Anda di halaman 1dari 13

PENGARUH RETONA TERHADAP

KARAKTERISTIK ASPAL KERAS DAN


BETON ASPAL CAMPURAN PANAS

Wimpy Santosa dan Tri Basuki

Abstrak

Aspal sebagai bahan pengikat merupakan material penting


dalam konstruksi jalan. Karakteristik aspal mempengaruhi
k inerja campuran beraspal. Oleh karena itu, aspal dengan
kualitas yang baik akan menghasilkan campuran perkerasan
dengan kinerja yang baik. Ada berbagai cara untuk
meningkatkan kualitas aspal. Salah satu cara untuk
memperbaiki kualitas aspal adalah dengan menggunakan
bahan modifikasi yang telah tersedia di pasaran. Suatu bahan
baru modifikasi yang tersedia di pasaran adalah Retona.
Retona (Refined Buton Asphalt) merupakan hasil produksi
ekstraksi aspal alam dari Pulau Buton. Beberapa studi
terdahulu menunjukkan bahwa Retona dapat memperbaiki
kinerja campuran beraspal. Penelitian ini mengevaluasi
pengaruh Retona terhadap kepekaan temperatur aspal dan
karakteristik campuran beton aspal. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa Retona dapat menurunkan nilai VTS dan
meningkatkan nilai PI dari aspal, yang berarti bahwa Retona
dapat membuat aspal menjadi kurang peka terhadap
temperature. Analisis juga berhasil menunjukkan bahwa
penambahan Retona sebesar 15% memberikan nilai stabilitas
yang lebih tinggi dibandingkan dengan campuran tanpa
Retona. Penelitian ini juga dapat menunjukkan bahwa Retona
dapat meningkatkan kuat tarik campuran beton aspal.
Kata-kata kunci: retona, kepekaan temperatur, karakteristik
campuran, beton aspal.

152Jurnal Teknik Sipil Vol. 4 No. 2 Desember 2003: 98-181


Analisis keruntuhan Bendungan Darma (Bambang Adi Riyanto)
1
PENDAHULUAN
Aspal merupakan material yang diperoleh dari hasil proses destilasi minyak bumi
dengan menggunakan berbagai teknik pengolahan. Pada temperatur ruang aspal
berwarna hitam, lengket, semisolid, dan material dengan viskositas tinggi. Aspal
merupakan pengikat yang kuat dan tahan lama dengan sifat adesi dan kedap air yang
baik. Aspal paling banyak digunakan dalam produksi beton aspal campuran panas, yang
utamanya digunakan dalam pembangunan perkerasan lentur. Aspal dicairkan dengan
melakukan pemanasan dan selanjutnya dicampur dengan agregat untuk membuat
beton aspal. Setelah terjadi penurunan temperatur hingga ke temperatur ruang, beton
aspal campuran aspal merupakan suatu material perkerasan yang sangat kuat dan
dapat menerima beban lalu lintas yang tinggi.
Aspal sebagai bahan pengikat merupakan material penting dalam konstruksi
jalan. Walaupun proporsi aspal yang digunakan dalam campuran relatif sedikit, hanya
sekitar 4% hingga 10% terhadap berat total campuran beton aspal, namun aspal
memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan agregat.
Karakteristik aspal mempengaruhi kinerja campuran beraspal. Oleh karena itu,
aspal dengan kualitas yang baik akan menghasilkan campuran perkerasan dengan
kinerja yang baik. Ada berbagai cara untuk meningkatkan kualitas aspal sehingga akan
dapat menghasilkan perkerasan yang baik. Salah satu cara untuk memperbaiki kualitas
aspal tersebut adalah dengan menggunakan bahan modifikasi yang telah tersedia di
pasaran. Suatu bahan baru modifikasi yang tersedia di pasaran adalah Retona. Retona
(Refined Buton Asphalt) merupakan aspal hasil produksi lokal yang berasal dari Pulau
Buton. Retona merupakan hasil ekstraksi batuan aspal buton, yang memiliki kekerasan
yang lebih tinggi dibandingkan dengan aspal keras pada umumnya. Dengan
kekerasannya tersebut, Retona diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan
stabilitas campuran beraspal. Berdasarkan studi-studi terdahulu dapat diperlihatkan
bahwa Retona dapat memperbaiki stabilitas, meningkatkan ketahanan terhadap retak,
dan mengurangi deformasi plastis dari perkerasan. Saat ini belum banyak dilakukan
penelitian terhadap pengaruh penggunaan Retona terhadap kepekaan aspal terhadap
perubahan temperatur dala m campuran beraspal serta pengaruh Retona terhadap
kekuatan tarik tidak langsung beton aspal.
Salah satu karakteristik utama dari aspal adalah kepekaannya terhadap
perubahan temperatur. Kepekaan aspal terhadap perubahan temperatur merupakan
suatu nilai yang menunjukkan perubahan konsistensi aspal terhadap perubahan
temperatur. Aspal yang sangat peka terhadap perubahan temperatur tidak diinginkan,

Pengaruh retona terhadap karakteristik aspal keras (Wimpy Santosa dan Tri Basuki) 153
sebab akan menghasilkan perubahan kinerja campuran beraspal yang tinggi akibat
perubahan temperatur yang kecil saja.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh Retona terhadap
sifat-sifat aspal keras dan terhadap karakteristik beton aspal campuran panas. Sifat-
sifat aspal keras yang diamati adalah kepekaan aspal terhadap perubahan temperatur.
Penelitian yang dilakukan meliputi kegiatan penyiapan sampel aspal dengan berbagai
kadar Retona (5%, 10%, dan 15%), pengukuran viskositas tiap sampel menggunakan
alat Viscosity Brookfield Dial, dan menentukan nilai Viscsosity-Temperature
Susceptibility (VTS) dan Penetration Index (PI) setiap sampel. Selanjutnya dianalisis
kinerja beton aspal yang menggunakan aspal yang telah dicampur dengan Retona.

RETONA
Retona merupakan nama produk ekstraksi batuan aspal dari Pulau Buton, melalui hasil
pengembangan teknologi yang dilakukan oleh Bagian Penelitian dan Pengembangan
sebuah perusahaan swasta di Indonesia (PT Olah Bumi Mandiri, 2001). Teknologi
Retona telah mengubah kesan buruk aspal alam yang berasal dari Pulau Buton (Aspal
Buton), melalui keunggulan karakteristik dan kinerja yang telah dihasilkan di beberapa
proyek konstruksi perkerasan jalan. Kualitas Retona yang baik telah dapat
meningkatkan pelayanan konstruksi perkerasan terhadap beban lalu lintas menengah
hingga berat di beberapa proyek di Indonesia.
Retona dapat digunakan sebagai bahan modifier dalam campuran beton aspal.
Pada umumnya Retona mengandung 55%−60% kadar bitumen dan 40%−45% bahan
pengisi alam. Bitumen yang ada pada Retona sebagian besar dibentuk oleh asphaltene
dan sedikit maltene jika dibandingkan dengan produksi aspal konvensional. Kadar
stabilitasi yang tinggi dari fase malten, yang terdiri atas polyaromatics resin (dengan
struktur aromatik dan naftenik) dapat memperbaiki stabilitas campuran beraspal.
Retona memiliki penetrasi yang sangat rendah, sehingga sangat sulit untuk
dipergunakan tanpa dicampur dengan bahan lain. Oleh karena itu, Retona perlu
dicampur dengan aspal minyak sebelum digunakan dalam campuran beton aspal.
Beberapa manfaat penggunaan Retona dalam campuran beton aspal adalah
meningkatnya stabilitas, meningkatnya ketahanan lelah dan ketahanan retak akibat
temperatur, serta meningkatnya durabilitas perkerasan.

Kadar aspalten yang tinggi dalam Retona menyebabkan berkurangnya penetrasi atau
meningkatnya viskositas aspal. Titik lembek aspal yang dicampur dengan Retona juga
meningkat secara signifikan. Kenyataan ini merupakan hal yang penting bagi negara

154Jurnal Teknik Sipil Vol. 4 No. 2 Desember 2003: 98-181


Analisis keruntuhan Bendungan Darma (Bambang Adi Riyanto)
1
dengan iklim tropis seperti Indonesia, karena aspal dengan titik lembek yang rendah
dapat mengakibatkan terjadinya deformasi permanen yang lebih awal pada perkerasan
beton aspal.
Ada dua jenis Retona yang tersedia di pasaran, yaitu Retona P6014 dan
Retona B6060. Karakteristik umum dari kedua jenis aspal tersebut disajikan pada
Tabel 1.
Modifier aspal alam Retona dirancang untuk dengan mudah digunakan
sebagai pengikat dengan kinerja yang baik. Retona dengan bentuk bulk dapat
dipergunakan sama mudahnya dengan aspal minyak, dan tidak diperlukan peralatan
tambahan untuk mencampurnya dengan agregat. Retona berbentuk bubuk dapat
digunakan sama mudahnya dengan mengikuti prosedur yang telah umum dipergunakan
di Indonesia. Untuk Retona berbentuk bubuk yang kurang dari 10%, Retona
dipergunakan dalam alat pencampur bersamaan dengan agregat yang telah dipanaskan.
Hasil terbaik akan diperoleh melalui pencampuran Retona bubuk terlebih dahulu pada
pencampur aspal.

Tabel 1 Karakteristik Retona

Karakteristik Retona P6014 Retona B6060


Bentuk Bubuk Bulk
Kerapatan, kg/liter 1,45 1,132
Ukuran Lolos saringan No. 20 -
Kadar bitumen,% 55−60 95 min
Kadar mineral, % 40−45 5 maks
Mineral lolos saringan No. 200 , % berat 93 93
Penetrasi, 0,1mm 0−10 40−50
Titik lembek, Ring dan Ball, °C 130 min 56
Daktilitas, cm - 105
Kemasan Kantong kertas Truk tanki

KONSISTENSI ASPAL
Kondisi aspal pada berbagai temperatur dapat dijelaskan melalui nilai konsistensinya.
Nilai konsistensi aspal bervariasi sesuai dengan temperaturnya, sebab aspal merupakan
material yang bersifat termoplastik. Uji konsistensi aspal pada umumnya dilakukan
dengan menggunakan uji penetrasi dan uji viskositas. Pada penelitian ini, uji viskositas
dipilih untuk menunjukkan konsistensi aspal. Uji viskositas dilakukan dengan
menggunakan alat viskometer Brookfield Dial.
Viskometer Brookfield Dial menggunakan jarum (spindle) untuk menghasilkan
torsi pada sampel aspal. Ketahanan relatif sampel aspal terhadap putaran jarum
tersebut diukur, yang selanjutnya akan menghasilkan nila i viskositas aspal. Ukuran

Pengaruh retona terhadap karakteristik aspal keras (Wimpy Santosa dan Tri Basuki) 155
jarum yang dipergunakan bergantung pada viskositas yang diharapkan dari material
yang diuji.
Aspal merupakan material yang bersifat termoplastik, sehingga nilai
konsistensinya akan berubah sesuai dengan temperatur. Kepekaan aspal terhadap
perubahan temperatur merupakan suatu nilai yang menunjukkan perubahan konsistensi
aspal akibat perubahan temperatur. Kepekaan temperatur merupakan karakter yang
penting dari aspal. Aspal keras dengan kepekaan yang tinggi terhadap perubahan
temperatur tidak disukai, sebab akan mengalami perubahan viskositasnya yang sangat
besar akibat adanya perubahan temperatur yang kecil saja. Aspal dengan sifat seperti
ini akan menghasilkan persoalan pada campuran selama pemadatan, karena pada
temperatur yang tinggi viskositasnya akan sangat rendah. Persoalan yang lain adalah
aspal memiliki viskositas yang tinggi pada saat temperatur pelayanan di jalan yang
rendah, sehingga akan timbul retak-retak akibat susut pada temperatur rendah tersebut
(Roberts, et al., 1991).
Ada beberapa metode yang dapat dipergunakan untuk menentukan kepekaan
temperatur pada aspal keras, yaitu: (i) penetration index, (ii) penetration viscosity-
number, dan (iii) viscosity temperature susceptibility.

DATA DAN ANALISIS


Pengaruh Retona terhadap kepekaan aspal terhadap perubahan temperatur diamati
pada penelitian ini. Walaupun terdapat tiga cara untuk mengekspresikan kepekaan
aspal terhadap perubahan temperatur, hanya dua metode saja yang akan dipergunakan,
yaitu VTS dan PI. Kadar Retona yang digunakan pada penelitian ini adalah 0%, 5%,
10%, dan 15%.
Nilai viskositas sampel diukur dengan menggunakan alat viskometer Brookfield
Dial. Temperatur uji yang digunakan adalah 60ºC dan 140ºC. Hasil pengujian viskositas
ini disajikan pada Tabel 2.

Penetration Index
Hubungan antara PI dan dengan peningkatan kadar Retona disajikan pada Gambar 1.
Gambar 1 menunjukkan bahwa semakin tinggi kadar Retona yang dipergunakan, maka
semakin tinggi nilai PI. Pada umumnya aspal yang digunakan dalam campuran
beraspal memiliki nilai PI antara -3 dan +7. Aspal dengan PI yang rendah berarti lebih
peka terhadap perubahan temperatur. Penambahan Retona akan meningkatkan nilai
PI, yang berarti aspal menjadi kurang peka terhadap perubahan temperatur.

156Jurnal Teknik Sipil Vol. 4 No. 2 Desember 2003: 98-181


Analisis keruntuhan Bendungan Darma (Bambang Adi Riyanto)
1
Untuk menentukan apakah terdapat variasi kepekaan aspal terhadap
perubahan temperatur dilakukan analisis variansi. Dengan menggunakan tingkat
keyakinan (level of significance) 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat
perbedaan nyata nilai PI untuk berbagai penambahan kadar Retona. Analisis
selanjutnya adalah melakukan uji perbandingan simultan dengan menggunakan metode
Newman-Keuls. Penambahan Retona pada aspal murni dapat meningkatkan nilai PI.
Namun perbedaan nilai PI untuk aspal yang dicampur Retona pada kadar 10% dan
15% tidak lagi signifikan. Analisis ini menyimpulkan bahwa kadar Retona sebesar 10%
merupakan merupakan kadar yang optimum untuk meningkatkan kinerja aspal terhadap
perubahan temperatur.

Tabel 2 Viskositas aspal (Triwardhani, 2003)

Kadar Nomor Viskositas (Centipoises)


Retona Samp el Temperatur Uji 60 ºC Temperatur Uji 140 ºC
1 352.000 200
0% 2 520.000 240
3 608.000 240
1 352.000 240
5% 2 544.000 280
3 608.000 300
1 304.000 280
10% 2 400.000 300
3 416.000 320
1 704.000 400
15% 2 736.000 440
3 768.000 440

Pengaruh retona terhadap karakteristik aspal keras (Wimpy Santosa dan Tri Basuki) 157
5

4.8

4.6

4.4
PI

4.2

3.8

3.6
0% 5% 10% 15%
Kadar Retona (%)

sample 1 sample 2 sample 3

Gambar 1 Hubungan PI dengan kadar Retona (Triwardhani, 2003)

Viscosity-Temperature Susceptibility
Hubungan antara nilai VTS dengan peningkatan kadar aspal disajikan pada Gambar 2.
Gambar tersebut menunjukkan bahwa dengan peningkatan kadar Retona hingga 15%
cenderung untuk mengurangi nilai VTS aspal, yang berarti aspal akan semakin kurang
peka tehadap perubahan temperatur.
Selanjutnya, dilakukan pula analisis perbandingan simultan menggunakan
metode Newman-Keuls. Tingkat keyakinan yang dipergunakan adalah 0.05. Hasil
analisis menunjukkan bahwa nilai VTS pada aspal murni (Kadar Retona 0%) secara
statistik lebih tinggi dibandingkan dengan nilai VTS aspal yang dicampur dengan
Retona. Dengan kata lain, pencampuran aspal dengan Retona akan mengurangi
kepekaan aspal terhadap perubahan temperatur, sebab nilai VTS yang kecil berarti
aspal lebih tidak peka terhadap perubahan temperatur.
Perbedaan nilai VTS pada aspal yang dicampur dengan Retona pada kadar
10% dan 15% tidak lagi signifikan. Sejalan dengan hasil yang diperoleh pada analisis
terhadap PI, analisis ini juga menghasilkan bahwa penambahan Retona sebanyak 10%
merupakan penambahan yang optimum.

158Jurnal Teknik Sipil Vol. 4 No. 2 Desember 2003: 98-181


Analisis keruntuhan Bendungan Darma (Bambang Adi Riyanto)
1
4.2
4.1
4
3.9
VTS

3.8
3.7
3.6
3.5
3.4
0% 5% 10% 15%
Kadar Retona (%)

sample 1 sample 2 sample 3

Gambar 2 Hubungan antara VTS dan kadar Retona (Triwardhani, 2003)

Stabilitas Campuran Beton Aspal


Suatu penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Prasarana
Transportasi (PUSTRANS), Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah,
menggunakan agregat dan aspal yang tela h memenuhi seluruh persyaratan SNI.
Gradasi agregat yang dipergunakan pada penelitian tersebut disajikan dalam Tabel 3.

Tabel 3 Gradasi agregat gabungan (Pustrans, 2002a)

Ukuran Saringan Persyaratan Gradasi (% Berat Butir yang Lolos)


(mm) Agregat Gabungan Fuller Titik Kontrol Zona Terbatas
19 100 100 100
12,5 92,5 82,8 90-100
9,5 82,5 73,2 Maks.90
4,75 60 53,6 -
2,36 37,5 39,1 28-58 39,1-39,1
1,18 - 28,6 - 25,6-31,6
0,600 17 21,2 - 19,1-23,1
0,300 12 15,5 - 15,5-15,5
0,075 6,5 8,3 4-10

Salah satu cara untuk mempelajari karakteristik campuran beton aspal adalah
dengan melakukan pengujian Marshall. Hasil uji Marshall disajikan pada Tabel 4.

Pengaruh retona terhadap karakteristik aspal keras (Wimpy Santosa dan Tri Basuki) 159
Tabel 4 Karakteristik campuran panas (Puslitbang Transportasi, 2002a)

Hasil Pengujian dengan Aspal Pen. 60


Pengujian Kadar Retona P 6014
0% 5% 10% 15% B6060
Kadar Aspal Optimum, % 6,0 6,05 6,05 6,1 6,05
Kepadatan, ton/m3 2,29 2,285 2,28 2,275 2,295
VMA, % 17,7 18,1 18,3 18,5 18,0
VFB, % 67 67 68 68 67
VIM, % 6,0 5,9 5,9 5,8 5,9
VIM PRD, % 3,4 3,3 3,4 3,5 3,0
Stabilitas, kg 1120 1275 1335 1450 1300
Stabilitas sisa, % 93,5 86,4 89,2 803 81,1
Pelelehan,mm 3,2 3,1 2,7 2,5 3,1
MQ, kg/mm 365 415 500 585 430
WTM
Do, mm 1,0 2,21 1,52 1,32 2,45
Stabilitas dinamis, lint./mm 829 1465 3000 3938 4846
Kecepatan deformasi, mm/menit 0,051 0,021 0,014 0,011 0,009

1600
1400
Stabilitas (kg)

1200
1000
800
600
400
200
0
Aspal Pen. Pen. 60 + Pen. 60 + Pen. 60 + Retona
60 5% Retona 10% Retona 15% Retona B6060
P6014 P6014 P6014
Campuran Beraspal

Gambar 3 Perbandingan nilai stabilitas Marshall (Pustrans, 2002a)


Perbandingan nilai stabilitas campuran ditunjukkan pada Gambar 3. Gambar
tersebut menunjukkan bahwa campuran yang menggunakan Retona mempunyai nilai
Stabilitas yang lebih tinggi dibandingkan campuran yang tidak menggunakan Retona.

Uji Stabilitas dengan Variasi Waktu Perendaman


Karakteristik campuran saat beroperasi melayani lalu lintas sangat dipengaruhi oleh
kondisi cuaca. Perkerasan yang tahan terhadap pengaruh lingkungannya dianggap

160Jurnal Teknik Sipil Vol. 4 No. 2 Desember 2003: 98-181


Analisis keruntuhan Bendungan Darma (Bambang Adi Riyanto)
1
sebagai campuran perkerasan yang memiliki durabilitas tinggi. Hasil uji campuran
dengan dan tanpa Retona yang direndam pada berbagai waktu perendaman disajikan
pada Tabel 5.

Tabel 5 Nilai stabilitas pada berbagai waktu perendaman (Wibawa, 2003)

Waktu Nilai Stabilitas (kg)


Perendaman Kadar Retona
(menit) 0% 5% 10% 15%
1233 1276 1400 1609
30 1117 1267 1322 2055
1225 1269 1487 2163
Rata-rata 1192 1271 1403 1943
1135 1278 1482 2298
60 1338 1288 1587 2254
1192 1265 1543 2204
Rata-rata 1222 1277 1537 2252
1137 1258 1615 2202
120 1187 1244 1427 1563
1015 1254 1375 2240
Rata-rata 1113 1252 1472 2002

Tabel 6 Perbandingan nilai stabilitas benda uji dengan berbagai


kadar Retona dan berbagai waktu perendaman

Waktu Perendaman Kadar Retona


(menit) 0% 5% 10% 15%
60 menit 1,025 1,005 1,096 1,159
120 menit 0,934 0,985 1,049 1,030

Rasio perbandingan nilai stabilitas pada berbagai kadar Retona disajikan pada
Tabel 6. Hasil analisis variansi dengan menggunakan tingkat keyakinan sebesar 0,05
menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata antar terhadap stabilitas
benda uji dengan berbagai kadar Retona.

Tabel 7 Hasil pengujian kuat tarik tidak langsung (Junius, 2003)

Kadar Retona
0% 5% 10% 15% 20%
Kuat Tarik (kg/cm2)
1,21 1,21 1,69 1,69 2,32
1,41 1,34 1,91 1,91 2,90

Pengaruh retona terhadap karakteristik aspal keras (Wimpy Santosa dan Tri Basuki) 161
1,70 1,48 1,66 2,07 2,14
1,38 1,72 1,94 2,18 2,18
1,24 1,79 2,15 2,70 2,51
x 1,39 1,51 1,87 2,11 2,41

2.5
Kuat Tarik (kg/cm2)

1.5

0.5

0
0% 5% 10% 15%
Kadar Penambahan Retona

Gambar 4 Hasil pengujian kuat tarik tidak langsung (Junius, 2003)

Uji Kuat Tarik Tidak Langsung


Analisis selanjutnya yang dilakukan adalah mempelajari kuat tarik tidak langsung beton
aspal penambahan Retona. Untuk itu dibuat benda-benda uji dengan menggunakan
agregat yang bergradasi sama dengan gradasi agregat yang digunakan oleh Pustrans,
menggunakan aspal keras Pen 60, dan direncanakan untuk lalu lintas berat. Hasil uji
kuat tarik tidak langsung beton aspal ini disajikan pada Tabel 7 dan Gambar 4.
Hasil analisis statistika dengan menggunakan tingkat keyakinan 0,05
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata pada nilai kuat tarik campuran beton
aspal. Selanjutnya dilakukan Newman-Keuls. Hasil uji tersebut menunjukkan bahwa
campuran beton aspal yang mengandung Retona dengan kadar 15% dan 20% memiliki
nilai kuat tarik yang lebih besar bila dibandingkan dengan benda uji lainnya.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, maka dapat disampaikan beberapa
kesimpulan sebagai berikut.
1) Penggunaan Retona sebagai bahan tambah dapat mengurangi kepekaan aspal
terhadap perubahan temperatur, yang ditunjukkan oleh meningkatnya nilai PI aspal.
Tetapi perbedaan nilai PI untuk aspal yang dicampur Retona pada kadar 10% dan

162Jurnal Teknik Sipil Vol. 4 No. 2 Desember 2003: 98-181


Analisis keruntuhan Bendungan Darma (Bambang Adi Riyanto)
1
15% tidak lagi signifikan, sehingga penambahan Retona hingga 10% akan
memberikan hasil yang optimum.
2) Bila dinyatakan dengan VTS, pencampuran aspal dengan Retona juga
menunjukkan pengurangan kepekaan aspal terhadap perubahan temperatur, yaitu
dengan makin rendahnya nilai VTS aspal. Hasil analisis menunjukkan bahwa
penambahan Retona sebanyak 10% juga memberikan hasil yang optimum.
3) Campuran beton aspal yang menggunakan Retona memiliki stabilitas yang lebih
tinggi dibandingkan dengan campuran beton aspal yang tidak menggunakan
Retona. Penggunaan Retona tidak memberikan perbedaan nyata tehadap rasio
perbandingan nilai stabilitas pada berbagai waktu perendaman antara benda-benda
uji dengan berbagai kadar Retona.
4) Penggunaan Retona pada campuran beton aspal dengan kadar 15% dan 20%
menghasilkan kuat tarik tidak langsung yang signifikan pada beton aspal.

REFERENSI
American Society for Testing dan Materials. 1994. Annual Book of ASTM
Standards, Construction. Philadelphia, PA.
Asphalt Institute. 1989. The Asphalt Handbook. Manual Series No. 4 (MS-4).
Lexington, KY.
Brookfield Engineering Laboratories, Inc. 1950. Viskometer Brookfield Dial
Operating Instruction Manual, No. M (85-150-1495). Stoughton, MA.
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 2002. Manual Pekerjaan
Campuran Beraspal Panas (Draft). Manual XX-2002, Jakarta.
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 2002a. Laporan Akhir Pengujian
Campuran Beraspal Menggunakan Bahan Pengikat Aspal Retona.
Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Prasarana Transportasi.
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 2002b. Laporan Hasil Pengujian
Campuran Beraspal Menggunakan Bahan Tambah (Additive) Retona P-
7012. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Prasarana Transportasi.
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 2002c. Laporan Pelaksanaan Uji
Gelar Beton Aspal Campuran Panas dengan Bahan Tambah Retona P-
6014 di Purwakarta-Padalarang Provinsi Jawa Barat. Bandung: Pusat
Penelitian dan Pengembangan Prasarana Transportasi.
Junius, Raka Chitra. 2003. Pengaruh Retona Terhadap Kuat Tarik Tidak
Langsung Beton Aspal. Skripsi tidak diterbitkan. Bandung: Fakultas Teknik,
Jurusan Teknik Sipil, Universitas Katolik Parahyangan.

Pengaruh retona terhadap karakteristik aspal keras (Wimpy Santosa dan Tri Basuki) 163
Natalia, Florence. 2002. Pengaruh Petrosin terhadap Viskositas dan Kepekaan
Aspal terhadap Perubahan Temperatur. Skripsi tidak diterbitkan. Bandung:
Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan.
Olah Bumi Mandiri, PT. 2001. An Extraordinary Asphalt Binder: Retona. Jakarta.
Puzinauskas, V.P. 1980. Properties of Asphalt Cement. The Asphalt Institute,
College Park, MD.
Roberts, F.L, P. S Kandhal, E., Brown, D. Lee, dan Kennedy, T.W. 1991. Hot Mix
Asphalt Material, Mixture Design, and Construction. First Edition, NAPA
Education Foundation, Lanham, MD.
Santosa, Wimpy dan Melinda. 2000. Perbandingan Hasil Pengukuran Viskositas Aspal
Menggunakan Viskometer Brookfield Dial dan Menggunakan Viskometer
Saybolt Furol. Jurnal Teknik Sipil. Volume 1, Nomor 2. Bandung: Fakultas
Teknik, Universitas Katolik Parahyangan.
Santosa, Wimpy dan Tri Basuki. 2003. Analisis Penggunaan Retona Terhadap
Kinerja Aspal dan Campuran Beraspal. Makalah disajikan (prosiding) dalam
Konferensi Nasional Teknik Jalan Ke-7, Jakarta.
Triwardhani, Lanny. 2003. Pengaruh Retona terhadap Sensitivitas Aspal Akibat
Perubahan Temperatur. Skripsi tidak diterbitkan. Bandung: Fakultas Teknik,
Jurusan Teknik Sipil, Universitas Katolik Parahyangan.
Wibawa, Teguh Esa. 2003. Analisis Pengaruh Retona terhadap Durabilitas
Campuran Beton Aspal. Skripsi tidak diterbitkan. Bandung: Fakultas Teknik
Jurusan Teknik Sipil, Universitas Katolik Parahyangan.

RIWAYAT PENULIS
Wimpy Santosa dan Tri Basuki adalah dosen tetap di Fakultas Teknik, Jurusan
Teknik Sipil, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

164Jurnal Teknik Sipil Vol. 4 No. 2 Desember 2003: 98-181


Analisis keruntuhan Bendungan Darma (Bambang Adi Riyanto)
1