Anda di halaman 1dari 10

Kuliah ESDA-MIL

Skenario Kebijakan Moratorium Hutan dan


Masa Depan Industri Berbasis Sumberdaya

Prof. Dr. Bustanul Arifin


barifin@uwalumni.com

Sistematika Pembahasan
1. Kerusakan hutan dan deforestasi di Indonesia
2. Skema REDD: Penambatan karbon (GRK) oleh hutan
3. Justifikasi kebijakan moratorium hutan dan gambut
4. Mengapa REDD agak sulit diterapkan di Indonesia?
5. Potret industri minyak sawit Indonesia
6. Tantangan industri minyak sawit ke depan
7. Penutup: Repositioning dan antisipasi pelaku usaha
Laju Deforestasi: 1,3 juta hektar per tahun
setara dengan 4 lapangan bola per menit.

Deforestasi di Sumatra: Mengkhawatirkan


Kawasan Hutan dan Areal Penggunaan Lain

Sumber: Kementerian Kehutanan, 2010

Mengapa Harus Skema REDD?


Luas Indonesia: 187.787 Ha
Kawasan
Non-hutan  60% SUMBER EMISI GRK INDONESIA
Hutan (APL) BERASAL DARI HUTAN DAN GAMBUT
Produksi
Tetap (di dalam dan luar kawasan hutan);

29%
31%  17-20% SUMBER EMISI GLOBAL
ADALAH AKIBAT DEFORESTASI
DAN DEGRADASI HUTAN;

12% 10%
 75% DEFORESTASI DAN DEGRADASI
Hutan 17% HUTAN DUNIA TERJADI DI WILAYAH
Produksi Hutan
Konservasi TROPIS TERMASUK NDONESIA.
Terbatas
Hutan Lindung

Sumber: Kementerian Kehutanan, 2010


Deforestasi di Kawasan Hutan dan APL
Indonesia

Kawasan
Kawasan hutan + hutan
APL Areal lain yang
tidak tidak
berhutan Berhutan
berhutan
(25%) (54%) (21%)

APL (29%) KAWASAN HUTAN (71%)

Sumber: 1. Dewi ICRAF, 2009 (dikoreksi) = deforestasi


2. Kementerian Kehutanan, 2010

Skema REDD untuk mengurangi emisi CO2


Indikator Pengurangan Penambahan
Perubahan (perubahan negatif) (perubahan positif)
Areal hutan Pengurangan Aforestasi (penanaman
(hektar) deforestasi baru) dan Reforestasi
(penanaman kembali)
(RED) (CDM)
Kepadatan karbon Pengurangan Restorasi hutan,
(karbon per hektar) kerusakan hutan rehabilitasi hutan, dan
manajemen hutan
berkelanjutan (SMF)
(REDD) (REDD+)
Sumber: Angelsen, 2010
Justifikasi Kebijakan Moratorium Hutan?
• Upaya integratif penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dari sektor
kehutanan, khususnya dari konversi hutan alam dan lahan gambut;
• Indonesia berkomitmen menurunkan GRK/emisi karbon 26% s/d 2010
(14% berasal dari sektor kehutanan) dengan upaya sendiri, dan 41%
jika dengan bantuan negara lain, walau pun sampai saat ini belum jelas
justifikasi landasan ilmiah di balik target-target tersebut;
• Letter of Intent (LoI) kepada Pemerintah Norwegia 26 Mei 2010 skema
REDD (pengurangan emisi dari deforestasi dan kerusakan hutan), janji
hibah US$ 1 milliar (Rp 9 triliun) bertahap sampai tahun 2013;
• Kebijakan itu (kemungkinan idealnnya) berjudul: “Peraturan Presiden
tentang Kebijakan Moratorium Konversi Hutan Alam dan Lahan
Gambut untuk Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca.
• Tergantung perkembangan di lapangan, Pemerintah akan membentuk
Satuan Kerja Khusus Moratorium untuk mengelola kebijakan
moratorium konversi hutan alam dan lahan gambut di bawah UKP4.

Tahapan REDD dalam LoI kepada Norwegia


1. Juni-Desember 2010, pemembentukan badan khusus, dengan
kewenangan/otonomi khusus (seperti pada pementukan BRR
PascaTsunami Aceh). Badan menjalankan program
penurunan penggundulan hutan sekaligus menyeleksi lokasi
proyek percontohan REDD dan/atau REDD+.
2. Januari 2011-Desember 2013, penguatan kapasitas,
penyusunan, dan implementasi kebijakan sekaligus
membangun sistem pengawasan, pelaporan, dan verifikasi tier
2. Pemerintah menghentikan konversi hutan alam dan gambut
di lokasi proyek.
3. Pasca 2013, Transaksi perdagtangan karbon dilaksaakan.
Norwegia membayar tunai penurunan emisi pada tahun 2013.
(Ingat, kasus Brasil dengan Norwegia yang sudah berlangsung
sejak 2007, saat ini Brazil baru menerima US$ 200 juta)
REDD: Agak sulit diterapkan Indonesia?
• Alur berpikir, orientasi penggalangan dana skema REDD belum tentu
berhubungan dengan kerangka aksi pembalikan krisis kehutanan
• Tunggakan masalah, skema REDD belum tentu mampu menuntaskan
tunggakan masalah masa lalu, seperti masalah tanah, tumpang tindih tata
guna, hak adat; kualitas data; kinerja governansi etc,
• Definisi hutan, PBB (UNFCCC) resmi menggunakan definisi FAO; tapi,
definisi menurut UU 41/1999 adalah bahwa deforestasi = penggundulan
hutan atau pelepasan kawasan hutan?
• Belum ada arsitektur REDD yang definitif, COP15 gagal menghasilkan
keputusan yang mengikat secara hukum. Artinya REDD belum disepakati.
Komitmen dana publik di bawah konvensi belum jelas; sebagian besar
bersifat sukarela/berbasis pasar, sehingga peran broker lebih nampak
• Miskin perspektif keadilan, agak sulit untuk menyebutkan bahwa skema
REDD akan memikirkan kaum miskin di sekitar hutan, tapi lebih berupa
safeguarding untuk kepentingan keselamatan keuangan & risiko investasi
• Inkonsistensi kebijakan: kehutanan, perkebunan, pertanian, pangan,
industri, perdagangan, pertanahan, pembangungan wilayah, tata ruang,
perdagangan, penanaman modal asing, dan sebagainya

Poteret Industri Sawit Indonesia


• Sejak 1980-an industri sawit tumbuh sangat pesat. Kini menjadi
salah satu industri unggulan dan memiliki daya saing di pasar
global dengan RCA (revealed comparative advantage) 41.05
mengungguli timah, karet, batu bara, kertas, tekstil produk tekstil.
• Indonesia produsen CPO terbesar produksi tahun 2009 mencapai
21.5 juta ton; ekspor CPO dan turunannya: 14,5 juta ton telah
melampuai kinerja produksi CPO Malaysia sekitar 17.5 juta ton.
• Sawit berperan: (1) menyediakan kesempatan kerja lebih dari 2,7
juta orang; (2) menghasilkan devisa; dan (3) menyediakan bahan
baku untuk industri minyak goreng dan industri hilir lainnya.
Produksi CPO Dunia, 1980-2009
Negara 1980 1990 2000 2009
Indonesia 691 2.413 6.900 20.900
Malaysia 2.571 6.095 10.800 17.566
Thailand 13 232 510 1.310
Nigeria 433 580 740 870
Kolombia 74 226 516 794
Pantai Gading 182 270 290 n/a
Ekuador 37 120 215 436
Papua Nugini 35 145 281 470
Lainnya 768 786 1.699 3.236
Total 4.809 10.867 21.951 45.111

Sumber: Oil World, 2010

Produsen CPO di Dunia (43 negara)

Sumber: FAO, 2007


Indonesia’s Revealed Comparative Advantages
(Percent; quarter-over-quarter, annualized)

Indonesia RCA 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
Non-manufactured 2.03 2.09 2.30 2.33 2.07 2.25 2.32 2.39 2.57
Manufactured 0.74 0.73 0.70 0.67 0.73 0.64 0.62 0.60 0.55
Top Ten Commodities
CPO 24.1 22.97 30.94 30.01 41.79 39.65 40.61 44.58 41.05
Tin 13.45 15.62 20.83 26.11 29.65 34.3 31.41 27.78 37.55
Rubber 9.11 9.14 11 13.27 17.22 14.48 17.55 18.64 18.61
Coal 6.65 7.47 8.14 9.03 9.21 9.5 12.2 12.81 10.48
Papers 2.43 2.34 2.48 2.36 2.42 2.3 2.49 2.53 2.56
TPT 2.2 2.26 2.03 1.99 2.21 2.05 2.03 1.9 1.81
Copper 1.19 1.43 1.76 2.39 2.08 2.26 1.82 2.51 1.87
Electrical Appliances 0.69 0.7 0.75 0.69 0.77 0.66 0.52 0.48 0.47
Chemical Products 0.56 0.52 0.5 0.52 0.58 0.49 0.48 0.53 0.47
Machinery & Mechanics 0.13 0.12 0.14 0.16 0.18 0.2 0.23 0.27 0.28
Source: Calculated from UN -Comtrade

Stakeholders Industri Sawit Berkelanjutan

Sumber: Teoh, 2010


Tantangan Industri Sawit ke Depan
1. Fenomena energi alternatif fluktuatif & tidak menentu 
faktor minyak dan gas bumi masih amat dominan
2. Fluktuasi harga sering bukan karena supply-demand 
kasus krisis global 2008, spekulasi pasar derivatif
3. Khas komoditas pangan, rantai-nilai di tingkat global
cendeung dikendalikan oleh pembeli (buyer-driven) 
kasus Nestle & Greenpeace hanya riak kecil
4. Pasar jasa lingkungan belum/baru saja berkembang 
valuasi ekonomi--kontroversi di tingkat akademik
5. Kebijakan moratorium hutan, setelah skema REDD+ dalam
rangka komitmen penurunan emisi CO2 gas rumah kaca 
LoI kepada Norwegia perlu reforma governansi

Fluktuasi Harga CPO & Minyak Nabati Lain


Sawit [CPO] ($/ton) Minyak Kedelai ($ /ton)

Minyak Kelapa ($/ton) Jagung ($/ton)

Sumber: “Commodity Market Review” of the World Bank, 12 Oktober 2010


Membumikan Pembangunan Berkelanjutan

• Pertumbuhan
Ekonomi
• Efisiensi, stabilitas

- Kebutuhan pokok -Penilaian


- Pemerataan dalam generasi - Internalisasi

Sosial-masyarakat -Governance/Budaya Lingkungan Hidup


-Pemerataan antar generasi
• Kemiskinan, pengangguran • Keanekaragaman hayati

• Pemberdayaan, kelembagaan • Polusi,, preservasi, dll.

Penutup: Antisipasi oleh pelaku usaha


• Pelaku usaha masih ada kesempatan untuk memberikan masukan
kepada Tim Penyusun Peraturan Presiden (Perpres) Kebijakan
Moratorium, agar tidak terlalu merugikan industri sawit Indonesia;
• Jika Perpres pun akhirnya dikeluarkan, pelaku usaha industri sawit
(dan GAPKI) perlu merapatkan barisan untuk meyakinkan
perumus kebijakan tentang komitmen (dan sanksi) untuk
mengikuti dan menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan
sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) sebagai salah
satu acuan pengelolaan industri sawit berkelanjutan di Indonesia.
• Di lapangan, pelaku usaha dan petani sawit rakyat perlu berupaya
meningkatkan produksi dan produktivitas (intensifikasi) untuk
menggapai potensi 40 ton/hektar. Aplikasi teknologi produksi dan
teknik budidaya baik (GAP) wajib disosialisasikan secara luas.
• Sekian macam wacana pengembangan industri hilir harus segera
ditindaklanjuti dengan konsolidasi strategi investasi dan realisasi
dukungan pemerintah (terutama KemPrin, BKPM dan KemTan).