb  Kb  m
 
= 0,52 o C × 0,2 = 0,104o C
Titik didih larutan = titik didih pelarut + Tb
o
= 100  0,104  C  100,104o C
b. Titik beku
T f  K f  m
 
= 1,86 o C × 0,2 = 0,372 o C
Titik beku larutan = titik beku pelarut – T f
= 0  0,372o C  0,327o C

Diagram Fase atau Diagram P-T

Diagram fase atau diagram P-T adalah diagram yang menyatakan hubungan antara suhu dan tekanan dengan fase zat.
Diagram fase menyatakan batas-batas suhu dan tekanan dimana suatu bentuk fase dapat stabil.

Gambar 1. Diagram fase larutan dan diagram fase larutan relative terhadap pelarutnya.

Ket. :
 Garis BC = garis didih ↓ transisi fase cair – gas.
 Garis BD = garis beku ↓ transisi fase cair – padat.

2
IPA Kimia XI Rury Rachmad, S.Si

 Garis AB = garis sublimasi ↓ transisi fase padat – gas.


 Perpotongan antara garis didih, garis beku, dan garis sublimasi disebut titik triple. Pada titik triplenya, ketiga bentuk
fase zat yaitu padat, cair, dan gas berada dalam kesetimbangan.

E Uji Kompetensi
1. Diketahui larutan urea 0,5 molal membeku pada suhu -0,9oC. Berapakah titik beku dari:
a. Larutan urea 1 m?
b. Larutan glukosa 1 m?
2. Tentukan titik didih dan titik beku larutan 32 gram belerang (S8) dalam 400 gram asam asetat. Asam asetat murni
mendidih pada 118,3oC dan membeku pada 16,6oC pada tekanan 1 atm.
( K b CH3COOH = 3,1oC m-1; K f CH3COOH = 3,6oC m-1; Ar S = 32).
3. Suatu larutan mendidih pada 100,2oC. Tentukan titik beku larutan itu.
( K b air = 0,52oC m-1, K f air = 1,86oC m-1)

3. Tekanan Osmotik

Banyak proses osmosis berlangsung khususnya dalam tubuh makhluk hidup. Masuknya air dari dalam tanah melalui akar
tumbuhan untuk diangkut ke daun, masuknya zat-zat makanan dari usus ke darah, pertukaran zat dari dalam dan luar sel,
serta banyak proses lain.

Osmosis adalah proses perpindahan pelarut dari larutan yang lebih encer menuju larutan yang lebih pekat melalui selaput
atau membran semipermeabel.

Membran semipermeabel hanya dapat dilewati oleh partikel pelarut yang kecil, tetapi menahan partikel zat terlarut. Aliran
zat cair dari konsentrasi kecil menuju konsentrasi yang besar ini akan berhenti apabila telah terjadi kesetimbangan.
Tekanan yang diperlukan untuk menghentikan aliran zat cair pada peristiwa osmosis disebut tekanan osmotik.
Tekanan osmotik tergolong sifat koligatif karena harganya bergantung pada konsentrasi dan bukan pada jenis partikel zat
terlarut. Menurut van’t Hoff, tekanan osmotik larutan-larutan encer dapat didekati dengan rumus yang serupa dengan
persamaan gas ideal, yaitu:
 V = nRT
Dengan:  = tekanan osmotik
V = volum larutan (L)
n = jumlah mol zat terlarut
T = suhu absolut larutan (K)
R = tetapan gas (0,08205 L atm mol-1 K-1)

n
Persamaan di atas dapat diubah menjadi:  = RT atau  =MRT
V

Osmosis dalam kehidupan sehari-hari

Contohnya sel darah merah. Dinding sel darah merah mempunyai ketebalan kira-kira 10 nm dan diameter pori 0,8 nm.
Molekul air berukuran kurang dari setengah diameter tersebut, sehingga dapat lewat dengan mudah. Ion K+ yang terdapat
dalam sel juga berukuran lebih kecil daripada pori dinding sel itu, tetapi dinding sel tersebut bermuatan positif sehingga
ion K+ akan ditolak.
Cairan dalam sel darah merah mempunyai tekanan osmotik yang sama dengan larutan NaCl 0,92% (larutan garam
fisiologis). Dengan kata lain, cairan sel darah merah isotonik dengan larutan NaCl 0,92%. Jika sel darah merah
dimasukkan ke dalam larutan NaCl 0,92%, air yang masuk dan yang keluar dinding sel akan setimbang (kesetimbangan
dinamis).
Akan tetapi jika sel darah merah dimasukkan ke dalam larutan NaCl yang lebih pekat dari 0,92%, air akan keluar dari
dalam sel dan sel akan mengerut. Larutan yang demikian dikatakan hipertonik.
Sebaliknya jika sel darah merah dimasukkan ke dalam larutan NaCl yang lebih encer dari 0,92%, air akan masuk ke
dalam sel dan sel akan menggembung dan pecah (plasmolisis). Larutan itu dikatakan hipotonik.

E Uji Kompetensi
1. Tentukanlah tekanan osmotik larutan yang tiap liternya mengandung 0,6 gram urea pada suhu 25oC (Mr urea = 60)
2. Berapa gram glukosa (Mr = 180) diperlukan untuk membuat 500 ml larutan dengan tekanan osmotik 1 atm pada suhu
25oC?
3. Tekanan osmotik darah manusia pada 37oC adalah 7,7 atm. Berapa gram glukosa (Mr = 180) diperlukan untuk
membuat 200 ml larutan yang isotonik dengan darah?

3
IPA Kimia XI Rury Rachmad, S.Si

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN ELEKTROLIT

Factor van’t Hoff adalah perbandingan antara harga sifat koligatif


yang terukur dari suatu larutan elektrolit dengan harga sifat koligatif
yang diharapkan dari suatu larutan nonelektrolit pada konsentrasi yang
sama.

Karena pertambahan sifat koligatif larutan elektrolit sebanding dengan


pertambahan jumlah partikel dalam larutan, maka rumus-rumus sifat
koligatif untuk larutan elektrolit menjadi:
Tb  K b  m  i
T f  K f  m  i
 =MRT  i
i  1   n  1 
 dapat dianggap sebagai derajat ionisasi efektif. Sebenarnya derajat
ionisasi elektrolit tipe ion = 1. Namun, karena ion-ion tidak bebas 100%, maka derajat ionisasi efektifnya tidak sama
dengan satu tetapi mendekati satu.

Contoh
Satu gram MgCl2 dilarutkan dalam 500 gram air. Tentukanlah:
a) Titik didih
b) Titik beku
c) Tekanan osmotik larutan itu pada 25oC jika derajat ionisasi = 0,9.
( K b air = 0,52oC m-1; K f air = 1,86oC m-1; Ar Mg = 24, Cl = 35,5)
Jawab :
1g
Jumlah mol MgCl2 = = 0,011 mol
95 g mol-1
0, 011 mol
Molalitas larutan, m   0, 022 mol kg -1
0,5 kg
Molalitas larutan juga dapat dianggap = 0,022 mol/liter (untuk larutan encer, kemolalan dan kemolaran mempunyai harga
yang hampir sama).
i  1   n  1 
i  1   3  1 0, 9  2,8
a) Tb  Kb  m  i
= 0,52  0, 022  2,8  0, 032o C
o
Titik didih larutan = 100  0, 032  C  100, 032o C
b) T f  K f  m  i
= 1,86  0, 022  2,8  0,115o C
o
Titik beku larutan =  0  0,115  C  0,115o C
c)  =MRT  i
= 0,022  0,08205  298  2,8 = 1,51 atm

E Uji Kompetensi
1. Manakah yang mempunyai titik didih yang lebih tinggi, larutan urea 0,1 M atau larutan natrium klorida 0,1 M?
Jelaskan.
2. Susunlah larutan-larutan berikut menurut kenaikan titik didihnya.
a. NaCl 0,1 m
b. CH3COOH 0,1 m
c. C6H12O6 (glukosa) 0,1 m
d. BaCl2 0,1 m
3. Berapakah titik didih dan titik beku larutan 0,1 mol Ba(NO3)2 dalam 500 gram air? ( K b air = 0,52oC m-1, K f air =
1,86oC m-1).

Penggunaan Sifat Koligatif Larutan

Sifat koligatif larutan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, ilmu pengetahuan, dan industri. Contohnya adalah:
1. Membuat campuran pendingin

4
IPA Kimia XI Rury Rachmad, S.Si

2. Membuat cairan antibeku


3. Mencairkan salju di jalan raya
4. Menentukan massa molekul relatif
5. Membuat cairan infus
6. Desalinasi air laut (osmosis balik)

E Uji Kompetensi
1. Berapa gram glikol (C2H6O2) harus dilarutkan ke dalam 1 liter air untuk membuat cairan antibeku yang tidak
membeku hingga -20oC? ( K f = 1,8oC/m)
2. Untuk membuat cairan pendingin, ke dalam 10 liter air dilarutkan 3 kg NaCl dan 5 kg NaNO3. Berapakah suhu
terendah yang dapat diperoleh dari campuran pendingin tersebut? (Ar N = 14; O = 16; Na = 23; Cl = 35,5; K f =
1,8oC/m) K f
3. Untuk menentukan massa molekul relatif suatu senyawa nonelektrolit, sebanyak 9 gram zat itu dan 11,7 g NaCl
dilarutkan dalam 1 kg air. Ternyata larutan ini membeku pada 0,84oC. Tentukanlah massa molekul relatif zat
nonelektrolit tersebut. (Ar Na = 23; Cl = 35,5; K f air = 1,86oC/m)

KOLOID

STANDAR KOMPETENSI
Memahami sifat-sifat cairan (larutan sejati, suspensi, emulsi, dan koloid)

KOMPETENSI DASAR
- Memahami dan bisa membedakan konsep sifat cairan dalam larutan sejati, sistem suspensi, sistem emulsi
- Memahami tentang konsep tegangan permukaan (surfaktan) larutan koloid
- Memahami tentang viskositas/kekentalan

Pada tahun 1861, Thomas Graham seorang ahli kimia bangsa Inggris melakukan percobaan untuk menguji perbedaan
kemampuan aliran zat terlarut dengan menggunakan kantong perkamen, air, kristal gula, lem perekat, dan tepung kanji.
Mula-mula gula, lem perekat, dan kanji masing-masing dilarutkan ke dalam air. Kemudian larutannya dimasukkan ke
dalam kantong perkamen, ditutup rapat dan direndam dalam air. Dari percobaan itu ternyata gula mampu merembes
keluar menembus pori-pori perkamen sehingga keluar dari kantong. Partikel kanji dan lem perekat tidak dapat keluar dari
kantong.
Pada tahun 1907, Ostwald mengemukakan istilah sistem terdispersi dan medium pendispersi. Zat yang didispersikan
disebut fase terdispersi, sedangkan medium yang digunakan untuk mendispersikan disebut medium pendispersi.

Tabel 1. Perbedaan antara Larutan, Koloid, dan Suspensi.

No Larutan Koloid Suspensi


1 Ukuran partikel kurang dari Ukuran partikel antara 10-7 – 10-5 Ukuran partikel lebih besar dari
10-7 cm cm 10-5 cm
2 Homogen Antara homogen dan heterogen Heterogen
3 Satu fase Dua fase Dua fase
4 Jernih Keruh Keruh
5 Tidak memisah jika Tidak memisah jika didiamkan Memisah jika didiamkan
didiamkan
6 Tidak dapat disaring dengan Tidak dapat disaring dengan Dapat disaring dengan saringan
saringan biasa saringan biasa biasa
7 Tidak dapat disaring dengan Dapat disaring dengan membran Dapat disaring dengan membran
membran perkamen perkamen perkamen
8 Berbentuk ion, molekul kecil Molekul besar, partikel Partikel besar

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan zat yang tergolong larutan, koloid, dan suspensi.
Contoh larutan : larutan gula, larutan garam dapur, larutan cuka, larutan alkohol, dan udara.
Contoh koloid : susu, santan, busa sabun, salad krim, margarin, lateks, dan asap.
Contoh suspensi : air sungai yang keruh, tanah liat dengan air, pasir dengan air, dan air kapur.

Sistem koloid dapat dibagi menjadi beberapa jenis.

5
IPA Kimia XI Rury Rachmad, S.Si

Tabel 2. Beberapa jenis dispersi koloid.

Fase Medium
No Fase Koloid Nama Koloid Contoh
Terdispersi Pendispersi
1 Gas Cair Cair Busa/buih Busa sabun
2 Gas Padat Padat Busa padat Karet busa
3 Cair Gas Gas Aerosol cair Embun
4 Cair Cair Cair Emulsi Susu
5 Cair Padat Padat Emulsi padat Mentega
6 Padat Gas Gas Aerosol padat Asap
7 Padat Cair Cair Sol Cat
8 Padat Padat Padat Sol padat Paduan logam

Mengapa sistem koloid digunakan dalam produk industri?


Salah satu ciri khas koloid yaitu partikel padat dari suatu zat dapat tersuspensi dalam zat lain, terutama dalam bentuk
cairan. Hal ini merupakan dasar dari berbagai hasil industri yang dibutuhkan manusia. Penggunaan koloid juga dapat
menghasilkan campuran hasil industri tanpa saling melarutkan secara homogen. Koloid bersifat stabil sehingga dapat
digunakan dalam waktu yang relatif lama. Koloid yang dapat menstabilkan hasil industri ini dinamakan koloid pelindung.
Misal: es krim yang ditambah gelatin. Adanya gelatin dalam es krim menyebabkan es krim tidak cepat meleleh.

Sifat-Sifat Koloid

1. Efek Tyndall
Suatu sifat khas yang membedakan sistem koloid dengan larutan adalah percobaan Tyndall.
Bila suatu larutan (larutan sejati) disinari dengan seberkas sinar tampak maka berkas sinar tadi akan diserap dan
hanya sebagian kecil yang dipancarkan. Bila seberkas sinar dilewatkan pada sistem koloid maka sinar tersebut akan
dihamburkan oleh partikel koloid, sehingga sinar yang melalui sistem koloid akan teramati berupa jalur cahaya.
Contoh:
1) Cahaya matahari jelas sekali berkasnya di sela-sela pohon yang sekitarnya berkabut.
2) Berkas cahaya proyektor tampak jelas di gedung bioskop yang banyak asap rokoknya.
3) Sorot cahaya mobil berkasnya tampak jelas pada daerah yang berkabut.

2. Gerak Brown
Partikel koloid dapat bergerak lurus tetapi arahnya tidak menentu (gerak zig-zag).
Penemu gerakan partikel koloid seperti itu adalah Robert Brown. Gerak Brown adalah
gerak zig-zag dari partikel koloid yang hanya dapat diamati dengan mikroskop ultra.
Gerak Brown disebabkan adanya tumbukan dari partikel medium pendispersi pada
partikel koloid yang terdispersi.

3. Adsorpsi
Partikel koloid dapat mengadsorpsi ion atau muatan listrik. Adsorpsi adalah proses penyerapan di permukaan.
Contoh:
Partikel koloid Fe(OH)3 bermuatan positif dalam air, karena mengadsorpsi
ion positif.
Partikel koloid As2S3 bermuatan negatif dalam air, karena mengadsorpsi ion
negatif.
Contoh aplikasi lain:
1) Penyembuhan sakit perut yang disebabkan oleh bakteri dengan obat
oralit atau norit. Oralit dan norit membentuk koloid dalam usus
sehingga mampu mengadsorpsi bakteri, sehingga bakteri itu mati.
2) Pemutihan gula tebu. Larutan gula yang berwarna coklat dan kotor dilewatkan dalam sistem koloid yaitu mineral
yang berpori. Setelah itu dilewatkan dalam arang tulang yang menyerap warna gula, sehingga larutan gula
menjadi jernih dan tidak berwarna.

4. Elektroforesis
Percobaan dilakukan dengan menggunakan elektroda kutub positif (+) dan kutub (–) lalu
dihubungkan dengan arus listrik searah. As2S3 yang bermuatan negatif ditarik ke arah
elektroda positif sehingga di daerah ini menjadi berwarna kuning, sedangkan Fe(OH)3
bermuatan positif ditarik ke arah elektroda negatif sehingga di daerah ini menjadi
berwarna merah.

5. Koagulasi
Penggumpalan partikel koloid disebut koagulasi. Dispersi koloid yang mengabsorbsi ion sejenis dapat dinetralkan
dengan konsentrasi tertentu larutan elektrolit bermuatan lawan. Akibatnya partikel koloid dapat bergabung menjadi
partikel besar. Bila larutan elektrolit tersebut mencukupi maka elektrolit tersebut akan menggumpalkan koloid.
Penggumpalan koloid dapat dilakukan secara mekanis, fisis, dan kimia.
(1) Mekanis ↓ penggumpalan koloid dengan pemanasan, pengadukan, dan pendinginan. Misalnya: larutan protein
yang merupakan sistem koloid dipanaskan maka protein akan menggumpal; koloid agar-agar dalam air akan
menggumpal bila dipanaskan.

6
IPA Kimia XI Rury Rachmad, S.Si

(2) Fisis ↓ penggumpalan koloid secara fisis digunakan alat cottrel. Asap atau
debu dari cerobong pabrik dapat digumpalkan dengan alat listrik / cottrel.
Hal ini bertujuan untuk mengurangi pencemaran asap dan debu yang
berbahaya.
(3) Kimia ↓ penambahan zat elektrolit bermuatan lawan ke dalam koloid
sehingga koloid akan menggumpal.
Contoh:
o Getah karet (lateks) akan menggumpal bila diberi asam semut (formiat)
atau diberi cuka.
o Pembentukan delta di muara sungai.
o Tawas mengandung elektrolit Al2(SO4)3 yang berisi ion Al3+ dapat
menggumpalkan partikel koloid dalam air, karena lumpur berupa koloid bermuatan negatif.

6. Koloid Pelindung
Koloid pelindung merupakan sifat koloid yang dapat melindungi koloid lain. Koloid pelindung pada emulsi
dinamakan emulgator. Ada beberapa koloid yang tidak mengalami penggumpalan jika ditambahkan suatu koloid lain.
Koloid yang dapat memberikan efek kestabilan disebut koloid pelindung. Koloid pelindung membentuk lapisan di
sekeliling partikel koloid sehingga melindungi muatan partikel koloid tersebut.
Contoh:
1) Tinta tidak mengendap karena dicampur dengan koloid pelindung.
2) Pada pembuatan es krim dicampurkan gelatin sebagai koloid pelindung yang berguna mencegah pengkristalan
es.
3) Susu tidak menggumpal karena terdapat kasein dalam susu sebagai koloid pelindung. Jika kasein dalam susu
rusak, maka susu akan menggumpal.
Gelatin dan kasein pada contoh di atas merupakan koloid pelindung.

Dialisis
Pemurnian koloid disebut dialisis. Dialisis dilakukan dengan cara memasukkan koloid yang akan dimurnikan ke dalam
kantung yang dibuat dari selaput semipermeabel. Jika kantung yang berisi koloid tersebut dicelupkan ke dalam air, maka
ion H+ dan Clʇ akan menembus selaput semipermeabel dan masuk ke dalam air. Tetapi sol koloid lain misal Fe(OH)3
tetap di dalam kantung karena tidak dapat melewati selaput permeabl.
Prinsip dialisis saat ini digunakan sebagai proses cuci darah bagi penderita gagal ginjal, yang dikenal dengan blood
dialisis. Ginjal yang berfungsi sebagai selaput permeabel dapat melewatkan ion-ion atau molekul-molekul yang
mengotori darah, tetapi tidak dapat melewatkan butir-butir darah yang bersifat koloid. Jika ginjal seseorang rusak, maka
fungsi ginjal diganti oleh mesin dialisator.

Koloid Liofil dan Koloid Liofob


Koloid yang medium pendispersinya zat cair disebut sol dan dibedakan menjadi koloid liofil dan liofob.

Liofil artinya suka pada cairan.


Liofob artinya tidak suka (takut) pada cairan.

Jika medium pendispersinya adalah air, maka koloid merupakan sol yang dapat digolongkan menjadi:
1. Koloid hidrofil : contohnya kanji, protein, agar-agar, sabun, dan detergen
2. Koloid hidrofob : contohnya sol Fe(OH)3, As2S3, dan sol-sol logam

Sifat-sifat koloid Liofil dan Liofob:


1. Sol Liofil
 Sol liofil lebih kental dari medium pendispersinya dan tidak akan mengalami penggumpalan bila ditambahkan
sedikit elektrolit.
 Koloid sol liofil lebih stabil dibandingkan dengan koloid liofob.
 Zat terdispersi dari suatu sol liofil dapat dipisahkan dari medium pendispersinya dengan cara penguapan atau
pengendapan. Koloid yang sudah dipisahkan dapat kembali menjadi sol liofil dengan menambahkan air lagi
sebagai medium pendispersi. Jadi pembentukan sol liofil bersifat reversibel.
 Koloid liofil yang fase terdispersinya banyak sekali menyerap medium pendispersi, akan menjadi sangat kental
dan hampir padat atau setengah padat dinamakan gel.
 Gel dapat dibuat dari sol liofil dengan jalan menguapkan medium pendispersinya.
Contoh gel adalah jeli, selai, dodol, dan ongol-ongol.

2. Sol Liofob
 Sifat sol liofob sebaliknya dengan sol liofil.

7
IPA Kimia XI Rury Rachmad, S.Si

 Jika medium pendispersi dari sol liofob diuapkan atau digumpalkan dengan larutan elektrolit, sampai zat
terdispersi terpisah dari medium pendispersi, maka tidak akan dapat membentuk sol liofob lagi walaupun
ditambah air sebagai medium pendispersi. Sehingga sol liofob bersifat irreversibel.
Contoh liofob antara lain sol belerang dan sol emas.

Emulsi
Emulsi adalah koloid yang partikel terdispersi dan medium pendispersinya sama-sama cair. Ditinjau dari kepolaran,
emulsi merupakan campuran cairan polar dan cairan nonpolar. Misalnya air dan minyak.
Zat pengemulsi (emulgator) adalah senyawa organic yang mengandung kombinasi gugus polar dan nonpolar sehingga ia
mampu mengikat zat polar (air) dan zat nonpolar (minyak). Misalnya, sabun yang merupakan garam karboksilat. Molekul
sabun tersusun dari “ekor” alkil yang nonpolar (larut dalam minyak) dan “kepala” ion karboksilat yang polar (larut dalam
air).

Prinsip ini yang menyebabkan sabun dan deterjen memiliki daya pembersih. Ketika kita mandi atau mencuci pakaian,
ekor nonpolar dari sabun menempel pada kotoran dan kepala polarnya menempel pada air. Akibatnya, tegangan
permukaan air menjadi berkurang, sehingga air jauh lebih mudah menarik kotoran.

Contoh lain adalah susu. Lemak terdispersi dalam air. Dalam susu terkandung kasein suatu protein yang berfungsi sebagai
zat pengemulsi. Proses pencernaan lemak dalam tubuh kita berlangsung melalui pembentukan emulsi. Dalam usus selalu
terkandung larutan basa yang akan bereaksi dengan sebagian kecil lemak, membentuk semacam zat pengemulsi, yang
mengemulsikan lemak sisanya, sehingga memudahkan enzim lipase untuk mengkatalisis lemak tersebut.

Dalam bidang industry obat-obatan dan kosmetika, bentuk emulsi banyak digunakan dalam pembuatan berbagai produk,
seperti salep, cream, lotion, dan minyak ikan.

Pembuatan Sistem Koloid


Pembuatan sistem koloid dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu cara kondensasi dan cara dispersi.

kondensasi dispersi
Larutan Koloid Suspensi

1. Cara Kondensasi
Cara kondensasi adalah pembuatan sistem koloid dengan menggabungkan ion-ion, atom-atom, molekul-molekul,
atau partikel yang lebih halus membentuk partikel yang lebih besar dan sesuai dengan ukuran partikel koloid.
a. Dengan reaksi hidrolisis
FeCl3(aq) + 3H2O(l) ↓ Fe(OH)3 + 3HCl(aq)
Koloid
b. Dengan reaksi redoks
Mengalirkan gas H2S ke dalam larutan SO2.
2H2S(g) + SO2(aq) ↓ 2H2O(l) + 2S(s)
Koloid
5AuCl3(aq) + 3P(s) + 12H2O(l) ↓ 5Au(s) + 3H3PO4(aq) + 15HCl(aq)
Koloid

2. Cara Dispersi
Cara dispersi adalah cara pembuatan sistem koloid dengan menghasilkan butir-butir zat yang bersifat makroskopis
(kasar) menjadi butir-butir zat yang bersifat mikroskopis (halus), sesuai dengan ukuran partikel koloid. Cara ini dapat
dilakukan sebagai berikut:
a. Cara mekanik
Partikel-partikel besar atau kasar digerus sampai halus sekali, kemudian dicampur dengan medium pendispersi
dan dikocok-kocok.

8
IPA Kimia XI Rury Rachmad, S.Si

Contoh:
1. Sol belerang dapat dibuat dengan cara menumbuk dan menggerus butir-butir belerang yang dicampur
dengan kristal gula pasir. Serbuk belerang dan serbuk gula yang halus tersebut dicampur dengan air sebagai
medium pendispersi.
2. Pembuatan cincau dari daun cincau.
Daun cincau yang berwarna hijau tua dihancurkan bersama air hingga halus. Kemudian disaring. Filtrat
yang diperah didiamkan, maka akan didapatkan koloid cincau.

b. Cara peptisasi
Cara peptisasi ini adalah cara pembuatan system koloid dengan memecah molekul besar menjadi molekul lebih
kecil sesuai dengan ukuran partikel koloid dengan menambahkan zat kimia.
Contoh:
1. Peptisasi As2S3 dalam air dengan menambahkan gas asam sulfida (H2S).
2. Pembuatan sol Al(OH)3 dengan cara menambahkan AlCl3 ke dalam endapan Al(OH)3.

c. Cara busur Bredig


Untuk membuat sol-sol logam digunakan logam sebagai elektrode yang dicelupkan dalam air sebagai medium
pendispersi. Kemudian diberi loncatan listrik di antara kedua ujung logam. Sebagian dari logam akan mendebu
ke dalam air dalam bentuk partikel-partikel koloid yang halus.

Soal Uji Kompetensi

1. Penghamburan cahaya oleh partikel koloid dikenal D. Lemak lebih kental daripada air
sebagai… E. Lemak dan air distabilkan oleh kasein
A. Refleksi koloid
B. Gerak Brown 7. Jika minyak kelapa dicampur dengan air, maka akan
C. Elektroforesis terjadi dua lapisan yang tidak bercampur. Suatu
D. Efek Tyndall emulsi akan terjadi apabila campuran ini dikocok
E. Dialisis dan ditambahkan…
A. Air panas
2. Gerak Brown disebabkan oleh… B. Air es
A. Gaya gravitasi terhadap koloid C. Gula
B. Ringannya partikel koloid D. Sabun
C. Halusnya partikel koloid E. Aluminium sulfat
D. Muatan partikel koloid
E. Tabrakan partikel koloid 8. Zat berikut yang tidak membentuk koloid liofil jika
didispersikan ke dalam air adalah…
3. Muatan partikel koloid ditentukan dengan cara… A. Agar-agar
A. Dialisis B. Kasein
B. Elektrolisis C. Belerang
C. Elektrooforesis D. Gelatin
D. Koagulasi E. Susu
E. Adsorpsi
9. Salah satu langkah pada proses penjernihan air PAM
4. Sifat adsorpsi dari koloid dimanfaatkan pada hal adalah proses…
berikut kecuali… A. Dispersi
A. Pemurnian gula B. Kondensasi
B. Pengobatan sakit perut C. Koagulasi
C. Penggumpalan karet D. Emulsi
D. Pemakaian deodoran E. Dialisis
E. Pencucian dengan sabun
10. Gejala yang paling tidak ada hubungannya dengan
5. Pemurnian koloid dari ion pengganggu dilakukan sistem koloid adalah…
dengan… A. Efek Tyndall
A. Dialisis B. Dialisis
B. Koagulasi C. Elektrolisis
C. Elektroforesis D. Emulsi
D. Elektrolisis E. Hidrofil
E. Penambahan koloid pelindung

6. Campuran lemak dan air di dalam susu tidak


memisah sebab…
A. Lemak dan air berwujud cair
B. Lemak dan air tidak bereaksi
C. Lemak larut baik dalam air