Anda di halaman 1dari 3

c  


 

c

            

Sumber: http://forum.kotasantri.com/viewtopic.php?t=72

http://www.al-shia.org/html/id/books/001/01.html

http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=A4443_0_3_0_M

Sejarah IPTEK Dunia Islam

Umat muslim memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Karena, dunia Islam pernah mencatat pencapaian yang cemerlang di bidang sains,
teknologi, dan filsafat di bawah Dinasti Abbasiyah, yang berkuasa selama kurang lebih 800
tahun dari abad ke-8 sampai ke-15. Pencapaian prestasi yang gemilang itu jelas tecermin pada
lahirnya para ilmuwan masyhur, seperti al-Biruni (fisika, kedokteran), Jabir Haiyan (kimia), al-
Khawarizmi (matematika), al-Kindi (filsafat), al-Razi (kimia, kedokteran), juga al-Bitruji
(astronomi). ³Selain itu, juga ada Ibnu Haitham (teknik, optik), Ibnu Sina (kedokteran), Ibnu
Rusyd (filsafat), Ibnu Khaldun (sejarah, sosiologi), dan banyak lagi yang lainnya.

IPTEK dan Ponari

Firman-firman Allah mengatakan bahwa manusia disuruh untuk menuntut ilmu dan hadits nabi
juga menyebutkan bahwa tuntutlah ilmu setinggi mungkin. Ada lebih dari 800 ayat dalam Al-
Quran yang mementingkan proses perenungan, pemikiran dan pengamatan terhadap berbagai
gejala alam.Yang paling terkenal adalah ayat:

³Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ³Ya Tuhan kami, tiadalah
Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa
neraka.´ (QS Ali Imron [3] : 190-191)

³Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa
derajat.´ (QS. Mujadillah [58]: 11 )

Perintah ini ditujukan agar umat islam mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi dengan baik.
Sehingga memungkinkan umat Islam tidak tertinggal dari bangsa barat dan dapat kembali jaya
seperti pada zaman dahulu.

Namun apabila ditilik dari kasus dukun cilik Ponari, umat islam cenderung telah melupakan
fakta-fakta ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. Penyangkalan yang dilakukan oleh
pasien ponari, seolah menunjukan bahwa umat islam telah melupakan kesuksesan Ibnu Sina
dalam mengembangkan ilmu kedokteran. Perilaku ini menunjukan bahwa masyarakat muslim di
Indonesia berkembang terbalik atau mengalami kemunduran jika dibandingkan dengan umat
islam di Negara lain.

Kasus ponari menunjukan bahwa masih banyak umat isalm Indonesia yang percaya pada hal-hal
yang berbau mistis yang kebenarannya masih disangsikan. Umat islam Indonesia tidak memiliki
pondasi IPTEK yang kuat sehingga dengan sangat mudah goyah oleh terpaan hal-hal mistis.
Kepercayaan terhadap kesaktian batu ponari telah meruntuhkan iman umat manusia. Jika dilihat
dari segi perkembangan IPTEK, masyarakat seharusnya tidak lagi percaya pada hal-hal seperti
ini. Masyarakat harus lebih berpikir kritis dan logis dalam menanggapi hal ini. Bagaimana
mungkin sebuah batu yang dicelupkan kedalam air dapat menyembuhkan berbagai penyakit yang
di derita pasien. Hal ini sangat tidak bisa diterima oleh akal sehat.

Dizaman yanbg serba modern dan canggih ini, masyarakat dituntut untuk semakin berkembang
dan merubah pola pikir mereka sesuai dengan perkembangan zaman. Kepercayaan terhadap hal-
hal mistis seharusnya telah ditinggalkan. Masyarakat seharusnya lebih bergantung terhadap
teknoogi dan ilmu pengetahuan modern. Jika dibandingkan dengan Jepang, Indonesia ternilang
sangat jauh tertinggal, padahal Indonesia merupakan Negara dengan penduduk muslim
terbanyak. Padahal sejarah menunjukan bahwa cikal bakal ilmu pengatahuan dan teknologi telah
sukses dikembangkan oleh umat muslim. Berbicara di luar konteks keagamaan, Jepang juga
memiliki ratio penduduk dengan umur terpanjang yaitu 113 tahun. Apakah pencapaian ini
dikarenakan oleh Ilmu pengetahuan dan teknologi, ataukah dengan kemampuan hal-hal
supernatural seperti batu?