Anda di halaman 1dari 41

$@ES

S@Q))RH

2 Pengantar

3 Plagiarisme dan Copyy-Paste

6 Call fo XIV Aceh


or Papers: SNA X

7 Henry Rand Hatfield:: Pionir Akuntansi yang Nyariss


Terlup
pakan

11 (Kolom
m) Tanya Uni Hesty

14 Demokratisasi Penge
etahuan: Projecct Gutenberg

15 Belajarr IFRS: Mengetahui Lebih Dala


am Perubahan

PSAK No.16
N (Revisi 2
2007) tentang Aset
A Tetap (Bag
g. 1)

25 Perma
ainan Angka da
an Fraud dalam Akuntansi

31 Yuk Bikin Paper: #1 O


Overview

35 (Review
w Buku) Reform
masi Akuntansii: Membongkarr
Bound
ded Rationality Pengembangan Akuntansi

1
Pengantar
Yak, setelah berkutat dengan bahan selama kurang-lebih 3 bulan,
akhirnya ‘Akuntan Muda’ terbit juga. Konon katanya memang yang
pertama, yang paling sulit. *alasaaan*

Akuntan Muda ini hadir karena kami berempat—Mbak Yeni, Mbak


Hesty, Mas Arif, dan saya—sama-sama mengalami life changing
moments di MSi UGM. Kami jadi tahu bahwa akuntansi itu
menyenangkan! Ini berkat dosen-dosen yang luar biasa dan sangat
menginspirasi dalam mendidik kami.

Sayangnya, kami tidak (akan) bisa cukup membalas kebaikan beliau-


beliau tersebut. Lalu bagaimana? Yah, kalau tidak bisa payback, kita
masih bisa kok pay it forward. Nah, inilah yang kami lakukan dengan
harapan sedikit bisa meneruskan ilmu dan inspirasi yang kami terima
dari dosen-dosen kami ke teman-teman mahasiswa S1.

Way to go! Kami cukup tau diri bahwa kami tidaklah sehebat dosen-
dosen kami. Seujung jari pun tidak. Oleh karena itu, kami mohon
bantuan teman-teman untuk mengoreksi dan memberi masukan agar
Akuntan Muda bisa lebih baik lagi. Sementara itu, semoga kalian bisa
menikmati edisi perdana ini. Cheers!

arie

Penasihat
Prof. Dr. Zaki Baridwan, MSc.; Prof. Dr. Suwardjono, MSc.

Redaksi: Arie Rahayu, Arif Perdana, Hesty Wulandari, Yeni Januarsi

Blog: http://akuntanmuda.wordpress.com/
2 akuntanmuda@yahoo.com atau akuntan.muda@gmail.com
E-mail:
Plagiarisme
dan
Copy-Paste

Ada hal baru yang jadi perhatian saya belakangan ini terutama setelah
kuliah lagi di Magister Sains Ilmu Akuntansi, UGM. Masalah plagiarisme
dan copy-paste. Mungkin karena saya memasuki tataran ilmiah yang
bertujuan untuk mempersiapkan para calon ujung tombak pendidikan di
negara ini, maka sudah sepantasnyalah aturan-aturan baku etika
pendidikan di terapkan disini.

Menurut Wikipedia, plagiarisme adalah penjiplakan atau pengambilan


karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya
seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai
tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan,
pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan
dari sekolah/universitas. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator.

Yang digolongkan sebagai plagiarisme:

‰ menggunakan tulisan orang lain secara mentah, tanpa memberikan


tanda jelas (misalnya dengan menggunakan tanda kutip atau blok
alinea yang berbeda) bahwa teks tersebut diambil persis dari tulisan
lain
‰ mengambil gagasan orang lain tanpa memberikan anotasi yang
cukup tentang sumbernya

3
Dalam buku Bahasa Indonesia: Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah, Felicia
Utorodewo dkk. menggolongkan hal-hal berikut sebagai tindakan
plagiarisme:

‰ Mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri,


‰ Mengakui gagasan orang lain sebagai pemikiran sendiri
‰ Mengakui temuan orang lain sebagai kepunyaan sendiri
‰ Mengakui karya kelompok sebagai kepunyaan atau hasil sendiri,
‰ Menyajikan tulisan yang sama dalam kesempatan yang berbeda
tanpa menyebutkan asal-usulnya
‰ Meringkas dan memparafrasekan (mengutip tak langsung) tanpa
menyebutkan sumbernya, dan
‰ Meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya,
tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama
dengan sumbernya.

Banyak dosen yang menggarisbawahi kata-kata plagiarisme dalam


setiap pertemuan pertama awal kuliah. Hal ini terutama berlaku bagi
mereka yang memberikan tugas akhir berupa proposal penelitian dimana
celah untuk melakukan palgiarisme terbuka lebar. Salah satu dosen saya
semester lalu, sang begawan akuntansi Prof. Zaki Baridwan bahkan
mengungkapkan kekecewaannya terhadap mahasiswa yang diasuhnya
semester lalu. Dari 30-an mahasiswa hampir sepuluh orang mendapatkan
E karena kasus ini. Padahal kuliah yang beliau asuh sudah memiliki
banyak peraturan, seperti tidak boleh absen lebih dari dua kali dan
berturut turut, presentasi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, summary
tiap kali pertemuan dan lain sebagainya.

Dan saya kemudian ikutan tak habis pikir, kok bisa? Bagi saya pribadi, itu
adalah hal yang bodoh. Bukankah selama satu semester mereka sudah
bersusah payah untuk mengikuti kuliah beliau? Lalu mengapa tidak
ditutup dengan manis? Lagipula, sebagai profesor dan reviewer
terkemuka untuk jurnal akuntansi, orang seperti beliau mestinya sangat

4
peduli terhadap dunia tulis menulis dan pasti memiliki lebih dari cukup
pengetahuannya untuk mendeteksi tindakan plagiarisme ini.

Mungkin sama halnya kebanyakan orang yang tidak bersentuhan dengan


karya ilmiah sebelumnya, maka pada saya juga tidak terlalu concern
dengan ini semua. Saya pikir adalah hal yang biasa jika kita memakai satu
dua kata (yang menurut saya bukan bagian inti) untuk kemudian ditaruh
didalam lembaran tugas yang kemudian diakui sebagai karya kita sendiri.
Tapi ternyata itu salah dan memang salah. Seperti halnya yang
diungkapkan Pak Zaki, "Rasanya memalukan sekali melihat kutipan-
kutipan ( yang tidak penting) yang harusnya bisa kalian buat sendiri.
Saya paham sekali bahwa kita semua sedang belajar disini, maka
saya tidak menuntut kesempurnaan. Kalau kalian sudah menulis
dengan sangat bagus, maka kalian tidak akan perlu lagi kuliah".

Kemudian saya juga melihat banyak orang yang sangat terganggu


dengan masalah copy paste dan plagiarisme ini. Di website ini
http://hsgautama.multiply.com/, saya beberapa menemukan kali
tulisan : "please dilarang meng-copy foto dari blog ini. Mintalah ijin,
Foto tidak jatuh begitu saja dari langit" tapi ada yang membuatnya
dengan susah payah" serta tulisan : "pengen copy-paste tulisan?
sebutkan Link dan Sumbernya dong. ini baru namanya bukan plagiat
atau mencuri"

Ternyata banyak hal sederhana yang dianggap terlalu rumit bagi


kebanyakan orang. Sama rumitnya dengan mengucapkan maaf, tolong
dan terima kasih. Padahal jika hal tersebut dilakukan, maka akan timbul
perasaan saling menghargai diantara kita.

Dan sepertinya saya masih harus banyak belajar....

(Hesty Wulandari)

5
PS: Sumber untuk tulisan ini saya dapatkan di :
http://id.wikipedia.org/wiki/Plagiarisme
www.hsgautama.multiply.com dan ide ini mucul setelah saya mencari
bahan silabus mata kuliah ASP dan menemukannnya di
http://www.icukranggabawono.com/jurnal/pembelajaran.pdf

Kredit foto:

ƒ J. Paxon Reyes ‐ http://bit.ly/e2prJl 

Call for Papers: SNA XIV Aceh 2011


SNA XIV ini bertema ‘Green Concern: Peran Akuntan dalam Mewujudkan
Bisnis yang Sustainable’ dan diselenggarakan oleh Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Batas akhir penerimaan paper: 31 Mei 2011

Kunjungi website SNA XIV untuk informasi lebih lengkap:

http://sna14aceh.com/

(Foto: Website SNA XIV)

6
Henry Rand Hatfield:
Pionir Akuntansi yang Nyaris
Terlupakan

Namanya memang tidak sepopuler William Andrew Patton & Ananias


Charles Littleton dengan pemikiran mereka tentang konsep dasar
pendapatan. Anda pun akan kesulitan untuk mencari biografi sang pionir
di dunia maya kecuali hanya pada dua artikel dan satu buku yaitu (1) An
Historical Defence of Henry Rand Hatfield oleh MJ Mumford yang
diterbitkan di Abacus tahun 1980; (2) Henry Rand Hatfield (1866-1945):
The Triumphs and Travails of An Academic Accounting Pioneer, oleh
Robert H Parker yang diterbitkan di Accounting History tahun 2002, dan
(3) Henry Rand Hatfield, Humanist, Scholar, and Accounting Educator
oleh Stephen A Zeff (2000).

Hatfield juga tidak masuk ke bidang akuntansi karena


dalam jajaran penerima pemikiran-pemikirannya yang
Accounting Hall of Fame yang kritis dan berlawanan dengan
merupakan penghargaan pemikiran accounting scholar
bergengsi bagi para accounting pada masanya.
scholar yang memberikan
Hatfield merupakan professor
kontribusi berarti bagi
akuntansi pertama di Amerika
pengembangan ilmu akuntansi.
yang mengabdikan dirinya secara
Tidak ada teori atau konsep yang
penuh dalam dunia akademis
pernah disampaikan oleh Hatfield
sejak tahun 1904. Ia juga
(Parker, 2002), namun demikian ia
merupakan sosok senior dalam
dianggap sebagai pionir dalam

7
profesi akuntan pada masa itu akuntansi.
yang terpilih untuk membentuk
Orang bijak berkata, pemimpin
American Association of University
itu satu langkah maju ke depan,
Instructors in Accounting (AAUIA)
sementara pionir dua langkah
yang kemudian oleh Hatfield
maju ke depan. Meskipun
sendiri diusulkan untuk diubah
Hatfield tidak memiliki latar
namanya menjadi American
belakang pendidikan akademis di
Accounting Association (AAA)
bidang akuntansi, namun
pada tahun 1916. Namun
demikian pemikiran-pemikirannya
demikian yang sangat menarik
di awal abad 20 tentang
adalah, Hatfield sendiri tidak
akuntansi sangat futuristik dan
memiliki latar belakang akademis
masih relevan hingga saat ini.
akuntansi sama sekali. Hatfield
Pada masa itu Hatfield telah
menyelesaikan pendidikan
membuka cakrawala berfikir
doktoralnya di bidang ekonomi
accounting scholar tentang
politik dan ilmu politik.
kelemahan-kelemahan akuntansi.
Pengalamannya di bidang
Hatfield mengembangkan pola
keuangan dan akuntansi hanya
pembelajaran akuntansi humanis
didapat ketika bekerja selama
dengan mengacu pada literatur-
lima tahun pada perbankan
literatur yang tersedia kemudian
swasta. Saat Hatfield mengajar di
mempertautkannya dengan
University of Chicago di tahun
keputusan-keputusan legal yang
1902 ia pernah mengajar mata
berlaku di masyarakat masa itu.
kuliah bisnis, selanjutnya di tahun
Hatfield layak disebut sebagai
1904 ia pindah ke University of
pionir dalam bidang akuntansi
California dan mengembangkan
atas buah pemikirannya (Parker,
kurikulum dan mata kuliah
2002). Beberapa pemikiran-
pemikiran Hatfield antara lain:

1. Hatfield pernah
mempertanyakan manfaat
informasi akuntansi yang
sesungguhnya bagi kehidupan,

8
akuntansi terkesan hanya sebagai puitisnya secara impisit
proses pencatatan dan tidak mempertanyakan apakah
memberikan suatu kemanfaatan akuntansi layak disebut sebagai
yang nyata. Secara akademis, disiplin akademis. 84 tahun
penelitian-penelitian di akuntansi kemudian, muncul dua artikel
memang mengamini isu tersebut. dengan topik yang mengangkat
Isu yang diangkat oleh Hatfield di hal tersebut. Dua artikel itu
tahun 1920 dalam artikelnya yang berjudul ‘Is Accounting an
berjudul “An Historical Defense of Academic Discipline” masing-
Bookeeping” ini ternyata masih masing ditulis oleh John C.
relevan untuk didiskusikan. Fellingham dan Joel S. Demski.
Manfaat angka-angka laba masih Kedua artikel tersebut sama-sama
menjadi topik yang menarik diterbitkan di jurnal Accounting
dalam jurnal akuntansi sejak Horizons pada bulan Juni 2008.
munculnya artikel seminal yang
3. Pada tahun 1940, Hatfield
sangat terkenal yang ditulis oleh
pernah menulis artikel yang
Ball & Brown (1968) yang
berjudul “An Accountant’s
berjudul “ An Empirical Evaluation
Adventure in Wonderland” artikel
of Income Numbers” hingga pada
ini memberikan beberapa ilustrasi
penelitian yang dilakukan oleh
tentang keanehan-keanehan
Ball & Shivakumar (2008) yang
dalam akuntansi, diantaranya
berjudul “How Much New
Hatfield mengemukakan tentang
Information is There in Earnings”.
penggunaan nilai sisa dalam
Dua penelitian penting tersebut
perhitungan depresiasi. Hatfield
menyebutkan bahwa informasi
menyarankan seharusnya nilai
yang terkandung dalam
sisa dihitung berdasarkan present
pengumuman earnings hanya
value dari nilai sisa tersebut untuk
berkisar antara 10-15%.
kemudian dikurangkan dari harga
2. Masih pada artikelnya perolehan asset.
yang sama “An Historical Defense
4. Hatfield merupakan
of Bookeeping”, di awal artikelnya
accounting scholar pertama yang
Hatfield dengan bahasa-bahasa
menulis artikel tentang akuntansi

9
internasional. Tulisan pertamanya permasalahan yang mungkin
tersebut “Some Variations in akan dihadapi oleh akuntansi di
Accounting Practice in England” masa mendatang (Parker, 2002).
yang disampaikan pada Hatfield terhindar dari pemikiran
pertemuan tahunan American bounded rationality yang hanya
Association of Public Accountants mendasarkan pada pemikiran-
di tahun 1911. Artikel tersebut pemikiran umum accounting
baru dipublikasikan pada tahun scholar di zamannya., Hatfield
1966. berusaha berfikir rasional dan
kritis bagi ilmu akuntansi dengan
Meskipun Hatfield tidak
menjadi pemulung pengetahuan
menyampaikan konsep dan teori
(knowledge scavenger) atas
seperti rekan penerusnya Patton
literature-literatur yang ada pada
& Littleton, namun Hatfield
zamannya.
memiliki pemikiran kritis dan
sadar akan permasalahan- (Arif Perdana)

Kredit foto:

1) Fisher College of Business - http://bit.ly/i42g0r


2) Amazon.com - http://amzn.to/ftgd8a

10
Tanya Uni Hesty
Uni Hesty saat ini mengajar di jurusan
akuntansi Politeknik Caltex di kota bertuah
Pekanbaru dan akan segera mengajar di
Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negri Sutan
Syarif Kasim Pekanbaru. Uni menamatkan S1 di
Universitas Andalas, Padang. Setelah berkutat
dengan kuliah selama 5,5 tahun dengan nilai
ala kadarnya, meneruskan kuliah profesi
akuntan dan menamatkan studi S2 di kampus
biru UGM, tempat yang kemudian mengubahnya menjadi pencinta
pembelajaran.

Silakan kirim pertanyaan apa saja seputaran akuntansi kepada Uni


Hesty melalui e-mail di : wulandari_712@yahoo.com

Bagaimana Cara Mudah Belajar Akuntansi?


Dulu, semasa SMU, saya lebih seimbang dll atau bahasa anak
memilih untuk sering-sering sekarangnya feel. Karena
ijin ke kamar mandi atau ke menurut saya mata pelajaran
kantin atau kemana saja pada ini tidak ada seru-serunya
jam pelajaran akuntansi. Di sama sekali, semakin saya
pelajaran ini saya tidak dengarkan maka efeknya
mendapatkan hasrat untuk makin pusinglah saya. Tapi
selalu ingin duduk di kelas siapa yang tahu tentang masa
mendengarkan guru bercerita depan? Karena ternyata oh
tentang debet dan kredit, ternyata, beberapa kali
tentang neraca, laba rugi serta periode kuliah harus saya
hasil akhir yang harus

11
lewati di jurusan yang mati- Saya mulai menemukan celah
matian saya hindari itu. belajar akuntansi dengan lebih
mudah itu ketika harus
Tahun pertama kuliah saya
mengulang mata kuliah
tidak begitu kesulitan karena
intermendiate accounting.
sebagian besar pelajaran SMU
Dosen saya itu tipikal dosen
yang meski saya sering bolos
yang udah master bangetlah
masih tertinggal di kepala.
dimata kuliah ini. Dari jaman
Namun ternyata saya tidak
kapan sampe jaman kapan
bisa mengandalkan ingatan
masih beliau aja yang pegang.
saya yang Cuma sedikit itu
Semua yang dicatatkan, baik
karena ternyata pelajaran SMU
teori atau soal sudah di luar
cuma seberapanya aja, sisanya
kepalanya. Tiap tahun dan tiap
hal-hal baru yang saya tidak
semester catatannya pasti
tahu. Untuk mata kuliah
sama, paling cuma contoh
akuntansi keuangan bagian
soalnya aja yang beda.
pengantar bisa saya lewati
Akhirnya, di awal semester
dengan cukup mudah, namun
saya meminjam dan
kemudian terseok-seok
memfotokopi catatan teman
dibagian menengah dan hanya
yang sudah lulus mata kuliah
bisa bengong dan bingung di
itu semester sebelumnya dan
bagian lanjutan, sama halnya
memfotokopi, lalu mencari
yang terjadi pada akuntansi
bank soal untuk mata kuliah
biaya, akuntansi manajemen,
tersebut dan mulai
manajemen keuangan. Semua
mengerjakan soal-soal ujian
mata kuliah itu cuma bisa saya
itu sebagai latihan.
lewati dengan senyum senyum
dan mengerutkan kening saja Dan ternyata itulah cara paling
kalo dosen lagi ngomong mudah untuk bisa
didepan. Syukur-syukur ga mengerjakan soal hitungan
ngantuk dan ketiduran di akuntansi yang berbelit-belit
kelas. seperti ular naga itu. Tapi pada
saat itu saya masih belum

12
beruntung, masih ada yang seperti PSAK atau IFRS diluar
khilaf jadi hasil akhirnya masih negri yang dibuat dengan
salah, jadilah nilai yang keluar bahasa yang panjang –
cuma C. Tapi nilai C itu juga panjang, baku dan sulit
yang akhirnya membuka pintu dimengerti sehingga tidak
rahasia bagaimana bisa heran kalo akhirnya sering
menaklukkan mata kuliah terjadi kesalahan terhadap
akuntansi yang berupa pemahaman. Untuk kasus ini,
hitungan seperti akuntansi temukanlah istilah dan
keuangan, akuntansi biaya, pengertian yang sederhana
akuntansi manajemen saya misalnya dengan
belajar melalui soal-soal menggunakan bahasa yang
latihan yang tersedia di akhir pendek-pendek sehingga jauh
bab. Melalui latihan itu, saya lebih mudah dimengerti untuk
bisa lebih mengingat yang diri sendiri. Jika tidak bisa dan
teori dan juga yang hitungan. tidak terbiasa, maka
Hal ini karena pada dasarnya pergunakan teknologi, cari
akuntansi merupakan mata pengertian yang lebih simpel
kuliah atau mata pelajaran untuk istilah yang sama lewat
yang lebih dari setengah google, lewat situs-situs
strukturnya terdiri dari akuntansi atau bahkan lewat
hitungan matematika, situs-situs yang memuat hasil
sehingga perlu dilatih terus riset dibidang akuntansi. Selain
menerus. menambah kekayaan
pemahaman, pencarian tadi
Selain hitungan dan teori,
juga akan membuat kita tetap
yang perlu kita punya dalam
update terhadap
belajar akuntansi adalah
perkembangan terbaru
penalaran dan logika yang
keilmuan kita.
kuat terutama menyangkut
konsep. Banyak konsep- Dan jangan lupa, do it with
konsep akuntansi tertera your passion..segala sesuatu
dalam buku-buku aturan tergantung pada kekuatan hati

13
dan pikiran. Jika kita Akuntansi mudah bagi
menyatakan kalo kita bisa sebagian orang, dan begitu
maka Insya Allah pelajaran itu sulit bagi sebagian orang
bisa dipelajari. Jika kita senang lainnya tapi bukan berarti
melakukannya, maka bahkan tidak bisa ditaklukkan..seperti
hanya dengan mendengarkan jargonnya merek sepatu
dosen berceramah saja kita olahraga terkenal itu
sudah merasa mengetahui ”impossible is nothing ”
banyak hal..

Salam,

Uni Hesty

Demokratisasi Pengetahuan

Project Gutenberg
Project Gutenberg menyediakan beragam e-book gratis legal yang
bisa diunduh siapa saja. E-book ini legal di Amerika karena masa
berlaku patennya telah habis. Beberapa pengarang dunia yang
bukunya tersedia di Project Gutenberg antara lain Sir Arthur Conan
Doyle, Charles Dickens, Mark Twain, William Shakespeare, Jane
Austen, Jules Verne, H.G. Wells, Edgar Allan Poe, Oscar Wilde, dan
Leo Tolstoy. Kunjungi website mereka di

http://www.gutenberg.org/wiki/Main_Page

14
BELAJAR IFRS

MENGETAHUI LEBIH DALAM


PERUBAHAN PSAK NO.16 (REVISI 2007)
TENTANG ASET TETAP
(Bagian 1)
Oleh: Yeni Januarsi

Tahun 2012 merupakan tahun awal diberlakukannya konvergensi


secara penuh standar akuntansi internasional, yang disebut dengan
international financial reporting Standards (selanjutnya disebut IFRS)
di Indonesia. Dewan standar akuntansi keuangan Indonesia (DSAK-
IAI) merencanakan program konvergensi IFRS di Indonesia dilakukan
secara bertahap dengan agenda sebagai berikut:

• Pada akhir 2010 diharapkan seluruh IFRS sudah diadopsi


dalam PSAK.
• Tahun 2011 merupakan tahun penyiapan seluruh infrastruktur
pendukung untuk implementasi PSAK yang sudah
mengadopsi seluruh IFRS.
• Tahun 2012 merupakan tahun implementasi dimana PSAK
yang berbasis IFRS wajib diterapkan oleh perusahaan-
perusahaan yang memiliki akuntabilitas publik.

Dalam kaitannya dengan proses konvergensi tersebut, DSAK secara


kontinyu melakukan perubahan-perubahan pada standar akuntansi
keuangan sehingga pada akhirnya konvergen dengan IFRS. Salah satu
standar yang telah diubah adalah standar no. 16 (revisi 2007) tentang
Aset tetap yang menggantikan PSAK No. 16 (1994) tentang Aktiva
Tetap dan Aktiva Lain-lain serta PSAK No. 17 (1994) tentang
Akuntansi Penyusutan. PSAK no.16 (revisi 2007) ini merupakan adopsi

15
dari IAS (2003) tentang Property, Plant and Equipment dan akan mulai
berlaku efektif mulai 1 januari 2008.

Adapun beberapa pokok perubahan yang terdapat dalam PSAK 16


(revisi 2007) didandingkan PSAK 16 (1994) dapat disarikan sebagai
berikut:

No Perihal PSAK 16 Revisi PSAK 16 Lama


1 Istilah Aset Aktiva
2 Penyusutan Digabung di PSAK Diatur di PSAK lain
16. Bagian yg
signifikan
disusutkan terpisah.
3 Komponen Termasuk:
Biaya • biaya imbalan
Perolehan kerja
• biaya pengujian
aset – hasil
penjualan dari
pengujian
4 Bukan Kegiatan insidental Tidak mengatur hal tsb
Komponen ini mungkin terjadi secara spesifik.
Biaya sebelum atau
Perolehan selama konstruksi
atau aktivitas
pengembangan
(misal : parkir)
Pertukaran Membedakan Membedakan pertukaran
Aset antara ada sejenis dan tidak sejenis
5 substansi komersial
atau tidak.
(bersambung)

16
6 Pengukuran Cost Model atau Hanya Cost Model,
Setelah Revaluation Model revaluasi boleh dilakukan
Pengakuan jika sesuai ketentuan
Awal pemerintah
7 Telaah Harus dilakukan Telaah nilai residu tidak
Ulang Nilai minimum tiap akhir diatur, perubahan umur
Residu, tahun dan manfaat diperlakukan
Umur perubahannya prospektif, perubahan
Manfaat & diperlakukan metode penyusutan
Metode sebagai perubahan retrospektif.
Penyusutan estimasi
(prospektif).
8 Aktiva Lain- Diatur di PSAK lain Mengatur Aktiva Lain-lain
lain
9 Dismantling Diakui sebagai Tidak diatur
Cost biaya perolehan
dan kewajiban
Sumber: Workshop dan Diskusi “Pengaruh IFRS terhadap Silabus dan
Materi Pengajaran Akuntansi serta Workshop "PSAK Terbaru, UI, 2010

Berikut akan dibahas beberapa point yang terdapat dalam perubahan


PSAK 16 (revisi 2007) tersebut.

ISTILAH ASET TETAP DAN DEFINISI

PSAK 16 (revisi 2007) telah menggunakan istilah aset tetap dan tidak
lagi menggunakan istilah aktiva. Ketika kita berbicara tentang aktiva,
kita sering membedakan antara tanah, equipment, atau bangunan.
Ikhusunya stilah equipment, istilah tersebut dapat merujuk pada
(Kieso, 2010):

“The term “equipment” in accounting includes


delivery equipment, office equipment,machinery,
furniture and fixtures, furnishings, factory equipment,
and similar fixed assets”

17
Kieso menunjukkan bahwa salah satu contoh equipment adalah
peralatan kantor. Jadi, ketika berbicara tentang peralatan kantor maka
peralatan kantor ini akan diklasifikasikan dalam kelompok equipment.
Namun, tidak demikian halnya dengan PSAK 16 (revisi 2007). Penting
untuk menyamakan persepsi bahwa equipment dalam PSAK 16 (revisi
2007) secara istilah telah dijadikan satu kelompok dengan aset tetap.
Sebagai contoh, Jika kita merujuk pada paragraf 36 PSAK 16 (revisi
2007), paragraf tersebut mencontohkan bahwa kelompok aset tetap
yang terpisah diantaranya:
a) tanah
b) tanah dan bangunan
c) mesin
d) kapal
e) pesawat udara
f) kendaraan bermotor
g) perabotan
h) peralatan kantor.

Dari contoh tersebut, PSAK 16 (revisi 2007) mengelompokkan


peralatan kantor atau perabotan kedalam kelompok aset tetap. Jadi,
berdasar PSAK 16 (revisi 2007), ketika kita berbicara peralatan kantor,
maka peralatan kantor tersebut akan dikatagorikan dalam kelompok
aset tetap, bukan dalam kelompok equipment.

Jika ditinjau dari definisi aset tetap, PSAK 16 (Revisi 2007)


mendefinisikan aset tetap sebagai aset berwujud yang:
a. Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan
barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau
untuk tujuan administratif;
b. Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode

Berdasarkan definisi di atas, pengertian aset tetap dapat ditinjau


dari tujuan dan lama penggunaannya. Fokus pada tujuan penggunaan

18
aset ini akan membedakan definisi aset tetap dengan properti
investasi pada PSAK 13 tentang properti investasi1.

PENGAKUAN ASET TETAP

Pengeluaran (nilai) yang dapat diakui sebagai aset tetap


berdasarkan PSAK 16 (Revisi 2007) dapat dibagi menjadi dua
kelompok yaitu biaya perolehan awal dan biaya setelah perolehan
awal. Terdapat perbedaan aturan antara PASK lama dengan PSAK
baru dalam menentukan pengeluaran mana yang dapat diakui
sebagai aset. Dalam PSAK lama, biaya perolehan awal dapat diakui
sebagai aset jika memenuhi kriteria sebagai berikut yaitu:
• Besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan
berkenaan dengan aset tersebut kan mengalir ke entitas
• Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal
Sedangkan kriteria biaya setelah perolehan awal yang dapat diakui
sebagai aset adalah :
1. Menambah masa manfaat
2. Menambah kapasitas

Berdasarkan PSAK lama, jelas sekali terdapat perbedaan kriteria


untuk mengakui pengeluaran sebagai aset pada kondisi perolehan
awal dan pada kondisi setelah perolehan awal. Tetapi menurut PSAK
baru, kriteria untuk biaya perolehan awal dan biaya setelah perolehan
awal yang dapat diakui sebagai aset tidak memiliki perbedaan seperti
halnya PSAK 16 (revisi 1994). Dalam PSAK 16 (revisi 2007),
pengeluaran dapat diakui sebagai aset pada kondisi perolehan awal
dan pada kondisi setelah perolehan awal jika memenuhi kriteria
sebagai berikut (kriteria sama):

1
 Dalam  PASK  13  (revisi  2007),  yang  dikalsifkasikan  sebagai  properti  investasi  lebih 
ditujukan untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa atau 
untuk tujuan administratif. 
 

19
1. Besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan
dengan aset tersebut kan mengalir ke entitas
2. Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal.

Jika disarikan dapat dilihat sebagai berikut:

Kriteria Pengakuan Biaya setelah


Biaya Perolehan Awal
untuk Perolehan Awal
Lama Kriteria ƒ Besar kemungkinan ƒ Menambah
berbeda manfaat ekonomis di masa masa manfaat
depan berkenaan dengan ƒ Menambah
aset tersebut akan mengalir kapasitas
ke entitas
ƒ Biaya perolehan aset dapat
diperoleh secara andal
Sekarang Kriteria ƒ Besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa
sama depan berkenaan dengan aset tersebut akan
mengalir ke entitas
ƒ Biaya perolehan aset dapat diperoleh secara
andal

Sumber: Workshop dan Diskusi “Pengaruh IFRS terhadap Silabus dan


Materi Pengajaran Akuntansi serta Workshop "PSAK Terbaru, UI, 2010

PENGUKURAN ASET TETAP

Setelah aset tetap diakui, barulah proses berikutnya kita menentukan


seberapa besar atau bagaimana aset tetap diakui. Tidak berbeda
dengan PSAK 16 (revisi 1994), PSAK 16 (revisi 2007) mensyaratkan
bahwa suatu aset tetap yang memenuhi kualifikasi untuk diakui
sebagai aset tetap, pada awalnya harus diukur sebesar biaya

20
perolehan (par 15). Berdasarkan PSAK 16 (revisi 2007), biaya
perolehan aset tetap terdiri dari:
1. Harga perolehan, termasuk bea impor dan pajak pembelian yang
tidak boleh dikreditkan setelah dikurangi diskon pembelian dan
potongan lain;
2. biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk
membawa aset ke lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset
siap digunakan sesuai dengan keinginan dan maksud
manajemen
3. Estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap
dan restorasi lokasi aset. Kewajiban atas biaya tersebut timbul
ketika :
o aset tersebut diperoleh, atau
o karena entitas menggunakan aset tersebut selama periode
tertentu untuk tujuan selain untuk menghasilkan
persediaan.
Sebagai contoh Pada 1 Mei 2010 PT. X, Tbk. membeli peralatan secara
tunai, harga katalog Rp40 juta, trade discount Rp5 juta, dan cash
discount Rp2 juta. Bea impor dan PPn Masukan (tidak dapat
dikreditkan) Rp6 juta. Biaya pemasangan dan percobaan Rp3 juta.
Umur manfaat 5 tahun. Nilai residu Rp0,4 juta (setelah dikurangi
taksiran biaya pembongkaran Rp2 juta). Dari contoh kasus ini, maka
biaya perolehan akan dihitung sebagai berikut (dalam ribuan rupiah):

Harga katalog 40.000


(-) Trade discount ( 5.000)
(-) Cash discount ( 2.000)
(+) Biaya bongkar 2.000
35.000

PENGUKURAN SETELAH PENGAKUAN AWAL

Berdasarkan PSAK 16 (Revisi 2007) Pengukuran aset tetap selain


dilakukan ketika aset diperoleh, juga dilakukan ketika aset telah

21
diperoleh atau disebut dengan pengukuran setelah pangakuan
awal2. Dalam PSAK 16 (Revisi 2007), terdapat perubahan yang cukup
segnifikan mengenai metode pengukuran setelah pengakuan awal.
Pada PSAK lama, hanya berlaku satu metode yaitu metode kos, untuk
melakukan pengukuran setelah pengakuan awal. Namun pada PSAK
16 (Revisi 2007), terdapat dua metode yang bisa digunakan untuk
melakukan pengukuran sebagaimana dinyatakan dalam paragraf 29 :

“Suatu entitas harus memilih model biaya (cost model)


dalam par. 30 atau model revaluasi (revaluation model)
dalam par. 31 sebagai kebijakan akuntansinya dan
menerapkan kebijakan tersebut terhadap seluruh aset
tetap dalam kelompok yang sama.”

Jadi berdasarkan paragraf tersebut, setiap entitas diperkenankan


memilih salah satu model, yaitu apakah model kos ataukah model
revaluasi, sebagai kebijakan akuntansinya dalam melakukan
pengukuran setelah pengakuan awal aset tetap3. Jika dibandingkan
dengan PSAK 16 (1994), standar tersebut tidak memperkenankan
penggunaan model revaluasian dalam pengukuran setelah
pengakuan awal dengan alasan karena Standar Akuntansi Keuangan
menganut penilaian aktiva berdasarkan harga perolehan atau harga
pertukaran.

Namun, sejak diberlakukannya PSAK 16 (Revisi 2007), entitas dapat


memilih salah satu dari dua model berikut:
1. Model Kos (Cost Moel)
2. Model Revaluasi (Revaluation Model)

Jika entitas memilih model kos, maka setelah aset tetap diakui
sebagai aset tetap, aset tetap tersebut dicatat pada harga perolehan
dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi
penurunan nilai asset (paragraf 30).

2
 Pengakuan awal mengacu pada periode ketika aset tetap diperoleh. 
3
 Contoh Kelompok aset yang sama dapat dilihat pada PSAK 16 (revisi 2007) paragraf 
37. 

22
Jika entitas menggunakan model revaluasi, maka setelah diakui
sebagai aset, suatu aset tetap yang nilai wajarnya dapat diukur secara
andal harus dicatat pada jumlah revaluasian, yaitu nilai wajar pada
tanggal revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi
penurunan nilai yang terjadi setelah tanggal revaluasi. Revaluasi harus
dilakukan dengan keteraturan yang cukup regular untuk memastikan
bahwa jumlah tercatat tidak berbeda secara material dari jumlah yang
ditentukan dengan menggunakan nilai wajar pada tanggal neraca.
Model revaluasian ini harus diterapkan secara reguler dengan tujuan
untuk memastikan bahwa jumlah tercatat tidka berbeda secara
material dengan jumlah yang ditentukan dengan menggunakan nilai
wajar pada tanggal neraca. (PSAK 16 (revisi 2007) par. 31).

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah jika suatu aset tetap
direvaluasi, maka revaluasi tersebut akan diberlakukan untuk seluruh
aset tetap pada kelompok yang sama (PSAK 16 (revisi 2007) par. 36).
Misalkan: PT. X memiliki 5 buah mobil pick up (Pick Up No. 1 s/d Pick
Up no.5) dan 5 buah motor (motor No. 1 s/d motor No.5) yang
semuanya dikelompokkan dalam kelompok aset tetap berupa
kendaraan bermotor. Jika perusahaan ingin menerapkan model
revaluasian pada mobil pick up No.1, maka semua mobil pick up dan
semua motor harus juga diterapkan model revaluasian untuk
pengukuran setelah pengakuan awal, bukan hanya pada kelompok
motor saja, tapi juga pada kelompok mobil pick up.

Dalam paragraf 34 juga dinyatakan bahwa frekuensi revaluasi


tergantung perubahan nilai wajar dari suatu aset tetap yang
direvaluasi. Jika nilai wajar dari aset yang direvaluasi berbeda secara
material dari jumlah tercatatnya, maka revaluasi lanjutan perlu
dilakukan. Beberapa aset tetap mengalami perubahan nilai wajar
secara signifikan dan fluktuatif, sehingga perlu direvaluasi secara
tahunan. Revaluasi tahunan seperti itu tidak perlu dilakukan apabila
perubahan nilai wajar tidak signifikan. Namun demikian, aset tersebut
mungkin perlu direvaluasi setiap tiga atau lima tahun sekali.

Paragraf tersebut ingin menunjukkan bahwa frekuensi revaluasian


tidak harus dilakukan entitas tiap tahun. Dengan berlandaskan pada
apakah nilai wajar dari aset yang direvaluasi berbeda secara material

23
dari jumlah tercatatnya, maka entitas dapat menentukan frekuensi
dilakukannya revaluasi. Jika aset tetap memang mengalami
perubahan nilai wajar secara signifikan dan fluktuatif, maka perlu
dilakukan revaluasi tahunan, namun jika perubahan nilai wajar tidak
signifikan, maka mungkin revaluasian hanya dilakukan 5 thun sekali.

Pembahasan lebih detail tentang model revaluasian ini, dapat dilihat


pada edisi buletin Akuntan Muda berikutnya.

REFERENSI

Kieso, Weygandt, and Warfield. 2010. Intermediate Accounting. Wiley.


NewYork

Standar Akuntansi keuangan per 1 juli 2009. Ikatan Akuntan


Indonesia. Salemba Empat. Jakarta

Workshop dan Diskusi “Pengaruh IFRS terhadap Silabus dan Materi


Pengajaran Akuntansi serta Workshop "PSAK Terbaru, UI, 2010

24
Permainan Angka dan Fraud
dalam Akuntansi
 
Permainan angka-angka keuangan (financial numbers game) dalam
akuntansi secara umum bertujuan untuk mengubah kesan mengenai
kinerja bisnis suatu perusahaan agar terlihat baik dalam pandangan
pengguna laporan keuangan dengan tujuan untuk meningkatkan
harga saham, peningkatan insentif manajemen, penghindaran
kewajiban pajak, dsb (Mulford & Comiskey 2002).

Ada banyak model permainan


angka-angka keuangan dalam
akuntansi diantaranya
aggressive accounting, earnings
management, creative
accounting, income smoothing,
dan fraudulent financial
reporting (Mulford & Comiskey
2002). Secara umum istilah-
istilah diatas memiliki filosofi yang sama yaitu bagaimana
menciptakan angka-angka di dalam laporan keuangan terutama laba
menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Permainan angka-angka tersebut ada yang dapat dilakukan menurut


standar akuntansi yang berlaku umum namun ada juga yang tidak
sesuai dengan standar. Pengaturan angka-angka dalam laporan
keuangan yang tidak sesuai dengan standar ini yang akan menjadi
awal terjadinya kecurangan (fraud) dalam penyajian laporan
keuangan.

25
Managemen Laba
Wolk et al. (2008) mendefinisikan manajemen laba sebagai intervensi
dalam proses pelaporan keuangan eksternal, dengan maksud untuk
memperoleh keuntungan pribadi. Manajemen berusaha untuk
mempengaruhi laba dengan tujuan, (1) memaksimalkan kompensasi,
(2) menghindari pelanggaran perjanjian hutang yang dapat mencegah
pembayaran deviden, dan (3) meminimalkan laba yang dilaporkan
untuk mengurangi kemungkinan campur tangan pemerintah.
Managemen laba juga didefinisikan sebagai manipulasi aktif terhadap
informasi yang dihasilkan oleh akuntansi dengan tujuan untuk
menciptakan perubahan yang berkesan dalam kinerja bisnis
(Comiskey, 1996 dalam Mulford & Comiskey, 2002). Proses
managemen laba melibatkan adanya pemilihan-pemilihan dalam
kebijakan akuntansi yang telah ditetapkan oleh GAAP. Oleh karena itu
managemen laba berkaitan dengan pemilihan kebijakan yang
bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan atau nilai pasar dari
perusahaan (Scott, 1997 dalam Mulford & Comiskey, 2002). Earnings
management mulai banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di
Amerika pada tahun 1999 dengan tujuan untuk menyalahgunakan
informasi keuangan yang dihasilkan dalam laporan keuangan. Dalam
periode tersebut, SEC focus kepada model managemen laba yang
melibatkan penggunaan tipu muslihat untuk mendistorsi kinerja
keuanagan perusahaan yang sesungguhnya untuk mencapai hasil
yang diinginkan (SEC 1999 dalam Mulford & Comiskey, 2002).

Secara umum, earnings management merupakan bentuk khusus dari


permainan terhadap angka-angka di dalam laporan keuangan yang
melibatkan pemilihan berbagai kebijakan-kebijakan akuntansi yang
telah ditetapkan oleh GAAP untuk menghasilkan angka laba yang
sesuai dengan target yang telah ditentukan sebelumnya. (Mulford &
Comiskey, 2002). Pola manajemen laba yang dapat dilakukan manajer
ada dua yaitu meningkatkan laba dan menurunkan laba yang

26
dilaporkan. Pernyataan ini juga didukung secara empiris oleh
penelitian-penelitian terdahulu (Herawati & Baridwan, 2007)

Ada berbagai motivasi yang mendorong dilakukannya manajemen


laba. Teori akuntansi positif (Positive Accounting Theory) mengusulkan
tiga hipotesis motivasi manajemen laba, yaitu: (1) hipotesis program
bonus (the bonus plan hypotesis), (2) hipotesis perjanjian hutang (the
debt covenant hypotesis), dan (3) hipotesis biaya politik (the political
cost hypotesis) (Watts dan Zimmerman, 1986). Secara umum motivasi
untuk melakukan earnings management dapat berasal dari faktor
internal dan eksternal. Secara internal, manager melakukan
managemen laba untuk mencapai target laba yang telah ditentukan,
terutama apabila berkaitan dengan kompoensasi managemen atau
bonus (Reitenga, et al. 2002). Hasil-hasil penelitian menunjukkan
bahwa jika laba yang dihasilkan melampaui plafon bonus atau di
bawah batas bawah (floor) kontrak bonus, maka manajemen akan
cenderung menangguhkan laba sampai periode berikutnya (Wolk et
al. 2008). Faktor luar yang mendorong tindakan managemen laba,
dapat berasal dari pihak manajemen puncak yang ingin menunjukkan
bahwa berkat kepemimpinan mereka performa keuangan perusahaan
telah menjadi lebih baik. Terutama bila perusahaan ini adalah
perusahaan go publik, maka pihak top manajemen ingin
menunjukkan kepada para pemegang saham bahwa kepemimpinan
mereka dapat diandalkan. Kecenderungannya akan lebih kuat, bila
data aktual hanya berada dibawah sedikit dari target yang diinginkan.
Maka earnings management berfungsi untuk “menyempurnakannya”
menjadi laporan keuangan yang lebih baik. Tindakan untuk
menghindari perjanjian utang, pembayaran dividen dan permasalahan
pajak juga merupakan faktor luar yang mendorong terjadinya
managemen laba.

Manajemen laba dapat dilakukan dengan memanipulasi discretionary


accruals, yaitu biaya-biaya akrual yang dapat dikendalikan oleh
managemen (Wolk et al. 2008). Income smoothing yang merupakan

27
bentuk dari managemen laba untuk meratakan laba dari waktu ke
waktu sehingga arus laba yang lebih stabil dengan variansi yang kecil
dari tahun ke tahun dapat meningkatkan penilaian perusahaan
Terdapat tiga cara untuk melakukan smoothing, yaitu, (1) waktu
pencatatan transaksi (timing of transaction) yang merupakan metode
yang paling langsung dan paling berpengaruh dalam memanipulasi
laba akuntansi, (2) pemilihan metode/prosedur alokasi, (3) klasifikasi
smoothing antara operating dan nonoperating income yang dapat
diterapkan sebelum APB opinion No.30. (Wolk et al. 2008). Tindakan-
tindakan yang berpotensi terhadap managemen laba dapat dilakukan
dengan berbagai cara yaitu: (Mulford & Comiskey, 2002)

1) Mengubah  metode  depresiasi  (misalnya:  dari  metode  akselerasi 


menjadi garis l lurus);   
2) Mengubah masa manfaat asset untuk kepentingan penyusutan;  
3) Mengubah estimasi nilai sisa untuk kepentingan penyusutan;  
4) Menentukan penyisihan yang diperlukan untuk piutang tak tertagih;  
5) Menentukan penyisihan untuk kewajiban garansi;  
6) Menentukan  penilaian  penyisihan  yang  diperlukan  untuk  aktiva  pajak 
tangguhan;  
7) Menentukan adanya aset‐aset yang tidak terpakai (impaired asset) dan 
kemungkinan‐kemungkinan adanya kerugian akrual.  
8) Mengestimasi tahapan penyelesaian persentase pemenuhan kontrak; 
9) Mengestimasi kemungkinan realisasi atas klaim kontrak; 
10) Mengestimasi  kemungkinan  untuk  melakukan  penurunan  nilai  buku 
(write‐down) terhadap beberapa investasi tertentu; 
11) Mengestimasi jumlah restrukturisasi akrual; 
12) Menilai keperluan dan jumlah atas inventori yang akan diturunkan nilai 
bukunya (write‐down); 
13) Mengestimasi  biaya‐biaya  akrual  yang  berkaitan  dengan  kewajiban 
terhadap lingkungan; 
14) Membuat perubahan asumsi aktuaria atas biaya pensiun; 
15) Menentukan  porsi  dari  harga  untuk  pembelian  yang  ditetapkan  untuk 
proses riset dan pengembangan; 

28
16) Menentukan  atau  mengubah  periode  amortisasi  untuk  asset  tak 
berwujud; 
17) Menentukan seberapa besar variasi biaya‐biaya yang diperlukan untuk 
pengembangan lahan; 
18) Menentukan  klasifikasi  hedging  yang  sesuai  untuk  instrument 
keuangan derivatif; 
19) Menentukan apakah investasi memperbolehkan adanya campur tangan 
dari perusahaan investee; 
20) Menentukan apakah penurunan dalam nilai pasar dari investasi bersifat 
tetap atau temporer. 

Managemen Laba dan Fraud


Managemen Laba dapat diartikan sebagai penggunaan tipu muslihat
untuk mendistorsi kinerja keuangan perusahaan yang sesungguhnya
untuk mencapai hasil yang diinginkan (SEC 1999 dalam Mulford &
Comiskey, 2002). Pengertian ini dikemukakan oleh SEC dikarenakan
sejak tahun 1990-an banyak perusahaan yang memanfaatkan
managemen laba untuk melakukan praktik-praktik kecurangan untuk
kepentingan pribadi perusahaan. Kondisi ini semakin diperparah
ketika terjadi kasus Enron yang melibatkan KAP Arthur Anderson.

Kasus Enron, Arthur Anderson dan Worldcom merupakan kasus yang


sangat menggemparkan dunia dan menciptakan krisis yang cukup
serius terhadap kredibilitas proses akuntansi, pelaporan, dan
tatakelola perusahaan. Terjadinya kasus-kasus seperti Enron dan
Arthur Anderson, dan WorldCom menimbulkan terjadi krisis
kepercayaan antara investor dengan perusahaan-perusahaan yang
telah go publik (Brooks 2003). Di Indonesia permainan angka-angka
keuangan yang terindikasi kecurangan juga pernah terjadi pada PT.
Kimia Farma, kasus audit PT Telkom, kasus audit bank beku operasi
dan bank beku kegiatan usaha dan beberapa kasus lainnya seperti
penggelapan pajak yang melibatkan KAP besar di Indonesia (Ludigdo,
2005).

29
Managemen laba pada dasarnya dapat dilakukan oleh setiap
perusahaan, dengan syarat tidak melanggar prinsip-prinsip akuntansi
yang berterima umum. Managemen laba yang legal dan biasanya
dilakukan oleh setiap perusahaan diantaranya adalah memainkan
pertimbangan atas discretionary accruals, menentukan waktu
transaksi, pemilihan metode atau prosedur alokasi, dan klasifikasi
smoothing antara operating & non operating income. Ketika
managemen laba dilakukan dengan tidak didasari oleh prinsip-prinsip
akuntansi yang berlaku umum dan dilakukan secara sengaja untuk
menyampaikan informasi yang tidak benar bagi pengguna, pada saat
itulah managemen laba terindikasi sebagai suatu kecurangan (fraud).

(Oleh: Arif Perdana)

REFERENSI: 

The Financial Numbers Game Detecting Creative Accounting Practices


(Charles W Mulford & Eugene E. Comiskey, 2002)

Mengembangkan Etika di Kantor Akuntan Publik: Sebuah Perspektif


untuk Mendorong Perwujudan Good Governance (Unti Ludigdo,
2005)

Accounting Theory : Conceptual Issues in a Political and Economic


Environment 7th edition (Harry I Wolk,. et al. 2008)

CEO Bonus Pay, Tax Policy, and Earnings Management (Austin


Reitenga, et al., 2002)

Positive Accounting Theory. New Jersey: Prentice Hall International Inc.


(Ross L Watts dan Jerold L. Zimmerman, 1986)

Financial Accounting Theory, Third Edition (William R Scott, 2003)

30
Yuk, Bikin Paper!

#1 Overview

Mahasiswa pada umumnya punya kewajiban membuat paper, entah


itu berbentuk skripsi maupun paper kuliah. Umumnya juga,
mahasiswa enggan dengan tugas ini. :D Paper biasanya hanya akan
dikerjakan bila sudah mendekati deadline. Pertanda bahwa kita
lebih berharap pada the power of kepepet daripada kuatnya aliran
energi positif berupa antusiasme. Skripsi jangan ditanya. Kegiatan
satu ini menjadi bottleneck di berbagai universitas di Indonesia
sehingga muncullah wacana penghapusan skripsi.

Kenyataan ini agak mengherankan karena anak muda biasanya suka


penasaran dan giat mencari tahu. Buktinya? Banyak tuh mahasiswa
yang tahu betul bahkan hafal serba-serbi klub-klub Liga Inggris.
Sementara itu, para mahasiswi yang gaul biasanya tahu betul
berbagai jenis kosmetik, harga, dan keunggulannya. Mahasiswa dan
mahasiswi ini rela meluangkan waktu untuk mencari tahu berbagai
hal yang menjadi minatnya. Lantas, mengapa kesenangan dan
antusiasme yang sama tidak ada ketika membuat paper?

If It’s not Fun, It’s not Worth It


Banyak mahasiswa memilih topik berdasarkan kelayakannya untuk
diajukan sebagai topik skripsi
atau paper. Cara ini punya 1
kelemahan mendasar yaitu kita
sendiri belum tentu senang
dengan topik yang kita ajukan.
Yang penting lulus kan? Iya,
namun cara ini hanya
mempercepat kita di awal tanpa ada jaminan bakal cepat sampai
akhir.

31
Tidak percaya? Coba bayangkan kita diberi tugas membuat paper 5
halaman mengenai klub bola, merek tas, atau tokoh yang kita kagumi.
Sekarang coba bayangkan kita diberi tugas membuat paper 5
halaman mengenai galaksi Bima Sakti. Mana yang lebih cepat waktu
pengerjaannya? Kecuali kita seorang pecinta astronomi, hampir pasti
tugas pertamalah yang lebih cepat waktu penyelesaiannya. Padahal,
bahan tulisan tentang galaksi Bima Sakti justru jauh lebih banyak dari
sekedar informasi mengenai klub bola misalnya. Lalu, kenapa
penyelesaiannya lebih cepat tugas pertama? Karena kita lebih suka
topik tugas pertama.

Simulasi Penerbangan
Pernah coba main simulasi penerbangan tanpa membaca manualnya?
Ribet. Kesulitan ini mudah diduga karena simulasi penerbangan itu
kompleks. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan dan disinkronkan
agar kita bisa menjalankan misi yang diinginkan. Ada arah mata angin,
ketinggian, kecepatan pesawat, dan banyak lagi. Oleh karena itu,
sebelum main simulasi
penerbangan, kita sangat
perlu membaca manualnya.

Sementara itu, untuk hal


baru sekompleks skripsi atau
paper, apakah kita pernah
mempelajari manualnya? Ya,
kita pernah belajar metode atau metodologi penelitian, namun itu
baru 1 bagian dari skripsi yaitu bagian cara melaksanakan sebuah
penelitian. Statistik? Itu hanya bagian menguji dan menginterpretasi
data. Metode penelitian dan statistik itu penting, namun demikian
menyusun skripsi merupakan sesuatu yang lebih kompleks daripada
penjumlahan kedua hal tersebut.

32
Paper
Benarkah paper itu lebih dari sekedar metode penelitian dan
statistik? Secara teoretis, paper bisa dibagi menjadi 3 bagian
penting berikut:

‰ Riset
Riset secara luas bisa diartikan sebagai suatu kegiatan
terstruktur untuk menemukan jawaban atas suatu masalah tertentu.
Riset terdiri dari beberapa bagian yaitu masalah (pertanyaan
penelitian), teori, pengembangan hipotesis (dugaan atau jawaban
sementara), hipotesis, cara meneliti dan menguji hipotesis (metode
penelitian), hasil pengujian hipotesis, interpretasi hasil, diskusi atau
pembahasan hasil, simpulan, dan saran.
‰ Menulis laporan riset
Riset yang sudah dilaksanakan dilaporkan dan, oleh karenanya,
dinilai dalam bentuk tulisan. Laporan riset merupakan alat bagi kita
untuk mengkomunikasikan riset kita kepada pihak lain. Ada
beberapa aspek penting laporan riset seperti aspek bahasa,
penulisan (e.g. kesalahan ketik), layout dan desain (e.g. membuat
dan menempatkan tabel dan gambar yang mudah dibaca dan
dimengerti).
Seberapa penting peran penulisan laporan riset yang baik?
Pernah melihat seorang pembicara yang bertele-tele, tidak menarik,
dan membosankan? Nah, laporan riset sama seperti seorang
pembicara. Ia bisa bertele-tele, tidak menarik, dan membosankan.
Namun, ia bisa juga ditulis dengan baik, sangat menarik, dan
membuat pembaca sangat senang menikmatinya.
‰ Hal-hal penting lain
Ada banyak hal penting yang bukan merupakan bagian dari riset
dan pelaporannya itu sendiri, seperti masalah pembimbingan,
ketersediaan data, jenis penelitian, sumber literatur, plagiarisme,
dan lain-lain. Strategi yang tepat atas hal-hal ini akan sangat
membantu dalam memperlancar pembuatan paper.

Kolom Ini
Menyusun paper itu relatif kompleks karena, seperti main simulasi
penerbangan, ada banyak hal yang perlu dipikirkan dan

33
disinkronkan. Namun demikian, tidak ada yang perlu ditakutkan dari
membuat paper karena, pada dasarnya, manusia itu senang dengan
hal yang kompleks dan selalu berusaha meningkatkan tingkat
kompleksitas hal-hal yang ia kerjakan. Paper atau skripsi itu sendiri
hanya tahapan berikutnya dari tingkat kompleksitas yang harus kita
hadapi.

Kompleks bukan berarti rumit, susah, atau tidak bisa dikerjakan.


Memainkan simulasi penerbangan jauh lebih kompleks daripada
main tetris, namun nyatanya banyak sekali yang menyenangi
permainan jenis simulasi ini. Bukan hanya permainan simulasi,
permainan model strategi semacam Empires, Cityville (Facebook),
dan lain-lain juga banyak digemari.

Sesuatu yang kompleks memang lebih memerlukan pemikiran.


Namun ini juga berarti bahwa prosesnya akan lebih menantang dan
lebih memuaskan. Hal yang perlu kita lakukan agar ‘permainan’
menjadi menyenangkan hanyalah pilih permainan yang kita senangi
dan pelajari manualnya.

Kolom ini didedikasikan untuk membantu kita, anda dan saya, agar
mampu membuat paper secara lebih menyenangkan. Kolom ini akan
membahas bagian-bagian pembuatan paper yaitu riset, penulisan,
dan aspek penting lainnya. Kemudian, pembahasan tersebut akan
menunjukkan (i) aspek-aspek yang harus kita pilih sendiri agar
‘permainan’ ini jadi menyenangkan, dan (ii) aspek-aspek yang harus
kita ikuti/taati menurut kaidah tertentu agar paper kita memenuhi
standar penelitian yang baik.

Oke. Bulan depan? Topik! Hal yang pertama sekali perlu kita
pikirkan ketika mau memulai menyusun paper atau skripsi.

(arierahayu)

Kredit foto - Creative Commons:

1) ‘Galaxy in the Box’ - http://www.imagingdeepsky.com/


2) wolgenbill via Flickr ‐ http://bit.ly/fm0ZHg 

34
Review Buku
Reformasi Akuntansi: Membongkar Bounded
Rationality Pengembangan Akuntansi
Pengarang: Sony Warsono, MAFIS, PhD, Akuntan

Halaman: 251

Penerbit: Asgard Chapter, Yogyakarta, 2010,

Harga: Rp75.000 (softcover) dan Rp100.000 (hardcover)

Bloomfield (2008) dalam artikelnya yang berjudul Accounting As the


Language of Business yang diterbitkan di jurnal Accounting Horizons
pernah mengemukakan akuntansi sebagai bahasa bisnis. Informasi
yang disampaikan oleh akuntansi sebenarnya dapat diurai mulai dari
bagian terbesar hingga bagian-bagian terkecil yang menyusunnya.
Laporan keuangan terdiri dari komponen aset, utang, ekuitas,
pendapatan dan biaya. Komponen ini dapat diuraikan lagi menjadi
akun-akun dan sub akun, dan selanjutnya terurai lagi menjadi
mekanisme debet dan kredit. Melalui pemrosesan pembukuan seperti
jurnal, buku besar, kertas kerja, komponen-komponen ini disusun
hingga pada akhirnya menghasilkan laporan keuangan. Pemahaman
atas komponen-komponen dalam akuntansi ini menjadi sangat
penting.

Penelitian-penelitian akuntansi masa kini sebagian besar hanya


terfokus pada dampak dari informasi akuntansi terhadap investor.
Penelitian yang berkaitan dengan konsep dasar akuntansi itu sendiri

35
sudah lama ditinggalkan di jurnal-jurnal terkemuka, karena
pemahaman ini dianggap sudah mapan. Benarkah demikian ? Sebagai
orang-orang yang pernah mempelajari akuntansi, pernahkah kita
bertanya, logika seperti apa yang ada di dalam persamaan akuntansi,
dan bagaimanakah sebenarnya menjelaskan mekanisme debet kredit
secara lebih logis. Hal ini sebenarnya menjadi introspeksi bagi
individu-individu yang berkecimpung dalam dunia akuntansi. Tidak
jarang bahkan pakar-pakar akuntansi yang berbicara melangit
tentang akuntansi namun tidak dapat menjelaskan secara logis
tentang logika dasar akuntansi.

Sony Warsono, MAFIS., PhD. dalam bukunya yang berjudul Reformasi


Akuntansi: Membongkar Bounded Rationality Pengembangan
Akuntansi berusaha menguraikan secara gamblang mengenai
kekurangjelasan atas pemahaman dasar akuntansi dengan
menggunakan basis pemikiran matematis. Ide dasar untuk
mereformasi pemahaman akuntansi yang bersifat bounded rationality
ini sebelumnya sudah dipaparkan pada sejumlah artikel-artikel ilmiah
yang sudah dipublikasikan pada beberapa seminar dan konferensi
akuntansi internasional, hingga pada akhirnya di awal tahun 2010,
ide-ide ini dikumpulkan menjadi sebentuk buku yang dapat membuka
cakrawala berfikir kita lebih luas, kritis dan logis tentang akuntansi.
Paparan penting yang dikemukakan dalam buku ini antara lain
mengenai pemahaman logis atas mekanisme debet kredit, persamaan
dasar akuntansi, akun, dan dilanjutkan dengan dampaknya terhadap
definisi-definisi elemen laporan keuangan, penyusunan standar serta
pendekatan dalam penyusunan laporan keuangan.

Buku ini disajikan dalam empat bagian. Bagian pertama berisikan


berbagai fakta menarik tentang akuntansi. Penulis buku memulai
bahasannya dengan memberikan gambaran bahwa pembelajaran
akuntansi saat ini belum cukup efektif dan memberikan kontribusi
yang nyata dalam kehidupan sosial. Informasi akuntansi dipercaya
hanya memberikan kontribusi yang sedikit bagi para investor

36
dikarenakan sifatnya yang historis atau backward-looking information.
Dalam bagian pertama ini, penulis menekankan pentingnya kontribusi
yang lebih nyata bagi akuntansi dalam kehidupan sosial. Akuntansi
seharusnya tidak bersifat statis tetapi harus lebih berkembang. Ide
akuntansi matematika diawarkan karena sifatnya yang logis dan
akuntansi pertama kali juga dikemukakan di dalam buku matematika
oleh ahli matematika Luca Pacioli.

Bagian kedua dari buku ini membahas tentang rasionalitas dalam


pengembangan akuntansi. Apa yang terjadi saat ini dalam ilmu
akuntansi hanya bersifat rasionalitas terbelenggu (bounded
rationality). Pilihan-pilihan atas prinsip, teknik dan metode akuntansi
yang diterapkan sebagian besar dikarenakan mengikuti apa yang
banyak dipakai dan digunakan oleh accounting scholar, tanpa
berupaya untuk mengkaji dari sisi rasionalitasnya tentang pilihan yang
diambil tersebut. Penjelasan dari bagian kedua ini dilanjutkan pada
bagian ketiga yang menjelaskan contoh-contoh bounded rationality
dalam akuntansi. Ilmu matematika yang mendasari terbentuknya
akuntansi seharusnya menjadi landasan pokok dalam pemahaman
akuntansi, terutama yang berkaitan dengan akun dan debet kredit.
Pemahaman debet kredit belum berada pada tahap know why,
bahkan ironisnya debet kredit dianggap sebagai pemahaman
dogmatis yang tidak memerlukan penjelasan logis.

Mekanisme debet dan kredit merupakan “sel” yang menjadi dasar


terciptanya informasi akuntansi. Meskipun mekanisme ini sangat
penting, namun demikian tidak ada buku teks akuntansi yang
memberikan pemahaman secara logis atas mekanisme ini. Padahal di
di akhir abad ke 19, beberapa filosof dan ilmuwan seperti Johann
Wolfgang von Goethe mengatakan pembukuan yang merupakan
bagian dari akuntansi sebagai satu penemuan paling fair dalam
sejarah pemikiran manusia, sementara itu Sir George Cayley
mengatakan pembukuan merupakan satu dari dua pengetahuan yang
sempurna.

37
Pemahaman atas debet dan kredit dalam akuntansi dianggap oleh
sebagian pakar akuntansi sebagai pengetahuan yang remeh temeh
dan tidak perlu mendapatkan perhatian yang khusus. Beberapa
literatur akuntansi ada yang menyatakan bahwa mekanisme debet
dan kredit adalah kesepakatan, dogmatis dan ada juga yang
mengatakan hanya sekedar untuk membedakan antara penambahan
dan pengurangan, serta yang paling parah adalah menyatakan debet
dan kredit sebagai pembeda antara sisi kiri dan kanan. Sebagai
bagian terkecil atau “sel” yang menyusun informasi akuntansi,
tentunya pemahaman yang salah dan tidak logis atas mekanisme
debet dan kredit akan mempengaruhi penyusunan standar dan
informasi akuntansi. Melalui logika matematika, mekanisme debet
dan kredit sebenarnya dapat dijelaskan secara lebih logis.

Mekanisme debet dan kredit memiliki hubungan yang erat dengan


persamaan dasar akuntansi. “Aset = Utang + Ekuitas” merupakan
persamaan dasar akuntansi. Persamaan ini dapat dikembangkan lagi
menjadi “Aset = Utang + Ekuitas + Pendapatan – Biaya” ( A = U + E +
P – B ). Persamaan ini sebenarnya berakar dari konsep “penggunaan
dana (use of fund) = sumber dana (source of fund)” Jika konsep ini
dikuantifikasi, hukum matematika akan berlaku secara penuh,
sehingga persamaan “A = U + E + P – B” juga harus dapat dijelaskan
dengan hukum-hukum matematika seperti hukum asosiatif dalam
penjumlahan. Yang menjadi pertanyaan sekarang, pernahkah kita
sebagai orang-orang yang pernah belajar akuntansi menemukan
literatur yang menuliskan persamaan di atas menjadi “A + B = U + E +
P” ?. Secara matematika boleh, namun secara akuntansi makruh.
Tentunya hal ini menjadi suatu hal yang kurang logis. Meskipun
tampak sederhana, namun jika dijelaskan secara rasional perubahan
posisi aset dan biaya pada posisi use of fund, akan menimbulkan
dampak yang luar biasa. Melalui penggunaan rasionalitas matematika
dan kelima elemen dalam persamaan akuntansi tersebut, ada 15 tipe
transaksi yang dapat dirumuskan, dan beberapa diantaranya

38
barangkali belum pernah terpikirkan dan dibahas dalam buku-buku
teks akuntansi. Rasionalitas matematika juga dapat memberikan
pengaruh yang besar bagi definisi-definisi elemen-elemen dalam
laporan keuangan sehingga konsistensinya lebih terjaga.

Bagian keempat dalam buku ini menyajikan pola pikir rasional yang
terbelenggu yang terjadi dalam penyusunan standar terutama
pendefinisian elemen laporan keuangan yang didalamnya belum
mencakup transaksi-transaksi yang mungkin terjadi dan melibatkan
elemen tersebut. Pendekatan dalam penyusunan laporan keuangan
juga tak luput dari bahasan penulis. Artikulasi laporan keuangan
menghendaki elemen-elemen dalam laporan keuangan yaitu neraca
dan laba rugi dapat didefinisikan secara matematis, sehingga untuk
menyusun laporan keuangan terdapat dua pendekatan yaitu
pendekatan neraca dan pendekatan laba rugi. Namun demikian
pemilihan dari salah satu pendekatan tersebut hanya akan
menimbulkan masalah atas informasi keuangan yang disajikan. Solusi
yang ditawarkan dalam buku ini adalah melalui pendekatan artikulasi
yang disempurnakan melalui rasionalitas matematika dan pendekatan
sistem.

Pada bagian akhir buku ini, penulis berupaya memberikan


pemahaman bahwa penggunaan logika matematis dalam akuntansi
bermanfaat untuk mengeliminasi rasionalitas terbelenggu dalam
pengembangan akuntansi. Melalui logika matematika, akuntansi
seharusnya tidak hanya bermanfaat untuk menghasilkan informasi
yang sifatnya backward-looking information, tetapi akuntansi juga
harus dapat mengukur nilai (value) sehingga lebih bermanfaat
sebagai forward-looking information. Akuntansi seharusnya
dikembangkan sebagai teknologi adaptif yang didalamnya melibatkan
teknologi seni, sosial dan mekanik. Perlakuan akuntansi sebagai
teknologi adaptif akan menyebabkan akuntansi dapat memenuhi
unsur “rasa” manusia yang dapat mengatur hubungan antar manusia
sehingga kebutuhan obyektif manusia dapat terpenuhi dengan baik.

39
Sejarah membuktikan bahwa ilmu dan pengetahuan yang didasari
oleh logika matematika yang mapan seperti pada bidang keteknikan
(engineering) dan komputasi berkembang sangat pesat diluar
jangkauan pemikiran manusia beberapa puluh tahun yang lalu.
Akankah melalui logika matematika, akuntansi dapat berkembang
menjadi ilmu pengetahuan yang berkembang sangat pesat dengan
pemahaman yang lebih baik dan kontribusi yang nyata bagi
kehidupan manusia?

Di dalam buku ini Warsono, mengajak akademisi dan praktisi untuk


berfikir lebih rasional tentang apa yang terjadi dalam kajian akuntansi
selama ini. Pemahaman yang banyak dianut oleh pakar akuntansi
pada dasarnya belum tentu merupakan suatu kebenaran yang mutlak.
Melalui logika matematika, akuntansi dapat dijelaskan secara lebih
logis dan ilmiah.

Sony Warsono merupakan staf pengajar akuntasi Universitas Gadjah


Mada, area riset yang digeluti berkaitan dengan sistem informasi,
good corporate governance, akuntansi keuangan dan knowledge
management.

(Arif Perdana)

40