Anda di halaman 1dari 2

c 


  c       
Penari menjadi bagian dari perkembangan budaya populer dalam industri hiburan. Penari
adalah juga selebriti panggung, profesi yang memberikan kontribusi atas kesuksesan sebuah
paket pertunjukan. Profesi yang makin diminati anak muda, namun minim apresiasi.

Realitas inilah yang kemudian memicu berdirinya sekolah tari di bawah bendera dancer
profesional United Dance Works. Adalah Adhisty Juliani Kampono dan Yessy Hutabarat,
dua perempuan penari dan koreografer yang sudah berpengalaman dalam dunia tari lebih dari
satu dekade, yang menggagas sekolah tari ini.

United Dance Works Dance Complex, ini nama wadahnya, lingkungan yang sarat dengan
kesan seni tari modern, kemandirian dan profesionalisme, di kawasan Kemang, Jakarta
Selatan. UDW Dance Academy, adalah salah satu program pendidikan tari di dalamnya.

Sekolah tari, menurut Adhis, terutama yang fokus pada tari modern masih sangat sedikit.
Kepekaan melihat kebutuhan dan perkembangan minat dan potensi anak muda masa generasi
MTV melatari munculnya akademi ini.

Indonesia sudah cukup tertinggal dalam pengembangan seni tari modern. Padahal potensinya
cukup besar jika diberdayakan. Adhis menjelaskan Singapura bahkan mencari guru tari dari
Indonesia untuk diberdayakan di negaranya.

³Bahkan Singapura menyediakan ruang kepada pekerja seni untuk unjuk karya dan mereka
difasilitasi. Apresiasi negara sangat tinggi atas potensi seni,´ tutur Adhis.

Asia bahkan menganggap Indonesia tak kaya potensi. Hingga akhirnya mereka mengakui
kekayaan tradisi, setelah UDW menunjukkan kehebatan tradisi tari Saman dari Aceh yang
dipadukan dengan gerak tari modern. Pertunjukan tersebut terwakilkan oleh UDW dalam
sebuah ajang festival seni tingkat Asia di Singapura tahun 2009 lalu.

UDW Dance Academy membuka ruang untuk belajar tari lebih mendalam dan technical.
Selain Yessy, dan sekolah tari ini juga akan diperkuat oleh David, koreografer profesional
bertaraf internasional.

Level tari dimulai dari beginner, basic, intermediate, advance, dan soloseal selama 3-4 tahun.
Jenis tariannya modern tradisional Indonesia, jazz ballet, pop modern, hip hop, kontemporer,
lyrical, street latin, dan Funk. Biaya administrasi untuk mengikuti sekolah ini sebesar Rp
250.000. Sedangkan setiap level memiliki biaya pendidikan yang berbeda dengan masa
waktu belajar yang ditentukan.

p p p p p p p p p p p p p
2    c   
Meski pelaku dan kegiatan Seni Tari masih relatif banyak, perkembangan seni tari di DI
Yogyakarta masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain belum optimalnya sinergi
antara seniman tari dengan seniman lain. Salonisasi tradisi pun terus terjadi dalam
perkembangan tari dewasa ini.

Menurut Penanggung Jawab Program Rekonstruksi Seni Tradisi Taman Budaya Yogyakarta
(TBY) Heru Handonowari, seni tari tradisional di DIY sulit berkembang karena kerangka
pikir seniman tari yang masih cenderung egois (Pameran Reptil) .

"Para penari asyik dengan diri mereka sendiri-sendiri sehingga sulit berkembang dengan
menerima pengetahuan dan masukan dari lintas seni lainnya," kata Heru di kantornya, Jumat
(13/4).

Idealnya, menurut Heru, tidak ada batasan dalam berkesenian. Para seniman dari berbagai
latar belakang pun dapat saling belajar untuk memperkaya wawasan yang nantinya dapat
menjadi bekal untuk mengembangkan karya masing-masing, tanpa harus kehilangan karakter
seni yang dimiliki.

Apalagi, dunia seni tari tradisi dalam 10 tahun terakhir semakin terdesak dengan
perkembangan tari modern yang tidak diimbangi dengan kuatnya penjiwaan.

"Ruh dan penjiwaan seni tari modern saat ini terasa kurang karena motivasi sebagian besar
penari maupun penata tari adalah menonjolkan eksistensi. Dalam proses berkesenian, mereka
ingin cepat menguasai tari dan kemudian menjadi populer," tutur Heru.

Salonisasi tradisiAkibatnya, seperti diungkapkan seniman Afrizal Malna dalam sebuah


diskusi tari di Universitas Sanata Dharma beberapa waktu lalu, salonisasi tradisi pada tari pun
tak dapat dihindari. Ketika sudah berhadapan dengan modernisasi, tari pun menjadi bagian
dari industri yang terkadang memangkas karakter-karakter atau Make Up Wajah khasnya
untuk mampu bertahan dalam panggung hiburan.

"Kontrak pagelaran tari rutin dalam industri wisata, misalnya, terkadang membuat para
seniman tampil seadanya tanpa penjiwaan," ujar Heru. Unsur tradisi pun tak jarang
dihilangkan untuk memenuhi standar pertunjukan yang menguntungkan.Untuk terus
menghidupkan unsur-unsur tradisi ini, TBY sendiri terus berkomitmen dalam merekonstruksi
seni-seni tradisi yang dulu pernah ada, tetapi sekarang sudah hampir punah. Diharapkan,
pendokumentasian kesenian-kesenian itu akan berguna bagi pengembangan kesenian saat ini
maupun di masa depan. "Tahun ini kami akan merekonstruksi tari Guntur Segara dari
Keraton Yogyakarta dan Reog Dodog dari Gunung Kidul," ucapnya.