Anda di halaman 1dari 6

Jangan Hanya Terpaku Pada Inflasi

Monday, 09 February 2009 02:55

0 Comments

Kerangka kebijakan moneter inflation targeting mendominasi kebijakan bank sentral


dunia dalam beberapa tahun terakhir ini. Akan tetapi, pengalaman akhir-akhir ini
menunjukkan bahwa kebijakan ini, bila dipraktikkan secara terlalu kaku, cenderung
membuat sebuah bank sentral terlambat bereaksi terhadap perkembangan ekonomi yang
terjadi.

Pada masa mendatang tampaknya bank sentral harus memberi bobot yang lebih besar
pada data ekonomi yang lain dalam menentukan kebijakan moneternya.

Dalam beberapa tahun ini banyak bank sentral di dunia mempraktikkan kerangka
kebijakan inflation targeting (IT). Target suatu bank sentral, menurut kerangka kebijakan
ini, hanyalah satu, yaitu inflasi. Biasanya pada awal tahun bank sentral tersebut akan
menyebutkan target inflasinya. Kemudian, kebijakan moneter bank sentral tersebut
sepanjang tahun akan ditujukan agar target inflasi tersebut tercapai.

Bank sentral akan menaikkan suku bunga bila inflasi berada di atas yang telah
ditargetkan. Menaikkan suku bunga diharapkan akan memperlambat pertumbuhan
ekonomi sehingga tekanan inflasi dari sisi permintaan akan berkurang. Pada saat
permintaan kurang, biasanya produsen akan mengalami kesulitan untuk menaikkan harga
jual produknya. Maka, level harga secara umum akan terjaga.

Sebaliknya, pada saat tekanan inflasi dirasa terlalu rendah, bank sentral tidak memiliki
insentif untuk menaikkan suku bunga. Bahkan, bank sentral dapat menurunkan suku
bunga bila pertumbuhan ekonomi dirasakan lebih lambat dari yang seharusnya. Kerangka
kebijakan IT timbul karena kepercayaan banyak ekonom bahwa kebijakan moneter
kurang efektif dalam memengaruhi fluktuasi jangka pendek yang terjadi pada suatu
perekonomian. Dalam jangka panjang kebijakan moneter hanya dapat memengaruhi
inflasi (harga). Jadi, menurut mereka, tidaklah tepat bila kebijakan moneter ditujukan
untuk merespons fluktuasi jangka pendek (seperti fluktuasi pertumbuhan ekonomi).

Kebijakan moneter seharusnya ditujukan untuk mengendalikan hal yang memang benar-
benar dapat dikendalikannya, yaitu inflasi. Inflasi yang terkendali merupakan prasyarat
untuk terjadinya keadaan makroekonomi yang lebih baik, seperti terciptanya
pertumbuhan ekonomi yang baik, penciptaan lapangan kerja, dan kenaikan tingkat
kemakmuran.

Dampak buruk
IT menjadi amat populer dalam beberapa puluh tahun terakhir karena keberhasilan
negara-negara seperti Jerman dan Selandia Baru dalam menciptakan tingkat inflasi yang
rendah dan laju pertumbuhan ekonomi yang baik. Banyak negara saat ini sudah secara
resmi menyatakan menjalankan kerangka kebijakan ini. Walaupun masih banyak juga
negara yang belum mengadopsi kebijakan IT secara formal, dalam praktiknya mereka
amat memerhatikan inflasi dan cenderung mengabaikan fluktuasi jangka pendek dari
perekonomian. Dengan kata lain, sebuah bank sentral tidak akan serta-merta
melonggarkan kebijakan moneternya di tengah ancaman perlambatan ekonomi bila laju
inflasi dianggap masih tinggi.

The Fed, misalnya, belum mengadopsi kerangka kebijakan IT secara formal. Akan tetapi,
dalam menentukan kebijakan moneternya, bank sentral AS tersebut amat memerhatikan
inflasi. Terkadang mereka agak mengabaikan hal yang lain. Praktik tersebut tampaknya
telah membuat bank sentral AS tersebut terlambat bertindak, yang pada dasarnya turut
memperburuk keterpurukan ekonomi AS pada saat ini.

Misalnya, pada pertengahan tahun 2004, ketika laju pertumbuhan ekonomi dianggap
terlalu cepat (di atas 4 persen per tahun) dan tekanan inflasi mulai meningkat, The Fed
segera menaikkan suku bunga. Tindakan ini dilakukan agar perekonomian AS tidak
kepanasan. Suku bunga dinaikkan terus sampai pertengahan tahun 2006. Dalam periode
ini suku bunga naik dari 1 persen pada pertengahan 2004 menjadi 5,25 persen pada
pertengahan tahun 2006.

Bila melihat angka inflasi yang terjadi, memang tampaknya kebijakan The Fed
menaikkan suku bunga ini amat tepat. Pada pertengahan tahun 2005 sampai pertengahan
tahun 2006 inflasi berkisar 3,5 persen sampai 4 persen. Di AS, inflasi di atas 3 persen
dianggap sudah terlalu tinggi. Tetap bertahannya inflasi di atas 3 persen membuat The
Fed terus menaikkan suku bunga sampai pertengahan tahun 2006. Setelah inflasi tampak
mulai dapat dikendalikan, barulah The Fed menahan kenaikan suku bunga. Kebijakan ini
tampak cukup berhasil, seperti terlihat dari turunnya inflasi tahunan ke bawah level 3
persen pada paruh kedua tahun 2006 (lihat gambar 1).
image courtesy of Kompas

Namun, langkah pengendalian inflasi ini tampaknya harus dibayar dengan biaya yang
terlalu mahal. Terlalu asyik memerhatikan angka inflasi membuat The Fed terlena dan
agak melupakan variabel-variabel ekonomi yang lain.

The Fed seharusnya juga memberi perhatian yang lebih besar terhadap data ekonomi
yang lain, misalnya data angka penjualan rumah. Memerhatikan sektor ini amat penting
karena kontribusi sektor ini terhadap perekonomian AS cukup signifikan. Total kredit
yang disalurkan ke sektor real estat, misalnya, mencapai 38,5 persen (per November
2008) dari total kredit perbankan AS. Laju pertumbuhan penjualan rumah di AS mulai
mengalami penurunan sejak The Fed menaikkan suku bunga pada pertengahan tahun
2004. Menjelang akhir tahun 2005 pertumbuhan penjualan rumah sudah negatif, dengan
tren yang menurun (gambar 2).

Artinya, sektor perumahan sudah mengalami tekanan yang cukup berat sejak awal tahun
2006. Seandainya The Fed memberi perhatian yang lebih besar pada angka penjualan
rumah ini, seharusnya bunga berhenti dinaikkan sejak awal tahun 2006. Pada waktu itu
bunga berada pada level sekitar 4 persen. Apabila ini yang dilakukan, mungkin keadaan
di sektor perumahan tidak akan seburuk seperti saat ini.

Namun, keasyikan fokus dengan inflasi membuat peringatan dari data sektor perumahan
ini agak terabaikan. Akibatnya, bunga dinaikkan terus walaupun sebenarnya ada data
ekonomi yang menunjukkan keadaan sudah semakin memburuk. Jadi, fokus yang
berlebihan pada inflasi telah membuat bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan
terlalu tinggi. Dengan kata lain, bank sentral AS menginjak ”rem pertumbuhan” terlalu
dalam sehingga ekonominya lantas terpuruk.

Bank sentral kita pun hampir melakukan kesalahan yang sama. Ketika pemerintah
menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi bulan Mei, laju inflasi pun meningkat
signifikan. Untuk mengendalikan tekanan inflasi, Bank Indonesia menaikkan suku bunga.
BI menaikkan terus BI Rate sampai 9,5 persen pada Oktober 2008. Padahal, ada indikasi
ekonomi kita mulai melambat sejak Juli 2008.

Perlambatan ekonomi

Adanya perlambatan ekonomi terlihat dari pergerakan Coincident Economic Index (CEI).
CEI adalah indeks yang menggambarkan keadaan ekonomi pada suatu saat. CEI disusun
dari data penjualan mobil, konsumsi semen, impor, suplai uang, dan indeks penjualan
ritel. CEI yang naik menggambarkan ekonomi yang membaik, dan sebaliknya. Sejak Juli
2008 CEI menunjukkan tren penurunan yang terus berlangsung sampai November 2008
(gambar 3).

image courtesy of Kompas


Akan tetapi, laju inflasi yang masih dua digit telah memaksa BI menaikkan terus suku
bunga sampai dengan bulan Oktober. Keterpakuan pada angka inflasi cenderung
membuat bank sentral kita agak mengabaikan perlambatan ekonomi yang terjadi.
Untungnya, BI segera mengubah arah kebijakan moneternya sejak Desember lalu, dengan
mulai menurunkan BI Rate. Kalau tidak, mungkin ekonomi kita saat ini sudah memasuki
resesi yang parah.

Diskusi di atas menunjukkan bahwa terlalu fokus terhadap inflasi membuat bank sentral
AS menjalankan kebijakan moneter yang ”terlalu ketat”, yang membuat perekonomian
AS mengalami resesi amat parah.

Inflation targeting mungkin merupakan kerangka kebijakan moneter yang baik. Namun,
pada praktiknya, fokus terhadap inflasi secara membabi buta dapat memberi dampak
buruk. Jadi, dalam menetapkan kebijakan moneter, suatu bank sentral tetap harus
memerhatikan data ekonomi yang lain.

Tingginya inflasi dan kenaikan harga bahan pokok,


berpengaruh langsung pada sektor riil
Kalau kita mencermati berita di media akhir-akhir ini, kemungkinan akan membuat kecil
hati dan timbul kekawatiran. Akankah hari esok masih lebih baik? Bagaimana jika tidak?
Angka inflasi pada Maret 2008 dibanding dengan Maret 2007 (year on year) mencapai
8,17 persen, padahal saat bulan Maret 2007 inflasi tahunan hanya 6,6 persen. Pada bulan
Maret 2008 angka inflasi sebesar 0,95 persen, dengan demikian laju inflasi pada tiga
bulan pertama tahun ini sudah mencapai 3,41 persen. Didalam komponen index inflasi
umum, inflasi bahan pangan sudah mencapai 13,6 persen.

Dari sisi pasar keuangan, gejolak dimulai sejak krisis kredit kepemilikan rumah di
Amerika, yang telah membuat rugi puluhan miliar dollar Bank-bank internasional,
seperti: Citigroup, UBS, Merril Lynch dan Bear Stearns. Kerugian Bank kelas dunia
tersebut telah menyebabkan terjadi pengetatan di pasar keuangan internasional. Inflasi
sedang menjadi momok di seluruh dunia karena kenaikan harga minyak bumi dan bahan
pangan. Tren diversifikasi di dunia, dari sumber energi minyak bumi ke energi dari bahan
pangan, telah menaikkan harga komoditas pangan, seperti: kelapa sawit, jagung dan
gandum.

Di sektor riil, meningkatnya inflasi akan menurunkan daya beli masyarakat terutama
yang berpenghasilan rendah. Sekitar 60 persen atau bahkan lebih, dari pengeluaran
kalangan masyarakat ini akan tersedot untuk belanja makanan. Kenaikan harga makanan
yang berada pada kisaran 15-30 persen, akan berdampak pada penurunan kualitas hidup.
Bagaimana dengan pengusaha skala kecil dan menengah? Pengusaha yang bergerak di
bidang tertentu, seperti hotel, restoran akan terkena dampak langsung, padahal harga jual
juga tak mudah untuk dinaikkan karena menurunnya daya beli masyarakat. Hal ini mulai
terlihat dari laporan keuangan triwulan 1, kenaikan pendapatan tak dapat menutup
kenaikan biaya, sehingga perusahaan mulai merugi. Jika perusahaan masih bertahan, laba
operasional merosot drastis. Situasi yang tak menentu juga membuat para pengusaha
“wait and see“, menunggu respon pasar.