Anda di halaman 1dari 4

c  

Melati tunggu".seru Chia sahabat karibku,aku pu menghentikan langkahku"iya...tenang aja aku


tunggu kok",ujarku sambil mencubit pipi chuby chia"eh kamu tahu gak mel,yuki anak 9A pindah ke kelas
kita lho?""Kok bisa gitu?""iya cz kelas 9A dah full jd dipindahin ke kelas kita deh" aku tersenyum
memandang sahabat karibku yang selalu ceria ini.teng-teng.....bel masuk pun berbunyi aku mengajak
Chia masuk ke kelas dan benar saja disana terlihat murid pndahan dari kelas 9A itu"nah ibu akan
mengacak tmpat duduk kalian laki-laki dan perempuan agar tidak ribut terus."ujar bu siska wali
kelasku"yah....",keluhku karna harus berpisah dengan Chia"baiklah,,,Sachia denan Iqbal."ucapa bu Siska
membuat Chia kecewa karna sebenarnya dia ingin duduk dengan Yuki"Selanjutnya Safina melati denga
adrian Yuki." akupun langsung beranjak dari tempat dudukku dan berpindah ke samping yuki saat bel
istirahat pun tiba semua siswa pun menghambur keluar"hmm enak deh kamu mel bisa duduk bareng
yuki,,dia kan imut,manis bintang sepak bola lagi,,keren banget ya.""imut apaan manis apaan..,orang
pendek gitu kok,,bagi aku cowok keren tuh cowok2 yang tinggi,,pendek gitu dibilang keren."komentku
blak-blakan tapi tiba2..."aduh..."aku memegang kepalaku rasanya sakit gara2 kena timpuk
penghapus"enak aja ngatain aku,,kamu tu yan terlalu tinggi,dasar cewek aneh."ternyata yuki medengar
ejekanku dan dia terlihat marahaku ingi sekali mengomelinya tapi bel masuk berdentang dengan
berisiknya.huh,,pelajaran matematika pelajaran paling mbosenin n susah sepanjang masa n hah...aku
gak bawa LKS lagiaku pun melirik Yuki yan ada disebelahku"mmm yuki aku gak bawa LKS."ujarku sambil
memasang wajah innocent ala Chia"huh..dasar udah aneh nyusahin lagi."Yuki pun menggeser pun
LKSnya ke tengah"hmm ni cowo ada sisi baiknya juga,"batinku sepanjang pelajaran matematika adalah
saat2 yang paling membosankan,,aku hanya mncoret-coret bukuku dengan kalimat Melati Love
Sunny,oh ya Sunny itu cowok yag kutaksir dari kelas 7 orangnya tinggi,pintar,pendiam dia juga bintang
sepak bola disekolahku ini tiba2 YUki si nyebelin itu merebut bukuku dan tersenyu licik"oh kamu suka
Sunny ya aku bilangin ah...." dasar yuki..raut wajahku pun memerah"jangan donk plisss..."mohonku
dengan wajah memelas"ok aku gak akn bilang tapi ada syaratnya."yuki pun kembali tersenyu m.

  
Aku tidak tahu secara pasti apa pekerjaan ayahku sebenarnya,yang kutahu beliau setiap hari
berangkat kerja saat hari masih gelap dan pulang sehabis sholat dzuhur.Setiap berangkat kerja ayahku
selalu membawa parang,entah untuk apa parang itu aku tidak tahu pasti,tapi yang jelas pasti ada
korelasinya antara parang dengan pekerjaan ayahku.
Agar parang yang dibawa ayah tidak menarik perhatian orang beliau selalu memasukkan parang
itu ke dalam sebuah tas berwarna hitam yang terbuat dari bahan kain kanvas,dan sebelumnya ayah
terlebih dahulu membungkus parang itu dengan kertas koran. Parang adalah benda paling berharga bagi
ayahku kedudukannya mungkin sama dengan gitar bagi seorang seniman yang bernama Virgiawan
Listanto ataupun pistol revolver bagi seorang Lucy Luke.
Ayahku selalu menjaga agar kondisi parang itu tetap dalam kondisi yang tajam,ayahku
melarangku untuk menyentuh parang itu karena tingkat ketajaman matanya hampir sama dengan
ketajaman keris buatan empu-empu kredibel tempo dulu.Ayahku melarangku menyentuh parang itu
bukan karena ayahku pelit atau takut parang itu rusak tapi beliau khawatir kulitku yang masih rentan ini
akan terluka terkena tajamnya mata parang itu.Aku pernah melihat sendiri bukti ketajaman parang
itu,secara tak sengaja aku melihat seekor cicak yang bunuh diri,mungkin karena frustasi dikhianati
kekasihnya,dia menjatuhkan dirinya dari atap ke atas mata parang itu,dan tubuhnya langsung terbelah
jadi 2.Jadi walaupun ayahku tak melarangku pun,aku tetap tak akan berani berurusan dengan parang
ayahku itu karena sudah pernah melihat contoh kongkritnya.
Ibuku pernah bercerita padaku tentang secuil historis parang ayahku itu,kata ibu parang itu
adalah pemberian kakekku sebagai hadiah pernikahan beliau dengan ayah.Parang itu dipesan khusus
oleh kakek dari seorang pandai besi yang mumpuni di eranya,dan dibuat dengan bahan logam kualitas
pilihan.Ibuku melanjutkan ceritanya tentang alasan kakek mengapa memberikan parang sebagai hadiah
pernikahan bukannya memberikan sapi atau kambing sebagai hadiah ?.Aku mendengar penuturan ibu
dengan seksama,dan aku menangkap inti dari keterangan ibuku itu bahwa parang itu ada hubungannya
dengan sumber input perekonomian keluargaku.
Dulu sewaktu ayahku menikahi ibuku,ayahku belum mempunyai pekerjaan yang tetap.Seperti
kehidupan suku nomaden,ayahku selalu berpindah-pindah tempat kerja karena statusnya yang hanya
sebagai pekerja freelance.Suatu saat dia bekerja di rumahnya Pak Pardi untuk mengecat rumahnya,dan
di waktu lain beliau bekerja di rumah Pak Darmo memperbaiki dandangnya yang jebol,dan jika baru
tidak beruntung ayahku waktu muda bisa menganggur bermingu-minggu. Kehidupan seperti itu bila
dijalani oleh ayahku saat masih berstatus bujang tentu bukanlah sesuatu yang bermasalah karena dari
segi peran dalam keluarga beliau masih di bawah tanggung jawab kakekku yang notabene adalah orang
tua ayahku.Tetapi jika ayahku sudah menikah dan tetap dalam kehidupannya yang seperti itu maka yang
demikian itu dapat menimbulkan sebuah masalah besar bagi kehidupan berumah tangga beliau.Kakekku
menyadari hal itu,karena kakekku orang yang bijaksana beliau memberikan kepada ayahku ibaratnya
memberikan pancing bukannya ikan.Dengan parang yang kakek berikan kepada ayah tersebut,beliau
berharap agar ayah dapat mandiri dalam menggerakkan ekonomi keluarganya,tidak lagi tergantung
kepada orang tua seperti saat masih dalam keadaan bujang.
Kata ibuku profesi kakekku dulu ada hubungannya dengan benda tajam yang namanya parang
sebagaimana yang ayah geluti sekarang.Berhubung kakek sudah punya nama di tempat kerjanya karena
kemampuan beliau dalam bidang perparangan yang pilih tanding,kejujuran,dan jam terbang beliau di
tempat kerjanya maka juragannya acc saja saat kakekku membawa ayahku untuk bekerja di
tempatnya.Saat ibuku akan bercerita tentang jenis pekerjaan kakek dan ayah,tiba-tiba saja datang
seorang tetangga yang hendak minta bumbu dapur.Kedatangan tetangga itu secara tidak langsung
memotong cerita ibuku dan membuatku tetap dalam status quo,penasaran dengan pekerjaan ayahku.
Ayahku tak pernah berbagi cerita perihal pekerjaannya padaku.Kadang aku ingin bertanya pada beliau
untuk konfirmasi tentang pekerjaannya,yang kata orang sebagai pembunuh bayaran.Info itu aku dapat
beberapa hari yang lalu dari salah satu tetanggaku.Jika dilihat dari perangkat yang ayah selalu bawa
sewaktu bekerja,ujaran tetanggaku itu mungkin ada benarnya.Tetapi jika dilihat dari sosok ayahku yang
lembut,tak pernah berkata kasar kepadaku maupun kepada ibu ujaran tetanggaku itu perlu diuji lagi
kebenarannya.
Tidak ada yang istimewa dalam diri ayahku dari segi fisiknya.Kulitnya berwarna coklat
tua,badannya tidak terlalu gemuk tapi tidak pula terlalu kurus.Ayahku jarang sekali berbicara kecuali
untuk hal-hal penting saja.Ketika beliau berkumpul bersama teman-temannya beliau lebih banyak
menjadi seorang pendengar daripada pembicara.Di kampungku ayahku terkenal dengan nama paraban
Rembo,karena sosoknya yang seperti karakter John Rambo dalam film RAMBO,dingin dan mahal kata-
kata.
Pagi itu aku menangis sejadi-jadinya,aku ingin ikut ayahku bekerja.Aku ingin tahu apa
sebenarnya pekerjaan ayahku.Berbagai cara dilakukan ibuku untuk meredakan keinginanku tapi tak
sedikit pun membuatku menyurutkan keinginanku untuk ikut ayahku.Ibuku sudah frustasi dengan
kelakuanku,dan hampir saja aku dipukulnya tetapi ayahku mencegahnya dan dengan bahasa matanya
yang khas dia memperbolehkan aku ikut dengan beliau.Ayah berpesan kepadaku agar aku jangan nakal
saat di tempat kerja ayah.Hanya itu pesan singkat yang ayah sampaikan padaku.Aku gembira sekali
karena hari ini aku akan tahu apa sebenaranya pekerjaan ayahku. Hari masih gelap saat aku dan ayahku
sampai di tempat kerjanya.
Aku mengikuti ayahku kemana pun beliau pergi seperti seorang back yang selalu menguntit
striker lawan di daerah pertahanannya,teman-teman ayah sangat akrab sekali denganku seakan-akan
sudah mengenalku lama sekali.Hingga suatu saat ayah menyuruhku untuk duduk di suatu tempat.Aku
melihat ayahku mengeluarkan parangnya dari tas hitamnya.
Beliau lalu bergabung bersama beberapa orang kawannya,yang kesemuanya juga membawa
parang di pinggangnya.Kemudian mereka melakukan sebuah pekerjaan team yang menurutku kompak
tapi terbilang sadis sekali,pada titik ini benarlah perkataan orang tentang pekerjaan ayahku. Aku kasihan
melihat mahluk yang dikeroyok oleh ayah dan kawan-kawannya itu,tampaknya ayah dan kawan-
kawannya adalah para profesional di bidangnya karena dalam beberapa menit saja mahluk yang
sebelumnya berontak melawan itu takluk tak berdaya.Melihat mahluk itu dalam posisi sudah tak
berdaya ayahku menebaskan parangnya ke leher mahluk itu setelah sebelumnya komat-kamit dahulu
entah membaca apa.Sejurus kemudian mahluk itu menggelepar-gelepar mengalami sakaratul
maut,kawan-kawan ayahku melepaskan pegangan tali mereka dan berlari kecil menjauhi mahluk yang
menggelepar-gelepar meregang nyawa itu.
Setelah mahluk itu sudah tak bernyawa ayah dan beberapa kawannya menaikkan mahluk itu
pada sebuah balok dengan tali.Ketika mahluk tak berdosa itu sudah dalam posisi tergantung ayahku
memutilasinya dan mengulitinya.Di sini pada tahap ini aku membenarkan omongan orang tentang
pekerjaan ayahku yang sebagai pembunuh bayaran.Beliau dibayar untuk menjagal sapi potong di sebuah
tempat pemotongan hewan.

c
   

OLEH : ALEN. S
KLS : VII E

   c