Anda di halaman 1dari 6

Wisata neng jogja

Tamansari

Tamansari adalah taman kerajaan atau pesanggrahan Sultan Yogya dan keluarganya. Sebenarnya selain Taman Sari,
Kesultanan Yogyakata memiliki beberapa pesanggrahan seperti Warungboto, Manukberi, Ambarbinangun dan
Ambarukmo. Kesemuanya berfungsi sebagai tempat tetirah dan bersemadi Sultan beserta keluarga. Disamping
komponen-komponen yang menunjukkan sebagai tempat peristirahatan, pesanggrahan-pesanggrahan tersebut selalu
memiliki komponen pertahanan. Begitu juga hanya dengan Tamansari.

Letak Tamansari hanya sekitar 0,5 km sebelah selatan Kraton Yogyakarta. Arsitek bangunan ini adalah bangsa
Portugis, sehingga selintas seolah-olah bangunan ini memiliki seni arsitektur Eropa yang sangat kuat, disamping
makna-makna simbolik Jawa yang tetap dipertahankan. Namun jika kita amati, makna unsur bangunan Jawa lebih
dominan di sini. Tamansari dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwono I atau sekitar akhir abad XVII M.
Tamansari bukan hanya sekedar taman kerajaan, namun bangunan ini merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari
kolam pemandian, kanal air, ruangan-ruangan khusus dan sebuah kolam yang besar (apabila kanal air terbuka).

Bagian - bagian Tamansari:

1. Bagian Sakral
Bagian sakral Tamansari ditunjukkan dengan sebuah bangunan yang agak menyendiri. Ruangan ini terdiri
dari sebuah bangunan berfungsi sebagai tempat pertapaan Sultan dan keluarganya.
2. Bagian Kolam Pemandian
Bagian ini merupakan bagian yang digunakan untuk Sultan dan keluarganya bersenang-senang. Bagian ini
terdiri dari dua buah kolam yang dipisahkan dengan bangunan bertingkat. Air kolam keluar dari pancuran
berbentuk binatang yang khas. Bangunan kolam ini sangat unik dengan pot-pot besar didalamnya.
3. Bagian Pulau Kenanga
Bagian ini terdiri dari beberapa bangunan yaitu Pulau Kenanga atau Pulau Cemeti, Sumur Gemuling, dan
lorong-lorong bawah tanah.

Pulau Kenanga atau Pulau Cemeti adalah sebuah bangunan tinggi yang berfungsi sebagai tempat beristirahat, sekaligus
sebagai tempat pengintaian. Bangunan inilah satu-satunya yang akan kelihatan apabila kanal air terbuka dan air
mengenangi kawasan Pulau Kenanga ini. Disebutkan bahwa jika dilihat dari atas, bangunan seolah-olah sebuah bunga
teratai di tengah kolam sangat besar.

Sumur Gemuling adalah sebuah bangunan melingkar yang berbentuk seperti sebuah sumur didalamnya terdapat
ruangan-ruangan yang konon dahulu difungsikan sebagai tempat sholat.

Sementara itu lorong-lorong yang ada di kawasan ini dahulu konon berfungsi sebagai jalan rahasia yang
menghubungkan Tamansari dengan Kraton Yogyakarta. Bahkan ada legenda yang menyebutkan bahwa lorong ini
tembus ke pantai selatan dan merupakan jalan bagi Sultan Yogyakarta untuk bertemu dengan Nyai Roro Kidul yang
konon menjadi istri bagi raja-raja Kasultanan Yogayakarta. Bagian ini memang merupakan bagian yang berfungsi
sebagai tempat pertahanan atau perlindungan bagi keluarga Sultan apabila sewaktu-waktu ada serangan dari musuh.

Tamansari adalah sebuah tempat yang cukup menarik untuk dikunjungi. Selain letaknya yang tidak terlalu jauh dari
Kraton Yogyakarta yang merupakan obyek wisata utama kota ini, Tamansari memiliki beberapa keistimewaan.
Keistimewaan Tamansari antara lain terletak pada bangunannya sendiri yang relatif utuh dan terawat serta
lingkungannya yang sangat mendukung keberadaannya sebagai obyek wisata.

Di lingkungan Tamansari ini dapat dijumpai masjid Saka Tunggal yang memiliki satu buah tiang. Meskipun masjid ini dibangun
pada abad XX, namun keunikannya tetap dapat menjadi aset dikompleks ini. Disamping itu, kawasan Tamansari dengan kampung
tamam-nya ini sangat terkenal dengan kerajinan batiknya. Kita dapat berbelanja maupun melihat secara langsung pembuatan batik-
batik yang berupa lukisan maupun konveksi. Kampung Tamansari ini sangat dikenal sehingga banyak mendapat kunjungan baik dari
wisatawan mancanegara maupun wisata nusantara. Tidak jauh dari Tamansari, dapat dijumpai Pasar ngasem yang merupakan pasar
tradisional dan pasar burung terbesar di Yogyakarta. Beberapa daya tarik pendukung inilah yang membuat Tamansari menjadi salah
satu tujuan wisata Yogyakarta Kraton Yogyakarta.
Menikmati Suasana Alam

Menuju Agrowisata Turi, bisa melalui Jalan Palagan Tentara Pelajar atau dari Jalan Magelang. Memasuki kecamatan
Turi, pemandangan pohon salak yang ditanam berjajar di bahu jalan menjadi sensasi nuansa pedesaan setelah melewati
hamparan sawah dan kebun milik penduduk.

Jika lazimnya di halaman rumah ditanami pohon mangga atau rangkaian kebun mawar. Tidak demikian halnya dengan
kawasan ini. Beberapa halaman rumah penduduk dijadikan sepetak kebun salak pondoh. Bahkan ada beberapa rumah
yang dikelilingi tanaman salak pondoh dan hanya menyisakan sedikit jalan yang bisa dilalui mobil pick-up kecil.

Dalam perjalanan menuju Agrowisata, papan penunjuk yang bertebaran akan memudahkan menuju lokasi ini. Bahkan
jika kebingungan, penduduk setempat akan dengan ramah memberikan arahnya.

Mengitari Taman Buah

Agrowisata Turi merupakan tanah seluas 27 hektar yang disulap menjadi kompleks taman salak pondoh, tempat
bermain anak-anak, pemancingan dan kolam renang. Komplek wisata ini terletak di Kampung Gadung, Desa
Bangunkerto, Kecamatan Turi Kabupaten Sleman.

Setelah menempuh perjalanan 25 km dari pusat kota Jogja ke arah utara, sebuah pintu gerbang bertuliskan Wisata Agro
akan menyambut anda. Memasuki lokasi wisata yang mulai dibuka untuk umum pada tahun 1994 ini, pengunjung
cukup membayar Rp. 8.000 dengan tarif ini, seorang pengantar akan menemani pengunjung mengelilingi taman salak,
sebelum akhirnya bersantai di salah satu kebun untuk menikmati salak pondoh yang terkenal manis. Atau cukup
membayar Rp. 2.000 jika hanya ingin melihat-lihat.

Terletak di ketinggian 200 meter dari permukaan laut, suhunya sangat baik untuk pengembangan salak pondoh.
Suasana sejuk masih terasa di area ini, memberikan kenyamanan ketika mengitari taman. Bahkan bila berjalan di antara
pepohonan salak, akan terdengar desau angin seperti suara angin laut, serasa berjalan di desa pinggir pantai.

Salah satu andalan Agrowisata Turi adalah Kebun Nusantara. Tidak kurang dari 17 jenis tanaman salak bisa dijumpai
di kebun seluas dua hektar tersebut. Mulai dari salak pondoh super, salak pondoh kuning, salak pondoh hitam, salak
condet, salak manggala, salak gading, salak bali, salak semeru hingga salak tanonjaya.

Selain taman buah, disini juga terdapat taman obat-obatan. Tanamannya merupakan jenis ramuan tradisional seperti
jahe, temulawak, blimbing wuluh, kencur dan bermacam lainnya yang terus dikembangkan.

Bersantai Dengan Keluarga

Pada saat libur, Agrowisata Turi bisa menjadi alternatif bersantai dengan keluarga. Memancing di tempat pemancingan,
atau bermain perahu dayung di kolam yang terletak di samping kolam renang.

Menggelar tikar di samping kolam pemancingan, atau di pondokan yang berada di tengah kolam pemancingan.
Membuka bekal dan menikmatinya bersama keluarga akan menjadi piknik yang menyenangkan. Sambil menatap
birunya langit dan burung yang sesekali melintas, atau riak air yang melingkar ketika ikan muncul ke permukaan.

Sekali waktu, sempatkanlah mengunjungi Agrowisata Turi di penghujung tahun. Selama bulan november dan
desember, kawasan ini sedang panen raya. Salak-salak kecil dan kenyal dengan rasa yang manis menghiasi pohon-
pohon salak betina.

Jika ingin membawa sedikit oleh-oleh, koperasi Agrowisata Turi menyediakan beraneka ragam makanan khas. Salah
satunya adalah keripik salak yang merupakan salah satu terobosan dari drg. Sudibyo untuk menanggulangi kelebihan
produksi salak. Keripik ini berasal dari salak pondoh yang dikeringkan, selanjutnya dibuat keripik. YogYES sempat
mencicipi salak ini yang rasanya cukup menyegarkan.

Untuk salak pondoh sendiri, di sepanjang jalan Turi, begitu banyak penduduk yang menjual buah ini. Harganya berkisar Rp. 2.500
hingga Rp. 3.000 perkilo bila sedang musimnya, namun bisa mencapai Rp. 4.000 hingga Rp. 5.000 perkilo jika sedang tidak
musim.Begitu banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi di Jogja, tetapi jika memilih berwisata sambil bersantai bersama keluarga,
dan menikmati manisnya buah salak di tengah kebun yang rindang, Agrowisata Turi akan menjawab keinginan itu. (YogYES.COM)

Pesanggrahan Warungboto dan Pesona Taman Air Abad 19

Bila melewati Jalan Veteran (jalan yang mengarah ke kanan dari perempatan sebelum Kebun Binatang Gembira Loka)
dan menjumpai sisa-sisa bangunan seperti rumah, anda mungkin akan melewatkannya saja dan menyangka bahwa
bangunan itu merupakan bangunan biasa saja. Tapi, mulai sekarang, anda mesti tahu bahwa bangunan itu cukup
bersejarah sebab merupakan salah satu pesanggrahan yang dibangun oleh Hamengku Buwono II.

Bukti bahwa bangunan tersebut bersejarah adalah termuatnya nama bangunan dalam sebuah tembang macapat yang
berkisah tentang Hamengku Buwono II. Dalam tembang tersebut, bangunan ini tidak disebut dengan nama
Pesanggrahan Warungboto sebagaimana banyak orang menyebutnya sekarang, tetapi dengan nama Pesanggrahan
Rejowinangun. Secara keseluruhan, tembang macapat itu sendiri bercerita tentang kemajuan yang dicapai semasa
Hamengku Buwono II.

Mengunjungi pesanggrahan ini bagi beberapa orang mungkin dianggap membosankan, sebab tak ada lagi kemegahan
yang bisa dinikmati. Namun, bukankah wisata tak harus mengunjungi tempat-tempat megah? Tempat-tempat
sederhana, bahkan yang tinggal puing pun, pasti memiliki daya tarik. YogYES yang mengunjungi tempat ini beberapa
hari lalu masih bisa menemukan keindahan di beberapa sudut meski banyak bagian bangunan yang telah mengalami
kerusakan.

Kami mulai menjelajahi bangunan mulai dari bagian terdepan atau yang berbatasan langsung dengan jalan raya. Bagian
terdepan ini berbentuk bujur sangkar dengan lantai yang terbuat dari bahan semacam semen. Karena terletak di depan,
mungkin bagian ini berfungsi sebagai bangsal atau lobby seperti pada banyak bangunan yang ada sekarang. Dari bagian
terdepan, bisa dilihat pemandangan seluruh kompleks pesanggrahan.

Di sebelah kiri bagian terdepan terdapat tangga turun yang cukup sempit. Kami langsung bisa menduga bahwa
bangunan pesanggrahan ini mulanya terdiri dari dua lantai, seperti bangunan pesanggrahan lainnya yang terdiri dari
lantai dasar dan bawah tanah. Untuk menuruninya perlu hati-hati, sebab bagian kanan kirinya tidak memiliki pegangan
dan banyak bagian yang telah ditumbuhi lumut sehingga licin.

Di lantai bawah tanah inilah, banyak bagian bangunan yang mempesona bisa dilihat. Bagian yang paling indah adalah
areal taman yang dilengkapi dengan dua buah kolam. Kolam pertama berbentuk lingkaran berdiameter 4,5 meter dan
bagian tengahnya memiliki sumber pancuran air atau umbul. Sementara, kolam kedua berbentuk bujur sangkar dengan
ukuran sisi 10 meter x 4 meter. Kedua kolam itu saling berhubungan, ditandai dengan adanya lubang saluran air yang
bisa dilihat jelas dari kolam kedua.

Kami sungguh merasa kagum dengan arsitektur bangunan pesanggrahan ketika berada di areal taman ini. Bagaimana
tidak, pesanggrahan yang dibangun tahun 1800-an ini sudah merancang adanya taman beserta kolam yang sifatnya
pribadi, dikelilingi oleh bangunan sekitarnya sehingga tak terlihat dari luar. Selain itu, tembok-tembok yang
mengelilinginya juga tampak tinggi dan tebal, menandakan kekokohan bangunannya di masa lalu.

Di sebelah utara dan selatan kolam terdapat pintu bertinggi sedang yang cukup lebar. Pintu itu menghubungkan dengan
bagian lain ruangan bawah tanah. Di bagian timur kolam akan dijumpai jendela-jendela berjumlah tiga buah, satu
berbentuk kotak dan dua lainnya berbentuk lengkung pada bagian atasnya.. Sementara di bagian barat kolam terdapat
satu pintu yang bagian atasnya melengkung, menghgubungkan dengan dua pintu lengkung berikutnya yang dilengkapi
dengan beberapa anak tangga. Dua pintu terakhir menghubungkan areal taman yang berada di bawah tanah dengan
lantai dasar.

Kalau kembali ke lantai dasar dan menjelajahi sisi selatan bangunan, akan dijumpai beberapa puing tembok.
Kemungkinan, tembok itu merupakan pembatas antar ruang pesanggrahan. Terdapat bagian tembok yang unik, sebab
permukaannya tidak halus, mungkin dulu memiliki ornamen. Satu tembok yang masih sangat kokoh berada di bagian
paling depan sisi selatan. Pada tembok itu, terdapat beberapa jendela berbentuk persegi.

Sebenarnya, saat didata oleh Dinas Purbakala pada tahun 1980, masih ada beberapa hiasan yang bisa dijumpai.
Diantaranya berupa patung burung garuda yang ada di sisi selatan, patung naga yang ada di sisi timur dan pot bunga
yang merupakan salah satu komponen dari kolam. Sayang, YogYES tidak menjumpainya saat berkunjung walau sudah
menjelajah ke setiap sudut. Mungkin anda bisa mencarinya jika mengunjungi tempat ini. Siapa tahu hanya kami yang
melewatkannya?

Jika ingin berkunjung, anda bisa melewati beberapa alternatif jalan. Paling mudah bila anda mengunjungi sebelum atau
sesudah berwisata ke kawasan Kotagede. Jika berkunjung sebelum ke Kotagede, anda bisa melewati Jalan
Kusumanegara hingga sampai di perempatan pabrik susu SGM, kemudian berbelok ke kanan. Sementara, jika
berkunjung setelah ke Kotagede, anda tinggal melewati Jalan Ngeksigondo ke arah barat hingga perempatan pos
pengisian bahan bakar Gambiran dan berbelok ke kanan.

Pesanggrahan ini cukup mudah dijangkau dan bisa dikunjungi tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. Satu yang pasti,
wisata anda ke Yogyakarta akan semakin lengkap sebab bisa mengunjungi Pesanggrahan Warungboto yang konon
dipakai oleh kalangan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk bersemedi dan menjalani laku prihatin.

Tempat Menarik Lain di Yogyakarta

• Agrowisata Turi, Menikmati Salak Pondoh di Taman Buah


• Alun-Alun Kidul Yogyakarta, Mencari Ketenangan Hati dan Berkah
• Menapaki Istana Pertama Ngayogyakarta Hadiningrat
• Angkringan Lik Man, Menikmati Malam di Yogyakarta bersama Kopi Joss
• Adisutijpto, Bandara Internasional di Yogyakarta
• Beringharjo, Pasar Tradisional Terlengkap di Yogyakarta
• Bintaran, dari Kediaman Pangeran Bintoro ke Kawasan Indisch
• "Matahari" dalam Senjakala Bioskop Permata
• Banyusumurup, Desa Kerajinan Aksesoris Keris
• Kampung Serangan, Mengunjungi Kediaman Para Penatah Keris
• Pasar Gabusan, Surga Kerajinan Bantul
• Cerita Mural di Perempatan Galeria
• Pesanggrahan Gua Siluman Yang Misterius
• Kaliurang, Plesir ala Nyonya dan Meneer
• Kasongan, Memburu Keramik di Pemukiman Kundi
• Kampung Kauman, Pesona Perjuangan Islam
• Kotabaru, Jelajah ke Kota Taman Tua
• Kotagede, Menikmati Pesona Kota Tua
• Kraton Yogyakarta, Pusat Jagad Raya
• Taman Mural di Kolong Jembatan Layang Lempuyangan
• Loji-Loji, Kawasan Indisch Pertama di Yogyakarta
• Malioboro, Bernostalgia di Surga Cinderamata
• Masjid Kotagede, Masjid Tertua di Yogyakarta
• Dusun Mlangi, Wisata Religius Islami
• Ngasem, Pasar Burung Tertua di Yogyakarta
• Pabrik Tegel Kunci, Mengenal Produksi Ubin-Ubin Klasik
• Panggung Krapyak, Tempat Raja-Raja Berburu
• Pasar Klithikan Yogyakarta, Berburu Barang Bekas dan Unik
• Pabrik Cerutu Taru Martani, Legenda Cigar van Java
• Pecinan Yogyakarta, Kawasan Dagang Bersejarah
• Pabrik Gula Madukismo dan Besi Jembatan Sungai Kwai di Thailand
• Prawirotaman, Kampung Batik dan Penginapan Yang Mendunia
• Puncak Suroloyo, Meneropong Borobudur dari Pertapaan Sultan Agung
• Istana Ratu Boko, Kemegahan di Bukit Penuh Kedamaian
• Sendang Sriningsih, Perantara Rahmat Tuhan
• Sosrokusuman, dari Penginapan Murah hingga Wayang Kancil
• Sosrowijayan, Kampung Turis di Pusat Kota Yogyakarta
• Stasiun Tugu, Salah Satu Pemberhentian Kereta Tertua di Indonesia
• Tamansari (Taman Sari)
• Giwangan, Terminal Tipe A Terbesar di Indonesia
• WANAGAMA, Sepenggal Kisah Reboisasi Hingga Pohon Jati Pangeran Charles

Wisata kuliner jogja

SATE KUDA GONDOLAYU - Mendongkrak Vitalitas Kaum Pria

"Saya juga kaget pas Pak Bondan ke sini. Dia langsung pesen 2 porsi untuk dia sendiri. Ya mungkin karena dia tahu
daging kuda rendah kolesterol," cerita Bu Suparti, Pemilik Warung Sate Kuda Gondolayu, kepada YogYES siang itu.
Masih menurut cerita Bu Suparti, warungnya juga pernah didatangi oleh Ade Rai yang ternyata mampu melahap habis
100 tusuk daging kuda. Wow!

Sembari menunggu sate masak, saya pun melongok lebih dalam isi dapur warung sate ini. Oleh pemiliknya saya
ditunjukkan daging kuda mentah yang berwarna merah. Benar-benar tidak ada lemak sedikitpun. Menurut Bu Suparti
hal itu karena kuda adalah hewan yang sangat aktif bergerak. Ibu setengah baya yang cukup enerjik ini menjelaskan
bahwa daging kuda berkhasiat untuk mengatasi capek, masuk angin dan meningkatkan vitalitas. Tidak hanya
dagingnya yang berkhasiat, alat kelamin kuda atau yang lebih dikenal dengan sebutan torpedo dipercaya dapat
mendongkrak vitalitas kaum laki-laki, selain berkhasiat mengobati sesak napas. Tapi bila ingin menyantap torpedo,
pembeli harus pesan dulu karena peminatnya banyak.

Sate pesanan YogYES akhirnya jadi juga. Hmm, uenaaaak. Dagingnya cukup empuk. Bu Suparti mengatakan bahwa
daging kuda paling tidak harus direbus selama 1 jam. Daging kuda yang digunakan berasal dari kuda-kuda yang masih
muda dan memang khusus diternakan untuk dikonsumsi. Sedangkan kuda-kuda yang sudah tua seperti kuda penarik
andong tidak bisa di sate karena dagingnya terlalu keras dan alot. Biasanya daging seperti itu kemudian dibikin abon.
Bu Suparti juga bercerita bahwa yang dulu mempopulerkan sate kudanya adalah para mahasiswa dari Sulawesi.

Tak terasa satu porsi sate kuda, sepiring nasi dan segelas teh panas manis segera berpindah ke perut saya. Benar apa
kata Bu Suparti badan saya menjadi hangat. Saya bayar satu porsi sate seharga Rp. 10.000 (Januari 2009) dan ingin
membuktikan khasiatnya, kebetulan badan saya pegal-pegal dan capek. Nah, jika Anda ingin merasakan khasiat dan
lezatnya daging kuda, Anda dapat mencobanya di Warung Sate Gondolayu. Warungnya buka setiap hari dari jam 9
pagi hingga jam 10 malam.

SATE KUDA GONDOLAYU


Jl. Jend. Sudirman No. 25 Yogyakarta
(barat Jembatan Gondolayu)
Phone: +62 274 6554045

PECEL BAYWATCH - Menyantap Pecel Kembang Turi Racikan Mbah Warno "Anderson"

Semula saya sempat bingung dengan julukan Pecel Baywatch yang disandang oleh pecel Mbah Warno. Terlintaslah
imajinasi nakal tentang sosok penjual pecel yang mengenakan bikini seperti Mbak Pamela Anderson atau setidaknya
warung ini berada di pinggir pantai. Ternyata salah semua. Beginilah cerita lengkapnya.

Warung Mbah Warno terletak di daerah Kasongan, tepatnya berada di jalan menuju Gunung Sempu. Warung yang
sudah berdiri sejak 35 tahun lalu ini sangat sederhana. Papan nama warung pecel Mbah Warno ini hanya berukuran 30
x 20 cm2 yang pasti terlewat jika tak benar-benar memerhatikannya. Interior warung diisi oleh perabot yang fungsional
dan apa adanya. Hanya terdapat beberapa meja dan kursi kayu serta satu dipan bambu. Di belakang meja tempat
meletakkan dagangannya, terdapat dapur berisikan beberapa anglo yang selalu mengepulkan asap. Sebuah posisi yang
tak disengaja sebenarnya, sebab dapur dalam konsep Jawa biasanya terletak di bagian belakang. Mbah Warno
meletakkan dapur di bagian depan warung pasca gempa Mei 2006 yang meruntuhkan bangunan rumahnya. "Belum
punya uang untuk membangun dapur baru", ujarnya.

Mbah Warno menjajakan menu utama pecel dengan beragam lauk sebagai pengiringnya. Mulai dari lele dan belut
goreng kering, tahu bacem, mangut belut (belut bersantan yang dibumbui cabai), hingga bakmi goreng. YogYES
memesan semuanya agar dapat merasakan aneka rasa masakan Mbah Warno ini.
Sambil menunggu, pikiran saya melayang menelusuri asal-usul pecel yang sama tidak jelasnya dengan soto. Banyak
daerah di Jawa memiliki pecel dengan ciri khasnya masing-masing, misalnya Pecel Madiun, Pecel Blitar, Pecel
Madura, Pecel Slawi dan lain-lain. Namun setidaknya, seorang sejarawan Belanda bernama H.J Graaf pernah
mengungkapkan bahwa ketika Ki Ageng Pemanahan melaksanakan titah Sultan Hadiwijaya untuk hijrah ke hutan yang
disebut Alas Mentaok (sekarang Kotagede), rombongan beliau disambut masyarakat di pinggir Sungai Opak dan
dijamu dengan berbagai jenis masakan, termasuk pecel.

Lamunan saya terputus saat pecel dan beberapa makanan pengiring tiba di meja. Seporsi pecel, lele goreng, dan tahu
bacem seolah menantang untuk secepatnya dinikmati. Terdapat empat jenis sayuran dalam hidangan berlumur bumbu
kacang ini yakni daun bayam, daun pepaya, kembang turi (Sesbania grandiflora), dan kecambah / taoge. Kita akan
disergap rasa manis dari bumbu kacang yang menggelitik lidah. Saat menguyah kembang turi yang agak getir, rasa
manis tadi berpadu sehingga menghasilkan kelezatan yang sulit diungkapkan.

Pecel dengan kembang turi merupakan ciri khas pecel "ndeso". Jaman sekarang sudah sulit untuk menemukan penjual
pecel seperti ini. Konon kembang turi memiliki khasiat meringankan panas dalam dan sakit kepala ringan. Jadi tidak
heran bila orang Jawa, India, dan Suriname (masih keturunan Jawa juga sih, hehehe) sering menyantap kembang turi
muda sebagai sayuran.

Pecel akan bertambah nikmat jika ditambah dengan lele goreng atau tahu bacem. Lele goreng di tempat ini dimasak
hingga kering sehingga crispy ketika digigit. Sedangkan tahu bacem yang berukuran cukup besar dapat dinikmati
sebagai cemilan bersama cabai rawit. Selain itu juga terdapat hidangan lain seperti belut goreng dengan dua variasinya.
Pertama, belut goreng kering yang berukuran kecil dan belut goreng basah yang lebih besar. Ada juga bakmi goreng
dan mangut belut bagi anda yang menggemari makanan pedas. Asap dari anglo menambah sensasi rasa dari hidangan
di warung ini.

Entah karena kenyang atau efek kembang turi, selesai makan kepala saya terasa lebih cerdas dari biasanya. Sambil
ngobrol ringan dengan Mbah Warno dan asistennya, saya jadi paham kenapa pecel di tempat ini dijuluki Pecel
Baywatch. Hal itu karena Mbah Warno dan asistennya selalu mengenakan sejenis baju yang disebut kaus kutang.
Pakaian yang sangat nyaman untuk dikenakan di tengah udara pedesaan Kasongan Bantul yang kering dan
panas.Walau penjual pecel ada dimana-mana, Pecel Baywatch tetap menawarkan sesuatu yang lain bagi anda. Sebuah
kombinasi kelezatan makanan, suasana pedesaan yang kental, dan keramahan Mbah Warno "Anderson". (nang)