Anda di halaman 1dari 4

Tugas Artikel Ilmiah

SASTRA SEBAGAI CERMINAN MORAL DAN


PEMBELAJARAN TINGKAH LAKU MANUSIA

Diajukan untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester Mata Kuliah


Pengembangan Keterampilan Menulis
Dosen Pembimbing:
Fathiaty Murtadho, M.Pd

Disusun Oleh:
Ririn Puspitaningrum
2115081320
3A

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2011

SASTRA SEBAGAI CERMINAN MORAL DAN


PEMBELAJARAN TINGKAH LAKU MANUSIA

Pendahuluan
Sastra, sebuah kata yang minim namun sudah memiliki arti yang luas.
Hakikatnya suatu sastra adalah proses kreatif yang dihasilkan seseorang
berdasarkan intuisi dan nilai rasa yang dimilikinya dalam sebuah konteks karya
seni. Sastra boleh dibaca, dinikmati dan diapresiasi dengan “sepuas-puasnya”
karena sastra pada umumnya diartikan sebagai lambang “kebebasan” berekspresi.
Banyak orang yang berpendapat bahwa sastra sebagai cara untuk pengekspresian
diri sendiri, keinginan yang terdalam yang terpacarkan lewat penulisan sastra atau
bahkan sastra itu bisa jadi bagian dari hidup kita. Semua itu memang ada dalam
karya sastra. Namun, alangkah baiknya apabila hal itu kita cermati lebih
mendalam lagi, apa sebenarnya makna dibalik sastra itu. Bahwa sastra pun juga
diatur oleh norma-norma atau nilai-nilai sebagai pembentuk kepribadian masing-
masing individu.
Kepribadian sangat erat hubungannya dengan tingkah laku manusia.
Sebagai “penghasil” kepribadian, manusia hendaklah bercermin dengan tingkah
lakunya sendiri. “Kebebasan” dalam sastra ada dan terjadi sesuai dengan tingkah
laku manusia sebagai pembentuknya, sehingga menjadi “budaya manusia yang
utuh”. Moral dan tingkah laku yang terbentuk itu bisa saja mewakili suatu
masyarakat atau golongan apabila hal tersebut sudah menjadi kebiasaan.

Konsep dan Makna “Kebebasan”


Rene Wellek & Austin Warren menyebutkan bahwa cara lain untuk
mendefinisikan sastra adalah membatasinya pada “mahakarya” yaitu buku-buku
yang dianggap menonjol karena “bentuk dan ekskpresi sastranya”. Kriteria yang
dipakai adalah segi estetis, nilai-nilai dan kekuatan penyampaian. (Rene Wellek &
Austin Warren, 1995. Teori Kesusastraan).
Sastra, sebagai produk peradaban dan daya pikir manusia, tak bisa lepas
dari perihal kebebasan. Kebebasan adalah hak setiap manusia dan hak setiap
manusia pulalah untuk memperjuangkannya. Kebebasan berekspresi dan berkreasi
lewat teks sastra adalah hak setiap sastrawan dan siapapun yang mencintai sastra.
Namun, tidak serta merta kebebasan tersebut tidak dibarengi dengan tanggung
jawab. Karena kebebasan dan tanggung jawab adalah satu paket, tidak bisa dipilih
secara terpisah ataupun dipisah dan ditinggalkan salah satunya. Sastrawan sebagai
bagian dari masyarakat bangsa tetap memiliki tanggung jawab terhadap
masyarakat pembaca.
Pada pertengahan tahun 2007, terdapat konflik di antara para pelaku sastra.
Permasalahan yang diangkat apalagi kalau bukan “kebebasan sastra yang
kebabalasan”. Sastrawan-sastrawan penulis novel angkatan modern berseberangan
jalan dengan Bapak Taufik Ismail sastrawan era 66-an. Di antara nama-nama
besar sastrawan angkatan modern yaitu Djenar Mahesa Ayu, Ayu Utami, Mariana
Amiruddin, Hudan Hidayat, dll. Polemik berlanjut. Atas nama kebebasan
berkreasi dan kebebasan menafsir teks sastra, Hudan Hidayat menganggap bahwa
Taufik tidak memiliki hak untuk memberikan tafsiran tunggal atas karya-karya
yang dituduhkannya sebagai sastra selangkangan. Seks, atau apapun istilahnya,
menurut Hudan hanyalah tempelan, sampiran yang tujuannya tetap untuk
memerdekakan manusia, membebaskan manusia dan menguak kemunafikan dan
kebobrokan manusia, bahkan untuk menghampiri Tuhan. Bersama dengan M.
Fadjroel Rachman, Mariana Amiruddin dan Rocky Gerung, Hudan mengeluarkan
Memo Indonesia. “Kami adalah manusia bebas. Berdaulat atas jiwa dan raga
kami untuk mencipta kemanusiaan kami sendiri dalam kebebasan tanpa
penjajahan”, demikian petikan dari Memo Indonesia yang dirilis pada 12 Juli
2007 di PDS HB Jassin, Jakarta (sumber: www.google.com).
Bila kita simak informasi berita di atas, pasti sudah dapat ditebak bahwa
banyak pandangan dari berbagai kalangan yang bersebelahan dengan pandangan
dari kalangan lain mengenai sastra, makna sastra serta konsep sastra. Di satu
pihak, makna sastra dan konsep sastra harus dibatasi dengan nilai moral yang ada
sehingga tidak terlalu berdampak buruk pada segi estetika sastra. Sedangkan pada
pihak lain menginginkan “kebebasan sastra yang sebebas-bebasnya”, tanpa harus
ada batasan-batasan yang mengekang kreatifitas manusia. Ironis memang apabila
dalam sastra, batasan moral sudah diperdebatkan dengan dua atau lebih pendapat
dari berbagai kalangan dan tokoh lintas sastra. Nilai moral yang sebenarnya
adalah suatu nilai yang hidup di tengah-tengah masyarakat sejak dahulu sampai
sekarang yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok masyarakat
dalam mengatur tingkah lakunya (kinayati Djojosuroto, analisis teks sastra dan
pengajarannya). Kata moral memang sensitif apabila dihubung-hubungkan dengan
konsep sastra sebagai “kebebasan”. Namun, apakah layak bagi sastra apabila
“kebebasan” yang diumbar-umbar itu tidak disertai dengan nilai moral?
Mungkin saya berlebihan dengan kata-kata “nilai moral” di sini. Akan
tetapi, apabila di suatu karya sastra terdapat hal-hal yang kurang enak untuk
dibaca bahkan dibahas dalam kaidah moralitas, hal itu tidak lagi menjadi sesuatu
yang berlebihan. Sastra yang mengagungkan kata “kebebasan” sarat akan budaya-
budaya barat (dengan tulisan-tulisan yang mengungkapkan seksualitas - hubungan
suami istri bahkan membicarakan “alat kelamin sendiri”) tentu saja sudah tidak
efektif lagi untuk dijadikan pegangan dalam perbandingan tingkah laku manusia.
Misalnya saja novel Nayla karya Djenar Mahesa Ayu, atau novel Saman karya
Ayu Utami, ataupun novel Perempuan Kembang Jepun karya Lang Fang. Jika isi
sastra saja sudah mengungkapkan hal-hal seperti itu, maka apa jadinya tingkah
laku yang dibawa oleh manusia. Bisa jadi sebagian pembaca akan meniru hal-hal
yang diumbar atau bisa jadi di lain pihak, justru banyak yang lebih serius
membentengi diri mereka dengan nilai-nilai kebaikan yang ada.
Memang tidak ada larangan bagi pengarang untuk mengeksplorasi
seksualitas dalam berkarya. Namun, masih banyak persoalan di negeri ini yang
tidak bisa dituntaskan hanya dengan “bereksplorasi berdasarkan tulisan-tulisan
seksualitasnya”. Semoga dengan kebebasan kreatifnya, para pengarang mampu
melahirkan karya-karya besar, dengan kadar estetika dan kadar keberterimaan di
masyarakat yang tinggi, tidak peduli dari kubu manapun.

Nilai-nilai dan Amanat dalam sastra


Di setiap karya sastra tentu akan ada nilai-nilai di dalamnya dan amanat
yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca karyanya. Dalam memaknai
sastra pun harus juga dilihat dari nilai-nilai dan amanat yang ada di dalam karya
sastra tersebut (tersurat maupun tersirat), sehingga sebagai pembaca, kita tidak
dapat menghindar dari hal-hal tersebut. Sastra akan mengungkapkan kehidupan
manusia dengan menghayati segala persoalan kehidupan manusia dengan penuh
kesungguhan lebih dahulu, kemudian mengungkapkan kembali melalui sarana
fiksi (bisa dalam bentuk puisi, novel, cerita pendek, dll). Pembaca seolah
dihadapkan pada suatu persoalan hidup dalam suatu rangkaian peristiwa. Di
situlah pembaca dibawa masuk hingga ke dalam sebuah perenungan tentang
kehidupan manusia hingga akhirnya pembaca mendapatkan suatu pesan dalam
kehidupan nyata yang disebut dengan amanat.
Dari suatu amanat itulah, manusia akan belajar bagaimana mengendalikan
diri dan mengatur tingkah lakunya untuk menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.
Amanat dan nilai-nilai yang ada dalam karya sastra hendaknya menjadi pencerah
manusia untuk menciptakan image-image baik sehingga akan dapat
mempengaruhi orang-orang di sekililingnya.
Ketika kita kembali membicarakan moral dan seksualitas, tentu akan
terasa lebih berarti dalam kaitannya dengan nilai-nilai kebaikan dalam karya
sastra. Seorang pembaca mungkin tidak akan mau mengikuti hal-hal yang
berkaitan dengan seksualitas dalam novel atau mungkin sebaliknya, karena begitu
banyak novel-novel yang “sudah biasa” membicarakan seksualitas, bisa jadi
seorang pembaca terbiasa pula dengan tingkah laku apa-apa yang diceritakan
dalam novel tersebut yang tentu saja masih dalam konteks pembicaraan sastra.
Atar Semi mengungkapkan bahwa karya sastra adalah suatu medium yang
paling efektif membina moral dan kepribadian suatu kelompok masyarakat. Moral
dalam hal ini diartikan sebagai norma, konsep tentang kehidupan yang dijunjung
tinggi oleh sebagian besar masyarakat tertentu (Semi, 1993: 49).
Oleh karena itu, karya sastra dapat berperan sebagai pembimbing manusia
dalam memahami dan menghayati berbagai persoalan di kehidupan manusia,
sastra menawarkan berbagai sikap moral – positif maupun negatif yang dapat
dipakai sebagai renungan dalam hidupnya. Dalam membaca sastra pun, kita harus
dapat memilah-milih mana sastra yang sesuai dan yang tidak sesuai, mana sastra
yang berdampak positif pada tingkah laku kita dan mana yang berdampak negatif
untuk diri kita. Ingatlah, bahwa di dalam sastra pun juga ada nilai moral yang
membangunnya, sehingga akan menjadi sesuatu hal yang salah apabila dalam
suatu karya sastra, nilai moral diabaikan begitu saja. Karena dengan hadirnya nilai
moral dalam karya sastra, akan membentuk kepribadian dan tingkah laku manusia
yang baru dan tentunya membawa hal-hal kebaikan pada manusia.

Kesimpulan
Sastra adalah proses kreatif yang dihasilkan seseorang berdasarkan intuisi
dan nilai rasa yang dimilikinya dalam sebuah konteks karya seni. Sastra pada
umumnya diartikan sebagai lambang “kebebasan” berekspresi. Banyak orang
yang berpendapat bahwa sastra sebagai cara untuk pengekspresian diri sendiri,
keinginan yang terdalam yang terpacarkan lewat penulisan sastra atau bahkan
sastra itu bisa jadi bagian dari hidup kita. Namun dari kata “kebebasan” itu
sebaiknya mengerti nilai-nilai dan amanat yang ada di dalamnya. Karena sastra
dilindungi oleh nilai moral dan nilai moral tersebut tidak dapat diabaikan begitu
saja. Nilai moral akan membentuk kepribadian dan tingkah laku manusia yang
baru dan tentunya membawa hal-hal kebaikan pada manusia. Dari karya sastra
itulah manusia akan belajar bagaimana mengendalikan diri dan mengatur tingkah
lakunya untuk menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.

Daftar Pustaka

Djojosuroto, Kinayati. 2006. Analisis Teks Sastra dan Pengajarannya.


Yogyakarta: Pustaka.
Teeuw, A. 1989. Sastra Indonesia Modern 11. Jakarta: Pustaka Jaya.
Tiana Rosa, Helvy. 2003. Segenggam Gumam. Bandung : Syaamil.
Wellek Rene dan Austin Warren. 1995. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia