Anda di halaman 1dari 115

Asuhan Keperawatan pada Klien

dengan Gastroenteritis
Pengertian
• Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak

dari biasanya (normal 100 - 200 ml per jam tinja), dengan


tinja berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat), dapat pula disertai
frekuensi defekasi yang meningkat (Mansjoer, Arif., et all. 1999).
• Diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari ( WHO,
1980),

• Gastroentritis ( GE ) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus


yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (Sowden,et
all.1996).
• Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk
tinja yang encer dengan frekuensi yang lebih banyak dari biasanya (FKUI,1965).
• Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang
disebabkan oleh bakteri yang bermacam-macam,virus dan parasit yang patogen
(Whaley & Wong’s,1995).
• Gastroenteritis adalah kondisi dengan karakteristik adanya muntah dan diare yang
disebabkan oleh infeksi,alergi atau keracunan zat makanan ( Marlenan
Mayers,1995 ).

Jadi dari keempat pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa gastroenteritis
adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare
dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri,virus dan
parasit yang patogen.

Patofisiologi

Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus, Adenovirus enteris,


Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter, Salmonella, Escherihia Coli,
Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia, Cryptosporidium). Beberapa
mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi
enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus
pada gastroenteritis akut.

Penularan gastroenteritis bisa melalui fekal-oral dari satu klien ke klien yang lainnya.
Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan minuman yang
terkontaminasi.

Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotik (makanan yang
tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat
sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus
berlebihan sehingga timbul diare ). Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat
toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi
diare. Gangguan mutilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik.
Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang
mengakibatkan gangguan asam basa (asidosis metabolik dan hipokalemia), gangguan gizi
(intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah.
Gejala Klinis

a. Diare.

b. Muntah.

c. Demam.

d. Nyeri abdomen
e. Membran mukosa mulut dan bibir kering

f. Fontanel cekung

g. Kehilangan berat badan

h. Tidak nafsu makan

i. Badan terasa lemah

Komplikasi

a. Dehidrasi

b. Renjatan hipovolemik

c. Kejang

d. Bakterimia

e. Mal nutrisi

f. Hipoglikemia

g. Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.

Tingkat Dehidrasi Gastroenteritis

a. Dehidrasi Ringan

Kehilangan cairan 2 – 5 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit kurang
elastis, suara serak, klien belum jatuh pada keadaan syok.

b. Dehidrasi Sedang

Kehilangan cairan 5 – 8 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit jelek,
suara serak, presyok nadi cepat dan dalam.

c. Dehidrasi Berat

Kehilangan cairan 8 - 10 % dari berat badan dengan gambaran klinik seperti tanda-tanda
dehidrasi sedang ditambah dengan kesadaran menurun, apatis sampai koma, otot-otot
kaku sampai sianosis.

Penatalaksanaan Medis
a. Pemberian cairan.

b. Diatetik : pemberian makanan dan minuman khusus pada klien dengan tujuan
penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu diperhatikan :

• Memberikan asi.
• Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein, vitamin, mineral
dan makanan yang bersih.

c. Obat-obatan.

Pemberian cairan, pada klien Diare dengan memperhatikan derajat


dehidrasinya dan keadaan umum

a. Cairan per oral.

Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang, cairan diberikan peroral berupa cairan
yang berisikan NaCl dan Na, HCO, K dan Glukosa, untuk Diare akut diatas umur 6 bulan
dengan dehidrasi ringan, atau sedang kadar natrium 50-60 Meq/l dapat dibuat sendiri
(mengandung larutan garam dan gula ) atau air tajin yang diberi gula dengan garam. Hal
tersebut diatas adalah untuk pengobatan dirumah sebelum dibawa kerumah sakit untuk
mencegah dehidrasi lebih lanjut.

b. Cairan parenteral.

Mengenai seberapa banyak cairan yang harus diberikan tergantung dari berat badan atau
ringannya dehidrasi, yang diperhitungkan kehilangan cairan sesuai dengan umur dan
berat badannya.

1. Dehidrasi ringan.

1jam pertama 25 – 50 ml / Kg BB / hari, kemudian 125 ml / Kg BB / oral

2. Dehidrasi sedang.

1jam pertama 50 – 100 ml / Kg BB / oral, kemudian 125 ml / kg BB / hari.

3. Dehidrasi berat.

Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun dengan berat badan 3 – 10 kg

· 1 jam pertama : 40 ml / kg BB / jam = 10 tetes / kg BB / menit (infus set 1 ml = 15 tetes


atau 13 tetes / kg BB / menit.

· 7 jam berikutnya 12 ml / kg BB / jam = 3 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 20 tetes


).
· 16 jam berikutnya 125 ml / kg BB oralit per oral bila anak mau minum,teruskan dengan
2A intra vena 2 tetes / kg BB / menit atau 3 tetes / kg BB / menit.

Untuk anak lebih dari 2 – 5 tahun dengan berat badan 10 – 15 kg.

- 1 jam pertama 30 ml / kg BB / jam atau 8 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 15


tetes ) atau 10 tetes / kg BB / menit ( 1 ml = 20 tetes ).

- 7 jam kemudian 127 ml / kg BB oralit per oral,bila anak tidak mau minum dapat
diteruskan dengan 2A intra vena 2 tetes / kg BB / menit atau 3 tetes / kg BB / menit.

Untuk anak lebih dari 5 – 10 tahun dengan berat badan 15 – 25 kg.

-1 jam pertama 20 ml / kg BB / jam atau 5 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 20 tetes


).

-16 jam berikutnya 105 ml / kg BB oralit per oral.

c. Diatetik ( pemberian makanan ).

Terapi diatetik adalah pemberian makan dan minum khusus kepada klien dengan tujuan
meringankan, menyembuhkan serta menjaga kesehatan klien.

Hal – hal yang perlu diperhatikan :

• · Memberikan Asi.
• · Memberikan bahan makanan yang mengandung cukup kalori,protein,mineral
dan vitamin, makanan harus bersih.

d. Obat-obatan.

· Obat anti sekresi.

· Obat anti spasmolitik.

· Obat antibiotik.

Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan laboratorium.

· Pemeriksaan tinja.

· Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup, bila


memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas darah atau astrup, bila
memungkinkan.
· Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui fungsi ginjal.

b. Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau


parasit secara kuantitatif, terutama dilakukan pada klien diare kronik.

Tumbuh Kembang Anak

Berdasarkan pengertian yang didapat,penulis menguraikan tentang pengertian dari


pertumbuhan adalah berkaitan dengan masa pertumbuhan dalam besar, jumlah, ukuran
atau dengan dimensi tentang sel organ individu, sedangkan perkembangan adalah menitik
beratkan pada aspek perubahan bentuk atau fungsi pematangan organ individu termasuk
perubahan aspek dan emosional.

Anak adalah merupakan makhluk yang unik dan utuh, bukan merupakan miniatur orang
dewasa, atau kekayaan orang tua yang nilainya dapat dihitung secara ekonomi.

Tujuan keperawatan anak adalah meningkatkan maturasi yang sehat bagi anak, baik
secara fisik, intelektual dan emosional secara sosial dan konteks keluarga dan
masyarakat.

Tumbuh kembang pada bayi usia 6 bulan.

a. Motorik halus.

1. Mulai belajar meraih benda-benda yang ada didalam jangkauan ataupun diluar.

2. Menangkap objek atau benda-benda dan menjatuhkannya

3. Memasukkan benda kedalam mulutnya.

4. Memegang kaki dan mendorong ke arah mulutnya.

5. Mencengkram dengan seluruh telapak tangan.

b. Motorik kasar.

1. Mengangkat kepala dan dada sambil bertopang tangan.

2. Dapat tengkurap dan berbalik sendiri.

3. Dapat merangkak mendekati benda atau seseorang.

c. Kognitif.

a. Berusaha memperluas lapangan.


b. Tertawa dan menjerit karena gembira bila diajak bermain.

c. Mulai mencari benda-benda yang hilang.

d. Bahasa.

Mengeluarkan suara ma.. pa.. ba.. walaupun kita berasumsi ia sudah dapat memanggil
kita, tetapi sebenarnya ia sama sekali belum mengerti.

Dampak Hospitalisasi terhadap Anak

a. Separation ansiety

b. Tergantung pada orang tua

c. Stress bila berpisah dengan orang yang berarti

d. Tahap putus asa : berhenti menangis, kurang aktif, tidak mau makan, main, menarik
diri, sedih, kesepian dan apatis

e. Tahap menolak : Samar-samar seperti menerima perpisahan, menerima hubungan


dengan orang lain dan menyukai lingkungan

Pengkajian Keperawatan

Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data, analisa data dan penentuan
masalah. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi, observasi, pemeriksaan
fisik. Pengkaji data menurut Cyndi Smith Greenberg, 1992 adalah :

1. Identitas klien.

2. Riwayat keperawatan.

· Awalan serangan : Awalnya anak cengeng,gelisah,suhu tubuh meningkat,anoreksia


kemudian timbul diare.

· Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit
terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung, tonus
dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir kering, frekwensi BAB lebih
dari 4 kali dengan konsistensi encer.

3. Riwayat kesehatan masa lalu.

Riwayat penyakit yang diderita, riwayat pemberian imunisasi.

4. Riwayat psikososial keluarga.


Hospitalisasi akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga,
kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak,
setelah menyadari penyakit anaknya, mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa
bersalah.

5. Kebutuhan dasar.

· Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari, BAK
sedikit atau jarang.

· Pola nutrisi : diawali dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan penurunan berat
badan pasien.

· Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan
menimbulkan rasa tidak nyaman.

· Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.

· Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri akibat
distensi abdomen.

6. Pemerikasaan fisik.

a. Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah, kesadaran composmentis


sampai koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat dan lemah, pernapasan agak cepat.

b. Pemeriksaan sistematik :

· Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan bibir kering, berat
badan menurun, anus kemerahan.

· Perkusi : adanya distensi abdomen.

· Palpasi : Turgor kulit kurang elastis

· Auskultasi : terdengarnya bising usus.

c. Pemeriksaan tingkat tumbuh kembang.

d. Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat badan
menurun.

e. Pemeriksaan penunjang.

f.Pemeriksaan tinja, darah lengkap dan duodenum intubation yaitu untuk mengetahui
penyebab secara kuantitatip dan kualitatif.
Diagnosa Keperawatan GE

1. Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
output cairan yang berlebihan.

2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual
dan muntah.

3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekwensi BAB yang berlebihan.

4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.

5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,


prognosis dan pengobatan.

6. Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, prosedur yang menakutkan.

Intervensi

Diagnosa 1.

Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
output cairan yang berlebihan.

Tujuan :

Devisit cairan dan elektrolit teratasi

Kriteria hasil:

Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir lembab, balan cairan seimbang

Intervensi :

Observasi tanda-tanda vital. Observasi tanda-tanda dehidrasi. Ukur input dan output
cairan (balan cairan). Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan minum yang
banyak kurang lebih 2000 – 2500 cc per hari. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian
therapi cairan, pemeriksaan lab elektrolit. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian
cairan rendah sodium.

Diagnosa 2.

Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan
muntah.

Tujuan :
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi

Kriteria hasil :

Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1 porsi yang disediakan, mual, muntah tidak
ada.

Intervensi :

Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi. Timbang berat badan klien. Kaji faktor
penyebab gangguan pemenuhan nutrisi. Lakukan pemeriksaan fisik abdomen (palpasi,
perkusi, dan auskultasi). Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering.
Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.

Diagnosa 3.

Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekwensi BAB yang berlebihan.

Tujuan :

Gangguan integritas kulit teratasi

Kriteria hasil :

Integritas kulit kembali normal, iritasi tidak ada, tanda-tanda infeksi tidak ada

Intervensi :

Ganti popok anak jika basah. Bersihkan bokong secara perlahan menggunakan sabun non
alkohol. Beri zalp seperti zinc oxsida bila terjadi iritasi pada kulit. Observasi bokong dan
perineum dari infeksi. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi antifungi
sesuai indikasi.

Diagnosa 4.

Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.

Tujuan :

Nyeri dapat teratasi

Kriteria hasil :

Nyeri dapat berkurang / hilang, ekspresi wajah tenang

Intervensi :
Observasi tanda-tanda vital. Kaji tingkat rasa nyeri. Atur posisi yang nyaman bagi klien.
Beri kompres hangat pada daerah abdomen. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian
therapi analgetik sesuai indikasi.

Diagnosa 5.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,


prognosis dan pengobatan.

Tujuan

Pengetahuan keluarga meningkat

Kriteria hasil :

Keluarga klien mengerti dengan proses penyakit klien, ekspresi wajah tenang, keluarga
tidak banyak bertanya lagi tentang proses penyakit klien.

Intervensi :

Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses
penyakit klien. Jelaskan tentang proses penyakit klien dengan melalui pendidikan
kesehatan. Berikan kesempatan pada keluarga bila ada yang belum dimengertinya.
Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.

Diagnosa 6.

Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, prosedur yang menakutkan.

Tujuan :

Klien akan memperlihatkan penurunan tingkat kecemasan

Intervensi :

Kaji tingkat kecemasan klien. Kaji faktor pencetus cemas. Buat jadwal kontak dengan
klien. Kaji hal yang disukai klien. Berikan mainan sesuai kesukaan klien. Libatkan
keluarga dalam setiap tindakan. Anjurkan pada keluarga untuk selalu mendampingi klien.

Evaluasi

1. Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan.

2. Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh.

3. Integritas kulit kembali normal.


4. Rasa nyaman terpenuhi.

5. Pengetahuan kelurga meningkat.

6. Cemas pada klien teratasi.

Daftar Pustaka

Carpenito, L.J., (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2 Jakarata :
EGC

Dongoes (2000). Diagnosa Keperawatan. Ed. 8. Jakarta : EGC

Makalah Kuliah . Tidak diterbitkan.

Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI :


Media Aescullapius.

Pitono Soeparto, dkk. (1997). Gastroenterologi Anak. Surabaya : GRAMIK FK


Universitas Airlangga.

Price, Anderson Sylvia. (1997) Patofisiologi. Ed. I. Jakarata : EGC.

Artikel yang Berhubungan :

• Mencuci Tangan yang Baik dan Benar


• Pengkajian keperawatan
• Kumpulan Askep

Tags: Askep, askep gastroenteritis, askep ge, dehidrasi, diare, ge, mencret

Apa itu Gastroenteritis?


Gastroenteritis (juga dikenal sebagai gastro, flu lambung, bug perut di Inggris, dan flu
perut, meskipun tidak terkait dengan influenza) adalah peradangan pada saluran
pencernaan, yang melibatkan baik lambung dan usus kecil (lihat juga gastritis dan
enteritis) dan mengakibatkan diare akut. peradangan ini disebabkan paling sering oleh
infeksi dari virus tertentu atau kurang sering oleh bakteri, racun mereka, parasit, atau
reaksi negatif terhadap sesuatu dalam makanan atau obat. Worldwide, pengobatan yang
tidak memadai Gastroenteritis membunuh 5-8.000.000 orang per tahun, dan merupakan
penyebab utama kematian di kalangan bayi dan anak-anak di bawah 5.

Setidaknya 50% dari kasus Gastroenteritis karena penyakit bawaan makanan disebabkan
oleh norovirus. Lain 20% kasus, dan mayoritas kasus yang parah pada anak-anak,
disebabkan oleh rotavirus. Lain agen virus signifikan antara lain adenovirus

Gastroenteritis Klasifikasi
Infectious gastroenteritis disebabkan oleh berbagai bakteri dan virus.

Penting untuk mempertimbangkan Gastroenteritis menular sebagai diagnosis per


exclusionem. Sebuah bangku longgar sedikit dan muntah mungkin merupakan akibat dari
infeksi sistemik seperti pneumonia, septicemia, infeksi saluran kemih dan bahkan
meningitis. Bedah kondisi seperti radang usus buntu, intussusception dan, jarang,
penyakit Hirschsprung bahkan mungkin menyesatkan dokter. Kelainan endokrin
(misalnya tirotoksikosis dan penyakit Addison) adalah gangguan yang dapat
menyebabkan diare. Juga, insufisiensi pankreas, sindrom usus pendek, penyakit Whipple,
penyakit celiac, dan penyalahgunaan pencahar harus dikeluarkan sebagai kemungkinan.
Anak-anak dirawat di rumah sakit dengan Gastroenteritis secara rutin diuji untuk
rotavirus A untuk mengumpulkan data surveilans yang relevan dengan efek epidemiologi
program vaksinasi rotavirus. Anak-anak secara rutin diuji juga untuk norovirus, yang
sangat menular dan membutuhkan prosedur isolasi khusus untuk menghindari penularan
kepada pasien lain. Metode lain, mikroskop elektron dan elektroforesis gel poliakrilamid,
digunakan di laboratorium penelitian.

Gejala gastroenteritis
Gastroenteritis sering melibatkan rasa sakit perut atau kejang, diare dan / atau muntah,
dengan infeksi MENYEBABKAN PERADANGAN dari usus kecil bagian atas, atau
infeksi peradangan usus besar.

Kondisi ini biasanya onset akut, biasanya berlangsung 1-6 hari, dan membatasi diri.

• Mual dan muntah


• Diare
• Kehilangan nafsu makan
• Sakit kepala
• Abnormal perut kembung
• Sakit perut
• Kram perut
• Tinja berdarah (disentri - menunjukkan infeksi dengan
amuba,''''Campylobacter,''''Salmonella, Shigella''''atau beberapa strain patogenik
Escherichia coli'''')
• Pingsan dan Kelemahan

Beberapa faktor utama termasuk makan yang buruk pada bayi. Diare adalah umum, dan
mungkin diikuti dengan muntah-muntah. Viral diare biasanya menyebabkan tinja berair
sering, sedangkan diare bernoda darah mungkin menunjukkan kolitis bakteri. Dalam
beberapa kasus, bahkan ketika perut kosong, empedu bisa memuntahkan.

Seorang anak dengan Gastroenteritis mungkin lesu, menderita kurang tidur, jalankan
demam rendah, memiliki tanda-tanda dehidrasi (termasuk selaput lendir kering),
takikardi, turgor kulit berkurang, perubahan warna kulit warna, fontanelles cekung, bola
mata cekung, lingkaran mata gelap, kaca mata, perfusi miskin dan akhirnya shock.

Diagnosa Gastroenteritis
Tidak ada tes diagnostik khusus yang diperlukan pada kebanyakan pasien dengan
Gastroenteritis sederhana. Jika gejala termasuk demam, tinja berdarah dan diare bertahan
selama dua minggu atau lebih, pemeriksaan feses untuk Clostridium difficile dapat
dianjurkan bersama dengan budaya untuk bakteri, termasuk Salmonella, Shigella,
Campylobacter dan Escherichia coli Enterotoxic. Mikroskopi untuk parasit, ova dan kista
juga dapat membantu.

Gastroenteritis Pencegahan
Sebuah vaksin rotavirus memiliki antara 2000 dan 2009 mengalami penurunan jumlah
kasus diare akibat rotavirus di Amerika Serikat.

Manajemen gastroenteritis
Tujuan pengobatan adalah untuk menggantikan cairan yang hilang dan elektrolit.
rehidrasi oral adalah pengobatan disukai kerugian cairan dan elektrolit yang disebabkan
oleh diare pada anak dengan dehidrasi ringan sampai sedang.

Rehidrasi

Perlakuan utama Gastroenteritis pada anak dan orang dewasa adalah rehidrasi, yaitu,
penambahan air dan elektrolit hilang dalam tinja. Tergantung pada derajat dehidrasi, hal
ini dapat dilakukan dengan memberikan terapi orang rehidrasi oral (ORT) atau melalui
pengiriman intravena. Kompleks karbohidrat berbasis Garam Rehidrasi Oral (ORS)
seperti yang terbuat dari gandum atau beras telah ditemukan untuk menjadi lebih unggul
untuk oralit gula sederhana berbasis.
minuman manis seperti minuman ringan dan jus buah tidak dianjurkan untuk
Gastroenteritis pada anak di bawah usia 5 tahun karena dapat membuat diare lebih buruk.
polos air dapat digunakan jika oralit spesifik tidak tersedia atau tidak cocok.

Anak-anak menerima makanan setengah padat atau padat harus melanjutkan untuk
menerima makanan yang biasa mereka selama episode diare. Makanan tinggi gula
sederhana harus dihindari karena beban osmotik mungkin memperburuk diare, karena itu,
minuman ringan (bersoda atau flat), jus, makanan penutup gelatin, dan makanan tinggi
gula sederhana harus dihindari.

BRAT Diet (pisang, beras, saus apel, roti panggang dan teh) tidak lagi direkomendasikan,
karena mengandung nutrisi cukup dan tidak memiliki manfaat lebih dari makan normal.

Terapi farmakologis

Gastroenteritis biasanya merupakan penyakit akut dan self-terbatas yang tidak


memerlukan terapi farmakologis. Metoclopramide juga mungkin bisa membantu.

Obat alternatif

Probiotik

Beberapa probiotik telah terbukti bermanfaat dalam mencegah dan mengobati berbagai
bentuk gastroenteritis.

Seng

Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan bahwa bayi dan anak-anak menerima


suplemen makanan dari seng sampai dua minggu setelah onset gastroenteritis. Sebuah uji
coba 2009 namun belum menemukan manfaat dari suplemen.

Komplikasi Gastroenteritis
Dehidrasi adalah komplikasi umum dari diare. Hal ini dapat dibuat lebih buruk dengan
cairan pemotongan atau administrasi jus / minuman ringan. Malabsorpsi laktosa, gula
utama dalam susu, dapat terjadi. Ini dapat meningkatkan diare, bagaimanapun, bukanlah
alasan untuk menghentikan menyusui.

Gastroenteritis Epidemiologi
Setiap tahun di seluruh dunia rotavirus anak di bawah 5 penyebab 111 juta kasus
gastroenteritis dan hampir setengah juta kematian. 82% dari kematian ini terjadi di
negara-negara termiskin di dunia.
Pada tahun 1980 gastroenteritis dari semua penyebab menyebabkan 4,6 juta kematian
pada anak-anak dengan sebagian besar terjadi di dunia ketiga.

Kejadian di negara maju setinggi 1-2,5 kasus per anak per tahun dan merupakan
penyebab utama rawat inap di kelompok usia ini.

Umur, kondisi hidup, kebersihan dan kebiasaan budaya merupakan faktor penting. agen
etiologi bervariasi tergantung pada iklim. Selain itu, sebagian besar kasus Gastroenteritis
terlihat selama musim dingin di daerah beriklim sedang dan selama musim panas di
daerah tropis. Sejarawan, genealogists, dan peneliti lain harus diingat bahwa
Gastroenteritis tidak dianggap sebagai diagnosis diskrit sampai cukup baru-baru ini.

Presiden AS Zachary Taylor meninggal karena gastroenteritis pada tanggal 9 Juli 1850.

Artikel ini berlisensi di bawah Lisensi Dokumentasi Bebas GNU . Ini menggunakan
bahan dari artikel Wikipedia tentang " Gastroenteritis "Semua bahan yang digunakan
diadaptasi dari Wikipedia tersedia sesuai dengan ketentuan dari Lisensi Dokumentasi
Bebas GNU . Wikipedia ® itu sendiri adalah merek dagang terdaftar dari Wikimedia
Foundation, Inc

powered by

Last Update: 12. December 2010 14:55

Peringatan: Halaman ini adalah terjemahan mesin halaman ini aslinya dalam bahasa
Inggris. Harap diperhatikan karena terjemahan yang dihasilkan oleh mesin, tidak semua
terjemahan akan sempurna. Website ini dan halaman web yang dimaksudkan untuk
dibaca dalam bahasa Inggris. Setiap terjemahan dari situs dan halaman web yang
mungkin tidak tepat dan tidak akurat secara keseluruhan atau sebagian. Terjemahan ini
disediakan sebagai kenyamanan.

Recent Gastroenteritis News

Prevenar 13 launched in first childhood immunization program for PD in NicaraguaPfizer


Inc. announced that Prevenar 13 (Pneumococcal polysaccharide conjugate vaccine [13-
valent, adsorbed]) was introduced into the first childhood immunization program for
pneumococcal disease (PD) ...Positive interim results from elotuzumab Phase 1b/2 study
in relapsed multiple myelomaAbbott and Bristol-Myers Squibb Company today
announced interim results from the Phase 2 portion of a Phase 1b/2 open-label study
which showed a high objective response rate (ORR) among patients with ...Pennsylvania
Patient Safety Advisory for 2010 December focusses on tackling norovirus outbreaksIn
early 2010, Pennsylvania nursing homes and hospitals reported an increased number of
cases of gastrointestinal illness which are consistent with recurring outbreaks of the
highly contagious norovir...Study finds adverse long term health effects of E coli
infectionPeople who contract gastroenteritis from drinking water contaminated with E
coli are at an increased risk of developing high blood pressure, kidney problems and heart
disease in later life, finds a st...Merck announces FDA Advisory Committee approval of
GARDASIL for anal cancer and AIN treatmentMerck announced today that the U.S.
Food and Drug Administration's (FDA) Vaccines and Related Biological Products
Advisory Committee has advised that the data presented support an indication for
GARDA...

Tanda-tanda dan Gejala

Selain muntah-muntah dan sering mencret, ada beberapa tanda-tanda dan gejala seperti
berikut ini:

* jarang kencing atau ngompol


* capai dan lesu
* mulut dan tenggorokan kering
* wajah pucat dan badan kurus
* mata cekung
* malas makan dan minum
* tangan dan kaki dingin
* anak sulit bangun
Tindakan

1. Hentikan makanan oada dan susu sapi (tetapi teruskan air susu ibu jika anak masih
minum susu ibu) dan berikan cairan rehidrasi : 1 cangkir (150-200 ml) setiap kali anak
muntah atau mencret. Jika sering muntah, berikan cairan rehidrasi 10 ml setiap 15 menit.
Cairan rehidrasi yang cocok adalah Gastrolyte, yang dapat dibeli di apotik. Ingat, berikan
sesuai resep dokter atau petunjuk. Anda juga dapat memberikan: gula (1 sendok makan
ke dalam 120 ml air); anggur manis yang tidak rendah kalori (1 bagian ke-6 bagian air);
jus buah alami (1 bagian ke-4 bagian air); atau jeruk yang bukan rendah kalori (1 bagian
ke-4 bagian air). Ingat, buat adonan cairan yang seperti dijelaskan di sini. Jika tidak,
mungkin kondisi muntah-muntah akan semakin parah. Jangan menghentikan memberikan
makanan padat dan susu lebih dari 24 jam.
2. Setelah 24 jam pertama, lanjutkan memberikan cairan rehidrasi di sela-sela makanan.
Namun selingi makanan padat dengan susu sapi. Mulailah dengan sayur dan bubur yang
dimasak, termasuk roti, dan tambahan susu, telur, dan daging.
3. Cari pertolongan medis jika; anak sering muntah (8-10 kali mencret atau 2-3 kali
tinja besar sehari); terus muntah dan hanya sedikit cairan di tubuh; banyak tanda-tanda
dehidrasi; bayi atau anak kecil muntahlebih dari 24 jam; Anda khawatir.
Gastroenteritis in PDF Version Available Tersedia Versi PDF

children
Gastroenteritis pada anak-anak
Disclaimer: This fact sheet is for education purposes only. Disclaimer: Lembar fakta
ini adalah bagi tujuan pendidikan saja. Please consult with your doctor or other
health professional to make sure this information is right for your child. Silakan
berkonsultasi dengan dokter Anda atau ahli kesehatan lain untuk membuat
informasi ini yakin tepat bagi anak Anda.

What is gastroenteritis? Apa itu Gastroenteritis?


Gastroenteritis (gastro) is a very common illness in infants and children. Gastroenteritis
(gastro) adalah penyakit yang sangat umum pada bayi dan anak-anak. It is usually caused
by viruses that infect the bowel. Hal ini biasanya disebabkan oleh virus yang menginfeksi
usus besar. It tends to be more common during winter months. Ini cenderung lebih umum
selama musim dingin.

Typically, gastro begins with vomiting. Biasanya, gastro dimulai dengan muntah.
Children then develop frequent, watery poos (diarrhoea). Anak-anak kemudian
mengembangkan sering, Kotoran cair (diare). Often children may have tummy pain and
fever with the diarrhoea. Seringkali anak-anak dapat mengalami sakit perut dan demam
dengan diare. Some children may have a runny nose, or a sore throat. Beberapa anak
mungkin memiliki pilek, atau sakit tenggorokan.

Gastro usually lasts for three or four days. Gastro biasanya berlangsung selama tiga atau
empat hari. It may take a week or so for the poos to become normal. Mungkin perlu
seminggu atau lebih bagi Kotoran menjadi normal.

Some bacteria (germs) may also cause vomiting and diarrhoea in children. Beberapa
bakteri (kuman) juga dapat menyebabkan muntah dan diare pada anak-anak. Higher or
more prolonged fevers, more severe tummy pain, and blood or mucus with the diarrhoea,
may suggest that gastro is caused by bacteria. demam berkepanjangan lebih tinggi atau
lebih, nyeri perut yang lebih berat, dan darah atau lendir dengan diare, mungkin
menyarankan bahwa gastro disebabkan oleh bakteri. These bacterial infections are
sometimes linked to food poisoning. Infeksi bakteri ini kadang-kadang terkait dengan
keracunan makanan.

How is gastro spread? Bagaimana menyebar gastro?


Viral gastro can be easily spread from person to person. Gastro virus dapat dengan
mudah menyebar dari orang ke orang. It is very important to keep children with gastro
away from other children outside of your family. Hal ini sangat penting untuk menjaga
anak-anak dengan gastro jauh dari anak-anak lain di luar keluarga Anda. They should not
go to day-care, kindergarten or school whilst they are sick. Mereka tidak harus pergi ke
penitipan anak, TK atau sekolah sementara mereka sakit.

Hand-washing with soap and water (for example, after nappy changes or going to the
toilet, as well as before and after food preparation) is very important to stop the spread of
the virus. Cuci tangan dengan sabun dan air (misalnya, setelah perubahan popok atau
pergi ke toilet, serta sebelum dan setelah persiapan makanan) sangat penting untuk
menghentikan penyebaran virus.

What to do Apa yang harus dilakukan


In our community most children with gastro recover quickly. Pada anak-anak komunitas
kami yang paling dengan gastro cepat sembuh. The major concern with gastro is that
children can become dehydrated (dry) due to loss of fluid in the vomit and diarrhoea.
Perhatian utama dengan gastro adalah bahwa anak-anak dapat mengalami dehidrasi
(kering) akibat hilangnya cairan dalam muntahan dan diare. Younger children, or
children with other health problems, may become dehydrated more quickly. anak-anak
muda, atau anak-anak dengan masalah kesehatan lainnya, dapat mengalami dehidrasi
lebih cepat. Encouraging your child to drink fluids is very important. Mendorong anak
Anda untuk minum cairan sangat penting. The fluids to use are described in the next
section. Cairan gunakan sudah dijelaskan di bagian selanjutnya. Please read and ask
questions so that you understand these very important instructions. Silakan baca dan
mengajukan pertanyaan sehingga Anda memahami petunjuk ini sangat penting.
Medicines to stop vomiting and diarrhoea are usually not helpful and can cause other
problems in children. Obat-obatan untuk menghentikan muntah dan diare biasanya tidak
bermanfaat dan dapat menyebabkan masalah lain pada anak-anak.

Please consult your doctor or hospital, as soon as possible, if you have any concerns
about your child's progress - especially if: Silakan berkonsultasi dengan dokter Anda atau
rumah sakit, sesegera mungkin, jika Anda mempunyai keprihatinan apapun tentang
kemajuan anak Anda - terutama jika:

• Your child is less than six months old Anak Anda kurang dari enam bulan
• Your child has other health problems Anak Anda memiliki masalah kesehatan
lainnya
• You are unable to get your child to take the right amount of fluids Anda tidak bisa
mendapatkan anak Anda untuk mengambil jumlah yang tepat cairan
• Your child keeps vomiting Anak Anda terus muntah
• Your child is very tired or drowsy Anak Anda sangat lelah atau mengantuk
• There is blood or mucus in your child's poo Ada darah atau lendir dalam tinja
anak Anda
• Your child has ongoing tummy pain Anak Anda memiliki sakit perut
berkelanjutan
• Your child has high fevers Anak Anda memiliki demam tinggi
• If your child has unexpected symptoms(eg pain when passing urine, headache etc)
Jika anak Anda memiliki gejala-gejala tidak terduga (misalnya sakit ketika buang
air kecil, sakit kepala dll)
• Or if your child does not seem to be getting better. Atau jika anak Anda
tampaknya tidak akan mendapatkan lebih baik.

What to feed your infant child Apa untuk memberi


makan anak bayi Anda
If you are unsure about the information on this sheet or your child's condition, please see
your doctor. Jika Anda tidak yakin tentang informasi pada lembar ini atau kondisi anak
Anda, silakan lihat dokter Anda.

Acute vomiting and diarrhoea (runny poos) can rapidly lead to dehydration in infants and
young children. muntah dan diare akut (Kotoran meler) dengan cepat dapat menyebabkan
dehidrasi pada bayi dan anak-anak muda. Seek medical attention promptly, if you are
concerned. Cari bantuan medis segera, jika Anda khawatir.

Frequent vomiting and runny poos means your child may be losing a lot of fluid from
his/her body. Sering muntah dan Kotoran berair berarti anak Anda mungkin akan
kehilangan banyak cairan dari badannya. Lost fluid must be replaced - initially with
SUITABLE FLUIDS or BREAST MILK. Cairan yang hilang harus diganti - awalnya
dengan FLUIDA SESUAI atau PAYUDARA SUSU.

Suitable fluids Cocok cairan


Oral Rehydration Fluids (available from chemist) are specially formulated to replace lost
fluid rapidly. Cairan Rehidrasi Oral (tersedia dari apotik) diformulasikan secara khusus
untuk menggantikan cairan yang hilang dengan cepat. Oral rehydration solutions are
specially designed to replace sugars and salts lost during an episode of gastroenteritis.
solusi rehidrasi oral secara khusus dirancang untuk menggantikan gula dan garam yang
hilang selama episode gastroenteritis. It is preferable to give these over other clear fluids
if it is available. Adalah lebih baik untuk memberikan ini lebih dari cairan bening lainnya
jika tersedia.
Clear fluids such as juice, cordial or soft drink may be used with caution if an oral
rehydration fluid is not available but they must be diluted otherwise they may make the
runny poos worse. Hapus cairan seperti jus, minuman ramah atau lunak dapat digunakan
dengan hati-hati jika cairan rehidrasi oral tidak tersedia, tetapi mereka harus diencerkan
dinyatakan mereka mungkin membuat Kotoran meler buruk.

How to prepare suitable fluids Cara membuat cairan


yang cocok
Fluid Cairan Dilution Pengenceran Example Contoh
Oral Rehydration Fluid Cairan (see directions on pack)
Rehidrasi Oral (Lihat petunjuk pada
eg Gastrolyte ® misalnya As per instructions Sesuai kemasan)
Gastrolyte ® instruksi MIX WITH WATER
(Available from chemist) ONLY MIX DENGAN
(Tersedia dari apotik) AIR SAJA
Oral Rehydrating Fluid Cairan
rehidrasi oral
eg Hydralyte ® misalnya Pre-prepared as fluid or
Do not mix with other
Hydralyte ® iceblock Pra-disiapkan
fluids Jangan bercampur
(Available chemists and some sebagai cairan atau
dengan cairan lainnya
supermarkets) (Tersedia ahli iceblock
kimia dan beberapa
supermarket)
Cordial concentrate Ramah
5 mL (1 teaspoon) 5 mL (1
berkonsentrasi
1 part in 20 parts 1 bagian sendok teh)
(Not low calorie/low joule)
dalam 20 bagian plus 100mL water
(Kalori Tidak rendah / joule
ditambah 100 ml air
rendah)
Soft drink or Juice Soft drink
20 mL ( 1 tablespoon ) plus
atau Juice
1 part in 5 parts 1 bagian 80mL water 20 mL (1
(Not low calorie/low joule)
dalam 5 bagian sendok makan) ditambah
(Kalori Tidak rendah / joule
80mL air
rendah)

How much fluid do I give? Berapa banyak cairan yang


harus saya berikan?
• Be patient, give your child small frequent amounts of fluid. Bersabarlah, beri anak
Anda sering sejumlah kecil cairan.
• Aim for at least 5mL fluid per kg body weight each hour. Bertujuan untuk
setidaknya 5 ml cairan per kg berat badan setiap jam.
eg - misalnya -
for a 6 kg infant offer: 30mL every hour or 60mL every 2 hours untuk
tawaran 6 kg bayi: setiap jam 30ml atau 60ml setiap 2 jam
for a 12 kg toddler offer: 60mL every hour or 120mL every 2 hours untuk
tawaran 12 kg balita: 60ml setiap jam atau 120mL setiap 2 jam

Approximate volumes: Perkiraan volume:

Less than 6 months


see your doctor dokter Anda
Kurang dari 6 bulan
40 to 60 mL each hour 40 sampai
6-23 months 6-23 bulan
60 mL setiap jam
60 to 100 mL each hour 60
2-5 years 2-5 tahun
sampai 100 mL setiap jam
100 to 120 mL each hour 100
6-10 years 6-10 tahun
sampai 120 mL setiap jam
120 to 160 mL each hour 120-160
11-16 years 11-16 tahun
mL setiap jam

• It is important to start offering easily digested foods as soon as the vomiting stops
- & no later than after 24 hours EVEN if the poos are still loose. Hal ini penting
untuk mulai menawarkan makanan mudah dicerna segera setelah berhenti muntah
- & paling lambat setelah 24 jam BAHKAN jika Kotoran masih longgar.

IF YOU HAVE ANY CONCERNS ABOUT YOUR CHILD'S PROGRESS,


CONTACT YOUR LOCAL DOCTOR OR LOCAL HOSPITAL IMMEDIATELY.
JIKA ANDA MEMILIKI MASALAH TENTANG'S KEMAJUAN ANAK ANDA,
HUBUNGI DOKTER ANDA ATAU LOKAL SEGERA RUMAH SAKIT LOKAL.

What to do for a breastfed infant Apa yang harus


dilakukan untuk bayi disusui
• Continue breast feeding on demand or at least every 2 hours. Lanjutkan
pemberian ASI sesuai permintaan atau setidaknya setiap 2 jam.
• In between breast feeds, water or oral rehyration solution may be offered. Di
antara payudara feed, air atau larutan rehyration oral mungkin ditawarkan.
• Do not give solids if your child is vomiting Jangan memberikan makanan padat
jika anak Anda muntah

When the vomiting has stopped or after 24 hours: Ketika muntah telah
berhenti atau setelah 24 jam:
• Continue 2nd -3rd hourly feeds or on demand. Lanjutkan ke-2-3 jam feed atau
sesuai permintaan.
• In between breast feeds, water or oral rehydration solution may be offered. Di
antara payudara feed, air atau larutan rehidrasi oral mungkin ditawarkan.
• If your baby is on solids introduce simple foods such as rice cereal, potato or
pumpkin - even if the poos are still loose. Jika bayi Anda makanan padat
memperkenalkan makanan sederhana seperti sereal beras, kentang atau labu -
bahkan jika Kotoran masih longgar.

What to do for the bottle fed infant or older child Apa


yang harus dilakukan untuk botol makan anak bayi
atau lebih
While your infant or child is still vomiting: Sementara bayi atau anak
Anda masih muntah:

• Replace formula or usual drinks with oral rehydration fluid (from chemist) or
suitable fluids (see table " How to Prepare Suitable Fluids" on previous page )
Ganti susu formula atau minuman biasa dengan cairan rehidrasi oral (dari apotek)
atau cairan yang sesuai (lihat tabel "Bagaimana Mempersiapkan Cocok Cairan"
pada halaman sebelumnya)

Aim to be back to usual strength formula/diet within 24 hours. Bertujuan untuk


kembali ke rumus kekuatan yang biasa / diet dalam waktu 24 jam. If not, seek
medical advice. Jika tidak, mencari nasihat medis.

• Start usual formula or milk. Mulai formula biasa atau susu. Do not dilute Jangan
encer
• Continue giving feeds or drinks every 2-3 hours or more frequently if demanded.
Lanjutkan memberikan feed atau minuman setiap 2-3 jam atau lebih sering jika
diminta.
• Offer age appropriate foods at meal times even if the poos are still loose. makanan
usia Penawaran tepat pada saat makan bahkan jika Kotoran masih longgar.
• Occasionally children will develop lactose intolerance and the loose poos will
continue. Kadang-kadang anak-anak akan mengembangkan intoleransi laktosa
dan Kotoran longgar akan terus berlanjut. Under medical advice he/she will need
lactose free milk for approximately 1 month. Berdasarkan saran medis dia perlu
susu bebas laktosa selama kurang lebih 1 bulan.

• If your baby is less than six months old and has gastroenteritis, see a doctor
as soon as possible. Jika bayi Anda kurang dari enam bulan dan telah
gastroenteritis, melihat seorang dokter sesegera mungkin.
• Other members of the family may be affected. Anggota lain dari keluarga
mungkin akan terpengaruh.
• Young children tend to be affected most. Anak-anak cenderung paling
terpengaruh.
• Give enough fluids to cover normal requirements and to replace what is lost
through vomiting and diarrhoea (see the suitable fluids section on this fact
sheet). Berikan cairan cukup untuk menutup kebutuhan normal dan untuk
mengganti apa yang hilang karena muntah dan diare (lihat bagian cairan
yang sesuai pada lembar fakta).

The Children's Hospital at Sydney Children's Kaleidoscope, Hunter


Westmead Rumah Sakit Hospital, Randwick Children's Health Network
Anak di Westmead Sydney Children's Kaleidoskop, Jaringan Hunter
Tel: (02) 9845 3585 Tel: Hospital, Randwick Kesehatan Anak
(02) 9845 3585 Tel: (02) 9382 1688 Tel: Tel: (02) 4921 3670 Tel: (02)
Fax: (02) 9845 3562 Fax: (02) 9382 1688 4921 3670
(02) 9845 3562 Fax: (02) 9382 1451 Fax: Fax: (02) 4921 3599 Fax: (02)
www.chw.edu.au (02) 9382 1451 4921 3599
www.chw.edu.au www.sch.edu.au www.kaleidoscope.org.au
www.sch.edu.au www.kaleidoscope.org.au

© The Children's Hospital at Westmead, Sydney Children's Hospital, Randwick © Children's Hospital di
titik, Rumah Sakit Anak Sydney Westmead, Randwick
& Kaleidoscope, Hunter Children's Health Network - 2005-2010. & Kaleidoscope, Anak Kesehatan Hunter
Network - 2005-2010.

This document was reviewed on Tuesday, 6 April 2010. Dokumen ini telah direview pada Selasa 6 April,
2010.

<script language="JavaScript1.2" type="text/javascript" charset="ISO-8859-1"


src="http://as.medscape.com/js.ng/Params.richmedia=yes&amp;transactionID=12937590
&amp;site=1&amp;affiliate=2&amp;ssp=20&amp;artid=10030856&amp;env=0&amp;til
e=82189123&amp;cg=ckb&amp;pub=220&amp;pubs=220&amp;ct=0&amp;pf=0&amp;
usp=0&amp;st=0&amp;occ=0&amp;tid=&amp;pos=101"></script>
eMedicine Specialties > Gastroenterology > Intestine
eMedicine Spesialisasi > Gastroenterologi > Usus

Gastroenteritis, Viral Gastroenteritis,


Viral
Author: Michael Vincent F Tablang, MD, Resident Physician, Department of Internal
Medicine, University of Connecticut Health Center Author: Vincent Michael F
Tablang, MD Residen Dokter,, Departemen Kedokteran Internal, Universitas Pusat
Kesehatan Connecticut
Coauthor(s): Michael J Grupka, MD, Physician, Atlanta Center for Gastroenterology;
George Y Wu, MD, PhD, Professor, Department of Medicine, Director, Hepatology
Section, Herman Lopata Chair in Hepatitis Research, University of Connecticut School
of Medicine Co-author (s): Grupka J Michael, MD, Dokter, Pusat Atlanta untuk
Gastroenterology; Wu Y George, MD, PhD, Profesor, Departemen Kedokteran,
Direktur, Bagian Hepatologi, Lopata Ketua Herman dalam Penelitian Hepatitis,
University of Connecticut School of Medicine
Contributor Information and Disclosures Kontributor Informasi dan Pengungkapan

Updated: Dec 21, 2009 Diperbarui: 21 Desember 2009

• Print This Cetak ini

• Email This Email This


• Overview Ikhtisar
• Differential Diagnoses & Workup Diferensial Diagnosa & hasil pemeriksaan
• Treatment & Medication Perawatan & Pengobatan
• Follow-up Tindak lanjut

• References Referensi
• Keywords Kata kunci
• Further Reading Bacaan lebih lanjut

Introduction Pengantar
Background Latar belakang

Acute gastroenteritis is a common cause of morbidity and mortality worldwide.


Gastroenteritis akut adalah penyebab umum morbiditas dan kematian di seluruh dunia.
Conservative estimates put diarrhea in the top 5 causes of deaths worldwide, with most
occurring in young children in nonindustrialized countries. perkiraan konservatif
menempatkan diare di 5 penyebab utama kematian di seluruh dunia, dengan sebagian
besar terjadi pada anak-anak di negara nonindustrialized. In industrialized countries,
diarrheal diseases are a significant cause for morbidity across all age groups. Di negara-
negara industri, penyakit diare adalah penyebab signifikan untuk morbiditas di semua
kelompok umur. Etiologies include bacteria, viruses, parasites, toxins, and drugs. Etiologi
termasuk bakteri, virus, parasit, racun, dan obat-obatan. Viruses are responsible for a
significant percentage of cases affecting patients of all ages. Virus bertanggung jawab
untuk persentase yang signifikan mempengaruhi kasus pasien dari segala usia. Viral
gastroenteritis ranges from a self-limited watery diarrheal illness (usually <1 wk)
associated with symptoms of nausea, vomiting, anorexia, malaise, or fever, to severe
dehydration resulting in hospitalization or even death. Viral Gastroenteritis berkisar dari
penyakit diri terbatas diare berair (biasanya <1 minggu) yang berhubungan dengan gejala
mual, muntah, anoreksia, malaise, atau demam, dehidrasi berat yang mengakibatkan
kematian atau bahkan perawatan di rumah sakit.

The clinician encounters acute viral gastroenteritis in 3 settings. dokter ini pertemuan
gastroenteritis virus akut dalam 3 pengaturan. The first is sporadic gastroenteritis in
infants, which most frequently is caused by rotavirus. 1 The second is epidemic
gastroenteritis, which occurs either in semiclosed communities (eg, families, institutions,
ships, vacation spots) or as a result of classic food-borne or water-borne pathogens. 2
Most of these infections are caused by caliciviruses. Yang pertama adalah gastroenteritis
sporadis pada bayi, yang paling sering disebabkan oleh rotavirus. 1 kedua adalah epidemi
gastroenteritis, yang terjadi baik dalam komunitas semiclosed (misalnya, keluarga,
lembaga, kapal, liburan bintik-bintik) atau sebagai akibat dari klasik makanan ditanggung
atau air-borne patogen. 2 Sebagian besar infeksi disebabkan oleh caliciviruses. The third
is sporadic acute gastroenteritis of adults, which most likely is caused by caliciviruses,
rotaviruses, astroviruses, or adenoviruses. Yang ketiga adalah akut gastroenteritis
sporadis dari orang dewasa, yang kemungkinan besar disebabkan oleh caliciviruses,
rotaviruses, astroviruses, atau adenovirus.

For excellent patient education resources, visit eMedicine's Esophagus, Stomach, and
Intestine Center . Untuk sumber daya pendidikan yang sangat baik pasien, kunjungi
eMedicine's kerongkongan, perut, dan Usus Pusat . Also, see eMedicine's patient
education article Gastroenteritis . Juga, lihat pasien pendidikan's eMedicine artikel
Gastroenteritis .

Pathophysiology Patofisiologi

Viral spread from person to person occurs by fecal-oral transmission of contaminated


food and water. virus menyebar dari orang ke orang terjadi dengan transmisi fecal-oral
makanan dan air yang terkontaminasi. Some viruses, like noroviruses, may be transmitted
by an airborne route. Beberapa virus, seperti noroviruses, dapat ditularkan oleh jalur
udara. Clinical manifestations are related to intestinal infection, but the exact mechanism
of the induction of diarrhea is not clear. Manifestasi klinis terkait dengan infeksi usus,
namun mekanisme yang tepat dari induksi diare tidak jelas.

The most extensive studies have been done with rotavirus. Studi yang paling ekstensif
telah dilakukan dengan Rotavirus. Rotaviruses attach and enter mature enterocytes at the
tips of small intestinal villi. Rotaviruses dilampirkan dan masukkan enterosit dewasa
pada ujung vili usus kecil. They cause structural changes to the small bowel mucosa,
including villus shortening and mononuclear inflammatory infiltrate in the lamina
propria. Mereka menyebabkan perubahan struktural pada mukosa usus kecil, termasuk
memperpendek villus dan mononuklear inflamasi menyusup di lamina propria.

The current knowledge on the mechanisms leading to diarrheal disease by rotavirus is as


follows: 3 Pengetahuan saat ini terhadap mekanisme yang mengarah ke penyakit diare
oleh rotavirus adalah sebagai berikut: 3

• Rotavirus infections induce maldigestion of carbohydrates, and their


accumulation in the intestinal lumen, as well as a malabsorption of nutrients and a
concomitant inhibition of water reabsorption, can lead to a malabsorption
component of diarrhea. Infeksi Rotavirus menyebabkan pencernaan yang buruk
dari karbohidrat, dan akumulasi mereka di lumen usus, serta malabsorpsi nutrisi
dan hambatan seiring reabsorpsi air, dapat menyebabkan komponen malabsorpsi
diare.
• Rotavirus secretes an enterotoxin, NSP4, which leads to a Ca 2+ -dependent Cl -
secretory mechanism. Rotavirus mengeluarkan sebuah enterotoksin, NSP4, yang
menyebabkan 2 Ca-tergantung Cl + - mekanisme sekresi. Mobilization of
intracellular calcium associated with NSP4 expressed endogenously or added
exogenously is known to induce transient chloride secretion. Mobilisasi kalsium
intraselular yang terkait dengan NSP4 dinyatakan endogen atau ditambahkan
eksogen dikenal untuk menginduksi sekresi klorida sementara.

Morphologic abnormalities can be minimal, and studies demonstrate that rotavirus can be
released from infected epithelial cells without destroying them. kelainan morfologis dapat
menjadi minimal, dan studi menunjukkan bahwa rotavirus bisa dilepaskan dari sel epitel
yang terinfeksi tanpa menghancurkan mereka. Viral attachment and entry into the
epithelial cell without cell death may be enough to initiate diarrhea. lampiran virus dan
masuk ke dalam sel epitel tanpa kematian sel mungkin cukup untuk memulai diare. The
epithelial cell synthesizes and secretes numerous cytokines and chemokines, which can
direct the host immune response and potentially regulate cell morphology and function.
Sel epitel sintesis dan mengeluarkan berbagai sitokin dan kemokin, yang bisa langsung
host respon imun dan berpotensi mengatur morfologi sel dan fungsi. Studies also suggest
that one of the nonstructural viral proteins may act as an enterotoxin, promoting active
chloride secretion mediated through increases in intracellular calcium concentration.
Studi juga menunjukkan bahwa salah satu protein virus struktural dapat bertindak sebagai
suatu enterotoksin, mempromosikan sekresi klorida aktif dimediasi melalui peningkatan
konsentrasi kalsium intraseluler. Toxin-mediated diarrhea would explain the observation
that villus injury is not necessarily linked to diarrhea. diare Toksin-dimediasi akan
menjelaskan pengamatan bahwa cedera villus belum tentu terkait dengan diare.

Frequency Frekuensi
United States Amerika Serikat

Each year, more than 3.5 million infants develop acute viral gastroenteritis, resulting in
more than 500,000 office visits, 55,000 hospitalizations, and 30 deaths. Setiap tahun,
lebih dari 3,5 juta bayi mengembangkan virus gastroenteritis akut, menghasilkan lebih
dari 500.000 kunjungan kantor, 55.000 rawat inap, dan 30 kematian. Statistics on
sporadic cases of adult viral gastroenteritis are not known; however, food- and water-
borne epidemics of viral gastroenteritis are monitored by the US Centers for Disease
Control and Prevention (CDC) surveillance programs. Statistik kasus sporadis
Gastroenteritis virus dewasa tidak diketahui, namun, makanan dan air ditanggung
epidemi Gastroenteritis virus dipantau oleh US Centers for Disease Control dan
Pencegahan (CDC) program pengawasan. The CDC estimates that viruses cause 9.2
million cases of food-related illness each year (out of a total of 13.8 million cases from
all causes). CDC memperkirakan bahwa virus penyebab 9,2 juta kasus penyakit yang
berkaitan dengan makanan setiap tahun (dari total 13,8 juta kasus dari semua penyebab).

Noroviruses cause approximately 23 million cases of acute gastroenteritis each year and
are the leading cause of outbreaks of gastroenteritis. Noroviruses menyebabkan sekitar 23
juta kasus gastroenteritis akut setiap tahun dan merupakan penyebab utama wabah
gastroenteritis. They are responsible for 68-80% of all outbreaks in industrialized
countries. Mereka bertanggung jawab atas 68-80% dari seluruh wabah di negara-negara
industri. The genus Norovirus, formerly called the Norwalk-like virus, is a member of the
family Caliciviridae. The Norovirus genus, sebelumnya disebut-seperti virus Norwalk,
adalah anggota dari Caliciviridae keluarga.

Noroviruses are now recognized to be a common cause of gastroenteritis in new settings,


including nursing homes and other health care settings, cruise ships, in other travelers,
and in immunocompromised patients. 4 Noroviruses sekarang diakui menjadi penyebab
umum gastroenteritis dalam pengaturan baru, termasuk panti jompo dan perawatan
kesehatan pengaturan lainnya, kapal pesiar, di wisatawan lain, dan pada pasien
immunocompromised. 4

The frequency is seasonal. Frekuensi bersifat musiman. The highest incidence of


rotavirus cases occurs during the months from November to April. Kejadian tertinggi
kasus rotavirus terjadi selama bulan-bulan dari November hingga April. Cruise ship
outbreaks of noroviruses are more common during the summer months. wabah kapal
Cruise dari noroviruses yang lebih umum selama bulan-bulan musim panas. However, a
CDC study by Tate et al demonstrated a decline in the seasonality of rotavirus following
the 2006 introduction of the rotavirus vaccine. 5 Namun, sebuah studi CDC et al Tate
menunjukkan penurunan musiman rotavirus setelah pengenalan 2006 dari vaksin
rotavirus. 5

The investigators evaluated data for July 2000 through June 2008 to assess national,
regional, and local trends in rotavirus testing and detection and found not only was the
onset of the 2007-2008 rotavirus season delayed 15 weeks and the peak delayed 8 weeks
relative to the prevaccine rotavirus season from 2000 to 2006, but the 2007-2008 season
also lasted a little over half (14 wk) of the median prevaccine seasons (26 weeks). 5
Moreover, there was a 67% decline in the number and a 69% decline in the proportion of
2007-2008 rotavirus-positive test results compared with the median in 2000-2006. Para
peneliti mengevaluasi data untuk bulan Juli 2000 sampai Juni 2008 untuk menilai tren
nasional, regional, dan lokal dalam pengujian rotavirus dan deteksi dan menemukan tidak
hanya merupakan awal musim 2007-2008 rotavirus tertunda 15 minggu dan puncaknya
tertunda 8 minggu relatif terhadap musim rotavirus prevaccine 2000-2006, tapi musim
2007-2008 juga berlangsung sedikit lebih dari setengah (14 minggu) dari musim
prevaccine median (26 minggu). 5 Selain itu, ada penurunan 67% dalam jumlah dan 69%
penurunan proporsi 2007-2008 hasil tes rotavirus-positif dibandingkan dengan median di
2000-2006.

Rotavirus is the most common etiologic agent of health care–acquired diarrhea in


pediatric patients. Rotavirus adalah agen etiologi yang paling umum diare perawatan
kesehatan yang didapat pada pasien anak. Community- and health care–acquired
infections have similar temporal distributions; they are caused by the same viral subtypes;
and they affect children of the same age groups. Masyarakat dan perawatan kesehatan
infeksi yang didapat memiliki distribusi temporal yang sama, mereka adalah disebabkan
oleh subtipe virus yang sama, dan mereka mempengaruhi anak-anak dari kelompok usia
yang sama. All of the health care–acquired infections with known viral subtypes occurred
while the same subtype was still active in the community, suggesting that health care–
acquired infections arise from repeated introduction of the community-acquired rotavirus
into the hospital setting. 6 Semua perawatan kesehatan infeksi yang didapat dengan
subtipe virus yang dikenal terjadi ketika subtipe yang sama masih aktif di masyarakat,
menunjukkan bahwa perawatan kesehatan infeksi yang didapat timbul dari pengenalan
berulang-diperoleh dari rotavirus masyarakat ke rumah sakit. 6

International Internasional

Acute viral gastroenteritis is a leading cause of infant mortality throughout the world.
Akut Gastroenteritis virus adalah penyebab utama kematian bayi di seluruh dunia. By age
3 years, virtually all children become infected with the most common agents. Pada usia 3
tahun, hampir semua anak terinfeksi dengan agen yang paling umum. Rotavirus causes 2
million hospitalizations and 600,000-875,000 deaths per year. Rotavirus menyebabkan 2
juta rawat inap dan 600,000-875,000 kematian per tahun.

Noroviruses were attributed to 9 out of the 21 outbreaks of acute gastroenteritis on cruise


ships reported to the CDC's Vessel Sanitation Program from January 1, 2002, to
December 2, 2002. Noroviruses yang dihubungkan dengan 9 dari 21 wabah
gastroenteritis akut di kapal pesiar dilaporkan kepada CDC Program Sanitasi kapal sejak
1 Januari 2002, dengan tanggal 2 Desember 2002. The occurrence of noroviruses on
cruise ships has led to the use of the term "the cruise ship virus" as another name for
these viruses. Terjadinya noroviruses di kapal pesiar telah menyebabkan penggunaan
"virus kapal pesiar" sebagai nama lain untuk virus ini. Some illnesses previously
attributed to sea sickness are now recognized to be caused by norovirus infections. 4
Beberapa penyakit yang sebelumnya dikaitkan dengan mabuk laut yang sekarang diakui
disebabkan oleh infeksi norovirus. 4

Mortality/Morbidity Mortalitas / Morbiditas

Severe cases are seen in the elderly, infant, and immunosuppressed populations,
including transplant patients. Kasus yang parah terlihat pada bayi, lanjut usia, dan
imunosupresi populasi, termasuk pasien transplantasi.

Rotavirus infantile gastroenteritis is an important cause of infant mortality in the


developing world. Gastroenteritis infantil Rotavirus merupakan penyebab penting
kematian bayi di negara berkembang.

In the United States, elderly persons have the highest risk of death from gastroenteritis.
Di Amerika Serikat, orang tua mempunyai risiko kematian tertinggi dari gastroenteritis.

Caliciviruses may kill more people in the United States than do rotaviruses. Caliciviruses
dapat membunuh lebih banyak orang di Amerika Serikat daripada rotaviruses.

Noroviruses are the most common cause of gastroenteritis in nursing homes, and several
such outbreaks have resulted in deaths due to aspiration or exacerbation of another
chronic disease. Noroviruses merupakan penyebab paling umum Gastroenteritis di
rumah-rumah jompo, dan beberapa wabah tersebut menyebabkan kematian akibat
aspirasi atau eksaserbasi dari penyakit kronis lainnya. Norovirus infections in
hospitalized patients are more severe than those seen in otherwise healthy persons. 4
Norovirus infeksi pada pasien rumah sakit yang lebih parah daripada yang terlihat pada
orang sehat dinyatakan. 4

Age Umur

• Acute viral gastroenteritis occurs throughout life. Gastroenteritis virus akut terjadi
sepanjang hidup. Severe cases are seen in the very young and in the elderly.
Kasus yang parah terlihat pada sangat muda dan pada orang tua. Etiology also
varies with age. Etiologi juga bervariasi dengan usia.
• In infants, most cases are due to rotavirus. Pada bayi, sebagian besar kasus
disebabkan oleh rotavirus.
• In adults, the most common cause is norovirus. Pada orang dewasa, penyebab
paling umum adalah norovirus.

Clinical Klinis
History Sejarah

The clinical spectrum of acute viral gastroenteritis ranges from asymptomatic infection to
severe dehydration and death. Spektrum klinis akut gastroenteritis virus berkisar dari
infeksi asimptomatik dehidrasi parah dan kematian. Viral gastroenteritis typically
presents with short prodrome, with mild fever and vomiting, followed by 1-4 days of
nonbloody, watery diarrhea. Viral Gastroenteritis biasanya hadir dengan prodrome
pendek, dengan demam ringan dan muntah, diikuti oleh 1-4 hari nonbloody, diare berair.
Viral gastroenteritis is usually self-limited. Viral Gastroenteritis biasanya sendiri terbatas.

• The history should focus on severity and dehydration. Sejarah harus fokus pada
keparahan dan dehidrasi. The onset, frequency, quantity, and duration of diarrhea
and vomiting are important factors in assessing the status. Onset, frekuensi,
jumlah, dan durasi diare dan muntah merupakan faktor penting dalam menilai
status. Oral intake, urine output, and weight loss are important considerations.
asupan oral, keluaran urin, dan penurunan berat badan adalah pertimbangan
penting. Viruses are the suspected cause of acute gastroenteritis when vomiting is
prominent, when the incubation period is longer than 14 hours, and when the
entire illness is over in less than 3 days. Virus adalah penyebab diduga
gastroenteritis akut saat muntah menonjol, ketika masa inkubasi lebih lama dari
14 jam, dan ketika seluruh penyakit lebih dalam waktu kurang dari 3 hari. Travel
history (including cruise ships), eating history, and daycare history are important
epidemiological factors. Perjalanan sejarah (termasuk kapal pesiar), makan
sejarah, dan sejarah tempat penitipan anak merupakan faktor epidemiologis
penting.
• A viral cause should be suspected when the warning signs of bacterial infection
(ie, high fever, bloody diarrhea, severe abdominal pain, >6 stools/24 h) are absent
and an alternative diagnosis is not suggested by epidemiologic clues from the
history (eg, travel, sexual practices, antibiotic use). Penyebab virus harus dicurigai
saat tanda-tanda peringatan infeksi bakteri (yaitu, demam tinggi, diare berdarah,
nyeri perut yang parah,> 6 stools/24 h) tidak ada dan diagnosis alternatif tidak
dianjurkan oleh petunjuk epidemiologi dari sejarah (misalnya , perjalanan, seksual
praktek, penggunaan antibiotik).
• Factors associated with severe and prolonged disease are immunodeficiency and
immune suppression, comorbid disease, and malnutrition. Faktor yang terkait
dengan penyakit parah dan berkepanjangan adalah kekebalan dan penekanan
kekebalan, penyakit komorbiditas, dan kekurangan gizi.
• Death results from dehydration and acidosis. Kematian hasil dari dehidrasi dan
asidosis.
• Ruling out other diagnoses is important. Mengesampingkan diagnosis lain adalah
penting. Mucus or overt blood in the stool almost always indicates bacterial or
parasitic infection. Lendir atau terang-terangan darah dalam tinja hampir selalu
menunjukkan infeksi bakteri atau parasit.

In 1982, the Kaplan criteria were established to distinguish outbreaks due to norovirus
from outbreaks of bacterial etiology. Pada tahun 1982, kriteria Kaplan didirikan untuk
membedakan wabah karena norovirus dari wabah etiologi bakteri. The criteria are highly
specific (99%) and moderately sensitive (68%). Kriteria yang sangat spesifik (99%) dan
agak sensitif (68%). The 4 criteria indicative of an outbreak due to norovirus are as
follows: 7 4 kriteria menandakan sebuah wabah karena norovirus adalah sebagai berikut: 7
• Vomiting in 50% of affected persons in the outbreak Muntah di 50% dari orang
yang terkena dampak dalam wabah
• Mean incubation period of 24-48 hours Rata-rata periode inkubasi pada 24-48 jam
• Mean duration of illness of 12-60 hours Berarti durasi penyakit 12-60 jam
• Lack of identification of a bacterial pathogen in stool culture Kurangnya
identifikasi patogen bakteri dalam kultur tinja

Physical Fisik

The physical examination can be helpful in determining the etiology of gastroenteritis


and in assessing the presence and degree of dehydration. Pemeriksaan fisik dapat
membantu dalam menentukan penyebab gastroenteritis dan dalam menilai keberadaan
dan derajat dehidrasi.

• Temperature, blood pressure and pulse, and body weight can provide evidence of
severity of the condition. Suhu, tekanan darah dan denyut nadi, dan berat badan
dapat memberikan bukti keparahan kondisi.
• Temperature may be slightly elevated. Suhu mungkin akan sedikit meningkat.
High fever suggests bacterial infection. Demam tinggi menunjukkan infeksi
bakteri. Tachycardia, thready pulse, and hypotension suggest severe dehydration.
Takikardia, nadi benang, dan hipotensi menyarankan dehidrasi parah.
• The degree of weight loss may be related to dehydration and the duration of the
diarrhea. Tingkat penurunan berat badan mungkin berhubungan dengan dehidrasi
dan durasi diare.
• The mucous membranes and the skin should be examined carefully. Selaput lendir
dan kulit harus diperiksa dengan hati-hati. Dry mouth, no tears, skin tenting, dry
skin, and capillary refill are all signs of dehydration. Mulut kering, tidak ada air
mata, kulit tenting, kulit kering, dan kapiler isi ulang semua tanda-tanda dehidrasi.
• The mental status in elderly patients and infants may be abnormal, especially
when blood pressure and circulation are compromised. Status mental pada pasien
lanjut usia dan bayi mungkin abnormal, terutama ketika tekanan dan sirkulasi
darah terganggu.
• The abdominal examination may demonstrate mild tenderness. Pemeriksaan
abdomen dapat menunjukkan kelembutan ringan. Severe abdominal pain and
tenderness suggest bacterial infection or an abdominal emergency. sakit perut
parah dan kelembutan menyarankan infeksi bakteri atau darurat perut.

Causes Penyebab

• Sporadic infantile viral gastroenteritis Gastroenteritis virus sporadis kekanak-


kanakan
o Group A rotavirus causes 25-65% of severe infantile gastroenteritis
worldwide. Grup A rotavirus menyebabkan 25-65% gastroenteritis
kekanak-kanakan yang parah di seluruh dunia.
o Acute infections with group C are quite frequent in the United States and
worldwide. infeksi akut dengan grup C cukup sering terjadi di Amerika
Serikat dan di seluruh dunia.
o After rotavirus, the most important cause of acute infantile gastroenteritis
probably is calicivirus infection. Setelah rotavirus, penyebab paling
penting dari infantil gastroenteritis akut adalah infeksi calicivirus
mungkin. Seroepidemiologic studies have shown that antibodies to
caliciviruses are present in 50-90% of children younger than 2 years in
Kuwait, Italy, Kenya, China, London, and South Africa.
Seroepidemiologic penelitian telah menunjukkan bahwa antibodi terhadap
caliciviruses hadir dalam 50-90% anak-anak muda dari 2 tahun di Kuwait,
Italia, Kenya, Cina, London, dan Afrika Selatan. Using broadly reactive
reverse-transcription polymerase chain reaction for calicivirus to study
stool specimens from children with acute gastroenteritis, studies have
found these viruses in 7-22% of cases. Menggunakan luas reaktif
transkripsi reverse-polymerase chain reaction untuk calicivirus untuk
mempelajari spesimen tinja dari anak-anak dengan gastroenteritis akut,
studi telah menemukan virus ini di 7-22% kasus.
o Astrovirus infection is associated with 2-9% of cases of infantile
gastroenteritis worldwide, making it the third most frequent cause after
rotavirus and calicivirus. Astrovirus infeksi dikaitkan dengan 2-9% kasus
gastroenteritis kekanak-kanakan seluruh dunia, sehingga penyebab ketiga
yang paling sering setelah rotavirus dan calicivirus. The burden of
astrovirus disease in developing countries might be especially high. Beban
penyakit astrovirus di negara berkembang mungkin akan sangat tinggi.
o Researchers have recognized for a long time that certain enteric
adenoviruses are an important cause of infantile gastroenteritis. Para
peneliti telah diakui untuk waktu yang lama bahwa adenovirus enterik
tertentu merupakan penyebab utama gastroenteritis kekanak-kanakan.
Studies confirm that they cause 2-6% of cases. Studi pastikan bahwa
mereka menyebabkan 2-6% kasus.
• Epidemic viral gastroenteritis Wabah virus gastroenteritis
o Most cases of epidemic viral gastroenteritis in adults and children are
caused by the caliciviruses. Sebagian besar kasus gastroenteritis epidemi
virus pada orang dewasa dan anak-anak disebabkan oleh caliciviruses.
Some examples include Norovirus (formerly called Norwalk-like viruses),
genogroup I (eg, Norwalk, Southampton, Desert Shield, Cruise Ship);
Norovirus (formerly Norwalk-like viruses), genogroup II (eg, Snow
Mountain, Mexico, White River, Lordsdale, Bristol, Camberwell, Toronto,
Hawaii, Melksham); and Sapovirus (formerly Sapporo-like viruses),
which sometimes are referred to as genogroup III, although they are not
like Norwalk (eg, Sapporo, Parkville, Manchester, Houston, London).
Beberapa contoh termasuk Norovirus (dahulu disebut virus Norwalk-
suka), genogroup I (misalnya, Norwalk, Southampton, Desert Shield,
Cruise Ship); Norovirus (dahulu virus Norwalk-suka), genogroup II
(misalnya, Snow Mountain, Meksiko, White River , Lordsdale, Bristol,
Camberwell, Toronto, Hawaii, Melksham), dan Sapovirus (virus
sebelumnya Sapporo-suka), yang kadang-kadang disebut sebagai
genogroup III, meskipun mereka tidak seperti Norwalk (misalnya,
Sapporo, Taman, Manchester, Houston, London).
o Modern molecular diagnostic techniques, such as broadly reactive reverse-
transcription polymerase chain reaction, have linked these viruses to
epidemics associated with oysters, contaminated community water
supplies, restaurant food, hospital patients and staff, day care facilities,
nursing homes, college dormitories, military ships, cruise ships, and
vacation spots. Teknik modern diagnostik molekular, seperti luas reaktif
polymerase chain reaction reverse-transkripsi, telah dikaitkan dengan
epidemi virus ini terkait dengan tiram, persediaan air masyarakat yang
terkontaminasi, makanan restoran, pasien rumah sakit dan staf, fasilitas
penitipan anak, rumah jompo, asrama perguruan tinggi, militer kapal,
kapal pesiar, dan tempat-tempat liburan.
o Rotavirus and astrovirus also may cause epidemics of viral gastroenteritis.
Rotavirus dan astrovirus juga dapat menyebabkan epidemi gastroenteritis
virus.
• Sporadic adult viral gastroenteritis Sporadis dewasa Gastroenteritis virus
o Few studies have examined the causes of sporadic cases of adult viral
gastroenteritis. Beberapa penelitian telah meneliti penyebab kasus sporadis
gastroenteritis virus dewasa.
o Seroepidemiologic evidence suggests that the etiologies are (in descending
order of frequency) caliciviruses, non–group A rotavirus, astrovirus, and
adenovirus. Seroepidemiologic bukti menunjukkan bahwa etiologi adalah
(dalam urutan frekuensi) caliciviruses, non-grup A rotavirus, astrovirus,
dan adenovirus.

Manajemen Gastroenteritis

by Warren P. Silberstein, MD oleh Warren P. Silberstein, MD


02/14/97 02/14/97

Gastroenteritis is the medical term for the illness characterized by vomiting, diarrhea,
abdominal pain, and fever. Gastroenteritis adalah istilah medis untuk penyakit yang
ditandai dengan muntah, diare, sakit perut, dan demam. Some people refer to it as
intestinal flu, but it is not related to the influenza virus. Beberapa orang menyebutnya
sebagai flu usus, tetapi tidak berkaitan dengan virus influenza. Most gastroenteritis is
caused by viruses such as Rotavirus , Norwalk , and others , but food poisonings by
bacteria like Salmonella also cause gastroenteritis. Kebanyakan gastroenteritis
disebabkan oleh virus seperti Rotavirus , Norwalk , dan lain-lain , tapi makanan
keracunan oleh bakteri seperti Salmonella juga menyebabkan gastroenteritis.
The treatment of gastroenteritis is a perfect example of the fact that infants are not just
small children, and that children are not just little adults. Perawatan dari gastroenteritis
adalah contoh sempurna dari fakta bahwa bayi tidak hanya anak-anak kecil, dan bahwa
anak-anak tidak hanya orang dewasa sedikit. For all age groups the major risk of
gastroenteritis is dehydration, but for infants and small children dehydration is a much
more serious risk than for older children and adults. Untuk semua kelompok usia risiko
utama gastroenteritis adalah dehidrasi, tapi untuk bayi dan anak-anak kecil dehidrasi
adalah resiko jauh lebih serius daripada untuk anak-anak yang lebih tua dan orang
dewasa. Dehydration can occur in adults if they are vomiting and unable to retain fluids,
but adults rarely become dehydrated from diarrhea except with extreme cases such as
with cholera. Dehidrasi dapat terjadi pada orang dewasa jika mereka muntah dan tidak
mampu untuk mempertahankan cairan, tapi orang dewasa jarang mengalami dehidrasi
akibat diare kecuali dengan kasus-kasus ekstrim seperti dengan kolera. Young children
and infants can dehydrate much more quickly because they are smaller and therefore a
smaller amount of body fluid loss will result in dehydration. Anak-anak kecil dan bayi
bisa mengalami dehidrasi jauh lebih cepat karena mereka lebih kecil dan karena itu lebih
sedikit kehilangan cairan tubuh akan mengakibatkan dehidrasi.
In adults, the focus of treatment is on symptom relief. Pada orang dewasa, fokus pada
bantuan pengobatan gejala. Adults have responsibilities and plans where frequent
bathroom breaks would be embarrassing and a major inconvenience. Orang dewasa
memiliki tanggung jawab dan rencana di mana kamar mandi sering istirahat akan
memalukan dan ketidaknyamanan utama. Babies in diapers don't really care how
frequently they go. Bayi di popok tidak terlalu peduli seberapa sering mereka pergi. The
main medications for adults are Kaopectate, Lomotil, and Imodium. Obat-obat utama
untuk orang dewasa adalah Kaopectate, Lomotil, dan Imodium. Medicines like
Kaopectate work by binding water in the stool and making the stool firmer. Obat seperti
Kaopectate bekerja dengan mengikat air di bangku dan membuat tinja lebih kencang. The
mechanism of action is very similar to making cement. Mekanisme tindakan adalah
sangat mirip dengan pembuatan semen. Medications like Lomotil and Imodium work by
slowing down the movement of the intestines. Obat-obatan seperti Lomotil dan bekerja
Imodium dengan memperlambat gerakan usus. This results in less frequent bowel
movements and decreased cramping. Hal ini mengakibatkan kurang sering buang air
besar dan penurunan kram. The important thing to understand about these medications is
that they don't prevent water loss, so they don't prevent dehydration. Hal yang penting
untuk memahami tentang obat-obat ini adalah bahwa mereka tidak mencegah kehilangan
air, sehingga mereka tidak mencegah dehidrasi. And even though they provide
symptomatic relief, they don't make you get over the illness any faster. Dan bahkan
meskipun mereka memberikan bantuan gejala, mereka tidak membuat Anda melupakan
sakit lebih cepat. Also, since the narcotic type medications like Lomotil and Imodium
slow down intestinal movement, if the intestine is severely inflamed this can result in
huge amounts of fluid being retained in the intestines instead of the body circulation.
Juga, karena obat jenis narkotika seperti Lomotil dan Imodium memperlambat gerakan
usus, jika usus sangat meradang ini dapat mengakibatkan sejumlah besar cairan yang
disimpan dalam usus bukan sirkulasi tubuh. This retention of fluids in the intestines can
be dangerous in an infant. Ini retensi cairan di dalam usus dapat berbahaya pada bayi. It is
generally not advisable to use the narcotic type medications in a child under 2 years of
age. Hal ini umumnya tidak dianjurkan untuk menggunakan obat jenis narkotika pada
anak di bawah 2 tahun.
In infants, the focus of treatment for gastroenteritis must be prevention of dehydration.
Pada bayi, fokus pengobatan untuk Gastroenteritis harus pencegahan dehidrasi. This
makes control of vomiting the first priority. Hal ini membuat kontrol muntah prioritas
pertama. A child who is unable to retain fluids by mouth will dehydrate very quickly.
Seorang anak yang tidak mampu mempertahankan cairan melalui mulut akan dehidrasi
sangat cepat. The first step in management of vomiting is to put the stomach to complete
rest. Langkah pertama dalam pengelolaan muntah adalah untuk menempatkan perut
untuk menyelesaikan beristirahat. When children first become ill they may vomit
multiple times in a row until the stomach is empty. Ketika anak pertama menjadi sakit
mereka mungkin muntah beberapa kali berturut-turut sampai perut kosong. After the
initial phase calms down the stomach should be rested by not taking anything by mouth
for at least 1 hour. Setelah tahap awal turun menenangkan perut harus beristirahat dengan
tidak mengambil apa-apa melalui mulut selama minimal 1 jam. Many parents who
become anxious about getting a child to retain some food or drink and worry about a
child going without a meal for too long keep pushing food and fluids on the sick child,
but this is a mistake because it only ends up coming back up. Banyak orang tua yang
menjadi cemas tentang mendapatkan seorang anak untuk mempertahankan beberapa
makanan atau minuman dan khawatir tentang anak pergi tanpa makan terlalu lama terus
mendorong makanan dan cairan pada anak sakit, tapi ini adalah kesalahan karena hanya
berakhir sampai datang kembali . After the resting phase the child should be started
slowly on clear fluids, starting as small as 1 teaspoon every 15 minutes and gradually
increasing to 4 ounces every few hours. Setelah fase istirahat anak harus dimulai
perlahan-lahan pada cairan bening, mulai dari kecil sebagai 1 sendok teh setiap 15 menit
dan secara bertahap meningkat menjadi 4 ons setiap beberapa jam. If a child cannot
tolerate even small amounts of clear fluids he needs medical attention. Jika seorang anak
tidak bisa mentolerir bahkan jumlah kecil cairan bening ia membutuhkan perhatian
medis. The ideal clear fluid is an electrolyte solution like Pedialyte , Kaolectrolyte, or
other oral electrolyte rehydration fluid . Cairan yang jelas ideal adalah larutan elektrolit
seperti Pedialyte , Kaolectrolyte, atau elektrolit cairan rehidrasi oral . which will replace
the salts lost from vomiting and diarrhea. yang akan menggantikan garam yang hilang
dari muntah dan diare. For older children the frozen electrolyte ice pops like Revitalice or
the new Pedialyte brand might be helpful. Untuk anak-anak yang lebih tua es elektrolit
beku muncul seperti Revitalice atau merek Pedialyte baru mungkin bisa membantu. Herb
tea, water, and clear juices may serve as clear fluids as well, but they won't replenish the
lost electrolytes which is essential for preventing dehydration. Herb teh, air, dan jus jelas
dapat berfungsi sebagai cairan bening juga, tetapi mereka tidak akan menggantikan
elektrolit yang hilang yang penting untuk mencegah dehidrasi. A fluid is only considered
clear if you can see through it when you hold it up to light. fluida A hanya dianggap jelas
jika Anda dapat melihat melalui itu saat Anda memegangnya ke arah cahaya. Too much
sugar, as might occur with excessive juice intake, can aggravate diarrhea. Terlalu banyak
gula, yang mungkin terjadi dengan asupan jus berlebihan, dapat memperburuk diare.
Soda, unless it is completely flat, may aggravate the vomiting and the pains by filling the
stomach with gas. Soda, kecuali itu benar-benar datar, dapat memperburuk muntah dan
nyeri dengan mengisi perut dengan gas. Food and milk must be avoided until the
vomiting is completely resolved since anything that sits in the stomach can provoke
vomiting. Makanan dan susu harus dihindari sampai muntah benar-benar diselesaikan
karena apa pun yang duduk di perut dapat memprovokasi muntah.
Management of diarrhea in infants requires making sure that the infant drinks enough
fluids, preferably an electrolyte solution like Pedialyte, to make up for the fluid losses.
Pengelolaan diare pada bayi memerlukan memastikan bahwa bayi minum cukup cairan,
sebaiknya larutan elektrolit seperti Pedialyte, untuk menebus kerugian cairan. There isn't
any medication or treatment that makes the intestines heal faster, but as long as you
prevent dehydration that allows time for the body to recover from the illness. Tidak ada
obat atau pengobatan yang membuat usus lebih cepat sembuh, tapi selama Anda
mencegah dehidrasi yang memungkinkan waktu bagi tubuh untuk pulih dari penyakit. If
a child is not severely ill, is not vomiting, and has an appetite, it is okay for him to eat
bland foods and drink his milk. Jika seorang anak tidak sakit parah, tidak muntah, dan
memiliki selera makan, boleh saja baginya untuk makan makanan lunak dan minum susu
nya.
If a child is active and in good spirits you can be reasonably sure that he is not
dehydrated. Jika seorang anak aktif dan bersemangat Anda dapat cukup yakin bahwa dia
tidak dehidrasi. If he has dry diapers, fever, lethargy, cries without tears, or has dry
mouth, these are signs of dehydration that require medical attention. Jika ia telah popok
kering, demam, lesu, menangis tanpa air mata, atau memiliki mulut kering, ini adalah
tanda-tanda dehidrasi yang membutuhkan perhatian medis.

Pencegahan Gastroenteritis Rotavirus


antara Bayi dan Anak
Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices
(ACIP) Rekomendasi Komite Penasehat Praktek Imunisasi (ACIP)

Prepared by Dipersiapkan oleh


Umesh D. Parashar, MBBS, James P. Alexander, MD, Roger I. Glass, MD Umesh D.
Parashar, MBBS, James P. Alexander, MD, Roger I. Glass, MD
Division of Viral Diseases, National Center for Immunization and Respiratory Diseases
(proposed) Divisi Viral Penyakit, Pusat Nasional Imunisasi dan Penyakit Pernafasan
(usulan)

The material in this report originated in the National Center for Immunization and Respiratory Diseases
(proposed), Anne Schuchat, MD, Director; and the Division of Viral Diseases, Larry Anderson, MD,
Director. Materi dalam laporan ini berasal dari Pusat Nasional untuk dan Pernafasan Penyakit Imunisasi
(diajukan), Anne Schuchat, MD, Direktur, dan Divisi Penyakit virus, Larry Anderson, MD, Direktur.

Corresponding preparer: Umesh D. Parashar, MBBS, National Center for Immunization and Respiratory
Diseases, CDC, 1600 Clifton Rd., NE, MS A-34, Atlanta, GA 30333. Sesuai preparer: Umesh D.
Parashar, MBBS, Pusat Nasional Imunisasi dan Penyakit Pernafasan, CDC, 1600 Clifton Rd 30333., NE, A
MS-34, Atlanta, GA. Telephone: 404-639-4829; Fax: 404-639-1307; E-mail: uap2@cdc.gov . Telepon:
404-639-4829; Fax: 404-639-1307; E-mail: uap2@cdc.gov .

Summary Ringkasan

In February 2006, a live, oral, human-bovine reassortant rotavirus vaccine (RotaTeq ® )


was licensed for use among US infants. Pada bulan Februari 2006,, tinggal lisan,
manusia-sapi reassortant vaksin rotavirus (RotaTeq ®) telah diizinkan untuk digunakan
pada bayi AS. The Advisory Committee on Immunization Practices recommends routine
vaccination of US infants with 3 doses of this rotavirus vaccine administered orally at
ages 2, 4, and 6 months. Komite Penasehat merekomendasikan vaksinasi Praktek
Imunisasi rutin pada bayi AS dengan 3 dosis vaksin rotavirus ini diberikan secara oral
pada usia 2, 4, dan 6 bulan. The first dose should be administered between ages 6--12
weeks. Dosis pertama harus diberikan antara usia 6 - 12 minggu. Subsequent doses
should be administered at 4--10 week intervals, and all 3 doses should be administered
by age 32 weeks. dosis berikutnya harus diberikan pada 4 - 10 interval minggu, dan
semua 3 dosis harus diberikan pada usia 32 minggu. Rotavirus vaccine can be co-
administered with other childhood vaccines. Vaksin Rotavirus dapat bersama-diberikan
dengan vaksin anak lainnya. Rotavirus vaccine is contraindicated for infants with a
serious allergic reaction to any vaccine component or to a previous dose of vaccine.
Vaksin Rotavirus kontraindikasi untuk bayi dengan reaksi alergi yang serius untuk setiap
komponen vaksin atau untuk dosis vaksin sebelumnya.

Introduction Pengantar

Rotavirus is the most common cause of severe gastroenteritis in infants and young
children worldwide. Rotavirus adalah penyebab paling umum gastroenteritis berat pada
bayi dan anak-anak di seluruh dunia. In developing countries, rotavirus gastroenteritis is a
major cause of childhood death and is responsible for approximately half a million deaths
per year among children aged <5 years ( 1 ). Di negara-negara berkembang,
gastroenteritis rotavirus merupakan penyebab utama kematian anak-anak dan
bertanggung jawab untuk sekitar setengah juta kematian per tahun pada anak usia <5
tahun (1). Rotavirus gastroenteritis results in relatively few childhood deaths in the
United States (approximately 20--60 deaths per year among children aged <5 years) ( 2 ).
Rotavirus gastroenteritis hasil di masa kecil relatif beberapa kematian di Amerika Serikat
(sekitar 20 - 60 kematian per tahun pada anak usia <5 tahun) (2). However, nearly every
child in the United States is infected with rotavirus by age 5 years, and the majority will
have gastroenteritis, resulting in approximately 410,000 physician visits, 205,000--
272,000 emergency department (ED) visits, and 55,000--70,000 hospitalizations each
year and direct and indirect costs of approximately $1 billion ( 3--6 ) ( Figure 1 ). Namun,
hampir setiap anak di Amerika Serikat terinfeksi dengan rotavirus pada usia 5 tahun, dan
mayoritas akan memiliki gastroenteritis, mengakibatkan sekitar 410.000 kunjungan
dokter, 205000 - 272, 000 gawat darurat (ED) dilihat, dan 55.000 - 70, 000 rawat inap
masing-masing tahun dan biaya langsung dan tidak langsung dari sekitar $ 1 miliar (3 -
6) ( Gambar 1 ). This report presents the Advisory Committee on Immunization Practices
(ACIP) recommendations on use of a live, oral, human-bovine reassortant rotavirus
vaccine (RotaTeq ® , produced by Merck and Company, Whitehouse Station, New
Jersey) that was licensed in February 2006 by the Food and Drug Administration (FDA)
for use among US infants. Laporan ini menyajikan Komite Penasehat Imunisasi
rekomendasi Praktek (ACIP) pada penggunaan oral hidup, manusia sapi reassortant
vaksin rotavirus-, (RotaTeq ®, diproduksi oleh Merck and Company, Whitehouse Station,
New Jersey) yang berlisensi pada bulan Februari 2006 oleh Administrasi Makanan dan
Obat (FDA) untuk penggunaan pada bayi AS.

Background Latar belakang

Clinical and Epidemiologic Features of Rotavirus Disease Fitur klinis


dan epidemiologis Penyakit Rotavirus

Rotavirus infects almost all children by age 5 years, but severe, dehydrating
gastroenteritis occurs primarily among children aged 3--35 months. Rotavirus
menginfeksi hampir semua anak-anak dengan usia 5 tahun, tetapi parah, gastroenteritis
dehidrasi terjadi terutama pada anak usia 3-35 bulan. The spectrum of rotavirus illness
ranges from mild, watery diarrhea of limited duration to severe diarrhea with vomiting
and fever that can result in dehydration with shock, electrolyte imbalance, and death ( 7--
11 ). Spektrum penyakit rotavirus berkisar dari yang ringan, diare berair durasi terbatas
pada diare berat dengan muntah dan demam yang dapat mengakibatkan dehidrasi dengan
shock, ketidakseimbangan elektrolit, dan kematian (7 - 11). Following an incubation
period of 1--3 days, the illness can begin abruptly, and vomiting often precedes the onset
of diarrhea. Setelah masa inkubasi 1 - 3 hari, penyakit ini bisa dimulai tiba-tiba, dan
muntah sering mendahului terjadinya diare. Up to one third of patients have a
temperature of >102 ° F (>39 ° C). Sampai dengan sepertiga dari pasien memiliki suhu>
102 ° F (> 39 ° C). Gastrointestinal symptoms generally resolve in 3--7 days. gejala
gastrointestinal biasanya diatasi dalam 3 - 7 hari.

Rotaviruses are shed in high concentrations in the stools of infected children and are
transmitted primarily by the fecal-oral route, both through close person-to-person contact
and through fomites ( 12 ). Rotaviruses adalah gudang dalam konsentrasi tinggi dalam
tinja anak yang terinfeksi dan ditularkan terutama oleh rute fecal-oral, baik melalui
kontak orang-ke-orang dekat dan melalui fomites (12). Rotaviruses also are probably
transmitted by other modes, such as fecally contaminated food and water and respiratory
droplets ( 13 ). Rotaviruses juga mungkin ditularkan melalui modus lain, seperti yang
terkontaminasi makanan fecally dan air dan tetesan pernafasan (13). In the United States,
rotaviruses cause winter seasonal peaks of gastroenteritis, with activity usually beginning
in the southwest United States during November--December and spreading to the
Northeast by April--May ( 5,14,15 ). Di Amerika Serikat, rotaviruses menyebabkan
musiman puncak musim dingin gastroenteritis, dengan aktivitas biasanya dimulai di
Amerika Serikat barat daya selama November-Desember dan menyebar ke Timur Laut
dengan April-Mei (5,14,15). In the United States, rotaviruses are responsible for 5%--
10% of all gastroenteritis episodes among children aged <5 years. Di Amerika Serikat,
rotaviruses bertanggung jawab untuk 5% - 10% dari semua episode gastroenteritis pada
anak usia <5 tahun. However, among the various pathogens causing gastroenteritis,
rotaviruses lead to the most severe disease and account for a higher proportion of severe
episodes leading to clinic or hospital visits ( 8,16 ). Namun, diantara berbagai patogen
menyebabkan gastroenteritis, rotaviruses mengarah pada penyakit yang paling parah dan
account untuk proporsi yang lebih tinggi dari episode berat yang mengarah ke kunjungan
klinik atau rumah sakit (8,16). For example, rotavirus accounts for 30%--50% of all
hospitalizations for gastroenteritis among US children aged <5 years and approximately
70% of hospitalizations for gastroenteritis during the seasonal peaks ( 16--19 ). Sebagai
contoh, rekening rotavirus untuk 30% - 50% dari seluruh rumah sakit untuk
Gastroenteritis antara anak-anak AS berusia <5 tahun dan sekitar 70% dari rawat inap
untuk Gastroenteritis selama puncak musiman (16 - 19). Among children aged <5 years
in the United States, 17% of rotavirus hospitalizations occur during the first 6 months of
life, 40% by age 1 year, and 75% by age 2 years ( Figure 2 ) ( 5 ). Di antara anak-anak
berusia <5 tahun di Amerika Serikat, 17% dari rawat inap rotavirus terjadi selama 6 bulan
pertama kehidupan, 40% pada usia 1 tahun, dan 75% pada usia 2 tahun ( Gambar 2 ) (5).
In the first 5 years of life, four of five children in the United States will have rotavirus
gastroenteritis ( 8,18,20 ), one in seven will require a clinic or ED visit, one in 70 will be
hospitalized, and one in 200,000 will die from this disease ( 4,9 ). Pada tahun-tahun
pertama 5 dari kehidupan, empat dari lima anak di Amerika Serikat akan memiliki
rotavirus gastroenteritis (8,18,20), satu dari tujuh akan memerlukan atau ED kunjungan
klinik, satu di 70 akan dirawat di rumah sakit, dan satu di 200.000 akan mati dari
penyakit ini (4,9).

The risk for rotavirus gastroenteritis and its outcomes does not appear to vary by
geographic region within the United States. Risiko untuk rotavirus gastroenteritis dan
hasil tidak tampak berbeda menurut wilayah geografis di Amerika Serikat. Limited data
suggest that children from disadvantaged socioeconomic backgrounds and premature
infants have an increased risk for hospitalization from gastroenteritis, including viral
gastroenteritis ( 21 ). Keterbatasan data menunjukkan bahwa anak-anak dari latar
belakang sosial ekonomi kurang beruntung dan bayi prematur memiliki risiko yang
meningkat untuk rawat inap dari gastroenteritis, termasuk gastroenteritis virus (21). In
addition, children and adults who are immunocompromised because of congenital
immunodeficiency, hematopoetic transplantation, or solid organ transplantation
sometimes experience severe, prolonged, and even fatal rotavirus gastroenteritis ( 22--
25 ). Selain itu, anak-anak dan orang dewasa yang immunocompromised karena
imunodefisiensi kongenital, transplantasi hematopoetic, atau transplantasi organ padat
kadang mengalami berat, berkepanjangan, dan bahkan fatal rotavirus gastroenteritis (22 -
25). Rotavirus also is an important cause of nosocomial gastroenteritis ( 7,16,17,26--29 ).
Rotavirus juga merupakan penyebab penting gastroenteritis nosokomial (7,16,17,26 -
29). Among adults in the United States, rotavirus infection causes gastroenteritis
primarily in travelers returning from developing countries, parents and persons caring for
children with rotavirus gastroenteritis, immunocompromised persons, and older adults (
30 ). Di antara orang dewasa di Amerika Serikat, infeksi rotavirus menyebabkan
gastroenteritis terutama pada wisatawan yang kembali dari negara-negara berkembang,
orang tua dan orang-orang yang merawat anak-anak dengan gastroenteritis rotavirus,
orang immunocompromised, dan orang dewasa yang lebih tua (30).
Laboratory Testing for Rotavirus Laboratorium Pengujian untuk
Rotavirus

Because the clinical features of rotavirus gastroenteritis do not differ from those of
gastroenteritis caused by other pathogens, confirmation of rotavirus infection by
laboratory testing of fecal specimens is necessary for reliable rotavirus surveillance and
can be useful in clinical settings (eg, in making decisions about use of antimicrobial
agents). Karena fitur klinis rotavirus gastroenteritis tidak berbeda dari orang-orang dari
gastroenteritis yang disebabkan oleh patogen lain, konfirmasi infeksi rotavirus oleh
laboratorium pengujian spesimen tinja diperlukan untuk surveilans rotavirus dapat
dipercaya dan dapat berguna dalam pengaturan klinis (misalnya, dalam membuat
keputusan tentang penggunaan agen antimikroba). Rotavirus is shed in high
concentration in the stool of children with gastroenteritis (ie, 10 12 viruses/G), so the most
widely available method is antigen detection in the stool by an enzyme immunoassay
(EIA) directed at an antigen common to all group A rotaviruses. Rotavirus adalah gudang
dalam konsentrasi tinggi dalam tinja anak dengan gastroenteritis (yaitu, 10 12 virus / G),
sehingga metode yang paling banyak tersedia adalah deteksi antigen pada tinja oleh
enzim immunoassay (EIA) diarahkan pada antigen umum semua kelompok Sebuah
rotaviruses. Several commercial EIA kits are available that are inexpensive, easy to use,
rapid, and highly sensitive (approximately 90% compared with detection by electron
microscopy), making them suitable for rotavirus surveillance and clinical diagnosis.
Beberapa komersial AMDAL kit yang tersedia yang murah, mudah digunakan, cepat, dan
sangat sensitif (sekitar 90% dibandingkan dengan deteksi oleh mikroskop elektron),
membuat mereka cocok untuk surveilans rotavirus dan diagnosis klinis. Latex
agglutination and polyacrylamide gel electrophoresis might be less sensitive than EIA but
are used in some settings. aglutinasi lateks dan elektroforesis gel poliakrilamida mungkin
kurang sensitif dari AMDAL tetapi digunakan dalam beberapa pengaturan. Other
techniques, including electron microscopy, reverse transcription-polymerase chain
reaction, nucleic acid hybridization, sequence analysis, and culture, are used primarily in
research settings. Teknik lainnya, termasuk mikroskop elektron, reaksi reverse
transcription-polymerase chain, hibridisasi asam nukleat, analisis urutan, dan budaya,
digunakan terutama dalam pengaturan penelitian. Rotavirus antigen also has been
identified in the serum of patients 3--7 days after disease onset ( 31,32 ), but routine
diagnostic testing is based primarily on testing of fecal specimens. antigen Rotavirus juga
telah diidentifikasi dalam serum pasien 3 - 7 hari setelah onset penyakit (31,32), tetapi tes
diagnostik rutin didasarkan terutama pada pengujian spesimen tinja.

Serologic methods that detect a rise in serum antibodies, primarily enzyme immunoassay
for rotavirus serum immunoglobulin G (IgG) and immunoglobulin A (IgA) antibodies,
have been used to confirm recent infections. metode serologi yang mendeteksi
peningkatan antibodi serum, terutama enzim immunoassay untuk rotavirus
imunoglobulin serum imunoglobulin G (IgG) dan A (IgA) antibodi, telah digunakan
untuk mengkonfirmasi infeksi baru. In vaccine trials, the immunogenicity of rotavirus
vaccines has been assessed by measuring rotavirus-specific IgA and neutralizing
antibodies to vaccine strains ( 33,34 ). Dalam uji coba vaksin, imunogenisitas vaksin
rotavirus telah dinilai dengan mengukur-spesifik IgA rotavirus dan menetralkan antibodi
terhadap jenis vaksin (33,34).

Morphology, Antigen Composition, and Immune Response Morfologi,


Komposisi Antigen, dan Respon Imun

Rotaviruses are 70-nm nonenveloped RNA viruses in the family Reoviridae . Rotaviruses
70-nm nonenveloped RNA virus di Reoviridae keluarga. The viral nucleocapsid is
composed of three concentric shells that enclose 11 segments of double-stranded RNA.
The nukleokapsid virus terdiri dari tiga cangkang konsentris yang menyertakan 11
segmen double-stranded RNA. The outermost layer contains two structural viral proteins
(VP): VP4, the protease-cleaved protein (P protein) and VP7, the glycoprotein (G
protein). Lapisan terluar mengandung dua protein virus struktural (VP): VP4, protein
protease-dibelah (P protein) dan VP7, glikoprotein (protein G). These two proteins define
the serotype of the virus and are considered critical to vaccine development because they
are targets for neutralizing antibodies that might be important for protection ( 35,36 ).
Kedua protein menentukan serotipe virus dan dianggap penting untuk pengembangan
vaksin karena mereka adalah target untuk menetralisir antibodi yang mungkin penting
untuk perlindungan (35,36). Because the two gene segments that encode these proteins
can segregate independently, a typing system consisting of both P and G types has been
developed. Karena dua segmen gen yang menyandikan protein ini dapat memisahkan
secara mandiri, sistem mengetik yang terdiri dari kedua jenis P dan G telah
dikembangkan. Because characterizing the P types by traditional methods of virus
neutralization is difficult, molecular methods have been used to define genotype based on
sequence analysis. Karena karakteristik jenis P dengan metode tradisional netralisasi
virus sulit, metode molekuler telah digunakan untuk menentukan genotipe berdasarkan
analisis urutan. These genotypes correlate well with known serotypes so the genotypes
are tentatively designated in brackets (eg, P1A [8]). Genotipe ini berkorelasi dengan baik
dengan serotipe dikenal sehingga genotipe sementara ditunjuk dalam kurung (misalnya,
P1A [8]). In the United States, viruses containing six distinct P and G combinations are
most prevalent: P1A[8]G1, P1B[4] G2, P1A[8] G3, P1A[8] G4, P1A[8] G9, and P2A[6]
G9 ( 37,38 ) ( Figure 3 ); these strains are generally designated by their G serotype
specificity (serotypes G1-4, G9). Di Amerika Serikat, virus mengandung enam P berbeda
dan kombinasi G yang paling lazim: P1A [8] G1, P1B [4] G2, P1A [8] G3, P1A [8] G4,
P1A [8] G9, dan P2A [ 6] G9 (37,38) ( Gambar 3 ); strain ini umumnya ditunjuk oleh
spesifisitas serotipe G mereka (serotipe G1-4, G9). Several animal species (eg, primates
and cows) are susceptible to rotavirus infection and suffer from rotavirus diarrhea, but
animal strains of rotavirus differ from those that infect humans. Beberapa spesies hewan
(misalnya, primata dan sapi) yang rentan terhadap infeksi rotavirus dan menderita diare
rotavirus, tetapi strain hewan dari rotavirus berbeda dari orang-orang yang menginfeksi
manusia. Although human rotavirus strains that possess a high degree of genetic
homology with animal strains have been identified ( 39--41 ), animal-to-human
transmission appears to be uncommon. Meskipun strain rotavirus manusia yang memiliki
tingkat tinggi homologi genetik dengan jenis binatang yang telah diidentifikasi (39-41),-
ke manusia transmisi hewan tampaknya biasa. However, natural reassortant animal-
human strains have been identified in humans ( 41 ), and two are being investigated as
vaccine candidates ( 42 ). Namun, alam strain hewan-manusia reassortant telah
diidentifikasi pada manusia (41), dan dua sedang diselidiki sebagai kandidat vaksin (42).

Although children can be infected with rotavirus several times during their lives, initial
infection after age 3 months is most likely to cause severe gastroenteritis and dehydration
( 43--45 ). Walaupun anak-anak dapat terinfeksi dengan beberapa kali rotavirus selama
hidup mereka, infeksi awal setelah usia 3 bulan yang paling mungkin menyebabkan
gastroenteritis berat dan dehidrasi (43 - 45). After a single natural infection, 40% of
children are protected against subsequent infection with rotavirus, 75% are protected
against subsequent rotavirus gastroenteritis, and 88% are protected against severe
rotavirus gastroenteritis. Setelah infeksi alami tunggal, 40% dari anak-anak dilindungi
terhadap infeksi berikutnya dengan rotavirus, 75% dilindungi dari rotavirus
gastroenteritis berikutnya, dan 88% dilindungi terhadap rotavirus gastroenteritis berat.
Second, third, and fourth infections confer progressively greater protection against severe
disease ( 43 ). Kedua, ketiga, dan infeksi keempat memberikan perlindungan semakin
besar terhadap penyakit yang parah (43).

The immune correlates of protection from rotavirus infection and disease are not fully
understood. Berkorelasi kekebalan perlindungan dari infeksi rotavirus dan penyakit tidak
sepenuhnya dipahami. Both serum and mucosal antibodies are probably associated with
protection, and in some studies, serum antibodies against VP7 and VP4 have correlated
with protection. Baik antibodi serum dan mukosa mungkin berkaitan dengan
perlindungan, dan dalam beberapa studi, antibodi serum terhadap VP7 dan VP4 telah
berkorelasi dengan perlindungan. However, in other studies, including vaccine studies,
correlation between serum antibody and protection has been poor ( 46 ). Namun, dalam
penelitian lain, termasuk studi vaksin, korelasi antara antibodi serum dan proteksi telah
miskin (46). The first infection with rotavirus elicits a predominantly homotypic, serum-
neutralizing antibody response to the virus, and subsequent infections elicit a broader,
heterotypic response ( 7,47 ). Infeksi pertama dengan rotavirus mentol tersebut
menghasilkan serum antibodi penetral homotypic respon, terutama untuk virus, dan
infeksi berikutnya mendatangkan heterotypic, respon lebih luas (7,47). The influence of
cell-mediated immunity is less clearly understood but probably is related both to recovery
from infection and to protection against subsequent disease ( 48,49 ). Pengaruh-dimediasi
kekebalan sel kurang jelas dimengerti tapi mungkin berkaitan baik untuk pemulihan dari
infeksi dan untuk perlindungan terhadap penyakit berikutnya (48,49).

Rationale for Rotavirus Vaccination Alasan untuk Vaksinasi Rotavirus

Several reasons exist to adopt vaccination of infants as the primary public health measure
for prevention of severe rotavirus disease in the United States. Beberapa alasan ada untuk
mengadopsi bayi vaksinasi sebagai ukuran kesehatan dasar masyarakat untuk pencegahan
penyakit rotavirus parah di Amerika Serikat. First, rates of rotavirus illness among
children in industrialized and less-developed countries are similar, indicating that clean
water supplies and good hygiene have little effect on virus transmission; therefore,
further improvements in water or hygiene are unlikely to have a substantial impact on
disease prevention ( 8,43,50--52 ). Pertama, tingkat penyakit rotavirus antara anak-anak
di negara industri dan kurang berkembang adalah serupa, menunjukkan bahwa pasokan
air bersih dan kebersihan yang baik memiliki sedikit efek pada penularan virus, karena
itu, perbaikan lebih lanjut dalam air atau kebersihan tidak mungkin memiliki dampak
besar pada penyakit pencegahan (8,43,50 - 52). Second, in the United States, a high level
of rotavirus morbidity continues to occur despite available therapies. Kedua, di Amerika
Serikat, tingkat tinggi morbiditas rotavirus terus terjadi meskipun terapi yang tersedia.
For example, the rate of hospitalizations for gastroenteritis in young children declined
only 16% during 1979--1995 ( 5,6 ), despite the widespread availability of oral
rehydration solutions and recommendations by experts, including the American Academy
of Pediatrics and CDC, for the use of oral rehydration solutions in the treatment of
dehydrating gastroenteritis ( 53, 54 ). Sebagai contoh, tarif rawat inap untuk
Gastroenteritis pada anak-anak hanya turun 16% selama 1979-1995 (5,6), meskipun
ketersediaan luas solusi rehidrasi oral dan rekomendasi oleh para ahli, termasuk
American Academy of Pediatrics dan CDC, untuk penggunaan larutan rehidrasi oral
dalam pengobatan gastroenteritis dehidrasi (53, 54 ). Third, studies of natural rotavirus
infection indicate that initial infection protects against subsequent severe gastroenteritis,
although subsequent asymptomatic infections and mild disease might still occur (
43,55,56 ). Ketiga, studi infeksi rotavirus alam menunjukkan bahwa infeksi awal
melindungi terhadap gastroenteritis berat selanjutnya, meskipun infeksi tanpa gejala
berikutnya dan penyakit ringan masih mungkin terjadi (43,55,56). Therefore, vaccination
early in life, which mimics a child's first natural infection, will not prevent all subsequent
disease, but should prevent most cases of severe rotavirus disease and their sequelae (eg,
dehydration, physician visits, hospitalizations, and deaths). Oleh karena itu, vaksinasi
awal kehidupan, yang meniru infeksi pertama alami seorang anak, tidak akan mencegah
semua penyakit berikutnya, tetapi harus mencegah sebagian besar kasus penyakit
rotavirus parah dan gejala sisa mereka (misalnya, dehidrasi, kunjungan dokter, rumah
sakit, dan kematian).

Rotavirus Vaccines Vaksin Rotavirus

Background Latar belakang

The first rotavirus vaccines were based on monovalent rotavirus strains isolated from
either bovine or rhesus hosts, but their development was abandoned because of variable
efficacy in clinical trials ( 57--64 ). Vaksin Rotavirus pertama berdasarkan strain
rotavirus monovalen terisolasi dari salah satu atau rhesus host lembu, tetapi
perkembangan mereka ditinggalkan karena kemanjuran variabel dalam uji klinis (57-64).
Subsequently, multivalent animal-human reassortant rotavirus vaccines were developed
by using gene reassortment ( 65 ). Selanjutnya, multivalent hewan-manusia reassortant
vaksin rotavirus dikembangkan dengan menggunakan reassortment gen (65).

In 1998, a rhesus-based tetravalent rotavirus vaccine, RRV-TV (Rotashield ® , Wyeth-


Lederle Vaccines and Pediatrics) ( 66 ), was recommended for routine vaccination of US
infants with 3 doses at ages 2, 4, and 6 months ( 67 ). Pada tahun 1998, berbasis
tetravalen vaksin rotavirus rhesus, RRV-TV (Rotashield ®, Wyeth-Lederle Vaksin dan
Pediatrics) (66), dianjurkan untuk vaksinasi rutin bayi AS dengan 3 dosis pada usia 2, 4,
dan 6 bulan ( 67 ). However, RRV-TV was withdrawn from the US market within 1 year
of its introduction because of its association with intussusception ( 68 ). Namun, RRV-
TV ditarik dari pasar AS dalam waktu 1 tahun karena pengenalan dasar dengan
intussusception ( 68 ). At the time of its withdrawal, RRV-TV had not yet been
introduced in any other national vaccination program globally, and the vaccine was not
further tested or used in any country. Pada saat pengunduran diri, RRV-TV belum
diperkenalkan di setiap program vaksinasi nasional lainnya secara global, dan vaksin itu
tidak diuji lebih lanjut atau digunakan di negara manapun. The risk for intussusception
was most elevated (>20-fold increase) within 3--14 days after receipt of the first dose of
RRV-TV ( 69 ), with a smaller (approximately five-fold) increase in risk within 3--14
days after the second dose. Risiko intussusception adalah yang paling tinggi (> kali lipat
kenaikan 20) dalam waktu 3 - 14 hari setelah menerima dosis pertama RRV-TV (69),
dengan peningkatan (sekitar lima kali lipat) lebih kecil dalam risiko dalam waktu 3 - 14
hari setelah dosis kedua. Overall, the risk associated with the first dose of RRV-TV was
estimated to be approximately 1 case per 10,000 vaccine recipients ( 70 ). Secara
keseluruhan, risiko yang terkait dengan dosis pertama RRV-TV diperkirakan sekitar 1
kasus per 10.000 penerima vaksin (70). Certain researchers have reassessed the data on
RRV-TV and intussusception and have suggested that the risk for intussusception was
age-dependent and that the absolute number of intussusception events, and possibly the
relative risk for intussusception associated with the first dose of RRV-TV, increased with
increasing age at vaccination ( 71,72 ). Beberapa peneliti telah mengkaji ulang data pada
RRV-TV dan intussusception dan telah menyarankan bahwa risiko untuk intussusception
adalah tergantung umur dan jumlah absolut kejadian intussusception, dan mungkin resiko
relatif untuk intussusception terkait dengan dosis pertama RRV-TV, meningkat dengan
bertambahnya usia pada vaksinasi (71,72). However, the World Health Organization
Global Advisory Committee on Vaccine Safety (GACVS), after reviewing all the
available data, concluded that risk for RRV-TV-associated intussusception was high in
infants vaccinated after age 60 days and that insufficient evidence was available to
conclude that the use of RRV-TV at age <60 days was associated with a lower risk ( 73 ).
Namun, Organisasi Kesehatan Dunia Global Komite Penasehat Keamanan Vaksin
(GACVS), setelah meninjau semua data yang ada, disimpulkan bahwa risiko untuk
intussusception RRV-TV terkait tinggi pada bayi divaksinasi setelah usia 60 hari dan
bahwa bukti yang cukup tersedia untuk menyimpulkan bahwa penggunaan RRV-TV pada
usia <60 hari dikaitkan dengan risiko lebih rendah (73). GACVS noted that the
possibility of an age-dependent risk for intussusception should be taken into account in
assessing rotavirus vaccines. GACVS mencatat bahwa kemungkinan resiko tergantung
usia untuk intussusception harus diperhitungkan dalam menilai vaksin rotavirus.
Postlicensure surveillance suggested that, besides intussusception, RRV-TV also was
associated with a spectrum of other gastrointestinal symptoms, including gastroenteritis
and bloody stools ( 74 ). surveilans Postlicensure menyarankan bahwa, selain
intussusception, RRV-TV juga dikaitkan dengan spektrum gejala gastrointestinal lain,
termasuk gastroenteritis dan tinja berdarah (74).

A monovalent vaccine based on an attenuated human rotavirus strain of P1A[8] G1


specificity, RIX 4414 (RotaRix ® , GSK Biologicals, Belgium), has shown a clinical
efficacy of 85% against severe rotavirus disease in recent trials ( 75,76 ). Suatu vaksin
monovalen berdasarkan strain rotavirus manusia dilemahkan dari P1A [8] spesifisitas G1,
Rix 4414 (RotaRix ®, GSK Biologicals, Belgia), telah menunjukkan kemanjuran klinis
dari 85% terhadap penyakit rotavirus parah dalam uji coba terakhir (75,76) . In a trial of
approximately 60,000 infants, no increase in intussusception was noted among recipients
of the vaccine versus placebo ( 77 ). Dalam sidang sekitar 60.000 bayi, tidak ada
peningkatan intussusception tercatat di antara penerima vaksin versus plasebo (77). As of
June 2006, RotaRix ® is licensed in approximately 30 countries in Latin America, Africa,
Asia, and in countries of the European Union and has been introduced into national
vaccination programs in Brazil, Panama, and Venezuela. Pada Juni 2006, RotaRix ®
dilisensikan di sekitar 30 negara di Amerika Latin, Afrika, Asia, dan di negara-negara
Uni Eropa dan telah diperkenalkan ke dalam program vaksinasi nasional di Brazil,
Panama, dan Venezuela. A licensure application has not yet been submitted in the United
States. Sebuah aplikasi lisensi belum disampaikan di Amerika Serikat.

Human-Bovine Reassortant Rotavirus Vaccine (RotaTeq ® ) Manusia-Sapi


reassortant Vaksin Rotavirus (RotaTeq ®)

The 2006 US licensed RotaTeq ® is a live, oral vaccine that contains five reassortant
rotaviruses developed from human and bovine parent rotavirus strains ( Box ) ( 78 ).
Tahun 2006 US berlisensi RotaTeq ® adalah oral, vaksin hidup yang berisi lima
rotaviruses reassortant dikembangkan dari sapi induk dan strain rotavirus manusia (
Kotak ) (78). Four reassortant rotaviruses express one of the outer capsid proteins (G1,
G2, G3, or G4) from the human rotavirus parent strain and the attachment protein (P7[5])
from the bovine rotavirus parent strain. Empat rotaviruses reassortant mengungkapkan
salah satu protein kapsid luar (G1, G2, G3, atau G4) dari induk strain rotavirus manusia
dan protein lampiran (P7 [5]) dari strain induk sapi rotavirus. The fifth reassortant virus
expresses the attachment protein (P1A[8]) from the human rotavirus parent strain and the
outer capsid protein G6 from the bovine rotavirus parent strain. Virus reassortant kelima
mengekspresikan protein lampiran (P1A [8]) dari induk strain rotavirus manusia dan G6
protein kapsid luar dari induk sapi strain rotavirus. The parent bovine rotavirus strain
Wistar Calf 3 (WC3) was isolated from a calf with diarrhea in Chester County,
Pennsylvania, in 1981 and was passaged 12 times in African green monkey kidney cells (
79 ). Orangtua bovine strain Wistar Calf Rotavirus 3 (WC3) diisolasi dari anak sapi
dengan diare di Chester County, Pennsylvania, pada tahun 1981 dan passaged 12 kali di
Afrika sel ginjal monyet hijau (79). The reassortants are propagated in Vero cells using
standard tissue culture techniques in the absence of antifungal agents. Para reassortants
disebarkan dalam sel Vero menggunakan teknik kultur jaringan standar tanpa adanya
agen anti jamur.

RotaTeq ® consists of the five human-bovine reassortants suspended in a solution of


buffer (sodium citrate and phosphate) and stabilizer (sucrose) that can be stored
refrigerated at 36 ° F--46 ° F (2 ° C--8 ° C) for up to 24 months. RotaTeq ® terdiri dari
lima-sapi reassortants manusia disuspensikan dalam larutan buffer (natrium sitrat dan
fosfat) dan stabilizer (sukrosa) yang dapat disimpan didinginkan pada 36 ° F - 46 ° F (2 ° C
- 8 ° C ) sampai dengan 24 bulan. Each 2-mL vial of vaccine contains the following
minimum concentration of the reassortants: G1 - 2.2 X 10 6 infectious units; G2 - 2.8 X
10 6 infectious units; G3 - 2.2 X 10 6 infectious units; G4 - 2.0 X 10 6 infectious units; and
P1 - 2.3 X 10 6 infectious units. The vaccine formulation contains sucrose, sodium citrate,
sodium phosphate monobasic monohydrate, sodium hydroxide, polysorbate 80, and tissue
culture media. Trace amounts of fetal bovine serum might be present. No preservatives or
thimerosal are present.

RotaTeq ® has been tested in three phase III trials, including a large-scale clinical trial of
approximately 70,000 infants in 11 countries, with the United States and Finland
accounting for approximately 80% of all enrolled persons ( 80 ). Phase III trials of
RotaTeq ® have involved 72,324 infants (36,423 in the RotaTeq ® group, 35,825 in the
placebo group, and 76 persons who received a mixed regimen). In these trials, 3 doses of
RotaTeq ® were administered orally beginning at age 6--12 weeks with a 4--10-week
interval between doses. Data from these trials on immunogenicity, efficacy, and safety of
RotaTeq ® are summarized below.

Immunogenicity

The immune correlates of protection from rotavirus infection and disease are not fully
understood. In clinical trials, a rise in titer of rotavirus group-specific serum IgA
antibodies was used as one of the measures of the immunogenicity of RotaTeq ® . Sera
were collected before vaccination and approximately 2 weeks after the third dose, and
seroconversion was defined as a threefold or greater rise in antibody titer from baseline.
Serconversion rates for IgA antibody to rotavirus were 93%--100% among 439 vaccine
recipients versus 12%--20% in 397 recipients of the placebo ( 80 ).

When administered simultaneously, a 3-dose series of RotaTeq ® does not diminish the
immune response to Haemophilus influenzae type b conjugate (Hib) vaccine, inactivated
poliovirus vaccine (IPV), hepatitis B vaccine, pneumococcal conjugate vaccine, and the
diphtheria and tetanus antigens in diphtheria, tetanus, and pertussis vaccine (DTaP)
(Merck, unpublished data, 2005). Because validation of the pertussis assays is still under
review, insufficient immunogenicity data are available to confirm lack of interference
when RotaTeq ® is administered concomitantly with childhood vaccines to prevent
pertussis.

Efficacy Kemanjuran

The efficacy of the final formulation of RotaTeq ® has been evaluated in two phase III
trials ( 80,81 ). In these trials, the efficacy of RotaTeq ® after completion of a 3-dose
regimen against rotavirus gastroenteritis of any severity was 74% (95% confidence
interval [CI] = 67%--79%) and against severe rotavirus gastroenteritis was 98% (CI =
90%--100%) ( Table 1 ). Severe rotavirus gastroenteritis was defined as a score >16 on an
established 24-point severity scoring system based on the intensity and duration of fever,
vomiting, diarrhea, and changes in behavior ( 80 ). Efficacy was observed against all G1-
4 and G9 serotypes ( Table 2 ), but relatively few non-G1 rotavirus cases were reported.
In a large study, the efficacy of RotaTeq ® against office visits for rotavirus
gastroenteritis was evaluated among 5,673 persons and against ED visits and
hospitalizations for rotavirus gastroenteritis among 68,038 persons during the first 2 years
of life ( 81 ). RotaTeq ® reduced the incidence of office visits by 86% (CI = 74%--93%),
ED visits by 94% (CI = 89%--97%), and hospitalizations for rotavirus gastroenteritis by
96% (CI = 91%--98%) ( Table 3 ). Efficacy against all gastroenteritis hospitalizations of
any etiology was 59% (CI = 56%--65%). The efficacy of RotaTeq ® in the second
rotavirus season postvaccination was 63% (CI = 44%--75%) against rotavirus
gastroenteritis of any severity and 88% (CI = 49%--99%) against severe rotavirus
gastroenteritis. Data on the efficacy of <3 doses of RotaTeq ® are limited.

Neither breastfeeding nor concurrent administration of other childhood vaccines appears


to diminish the efficacy of a 3-dose series of RotaTeq ® . Among 1,566 infants breastfed
exclusively, the efficacy of RotaTeq ® against rotavirus gastroenteritis of any severity
(68%; CI = 54%--78%) was comparable to that among 1,632 infants who were never
breastfed (68%; CI = 46%--82%). Among 204 vaccinated infants born prematurely (<37
weeks' gestation), the point estimate of vaccine efficacy against rotavirus gastroenteritis
of any severity was comparable to that among nonpremature infants (70%; CI = -15%--
95%), but the confidence bounds included zero because of the small sample size.

Adverse Events Post-Vaccination

Intussusception

The risk for intussusception was evaluated in 71,725 persons enrolled in phase III
efficacy trials. In a large-scale safety and efficacy trial designed specifically to evaluate
the risk for intussusception ( 80 ), parents/legal guardians of all persons were contacted
by telephone or home visit on approximately day 7, 14, and 42 after each vaccination,
and every 6 weeks thereafter for up to 1 year after the first dose. Parents were asked
about all serious adverse experiences, including intussusception, among enrolled
children. Potential intussusception cases were adjudicated according to a prespecified
case definition that included radiographic, surgical, and autopsy criteria.

For the prespecified 42-day postvaccination endpoint, six cases of intussusception were
observed in the RotaTeq ® group versus five cases of intussusception in the placebo group
(multiplicity adjusted relative risk = 1.6; CI = 0.4--6.4). No evidence of clustering of
cases of intussusception was observed within a 7- or 14-day window post-vaccination for
any dose, the period of greatest risk for intussusception associated with the RRV-TV
vaccine. For the 1-year follow-up period after administration of the first dose, 13 cases of
intussusception were observed in the RotaTeq ® group versus 15 cases of intussusception
in the placebo group (multiplicity adjusted relative risk: 0.9; CI = 0.4--1.9).

Other Adverse Events

Serious adverse events and deaths were evaluated in 71,725 infants enrolled in phase III
trials. Among RotaTeq ® and placebo recipients, the incidence of serious adverse events
(2.4% versus 2.6%, respectively), including deaths (<0.1% [n=25] versus <0.1% [n=27],
respectively), was similar. No deaths were attributed to vaccination by blinded
investigators. The most common cause of death (accounting for 17 of the 52 deaths) was
sudden infant death syndrome (SIDS), and deaths from SIDS were equally distributed
among RotaTeq ® and placebo recipients (n=eight and nine, respectively).

A subset of 11,722 persons was studied in detail to assess other potential adverse
experiences (eg, fever, diarrhea, and vomiting). In the 42-day period postvaccination,
vaccinees had a small but statistically significantly greater rate of certain symptoms
compared with placebo recipients, including 1% excess of vomiting (15% versus 14%,
respectively), 3% excess of diarrhea (24% versus 21%, respectively), 1% excess of
nasopharyngitis (7% versus 6%, respectively), 2% excess of otitis media (15% versus
13%, respectively), and 0.4% excess of bronchospasm (1.1% versus 0.7%, respectively).
Among RotaTeq ® and placebo recipients, the incidence of reported episodes of fever
(43% versus 43%, respectively) and hematochezia (0.5% versus 0.3%, respectively) was
similar.

In the 7-day postvaccination period, vaccinees had a small but statistically significantly
greater rate of diarrhea, with an excess of 1% after dose 1 (10% versus 9%, respectively),
3% after dose 2 (9% versus 6%, respectively), and 3% after any dose (18% versus 15%,
respectively). Similarly, vaccinees had a small but statistically significantly greater rate
of vomiting, with an excess of 2% after dose 1 (7% versus 5%, respectively) and 2% after
any dose (12% and 10%, respectively). The incidence of fever and irritability during the
7-day period after any vaccine dose was similar among RotaTeq ® and placebo recipients.

Preterm infants

RotaTeq ® or placebo was administered to 2,070 preterm infants (25--36 weeks'


gestational age; median: 34 weeks) in the phase III trials. All preterm infants were
monitored for severe adverse events, and a subset of 308 was monitored in detail for all
adverse events. No cases of intussusception were reported among preterm infants.
Among preterm infants administered RotaTeq ® and placebo, the incidence of serious
adverse events (5.5% versus 5.8%, respectively) was similar. Two deaths each were
reported among preterm infants administered RotaTeq ® (one SIDS and one motor-
vehicle accident) and placebo (one SIDS and one unknown cause).

Shedding and Transmission of Vaccine Virus

Fecal shedding of vaccine virus was evaluated by EIA in a subset of persons enrolled in
the phase III trials by obtaining a single stool sample during days 4--6 following each
vaccination visit and from all children who submitted a rotavirus antigen positive stool
specimen at any time. Vaccine virus was shed in 32 of 360 (8.9%; CI = 6.2%--12.3%)
persons after dose 1, zero of 249 (0; CI = 0%--1.5%) persons after dose 2, and one of 385
(0.3%; CI = <0.1%--1.4%) after dose 3. In phase III studies, shedding was observed as
early as 1 day and as late as 15 days after a dose. The potential for horizontal
transmission of vaccine virus was not assessed through epidemiologic studies.
Vaccine Administration, Handling, and Storage

RotaTeq ® is provided in a squeezable plastic dosing tube with a twist-off cap designed to
allow for the vaccine to be administered directly to infants by mouth. Each tube contains
a single 2-mL dose of the vaccine as a liquid buffered-stabilized solution that is pale
yellow in color but might have a pink tint. This formulation protects the vaccine virus
from gastric acid and stabilizes the vaccine, allowing for storage at refrigerator
temperatures (36 ° F--46 ° F [2 ° C--8 ° C]) for 24 months. RotaTeq ® should be
administered as soon as possible after being removed from refrigeration. Additional
information on stability under conditions other than those recommended is available by
calling 1-800-637-2590.

Cost-Effectiveness Analysis

In an analysis that used estimates of current rotavirus disease burden, vaccine efficacy,
vaccine coverage rates, and health costs, investigators estimated that a national rotavirus
vaccination program in which 3 doses of RotaTeq ® are administered at ages 2, 4, and 6
months would result in 255,000 fewer physician visits, 137,000 fewer ED visits, 44,000
fewer hospitalizations, and 13 fewer deaths per year in children aged <5 years. From the
health-care perspective alone, vaccination is likely to be cost-saving at a total cost per
child (including administration costs) of up to $66 per child (approximately $12 per
vaccine dose). A higher-priced vaccine would be increasingly unlikely to be cost-saving,
and at a cost of more than $143 per child (approximately $38 per dose), a rotavirus
vaccination program would most likely have a net cost to the health-care system. From
the societal perspective, vaccination is likely to be cost-saving at a total cost per child of
up to $156 per child (approximately $42 per dose). A higher-priced vaccine would be
increasingly unlikely to be cost-saving, and at a cost of more than $268 per child
(approximately $79 per dose), a rotavirus vaccination program would most likely have a
net cost to society (CDC, unpublished data, 2006).

Recommendations for the Use of Rotavirus Vaccine

Routine Administration

ACIP recommends routine vaccination of US infants with 3 doses of rotavirus vaccine


administered orally at ages 2, 4, and 6 months ( Table 4 ). The first dose should be
administered between ages 6--12 weeks. Subsequent doses should be administered at 4--
10-week intervals, and all 3 doses of vaccine should be administered by age 32 weeks.
Vaccination should not be initiated for infants aged >12 weeks because of insufficient
data on safety of the first dose of rotavirus vaccine in older infants. Vaccine should not be
administered after age 32 weeks because of insufficient data on the safety and efficacy of
rotavirus vaccine in infants after this age. For infants in whom the first dose of rotavirus
vaccine is inadvertently administered off label at age > 13 weeks, the rest of the rotavirus
vaccination series should be completed as per the schedule because timing of the first
dose should not affect the safety and efficacy of the second and third dose. Infants who
have had rotavirus gastroenteritis before receiving the full course of rotavirus
vaccinations should still initiate or complete the 3-dose schedule because the initial
infection frequently provides only partial immunity.

Infants who are being breastfed can receive rotavirus vaccine. The efficacy of rotavirus
vaccine is similar among breastfed and nonbreastfed infants. Like other vaccines,
rotavirus vaccine can be administered to infants with transient, mild illnesses, and with or
without low-grade fever ( 82 ).

Simultaneous Administration

Rotavirus vaccine can be administered together with DTaP, Hib vaccine, IPV, hepatitis B
vaccine, and pneumococcal conjugate vaccine. Available evidence suggests that the
rotavirus vaccine does not interfere with the immune response to the Hib vaccine, IPV,
hepatitis B vaccine, and pneumococcal conjugate vaccine, and the diphtheria and tetanus
antigens in DTaP.

Because validation of the pertussis assays is still under review, insufficient


immunogenicity data are available to confirm lack of interference of immune responses
when rotavirus vaccine is concomitantly administered with childhood vaccines to prevent
pertussis.

Contraindications Kontraindikasi

Rotavirus vaccine should not be administered to infants who have severe hypersensitivity
to any component of the vaccine or who have experienced a serious allergic reaction to a
previous dose of rotavirus vaccine.

Precautions Kewaspadaan

Altered Immunocompetence

Practitioners should consider the potential risks and benefits of administering rotavirus
vaccine to infants with known or suspected altered immunocompetence. Children and
adults who are immunocompromised because of congenital immunodeficiency,
hematopoetic transplantation, or solid organ transplantation sometimes experience severe,
prolonged, and even fatal rotavirus gastroenteritis ( 22--25 ). However, no safety or
efficacy data are available for the administration of rotavirus vaccine to infants who are
potentially immunocompromised, including

• infants with blood dyscrasias, leukemia, lymphomas of any type, or other


malignant neoplasms affecting the bone marrow or lymphatic system;
• infants on immunosuppressive therapy (including high-dose systemic
corticosteroids);
• infants with primary and acquired immunodeficiency states, including human
immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) or
other clinical manifestations of infection with HIV; cellular immune deficiencies;
and hypogammaglobulinemic and dysgammaglobu-linemic states. Data are
insufficient from the clinical trials to support administration of rotavirus vaccine
to infants with indeterminant HIV status who are born to mothers with
HIV/AIDS; and infants who have received a blood transfusion or blood products,
including immunoglobulins, within 42 days. In general, rotavirus vaccine should
be deferred for 42 days following receipt of an antibody-containing product if
possible. However, Namun,
• if the 42-day deferral would cause the first dose of rotavirus vaccine to be
scheduled for age > 13 weeks, a shorter deferral interval should be used to ensure
the first dose is administered before age 13 weeks.

< /P>

Acute Gastroenteritis

In usual circumstances, rotavirus vaccine should not be administered to infants with


acute, moderate-to-severe gastroenteritis until the condition improves. However, infants
with mild acute gastroenteritis can be vaccinated, particularly if the delay in vaccination
might be substantial and might make the child ineligible to receive vaccine (eg, aged > 13
weeks before vaccination is initiated).

Rotavirus vaccine has not been studied among infants with concurrent acute
gastroenteritis. In these infants, the immunogenicity and efficacy of rotavirus vaccine can
theoretically be compromised. For example, infants who receive oral poliovirus vaccine
(OPV) during an episode of acute gastroenteritis in some instances have diminished
poliovirus antibody responses to OPV ( 83 ).

Moderate-to-Severe Illness

Infants with moderate-to-severe illness should be vaccinated as soon as they have


recovered from the acute phase of the illness ( 82 ). This precaution avoids
superimposing adverse effects of the vaccine on the underlying illness or mistakenly
attributing a manifestation of the underlying illness to the vaccine.

Preexisting Chronic Gastrointestinal Disease

Practitioners should consider the potential risks for and benefits of administering
rotavirus vaccine to infants with preexisting chronic gastrointestinal disease. Infants with
preexisting chronic gastrointestinal conditions who are not undergoing
immunosuppressive therapy should benefit from rotavirus vaccine vaccination, and the
benefits outweigh the theoretical risks. However, the safety and efficacy of rotavirus
vaccine have not been established for infants with these preexisting conditions (eg,
congenital malabsorption syndromes, Hirschsprung's disease, short-gut syndrome, or
persistent vomiting of unknown cause).

Intussusception
Following administration of a previously licensed rotavirus vaccine, RRV-TV, an
increased risk for intussusception was observed. Available prelicensure data from a trial
of 70,000 infants indicated no evidence of an association between intussusception and the
current vaccine. However, additional postlicensure surveillance data are required to
confirm that the vaccine is not associated with intussusception at a lower rate than would
have been detected in prelicensure trials. In addition, data suggest that infants with a
history of intussusception might be at higher risk for a repeat episode than other infants.
Therefore, until postlicensure data on safety of rotavirus vaccine are available, the risks
for and the benefits of vaccination should be considered when vaccinating infants with a
previous episode of intussusception.

Special Situations Situasi Khusus

Premature Infants (<37 weeks' gestation)

Practitioners should consider the potential risks for and benefits of vaccinating premature
infants against rotavirus. Limited data suggest that premature infants are at increased risk
for hospitalization from viral gastroenteritis during their first year of life ( 21 ). In clinical
trials, the safety and efficacy of rotavirus vaccine appears to be similar for premature and
term infants, although a relatively small number of preterm infants have been evaluated.
The lower level of maternal antibody to rotaviruses in very low birthweight, premature
infants theoretically could increase the risk for adverse reactions from rotavirus vaccine.
ACIP supports vaccination of prematurely born infants if they are at least aged 6 weeks,
are being or have been discharged from the hospital nursery, and are clinically stable.
Until further data are available, ACIP considers that the benefits of rotavirus vaccine
vaccination of premature infants outweigh the theoretical risks.

Exposure of Immunocompromised Persons to Vaccinated Infants

Infants living in households with persons who have or are suspected of having an
immunodeficiency disorder or impaired immune status can be vaccinated. The majority
of experts believe the protection of the immunocompromised household member afforded
by vaccination of young children in the household outweighs the small risk for
transmitting vaccine virus to the immunocompromised household member and any
subsequent theoretical risk for vaccine virus-associated disease. To minimize potential
virus transmission, all members of the household should employ measures such as good
hand washing after contact with the feces of the vaccinated infant (eg, after changing a
diaper).

Exposure of Pregnant Women to Vaccinated Infants

Infants living in households with pregnant women can be vaccinated. The majority of
women of childbearing age would have pre-existing immunity to rotavirus and so the risk
for infection and disease from potential exposure to the attenuated vaccine virus strain is
low. In addition, no evidence exist that rotavirus infection or disease during pregnancy
poses any risk to the fetus. Furthermore, vaccination of young children would avoid
potential exposure of the pregnant women to wild virus if the unvaccinated infant suffers
from rotavirus gastroenteritis.

Regurgitation of Vaccine

The practitioner should not readminister a dose of rotavirus vaccine to an infant who
regurgitates, spits out, or vomits during or after administration of vaccine. The infant can
receive the remaining recommended doses of rotavirus vaccine at appropriate intervals.
Data are limited regarding the safety of administering a dose of rotavirus vaccine higher
than the recommended dose and on the efficacy of administering a partial dose.
Additional data on safety and efficacy are needed to evaluate the benefits of and risks for
readministration.

Hospitalization After Vaccination

If a recently vaccinated child is hospitalized for any reason, no precautions other than
routine universal precautions need be taken to prevent the spread of vaccine virus in the
hospital setting.

Reporting of Adverse Events Pelaporan Kejadian Buruk

Any clinically significant or unexpected adverse events that occur after administration of
rotavirus vaccine should be reported to the Vaccine Adverse Events Reporting System
(VAERS). The National Childhood Vaccine Injury Act requires health-care providers to
report to VAERS any event listed by the vaccine manufacturer as a contraindication to
subsequent doses of the vaccine or any event listed in the Reportable Events Table (
http://vaers.hhs.gov/reportable.htm ) that occurs within the specified period after
vaccination. Rotavirus vaccine is covered under the general category of rotavirus
vaccines in the Reportable Events Table, and no specific conditions are listed for
reporting. VAERS reporting forms and information can be requested 24 hours a day at
800-822-7967 or by accessing VAERS at http://vaers.hhs.gov .

Enhanced Postlicensure Surveillance for Adverse Events

In prelicensure clinical trials, rotavirus vaccine has not been associated with any serious
adverse events, including intussusception. Nevertheless, continued monitoring for
adverse events following introduction of rotavirus vaccine into routine vaccination
programs is important, particularly in light of the previous experience with RRV-TV. In
addition to manufacturer-sponsored Phase IV studies, postlicensure monitoring will
include enhanced review of adverse events reported to VAERS. The Vaccine Safety
Datalink (VSD) also will be used to monitor any intussusception risk associated with
rotavirus vaccine and to evaluate any other possible associations that might be identified
through VAERS or in Phase IV studies. The VSD project includes information on
persons enrolled in eight large health maintenance organizations, with an annual birth
cohort of >90,000 infants. Data on all vaccines administered within the study population
are recorded and linked with diagnoses from medical encounters to determine rates of
potential adverse events resulting from vaccination. Recently developed rapid analysis
methods allow VSD to conduct near "real time" monitoring for vaccine adverse events (
84 ).

Given the background rate of natural intussusception among US infants (25--38 cases per
100,000 infants) and the large number of children that are potentially eligible for
vaccination, intussusception cases are expected to occur following vaccination by chance
alone that will be unrelated to the vaccine ( 85 ). Consequently, intensive postlicensure
surveillance will be necessary to assess the safety of this vaccine against this rare event.

National Vaccine Injury Compensation Program

The National Vaccine Injury Compensation Program (VICP), established by the National
Childhood Vaccine Injury Act, is a no-fault system in which persons thought to have
suffered an injury or death as a result of administration of a covered vaccine can seek
compensation. Persons of all ages who receive a VICP-covered vaccine are eligible to file
a claim.

The program relies on a vaccine injury table listing the vaccines covered by the program
and the injuries, disabilities, illnesses, and conditions (including death) for which
compensation can be awarded. Claimants also can prevail for conditions not listed in the
table if they can prove causation. To be eligible for compensation, claims must be filed
within 3 years after the first symptom of the vaccine injury, or within 2 years of the
vaccine-related death and not more than 4 years after the start of the first symptom of the
vaccine-related injury from which the death occurred.

Rotavirus vaccine is covered by VICP under the general category of rotavirus vaccines in
Category XI of the Vaccine Injury Table ( http://www.hrsa.gov/osp/vicp/table.htm ). This
category of vaccines does not include any table injuries. Additional information is
available from the following from the National Vaccine Injury Compensation Program,
Health Resources and Services Administration, Parklawn Building, Room 11C-26, 5600
Fishers Lane, Rockville, MD 20857 (telephone: 800-338-2382 [24-hour recording] or
Internet: http://www.hrsa.gov/vaccinecompensation ).

Future Needs Kebutuhan Masa Depan

Surveillance of Rotavirus Gastroenteritis

Rotavirus gastroenteritis is not a reportable disease in the United States, and testing for
rotavirus infection is not always performed when a child seeks medical care for acute
gastroenteritis. Establishing rotavirus disease surveillance systems that are adequately
sensitive and specific to document the effectiveness of vaccination programs will be
necessary. National surveillance systems for rotavirus infections include review of
national hospital discharge databases for rotavirus-specific or rotavirus-compatible
diagnoses and reports of rotavirus isolation from a sentinel system of laboratories and
surveillance in three sites that participate in the New Vaccine Surveillance Network. At
state and local levels, additional surveillance efforts at sentinel hospitals or by review of
hospital discharge databases will be necessary to monitor the impact of the vaccine
program. Special studies (eg, case-control studies and retrospective cohort studies) will
be needed to confirm the effectiveness of rotavirus vaccine in routine programmatic use.

Detection of Unusual Strains of Rotavirus

A national strain surveillance system of sentinel laboratories has been established at CDC
to monitor the prevalence of rotavirus strains before and after the introduction of
rotavirus vaccines. This system is designed to detect new or unusual strains that might
not be effectively prevented by vaccination and might affect the success of the
vaccination program.

Research Penelitian

Future research should include studies to determine the safety and efficacy of rotavirus
vaccine administered to infants born prematurely, infants with immune deficiencies,
infants who live in households with immunocompromised persons, and infants with
chronic gastrointestinal disease. Postlicensure studies also should be conducted to
determine the relative efficacy of <3 doses of vaccine and to address the cost
effectiveness of vaccination programs in various settings.

Education of Health-Care Providers and Parents

The success of a rotavirus vaccination program depends on the acceptance and


enthusiasm of physicians and other health-care providers who care for children and
caretakers of infants. In light of the experience with the withdrawal of RRV-TV vaccine
because of its association with intussusception, some health-care providers and parents
might have concerns about vaccination with current rotavirus vaccine. Vaccination
program personnel will benefit from education about rotavirus disease and rotavirus
vaccine. Parental education on rotavirus gastroenteritis and on the vaccine will be
essential to establish and maintain public confidence in this vaccine and to avoid
confusion caused by cases of gastroenteritis in early childhood resulting from
nonrotaviral etiologies and not preventable by rotavirus vaccine.

Acknowledgement Pengakuan

The following persons reviewed and contributed to sections of this report: Jon R.
Gentsch, Penina Haber, Frank DeStefano, and Marc-Alain Widdowson, CDC; Rosemary
Tiernan, US Food and Drug Administration; Geoff Evans, Health Resources and Services
Administration; and Barbara Kuter and Penny Heaton, Merck and Company.

References Referensi

1. Parashar UD, Hummelman EG, Bresee JS, Miller MA, Glass RI. Parashar UD,
EG Hummelman, Bresee JS, MA Miller, RI Glass. Global illness and deaths
caused by rotavirus disease in children. Global penyakit dan kematian disebabkan
oleh penyakit Rotavirus pada anak-anak. Emerg Infect Dis 2003;9:565--72.
2. Kilgore PE, Holman RC, Clarke MJ, Glass RI. Trends of diarrheal disease-
associated mortality in US children, 1968 through 1991. JAMA 1995;274:1143--
8.
3. Tucker AW, Haddix AC, Bresee JS, Holman RC, Parashar UD, Glass RI. AW
Tucker, Haddix AC, JS Bresee, RC Holman, UD Parashar, RI Glass. Cost-
effectiveness analysis of a rotavirus immunization program for the United States.
Analisis efektivitas biaya program imunisasi rotavirus untuk Amerika Serikat.
JAMA 1998;279:1371--6.
4. Parashar UD, Holman RC, Clarke MJ, Bresee JS, Glass RI. Parashar UD, RC
Holman, Clarke MJ, JS Bresee, RI Glass. Hospitalizations associated with
rotavirus diarrhea in the United States, 1993 through 1995: surveillance based on
the new ICD-9-CM rotavirus-specific diagnostic code. Rawat inap yang
berhubungan dengan diare rotavirus di Amerika Serikat, 1993 hingga 1995:
surveilans berdasarkan kode ICD-9-CM baru diagnostik rotavirus-spesifik. J
Infect Dis 1997;177:13--7.
5. Charles MD, Holman RC, Curns AT, Parashar UD, Glass RI, Bresee JS. Charles
MD, RC Holman, Curns AT, UD Parashar, RI Glass, Bresee JS. Hospitalizations
associated with rotavirus gastroenteritis in the United States, 1993--2002. Pediatr
Infect Dis J 2006;25:489--93.
6. Malek MA, Curns AT, Holman RC, et al. Diarrhea- and rotavirus-associated
hospitalizations among children less than 5 years of age: United States, 1997 and
2000. Diare-dan rawat inap terkait rotavirus pada anak kurang dari 5 tahun:
Amerika Serikat, 1997 dan 2000. Pediatrics 2006;117:1887--92.
7. Kapikian AZ, Chanock RM. Rotaviruses. In: Straus SE, ed. Fields virology. 3rd
ed. Vol. Vol. 2. 2. Philadelphia, PA: Lippincott-Raven; 1996:1657--708.
8. Rodriguez WJ, Kim HW, Brandt CD, et al. Longitudinal study of rotavirus
infection and gastroenteritis in families served by a pediatric medical practice:
clinical and epidemiologic observations. Pediatr Infect Dis J 1987;6:170--6.
9. Glass RI, Kilgore PE, Holman RC, et al. The epidemiology of rotavirus diarrhea
in the United States: surveillance and estimates of disease burden. J Infect Dis
1996;174 (Suppl 1):S5--S11.
10. Gurwith M, Wenman W, Hinde D, Feltham S, Greenberg H. A prospective study
of rotavirus infection in infants and young children. J Infect Dis 1981;144:218--
24.
11. Carlson JAK, Middleton PJ, Szymanski MT, Huber J, Petric M. Fatal rotavirus
gastroenteritis: an analysis of 21 cases. Am J Dis Child 1978;132:477--9.
12. Butz AM, Fosarelli P, Dick J, Yolken R. Prevalence of rotavirus on high-risk
fomites in day-care facilities. Pediatrics 1993;92:202--5.
13. Dennehy PH, Nelson SM, Crowley BA, Saracen CL. Detection of rotavirus RNA
in hospital air samples by polymerase chain reaction (PCR). Pediatr Res
1998;43:143A.
14. LeBaron CW, Lew J, Glass RI, Weber JM, Ruiz-Palacios GM, Group TRS.
Annual rotavirus epidemic patterns in North America: results of a five-year
retrospective survey of 88 centers in Canada, Mexico, and the United States.
JAMA 1990;264:983--8.
15. Torok TJ, Kilgore PE, Clarke MJ, Holman RC, Bresee JS, Glass RI. Visualizing
geographic and temporal trends in rotavirus activity in the United States, 1991 to
1996. Pediatr Infect Dis J 1997;16:941--6.
16. Koopman JS, Turkish VJ, Monto AS, Gouvea V, Srivastava S, Isaacson RE.
Patterns and etiology of diarrhea in three clinical settings. Am J Epidemiol
1984;119:114--23.
17. Matson DO, Estes MK. Impact of rotavirus infection at a large pediatric hospital.
J Infect Dis 1990;162:598--604.
18. Brandt CD, Kim HW, Rodriguez JO, et al. Pediatric viral gastroenteritis during
eight years of study. J Clin Microbiol 1983;18:71--8.
19. Rodriguez WJ, Kim HW, Brandt CD, et al. Rotavirus gastroenteritis in the
Washington, DC area. Am J Dis Child 1980;134:777--9.
20. Gurwith M, Wenman W, Gurwith D, Brunton J, Feltham S, Greenberg H.
Diarrhea among infants and young children in Canada: a longitudinal study in
three northern communities. J Infect Dis 1983;147:685--92.
21. Newman RD, Grupp-Phelan J, Shay DK, Davis RL. Perinatal risk factors for
infant hospitalization with viral gastroenteritis. Pediatrics 1999;103:3
22. Saulsbury FT, Winkelstein JA, Yolken RH. Chronic rotavirus infection in
immunodeficiency. J Pediatr 1980;97:61--5.
23. Yolken RH, Bishop CA, Townsend TR. Infectious gastroenteritis in bone-marrow
transplant recipients. N Engl J Med 1982;306:1009--12.
24. Troussard X, Bauduer F, Gallet E, et al. Virus recovery from stools of patients
undergoing bone marrow transplantation. Bone Marrow Transplantation
1993;12:573--6.
25. Liakopoulou E, Mutton K, Carrington D, et al. Rotavirus as a significant cause of
prolonged diarrhoeal illness and morbidity following allogeneic bone marrow
transplantation. Bone Marrow Transplant 2005;36:691--4.
26. Dennehy PH, Peter G. Risk factors associated with nosocomial rotavirus
infection. Am J Dis Child 1985;139:935--9.
27. Bennet R, Hedlund KO, Ehrnst A, Eriksson M. Nosocomial gastroenteritis in two
infant wards over 26 months. Acta Paediatr 1995;84:667--71.
28. Fruhwirth M, Heininger U, Ehlken B, et al. Fruhwirth M, U Heininger, B Ehlken,
et al. International variation in disease burden of rotavirus gastroenteritis in
children with community and nosocomially acquired infection. Internasional
variasi dalam beban penyakit rotavirus gastroenteritis pada anak-anak dengan
masyarakat dan nosocomially diperoleh infeksi. Pediatr Infect Dis J
2001;20:784--91. Pediatr Infect Dis J 2001; 20:784 - 91.
29. Fischer TK, Bresee JS, Glass RI. TK Fischer, Bresee JS, RI Glass. Rotavirus
vaccines and the prevention of hospital-acquired diarrhea in children. Vaksin
Rotavirus dan pencegahan diare didapat di rumah sakit pada anak-anak. Vaccine
2004;22(Suppl): S49--54. Vaksin 2004; 22 (Suppl): S49 - 54.
30. Hrdy D. Epidemiology of rotaviral infection in adults. Hrdy D. Epidemiologi
infeksi rotavirus pada orang dewasa. Rev Infect Dis 1987;9:461--9. Menginfeksi
Rev Dis 1987; 9:461 - 9.
31. Fischer TK, Ashley D, Kerin T, et al. Fischer TK, Ashley D, Kerin T, et al.
Rotavirus antigenemia in patients with acute gastroenteritis. Rotavirus
antigenemia pada pasien dengan Gastroenteritis akut. J Infect Dis 2005;192:913--
9. Menginfeksi J Dis 2005; 192:913 - 9.
32. Blutt SE, Kirkwood CD, Parreno V, et al. Blutt SE, Kirkwood CD, V Parreno, et
al. Rotavirus antigenaemia and viraemia: a common event? Rotavirus
antigenaemia dan varaemia: peristiwa yang umum? Lancet 2003;362:1445--944.
Lancet 2003; 362:1445 - 944.
33. Ward RL, Knowlton DR, Zito ET, Davidson BL, Rappaport R, Mack ME. RL
Ward, DR Knowlton, Zito ET, BL Davidson, Rappaport R, Mack ME. Serologic
correlates of immunity in a tetravalent reassortant rotavirus vaccine trial.
Berkorelasi serologi kekebalan dalam uji coba vaksin tetravalen reassortant
Rotavirus. J Infect Dis 1997;176:570--7. Menginfeksi J Dis 1997; 176:570 - 7.
34. Jiang B, Gentsch JR, Glass RI. Jiang B, JR Gentsch, RI Glass. The role of serum
antibodies in the protection against rotavirus disease: an overview. Peran antibodi
serum dalam perlindungan terhadap penyakit rotavirus: gambaran umum. Clin
Infect Dis 2002;34:1351--61. Menginfeksi Dis Clin 2002; 34:1351 - 61.
35. Estes M. Rotaviruses and their replication. Estes M. rotaviruses dan replikasi
mereka. In: Howley PM, ed. Dalam: Howley PM, ed. Fields Virology. Fields
Virology. 3rd ed. 3rd ed. Vol. Vol. 2. 2. Philadelphia, PA: Lippincott-Raven;
1996:1625--55. Philadelphia, PA: Lippincott-Raven; 1996:1625 - 55.
36. Estes MK, Cohen J. Rotavirus gene structure and function. Estes MK, Cohen J.
Rotavirus struktur dan fungsi gen. Microbiological Reviews 1989;53:410--49.
Tinjauan mikrobiologi 1989; 53:410 - 49.
37. Ramachandran M, Gentsch JR, Parashar UD, et al. Ramachandran M, JR
Gentsch, UD Parashar, et al. Detection and characterization of novel rotavirus
strains in the United States. Deteksi dan karakterisasi novel strain rotavirus di
Amerika Serikat. J Clin Microbiol 1998;36:3223--9. J Clin Microbiol 1998;
36:3223 - 9.
38. Griffin DD, Kirkwood C, Parashar UD, et al. Griffin DD, C Kirkwood, UD
Parashar, et al. Surveillance of rotavirus strains in the United States: identification
of unusual strains. Pengawasan strain rotavirus di Amerika Serikat: identifikasi
strain yang tidak biasa. J Clin Microbiol 2000;38:2784--7. J Clin Microbiol 2000;
38:2784 - 7.
39. Nakagomi O, Nakagomi T. Genetic diversity and similarity among mammalian
rotaviruses in relation to interspecies transmission of rotavirus. Nakagomi O,
Nakagomi T. genetik keanekaragaman dan kesamaan di antara rotaviruses
mamalia dalam kaitannya dengan transmisi antarspesies dari rotavirus. Arch Virol
1991;120:43--55. Arch Virol 1991; 120:43 - 55.
40. Gentsch JR, Woods PA, Ramachandran M, et al. Gentsch JR, Woods PA,
Ramachandran M, et al. Review of G and P typing results from a global collection
of strains: implications for vaccine development. Review dari G dan P mengetik
hasil dari kumpulan global strain: implikasi untuk pengembangan vaksin. J Infect
Dis 1996;174:S30--S6. Menginfeksi J Dis 1996; 174: S30 - S6.
41. Gentsch JR, Laird AR, Bielfelt B, et al. Gentsch JR, AR Laird, B Bielfelt, et al.
Serotype diversity and reassortment between human and animal rotavirus strains:
implications for rotavirus vaccine programs. Serotipe keragaman dan
reassortment antara strain rotavirus manusia dan hewan: implikasi untuk program
vaksin rotavirus. J Infect Dis 2005;192(Suppl):S146--S59. Menginfeksi J Dis
2005; 192 (Suppl): S146 - S59.
42. Glass RI, Bhan MK, Ray P, et al. Kaca RI, Bhan MK, P Ray, et al. Development
of candidate rotavirus vaccines derived from neonatal strains in India.
Pengembangan vaksin rotavirus calon yang berasal dari strain neonatal di India. J
Infect Dis 2005;192(Suppl):S30-S5. Menginfeksi J Dis 2005; 192 (Suppl): S30-
S5.
43. Velazquez FR, Matson DO, Calva JJ, et al. Velazquez FR, Matson DO, Calva JJ,
et al. Rotavirus infection in infants as protection against subsequent infections.
Rotavirus infeksi pada bayi sebagai perlindungan terhadap infeksi berikutnya. N
Engl J Med 1996;335:1022--8. N ENGL J Med 1996; 335:1022 - 8.
44. Cravioto A, Reyes RE, Trujillo F, et al. Cravioto A, Reyes RE, Trujillo F, et al.
Risk of diarrhea during the first year of life associated with initial and subsequent
colonization by specific enteropathogens. Risiko diare selama tahun pertama
kehidupan berhubungan dengan kolonisasi awal dan berikutnya oleh
enteropatogen tertentu. Am J Epidemiol 1990;131:886--904. Am J Epidemiol
1990; 131:886 - 904.
45. Reves RR, Hossain MM, Midthun K, et al. Rêves RR, Hossain MM, Midthun K,
et al. An observational study of naturally acquired immunity to rotaviral diarrhea
in a cohort of 363 Egyptian children. Sebuah studi observasional kekebalan alami
yang diperoleh untuk diare rotavirus dalam kohort dari 363 anak-anak Mesir. Am
J Epidemiol 1989;130:981--8. Am J Epidemiol 1989; 130:981 - 8.
46. Ward RL, Bernstein DI. Ward RL Bernstein, DI. Lack of correlation between
serum rotavirus antibody titers and protection following vaccination with
reassortant RRV vaccines. Kurangnya korelasi antara titer antibodi serum
vaksinasi rotavirus dan perlindungan berikut dengan vaksin RRV reassortant.
Vaccine 1995;13:1226--32. Vaksin 1995; 13:1226 - 32.
47. Green KY, Taniguchi K, Mackow ER, Kapikian AZ. Green KY, K Taniguchi, ER
Mackow, AZ Kapikian. Homotypic and heterotypic epitope-specific antibody
respones in adult and infant rotavirus vaccinees: implications for vaccine
development. Homotypic dan respones heterotypic epitop antibodi spesifik di
vaksin dewasa dan bayi rotavirus: implikasi untuk pengembangan vaksin. J Infect
Dis 1990;161:667--79. Menginfeksi J Dis 1990; 161:667 - 79.
48. Ward RL. Ward RL. Mechanisms of protection against rotavirus in humans and
mice. Mekanisme perlindungan terhadap rotavirus pada manusia dan tikus. J
Infect Dis 1996;174(Suppl):S51--S8. Menginfeksi J Dis 1996; 174 (Suppl): S51 -
S8.
49. Offit PA. Offit PA. Host factors associated with protection against rotavirus
disease: the skies are clearing. Host faktor yang terkait dengan perlindungan
terhadap penyakit rotavirus: langit adalah kliring. J Infect Dis 1996;174(Suppl
1):S59--S64. Menginfeksi J Dis 1996; 174 (Suppl 1): S59 - S64.
50. Simhon A, Mata L, Vives M. Low endemicity and low pathogenicity of
rotaviruses among rural children in Costa Rica. Simhon A, Mata L, Vives M.
Rendah endemisitas dan patogenisitas rendah rotaviruses antara anak-anak
pedesaan di Kosta Rika. J Infect Dis 1985;152:1134--42. Menginfeksi J Dis 1985;
152:1134 - 42.
51. Zaki AM, DuPont HL, El Alamy MA, et al. Zaki AM, DuPont HL, MA Alamy
El, et al. The detection of enteropathogens in acute diarrhea in a family cohort
population in rural Egypt. Deteksi enteropatogen di diare akut pada populasi
kohort keluarga di pedesaan Mesir. Am J Trop Med Hyg 1986;35:1013--22. Am J
Hyg daerah tropis Med 1986; 35:1013 - 22.
52. Black RE, Lopez de Romana G, Brown KH, Bravo N, Grados Bazalar O,
Kanashiro HC. RE Black, Lopez de Romana G, KH Brown, N Bravo, Grados O
Bazalar, HC Kanashiro. Incidence and etiology of infantile diarrhea and major
routes of transmission in Huascar, Peru. Insiden dan etiologi diare kekanak-
kanakan dan rute utama penularan di Huáscar, Peru. Am J Epidemiol
1989;129:785--99. Am J Epidemiol 1989; 129:785 - 99.
53. Avery ME, Snyder JD. Avery ME, Snyder JD. Oral therapy for acute diarrhea-the
underused simple solution. Oral terapi untuk solusi sederhana diare akut-yang
terbengkalai. N Engl J Med 1990;323:891--4. N ENGL J Med 1990; 323:891 - 4.
54. CDC. CDC. Managing acute gastroenteritis among children: oral rehydration,
maintenance, and nutritional therapy. Mengelola gastroenteritis akut antara anak-
anak: rehidrasi oral, perawatan, dan terapi gizi. MMWR 2003;52(No. RR-16).
MMWR 2003; 52 (No-RR 16).
55. Bhan MK, Lew JF, Sazawal S, Das BK, Gentsch JR, Glass RI. Bhan MK, Lew
JF, S Sazawal, Das BK, JR Gentsch, RI Glass. Protection conferred by neonatal
rotavirus infection against subsequent diarrhea. Perlindungan yang diberikan oleh
infeksi rotavirus bayi terhadap diare berikutnya. J Infect Dis 1993;168:282--7.
Menginfeksi J Dis 1993; 168:282 - 7.
56. Bishop RF, Barnes GL, Cipriani E, Lund JS. Bishop RF, Barnes GL, E Cipriani,
JS Lund. Clinical immunity after neonatal rotavirus infection. Klinis kekebalan
setelah infeksi rotavirus neonatal. A prospective longitudinal study in young
children. Sebuah studi longitudinal prospektif pada anak-anak. N Engl J Med
1983;309:72--6. N ENGL J Med 1983; 309:72 - 6.
57. Vesikari T, Isolauri E, D'Hondt E. Protection of infants against rotavirus diarrhea
by RIT 4237 attenuated bovine rotavirus strain vaccine. T Vesikari, Isolauri E,
D'Hondt E. Perlindungan bayi terhadap diare rotavirus oleh RIT 4237 dilemahkan
strain vaksin rotavirus sapi. Lancet 1984;1:977--81. Lancet 1984; 1:977 - 81.
58. Clark HF, Borian FE, Bell LM, Plotkin SA. Clark HF, FE Borian, Bell LM,
Plotkin SA. Protective effect of WC3 vaccine against rotavirus diarrhea in infants
during a predominantly serotype 1 rotavirus season. Perlindungan efek vaksin
WC3 terhadap diare rotavirus pada bayi selama musim 1 Rotavirus didominasi
serotipe. J Infect Dis 1988;158:570--87. Menginfeksi J Dis 1988; 158:570 - 87.
59. Vesikari T, Kapikian AZ, Delem A, et al. T Vesikari, AZ Kapikian, Delem A, et
al. A comparative trial of rhesus monkey (RRV-1) and bovine (RIT 4237) oral
rotavirus vaccines in young children. Sebuah uji coba komparatif dari monyet
rhesus (RIT 4237) (RRV-1) dan sapi vaksin rotavirus oral pada anak-anak. J
Infect Dis 1986;153:832--9. Menginfeksi J Dis 1986; 153:832 - 9.
60. De Mol P, Zissis G, Butzler JP, Mutwewingabo A, Andre FE. De Mol P, G Zissis,
JP Butzler, Mutwewingabo A, FE Andre. Failure of live, attenuated oral rotavirus
vaccine (Letter). Kegagalan hidup, vaksin rotavirus oral dilemahkan (Surat).
Lancet 1986;2:108. Lancet 1986; 2:108.
61. Hanlon P, Marsh V, Jobe O, et al. Hanlon P, V Marsh, O Jobe, et al. Trial of an
attenuated bovine rotavirus vaccine (RIT 4237) in Gambian Infants. Pengadilan
vaksin rotavirus dilemahkan bovine (RIT 4237) di Gambia Bayi. Lancet
1987;42:1342--5. Lancet 1987; 42:1342 - 5.
62. Lanata CF, Black RE, del Aguila R, et al. Lanata CF, RE Black, del Aguila R, et
al. Protection of Peruvian children against rotavirus diarrhea of specific serotypes
by one, two, or three doses of the RIT 4237 attenuated bovine rotavirus vaccine.
Perlindungan anak-anak Peru terhadap diare rotavirus dari serotipe tertentu
dengan satu, dua, atau tiga dosis dari vaksin dilemahkan 4237 RIT Rotavirus sapi.
J Infect Dis 1989;159:452--9. Menginfeksi J Dis 1989; 159:452 - 9.
63. Georges-Courbot MC, Monges J, Siopathis MR, et al. MC Georges-Courbot,
Monges J, MR Siopathis, et al. Evaluation of the effiacy of a low-passage bovine
rotavirus (strain WC3) vaccine in children in Central Africa. Evaluasi effiacy dari
rotavirus rendah bagian bovine (WC3 strain) vaksin pada anak-anak di Afrika
Tengah. Res Virol 1991;142:405--11. Virol Res 1991; 142:405 - 11.
64. Christy C, Madore HP, Pichichero ME, et al. Christy C, Madore HP, Pichichero
ME, et al. Field trial of rhesus rotavirus vaccine in infants. Uji coba lapangan
vaksin rotavirus rhesus pada bayi. Pediatr Infect Dis J 1988;7:645--50. Pediatr
Infect Dis J 1988; 7:645 - 50.
65. Midthun K, Greenberg HB, Hoshino Y. Reassortant rotaviruses as potential live
rotavirus vaccine candidates. Midthun K, Greenberg HB, rotaviruses Hoshino
reassortant Y. sebagai potensi kandidat vaksin hidup Rotavirus. J Virol
1985;53:949--54. J Virol 1985; 53:949 - 54.
66. Kapikian AZ, Hoshino Y, Chanock RM, Perez-Schael I. Efficacy of a
quadrivalent rhesus rotavirus-based human rotavirus vaccine aimed at preventing
severe rotavirus diarrhea in infants and young children. Kapikian AZ, Hoshino Y,
Chanock RM, Perez-Schael I. Efikasi vaksin rotavirus rhesus quadrivalent
berbasis rotavirus manusia yang bertujuan untuk mencegah diare rotavirus parah
pada bayi dan anak-anak muda. J Infect Dis 1996;174(Suppl):S65--S72.
Menginfeksi J Dis 1996; 174 (Suppl): S65 - S72.
67. CDC. CDC. Rotavirus vaccine for the prevention of rotavirus gastroenteritis
among children. Rotavirus vaksin untuk mencegah rotavirus gastroenteritis antara
anak-anak. MMWR 1999;48:1--20. MMWR 1999; 48:1 - 20.
68. CDC. CDC. Withdrawal of rotavirus vaccine recommendation. Penarikan
rekomendasi vaksin rotavirus. MMWR 1999;48:1007. MMWR 1999; 48:1007.
69. Murphy TV, Gargiullo PM, Massoudi MS, et al. Murphy TV, PM Gargiullo, MS
Massoudi, et al. Intussusception among infants given an oral rotavirus vaccine.
Intussusception antara bayi yang diberi vaksin rotavirus oral. N Engl J Med
2001;344:564--72. N ENGL J Med 2001; 344:564 - 72.
70. Peter G, Myers MG. G Peter, Myers MG. Intussusception, rotavirus, and oral
vaccines: summary of a workshop. Intussusception, rotavirus, dan vaksin oral:
ringkasan lokakarya. Pediatrics 2002;54:110. Pediatrics 2002; 54:110.
71. Rothman KJ, Young-Xu Y, Arellano F. Age dependence of the relation between
reassortant rotavirus vaccine (RotaShield) and intussusception. Rothman KJ,
Young-Xu Y, Arellano F. Umur ketergantungan hubungan antara vaksin rotavirus
reassortant (RotaShield) dan intussusception. J Infect Dis 2006;193:898.
Menginfeksi J Dis 2006; 193:898.
72. Simonsen L, Viboud C, Elixhauser A, Taylor RJ, Kapikian AZ. Simonsen L, C
Viboud, Elixhauser A, Taylor RJ, AZ Kapikian. More on RotaShield and
intussusception: the role of age at the time of vaccination. Lebih lanjut mengenai
RotaShield dan intussusception: peran usia pada saat vaksinasi. J Infect Dis
2005;192(Suppl):S36--S43. Menginfeksi J Dis 2005; 192 (Suppl): S36 - S43.
73. WHO. WHO. Report of the Global Advisory Committee on Vaccine Safety,
December 1--2, 2005. Laporan Komite Penasihat Global mengenai Keamanan
Vaksin, 1 Desember - 2, 2005. Wkly Epidemiol Rec 2006;2:13--20. Wkly
Epidemiol Rec 2006; 2:13 - 20.
74. Haber P, Chen RT, Zanardi LR, Mootrey GT, English R, Braun MM. P Haber,
RT Chen, Zanardi LR, GT Mootrey, Inggris R, Braun MM. An analysis of
rotavirus vaccine reports to the vaccine adverse event reporting system: more than
intussusception alone? Analisis laporan vaksin rotavirus ke acara vaksin
merugikan sistem pelaporan: lebih dari intussusception sendirian? Pediatrics
2004;113:353--9. Pediatrics 2004; 113:353 - 9.
75. De Vos B, Vesikari T, Linhares AC, et al. De Vos B, T Vesikari, Linhares AC, et
al. A rotavirus vaccine for prophylaxis of infants against rotavirus gastroenteritis.
Vaksin Rotavirus untuk profilaksis bayi terhadap rotavirus gastroenteritis. Pediatr
Infect Dis J 2004;23(Suppl):S179--S82. Pediatr Infect Dis J 2004; 23 (Suppl):
S179 - S82.
76. Salinas B, Perez Schael I, Linhares AC, et al. B Salinas, Perez Schael saya,
Linhares AC, et al. Evaluation of safety, immunogenicity and efficacy of an
attenuated rotavirus vaccine, RIX4414: A randomized, placebo-controlled trial in
Latin American infants. Evaluasi keselamatan, imunogenisitas dan kemanjuran
vaksin rotavirus dilemahkan, RIX4414: Sebuah uji coba acak, plasebo-terkontrol
pada bayi Amerika Latin. Pediatr Infect Dis J 2005;24:807--16. Pediatr Infect Dis
J 2005; 24:807 - 16.
77. Ruiz-Palacios GM, Perez-Schael I, Velazquez FR, et al. GM Ruiz-Palacios,
Perez-Schael saya, FR Velazquez, et al. Safety and efficacy of an attenuated
vaccine against severe rotavirus gastroenteritis. Keselamatan dan kemanjuran
vaksin dilemahkan melawan rotavirus gastroenteritis berat. N Engl J Med
2006;354:11--22. N ENGL J Med 2006; 354:11 - 22.
78. Heaton PM, Goveia MG, Miller JM, Offit P, Clark HF. Heaton PM, MG Goveia,
JM Miller, P Offit, HF Clark. Development of a pentavalent rotavirus vaccine
against prevalent serotypes of rotavirus gastroenteritis. Pengembangan vaksin
rotavirus pentavalent terhadap serotipe umum rotavirus gastroenteritis. J Infect
Dis 2005;192(Suppl):S17--S21. Menginfeksi J Dis 2005; 192 (Suppl): S17 - S21.
79. Clark HF, Furukawa T, Bell LM, Offit PA, Perrella PA, Plotkin SA. Clark HF,
Furukawa T, Bell LM, PA Offit, PA Perrella, Plotkin SA. Immune response of
infants and children to low-passive bovine rotavirus (strain WC3). Respon imun
bayi dan anak-anak untuk rotavirus sapi rendah pasif (WC3 strain). Am J Dis
Child 1986;140:350--6. Am J Dis Child 1986; 140:350 - 6.
80. Vesikari T, Matson DO, Dennehy P, et al. T Vesikari, Matson DO, P Dennehy, et
al. Safety and efficacy of a pentavalent human-bovine (WC3) reassortant
rotavirus vaccine. Keselamatan dan kemanjuran vaksin manusia-sapi pentavalent
(WC3) reassortant rotavirus. N Engl J Med 2006;354:23--33. N ENGL J Med
2006; 354:23 - 33.
81. Block VT, Goveia M, Rivers S, et al. Blok VT, Goveia M, Sungai S, et al.
Efficacy, immunogenicity, and safety of a polyvalent rotavirus vaccine (RotaTeq)
at expiry potency in healthy infants. Khasiat, imunogenitas, dan keamanan vaksin
rotavirus polyvalent (RotaTeq) pada potensi kadaluwarsa pada bayi sehat. In:
National Immunization Conference. Dalam: Konferensi Imunisasi Nasional.
Washington, DC; 2005. Washington, DC; 2005.
82. CDC. CDC. General recommendations on immunization: recommendations of the
Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) and the American
Academy of Family Physicians (AAFP). Umum rekomendasi mengenai
imunisasi: rekomendasi Komite Penasehat Imunisasi Praktek (ACIP) dan
American Academy of Family Physicians (AAFP). MMWR 2002;51(No. RR-2).
MMWR 2002; 51 (No-RR 2).
83. Myaux JA, Unicomb L, Besser RE, et al. Myaux JA, L Unicomb, RE Besser, et
al. Effect of diarrhea on the humoral response to oral polio vaccination. Pengaruh
diare pada respon humoral vaksinasi polio oral. Pediatr Infect Dis J 1996;15:204--
9. Pediatr Infect Dis J 1996; 15:204 - 9.
84. Davis RL, Kolczak M, Lewis E, et al. Davis RL, M Kolczak, Lewis E, et al.
Active surveillance of vaccine safety: a system to detect early signs of adverse
events. Surveilans aktif keamanan vaksin: suatu sistem untuk mendeteksi tanda-
tanda awal kejadian buruk. Epidemiology 2005;16:336--41. Epidemiologi 2005;
16:336 - 41.
85. Tai J, Curns AT, Parashar UD, Bresee JS, Glass RI. J tai, Curns AT, Parashar UD,
Bresee JS, RI Glass. Rotavirus vaccination and intussusception: can we decrease
temporally associated background cases of intussusception by restricting the
vaccination schedule. vaksinasi Rotavirus dan intussusception: kita bisa
mengurangi kasus-kasus terkait latar belakang temporal intussusception dengan
membatasi jadwal vaksinasi. Pediatrics. Pediatrics. In press 2006. Pada tahun
2006 tekan.

Advisory Committee on Immunization Practices Rotavirus Vaccine Work Group Komite Penasehat
Kelompok Praktek Imunisasi Vaksin Rotavirus Kerja

Chair: John Treanor, MD, Rochester, New York. Ketua: Treanor John, MD, Rochester, New York.

Members: James Alexander, MD, Atlanta, Georgia; Umesh Parashar, MBBS, Atlanta, Georgia; Marc-
Alain Widdowson, MA, Atlanta, Georgia; Rosemary Tiernan, Bethesda, Maryland; Hector Izurieta, MD,
Rockville Maryland; Geoffrey Evans, MD, Rockville, Maryland; Roger Glass, MD, Atlanta, Georgia;
Edgar Marcuse, MD, Seattle, Washington; Trudy Murphy, MD, Atlanta, Georgia; Paul Gargiullo, PhD,
Atlanta, Georgia; Larry Pickering, Atlanta, Georgia; Jane Seward, MD, Atlanta, Georgia; Penina Haber,
Atlanta, Georgia; Greg Wallace, MD, Atlanta, Georgia; Penelope Dennehy, MD, Providence, Rhode
Island; Samuel Katz, MD, Durham, North Carolina; John Modlin, MD, Lebanon, New Hampshire; and
Paul Offit, MD, Philadelphia, Pennsylvania. Anggota: James Alexander, MD, Atlanta, Georgia; Umesh
Parashar, MBBS, Atlanta, Georgia;-Alain Widdowson Marc, MA, Atlanta, Georgia; Tiernan Rosemary,
Bethesda, Maryland; Izurieta Hector, MD, Maryland Rockville, Geoffrey Evans, MD , Rockville,
Maryland, Roger Glass, MD, Atlanta, Georgia; Edgar Marcuse, MD, Seattle, Washington; Murphy Trudy,
MD, Atlanta, Georgia; Gargiullo Paul, PhD, Atlanta, Georgia, Larry Pickering, Atlanta, Georgia; Seward
Jane , MD, Atlanta, Georgia; Haber Penina, Atlanta, Georgia, Greg Wallace, MD, Atlanta, Georgia;
Dennehy Penelope, MD, Providence, Rhode Island, Samuel Katz, MD, Durham, North Carolina; Modlin
Yohanes, MD, Lebanon, New Hampshire, dan Offit Paul, MD, Philadelphia, Pennsylvania.

Advisory Committee on Immunization Practices Komite Penasehat Praktek Imunisasi

Membership List, July 2006 Daftar Keanggotaan, Juli 2006

Chairman: Jon S. Abramson, MD, Wake Forest University School of Medicine, Winston-Salem, North
Carolina. Ketua: Jon S. Abramson, MD, Wake Forest University School of Medicine, Winston-Salem,
Carolina Utara.

Executive Secretary: Larry K. Pickering, MD, CDC, Atlanta, Georgia. Sekretaris Eksekutif: Pickering
K. Larry, MD, CDC, Atlanta, Georgia.

Members: Ban Mishu Allos, MD, Vanderbilt University School of Medicine, Nashville, Tennessee;
Robert L. Beck, Palmyra, Virginia; Judith Campbell, MD, Baylor College of Medicine, Houston, Texas;
Reginald Finger, MD, Colorado Springs, Colorado; Janet R. Gilsdorf, MD, University of Michigan, Ann
Arbor, Michigan; Harry Hull, MD, Minnesota Department of Health, Minneapolis, Minnesota; Tracy Lieu,
MD, Harvard Pilgrim Health Care and Harvard Medical School, Boston, Massachusettes; Edgar K.
Marcuse, MD, Children's Hospital and Regional Medical Center, Seattle, Washington; Dale L. Morse, MD,
New York State Department of Health, Albany, New York; Julia Morita, MD, Chicago Department of
Public Health, Chicago, Illinois; Gregory A. Poland, MD, Mayo Clinic and Foundation, Rochester,
Minnesota; Patricia Stinchfield, Children's Hospitals and Clinics, St. Paul, Minnesota; John J. Treanor,
MD, University of Rochester, Rochester, New York; and Robin J. Womeodu, MD, University of Tennessee
Health Science Center, Memphis, Memphis, Tennessee. Anggota: Mishu allos Ban, MD, Sekolah
Kedokteran Universitas Vanderbilt, Nashville, Tennessee; Robert L. Beck, Palmyra, Virginia, Judith
Campbell, MD, Baylor College of Medicine, Houston, Texas; Finger Reginald, MD, Colorado Springs,
Colorado ; Janet R. Gilsdorf, MD, University of Michigan, Ann Arbor, Michigan, Harry Hull, MD,
Departemen Kesehatan Minnesota, Minneapolis, Minnesota; Pengganti Tracy, MD, Perawatan Kesehatan
Haji Harvard dan Sekolah Kedokteran Harvard, Boston, Massachusettes; Edgar Marcuse K., MD,'s Rumah
Sakit Anak dan Regional Medical Center, Seattle, Washington; Dale L. Morse, MD, New York State
Departemen Kesehatan, Albany, New York; Julia Morita, MD, Chicago Chicago Department of Public
Health,, Illinois ; Gregory Polandia A., MD, Mayo Clinic dan Yayasan, Rochester, Minnesota; Patricia
Stinchfield,'s Rumah Sakit Anak-anak dan Klinik, St Paul, Minnesota; John J. Treanor, MD, University of
Rochester, Rochester, New York; dan Robin J .. Womeodu, MD, Universitas Tennessee Ilmu Kesehatan
Center, Memphis, Memphis, Tennessee

Ex-Officio Members: James Cheek, MD, Indian Health Service, Albuquerque, New Mexico; Wayne
Hachey, DO, Department of Defense, Falls Church, Virginia; Geoffrey S. Evans, MD, Health Resources
and Services Administration, Rockville, Maryland; Bruce Gellin, MD, National Vaccine Program Office,
Washington, DC; Linda Murphy, Centers for Medicare and Medicaid Services, Baltimore, Maryland;
George T. Curlin, MD, National Institutes of Health, Bethesda, Maryland; Norman Baylor, PhD, US Food
and Drug Administration, Rockville, Maryland; and Kristin Lee Nichol, MD, Department of Veterans
Affairs, Minneapolis, Minnesota. Ex-Officio Anggota: James Pipi, MD, India Pelayanan Kesehatan,
Albuquerque, New Mexico, Hachey Wayne, DO, Departemen Pertahanan, Falls Church, Virginia;, Evans
S. MD, Kesehatan Sumber Daya dan Jasa Administrasi, Rockville, Maryland Geoffrey; bruce Gellin, MD,
Kantor Program Vaksin Nasional, Washington, DC; Linda Murphy, Pusat Pelayanan Medicare dan
Medicaid, Baltimore, Maryland; George Curlin T., MD, Lembaga Kesehatan Nasional, Bethesda,
Maryland; Baylor Norman, PhD, AS Administrasi Makanan dan Obat, Rockville, Maryland, dan Lee
Kristin Nichol, MD, Departemen Urusan Veteran, Minneapolis, Minnesota.
Liaison Representatives: Johathan Temte, MD, Madison, Wisconsin, Doug Campos-Outcalt, MD,
Phoenix, Arizona, American Academy of Family Physicians; Keith Powell, MD, Akron, Ohio, Carol
Baker, MD, Houston, Texas, American Academy of Pediatrics; Andrea Gelzer, MD, Hartford, Connecticut,
America's Health Insurance Plans; James C. Turner, MD, Charlottesville, Virginia, American College
Health Association; Stanley Gall, MD, Louisville, Kentucky, American College of Obstetricians and
Gynecologists; Kathleen M. Neuzil, MD, Seattle, Washington, American College of Physicians; Litjen
Tan, PhD, Chicago, Illinois, American Medical Association; Stephan L. Foster, PharmD, Memphis,
Tennessee, American Pharmacists Association; Paul W., McKinney, MD, Louisville,
Kentucky,Association of Teachers of Preventive Medicine; Clement Lewin, PhD, Orange, Connecticut,
Biotechnology Industry Organization; Monica Naus, MD, Vancouver, British Columbia, Canada, Canadian
National Advisory Committee on Immunization; Steve Gordon, MD, Cleveland, Ohio, Healthcare Infection
Control Practices Advisory Committee; Samuel L. Katz, MD, Durham, North Carolina, Infectious Diseases
Society of America; David Salisbury, MD, London, England, United Kingdom, London Department of
Health; Nancy Bennett, MD, Rochester, New York, Jeffrey Duchin, MD, Seattle, Washington, National
Association of County and City Health Officials; David A. Neumann, PhD, Alexandria, Virginia, National
Coalition for Adult Immunization; William Schaffner, MD, Nashville, Tennessee, National Foundation for
Infectious Diseases; Romeo S. Rodriquez, Mexico, National Immunization Council and Child Health
Program, Mexico; Patricia Whitley-Williams, MD, New Brunswick, New Jersey, Peter Paradiso, PhD,
Collegeville, Pennsylvania, National Medical Association; and Amy B. Middleman, MD, Houston, Texas,
Society for Adolescent Medicine. Perwakilan Penghubung: Johathan Temte, MD, Madison, Wisconsin,
Doug Campos-Outcalt, MD, Phoenix, Arizona, American Academy of Physicians Keluarga; Powell Keith,
MD, Akron, Ohio, Carol Baker, MD, Houston, Texas, American Academy of pediatri; Andrea Gelzer, MD,
Hartford, Connecticut, Amerika Rencana Kesehatan Asuransi; James C. Turner, MD, Charlottesville,
Virginia, American College Asosiasi Kesehatan; Gall Stanley, MD, Louisville, Kentucky, American
College of Obstetricians dan Gynecologists; M Kathleen . Neuzil, MD, Seattle, Washington, American
College of Physicians; Tan Litjen, PhD, Chicago, Illinois, American Medical Association; L. Foster,
PharmD, Stephan Memphis, Tennessee, Amerika Apoteker Dasar; W. Paul, McKinney, MD, Louisville,
Kentucky, Asosiasi Guru Kedokteran Pencegahan; Lewin Clement, PhD, Orange, Connecticut,
Bioteknologi Industri Organisasi; Monica Naus, MD, Vancouver, British Columbia, Kanada, Komite
Penasehat Nasional Kanada di Imunisasi; Gordon Steve, MD, Cleveland, Ohio, Pengendalian Infeksi
Praktek Kesehatan Komite Penasehat; Samuel L. Katz, MD, Durham, North Carolina, Infectious Diseases
Society of America; David Salisbury, MD, London, Inggris, Inggris, London Departemen Kesehatan;
Bennett Nancy, MD, Rochester , New York, Duchin Jeffrey, MD, Seattle, Washington, Asosiasi Nasional
Pejabat Kesehatan Kota dan Kabupaten; David A. Neumann, PhD, Alexandria, Virginia, Koalisi Nasional
untuk Imunisasi Dewasa; Schaffner William, MD, Nashville, Tennessee, Yayasan Nasional untuk Penyakit
Infeksi; Romeo S. Rodriquez, Meksiko, Dewan Imunisasi Nasional dan Program Kesehatan Anak,
Meksiko, Patricia Whitley-Williams, MD, New Brunswick, New Jersey, Peter Paradiso, PhD, Collegeville,
Pennsylvania, Asosiasi Medis Nasional; dan Amy B ,. perantara MD, Houston, Texas, Masyarakat
Kedokteran Remaja.

Table 1 Tabel 1
Return to top. Kembali ke atas.
Figure 1 Gambar 1

Return to top. Kembali ke atas.


Table 2 Tabel 2
Return to top. Kembali ke atas.
Figure 2 Gambar 2

Return to top. Kembali ke atas.


Table 3 Tabel 3
Return to top. Kembali ke atas.
Figure 3 Gambar 3

Return to top. Kembali ke atas.


Table 4 Tabel 4
Return to top. Kembali ke atas.
Box Kotak
Gastroenteritis: pertolongan pertama
• Basics Dasar-dasar
• In-Depth Mendalam

Free Gratis

E-Newsletters E-Newsletter

Subscribe to receive the latest updates on health topics. About our newsletters
Berlangganan untuk menerima update terbaru pada topik kesehatan. Tentang newsletter
kami

• Housecall Housecall
• Alzheimer's caregiving Alzheimer pengasuhan
• Living with cancer Hidup dengan kanker

Berlangganan

close window menutup jendela

About our e-newsletters Tentang e-newsletter


• Free e-newsletters Free e-newsletter
• Mayo Clinic expertise Mayo Clinic keahlian
• We do not share your e-mail address Kami tidak berbagi alamat e-mail Anda

Housecall, our weekly general-interest e-newsletter, keeps you up to date on a wide


variety of health topics with timely, reliable, practical information, recipes, blogs,
questions and answers with Mayo Clinic experts and more. Housecall, mingguan umum
kita-bunga e-newsletter, membuat Anda tetap up to date pada berbagai macam topik
kesehatan dengan tepat waktu, informasi yang dapat dipercaya, praktis, resep, blog,
pertanyaan dan jawaban dengan ahli Mayo Clinic dan banyak lagi. Our biweekly topic-
specific e-newsletters also include blogs, questions and answers with Mayo Clinic
experts, and other useful information that will help you manage your health. dua
mingguan kami topik-khusus e-newsletter juga termasuk blog, pertanyaan dan jawaban
dengan para ahli dari Mayo Clinic, dan informasi lainnya yang akan membantu Anda
mengelola kesehatan Anda.

Housecall Archives Housecall Arsip

RSS Feeds RSS Feed

close window menutup jendela

Mayo Clinic Housecall Mayo Clinic Housecall


Stay up to date on the latest health information. Tetap up to date pada
informasi kesehatan terkini.

What you get Apa yang kamu dapatkan

• Free weekly e-newsletter Free e-newsletter mingguan


• Mayo Clinic expertise Mayo Clinic keahlian
• Recipes, tools and other helpful information Resep, peralatan dan informasi
bermanfaat lainnya
• We do not share your e-mail address Kami tidak berbagi alamat e-mail Anda

• Sign up Sign up
• View past issues Lihat masa lalu isu
Mayo Clinic Health Manager Mayo Clinic Manager
Kesehatan
Get free personalized health guidance for you and your family. Dapatkan panduan
kesehatan pribadi gratis untuk Anda dan keluarga Anda.

Get Started Memulai


By Mayo Clinic staff Oleh staf Mayo Clinic

Gastroenteritis is an inflammation of your stomach and intestines. Gastroenteritis adalah


peradangan dari perut dan usus. Common causes are: Penyebab umumnya adalah:

• Viruses. Virus.
• Food or water contaminated by bacteria or parasites. Makanan atau air yang
terkontaminasi oleh bakteri atau parasit.
• Reaction to a new food. Reaksi terhadap makanan baru. Young children may
develop signs and symptoms for this reason. Anak-anak dapat mengembangkan
tanda dan gejala untuk alasan ini. Infants who are breast-fed may even react to a
change in their mothers' diets. Bayi yang disusui bahkan mungkin bereaksi
terhadap perubahan dalam diet ibu mereka '.
• Side effect from medications. Efek samping dari obat.

Characteristic signs and symptoms include: Karakteristik tanda-tanda dan gejala


termasuk:

• Nausea or vomiting Mual atau muntah


• Diarrhea Diare
• Abdominal cramps Kram perut
• Bloating Kembung
• Low-grade fever (sometimes) Low-grade demam (kadang-kadang)

Depending on the cause of the inflammation, symptoms may last from one day to longer
than a week. Tergantung pada penyebab peradangan, gejala dapat berlangsung dari hari
ke lebih dari seminggu.

If you suspect gastroenteritis in yourself: Jika Anda mencurigai gastroenteritis


dalam diri Anda:

• Stop eating and drinking for a few hours to let your stomach settle. Berhenti
makan dan minum selama beberapa jam untuk membiarkan perut Anda
menetap.
• Drink plenty of liquids, such as a sports drink or water, to prevent dehydration.
Minum banyak cairan, seperti minuman olahraga atau air, untuk mencegah
dehidrasi. If you have trouble tolerating liquids, take them in frequent sips. Jika
Anda memiliki masalah toleransi cairan, membawa mereka dalam menyeruput
sering. Make sure that you're urinating normally, and that your urine is light and
clear and not dark. Pastikan bahwa Anda buang air kecil biasa, dan bahwa urin
Anda adalah terang dan jelas dan tidak gelap. Infrequent passage of dark urine is a
sign of dehydration. jarang bagian urin gelap tanda dehidrasi. Dizziness or
lightheadedness also are signs of dehydration. Pusing atau ringan juga adalah
tanda-tanda dehidrasi. If any of these symptoms occur and you can't drink enough
fluids, seek medical attention. Jika gejala-gejala tersebut terjadi dan Anda tidak
dapat minum cairan yang cukup, dapatkan bantuan medis.
• Ease back into eating. Gradually begin to eat bland, easy-to-digest foods, such as
soda crackers, toast, gelatin, bananas, rice and chicken. Kemudahan kembali ke
makan. Bertahap mulai makan lembut, mudah-mencerna makanan, seperti
kerupuk soda, roti bakar, gelatin, pisang, nasi dan ayam. Stop eating if your
nausea returns. Hentikan makan jika mual kembali. Avoid milk and dairy
products, caffeine, alcohol, nicotine, and fatty or highly seasoned foods for a few
days. Hindari susu dan produk susu, kafein, alkohol, nikotin, dan makanan
berlemak atau sangat berpengalaman selama beberapa hari.
• Consider acetaminophen (Tylenol, others) for relief of discomfort, unless you
have liver disease. Pertimbangkan asetaminofen (Tylenol, orang lain) untuk
menghilangkan rasa tidak nyaman, kecuali jika Anda memiliki penyakit hati.
• Get plenty of rest. The illness and dehydration can make you weak and tired.
Istirahat yang cukup. Penyakit dan dehidrasi bisa membuat Anda lemah dan
lelah.

Get medical help if: Mendapatkan bantuan medis jika:

• Vomiting persists for more than two days Muntah berlangsung lebih dari dua hari
• Diarrhea persists for longer than several days Diare berlangsung lebih dari
beberapa hari
• Diarrhea turns bloody Diare berdarah ternyata
• Fever is 101 F (38.3 C) or higher Demam adalah 101 F (38,3 C) atau lebih tinggi
• Lightheadedness or fainting occurs with standing Ringan atau pingsan terjadi
dengan berdiri
• Confusion develops Kebingungan mengembangkan
• Worrisome abdominal pain develops sakit perut berkembang mengkhawatirkan

If you suspect gastroenteritis in your child: Jika Anda menduga gastroenteritis pada
anak Anda:

• Allow your child to rest. Biarkan anak Anda untuk beristirahat.


• When your child's vomiting stops, begin to offer small amounts of an oral
rehydration solution, such as Pedialyte or Infalyte. Ketika anak Anda muntah
berhenti, mulai menawarkan sejumlah kecil larutan rehidrasi oral, seperti
Pedialyte atau Infalyte. Don't use only water. Jangan gunakan air saja. In children
with gastroenteritis, water isn't absorbed well and won't adequately replace lost
fluids. Pada anak-anak dengan gastroenteritis, air tidak diserap dengan baik dan
tidak akan cukup menggantikan cairan yang hilang. Also avoid apple juice and
milk, which can make diarrhea worse. Juga hindari jus apel dan susu, yang dapat
membuat diare lebih buruk.
• Gradually introduce bland, easy-to-digest foods, such as toast, rice, bananas and
potatoes. Secara bertahap memperkenalkan lembut, mudah-mencerna makanan,
seperti roti bakar, beras, pisang dan kentang. Avoid giving your child dairy
products and sugary foods, such as ice cream, sodas and candy. Hindari
memberikan produk susu anak dan makanan manis, seperti es krim, soda dan
permen. These can make diarrhea worse. Ini bisa membuat diare lebih buruk.
• Consider acetaminophen (Tylenol, others) for relief of discomfort, unless your
child has liver disease. Pertimbangkan asetaminofen (Tylenol, orang lain) untuk
menghilangkan rasa tidak nyaman, kecuali anak Anda memiliki penyakit hati.
Don't give your child aspirin. Jangan berikan aspirin anak Anda.
• If you have a sick infant, let your baby's stomach rest for 30 to 60 minutes, then
offer small amounts of liquid. Jika Anda memiliki bayi sakit, membiarkan sisanya
perut bayi Anda selama 30 sampai 60 menit, kemudian menawarkan sejumlah
kecil cairan. If you're breast-feeding, let your baby nurse. Jika Anda menyusui,
biarkan perawat bayi Anda. If your baby is bottle-fed, offer a small amount of an
oral rehydration formula (Pedialyte, Infalyte) or regular formula. Jika bayi Anda
susu botol, menawarkan sejumlah kecil formula rehidrasi oral (Pedialyte, Infalyte)
atau formula biasa.

Get medical help if your child: Mendapatkan bantuan medis jika anak Anda:

• Becomes unusually drowsy. Menjadi luar biasa mengantuk.


• Vomits blood. Muntah darah.
• Has bloody diarrhea. Apakah diare berdarah.
• Shows signs of dehydration, such as dry mouth and skin, marked thirst, sunken
eyes, or crying without tears. Menunjukkan tanda-tanda dehidrasi, seperti mulut
kering dan kulit, haus ditandai, mata cekung, atau menangis tanpa air mata. In an
infant, be alert to the soft spot on the top of the head becoming sunken and to
diapers that remain dry for more than eight hours. Pada bayi, waspada terhadap
titik lemah di bagian atas kepala menjadi cekung dan popok yang tetap kering
selama lebih dari delapan jam.
• Is younger than age 2 and has a fever for longer than one day or is age 2 or older
and has a fever for longer than three days. Lebih muda dari usia 2 dan demam
selama lebih dari satu hari atau usia 2 atau lebih dan mengalami demam selama
lebih dari tiga hari.

Hasil pemeriksaan
Laboratory Studies Laboratorium Studi

• General laboratory evaluation Umum evaluasi laboratorium


o In most cases that fit the clinical features of viral gastroenteritis, lab tests
are not indicated. Dalam kebanyakan kasus yang sesuai dengan fitur klinis
gastroenteritis virus, tes laboratorium tidak ditunjukkan.
o If bacterial or protozoal infection is suspected, stool studies for occult
blood, WBC count, microscopy for protozoa, Clostridium difficile toxin,
Giardia lamblia by enzyme immunoassay (EIA), or bacterial culture may
be indicated. Jika infeksi bakteri atau protozoa dicurigai, studi feses untuk
darah yang tersembunyi, hitung WBC, mikroskop untuk protozoa, racun
Clostridium difficile, Giardia lamblia oleh enzim immunoassay (EIA),
atau kultur bakteri mungkin ditunjukkan.
o Consider investigating patients with low-grade fever, nausea, vomiting,
abdominal pain, and extreme dehydration by evaluating serum
electrolytes, urea, creatinine, amylase, CBC count, and abdominal imaging
studies. Pertimbangkan menyelidiki pasien dengan demam ringan, mual,
muntah, sakit perut, dan dehidrasi ekstrim oleh elektrolit serum
mengevaluasi, urea, kreatinin, amilase, jumlah CBC, dan pencitraan perut.
• Diagnosis of rotavirus infection Diagnosis infeksi rotavirus
o Rapid antigen testing of the stool, either by EIA (>98% sensitivity and
specificity) or latex agglutination tests (less sensitive and specific as
compared to EIA), is used to aid in the diagnosis of rotavirus infection.
Rapid antigen pengujian bangku, baik oleh EIA (> sensitivitas 98% dan
spesifisitas) atau tes aglutinasi lateks (kurang sensitif dan spesifik
dibandingkan dengan EIA), digunakan untuk membantu dalam diagnosis
infeksi rotavirus.
o Expect antirotavirus antibodies (ie, immunoglobulin M, immunoglobulin
A) to be excreted in the stool after the first day of illness. Mengharapkan
antibodi antirotavirus (yaitu, M immunoglobulin, immunoglobulin A)
untuk dibuang dalam tinja setelah hari pertama sakit. Antibody tests can
remain positive for 10 days after primary infection and longer after
reinfection; therefore, they can be used as an adjunct to diagnosis. Tes
Antibodi dapat tetap positif selama 10 hari setelah infeksi primer dan lebih
lama setelah infeksi ulang, sehingga mereka dapat digunakan sebagai
tambahan untuk diagnosis.
• Diagnosis of calicivirus infection Diagnosis infeksi calicivirus
o In epidemics, save stool and emesis specimens for evaluation by public
health officials. Dalam epidemi, menyimpan bangku dan spesimen emesis
untuk evaluasi oleh pejabat kesehatan masyarakat. Polymerase chain
reaction is valuable in both the outbreak setting and the sporadic case
setting. Polymerase chain reaction yang berharga baik dalam pengaturan
wabah dan pengaturan kasus sporadis.
o Researchers have cloned several of the caliciviruses and placed the
genome in a baculovirus that produces unlimited amounts of recombinant
calicivirus capsid protein. Para peneliti berhasil mengkloning beberapa
genom caliciviruses dan ditempatkan dalam sebuah baculovirus yang
menghasilkan jumlah tak terbatas calicivirus rekombinan protein kapsid.
Enzyme immunoassays for serum antibody and stool antigen have been
developed using this antigen source. immunoassays Enzim untuk antibodi
serum dan antigen tinja telah dikembangkan menggunakan sumber
antigen.
o A modification to the polymerase chain reaction has allowed many of the
different strains of caliciviruses to be recognized with just a few primers
(broadly reactive reverse-transcription polymerase chain reaction). Sebuah
modifikasi reaksi berantai polimerase telah memungkinkan banyak strain
yang berbeda caliciviruses harus diakui hanya dengan beberapa primer
(luas reaktif transkripsi reverse-polymerase chain reaction). These primers
are directed at a region of the genome that is common to many of the
strains of calicivirus. Primer ini diarahkan pada daerah genom yang umum
bagi banyak alunan calicivirus. This has been an important tool for
identifying caliciviruses as the most common cause of epidemic viral
gastroenteritis. Hal ini telah menjadi alat yang penting untuk
mengidentifikasi caliciviruses sebagai penyebab paling umum dari
Gastroenteritis epidemi virus.
o Fecal viral concentration of norovirus correlates with duration of illness.
tinja konsentrasi virus norovirus berkorelasi dengan durasi penyakit. As in
most viral infections, active viral replication determines clinical disease.
Seperti dalam infeksi virus paling, replikasi virus aktif menentukan
penyakit klinis. High fecal viral concentrations suggest the need for both
aggressive fluid replacement and stringent infection control measures. 8
tinja konsentrasi virus yang tinggi menunjukkan kebutuhan baik untuk
pengganti cairan agresif dan pengendalian infeksi tindakan ketat. 8

Pengobatan
Medical Care Perawatan Medis

In 1996, the American Academy of Pediatrics formulated and published practice


guidelines for the management of acute gastroenteritis in children. Pada tahun 1996,
American Academy of Pediatrics dirumuskan dan menerbitkan panduan praktek untuk
pengelolaan gastroenteritis akut pada anak. Use the following parameters to assess the
degree of dehydration: blood pressure, pulse, heart rate, skin turgor, fontanelle, mucous
membranes, eyes, extremities, mental status, urine output, and thirst. Gunakan parameter
berikut untuk menilai derajat dehidrasi: tekanan darah, denyut nadi, denyut jantung,
turgor kulit, ubun, selaput lendir, mata, ekstremitas, status mental, output urine, dan haus.

• The treatment of rotavirus diarrhea is based primarily on replacing fluids and


electrolytes, as directed by the estimated degree of dehydration. Pengobatan diare
rotavirus didasarkan terutama pada cairan penggantian dan elektrolit, seperti yang
diarahkan oleh perkiraan tingkat dehidrasi.
• Oral rehydration therapy is recommended for preventing and treating early
dehydration and continued replacement therapy for ongoing loses. Terapi
rehidrasi oral dianjurkan untuk mencegah dan mengobati dehidrasi dini dan terapi
penggantian lanjutan untuk terus menerus kalah.
• Shock, severe dehydration, and decreased consciousness require intravenous
therapy. Shock, dehidrasi berat, dan penurunan kesadaran membutuhkan terapi
intravena.
• Age-appropriate diets should be continued in children with diarrhea who are not
dehydrated. Umur diet yang sesuai harus dilanjutkan pada anak dengan diare yang
tidak dehidrasi. When mild-to-moderately dehydrated children are rehydrated,
resume age-appropriate diet. Ketika ringan hingga sedang anak dehidrasi yang
direhidrasi, melanjutkan diet yang sesuai dengan usia.
• Administering antiemetics and antidiarrheal agents to small children is not
recommended. Menyelenggarakan antiemetik dan agen antidiare kepada anak-
anak kecil tidak dianjurkan.
• Several studies have shown that antirotavirus immunoglobulin, as pooled gamma
globulin, bovine colostrum, or human milk, may decrease frequency and duration
of diarrhea. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa imunoglobulin
antirotavirus, seperti mengumpulkan globulin gamma, kolostrum sapi, atau susu
manusia, dapat menurunkan frekuensi dan durasi diare.
• Small studies have suggested that zinc supplements may reduce the severity and
duration of illness. penelitian kecil telah menyarankan bahwa suplemen seng
dapat mengurangi keparahan dan durasi penyakit.

Probiotics are nonpathogenic live microorganisms that provide beneficial effects on the
health of the host. Probiotik adalah mikroorganisme hidup nonpathogenic yang
memberikan efek yang menguntungkan pada kesehatan tuan rumah. In recent years,
probiotics have entered mainstream medical practice, as a decrease in the severity and
duration of infectious gastroenteritis has been shown in some strains. 9 Dalam beberapa
tahun terakhir, probiotik telah memasuki praktek medis mainstream, sebagai penurunan
dalam keparahan dan lamanya infeksi gastroenteritis telah ditunjukkan dalam beberapa
strain. 9

• Probiotics help to improve the balance of the intestinal microflora, although the
exact mechanism of action is incompletely understood. Probiotik membantu
meningkatkan keseimbangan mikroflora usus, walaupun mekanisme yang tepat
tindakan adalah tidak sempurna dipahami. Hypothesized mechanisms include
suppression of growth or invasion by pathogenic bacteria, improvement of
intestinal barrier function, and effects on immune function. 10 Hipotesa
mekanisme termasuk penekanan pertumbuhan atau invasi oleh bakteri patogen,
peningkatan fungsi barrier usus, dan efek pada fungsi kekebalan tubuh. 10
• Literature shows a statistically significant, but clinically moderate, benefit for
some strains, mainly in infants and young children, in the treatment of acute
watery diarrhea, especially in rotavirus gastroenteritis. 9 Sastra menunjukkan
signifikan, namun secara klinis moderat, manfaat statistik untuk beberapa strain,
terutama pada bayi dan anak-anak muda, dalam pengobatan diare akut, terutama
di rotavirus gastroenteritis. 9
• Until further data are available, only those organisms that have been clinically
tested can be reasonably recommended, Lactobacillus casei GG and S boulardii
being the most reported. Sampai data lebih lanjut yang tersedia, hanya mereka
organisme yang telah teruji secara klinis dapat cukup direkomendasikan, casei
Lactobacillus GG dan S boulardii yang paling dilaporkan. Limited data and
modest expected benefit must be explained to patients. 9 Keterbatasan data dan
manfaat yang diharapkan sederhana harus dijelaskan kepada pasien. 9

al of Pediatrics dan Neonatologi ™ ISSN:


1528-8374
| Home | Editors | Current Issue | Archives | Instructions for Authors | Disclaimer | | Home
| Redaksi | Isu Lancar | Arsip | Petunjuk untuk Penulis | Disclaimer | Share with
others Berbagi dengan orang lain ||

Factors Predisposing Infants To


Gastroenteritis Among Poor, Urban,
Filipino Families Faktor predisposisi
Bayi Untuk Gastroenteritis Di antara
Miskin, Perkotaan, Keluarga Filipina
Read printer friendly Baca printer friendly
Subscribe in a reader Berlangganan di seorang pembaca
Share with others Berbagi dengan orang lain

Caroline Fertleman Dr. Dr Caroline Fertleman


Wellcome Research Training Fellow Wellcome Penelitian Pelatihan Fellow
Department of Paediatrics and Child Health Departemen Pediatri dan Kesehatan Anak
University College London University College London

Gillian R. Bentley Dr. Dr Gillian R. Bentley


Royal Society Research Fellow Royal Society Research Fellow
Department of Anthropology Departemen Antropologi
University College London University College London

Citation: C. Citation: C. Fertleman & GR Bentley : Factors Predisposing Infants To Gastroenteritis


Among Poor, Urban, Filipino Families . The Internet Journal of Pediatrics and Neonatology. 2003 Volume
3 Number 1 Fertleman & Bentley GR: Faktor-faktor predisposisi Bayi Untuk Gastroenteritis Di antara
Miskin, Perkotaan, Keluarga Filipina 1. Internet Journal of Pediatrics dan Nomor Neonatology. 2003
Volume 3

Table of Contents Daftar isi


• Introduction Pengantar
• Methods Metode
• Results Hasil
• Discussion Diskusi
• Nutrition Nutrisi
• Water Supplementation, Sanitatio... Air Suplementasi, Sanitatio ...
• Feeding Method Makanan Metode
• Conclusion Kesimpulan
• Acknowledgements Ucapan Terima Kasih
• Corresponding Author Sesuai Pengarang

Abstract Abstrak
A cross-sectional study was undertaken between November 1989 and January 1990 to
assess the relationship between nutritional status, water quality, feeding practices and
diarrhoeal diseases in 50 infants who had gastroenteritis, and 50 healthy infants from
poor urban families in Metropolitan Manila. Sebuah studi cross-sectional ini dilakukan
antara bulan November 1989 dan Januari 1990 untuk menilai hubungan antara status gizi,
kualitas air, praktek makan dan penyakit diare pada 50 bayi yang telah gastroenteritis,
dan 50 bayi sehat dari keluarga miskin di kota Metropolitan Manila. Information was
obtained from mothers in a hospital setting concerning feeding practices, age and sex of
the infant, quality of the water supply, and whether water used for feeding was boiled.
Informasi diperoleh dari ibu di rumah sakit mengenai praktek makan, umur dan jenis
kelamin bayi, kualitas pasokan air, dan apakah air yang digunakan untuk makan direbus.
Infants were weighed and examined to determine the degree of malnutrition. Bayi
ditimbang dan diperiksa untuk menentukan derajat gizi buruk. Better nutrition and
supplementation of water in addition to feeds were inversely associated with the
occurrence of gastroenteritis. nutrisi yang lebih baik dan suplemen air selain pakan yang
berbanding terbalik dikaitkan dengan terjadinya gastroenteritis. Breast-fed infants were
better nourished than formula-fed infants. Bayi yang diberi ASI lebih baik dipelihara
daripada bayi susu formula. These findings underscore the importance of adequate
nutrition and hygiene in reducing rates of infant morbidity. Temuan ini menggarisbawahi
pentingnya gizi yang cukup dan kebersihan dalam mengurangi tingkat morbiditas bayi.

Introduction Pengantar
Diarrhoeal illnesses account for a large proportion of childhood morbidity and mortality
in the developing world where the levels of hygiene and nutrition may be poor 1 2 .
penyakit Diarrhoeal account untuk sebagian besar morbiditas dan mortalitas anak di
negara berkembang dimana tingkat kebersihan dan gizi mungkin buruk 1 2. Infants have
proven to be particularly vulnerable 3 . Bayi telah terbukti sangat rentan 3. Factors
associated with infant diarrhoeal illnesses can be divided into exposure and resistance
factors. Faktor yang terkait dengan penyakit diare bayi dapat dibagi menjadi faktor
eksposur dan perlawanan. The former includes water quality, availability, and household
sanitation, and the latter includes infant feeding methods and nutritional status. Yang
pertama meliputi kualitas air, ketersediaan, dan sanitasi rumah tangga, dan yang terakhir
termasuk metode pemberian makan bayi dan status gizi. These, together with other
variables, have been collectively referred to as “intermediate,” or “proximate”
determinants in the epidemiology of diarrhoeal diseases 4 . Ini, bersama-sama dengan
variabel lain, telah secara kolektif disebut sebagai "menengah," atau "proksimat" penentu
dalam epidemiologi penyakit diare 4.

The infant mortality rate in the Philippines in 1990 was 43 per 100 5 with diarrhoeal
diseases accounting for 17% of all deaths for children under two 6 . Angka kematian bayi
di Filipina pada tahun 1990 adalah 43 per 100 5 dengan akuntansi penyakit diare untuk
17% dari seluruh kematian untuk anak di bawah dua 6. These causes are not, however,
mutually exclusive as undernutrition can severely increase the risks of respiratory and
gastrointestinal illnesses for infants while episodes of diarrhoea, in turn, exacerbate
nutritional ill health. Ini menyebabkan tidak, bagaimanapun, saling eksklusif sebagai gizi
parah dapat meningkatkan risiko penyakit pernapasan dan pencernaan untuk bayi
sementara episode diare, pada gilirannya, memperburuk kesehatan yang buruk gizi.
Simpson-Hebert and Makil 7 speculated that rates for diarrhoeal diseases were relatively
low in Metropolitan Manila because the water supply is of better quality than in other
areas, although the rates are in fact comparable to those in other areas of the Philippines.
Simpson-Hebert dan Makil 7 berspekulasi bahwa tingkat untuk penyakit diare relatif
rendah di Metropolitan Manila karena pasokan air yang mutunya lebih baik daripada di
daerah lain, walaupun persentasenya sebenarnya sebanding dengan yang di daerah lain di
Filipina. The present study examines three of the critical intermediate variables
predisposing infants to gastroenteritis in a poor, urban sector of Metropolitan Manila in
an attempt to isolate some of the factors that may be governing the lower rates of infant
morbidity in this region of the Philippines. Penelitian ini mengkaji tiga variabel antara
kritis predisposisi bayi gastroenteritis di sektor, miskin perkotaan dari Metropolitan
Manila dalam upaya untuk mengisolasi beberapa faktor yang dapat mengatur tingkat
yang lebih rendah dari morbiditas bayi di daerah ini di Filipina. These variables are:
water sources available to families, nutritional status, and feeding practices. Variabel ini:
sumber air yang tersedia untuk keluarga, status gizi, dan praktek menyusui. The study
was implemented at the end of 1989 in the Dr. Jose Fabella Memorial (JFM) Hospital,
and the Lower Bicutan Health Center, both situated in Metropolitan Manila. Penelitian ini
dilaksanakan pada akhir tahun 1989 di Memorial Dr Jose Fabella (JFM) Rumah Sakit,
dan Puskesmas Bicutan Bawah, keduanya terletak di Metropolitan Manila. The JFM
Hospital, which is a government institution housed in an old converted prison, is a
maternal and child hospital serving women of low socioeconomic status who live in one
of the poor urban sectors of Manila. Rumah Sakit JFM, yang merupakan sebuah lembaga
pemerintah yang bertempat di sebuah penjara diubah tua, merupakan rumah sakit ibu dan
anak melayani perempuan status sosial ekonomi rendah yang tinggal di salah satu sektor
kaum miskin kota Manila. The Lower Bicutan Health Center is in one of the suburbs of
Manila. Bawah Bicutan Puskesmas di salah satu pinggiran kota Manila. Most of the
families attending this clinic subsist by manual labour in Metropolitan Manila. Sebagian
besar keluarga hidup ini menghadiri klinik dengan pekerjaan fisik di Metropolitan
Manila. The socioeconomic level of patient catchment areas served by both health
services are similar; both used government health care, while people of even limited
financial resources are under social pressure to pay for health care services. Tingkat
sosial ekonomi daerah tangkapan pasien yang dilayani oleh kedua pelayanan kesehatan
yang sama; baik pelayanan kesehatan pemerintah digunakan, sementara orang sumber
daya keuangan yang lebih terbatas berada di bawah tekanan sosial untuk membayar
pelayanan perawatan kesehatan. There are no significant differences between the two
areas in access to piped water among the families sampled for this study. Tidak ada
perbedaan yang signifikan antara dua daerah dalam hal akses ke air pipa di antara
keluarga sampel untuk penelitian ini.

Methods Metode
Fifty infants admitted with symptoms of gastroenteritis to the JFM Hospital were studied
between November 1989 and January 1990. Lima puluh bayi mengaku dengan gejala
Gastroenteritis ke Rumah Sakit JFM dipelajari antara November 1989 dan Januari 1990.
All of these infants had one or more of the following symptoms or signs: diarrhoea,
vomiting, pyrexia and dehydration. Semua bayi memiliki satu atau lebih gejala atau
tanda-tanda berikut: diare, muntah, pireksia dan dehidrasi. Diagnoses upon admission
included acute infectious diarrhoea, enterotoxic Escherichia coli [ETEC], enteropathic
Escerichia coli [EPEC], acute ileocolitis, acute gastroenteritis and ameobiasis. Diagnosa
atas pengakuan termasuk diare infeksi akut, enterotoxic Escherichia coli [ETEC],
enteropathic Escerichia coli [EPEC], ileocolitis akut, gastroenteritis akut dan ameobiasis.
Nearly all the infants suffered from an estimated 5-10% dehydration, and were treated
with an oral rehydration solution, or with intravenous fluids. Hampir semua bayi
menderita dehidrasi% diperkirakan 5-10, dan diperlakukan dengan larutan rehidrasi oral,
atau dengan cairan intravena. Antibiotics were occasionally administered to the infants,
but only when satisfying WHO criteria to treat selected pathogenic organisms 8 9 .
Antibiotik kadang-kadang diberikan kepada bayi, tapi hanya jika memenuhi kriteria
WHO untuk mengobati organisme patogen yang dipilih 8 9. Infants were weighed upon
admission and prior to rehydration treatment using Salter Scales. Bayi ditimbang pada
saat masuk dan sebelum perawatan rehidrasi menggunakan Salter Scales. Weights were
corrected for dehydration by adding 10% to the figures (assuming a maximum proportion
for dehydration). Berat dikoreksi untuk dehidrasi dengan menambahkan 10% ke angka
(asumsi proporsi yang maksimal untuk dehidrasi). Percentiles of standard weight for age
were calculated using the Harvard Growth standards 10 , and the degrees of malnutrition
were calculated using the classifications established by Gomez et al 11 . Persentil berat
badan standar usia tersebut dihitung dengan menggunakan standar Pertumbuhan 10
Harvard, dan derajat gizi buruk tersebut dihitung dengan menggunakan klasifikasi yang
ditetapkan oleh Gomez et al 11. Fifty healthy babies were simultaneously recruited from
the Lower Bicutan Health Center, from among those arriving for free routine
immunizations. Lima puluh bayi sehat secara bersamaan direkrut dari Bawah Bicutan
Puskesmas, dari antara mereka tiba untuk imunisasi rutin gratis. Infants were weighed at
the clinic prior to immunization using the same scale as the hospital. Bayi ditimbang di
klinik sebelum imunisasi dengan menggunakan skala yang sama dengan rumah sakit.

A questionnaire in the local language of Tagalog was verbally administered to both sets
of mothers prior to immunization in the Clinic, and after admission of the sick infants to
Hospital. Sebuah kuesioner dalam bahasa lokal Tagalog secara verbal diberikan kepada
kedua pasang ibu sebelum imunisasi di Klinik, dan setelah pengakuan bayi sakit ke
Rumah Sakit. The information was collected by CRF (Table 1). Informasi dikumpulkan
oleh CRF (Tabel 1). Backward stepwise logistic regression was used to model our
expectations that infant health would depend upon: a) nutritional status, b) the quality of
drinking water available to households; c) whether mothers supplemented their infants
with water; d) whether mothers boiled the water that was used; e) the feeding method
used by the mother, and; f) age of the infant. Backward stepwise regresi logistik
digunakan untuk model harapan kami bahwa kesehatan bayi akan tergantung pada:
status) gizi, b) kualitas air minum yang tersedia untuk rumah tangga; c) apakah ibu
ditambah bayi mereka dengan air, d) apakah ibu rebus air yang digunakan, e) metode
makan yang digunakan oleh ibu, dan; f) usia bayi. Nutritional status of the infants was
numerically coded from zero to three, reflecting the degrees of malnutrition, while the
other four factors were treated as binary variables. Status gizi bayi adalah kode numerik
dari nol hingga tiga, yang mencerminkan derajat gizi buruk, sementara empat lainnya
faktor yang diperlakukan sebagai variabel biner. For feeding method, mixed feeding
regimens and breastfeeding were counted together as one code; quality of the drinking
water was divided into piped or well water; and water supplementation and boiling of
water were “yes/no” binary variables. Untuk metode pemberian makan, rejimen makan
campuran dan menyusui dihitung bersama sebagai satu kode, kualitas air minum dibagi
ke dalam air ledeng atau sumur, dan air suplementasi dan merebus air "ya / tidak"
variabel biner. SPSS Version 10 was used for the statistical analyses. SPSS versi 10
digunakan untuk analisis statistik.

Table 1: Information elicited from Filipino women in a questionnaire translated into


Tagalog Tabel 1: Informasi menimbulkan dari perempuan Filipina dalam kuesioner
diterjemahkan ke Bahasa Tagalog
Results Hasil
The results of the logistic regression are presented in Table 2. Hasil regresi logistik
disajikan pada Tabel 2.

Table 2: Results from the stepwise logistic regression where infant health is the
dependent variable. Tabel 2: Hasil dari regresi logistik bertahap di mana kesehatan bayi
adalah variabel dependen. The significant independent variables are nutritional status and
supplementation with water.* Variabel independen yang signifikan adalah status gizi dan
suplementasi dengan air .*

Poor nutritional status and not supplementing with water made infants more susceptible
to gastroenteritis. Status gizi yang buruk dan tidak melengkapi dengan bayi air dibuat
lebih rentan terhadap gastroenteritis. The majority of mothers (96%) stated that they
boiled the water that was used for both infant formulas and as a supplement. Sebagian
besar ibu (96%) menyatakan bahwa mereka merebus air yang digunakan untuk kedua
formula bayi dan sebagai suplemen. Ninety four percent of healthy infants were
supplemented with water that was always boiled irrespective of source. Sembilan puluh
empat persen dari bayi sehat yang dilengkapi dengan air yang selalu direbus terlepas dari
sumber. However, only 62% of unhealthy infants were given additional water that was
always boiled (96%). Namun, hanya 62% bayi sehat diberi tambahan air yang selalu
direbus (96%).

With regard to infant feeding, more mothers of healthy babies breastfed exclusively
(34%) compared to those mothers with unhealthy infants (24%). Berkenaan dengan
pemberian makan bayi, ibu lebih dari bayi sehat ASI eksklusif (34%) dibandingkan ibu
dengan bayi yang tidak sehat (24%). More informatively, when we examine the
distribution of infants with malnutrition in the healthy and unhealthy groups by infant
feeding method, significantly fewer exclusively breast-fed infants (28%) suffer from
malnutrition compared to formula-fed infants (66%) (Pearson's Chi-Square, p = 0.058,
Figure 1). Lebih informatif, ketika kita meneliti distribusi bayi dengan gizi buruk di grup
yang sehat dan tidak sehat dengan metode pemberian makan bayi, secara signifikan lebih
sedikit bayi yang eksklusif diberi ASI (28%) menderita gizi buruk dibandingkan dengan
formula bayi yang diberikan (66%) (Pearson Chi -Square, p = 0.058, Gambar 1). When
comparing water source in formula-fed infants a majority (63%) of the healthy infants
came from homes with piped water compared to only 41% in the unhealthy infants.
Ketika membandingkan sumber air pada bayi susu formula mayoritas (63%) dari bayi
yang sehat berasal dari rumah dengan air pipa dibandingkan dengan hanya 41% pada
bayi tidak sehat.

Age was not a significant independent variable in the logistic regression. Usia bukan
variabel bebas yang signifikan dalam regresi logistik. However, examination of the
distributions by age of healthy and of malnourished infants shows that there is a clear
demarcation in infant health and level of nutrition during the first six months of life, and
particularly during the first two months (Figure 2). Namun, pemeriksaan distribusi
dengan usia bayi sehat dan malnutrisi menunjukkan bahwa ada demarkasi yang jelas di
bidang kesehatan bayi dan tingkat gizi selama enam bulan pertama kehidupan, dan
khususnya selama dua bulan pertama (Gambar 2). Infants under six months of age appear
to be less healthy and well-nourished. Bayi di bawah usia enam bulan tampaknya kurang
sehat dan bergizi baik. Accordingly, we repeated the logistic regression using two sub
samples: the first included infants aged up to six months, and the second was restricted to
infants between seven and twelve months. Oleh karena itu, kami mengulangi regresi
logistik menggunakan dua sampel sub: bayi termasuk pertama berusia sampai enam
bulan, dan yang kedua dibatasi untuk bayi antara tujuh dan dua belas bulan. In the first
sample, age was a significant variable together with degree of malnutrition and whether
infants were supplemented with water. Dalam sampel pertama, usia adalah variabel yang
signifikan bersama dengan derajat gizi buruk dan apakah bayi yang dilengkapi dengan
air. No variable was significant in the second sample of infants over six months of age.
Tidak ada variabel yang signifikan dalam sampel kedua bayi selama enam bulan.

Figure 1: Degree of malnutrition in relation to method of infant feeding Gambar 1:


Derajat gizi buruk dalam kaitannya dengan metode pemberian makan bayi
Figure 2: Age distributions of healthy and unhealthy Filipino infants Gambar 2: Usia
distribusi Filipina tidak sehat bayi dan sehat

Discussion Diskusi
This study has examined three of the most critical intermediate variables predisposing
infants from a poor urban area in Manila to gastroenteritis, namely water quality, infant
feeding methods and nutritional status. Studi ini telah memeriksa tiga variabel antara
yang paling penting predisposisi bayi dari daerah perkotaan miskin di Manila untuk
gastroenteritis, yaitu kualitas air, metode pemberian makan bayi dan status gizi. Such risk
factors are likely to be more prevalent in deprived urban areas. faktor risiko tersebut
cenderung lebih umum di daerah perkotaan kekurangan.

Nutrition Nutrisi
The most important factor contributing to infant gastroenteritis was their nutritional status
(Table 2). Faktor yang paling penting memberikan kontribusi untuk gastroenteritis bayi
adalah status gizi mereka (Tabel 2). Nutritional adequacy may be partly determined by
the feeding method employed, but also interacts synergistically with diarrhoeal episodes
12
. Kecukupan gizi mungkin sebagian ditentukan dengan metode makan yang digunakan,
tetapi juga berinteraksi sinergis dengan episode diare 12. Diarrhoeal diseases result in
anorexia and the rapid transit time of food 13 . Diarrhoeal penyakit mengakibatkan
anoreksia dan waktu transit cepat makanan 13. This in turn leads to reduced absorption 14
and utilization of nutrients 15 with alteration of the intestinal epithelial cells 16 . Hal ini
pada gilirannya menyebabkan berkurangnya penyerapan 14 dan pemanfaatan nutrisi 15
dengan perubahan sel epitel usus 16. Current studies focus on early refeeding and
continuation of breast feeding to counteract these changes8 17 . studi saat ini fokus pada
refeeding awal dan kelanjutan menyusui untuk melawan ini changes8 17. Malnutrition
independently raises risks of morbidity by decreasing nutrient absorption, lowering the
body's natural immunity through alterations in the integrity of body surfaces, decreasing
the ability to repair the epithelium, and reducing gastric acid secretion. Malnutrisi
independen meningkatkan risiko morbiditas oleh penurunan penyerapan hara,
menurunkan kekebalan alami tubuh melalui perubahan dalam integritas permukaan
tubuh, penurunan kemampuan untuk memperbaiki epitel, dan mengurangi sekresi asam
lambung. In addition, malnutrition entails welldocumented immunological abnormalities.
Selain itu, gizi buruk memerlukan welldocumented kelainan imunologi. The synergism
between nutrition and diarrhoeal infections may have prolonged effects on the trajectory
of normal infant growth and development. The sinergisme antara gizi dan infeksi diare
mungkin memiliki efek lama pada lintasan pertumbuhan bayi normal dan pembangunan.

Water Supplementation, Sanitation, and Sources


Suplementasi Air, Sanitasi, dan Sumber
The finding that not supplementing an infant with water is the other significant factor
predisposing infants to diarrhoeal episodes is surprising since we would expect
supplemented infants to be more exposed to water-borne pathogens. Temuan yang tidak
melengkapi bayi dengan air adalah faktor penting lainnya predisposisi bayi hingga
episode diare adalah mengherankan karena kita akan mengharapkan bayi dilengkapi
untuk lebih terkena-patogen tular air. Our findings are in opposition to the results of
Popkin et al 18 , where, in a contemporaneous study of over 3000 babies from Cebu,
Philippines, the addition of any fluids to breastfeeding increased the risk of diarrhoea up
to threefold. Temuan kami bertentangan dengan hasil Popkin 18 et al, di mana, dalam
studi kontemporer lebih dari 3000 bayi dari Cebu, Filipina, penambahan setiap cairan
untuk pemberian ASI meningkatkan risiko diare sampai tiga kali lipat. This difference
between these two studies may be due to two factors: the higher quality of the water
supply in Manila, and the high proportion of mothers who boiled the water in our study.
Perbedaan antara kedua penelitian mungkin karena dua faktor: kualitas yang lebih tinggi
dari pasokan air di Manila, dan proporsi yang tinggi dari ibu yang merebus air dalam
penelitian kami. Water quality and availability play an important part in determining risks
for diarrhoeal diseases; the incidence of diarrhoeal diseases in infants in Cebu correlated
with the density of bacteria in drinking waters supplying the homes where these infants
lived. kualitas air dan ketersediaan memainkan peranan penting dalam menentukan risiko
untuk penyakit diare, timbulnya penyakit diare pada bayi di Cebu berkorelasi dengan
kepadatan bakteri dalam memasok air minum rumah-rumah di mana bayi tinggal. Moe et
al.6 have shown that a large proportion of open dug wells (of the same kind as in our
study) had high densities of faecal coliform, enterococci and faecal streptococci
compared to piped water. Moe et al.6 telah menunjukkan bahwa sebagian besar terbuka
sumur galian (dari jenis yang sama seperti dalam studi kami) memiliki kepadatan tinggi
coliform feses, streptokokus enterococci dan feses dibandingkan dengan air PAM. The
quality of the water supply in Manila is relatively good compared to other urban and rural
areas of the Philippines although a more formal analysis of this variable at the time of the
study was not undertaken. Kualitas air bersih di Manila relatif baik dibandingkan daerah
perkotaan dan pedesaan lainnya di Filipina meskipun analisis yang lebih formal dari
variabel pada saat penelitian ini tidak dilakukan.

Water quality is particularly important when infants are fed commercial formula instead
of breastmilk, and may determine the higher morbidity rates in most studies of formula-
fed infants, especially among women of low socioeconomic status in developing
countries 19 . Kualitas air sangat penting ketika bayi yang diberi makan formula komersial
bukan ASI, dan dapat menentukan tingkat morbiditas lebih tinggi dalam studi sebagian
besar bayi yang diberi susu formula, khususnya di kalangan perempuan status sosial
ekonomi rendah di negara-negara berkembang 19. Boiling water prior to preparing
formulas can significantly help in reducing bacterial levels in otherwise untreated
drinking water irrespective of the water source and quality; and is currently
recommended as a standard procedure in preparing infant formulae by the American
Federal Drug Administration in the USA ( http://www.fda.gov/opacom/lowli ... ). Air
mendidih sebelum menyiapkan formula secara signifikan dapat membantu dalam
mengurangi kadar bakteri dalam air minum dinyatakan tidak diobati terlepas dari sumber
air dan kualitas, dan saat ini direkomendasikan sebagai prosedur standar dalam
penyusunan formula bayi oleh American Federal Drug Administration di Amerika
Serikat ( http: / / www.fda.gov / opacom / lowli ... ).

Water supplementation also has implications for infant hydration status. suplemen Air
juga memiliki implikasi status hidrasi bayi. The majority of infants in the
unsupplemented group were formula-fed. Mayoritas bayi dalam kelompok
unsupplemented adalah susu formula. Breast-fed infants who receive sufficient milk to
fulfill their energy requirements are generally not at risk for dehydration. Disusui bayi
yang menerima susu yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energi mereka umumnya
tidak berisiko untuk dehidrasi. It is possible, however, that the formula-fed infants in our
study were not given sufficient liquids, and were therefore more prone to dehydration.
Hal ini dimungkinkan, bagaimanapun, bahwa susu formula bayi dalam penelitian kami
tidak diberi cairan yang cukup, dan karena itu lebih rentan terhadap dehidrasi. This alone
could exacerbate their health risk for diarrhoeal diseases. Ini sendiri dapat memperburuk
risiko kesehatan mereka untuk penyakit diare. Formula-fed children are particularly at
risk of hypernatraemic dehydration compared to breast-fed infants 20 . Susu formula anak-
anak sangat beresiko dehidrasi hypernatraemic dibandingkan dengan bayi yang diberi
susu payudara 20.

Feeding Method Makanan Metode


Despite the considerable nutritional and immunological benefits associated with
breastfeeding ( http://www.aap.org/policy/re972 ... ) 21 , feeding practices were not found
to protect significantly against gastroenteritis in our study. Meskipun manfaat nutrisi dan
imunologi yang cukup berhubungan dengan pemberian ASI (
http://www.aap.org/policy/re972 ... ) 21, makan praktik tidak ditemukan untuk melindungi
secara signifikan terhadap gastroenteritis dalam penelitian kami. This is in contrast to the
concurrent Cebu Study18 which showed feeding method was the most significant
variable determining incidences of diarrhoea. Hal ini berbeda dengan Study18 Cebu
konkuren yang menunjukkan metode pemberian makan merupakan variabel yang paling
signifikan menentukan kejadian diare. Our contradictory results may be related to the
small sample size and, perhaps, also to confounding factors, such as the kinds of food
supplementations given to infants in addition to breast milk or formula for which we have
no information. hasil yang bertentangan kita mungkin terkait dengan ukuran sampel kecil
dan, mungkin, juga untuk faktor perancu, seperti jenis Suplementasi makanan yang
diberikan kepada bayi selain ASI atau susu formula yang kami tidak memiliki informasi.

That infants who are formula-fed are significantly more likely to suffer from second and
third degree malnutrition may be explained by the fact that mothers using formulas may
have been preparing them incorrectly 22 . Bahwa bayi yang diberi susu formula secara
signifikan lebih mungkin menderita kekurangan gizi tingkat ketiga dan kedua dapat
dijelaskan oleh fakta bahwa ibu menggunakan formula mungkin telah mempersiapkan
mereka benar 22. An earlier study at the same hospital showed that only two in 152 new
mothers correctly prepared formula7. Sebuah studi awal di rumah sakit yang sama
menunjukkan bahwa hanya dua di 152 ibu baru benar dipersiapkan formula7. The
incorrect preparation of formula milk, and the use of contaminated water are, in fact, two
of the major problems associated with the use of breast-milk substitutes in the developing
world. Penyusunan salah susu formula, dan penggunaan air yang terkontaminasi, pada
kenyataannya, dua masalah utama yang terkait dengan penggunaan pengganti ASI di
negara berkembang. There has been a general reduction in both the initiation and duration
of lactation in the developing world which has been duplicated in the Philippines since
the 1970s 23 , and is most noticeable among women living in urban areas where sanitation
and nutrition are most likely to be inadequate for families with low socioeconomic status.
Telah ada pengurangan umum baik di inisiasi dan durasi laktasi di negara berkembang
yang telah diduplikasi di Filipina sejak 1970-an 23, dan yang paling mencolok di antara
perempuan yang tinggal di daerah perkotaan dimana sanitasi dan gizi yang paling
mungkin tidak memadai untuk keluarga dengan status sosial ekonomi rendah.
Breastfeeding rates are lowest (65%) in Metro Manila compared to other areas (87%) of
the Philippines 24 . Tingkat Menyusui adalah terendah (65%) di Metro Manila
dibandingkan dengan daerah lainnya (87%) dari Filipina 24.

Conclusion Kesimpulan
The importance of our study is that, unlike similar analyses undertaken in other parts of
the Philippines, supplemented infants were healthier than unsupplemented ones.
Pentingnya penelitian kami adalah bahwa, tidak seperti analisis serupa dilakukan di
bagian lain dari Filipina, ditambah bayi yang sehat dari yang unsupplemented. There
appear to be two factors involved here: first, the water supply in Manila is relatively good
compared to other areas, and secondly, mothers consistently boiled the water that was
used as a supplement. Tampaknya ada dua faktor yang terlibat di sini: pertama, pasokan
air di Manila relatif baik dibandingkan dengan daerah lain, dan kedua, ibu konsisten
merebus air yang digunakan sebagai suplemen. Water sanitation is therefore a critical
variable determining infants' risks for gastroenteritis. sanitasi Air Oleh karena itu variabel
kritis yang menentukan risiko bayi 'untuk Gastroenteritis. This factor should therefore be
given increased attention in future efforts to improve infant health. Faktor ini karenanya
harus mendapat perhatian dalam upaya peningkatan masa depan untuk meningkatkan
kesehatan bayi.

Educational programs in concert with those already initiated in the hospital setting would
be of benefit in reducing infant morbidity in urban Philippines 25 . program pendidikan di
konser dengan yang sudah dimulai dalam pengaturan rumah sakit akan bermanfaat dalam
mengurangi morbiditas bayi di Filipina perkotaan 25. Such programs should be designed
to improve maternal understanding of adequate infant nutrition, with particular emphasis
on the importance of breastfeeding and clean water. Program-program tersebut harus
dirancang untuk meningkatkan pemahaman ibu gizi bayi yang memadai, dengan
penekanan khusus pada pentingnya ASI dan air bersih.

Acknowledgements Ucapan Terima Kasih


This study could not have been undertaken without the assistance of the residents and
interns at the Jose Fabella Memorial Hospital, and the Staff at the Lower Bicutan Health
Centre in Metro Manila. Studi ini tidak mungkin dilakukan tanpa bantuan warga dan
magang di Jose Fabella Memorial Hospital, dan Staf di Bawah Bicutan Health Centre di
Metro Manila. We would also like to thank Robert Aunger, Kim Blake, Anne Buchanan,
Elvira Dayrit, Peter Ellison, Julian Holmes, David Meeks, Nadine Peacock, and David
Rampton for their helpful comments and suggestions. Kami juga mengucapkan terima
kasih kepada Robert Aunger, Kim Blake, Anne Buchanan, Elvira Dayrit, Peter Ellison,
Julian Holmes, David Meeks, Nadine Merak, dan David Rampton untuk membantu
mereka komentar dan saran. The fieldwork was supported by a 3M Riker elective project
grant to CR Fertleman and a National Institute of Aging Postdoctoral Fellowship to GR
Bentley. lapangan ini didukung oleh dana proyek Riker 3M pilihan untuk CR Fertleman
dan National Institute of Aging Postdoctoral Fellowship untuk GR Bentley.

Conflict of Interest: None Benturan Kepentingan: Tidak ada

Corresponding Author Sesuai Pengarang


Dr Caroline Fertleman Dr Caroline Fertleman
E mail: c.fertleman@ucl.ac.uk E mail: c.fertleman @ ucl.ac.uk

References Referensi
1. 1. Mitike G. Prevalence of acute and persistent diarrhoea in north Gondar zone,
Ethiopia. Mitike G. Prevalensi diare akut dan persisten di utara zona Gondar, Ethiopia.
East Afr Med J 2001;78(8):433-8. East Afr Med J 2001; 78 (8) :433-8. ( s ) ( s )

2. 2. Nicoll A. Integrated management of childhood illness in resource-poor countries: an


initiative from the World Health Organization. Nicoll A. Terpadu manajemen penyakit
anak di negara miskin sumber daya: inisiatif dari Organisasi Kesehatan Dunia. Trans R
Soc Trop Med Hyg 2000;94(1):9-11. Trans R Soc Med daerah tropis Hyg 2000; 94 (1) :
9-11. ( s ) ( s )

3. 3. Farthing MJ. Farthing MJ. Diarrhoea: a significant worldwide problem. Diare:


masalah di seluruh dunia yang signifikan. Int J Antimicrob Agents 2000;14(1):65-9. Int
Agen Antimicrob J 2000; 14 (1) :65-9. ( s ) ( s )

4. 4. Mosley HW, Chen LC. Mosley HW, LC Chen. An analytical framework for the
study of child survival un developing countries. Kerangka analisis untuk studi negara un
kelangsungan hidup anak berkembang. In: Mosley HW, Chen LC, editors. Dalam:
Mosley HW, Chen LC, editor. Child Survival : Strategies for Research. Child Survival:
Strategi untuk Penelitian. Cambridge: Cambridge University Press, 1984:25-45.
Cambridge: Cambridge University Press, 1984:25-45. ( s ) ( s )

5. 5. The State of the World's Children UNICEF 1992. Negara UNICEF Anak Dunia
1992. In: UNICEF, editor. Dalam: UNICEF, editor. New York, USA: Oxford University
Press, 1992:100. New York, USA: Oxford University Press, 1992:100. ( s ) ( s )

6. 6. Moe CL, Sobsey MD, Samsa GP, Mesolo V. Bacterial indicators of risk of
diarrhoeal disease from drinking-water in the Philippines. Moe CL, Sobsey MD, Samsa
GP, Mesolo V. bakteri indikator risiko penyakit diare dari air minum di Filipina. Bull
World Health Organ 1991;69(3):305-17. Bull World Health Organ 1991; 69 (3) :305-17.
(s)(s)

7. 7. Simpson-Hebert M, Makil LP. Simpson-Hebert M, LP Makil. Breast-feeding in


Manila, Philippines: preliminary results from a longitudinal study. Menyusui di Manila,
Filipina: hasil awal dari studi longitudinal. J Biosoc Sci Suppl 1985;9:137-46. J Biosoc
Sci 1985 Suppl; 9:137-46. ( s ) ( s )

8. 8. Claeson M, Merson MH. Claeson M, MH Merson. Global progress in the control of


diarrheal diseases. Global kemajuan dalam pengendalian penyakit diare. Pediatr Infect
Dis J 1990;9(5):345-55. Pediatr Infect Dis J 1990; 9 (5) :345-55. ( s ) ( s )

9. 9. The rational use of drugs in the management of acute diarrhoea in children.


Penggunaan obat rasional dalam pengelolaan diare akut pada anak-anak. Switzerland,
1990. Swiss, 1990. ( s ) ( s )

10. 10. Jelliffe DB. Jelliffe DB. Age assessment in field surveys of children of the tropics.
Umur penilaian dalam survei bidang anak-anak dari daerah tropis. J Pediatr
1966;69(5):826-8. J Pediatr 1966; 69 (5) :826-8. ( s ) ( s )

11. 11. Gomez F, Galavan R, Cravioto L, Frank S. Malnutrtition in infancy and childhood
with special reference to kwashiorkor. Gomez F, Galavan R, Cravioto L, Frank S.
Malnutrtition pada masa bayi dan masa kanak-kanak dengan referensi khusus untuk
kwashiorkor. Advances in Paediatrics 1955;7:131-169. Kemajuan dalam Pediatri 1955;
7:131-169. ( s ) ( s )

12. 12. Lifschitz CH, Shulman RJ. Lifschitz CH, Shulman RJ. Nutritional therapy for
infants with diarrhea. Gizi terapi untuk bayi dengan diare. Nutr Rev 1990;48(9):329-38.
NUTR Rev 1990; 48 (9) :329-38. ( s ) ( s )

13. 13. Molla A, Molla AM, Sarker SA, Khatun M. Whole-gut transit time and its
relationship to absorption of macronutrients during diarrhoea and after recovery. Molla
A, Molla AM, Sarker SA, Khatun M. Whole-usus transit waktu dan hubungannya dengan
penyerapan macronutrients selama diare dan setelah pemulihan. Scand J Gastroenterol
1983;18(4):537-43. Scand J Gastroenterol 1983; 18 (4) :537-43. ( s ) ( s )

14. 14. Lifschitz CH, Shulman RJ, Langston C, Gopalakrishna GS. Lifschitz CH,
Shulman RJ, Langston C, GS Gopalakrishna. Comparison of the D-xylose and
polyethylene glycol absorption tests as indicators of mucosal damage in infants with
chronic diarrhea. Perbandingan xilosa-D dan tes polietilen glikol penyerapan sebagai
indikator kerusakan mukosa pada bayi dengan diare kronis. J Pediatr Gastroenterol Nutr
1989;8(1):47-50. J Pediatr Gastroenterol NUTR 1989; 8 (1) :47-50. ( s ) ( s )

15. 15. Shulman RJ, Lifschitz CH, Langston C, Gopalakrishna GS, Nichols BL. Shulman
RJ, Lifschitz CH, Langston C, Gopalakrishna GS, Nichols BL. Human milk and the rate
of small intestinal mucosal recovery in protracted diarrhea. Manusia susu dan tingkat
pemulihan mukosa usus kecil di diare berkepanjangan. J Pediatr 1989;114(2):218-24. J
Pediatr 1989; 114 (2) :218-24. ( s ) ( s )

16. 16. Brunser O, Araya M, Espinoza J, Guesry PR, Secretin MC, Pacheco I. Effect of
an acidified milk on diarrhoea and the carrier state in infants of low socio-economic
stratum. Brunser O, Araya M, Espinoza J, Guesry PR, Secretin MC, Pacheco I. Pengaruh
dari susu diasamkan pada diare dan keadaan carrier pada bayi dari strata sosio-ekonomi
rendah. Acta Paediatr Scand 1989;78(2):259-64. Paediatr Acta Scand 1989; 78 (2) :259-
64. ( s ) ( s )

17. 17. Guandalini S, Dincer AP. Guandalini S, AP Dincer. Nutritional management in


diarrhoeal disease. Gizi manajemen pada penyakit diare. Baillieres Clin Gastroenterol
1998;12(4):697-717. Baillieres Clin Gastroenterol 1998; 12 (4) :697-717. ( s ) ( s )

18. 18. Popkin BM, Adair L, Akin JS, Black R, Briscoe J, Flieger W. Breast-feeding and
diarrheal morbidity. Popkin BM, Adair L, Akin JS, Black R, Briscoe J, Flieger W.
Menyusui dan morbiditas diare. Pediatrics 1990;86(6):874-82. Pediatrics 1990; 86 (6) :
874-82. ( s ) ( s )

19. 19. Guerrant RL, Kirchhoff LV, Shields DS, Nations MK, Leslie J, de Sousa MA, et
al. RL Guerrant, LV Kirchhoff, DS Shields, Bangsa MK, Leslie J, de Sousa MA, et al.
Prospective study of diarrheal illnesses in northeastern Brazil: patterns of disease,
nutritional impact, etiologies, and risk factors. Calon studi tentang penyakit diare di
Brasil timur laut: pola penyakit, dampak gizi, etiologi, dan faktor risiko. J Infect Dis
1983;148(6):986-97. Menginfeksi J Dis 1983; 148 (6) :986-97. ( s ) ( s )

20. 20. Abu-Ekteish F, Zahraa J. Hypernatraemic dehydration and acute gastro-enteritis


in children. Abu-Ekteish F, Zahraa J. dehidrasi Hypernatraemic dan akut gastro-enteritis
pada anak-anak. Ann Trop Paediatr 2002;22(3):245-9. Ann daerah tropis Paediatr 2002;
22 (3) :245-9. ( s ) ( s )
21. 21. Ryan AS, Wenjun Z, Acosta A. Breastfeeding continues to increase into the new
millennium. Ryan AS, Wenjun Z, Acosta A. Menyusui terus meningkat ke milenium
baru. Pediatrics 2002;110(6):1103-9. Pediatrics 2002; 110 (6) :1103-9. ( s ) ( s )

22. 22. Egemen A, Kusin N, Aksit S, Emek M, Kurugol Z. A generally neglected threat
in infant nutrition: incorrect preparation of infant formulae. Egemen A, Kusin N, Aksit S,
Emek M, Kurugol Z. Ancaman umumnya diabaikan dalam nutrisi bayi: persiapan salah
susu formula. Turk J Pediatr 2002;44(4):298-303. Turk J Pediatr 2002; 44 (4) :298-303. (
s)(s)

23. 23. Popkin BM, Akin JS, Flieger W, Wong EL. Popkin BM, JS Akin, W Flieger,
Wong EL. Breastfeeding trends in the Philippines, 1973 and 1983. Menyusui tren di
Filipina, 1973 dan 1983. Am J Public Health 1989;79(1):32-5. J Am Kesehatan
Masyarakat 1989; 79 (1) :32-5. ( s ) ( s )

24. 24. Zablan ZC. Zablan ZC. Breast-feeding and fertility among Philippine women:
trends, mechanisms and impact. Menyusui dan kesuburan di kalangan perempuan
Filipina:, tren mekanisme dan dampak. J Biosoc Sci Suppl 1985;9:147-58. J Biosoc Sci
1985 Suppl; 9:147-58. ( s ) ( s )

25. 25. Baltazar JC, Nadera DP, Victora CG. Baltazar JC, DP Nadera, CG Victora.
Evaluation of the national control of diarrhoeal disease programme in the Philippines,
1980-93. Evaluasi kontrol nasional program penyakit diare di Filipina, 1980-93. Bull
World Health Organ 2002;80(8):637-43. Bull World Health Organ 2002; 80 (8) :637-43.
(s)(s)

This article was last modified on Fri, 13 Feb 09 14:05:17 -0600 Artikel ini terakhir
diubah pada Fri, 13 Februari 9 14:05:17 -0600

This page was generated on Mon, 20 Dec 10 08:49:25 -0600, and may be cached.
Halaman ini dibuat pada Senin, 20 Desember 10 08:49:25 -0600, dan mungkin cache.

Tindak lanjut
Deterrence/Prevention Pencegahan / Pencegahan

• Natural infection with rotavirus does not afford complete immunity, and multiple
infections in the first few years of life probably are common; however, immune
response to these infections reduces the frequency and severity of subsequent
rotavirus infection. infeksi alam dengan rotavirus tidak mampu kekebalan yang
lengkap, dan infeksi ganda dalam beberapa tahun pertama kehidupan mungkin
yang umum, namun, respon kekebalan terhadap infeksi ini mengurangi frekuensi
dan tingkat keparahan infeksi rotavirus berikutnya.
• On February 21, 2006, the CDC Advisory Committee on Immunization Practices
(ACIP) recommended RotaTeq, an oral attenuated pentavalent rotavirus vaccine
(PRV), for the vaccination of infants. Pada tanggal 21 Pebruari 2006, Komite
Penasehat CDC Imunisasi Praktek (ACIP) merekomendasikan RotaTeq, sebuah
dilemahkan oral vaksin rotavirus pentavalent (PRV), untuk vaksinasi bayi. Three
doses should be given at 2, 4, and 6 months. Tiga dosis harus diberikan pada 2, 4,
dan 6 bulan. The third dose should be given no later than 32 weeks. Dosis ketiga
harus diberikan tidak lebih dari 32 minggu.
o In the REST trial, a double-blind placebo-controlled trial of over 60,000
infants, RotaTeq demonstrated a 74% reduction in all rotavirus cases.
Dalam sidang REST, percobaan plasebo terkontrol double blind lebih dari
60.000 bayi, RotaTeq menunjukkan penurunan 74% dalam semua kasus
rotavirus. There was a 98% reduction in severe cases and a 96% reduction
in hospitalized cases. Ada pengurangan 98% pada kasus berat dan
penurunan 96% dalam kasus dirawat di rumah sakit.
o Of note, there was a 59% reduction in all-cause gastroenteritis admissions,
highlighting rotavirus as a larger contributor to the cause of acute
gastroenteritis than originally expected. Dari catatan, ada penurunan 59%
di semua penerimaan menyebabkan gastroenteritis, menyoroti rotavirus
sebagai kontributor yang lebih besar untuk penyebab gastroenteritis akut
daripada yang diharapkan.
o The oral live attenuated vaccine was not tested in immunocompromised
patients and not approved for this use. Vaksin dilemahkan oral hidup tidak
diuji pada pasien immunocompromised dan tidak disetujui untuk
digunakan ini.
o There was no association of RotaTeq with intussusceptions in this trial.
Tidak ada hubungan RotaTeq dengan intussusceptions dalam sidang ini.
The former RotaShield vaccine was pulled from the market for increased
intussusceptions. Vaksin RotaShield mantan ditarik dari pasar untuk
intussusceptions meningkat. However, this risk was only seen in older
infants. Namun, risiko ini hanya terlihat pada bayi yang lebih tua. The
RotaTeq trial did not test older infants. Sidang RotaTeq tidak menguji bayi
yang lebih tua. For these reasons, the RotaTeq vaccine is not approved for
infants older than 32 weeks, and a "catch-up" vaccination is not
recommended. Untuk alasan ini, vaksin RotaTeq tidak disetujui untuk bayi
yang lebih tua dari 32 minggu, dan "catch-up" vaksinasi tidak dianjurkan.
o There are some questions as to the efficacy in less developed countries
where the vaccine was not tested and nonvaccine serotypes (VP4, VP6,
and VP7) are more prevalent. Ada beberapa pertanyaan mengenai
keberhasilan di negara-negara kurang berkembang di mana vaksin tersebut
tidak diuji dan serotipe non vaksin (VP4, VP6, dan VP7) yang lebih
umum.
• RotaShield is not approved for use, but it is being considered for reintroduction
into the marketplace in limited use for early infant vaccination only. RotaShield
tidak disetujui untuk digunakan, tetapi itu sedang dipertimbangkan untuk
reintroduksi ke pasar digunakan terbatas untuk vaksinasi bayi awal saja.
• In April 2008, the United States Food and Drug Administration (FDA) approved a
new vaccine for rotavirus gastroenteritis. 11 Rotarix is a monovalent vaccine
derived from the most common human rotavirus strain that has been attenuated by
serial passage and is administered in 2 oral doses, 1-2 months apart. 12 Pada bulan
April 2008, Amerika Serikat Food and Drug Administration (FDA) menyetujui
vaksin baru untuk Gastroenteritis rotavirus. 11 Rotarix adalah vaksin monovalen
berasal dari strain rotavirus manusia yang paling umum yang telah dilemahkan
oleh bagian serial dan diberikan dalam 2 dosis oral , 1-2 bulan terpisah. 12
o The phase 3 trial of Rotarix reported the following results: 13 Tahap 3
persidangan Rotarix melaporkan hasil sebagai berikut: 13
• Rotarix was highly protective against severe rotavirus
gastroenteritis (85%) and hospitalization for severe rotavirus
gastroenteritis (85%). Rotarix sangat protektif terhadap rotavirus
gastroenteritis berat (85%) dan rawat inap untuk rotavirus
gastroenteritis berat (85%).
• The vaccine was also protective against gastroenteritis of any
cause (40%) and hospitalization for gastroenteritis of any cause
(42%). Vaksin ini juga protektif terhadap Gastroenteritis dari
setiap penyebab (40%) dan rawat inap untuk Gastroenteritis sebab
apapun (42%).
• Infants vaccinated with Rotarix had fewer serious adverse events
or required hospitalization because of gastrointestinal events. Bayi
divaksinasi dengan Rotarix memiliki lebih sedikit efek samping
yang serius atau rumah sakit diperlukan karena peristiwa
gastrointestinal.
• The vaccine proved to be safe with respect to the risk of
intussusceptions. Vaksin ini terbukti aman terhadap risiko
intussusceptions. The observed risk estimate was below the initial
risk increase of 4 per 100,000 that led to the withdrawal of the
RotaShield vaccine, and it was also below the subsequent
consensus risk estimate of 1 per 100,000 for that vaccine.
Perkiraan risiko yang diamati adalah di bawah meningkatkan risiko
awal 4 per 100.000 yang menyebabkan penarikan vaksin
RotaShield, dan itu juga di bawah konsensus memperkirakan risiko
berikutnya 1 per 100.000 untuk vaksin itu.
o The Rotarix vaccine strain replicates well in the gut after the first dose and
provides cross-protection against most other serotypes. Strain vaksin
Rotarix bereplikasi baik dalam usus setelah dosis pertama dan
memberikan perlindungan silang terhadap serotipe yang lain. RotaTeq, on
the other hand, is not so broadly cross-protective and grows less well in
human intestines. RotaTeq, di sisi lain, tidak begitu luas lintas pelindung
dan tumbuh kurang baik di usus manusia. In addition, the vaccine strains
are infrequently shed in the stool, and 3 doses are required. 12 Selain itu,
strain vaksin jarang tertumpah dalam tinja, dan 3 dosis yang diperlukan. 12
o Recommendations from the American Academy of Pediatrics and the
CDC for the use of Rotarix are pending. 14 Rekomendasi dari American
Academy of Pediatrics dan CDC untuk penggunaan Rotarix yang tertunda.
14
• Research on a vaccine for calicivirus infection is proceeding rapidly. Penelitian
vaksin untuk infeksi calicivirus adalah melanjutkan dengan cepat. Baculovirus-
produced antigens spontaneously form virus-like particles without RNA that are
immunogenic and possibly protective. Baculovirus diproduksi secara spontan
membentuk partikel antigen virus seperti tanpa RNA yang mungkin imunogenik
dan protektif. Genomes also can be inserted into edible foodstuffs (eg, potatoes,
bananas). Genom juga dapat dimasukkan ke dalam bahan makanan nabati
(misalnya, kentang, pisang).
• Proper hygiene is still the first preventative step in viral gastroenteritis. kebersihan
yang tepat masih merupakan langkah pencegahan pertama dalam Gastroenteritis
virus. Hand washing to prevent fecal-oral transmission is very important. Mencuci
tangan untuk mencegah penularan fecal-oral sangat penting. It also includes
properly handling food and using clean water supplies. Ini juga mencakup baik
penanganan makanan dan menggunakan persediaan air bersih.
• On a community level, proper sanitation, clean water supplies, and surveillance
programs for outbreaks are important steps in prevention. Pada tingkat
masyarakat, sanitasi yang memadai, pasokan air bersih, dan program pengawasan
untuk wabah merupakan langkah penting dalam pencegahan.

Penyebab
By Mayo Clinic staff Oleh staf Mayo Clinic

Rotavirus is present in an infected person's stool several days before symptoms appear
and for up to 10 days after symptoms subside. Rotavirus hadir dalam hari tinja orang
yang terinfeksi beberapa sebelum gejala muncul dan hingga 10 hari setelah gejala
mereda. The virus spreads easily through hand-to-mouth contact throughout this time —
even if the infected person doesn't have symptoms. Virus menyebar dengan mudah
melalui kontak tangan ke mulut sepanjang waktu ini - bahkan jika orang yang terinfeksi
tidak memiliki gejala.

If you have rotavirus and you don't wash your hands after using the toilet — or your child
has rotavirus and you don't wash your hands after changing your child's diaper or helping
your child use the toilet — the virus can spread to anything you touch, including food,
toys and utensils. Jika Anda memiliki rotavirus dan Anda tidak mencuci tangan setelah
menggunakan toilet - atau anak Anda telah rotavirus dan Anda tidak mencuci tangan
setelah mengganti popok atau anak Anda membantu anak Anda menggunakan toilet -
virus dapat menyebar ke apapun yang Anda sentuh, termasuk makanan, mainan dan
peralatan. If another person touches your unwashed hands or a contaminated object and
then touches his or her mouth, an infection may follow. Jika orang lain memegang tangan
yang tidak bersih atau benda yang terkontaminasi dan kemudian memegang nya mulut,
infeksi dapat mengikuti.
Sometimes rotavirus spreads through contaminated water or infected respiratory droplets
coughed or sneezed into the air. Kadang-kadang menyebar melalui air yang
terkontaminasi rotavirus atau tetesan pernapasan terinfeksi batuk atau bersin ke udara.

Because there are many types of rotavirus, it's possible to be infected more than once.
Karena ada banyak jenis rotavirus, mungkin untuk terinfeksi lebih dari sekali. However,
repeat infections are typically less severe. Namun, infeksi ulangi biasanya kurang parah.

Faktor risiko
By Mayo Clinic staff Oleh staf Mayo Clinic

Rotavirus infections are most common in children ages 4 months to 24 months —


particularly those who spend time in child care settings. infeksi Rotavirus yang paling
sering terjadi pada anak-anak usia 4 bulan sampai 24 bulan - terutama mereka yang
menghabiskan waktu di pengaturan perawatan anak. Older adults and adults caring for
young children have an increased risk of infection as well. orang dewasa yang lebih tua
dan orang dewasa merawat anak-anak memiliki peningkatan risiko infeksi juga.

Your risk of rotavirus is highest in winter and spring. risiko Anda dari rotavirus tertinggi
pada musim dingin dan musim semi.

Gastroenteritis
From Wikipedia, the free encyclopedia Dari Wikipedia, ensiklopedia bebas
Jump to: navigation , search Langsung ke: navigasi , cari
Gastroenteritis Gastroenteritis
Classification and external resources Klasifikasi dan sumber
daya eksternal

Gastroenteritis viruses: A = rotavirus, B = adenovirus, C =


Norovirus and D = Astrovirus. Gastroenteritis virus: A =
rotavirus, adenovirus B =, C = Norovirus dan D = Astrovirus.
The virus particles are shown at the same magnification to
allow size comparison. Partikel-partikel virus akan
ditampilkan pada perbesaran yang sama untuk memungkinkan
perbandingan ukuran.
A 02.0 , A 08. , A 09. , J 10.8 , J 11.8 ,
ICD - 10 ICD - 10 K 52. A 02,0 , A 08. , A 09. , J 10,8 , J
11,8 , K 52.
ICD - 9 ICD - 9 009.0 , 009.1 , 558 009,0 , 009,1 , 558
DiseasesDB
30726 30726
DiseasesDB
eMedicine
emerg/213 emerg/213
eMedicine
MeSH MESH D005759 D005759

Gastroenteritis (also known as gastric flu or stomach flu , although unrelated to


influenza ) is inflammation of the gastrointestinal tract , involving both the stomach and
the small intestine and resulting in acute diarrhea . Gastroenteritis (juga dikenal sebagai
flu atau flu lambung perut, meskipun tidak terkait dengan influenza ) adalah peradangan
pada saluran pencernaan , yang melibatkan baik lambung dan usus kecil dan
mengakibatkan akut diare . It can be transferred by contact with contaminated food and
water. Hal ini dapat ditransfer melalui kontak dengan makanan dan air yang
terkontaminasi. The inflammation is caused most often by an infection from certain
viruses or less often by bacteria , their toxins , parasites , or an adverse reaction to
something in the diet or medication. peradangan ini disebabkan paling sering oleh infeksi
dari tertentu virus atau kurang sering oleh bakteri , mereka racun , parasit , atau reaksi
yang merugikan pada sesuatu dalam makanan atau obat. Current death rates have come
down significantly to approximately 1.5 million deaths annually in the year 2000, largely
due to the global introduction of oral rehydration therapy [ 1 ] and is a leading cause of
death among infants and children under 5. [ 2 ] tingkat kematian saat ini telah turun secara
signifikan menjadi sekitar 1,5 juta kematian setiap tahunnya di tahun 2000, sebagian
besar disebabkan oleh pengenalan global terapi rehidrasi oral [1] dan merupakan penyebab
utama kematian di kalangan bayi dan anak di bawah 5. [2]

At least 50% of cases of gastroenteritis due to foodborne illness are caused by norovirus .
[3]
Another 20% of cases, and the majority of severe cases in children, are due to
rotavirus . Setidaknya 50% dari kasus Gastroenteritis karena penyakit bawaan makanan
disebabkan oleh norovirus . [3] lainnya 20% kasus, dan mayoritas kasus yang parah pada
anak-anak, disebabkan oleh rotavirus . Other significant viral agents include adenovirus [ 4
]
and astrovirus . Lain agen virus signifikan antara lain adenovirus [4] dan astrovirus .

Different species of bacteria can cause gastroenteritis, including Salmonella , Shigella ,


Staphylococcus , Campylobacter jejuni , Clostridium , Escherichia coli , Yersinia , Vibrio
cholerae , and others. spesies yang berbeda dari bakteri dapat menyebabkan
gastroenteritis, termasuk Salmonella , Shigella , Staphylococcus , Campylobacter jejuni ,
Clostridium , Escherichia coli , Yersinia , Vibrio cholerae , dan lain-lain. Some sources
of the infection are improperly prepared food, reheated meat dishes, seafood, dairy, and
bakery products. Beberapa sumber infeksi adalah tidak benar makanan jadi, piring daging
dipanaskan, seafood, susu, dan produk roti. Each organism causes slightly different
symptoms but all result in diarrhea. Colitis , inflammation of the large intestine, may also
be present. Setiap organisme penyebab yang berbeda gejala sedikit tapi semua
mengakibatkan diare. colitis , radang usus besar, juga dapat hadir.

Risk factors include consumption of improperly prepared foods or contaminated water


and travel or residence in areas of poor sanitation. Faktor risiko termasuk konsumsi
makanan yang tidak benar diolah atau air yang tercemar dan bepergian atau tinggal di
bidang sanitasi yang buruk. It is also common for river swimmers to become infected
during times of rain as a result of contaminated runoff water. [ 5 ] Hal serupa juga terjadi
untuk perenang sungai untuk menjadi terinfeksi selama masa hujan sebagai akibat
limpasan air yang terkontaminasi. [5]

Contents Isi
[hide]

• 1 Classification 1 Klasifikasi
o 1.1 Bacterial gastroenteritis 1.1 bakteri Gastroenteritis
o 1.2 Viral gastroenteritis 1.2 Viral Gastroenteritis
• 2 Symptoms and signs 2 Gejala dan tanda
• 3 Diagnosis 3 Diagnosis
• 4 Prevention 4 Pencegahan
• 5 Management 5 Manajemen
o 5.1 Rehydration 5.1 Rehidrasi
o 5.2 Diet 5.2 Diet
o 5.3 Medications 5.3 Obat-obatan
o 5.4 Alternative medicine 5.4 Pengobatan alternatif
• 6 Complications 6 Komplikasi
• 7 Epidemiology 7 Epidemiologi
• 8 History 8 Sejarah
• 9 See also 9 Lihat juga
• 10 References 10 Referensi

• 11 External links 11 Pranala luar

[ edit ] Classification [ sunting ] Klasifikasi


Infectious gastroenteritis is caused by a wide variety of bacteria and viruses. Infectious
gastroenteritis disebabkan oleh berbagai bakteri dan virus.
It is important to consider infectious gastroenteritis as a diagnosis per exclusionem .
Penting untuk mempertimbangkan Gastroenteritis menular sebagai diagnosis per
exclusionem . A few loose stools and vomiting may be the result of systemic infection
such as pneumonia , septicemia , urinary tract infection and even meningitis . Sebuah
bangku longgar sedikit dan muntah mungkin akibat sistemik infeksi seperti pneumonia ,
septicemia , infeksi saluran kemih dan bahkan meningitis . Surgical conditions such as
appendicitis , intussusception and, rarely, even Hirschsprung's disease may mislead the
clinician. Bedah kondisi seperti radang usus buntu , intussusception dan, jarang, bahkan
Penyakit Hirschsprung dapat menyesatkan dokter. Endocrine disorders (eg thyrotoxicosis
and Addison's disease ) are disorders that can cause diarrhea. gangguan endokrin
(misalnya tirotoksikosis dan Penyakit Addison ) adalah gangguan yang dapat
menyebabkan diare. Also, pancreatic insufficiency, short bowel syndrome , Whipple's
disease , coeliac disease , and laxative abuse should be excluded as possibilities. [ 6 ] Juga,
insufisiensi pankreas, sindrom usus pendek , Penyakit Whipple , penyakit celiac , dan
penyalahgunaan pencahar harus dikeluarkan sebagai kemungkinan. [6]

[ edit ] Bacterial gastroenteritis [ sunting ] Gastroenteritis bakteri

For a list of bacteria causing gastroenteritis, see above. Pseudomembranous colitis is an


important cause of diarrhea in patients often recently treated with antibiotics. Untuk
daftar bakteri yang menyebabkan gastroenteritis, lihat di atas. pseudomembran kolitis
adalah penyebab penting diare pada pasien sering baru diobati dengan antibiotik.

If gastroenteritis in a child is severe enough to require admission to a hospital, then it is


important to distinguish between bacterial and viral infections. Jika gastroenteritis pada
anak cukup parah membutuhkan masuk ke rumah sakit, maka penting untuk
membedakan antara infeksi bakteri dan virus. Bacteria, Shigella and Campylobacter , for
example, and parasites like Giardia can be treated with antibiotics Bakteri, Shigella dan
Campylobacter , misalnya, dan parasit seperti Giardia dapat diobati dengan antibiotik

Traveler's diarrhea is usually a type of bacterial gastroenteritis. Traveler's diare biasanya


merupakan jenis bakteri gastroenteritis.

[ edit ] Viral gastroenteritis [ sunting ] Viral Gastroenteritis

Viruses causing gastroenteritis include rotavirus , norovirus , adenovirus and astrovirus .


Virus menyebabkan gastroenteritis termasuk rotavirus , norovirus , adenovirus dan
astrovirus . Viruses do not respond to antibiotics and infected children usually make a full
recovery after a few days. [ 7 ] Children admitted to hospital with gastroenteritis routinely
are tested for rotavirus A to gather surveillance data relevant to the epidemiological
effects of rotavirus vaccination programs. [ 8 ] [ 9 ] These children are routinely tested also
for norovirus , which is extraordinarily infectious and requires special isolation
procedures to avoid transmission to other patients. Virus tidak merespon terhadap
antibiotik dan anak-anak yang terinfeksi biasanya membuat pemulihan penuh setelah
beberapa hari. [7] Anak-anak dirawat di rumah sakit dengan Gastroenteritis secara rutin
diuji untuk rotavirus A untuk mengumpulkan data surveilans yang relevan dengan efek
epidemiologi program vaksinasi rotavirus. [8 ] [9] Anak-anak secara rutin diuji juga untuk
norovirus , yang sangat menular dan membutuhkan prosedur isolasi khusus untuk
menghindari penularan kepada pasien lain. Other methods, electron microscopy and
polyacrylamide gel electrophoresis , are used in research laboratories. [ 10 ] [ 11 ] Metode
lain, mikroskop elektron dan elektroforesis gel poliakrilamid , digunakan di laboratorium
penelitian. [10] [11]

[ edit ] Symptoms and signs [ sunting ] Gejala dan


tanda-tanda
Gastroenteritis often involves stomach pain or spasms, diarrhea and/or vomiting , with
noninflammatory infection of the upper small bowel , or inflammatory infections of the
colon . [ 12 ] [ 6 ] [ 13 ] [ 14 ] Gastroenteritis sering melibatkan rasa sakit perut atau kejang, diare
dan / atau muntah , dengan infeksi MENYEBABKAN PERADANGAN dari bagian atas
usus kecil , atau infeksi radang dari usus besar . [12] [6] [13] [14]

The condition is usually of acute onset, normally lasting 1–6 days, and is self-limiting .
Kondisi ini biasanya akut onset, biasanya berlangsung 1-6 hari, dan membatasi diri .

• Nausea and vomiting Mual dan muntah


• Diarrhea Diare
• Loss of appetite Kehilangan nafsu makan
• Fever Demam
• Headaches Sakit kepala
• Abnormal flatulence Abnormal perut kembung
• Abdominal pain Sakit perut
• Abdominal cramps Kram perut
• Bloody stools ( dysentery - suggesting infection by amoeba, Campylobacter ,
Salmonella , Shigella or some pathogenic strains of Escherichia coli [ 4 ] ) Bloody
kotoran ( disentri - menunjukkan infeksi oleh amuba, Campylobacter,
Salmonella, Shigella atau beberapa strain patogenik Escherichia coli [4] )
• Fainting and Weakness Pingsan dan Kelemahan
• Heartburn Mulas

The main contributing factors include poor feeding in infants. Beberapa faktor utama
termasuk makan yang buruk pada bayi. Diarrhea is common, and may be followed by
vomiting. Diare adalah umum, dan mungkin diikuti dengan muntah-muntah. Viral
diarrhea usually causes frequent watery stools, whereas blood stained diarrhea may be
indicative of bacterial colitis . Viral diare biasanya menyebabkan tinja berair sering,
sedangkan diare bernoda darah mungkin menunjukkan bakteri kolitis . In some cases,
even when the stomach is empty, bile can be vomited up. Dalam beberapa kasus, bahkan
ketika perut kosong, empedu bisa memuntahkan.

A child with gastroenteritis may be lethargic , suffer lack of sleep, run a low fever, have
signs of dehydration (which include dry mucous membranes), tachycardia , reduced skin
turgor , skin color discoloration, sunken fontanelles , sunken eyeballs, darkened eye
circles, glassy eyes, poor perfusion and ultimately shock . Seorang anak dengan
Gastroenteritis mungkin lesu , menderita kurang tidur, jalankan demam rendah, memiliki
tanda-tanda dehidrasi (termasuk selaput lendir kering), takikardia , kulit berkurang
turgor , warna perubahan warna kulit, cekung fontanelles , bola mata cekung, lingkaran
mata gelap, kaca mata, miskin perfusi dan akhirnya shock .

[ edit ] Diagnosis [ sunting ] Diagnosis


Gastroenteritis is diagnosed based on symptoms, a complete medical history and a
physical examination. Gastroenteritis didiagnosis berdasarkan gejala, riwayat medis yang
lengkap dan pemeriksaan fisik. An accurate medical history may provide valuable
information on the existence or inexistence of similar symptoms in other members of the
patient's family or friends. Sebuah akurat riwayat kesehatan dapat memberikan informasi
berharga mengenai keberadaan atau tidak adanya gejala serupa di anggota lain dari pasien
keluarga atau teman. The duration, frequency, and description of the patient's bowel
movements and if they experience vomiting are also relevant and these question are
usually asked by a physician during the examination. [ 15 ] Durasi, frekuensi, dan deskripsi
pasien buang air besar dan jika mereka mengalami muntah juga relevan dan pertanyaan
ini biasanya diminta oleh dokter selama pemeriksaan. [15]

No specific diagnostic tests are required in most patients with simple gastroenteritis.
Tidak ada tes diagnostik khusus yang diperlukan pada kebanyakan pasien dengan
Gastroenteritis sederhana. If symptoms including fever, bloody stool and diarrhea persist
for two weeks or more, examination of stool for Clostridium difficile may be advisable
along with cultures for bacteria including Salmonella , Shigella , Campylobacter and
Enterotoxic Escherichia coli. Jika gejala termasuk demam, berdarah tinja dan diare
bertahan selama dua minggu atau lebih, pemeriksaan feses untuk Clostridium difficile
dapat dianjurkan bersama dengan budaya untuk bakteri, termasuk Salmonella , Shigella ,
Campylobacter , dan Escherichia coli Enterotoxic. Microscopy for parasites, ova and
cysts may also be helpful. [ citation needed ] Mikroskopi untuk parasit, ova dan kista juga dapat
membantu. [ rujukan? ]

A complete medical history may be helpful in diagnosing gastroenteritis. Sebuah riwayat


medis lengkap dapat membantu dalam mendiagnosis gastroenteritis. A complete and
accurate medical history of the patient includes information on travel history, exposure to
poisons or other irritants , diet change, food preparation habits or storage and
medications. Sebuah akurat dan lengkap riwayat medis pasien meliputi informasi tentang
sejarah perjalanan, paparan terhadap racun atau iritasi , mengubah diet, persiapan
kebiasaan makanan atau penyimpanan dan obat-obatan. Patients who travel may be
exposed to E. Coli infections or parasite infections contacted from beverages or food.
Swimming in contaminated water or drinking from suspicious fresh water such as
mountain streams or wells may indicate infection from Giardia - an organism found in
water that causes diarrhea. Pasien yang melakukan perjalanan mungkin terkena infeksi E.
Coli atau infeksi parasit dihubungi dari minuman atau makanan. Berenang di air yang
terkontaminasi atau minum dari mencurigakan air tawar seperti sungai atau sumur
gunung mungkin menunjukkan infeksi dari Giardia - organisme yang ditemukan dalam
air yang menyebabkan diare .

Food poisoning must be considered in cases when the patient was exposed to
undercooked or improperly stored food. Keracunan makanan harus diperhatikan dalam
kasus-kasus ketika pasien terkena atau tidak disimpan makanan matang. Depending on
the type of bacteria that is causing the condition, the reactions appear in 2 to 72 hours.
Tergantung pada jenis bakteri yang menyebabkan kondisi tersebut, reaksi muncul dalam
2 sampai 72 jam. Detecting the specific infectious agent is required in order to establish a
proper diagnosis and an effective treatment plan. Mendeteksi agen infeksi spesifik
diperlukan dalam rangka menegakkan diagnosa yang tepat dan rencana pengobatan yang
efektif.

The doctor may want to find whether the patient has been using broad-spectrum or
multiple antibiotics in their recent past. Dokter mungkin ingin mengetahui apakah pasien
telah menggunakan spektrum luas atau beberapa antibiotik di masa lalu mereka. If so,
they could be the cause of an irritation of the gastrointestinal tract. Jika demikian, mereka
bisa menjadi penyebab iritasi pada saluran pencernaan.

During the physical examination, the doctor will look for other possible causes of the
infection. Selama pemeriksaan fisik, dokter akan mencari kemungkinan penyebab lain
dari infeksi. Conditions such as appendicitis , gallbladder disease, pancreatitis or
diverticulitis may cause similar symptoms but a physical examination will reveal a
specific tenderness in the abdomen which is not present in gastroenteritis. Kondisi seperti
usus buntu , kandung empedu penyakit, pankreatitis atau divertikulitis dapat
menyebabkan gejala serupa tetapi pemeriksaan fisik akan mengungkapkan kelembutan
khusus dalam perut yang tidak hadir dalam gastroenteritis.

Diagnosing gastroenteritis is mainly an exclusion procedure. Diagnosa Gastroenteritis


terutama prosedur pengecualian. Therefore in rare cases when the symptoms are not
enough to diagnose gastroenteritis, several tests may be performed in order to rule out
other gastrointestinal disorders. Oleh karena itu dalam kasus yang jarang terjadi ketika
gejala tidak cukup untuk mendiagnosa gastroenteritis, beberapa tes dapat dilakukan
dalam rangka untuk menyingkirkan gangguan pencernaan lainnya. These include rectal
examinations , complete blood count , electrolytes and kidney function tests . Ini
termasuk pemeriksaan dubur , hitung darah lengkap , elektrolit dan fungsi ginjal tes .
However, when the symptoms are conclusive, no tests apart from the stool tests are
required to correctly diagnose gastroenteritis especially if the patient has traveled to at-
risk areas. Namun, ketika gejala yang konklusif, ada tes terpisah dari bangku tes
diwajibkan untuk benar mendiagnosa gastroenteritis terutama jika pasien telah
melakukan perjalanan ke daerah-daerah berisiko.

[ edit ] Prevention [ sunting ] Pencegahan


Percentage of rotavirus tests with positive results, by surveillance week, United States,
July 2000--June 2009. Persentase rotavirus tes dengan hasil positif, oleh minggu
surveilans, Amerika Serikat, Juli 2000 - Juni 2009.

A rotavirus vaccine has between 2000 and 2009 decreased the number of cases of
diarrhea due to rotavirus in the United States. [ 16 ] Sebuah vaksin rotavirus memiliki
antara 2000 dan 2009 mengalami penurunan jumlah kasus diare akibat rotavirus di
Amerika Serikat. [16]

Gastroenteritis may be prevented through immunization. [ 17 ] The US Food and Drug


Administration approved in 2006 a rotavirus called Rotateq that may be given to infants
aged 6 to 32 weeks to prevent getting infected with viral gastroenteritis. [ 18 ] The vaccines
may however have side effects that are similar to the mild flu symptoms. Gastroenteritis
bisa dicegah melalui imunisasi. [17] US Food and Drug Administration disetujui pada
tahun 2006 yang disebut rotavirus RotaTeq yang dapat diberikan kepada bayi berumur 6
sampai 32 minggu untuk mencegah terinfeksi dengan Gastroenteritis virus. [18] Vaksin
namun mungkin efek samping yang sama dengan gejala flu ringan.

Different types of vaccinations are available for Salmonella typhi and Vibrio cholera and
which may be administered to people who intend traveling in at-risk areas. Berbagai jenis
vaksinasi yang tersedia untuk Salmonella typhi dan Vibrio kolera dan yang dapat
diberikan kepada orang-orang yang berniat melakukan perjalanan di daerah yang
berisiko. However, the vaccines that are currently available are effective only on
rotavirual gastroenteritis. Namun, vaksin yang saat ini tersedia hanya efektif pada
gastroenteritis rotavirual.

Doctors recommend that food be properly cooked and stored to prevent gastroenteritis.
Dokter menyarankan bahwa makanan harus dimasak dengan benar dan disimpan untuk
mencegah gastroenteritis. Avoid suspect food or drink. Tersangka Hindari makanan atau
minuman. Thoroughly wash both hands before eating and after using the bathroom or
changing diapers . Seksama mencuci kedua tangan sebelum makan dan setelah
menggunakan kamar mandi atau mengganti popok . Viral gastroenteritis is a highly
contagious disease and thus avoiding crowded spaces such as markets , theaters or
shopping centers may also help in preventing infection for those who have weak
resistance. Viral Gastroenteritis adalah penyakit yang sangat menular dan dengan
demikian menghindari ruang ramai seperti pasar , bioskop atau pusat perbelanjaan juga
dapat membantu dalam mencegah infeksi bagi mereka yang memiliki ketahanan yang
lemah. Bleaching soiled laundry and household surfaces may help prevent spreading
bacteria. [ 19 ] Pemutihan kotor binatu dan rumah tangga permukaan dapat membantu
mencegah penyebaran bakteri. [19]
[ edit ] Management [ sunting ] Manajemen
Gastroenteritis is usually an acute and self-limited disease that does not require
pharmacological therapy. [ 20 ] The objective of treatment is to replace lost fluids and
electrolytes . Oral rehydration is the preferred method of replacing these losses in
children with mild to moderate dehydration. [ 21 ] Metoclopramide and ondansetron
however may be helpful in children. [ 22 ] Gastroenteritis biasanya merupakan dan self-
terbatas penyakit akut yang tidak memerlukan terapi farmakologis. [20] Tujuan pengobatan
adalah untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit . rehidrasi oral adalah metode
yang disukai untuk mengganti kerugian tersebut pada anak dengan dehidrasi ringan
sampai sedang. [21] Metoclopramide dan ondansetron Namun dapat membantu pada anak-
anak. [22]

[ edit ] Rehydration [ sunting ] Rehidrasi

The primary treatment of gastroenteritis in both children and adults is rehydration , ie,
replenishment of water and electrolytes lost in the stools. Perlakuan utama Gastroenteritis
pada anak dan orang dewasa adalah rehidrasi , yaitu, penambahan air dan elektrolit hilang
dalam tinja. This is preferably achieved by giving the person oral rehydration therapy
(ORT) although intravenous delivery may be required if a decreased level of
consciousness or an ileus is present. [ 23 ] [ 24 ] Complex-carbohydrate-based Oral
Rehydration Salts (ORS) such as those made from wheat or rice have been found to be
superior to simple sugar-based ORS. [ 25 ] Hal ini sebaiknya dicapai dengan memberikan
orang terapi rehidrasi oral (ORT) walaupun intravena melahirkan mungkin diperlukan
jika tingkat penurunan kesadaran atau ileus hadir. [23] [24] Kompleks-karbohidrat berbasis
Garam Rehidrasi Oral (ORS) seperti bahan yang terbuat dari gandum atau beras telah
ditemukan untuk menjadi lebih unggul untuk oralit gula sederhana berbasis. [25]

Sugary drinks such as soft drinks and fruit juice are not recommended for gastroenteritis
in children under 5 years of age as they may make the diarrhea worse. [ 20 ] Plain water
may be used if specific ORS are unavailable or not palatable. [ 20 ] minuman manis seperti
minuman ringan dan jus buah tidak dianjurkan untuk Gastroenteritis pada anak di bawah
usia 5 tahun karena dapat membuat diare lebih buruk. [20] Air biasa dapat digunakan jika
oralit spesifik tidak tersedia atau tidak cocok. [20]

[ edit ] Diet [ sunting ] Diet

It is recommended that breastfed infants continue to be nursed on demand and that


formula-fed infants should continue their usual formula immediately after rehydration
with oral rehydration solutions . Disarankan bahwa bayi ASI terus dirawat pada
permintaan dan bahwa bayi yang diberi susu formula harus melanjutkan formula yang
biasa mereka segera setelah rehidrasi dengan solusi rehidrasi oral . Lactose-free or
lactose-reduced formulas usually are not necessary. [ 26 ] Children receiving semisolid or
solid foods should continue to receive their usual diet during episodes of diarrhea. Bebas
atau laktosa-reduced formula laktosa biasanya tidak diperlukan. [26] Anak-anak menerima
makanan yang setengah padat atau padat harus melanjutkan untuk menerima makanan
yang biasa mereka selama episode diare. Foods high in simple sugars should be avoided
because the osmotic load might worsen diarrhea; therefore substantial amounts of soft
drinks, juice, and other high simple sugar foods should be avoided. [ 26 ] The practice of
withholding food is not recommended and immediate normal feeding is encouraged. [ 27 ]
The BRAT diet (bananas, rice, applesauce, toast and tea) is no longer recommended, as it
contains insufficient nutrients and has no benefit over normal feeding. [ 28 ] Makanan
tinggi gula sederhana harus dihindari karena beban osmotik mungkin memperburuk
diare, sehingga sejumlah besar minuman ringan, jus, dan makanan tinggi gula sederhana
harus dihindari. [26] Praktek pemotongan makanan tidak direkomendasikan dan langsung
makan normal dianjurkan. [27] The BRAT diet (pisang, beras, saus apel, roti panggang dan
teh) tidak lagi direkomendasikan, karena mengandung nutrisi cukup dan tidak memiliki
manfaat lebih dari makan normal. [28]

[ edit ] Medications [ sunting ] Pengobatan

Antiemetics Antiemetik

Antiemetic drugs may be helpful for vomiting in children. Ondansetron has some utility
with a single dose associated with less need for intravenous fluids, fewer hospitalizations,
and decreased vomiting. [ 29 ] [ 30 ] [ 31 ] Metoclopramide also might be helpful. [ 32 ] However
there was an increased number of children who returned and were subsequently admitted
in those treated with ondansetron. [ 33 ] The intravenous preparation of ondansetron may be
given orally. [ 34 ] Antiemetik obat dapat membantu untuk muntah pada anak-anak.
Ondansetron memiliki beberapa utilitas dengan dosis tunggal yang terkait dengan kurang
perlu untuk cairan infus, rawat inap lebih sedikit, dan penurunan muntah. [29] [30] [31]
Metoclopramide juga mungkin bisa membantu. [32 ] Namun ada peningkatan jumlah anak
yang kembali dan kemudian mengakui pada mereka diperlakukan dengan ondansetron.
[33]
Penyusunan ondansetron intravena dapat diberikan secara oral. [34]

Antibiotics Antibiotik

Antibiotics are not usually used for gastroenteritis, although they are sometimes used if
symptoms are severe (such as dysentry ) [ 35 ] or a susceptible bacterial cause is isolated or
suspected. [ 36 ] If antibiotics are decided on, a fluoroquinolone or macrolide is often used.
[ 13 ]
Antibiotik biasanya tidak digunakan untuk Gastroenteritis, walaupun mereka kadang-
kadang digunakan jika gejala yang parah (seperti disentri ) [35] atau bakteri penyebab
rentan terisolasi atau dicurigai. [36] Jika antibiotik memutuskan, sebuah fluoroquinolone
atau macrolide sering digunakan. [13]

Pseudomembranous colitis , usually caused by antibiotics use, is managed by


discontinuing the causative agent and treating with either metronidazole or vancomycin . [
13 ] [ 14 ]
kolitis pseudomembran , biasanya disebabkan oleh penggunaan antibiotik, dikelola
oleh menghentikan agen penyebab dan memperlakukan dengan baik metronidazole atau
vankomisin . [13] [14]

Antimotility agents Antimotility agen


Antimotility drugs have a theoretical risk of causing complications; clinical experience,
however, has shown this to be unlikely. [ 6 ] [ 13 ] They are thus discouraged in people with
bloody diarrhea or diarrhea complicated by a fever. [ 12 ] obat Antimotility memiliki risiko
teoritis menyebabkan komplikasi;, pengalaman bagaimanapun, telah menunjukkan ini
menjadi tidak mungkin. klinis [6] [13] dengan demikian dianjurkan pada orang dengan
berdarah atau diare diare rumit oleh. demam Mereka [12]

Loperamide , an opioid analogue, is commonly used for the symptomatic treatment of


diarrhea. [ 13 ] Loperamide is not recommended in children as it may cross the immature
blood brain barrier and cause toxicity. Loperamide , suatu opioid analog, biasanya
digunakan untuk pengobatan simtomatik diare. [13] Loperamide tidak dianjurkan pada
anak-anak karena dapat melewati sawar otak belum matang darah dan menyebabkan
keracunan.

Bismuth subsalicylate (BSS), an insoluble complex of trivalent bismuth and salicylate,


can be used in mild-moderate cases. [ 6 ] [ 13 ] Bismut subsalicylate (BSS), sebuah kompleks
larut bismut trivalen dan salisilat, dapat digunakan dalam kasus-kasus ringan-moderat. [6]
[13]

[ edit ] Alternative medicine [ sunting ] Obat Alternatif

Probiotics Probiotik

Some probiotics have been shown to be beneficial in preventing and treating various
forms of gastroenteritis. [ 28 ] Fermented milk products (such as yogurt ) also reduce the
duration of symptoms. [ 37 ] Beberapa probiotik telah terbukti bermanfaat dalam mencegah
dan mengobati berbagai bentuk gastroenteritis. [28] produk susu fermentasi (seperti
yoghurt ) juga mengurangi durasi gejala. [37]

Zinc Seng

The World Health Organization recommends that infants and children receive a dietary
supplement of zinc for up to two weeks after onset of gastroenteritis. [ 38 ] A 2009 trial
however did not find any benefit from supplementation. [ 39 ] The Organisasi Kesehatan
Dunia merekomendasikan bahwa bayi dan anak-anak menerima suplemen makanan dari
seng sampai dua minggu setelah onset gastroenteritis. [38] Sebuah uji 2009 namun belum
menemukan manfaat dari suplemen. [39]

[ edit ] Complications [ sunting ] Komplikasi


Dehydration is a common complication of diarrhea . Dehidrasi adalah komplikasi umum
dari diare . It can be made worse with the withholding fluids or the administration of
juice / soft drinks. [ 40 ] Malabsorption of lactose , the principal sugar in milk , may occur.
Hal ini dapat dibuat lebih buruk dengan cairan pemotongan atau administrasi jus /
minuman ringan. [40] Malabsorpsi dari laktosa , gula utama di susu , dapat terjadi. Though
it may increase the diarrhea, [ 41 ] however, mothers should continue breastfeeding .
Meskipun mungkin meningkatkan diare, [41] Namun, ibu harus terus menyusui .

[ edit ] Epidemiology [ sunting ] Epidemiologi

Disability-adjusted life year for diarrhea per 100,000 inhabitants. Cacat-disesuaikan


hidup tahun untuk diare per 100.000 penduduk.
no data tidak ada data
≤50 ≤ 50
50-100 50-100
100-200 100-200
200-300 200-300
300-400 300-400
400-500 400-500
500-750 500-750
750-1000 750-1000
1000-1250 1000-1250
1250-2500 1250-2500
2500-5000 2500-5000
≥5000 ≥ 5000

Every year worldwide rotavirus in children under 5, causes 111 million cases of
gastroenteritis and nearly half a million deaths. Setiap tahun di seluruh dunia rotavirus
pada anak di bawah 5, penyebab 111 juta kasus gastroenteritis dan hampir setengah juta
kematian. 82% of these deaths occur in the world's poorest nations. [ 42 ] 82% dari
kematian ini terjadi di negara-negara termiskin dunia itu. [42]

In 1980 gastroenteritis from all causes caused 4.6 million deaths in children with most of
these occurring in the third world . [ 14 ] Lack of adequate safe water and sewage treatment
has contributed to the spread of infectious gastroenteritis. Pada tahun 1980 gastroenteritis
dari semua penyebab menyebabkan 4,6 juta kematian pada anak-anak dengan sebagian
besar terjadi di dunia ketiga . [14] Kurangnya cukup air bersih dan pengolahan limbah telah
berkontribusi pada penyebaran infeksi gastroenteritis. Current death rates have come
down significantly to approximately 1.5 million deaths annually in the year 2000, largely
due to the global introduction of oral rehydration therapy . [ 43 ] tingkat kematian saat ini
telah turun secara signifikan menjadi sekitar 1,5 juta kematian setiap tahunnya di tahun
2000, sebagian besar disebabkan oleh pengenalan global terapi rehidrasi oral . [43]

The incidence in the developed world is as high as 1-2.5 cases per child per year [ citation
needed ]
and is a major cause of hospitalization in this age group. Kejadian di negara maju
setinggi 1-2,5 kasus per anak per tahun [ rujukan? ] dan merupakan penyebab utama rawat
inap di kelompok usia ini.

Age, living conditions, hygiene and cultural habits are important factors. Aetiological
agents vary depending on the climate. Umur, kondisi hidup, kebersihan dan kebiasaan
budaya merupakan faktor penting. etiologi agen bervariasi tergantung pada iklim.
Furthermore, most cases of gastroenteritis are seen during the winter in temperate
climates and during summer in the tropics. [ 14 ] Selain itu, sebagian besar kasus
Gastroenteritis terlihat selama musim dingin di daerah beriklim sedang dan selama
musim panas di daerah tropis. [14]

[ edit ] History [ sunting ] Sejarah


Before the 20th century, the term "gastroenteritis" was not commonly used. Sebelum
abad ke-20, "gastroenteritis" Istilah tidak umum digunakan. What would now be
diagnosed as gastroenteritis may have instead been diagnosed more specifically as
typhoid fever or "cholera morbus", among others, or less specifically as "griping of the
guts", "surfeit", "flux", "colic", "bowel complaint", or any one of a number of other
archaic names for acute diarrhea. [ 44 ] Historians, genealogists, and other researchers
should keep in mind that gastroenteritis was not considered a discrete diagnosis until
fairly recently. Apa yang sekarang akan didiagnosis sebagai gastroenteritis mungkin
malah telah didiagnosa secara spesifik dikenal sebagai demam tifoid atau "kolera
morbus", antara lain, atau kurang spesifik dikenal sebagai "kikir dari nyali", "kejenuhan",
"flux", "kolik", " usus keluhan ", atau salah satu dari sejumlah nama kuno lain untuk diare
akut. [44] sejarawan, genealogists, dan peneliti lain harus diingat bahwa Gastroenteritis
tidak dianggap sebagai diagnosis diskrit sampai cukup baru-baru ini.

US President Zachary Taylor died of gastroenteritis on July 9, 1850. [ 45 ] Presiden AS


Zachary Taylor meninggal karena gastroenteritis pada tanggal 9 Juli 1850. [45]

Nama Alternatif
Rotavirus infection; Norwalk virus; Gastroenteritis - viral; Stomach flu Rotavirus infeksi;
Norwalk virus, Gastroenteritis - virus; flu Perut

Causes, incidence, and risk factors Penyebab, kejadian, dan faktor


risiko

Viral gastroenteritis is a leading cause of severe diarrhea in both adults and children.
Viral Gastroenteritis adalah penyebab utama diare yang parah pada orang dewasa dan
anak-anak. Many types of viruses can cause gastroenteritis. Banyak jenis virus dapat
menyebabkan gastroenteritis. The most common ones are: Yang paling umum adalah:

• Rotavirus, the leading cause of severe gastroenteritis in children. Rotavirus,


penyebab utama gastroenteritis berat pada anak. It can also infect adults exposed
to children with the virus. Hal ini juga dapat menginfeksi orang dewasa terkena
anak-anak dengan virus. Outbreaks may also occur in nursing homes. Wabah juga
bisa terjadi di rumah-rumah jompo.
• Norwalk virus, which is common among school-age children. Norwalk virus,
yang adalah umum di antara anak-anak usia sekolah.

These viruses are often found in contaminated food or drinking water. Virus ini sering
ditemukan dalam makanan terkontaminasi atau air minum. Symptoms of viral
gastroenteritis usually appear within 4 to 48 hours after exposure to the contaminated
food or water. Gejala dari gastroenteritis virus biasanya muncul dalam waktu 4 sampai 48
jam setelah terpapar makanan atau air yang terkontaminasi.

Those with the highest risk for severe gastroenteritis include the young, the elderly, and
people who have suppressed immune systems. Mereka yang memiliki risiko tertinggi
untuk Gastroenteritis parah termasuk kaum muda, orang tua, dan orang-orang yang telah
menekan sistem kekebalan tubuh.

Symptoms Gejala

• Abdominal pain Sakit perut


• Abdominal cramping Kram perut
• Diarrhea Diare
• Nausea Mual
• Vomiting Muntah

Additional symptoms may include: Gejala tambahan mungkin termasuk:

• Unintentional weight loss Berat badan yang tidak disengaja


• Vomiting blood (very rare) Muntah darah (sangat jarang)
• Excessive sweating Berkeringat berlebihan
• Clammy skin Kulit lembap
• Muscle pain Nyeri otot
• Joint stiffness Bersama kekakuan
• Incontinence Sifat tdk bertarak
• Fever Demam
• Chills Panas dingin
• Poor feeding Miskin makan

Signs and tests Tanda-tanda dan tes

Tests that examine stool samples are used to identify the specific virus or rule out a
bacterial cause. Tes yang memeriksa sampel tinja yang digunakan untuk mengidentifikasi
virus tertentu atau menyingkirkan penyebab bakteri.
Treatment Pengobatan

The goal of treatment is to prevent dehydration. Tujuan pengobatan adalah untuk


mencegah dehidrasi. Fluids and electrolytes (salt and minerals) lost by diarrhea must be
replaced. Cairan dan elektrolit (garam dan mineral) hilang oleh diare harus diganti.
Electrolyte and fluid replacement solutions for children are available in food and drug
stores. Elektrolit dan solusi pengganti cairan untuk anak-anak yang tersedia di toko
makanan dan obat. Juice, soda or water do not replace electrolytes lost from vomiting or
diarrhea. Jus, soda atau air tidak menggantikan elektrolit yang hilang dari muntah atau
diare. Children with diarrhea often benefit from dietary modifications until the diarrhea
subsides. Anak-anak dengan diare sering mendapat manfaat dari modifikasi diet sampai
diare reda.

Since the risk of dehydration is greater in infants and young children, parents should
closely monitor the number of wet diapers changed per day when the child is sick.
Karena risiko dehidrasi lebih besar pada bayi dan anak-anak, orang tua harus memonitor
secara ketat jumlah popok basah berubah per hari ketika anak sakit. People with diarrhea
who are unable to take fluids by mouth because of nausea may need intravenous fluids.
Orang dengan diare yang tidak mampu untuk mengambil cairan melalui mulut karena
mual mungkin perlu cairan infus. This is especially true in small children. Hal ini
terutama terjadi pada anak-anak kecil.

Antibiotics do not work for viruses. Antibiotik tidak bekerja untuk virus.

Antidiarrheal medications are generally not given, as they may prolong the infectious
process. obat anti diare umumnya tidak diberikan, karena mereka dapat memperpanjang
proses infeksi. DO NOT give anti-diarrheal medications to children unless directed to do
so by a health care provider. JANGAN memberikan obat anti-diare untuk anak-anak
kecuali diarahkan untuk melakukannya oleh penyedia layanan kesehatan.

People taking diuretics who develop diarrhea may be advised by their health care
provider to stop taking the diuretic during the acute episode. Orang yang memakai
diuretik yang mengembangkan diare mungkin disarankan oleh penyedia layanan
kesehatan mereka untuk menghentikan mengambil diuretik selama akut episode.
However, DO NOT stop taking any prescription medicine without first talking to your
doctor. Namun, JANGAN berhenti minum obat resep apapun tanpa terlebih dahulu
berbicara dengan dokter Anda.

Expectations (prognosis) Harapan (prognosis)

Most infections will go away on their own. Kebanyakan infeksi akan hilang sendiri.
Children may become severely ill from dehydration caused by diarrhea. Anak-anak dapat
menjadi sangat sakit karena dehidrasi akibat diare.
Complications Komplikasi

Rotavirus causes severe gastroenteritis in infants and young children. Rotavirus


menyebabkan gastroenteritis berat pada bayi dan anak kecil. Severe dehydration and
death can occur in this age group. Parah dehidrasi dan kematian dapat terjadi pada
kelompok usia ini.

Calling your health care provider Memanggil penyedia layanan


kesehatan Anda

Call your health care provider if diarrhea persists for more than several days or if
dehydration occurs. Hubungi penyedia pelayanan kesehatan Anda jika diare berlangsung
lebih dari beberapa hari atau jika dehidrasi terjadi. You should also contact your doctor if
the following symptoms are present: Anda juga harus menghubungi dokter Anda jika
gejala-gejala berikut ini:

• Blood in the stool Darah dalam tinja


• Low urine output Keluaran urine sedikit
• Nausea Mual
• Faintness Pingsan
• Dizziness Pusing
• Dry mouth Mulut kering
• Sunken appearance to the eyes Tampilannya cekung mata
• Sunken fontanelle (soft spot on an infant's head) Ubun cekung (titik lemah di
kepala bayi's)
• Confusion Kebingungan

Prevention Pencegahan

Most infectious organisms are transmitted by unwashed hands. Kebanyakan organisme


menular ditularkan oleh tangan yang tidak bersih. The best way to prevent viral
gastroenteritis is to handle food properly and wash hands thoroughly after using the toilet.
Cara terbaik untuk mencegah Gastroenteritis virus adalah untuk menangani makanan
dengan benar dan mencuci tangan dengan bersih setelah menggunakan toilet.

RotaTeq is a vaccine used to prevent rotavirus-related gastroenteritis in infants. RotaTeq


digunakan adalah vaksin untuk mencegah rotavirus gastroenteritis terkait pada bayi.
However, a serious intestinal problem called intussusception has been reported in a small
number of infants who received this vaccine. Namun, masalah serius yang disebut usus
intussusception telah dilaporkan di sejumlah kecil bayi yang menerima vaksin ini.
Immediately call your doctor if your child received this vaccine and has stomach pain,
vomiting, diarrhea, blood in the stool, or a change in bowel movements. Segera hubungi
dokter Anda jika anak Anda menerima vaksin ini dan telah sakit perut, muntah, diare,
darah dalam tinja, atau perubahan buang air besar.
References Referensi

US Food and Drug Administration. FDA Approves New Vaccine to Prevent Rotavirus
Gastroenteritis in Infants , Rockville, MD: National Press Office; February 3, 2006.
Amerika Serikat Administrasi Makanan dan Obat 2006. FDA menyetujui Vaksin Baru
untuk Mencegah Gastroenteritis Rotavirus pada Bayi, Rockville, MD Pers Nasional:
Kantor; tanggal 3 Februari. Press Release P06-16. Siaran Pers P06-16.

Dennehy PH. Dennehy PH. Acute diarrheal disease in children: epidemiology,


prevention, and treatment. Infect Dis Clin North Am . Penyakit diare akut pada anak-
anak: epidemiologi, pencegahan, dan pengobatan Am. Infect Dis Clin Utara. 2005; 19(3):
585-602. 2005; 19 (3): 585-602.

Jabbar A. Gastroenteritis and antibiotic-associated diarrhea. Prim Care . A. Jabbar


Gastroenteritis dan terkait diare antibiotik. Prim Care. 2003; 30(1): 63-80, vi. 2003; 30
(1): 63-80, vi.