Anda di halaman 1dari 12

CSO BPS

ATURAN DASAR
BADAN PENGELOLA SARANA (BPS )

PEMBUKAAN
Bahwa pendalaman dan pengembangan nilai-nilai kewargaan ke arah
tatanan masyarakat yang lebih partisipatoris dalam rangka membangun
kebersamaan dan kepercayan (trust and respect) antara pemerintah,
masyarakat warga, dan masya-rakat yang lebih luas; memerlukan wadah
kelembagaan masyarakat warga yang didasarkan kepada kesadaran kritis
akan kebutuhan untuk bersinergi, dan nilai-nilai kearifan lokal, dan
mencerminkan pola kepemimpinan kolektif berbasis moral yang merupakan
manifestasi nilai-nilai budaya yang luhur di masyarakat.
Bahwa gerakan penanggulangan kemiskinan melalui upaya
pencapaian target WSS-MDGs pembangunan sarana dan prasarana
lingkungan permukiman merupakan gerakan bersama yang harus berjalan
secara mandiri dan berkelanjutan melalui pemberdayaan masyarakat
terutama masyarakat miskin, serta bersinergi dengan kegiatan-kegiatan
yang telah ada yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.
Agar dapat mewujudkan hal tersebut diperlukan peran aktif seluruh
komponen masyarakat secara luas mulai dari identifikasi masalah
kemiskinan dan lingkungan permukiman serta potensi-potensi yang dapat
digunakan untuk perencanaan program penanggulangan kemiskinan
melalui pembangunan sarana dan prasarana lingkungan permukiman,
pelaksanaan dan pengawasan sampai pada kesinambung-an dan
keberlanjutannya.
Dalam penyusunan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan
sampai dengan penikmatan dan pemeliharaan hasil-hasil kegiatan gerakan
penanggulangan kemiskinan tersebut harus berpegang pada prinsip
keberpihakan kepada kelompok yang lemah, mengembangkan partisipasi
lokal, mendorong kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
Dalam rangka mengorganisir aspirasi, kebutuhan, permasalahan serta
potensi masyarakat, maka perlu didirikan wadah kelembagaan yaitu suatu
Badan Pengelola Sarana yang berbentuk paguyuban / perkumpulan atas
dasar silaturahim perwakilan warga masyarakat desa/kelurahan. Badan ini
mempunyai Visi membangun masyarakat warga (civil society) sebagai
suatu tatanan hidup berma-syarakat, agar terwujud jaring kemitraan antara
pemerintah daerah dan masyarakat yang berdaya dan mampu menciptakan
lingkungan perumahan dan permukiman yang sehat, layak dan produktif
secara mandiri dan berkelanjutan, Misi BPS adalah membangun modal
sosial dengan menumbuhkan kembali ikatan-ikatan sosial dan menggalang
solidaritas serta kesatuan sosial sesama warga agar saling bekerja-sama
demi kebaikan, kepentingan dan kebutuhan serta kemajuan bersama, serta
dalam jangka panjang akan memperkuat keswadayaan masyarakat warga.
Berdasarkan alasan dan maksud tersebut dan dengan senantiasa
mengharapkan ridlo dari Tuhan Yang Maha Esa, warga masyarakat
Desa/Kelurahan Sangkanayu Kecamatan Mrebet Kabupaten/Kota
Purbalingga Provinsi Jawa Tengah mengukuhkan berdirinya BPS dengan
berpedoman pada Aturan Dasar ini.

BAB I
BENTUK, NAMA, TEMPAT KEDUDUKAN, PENDIRIAN, DAN WAKTU

Pasal 1
Bentuk, Nama dan Tempat Kedudukan
1. Organisasi Masyarakat Warga ini berbentuk Badan Pengelola Sarana di
singkat BPS.
2. Organisasi Masyarakat Warga ini bernama BPS “TIRTA MADJU” yang
berkedudukan di Desa/Kelurahan Sangkanayu Kecamatan Mrebet
Kabupaten/Kota Purbalingga Provinsi Jawa Tengah

Pasal 2
Pendirian dan Waktu Pelaksanaan
BPS ini didirikan oleh masyarakat warga Desa/Kelurahan Sangkanayu
Kecamatan Mrebet Kabupaten/Kota Purbalingga Provinsi Jawa Tengah
melalui Forum Rembug Warga pada Hari Rabu Tanggal Tiga Belas Bulan
Mei Tahun Dua Ribu Sembilan untuk jangka waktu yang tidak ditentukan
lamanya.

BAB II
ASAS, DASAR, DAN SIFAT KELEMBAGAAN

Pasal 3
Asas dan Dasar
1. BPS ini berasaskan pada nilai-nilai KeTuhanan, Kemanusiaan,
Kebersamaan dan Kesetaraan, Keadilan, Kejujuran, Keterbukaan dengan
menjunjung tinggi Asas dan Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. BPS ini berdasarkan pada prinsip-prinsip trust and respect, partisipatif,
inklusif, deliberatif, transparansi, demokrasi dan desentralisasi,
musyawarah mufakat, akuntabel, responsible.
Pasal 4
Sifat Organisasi
BPS ini bersifat independent dan otonom.

BAB III
MAKSUD, TUJUAN DAN USAHA-USAHA ORGANISASI

Pasal 5
Maksud
BPS ini dimaksudkan sebagai wadah masyarakat warga dalam menggalang
kebersamaan seluruh warga dan menjalin kerjasama dengan berbagai
pihak secara mandiri, terpadu, berkelanjutan dan berkesinambungan.
Pasal 6
Tujuan
BPS ini bertujuan agar masyarakat warga memiliki:
1. Organisasi masyarakat warga (civil society organization) yang
merdeka dan memiliki posisi serta kekuatan runding yang setara dengan
para pelaku pembangunan di daerah.
2. Organisasi masyarakat warga yang dapat menampung aspirasi
dan kebutuhan sarana prasarana lingkungan / social / ekonomi
masyarakat warga dalam kerangka ikut serta dalam menentukan
kebijakan publik.
3. Sistem pengambilan keputusan masyarakat warga sesuai
dengan norma kemasyarakatan dan kearifan lokal.
4. Sistem kerjasama yang terlembaga antara masyarakat warga
melalui BPS dengan masyarakat yang peduli serta pihak lain dalam
rangka penanggulangan kemiskinan dan pembangunan lingkungan
permukiman sebagai perwujudan semangat kebersamaan dalam rangka
menuju kemandirian.
5. Sistem dan mekanisme perencanaan, pertanggungjawaban, dan
pengembang-an kelembagaan masyarakat warga (civil society
organization).

Pasal 7
Usaha-Usaha
Usaha-usaha yang dilakukan untuk mewujudkan maksud dan tujuan yang
termaktub pada pasal 5 dan 6 adalah sebagai berikut:
1. Menyelenggarakan perencanaan sumber daya, dan pengawasan
program pembangunan secara partisipatoris.
2. Memfasilitasi aspirasi dan prakarsa masyarakat warga.
3. Membuka akses warga miskin ke sumber daya lain yang dapat
digunakan secara langsung oleh masyarakat miskin untuk upaya
penanggulangan kemiskinan dan pembangunan lingkungan
permukiman
4. Meningkatkan keterampilan teknis dan manajerial dalam upaya
menunjang penciptaan peluang usaha baru, pengembangan usaha,
penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan pendapatan masyarakat.
5. Membangun jejaring kerja dengan pihak luar dalam rangka
penguatan program penanggulangan kemiskinan dan pembangunan
lingkungan permukiman.
6. Pengelolaan sumber daya, sarana dan prasarana dasar lingkungan
pemukiman serta sumber daya alam bagi peningkatan kegiatan
ekonomi atau komponen lain yang disepakati masyarakat.

BAB IV
MASYARAKAT WARGA
Pasal 8
1. Masyarakat Warga yang tergabung dalam BPS “TIRTA MADJU” adalah
seluruh warga masyarakat baik sebagai orang perorang maupun
kelompok yang berkedudukan di Desa/Kelurahan Sangkanayu
Kecamatan Mrebet Kabupaten/Kota Purbalingga Provinsi Jawa Tengah
2. Masyarakat warga sebagai orang perorang maupun kelompok
disebut sebagai anggota masyarakat warga.
3. Ketentuan lain tentang anggota masyarakat warga diatur dalam Aturan
Rumah Tangga

BAB V
KEKUASAAN DAN KEWENANGAN TERTINGGI

Pasal 9
1. Kekuasaan dan kewenangan tertinggi berada di tangan
masyarakat warga Desa/Kelurahan Sangkanayu Kecamatan Mrebet
Kabupaten/Kota Purbalingga Provinsi Jawa Tengah
2. Kekuasaan dan kewenangan tertinggi dijalankan melalui
Permusyawaratan Warga.
3. Keputusan–keputusan yang ditetapkan dalam permusyawatan
warga dimandat-kan kepada Pimpinan Kolektif BPS “TIRTA MADJU”

BAB VI
PERANGKAT ORGANISASI

Pasal 10
Pimpinan dan Anggota Pimpinan Organisasi

1. Pimpinan Kolektif BPS “TIRTA MADJU” adalah penerima mandat


masyarakat warga melalui permusyawaratan warga untuk mengkoor-
dinir gerakan penanggulangan kemiskinan dan pembangunan
lingkungan permukiman secara sukarela.
2. Anggota Pimpinan Kolektif BPS “TIRTA MADJU” sebanyak 13 Orang,
yang dipilih secara langsung tanpa melalui proses pencalonan
dan/ataupun kampanye dan ditetapkan oleh musyawarah warga untuk
masa bakti 4 tahun.
3. Seluruh Anggota Pimpinan Kolektif BPS “TIRTA MADJU” memiliki
Kedudukan, hak, wewenang, tugas dan kewajiban yang sama serta
mengembangkan pola kepemimpinan kolektif kolegial dalam memimpin
gerakan penanggulangan kemiskinan dan pembangunan lingkungan
permukiman.
4. Salah seorang Anggota Pimpinan dapat ditetapkan menjadi
Koordinator Pimpinan untuk menjalankan fungsi koordinasi
kepemimpinan oleh Anggota Pimpinan melalui mekanisme penetapan
yang berlaku.
5. Salah seorang Anggota Pimpinan dapat ditetapkan menjadi
Sekretaris untuk menjalankan fungsi Administrasi dan kesekretariatan
oleh Anggota Pimpinan melalui mekanisme penetapan yang berlaku.
6. Tugas, kewajiban, hak dan wewenang pimpinan Organisasi diatur lebih
lanjut dalam Aturan Rumah Tangga.
Pasal 11
Pergantian dan Pemilihan Pimpinan Kolektif BPS

1. Pergantian Anggota Pimpinan dilakukan melalui Permusyawaratan


Warga yang membicarakan agenda tersebut.
2. Anggota Pimpinan lama tetap menjalankan segala tugas dan kewajiban
yang telah dimandatkan oleh Permusyawaratan Warga yang
membicarakan agenda pergantian Anggota Pimpinan sampai melakukan
serah terima jabatan dengan Anggota Pimpinan baru.
3. Pergantian antar waktu Anggota Pimpinan merupakan pergantian
sebahagian atau seluruh Anggota Pimpinan yang dapat dilakukan tanpa
menunggu habisnya masa tugas Anggota Pimpinan dan dilakukan
melalui mekanisme Permusya-waratan Warga yang khusus
membicarakan agenda tersebut.
4. Tata cara dan mekanisme
pergantian dan pemilihan Anggota Pimpinan diatur dalam Aturan Rumah
Tangga.

Pasal 12
Gugus Tugas dan Unsur Pembantu Pimpinan Organisasi1

1. Unit Pengelola Keuangan (UPK), adalah gugus tugas dari Pimpinan


Kolektif BPS “TIRTA MADJU” yang bekerja secara profesional dan purna
waktu serta berfungsi dan bertanggungjawab melakukan pengelolaan
keuangan yang disalurkan lewat Pimpinan Kolektif BPS “TIRTA MADJU”.
2. Unit Kerja Air Minum dan Sanitasi (AMPL), adalah gugus tugas dari
Pimpinan Kolektif BPS “TIRTA MADJU” yang berfungsi dan
bertanggungjawab atas penata-kelolaan kegiatan penyediaan sistem
penyediaan air minum dan sanitasi untuk meningkatkan akses terhadap
air minum dan sanitasi dalam rangka peningkatan derajat kesehatan
masyarakat.
3. Unit Kerja Kesehatan dan Higiene (HH), adalah gugus tugas Pimpinan
Kolektif BPS “TIRTA MADJU” yang berfungsi dan bertanggungjawab atas
penata-kelolaan kegiatan kesehatan dan higiene di masyarakat dan
sekolah untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam
rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
4. Tata cara pembentukan dan mekanisme kerja masing – masing unsur
pembantu organisasi diatur lebih lanjut dalam Aturan Rumah Tangga

BAB VII
KELOMPOK SWADAYA MASYARAKAT

Pasal 14
1. Kelompok Swadaya Masyarakat adalah suatu kelompok warga yang
telah ada maupun yang dibentuk baru untuk itu yang beranggotakan
masyarakat warga tertentu yang dibangun atas azas, prinsip, maksud
dan tujuan serta dapat mengajukan usulan untuk memperoleh fasilitas
dana bantuan langsung masyarakat untuk kegiatan-kegiatan yang
1
Jumlah dan jenis Unit Kegiatan di dalam BPS tergantung pada jenis dan jumlah kegiatan
yang akan dilaksanakan oleh masyarakat melalui wadah BPS
sejalan dengan azas, prinsip, maksud, tujuan dan usaha-usaha BPS
“TIRTA MADJU”
2. Ketentuan lebih lanjut tentang Kelompok Swadaya Masyarakat diatur
dalam Aturan Rumah Tangga (ART).

BAB VIII
SISTEM DAN MEKANISME PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Pasal 15
1. Sistem dan mekanisme pengambilan keputusan Pimpinan Kolektif
BPS “TIRTA MADJU” dilakukan melalui Musyawarah Warga dan Rapat
Anggota Pimpinan.
2. Permusyawaratan Warga dan Rapat Anggota Pimpinan dapat
berlangsung dengan tidak memandang jumlah yang hadir, asal yang
berkepentingan telah diundang baik melalui undangan tertulis maupun
undangan terbuka.
3. Keputusan musyawarah dilakukan melalui mekanisme rembug warga
berjenjang dan diusahakan diambil dengan suara bulat, dan apabila
dipandang perlu dapat diadakan pemungutan suara dengan keputusan
mengacu pada suara terbanyak.
4. Keputusan musyawarah dan rembug warga berjenjang yang
menyangkut pergantian dan pemilihan Anggota Pimpinan Kolektif BPS
“TIRTA MADJU” mengikuti ketentuan quorum yang berlaku.
5. Keputusan Permusyawaratan Warga tetap berlaku hingga dibatalkan
oleh dan atau bertentangan dengan keputusan yang di atasnya atau
keputusan yang lebih tinggi.
6. Keputusan Rapat Anggota Pimpinan tetap berlaku hingga dibatalkan
oleh dan atau bertentangan dengan keputusan di atasnya atau
keputusan yang lebih tinggi serta tidak dapat membatalkan keputusan-
keputusan yang diambil dalam Permusyawaratan Warga.

Pasal 16
Permusyawaratan Warga

1. Permusyawaratan warga merupakan forum pengambilan keputusan dan


kebijakan tertinggi Pimpinan Kolektif BPS “TIRTA MADJU” yang terdiri
dari Permusyawaratan Umum Warga, Permusyawaratan Tahunan Warga
dan Permusyawaratan Istimewa Warga dan masing-masing dilalui
dengan mekanisme rembug warga berjenjang.
2. Permusyawaratan Umum Warga, adalah permusyawaratan warga
tertinggi dalam gerakan penanggulangan kemiskinan yang diadakan
sekurang– kurangnya 1 tahun sekali atas undangan Pimpinan Kolektif
BPS “TIRTA MADJU”
3. Permusyawaratan Tahunan Warga, adalah permusyawaratan warga
tertinggi sesudah permusyawaratan umum warga yang merupakan
forum konsultasi gerakan penanggulangan kemiskinan dan diadakan
sekurang-kurangnya 1 tahun sekali atas undangan Pimpinan Kolektif
BPS “TIRTA MADJU”
4. Permusyawaratan Istimewa Warga, adalah forum pengambilan
keputusan warga tertinggi yang memiliki kewenangan yang dapat
disetarakan dengan kewenangan permusyawaratan umum kecuali
menetapkan perubahan pokok dalam Aturan Dasar yang berlaku dan
dilakukan dalam situasi dan kondisi khusus.

Pasal 17
Rapat Anggota Pimpinan

1. Rapat Anggota Pimpinan merupakan forum pengambilan keputusan


dan atau menetapkan kebijakan-kebijakan Anggota Pimpinan Kolektif
BPS “TIRTA MADJU” dalam operasional pelaksanaan gerakan
penanggulangan kemiskinan dan pembangunan lingkungan permukiman
yang terdiri dari Rapat Tahunan dan Rapat Koordinasi Rutin Anggota
Pimpinan.
2. Rapat Tahunan, adalah rapat yang dilakukan sekurang-kurangnya 1
tahun satu kali yang diikuti oleh seluruh Anggota Pimpinan dan seluruh
Gugus Tugas dan Unsur Pembantu Pimpinan atas undangan Pimpinan
Kolektif BPS “TIRTA MADJU” untuk evaluasi dan pembahasan
perkembangan kegiatan tahun sebelumnya serta menetapkan
rancangan Program Kerja Tahunan termasuk pembahasan usulan
kegiatan KSM / masyarakat.
3. Rapat Koordinasi Rutin Anggota Pimpinan, adalah rapat rutin yang
diadakan sekurang-kurangnya 1 bulan sekali oleh Anggota Pimpinan
Kolektif BPS “TIRTA MADJU” guna membahas kemajuan dan
perkembangan kegiatan serta menetapkan rencana kegiatan bulanan
yang akan dilaksanakan oleh unit-unit pengelola kegiatan.

BAB IX
KEKAYAAN DAN SUMBER KEKAYAAN ORGANISASI

Pasal 18
Kekayaan Organisasi

1. Kekayaan Kolektif BPS “TIRTA MADJU” adalah hak milik seluruh


warga masyarakat yang pemanfaatannya diperuntukkan sebesar-
besarnya bagi usaha gerakan penanggulangan kemiskinan dan
pembangunan lingkungan permukiman di Desa/Kelurahan Sangkanayu
Kecamatan Mrebet Kabupaten/Kota Purbalingga Provinsi Jawa Tengah
2. Kekayaan sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah segala sesuatu
yang dimiliki oleh BPS “TIRTA MADJU” baik berupa kekayaan tetap,
kekayaan lancar maupun kekayaan yang tidak berwujud.

Pasal 19
Sumber-Sumber Kekayaan Organisasi

Sumber kekayaan BPS “TIRTA MADJU” diperoleh dari:


1. Bantuan atau sumbangan dari warga masyarakat yang diberikan
secara sukarela;
2. Bantuan atau sumbangan dari penyandang dana secara perorangan
maupun lembaga yang diberikan dengan tanpa ada ikatan apapun;
3. Bantuan atau sumbangan dari pihak pemerintah yang diberikan
dengan tanpa ikatan yang merugikan BPS “TIRTA MADJU” dalam bentuk
bantuan langsung pemerintah kepada masyarakat.
4. Hasil–hasil usaha organisasi yang sah dan tidak melawan hukum serta
ditetap-kan oleh ketetapan Permusyawaratan Warga.
Pasal 20
Pengelola dan Pemanfaatan Kekayaan Organisasi

1. Pengelolaan kekayaan sebagaimana dimaksud pasal 18 dan 19


diamanatkan kepada Pimpinan Kolektif BPS “ TIRTA MADJU” melalui UPK
untuk dikelola secara professional, tertib dan transparan dan harus
dipertanggung-jawabkan kepada seluruh warga masyarakat
Desa/Kelurahan Sangkanayu Kecamatan Mrebet Kabupaten/Kota
Purbalingga
2. Pemanfaatan seluruh kekayaan sebesar–besarnya dimanfaatkan
sebagai fasilitas Dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) baik bersifat
hibah dan ataupun bergulir kepada KSM-KSM / masyarakat yang
melakukan usaha-usaha yang mendukung maksud dan tujuan BPS “
TIRTA MADJU”
3. Besaran biaya operasional yang diperkenankan diambil dari
kekayaan yang bersumber dari hasil–hasil usaha organisasi ditetapkan
oleh Ketetapan Permu-syawaratan Warga yang membicarakan agenda
tersebut.
4. Ketentuan lebih lanjut tentang pemanfaatan dan pertanggungjawaban
peman-faatan kekayaan organisasi di atur dalam Aturan Rumah Tangga.

BAB X
PENGADUAN MASYARAKAT

Pasal 21
1. Pihak pemeduli baik pemerintah maupun non-pemerintah dapat
membangun Unit–Unit Pengaduan Masyarakat yang bekerja masing-
masing secara independen dalam suatu jejaring pengaduan masyarakat.
2. Pimpinan Kolektif BPS “TIRTA MADJU” wajib bekerjasama dengan TPM /
Kader Masyarakat dan semua pihak pemeduli baik pemerintah maupun
non-pemerintah membangun simpul–simpul jaringan pengaduan
masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai keutamaan dan prinsip-
prinsip utama kemanusiaan dan kemasyarakatan.
3. Unit pengaduan masyarakat merupakan bagian dari partisipasi
masyarakat dalam mengawal pembangunan khususnya gerakan
penanggulangan kemis-kinan dan pembangunan lingkungan
permukiman berfungsi untuk menerima pengaduan dan keluhan yang
disampaikan baik secara tertulis maupun lisan oleh perorangan atau
kelompok masyarakat.
4. Masing-masing unit pengaduan masyarakat wajib melakukan
pengelolaan pengaduan meliputi:
4.1. Pencatatan pada saat menerima pengaduan dan keluhan guna
memudah-kan dalam penanganan penyelesaian pengaduan,
4.2. Melakukan klarifikasi dan investigasi terhadap pengaduan yang
diterima sebagai data pendukung guna memudahkan dalam
penanganan penyele-saian pengaduan,
4.3. Melakukan penyelesaian pengaduan dari masyarakat dengan cara
musya-warah dan mufakat diantara pihak-pihak yang
berkepentingan, apabila penyelesaian dengan cara musyawarah
dan mufakat tidak dapat tercapai dapat melibatkan campur tangan
pihak ketiga melalui cara arbitrase dan hukum.
5. Tata cara maupun mekanisme dan prosedur pengelolaan pengaduan
masyarakat dan jejaring pengaduan masyarakat diatur lebih lanjut
dalam Pedoman Pengaduan Masyarakat yang dirumuskan bersama-
sama antara Anggota Pimpinan Kolektif BPS “TIRTA MADJU ” dengan
pihak pemeduli.

BAB XI
ATURAN RUMAH TANGGA

Pasal 22

1. Hal-hal lain yang belum diatur dalam Aturan Dasar ini akan diatur
dalam Aturan Rumah Tangga.
2. Aturan Rumah Tangga BPS ” TIRTA MADJU” merupakan satu kesatuan
yang tidak terpisahkan dengan Aturan Dasar ini dan disahkan oleh
Permusyawaratan Warga.

BAB XII
PERUBAHAN ATURAN DASAR
DAN PEMBUBARAN ORGANISASI

Pasal 23
Perubahan Aturan Dasar

1. Aturan Dasar hanya dapat dirubah oleh Permusyawaratan Umum


Warga dan perubahannya adalah sah apabila diputuskan dengan suara
bulat atau sedikit-nya 2/3 (dua per tiga) dari jumlah Peserta
Permusyawaratan Umum warga yang hadir untuk membicarakan
agenda tersebut.
2. Jika dikehendaki adanya perubahan Aturan Dasar, selama Aturan Dasar
baru belum dapat diputuskan maka Aturan Dasar lama masih
dinyatakan berlaku.

Pasal 24
Pembubaran Organisasi
1. BPS ”TIRTA MADJU” hanya dapat dibubarkan oleh keputusan
Permusyawaratan Umum Warga dengan didahului proses Referendum
Masyarakat Warga.
2. Pembubaran hanya dapat dilakukan jika BPS ” TIRTA MADJU” dinilai
tidak lagi memadai sebagai wadah masyarakat warga dalam
menggalang kebersamaan seluruh warga dan menjalin kerjasama
dengan berbagai pihak bagi usaha gerakan penanggulangan
kemiskinan secara mandiri, terpadu dan berkelanjutan.
3. Jika BPS ” TIRTA MADJU” dinyatakan bubar, seluruh kekayaan diserahkan
kembali kepada masyarakat melalui Negara untuk kepentingan usaha
penanggulangan kemiskinan dan pembangunan lingkungan
permukiman.

BAB XIII
PENUTUP

Pasal 25
1. Hal-hal lain yang belum diatur dalam Aturan Dasar maupun Aturan
Rumah Tangga akan diatur dalam Pedoman Organisasi ataupun
peraturan lainnya.
2. Aturan Dasar ini untuk pertama kali disahkan melalui ketetapan
Permusyawaratan Umum Warga yang saat itu disebut Rembug Warga
Desa/Kelurahan Sangkanayu Kecamatan Mrebet Kabupaten/Kota
Purbalingga Provinsi Jawa Tengah yang diselenggarakan pada hari Rabu
tanggal Tiga Belas bulan Mei tahun dua ribu sembilan dan berlaku sejak
tanggal pengesahan.

Ditetapkan di Sangkanayu
Pada tanggal 13 Mei 2009

( SUTRISNO )
Koordinator

( ALI NURSETIAWAN ) ( SUGIYONO ) ( AZNAR ISMAIL )

( MUNIAH ) ( IMAM SOLEH S. ) ( MARGIYATI )


( SULAIMAN ) ( TAUHID ) ( KASIMIN )

( SUGIARTO ) ( SUKRIANTO ) ( SUNGKOWO )

Dicatatkan untuk di daftar oleh Notaris: ………………………