Anda di halaman 1dari 15

Memimpikan Kota Peduli Lingkungan

Oleh Mochamad Widjanarko

Kudus adalah kota kabupaten di jalur pantai utara Jawa Tengah tanpa pantai dan terkenal dengan
industri rokok, bordir, serta jenang. Selain tenar sebagai "kota kretek", Kudus dapat pula
menyandang sebutan kota bersuasana religius.

Alasannya, banyak pondok pesantren dan tempat-tempat bersejarah bagi umat Islam di Jawa dan
sekaligus menjadi obyek ziarah seperti Masjid Menara Kudus dengan makan Sunan Kudus dan
makam Sunan Muria. Mereka adalah dua di antara sembilan Wali atau penyebar agama Islam di
Jawa.

Mayoritas wilayah Kabupaten Kudus adalah dataran rendah. Di wilayah utara terdapat
Pegunungan Muria dengan puncaknya setinggi 1.602 meter, Gunung Rahtawu (1.522 meter), dan
Gunung Argojembangan (1.410 meter) sehingga Kudus memiliki potensi alam luar biasa. Desa
Ternadi, Desa Kajar, Desa Colo, Desa Japan, Desa Rahtawu, dan Desa Soco adalah desa-desa
yang berhubungan langsung dengan kawasan Pegunungan Muria. Desa Colo merupakan desa
wisata ziarah karena di situ ada makam Sunan Muria.

Kebijakan pemerintah daerah Kudus berniat meningkatkan investasi ekonomi dengan tetap
memerhatikan konservasi alam dan pelestarian lingkungan hidup. Sayangnya, secara faktual hal
itu belum berjalan lancar. Masalah lingkungan tidak hanya terjadi di kawasan Pegunungan Muria
yang kian memprihatinkan seperti beberapa sumber mata air telah hilang, beberapa jenis satwa
kian langka, dan pembabatan hutan lindung. Apalagi, penataan kawasan lindung antara
masyarakat lokal yang terkait langsung dengan Kawasan Muria, Pemerintah Kabupaten Kudus,
serta Perhutani, tidak jelas.

Kerusakan daerah atas Kudus di Desa Rahtawu di kawasan Muria berkorelasi dengan bencana di
daerah di bawahnya. Saat musim hujan, terjadi banjir di beberapa tempat di Desa Setrokalangan,
Kecamatan Kaliwungu, dan tiga desa di Kecamatan Mejobo, yaitu Golantepus, Temulus, dan
Mejobo.

Di perkotaan, pelanggaran tata ruang kota berlangsung seiring dengan pertumbuhan ekonomi
berdasarkan pemasukan dana pemerintah daerah. Pemkab Kudus, Dinas Lingkungan Hidup dan
Pertambangan Kabupaten Kudus, dan masyarakat perlu menginisiasi produk hukum peraturan
daerah lingkungan hidup agar ada pijakan hukum yang jelas dan arif menangani lingkungan.

Mochamad Widjanarko Pengajar Fakultas Psikologi di Universitas Muria Kudus dan Peneliti di
Muria Research Center (MRC)Indonesia

tulisan ini dimuat di Kompas, Selasa, 9 Desember 2008


http://mrcindonesia.blogspot.com/2011/01/memimpikan-kota-peduli-
lingkungan.html?zx=ffb9647c4bd83932
Teknologi Mesti Ramah Lingkungan

Oleh Imam Khanafi

SUMBER penyebab kerusakan lingkungan hidup tak lepas dari kemajuan teknologi
dan arus modernisasi.
Aktivitas lingkungan dengan teknologi sederhana, tradisional, atau teknologi maju
telah banyak menggoyahkan lingkungan dalam arti negative.

Penyebabnya, kurang kesadaran dan perhatian lingkungan dalam memanfaatkan


teknologi tersebut.
Kemajuan teknologi dan modernisasi di sisi lain harus mampu menyelesaikan dan
melenyapkan pencemaran lingkungan di kota dan di desa. Selain itu, penyelesaian
sebaiknya mengedepankan pendekatan lingkungan.

Masalah lingkungan hidup memang tak kalah penting dari problem sosial dan
ekonomi yang memerlukan perhatian serius semua pihak.
Kesadaran mengenai arti penting lingkungan yang sehat dan lestari perlu diberikan
kepada setiap manusia demi keberlangsungan hidup bersama.

Kesejahteraan kolektif antara lain dipengaruhi oleh kelayakan lingkungan. Dengan


kata lain, kesejahteraan dunia tergantung pada lingkungan yang memiliki
ketajaman rasa, yang menunjuk pada harmoni hubungan antara lingkungan dan
alam.

Wacana ramah dan kelestarian lingkungan hidup belakangan menjadi tren di


kancah lokal, nasional, dan internasional. Sebab, lingkungan hidup menyangkut
hajat dan kepentingan orang banyak.
Perlu diingat, lingkungan dan alam dunia ini merupakan tempat utama untuk
beraktualisasi, bereksistensi, dan berinteraksi bagi lingkungan.

Hubungan antara sesama lingkungan dan makhluk lain bisa dijalankan dengan baik
apabila terjadi simbiosis mutualisme, dengan prinsip kerja sama saling
menguntungkan.

Memberikan Ruang

Setiap pihak memberikan ruang dan kemerdekaan hidup, sehingga terjalin


keselarasan dan keserasian. Jika tidak, bisa dipastikan terjadi ketimpangan, bahkan
bencana besar mengancam.

Kemunduran atau kerusakan lingkungan hidup, baik di kota maupun desa,


disebabkan oleh lingkungan tidak mampu memperlakukan lingkungan dan alam
sekitarnya secara proporsional.
Pertama, degradasi yang bersifat fisik; gangguan yang ditimbulkan oleh unsur-
unsur alam, seperti pencemaran air, pencemaran udara, dan pencemaran suara.

Pencemaran itu bisa menyebabkan gangguan kesehatan temporer atau cacat


seumur hidup, bahkan dapat mematikan penduduk, memunahkan hewan langka,
serta menjadikan tanah kritis.

Kedua, degradasi yang bersifat masyarakat atau sosial; gangguan yang ditimbulkan
oleh lingkungan dan dapat menjadikan kehidupan tidak tenang serta timbul rasa
jenuh, kesal, atau jijik untuk tinggal di suatu tempat.

Misalnya, kepadatan atau kesibukan kendaraan yang menghambat perjalanan,


tumpukan sampah yang menyebarkan bau busuk, ketelantaran bangunan di kota,
dan peningkatan tenaga jasa halus haram atau para tunasusila.

Hubungan harmonis antara lingkungan dan alam akan bermuara pada


pembentukan insan kamil, yakni lingkungan paripurna yang menggambarkan sejati
jatining satriya atau sejati jatining manusia yang membawa misi hamemayu
hayuning bawana. (51)

Imam Khanafi, peneliti pada Muria Research Center (MRC) Indonesia, Kudus

dimuat di Suara Merdeka kolom Teknologi 19 Juli 2010

Diposkan oleh mrc_ina di 20.05

http://mrcindonesia.blogspot.com/2011/01/teknologi-mesti-ramah-lingkungan.html

Rumah Akrab Lingkungan

oleh Muria Research Center (MRC) Indonesia


Pendisain atau karya : Yus Budi Indiarto,ST

Rumah akrab lingkungan diatas cocok dengan daerah-daerah di kawasan Muria seperti Colo,
Rahtawu dan Tempur. Kondisi alam yang sekarang sulit diprediksi. Banjir bandang, gempa
bumi, bahkan tsunami makin sulit diprediksi kedatangannya. Karena itu, jika bencana itu terjadi,
korbannya pun kadang tak berbilang. Banyak korban yang terjebak di dalam rumah yang tak bisa
apa-apa kecuali pasrah, hingga akhirnya jadi korban dalam rumah.

Karena itulah, beberapa inovasi rumah model masa kita dilakukan. Salah satunya, terlihat pada
sebuah rumah yang dipublikasikan oleh Muria Research Center (MRC) Indonesia diatas.
Menurut Mochamad Widjanarko, direktur MRC Ina konsep rumah tersebut sederhana dan bisa
diadopsi oleh masyarakat yang dekat dengan bencana longsor.

"Ini merupakan bentuk kepedulian kita tehadap korban bencana di Indonesia", ujar Widjanarko
menambahkan. Rumah unik yang di publikasikan MRC Ina tersebut berukuran 7,50 m x 9,0 m
dan mempunyai dua kamar.

Rumah akrab lingkungan tersebut adalah karya Yus Budi Indiarto,ST. "Dia merupakan seorang
arsitektur independen yang memiliki kepedulian tehap lingkungan, pernah menjelajahi desa-desa
di kawasan Muria seperti Desa Rahtawu,Colo dan Tempur", kata Widjanarko. (imam/mrc)

Bentuk Rumah :

Perempuan dan Air Pegunungan Muria


Oleh Mochamad Widjanarko

AIR merupakan kebutuhan pokok penduduk sehari-hari, sehingga dapat dikatakan manusia tidak
dapat hidup tanpa air. Bagi perempuan, air juga dapat dipercaya membantu untuk perawatan
kecantikan, misalnya untuk membersihkan wajah dan membersihkan badan.

Dalam rumah tangga, air digunakan untuk minum, memasak, mencuci pakaian, mandi,
mengepel, menyiram bunga, atau mencuci kendaraan, dan keperluan lain.

Jika selama ini orang berpikir upaya pelestarian alam adalah tugas para pecinta alam, peneliti,
pendidik, masyarakat adat, organisasi nonpemerintah, dan pemerintah semata, kini sudah
waktunya untuk mengubah pikiran seperti itu. Siapa pun berperan dalam upaya pelestarian alam
dan lingkungan, termasuk perempuan.

Mengingat campur tangan manusia terhadap alam ibarat pisau bermata dua, yaitu bersifat
merusak atau melestarikan alam, maka pilihan kedualah yang tentunya kita dukung dalam jangka
waktu ke depan. Sudah terbukti, campur tangan manusia yang peduli lingkungan bisa sangat
bermanfaat bagi kelestarian alam, walaupun hanya dilakukan sebagian kecil masyarakat.

Partisipasi untuk melestarikan, peduli, dan berperilaku positif sesuai dengan wawasan kearifan
dalam mengelola lingkungan sesungguhnya berakar pada sikap seseorang, bukan karena adanya
jenis kelamin yang berbeda dan sikap ini bisa saja muncul dari lingkungan terkecil kita, di rumah
atau di keluarga yang dilakukan oleh anggota keluarga yang tidak lagi mempermasalahkan peran
perempuan dalam mengelola lingkungan hidup.

Pegunungan Muria dalam 10 tahun ini banyak mengalami degradasi lingkungan, semakin
jarangnya tanaman khas Muria seperti mranah, gentungan, klampu ketek, triteh, piji, kedoyo, dan
bergat. Kerusakan lingkungan di Muria akan sangat berpengaruh sebagai kawasan penyerap air,
sehingga beberapa mata air akan mengalami penurunan debit air. Walaupun beberapa mata air
tetap mengalir seperti mata air Bunton, di Desa Semliro, Rahtawu, kawasan sisi Barat Muria.

Dari Dukuh Semliro, Desa Rahtawu, sekitar tiga jam menyisir hutan yang tidak lagi rimbun,
penulis sampai di sumber mata air Sendang Bunton. Dari sumber mata air inilah air Kali Gelis,
sungai yang membelah jantung Kota Kudus berasal. Artinya, inisiasi dan tindakan perlindungan
kawasan hutan sangat perlu dilakukan untuk menjaga keberlangsungan mata air di Muria.

Peran perempuan di Desa Rahtawu dalam mengelola sumber daya air masih terbatas pada
pengaturan air dalam rumah tangga, belum merambah pada keterlibatan di sektor publik seperti
perencanan, distribusi pipa peralon, dan pengaturan pipa air.

Dalam budaya partiarkis, peran perempuan terpinggirkan. Kontrol terhadap sumber daya alam
yang menopang kehidupan perempuan sebagian besar masih jauh dari jangkauan tangan
perempuan. Padahal, aktivitas keseharian sangat terkait dengan ketersediaan air bersih di
keluarga.

Di sisi lain, pertambahan jumlah penduduk yang tajam dan pertumbuhan ekonomi telah
menyebabkan kebutuhan sumber air meningkat, baik secara kuantitas maupun kualitas dan
bahkan melebihi ketersediaannya.

Perempuan sebagai subjek sentral di sektor domestik mempunyai peran penting dalam
pengelolaan khususnya pemanfaatan sumber daya air di lingkungan rumah tangga.

Hak Atas Air

Sepanjang rentang sejarah di seluruh dunia, hak atas air telah dipengaruhi oleh keterbatasan
ekosistem dan kebutuhan masyarakat. Hak atas air sebagai hak asasi tidak berasal dari negara,
konteks ekologis tertentu dari eksistensi manusialah yang memunculkan hak atas air itu. Sebagai
hak asasi, hak atas air merupakan hak guna yang dipahami bahwa air boleh dimanfaatkan, tetapi
tidak bisa dimiliki (Shiva, 2002).

Karena itu, seharusnya penggelolaan air tidak boleh dimiliki (baca: dimonopoli) oleh individu
atau badan milik swasta. Ada kekhawatiran jika swasta dilibatkan dalam pengelolaan air, para
pengusaha, pemilik modal tentu cenderung akan menganggap air bukan sebagai komoditas
ekonomi sosial, melainkan sebagai barang komersial.

Hal ini terbukti di beberapa negara yang telah mempraktikkan, seperti di Afrika Selatan, negara
yang miskin air, rakyatnya harus membeli air melalui sebuah mesin (pre-paid water). Di
Cochabamba, Bolivia — rakyat harus mengurus izin dulu jika ingin menampung air hujan,
karena pelayanan air minum sudah diprivatisasi. Begitu juga di Manila, Filipina, rakyat dibebani
biaya hingga 400%.

Potensi untuk memprivatisasi sektor pengelolaan air seperti yang sedang berlangsung di kawasan
Muria sisi Timur di Desa Japan, sesungguhnya mengandung potensi bahaya yang besar.
Sejumlah bahaya yang akan muncul antara lain, pertama, akan dikuasainya air oleh pemilik
modal. Akibatnya, nasib rakyat akan digadaikan ke tangan pemilik modal.

Kedua, dana yang diperoleh dari swasta yang mengelola air umumnya dibelanjakan pada
pembangunan infrastruktur, bukan untuk menggratiskan air bagi rakyat. Ketiga, akan
menghalangi masyarakat umum untuk memperoleh langsung air, baik untuk keperluan sehari-
hari, mengairi sawah, maupun sarana transportasi air.
Untuk itu, semua pihak perlu memahami prinsip-prinsip demokrasi air yang dipublikasikan
Shiva, 2002 meliputi pertama, air adalah anugerah alam, kita menerima air dari alam secara
cuma-cuma, kita berutang pada alam, karena telah menggunakan untuk memenuhi kebutuhan
pangan. Untuk itu, kewajiban kita menjaganya tetap bersih.

Kedua, air sangat penting bagi kehidupan, air merupakan sumber kehidupan bagi semua spesies
dan ekosistem mempunyai hak atas jatah air di bumi ini. Ketiga, kehidupan dan air saling
tergantung, air menghubungkan semua makhluk dan semua bagian bumi.

Keempat, air harus gratis untuk ke-butuhan pangan, alam memberi air pada kita dengan cuma-
cuma, maka jika kita menjual demi keuntungan merupakan tindakan yang mencederai hak
inheren kita atas anugerah alam dan menyang-kal hak-hak orang miskin.
Keenam, air itu terbatas dan bisa ha-bis jika digunakan semena-mena dan tidak
berkesinambungan, misalnya dengan memberikan polusi pada air. Ketujuh, air harus dilindungi.
Semua orang mempunyai kewajiban untuk melindungi dan kelestarian pemakaian air da-lam
batas-batas ekologis dan keadilan.

Kedelapan, air adalah milik umum, air bukan temuan manusia, air tidak bisa dimiliki sebagai hak
pribadi dan dijual. Sembilan, tak seorang pun berhak merusak, yang berarti tidak seorang pun
berhak menggunakan secara berlebihan atau mengotori sistem pengairan. Sepuluh, air tidak bisa
diganti, air secara intriksi berbeda dengan sumber daya dan produk lain, air tidak boleh
diberlakukan sebagai komoditas.

Seharusnya, pengelolaan sumber daya air dikembalikan kepada semangat UUD 1945 di mana
tanah, air, dan sumber daya alam lainnya digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan dan
kesejahteraan rakyat. (37)

Mochamad Widjanarko, staf pengajar Fakultas Psikologi di Universitas Muria Kudus dan
Peneliti di Muria Research Center (MRC) Indonesia.

dimuat di Suara Merdeka Kolom Perempuan, 24 Maret 2010

Ekowisata Berbasis Komunitas di Kudus

Oleh Mochamad Widjanarko

Ketika Anda mendengar kota Kudus, maka yang dikenal adalah banyak pabrik rokok, kehidupan
buruhnya, atau makanan khasnya, seperti jenang, sate kerbau, dan nasi pindang, tempat
bersejarah Menara Kudus serta makam dua Wali Songo yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria.
Apakah hanya itu?

Menurut penulis, banyak yang bisa dieksplorasi, misalnya mencoba untuk menginisiasi
ekowisata berbasis komunitas (community-based ecotourism). Ekowisata berbasis komunitas
merupakan usaha ekowisata yang dimiliki, dikelola, dan diawasi oleh masyarakat setempat.
Masyarakat berperan aktif dalam kegiatan pengembangan ekowisata dari mulai perencanaan,
implementasi, monitoring, dan evaluasi. Hasil kegiatan ekowisata sebanyak mungkin dinikmati
masyarakat setempat. Jadi dalam hal ini masyarakat memiliki wewenang yang memadai untuk
mengendalikan kegiatan ekowisata (Ekowisata Indonesia, diunduh 11 Februari 2009).

Pegunungan Muria dengan puncaknya Songolikur (1.602 meter) menjadikan Kudus juga
memiliki potensi alam yang luar biasa. Di lereng gunung ini terdapat Desa Colo. Kalau pembaca
pernah berkunjung ke Colo, maka akan teringat bisa memandang kota Kudus dari atas, juga
menikmati hawa sejuk 18-20 derajat Celsius. Bagi yang belum pernah bisa membayangkan dan
datang, melengkapi dengan perjalanan alam ke air terjun Montel. Setelah puas bisa melanjutkan
perjalanan ke air tiga rasa. Saat perjalanan pulang bisa menelusuri kebun kopi milik masyarakat.
Ini bisa dilakukan dalam waktu lima sampai enam jam.

Masih ada lagi perjalanan ke alam menuju ke goa peninggalan Jepang dan sumber air Colo yang
diyakini masyarakat mengandung belerang. Semua perjalanan ini bisa dipandu masyarakat yang
tergabung dalam Paguyuban Masyarakat Pelindung Hutan (PMPH).

Jika mau menginap, di Desa Colo juga ada hotel yang dikelola Pemerintah Kabupaten Kudus.
Namun, jika mau merasakan kehidupan masyarakat, banyak penduduk Colo yang menyewakan
tempat tinggalnya untuk bisa kita tinggali (live in), dengan makan menu lokal yaitu telur ceplok
disertai pecel pakis dan camilan, seperti ketela goreng, pisang goreng, disertai kopi khas Colo.

Ketika pulang, pengunjung bisa membawa buah tangan berupa jeruk Colo yang bentuknya
seperti jeruk Bali, juga pisang byar khas Colo.

PMPH ada sejak tahun 1999, dimotivatori penduduk lokal yang sangat peduli lingkungan.
Paguyuban ini secara rutin melakukan pengawasan secara swadaya dan swadana untuk menjaga
kawasan hutan Muria di Desa Colo dan sekitarnya. Kontribusi PMPH terhadap kelestarian hutan
Muria sangatlah positif, kondisi mata air di Desa Colo terjaga, kerapatan hutan tropis khas Muria
seperti mranak, bergat masih ada.

Sungguh kaya potensi alam, ekonomi, dan sosial di Desa Colo. Hanya perlu kebijakan Pemkab
Kudus untuk bisa mewujudkan ekowisata berbasis komunitas di Desa Colo.

Mochamad Widjanarko adalah Peneliti di Muria Research Center (MRC) Indonesia, tinggal di
Kudus.

tulisan ini dimuat di KOMPAS, Selasa, 24 Februari 2009

Energi yang sering kita pakai sehari-hari semakin lama semakin berkurang atau
menipis. Karena banyaknya pemakaian yang tidak terkontrol sehingga
menimbulkan kelangkaan atau bahkan habis sama sekali. Untuk itu sekarang perlu
dipikirkan adanya energi alternative untuk pengganti dari energi yang biasanya
sering dipakai . Dibawah ini adalah berbagai sumber energi alternatif yang dapat
kita manfaatkan, selain akan membantu udara untuk jadi bersih, penghematan juga
akan dapat dilakukan.
Angin. Tenaga kinetik angin sekarang sudah mulai banyak dipergunakan sebagai
pemutar angin dengan menggunakan turbin angin baik untuk rumah maupun untuk
keperluan bisnis. Satu turbin angin dapat berharga dua setengah milyar rupiah
sampai dengan 10 milyar rupiah, tergantung dari ukurannya. Tapi satu turbin saja
dapat menghidupi sampai dengan tiga puluh rumah, tapi karena angin tidak selalu
bertiup, tenaga cadangan harus selalu tetap tersedia, misalnya dari PLN.
Matahari. Negara kita yang kaya matahari tampaknya sangat cocok menggunakan
sumber daya ini. Coba gunakan atap yang terbuat dari sistem tenaga surya yang
disebut sel fotovoltaik. Harganya memang tidak murah, untuk atap ukuran standar
dapat mencapai 200 juta rupiah. Tapi sistem ini sangat mengurangi tagihan listrik
pemilik rumah, apalagi dengan sistem tagihan PLN yang ada sekarang.
Biodiesel. Bahan dasar bahan bakar ini dibuat dari tumbuhan seperti kedelai, kelapa
dan sebangsanya, biodiesel adalah bahan bakar non-toxic yang dapat dicampurkan
dengan minyak diesel biasa atau digunakan sebagaimana adanya untuk
mengurangi emisi.
Nuklir. Dengan bahan bakar uranium, logam yang ditemukan di bebatuan, dan
diproses di reaktor nuklir, energi panas yang ada akan digunakan sebagai bahan
untuk memutar turbin yang ada. Sumber energi ini tidak melepaskan emisi gas
rumah kaca dan tidak malah. 20% sumber listrik di Amerika sudah berbahan bakar
nuklir.
Hidrogen. Bagaimana caranya anda menciptakan sumber daya yang sama sekali
tidak mengeluarkan apapun kecuali air bersih? Jawabannya adalah sel bahan bakar
hidrogen. Masalah yang ada sekarang adalah untuk memisahkan hidrogen dari
bentuk komposisinya, misalnya rantai karbon atau air, berarti menggunakan
sumber daya lainnya. Penyimpanan hidrogen juga tidak mudah, karena
kepadatannya sangat rendah, maka sangatlah sulit untuk menempatkan hidrogen
dalam jumlah besar dalam ruangan yang sempit. Oleh karena itulah, walaupun
banyak kendaraan mulai menggunakan hidrogen sebagai bahan bakarnya, masih
sulit didirikan stasiun pengisian hidrogen.

Lebih lanjut tentang: Sumber Energi Alternatif

Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai penghasil emisi terbesar di dunia,


setelah Amerika dan Tiongkok. Bedanya, emisi di Indonesia ini kebanyakan
berasal dari proses pembalakan hutan serta alih fungsi lahan hutan menjadi
perkebunan dan perumahan.
Demikian benang merah yang bisa ditarik dari perbincangan dengan Chairwoman
Conservation Science Management Specialist Reef Check Indonesia Foundation,
Naneng Setiasih dan Environment Officer Kedutaan Besar Amerika, Machut A
Shishak seusai diskusi panel di Lobi Perpustakaan Institut Teknologi Bandung,
Rabu (21/4).
Naneng memaparkan, Indonesia menduduki peringkat ke-19 dalam deretan negara
penghasil emisi dari sektor energi dan transportasi. “Kalau dengan
memperhitungkan CO2 yang keluar dari pembakaran hutan, peringkat Indonesia
berada di posisi ketiga dalam memproduksi emisi setelah Tiongkok dan Amerika
Serikat,” tuturnya.
Menurutnya, masalah pembukaan lahan yang harus didahului dengan pembakaran
hutan, mengakibatkan emisi gas CO2 di Indonesia meningkat. Konsep pembukaan
ladang atau membangun perumahan dengan cara membabat pohon harus
dipikirkan dengan baik, terutama saat musim kemarau.
“Apalagi di Kalimantan yang di bawahnya itu tersimpan kandungan batu bara, jika
ada kebakaran hutan, masyarakat sudah tidak mampu lagi memadamkannya.”
Environment Officer Kedutaan Besar Amerika, Machut A Shishak mengatakan,
Indonesia memiliki tantangan yang berbeda dengan negaranya dalam mengatasi
emisi. Dia memperkirakan, sekitar 80% emisi di Indonesia berasal dari alih fungsi
lahan dan sisanya berasal dari sektor energi dan transportasi.
Meski emisi akibat alih fungsi lahan hutan bisa diturunkan, Shishak memandang,
pemerintah harus bisa mengatasi emisi yang berasal dari sektor energi. “Emisi dari
sektor energi akan bertumbuh dalam kurun waktu 20 tahun, karena Indonesia
masih harus menghasilkan energi listrik lebih banyak untuk kebutuhan
penduduknya. Mungkin akan bertambah hingga tujuh atau delapan kali lipat dalam
kurun waktu 20 tahun itu,” tuturnya.
Menurut Naneng, salah satu cara mengatasi emisi yang terus meningkat di
Indonesia adalah melalui penegakan hukum. Apabila pemerintah tidak benar-benar
menjalankan aturan, bukan tidak mungkin fenomena El Nino dan La Nina dapat
terjadi setahun sekali dalam 30 tahun ke depan. “Padahal, sirkulasi biasa kedua
fenomena alam itu terjadi 10 tahun sekali,” kata Naneng.

Tanggung Jawab
Selain penegakan hukum, setiap individu juga harus bertanggung jawab terhadap
emisi karbon dan sampah yang dikeluarkannya setiap hari. “Pemerintah juga sudah
menyiapkan konsep carbon credit. Tapi, persiapannya memang harus dibicarakan,
misalnya pengelolaan uang dari kompensasi karbon ini untuk siapa dan dikelola
oleh siapa? Kesiapannya tidak hanya di satu negara, tapi juga semua negara,”
katanya.
Sementara itu, pada diskusi yang digelar oleh Departemen Ekonomi Sumberdaya
Alam dan Lingkungan (ESL) IPB tentang perubahan iklim dengan tema utama
Apakah Laut sebagai Penyerap atau Pelepas Karbon, Dr Alan Koropitan, Dosen
Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB memaparkan, sebelum
revolusi industri “Laut Global” memang berperan sebagai penyerap karbon.
Pascarevolusi industri laut global, bukan lagi sebagai penyerap, melainkan pelepas
karbon di atmosfer.
“Terjadi keseimbangan baru dalam siklus biogeokimia laut. Pun, secara regional
tak semuanya lautnya berperan sebagai penyerap karbon terutama laut tropis,”
katanya.
Laut samudra bagian selatan oleh para ilmuwan diyakini sebagai penyerap karbon
pun kini sudah mengalami penurunan tingkat penyerapannya. “Bila memang betul
Samudra bagian selatan berperan sebagai penyerap karbon, siapa yang berhak
mengklaim dan memilikinya,” tanya Alan.
Pembicara lainnya, Agus Gunawan, Kepala Sub Divisi Adaptasi Perubahan Iklim
di sektor Pertanian dan Wilayah Pesisir Kementerian Lingkungan Hidup
mengatakan, bencana yang muncul di Indonesia akhir-akhir ini berkaitan dengan
perubahan iklim. Menurutnya, data Bappenas dan Bakornas PB, 2006
menyebutkan bahwa periode 2003-2005 bencana yang terkait dengan hidro
meteorologi mencapai 53,3%. Periode 2005-2007 mengutip data Kementerian
Kelautan dan Perikanan menyebutkan sudah 24 pulau kecil di Indonesia
tenggelam.
Riza Damanik, Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan,
KIARA menyajikan strategi perikanan tradisional menyikapi dampak perubahan
iklim ini. Sebelumnya, Riza menyajikan pelbagai fakta empiris soal kolektivitas
krisis yang menyangkut krisis pangan dan iklim yang sudah menjadi keprihatinan
masyarakat dunia.
Ketua Departemen ESL, Dr Ir Aceng Hidayat menyimpulkan, laut sesungguhnya
lebih berperan sebagai sumber karbon (carbon sources). Proses adaptasi akan jauh
lebih penting ketimbang mitigasi, terutama bagi masyarakat pesisir yang bermukin
di wilayah pesisir. [153/N-6]
http://suarapembaruan.co.cc/index.php?modul=news&detail=true&id=16982

Macam/Jenis Hutan Di Indonesia Dan Fungsi Hutan Untuk


Kehidupan Di Muka Bumi - IPA Geografi
Fri, 11/01/2008 - 2:05pm — godam64

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki hutan yang luas di dunia. Luas hutan tersebut
dulu mencapai 113 juta hektar dan terus berkurang drastis akibat kebodohan oknum pemerintah
dan penjahat yang selalu haus uang dengan membabat dan menggunduli hutan demi mendapat
keuntungan yang besar tanpa melihat dampak bagi lingkungan global.

Brikut di bawah ini adalah pembagian macam-macam / jenis-jenis hutan yang ada di Negara
Kesatuan Republik Indonesia disertai arti definisi dan pengertian :

1. Hutan Bakau
Hutan bakau adalah hutan yang tumbuh di daerah pantai berlumpur. Contoh : pantai timur
kalimantan, pantai selatan cilacap, dll.

2. Hutan Sabana
Hutan sabana adalah hutan padang rumput yang luas dengan jumlah pohon yang sangat sedikit
dengan curah hujan yang rendah. Contoh : Nusa tenggara.
3. Hutan Rawa
Hutan rawa adalah hutan yang berada di daerah berawa dengan tumbuhan nipah tumbuh di hutan
rawa. Contoh : Papua selatan, Kalimantan, dsb.

4. Hutan Hujan Tropis


Hutan hujan tropis adalah hutan lebat / hutan rimba belantara yang tumbuh di sekitar garis
khatulistiwa / ukuator yang memiliki curah turun hujan yang sangat tinggi. Hutan jenis yang satu
ini memiliki tingkat kelembapan yang tinggi, bertanah subur, humus tinggi dan basah serta sulit
untuk dimasuki oleh manusia. Hutan ini sangat disukai pembalak hutan liar dan juga pembalak
legal jahat yang senang merusak hutan dan merugikan negara trilyunan rupiah. Contoh : hutan
kalimantan, hutan sumatera, dsb.

5. Hutan Musim
Hutan musim adalah hutan dengan curah hujan tinggi namun punya periode musim kemarau
yang panjang yang menggugurkan daun di kala kemarau menyelimuti hutan.

Di samping itu hutan terbagi / dibagi berdasarkan fungsinya, yaitu :

1. Hutan Wisata
Hutan wisata adalah hutan yang dijadikan suaka alam yang ditujukan untuk melindungi tumbuh-
tumbuhan serta hewan / binatang langka agar tidak musnah / punah di masa depan. Hutan suaka
alam dilarang untuk ditebang dan diganggu dialih fungsi sebagai buka hutan. Biasanya hutan
wisata menjadi tempat rekreasi orang dan tempat penelitian.

2. Hutan Cadangan
Hutan cadangan merupakan hutan yang dijadikan sebagai lahan pertanian dan pemukiman
penduduk. Di pulau jawa terdapat sekitar 20 juta hektar hutan cadangan.

3. Hutan Lindung
Hutan lindung adalah hutan yang difungsikan sebagai penjaga ketaraturan air dalam tanah
(fungsi hidrolisis), menjaga tanah agar tidak terjadi erosi serta untuk mengatur iklim (fungsi
klimatologis) sebagai penanggulang pencematan udara seperti C02 (karbon dioksida) dan C0
(karbon monoksida). Hutan lindung sangat dilindungi dari perusakan penebangan hutan
membabibuta yang umumnya terdapat di sekitar lereng dan bibir pantai.

4. Hutan Produksi / Hutan Industri


Hutan produksi yaitu adalah hutan yang dapat dikelola untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai
ekonomi. Hutan produksi dapat dikategorikan menjadi dua golongan yakni hutan rimba dan
hutan budidaya. Hutan rimba adalah hutan yang alami sedangkan hutan budidaya adalah hutan
yang sengaja dikelola manusia yang biasanya terdiri dari satu jenis tanaman saja. Hutan rimba
yang diusahakan manusia harus menebang pohon denga sistem tebang pilih dengan memilih
pohon yang cukup umur dan ukuran saja agar yang masih kecil tidak ikut rusak.

Ada beberapa pengertian energi alternatif yang berkembang saat ini. Di antaranya,
menyebutkan bahwa energi alternatif merupakan istilah yang digunakan untuk semua
energi yang dapat digunakan untuk menggantikan bahan bakar konvensional. Ini
merujuk pada teknologi untuk menghasilkan bahan bakar selain fosil atau minyak bumi.
Ini diperlukan mengingat minyak bumi merupakan sumber energi yang tidak dapat
diperbaharui.

Berdasarkan Oxford dictionary, energi alternatif sebagai energi yang digunakan dengan
tujuan untuk menghentikan adanya penggunaan sumber daya alam yang ada atau
adanya perusakan lingkungan. Mulai dicari ketika sumber energi yang sebelumnya
dipergunakan sudah mulai langka sehingga harganya menjadi mahal, terlebih jika
sumber energi tersebut habis.

Selain itu, isu pemanasan global disebut-sebut sebagai dampak penggunaan energi
minyak bumi yang saat ini memang dijadikan sumber energi utama dalam kehidupan
manusia di seluruh dunia. Hal tersebut memaksa kita mencari energi lain yang
potensial. Energi lain inilah yang dinamakan energi alternatif.

Kriteria Energi Alternatif

Pengertian energi alternatif lainnya yaitu sumber-sumber energi pengganti sumber


energi yang telah menipis ketersediaannya di alam. Contohnya, minyak bumi yang
volumenya kian menipis. Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapat
disimpulkan bahwa energi alternatif yang diinginkan adalah energi alternatif yang
memiliki kriteria sebagai berikut.

• Penggunaan energi alternatif ini dapat digunakan berulang-ulang.


• Energi alternatif yang dipilih jumlahnya sangat berlimpah di alam.
• Pengolahannya tidak merusak alam.
• Tidak berbahaya, aman, serta tidak menimbulkan berbagai penyakit akibat pengolahan
atau penggunaan energi alternatif tersebut.
• Tidak adanya limbah dalam bentuk apapun yang sifatnya merusak alam atau dengan
kata lain energi alternatif tersebut ramah lingkungan.

Untuk mendapatkan energi alternatif yang memenuhi kriteria tersebut, tidaklah


semudah membalikkan telapak tangan. Oleh karena itu, dilakukanlah berbagai
penelitian. Penelitian tersebut prosesnya rumit dan cukup memakan waktu. Namun, hal
itu tetap diupayakan oleh berbagai negara untuk mendapatkan energi alternatif ramah
lingkungan sehingga akhirnya ditemukan berbagai energi alternatif tersebut.

Pembagian Energi Alternatif

Berdasarkan upaya-upaya tersebut, saat ini, energi alternatif dibag menjadi dua
golongan.

1. Energi Alternatif Sebagai Pengganti Minyak Bumi

Energi alternatif yang termasuk ke dalam golongan ini, yaitu elpiji, biofuel, hidrofuel,
biomassa, biogas, biodiesel, metanol, campuran spirtus, dan sebagainya. Selain itu, kini
energi alternatif sudah ada yang bersumber dari air murni, air laut, bunga matahari,
gula, sampah, minyak jelantah, kompos, kotoran hewan, eceng gondok, biji jarak,
alkohol, kelapa sawit, bonggol jagung, dan sebagainya.

2. Energi Pembangkit Listrik Alternatif

Pembangkit listrik alternatif didapat dari panel surya, pambangkit tenaga gelombang
permukaan laut, pembangkit hidrogen, pembangkit tenaga nuklir, dan sebagainya.

El Nino dan La Nina

Fenomena alam ini cukup menjadi perbincangan beberapa tahun terakhir. Beberapa
bencana alam dalam rentang area yang luas banyak disebut disebabkan ulah
fenomena ini. El Nino dan La Nina sesungguhnya adalah kondisi abnormal iklim pada
area Samudra Pasifik yang terletak pada daerah ekuatorial. Kedua gejala alam ini
mempunyai kondisi anomali yang berbeda, El Nino dicirikan dengan naiknya suhu
permukaan laut (warm phase) sedangkan La Nina mempunyai kondisi yang
sebaliknya yaitu turunnya suhu permukaan air laut (cold phase) pada area
katulistiwa Samudra Pasifik.

El Nino dan La Nina sendiri baru dimasukkan kedalam istilah bahasa ilmiah pada
tahun 1997, dalam bahasa asli (Amerika Selatan) La Nina berarti si gadis kecil
sedangkan El Nino berarti si buyung kecil. Sesungguhnya fenomena ini sudah
berjalan dalam waktu yang panjang, tetapi baru dapat diidentifikasi dalam beberapa
tahun terakhir. Selama kurun 78 tahun telah terjadi 23 kali gejala El Nino dan 15 kali
La Nina. El Nino sendiri terjadi dengan selang antara 3 sampai 7 tahun.

Dampak yang ditimbulkan oleh anomali alam ini memang cukup luar biasa dalam
rentang area yang luas antara lain kekeringan, kekurangan pangan dan banjir.
Beberapa bencana kekeringan dan banjir yang terjadi di Indonesia juga disebabkan
oleh El Nino atau La Nina. Akan tetapi penelitian lebih lanjut menemukan bahwa
tidak semua anomali ini menimbulkan dampak negatif. Sebuah riset menunjukkan
bahwa El Nino menurunkan intensitas dan jumlah badai Atlantik dan tornado yang
melintasi bagian tengah Amerika Serikat. (edy yuvera:nationalgegraphic dan
internet source)