Anda di halaman 1dari 4

Studi Perlindungan TKI Ditinjau dari Aspek

Pembiayaan
Kamis, 17 Juni 2004 | 06:03 WIB
RESUME Studi Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Ditinjau dari Aspek Pembiayaan Ditjen
Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri

Latar belakang studi adalah penempatan TKI ke luar negeri, selain menjadi salah satu alternatif
pemecahan masalah pengangguran juga menambah penerimaan devisa bagi negara. Peluang untuk
bekerja di luar negeri cukup besar ditambah dengan rangsangan akan penghasilan yang relatif lebih
tinggi dibandingkan dengan penghasilan di dalam negeri merupakan daya tarik bagi tenaga kerja
Indonesia.

Dalam kerangka memberikan perlindungan kepada TKI dan calon TKI, pemerintah telah melakukan
upaya pembinaan dengan mengeluarkan ketentuan dan peraturan khususnya yang mengenai
pembiayaan penempatan. Kebijakan pembinaan ini diatur dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Nomor : 104.A/Men/2002, yang diikuti dengan ketentun operasionalnya melalui
Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri Nomor : Kep.
312.A/O.P2TKLN/2002.

Pembiayaan penempatan tersebut di atas, baik mengenai jenis komponen biaya ataupun besar biaya
penempatan dalam pelaksanaannya masih sering terjadi penyimpangan. Penyimpangan-penyimpangan
tersebut dapat disebabkan oleh kurang jelas dan tegasnya serta tertibnya penegakan peraturan
perundangan yang ada, atau kurang atau lemahnya peran pengawasan terhadap pelaksanaan aturan-
aturan yang ada, di samping berbagai faktor-faktor lain. Pada akhirnya penyimpangan-penyimpangan
yang terjadi sangat merugikan para calon TKI dan memberi kesan umum tidak adanya perlindungan
bagi calon TKI.

Tujuan umum studi adalah identifikasi aspek pembiayaan yang berlangsung selama ini dalam proses
penempatan tenaga kerja Indonesia keluar negeri dalam kaitannya dengan perlindungan yang perlu
dilakukan. Tujuan khusus adalah (1) Mengkaji ragam dan pola penyimpangan yang terjadi dalam
pelaksanaan ketentuan pembiayaan penempatan TKI. (2) Mengkaji besar biaya penempatan yang layak,
baik total maupun per komponen. (3) Mengkaji jenis komponen biaya yang layak dibebankan kepada
calon TKI dan (4) Merumuskan rekomendasi kebijakan pembiayaan penempatan bagi pengembangan
dan penyempurnaan ketentuan peraturan dalam rangka perlindungan TKI.

Kesimpulan-kesimpulan dari hasil studi adalah sebagai berikut :


- Biaya penempatan TKI sangat beragam antar perusahaan dengan pola yang sangat tidak beraturan.
Keberagaman biaya penempatan menunjukkan bahwa biaya penempatan sangat bebas ditentukan oleh
perusahaan pengerah/PJTKI. Kebebasan tersebut meliputi penetapan jenis-jenis komponen biaya,
penetapan besar rupiah masing-masing komponen, penetapan pihak yang menanggung biaya
penempatan, dan penetapan angsuran biaya yang seharusnya dibayar calon TKI.
- Kebebasan menentukan jenis komponen biaya dan besar biaya penempatan tidak dapat dikatakan
sebagai penyimpangan terhadap peraturan yang ada, akan tetapi merupakan akibat dari ketidakjelasan,
ketidaktegasan, dan ketidaklengkapan aturan yang ditetapkan untuk mengatur pembiayaan penempatan.
- Adanya kebutuhan calon TKI untuk memperoleh pekerjaan di suatu pihak dan adanya kebebasan
PJTKI untuk menentukan biaya penempatan di lain pihak, menjadikan calon TKI sebagai sumber
pemerasan berbagai pihak pengelola penempatan tenaga kerja Indonesia ke luar negeri.

Dari kondisi-kondisi penentuan jenis komponen biaya dan besaran biaya penempatan, biaya dan
besaran biaya penempatan, dapat disimpulkan bahwa biaya penempatan yang berlaku saat ini tidak
memberikan perlindungan kepada calon TKI, oleh karena itu biaya penempatan harus ditata-ulang dan
pemerintah. Untuk itu perlu dimabil langkah untuk merumuskan kembali pasal-pasal dalam Kepmen
no. 104A/2003 dan SK Dirjen P2TKLN no. 312A/2002. Langkah ini menjadi prioritas utama dalam
penataan ulang pembiayaan penempatan TKI ke luar negeri.

Sehubungan dengan hal-hal tersebut diatas disarankan bahwa ketetapan jenis komponen biaya yang
dicantumkan dalam Kepmen 104A/2002 Pasal 53 ayat (2) perlu dilengkapi dengan penambahan jenis
komponen biaya yang meliputi jasa mitra luar negeri, dan jasa rekruter. Mengenai pembiayaan
penempatan cukup komples sehingga mekanisme pembayaran angsuran biaya penempatan TKI tidak
cukup diatur dengan satu pasal saja. Perlu dirumuskan pasal-pasal yang mengakomodasi perkembangan
yang terjadi di lapangan. Selanjutnya mengenai besaran biaya penempatan, memang tidak dapat
ditetapkan secara fixed, namun hasil studi ini perlu dipertimbangkan sebagai masukan dalam hal
merumuskan cost structure penempatan TKI sebagai berikut :
- Struktur biaya (cost structure) penempatan TKI ke kawasan Timur Tengah, menurut jenis komponen
biaya dan sektor penempatan (dalam ribu rupiah), diusulkan sebagai berikut:

Komponen Biaya Kendali Alokasi Non Kendali Alokasi


Pembuatan Paspor 200 200
Pelatihan 750 700
Uji Kesehatan 250 250
Visa 120 120
Transport Lokal 100 100
Akomodasi dan Konsumsi 300 300
Tiket Keberangkatan *) *)
Asuransi 400 400
Biaya Pembinaan TKI 127 127
Jasa Prusahaan 750 750
Jasa Mitra Luar Negeri 1500 1500
Jasa Rekruter 300 300
TOTAL 3620 3570

- Sedang struktur biaya penempatan TKI ke kawasan Asia Pasifik, menurut jenis komponen biaya dan
sektor penempatan (dalam ribu rupiah), diusulkan sebagai berikut:

Komponen Biaya Kendali Alokasi Non Kendali Alokasi


Pembuatan Paspor 250 250
Pelatihan 750 0
Uji Kesehatan 250 250
Visa 100 100
Transport Lokal 150 150
Akomodasi dan Konsumsi 500 500
Tiket Keberangkatan *) *)
Asuransi 0 0
Biaya Pembinaan TKI 127 127
Jasa Prusahaan 1000 1000
Jasa Mitra Luar Negeri 900 900
Jasa Rekruter 1000 1000

- Kompleksnya permasalahan dalam pembiayaan penempatan TKI memerlukan pemikiran dan


pemecahan masalah oleh semua stakeholder dalam penempatan TKI. Dengan demikian maka suatu
forum tetap atas perwakilan para stakeholder menjadi perlu untuk dibentuk. Untuk itu Ditjen P2TKLN
atau Badan Litbangfo perlu berperan sebagai inisiator.

Sumber: Depnakertrans

Jakarta, Kompas - Negosiasi revisi nota kesepahaman perlindungan tenaga kerja Indonesia informal
pembantu rumah tangga dengan Malaysia selama 10 bulan mulai membuahkan hasil. Pemerintah kedua
negara sepakat lebih memperkuat perlindungan TKI informal di Malaysia.
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar dan Menteri Dalam Negeri Malaysia
Datok Seri Hishamudin Tun Hussein menandatangani surat perjanjian (letter of intent/LOI)
perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI) informal pembantu rumah tangga (PRT) di Kompleks
Pemerintahan Malaysia di Putrajaya, Selangor, Malaysia, Selasa (18/5). Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono dan Perdana Menteri Datok Seri Mohd Najib Tun Abdul Razak menyaksikan momen ini.
Presiden Yudhoyono mengatakan, LOI merupakan jembatan menuju tercapainya nota kesepahaman
(MOU) baru antara Indonesia dan Malaysia tentang perlindungan TKI informal.
Pemerintah Indonesia dalam waktu dua bulan akan membenahi sistem penempatan TKI ke Malaysia
dan menyusun MOU baru sehingga moratorium penempatan TKI informal PRT ke Malaysia sejak 25
Juni 2009 dapat diakhiri.
"Insya Allah dalam waktu sekitar dua bulan, maka moratorium itu kita hentikan. Mudah-mudahan bisa
kita lakukan begitu moratorium dicabut, maka proses mengalir dan mudah-mudahan ada administrasi
yang bisa memberikan kepastian termasuk kredit usaha rakyat (KUR)," kata Presiden.
Presiden menyatakan akan memberikan fasilitas KUR bagi TKI untuk kebutuhan biaya penempatan.
Presiden juga mengakui masih ada praktik penyelewengan yang merugikan TKI, seperti pemalsuan
dokumen dan calo pengiriman TKI.
Namun, Presiden berjanji, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta pihak imigrasi akan terus
membenahi dan menegakkan hukum guna menghilangkan praktik tersebut.
Dalam pembicaraan bilateral dengan PM Malaysia, Presiden menuturkan, Malaysia telah menjamin
penuh bahwa semua kasus hukum menyangkut TKI di Malaysia akan dituntaskan guna memberikan
keadilan bagi pekerja Indonesia di Malaysia.
"Saya senang PM Malaysia tadi memberikan isyarat, komitmen beliau, semua legal cases akan
dituntaskan. Dengan demikian, betul-betul membawa keadilan bagi saudara-saudara kita di Malaysia,"
ujar Presiden.
Muhaimin sendiri menjelaskan, perjanjian ini memiliki substansi yang sama dengan naskah MOU.
"Yang paling penting (dari momentum ini) adalah kesamaan pandangan untuk melindungi TKI," ujar
Muhaimin.
Muhaimin menggarisbawahi, penandatanganan LOI menunjukkan keseriusan Malaysia dalam
melindungi TKI informal PRT. Hasil ini membawa banyak kemajuan bagi Indonesia.
Dua hal yang masih menjadi ganjalan penyelesaian MOU adalah gaji awal dengan masa kerja nol tahun
dan struktur biaya penempatan. Malaysia tidak mengatur upah minimum seperti Indonesia dan
menyerahkan soal itu kepada mekanisme pasar.
Namun, kendala ini dapat diatasi dengan salah satu poin perjanjian, yakni kedua negara wajib
mengawasi kontrak kerja antara pelaksana penempatan TKI swasta (PPTKIS) dan agen pekerja asing di
Malaysia.
"Jadi, kita harus punya patokan standar minimum. Kalau kami inginnya 700 ringgit (setara Rp 1,8 juta)
per bulan," kata Muhaimin.
Saat ini, TKI PRT masih bergaji 400-500 ringgit per bulan. Jumlah itu jauh di bawah pekerja migran
sektor serupa asal Filipina yang bisa mencapai 400 dollar AS.
Pembahasan lanjutan lainnya adalah penyusunan detail struktur biaya penempatan berdasarkan daerah
asal keberangkatan.
Pintu masuk
Sedikitnya 2,2 juta TKI bekerja di Malaysia dan 1 juta di antaranya tidak memiliki dokumen resmi.
Perjanjian untuk melindungi 400.000 TKI PRT di Malaysia ini bakal menjadi pintu masuk pemerintah
meminta jaminan serupa dari negara penempatan di Timur Tengah.
Dari enam juta TKI di luar negeri, 4,3 juta di antaranya bekerja di sektor informal. Hampir 60 persen
TKI sektor informal bekerja sebagai PRT.
Namun, Direktur Eksekutif Migrant CARE, organisasi nonpemerintah yang aktif membela buruh
migran, Anis Hidayah, pesimistis dengan kesepakatan ini. Menurut Anis, harus ada instrumen lagi di
Malaysia untuk mengatur sanksi hukum bagi majikan yang melanggar isi MOU.
"Malaysia, kan, belum menempatkan domestic workers sebagai pekerja. Jadi bingung kalau dalam
MOU ada hari libur untuk PRT. Harus dipikirkan juga bagaimana mengimplementasikannya," kata
Anis.
Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa TKI Rusdi Basalamah mengatakan, pemerintah harus segera
meningkatkan LOI menjadi MOU sehingga landasan perlindungan TKI jadi lebih kuat.
Pascapenandatanganan perjanjian ini, Muhaimin memberi sinyal bakal mencabut moratorium
penempatan TKI informal sektor PRT setelah MOU tuntas.
Dari Medan, Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia
Mohammad Jumhur Hidayat menyatakan, Indonesia dapat segera mengirim TKI informal PRT ke
Malaysia saat moratorium dicabut.
Indonesia mengirim 25.000 TKI per bulan ke Malaysia dengan 5.000 orang di antaranya bekerja
sebagai PRT.
Menurut Jumhur, TKI di Malaysia sangat membantu perekonomian nasional. Setidaknya setiap satu
TKI bekerja di luar negeri bisa mengurangi satu penganggur dan bisa menghidupi lima anggota
keluarganya di kampung halaman. Belum lagi efek domino dari uang yang mereka kirim ke rumah.
Komisaris Utama PT Mutiara Karya Mitra, PPTKIS di Medan, Parlindungan Purba menyambut
gembira perjanjian ini. Menurut Parlindungan, TKI PRT membutuhkan perlindungan karena hidup
sendiri. (ham/MHF/kompas.com)